BAB III
TINJAUAN KHUSUS RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
3.1 Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik
Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik mempunyai 16 pelayanan medis spesialistik dan subspesialistik yang luas, sehingga RSUP H. Adam Malik
termasuk rumah sakit kelas A. Hal ini juga sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990 yang menetapkan RSUP H. Adam Malik sebagai rumah sakit kelas A yang berlokasi di Jl. Bunga Lau No. 17 Medan Tuntungan
Kotamadya Medan Provinsi Sumatera Utara. RSUP H. Adam Malik ditetapkan sebagai Rumah Sakit Pendidikan sesuai dengan SK Menkes No.
502/Menkes/SK/IX/1991. RSUP H. Adam Malik juga sebagai pusat rujukan wilayah pembangunan A yang meliputi provinsi Sumatera Utara, NAD dan Riau.
Berdasarkan SK Menkeu No. 280/KMK.05/2007 dan SK Menkes
No.756/Menkes/SK/VI/2007 tepatnya pada Juni 2007 RSUP H. Adam Malik telah berubah status menjadi Badan Layanan Umum (BLU) bertahap dengan tetap mengikuti pengarahan-pengarahan yang diberikan oleh Ditjen Yanmed dan
Departemen Keuangan untuk perubahan status menjadi BLU penuh. Pemberdayaan dan kemandirian instalasi dan SMF harus diwujudkan dengan
ditetapkannya status RSUP H. Adam Malik menjadi BLU, untuk mewujudkan hal ini perlu, dan dilakukan penyesuaian organisasi yang didukung oleh Permenkes RI No 244/Menkes/Per/III/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja RSUP H. Adam
Malik tanggal 11 Maret 2008. Peraturan ini menyatakan bahwa RSUP H. Adam Malik adalah unit pelaksana teknis di lingkungan Departemen Kesehatan yang
Departemen Kesehatan yang mempunyai tugas menyelenggarakan upaya penyembuhan dan pemulihan secara paripurna, pendidikan dan pelatihan, penelitian, dan pengembangan secara serasi, terpadu dan berkesinambungan
dengan upaya peningkatan kesehatan lainnya serta melaksanakan upaya rujukan.
3.1.1 Fungsi RSUP H. Adam Malik
Guna meningkatkan kesehatan masyarakat, maka dalam melaksanakan tugasnya, RSUP H. Adam Malik memiliki fungsi antara lain:
a. menyelenggarakan pelayanan medis
b. menyelenggarakan pelayanan dan asuhan keperawatan c. menyelenggarakan penunjang medis dan non medis
d. menyelenggarakan pengelolaan sumber daya manusia
e. menyelenggarakan pendidikan dan penelitian secara terpadu dalam bidang profesi kedokteran dan pendidikan kedokteran berkelanjutan
f. menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan di bidang kesehatan lainnya g. menyelenggarakan penelitian dan pengembangan
h. menyelenggarakan pelayanan rujukan
i. menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan
3.1.2 Tujuan RSUP H. Adam Malik Tujuan RSUP H. Adam Malik adalah:
a. memberikan pelayanan yang bermutu yaitu cepat, tepat, nyaman, dan terjangkau serta sebagai tempat pendidikan dan penelitian
serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan serta melaksanakan upaya rujukan
3.1.3 Visi RSUP H. Adam Malik
Visi RSUP H. Adam Malik adalah menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan, pendidikan dan penelitian yang mandiri dan unggul di Sumatera tahun
2015.
3.1.4 Misi RSUP H. Adam Malik Misi RSUP H. Adam Malik adalah:
a. melaksanakan pelayanan kesehatan paripurna, bermutu dan terjangkau
b. melaksanakan pendidikan, pelatihan serta penelitian kesehatan yang
profesional
c. melaksanakan kegiatan pelayanan dengan prinsip efektif, efisien, akuntabel, dan mandiri.
3.1.5 Falsafah RSUP H. Adam Malik
Falsafah RSUP H. Adam Malik adalah memberikan pelayanan kesehatan kepada seluruh lapisan masyarakat secara profesional, efisien, dan efektif sesuai
standar pelayanan yang bermutu.
3.1.6 Motto RSUP H. Adam Malik
Motto RSUP H. Adam Malik adalah mengutamakan keselamatan pasien dengan pelayanan:
P : Pelayanan cepat
E : Efisien N : Nyaman
3.1.7 Susunan Organisasi RSUP H. Adam Malik
Berdasarkan Permenkes RI No. 244/Menkes/Per/III/2008 tepatnya pada tanggal 11 Maret 2008, struktur organisasi RSUP H. Adam Malik terdiri dari
direktur utama, direktorat medik dan keperawatan, direktorat sumber daya manusia dan pendidikan, direktorat keuangan, direktorat umum dan operasional, dan unit-unit non struktural. Struktur organisasi Rumah Sakit Umum Pusat H.
Adam Malik dapat dilihat pada Lampiran 1 halaman 62.
3.1.7.1 Direktur Utama
Direktur utama RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, merumuskan kebijaksanaan pelaksanaan, membina pelaksanaan, mengkoordinasikan dan mengawasi pelaksanaan tugas rumah sakit sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
3.1.7.2 Direktorat Medik dan Keperawatan
Direktorat medik dan keperawatan dipimpin oleh seorang direktur yang
berada di bawah dan bertanggung jawab kepada direktur utama. Direktorat medik dan keperawatan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan pelayanan medis,
keperawatan, dan penunjang. Pelayanan keperawatan dilakukan pada instalasi rawat jalan, instalasi rawat inap terpadu (Rindu) A, instalasi rindu B, instalasi gawat darurat (IGD), instalasi perawatan intensif, dan instalasi bedah pusat.
a. penyusunan rencana pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang b. koordinasi pelayanan medis, keperawatan, dan penunjang
c. pengendalian, pengawasan dan evaluasi pelayanan medis, keperawatan, dan
penunjang.
3.1.7.3 Direktorat Sumber Daya Manusia dan Pendidikan
Direktorat sumber daya manusia dan pendidikan mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan sumber daya manusia serta pendidikan dan penelitian, dengan cara menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan rencana kebutuhan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan
b. koordinasi dan pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia
c. koordinasi pelaksanaan pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan
d. pengendalian, pengawasan, dan evaluasi pelaksanaan pengelolaan sumber daya manusia, pendidikan dan pelatihan serta penelitian dan pengembangan.
3.1.7.4 Direktorat Keuangan
Direktorat keuangan mempunyai tugas melaksanakan penyusunan program dan anggaran, pengelolaan pembendaharaan, mobilisasi dana, akuntansi,
dan verifikasi, untuk melaksanakan tugas tersebut direktorat keuangan menyelenggarakan fungsi:
a. penyusunan rencana program dan anggaran
c. pengendalian, pengawasan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan pengelolaan program dan anggaran, perbendaharaan dan mobilisasi dana, serta akuntansi dan verifikasi.
3.1.7.5 Direktorat Umum dan Operasional
Direktorat umum dan operasional mempunyai tugas melaksanakan
pengelolaan data dan informasi, hukum, organisasi dan hubungan masyarakat serta administrasi umum. Fungsi dari direktorat umum dan operasional adalah: a. menyelenggarakan pengelolaan data dan informasi
b. menyelenggarakan pelaksanaan urusan hukum, organisasi, dan hubungan masyarakat
c. menyelenggarakan pelaksanaan urusan administrasi umum
Direktorat umum dan operasional terdiri dari bagian data dan informasi, bagian hukum, organisasi, dan humas, bagian umum, instalasi dan kelompok
jabatan fungsional.
Instalasi sebagai pelayanan non struktural dibentuk di lingkungan direktorat umum dan operasional yang terdiri dari Instalasi Farmasi, instalasi gizi,
instalasi rekam medik, instalasi laundry, instalasi pemeliharaan sarana rumah sakit (IPSRS), instalasi sterilisasi pusat, instalasi kesehatan lingkungan, instalasi bank
darah, instalasi gas medik, instalasi sistem informasi rumah sakit (SIRS), dan instalasi kedokteran forensik dan pemulasaraan jenazah.
3.1.7.6 Unit-unit Non Struktural
a. Dewan Pengawas
Menurut Permenkeu Nomor 109/PMK.05/2007 tentang Dewan Pengawas BLU, Dewan Pengawas adalah organ BLU yang bertugas melakukan pengawasan
terhadap pengelolaan BLU.
Pembentukan Dewan Pengawas berlaku hanya pada BLU yang memiliki :
a. realisasi nilai omzet tahunan menurut laporan realisasi anggaran tahun terakhir, minimum sebesar Rp15.000.000.000,00 (lima belas miliar rupiah), dan/atau b. nilai aset menurut neraca, minimum sebesar Rp75.000.000.000,00 (tujuh puluh
lima miliar rupiah).
