• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017"

Copied!
68
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENDERITA DENGAN KEJADIAN MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUP

HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2013-2016

SKRIPSI

Oleh :

GHUMAISYA SAFIRA 140100057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(2)

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PENDERITA DENGAN KEJADIAN MALARIA PADA PASIEN RAWAT INAP DI RSUP

HAJI ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2013-2016

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

GHUMAISYA SAFIRA 140100057

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2017

(3)

i

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas berkat dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

“Karakteristik Pasien Penyakit Jantung Koroner yang Dilakukan Coronary Artery Bypass Graft di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2015-2016” yang merupakan salah satu persyaratan untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran (S.Ked) di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna dari isi dan pembahasannya, namun penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapapun pembacanya. Penulisan penelitian ini terselesaikan tidak terlepas dari dukungan dan doa dari berbagai pihak. Untuk itu, Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada :

1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe,Sp.S (K) selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Nurfida K Arrasyid, M.Kes selaku Dosen Pembimbing yang telah banyak memberikan dukungan melalui ide, saran, petunjuk, dan nasihat kepada Penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

3. dr. Johny Marpaung, M.Ked(OG), Sp.OG sebagai Ketua Penguji dan dr.

Malayana R. Nst, M.Ked, Sp.PK sebagai Anggota Penguji yang telah banyak memberikan saran dan nasihat kepada Penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan.

4. Kedua orangtua yang penulis hormati dan sayangi Ayahanda dr.Refli Hasan,SpPD,KKV FINASHIM,SpJP(K) dan Ibunda Nuraini Abubakar atas doa dan segala jasa-jasanya yang tidak mungkin terucapkan dan terbalaskan, semoga keduanya selalu dalam lindungan Allah SWT.

5. Yang terkasih abang dan kakak penulis, dr.Rizka Maulidia,dr.Hiro Daniel Nst,Sp.OG,serta dr.Reza Abdillah lbs yang telah memberikan doa dan dukungannya dalam pembuatan skripsi ini.

(5)

6. Teman-teman penulis, Anita Sari, Halisyah Hasyim, Nisrina Sari, Atika Dalila, Atikah Zahra, Destrie Cindy, Cut Zia, Hilda Filia, Namira Ayu, Anisa Fitri, Namira Friliandita, Ashila Pritta, Ivana Gracia, Nisa Nurjannah, Derisa Khairina yang telah memberikan waktu dan pendapatnya dalam pembuatan skripsi ini.

7. Semua pihak yang telah membantu langsung yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Akhir kata saya memohon maaf jika terdapat kesalahan dalam penulisan skripsi ini. Semoga Allah SWT membalas semua jasa dan budi baik mereka yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian ini serta melindungi kita semua.

Medan,13 Desember 2017

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Sampul ... i

Halaman Pengesahan ... ii

Kata Pengantar... iii

Daftar Isi ... v

Daftar Gambar ... vii

Daftar Tabel ... viii

Daftar Singkatan ... ix

Abstrak ... x

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 3

1.3 Tujuan Penelitian ... 3

1.3.1 Tujuan Umum ... 3

1.3.2 Tujuan Khusus ... 3

1.4 Manfaat Penelitian ... 4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ... 5

2.1 Definisi Malaria ... 5

2.2 Etiologi Malaria ... 5

2.3 Patogenesis Malaria ... 6

2.3.1 Siklus Hidup Plasmodium... 6

2.4 Masa Inkubasi dan Manifestasi Klinis Malaria ... 8

2.4.1 Masa Inkubasi ... 8

2.4.2 Manifestasi Klinis ... 8

2.5 Diagnosis Malaria ... 11

2.6 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kejadian Malaria ... 13

2.6.1 Faktor Manusia ... 13

2.6.2 Faktor Nyamuk ... 14

2.6.3 Faktor Lingkungan ... 15

(7)

2.6.4 Faktor Agent (Plasmodium) ... 18

2.7 Pengobatan Malaria ... 19

2.7.1 Malaria Tanpa Komplikasi ... 18

2.7.2 Malaria berat (Komplikasi)... 20

2.8 Pencegahan Malaria ... 22

2.8.1 Mencegah gigitan vector ... 22

2.8.2 Kemoprofilaksis ... 23

2.9 Prognosis Malaria ... 23

2.10 Kerangka Teori ... 24

2.11 Kerangka Konsep ... 25

2.12 Hipotesis... .... 25

BAB 3 METODELOGI PENELITIAN ... 26

3.1 Jenis Penelitian ... 26

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 26

3.3 Populasi dan Sampel ... 26

3.3.1 Populasi ... 26

3.3.2 Sampel... 26

3.4 Teknik Pengumpulan Data... 27

3.5 Metode Analisa Data ... 28

3.6 Definisi Operasional ... 29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN... 31

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN... 38

DAFTAR PUSTAKA ... 40

LAMPIRAN... . 41

(8)

DAFTAR GAMBAR

No. Judul Halaman

2.1 Siklus Hidup Plasmodium... 7 2.2 Kerangka Teori ... 25 2.3 Kerangka Konsep ... 26

(9)

DAFTAR TABEL

No. Judul Halaman

3.6 Definisi Operasional Penelitian... ... 29

4.1 Distribusi kejadian malaria berdasarkan karakteristik ... 31

4.2 Hubungan jenis kelamin dengan kejadian malaria ... 33

4.3 Hubungan usia dengan kejadian malaria ... 34

4.4 Hubungan pekerjaan dengan kejadian malaria ... 35

4.5 Hubungan pendidikan dengan kejadian malaria ... 36

(10)

DAFTAR SINGKATAN

ACT : Arthemisin-based Combination Therapy AMI : Annual Malaria Insidence

API : Annual Parasit Insidence

ARDS : Adult Respitatory Distress Syndrome

AS : Artesunat

DHP : Dihidroartemisin Piperakuin GCS : Glasgow Coma Skale IMT : Indeks Masa Tubuh KLB : Kejadian Luar Biasa NaCl : Natrium Clorida OAM : Obat Anti Malaria RDT : Rapid Diagnostic Test SD : Sediaan Darah

SPSS : Statistical Package for Social Science

(11)

ABSTRAK

Latar Belakang. Malaria ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk Anopheles sp betina yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. Karakteristik penderita malaria sepertijenis kelamn, usia, genetik, kehamilan, status gizi, pekerjaan dan pendidikanjuga kesehatan lingkungan fisik, kimia, biologis, sosial ekonomi dan budaya merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit malaria di Indonesia. Spesies Plasmodium pada manusia adalah Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae.Tujuan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016. Metode. Populasi penelitian ini adalah pasien dengan dan tanpa malaria berjumlah 38 orang dengan masing-masing kelompok yang dihitung dengan menggunakan tehnik besar sampel untuk uji hipotesis terhadap 2 proporsi. Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik observasional dengan desain case kontrol, dan tehnik pengumpulan data menggunakan rekam medik dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa jenis kelamin terbanyak pada penderita malaria adalah laki-laki (76,3%), usia yang menderita terbanyak pada kelompok usia 31-40 (21,1%), pekerjaan terbanyak penderita malaria adalah kelompok yang tidak berisiko (92,1%), status pendidikan penderita malaria terbanyak pada kelompok SMA (39,5%), derajat keparahan penderita malaria yang terbanyak adalah malaria berat (57,9%) penyebab malaria terbanyak pada Plasmodium falciparum (81,6%).

Terdapat hubungan antara jenis kelamin (p =0,002) , usia (p = 0,025), dan pendidikan (p = 0,049%) dengan kejadian malaria. Sedangkan pekerjaan (p = 0,711) tidak berhubungan dengan kejadian malaria.

Kata kunci : Malaria, Karakteristik penderita, Hubungan kejadian, Rawat Inap

(12)

ABSTRACT

Background of study. Malaria is transmitted to human through biting of Anopheles female mosquito caused by protozoa of the Plasmodium genus. The characteristics of malaria sufferers such as sex, age, genetic, pregnancy, nutritional status, occupation, education physical, chemical, biological, socio economic as well as cultural environments are very influential factors in the spread of malaria disease in Indonesia. The species of Plasmodium in human is Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale, Plasmodium malariae. Aim. The purpose of this study is to know the relationship of patient characteristics with the incidence of malaria in hospitalizied patients at Haji Adam Malik General Hospital Medan in 2013-2016. Methods.The population of this study was patients with and without malaria ,all of them were 38 persons with each group calculated using a large sample technique to test the hypothesis against 2 proportions.

