Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
P U T U S A N
NOMOR : 02/PID.2014/PT.BKL.
“ DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA”
Pengadilan Tinggi Bengkulu yang memeriksa dan mengadili perkara- perkara pidana dalam peradilan Tingkat Banding, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut, dalam perkara Terdakwa :
Nama : EMAYARTINI Als MAY binti (Alm) MANSYUR Tempat Lahir : Bengkulu ;
Umur/Tanggal Lahir : 38 tahun / 10 Oktober 1974 ; Jenis Kelamin : Perempuan ;
Kebangsaan : Indonesia ;
Tempat Tinggal : Jl. Korpri Raya No. 174 Rt. 16 Rw. 03 Kel. Bentiring Kec.
Muara Bangkahulu Kota Bengkulu ; Agama : Islam ;
Pekerjaan : Swasta ; Pendidikan : SMA (Tamat) ;
Terdakwa tersebut ditahan berdasarkan surat perintah/ Penetapan Penahanan : 1 Penyidik, sejak tanggal 17 April 2013 s/d tanggal 06 Mei 2013 ;
2 Diperpanjang Kajari, sejak tanggal 06 Mei 2013 s/d tanggal 15 Juni 2013 ; 3 Pembantaran penahanan oleh Penyidik, sejak tanggal 14 Mei 2013 s/d
sembuh ;
4 Penahanan Lanjutan oleh Penyidik, sejak tanggal 29 Mei 2013 s/d 30 Juni 2013 ;
5 Diperpanjangoleh Ketua Pengadilan Negeri Bengkulu, sejak tanggal 01 Juli 2013 s/d 30 Juli 2013 ;
6 Penuntut Umum, sejak tanggal 17 Juli 2013 s/d dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bengkulu ;
7 Hakim Pengadilan negeri Bengkulu, sejak tanggal 26 Juli 2013 s/d tanggal 24 Agustus 2013 ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 1
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
8 Perpanjangan Ketua Pengadilan Negeri Bengkulu, sejak tanggal 25 Agustus 2013 s/d 23 Oktober 2013 ;
9 Perpanjangan Ketua Pengadilan Tinggi Bengkulu, sejak tanggal 24 Oktober 2013 s/d tanggal 22 November 2013 ;
10 Perpanjangan Ketua Pengadilan Tinggi Bengkulu, sejak tanggal 23 November 2013 s/d tanggal 22 Desember 2013 ;
11 Hakim Pengadilan Tinggi Bengkulu, sejak tanggal 09 Desember 2013 s/d 07 Januari 2014 ;
12 Perpanjangan Ketua Pengadilan Tinggi, sejak tanggal 08 Januari 2014 s/d tanggal 08 Maret 2014 ;
13 Perpanjangan oleh Ketua Mahkamah Agung RI paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal 09 Maret 2014 ;
PENGADILAN TINGGI tersebut ;
Telah membaca berkas perkara dan surat-surat yang bersangkutan serta turunan resmi putusan Pengadilan Negeri Bengkulu tanggal 03 Desember 2013 Nomor 290/Pid.B/2013/PN.BKL dalam perkara Terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (Alm) MANSYUR.
Menimbang, bahwa berdasarkan surat dakwaan Jaksa Penuntut Umum tanggal 17 Juli 2013 Nomor PDM-127/BKULU/07/2013 Terdakwa telah didakwa sebagai berikut :
DAKWAAN PRIMAIR :
Bahwa ia terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (Alm) MANSYUR pada waktu antara tanggal 19 April 2011 sampai dengan tanggal 25 Januari 2013 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 2
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
bertempat di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kelurahan Bentiring Kecamatan Muara Bangkahulu Kota Bengkulu atau setidak-tidaknya pada tempat–tempat lain yang masih termasuk dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri Bengkulu, dalam hal perbarengan perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, dengan sengaja melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan, atau membujuk anak melakukan persetubuhan dengannya atau dengan orang lain, perbuatan mana dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut :---
---Bahwa berawal pada hari Selasa tanggal 19 April 2011 sekira jam 21.00 WIB
saksi korban CECEP HANDOKO Als CECEP (yang masih berusia 17 tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 1076/ist/2007 tanggal 12 April 2007 yang ditandatangi oleh Kepala Kantor Catatan Sipil Kota Bengkulu Dra.
EVANELIA JOHAN), kerumah terdakwa di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kel. Bentiring Kec. Muara Bangkahulu Kota Bengkulu, duduk dan ngobrol bersama dengan terdakwa dan MISRAN (suami terdakwa yang saat ini sudah meninggal dunia) dan sekira Jam 00.00 WIB saksi korban CECEP pamit untuk pulang, namun terdakwa menawarkan saksi korban CECEP untuk menginap dirumahnya karena hari sudah malam, dan saksi korban CECEP pun menyetujuinya, ketika berada didalam rumah terdakwa, MISRAN minta diurut, lalu saksi korban masuk kekamar depan dan kemudian mengurut MISRAN hingga tertidur, bahwa sekira jam 01.00 WIB tiba-tiba terdakwa masuk kedalam kamar depan dan minta diurut juga oleh saksi korban CECEP, ketika itu terdakwa langsung berbaring diatas tempat tidur dan saksi korban CECEP pun beralih mengurut kaki terdakwa, kemudian terdakwa menyuruh saksi korban CECEP untuk mematikan lampu kamar setelah mematikan lampu saksi korban CECEP melanjutkan mengurut terdakwa, pada saat itulah terdakwa berkata kepada saksi korban CECEP ”kau ndak dak?”, dan dijawab saksi korban CECEP ”Ndak apo?”, namun tiba – tiba terdakwa langsung meraba – raba kemaluan dan mencium bibir saksi korban CECEP dan kemudian terdakwa membuka baju serta BH-nya lalu terdakwa memeluk saksi korban CECEP sambil menciumi bibir nya setelah itu terdakwa menyuruh saksi korban CECEP untuk membuka bajunya dan kemudian menyuruh saksi korban CECEP untuk memegang payudaranya sambil terdakwa terus memegang penis saksi korban CECEP sehingga penisnya menegang, lalu terdakwa menarik dan kemudian membuka celana saksi korban CECEP setelah itu terdakwa juga membuka celananya sendiri, setelah itu terdakwa mendorong saksi
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 3
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
korban CECEP diatas tempat tidur dan kemudian terdakwa naik keatas tubuh saksi korban CECEP dan menindihnya sambil memegang penis saksi korban CECEP dan kemudian mengarahkan serta memasukan kedalam vagina terdakwa setelah penis saksi korban CECEP masuk kedalam vagina terdakwa selanjutnya terdakwa mengoyang – goyangkan pantatnya naik turun selama kurang lebih + 20 (dua puluh menit) hingga saksi korban CECEP merasa enak dan mengeluarkan sperma didalam vagina terdakwa,---
---Selanjutnya pada hari Sabtu tanggal 07 Mei 2011 sekira jam 10.30 WIB , saksi korban REDO AKBAR Alias EDO (yang masih berusia 12 tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 468/Um/1999, lahir pada tanggal 09 Maret 1999), main kerumah terdakwa di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kel.