Jumlah anggota Dewan Pengawas ditetapkan sebanyak 3 orang atau 5
orang disesuaikan dengan nilai omzet dan/atau nilai aset, serta seorang di antara anggota Dewan Pengawas ditetapkan sebagai Ketua Dewan Pengawas. Di RSUP. H. Adam Malik memiliki 5 orang anggota Dewan Pengawas.
b. Komite
Komite merupakan wadah non struktural yang terdiri dari tenaga ahli atau profesi yang dibentuk untuk memberikan pertimbangan strategis kepada direktur
utama dalam rangka peningkatan dan pengembangan pelayanan rumah sakit. Komite medik mempunyai otoritas tertinggi di dalam pengorganisasian
Staf Medis Fungsional (SMF) dalam melaksanakan pengawasan dan review terhadap pelayanan pasien, mutu pelayanan medis, rekomendasi penetapan staf medis, audit medis dan pengawasan etika dan disiplin profesi medis dan juga
merupakan wadah non struktural kelompok profesi medis yang keanggotaannya teridiri dari ketua-ketua SMF atau yang mewakili SMF secara tetap, dan berada di
dalam komite medik adalah komite farmasi dan terapi. Komite farmasi dan terapi harus sekurang-kurangnya terdiri dari 3 dokter, apoteker dan perawat.
Peran apoteker sebagai sekretaris di KFT sangatlah penting karena semua
kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit di rumah sakit ditentukan dalam panitia ini, sehingga dengan keberadaan apoteker
di KFT dapat turut ambil bagian menetapkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya dalam bentuk formularium.
Komite etik dan hukum mempunyai tugas memberikan pertimbangan
kepada direktur utama dalam hal menyusun dan merumuskan medicoetikolegal dan etik pelayanan rumah sakit, penyelesaian masalah etik kedokteran, etik rumah
sakit serta penyelesaian pelanggaran terhadap kode etik pelayanan rumah sakit, pemeliharaan etika penyelenggaraan fungsi rumah sakit, kebijakan yang terkait dengan hospital bylaws serta medical staff bylaws, gugus tugas bantuan hukum
dalam penanganan masalah hukum di rumah sakit. c. Satuan Pemeriksaan Intern (SPI)
SPI adalah satuan kerja fungsional yang bertugas melaksanakan
pemeriksaan intern rumah sakit. Satuan Pemeriksaan intern berada di bawah dan bertanggung jawab kepada direktur utama.
d. Instalasi
Instalasi adalah unit pelayanan non struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan, pendidikan dan penelitian rumah
utama. Kepala instalasi dalam melaksanakan tugasnya dibantu oleh tenaga-tenaga fungsional/non medis.
3.2 Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik
Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik dipimpin oleh seorang apoteker yang berada dan bertanggungjawab langsung kepada direktur umum dan
operasional. Instalasi Farmasi bertanggung jawab terhadap pengelolaan perbekalan farmasi yang berupa pengelolaan alat kesehatan, sediaan farmasi, dan bahan habis pakai dimana harus dilakukan dengan sistem satu pintu. Instalasi
farmasi adalah regulator bagi semua unit di lingkungan rumah sakit untuk pelayanan rawat jalan maupun rawat inap.
Falsafah pelayanan farmasi menurut SK MenKes Nomor 1333/MenKes/SK/XII/1999 adalah pelayanan farmasi rumah sakit adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan
berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang terjangkau bagi semua lapisan masyarakat.
Fungsi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik adalah:
a. melaksanakan kegiatan tata usaha untuk menunjang kegiatan Instalasi Farmasi dan melaporkan seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian
b. melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan RSUP H. Adam Malik serta melaksanakan evaluasi dan SIRS Instalasi Farmasi
c. melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian
d. mendistribusikan perbekalan farmasi ke seluruh satuan kerja/instalasi di lingkungan RSUP H. Adam Malik untuk kebutuhan pasien rawat jalan, rawat inap, gawat darurat dan instalasi-instalasi penunjang lainnya
e. melaksanakan fungsi pelayanan farmasi klinis
f. melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan di bidang farmasi.
Berdasarkan SK Direktur RSUP H. Adam Malik No OT.01.01./ IV.2.1./ 1868a/2009, struktur organisasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik ditunjukkan pada Gambar 3.1.
Gambar 3.1. Struktur Organisasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Direktur Umum dan Operasional
Ka. Instalasi Farmasi Wa Ka. Instalasi Farmasi
3.2.1 Kepala Instalasi Farmasi
Kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas memimpin, menyelenggarakan, mengkoordinasi, merencanakan, mengawasi dan
mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di RSUP H. Adam Malik sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kepala Instalasi Farmasi berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada direktur umum dan operasional.
3.2.2 Wakil Kepala Instalasi Farmasi
Wakil kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam menyelenggarakan,
mengkoordinasikan, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan kefarmasian terhadap pasien, instalasi pelayanan dan instalasi penunjang lainnya di RSUP H. Adam Malik.
3.2.3 Tata Usaha Farmasi
Tata usaha farmasi berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi yang mempunyai tugas membantu kepala
Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan kegiatan ketatausahaan, pelaporan, kerumahtanggaan, mengarsipkan surat masuk dan keluar, serta urusan
kepegawaian kepala Instalasi Farmasi.
3.2.4 Kelompok Kerja
3.2.4.1 Pokja Perencanaan dan Evaluasi
H. Adam Malik, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan perbekalan farmasi untuk kebutuhan rumah sakit, melakukan evaluasi kegiatan pelayanan
kefarmasian di RSUP H. Adam Malik dan melaksanakan SIRS Instalasi Farmasi serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan
tugas di lingkungan pokja perencanaan dan evaluasi.
Pokja perencanaan dan evaluasi IFRS pada RSUP. H. Adam Malik mempunyai tugas dimulai dari pemilihan, perencanaan, pengadaan, dan evaluasi
yang diperlukan bagi kegiatan pelayanan.
Pokja perencanaan dan evaluasi telah menerapkan sistem informasi
manajemen rumah sakit (SIRS) secara online sehingga mempermudah segala transaksi dan pemantauan persediaan perbekalan farmasi.
Sistem informasi rumah sakit (SIRS) adalah suatu sistem yang
berhubungan dengan pengelolaan data, pegumpulan data, penyajian informasi, analisis dan penyimpulan informasi serta penyampaian informasi yang dibutuhkan untuk kegiatan rumah sakit. Teknologi informasi merupakan salah satu teknologi
yang sedang berkembang pesat saat ini dengan kemajuan teknologi informasi, pengaksesan data atau informasi yang tersedia dapat berlangsung dengan cepat,
efisien serta akurat. Hal ini jugalah yang menjadi pertimbangan RSUP H. Adam Malik untuk melakukan sistem informasi rumah sakit terintegrasi.
Dalam pelaksanaan farmasi klinis diatas, Pokja Farmasi Klinis RSUP H.
Mengenali Pasien secara Tepat
Rumah Sakit mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan ketepatan identifikasi pasien. Pasien diidentifikasi menggunakan dua pengidentifikasi
pasien, tidak termasuk penggunaan nomor kamar pasien atau lokasi.
1. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan obat, darah, atau produk darah.
2. Pasien diidentifikasi sebelum mengambil darah dan spesimen lainnya untuk pengujian klinis.
3. Pasien diidentifikasi sebelum memberikan prosedur perawatan.
4. Kebijakan dan prosedur mendukung praktik yang konsisten dalam segala situasi dan lokasi.
Peningkatan Komunikasi Efektif
Komunikasi yang efektif, yang tepat waktu, akurat, lengkap, tidak ambigu, dan dipahami oleh penerima dapat mengurangi kesalahan dan hasil dalam
keselamatan pasien membaik. Komunikasi dapat berupa elektronik, lisan, atau tertulis. Menerapkan proses atau prosedur untuk mengambil perintah lisan atau telepon, atau untuk pelaporan hasil uji laboratorium penting, yang membutuhkan
verifikasi “read-back” dari tatanan lengkap atau hasil tes oleh orang yang menerima informasi.
Peningkatan Keamanan Obat yang Perlu Diwaspadai
Ketentuan lokasi, label, dan penyimpanan larutan elektrolit pekat misalnya, KCl, Mg(SO)4, NaCl 3%. Obat – obatan tersebut bila terjadi kesalahan
secara klinis dan dengan peraturan tertentu. Obat-obat tersebut disimpan dengan memberikan label merah bertuliskan High Allert.
Pengurangan Resiko Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan
Pada saat melakukan visite pasien apoteker melakukan cuci tangan yang sesuai dengan ketentuan JCI, baik sebelum maupun sesudah. Setelah melakukan
visite pada pasien yang satu, sebelum ke pasien selanjutnya, apoteker juga mencuci tangan terlebih dahulu.
Sebelum akreditasi JCI, prosedur-prosedur diatas belum dilaksanakan.
Untuk rumah sakit yang belum menjalankan akreditasi JCI, hal-hal diatas belum dijalankan secara baik dan keseluruhan.
3.2.4.2 Pokja Perbekalan
Pokja perbekalan dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam
Malik, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi (alat kesehatan habis pakai
(AKHP), instrumen dasar, reagensia, radiofarmasi, obat, dan cairan), memproduksi obat-obatan dan pengujian mutu sesuai dengan kebutuhan rumah
sakit serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan pokja perbekalan.