This kind of this research is observasional analytic research with case control design and data collection technique using medical record and analyzed using Ch-Ssquare test. Results. The results of this study indicates that the largest gender in malaria patients is male (76,3%), ages suffering the most in the 31-40 age group (21,1%), the most occupations of suffers of malaria are those who aren’t at risk (92,1%),education status of most malaria suffers in senior high school(39,5%), the severity of most malaria suffers is severe malaria (57,9%), the most common cause of malaria in Plasmodium falciparum (81,6%),. There is relationship between sex (p = 0,002), age (p = 0,025), education (p = 0,049) with the incidence of malaria.While the work (p = 0,711) isn’t related to the incidence of malaria.

Keywords: Malaria, Characteristic of the patient, Relationship events, Inpatient

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

LATAR BELAKANG

Malaria merupakan salah satu penyakit yang masih mengancam kesehatan masyarakat dunia. Penyakit ini dapat menginfeksi manusia yang disebabkan oleh protozoa dari genus Plasmodium. Penyakit ini ditularkan ke orang lain melalui gigitan nyamuk Anopheles sp. Spesies Plasmodium yang dapat menyebabkan malaria pada manusia terdiri dari: Plasmodium falciparum, Plasmodium vivax, Plasmodium ovale dan Plasmodium malariae. Dari keempat spesies yang biasanya menginfeksi manusia 95% disebabkan oleh Plasmodium falciparum dan Plasmodium vivax. Beberapa pengamatan menunjukan bahwa infeksi Plasmodium vivax dapat mencapai 80% distribusinya dan yang paling luas tersebar di daerah tropis,subtropis dan beriklim sedang. Sedangkan Plasmodium falciparum umumnya terbatas di daerah tropis(Garcia dan Bruckner, 2009).

Berdasarkan The World Malaria Report (2011) melaporkan bahwa sampai tahun 2010 tercatat 216 juta kasus malaria diantara 3,3 miliar penduduk dunia yang beresiko terkena penyakit malaria. Pada tahun 2010 tercatat 655.000 orang meninggal akibat malaria diseluruh dunia.Sebanyak 91% kematian akibat malaria terjadi di Afrika (World Health Organization, 2011).

Faktor resiko yang berperan terjadi infeksi malaria adalah faktor karakteristik demografi yaitu usia, jenis kelamin, genetik, kehamilan, status gizi, aktivitas keluar rumah (pekerjaan) dan pendidikan. Untuk mengatasi permasalahan penyakit malaria di wilayah endemis perlu dilakukan dengan pendekatan epidemiologis yang mencakup kondisi lingkungan dan sosial ekonomi penduduk. Meningkatnya penularannya malaria melalui gigitan nyamuk Anopheles betina disebabkan faktor kesehatan lingkungan fisik, kimia, biologis, sosial ekonomidan budaya yang sangat berpengaruh terhadap penyebaran penyakit malaria di Indonesia (World Health Oirganization, 2009 ).

(14)

2

Menurut survey kesehatan rumah tangga tahun 2001, terdapat 15 juta kasus malaria dengan 38.000 kematian setiap tahunnya. Diperkirakan 35%

penduduk Indonesia tinggal di daerah yang berisiko tertular malaria. Dari 488 kabupaten atau kota yang ada di Indonesia, 338 kabupaten atau kota merupakan wilayah endemis malaria. Di Jawa dan Bali, masih terjadi fluktuasi dari angka kesakitan malaria yang diukur dengan Annual Parasit Insidence (API) yaitu 0,95% pada tahun 2005, meningkat menjadi 0,19% pada tahun 2006 dan menurun lagi menjadi 0,16% pada tahun 2007. Namun angka ini didapat dari laporan rutin, masih banyak kasus malaria yang belum terdiagnosa. Hal ini tampak dari sering terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) malaria.Jumlah penderita positif malaria di luar Jawa dan Bali diukur dengan Annual Malaria Insidence (AMI) menurun dari 24,75% pada tahun 2005 menjadi 23,98% pada tahun 2006 dan menjadi 19,67%

pada tahun 2007. Angka kematian karena malaria berhasil ditekan 0,92% pada tahun 2005 menjadi 0,42% pada tahun 2006 dan menurun lagi menjadi 0,2% pada tahun 2007(Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan RI, 2008).

Sekretaris Dinas Kesehatan Sumatra Utara melaporkan bahwa saat ini sudah ada 16 daerah yang eliminasi penyakit malaria ini. Daerah tersebut adalah Kota Medan, Binjai, Tebing Tinggi, Siantar, Tanjung Balai, Sibolga, Sidempuan, Labusel, Humbahas, Simalungun, Karo, Sergei, Deli Serdang, Tapsel, Samosir dan Tobasa. Untuk daerah yang banyak ditemukan kasus malaria di Sumatra Utara ada di 3 daerah, yakni Kabupaten Madina, Batubara, serta Asahan. Daerah yang tertinggi berasal dari Madina dengan jumlah sebanyak 2.995 kasus. Pada tahun 2015, kasus malaria yang ditemukan sebesar 7.311 kasus. Sementara pada tahun 2016, bulan Januari terdapat 244 kasus dan Februari terdapat 206 kasus ( Dinas Kesehatan Sumatera Utara, 2016).

Mengenai penanggulangan malaria, perlu ditekankan pentingnya penegakkan diagnosis dini dari kasus-kasus malaria, di samping pemberian pengobatan yang sempurna dan membuat rujukan yang tepat. Untuk menegakkan diagnosis anti malaria dibutuhkan pengetahuan mengenai gejala-gejala klinik

(15)

3

malaria pada umumnya, dan yang lebih penting pengetahuan tentang malaria berat atau malaria yang berkomplikasi.

RSUP Haji Adam Malik merupakan salah satu Unit Pelayanan Kesehatan di Sumatra Utara dan menyelenggarakan pelayanan kesehatan menjadi rujukan Unit Pelayanan Kesehatan lainnya. Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mengenai hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malariapada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik tahun 2013- 2016.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang di atas, maka peneliti merumuskan masalah penelitian yaitu sebagai berikut: “Apakah terdapat hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016?”

1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 TUJUAN UMUM

Untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013- 2016.

1.3.2 TUJUAN KHUSUS

Yang menjadi tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

a. Jenis kelamin penderita malaria yang paling sering dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

b. Usia terbanyak penderita malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

c. Pekerjaan penderita malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

(16)

4

d. Pendidikan penderita malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

e. Derajat keparahan penderita malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

f. Spesies yang menginfeksi penderita malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

1.4 MANFAAT PENELITIAN

a. Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memberikan informasi tentang hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

b. Penelitian ini bermanfaat sebagai referensi untuk penelitian selanjutnya.

c. Agar dapat memberikan informasi tentang penderita malaria kepada pemerintah sehingga dapat dijadikan masukan dalam kebijakan-kebijakan dan tindakan pencegahan penyakit malaria.

(17)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DEFINSI MALARIA

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit plasmodium yang hidup dan berkembang biak didalam sel darah manusia. Penyakit ini secara alami ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles betina (DepKes RI, 2007).

2.2 ETIOLOGI MALARIA

Penyakit malaria ini disebabkan oleh parasit Plasmodium. Spesies Plasmodium pada manusia adalah (Clyde et al., 2007) :

1. Plasmodium falciparum menyebabkan malaria falciparum atau malaria tertiana maligna/malaria tropika/malaria pernisiosa.

2. Plasmodium vivax menyebabkan malaria vivax atau malaria tertiana benigna.

3. Plasmodium ovale menyebabkan malaria ovale atau malaria tertiana benigna ovale.

4. Plasmodium malariae menyebabkan malaria malariae atau malaria kuartana.

5. Plasmodium knowlesi yang selama ini dikenal hanya ada pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), ditemukan pula ditubuh manusia.Manusia dapat terinfeksi Plasmodium knowlesi yang ditularkan dari kera atau dari manusia lain melalui perantara gigitan nyamuk Anopheles cracens dan Anopheles maculatus. Gejala berupa demam setiap 24 jam (quotidian fever) dan gejala lain yang tidak khas.

Plasmodium falciparum merupakan penyebab infeksi yang berat dan bahkan dapat menimbulkan suatu variasi manifestasi-manifestasi akut dan jika tidak diobati,dapat menyebabkan kematian (Soemarwo, 2010; Band, 2008).

