NTP Sumatera Barat bulan Maret 2017 tercatat sebesar 98,19 atau turun 0,46 persen dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 98,64 (Februari 2017). Indeks harga yang diterima petani (It) mengalami penurunan sebesar 0,11 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami kenaikan sebesar 0,35 persen.
Pada bulan Maret 2017 NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 94,57 untuk subsektor tanaman pangan (NTPP), 88,51 untuk subsektor hortikultura (NTPH), 102,07 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTPR), 104,63 untuk subsektor peternakan (NTPT), dan 108,22 untuk subsektor perikanan (NTPN). Subsektor perikanan terbagi menjadi dua, yaitu subsektor perikanan tangkap dan perikanan budidaya dengan NTP masing-masing sebesar 110,03 dan 107,78.
Secara regional, di Sumatera Barat pada bulan Maret 2017 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 0,41 persen yang disebabkan terjadinya inflasi pada kelompok bahan makanan (0,52 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau (0,31 persen), kelompok perumahan (0,80 persen), kelompok sandang (0,50 persen), dan kelompok kesehatan (0,29 persen). Sementara kelompok pendidikan, rekreasi & olahraga tidak mengalami perubahan. Sedangkan kelompok transportasi dan komunikasi mengalami deflasi sebesar 0,06 persen.
No. 18/04/13/Th XX, 3 April 2017
P ERKEMBANGAN N ILAI T UKAR P ETANI , D AN H ARGA P RODUSEN
G ABAH
A. PERKEMBANGAN NILAI TUKAR PETANI
NTP SUMATERA BARAT MARET 2017 SEBESAR 98,19 ATAU TURUN SEBESAR 0,46 PERSEN
A. Nilai Tukar Petani (NTP)
Nilai Tukar Petani (NTP) yang diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani.
Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga di perdesaan di 11 kabupaten di Sumatera
Barat pada bulan Maret 2017, NTP Sumatera Barat mengalami penurunan dibanding bulan
Februari 2017 sebesar 0,46 persen, yaitu dari 98,64 menjadi 98,19. Hal ini disebabkan indeks
Bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, NTP Maret 2017 pada tiga subsektor mengalami penurunan, yakni subsektor hortikultura (1,85 persen), subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,99 persen), dan subsektor peternakan (0,04 persen). Sedangkan NTP pada subsektor tanaman pangan dan subsektor perikanan mengalami peningkatan masing-masing sebesar 0,48 persen dan 0,79 persen.
2. Indeks Harga yang Diterima Petani (It)
Indeks harga yang diterima petani (It) menunjukkan fluktuasi harga beragam komoditas pertanian yang dihasilkan petani. Pada bulan Maret 2017 terjadi penurunan pada indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,11 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yaitu dari 123,79 menjadi 123,65. Menurunnya nilai It diakibatkan oleh menurunnya nilai It pada dua subsektor, yaitu subsektor hortikultura (1,49 persen), dan subsektor tanaman perkebunan rakyat (0,67 persen). Sedangkan It pada tiga subsektor lainnya mengalami peningkatan, yakni subsektor tanaman pangan (0,78 persen), subsektor peternakan (0,39 persen), dan subsektor perikanan (1,18 persen).
3. Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)
Melalui indeks harga yang dibayar petani (Ib) dapat dilihat fluktuasi harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh masyarakat perdesaan, khususnya petani yang merupakan bagian terbesar, serta fluktuasi harga barang dan jasa yang diperlukan untuk memproduksi hasil pertanian.
Pada bulan Maret 2017 indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan
sebesar 0,35 persen dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 125,49 menjadi 125,93.
Grafik 1
NTP Sumatera Barat Bulan Maret 2016 – Maret 2017 (2012=100)
4. NTP Subsektor
a. Subsektor Tanaman Pangan (NTPP)
NTP subsektor tanaman pangan (NTPP) pada bulan Maret 2017 mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu sebesar 0,48 persen dari 94,12 menjadi 94,57. Hal ini dikarenakan peningkatan indeks harga yang diterima petani (0,78 persen), lebih besar dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani (0,30 persen).