Bentiring Kec. Muara Bangkahulu Kota Bengkulu, pada saat saksi korban EDO sedang menonton televisi terdakwa mendekati saksi korban EDO dan meminta saksi korban EDO untuk mengerik badannya sambil menarik tangan saksi korban EDO masuk kedalam kamarnya, setelah berada didalam kamar terdakwa langsung menutup dan kemudian mengunci pintunya setelah itu terdakwa menganti pakaiannya dengan mengunakan pakaian dalam yang dibalut dengan handuk, setelah itu terdakwa langsung mengambil posisi menelungkup diatas tempat tidurnya dan saksi korban EDO pun mulai mengerik punggung terdakwa, kemudian terdakwa berkata ”mau dak ?”, dan dijawab oleh saksi korban EDO ”mau apa may”, dijawab terdakwa”mau upahnyo dak ?”, dijawab oleh saksi korban EDO
”terserahlah nak ngasi apo” lalu terdakwa berkata ”cepatlah, apo-apo yang EDO mau”, namun saksi korban hanya diam saja, ketika itu terdakwa langsung memegang dan kemudian meraba-raba penis saksi korban EDO sambil membuka celana saksi korban EDO lalu terdakwa membuka handuk dan pakaian dalamnya hingga terdakwa telanjang bulat dan terdakwa langsung menelentangkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menyuruh saksi korban EDO memasukkan penisnya yang sudah menegang kedalam vagina terdakwa, setelah itu saksi korban mengoyang – goyangkan pantatnya naik turun selama kurang lebih + 7 ( tujuh ) menit hingga saksi korban EDO merasa enak dan mengeluarkan sperma didalam vagina terdakwa.---
---Selanjutnya pada hari Minggu tanggal 05 Juni 2011 sekira Jam 16.30 WIB, saksi korban DENDI MAHERA Alias DENDI (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 477/929/AK/UM/BU/97 tanggal 04 November 1997 yang ditandatangi oleh Kepala Kantor Catatan Sipil
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 4
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Kabupaten Bengkulu Utara Drs. HENDARMIN) dipanggil oleh terdakwa dan kemudian menyuruh saksi korban DENDI merumput dihalaman rumahnya, dan setelah selesai merumput kemudian terdakwa menyuruh saksi korban DENDI masuk kedalam rumah untuk minum, namun tiba-tiba terdakwa menarik tangan saksi korban DENDI kedalam kamarnya, dan setelah berada didalam kamarnya kemudian terdakwa langsung membuka baju saksi korban DENDI hingga telanjang bulat setelah itu terdakwa juga membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat, setelah itu terdakwa langsung membujuk saksi korban DENDI agar mau melakukan hubungan badan layaknya suami istri dengannya yaitu dengan cara memeluk saksi korban DENDI, mencium bibirnya, memegang kemaluan dan kemudian menjilat- jilat penis saksi korban sehingga PENIS saksi korban DENDI menjadi tegang lalu terdakwa menyuruh saksi korban memegang payudaranya setelah beberapa menit kemudian terdakwa naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban DENDI sehingga penis saksi korban DENDI masuk kedalam vagina terdakwa, setelah itu secara bergantian saksi korban DENDI berada diatas tubuh terdakwa dan kemudian mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya selama kurang lebih 5 (lima) menit sehingga saksi korban DENDI merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian kedua yaitu sekitar seminggu setelah kejadian pertama masih dibulan Juni 2011 ketika saksi korban DENDI tidur dirumah terdakwa dan sekitar jam 23.00 WIB terdakwa masuk kedalam kamar tempat saksi korban DENDI tidur dan kemudian langsung memeluk sambil memegang kemaluan dan kemudian menjilat- jilat penis saksi korban DENDI sehingga PENIS saksi korban menjadi tegang, setelah itu terdakwa langsung melepas bajunya sendiri hingga telanjang bulat dan kemudian menyuruh saksi korban DENDI mencium dan memegang payudaranya dan setelah itu terdakwa menyuruh saksi korban DENDI memasukan penisnya kedalam vagina terdakwa hingga saksi korban merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang sampai kurang lebih 30 (tiga puluh) kali dan yang terakhir kali yaitu pada bulan Januari tahun 2013.---
---Selanjutnya pada hari Kamis tanggal 23 Juni 2011 sekira jam 12.00 WIB, ketika saksi korban RAHMAT HIDAYAT (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 53/SKK/12PS.B/1997, lahir tanggal 18 januari 1997) datang kerumah terdakwa dan duduk di sofa yang berada diruang tamu, lalu terdakwa mendekati saksi korban RAHMAT dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 5
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
meminta saksi korban RAHMAT mengurut badannya, saat itu saksi korban RAHMAT tidak mau karena tidak bisa mengurut, namun terdakwa langsung menarik tangan saksi korban RAHMAT masuk kedalam kamarnya, setelah berada didalam kamar terdakwa langsung menutup pintu dan jendela kamar, lalu saksi korban RAHMAT mengurut badan terdakwa pada saat sedang mengurut terdakwa, tiba-tiba tangan terdakwa memegang dan kemudian meraba-raba penis saksi korban RAHMAT setelah itu terdakwa membuka baju dan pakaian dalam saksi korban RAHMAT hingga saksi korban RAHMAT telanjang bulat, setelah itu terdakwa membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat lalu terdakwa memeluk saksi korban RAHMAT, mencium dan memegang kemaluan saksi korban RAHMAT sehingga PENISnya menegang lalu terdakwa naik keatas tubuh saksi korban RAHMAT dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban RAHMAT sehingga penis saksi korban RAHMAT masuk kedalam vagina terdakwa kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa.---
---Selanjutnya pada hari Kamis tanggal 05 September 2011 sekira jam 10.30 WIB, saksi korban AHMAD TAFSIR Alias TAFSIR (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 390/06/IST/