Seorang dapat menginfeksi lebih dari satu jenis Plasmodium,dikenal sebagai infeksi campuran/majemuk (mixed infection). Pada umumnya lebih banyak dijumpai dua jenis Plasmodium, yaitu campuran antara Plasmodium

(18)

6

falciparum dan Plasmodium vivax atau Plasmodium malariae. Kadang-kadang dijumpai 3 jenis Plasmodium sekaligus, meskipun hal ini jarang terjadi. Infeksi campuran biasanya terdapat di daerah dengan angka penularan tinggi (Band, 2008).

2.3 PATOGENESIS MALARIA 2.3.1 Siklus Hidup Plasmodium

1. Siklus aseksual dalam tubuh manusia a. Stadium Hati (Exo-Eryhrocytic Schizogony)

Stadium ini dimulai ketika nyamuk Anopheles betina menggigit manusia dan memasukkan sprozoit yang terdapat pada air liurnya ke dalam darah manusia sewaktu menghisap darah. Dalam waktu yang singkat (± ½ - 1 jam) semua sporozoit menghilang dari peredaran darah masuk ke dalam sel hati dan segera menginfeksi sel hati. Selama 5-16 hari dalam sel-sel hati (hepatosit) sporozoit membelah diri secara aseksual, dan berubah menjadi sizon hati (sizon kriptozoik) tergantung dari spesies parasit malaria yang menginfeksi. Sesudah sizon kriptozoik dalam sel hati menjadi matang, bentuk ini bersama sel hati yang diinfeksi akan pecah dan mengeluarkan 5.000-30.000 merozoit tergantung spesiesnya yang segera masuk ke sel-sel darah merah (Gunawan, 2009; Manalu, 2012; Putu, 2009; Nugroho, 2010).

b. Stadium Darah

Siklus di darah dimulai dengan keluarnya merozoit dari skizon matang di hati ke dalam sirkulasi dan berubah menjadi trofozoit muda (bentuk cincin).

Trofozoit muda tumbuh menjadi trofozoit dewasa dan selanjutnya membelah diri menjadi sizon. Sizon yang sudah matang dengan merozoit-merozot di dalamnya dalam jumlah maksimal tertentu tergantung dari spesiesnya, pecah bersama sel darah merah yang diinfeksi, dan merozoit-merozoit yang dilepas itu kembali menginfeksi ke sel-sel darah merah tadi untuk mengulang siklus tadi. Keseluruhan siklus yang terjadi berulang di dalam sel darah merah disebut siklus eritrositik aseksual atau sizogoni darah (Putu, 2009; Nugroho, 2010).

(19)

7

2. Siklus seksual dalam tubuh nyamuk

Setelah siklus sizogoni darah berulang beberapa kali, beberapa merozoit tidak lagi menjadi sizon, tetapi berubah menjadi gametozit dalam sel darah merah, yang terdiri dari gametosit jantan dan betina. Siklus terakhir ini disebut siklus eritristik seksual atau gametogoni. Jika gametosit yang matang diisap oleh nyamuk Anopheles, di dalam lambung nyamuk terjadi proses ekflagelasi gametosit jantan, yaitu dikeluarkannya 8 sel jantan (mikrogamet) yang bergerak aktif mencari sel gamet betina. Selanjutnya pembuahan terjadi antara satu sel gamet jantan (mikrogamet) dan satu sel gamet betina (makrogamet) menghasilkan zigot dengan bentuknya yang memanjang lalu berubah menjadi ookinet yang bentuknya vermiformis dan bergerak aktif menembus mukosa lambung. Di dalam dinding lambung paling luar ookinet mengalami pembelahan inti menghasilkan sel-sel yang memenuhi kista yang membungkusnya disebut ookista. Di dalam ookista dihasilkan puluhan ribu sporozoit, menyebabkan ookista pecah dan menyebarkan sporozoit-sporozoit yang berbentuk seperti rambut ke seluruh bagian rongga badan nyamuk (hemosel) dan dalam beberapa jam saja menempuk di dalam kelenjar ludah nyamuk dan siap menginfeksi manusia (Putu, 2009;

Nugroho, 2010).

Dibawah ini gambar siklus hidup Plasmodium melalui perkembangan aseksual dan seksual:

Gambar 2.1. Siklus Hidup Plasmodium Sumber :CDC, Life Cycle of the Malaria Paraite

(20)

8

2.4 MASA INKUBASI DAN MANIFESTASI KLINIS MALARIA 2.4.1 Masa Inkubasi

1. Masa Inkubasi pada Manusia (Ekstrinsik)

Masa inkubasi bervariasi pada masing-masing Plasmodium. Masa inkubasi pada inkulasi darah lebih pendek dari infeksi sporozoit. Secara umum masa inkubasi Plasmodium falcifarum adalah 9 sampai 14 hari, Plasmodium vivax adalah 12 sampai 17 hari, Plasmodium ovale adalah 16 sampai 18 hari, sedangkan pada Plasmodium malariae bisa 18 sampai 40 hari (Harijanto, 2010).

2. Masa Inkubasi pada Nyamuk (Intrinsik)

Adapun masa inkubasi atau lamanya stadium sporogoni pada nyamuk adalah Plasmodium vivax 8-10 hari, Plasmodium falcifarum 9-10 hari, Plasmodium ovale 12-14 hari dan Plasmodium malariae 14-16 hari (Harijanto , 2010).

2.4.2 Manifestasi Klinis

2.4.2.a Umumnya manifestasi klinis yang disebabkan Plasmodium falciparum lebih berat danlebih akut dibandingkan dengan jenis Plasmodium yang lain, sedangkangejala yang disebabkan oleh Plasmodium malariae dan Plasmodium ovale adalah yang palingringan. Gambaran khas dari penyakit malaria ialah adanya demam yangperiodik, pembesaran limpa (splenomegali), dan anemia (turunnya kadarhemoglobin dalam darah) (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

1. Demam

Sebelum timbul demam biasanya penderita malaria akan mengeluhlesu, sakit kepala, nyeri tulang dan otot, kurang nafsu makan, rasatidak enak di bagian perut, diare ringan, dan kadang-kadang merasadingin di punggung. Umumnya keluhan seperti ini timbul pada malariayang disebabkan Plasmodium vivax dan Plasmodium ovale, sedangkan pada malariakarena Plasmodium falciparum dan Plasmodium malariae, keluhan-keluhan tersebut tidakjelas. Demam pada malaria

(21)

9

bersifat periodik dan berbeda waktunya,tergantung dari Plasmodium penyebabnya. Plasmodium vivax menyebabkanmalaria tertiana yang timbul teratur tiap tiga hari. Plasmodium malariaemenyebabkan malaria quartana yang timbul teratur tiap empat haridan Plasmodium falciparum menyebabkan malaria tropika dengan demam yangtimbul secara tidak teratur tiap 24 – 48 jam (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

Serangan demam yang khas pada malaria terdiri dari tiga stadium,yaitu : a. Stadium menggigil

Dimulai dengan perasaan kedinginan hingga menggigil.Penderitasering membungkus badannya dengan selimut atau sarung. Padasaat menggigil seluruh tubuhnya bergetar, denyut nadi cepat tetapilemah, bibir dan jari-jari tangan biru, serta kulit pucat. Pada anak-anaksering disertai kejang-kejang. Stadium ini berlangsung 15menit – 1 jam dan dengan meningkatnya suhu badan (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

b. Stadium puncak demam

Penderita berubah menjadi panas tinggi. Wajah memerah, kulit kering dan terasa panas seperti terbakar, frekuensi napas meningkat, nadi penuh dan berdenyut keras, sakit kepala semakin hebat, muntah-muntah, kesadaran menurun, sampai timbul kejang (pada anak-anak). Suhu badan bisa mencapai 41oC. Stadium ini berlangsung selama 2 jam atau lebih diikuti dengan keadaan berkeringat (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

c. Stadium berkeringat

Seluruh tubuhnya berkeringat banyak, sehingga tempat tidurnya basah.

Suhu badan turun dengan cepat, penderita merasa sangat lelah, dan sering tertidur.

Setelah bangun dari tidur, penderita akan merasa sehat dan dapat melakukan tugas seperti biasa. Padahal, sebenarnya penyakit ini masih bersarang dalam tubuhnya.

Stadium ini berlangsung 2-4 jam.