Instalasi farmasi RSUP. H. Adam Malik memiliki 11 ruangan yang
aquadest, gudang jamkesmas, gudang askes (tablet dan cairan), gudang umum, gudang floorstock, gudang floorstock Cathlab jantung/bedah jantung, dan ruang pengklaiman.
Namun kondisi fisik gudang perbekalan farmasi tidak memadai untuk menyimpan seluruh perbekalan farmasi yang diperlukan untuk kebutuhan
pelayanan pasien, sehingga pembelian barang harus disesuaikan dengan kapasitas gudang.
3.2.4.3 Pokja Farmasi Klinis
Pokja farmasi klinis dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam
Malik, mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan pelayanan farmasi klinik dan melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengembangan pelayanan kefarmasian
serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan pokja farmasi klinis. Pelayanan farmasi klinis meliputi:
a. Pengkajian Dan Pelayanan Resep
Pengkajian dan pelayanan resep untuk pasien rawat inap dilakukan oleh depo farmasi untuk permintaan perbekalan farmasi pada jam kerja hingga sore
hari dan jam kerja yaitu pada malam hari, perngkajian dan pelayanan resep akan dilakukan oleh apotik I dan II.
b. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat telah dilakukan oleh farmasi klinis, data diperoleh dari wawancara dengan pasien/keluarga pasien, dan data rekam
seluruh pasien di RSUP. H. Adam Malik dikarenakan keterbatasan jumlah apoteker farmasi klinis dengan jumlah pasien yang sangat banyak sehingga penelusuran riwayat penggunaan obat tidak optimal dilaksanakan.
c. Pelayanan lnformasi Obat (PIO)
Pelayanan informasi obat (PIO) sudah terstruktur dan telah dilakukan di
RSUP H. Adam Malik. PIO untuk pasien rawat jalan dilakukan pada ruang konseling. PIO untuk pasien rawat inap dilakukan di ruang kepala depo farmasi. Ruangan pusat PIO sudah tersedia dan telah dilengkapi dengan sarana dan
prasarana seperti literatur, komputer, jaringan internet, telepon, dan mesin fax. IFRS juga bekerja sama dengan instalasi penyuluhan kesehatan masyarakat rumah
sakit (PKMRS) untuk pelayanan informasi obat. Penyusunan jadwal dilakukan oleh PKMRS dan apoteker berperan sebagai edukator.
d. Konseling
Kegiatan konseling ini dilakukan untuk pasien rawat jalan dengan riwayat pasien penyakit kronik, geriatri, pediatri dan polifarmasi. Sarana yang diperlukan untuk konseling seperti ruangan tertutup yang disertai alat peraga belum
memenuhi syarat. Pada akhir konseling dilakukan verifikasi tentang penggunaan obat yang diberikan.
e. Visite
Kegiatan visite di RSUP H. Adam Malik dilakukan oleh apoteker baik secara mandiri maupun bersama tim tenaga kesehatan untuk mengamati kondisi
dan menyajikan informasi obat kepada dokter, pasien serta professional kesehatannya lainnya.
f. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantauan terapi obat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas terapi dan meminimalkan risiko reaksi obat yang tidak dikehendaki
(ROTD). Kegiatan ini meliputi pengumpulan data pasien, identifikasi masalah terkait obat, rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat, pemantauan dan tindak lanjut. Seluruh kegiatan ini telah dilakukan bersamaan dengan visite.
g. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Monitoring efek samping obat telah dilakukan oleh farmasi klinis. Tujuan
pelaksanaan MESO oleh farmasi klinis adalah untuk memonitoring efek samping obat yang jarang dan berbahaya. Pelaksanan MESO oleh farmasi klinis dilaksanakan bersamaan dengan visite. Farmasi klinis akan melakukan pelatihan
kepada perawat kepala ruangan untuk membantu memantau efek samping obat di ruangan masing-masing. Apoteker akan melakukan koordinasi dengan dokter kemudian melaporkannya kepada MESO nasional. Format pelaporan MESO dapat
dilihat pada Lampiran 3 halaman 64.
h. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Evaluasi penggunaan obat yang sudah dilakukan adalah evaluasi penggunaan antibiotik di pasca bedah. Hasilnya terlihat dimana semua pasien yang tidak ada tanda infeksi juga diberikan antibiotik. Penelitian bersifat
retrospektif. Kesimpulannya evaluasi penggunaan obat sudah dilakukan namun program ini tidak dilakukan secara berkesinambungan. Hal ini terjadi karena
i. Dispensing Sediaan Khusus
Dispensing sediaan khusus yang sudah dilakukan oleh pokja farmasi klinis adalah penanganan sediaan sitotoksik sedangkan untuk pencampuran obat suntik
dan penyiapan nutrisi parenteral belum dilakukan karena kurang memadainya sarana dan prasarana di rumah sakit. Kebijakan instalasi farmasi untuk dispensing
obat suntik masih dikerjakan oleh perawat. Selain itu, penanganan sediaan sitotoksik pada ruangan steril juga belum memenuhi persyaratan karena masih terdapat sumber kontaminan seperti plafon yang masih berpori, dinding yang
masih memiliki sudut, dan adanya gorden yang terpasang. Passbox yang telah tersedia pada ruangan steril, juga belum memenuhi syarat sebagai perantara
barang di ruangan steril dan ukurannya yang masih kecil. j. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)
Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD) telah dilaksanakan oleh
pokja farmasi klinik, namun belum dilaksanakan secara kontinu karena harga reagen yang digunakan untuk menentukan kadar obat dalam darah sangat mahal dengan expired reagen yang singkat. Selain itu, obat-obat yang perlu dipantau
kadarnya dalam darah hanya sedikit yang digunakan di rumah sakit.
Farmasi klinis menyelenggarakan dan mengkoordinasikan serta
bertanggung jawab terhadap pendidikan dan pelatihan di Instalasi Farmasi, pencampuran obat kemoterapi secara aseptik, pertemuan rutin yang disebut dengan selasa klinis atau Beautiful Tuesday Morning Clinical Pharmacy yang
Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) melaksanakan penyuluhan rutin bagi pasien rawat jalan maupun pasien rawat inap.
3.2.4.4 Pokja Apotek I
Pokja apotek I dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP. H. Adam
Malik. Apotek I melaksanakan pelayanan kefarmasian untuk pasien rawat jalan askes dan umum hanya pada jam kerja, sedangkan di luar jam kerja, pasien akan dilayani oleh apotek II.
3.2.4.5 Pokja Apotek II
Pokja apotek dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan
bertanggung jawab langsung kepada kepala instalasi farmasi RSUP H. Adam Malik, mempunyai tugas membantu kepala instalasi farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan pelayanan kefarmasian terhadap
pasien rawat jalan jamksemas, umum dan rawat inap diluar jam kerja dan melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan pokja apotek.
3.2.5 Depo Farmasi
3.2.5.1 Depo Farmasi Rindu A
Depo Farmasi Rindu A dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik, yang bertugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal
Ruang Inap Terpadu A secara sistem one day dose dispensing dan melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan Depo Farmasi Rindu A.
3.2.5.2 Depo Farmasi Rindu B
Depo farmasi rindu B dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah
dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik, yang bertugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk pasien rawat inap di rindu B secara sistem one day dose dispensing melaksanakan pencatatan, pelaporan dan
evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan depo farmasi ruang inap terpadu B.
3.2.5.3 Depo Farmasi CMU Lantai III
Depo farmasi CMU Lantai III dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala instalasi farmasi RSUP H. Adam Malik, yang bertugas membantu kepala instalasi farmasi dalam hal
mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk kebutuhan pasien
3.2.5.4 Depo Farmasi IGD
Depo farmasi IGD dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada kepala Instalasi Farmasi RSUP H. Adam
Malik, yang bertugas membantu kepala Instalasi Farmasi dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan,
penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi untuk kebutuhan pasien instalasi gawat darurat (IGD). Selain itu juga melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap pelaksanaan tugas di lingkungan depo farmasi.
3.3 Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD)
Instalasi Central Sterilized Supply Department (CSSD) atau sterilisasi
pusat adalah satu unit kerja yang merupakan fasilitas penyelenggaraan dan kegiatan pelayanan kebutuhan steril yang dipimpin oleh seorang kepala instalasi yang berada dibawah direktur umum dan operasional.
Pelayanan sterilisasi adalah kegiatan memproses semua bahan, peralatan dan perlengkapan yang dibutuhkan untuk pelayanan medik di rumah sakit, mulai dari perencanaan, pengadaan, pencucian, pengemasan, pemberian tanda, proses
sterilisasi, penyimpanan dan penyalurannya untuk memenuhi kebutuhan rumah sakit. Kegiatan yang dilakukan dalam pelayanan CSSD adalah melakukan
sterilisasi instrument dan linen untuk kebutuhan kamar operasi/ IGD/ catheterisasi/ bedah jantung, melakukan sterilisasi ruangan dengan fogging dan UV lamp, dan melakukan re-use dengan formaldehid.
hingga seminimal mungkin dan mempertahankan mutu hasil sterilisasi dengan melakukan monitoring terhadap proses dan hasil sterilisasi.
