• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENILAIAN SAHAM PT. ALLIANCE COSMETICS PER 31 DESEMBER 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PENILAIAN SAHAM PT. ALLIANCE COSMETICS PER 31 DESEMBER 2020"

Copied!
71
0
0

Teks penuh

(1)

Email : [email protected]

[email protected] Izin Usaha KJPP : No. 2.08.0007

Bidang Jasa : Penilaian Properti & Bisnis Wilayah Kerja : Indonesia

PENILAIAN SAHAM

PT. ALLIANCE COSMETICS

(2)

Email : [email protected]

[email protected] Izin Usaha KJPP : No. 2.08.0007

Bidang Jasa : Penilaian Properti & Bisnis Wilayah Kerja : Indonesia

Jakarta, 8 April 2021

Direksi

PT Mandom Indonesia Tbk.

Wisma 46 Kota BNI Lantai 7 Suite 7.01 Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,

Karet Tengsin, Jakarta 10220 Dengan hormat,

Ref. : File No. 00026/2.0007-00/BS/04/0027/1/IV/2021 Penilaian Saham PT Alliance Cosmetics

Menindak lanjuti Surat Perjanjian Kerja No. STH-039/PR.012/SG/I/2021, kami sebagai Kantor Jasa Penilai Publik resmi berdasarkan Izin Usaha Kantor Penilai Publik No.2.08.0007 dan Surat Izin Penilai Publik No.: PB-1.08.00027 yang dikeluarkan oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia serta Surat Tanda Terdaftar Profesi Penunjang Pasar Modal STTD PPPM-OJK No.: STTD.PPB-38/PM.223/2019 yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”), telah melakukan penelitian dan penilaian terhadap

Nilai Pasar saham PT Alliance Cosmetics (“PTA”) per tanggal 31 Desember 2020.

DEFINISI DAN SINGKATAN

ACGI berarti ACG International Sdn. Bhd. ACS berarti Alliance Cosmetics Pte. Ltd. PTA berarti PT Alliance Cosmetics OJK berarti Otoritas Jasa Keuangan.

Perseroan berarti PT Mandom Indonesia Tbk.

POJK 35 dan SEOJK 17 berarti Peraturan OJK Nomor 35/POJK.04/2020, ditetapkan

tanggal 25 Mei 2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal dan Surat Edaran OJK Nomor 17/SEOJK.04/2020, ditetapkan tanggal 9 Agustus 2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal.

SPI berarti Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI)

Edisi VII – SPI 2018 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).

(3)

IDENTITAS PEMBERI TUGAS

Pelaksanaan penilaian saham PTA ini sebagai realisasi dari penugasan untuk melakukan penilaian saham dari PT Mandom Indonesia Tbk sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja No. STH-039/PR.012/SG/I/2021 tanggal 26 Januari 2021.

Adapun identitas lengkap dari pemberi tugas adalah sebagai berikut :

Pemberi tugas : PT Mandom Indonesia Tbk

Alamat : Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, Lantai 7, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,

Karet Tengsin, Jakarta 10220

Telpon / Fax : (021) 2980-9500 / (021) 2980-9501

Email : [email protected]

Bidang usaha : Melakukan kegiatan usaha dalam bidang industri kosmetika termasuk pasta gigi, sabun, dan bahan pembersih keperluan rumah tangga dan barang dari plastik untuk pengemasan

TUJUAN PENILAIAN

Penilaian yang kami lakukan adalah dengan tujuan untuk menentukan Nilai Pasar dari saham PTA yang ditempatkan dan disetor penuh per tanggal 31 Desember 2020.

Kami mengerti bahwa tujuan penentuan Nilai Pasar saham ini dalam rangka menilai saham PTA, yang akan dibeli dari ACG International Sdn. Bhd. dan Alliance Cosmetics Pte. Ltd. Jumlah saham PTA yang akan dinilai adalah sebanyak 209.147.483 saham atau setara dengan kepemilikan sebesar 99,995 %.

PEDOMAN PENILAIAN

Dalam melakukan penilaian ini kami berpedoman pada Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII – SPI 2018 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia ("MAPPI") dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) serta Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”).

(4)

DASAR NILAI DAN DEFINISI

Dasar nilai yang digunakan dalam penilaian saham adalah Nilai Pasar.

Nilai Pasar (Market Value) adalah estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh dari

hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada Tanggal Penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjual yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian, dan tanpa paksaan. (POJK 35).

TANGGAL PENILAIAN

Penilaian saham ini dilakukan per tanggal 31 Desember 2020.