(22)

10

Catatan : Serangan demam yang khas ini sering dimulai padasiang hari dan berlangsung selama 8 – 12 jam. Lamanyaserangan demam berbeda untuk tiap spesies malaria (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

2. Pembesaran limpa

Pembesaran limpa merupakan gejala khas pada malaria kronis. Limpa menjadi bengkak dan terasa nyeri. Pembengkakan tersebut diakibatkan oleh adanya penyumbatan sel-sel darah merah yang mengandung parasit malaria.

Lama-lama konsistensi limpa menjadi keras karena bertambahnya jaringan ikat.

Dengan pengobatan yang baik, limpa dapat berangsur normal kembali (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

3. Anemia

Anemia atau penurunan kadar hemoglobin darah sampai di bawah normal disebabkan penghancuran sel darah merah yang berlebihan oleh parasit malaria.

Selain itu, anemia timbul akibat gangguan pembentukan sel darah merah di sumsum tulang. Gejala anemia berupa badan lemas, pusing, pucat, penglihatan kabur, jantung berdebar-debardan kurang nafsu makan (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik Ditjen Bina Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI, 2008).

2.4.2.b Malaria Berat

Malaria berat disebabkan oleh infeksi Plasmodium falsiparum aseksual dengan satu atau lebih komplikasi sebagai berikut : (Harijanto,2010; Zulkarnain et al., 2012; World Health Organization, 2009; Ansley et al., 2007; Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia, 2013).

1. Malaria serebral: koma tidak bisa dibangunkan, derajat penurunan kesadaran dilakukan penilaian GCS ( Glasgow Coma Skale ), < 11, atau lebih dari 30 menit setelah serangan kejang yang tidak disebabkan oleh penyakit lain 2. Anemia berat ( Hb < 5 gr% atau hematokit < 15% ) pada hitung parasit >

10.000/μL, bila anemianya hipokromik / mikrositik dengan

(23)

11

mengenyampingkan adanya anemia defisiensi besi, talasemia / hemoglobinopati lainnya

3. Gagal ginjal akut ( urin < 400 ml/ 24 jam pada orang dewasa atau < 12 ml/kgBB pada anak setelah dilakukan rehidrasi, dan kreatinin > 3 mg% ) 4. Edema paru / ARDS (Adult Respitatory Distress Syndrome)

5. Hipoglikemi: gula darah <40 mg%

6. Gagal sirkulasi atau Syok, tekanan sistolik <70 mmHg disertai keringat dingin atau perbedaan tamperatur kulit-mukosa >10 C.

7. Perdarahan spontan dari hidung, gusi, traktus disgestivus atau disertai kelainanlaboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler.

8. Kejang berulang lebih dari 2x/24 jam setelah pendinginan pada hipertemia 9. Asidemia (pH <7.25) atau asidosis (plasma bikarbonat <15 mmol/L)

10. Makroskopik hemoglobinuri (black water fever)oleh karena infeksi padamalaria akut (bukan karena obat anti malaria pada kekurangan G-6-PD) 11. Diagnosa post-mortem dengan ditemukannya parasit yang padat pada

pembuluh kapiler pada jaringan otak.

Beberapa keadaan lain yang juga digolongkan sebagai malaria berat sesuai dengangambaran klinik daerah setempat ialah:

1. Gangguan kesadaran ringan (GCS <15) di Indonesia sering dalam keadaandelirium dan somnolen

2. Kelemahan otot (tak bisa duduk / berjalan) tanpa kelainan neurologik

3. Hiperparasitema >5% pada daerah hipoendemik atau daerah tak stabil malaria 4. Ikterik (bilirubin >3 mg%)

5. Hiperpireksia (temperatul rektal >400 C) pada orang dewasa /anak

2.5 DIAGNOSIS MALARIA

2.5.1 Diagnosis malaria ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang laboratorium. Diagnosis pasti malaria harus ditegakkan dengan pemeriksaan sediaan darah secara mikroskopis atau uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test = RDT) (Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan RI, 2012).

(24)

12

A. Anamnesis

Pada anamnesis sangat penting diperhatikan:

a. Keluhan : demam, menggigil, berkeringat dan dapat disertai sakit kepala, mual, muntah, diare dan nyeri otot atau pegal-pegal

b. Riwayat sakit malaria dan riwayat minum obat malaria c. Riwayat berkunjung ke daerah endemis malaria.

d. Riwayat tinggal di daerah endemis malaria

Setiap penderita dengan keluhan demam atau riwayat demam harus selalu ditanyakan riwayat kunjungan ke daerah endemis malaria

B. Pemeriksaan fisik

a. Suhu tubuh aksiler >37,5 °C

b. Konjungtiva atau telapak tangan pucat c. Sklera ikterik

d. Pembesaran Limpa (splenomegali) e. Pembesaran hati (hepatomegali) C. Pemeriksaan laboratorium 1. Pemeriksaan dengan mikroskop

Pemeriksaan sediaan darah (SD) tebal dan tipis di Puskesmas/lapangan/ rumah sakit/laboratorium klinik untuk menentukan:

a Ada tidaknya parasit malaria (positif atau negatif).

b. Spesies dan stadium plasmodium c. Kepadatan parasit

2. Pemeriksaan dengan uji diagnostik cepat (Rapid Diagnostic Test)

Mekanisme kerja tes ini berdasarkan deteksi antigen parasit malaria, dengan menggunakan metoda imunokromatografi. Sebelum menggunakan RDT perlu dibaca petunjuk penggunaan dan tanggal kadaluarsanya. Pemeriksaan dengan RDT tidak digunakan untuk mengevaluasi pengobatan.

2.4.2. Malaria Berat

Jika ditemukan Plasmodium falcifarum atau Plasmodium vivax stadium aseksualatau RDT positif ditambah satu atau beberapa keadaan di bawah ini:

(25)

13

(Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan RI, 2012)

1. Gangguan kesadaran atau koma

2. Kelemahan otot (tak bisa duduk/berjalan tanpa bantuan) 3. Tidak bisa makan dan minum

4. Kejang berulang lebih dari dua episode dalam 24 jam 5. Sesak napas, Respiratory Distress ( pernafasan asidosis)

6. Gagal sirkulasi atau syok: tekanan sistolik <70 mm Hg (pada anak: < 50 mmHg);

7. Ikterus disertai adanya disfungsi organ vital 8. Black Water Fever

9. Perdarahan spontan

10. Edema Paru (secara radiologi) Gambaran laboratorium :

1. Hipoglikemi: gula darah < 40 mg%.

2. Asidemia (pH:< 7,25) atau asidosis (bikarbonat plasma < 15 mmol/L).

3. Anemia berat (Hb < 5 gr% atau hematokrit <15%) 4. Hemoglobinuri

5. Hiperparasitemia (di daerah endemis rendah : > 2 % atau >100.000 parasit/uL ; daerah endemis tinggi : > 5% atau >250.000 parasit/ uL).

6. Hiperlaktatemia (laktat > 5 ugr/L)

7. Gagal ginjal akut (urin < 0,5 ml/kgBB/jam dalam 6 jam)

Catatan : pada penderita tersangka malaria berat, terapi dapat segera diberikan berdasarkan pemeriksaan RDT

2.6 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN

MALARIA

2.6.1 Faktor Manusia a. Umur

Anak-anak lebih rentan terhadap infeksi malaria. Anak yang bergizi baik justru lebih sering mendapat kejang dan malaria selebral dibandingkan dengan

(26)

14

anak yang bergizi buruk. Akan tetapi anak yang bergizi baik dapat mengatasi malaria berat dengan lebih cepat dibandingkan anak bergizi buruk (Gunawan, 2009; Depkes RI, 2008)

b. Jenis kelamin

Perempuan mempunyai respon yang kuat dibandingkan laki-laki tetapi apabila menginfeksi ibu yang sedang hamil akan menyebabkan anemia yang lebih berat (Supariasaet al., 2011).

c. Imunitas

Orang yang pernah terinfeksi malaria sebelumnya biasanya terbentuk imunitas dalam tubuhnya terhadap malaria demikian juga yang tinggal di daerah endemis biasanya mempunyai imunitas alami terhadap penyakit malaria (Depkes RI, 2008).

d. Ras

Beberapa ras manusia atau kelompok penduduk mempunyai kekebalan alamiah terhadap malaria, misalnya sickle cell anemiadan ovalositas (Depkes RI, 2008).

e. Status gizi

Masyarakat yang gizinya kurang baik dan tinggal di daerah endemis malaria lebih rentan terhadap infeksi malaria. Status gizi dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut :(Supariasa et al., 2011)

