BAB III
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan tahapan penelitian meliputi penyiapan bahan, penyiapan hewan percobaan, pengamatan gejala klinis, berat badan, jumlah makanan, kematian, pengukuran kadar kreatinin dan ureum, serta histopatologi organ ginjal dan analisis data menggunakan statistik metode two-way analysis of variance (ANOVA). Penelitian ini dilakukan di laboratorium Farmakologi Fakultas Farmasi USU dan laboratorium Kesehatan Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara.
3.1 Alat-alat
Alat-alat yang digunakan terdiri dari neraca hewan (GW-1500), neraca listrik (Mettler Toledo), alat-alat gelas laboratorium, mortir dan stamfer, alat bedah (Wells spencer), kaca objek, kaca penutup, kertas perkamen, kaca arloji, oral sonde, pipet tetes dan spuit 1 ml (Terumo), mikrotube, sentrifuse (Velocity 18-R) dan mikroskop (Olympus).
3.2 Bahan-bahan
Bahan-bahan kimia yang digunakan kecuali dinyatakan lain berkualitas teknis yaitu etanol (destilasi), asam asetat anhidrida, asam sulfat pekat, kloroform, toluen, kloralhidrat, dan asam klorida pekat.
3.3 Pengumpulan dan Pengolahan Bahan Tumbuhan
3.3.1 Pengumpulan bahan tumbuhan
Pengumpulan bahan tumbuhan dilakukan secara purposif (sengaja) yaitu tanpa membandingkan dengan tumbuhan yang sama dari daerah lain. Bahan yang digunakan adalah herba sawi pahit (Brassica juncea L) yang didapatkan dari pasar Pagi Setia Budi, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara.
3.3.2 Identifikasi tumbuhan
Identifikasi tumbuhan dilakukan di Herbarium Medanese, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara..
3.3.3 Pengolahan bahan tumbuhan
Herba sawi pahit yang baru diperoleh, dibersihkan dari kotoran, dicuci dengan air mengalir hingga bersih, ditiriskan di atas kertas perkamen. Seluruh bagian herba sawi pahit dirajang, dikeringkan di lemari pengering hingga kering dan rapuh, ditimbang berat keringnya, selanjutnya simplisia kering diserbuk dan disimpan dalam kantung plastik yang kering, diberi etiket kemudian disimpan pada tempat yang terlindung dari cahaya matahari.
3.4 Pembuatan Larutan Pereaksi
3.4.1 Larutan pereaksi asam klorida 2 N
3.4.2 Larutan air kloroform
Sebanyak 2,5 ml kloroform dikocok dengan 900 ml air suling, encerkan dengan air suling hingga 1000 ml (Ditjen POM, 1995).
3.4.3 Larutan kloralhidrat 70%
Sebanyak 70 gram kloralhidrat ditimbang dan dilarutkan dengan air suling sampai 100 ml (Ditjen POM, 1979).
3.5 Pemeriksaan Karakteristik Simplisia
Pemeriksaan karakteristik simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik simplisia dan mikroskopik serbuk simplisia, penetapan kadar air, penetapan kadar sari yang larut dalam air, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol, penetapan kadar abu total dan penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam.
3.5.1 Pemeriksaan makroskopik simplisia
Pemeriksaan makroskopik simplisia dilakukan dengan mengamati bentuk, warna, ukuran dan bau simplisia.
3.5.2 Pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia
Pemeriksaan mikroskopik dilakukan terhadap serbuk simplisia dengan cara menaburkan serbuk simplisia di atas kaca objek yang telah ditetesi dengan kloralhidrat dan ditutup dengan kaca penutup kemudian dilihat di bawah mikroskop.
3.5.3 Penetapan kadar air
Cara kerja :
1. Penjenuhan Toluen
- Sebanyak 200 ml toluen dan 2 ml air suling dimasukkan ke dalam labu alas bulat, didestilasi selama 2 jam.
- Toluen didinginkan selama 30 menit dan volume air pada tabung penerima dibaca dengan 0,05 ml.
2. Penetapan kadar air simplisia
- Sebanyak 5 gram serbuk simplisia yang telah ditimbang seksama dimasukkan ke dalam labu yang berisi toluen tersebut.
- Dipanaskan hati-hati selama 15 menit, setelah toluen mendidih kecepatan tetesan diatur lebih kurang 2 tetesan per detik, sampai sebagian air terdestilasi.
- Kecepatan destilasi dinaikkan hingga 4 tetes perdetik, setelah semua air terdestilasi bagian dalam pendingin dibilas dengan toluen.