Ruangan yang memadai disediakan untuk mendapatkan pelayanan CSSD
yang optimal yang terdiri atas: ruang pencucian, ruang kerja dan ruang steril/ penyimpanan barang steril yang memenuhi syarat.
CSSD dikepalai oleh seorang apoteker dan dibantu oleh wakil kepala instalasi, tata usaha dan tiga pokja lainnya. Struktur organisasi instalasi CSSD RSUP H. Adam Malik ditunjukkan pada Gambar 3.2.
Gambar 3.2. Struktur Organisasi Instalasi Central Sterilized Supply
Department (CSSD) RSUP H. Adam Malik
3.4 Instalasi Gas Medis
Sesuai SK Direktur RSUP H. Adam Malik No. OT.01.01.11.173 tentang
Instalasi Gas Medik, pada tanggal 26 Februari 2005 didirikan instalasi gas medik RSUP H. Adam Malik dengan pertimbangan bahwa gas medik merupakan hal
Direktur Umum dan Operasional Kepala Instalasi CSSD
Wa Ka. Instalasi
Tata Usaha
Pokja Pengemasan
Pokja Sterilisasi Pokja
vital di rumah sakit sehingga perlu dipersiapkan pelayanan gas medik yang baik, efektif dan efisien kepada pasien yang membutuhkannya.
Menurut Permenkes No. 244/Menkes/Per/III/2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja RSUP H. Adam Malik, Instalasi gas medis adalah unit pelayanan struktural yang menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan kegiatan pelayanan
gas medis. Instalasi gas medik yang berada dibawah dan bertanggung jawab langsung kepada direktur umum dan operasional, mempunyai tugas menyelenggarakan, mengkoordinasikan, merencanakan, melaksanakan,
mengawasi dan mengevaluasi seluruh kegiatan pelayanan gas Medik di RSUP H. Adam Malik. Struktur organisasi instalasi gas medik RSUP H. Adam Malik
ditunjukkan pada Gambar 3.3.
Gambar 3. 3 Struktur Organisasi Instalasi Gas Medis RSUP H. Adam Malik Ka. Instalasi Gas Medis
Wa Ka. Instalasi Gas Medis
Tata Usaha Gas Medis
Pokja Perbekalan dan Pendistribusian Gas Medis
Pokja Pelayanan dan Pemantauan Penggunaan Gas Medis Direktur Umum dan
Jenis-jenis gas medis yang digunakan dalam pelayanan kesehatan di RSUP H. Adam Malik adalah:
a. oksigen (O2)
O2 didistribusikan ke instalasi gawat darurat (IGD), instalasi perawatan
intensif (IPI), instalasi bedah pusat (IBP), recovery room (RR), instalasi rindu A,
instalasi rindu B, instalasi diagnostik terpadu (IDT), instalasi hemodialisa (IHD). Oksigen bertekanan 4-5 kg/cm2 dengan tabung berwarna putih.
b. nitrogen oksida (N2O)
N2O didistribusikan ke kamar operasi IGD dan kamar operasi IBP. N2O
bertekanan 4-5 kg/cm2 dengan tabung berwarna biru.
c. karbondioksida (CO2)
CO2 didistribusikan ke kamar operasi dan kamar bersalin. CO2 bertekanan
4-5 kg/cm2 dengan tabung berwarna hitam.
d. medical compress air (MCA)/udara tekan (UT)
Udara tekan terdiri dari 2 unit compressor udara, 2 unit pendingin udara, 1 unit tangki udara, 2 unit pengering udara, 2 unit filter udara, 2 unit filter bakteri, 1
unit regulator, 1 unit kelengkapan alat (valve = ulir + pemutar, drain valve). Udara tekan bertekanan 4-5 kg/cm2 dengan tabung berwarna abu-abu.
Pendistribusian gas medis terdiri dari:
a. sistem sentral, dimulai dari tanki, pipa instalasi, outlet, dan regulator
b. sistem manual berupa tabung (silinder) dengan alat-alat sebagai berikut: 1 set
regulation, 1 buah selang O2, 1 buah masker, 1 buah kunci regulator, kunci
BAB IV PEMBAHASAN
4.1 Peran Apoteker di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik
RSUP H. Adam Malik sudah memenuhi kriteria Rumah Sakit kelas A, dimana berdasarkan klasifikasi rumah sakit secara umum, rumah sakit kelas A
adalah rumah sakit umum yang mempunyai fasilitas dan kemampuan pelayanan medik spesialistik luas dan subspesialistik luas. RSUP H. Adam Malik dipimpin oleh seorang direktur utama dan dibantu oleh 4 direktur yang memimpin
direktorat masing-masing. RSUP H. Adam Malik merupakan rumah sakit yang menyelenggarakan program latihan untuk berbagai profesi.
Surat Keputusan Menteri Keuangan No.214/KMK.05/2009 tentang Penetapan RSUP H. Adam Malik oleh Kementrian Kesehatan sebagai Instansi Pemerintah yang Menerapkan Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum
(BLU), memberikan keuntungan pada rumah sakit antara lain pendapatan BLU dapat digunakan langsung untuk membiayai belanja BLU yang dijabarkan dalam rencana bisnis anggaran atau dengan kata lain pendapatan rumah sakit tidak
disetor ke kas negara tetapi hanya dilaporkan saja ke Kementerian Keuangan. Rumah sakit masih mendapatkan subsidi pemerintah yang terdiri dari gaji
pegawai, biaya operasional, dan biaya investasi/modal, rumah sakit juga dapat melakukan kerja sama dengan pihak ketiga.
Peran apoteker di RSUP H. Adam Malik sangatlah luas diantaranya ikut
berperan serta pada Panitia Farmasi dan Terapi (PFT), program pengendali resistensi antibiotik (PPRA), tim kanker, tim tarif, panitia pengadaan, panitia
Peran apoteker sebagai sekretaris di KFT sangat penting karena semua kebijakan dan peraturan dalam mengelola dan menggunakan obat di seluruh unit di rumah sakit ditentukan dalam panitia ini, sehingga dengan keberadaan apoteker
di KFT dapat turut serta dalam menetapkan kebijakan-kebijakan mengenai pemilihan obat, penggunaan obat serta evaluasinya dalam bentuk formularium.
RSUP H. Adam Malik telah menerbitkan formularium pada tahun 2003, sebagai pedoman pembuatan formularium edisi pertama ini mengacu pada Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) tahun 2002. Kemudian formularium ini direvisi
pada bulan Juli 2009 sehingga diterbitkanlah formularium edisi kedua, dimana pembuatan formularium ini mengacu pada DOEN tahun 2008. Formularium yang
mutakhir merupakan salah satu syarat untuk menjadi rumah sakit umum kelas A, Sebagaimana tertulis dalam Permenkes RI No.085/Menkes/Per/I/1989 yang menyatakan bahwa rumah sakit umum kelas A dan B diharuskan memiliki
formularium yang harus selalu dimutakhirkan dan direvisi secara periodik.
Formularium rumah sakit berguna sebagai pedoman pemberian obat oleh para dokter dalam pemberian pelayanan kepada pasien, sehingga tercapai
penggunaan obat yang aman, rasional, efektif dan efisien. Formularium Jamkesmas digunakan sebagai pedoman pengobatan untuk pasien jamkesmas dan
pelaksanaannya sudah mengacu pada INA-DRG dan daftar plafon harga obat (DPHO) digunakan sebagai pedoman pengobatan untuk pasien askes. INA-DRG didefinisikan sebagai suatu sistem klasifikasi kombinasi beberapa jenis penyakit
Apoteker juga memberikan kontribusi yang besar di Rumah Sakit dalam terbitnya pedoman penggunaan antibiotik yang dibuat berdasarkan peta kuman di RSUP. H. Adam Malik yang terbit edisi pertama pada bulan Juli tahun 2009, perlu
direvisi secara berkesinambungan setiap 6 bulan sekali, karena resistensi merupakan masalah terbesar pada penggunaan antibiotik.
RSUP H. Adam Malik harus terus berbenah diri termasuk apoteker sebagai salah satu pelaku pemberi pelayanan di rumah sakit sehingga visi menjadi pusat rujukan pelayanan kesehatan, pendidikan dan penelitian yang mandiri dan unggul
di Sumatera tahun 2015 dapat terwujud, diantaranya dengan terus meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada pasien.
4.2 Peran Apoteker di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Peran apoteker di instalasi farmasi rumah sakit merujuk pada Falsafah pelayanan farmasi menurut Surat Keputusan Menteri Kesehatan No.