Meningkatnya nilai indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,78 persen disebabkan oleh meningkatnya indeks harga pada kelompok padi sebesar 0,23 persen, dan indeks harga pada kelompok palawija sebesar 2,70 persen. Sementara itu, indeks harga yang dibayar petani (Ib) mengalami peningkatan sebesar 0,30 persen diakibatkan oleh meningkatnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumahtangga sebesar 0,40 persen, walau indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal mengalami penurunan sebesar 0,01 persen.
b. Subsektor Hortikultura (NTPH)
Nilai Tukar Petani untuk subsektor hortikultura (NTPH) pada bulan Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 1,85 persen dari 90,18 menjadi 88,51. Hal ini dikarenakan indeks harga yang diterima petani mengalami penurunan sebesar 1,49 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan sebesar 0,36 persen.
Menurunnya nilai It sebesar 1,49 persen disebabkan menurunnya nilai indeks harga
pada kelompok sayur-sayuran (1,74 persen), kelompok buah-buahan (1,05 persen), walau
pada kelompok tanaman obat mengalami peningkatan sebesar 0,96 persen. Peningkatan
Ib sebesar 0,36 persen disebabkan peningkatan indeks harga pada kelompok konsumsi
rumah tangga sebesar 0,41 persen, dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan
penambahan barang modal sebesar 0,10 persen.
c. Subsektor Perkebunan Rakyat (NTPR)
NTPR pada bulan Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 0,99 persen, yaitu dari 103,09 menjadi 102,07. Menurunnya nilai NTPR ini disebabkan menurunnya indeks harga yang diterima petani sebesar 0,67 persen, sedangkan indeks harga yang dibayar petani mengalami peningkatan sebesar 0,33 persen.
Meningkatnya nilai Ib sebesar 0,33 persen diakibatkan meningkatnya indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,38 persen, sementara indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) tidak mengalami perubahan.
d. Subsektor Peternakan (NTPT)
NTPT pada Maret 2017 mengalami penurunan sebesar 0,04 persen, yaitu dari 104,67 menjadi 104,63. Penurunan NTPT ini terjadi diakibatkan oleh peningkatan indeks harga yang diterima petani (0,39 persen) lebih rendah dibanding peningkatan indeks harga yang dibayar petani (0,43 persen).
Peningkatan indeks harga yang diterima petani (It) sebesar 0,39 persen terjadi karena peningkatan harga pada kelompok ternak besar (0,44 persen), ternak kecil (1,69 persen), dan kelompok hasil ternak (0,51 persen), walau indeks harga pada kelompok unggas mengalami penurunan sebesar 0,32 persen. Peningkatan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,43 persen diakibatkan oleh peningkatan harga pada kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,49 persen, dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,35 persen.
e. Subsektor Perikanan (NTNP)
Pada bulan Maret 2017, nilai tukar petani subsektor perikanan (NTNP) mengalami peningkatan sebesar 0,79 persen, yaitu dari 107,37 menjadi 108,22. Kondisi ini diakibatkan peningkatan indeks harga yang diterima petani (1,18 persen) lebih besar dari peningkatan indeks yang dibayar petani (0,39 persen).
Peningkatan nilai It sebesar 1,18 persen merupakan kontribusi dari peningkatan indeks harga pada kelompok perikanan tangkap (1,13 persen), dan kelompok perikanan budidaya (1,19 persen). Peningkatan indeks harga yang dibayar petani sebesar 0,39 persen diakibatkan peningkatan indeks harga pada kelompok konsumsi rumah tangga sebesar 0,45 persen, dan indeks harga pada kelompok biaya produksi dan penambahan barang modal sebesar 0,29 persen.