BS/1999/96, lahir tanggal 05 November 1996) sedang berada dirumah terdakwa ketika sedang duduk disofa ruang tamunya, tiba-tiba terdakwa memanggil saksi korban TAFSIR masuk kedalam kamarnya, dan meyuruh saksi korban TAFSIR menutup pintu kamarnya, lalu terdakwa melepas pakaiannya hingga telanjang bulat dan kemudian memeluk, mencium bibirnya dan memegang kemaluan saksi korban TAFSIR sehingga PENIS saksi korban menegang lalu terdakwa menyuruh saksi korban berbaring diatas tempat tidurnya setelah itu terdakwa naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban TAFSIR sehingga penis saksi korban TAFSIR masuk kedalam vagina terdakwa , kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban TAFSIR merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang sampai dengan 3 (tiga) kali.---
---Dan selanjutnya pada hari Rabu tanggal 19 September 2012 sekira jam 22.00 WIB, saksi korban RIKO AUGUS LEVIARDI Alias RIKO (yang masih
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 6
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
berumur 13 (tiga belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 1330/
Ist/2002, lahir tanggal 19 September 2012), saat berada dirumah terdakwa sedang menjaga adeknya yang dititipin dirumah terdakwa, ketika itu terdakwa memanggil saksi korban RIKO dan meminta saksi korban RIKO untuk mengerik punggungnya, namun saksi korban RIKO tidak mau karena tidak bisa, kemudian terdakwa mengajak saksi korban masuk kedalam kamarnya, saat itu terdakwa hanya mengenakan kain yang terbalut dibadannya, kemudian terdakwa menelungkupkan badannya dan saksi korban RIKO mulai mengurut tangan dan kaki terdakwa, pada saat saksi korban RIKO sedang mengurut tiba-tiba terdakwa membalikkan badannya dengan posisi telentang dan kemudian langsung memegang leher dan kemaluan saksi korban RIKO meraba-rabanya hingga penisnya menegang, lalu terdakwa memeluk dan naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban RIKO sehingga penis saksi korban RIKO masuk kedalam vagina terdakwa, kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban RIKO merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang
sampai dengan 3 (tiga)
kali.---
---Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana Pasal 81 ayat (2)
UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
SUBSIDAIR :
---Bahwa ia terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (Alm) MANSYUR
pada waktu antara tanggal 19 April 2011 sampai dengan tanggal 25 Januari 2013 atau setidak-tidaknya pada suatu waktu dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2013 bertempat dirumah terdakwa di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kel. Bentiring Kec. Muara Bangkahulu Kota Bengkulu atau setidak-tidaknya pada tempat–tempat lain yang masih termasuk dalam Daerah Hukum Pengadilan Negeri Bengkulu, dalam hal perbarengan
perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri-sendiri, dengan sengaja melakukan kekerasan atau ancaman kekerasan, memaksa, melakukan tipu muslihat, serangkaian kebohongan atau membujuk anak untuk
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 7
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
melakukan atau membiarkan dilakukan perbuatan cabul, perbuatan mana dilakukan terdakwa dengan cara sebagai berikut :
---Bahwa berawal pada hari Selasa tanggal 19 April 2011 sekira jam 21.00 WIB saksi korban CECEP HANDOKO Als CECEP (yang masih berusia 17 tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 1076/ist/2007 tanggal 12 April 2007 yang ditandatangi oleh Kepala Kantor Catatan Sipil Kota Bengkulu Dra.
EVANELIA JOHAN), kerumah terdakwa di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kel. Bentiring Kec. Muara Bangkahulu Kota Bengkulu, duduk dan ngobrol bersama dengan terdakwa dan MISRAN (suami terdakwa yang saat ini sudah meninggal dunia) dan sekira Jam 00.00 WIB saksi korban CECEP pamit untuk pulang, namun terdakwa menawarkan saksi korban CECEP untuk menginap dirumahnya karena hari sudah malam, dan saksi korban CECEP pun menyetujuinya, ketika berada didalam rumah terdakwa, MISRAN minta diurut, lalu saksi korban masuk kekamar depan dan kemudian mengurut MISRAN hingga tertidur, bahwa sekira jam 01.00 WIB tiba-tiba terdakwa masuk kedalam kamar depan dan minta diurut juga oleh saksi korban CECEP, ketika itu terdakwa langsung berbaring diatas tempat tidur dan saksi korban CECEP pun beralih mengurut kaki terdakwa, kemudian terdakwa menyuruh saksi korban CECEP untuk mematikan lampu kamar setelah mematikan lampu saksi korban CECEP melanjutkan mengurut terdakwa, pada saat itulah terdakwa berkata kepada saksi korban CECEP ”kau ndak dak?”, dan dijawab saksi korban CECEP ”Ndak apo?”, namun tiba – tiba terdakwa langsung meraba – raba kemaluan dan mencium bibir saksi korban CECEP dan kemudian terdakwa membuka baju serta BH-nya lalu terdakwa memeluk saksi korban CECEP sambil menciumi bibir nya setelah itu terdakwa menyuruh saksi korban CECEP untuk membuka bajunya dan kemudian menyuruh saksi korban CECEP untuk memegang payudaranya sambil terdakwa terus memegang penis saksi korban CECEP sehingga penisnya menegang, lalu terdakwa menarik dan kemudian membuka celana saksi korban CECEP setelah itu terdakwa juga membuka celananya sendiri, setelah itu terdakwa mendorong saksi korban CECEP diatas tempat tidur dan kemudian terdakwa naik keatas tubuh saksi korban CECEP dan menindihnya sambil memegang penis saksi korban dan kemudian mengarahkan serta memasukan kedalam vagina terdakwa setelah penis saksi korban CECEP masuk kedalam vagina terdakwa selanjutnya terdakwa mengoyang – goyangkan pantatnya naik turun selama kurang lebih + 20 (dua puluh
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 8
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
menit) menit hingga saksi korban CECEP merasa enak dan mengeluarkan sperma didalam vagina terdakwa, ---
---Selanjutnya pada hari Sabtu tanggal 07 Mei 2011 sekira jam 10.30 WIB , saksi korban REDO AKBAR Alias EDO (yang masih berusia 12 tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 468/Um/1999, lahir pada tanggal 09 Maret 1999), main kerumah terdakwa di Jalan Korpri Raya No 174 Rt 16 / 03 Kel.
