• Tidak ada hasil yang ditemukan

PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATION TBK ( KARET)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PT. BAKRIE SUMATERA PLANTATION TBK ( KARET)"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PT. BAKRIE SUMATERA

PLANTATION TBK ( KARET)

Thariza Yuniar E ( 1903013 )

Dina Safitri ( 1903015 )

Nona Vanessa S ( 1903017 )

Meilyda Chairun nissa ( 1903019 )

Ulfa Abdarianti ( 1903021 )

Yohanes Yugo Prakoso ( 1903023 )

(2)

Sejarah singkat perusahaan

Bakrie Sumatera Plantations merupakan perusahaan yang bergerak dibidang perkebunan, terutama kelapa sawit.

yang bermarkas di Jakarta, Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada tahun 1911.

Perusahaan awalnya adalah perusahaan perkebunan karet bernama Naamlooze Vennootschap Hollandsch Amerikaansche Plantage Maatschappij yang berlokasi di Kisaran. Setelahnya, perusahaan beberapa kali berganti nama. Mulai dari United States Rubber Sumatra Plantations sejak 1957 hingga 1985, kemudian Uniroyal Sumatra Plantations hingga 1986, dilanjutkan United Sumatra Plantations hingga 1992. Nama perusahaan saat ini

dipergunakan sejak 1992, dimana perusahaan masuk ke bisnis kelapa sawit.

Ruang lingkup kegiatan usaha perusahaan meliputi perkebunan buah kelapa sawit, perkebunan karet dan tanaman penghasil getah lainnya, industri minyak mentah kelapa sawit, industri karet remah, perdagangan berskala besar buah yang mengandung minyak, perdagangan berskala besar karet dan plastik dalam bentuk dasar dan perdagangan berskala besar berbagai macam barang.[1]Pendapatan perusahaan saat ini ditunjang oleh 3 sumber, yaitu penjualan minyak kelapa sawit dan turunannya, karet dan Oleokimia (oleochemical) yaitu pengolahan fatty acid dan fatty alcohol.

(3)

Pemeliharaan Tanaman Belum Menghasilkan

Pemeliharaan tanaman belum mengasilkan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk menjaga kondisi tanaman dilapangan sehingga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan menghasilkan dengan baik. Pemeliharaan TBM sangat penting dilakukan karena dapat mempengaruhi hasil produksi saat tanaman telah memaasuki fase tanaman menghasilkan. Yang tujuannya adalah untuk menciptakan tanaman yang memiliki pertumbuhan dan berkembang dengan baik, berproduksi tinggi. Waktu pelaksanaan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan dilakukan pada saat tanaman berumur TBM I-V

Untilan merupakan kegiatan mengemas ulang atau kegiatan membagi pupuk kedalam karung untilan. guna untuk memudahkan pekerjaan dan menghindari proteksi kehilangan pupuk dikarenakan dibuang secara sembarang oleh pemupuk karena telalu berat membawa karung dengan kapasitas 50 kg sekaligus. Tujuan penguntilan adalah

memudahkan dalam melaksanakan pemupukan, tanaman karet mendapatkan pupuk sesuai dengan dosis pupuk. Cara pelaksanaan penguntilan yaitu membagi pupuk menajdi 4 untilan, pupuk NPK 15 15 15 dalam 1 karung memiliki jumah 50 kg dibagi menjadi 4 untilan.

Dalam 1 untilan berkapasitas 12,5 kg.

(4)