4. Indeks Harga Konsumen Perdesaan
Perubahan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) mencerminkan angka inflasi/deflasi di wilayah perdesaan. Secara regional, Sumatera Barat pada bulan Maret 2017 terjadi inflasi di daerah perdesaan sebesar 0,41 persen bila dibandingkan dengan bulan sebelumnya.
Terjadinya inflasi di daerah perdesaan merupakan kontribusi dari terjadinya inflasi
pada kelompok bahan makanan (0,52 persen), kelompok makanan jadi, minuman, rokok,
Tabel 2
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Menurut Kelompok Pengeluaran Februari 2017 - Maret 2017
(2012=100)
*) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Maret 2017 terhadap bulan sebelumnya **) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Maret 2017 terhadap bulan Februari 2017 ***) Persentase perubahan IHK Perdesaan Bulan Maret 2017 terhadap bulan Maret 2016
Laju inflasi perdesaan tahun kalender bulan Maret 2017 sebesar 0,49 persen. Sedangkan inflasi perdesaan tahun ke tahun (year on year) adalah sebesar 3,71 persen.
Grafik 2
Persentase Perubahan Indeks Harga Konsumen Perdesaan Maret 2016 – Maret 2017
(2012=100)
Komposisi jumlah observasi dari 126 transaksi harga gabah di tujuh kabupaten di Sumatera Barat selama Maret 2017, didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 91 persen. Sementara kualitas rendah sebesar 9 persen.
Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKP varietas Cisokan yaitu sebesar Rp 7.000,00 per kg yang terjadi di Kabupaten Agam. Sedangkan harga terendah berasal dari gabah varietas batu bara, yaitu senilai Rp 4.400,00 per kg, terjadi di Kabupaten Pasaman.
Berbeda dengan bulan sebelumnya, pada bulan Maret 2017 rata-rata harga gabah kualitas GKP di tingkat petani mengalami penurunan sebesar 0,15 persen dari Rp 5.728,39 per kg (Februari 2017) menjadi Rp 5.719,59 per kg (Maret 2017), dan di tingkat penggilingan turun 0,35 persen dari Rp 5.829,70 per kg (Februari 2017) menjadi Rp 5.809,28 per kg (Maret 2017). Sementara itu, rata–rata harga gabah kualitas rendah dan gabah kualitas GKG tidak dapat dibandingkan.
B. PER KEMBANGAN HARGA PRODUSEN GABAH MARET 2017
HARGA GABAH (GKP) DI PETANI TURUN 0,15 %
Survei harga produsen gabah berasal dari 126 observasi di tujuh kabupaten di Sumatera Barat, yaitu: Pesisir Selatan, Solok, Padang Pariaman, Agam, Tanah Datar, Limapuluh Kota, dan Pasaman. Rata-rata harga gabah di tingkat petani bulan Maret 2017 dibanding bulan Februari 2017 untuk kualitas GKP mengalami penurunan sebesar 0,15 persen dari Rp Rp 5.728,39 per kg (Februari 2017) menjadi Rp 5.719,59 per kg (Maret 2017). Sementara di tingkat penggilingan harga gabah GKP turun sebesar 0,35 persen dari 5.829,70 per kg (Februari 2017) menjadi Rp 5.809,28 per kg (Maret 2017).