Bentiring Kec. Muara Bangkahulu Kota Bengkulu, pada saat saksi korban EDO sedang menonton televisi terdakwa mendekati saksi korban EDO dan meminta saksi korban EDO untuk mengerik badannya sambil menarik tangan saksi korban EDO masuk kedalam kamarnya, setelah berada didalam kamar terdakwa langsung menutup dan kemudian mengunci pintunya setelah itu terdakwa menganti pakaiannya dengan mengunakan pakaian dalam yang dibalut dengan handuk, setelah itu terdakwa langsung mengambil posisi menelungkup diatas tempat tidurnya dan saksi korban EDO pun mulai mengerik punggung terdakwa, kemudian terdakwa berkata ”mau dak ?”, dan dijawab oleh saksi korban EDO ”mau apa may”, dijawab terdakwa”mau upahnyo dak ?”, dijawab oleh saksi korban EDO
”terserahlah nak ngasi apo” lalu terdakwa berkata ”cepatlah, apo-apo yang EDO mau”, namun saksi korban hanya diam saja, ketika itu terdakwa langsung memegang dan kemudian meraba-raba penis saksi korban EDO sambil membuka celana saksi korban EDO lalu terdakwa membuka handuk dan pakaian dalamnya hingga terdakwa telanjang bulat dan terdakwa langsung menelentangkan tubuhnya diatas tempat tidur dan menyuruh saksi korban EDO memasukkan penisnya yang sudah menegang kedalam vagina terdakwa, setelah itu saksi korban mengoyang – goyangkan pantatnya naik turun selama kurang lebih + 7 ( tujuh ) menit hingga saksi korban EDO merasa enak dan mengeluarkan sperma didalam vagina terdakwa. ---
---Selanjutnya pada hari Minggu tanggal 05 Juni 2011 sekira Jam 16.30 WIB, saksi korban DENDI MAHERA Alias DENDI (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 477/929/AK/UM/BU/97 tanggal 04 November 1997 yang ditandatangi oleh Kepala Kantor Catatan Sipil Kabupaten Bengkulu Utara Drs. HENDARMIN) dipanggil oleh terdakwa dan kemudian menyuruh saksi korban DENDI merumput dihalaman rumahnya, dan setelah selesai merumput kemudian terdakwa menyuruh saksi korban DENDI masuk kedalam rumah untuk minum, namun tiba-tiba terdakwa menarik tangan saksi korban DENDI kedalam kamarnya, dan setelah berada didalam kamarnya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 9
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
kemudian terdakwa langsung membuka baju saksi korban DENDI hingga telanjang bulat setelah itu terdakwa juga membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat, setelah itu terdakwa langsung membujuk saksi korban DENDI agar mau melakukan hubungan badan layaknya suami istri dengannya yaitu dengan cara memeluk saksi korban DENDI, mencium bibirnya, memegang kemaluan dan kemudian menjilat- jilat penis saksi korban sehingga PENIS saksi korban DENDI menjadi tegang lalu terdakwa menyuruh saksi korban memegang payudaranya setelah beberapa menit kemudian terdakwa naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban DENDI sehingga penis saksi korban DENDI masuk kedalam vagina terdakwa, setelah itu secara bergantian saksi korban DENDI berada diatas tubuh terdakwa dan kemudian mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya selama kurang lebih 5 (lima) menit sehingga saksi korban DENDI merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian kedua yaitu sekitar seminggu setelah kejadian pertama masih dibulan Juni 2011 ketika saksi korban DENDI tidur dirumah terdakwa dan sekitar jam 23.00 WIB terdakwa masuk kedalam kamar tempat saksi korban DENDI tidur dan kemudian langsung memeluk sambil memegang kemaluan dan kemudian menjilat- jilat penis saksi korban DENDI sehingga PENIS saksi korban menjadi tegang, setelah itu terdakwa langsung melepas bajunya sendiri hingga telanjang bulat dan kemudian menyuruh saksi korban DENDI mencium dan memegang payudaranya dan setelah itu terdakwa menyuruh saksi korban DENDI memasukan penisnya kedalam vagina terdakwa hingga saksi korban merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang sampai kurang lebih 30 (tiga puluh) kali dan yang terakhir kali yaitu pada bulan Januari tahun 2013. ---
---Selanjutnya pada hari Kamis tanggal 23 Juni 2011 sekira jam 12.00 WIB, ketika saksi korban RAHMAT HIDAYAT (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 53/SKK/12PS.B/1997, lahir tanggal 18 januari 1997) datang kerumah terdakwa dan duduk di sofa yang berada diruang tamu, lalu terdakwa mendekati saksi korban RAHMAT dan meminta saksi korban RAHMAT mengurut badannya, saat itu saksi korban RAHMAT tidak mau karena tidak bisa mengurut, namun terdakwa langsung menarik tangan saksi korban RAHMAT masuk kedalam kamarnya, setelah berada didalam kamar terdakwa langsung menutup pintu dan jendela kamar, lalu saksi korban RAHMAT mengurut badan terdakwa pada saat sedang mengurut terdakwa,
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 10
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
tiba-tiba tangan terdakwa memegang dan kemudian meraba-raba penis saksi korban RAHMAT setelah itu terdakwa membuka baju dan pakaian dalam saksi korban RAHMAT hingga saksi korban RAHMAT telanjang bulat, setelah itu terdakwa membuka bajunya sendiri hingga telanjang bulat lalu terdakwa memeluk saksi korban RAHMAT, mencium dan memegang kemaluan saksi korban RAHMAT sehingga PENISnya menegang lalu terdakwa naik keatas tubuh saksi korban RAHMAT dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban RAHMAT sehingga penis saksi korban RAHMAT masuk kedalam vagina terdakwa kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa.---
---Selanjutnya pada hari Kamis tanggal 05 September 2011 sekira jam 10.30 WIB, saksi korban AHMAD TAFSIR Alias TAFSIR (yang masih berumur 14 (empat belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 390/06/IST/
BS/1999/96, lahir tanggal 05 November 1996) sedang berada dirumah terdakwa ketika sedang duduk disofa ruang tamunya, tiba-tiba terdakwa memanggil saksi korban TAFSIR masuk kedalam kamarnya, dan meyuruh saksi korban TAFSIR menutup pintu kamarnya, lalu terdakwa melepas pakaiannya hingga telanjang bulat dan kemudian memeluk, mencium bibirnya dan memegang kemaluan saksi korban TAFSIR sehingga PENIS saksi korban menegang lalu terdakwa menyuruh saksi korban berbaring diatas tempat tidurnya setelah itu terdakwa naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban TAFSIR sehingga penis saksi korban TAFSIR masuk kedalam vagina terdakwa , kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban TAFSIR merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang sampai dengan 3 (tiga) kali.