- Destilasi dilanjutkan selama 5 menit, kemudian tabung penerima dibiarkan dingin sampai suhu kamar.
- Air dan toluen akan memisah sempurna, volume air dibaca dengan ketelitian 0,05 ml.
- Selisih kedua volume air dibaca sesuai dengan kandungan air yang terdapat dalam bahan yang diperiksa.
3.5.4 Penetapan kadar sari yang larut dalam air
Sejumlah 20 ml filtrat diuapkan hingga kering dalam cawan penguap berdasarka rerata yang telah ditara. Sisa dipanaskan pada suhu 105O C sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam air dihitung dengan persen terhadap bahan yang telah kering (Ditjen POM, 1989).
3.5.5 Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol
Sebanyak 5 gram serbuk yang telah dikeringkan, dimaserasi selama 24 jam dengan 100 ml etanol 96 % dalam labu bersumbat sambil dikocok selama 18 jam, kemudian disaring cepat untuk menghindari penguapan etanol 96%, sejumlah 20 ml filtrat diuapkan sampai kering dalam cawan penguap berdasarkan rerata yang telah ditara dan sisanya dipanaskan pada suhu 105O C sampai bobot tetap. Kadar sari larut dalam etanol dihitung dalam persen terhadap bahan yang telah kering (Ditjen POM, 1989).
3.5.6 Penetapan kadar abu total
Sebanyak 2 gram serbuk yang telah digerus dan ditimbang seksama dimasukkan ke dalam cawan porselin yang telah dipijar dan ditara, kemudian diratakan. Krus dipijar perlahan-lahan sampai arang habis, pemijaran dilakukan pada suhu 600O C selama 3 jam kemudian didinginkan dan ditimbang sampai diperoleh bobot tetap. Kadar abu dihitung terhadap bahan yang telah kering (WHO, 1998).
3.5.7 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam
kemudian didinginkan dan ditimbang. Kadar abu yang tidak larut dalam asam dihitung terhadap bahan yang kering (WHO, 1998).
3.6 Pembuatan Ekstrak Etanol
Pembuatan ekstrak etanol herba sawi pahit dilakukan dengan cara maserasi. Prosedur pembuatan ekstrak sebanyak 300 gram simplisia yang telah diserbukkan dimasukkan ke dalam wadah tertutup, lalu dimaserasi dengan 2250 ml pelarut etanol 80 % selama 5 hari terlindung dari cahaya matahari sambil sering diaduk, lalu diserkasi, diperas dengan kain flanel. Ampas ditambahkan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh seluruh sari sebanyak 3000 ml, kemudian didiamkan selama 2 hari dan dienap tuang. Maserasi diuapkan dengan bantuan alat rotary evaporator sampai diperoleh ekstrak kental (Ditjen POM, 1979).
3.7 Penyiapan Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian adalah mencit putih jantan dan betina dengan berat badan 15–25 g berumur sekitar 4 minggu, sebanyak 60 ekor mencit dibagi dalam 6 kelompok. Mencit diaklimatisasi terlebih dahulu dalam sebuah kandang untuk tiap kelompok dan dipisahkan berdasarkan jenis kelaminnya, diberi makan pelet dan minum air suling selama 7-14 hari. 3.8 Pembuatan Sediaan Uji
3.9 Pengujian Efek Toksisitas Subkronik
Pengujian efek toksisitas meliputi pengujian toksisitas subkronik meliputi gejala-gejala klinis, perubahan berat badan, kematian hewan, pengukuran kadar kreatinin dan ureum serta histopatologi organ ginjal. Kelompok tersebut adalah: Kelompok 1 (K1) : Kelompok kontrol, diberi CMC Na 0,5%.
Kelompok 2 (K2) : Kelompok perlakuan, diberi EEHSP 100 mg/kgbb. Kelompok 3 (K3) : Kelompok perlakuan, diberi EEHSP 200 mg/kgbb. Kelompok 4 (K4) : Kelompok perlakuan, diberi EEHSP 800 mg/kgbb.
Sediaan uji diberikan secara oral setiap hari selama 28 hari. Dilakukan pengamatan hewan uji terhadap gejala toksik yang muncul, untuk kelompok uji pengamatan dilakukan setiap hari selama 28 hari.
Kelompok 5 (K5) : Kelompok satelit kontrol, diberi CMC Na 0,5% selama 28 hari dan dihentikan pemberian mulai hari ke-29.
Kelompok 6 (K6) : Kelompok satelit dosis tinggi, diberi EEHSP 800 mg/kgbb selama 28 hari dan dihentikan mulai hari ke-29.