IMT (Indeks Masa Tubuh) = Berat badan (kg) : Tinggi badan (m) x tinggi badan (m)

2.4.3. Faktor Nyamuk

Beberapa aspek penting dari nyamuk adalah : (Gunawan, 2009; Depkes RI, 2008)

1. Perilaku nyamuk

a. Tempat hinggap atau istirahat

1. Eksofilik,yaitu nyamuk lebih suka hinggap atau istirahat di luar rumah.

(27)

15

2. Endofilik, yaitu nyamuk lebih suka hinggap atau istirahat di dalam rumah.

b. Tempat menggigit

1. Eksofagik,yaitu nyamuk lebih suka menggigit di luar rumah.

2. Endofagik, yaitu nyamuk lebih suka menggigit di dalam rumah.

c. Obyek yang digigit

1. Antrofofilik,yaitu nyamuk lebih suka menggigit manusia.

2. Zoofilik,yaitu nyamuk lebih suka menggigit hewan.

3. Indiscriminate biters/indiscriminate feeders, yaitu nyamuk tanpa kesukaan tertentu terhadap hospes.

2. Frekuensi menggigit manusia

Frekuensi membutuhkan darah tergantung spesiesnya dan dipengaruhi oleh temperatur dan kelembaban, yang disebut siklus gonotrofik. Untuk iklim tropis biasanya siklus ini berlangsung sekitar 48-96 jam.

3. Siklus gonotrofik, yaitu waktu yang diperlukan untuk matangnya telur.Waktu ini juga merupakan interval menggigit nyamuk.

4. Faktor lain yang penting

a. Umur nyamuk (longevity), semakin panjang umur nyamuk semakin besar kemungkinannya untuk menjadi penular atau vektor. Umur nyamuk bervariasi tergantung dari spesiesnya dan dipengaruhi oleh lingkungan.

Pengetahuan umur nyamuk ini penting untuk mengetahui musim penularan dan dapat digunakan sebagai parameter untuk menilai keberhasilan program pemberantasan vektor.

b. Kerentanan nyamuk terhadap infeksi gametosit

2.6.3. Faktor Lingkungan 1. Lingkungan Fisik

a. Suhu udara

Suhu udara sangat mempengaruhi panjang pendeknya siklus sporogoni atau masa inkubasi ekstrinsik. Makin tinggi suhu (sampai batas tertentu)

(28)

16

makin pendek masa inkubasi ekstrinsik, dan sebaliknya makin rendah suhu makin panjang masa inkubasi ekstrinsik.(Gunawan, 2009)

b. Kelembaban udara

Kelembaban yang rendah akan memperpendek umur nyamuk.

Kelembaban mempengaruhi kecepatan berkembang biak, kebiasaan menggigit, istirahan, dan lain-lain dari nyamuk. Tingkat kelembaban 60% merupakan batas paling rendah untuk memungkinkan hidupnya nyamuk. Pada kelembaban yang tinggi nyamuk menjadi lebih aktif dan lebih sering menggigit, sehingga meningkatkan penularan malaria(Gunawan, 2009).

c. Ketinggian

Secara umum malaria berkurang pada ketinggian yang semakinbertambah. Hal ini berkaitan dengan menurunnya suhu rata- rata.Pada ketinggian di atas 2000 m jarang ada transmisi malaria.Ketinggian paling tinggi masih memungkinkan transmisi malaria ialah 2500 m di atas permukaan laut (Gunawan, 2009)

d. Angin

Kecepatan angin pada saat matahari terbit dan terbenam yang merupakan saat terbangnya nyamuk ke dalam atau keluar rumah, adalah salah satu faktor yang ikut menentukan jumlah kontak antara manusia dengan nyamuk. Jarak terbang nyamuk (flight range) dapat diperpendek atau diperpanjang tergantung kepada arah angin. Jarak terbang nyamukAnophelesadalah terbatas biasanya tidak lebih dari 2-3 km dari tempat perindukannya. Bila ada angin yang kuat nyamuk Anophelesbisa terbawa sampai 30 km (Gunawan, 2009; Depkes RI, 2008).

e. Hujan

Hujan berhubungan dengan perkembangan larva nyamuk menjadi bentuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh tergantung pada jenis hujan, derasnya hujan, jumlah hari hujan jenis vektor dan jenistempat perkembangbiakan (breeding place). Hujan yang diselingi panas akan memperbesar

(29)

17

kemungkinan berkembang biaknya nyamuk Anopheles(Gunawan, 2009;

Depkes RI, 2008).

2. Lingkungan Biologi

Tumbuhan bakau, lumut, ganggang dan berbagai tumbuhan lain dapat mempengaruhi kehidupan larva karena ia dapat menghalangi sinar matahari atau melindungi dari serangan makhluk hidup lainnya (Gunawan, 2009).

3. Lingkungan Sosial Ekonomi dan Budaya a. Kebiasaan keluar rumah

Kebiasaan untuk berada di luar rumah sampai larut malam, dimana vektornya bersifat eksofilik dan eksofagik akan memudahkan gigitan nyamuk. Kebiasaan penduduk berada di luar rumah pada malam hari dan juga tidak berpakaian berhubungan dengan kejadian malaria (Harisunata, 2012)

b. Pemakaian kelambu

Beberapa penelitian membuktikan bahwa pemakaian kelambu secarateratur pada waktu tidur malam hari mengurangi kejadian

Malaria (Center for Health and Human Nutrition (CH2N) UGM, 2011) c. Obat anti nyamuk

Kegiatan ini hampir seluruhnya dilaksanakan sendiri oleh masyarakat seperti menggunakan obat nyamuk bakar, semprot, oles maupun secara elektrik (Subki, 2008).

d. Pekerjaan

Hutan merupakan tempat yang cocok bagi peristirahatan maupun perkembangbiakan nyamuk (pada lubang di pohon-pohon) sehingga menyebabkan vektor cukup tinggi. masyarakat yang mencari nafkah ke hutan mempunyai risiko untuk menderita malaria karena suasana hutan yang gelap memberikan kesempatan nyamuk untuk menggigit (Manalu, 2012).

(30)

18

e. Pendidikan

Tingkat pendidikan sebenarnya tidak berpengaruh langsung terhadap kejadian malaria tetapi umumnya mempengaruhi jenis pekerjaan dan perilaku kesehatan seseorang (Rustam, 2012)

2.6.4. Faktor Agent (Plasmodium)

Agent adalah suatu unsur organisme hidup atau kuman infeksi yang dapat menyebabkan terjadinya suatu penyakit. Agent penyebab malaria adalah parasit dari genus plasmodium. Ada empat macam Plasmodium, yaitu:(Clyde, 2007) 1. Plasmodium Falciparum

2. Plasmodium Ovale 3. Plasmodium Vivax 4. Plasmodium Malariae

2.7 PENGOBATAN MALARIA

Pengobatan yang diberikan adalah pengobatan radikal malaria dengan membunuh semua stadium parasit yang ada di dalam tubuh manusia (Ditjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementrian Kesehatan RI, 2012)

2.7.1. Malaria Tanpa Komplikasi

1. Pengobatan malaria falsiparum dan vivaks saat ini menggunakan ACT (Arthemisin-based Combination Therapy) di tambah primakuin. Dosis ACT untuk malaria falsiparum sama dengan malaria vivaks 1 kali perhari selama 3 hari, Primakuin untuk malaria falsiparum hanya diberikan pada hari pertama saja dengan dosis 0,75 mg/kgBB, dan untuk malaria vivaks selama 14 hari dengan dosis 0,25 mg /kgBB. Pengobatan malaria falsiparum dan malaria vivaks adalah :

Artesunat-Amodiakuin + Primakuin Atau

Dihidroartemisinin-Piperakuin(DHP)

(31)

19

2) Pengobatan malaria ovale

Pengobatan malaria ovale saat ini menggunakan ACT yaitu DHP atau kombinasi Artesunat + Amodiakuin. Dosis pemberian obatnya sama dengan untuk malaria vivaks yaitu 1 kali perhari selama 3 hari.

3) Pengobatan malaria malariae

Pengobatan Plasmodium malariae yaitu diberikan ACT 1 kali perhari selama 3 hari, dengan dosis sama dengan pengobatan 14 malaria lainnya hanya tidak diberikan primakuin.