Tabel 3
Jumlah Observasi Harga Gabah di Tingkat Petani dan Penggilingan, Dan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) Maret 2017
Kelompok Kualitas
Jumlah Observasi
Harga di Tk Petani (Rp/Kg) Rata-rata Harga Tkt Penggilingan
(Rp/Kg)
HHarga Pembelian P Pemerintah ( (Rp/Kg)
Selisih harga kol (5&6) terhadap kol (7)
Terendah Tertinggi Rata-rata (Rp/kg) (%)
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9)
GKG 0
(0,00%) -- -- -- -- 4.600,00 -- --
GKP 115
(91%) 4400,00- 7000,00,- 5.719,59- 5 809,28,-
3.700,00
(Petani) 2019.59 54,58
3.750,00
(Penggilingan) 2059,28 54.91
KualitasRendah 11
(9 %) 4500,00- 6200,00,- 5263.92 5352.58 -- -- --
Total 126
(100,00) -- -- -- -- -- -- --
Harga gabah kualitas GKP terendah pada Maret 2017 di tingkat petani dijumpai di
Kabupaten Pasaman, yaitu sebesar Rp 4.400,00 per kg, sedangkan harga terendah di tingkat
Tabel 4
Perbandingan Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Sumatera Barat Jan 2016 s/d Maret 2017
No. Kabupaten
Tingkat Penggilingan (Rp/Kg) Tingkat Petani (Rp/Kg)
Jan’17 Feb’17 Mar’17
% Perubahan Bln Mar 2017
thd. Feb 2017 Jan’17 Feb’17 Mar’17
% Perubahan Bulan Mar 2017
thd. Feb 2017
(1) (2) (5) (5) (5) (6) (9) (9) (9) (10)
1 Pes, Selatan 5 691,11 5 956,33 5 421,36 -8,98 5 636,52 5 873,46 5 373,43 -8,51 2 Solok 5 835,05 5 833,95 6 054,00 3,77 5 683,35 5 752,50 5 971,65 3,81
3 Tanah Datar 5.916,09 5.781,79 5.803,62 0,38 5 866,09 5 731,79 5 764,28 0,57 4 Pdg, Pariaman. 5.549,23 5.673,21 5.774,74 1,79 5 436,73 5 548,21 5 651,05 1,85 5 Agam 5.755,00 6.132,00 6.116,67 -0,25 5 695,00 6 065,00 6 064,29 -0,01
6 50 Kota 6.136,67 6.281,43 6.175,95 -1,68 5 966,67 6 116,67 6 021,43 -1,56 7 Pasaman 4 798,33 5 120,00 4 976,67 -2,80 4 686,67 5 020,00 4 866,67 -3,05 Sumbar 5 658,49 5 829,70 5 809,28 -0,35 5 553,63 5 728,39 5 719,59 -0,15
Grafik 3
Rata-rata Harga Gabah Kualitas GKP di Tingkat Penggilingan Dan HPP Sumatera Barat Maret 2016 – Maret 2017
5854,58
5207,5
4677,0
4556,3
4908,3 5408,7
5258,0
5498,6 5615,6
5651,6 5658,5
5829,7 5809,3
1800 2300 2800 3300 3800 4300 4800 5300 5800
Mar-16 Apr-16 Mei-16 Jun-16 Jul-16 Agust-16 Sep-16 Okt-16 Nop-16 Des-16 Jan-17 Feb-17 Mar-17
Rata-rata Harga (Rp/Kg)
Bulan Harga Gabah Di Tingkat Penggilingan Hpp Di Tingkat Penggilingan
Berdasarkan Inpres No. 5 Tahun 2015 tentang Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran
Beras oleh Pemerintah, telah ditetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yang baru yang
berlaku sejak tanggal 17 April 2015, yaitu untuk gabah kualitas GKP sebesar Rp 3.700,00 per kg di
tingkat petani dan Rp 3.750,00 per kg di tingkat penggilingan, sedangkan HPP untuk gabah
kualitas GKG sebesar Rp 4.600,00 per kg di tingkat penggilingan. Pada pemantauan bulan
Desember 2016 tidak ditemukan kasus harga gabah yang berada dibawah di HPP.
Informasi lebih lanjut hubungi:
Teguh Sugiarto M.Pop.Hum, Ph.D Kepala Bidang Statistik Distribusi
Jl KhatibSulaiman No.48 Padang 25135 Telp. (0751)442158,442159 Homepage : http://sumbar.bps.go.id
Email : [email protected]