1333/MenKes/SK/XII/1999 adalah bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pelayanan rumah sakit yang utuh dan berorientasi kepada pelayanan pasien, penyediaan obat yang bermutu, termasuk pelayanan farmasi klinik yang
terjangkau bagi semua lapisan masyarakat. Tanggung jawab yang begitu besar dipikul oleh apoteker di IFRS dalam penyediaan obat yang bermutu dan minim
terjadi DRP (drug related problem).
4.2.1 Pokja Farmasi Klinis
a. Pengkajian Dan Pelayanan Resep
Kegiatan ini mengharuskan apoteker untuk melakukan pengkajian resep sesuai persyaratan administrasi, persyaratan farmasetik, dan persyaratan klinis baik untuk pasien rawat inap maupun rawat jalan.
Resep yang digunakan di RSUP. H. Adam Malik Medan sudah memenuhi persyaratan administrasi, yang meliputi:
a. nama, umur, jenis kelamin, berat badan dan tinggi pasien b. nama, nomor izin, alamat dan paraf dokter
c. tanggal resep
d. ruangan/unit asal resep (Kepmenkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004).
Untuk persyaratan farmasetik, sudah memenuhi persyaratan yang mengacu
pada Kepmenkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004, yang meliputi: a. nama obat, bentuk, dan kekuatan sediaan
b. dosis dan jumlah obat
c. stabilitas
d. aturan dan cara penggunaan.
Untuk persyaratan klinis sudah memenuhi persyaratan yang mengacu pada
Kepmenkes No. 1197/Menkes/SK/X/2004, yang meliputi: a. ketepatan indikasi, dosis dan waktu penggunaan obat
b. duplikasi pengobatan
c. alergi, interaksi dan efek samping obat kontraindikasi dan interaksi obat
b. Penelusuran Riwayat Penggunaan Obat
Penelusuran riwayat penggunaan obat adalah proses untuk mendapatkan
digunakan pasien, riwayat pengobatan dapat diperoleh dari wawancara pasien keluarga atau data rekam medik/pencatatan penggunaan obat pasien.
Kegiatan yang dilakukan meliputi penelusuran riwayat penggunaan obat
kepada pasien/keluarganya, dan melakukan penilaian terhadap pengaturan penggunaan obat pasien. Informasi yang harus didapatkan meliputi:
a. nama obat (termasuk obat non resep) b. dosis, bentuk sediaan
c. frekuensi penggunaan indikasi dan lama penggunaan obat
d. ROTD termasuk riwayat alergi pasien
kepatuhan terhadap regimen penggunaan obat (jumlah obat yang tersisa)
apakah masih dipakai atau tidak. c. Pelayanan Informasi Obat (PIO)
Seluruh kegiatan PIO telah dilaksanakan di RSUP H. Adam Malik. Untuk
pasien rawat inap, PIO dilakukan oleh depo farmasi, sedangkan untuk pasien rawat jalan, dilakukan oleh apotek I dan apotek II, dan juga dilaksanakan oleh seluruh pokja yang ada di IFRS. Salah satu kegiatan PIO yang telah dilaksanakan
di RSUP H. Adam Malik yaitu melalui penyuluhan. Penyuluhan dilaksanakan oleh farmasi klinis yang bekerja sama dengan PKMRS sebanyak empat kali dalam
satu bulan, yaitu dua kali untuk pasien rawat inap dan dua kali untuk pasien rawat jalan. Kemudian setiap bulan laporan PIO direkap oleh koordianator PIO yang ada di pokja farmasi klinis.
d. Konseling
Konseling merupakan suatu proses sistematik untuk mengidentifikasi dan
rawat jalan. Di RSUP H. Adam Malik, kegiatan konseling masih dilakukan untuk pasien dari departemen endokrin dan kardiologi. Sedangkan untuk pasien pasien departemen lain lain belum dilakukan.
Dalam melakukan konseling, sudah ada ruangan khusus konseling. Namun, ruang tunggu untuk pasien masih belum tersedia. Sehingga pasien yang akan
dikonseling berdiri didepan ruang konseling. e. Visite
Visite merupakan kegiatan kunjungan ke pasien rawat inap bersama tim
dokter dan tenaga kesehatan lainnya. Kegiatan visite di RSUP H. Adam Malik telah dilakukan oleh apoteker baik secara mandiri maupun bersama tim tenaga
kesehatan untuk mengamati kondisi klinis pasien secara langsung, mengkaji masalah terkait obat, memantau terapi obat dan reaksi obat yang tidak diiinginkan, meningkatkan terapi obat rasional dan menyajikan informasi obat kepada dokter,
pasien serta professional kesehatannya lainnya.
Sebelum melakukan edukasi pasien, apoteker melihat latar belakang pasien pada lembaran data pasien yang mencakup pendidikan, suku, agama dan
pekerjaan pasien. Hal ini dilakukan agar proses edukasi dapat berjalan efektif sehingga tujuan edukasi dapat tercapai. Dari hasil edukasi apoteker dapat menarik
kesimpulan apakah pasien dan keluarganya membutuhkan edukasi tentang obat atau tidak, dan dicatat di lembaran data pasien pada bagian edukasi. Edukasi yang diberikan pada pasien adalah mengenai indikasi, kontraindikasi, efek samping
tepat waktu dipantau oleh apoteker dengan melihat lembaran catatan pemberian obat pasien.
Kegiatan visite apoteker hendaknya dilakukan bersamaan dengan jadwal
visite dokter, agar dokter dan apoteker dapat berdiskusi langsung tentang terapi pasien. Selain itu, pada saat apoteker menjelaskan obat kepada pasien, apoteker
tidak dapat menunjukkan langsung obatnya. Sebaiknya pada saat visite pasien, apoteker dapat langsung menjelaskan obat yang diberikan oleh perawat.
f. Pemantauan Terapi Obat (PTO)
Pemantuan terapi obat telah dilakukan bersamaan dengan visite. Pemantauan terapi obat dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan efektivitas
terapi dan meminimalkan resiko reaksi obat yang tidak dikehendaki (ROTD). Kegiatan ini meliputi pengumpulan data pasien, identifikasi masalah terkait obat, rekomendasi penyelesaian masalah terkait obat, pemantauan dan tindak lanjut.
Seluruh kegiatan ini telah dilakukan bersamaan dengan visite. g. Monitoring Efek Samping Obat (MESO)
Peran pokja farmasi klinis dalam monitoring efek samping obat (MESO)
sudah dilaksanakan namun belum secara menyeluruh. MESO berkaitan erat dengan kegiatan visite pokja farmasi klinis. Kegiatan visite yang dilakukan dapat
mengetahui MESO yang terjadi pada pasien. Pelaporan MESO dilakukan hanya kepada pasien yang termasuk ke dalam jadwal visite. MESO dilakukan sejalan dengan kegiatan visite.
MESO yang telah diisi kemudian disampaikan kepada pusat MESO nasional setelah didiskusikan kepada KFT.
h. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
Evaluasi penggunaan obat merupakan program evaluasi penggunaan obat yang terstruktur dan berkesinambungan secara kualitatif. Evaluasi penggunaan
obat merupakan salah satu peran pokja farmasi klinis yang bertujuan untuk mengetahui gambaran keadaan pola penggunaan obat, membandingkan pola penggunaan obat pada periode waktu tertentu, memberikan masukan untuk
perbaikan penggunaan obat dan menilai pengaruh intervensi atas pola penggunaan obat. Evaluasi penggunaan obat sudah dilakukan dengan baik di Rumah Sakit
Umum Pusat Haji Adam Malik Medan. i. Dispensing Sediaan Khusus
Dispensing sediaan khusus yang sudah dilakukan oleh pokja farmasi klinik
adalah penanganan sediaan sitotoksik sedangkan untuk penyiapan nutrisi parenteral belum dilakukan karena terbatasnya jumlah tenaga yang terlatih dan kurang memadainya sarana dan prasarana di rumah sakit. Ruang pencampuran
sitostatika terletak di lantai satu Rindu A.
j. Pemantauan Kadar Obat Dalam Darah (PKOD)
Pemantauan kadar obat dalam darah (PKOD) telah dilaksanakan oleh pokja farmasi klinik, namun belum dilaksanakan secara kontinu karena harga reagen yang digunakan untuk menentukan kadar obat dalam darah sangat mahal dengan
4.2.2 Pokja Perbekalan a. Tugas dan Fungsi
Pokja perbekalan mempunyai tugas membantu kepala Instalasi Farmasi
dalam hal mengkoordinasikan, membina, melaksanakan perencanaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian perbekalan farmasi (alat kesehatan
habis pakai (AKHP), instrumen dasar, reagensia, radiofarmasi, obat, dan cairan), memproduksi obat-obatan dan pengujian mutu sesuai dengan kebutuhan rumah sakit serta melaksanakan pencatatan, pelaporan dan evaluasi dari setiap
pelaksanaan tugas di lingkungan pokja perbekalan. b. SDM
Pokja Perbekalan berada dibawah instalasi Farmasi Rumah Sakit yang di kepalai oleh seorang Apoteker. Jumlah staf yang bekerja di Pokja Perbekalan adalah 11 orang, yang terdiri dari 1 orang Apoteker sebagai kepala, 2 orang staf
gudang askes, 1 orang staf gudang jamkesmas, 2 orang staf gudang umum, 4 orang staf gudang floorstock dan 1 orang staf ruang produksi.
c. Fasilitas dan Peralatan
Pokja Perbekalan terdiri dari 11 ruangan, yaitu, 1 ruang Kepala Pokja, 1 ruang staf (administrasi), 1 ruang produksi, 1 gudang perbekalan jamkesmas, 2
gudang perbekalan askes, 1 gudang perkalan umum, 2 gudang perbekalan floorstock, 1 gudang bahan berbahaya dan 1 gudang penyimpanan wadah untuk bagian produksi.