Urutan kegiatan pelaksanaan

Pemupukan

Pe mu puk an m e rupak an k eg i at an p enamb ah an un su r h ara u n t u k m e n i n g k s t k a n k e s u b u r a n t a n a h . P u p u k y a n g digunakan untuk TBM NPK 15 15 15. Kegiatan pemupukan pemupukan dilakukan pada divisi 1 Blok 11 tanaman TBM, dapat di simpulkan pemupukan TBM yang dilak sanakan di d i v i s i 1 b l o k 1 1 , m e r u p a k a n T B M N 2 t a h u n t a n a m 2 0 1 9 dengan Luas lahan 45.79 Ha jenis klon pada Blok 11 adalah K l o n P B 2 1 7 d e n g a n j u m l a h p o k o k 2 5 . 0 4 0 p o k o k . P a d a are al rata m em il i ki juml ah poko k se b any ak 16 .2 76 po kok s e d a n g k a n p a d a a r e a l t e r a s a n m e m i l i k i j u m l a h p o k o k sebanyak 8.764. Pemupukan didivisi 1 blok 11 pupuk yang di g u ak an adal ah p u pu k N PK 1 5 1 5 1 5 y an g di ap l i k asi k an s e b a n y a k 2 k a l i p e n g a p l i k a s i a n . D o s i s p u p u k y a n g d i a p l i k a s i k a n s e b a n y a k 0 . 2 5 k g / p o k o k a t a u 2 5 0 g r a m / p o k o k . Al at d a n b ah an y an g di g u n a k an p a d a s aa t p e l ak s a n a an p e m u p u k an a da l ah m o to r , k an g k o k u n t i l an , d u m t r u c k , p u p u k N P K 1 5 1 5 1 5 , A P D .

Cara kerja pemupukan

Pengapilkasian Pupuk dilakukan dengan cara disebar. jarak penyebaran pupuk dari batang tanaman karet 60 -80 cm. Cara membawa pupuk yang telah di until yaitu menggendong pupuk menggunakan sarung, kemudian melakukan penyebaran pupuk dengan alat mangkok. Apabila pupuk yang diaplikasikan habis, maka karyawan pelangsir akan mebawakan pupuk ke karyawan pemupuk yang kehabisan pupuk. Output pekerjaan : 3,42 Ha/HB HB: 7 HB,Total Ha : 24 Ha

(5)

Urutan kegiatan pelaksanaan

Pengendalian Penyakit Jamur Akar Putih (Fomes)

Pengendalian penyakit pada tanaman Belum Menghasilkan salah satu hal yang sangat penting dilakukan. Karena dapat mempengaruhi

produksi dan pertumbuhan tanaman karet. Penyakit Fomes merupakan salah satu penyakit utama tanaman karet yang disebabkan oleh jamur Rigidoporus microporus. Penyakit ini menyebabkan kematian dalam jumlah besar karena mudah menular dari satu tanaman ke tanaman lainnya. Terutama pada tanaman karet yang berumur 1-2 tahun tingkat serangannya lebih tinggi karena pertumbuhannya masih rentan terserang penyakit Fomes.

Gejala serangan penyakit Fomes yaitu : Layu dan gugur pada daun, permukaan daun menelungkup, daun-daun yang terlihat kusam dan bercak kuning, pada TBM daun tua dan mengkilap, pada akar pangkal batang berwarna coklat dan akar yang terinfeksi akan membusuk Alat dan bahan yang digunakan dalam pengaplikasian pomes Garpu korek tanah, plastik putih, takaran besi, cungkilan, ember kecild, Dimenol 15 Wg (Triodimenol 15 Wg) tucukan besi, cat merah dan biru

Cara pengobatan menggunakan Dimenol 15 Wg

Cara pengobatan dilakukan dengan menabur Dimenol 15 Wg yang berbahan aktif Triadimenol 15 Wg dengan dosis 20 gram/pokok pada akar yang terserang penyakit fomes dan pada akar yang tidak terserang penyakit fomes guna untuk mencegah penyebaran penyakit pomes. Output pekerjaan:

TBM N1-N2 25-30 Pokok/HB, TBM N3-N5 10-11 Pokok/HB

(6)

Pemeliharaan TM (Tanaman Menghasilkan) adalah kelanjutan dari kegiatan pemeliharaan TBM ( Tanaman Belum Menghasilkan) dan sebagai langkah awal masa panen. Kegiatan ini bertujuan untuk mengotimalkan tanaman karet untuk dapat menghasilkan produksi lebih baik.

Pemeliharaan Tanaman Menghasilkan (TM) Pemeliharaan dapat dilakukan dengan penyiangan manual dan kimiawi, kegiatan pemeliharaan ini meliputi selektif/rawat gawangan dan kimiawi.

•Selektif yaitu membersihkan gulma berkayu/perdu yang tumbuh di stripan dan digawangan. Perdu dibersihkan secara manual dengan menggunakan cangkul hingga akar perdu tersebut terangkat dari dalam tanah sampah perdu dibiarkan hingga melapuk sendiri. Penyiangan kimiawi yang dilakukan yaitu dengan strip spraying.