LAPORAN PENILAIAN

Adapun laporan penilaian ini terdiri dari :

Surat ini yang berisi ringkasan dari hasil penilaian kami; Asumsi-asumsi dan syarat-syarat pembatasan;

Uraian laporan (Narrative Report) yang berisikan informasi secara terperinci dari perusahaan, asumsi-asumsi serta metode penilaian yang digunakan, dan hasil penilaian yang dicapai;

Lampiran-lampiran dari penjelasan-penjelasan dasar perhitungan.

PENDEKATAN PENILAIAN

Berdasarkan analisis yang kami lakukan dan faktor-faktor yang ada hubungannya dengan penilaian ini, kami uraikan dibawah ini pendekatan dan hasil penilaian kami sebagai berikut :

1. Indikasi Nilai Pasar dari Ekuitas (Net Worth) berdasarkan perhitungan dengan

Pendekatan Pendapatan, dengan Metode Diskonto Arus Kas untuk Perusahaan

(Discounted Cash Flow to Firm Method - DCF)

2. Indikasi Nilai Pasar dari Ekuitas (Net Worth) berdasarkan perhitungan dengan

Pendekatan Pasar dengan, Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa

Efek (Guideline Publicly Traded Company Method - GPTC)

3. Rekonsiliasi nilai dari Indikasi Nilai Ekuitas berdasarkan ke dua metode penilaian dalam butir 1 dan 2.

(5)

5. Nilai Pasar untuk 100% kepemilikan saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh atas dasar perhitungan Nilai Pasar Ekuitas pada butir d diatas

6. Nilai Pasar per saham

7. Nilai Pasar untuk 209.147.483 saham atau setara dengan 99,995% kepemilikan saham

Besarnya Diskon Likuiditas Pasar (Discount For Lack of Marketability) dari

perusahaan tertutup (sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek) berdasarkan

POJK 35, untuk saham mayoritas adalah antara 20% sampai 40% dan untuk

saham minoritas adalah antara 30% sampai 50%.

Besarnya Premi Pengendalian (Premium for Control) atau Diskon Tanpa

Pengendalian (Discount for Lack of Control) berdasarkan POJK 35, untuk perusahaan terbuka adalah antara 20% sampai 35% dan untuk perusahaan tertutup (sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek) adalah antara 30% sampai 70%.

Oleh karena nilai saham yang dihitung adalah saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 99,995% tetapi PTA berada dalam kondisi merugi selama beberapa tahun terakhir, maka dalam hal ini menurut pertimbangan kami besarnya Diskon Likuiditas Pasar adalah 40%.

ASUMSI DASAR UNTUK PENILAIAN SAHAM

1. Asumsi Dasar Untuk Penilian Saham dengan Metode Diskonto Arus Kas untuk

Perusahaan (Discounted Cash Flow to Firm Method)

Dalam melakukan penilaian saham dengan metode ini, kami dasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut :

Umum

Tanggal penilaian saham PTA adalah 31 Desember 2020

Metode yang digunakan adalah Metode Diskonto Arus Kas Untuk Perusahaan Faktor diskonto yang akan digunakan adalah Cost of Capital yang dihitung atas dasar WACC (Weighted Average Cost of Capital).

Asumsi-asumsi dalam penyusunan proyeksi antara lain :

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2020 digunakan sebagai dasar proyeksi laporan keuangan.

(6)

Proyeksi laporan keuangan meliputi periode 1 Januari 2021 sampai 31 Desember 2025 yang merupakan periode eksplisit dan didasarkan pada data laporan keuangan PTA per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh kantor akuntan publik. Periode selanjutnya setelah 31 Desember 2025 merupakan periode “Continuing” dan periode ini digunakan untuk perhitungan “Terminal Value”, Dalam periode continuing kami asumsikan dengan pertumbuhan sebesar 2% yang didasarkan pada prediksi tingkat inflasi dimasa mendatang.