Kelompok satelit pengamatan dilanjutkan selama 14 hari untuk mendeteksi proses penyembuhan kembali dari pengaruh toksik. Hewan ditimbang setiap hari selama 28 hari untuk menentukan volume sediaan uji yang akan diberikan. Perubahan berat badan dianalisis seminggu sekali. Pada akhir penelitian, hewan yang masih hidup ditimbang dan diotopsi (OECD, 2008)
3.10 Pengamatan
3.10.1 Gejala toksik
mundur dan menggunakan perut, hewan uji diletakkan di atas bidang yang datar dilakukan pengamatan secara umum pada masing-masing kelompok selama 2 jam setelah 1 jam pemberian sediaan uji (BPOM RI, 2011).
3.10.2 Berat badan
Mencit ditimbang setiap hari selama 28 hari untuk kelompok uji dan 42 hari untuk kelompok satelit menentukan volume sediaan uji yang akan diberikan. Perubahan berat badan harus dianalisis dua minggu sekali. Penurunan berat badan menjadi salah satu efek toksik yang perlu diamati. Akhir penelitian, hewan yang masih bertahan hidup ditimbang dan kemudian diotopsi (BPOM RI, 2014).
3.10.3 Jumlah makanan
Makanan diberikan setiap hari sebanyak 25-30 g untuk tiap kelompoknya. Makanan yang tersisa pada hari berikutnya ditimbang sehingga diperoleh jumlah makanan yang dikonsumsi mencit. Data jumlah makanan dianalisis setiap dua minggu sekali (BPOM RI, 2014).
3.10.4 Penimbangan organ
Organ yang akan ditimbang (bobot absolut) harus dikeringkan terlebih dahulu dengan kertas penyerap, kemudian segera ditimbang, sedangkan yang dianalisis adalah bobot relatif, yaitu bobot organ absolut dibagi bobot badan dikali 100% (BPOM RI, 2014).
3.10.5 Pengukuran kadar kreatinin dan ureum
Darah diambil dari jantung sebanyak 0,5 ml darah darah dimasukkan ke dalam microtube, didiamkan pada suhu ruang selama 5 menit, disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 3000 rpm hingga dihasilkan serum yang bening. Serum dipisahkan dan diukur kadar kreatinin dan ureum.
3.10.6 Makropatologi
Mencit yang mati segera diotopsi dan dilakukan pengamatan secara secara makropatologi berupa perubahan warna, permukaan dan konsistensi dari organ. 3.10.7 Histopatologi organ ginjal
Mencit yang mati segera diambil organnya. Akhir periode pemberian sediaan uji, semua mencit yang masih hidup diotopsi, selanjutnya diambil organ ginjal dicuci dengan natrium klorida kemudian dimasukkan dalam larutan dapar formaldehida 10% dan dibuat preparat histopatologi selanjutnya dilihat di bawah mikroskop (BPOM RI, 2014).
3.10.8 Analisis statistik
Pengukuran dianalisis statistik dengan menggunakan uji nonparametrik Kruskal Walis dan uji parametrik Two-way analysis of variance (ANOVA) dan dilanjutkan dengan uji Tukey untuk mengetahui perbedaan sigifikan dari masing-masing parameter pada program Statistic Product and Service Solutions (SPSS)
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Simplisia dan Ekstrak
Tumbuhan yang digunakan telah diidentifikasi di Herbarium Medanense, Departemen Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara, dinyatakan tumbuhan adalah sawi pahit (Brassica juncea (L.) Czern.), disajikan pada Lampiran 1.
Hasil pemeriksaan karakteristik simplisia secara makroskopik simplisia dari herba sawi pahit adalah simplisia berwarna hijau tua, tidak memiliki bau dan rasa yang khas, serta batang berwarna hijau kecoklatan dengan panjang sekitar 1-2 cm. Hasil pemeriksaan mikroskopik serbuk simplisia herba sawi pahit adalah adanya rambut penutup uniseluler, berkas pengangkut dan stomata tipe anisositik, disajikan pada Lampiran 5.
Hasil pemeriksaan karakterisasi simplisia herba sawi pahit disajikan pada Tabel 4.1. Hasil penetapan kadar air simplisia herba sawi pahit memenuhi persyaratan Materia Medika Indonesia yaitu tidak melebihi 10%. Kadar air yang melebihi persyaratan memungkinkan terjadinya pertumbuhan jamur. Penetapan kadar sari yang larut dalam air untuk mengetahui kadar sari yang larut dalam air. Penetapan kadar sari yang larut dalam etanol untuk digunakan mengetahui kadar sari yang larut dalam pelarut polar. Senyawa-senyawa yang dapat larut dalam etanol adalah glikosida, antrakuinon, steroid, flavonoid, klorofil dan dalam jumlah sedikit yang larut lemak dan saponin (Depkes RI, 1999).