•Strip spraying merupakan kegiatan membersihkan gulma yang tumbuh di stripan dengan

menggunakan herbisida. Pada stripan TM karet dapat dilakukan penyemprotan dengan menggunakan knapsack sprayer atau micron herbi.

•Pengendalian Penyakit Gugur Daun

Waktu pelaksanaan dan Rotasi. Rotasi pelaksanaan pengendalian penyakit gugur daun yang disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis sp dilakukan 4 kali dalam 1 tahun. Waktu pelaksanaan dilakukan pada sore hari pada pukul 16.00 WIB – 22.00 WIB Pelaksanaan Kegiatan

Pemeliharaan Tanaman

Menghasilkan

(7)

Pelaksanaan kegiatan

a) Fogging

Fogging adalah salah satu cara pengendalian hama dan penyakit pada tanaman. Fogging dilakukan untuk mengatasi penyakit gugur daun yang disebabkan oleh jamur Pestalotiopsis sp, yang berdampak besar pada produksi tanaman karet. Gejala daun yang terserang oleh jamur Pestalotiopsis SP, pada daun muda terdapat bintik cokelat, kemudian berkembang menjadi bercak cokelat tua (nekrosis dibagian tua).

Alat dan bahan yang digunakan :

Fogger, Sepeda motor, Mobil double cabin, Pembersih knalpot, kompressor angina, APD ( sepatu AP, masker, apron dan helm), Lampu, Corong, Jerigen 35 liter, Jerigen 5 liter, Senter Kepala, Anvil 0,15 L/Ha atauc150 cc/Ha, Agristik (emulgator) 0,05 L/ha, Solar 1,3 L/Ha, Air 0,3 L/Ha, Pertalite 0,6 L/H

Adapun cara pengaplikasian fogging adalah :

a) Larutan yang ada didalam jerigen kapasitas 35 liter dituang kembali kedalam jerigen kapasitas 5 liter.

b) Alat fogger diatur rapi dan rata dibelakang jok motor, apabila tidak rata maka diberi papan yang sudah dirakit sesuai posisi alat fogger. Kemudian diikat kencang

menggunakan karet ban.

c) Setelah alat fogger dipasang dijok motor bagian belakang lalu larutan fogging yang ada pada jeringen kapasitas 5 liter dituang kedalam tangki fogger, kemudian jerigen tersebut di isi kembali.

d) Untuk menyalakan mesin fogger menggunakan alat kompresor angin.

e) Setelah itu fogging di aplikasikan di areal yang terserang penyakit gugur daun atau dilokasi yang sudah ditentukan

f) Waktu pelaksanaan fogging dilakukan dari pukul 16.00 -22.00 WIB Output pekerjaan : 1 x aplikasi 20 ha/HB

(8)

1.

Pemupukan

Pemupukan bertujuan untuk menjaga dan mencukupi unsur hara dan tanah sehingga mampu mendukung pertumbuhan dan potensi produksi tanaman. Jenis pupuk yang digunakan dalam pengelolaan perkebunan karet antara lain adalah pupuk kimia dan pu puk organik. Lubang pupuk dibuat dengan cara menco al/mancangkul top soil dengan menggunakan cangkul. Pelaksanaan aplikasi pupuk ekstra hanya dilakukan dengan cara menabur pupuk secara merata di sepanjang stripan tanaman karet dengan dosis 150 gr/pohon. Pupuk ekstra diberikan pada tanaman menghasilkan (TM) pada saat setelah musim gugur daun dan tanaman karet sudah tumbuh tunas baru.

2. Pengendalian Hama dan Penyakit

Pengendalian hama dan penyakit bertujuan untuk menjaga populasi tanaman karet dengan menekan

kemungkinan tanaman yang mati akibat hama dan penyakit. Jenis hama yang ser ing menyerang tanaman karet adalah rayap, kera, babi, tair dan rusa. Penyakit yang sering menyerang tanaman karet adalah jamur akar putih (JAP). Pengendalian JAP dilaku kan dengan cara menggunak an Fungisida yang di campur dengan air dengan takaran 4cc/liter air dan diberikan pada pohon 1 liter/pokok. fungisida berbahan aktif triadimefon seperti bayletone dengan konsentrasi 2 cc/liter. Pohon karet TM yang terserang JAP berat segera dibongkar.