Proyeksi Laporan Posisi Keuangan dan Laba Rugi Komprehensif Perusahaan periode 1 Januari 2021 sampai 31 Desember 2025 dengan asumsi-asumsi dasarnya, diantaranya yaitu :

o Pendapatan diasumsikan berdasarkan perkiraan manajemen dengan rincian sebagai berikut :

(dalam ribuan Rupiah)

2021 2022 2023 2024 2025

Pendapatan 21.140.000 25.000.000 28.800.000 32.800.000 37.400.000

o Biaya COGS diasumsikan sebesar 57% dari pendapatan pada tahun 2021, 49% pada tahun 2022, dan 48% pada tahun 2023-2025, sebagai berikut:

(dalam ribuan Rupiah)

2021 2022 2023 2024 2025

COGS 12.000.000 12.300.000 13.900.000 15.760.000 17.950.000

o Biaya Opex diasumsikan sebesar 66% dari pendapatan pada tahun 2021, 51% pada tahun 2022, dan 46% pada tahun 2023-2025

o Penyusutan aktiva tetap didasarkan pada perkiraan umur ekonominya dan disusutkan sesuai dengan kaidah akuntansi yang berlaku.

o Pajak Penghasilan Badan dihitung didasarkan ketentuan peraturan perpajakan untuk PTA yaitu 22% untuk tahun 2021 dan 20% untuk tahun 2022-2025 dengan memperhitungkan akumulasi kerugian pajak.

o Rata-rata penagihan piutang dalam 57 hari. o Rata-rata perputaran persediaan dalam 97 hari. o Rata-rata pembayaran utang dalam 30 hari.

Perhitungan Faktor Diskonto (Discount Factor)

Perhitungan indikasi nilai pasar dengan Metode Diskonto Arus Kas untuk Perusahaan (Discounted Cash Flow To Firm) didasarkan pada Arus Kas Bersih Untuk Perusahaan. Oleh karena itu factor diskonto yang akan digunakan adalah

(7)

Untuk menghitung Cost of Capital akan dihitung dengan rata-rata biaya capital (Weighted Average Cost of Capital – WACC) dengan mendasarkan pada Cost of Equity atas dasar perhitungan Capital Asset Pricing Model (CAPM) dengan formula sebagai berikut:

E (Ri) = Rf + B (RPm) - Ds

E (Ri) = Tingkat balikan yang diharapkan (Cost of Equity)

Rf = Risk free rate

B = Beta

RPm = Equity risk premium

Ds = Default Spread

Untuk menghitung Cost of Equity digunakan data-data sebagai berikut:

- Tingkat bunga tanpa resiko (Risk free rate) ditetapkan berdasarkan yield Obligasi Pemerintah RI dalam Rupiah dengan jangka waktu 30 tahun yang diperoleh Indonesian Bond Pricing Agency (IBPA) per 31 Desember 2020 sebesar 7,1018%;

- Equity Risk Premium dan Default Spread berdasarkan data dari Damodaran untuk Indonesia tahun 2021 yang merupakan emerging market dengan besarnya masing-masing 6,56% dan 1,68%

- Besarnya beta didasarkan pada beta dari industri household products berdasarkan Damodaran untuk tahun 2021. Berdasarkan data tersebut, beta unleverednya adalah sebesar 1,00 dan Debt to Equity Ratio sebesar 6,92%.

Tingkat pajak selama perusahaan masih mengalami kerugian adalah 0%, tetapi, pada tahun 2025, meskipun akumulasi kerugian pajak masih ada, tingkat pajak yang digunakan menjadi 20%.

Oleh karenanya, dengan memperhitungkan debt to equity ratio sebesar 6,92%, Levered Beta dan Cost of Equity adalah sebagai berikut:

Tingkat Pajak Levered Beta Cost of Equity

0% 1,07 12,44%

20% 1,06 12,35%

Kemudian berdasarkan tingkat bunga pinjaman investasi dalam Rupiah dari Bank Pemerintah sebesar 8,87% per tahun, maka besarnya Cost of Capital (WACC) adalah sebagai berikut:

(8)

Tingkat Pajak Levered Beta Cost of Equity WACC

0% 1,07 12,44% 12,21%

20% 1,06 12,35% 12,01%

Perhitungan Cost of Capital dapat dilihat pada Lampiran H-1 dan H-2.

Kesimpulan

Berdasarkan Metode Diskonto Arus Kas (Discounted Cash Flow Method) indikasi Nilai Pasar Ekuitas PTA pada tanggal 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp.

12.948.064.000.Perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran E.

2. Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa Efek (Guideline Publicly Traded Company Method)

Untuk menggunakan Metode Perusahaan Terbuka Sebagai Pembanding dalam menilai saham mayoritas PTA, digunakan beberapa perusahaan terbuka yang sahamnya di perdagangkan di Bursa Efek Indonesia dan bursa efek di kawasan regional. Perusahaan yang digunakan sebagai pembanding adalah :PT Unilever Indonesia Tbk, PT Mandom Indonesia Tbk, S&J International Enterprise Public Company Limited, PT Martina Berto Tbk, Natural Health Trends Corp., Karmarts Public Company Limited, Eng Kah Corporation Berhad, dan Do Day Dream Public Company Limited. Dari delapan perusahaan pembanding tersebut diatas, kami tentukan nilai dasar pengali (value multiple). Rata-rata nilai dasar pengali atas kedelapan perusahaan pembanding tersebut diterapkan untuk menghitung nilai ekuitas PTA. Value Multiple merupakan ratio dimana digunakan harga saham perusahaan pembanding sebagai pembilang (numerator) dan suatu ukuran tertentu dari perusahaan pembanding sebagai pembagi (denominator), yang biasanya digunakan dari angka hasil usaha atau posisi keuangan. Value multiple biasanya dihitung untuk basis per saham, tetapi dapat juga ditentukan dengan cara membagi nilai total seluruh saham dari perusahaan pembanding dengan total laba (earnings) setahun, total penjualan setahun atau nilai buku ekuitas.

Langkah langkah untuk menentukan nilai PTA dengan menggunakan Metode Perusahaan Terbuka sebagai Pembanding adalah sebagai berikut:

a. Tentukan pemilihan perusahaan terbuka yang sepadan dengan PTA, guna menentukan value multiplenya.

b. Tentukan harga saham di bursa saham dari perusahaan pembanding. Harga saham ini merupakan pembilang (numerator).

c. Tentukan besaran hasil usaha (earnings, penjualan dan lainnya) atau posisi keuangan pada tanggal penilaian yang merupakan variable keuangan perusahaan pembanding. Hasilnya merupakan angka pembagi (denominator) dari value multiple.

(9)

e. Menghitung nilai Ekuitas atau Kapital Investasi (Invested Capital) dari Perusahaan atas dasar value multiples dikalikan dengan variable keuangan fundamental PTA. Dalam hal ini variable keuangan fundamental yang digunakan adalah Nilai Buku atas Kapital yang Diinvestasikan (BVIC).

f. Hasil perhitungan butir e yang merupakan nilai entitas (Enterprise Value) bagi pemegang saham minoritas. Mengingat nilai yang dihasilkan dari perhitungan adalah nilai entitas, maka perlu ditambahkan dengan kas setara kas dan dikurangi dengan utang berbunga dari PTA untuk mendapatkan nilai ekuitas dari PTA.

g. Oleh karena indikasi nilai yang diperoleh dari metode ini adalah indikasi nilai untuk saham minoritas, maka untuk menghitung nilai saham PTA perlu ditambah dengan Premi Pengendali (Control Premium). Besarnya Premi Pengendali untuk perusahaan tertutup (sahamnya tidak diperdagangkan di bursa efek) berdasarkan POJK 35 dan SEOJK 17 adalah antara 30% sampai 70%. Berdasarkan pertimbangan kami besarnya premi pengendali adalah 30% mengingat kondisi PTA selama lima tahun sebelumnya selalu dalam kondisi rugi. h. Dari perhitungan pada point g diatas, dihasilkan indikasi nilai ekuitas bagi

pemegang saham mayoritas.

Kesimpulan

Berdasarkan Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa Efek (Guideline Publicly Traded Company Method) indikasi nilai pasar ekuitas PTA pada tanggal 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp. 11.471.803.000. Perhitungannya dapat dilihat pada Lampiran F-1, F-2, F-3, F-4 dan F-5.

REKONSILIASI NILAI

Untuk sampai pada pendapat kami mengenai Nilai Pasar Ekuitas (net worth) PTA kami melakukan korelasi nilai atas hasil penilaian dari penggunaan kedua metode yang kami uraikan diatas, yaitu untuk Metode Diskonto Arus Kas dan Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa Efek dikorelasi dengan bobot masing-masing 90% untuk Metode Diskonto Arus Kas, 10% untuk Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa Efek.

Metode Diskonto Arus Kas didasarkan kepada pendekatan pendapatan, yaitu pada prospek usaha dimasa yang akan datang, sedangkan Metode Pembanding Perusahaan Tercatat Di Bursa Efek didasarkan pada kondisi keuangan pada tanggal penilaian tanpa memperhatikan prospek usaha dimasa yang akan datang, oleh karena itu Metode Diskonto Arus Kas diberi bobot nilai yang lebih tinggi.

Diskon Tanpa Pengendali dan Diskon Likuiditas Pasar

Oleh karena saham yang dinilai merupakan saham mayoritas dengan kepemilikan 99,995% maka tidak perhitungkan adanya Diskon Tanpa Pengendalian dalam menentukan Nilai Pasar saham PTA.