Tabel 4.1 Hasil pemeriksaan karakterisasi serbuk simplisia herba sawi pahit.
No Parameter Hasil (%)
Simplisia
1. Kadar air 6,3
2. Kadar sari larut dalam air 30,51
3. Kadar sari larut dalam etanol 15,94
4. Kadar abu total 7,72
5. Kadar abu tidak larut dalam asam 0,35
4.2 Uji Toksisitas Subkronik Ekstrak Etanol Herba Sawi Pahit
Pengujian efek toksik ekstrak etanol herba sawi pahit (Brassica junceae), dilakukan terhadap mencit jantan dan betina. Dosis ekstrak etanol herba sawi pahit yang digunakan adalah 100, 200 dan 800 mg/kgbb. Pengamatan dilakukan selama 28 hari dan untuk kelompok satelit pengamatan dilanjutkan selama 14 hari meliputi gejala klinis, berat badan, jumlah makanan, kematian hewan, kadar kreatinin, ureum dan histopatologi organ ginjal.
4.2.1 Hasil pengamatan terhadap perilaku fisik hewan
Pengamatan gejala klinis dilakukan 3 jam pertama setelah pemberian sediaan uji secara intensif namun tetap diamati dalam satu hari penuh, dilakukan setiap hari selama 28 hari dan untuk kelompok satelit dilanjutkan selama 14 hari meliputi tremor, salivasi, lemas dan lainnya disajikan pada Tabel 4.2.
Tabel 4.2 Data hasil pengamatan gejala toksik
Kelompok Tremor Salivasi Lemas Bulu rontok
Jalan Mundur
Jalan dengan perut
J B J B J B J B J B J B
K1 - - - -
K2 - - - -
K3 - - - -
K4 - - - -
K5 - - - -
K6 - - - -
Keterangan : K1 = Kontrol CMC-Na 0,5%, K2= EEHSP dosis 100 mg/kgbb, K3=EEHSP dosis 200 mg/kgbb, K4=EEHSP dosis 800 mg/kgbb, K5=Kontrol CMC-Na 0,5% Satelit, K6= EEHSP dosis 800 mg/kgbb Satelit, (+) = menunjukkan adanya gejala, (-) = menunjukkan tidak adanya gejala, J=jantan, B=betina.
zat yang dapat menimbulkan efek yang tidak diinginkan berkaitan dengan dosis yang diberikan yaitu efek samping, efek merugikan dan efek toksik yang diamati dengan parameter gejala toksik (Priyanto, 2009).
4.2.2 Hasil pengamatan konsumsi makanan
Jumlah makanan yang dikonsumsi ditimbang. Perhitungan secara statistik dilakukan setelah akhir periode perlakuan. Rerata jumlah makanan yang dikonsumsi disajikan pada Tabel 4.3.
Tabel 4.3 Data pengamatan konsumsi makanan mencit
Rata-rata Makanan (g) ± SE minggu ke-
Hasil uji statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dimana p > 0,05. Hal ini berarti bahwa pemberian ekstrak etanol herba sawi pahit tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsumsi makanan.
Parameter yang mendukung untuk mengetahui efek toksik dari suatu zat yaitu perilaku fisik, berat badan, konsumsi makanan. (Gupta dan Bhardwaj, 2012). Hasil analisa statistik konsumsi makanan, berat badan menunjukkan tidak adanya perbedaan yang signifikan (p > 0,05), hasil pengamatan perilaku fisik hewan uji selama perlakuan tidak adanya gejala toksik. Hal ini menunjukkan bahwa tidak adanya gejala toksik yang timbul pada hewan uji setelah diberikan EEHSP selama 28 hari dan penambahan waktu 2 minggu untuk kelompok satelit. 4.2.3 Hasil pengamatan berat badan mencit
Tabel 4.4 Data berat badan mencit
Rata-rata Berat Badan (g) ± SD minggu ke-
1 2 3 4 5 6 Keterangan : K1 = Kontrol CMC-Na 0,5%, K2= EEHSP dosis 100 mg/kgbb, K3=EEHSP dosis 200 mg/kgbb, K4=EEHSP dosis 800 mg/kgbb, K5=Kontrol CMC-Na 0,5% Satelit, K6=EEHSP dosis 800 mg/kgbb Satelit.