Di semua gudang terdapat rak-rak tempat penyimpanan obat, dilengkapi 1 meja sebagai tempat untuk melayani administrasi permintaan perbekalan farmasi
kestabilan suhu dan sirkulasi udara dalam gudang, penerangan berupa lampu. Untuk bahan/perbekalan farmasi yang bersifat termolabil disimpan di dalam lemari pendingin yang tetap dipantau suhunya. Pemantauan suhu ruangan dan
lemari pendingin dilakukan setiap pagi dan sore pagi dan sore dan dicatat pada grafik pemantauan suhu.
Di gudang jamkesmas, askes dan umum, perbekalan farmasi disusun berdasarkan abjad dan terpisah antara bentuk sediaan yang satu dengan bentuk sediaan yang lain. Penyimpanan perbekalan farmasi berdasarkan sistem FIFO dan
FEFO. Untuk gudang floorstock penyusunan perbekalan kesehatan berdasarkan jenis perbekalan farmasi.
Surat-surat penting seperti faktur barang masuk, bukti permintaan dan penyerahan barang disimpan di gudang masing-masing, sedangkan penentrian data dilakukan di ruang administrasi perbekalan. Setiap permintaan dari depo atau
instalasi dilayani secara penuh kecuali stok barang sedang kosong. Namun hal ini jarang terjadi.
Lemari penyimpanan narkotika terbuat dari bahan yang kuat dan
diletakkan secara permanen dilantai. Lemari ini juga digunakan untuk menyipan psikotropika. Penyimpanan narkotika dan psikotropika terletak pada bagian yang
berbeda. Ukuran lemari penyipanan sudah memenuhi persyaratan yaitu 40 x 80 x 100 cm2, namun letaknya di depan pintu masuk sehingga sangat mudah terlihat oleh umum.
Menurut Permenkes No.28/MenKes/Per/1987 tentang tata cara penyimpanan narkotika pasal 5 dan 6 menyebutkan bahwa apotek harus memiliki
1. Harus dibuat seluruhnya dari kayu atau bahan lain yang kuat. 2. Harus mempunyai kunci ganda yang berlainan.
3. Dibagi 2 masing-masing dengan kunci yang berlainan. Bagian 1 digunakan
untuk menyimpan morfin, petidin, dan garam-garamnya serta persediaan narkotika. Bagian 2 digunakan untuk menyimpan narkotika yang digunakan
sehari-hari.
4. Lemari khusus tersebut berupa lemari dengan ukuran lebih kurang 40x80x100 cm3, lemari tersebut harus dibuat pada tembok atau lantai.
5. Lemari khusus tidak dipergunakan untuk menyimpan bahan lain selain narkotika, kecuali ditentukan oleh MenKes.
6. Anak kunci lemari khusus harus dipegang oleh pegawai yang diberi kuasa. 7. Lemari khusus harus diletakkan di tempat yang aman dan yang tidak
diketahui oleh umum.
d. Pengelolaan Perbekalan Farmasi
Perencanaan
Menurut Kepmenkes RI No. 1121/Menkes/SK/XII/2008, dalam
merencanakan kebutuhan obat perlu dilakukan perhitungan secara tepat. Perhitungan kebutuhan obat dapat dilakukan dengan menggunakan metode
konsumsi dan atau metode morbiditas.
Metode konsumsi adalah metode yang didasarkan atas analisa data konsumsi obat tahun sebelumnya. Untuk menghitung jumlah obat yang
dibutuhkan berdasarkan metode konsumsi perlu diperhatikan halhal sebagai berikut :
2). Analisa data untuk informasi dan evaluasi. 3). Perhitungan perkiraan kebutuhan obat.
4). Penyesuaian jumlah kebutuhan obat dengan alokasi dana.
Untuk memperoleh data kebutuhan obat yang mendekati ketepatan, perlu dilakukan analisa trend pemakaian obat 3 (tiga) tahun sebelumnya atau lebih.
Data yang perlu dipersiapkan untuk perhitungan dengan metode konsumsi: 1). Daftar obat.
2). Stok awal.
3). Penerimaan. 4). Pengeluaran.
5). Sisa stok.
6). Obat hilang/rusak, kadaluarsa 7). Kekosongan obat.
8). Pemakaian rata-rata/pergerakan obat pertahun. 9). Waktu tunggu.
10). Stok pengaman.
11). Perkembangan pola kunjungan .
Metode morbiditas adalah perhitungan kebutuhan obat berdasarkan pola
penyakit. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan adalah perkembangan pola penyakit, waktu tunggu, dan stok pengaman.
Langkah-langkah perhitungan metode morbiditas adalah :
3).Menyediakan data masing-masing penyakit pertahun untuk seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
4).Menghitung frekuensi kejadian masing-masing penyakit pertahun untuk
seluruh populasi pada kelompok umur yang ada.
5).Menghitung jenis, jumlah, dosis, frekuensi dan lama pemberian obat
menggunakan pedoman pengobatan yang ada.
6).Menghitung jumlah yang harus diadakan untuk tahun anggaran yang akan datang (Kepmenkes RI no 1121/Menkes/SK/XII/2008).
Perencanaan di Depo Farmasi Rindu B dilakukan dengan menggunakan metode konsumsi, dimana perhitungannya dilakukan dengan menggunakan data
setiap tahun (12 bulan). Data penggunaan obat setahun dijumlahkan kemudian ditambahkan 20% (stok pengaman).
Pengadaan
Pengadaan di Pokja Perbekalan dilakukan oleh IFRS dengan cara beli langsung dengan mengeluarkan surat pesanan (SP) ke distributor, perbekalan farmasi yang masuk diantar ke IFRS, untuk diterima, diperiksa, dan diteliti
keadaannya, disesuaikan dengan surat pengantar barang (SPB) dan SP oleh pokja perbekalan, kemudian di-entry data perbekalan farmasi yang masuk ke SIRS, dan
disimpan sesuai dengan sifatnya (obat termolabil di lemari es); bentuk sediaan (oral, injeksi, infus, salep); bahan baku obat (mudah menguap/terbakar); obat narkotika dan psikotropik dalam lemari khusus dan terkunci, dan disusun secara
alfabetis dengan sistem first in first out (FIFO) dan first expired first out (FEFO). Pembelian dengan nilai diatas 200 juta dilakukan oleh panitia pengadaan
panitia penerima barang bersama-sama dengan bendaharawan barang untuk menerima, memeriksa dan meneliti keadaan perbekalan farmasi, disesuaikan dengan SPB dan SP, bila sesuai maka perbekalan farmasi diserahkan ke instalasi
farmasi melalui pokja perbekalan, kemudian dibuat berita acara. Petugas pokja perbekalan menerima dan meng-entry ke SIRS, dan disimpan.
Produksi
Pokja perbekalan melakukan kegiatan produksi sediaan farmasi. Menurut Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit tahun 2004, yang dimaksud dengan
produksi adalah kegiatan membuat, merubah bentuk dan pengemasan kembali sediaan farmasi nonsteril untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan di
rumah sakit. Kegiatan produksi yang dilakukan adalah membuat akuades, H2O2
3%, NaCl 0,9% non steril, handscrub serta mengubah menjadi kemasan yang lebih kecil (re-packing) antara lain alkohol 96% dan 70%, isodin (povidon
iodium), hydrex/first aid/cutisoft, talkum dan kloralhidrat. Penyimpanan
Penyimpanan di Perbekalan Farmasi sudah sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI No 1197/Menkes/SK/X/2004 dan sesuai dengan SOP, yaitu:
- Dibedakan menurut bentuk sediaan dan jenisnya - Dibedakan menurut suhu dan kestabilannya - Alphabet
- Obat Hight Allert ( kosentrasi tinggi ) disimpan terpisah dengan obat lain dan di beri label / penandaan bulat merah, seperti yang terlihat pada Lampiran 4, halaman 66)
- Obat LASA ( Look Alike Sound Alike ) atau NORUM ( Nama Obat, Rupa, Ucapan Mirip ) di beri jarak satu dengan yang lainnya, seperti yang
terlihat pada Lampiran 4, halaman 66)
Untuk penyimpanan narkotika yaitu di dalam lemari khusus dan terkunci, terbuat dari bahan yang kuat dan diletakkan secara permanen dilantai. Lemari ini
juga digunakan untuk menyimpan psikotropika. Penyimpanan narkotika dan psikotropika terletak pada bagian yang berbeda. Ukuran lemari penyipanan sudah
memenuhi persyaratan yaitu 40 x 80 x 100 cm2, namun letaknya di depan pintu masuk sehingga sangat mudah terlihat oleh umum.