(9)

PANEN KARET

Sebatang pohon karet telah dapat dikatakan memenuhi syarat untuk disadap bila pohon tersebut telah mencapai lilit batang 45 cm pada ketinggian 100 cm di atas pertautan untuk tanaman yang berasal dari bibit okulasi atau pada ketinggian 100 cm dari permukaan tanah untuk tanaman asal biji.Sadapan dilakukan dengan memotong kulit kayu dari kiri atas ke arah kananbawah dengan sudut kemiringan 30° dari horizontal. Pisau sadapan berbentuk V dengan demikian aliran lateks akan tertampung pada daerah dasarnya. Syamsul bahri.(1996).

Dalam melaksanakan penyadapan dibutuhkan alat-alat dan perlengkapan untuk menyadap, seperti:

1. Pisau sadap

2. Talang Lateks atau Spout 3. Mangkok atau Cup

4. Cincin Mangkok 5. Tali Cincin 6. Quandri/signat 7. Ember

8. Spatel

(10)

Beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam proses panen (penyadapan) adalah sebagai berikut:

1. Persiapan Buka Sadap

• Arah dan sudut kemiringan irisan sadap, Arah irisan sadap harus dari kiri atas ke kanan bawah, tegak lurus terhadap pembuluh lateks.

• Panjang irisan sadap, Panjang irisan sadap adalah 1/2s (irisan miring sepanjang ½ spiral atau lingkaran batang).

• Letak bidang sadap, Bidang sadap harus diletakkan pada arah yang sama dengan arah pergerakan penyadap waktu menyadap.

2. Tinggi Bukaan Sadap

Tinggi bukaan sadap, baik dengan sistem sadapan ke bawah (Down ward tapping system, DTS) maupun sistem sadap keatas (Upward tapping system,UTS) adalah 130 cm diukur dari permukaan tanah.

(11)

Beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam proses panen (penyadapan) adalah sebagai berikut:

3. Pelaksanaan Penyadapan 1. Kedalaman irisan sadap

Penyadapan diharapkan dapat dilakukan selama 25 – 30 tahun. Kedalaman irisan sadap dianjurkan berkisar 1-1,5 mm dari kambium.

2. Ketebalan irisan sadap

Ketebalan irisan sadap yang dianjurkan adalah berkisar antara 1,5 mm – 2 mmsetiap penyadapan, agar penyadapan dapat dilakukan selama kurang lebih 25– 30 tahun.

3. Frekuensi penyadapan

Frekuensi penyadapan adalah jumlah penyadapan dilakukan dalam jangka waktu tertentu. Dengan panjang irisan

½ spiral, frekuensi penyadapan adalah 1 kali dalam 3 hari penyadapan.

4. Waktu penyadapan

Penyadapan sebaiknya dilakukan sepagi mungkin yaitu antara jam 05.00 – 07.30 Pagi.

4. Waktu Bukaan Sadap

Waktu bukaan sadap adalah 2 kali setahun yaitu, pada (permulaan musim hujan (Juni), permulaan masa intensifikasi sadapan (bulanOktober).

(12)

Beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam proses panen (penyadapan) adalah sebagai berikut:

5. Kemiringan Irisan Sadap

Secara umum, permulaan sadapan dimulai dengan sudut kemiringan irisan sadapan sebesar 400 dari garis horizontal. Pada sistem sadapan bawah, besar sudut irisan akan semakin mengecil hingga 300 bila mendekati (pertautan bekas okulasi). Pada sistem sadapan ke atas, sudut irisan akan semakin membesar.

6.

Pengangkutan Hasil Panen

Pengangkutan hasil panen, Setelah lateks hasil sadapan terkumpul seluruhnya, selanjutnya lateks dari tangki penerimaan/pengumpulan yang berada di lokasi tempat pengumpulan hasil di kebun, kemudian diangkut dengan tangki pengangkut ke pabrik. Tangki pengangkut adayang ditarik dengan traktor, dan ada pula

yangterpasang pada truk-truk tangki. Dalam pengangkutan latek Kepabrik harus dijaga agar lateks tidak terlalu tergoncang dan terlalu kepanasan karena dapat berakibat terjadinya prakoagulasi didalam tangki. Dalam keadaan tertentu,lateks dalam tangki tersebut perlu diberi obat anti koagulan. Obat anti koagulan berfungsi untuk menjaga kestabilannys dapat tetap terjaga dan tidak terjadi penggumpalan.