---
---Dan selanjutnya pada hari Rabu tanggal 19 September 2012 sekira jam 22.00 WIB, saksi korban RIKO AUGUS LEVIARDI Alias RIKO (yang masih berumur 13 (tiga belas) tahun sesuai dengan Kutipan Akta Kelahiran No. 1330/
Ist/2002, lahir tanggal 19 September 2012), saat berada dirumah terdakwa sedang menjaga adeknya yang dititipin dirumah terdakwa, ketika itu terdakwa memanggil saksi korban RIKO dan meminta saksi korban RIKO untuk mengerik punggungnya, namun saksi korban RIKO tidak mau karena tidak bisa, kemudian terdakwa mengajak saksi korban masuk kedalam kamarnya, saat itu terdakwa hanya
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 11
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
mengenakan kain yang terbalut dibadannya, kemudian terdakwa menelungkupkan badannya dan saksi korban RIKO mulai mengurut tangan dan kaki terdakwa, pada saat saksi korban RIKO sedang mengurut tiba-tiba terdakwa membalikkan badannya dengan posisi telentang dan kemudian langsung memegang leher dan kemaluan saksi korban RIKO meraba-rabanya hingga penisnya menegang, lalu terdakwa memeluk dan naik keatas tubuh saksi korban dan mengarahkan vaginanya ke penis saksi korban RIKO sehingga penis saksi korban RIKO masuk kedalam vagina terdakwa, kemudian terdakwa mengoyang-goyangkan dan menaik turunkan pantatnya sehingga saksi korban RIKO merasakan nikmat dan mengeluarkan spermanya didalam kemaluan terdakwa, kejadian terus berlanjut hingga berulang
sampai dengan 3 (tiga) kali.
---
---Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam Pidana Pasal 82 UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
Menimbang, bahwa berdasarkan Surat Tuntutan Pidana dari Jaksa Penuntut Umum tertanggal 19 November 2013 No.PDM-127/BKULU/07/2013 Terdakwa telah dituntut sebagai berikut :
-. Menyatakan Terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (Alm) ST. MANSYUR DR terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah telah melakukan persetubuhan terhadap Anak yang masih di bawah umur sebagaimana di atur dan di ancam dalam Pasal 81 Ayat 2 (2) UU RI NO. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 Ayat (1) KUHP.
-. Menjatuhkan Pidana terhadap Terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (ALM) ST. MANSYUR DR dengan Pidana Penjara selama 12 (dua belas) Tahun dikurangi selama Terdakwa dalam Tahanan dengan perintah agar terdakwa tetap dalam tahanan dan denda sebesar RP. 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah) Subsidair 6 (enam) bulan kurungan.
-. Menetapkan agar terdakwa membayar biaya Perkara sebesar Rp. 2.000,- (dua ribu rupiah).
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 12
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa berdasarkan tuntutan Pidana dari Penuntut Umum tersebut, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu telah menjatuhkan Putusan, yang amarnya berbunyi sebagai berikut :
1 Menyatakan Terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (Alm) ST.
MANSYUR DR tealah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ”membujuk anak melakukan persetubuhan dengan dirinya” ;
2 Menjatuhkan pidana penjara terhadap Terdakwa EMAYARTINI Als MAY Binti (ALM) ST. MANSYUR DR dengan pidana penjara selama 8 (delapan) tahun dan denda sebesar Rp 60.000.000 (enam puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila tidak dibayarkan diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan;
3 Menetapakan masa penangkapan dan penahanan yang telah dijalankan oleh Terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan ;
4 Memerintahkan agar Terdakwa tetap berada di dalam tahanan ;
5 Menyatakan bukti surat Visum Repertum Psychiatrium nomor : 2.029257/4572/1.4 tanggal 15 Juni 2013 di tandatangani oleh dr. Andri Sudjatmoko, SpKJ tetap terlampir dalam berkas perkara ;
6 Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 2.000 (dua ribu rupiah)
Menimbang, bahwa terhadap Putusan tersebut Penasehat Hukum Terdakwa telah menyatakan Banding dihadapan Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu pada tanggal 9 Desember 2013 sebagaimana akta permintaan Banding No. 17/
Akta.Pid/2013/PN.BKL dan selanjutnya permintaan banding tersebut telah diberitahukan dengan cara seksama kepada Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 12 Desember 2013;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 13
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa sehubungan dengan permintaan Banding tersebut Penasehat Hukum Terdakwa telah mengajukan Memori Banding tanggal 2 Januari 2014 dan diserahkan kepada Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu pada tanggal 2 januari 2014 selanjutnya Memori Banding tersebut telah pula diberitahukan dengan secara seksama kepada Jaksa Penuntut Umum pada tanggal 3 januari 2014;
Menimbang, bahwa terhadap Putusan tersebut Jaksa Penuntut Umum telah menyatakan Banding dihadapan Panitera Pengadilan Negeri Bengkulu pada tanggal 10 Desember 2013 sebagaimana Akta Permintaan Banding No. 17/Akta.Pid/2013/
PN.BKL dan selanjutnya Permintaan Banding tersebut telah diberitahukan dengan cara seksama kepada Penasehat Hukum Terdakwa pada tanggal 11 Desember 2013, namun dalam hal ini Jaksa Penuntut Umum tidak mengajukan memori banding ;
Menimbang, bahwa Pengadilan Negeri Bengkulu telah memberitahukan kepada Penasehat Hukum Terdakwa untuk mempelajari berkas perkara kepada Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa masing-masing tanggal 12 Desember 2013 No. W8-U1/2507/Pid.01.10/XII/2013 yang menerangkan bahwa mereka dapat mempelajari berkas perkara selama 7 hari kerja terhitung mulai tanggal 12 Desember 2013 sampai dengan tanggal 20 Desember 2013 sebelum perkara Banding di kirim ke Pengadilan Tinggi Bengkulu;
Menimbang, bahwa permintaan Banding yang diajukan Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa tersebut masih dalam tenggang waktu dan menurut cara serta syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang serta telah diberitahukan dengan Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa maka permintaan Banding tersebut secara formal dapat diterima ;
Menimbang, memori banding tertanggal 02 Januari 2014 yang diajukan oleh terdakwa melalui Penasehat Hukumnya menyangkut dua hal yaitu terhadap Putusan Sela No. 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 10 Oktober 2013 dan Putusan No.290/Pid.B/2013/
PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 pada pokokn ya sebagai berikut :
1 Bahwa, dakwaan Penuntut Umum tidak memuat dakwaan yang disusun secara cermat, jelas dan lengkap tentang tindak pidana yang didakwakan.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 14
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
• Bahwa, dakwaan di susun secara alternatif yaitu kesatu melanggar Passal 81 ayat (2) Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP dan dakwaan kedua melanggar Pasal 82 Undang-undang No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHAP, diamana dalam dua dakwaan tersebut mengandung unsur yang berbeda namun dalam uraiannya tidak ada perbedaan antara dakwaan kesatu dengan dakwaan kedua.