Pendistribusian dan Dispensing
Pendistribusian perbekalan farmasi dilakukan untuk memenuhi kebutuhan perbekalan farmasi di unit-unit pelayanan seperti:
a. rawat inap terpadu (Rindu), CMU dan COT, instalasi gawat darurat (IGD) dan
Apotek I dan Apotek II.
b. instalasi seperti instalasi diagnostik terpadu (IDT), instalasi hemodialisis
(IHD), instalasi patologi anatomi (IPA), instalasi patologi klinik (IPK), dan instalasi radiologi. IPK telah memiliki kerja sama operasional (KSO) dengan pihak lain untuk reagen tertentu, namun untuk pengadaan reagen lain yang
Evaluasi dan Pelaporan
Administrasi yang dilakukan oleh pokja perbekalan meliputi membuat laporan mutasi barang dan laporan narkotik. SIRS yang telah diterapkan sejak
Januari 2009, mempermudah kegiatan pencatatan perbekalan farmasi yang masuk dan keluar ke buku penerimaan dan pengeluaran barang serta ke kartu stok serta
pencatatan stok opname setiap bulan dan diakhir tahunnya.
Pelaporan yang dilakukan di Pokja Perbekalan meliputi laporan mutasi narkotik, laporan stok opname, laporan kegiatan, laporan pemakaian obat
triwulan. Untuk melakukan stok opname dilakukan 3 bulan sekali yaitu Maret, Juni, September dan Desember yang dilakukan selama 3 hari diakhir bulan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. Peranan apoteker RSUP H. Adam Malik sangatlah penting, tidak hanya di Instalasi Farmasi tetapi juga di Instalasi CSSD, terlibat pada panitia
farmasi dan terapi (PFT), program pengendali resistensi antibiotik (PPRA), pasien safety serta penanganan obat kanker.
b. Pelayanan farmasi klinis yang sudah dijalankan dengan optimal adalah
pengkajian resep dan pelayanan resep, penelusuran riayat penggunaan obat, Pelayanan Informasi Obat (PIO), visite, pemantauan terapi obat,
pencampuran sitostatika, evaluasi penggunaan obat, Konseling, dan Monitoring Efek Samping Obat (MESO). Sedangkan untuk penyiapan nutrisi parenteral dan pemantauan obat dalam darah belum dilakukan
karena sarana dan prasarana yang tidak memadai. c. SDM di Pokja Perbekalan sudah mencukupi kebutuhan.
d. Fasilitas dan peralatan di gudang penyimpanan ada beberapa yang
harus dibenahi seperti letak lemari narkotika yang seharusnya terlindung dari pandangan umum.
e. Penyimpanan: penyimpanan sudah sesuai dengan SOP dan persyaratan yang ditetapkan dalam Kepmenkes RI No. 1197/Menkes/SK/X/2004. f. Pendistribusian dilakukan berdasarkan amprahan yang dilakukan oleh
5.1 Saran
a. Sebaiknya disediakan ruang tunggu untuk pasien-pasien yang akan dikonselingkan.
b. Sebaiknya ruangan konseling harus dilengkapi dengan beberapa fasilitas seperti komputer, buku-buku dan alat peraga.
c. Sebaiknya depo di buat di setiap lantai supaya lebih mudah koordinasi antara apoteker, perawat dan dokter.
d. Sebaiknya lemari narkotika diletakkan di tempat yang tidak terlihat oleh
DAFTAR PUSTAKA
Anonim. (2007). http://heryant.web.ugm.ac.id. Indikator-Indikator Pelayanan Rumah Sakit.
Depkes RIa. (2002). Keputusan Menkes RI No. 228/MENKES/SK/III/2002 tentang Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal Rumah Sakit yang Wajib Dilaksanakan Daerah.
Depkes RIb. (2002). Keputusan Menkes RI No. 1439/MENKES/SK/XI/2002 tentang Penggunaan Gas Medis pada Sarana Pelayanan Kesehatan.
Depkes RI. (2004). Keputusan Menkes RI No. 1197/MENKES/SK/X/2004 tentang Standar Pelayanan Farmasi di Rumah Sakit.
Depkes RI. (2005). Peraturan Pemerintah RI No. 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan Layanan Umum.
Depkes RIa. (2008). Peraturan Menkes RI No. 244/MENKES/PER/III/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Depkes RIb. (2008). Peraturan Menkes RI No. 269/MENKES/PER/III/2008 tentang Rekam Medis.
Depkes RIa. (2009). Pedoman Instalasi Pusat Sterilisasi (Central Sterile Supply Department/CSSD) di Rumah Sakit. Jakarta: Depkes RI.
Depkes RIb. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 36 tentang Kesehatan.
Depkes RIc. (2009). Undang-Undang Republik Indonesia No. 44 tentang Rumah Sakit.
Siregar, C.J.P dan Amalia, L. (2004). Farmasi Rumah Sakit Teori dan Penerapan. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Halaman 7, 13-15 dan 17-19. Surat Keputusan Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. OT. 01. 01. 11. 249
tentang Perubahan Organisasi dan Tata Kerja Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan.
Surat Keputusan Direktur RSUP H. Adam Malik Medan No. OT. 01. 01. 11. 7934 tentang Penetapan Falsafah dan Tujuan Pelayanan farmasi Instalasi Farmasi RSUP H. Adam Malik Medan.
Lampiran 3. Blanko Pelaporan MESO a. Bagian Depan
Lampiran 4. Daftar Obat High Allert dan LASA
NO Look a Like Sound a Like High Allert
1. 2.
3. 4.
Ranitidine = Furosemid MgSO4 20 % = MgSO4 40%
MgSO4 40% = Dextrose 40%
Dextrose 40% = Meylon
Epineprin=Atropine Ceftriaxon=Cefotaxim
MgSO4 20 % = MgSO4 40%
Vincristin=Vinblastin
Meylon (NaHCO3)
KCl
Lampiran 6. Daftar Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Pokja Perbekalan Selama Bulan Mei 2012
a. Obat/Perbekalan Farmasi yang Fast Moving
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Askes
No. Nama Obat Banyaknya (Unit)
1 RAB Irbesartan 300 mg tablet 109.300 2 Isosorbide dinitrate 5 mg tablet 34.800
3 Aspirin tablet 28.900
4 Ranitidine tablet 24.000
5 Cefadroxil 500 mg kapsul 22.000
6 Sohobion tablet 20.500
7 Metformin 500 mg tablet 18.300
8 Valsartan 80 tablet 13.950
9 Bisoprolol 5 mg tablet 13.470
10 Neurodex tablet 10.000
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Umum
No. Nama Obat Banyaknya (Unit)
1 Ranitidine tablet 21.000
2 Simvastatin 10 mg tablet 21.000
3 Alprazolam 0,5 mg tablet 8.000
4 Clopidogrel 75 mg tablet 5.880
5 Simvastatin 20 mg tablet 5.000
6 Isosorbide dinitrate 5 mg tablet 4.300
7 Vitamin Bcomplex 3.000
8 Paracetamol 500 mg tablet 2.000
9 Aspirin tablet (aptor) 1.600
10 Spuit 3 cc 1.500
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Jamkesmas
No. Nama Obat Banyaknya (Unit)
1 Paracetamol 500 mg tablet 24.000
2 Vitamin Bcomplex 16.000
3 Hydroxyl ethyl starch 14.950
4 NaCl 0,9% infus 12.570
5 Ranitidine tablet 12.520
6 Ketorolac 30 mg injeksi 10.742
7 Isosorbide dinitrate 5 mg tablet 10.700
8 Ceftriaxone 1 g injeksi 10.250
9 Captopril 12,5 mg tablet 10.100
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang FloorStock
10 Sarung tangan steril 2.640
Total Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Semua Gudang
No. Nama Obat Banyaknya (Unit)
1 RAB Irbesartan 300 mg tablet 109.300 2 Isosorbide dinitrate 5 mg tablet 96.100
3 Sarung tangan NS 69.280
4 Ranitidine tablet 57.520
5 Paracetamol 500 mg tablet 33.000
6 Masker 29.600
7 Aspirin tablet 28.900
8 Spuit 3 cc 28.500
9 Vitamin Bcomplex tablet 26.000
10 Ketorolac 30 mg injeksi 23.742
11 Metformin 500 mg tablet 22.700
12 Cefadroxil 500 mg kapsul 22.000
13 Simvastatin 10 mg tablet 21.960
14 Spuit 5 cc 21.800
15 Sohobion tablet 20.800
16 NaCl 0,9% infus 18.430
17 Bisoprolol 5 mg tablet 17.950
18 Furosemide 40 mg tablet 16.600
19 Hydroxyl ethyl starch 14.950
b. Obat/Perbekalan Farmasi yang Menyerap Dana Paling Besar
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Askes
No. Nama Obat Jumlah (Rp)
1 Obat terapi kanker 715.292.710
2 Insulin injeksi 126.391.500
3 Meropenem 500 mg injeksi 65.157.500
4 Clopidogrel 75 mg tablet 60.214.000
5 Valsartan 80 tablet 55.800.000
6 Tykerb tablet 44.964.640
7 Sebivo tablet 44.800.000
8 Meropenem 1000 mg injeksi 43.500.000
9 Albumin 20% 31.140.000
10 RL infus 29.932.000
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Umum
No. Nama Obat Jumlah (Rp)
1 Clopidogrel 75 mg tablet 49.980.000
2 Meronem 500 mg injeksi 36.697.960
3 OMZ injeksi 15.807.000