(13)

Pengolahan getah karet (lateks) menjadi karet setengah jadi melalui beberapa proses, yaitu :

1. Proses Basah

Proses basah diawali dengan pengolahan getah karet dari kebun ditampung didalam tangki dan ditambah amoniak agar tidak terjadi prakoagulasi sebelum dibuat Ribbed Smoked Sheet (RSS) dengan kadar 2-2.5 %. Selanjutnya getah karet diendapkan dalam bak – bak dengan bantuan asam semut. Proses ini akan sangat berpengaruh pada kualitas fisik dan kimia karet yang dihasilkan.

Gumpalan lateks yang dihasilkan dipotong kecil – kecil dan dilanjutkan ke tahap penggilingan, digiling menjadi lembaran sheet dengan ketebalan 3 mm – 5 mm di sheet. Hasil dari proses basah ini adalah lembaran karet yang berwarna putih.

2. Pengolahan Kering

Proses kering diawali dengan pengasapan. Proses pengasapan adalah proses pengubahan lembaran sheet yang baru selesai digiling menjadi lembaran karet berwarna coklat. Sesuai dengan namanya yaitu proses pengasapan, maka dalam proses ini sangat dibutuhkan asap. Asap ini diperoleh dari pembakaran kayu bakar melalui tungku bakar dan dilewatkan ventilasi – ventilasi asap. Dan asap – asap inilah yang mengubah warna sheet yang semula putih menjadi coklat.

Proses Pengolahan Karet

(14)

Dalam proses pengasapan lembaran sheet membutuhkan waktu selama 5 hari dengan ketentuan temperature pengasapan :

- Hari ke I = 40℃ - 45℃

- Hari ke II = 45℃ - 50℃

Lembaran sheet (± 2 jam) - Hari ke II = 50℃ - 55℃

- Hari ke IV = 55℃ - 60℃

- Hari ke V = 60℃

- Hari ke VI = Turun pengasapan.

Sortasi

Setelah melewati proses pengasapan, lembaran karet akan dipisahkan berdasarkan kualitasnya yang disebut dengan proses sortasi. Kualitas lembaran karet didasarkan pada banyaknya gelembung udara, jamur, dan bebas dari akibat pengolahan yang kurang sempurna. Pemisahan lembaran sheet ini dikelompokkan menjadi beberapa kelompok

berdasarkan ketentuan perusahaan yang telah dibuat. Kelompok atau golongan tersebut adalah golongan RSS 1, RSS 2, RSS 3, Cutting. Dalam proses sortasi ini lembaran karet yang telah diturunkan dari kamar asap dibawa ke ruang sortir dengan cara lembaran karet yang bertumpukan dipisahkan satu persatu, setelah itu karet yang terdapat gelembung – gelembung digunting agar dapat masuk dalam RSS 1, untuk RSS 2 boleh ada gelembung udara kecil dan noda – noda kecil tetapi dengan kondisi baik dan tidak mengandung cacat, dan yang terdapat gelembung banyak dapat masuk dalam RSS 3.

Sedangkan yang berupa potongan – potongan karet akan masuk dalam Cutting.

Proses Pengolahan Karet

(15)

Kirim (ready stock)

Alur proses pengemasan RSS (Ribbed Smoked Sheet) ukuran sebagai berikut :

BIG BALE 1. RSS 1

Ukuran : 48 x 48 x 60 cm Berat : 113 Kg

1 Chop : 50 Bale 2. RSS 2

Ukuran : 48 x 48 x 60 cm Berat : 113 Kg

1 Chop : 10 Bale 3. RSS 3

Ukuran : 48 x 48 x 60 cm Berat : 113 Kg

1 Chop : 10 Bale

Proses Pengolahan Karet

4. Cutting

Ukuran : 48 x 48 x 60 cm Berat : 113 Kg

1 Chop : 10 Bale SMALL BALE

Small Bale RSS 1 Ukuran Mb 3 : 20 x 30 x 66 cm Ukuran Mb 4 : 18 x 32 x 67 cm

Ukuran Mb 5 : 16 x 36 x 71 cm Berat : 33,333 Kg

1 Chop : 18 Bale 1 Palet : 36 Bale

(16)