Gambar 4.1 Grafik berat badan mencit jantan 18
EEHPS Dosis 100 mg/kgBB
EEHPS Dosis 200 mg/kgBB
EEHPS Dosis 800 mg/kgBB
Kontrol Satelit
Gambar 4.2 Grafik berat badan mencit betina
Hasil uji statistik menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan dan tidak terdapat perbedaan antara kelompok mencit jantan dengan mencit betina dimana p > 0,05. Hal ini berarti bahwa pemberian EEHSP selama 28 hari dan kelompok satelit selama 42 hari ternyata tidak berpengaruh terhadap perkembangan berat badan mencit. Pada pengujian kelompok satelit juga tidak berpengaruh terhadap perubahan berat badan mencit, hal ini menunjukkan bahwa herba sawi pahit tidak memiliki pengaruh terhadap perkembangan berat badan mencit.
4.2.4 Hasil Pengamatan Kematian Hewan
Mencit diamati kematiannya dari hari pertama sampai hari terkakhir. Mencit yang mati selama waktu pemberian sediaan uji segera diotopsi dan organ diamati secara histopatologi. Pengamatan kematian hewan disajikan pada
EEHPS Dosis 100 mg/kgBB
EEHPS Dosis 200 mg/kgBB
EEHPS Dosis 800 mg/kgBB
Kontrol Satelit
Tabel 4.5 Data pengamatan kematian hewan
Kelompok Jumlah Mencit
Dosis (mg/kgbb)
Jumlah kematian Jantan Betina
K1 10 - 0 0
K2 10 100 0 0
K3 10 200 0 0
K4 10 800 0 0
K5 10 Satelit (-) 0 0
K6 10 Satelit 800 0 0
Berdasarkan Tabel 4.5 di atas tidak terdapat hewan yang mati selama waktu pemberian sediaan uji. Hal ini menunjukkan bahwa ekstrak etanol herba sawi pahit tidak menyebabkan kematian selama 28 hari pemberian.
4.2.5 Hasil Pengamatan Ureum
Hasil analisa biokimia darah mencit untuk pengujian kandungan Ureum dilakukan pada akhir perlakuan hari ke-28 untuk kelompok uji dan hari ke-43 untuk kelompok satelit. Kadar ureum disajikan pada Tabel 4.6.
Tabel 4.6 Data pengamatan kadar ureum
Kelompok Kadar Ureum (mg/dL)
Jantan Betina
Kontrol CMC-Na Normal 29,320±6,750 36,040±10,186
EEHSP Dosis 100 mg/kgBB 31,360±4,610* 52,200±6,379* EEHSP Dosis 200 mg/kgBB 36,760±7,393* 59,300±2,334* EEHSP Dosis 800 mg/kgBB 20,740±7,012* 69,200±4,919*
Kontrol Jantan Satelit 30,660±5,212 58,700±3,768
EEHSP Dosis 800 mg/kgBB Satelit 30,320±5,477 69,200±4,919 Keterangan = * : p < 0,05 dengan Kontrol CMC-Na Normal
jantan (36,76 mg/dL) betina (59,30 mg/dL), dosis 800 mg/kgbb jantan (20,74 mg/dL) betina (69,20 mg/dL) berbeda signifikan (p < 0,05) dengan kelompok kontrol jantan (29,32 mg/dL) betina (36,04 mg/dL). Kelompok EEHSP dosis 800 mg/kgbb satelit jantan (30,32 mg/dL) betina (69,20 mg/dL) tidak berbeda signifikan (p > 0,05) dengan kelompok kontrol satelit jantan (30,66 mg/dL) betina (58,70 mg/dL). Terdapat perbedaan (p < 0,05) kadar ureum antara kelompok mencit jantan dengan kelompok mencit betina.
Nursinah (2007) menyatakan bahwa ureum merupakan produksi sisa hasil metabolisme protein yang utama. Hampir seluruh ureum dibentuk di dalam hati melalui suatu proses katabolisme protein. Kadar ureum dalam darah merupakan gambaran keseimbangan antara pembentukan ureum dengan ekskresi ureum oleh ginjal.
Gambar 4.3 Grafik kadar ureum Keterangan Gambar
EEHSP : Ekstrak Etanol Herba Sawi Pahit
* : p < 0,05 dengan kontrol CMC-Na Normal
Nilai kadar ureum di atas berada di atas normal. Hal tersebut dikarenakan keadaan fisiologis, obat-obatan yang menyebabkan katabolisme protein
yang didapatkan rendah maka hal tersebut tidak dianggap abnormal, karena dapat diduga rendahnya asupan protein dalam makanan yang dikonsumsi (Pemayun, 2002).