(10)

Akan tetapi, Diskon Likuiditas Pasar diperhitungkan untuk memperoleh Nilai Pasar Ekuitas per 31 Desember 2020 karena PTA merupakan perseroan tertutup (non listed company). Karena saham yang dinilai adalah saham mayoritas dengan kepemilikan sebesar 99,995% tetapi PTA berada dalam kondisi merugi selama beberapa tahun terakhir, maka dalam hal ini menurut pertimbangan kami besarnya Diskon Likuiditas Pasar adalah 40%. Penentuan besarnya Diskon Likuiditas Pasar ini didasarkan pada POJK 35.

HASIL PENILAIAN

Hasil penilaian kami berdasarkan langkah-langkah penilaian sebagaimana telah kami uraikan dimuka seperti di bawah ini :

Hasil Penilaian (Rp'000) Bobot Relatif (%) Nilai Hasil Korelasi (Rp'000) Ekuitas (Equity)

a. Menurut Metode Diskonto Arus Kas

Indikasi Nilai Pasar per 31 Desember 2020

12.948.064 90 11.653.258

b. Menurut Metode

Pembanding Perusahaan Tercatat di Bursa Efek

Indikasi Nilai Pasar per 31 Desember 2020

11.471.803 10 1.147.180

Indikasi Nilai Pasar Ekuitas 12.800.438

Dikurangi:

Diskon Likuiditas Pasar - 40% (5.120.175)

Indikasi Nilai Ekuitas – untuk

209.157.483 saham (100%) Rp'000 7.680.263

Nilai Pasar per saham Rp 36.72

Nilai Pasar untuk 209.147.483

saham (99,995%) Rp 7.679.895.576

Perhitungan kami dapat dilihat pada Lampiran E, Lampiran F, Lampiran G dalam laporan ini.

KESIMPULAN AKHIR

Dengan demikian, menurut pendapat kami jumlah Rp. 7.679.895.576 (TUJUH MILIAR

ENAM RATUS TUJUH PULUH SEMBILAN JUTA DELAPAN RATUS SEMBILAN PULUH LIMA RIBU LIMA RATUS TUJUH PULUH ENAM RUPIAH) merupakan Nilai

Pasar dari 209.147.483 lembar saham PTA dengan nilai pasar per lembar saham sebesar Rp. 36,72 (TIGA PULUH ENAM KOMA TUJUH DUA RUPIAH) yang berada dalam kondisi berkesinambungan usaha (going concern) pada tanggal 31 Desember

(11)

KEJADIAN PENTING SETELAH TANGGAL PENILAIAN

Berdasarkan informasi dari manajemen PTA, berdasarkan Akta No 2 tanggal 1 Maret 2021, dibuat dihadapan Irene Yulia, S.H., Notaris di Jakarta, dan sebagaimana telah dinyatakan juga dalam catatan no. 11 Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2020 yang telah diaudit, terjadi penambahan modal dasar, modal disetor dan ditempatkan sejumlah 16.500.000 lembar saham dengan nilai nominal sebesar Rp.16.500.000.000, yang disetor oleh ACGI, sehingga komposisi pemegang saham dan kepemilikan saham PTA berubah menjadi sebagai berikut:

Pemegang Saham

Lembar Saham (lembar)

Modal Disetor Kepemiikan (%)

ACG International Sdn. Bhd. 224.738.267 224.738.267.000 99,593

Alliance Cosmetics Pte. Ltd. 909.216 909.216.000 0,403

Alliance Cosmetics Sdn. Bhd. 10.000 10.000.000 0,004

Total 225.657.483 225.657.483.000 100,00

Penambahan modal sejumlah 16.500.000 lembar saham juga akan dibeli oleh Perseroan dengan harga per saham yang sama yaitu Rp. 36,72 sesuai dengan hasil penilaian kami.

Akan tetapi, berdasarkan pasal 49 POJK 35 tentang kejadian penting setelah tanggal penilaian, diungkapkan sebagai berikut:

1. Kejadian penting setelah Tanggal Penilaian sampai dengan tanggal laporan penilaian bisnis wajib diungkapkan dalam laporan penilaian bisnis

2. Kejadian penting setelah Tanggal Penilaian dilarang digunakan untuk memutakhirkan hasil penilaian

3. Dalam hal kejadian penting setelah Tanggal Penilaian tersebut mengandung informasi yang dapat mempengaruhi Nilai objek Penilaian maka Penilai Bisnis wajib mengungkapkan sifat dan dampaknya dalam Laporan Penilaian Bisnis.