• Bahwa, Penuntut Umum tidak cermat, tidak jelas dan tidak lengkap serta tidak teliti dalam menyusun dakwaan dan tidak membedakan unsur ”bersetubuh dengan unsur perbuatan cabul”;
2 Bahwa, pasal 56 ayat (1) KUHP mensyaratkan dalam hal tersangka atau terdakwa diancam dengan hukuman mati atau lima belas tahun atau bagi yang tidak mampu diancam dengan pidana lima tahun atau lebih, pejabat yang bersangkutan pada semua tingkat pemeriksaan wajib menunjukkan penasehat hukum bagi mereka.
• Bahwa, dalam Putusan Sela No 290/Pid.B/2013/PN.BKL tertanggal 06 september 2013 dalam amar putusan angka 2 menyatakan ”Penasehat Hukum Terdakwa bernama Drs. Benaso Hareta, SH,.MH tidak memiliki keabsahan hukum untuk mendampingi Terdakwa bernama Ema Yartini alias May binti (Alm) Mansyur di Persidangan.
• Bahwa, karena hal diatas maka dalam proses pemeriksaan di kepolisian dan penyerahan berkas kepada Kejaksaan (P 21) yang waktu itu didampingi oleh Drs. Banaso Hareta, SH,. MH maka dianggap tidak pernah didampingi oleh seorang penasehat Hukum, dengan demikian surat dakwaan yang disusun berdasarkan berita acara pemeriksaan tersangka harus dibatalkan.
3 Bahwa dalam Putusan Sela No 290/Pid.B/2013/PN.BKL tertanggal 10 Oktober 2013 halaman 20 dan 21 dalam pertimbangannya pada intinya dalam dakwaan subsidair Pasal 82 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak kata-kata ”perbuatan cabul” di tulis
”persetubuhan” dan hal itu bukanlah kesengajaan yang dilakukan oleh Penuntut Umum dan hal itu Majelis Hakim memandang merupakan clerial error (salah ketik) dan kekeliruan copy paste yang kerap ditemukan dalam tekhnis pengetikan komputer.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 15
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Bahwa, pertimbangan surat diatas sangat dangkal antara lain kalau adanya salah ketik (clerical error) pada satu atau dua buah kata masih dimaklumin jadi kesimpulannya pertimbangan Majelis Hakim tingkat pertama tidaklah berkualitas dan hanya mencari-cari alasan guna menolak eksepsi penasehat hukum.
4 Bahwa, saudara Benosa Harefa karena tidak dapat menunjukkan berita acara sumpah maka ia bukan sebagai seorang advokat sehingga semua tindakan baik di persidangan maupun penyidikan tidaklah sah.
5 Bahwa, pada saat pembacaan Putusan tanggal 03 Desember 2013 disebutkan Kuasa Hukum pembanding adalah Panca Darmawan, SH, Helmi Suanda, SH, Husni Tamrin, SH, dkk. Sementara dalam Putusan Sela maupun Putusan akhir tertulis Husni Tamrin, SH, Lukman, SH, Helmi Suanda, SH dan Yeti Irma, SH, hal ini merupakan keteledoran Majelis Hakim tingkat pertama karena Panca Darmawan, SH dan Helmi Suanda, SH, bukanlah Penasehat Hukum pembanding, karena dalam surat kuasa khusus tanggal 23 Septermber 2013 Penasehat Hukum pembanding adalah : Husni Tamrin, SH, Lukman, SH, Nelly Enggreni, SH dan Yeti Irma, SH.
6 Bahwa, dalam pertimbangan halaman 28 menyebutkan pada pokoknya Penuntut Umum mengajukan dan membacakan bukti surat Visum Refertum perchiatrium No. 2. 029257/4572/1.4 tanggal 15 Mei 2013, hal ini tidak sesuai dengan fakta persidangan karena yang membacakan Visum adalah Majelis Hakim dan permintaan Hakim atas permintaan Penasehat Hukum ; 7 Bahwa, Visum Refertum No. 2. 029257/4572/1.4 tanggal 15 Mei 2013
dalam putusan halaman 28 tertulis oleh RSUD M. Yunus yang ditanda tangani oleh dr. Bina Ampera Bukit, M. Kes sementara pada halaman 41 disebutkan Visum ditanda tangani oleh dokter rumah sakit jiwa Soeprapto Bengkulu yaitu atas nama dr. Andry Sujatmiko, SPKJ hal ini merupakan ketidak jelian Majelis Hakim tingkat pertama, dibuat asal-asalan sehingga putusan tersebut haruslah dibatalkan.
8 Bahwa, dalam pembacaan tuntutan Majelis Hakim tingkat pertama membacakan pemidanaan pembanding dengan 8 (delapan tahun penjara tanpa ada menyebutkan denda sebesar Rp 60.000.000,- lalu Majelis Hakim mengetuk palu satu kali, lalu pembanding berkonsultasi dengan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 16
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Pengadilan Negeri, setelah berkonsultasi pembanding menyatakan pikir- pikir, kemudian Majelis mengatakan ada perubahan masalah pemidanaan yaitu denda sebesar Rp 60.000.000,-. Lalu majelis hakim mengetuk palu satu kali, lalu pembanding berkonsultasi dengan penasehat hukum, setelah berkonsultasi pembanding menyatakan pikir-pikir dan majelis menyatakan ada penambahan masalah pemidanaan yaitu denda sebesar Rp.