Pengobatan dinyatakan efektif:

Bila sampai dengan hari ke 28 setelah pemberian obat, pasien dinyatakan sembuh secara klinis sejak hari ke 4 dan tidak ditemukan parasit stadium aseksual sejakhari ke 7.

Pengobatan dinyatakan tidak efektif :

Bila sampai dengan hari ke 28 setelah pemberian obat terjadi:

a. Gejala klinis memburuk dan parasit aseksual positif , atau

b. Gejala klinis tidak memburuk tetapi parasit aseksual tidak berkurang (persisten) atau timbul kembali setelah hari ke 14 (kemungkinan resisten) c. Gejala klinis membaik tetapi parasit aseksual timbul kembali antara hari 15

sampai hari ke 28 (kemungkinan resisten, relaps atau infeksi baru)

2.7.2. Malaria Berat(Komplikasi)

Pada setiap penderita malaria berat, maka tindakan penanganan dan pengobatan yang perlu dilakukan adalah: (Sudoyo et al.,2010)

1.Tindakan umum/ suportif 2. Pengobatan simptomatik 3. Pemberian obat anti malaria 4. Pengobatan komplikasi

1.Pengobatan umum/suportif meliputi:(Sudoyo et al.,2010) a. Perawatan di unit perawatan intensif.

(32)

20

b. Mengukur berat badan untuk menentukan dosis obat antimalaria.

c. Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit serta kebutuhan kalori secara i.v, dan jika diperlukan dapat dipasang kateter vena sentral untuk monitoring cairan.

d. Memasang kateter urin untuk monitoring produksi urin.

e. Mobilisasi pasien secara bertahap untuk mencegah ulkus dekubitus.

f. Memasang sonde lambung untuk mencegah aspirasi.

2.Pengobatan simptomatik (Sudoyo et al.,2010)

Pemberian antipiretik untuk mencegah hipertemia: parasetamol 15 mg/kg BB, beri setiap 4 jam dan lakukan juga kompres hangat.

a. Bila kejang, beri antikonvulsan : Diazepam 5-10 mgIV (secara perlahan jangan lebih dari 5 mg/menit) ulang 15 menit kemudian bila masih kejang.

jangan diberikan lebih dari 100 mg/24 jam.

Bila tidak tersedia Dizepam,sebagai alternatif dapat dipakai Phenobarbital 100 mg IM, diberikan 2x sehari.

3.Pemberian obat anti malaria

Beberapa OAM yang digunakan pada pengobatan spesifik malaria berat antara lain: (DepKes RI, 2008; Pasvol, 2007; Njugna, 2011)

a. Artesunate

Artesunat (AS) diberikan dengan dosis 2,4 mg/kgBB periv, sebanyak 3 kali jam ke 0, 12, 24.Selanjutnya diberikan 2,4 mg/kgbb per-ivsetiap 24 jam sampai penderita mampuminum obat. Larutan artesunat ini juga bisadiberikan secara intramuskular (i.m) dengan dosis yang sama. Apabila penderitasudah dapat minum obat, maka pengobatandilanjutkan dengan regimen Dihydroartemisinin Piperakuin(DHP) atau ACT lainnyaselama 3 hari + primakuin.

b. Artemeter

Artemeter dalam larutan minyak. Artemeter diberikan dengan dosis 3,2 mg/kgBB intramuskular. Selanjutnya artemeter diberikan 1,6 mg/kgBB intramuskular satu kali sehari sampai penderita mampu minum obat. Apabila

(33)

21

penderita sudah dapat minum obat, maka pengobatan dilanjutkan dengan regimen Dihydroartemisinin Piperakuin (DHP) atau ACT lainnya selama 3 hari + primakuin.

c. Kina hidroklorida

Pemberian Kina hidroklorida pada malaria berat secara intramuskuler untuk pra rujukan. Dosis dan cara pemberian kina pada orang dewasa termasuk untuk ibu hamil, loading dose 20 mg garam/kgBB dilarutkan dalam 500 ml dextrose 5% atau NaCl 0,9% diberikan selama 4 jam pertama. Selanjutnya selama 4 jam kedua hanya diberikan cairan dextrose 5% atau NaCl0,9%.

Setelah itu, diberikan kina dengan dosis maintenance 10 mg/kgBB dalam larutan 500 ml dekstrose 5 % atau NaCl selama 4 jam. Empat jam selanjutnya, hanya diberikan lagi cairan dextrose 5% atau NaCl 0,9%. Setelah itu diberikan lagi dosis maintenance seperti di atas sampai penderita dapat minum kina per-oral. Apabila sudah sadar/dapat minum, obat pemberian kina iv diganti dengan kina tablet per-oral dengan dosis 10 mg/kgBB/kali, pemberian 3 kali sehari (dengan total dosis 7 hari dihitung sejak pemberian kina perinfus yang pertama).

4. Pengobatan komplikasi

Pengobatan komplikasi ditujukan bila terdapat komplikasi pada pasien seperti:

a. Kejang merupakan salah satu komplikasi dari malaria serebral. Diazepam : iv 10 mg atau intra rektal 0,5-1,0 mg/kgBB,Klormetiazol (bila kejang berulang- ulang) dipakai0,8 % larutan infus sampai kejang hilang,Fenobarbital (3,5 mg/khBB umur >6 tahun) (Sudoyo et al.,2010).

b. Pengobatan Pada Gagal Ginjal Akut (Harijanto, 2010; Shoklo, 2008).

1. Cairan

Bila terjadi oliguri infus N.Salin untuk rehidrasi sesuai perhitungan kebutuhan cairan, kalau produksi urin < 400 ml/24 jam, diberikan furosemid 40- 80 mg.

(34)

22

Bila tak ada produksi urin (gagal ginjal) maka kebutuhan cairan dihitung dari jumlah urin +500 ml cairan/24 jam.

2. Protein

Kebutuhan protein dibatasi 20gram/hari (bila kreatinin meningkat) dan kebutuhan kalori diberikan dengan diet karbohidrat 200 gram/hari

3. Diuretika

Setelah rehidrasi bila tak ada produksi urin, diberikan furosemid 40 mg.

setelah 2-3 jam tak ada urin (kurang dari 60cc/jam) diberikan furosemid lagi 80 mg, ditunggu 3-4 jam, dan bila perlu furosemid 100- 250 mg dapat diberikan i.v pelan.

4. Dopamin

Bila diuretika gagal memperbaiki fungsi ginjal dan terjadi hipotensi, dopamin dapat diberikan dengan dosis 2,5-5,0 ugr/kg/menit. Penelitian di Thailand pemberian dopamin dikombinasikan dengan furosemide mencegah memburuknya fungsi ginjal dan memperpendek lamanya gagal ginjal akut pada penderita dengan kreatinin <5mg%.

5.Asidosis

Asidosis (pH <7,15 ) merupakan komplikasi akhir dari malaria berat dan sering bersamaan dengan kegagalan fungsi ginjal. Pengobatannya dengan pemberian bikarbonat.

c. Hipoglikemia

Periksa kadar gula darah secara cepat pada setiap penderita malaria berat. Bila kadar gula darah kurang dari 40mg% maka :

1. Beri 50ml dekstrose 40% i.v dianjutkan dengan 2. Glukosa 10% per infus 4-6 jam

3. Monitor gula darah tiap 4-6 jam

4. Bila perlu obat yang menekankan produksi insulin seperti, glukagon atau somatostatin analog 50 mg subkutan.

d. Penanganan anemi

Bila anemi kurang dari 5gr% atau hematokrit kurang dari 15%

diberikan transfusi darah whole blood atau packed cells.

(35)

23

2.8 PENCEGAHAN MALARIA

2.8.1 Mencegah gigitan vector(Sudoyo et al.,2010)

a. Tidur dengan kelambu sebaiknya dengan kelambu impregnated (dicelup peptisida: pemethrin atau deltamethrin)

b. Menggunakan obat pembunuh nyamuk (mosquitoes repellents):

gosok,spray,asap,elektrik

c. Mencegah berada di alam bebas dimana nyamuk dapat menggigit atau harus atau memakai proteksi (baju lengan panjang,stocking). Nyamuk akan menggigit diantara jam 18.00-06.00. Nyamuk jarang pada ketinggian diatas 2000 m

d. Memproteksi tempat tinggal/kamar tidur dari nyamuk dengan kawat anti nyamuk

2.8.2 Kemoprofilaksis(Sudoyo et al.,2010)

Bila daerah dengan klorokuin sensitif cukup profilaksis dengan 2 tablet klorokuin (250mg klorokuin diphospat) tiap minggu,1 minggu sebelum berangkat dan 4 minggu setelah tiba kembali. Profilaksis ini juga doipakai pada wanita hamil di daerah endemik atau pada individu yang terbukti imunitasnya rendah.