4. Pengungkapan kejadian penting sebagaimana dimaksud pada butir (1) dan ayat (3) wajib secara jelas mengindikasikan bahwa pengungkapan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi penentuan Nilai pada saat Tanggal Penilaian. Hasil penilaian di atas kami dasarkan pada informasi-informasi yang kami peroleh dari pihak Perseroan, termasuk wawancara dengan pejabat-pejabat kuncinya, salinan laporan keuangan yang berupa Laporan Posisi Keuangan dan laporan laba-rugi dan data-data lainnya.

Kami menganggap bahwa semua informasi data-data tersebut adalah benar, dan tidak ada hal-hal lain yang tidak terungkap yang akan mempengaruhi hasil penilaian secara material.

(12)
(13)

PERNYATAAN PENILAI

Dalam batas kemampuan dan keyakinan kami sebagai Penilai, kami yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa:

1. Kami tidak mempunyai kepentingan baik sekarang atau di masa yang akan datang terhadap Penilaian yang dibuat, maupun memiliki kepentingan pribadi atau keberpihakan kepada pihak-pihak lain yang memiliki kepentingan terhadap Laporan Penilaian Bisnis yang dibuat.

2. Kami bertanggungjawab atas Laporan Penilaian Bisnis yang kami lakukan.

3. Kami telah melakukan penugasan penilaian profesional sesuai dengan Tanggal Penilaian (Cut Off Date).

4. Kami telah melakukan analisis untuk tujuan sebagaimana diungkapkan dalam Laporan Penilaian Bisnis, opini dan kesimpulan dalam Laporan Penilaian Bisnis ini, sebatas pengetahuan kami, adalah benar dan akurat.

5. Kami telah melakukan penugasan penilaian profesional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

6. Kami telah menyajikan hasil Penilaian dalam penugasan penilaian profesional sebagai Kesimpulan Penilaian.

7. Kami telah mengungkapkan lingkup pekerjaan dan data yang dianalisis di dalam Laporan Penilaian Bisnis.

8. Kesimpulan Penilaian telah sesuai dengan asumsi-asumsi dan kondisi pembatas.

9. Data ekonomi dan industri dalam Laporan Penilaian Bisnis berasal dari berbagai sumber yang diyakini Penilai Bisnis dapat dipertanggungjawabkan.

10. Penunjukan dalam penugasan ini tidak berhubungan dengan opini Penilaian yang dibuat yang telah disepakati sebelumnya dengan Pemberi Tugas.

11. Biaya jasa profesional tidak dikaitkan dengan penilaian yang dibuat, pencapaian hasil yang dinyatakan, atau adanya kondisi yang terjadi kemudian (subsequent event) yang berhubungan secara langsung dengan penggunaan yang dimaksud.

12. Penilai Bisnis telah mengikuti persyaratan pendidikan profesional yang

ditetapkan/dilaksanakan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).

13. Penilai Bisnis memiliki pengetahuan yang memadai sehubungan dengan Penilaian yang dibuat

14. Tidak seorangpun selain yang bertandatangan di bawah ini, yang telah terlibat dalam pelaksanaan Penilaian, analisis, pembuatan kesimpulan, dan opini sebagaimana yang dinyatakan dalam Laporan Penilaian Bisnis ini.

15. Analisis, opini, dan kesimpulan yang dibuat oleh Penilai, serta Laporan Penilaian Bisnis telah dibuat dengan memenuhi ketentuan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII – SPI 2018 dan POJK 35.

(14)
(15)

ASUMSI-ASUMSI DAN KONDISI PEMBATAS

Laporan Penilaian Usaha ini bergantung kepada asumsi-asumsi dan kondisi pembatas sebagai berikut :

1. Laporan Penilaian Usaha yang dihasilkan oleh Penilai Usaha bersifat non-disclaimer opinion.

2. Penilai Usaha telah melakukan penelaahan atas dokumen-dokumen yang digunakan dalam proses penilaian.

3. Data-data dan informasi yang diperoleh Penilai Usaha berasal dari sumber yang dapat dipercaya keakuratannya.

4. Penyesuaian atas proyeksi keuangan yang dibuat oleh manajemen, mencerminkan kewajaran dan kemampuan untuk pencapaiannya.

5. Penilai Usaha bertanggung jawab atas pelaksanaan penilaian dan kewajaran proyeksi keuangan, selama tidak ada penyimpangan dalam pelaksanaannya.

6. Laporan Penilaian Usaha ini terbuka untuk publik, kecuali terdapat informasi yang bersifat rahasia, yang dapat mempengaruhi operasional perusahaan.