60.0000.000,- (enam puluh juta);
Hal ini merupakan keteledoran majelis hakim tingkat pertama yang tidak sesuai dengan ketentuan pasal 197 ayat (1) KUHAP, ketidaklengkapan pembacaan pemidanaan berakibat putusan batal demi hukum;
9 Bahwa ketentuan pasal 81 ayat (1) UU No. 23 tahun 2002 dikenakan penjara dan denda, sementara putusan majelis hakim tingkat pertama hanya mengenakan pidana penjara tanpa denda sebagai pengucapan putusan
”tanpa denda” adalah batal demi hukum. Sebagai mana ketentuan pasal 197 ayat (2) KUHAP;
10 Bahwa pasal 200 KUHAP ” surat keputusan ditandatangani oleh hakim dan panitera seketika setelah putusan itu diucapkan”, dari fakta persidangan putusan dibacakan berupa konsep, dibacakan pada tanggal 03 desember 2013 dan pembanding menyerahkan salinan baru pada tanggal 30 desember 2013 sehingga ada rentang waktu yang panjang bagi majelis hakim untuk merubah putusan tersebut;
11 Bahwa putusan majelis hakim tingkat pertama sebanyak 43 halaman tidak mencantumkan hal-hal yang meringankan dan memberatkan terdakwa (pasal 197 ayat (1) huruf f KUHAP ) sebagai hal dan mengakibatkan putusan batal demi hukum;
12 Bahwa dalam memori banding ini tidak sependapat dengan pertimbangan- pertimbangnan majelis hakim tingkat pertama, pembanding masih tetap berpegang pada nota pembelaan dalam persidangan di tingkat pertama yang pada pokoknya sebagai berikut:
• Bahwa terdakwa EMAYARTINI Als MAY binti (Alm) MASYUR di dakwa dengan dakwaan subsidair: primair pasal 81 ayat (2) UU No. 23 tahun2002 tentang perlindungan anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP, subsidair pasal 82 UU No. 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP. Seharusnya dibuktikan terlebih dahulu kesemua unsur dari dakwaan primair dan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 17
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
subsidair, kalau hanya membuktikan salah satu dari dakwaannya maka perbuatan terdakwa menjadi tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
• Bahwa penasehat hukum terdakwa menanggapi pendapat penuntut umum yang berpendapat bahwa dakwaan primair terbukti ; penasehat hukum terdakwa berpendapat berdasarkan surat visum repertum psychiatrium nomor 2.029257/4572/1.4 tanggal 15 juni 2013 dan keterangan para saksi korban ”setiap orang” tidak terbukti karena ”terdakwa jiwanya cacat dalam tubuhnya ”dan menurut pasal 44 KUHP ayat (1) terdakwa tidak dipidana atas melakukan perbuatan yang tidak sah di pertanggungjawabkan kepadanya disebabkan jiwanya catat. Begitu juga unsur ”dengan sengaja” dengan mendasarkan visum tersebut diatas unsur ini tidak terbukti secara sah dan meyakinkan.
Dari uraian di atas kepada ketua pengadilan tinggi bengkulu mohon untuk memeriksa dan memutus perkara ini dengan amar sebagai berikut :
Dalam Eksepsi
1 Menerima Eksepsi dari penasehat hukum pembanding / terdakwa.
2 Memutuskan surat dakwaan penuntut umum No. Reg : PDM-127/
BKULU/07/2013 tertanggal 17 Juli 2013 batal demi hukum.
3 Membebankan biaya perkara kepada negara.
Dalam Pokok Perkara
1 Membatalkan putusan Pengadilan Negeri Bengkulu No. 290/
Pid.B/2013/PN.BKL karena tidak memenuhi ketentuan pasal 197 ayat (1) KUHAP dan ayat (2) KUHAP;
2 Menerima dan mengabulkan seluruh dalil dan alasan hukum dalam memori banding ini;
3 Menyatakan menurut hukum bahwa pembanding / terdakwa Emayartini Als May binti (Alm) Mansyur DR tidak terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana ”membujuk anak melakukan persetubuhan dengan dirinya”;
4 Membebaskan pembanding / terdakwa Emayartini Als May binti (Alm) Mansyur dari segala dakwaan, setidak-tidaknya membebaskan dari segala tuntutan;.
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 18
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
5 Mengembalikan hak, harkat, martabat serta kedudukan pembanding / terdakwa seperti sedia kala.
6 Membebankan biaya perkara kepada negara. Atau jika majelis hakim tidak sependapat dengan kami, maka putusan yang seadil-adilnya bagi pembanding / terdakwa Emayartini Als May binti (Alm) Mansyur DR.