Administrasi

Dalam kegiatan administrasi hasil atau pengolahan ini dibagi 2 macam kegiatan, yaitu : Kegiatan Proses

Pengolahan dan Kegiatan Proses Pelaporan. Kegiatan proses pengolahan dibagi menjadi 2 macam yang terdiri dari Pembukuan Hasil Per-Penyadap dan Pembukuan Pengolahan Hasil.

Buku Sortasi Karet dan Buku Pengiriman Karet Kegiatan Pelaporan meliputi : Buku Laporan Administrasi Pengolahan; Laporan Setengah Bulanan dan Laporan Hasil Bulanan.

Dalam bagan/prosedur Administrasi Pembukuan Hasil Per-penyadap dimaksudkan untuk mengetahui hasil yang diperoleh oleh tiap penyadap untuk menentukan upah yang akan diterima penyadap, dimana bagan atau

prosedur Administrasi Pembukuan Hasil Per-penyadap adalah, sebagai berikut :

a.

Dalam buku penerimaan getah latex ini digunakan untuk mengetahui hasil latex yang disadap oleh para pekerja setiap harinya dan ditulis oleh juru tulis tiap-tiap afdiling untuk dilaporkan pada Mandor Pengolahan.

b.

Setelah dicatat pada Buku Penerimaan Getah Latex, dimasukkan ke dalam Buku Penerimaan Monster per- mangkok Penyadap untuk mengetahui hasil yang diperoleh dari tiap penyadap dengan mengambil 1 mangkok latex sebagai contoh (dsb monster) dari hasil yang diperoleh untuk menentukan/mencari kadar karet keringnya.

c.

Kemudian dimasukkan ke dalam Buku Konsep Kilo Kering untuk memudahkan dalam penghitungan Kadar Karet Keringnya.

(17)

Administrasi

Laporan Administrasi Pembukuan Pengolahan Hasil adalah sebagai berikut :

a. Pertama mencatat pengolahan hasil yang memuat data-data jumlah produksi karet yang diolah setiap hari dan seterusnya dari 3 afdiling.

b. Kemudian mencatat penurunan sheet (sortir) dari pengolahan ke rumah pengasapan hingga turun dari rumah pengasapan, kegunaannya untuk mengetahui banyaknya karet sheet yang sudah kering.

c. Setelah diketahui banyaknya karet kering yang sudah turun barulah disortir dan diball kemudian dicatat ke dalam buku sortasi untuk mengetahui hasil sortasi (pemilihan) sheet tiap hari.

d. Apabila ada perintah untuk dikirim, maka dicatat ke dalam buku pengiriman yang gunanya untuk

mengetahui berapa ball dan berapa kg yang dikirim hari ini maupun order yang kemarin yang belum

di kerjakan/dibalI.

(18)

TERIMA KASIH

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian dengan menggunakan ujisignifikan siparsial (uji-t) menunjukkan variabel program pelayanan kesejahteraan berpengaruh positif dan signifikan terhadap semanga

[r]

Untuk mengetahui pengaruh curah hujan dan hari hujan serta hubungan korelasi keduanya terhadap produksi karet pada tanaman berumur 7, 10 dan 13 tahun di kebun Sei

Evaluasi Kesesuaian Lahan Pasang Surut untuk Tanaman Karet: Studi Kasus di Kecamatan Banyuasin I, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan.. Balai Penelitian Sembawa, Pusat Penelitian

Teman sepermainan seperjuangan yang selalu memberikan dukungan selama proses penulisan skripsi ini, Ningsi, Rahima, Risda, Terimakasih untuk waktu yang diberikan

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.) pada Fakultas Pendidikan Ekonomi

Dari aktivitas yang tidak bernilai tambah (non value added) diatas, pihak perusahaan hanya dapat melakukan perbaikan pada 2 aktivitas yaitu Tandan buah sawit (TBS menunggu

bergerak di bidang usaha perkebunan dan pengolahan karet dari bahan baku.. berupa lateks menjadi crumb