7. Penilai Usaha bertanggung jawab atas Laporan Penilaian Usaha dan Kesimpulan Penilaian Usaha.

8. Informasi atas status hukum obyek penilaian dari pemberi tugas dianggap benar dan dapat dipercaya, Penilai Usaha tidak bertanggung jawab jika ternyata informasi yang diberikan itu terbukti tidak sesuai dengan hal yang sesungguhnya.

9. Hasil yang dicantumkan dalam laporan ini serta setiap nilai lain dalam Laporan yang merupakan bagian dari bisnis yang dinilai hanya berlaku sesuai dengan maksud dan tujuan penilaian. Hasil Penilaian Usaha ini tidak boleh digunakan untuk tujuan penilaian lain yang dapat mengakibatkan terjadinya kesalahan.

(16)

DAFTAR ISI H a l a m a n SURAT PENGANTAR 1 DAFTAR ISI 12 PENILAIAN USAHA 13 Informasi Umum 16

Latar belakang Perusahaan 17

Pendirian PTA 17

Modal Saham PTA 18

Susunan Pengurus 19

Kegiatan Usaha 19

Ijin-ijin Yang Diperoleh 19

Informasi Lain Tentang PTA 20

Sumber Informasi 20

Tinjauan Kondisi Perekonomian Indonesia dan Industri,

Kosmetik 21

Tinjauan Kondisi Perekonomian Indonesia 21

Tinjauan Industri Kosmetik 31

Analisa Laporan Keuangan Perusahaan 34

Pendekatan Penilaian 37

Kesimpulan Akhir 45

ASUMSI-ASUMSI DAN SYARAT-SYARAT PEMBATASAN LAMPIRAN-LAMPIRAN :

A-1 : Laporan Posisi Keuangan per 31 Desember 2016 sampai 2020

A-2 : Laba Rugi Komprehensif untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 sampai 2020

B-1 : Laporan Posisi Keuangan Common Size per 31 Desember 2016 sampai 2020

B-2 : Laba Rugi Common Size untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 sampai 2020

C-1 : Normalisasi Laporan Posisi Keuangan C-2 : Normalisasi Laba Rugi Komprehensif D-1 : Proyeksi Laporan Posisi Keuangan D-2 : Proyeksi Laba Rugi Komprehensif E : Metode Diskonto Arus Kas

F : Metode Pembanding Perusahaan Tercatat di Bursa Efek G : Nilai Pasar Saham

(17)

PENILAIAN USAHA

Penilaian yang kami lakukan adalah dengan tujuan untuk menentukan Nilai Pasar dari saham PT Alliance Cosmetics (“PTA”) yang ditempatkan dan disetor penuh per tanggal 31 Desember 2020.

TUJUAN PENILAIAN

Penilaian yang kami lakukan adalah dengan tujuan untuk menentukan Nilai Pasar dari saham PTA yang ditempatkan dan disetor penuh per tanggal 31 Desember 2020.

Kami mengerti bahwa tujuan penentuan Nilai Pasar saham ini dalam rangka menilai saham PTA, yang akan dibeli dari ACG International Sdn. Bhd. dan Alliance Cosmetics Pte. Ltd. Jumlah saham PTA yang akan dinilai adalah sebanyak 209.147.483 saham atau setara dengan kepemilikan sebesar 99,995 %.

IDENTITAS PEMBERI TUGAS

Pelaksanaan penilaian saham PTA ini sebagai realisasi dari penugasan untuk melakukan penilaian saham dari PT Mandom Indonesia Tbk sesuai dengan Surat Perjanjian Kerja No. STH-039/PR.012/SG/I/2021 tanggal 26 Januari 2021.

Adapun identitas lengkap dari pemberi tugas adalah sebagai berikut : Pemberi tugas : PT Mandom Indonesia Tbk

Alamat : Wisma 46 Kota BNI, Suite 7.01, Lantai 7, Jl. Jend. Sudirman Kav. 1,

Karet Tengsin, Jakarta 10220

Telpon / Fax : (021) 2980-9500 / (021) 2980-9501

Email : [email protected]

Bidang usaha : Melakukan kegiatan usaha dalam bidang industri kosmetika termasuk pasta gigi, sabun, dan bahan pembersih keperluan rumah tangga dan barang dari plastik untuk pengemasan

PEDOMAN PENILAIAN

Dalam melakukan penilaian ini kami berpedoman pada SPI dan POJK 35 dan

(18)

DASAR NILAI DAN DEFINISI

Dasar nilai yang digunakan dalam penilaian saham adalah Nilai Pasar.