Pengukuran ureum dapat memberikan gambaran mengenai keadaan fungsi ginjal, namun ureum juga dapat dipengaruhi oleh suatu keadaan yang tidak berkaitan dengan ginjal, salah satunya adalah karena peningkatan atau penurunan asupan protein dalam makanan (Corwin, 2009) . Hal tersebut terjadi karena hati mengubah amonia menjadi urea, sehingga semakin banyak protein yang termetabolisme, maka semakin banyak pula urea yang terbentuk. Jika protein yang masuk ke dalam tubulus dan dipecah menjadi asam amino meningkat kemudian barulah menjadi amonia, maka semakin tinggi resiko terakumulasi zat toksik dalam tubuh. Walaupun tubuh mempunyai mekanisme ekskresi melalui urin, tetapi apabila asupan protein tersebut melebihi batas ambang maka tidak semuanya zat sisa atau hasil metabolisme tersebut dapat tereliminasi dari tubuh. 4.2.6 Hasil pengamatan kreatinin mencit
Hasil analisa biokimia darah mencit untuk pengujian kandungan kreatinin dilakukan pada akhir perlakuan hari ke-29 untuk kelompok uji dan hari ke-43 untuk kelompok satelit. Data kadar kreatinin disajikan pada Tabel 4.7.
Tabel 4.7 Data kadar kreatinin
Kelompok Kadar Kreatinin (mg/dL)
Jantan Betina
Kontrol CMC-Na Normal 0,208±0,099 0,192±0,124
EEHSP Dosis 100 mg/kgBB 0,390±0,081 0,200±0,024
EEHSP Dosis 200 mg/kgBB 0,396±0,044 0,194±0,082
EEHSP Dosis 800 mg/kgBB 0,586±0,221* 0,518±0,321*
Kontrol Jantan Satelit 0,108±0,063 0,164±0,049
Berdasarkan hasil pengukuran kadar kreatinin mencit pada Tabel 4.7 di atas yang dianalisis secara statistik dengan menggunakan Two way anova, kemudian dilanjutkan dengan Post Hoc Test berupa uji Tuckey HSD memberikan hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok perlakuan. Hal ini dapat ditunjukkan dengan tingkat signifikan p < 0,05. Kelompok EEHSP dosis 800 mg/kgbb jantan (0,586 mg/dL) betina ( 0,518 mg/dL) berbeda signifikan (p < 0,05) dengan kelompok kontrol jantan (0,208 mg/dL) betina (0,192 mg/dL). Kelompok EEHSP dosis 800 mg/kgbb satelit jantan (0,286 mg/dL) betina ( 0,518 mg/dL) tidak berbeda signifikan (p > 0,05) dengan kelompok kontrol satelit jantan ( 0,108 mg/dL) betina ( 0,164 mg/dL). Tidak terdapat perbedaan (p > 0,05) kadar kreatinin antara kelompok mencit jantan dan mencit betina.
Gambar 4.4 Grafik kadar kreatinin
Keterangan : * : p < 0,05 dengan Kontrol CMC-Na
fosfokreatin. Kreatinin diekskresikan seluruhnya ke dalam bentuk urin melalui glomerolus. Meningkatnya kadar kreatinin darah merupakan indikasi rusaknya fungsi ginjal.
Pada penelitian ini, kelompok EEHSP dosis 800 mg/kgbb mempengaruhi peningkatan kadar kreatinin yang signifikan dibandingkan dengan kadar kreatinin kelompok kontrol. Malde dan Pramono (1989) dalam Nursinah (2015) menyatakan bahwa faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kadar kreatinin adalah jenis kelamin, kondisi kelaparan dan jaringan otot. Kenaikan kreatinin dalam darah juga dapat diakibatkan oleh beberapa keadaan, diantaranya adalah hipoksia jaringan, penurunan laju filtrasi glomerolus, penyakit metabolit tertentu dan zat kimia toksik. Donatus (2001) menyatakan lama dan intensitas paparan bahan toksik juga dapat mempengaruhi wujud dan ketoksikan suatu bahan tertentu. Berbagai respon biokimia tersebut yang pada awalnya mungkin bersifat adaptis, bila berkelanjutan akan menuju kepada berbagi perubahan atau gangguan biokimia patologis. Sawi pahit mengandung senyawa aktif flavonoid yang bersifat antioksidan. Barile (2005) antioksidan memiliki peran terhadap tubuh karena jumlah antioksidan yang berlebih dapat berpotensi menjadi peroksidan. Walaupun meningkat signifikan, kadar kreatinin masih dalam batas normal yaitu 0,3 – 1,0 mg/dL (Mitruka, 1981).