4 Albumin 20% 9.445.828
5 Abocath 8.652.600
6 Koate 8.544.669
7 Cernevit injeksi 8.239.000
8 Perdipin injeksi 7.995.000
9 Cravit tablet 5.700.000
10 Meropen 1 g injeksi 5.550.000
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Jamkesmas
No. Nama Obat Jumlah (Rp)
1 Obat terapi kanker 375.633.650
2 Ketorolac 30 mg injeksi 159.518.700
3 Koate 141.066.640
4 Ceftriaxone 1 g injeksi 111.935.500
5 Plasmanate injeksi 108.946.200
6 Ceftazidime injeksi 67.271.600
7 Deferasiroks 250 mg tablet 66.598.000 8 Meropenem 1000 mg injeksi 63.800.000
9 NaCl 0,9% infus 53.006.050
Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Gudang Floor Stock
No. Nama Obat Jumlah (Rp)
1 Biometric 691.900.000
2 Abbocath 309.175.780
3 Carbosten 224.400.000
4 Sarung tangan NS 155.293.770
5 Power line ballon 143.999.999
6 Tsunami Stent 115.987.872
7 Three Way 115.564.250
8 Sarung tangan steril 103.611.600
9 Mustang 99.200.000
10 DC 97.399.979
Total Pengeluaran Obat/Perbekalan Farmasi di Semua Gudang
No. Nama Obat Jumlah (Rp)
1 Obat terapi kanker 1.128.361.400
2 Biometric 691.900.000
3 Abbocath 317.828.380
4 Carbosten 224.400.000
5 Insulin injeksi 179.940.470
6 Ketorolac 30 mg injeksi 161.679.300
7 Sarung tangan NS 155.989.570
8 Koate 149.611.310
9 Meropenem 500 mg injeksi 147.416.960
10 Power line ballon 143.999.999
11 Ceftriaxone 1 g injeksi 124.814.540
12 Three Way 120.738.650
13 Tsunami Stent 115.987.872
14 Meropenem 1000 mg injeksi 112.850.000 15 Clopidogrel 75 mg tablet 110.194.000
16 Plasmanate injeksi 108.946.200
17 Sarung tangan steril 103.611.600
18 RL infus 102.115.870
19 Mustang 99.200.000
LAPORAN PRAKTIK KERJA PROFESI RUMAH SAKIT
DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN
Studi Kasus
CONGESTIVE HEART FAILURE
ec
CORONARY ARTERY DISEASE
Disusun Oleh: Nurhafni, S.Farm
113202046
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
RINGKASAN
DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ... i RINGKASAN ... ii ...
DAFTAR ISI ... iii DAFTAR TABEL ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Tujuan ... 2
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Definisi ... 3 2.2 Etiologi . ... 3 2.3 Epidemiogi . ... 5
2.4 Faktor Risiko . ... 6 2.5 Klasifikasi . ... 7
2.6 Patofisiologi . ... 8 2.7 Diagnosis . ... 9 2.8 Pegobatan Gagal Jantung Kongestiv ... 11
2.9 Prognosis . ... 16 BAB III PELAKSANAAN UMUM ... 17
3.2 Ringkasan pada Waktu Pasien Masuk RSUP
H. Adam Malik ... 18
3.3 Pemeriksaan ... 18 3.3.1 Pemeriksaan Fisik ... 18 3.3.2 Pemeriksaan Penunjang ... 19
3.4 Terapi ... 22 3.5 Pembahasan . ... 23
3.5.1 Pembahasan Tanggal 4 Juni 2012 ... 24 3.5.1.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 25 3.5.1.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 25
3.5.1.3 Pengkajian Tepat Obat ... 26 3.5.1.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 28
3.5.1.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 30 3.5.1.6 Rekomendasi untuk Dokter ... 31 3.5.1.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 32
3.5.1.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 32
3.5.2 Pembahasan Tanggal 5 Juni 2012 ... 34 3.5.2.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 34
3.5.2.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 34 3.5.2.3 Pengkajian Tepat Obat ... 36
3.5.2.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 39 3.5.2.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 40
3.5.2.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 43 3.5.2.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 44 3.5.3 Pembahasan Tanggal 15 Mei 2012 ... 46 3.5.3.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 46
3.5.3.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 46 3.5.3.3 Pengkajian Tepat Obat ... 48
3.5.3.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 50 3.5.3.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 52
3.5.3.6 Rekomendasi untuk Dokter ... 54 3.5.3.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 55
3.5.3.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 56
3.5.4 Pembahasan Tanggal 7 Juni 2012 ... 58 3.5.4.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 58 3.5.4.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 59
3.5.4.3 Pengkajian Tepat Obat ... 60 3.5.4.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 63
3.5.4.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 65 3.5.4.6 Rekomendasi untuk Dokter ... 67 3.5.4.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 68
3.5.4.7 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 69
3.5.5.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 71 3.5.5.3 Pengkajian Tepat Obat ... 73 3.5.5.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 76
3.5.5.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 79 3.5.5.6 Rekomendasi untuk Dokter ... 82
3.5.5.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 82 3.5.5.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 83 3.5.6 Pembahasan Tanggal 9 Juni 2012 ... 85 3.5.6.1 Pengkajian Tepat Pasien ... 85
3.5.6.2 Pengkajian Tepat Indikasi ... 85 3.5.6.3 Pengkajian Tepat Obat ... 87
3.5.6.4 Pengkajian Tepat Dosis ... 90 3.5.6.5 Pengkajian Waspada Efek Samping ... 92 3.5.6.6 Rekomendasi untuk Dokter ... 94
3.5.6.7 Rekomendasi untuk Perawat ... 95 3.5.6.8 Pelayanan Konseling, Informasi, dan
Edukasi Pasien ... 96 BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 53
DAFTAR TABEL
Halaman Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan Fisik ... 19
Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan Laboratorium Patologi Klinik ... 19 Tabel 3.3 Daftar Obat-obat yang digunakan pasien ... 22
Tabel 3.4 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 4 Juni 2012 .. 25 Tabel 3.5 Pengkajian tepat dosis tangal 4 Juni 2012 ... 28 Tabel 3.6 Efek samping dan interaksi obat tanggal 4 Juni 2012 ... 30
Tabel 3.7 Rekomendasi untuk perawat tanggal 4 Juni 2012 ... 32 Tabel 3.8 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal
4 Juni 2012 ... 33 Tabel 3.9 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 5 Juni 2012 .. 34
Tabel 3.10 Pengkajian tepat dosis tangal 5 Juni 2012 ... 39 Tabel 3.11 Efek samping dan interaksi obat tanggal 5 Juni 2012 ... 41 Tabel 3.12 Rekomendasi untuk perawat tanggal 5 Juni 2012 ... 43
Tabel 3.13 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal
5 Juni 2012 ... 45
Tabel 3.14 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 6 Juni 2012 .. 46 Tabel 3.15 Pengkajian tepat dosis tangal 6 Juni 2012 ... 51
Tabel 3.16 Efek samping dan interaksi obat tanggal 6 Juni 2012 ... 53 Tabel 3.17 Rekomendasi untuk perawat tanggal 6 Juni 2012 ... 55 Tabel 3.18 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal
6 Juni 2012 ... 56 Tabel 3.19 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 7 Juni 2012 .. 58
Tabel 3.22 Rekomendasi untuk perawat tanggal 7 Juni 2012 ... 68 Tabel 3.23 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal
7 Juni 2012 ... 69 Tabel 3.24 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 8 Juni 2012 .. 71 Tabel 3.25 Pengkajian tepat dosis tangal 8 Juni 2012 ... 76
Tabel 3.26 Efek samping dan interaksi obat tanggal 8 Juni 2012 ... 79 Tabel 3.27 Rekomendasi untuk perawat tanggal 8 Juni 2012 ... 82
Tabel 3.28 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal
8 Juni 2012 ... 84
Tabel 3.29 Daftar obat-obat yang digunakan pada tanggal 9 Juni 2012 .. 85 Tabel 3.30 Pengkajian tepat dosis tangal 9 Juni 2012 ... 90
Tabel 3.31 Efek samping dan interaksi obat tanggal 9 Juni 2012 ... 92 Tabel 3.32 Rekomendasi untuk perawat tanggal 9 Juni 2012 ... 95 Tabel 3.33 Konseling, informasi dan edukasi pasien tanggal