Menimbang, bahwa setelah Pengadilan Tinggi mempelajari dengan seksama berita acara persidangan dan pertimbangan-pertimbangan hukum dan Putusan dari Pengadilan Negeri Bengkulu ternyata bahwa memori banding poin 1,2,3 dan 4 sudah pernah diajukan dalam eksepsi oleh Penasehat Hukum terdakwa dan oleh Pengadilan Negeri Bengkulu telah dipertimbangkan dalam putusan sela nomor 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 10 Oktober 2013, begitu juga memori banding poin 12 sudah pernah diajukan oleh Penasehat Hukum terdakwa dalam pledoinya dan oleh Pengadilan Negeri Bengkulu telah pula dipertimbangkan dalam putusannya nomor 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 ;
Menimbang, bahwa setelah Pengadilan Tinggi memperhatikan kedua putusan Pengadilan Negeri Bengkulu tersebut, Pengadilan Tinggi berpendapat bahwa pertimbangan-pertimbangan hukum Pengadilan Negeri Bengkulu dalam menanggapi eksepsi dan pledoi tersebut (yang sekarang diajukan kembali dalam memori banding) sudah tepat dan benar, oleh karena itu pertimbangan-pertimbangan hukum tersebut diambil alih dan dijadikan sebagai pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi sendiri dalam mengadili perkara ini ditingkat banding ;
Menimbang, bahwa mengenai memori banding poin 5 dimana ada disebutkan ada keteledoran Majelis Hakim tingkat pertama karena Panca Darmawan, SH dan Helmi Suanda tidak sebagai Kuasa Hukum Terdakwa dalam perkara ini akan tetapi ikut disebutkan dalam pembacaan putusan, Pengadilan Tinggi berpendapat hal tersebut memang kekhilafan Majelis Hakim Tingkat Pertama akan tetapi secara Yuridis tidak berpengaruh terhadap Putusan karena pada saat menyebut kedua Penasehat Hukum tersebut dalam putusan juga disebut Husni Tamrin, SH, Lukman, SH dan Yeti Irma, SH dimana ketiga Penasehat Hukum ini sah sebagai Penasehat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 19
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Hukum Terdakwa sebagaimana disebutkan dalam surat kuasa khusus tertanggal 23 September 2013 ;
Menimbang, bahwa mengenai memori banding poin 06 dimana disebutkan dalam Putusan bahwa yang membacakan Visum Refertum Psychiatrium nomor 2.029257/4572/1.4 tanggal 15 Mei 2013 adalah Penuntut Umum, sedangkan fakta persidangan yang membacakan adalah Majelis Hakim, dalam hal ini pengadilan Tinggi berpendapat bahwa secara yuridis tidak ada kesalahan, yang penting visum dibacakan dalam persidangan dan telah dimengerti oleh terdakwa ;
Menimbang, bahwa mengenai memori banding poin 7, setelah Pengadilan Tinggi meneliti berkas perkara ini ternyata hanya ada 1 (satu) visum et refertum yaitu VER nomor 2.029257/4572/1.4 tanggal 15 Juni 2013 yang dikeluarkan oleh rumah sakit jiwa Soeprapto Bengkulu yang ditandatangani oleh dr. Andry Sudjatmoko, SPKJ, (seperti tertulis pada salinan putusan halaman 41), sedang pada salinan putusan halaman 28 tertulis Visum Refertum Psychiatrium nomor 2.029257/4572/1.4 tanggal 15 Juni 2013 dari RSUD dr. M. Yunus yang ditandatangani oleh dr Bina Ampera Bukit M.Kes , dengan demikian memang terjadi salah ketik pada halaman 28 tersebut, dalam hal ini Pengadilan Tinggi berpendapat memang ada kekhilafan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang menangani perkara ini, namun salah ketik yang demikian ini tidak menjadikan putusan batal demi hukum;
Menimbang, bahwa mengenai memori banding poin 10 hal tersebut mengenai proses administrasi dan tidak bisa dipertimbangkan secara Yuridis dalam tingkat banding ;
Menimbang, bahwa untuk memori banding poin 8,9 dan 11 mengandung pengertian yang hampir sama dan berkaitan yang pada intinya putusan Pengadilan Negeri Bengkulu nomor. 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 melanggar pasal 197 ayat (1) KUHAP Jo pasal 197 (2) KUHAP dan karenanya putusan tersebut berakibat batal demi hukum ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 20
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Menimbang, bahwa dalam hal ini, Pengadilan Tinggi telah memutus dengan putusannya nomor. 02/Pid.2014/PT.BKL tanggal 13 Februari 2014 yang Amarnya membatalkan putusan nomor. 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 dan mengadili sendiri dengan memerintahkan Pengadilan Negeri Bengkulu untuk memutus kembali perkara nomor. 290/
Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 guna menyempurnakan pertimbangan yang belum lengkap serta pencantuman ketentuan pasal 197 ayat (1) yang dilalaikan ;
Menimbang, bahwa putusan pengadilan Negeri Bengkulu di atas yang dinyatakan batal demi hukum oleh Pengadilan Tinggi setelah disempurnakan oleh Pengadilan Negeri Bengkulu telah dikirim kembali ke Pengadilan Tinggi yaitu putusan nomor 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas dan setelah Pengadilan Tinggi memperhatikan dan mempelajari putusan nomor 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 yang sudah disempurnakan Pengadilan Tinggi berpendapat bahwa pertimbangan- pertimbangan hukum dalam putusan tersebut dinilai sudah benar dan oleh karenanya diambil alih menjadi pertimbangan hukum Pengadilan Tinggi dalam memeriksa perkara ini di tingkat banding, karena dari keterangan para saksi dihubungkan dengan keterangan terdakwa dan barang bukti maka terdakwa telah terbukti secara sah dan menyakinkan bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana disebutkan dalam putusan Pengadilan Negeri Bengkulu 290/Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 ;
Menimbang, bahwa selain itu Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bengkulu telah tepat pula dalam merumuskan kualifikasi mengenai tindak pidana yang telah terbukti tersebut, sebagaimana dalam Amar Putusannya ;
Menimbang, bahwa mengenai lamanya pidana penjara yang telah dijatuhkan kepada terdakwa, pengadilan Tinggi sependapat dengan
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 21
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
lamanya pidana penjara yang telah dijatuhkan tersebut, karena telah setimpal dengan kesalahannya dan memenuhi rasa keadilan ;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas maka Putusan Pengadilan Negeri Bengkulu nomor : 290/
Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 yang telah disempurnakan yang dimintakan banding tersebut dapat dipertahankan oleh karena itu harus dikuatkan ;
Menimbang, bahwa oleh karena dalam pemeriksaan tingkat banding terdakwa berada dalam tahanan, maka sesuai dengan ketentuan pasal 242 KUHAP, Pengadilan Tinggi akan memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan ;
Menimbang, bahwa oleh karena terdakwa tetap dinyatakan bersalah dan dijatuhi pidana maka biaya perkara akan dibebankan kepada terdakwa dalam kedua tingkat peradilan ;
Memperhatikan pasal 81 ayat (2) Undang-undang nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak Jo Pasal 65 ayat (1) KUHP, Undang- undang nomor 08 Tahun 1981 (KUHAP) dan ketentuan-ketentuan hukum lainnya yang bersangkutan ;
M E N G A D I L I
• Menerima permohonan banding dari Penasehat Hukum Terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum ;
• Menguatkan Putusan Pengadilan Negeri Bengkulu nomor 290/
Pid.B/2013/PN.BKL tanggal 03 Desember 2013 yang dimintakan banding tersebut ;
• Memerintahkan agar terdakwa tetap ditahan ;
• Membebankan kepada terdakwa untuk membayar biaya perkara dalam kedua tingkat peradilan yang dalam tingkat banding sebesar Rp 5000 ;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu.
Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui : Email : [email protected]
Telp : 021-384 3348 (ext.318) Halaman 22