4.2.7 Hasil penimbangan bobot relatif organ ginjal mencit
Tabel 4.8 Data pengamatan bobot organ ginjal mencit
Kelompok Ginjal Kanan (%) Ginjal Kiri (%) Jantan Betina Jantan Betina
K1 0,591±0,04 0,731±0,03 0,568±0,02 0,705±0,05
K2 0,716±0,07 0,632±0,07 0,702±0,04 0,599±0,09
K3 0,620±0,03 0,627±0,09 0,564±0,03 0,547±0,10
K4 0,648±0,05 0,702±0,10 0,604±0,06 0,646±0,10
K5 0,681±0,11 0,705±0,01 0,685±0,12 0,686±0,03
K6 0,825±0,07 0,687±0,10 0,857±0,08 0,670±0,09
Keterangan : Keterangan : K1 = Kontrol CMC-Na 0,5%, K2= EEHSP dosis 100 mg/kgbb, K3=EEHSP dosis 200 mg/kgbb, K4=EEHSP dosis 800 mg/kgbb, K5=Kontrol CMC-Na 0,5% Satelit, K6=EEHSP dosis 800 mg/kgbb Satelit.
Berdasarkan hasil berat organ relatif mencit pada Tabel 4.8 yang dianalisis secara statistik menggunakan Two way anova menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan pada organ relatif pada setiap kelompok dan antara kelompok mencit jantan dengan kelompok mencit betina (p > 0,05). Hal ini berarti tidak ada pengaruh berat organ relatif mencit yang diberi ekstrak etanol herba sawi pahit dengan mencit yang normal. Berat organ yang diukur pada penelitian ini yaitu organ ginjal.
Gambar 4.5 Grafik bobot organ ginjal kiri mencit
melaksanakan fungsi ekskresi, ginjal mendapatkan tugas yang berat mengingat hampir 25 % dari seluruh aliran darah mengalir ke ginjal menyebabkan keterpaparan ginjal terhadap bahan/zat-zat yang beredar dalam sirkulasi cukup tinggi (Nursinah, 2015).
Gambar 4.6. Grafik bobot organ ginjal kanan mencit
Menurut Lu (1994), meningkatnya berat ginjal juga dianggap sebagai salah satu nefrotoksisitas yang paling peka dan konsisten jika diikuti dengan perubahan warna dan bentuk ginjal, tetapi dari hasil pengamatan terhadap warna dan bentuk ginjal mencit perlakuan, ternyata tidak memperlihatkan perbedaan dengan mencit kontrol sehingga dalam menilai efek ginjal sebagai suatu zat dapat dipertimbangkan beberapa faktor untuk dapat mengatakan bahwa suatu zat dapat dianggap toksik atau tidak pada fungsi dan morfologi ginjal karena ginjal mempunyai kemampuan kompensasi yang cukup tinggi.
4.2.8 Hasil pengamatan makropatologi organ ginjal mencit
Organ ginjal pada mencit segera diambil dan pada akhir periode pemberian 28 hari dan untuk kelompok satelit dilanjutkan pengamatan 14 hari, seluruh mencit diotopsi. Tujuan pengamatan adalah melihat gambaran langsung
keadaan ginjal setelah perlakuan sebagai salah satu parameter sensitif yang dijadikan salah satu faktor penentu efek gejala toksik yang ditimbulkan.
Hasil pengamatan makropatologi meliputi pengamatan warna, permukaan, dan konsistensi organ ginjal disajikan pada Tabel 4.9 dan Gambar 4.7.
Tabel 4.9 Data pengamatan makropatologi ginjal
Kelompok
Pengamatan
Warna Konsistensi Permukaan Jantan Betina Jantan Betina Jantan Betina
Kontrol Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin
Dosis 100 mg/kgbb Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin Dosis 200 mg/kgbb Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin Dosis 800 mg/kgbb Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin Kkontrol Satelit Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin Dosis 800 mg/kgbb Satelit Merah Merah Kenyal Kenyal Licin Licin
Berdasarkan Tabel 4.9 terlihat pada kelompok kontrol, kontrol satelit, dan dosis 100, 200, 800, dan 800 satelit mg/kgbb organ ginjal masih dalam keadaan normal berwarna merah, permukaannya licin dan konsistensinya kenyal.