Pada daerah dengan resisten klorokuin dianjurkan doksisiklin 100mg/hari atau mefloquin 250mg/minggu. Obat baru yang dipakai untuk pencegahan yaitu primakuin dosis 0,5 mg/kgBB/hari.

2.9 PROGNOSIS MALARIA

Prognosis bergantung pada pengobatan yang diberikan. Pada malaria tropika dapat timbul komplikasi yang berbahaya yang disebut black water fever (hemoglobinuric feber) dengan gagal ginjal akut(Clyde, 2007).

(36)

24

2.10 KERANGKA TEORI

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka kerangka teori dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.2. Kerangka Teori

FAKTOR MANUSIA

FAKTOR NYAMUK

FAKTOR LINGKUNGAN

FAKTOR AGENT

MALARIA RINGAN:

1. Demam yangperiodik 2. Splenomegali 3. Anemia

KEJADIAN MALARIA

INFEKSI PLASMODIUM

MALARIA BERAT:

Infeksi Plasmodium aseksual dengan satu atau lebih komplikasi

Mencegah Gigitan Vektor dan Kemoprofilaksis

PENGOBATAN

TANPA KOMPLIKASI

KOMPLIKASI FAKTOR

MANUSIA

FAKTOR NYAMUK

FAKTOR LINGKUNGAN

(37)

25

2.11 KERANGKA KONSEP

Berdasarkan tujuan penelitian di atas, maka kerangka konsep dalam penelitian ini adalah:

Gambar 2.3 Kerangka Konsep

2.12 HIPOTESIS

Terdapat hubungan antara karakteristik penderita dengan kejadian malaria pada pasien rawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016.

Malaria Karakteristik Penderita:

1. Jenis Kelamin 2. Usia

3. Pekerjaan 4. Pendidikan 5. Derajat Keparahan 6. Jenis Plasmodium

(38)

BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 JENIS PENELITIAN

Jenis penelitian ini adalah studi analitik. Desain penelitian ini adalah case control (penelitian kasus-kontrol yaitu peneliti melakukan pengambilan data (observasi atau pengukur variabel) terhadap kejadian di masa lampau.

3.2 WAKTU DAN TEMPAT

Penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai Desember 2017.

Pengambilan dan pengolahan data dilakukan selama 1 bulan (Agustus-September 2017). Lokasi penelitian adalah bagian dari rekam medis RSUP Haji Adam Malik Medan. Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan bahwa RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan rumah sakit rujukan dari berbagai sarana pelayanan kesehatan.

3.3 POPULASI DAN SAMPEL 3.3.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah pasien malaria yang dirawat inap selama Januari 2013-Desember 2016 di RSUP Haji Adam Malik Medan.

3.3.2 Sampel 3.3.2.1 Kasus

Kasus adalah penderita malaria dengan hasil pemeriksaan darah positif malaria yang berobat di RSUP Haji Adam Malik Medan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditetapkan adapun kriteria inklusi dan eksklusi dalam penelitian ini adalah:

Kriteria Inklusi :

Pasien malaria yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013- 2016.

(39)

27

Kriteria Eksklusi :

Data rekam medik yang tidak lengkap.

3.3.2.2 Kontrol

Kontrol atau pembanding adalah pasien yang dirawat inap di RSUP Haji Adam Malik Medan yang tidak menderita malaria.

Kriteria Inklusi :

Pasien rawat inap di bangsal RSUP Haji Adam Malik Medan yang tidak menderita malaria dengan karakteristik yang sama dengan pasien kelompok kasus pada tahun 2013-3016.

Kriteria Eksklusi :

Data rekam medik yang tidak lengkap

Pengambilan besar sampel ditentukan dengan metode besar sampel untuk uji hipotesis terhadap 2 proporsi. Besarnya sampel penderita malaria dengan tanpa malaria yang dirawat di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi yang dihitung dengan menggunakan rumus:

n1 = jumlah sampel pasien TB tanpa infeksi HIV n2 = jumlah sampel pasien TB dengan infeksi HIV Zα = tingkat kemaknaan (ditetapkan) = 1,96 Zβ = tingkat kemaknaan (ditetapkan) = 0,842 P = proporsi = ½ (P1+P2) = (0,65)

Q = (1-P) = (0,35)

P1 = proporsi efek standar (dari pustaka) = 0,8

P2 = proporsi efek yang diteliti (clinical judgement) = 0,5 Q1 = 1 - P1 = 0,2

Q2 = 1 – P2 = 0,5

(40)

28

Berdasarkan rumus di atas, besar sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah :

n1= n2 = [1,96 √2.0,65.0,35 + 0,842 √0,8.0,2 + 0,5.0,5] 2 ( 0,8 – 0,5) 2

= [ 1,31 + 0,842. 0,64 ] 2 0,09

= 37,6 = 38

3.4 TEKNIK PENGUMPULAN DATA

Data yang diambil merupakan data sekunder yaitu data rekam medis penderita malaria yang diperoleh dari pencatatan pada bagian rekam medis di RSUP Haji Adam Malik Medan tahun 2013-2016. Pada rekam medis tersebut tercantum variabel-variabel yang akan diteliti sesuai tujuan khusus penelitian ini.

3.5 METODE ANALISA DATA

Data yang diperoleh akan dikaji dengan bantuan komputer menggunakan perangkat lunak komputer yaitu program Statistical Product and Service Solutions (SPSS). Berdasarkan metode case-contol akan dilakukan uji hipotesa Chi-Square serta perhitungan nilai prevalence ratio.

(41)

29

3.6 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel3.6 Definisi Operasional

No Variabel Definisi Alat

Ukur

Hasil Ukur Skala Ukur 1. Malaria Pasien rawat inap di

RSUP HAM yang didiagnosa malaria berdasarkan hasil pemeriksaan darah positif ditemukan Plasmodium sp.

Rekam medis

a. Positif b. Negatif

Nominal

2. Usia Lamanya hidup

pasien malaria yang dihitung berdasarkan tahun sejak pasien lahir, sesuai yang tercatat di rekam medis

Rekam medis

Hasil

pengukuran usia

dinyatakan dalam tahun

Ordinal

3. Jenis Kelamin

Jenis kelamin pasien malaria sesuai yang tercatat pada rekam medis

Rekam medis

a.Laki-laki b. Perempuan

Nominal

4. Pekerjaan Aktivitas utama pasien malaria sesuai yang tercatat pada rekam medis

Rekam medis

a. Berisiko (penebang kayu,petani, peternak, berkebun), b. Tidak

berisiko (tidak bekerja,ibu rumah tangga,pelaja r,pegawai negri,pegaw ai

swasta,pedag ang,

TNI/POLRI)

Nominal

(42)

30

5. Tingkat Pendidkan

Tingkat pendidikan formal pasien malaria sesuai yang tercatat pada rekam medis

Rekam medis

a. Tidak Tamat SD b. SD c. SMP d. SMA e. Perguruan

Tinggi

Ordinal

6. Spesies Plasmodium

Tingkatan takson organisme hidup atau kuman infeksi

yang dapat

menyebabkan terjadinya suatu penyakit.

Rekam medis

a.Plasmodium falciparum b.Plasmodium

vivaks c.Plasmodium

ovale d.Plasmodium

malariae e. Plasmodium

knowlesi

Nominal

7. Derajat Keparahan

Malaria ringan:

demam yangperiodik,

pembesaran limpa (splenomegali), dan anemia (turunnya kadarhemoglobin dalam darah).

Malaria berat:

malaria serebral, anemia berat, gagal ginjal akut, edema paru, hipoglikemi, syok, kejang, asidemia, gangguan kesadaran ringan, kelemahan otot, hiperparasitema, ikterik.

Rekam medis

a. Malaria ringan b. Malaria

berat

Ordinal

(43)

BAB lV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan di Instalasi Rekam Medis RSUP Haji Adam Malik Jalan Bunga Lau No.17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara tahun 2013-2016. Data ini menggunakan data sekunder pada pasien malaria rawat inap sebanyak 38 sampel.