Jantan Betina
Jantan Betina
Kelompok Kontrol CMC – Na 0,5% Kelompok EEHSP Dosis 100 mg/kgbb
Jantan Betina Jantan Betina
Kelompok EEHSP Dosis 200 mg/kgbb Kelompok EEHSP Dosis 800 mg/kgbb
Jantan Betina Jantan Betina
Satelit Kontrol CMC-Na 0,5 % Satelit EEHSP Dosis 800 mg/kgbb Gambar 4.7 Organ ginjal mencit (lanjutan)
Perubahan warna menjadi salah satu parameter terjadinya efek toksik yang bertujuan mendapatkan informasi mengenai zat uji yang berkaitan dengan organ sasaran dan efek terhadap organ tersebut (Lu, 1995).
4.2.9 Histologi organ ginjal
Tabel 4.10. Hasil histopatologi berdasarkan kerusakan nefron
Kelompok Dosis mg/kgbb Jenis kerusakan
Degenerasi tubulus Nekrosis
Jantan Betina Jantan Betina
K1 - - - - -
K2 100 + + + +
K3 200 + + + +
K4 800 ++ + ++ ++
K5 Satelit (-) - - - -
K6 Satelit 800 + + + +
Keterangan: (-) = normal; (+) = ringan; (++) = sedang; (+++) = parah
Pada Tabel 4.10 terlihat pada kelompok kontrol dan satelit kontrol tidak terlihat adanya kerusakan nefron. EEHSP dosis 100, 200, 800, dan satelit 800 mg/kgbb terdapat kerusakan nefron yaitu degenerasi tubulus dan nekrosis dengan tingkat keparahan ringan sampai sedang. Gambaran histopatologi organ ginjal sesuai dengan pengamatan ureum dan kreatinin yang pada kelompok perlakuan 100, 200, dan 800 mg/kgbb mulai terjadi peningkatan dibanding kelompok kontrol.
(800 mg/kgbb) tidak berbeda signifikan dengan kelompok kontrol satelit. Glomerolus dan tubulus adalah bagian dari ginjal yang mudah mengalami kelainan sehingga akan berdampak secara morfologi dan fungsional jika terjadi keracunan (Tanry, 2011).
Jantan (a) Betina (a)
Jantan (b) Betina (b)
Jantan (c) Betina (c)
Gambar 4.8 Histologi ginjal setelah pemberian EEHSP 1
2 3
3
4
1 2 3 5
5 4
Jantan (d) Betina (d)
Jantan (e) Betina (e)
Jantan (f) Betina (f)
Gambar 4.8 Histologi ginjal setelah pemberian EEHSP (lanjutan) Keterangan
a = histopatologi organ ginjal perlakuan kontrol Na-CMC 0,5%; b = histopatologi organ ginjal perlakuan dosis 100 mg/kgbb; c = histopatologi organ ginjal perlakuan dosis 200 mg/kgbb ; d = histopatologi organ ginjal perlakuan dosis 800 mg/kgbb ; e = histopatologi organ ginjal perlakuan satelit kontrol Na-CMC 0,5%; f = histopatologi organ ginjal perlakuan satelit dosis 800 mg/kgbb;1 = Glomerolus;2 = Tubulus proksimal;3 = Tubulus distal; 4 = Nekrosis tubulus;5 1
6
2
2 5
4
3
3 1
1
4
4 6 4
5
Degenerasi epitel tubuli ginjal dapat terjadi karena adanya racun atau toksin, iskemia, agen biologik, zat aktif, agen fisik dan suhu ekstrim (Setiasih, 2006). Jika suatu zat disekresi secara aktif dari darah ke urin, zat kimia terlebih dahulu diakumulasikan dalam tubulus proksimal atau jika substansi kimia ini direabsorbsi dari urin maka akan melalui sel epitel tubulus dengan konsentrasi tinggi, proses pemekatan tersebut mengakibatkan zat-zat toksik ini akan terakumulasi di ginjal dan menyebabkan kerusakan ginjal (Anggraini, 2008).
Menurut Contran (2007), kerusakan ginjal berupa nekrosis tubulus disebabkan oleh sejumlah racun organik. Hal ini karena pada sel epitel tubulus terjadi kontrak langsung dengan bahan yang direabsorbsi, sehingga sel epitel tubulus ginjal dapat mengalami kerusakan ataupun nekrosis pada inti sel ginjal sehingga warna ginjal tampak berubah.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak etanol herba sawi pahit berpotensi menimbulkan gejala toksik dan peningkatan kadar ureum setelah pemberian 28 hari dosis 100, 200 dan 800 mg/kgbb. Efek toksik yang terjadi bersifat reversibel setelah pemberian ekstrak dihentikan.
4.2 SARAN