Frekuensi kejadian malaria berdasarkan karakteristik penderita yang diteliti adalah jenis kelamin, usia, pekerjaan, pendidikan, derajat keparahan, dan spesies Plasmodium pada penderita malaria. Berikut ini adalah distribusi karakteristik penderita malaria seperti pada tabel 5.1

Tabel 4.1 Distribusi karakteristik penderita malaria.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Jenis Kelamin

Laki-laki 29 76,3

Perempuan 9 23,7

Usia

<10 6 15,8

11 -- 20 7 18,4

21 – 30 6 15,8

31 – 40 8 21,1

41 – 50 4 10,5

>50 7 18,4

Pekerjaan

Tidak berisiko 35 92,1

Berisiko 3 7,9

Pendidikan

Tidak tamat SD 10 26,7

SD 4 10,5

SMP 6 15,8

SMA 15 39,5

Perguruan tinggi 3 7,9

Derajat Keparahan

Malaria Ringan 16 42,1

Malaria Berat 22 57,9

(44)

32

Spesies Plasmodium

Plasmodium falciparum 31 81,6

Plasmodium vivax 7 18,4

Total 38 100

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 38 sampel yang menderita malaria berdasarkan jenis kelamin didapati persentase terbanyak adalah pada kelompok laki-laki. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Inraini (2012), yang menyatakan bahwa kejadian malaria lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebesar (54,32%) dibandingkan yang terjadi pada perempuan yaitu sebesar (45,68%). Hal ini juga sesuai dengan data Dinas Kesehatan Lampung Selatan tahn 2011 penderita malaria lebih banyak terjadi pada laki-laki yaitu sebesar (67%) dibandingkan dengan perempuan sebesar (33%).

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 38 sampel yang menderita malaria berdasarkan usia didapati kelompok usia 31-40 merupakan kelompok terbanyak Rerata pasien dengan status positif malaria adalah 30,158 (±18,613), dengan usia termuda adalah 2 tahun dan usia tertua adalah 68 tahun.

Hal ini sejalan dengan penelitian ( Irawan et al, 2017) di Sumba Timur yang mendapatkan hasil yaitu sebanyak 143 orang (54,6%) pasien yang menderita malaria berumur >15 tahun. Berdasarkan teori, semakin meningkatnya usia maka semakin meningkatnya pula aktifitas yag berada diluar rumah.

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 38 sampel yang menderita malaria berdasarkan pekerjaan didapati persentase terbanyak dari kelompok tidak berisiko. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan (Susanti dan wantini, 2014) hampir semua penderita malaria memiliki pekerjaan yang tidak berisiko yaitu 86,7%. Hal ini disebabkan responden adalah pelajar, ibu rumah tangga, pedagang, pegawai negri, pegawai swasta, TNI/POLRI dan belum bekerja (tidak berisiko).

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 38 sampel yang menderita malaria berdasarkan pendidikan didapati persentase terbanyak dari

(45)

33

kelompok SMA. Hal ini berbanding tebalik dengan penelitian (Nobroto dan Hidajah, 2009) menunujukan penderita malaria terbanyak pada tingkat pendidikan yang tidak tamat SD dan SD dengan jumlah 11 orang (31,42%). Semakin tinggi pendidikan seseorang maka akan semakin baik pengetahuan orang tersebut.

Perilaku yang didasarkan pada pengetahuan akan berdampak lebih lama termasuk perilaku tentang tindakan pencegahan malaria (Lumolo et al, 2015). Pada penelitian ini sampel terbanyak pada pendidikan SMA, meskipun demikian masih berada pada kategori baik.

Berdasarkan tabel 4.1 dapat diketahui bahwa dari 38 sampel yang menderita malaria berdasarkan derajat keparahan didapati persentase terbanyak pada penderita malaria berat. Hal ini menunjukan bahwa penyebab malaria terbanyak yaitu P.falciparum. Serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2014) didapatkan 62,5% penderita Plasmodium falciparum terbanyak pada daerah Sumba Timur. Hal ini dapat diakibatkan oleh sifat Plasmodium falciparum yang banyak dijumpai di wilayah beriklim panas. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Ritawati (2012) kejadian malaria terbanyak disebabkan oleh Plasmodium vivax. Hal ini karena Plasmodium vivax mempunyai distribusi yang lebih luas dibandingkan dengan Plasmodium falciparum, mulai dari daerah yang beriklim dingin, subtropis sampai daerah tropis.

Perhitungan uji hipotesis dilakukan untuk mengetahui hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria dengan jumlah sampel yang didapatkan adalah 38 kasus dan 38 kontrol data rekam medis. Berikut ini adalah hubungan karakteristik penderita dengan kejadian malaria seperti pada tabel 5.2

Tabel 4.2 Hubungan jenis kelamin dengan kejadian malaria.

Jenis Kelamin Malaria P value

Kasus Kontrol

Laki-laki 29 (76,31%) 16 (42,10%) 0,002

Perempuan 9 (23,68%) 22 (57,89%)

Total 38 (100%) 38 (100%)

(46)

34

Berdasarkan tabel 4.2 dapat diketahui hasil analisis hubugan antara jenis kelamin dengan kejadian malaria berdasarkan hasil Chi Square didapati p value lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan secara statistik bahwa terdapatnya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan kejadian malaria. Hal ini sejalan dengan penelitian (Susanti dan Wantini, 2014) yang menyatakan bahwa jenis kelamin berhubungan dengan kejadian malaria (p=0,044). Hal ini disebabkan karna lebih tingginya aktifitas sehari-hari yang dilakukan laki-laki diluar dan kebiasaan keluar rumah sampai larut malam, sedangkan perempuan kebanyakan beraktifitas didalam rumah saja. Berdasarkan teori, efektifitasnya nyamuk pembawa penyakit malaria ditentukan oleh aktivitas nyamuk Anopheles betina menggigit dan menginfeksi manusia antara waktu 18.00-06.00 WIB, hal ini yang menyebabkan laki-laki mudah terinfeksi penyakit malaria karena aktifitasnya sering diluar rumah sampai larut malam padahal disaat yang bersamaan nyamuk Anopheles betina juga sedang beraktifitas mencari darah (Harijanto, 2010).

Tabel 4.3 Hubungan usia dengan kejadian malaria.

Usia Malaria p value

Kasus Kontrol

<10 6 (15,78%) 0 (0%) 0,025

11 – 20 7 (18,42%) 6 (15,78%)

21 – 30 6(15,78%) 2 (5,26%)

31 – 40 8 (21,05%) 7 (18,42%)

41 – 50 4 (10,52%) 12 (31,57%)

>51 7 (18,42%) 11 (28,94%)

Total 38 (100%) 38 (100%)

Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui hasil analisis hubungan antara usia dengan kejadian malaria didapati p value lebih kecil dari 0,05 maka dapat disimpulkan secara statistik bahwa terdapatnya hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian malaria. Berdasarkan teori, semakin meningkatnya usia maka semakin meningkatnya pula aktifitas yang berada diluar rumah. Usia

Gambar

Gambar 2.1. Siklus Hidup Plasmodium  Sumber :CDC, Life Cycle of the Malaria Paraite
Gambar  2.2. Kerangka Teori

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Pengembangan Bidang Kajian Pusat Studi Olahraga untuk Penelitian dan Pengabdian M asa

Pokja ULP/Panitia Pengadaan Sarana Pendukung Pelayanan Kontrasepsi pada Satuan Kerja Perwakilan BkkbN Provinsi Jawa Barat akan melaksanakan Pelelangan Sederhana (Lelang

Ayo belajar (tepuk tangan 3 kali) Bila kau ingin cerdas.. Bila kau ingin pintar Ayo

Oleh sebab itu di samping model pembelajaran yang cocok dan proses pembelajaran yang benar perlu ada sistem penilaian yang baik dan terencana (Surapranata, 2005: 1)...

Pengetahuan tentang Faktor Resiko,Prilaku dan Deteksi Dini Kanker Serviks dengan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) pada wanita di Kecamatan Bogor tengah,Kota Bogor

profil informasi terkait obat dan non farmakologi yang diberikan oleh petugas apotek terhadap pasien swamedikasi yang datang dengan keluhan batuk.. untuk mengetahui profil tingkat

Aplikasi ini menggunakan elemen-elemen multimedia yaitu gambar, teks, suara, dan animasi kedalam suatu bentuk aplikasi yang diharapkan mudah digunakan oleh siapa saja dan

Website ini dibangun dengan menggunakan perangkat lunak Macromedia Flash MX yang digunakan untuk pembuatan animasi didalam halaman web, sehingga halaman web menjadi lebih