Nilai Pasar (Market Value) adalah estimasi sejumlah uang yang dapat diperoleh

dari hasil penukaran suatu aset atau liabilitas pada Tanggal Penilaian, antara pembeli yang berminat membeli dengan penjual yang berminat menjual, dalam suatu transaksi bebas ikatan, yang pemasarannya dilakukan secara layak, di mana kedua pihak masing-masing bertindak atas dasar pemahaman yang dimilikinya, kehati-hatian, dan tanpa paksaan. (POJK 35).

INDEPENDENSI PENILAI

Dalam melaksanakan Penilaian Usaha ini kami telah bertindak dengan independen tanpa adanya konflik kepentingan dan tidak terafiliasi dengan Perseroan ataupun pihak-pihak lain yang terafiliasi. Kami juga tidak mempunyai kepentingan atau keuntungan pribadi berkaitan dengan penugasan ini. Selanjutnya, Laporan Penilaian Usaha ini tidak dilakukan untuk memberikan keuntungan atau merugikan pada pihak manapun. Imbalan yang kami terima sama sekali tidak dipengaruhi oleh kewajaran yang dihasilkan dari proses analisa Laporan Penilaian Usaha ini.

Tingkat Kepemilikan Dan Sifat Pengendalian Obyek Penilaian

Komposisi pemegang saham dan kepemilikan saham pada tanggal 31 Desember 2020 adalah sebagai berikut:

Pemegang Saham

Lembar Saham (lembar)

Modal Disetor Kepemiikan (%)

ACG International Sdn. Bhd. 208.238.267 208.238.267.000 99,56%

Alliance Cosmetic Pte. Ltd. 909.216 909.216.000 0,43%

Alliance Cosmetic Sdn. Bhd 10.000 10.000.000 0.01%

Total 209.157.483 209.157.483.000 100,00%

Namun Berdasarkan Akta No 2 tanggal 1 Maret 2021, dibuat dihadapan Irene Yulia, S.H., Notaris di Jakarta, terjadi penambahan modal dasar, modal disetor dan ditempatkan, sehingga komposisi pemegang saham dan kepemilikan saham PTA berubah menjadi sebagai berikut:

Pemegang Saham

Lembar Saham (lembar)

Modal Disetor Kepemiikan (%)

ACG International Sdn. Bhd. 224.738.267 224.738.267.000 99,593

Alliance Cosmetics Pte. Ltd. 909.216 909.216.000 0,403

Alliance Cosmetics Sdn. Bhd. 10.000 10.000.000 0,004

(19)

Tingkat Likuiditas Saham Yang Dinilai

Mengingat PTA merupakan perusahaan tertutup, maka sulit untuk menentukan tingkat likuiditas atas kepemilikan sahamnya.

PENGGUNA LAPORAN PENILAIAN

Sesuai dengan tujuan penilaian ini maka laporan penilaian akan digunakan oleh manajemen Perseroan.

IDENTIFIKASI OBYEK PENILAIAN

Obyek penilaian yaitu 209.147.483 lembar saham PTA yang setara dengan 99,995% kepemilikan saham PTA oleh ACGI dan ACS

BENTUK KEPEMILIKAN OBYEK PENILAIAN

Sesuai dengan dokumen dan informasi yang kami terima, saham yang dinilai dimiliki oleh ACGI dan ACS

MATA UANG YANG DIGUNAKAN

Untuk penilaian ini kami menggunakan mata uang Rupiah

TANGGAL PENILAIAN

Penilaian saham ini dilakukan per tanggal 31 Desember 2020.

STATUS PENILAI

Penilaian yang independen ini dilakukan oleh penilai di KJPP Stefanus Tonny Hardi & Rekan.

PREMIS NILAI

Dalam penilaian saham PTA ini kami menggunakan premis nilai bahwa PTA merupakan perusahaan yang memiliki kesinambungan usaha (going concern company), oleh karena itu nilai saham yang diperoleh dari hasil penilaian didasarkan pada asumsi perusahaan yang memiliki kesinambungan usaha dan bukan asumsi likuidasi.

(20)

DOKUMEN-DOKUMEN UNTUK REFERENSI PENILAIAN

Untuk penilaian ini kami telah menerima dokumen-dokumen untuk referensi sebagai berikut:

Anggaran Dasar PTA berikut perubahannya.

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2016 sampai dengan 2020 yang telah diaudit oleh auditor independen.

Proyeksi Laporan Posisi Keuangan dan Laba Rugi Komprehensif PTA 1 Januari 2021 sampai 31 Desember 2025 berikut asumsi-asumsi dasarnya. Susunan Pengurus PTA.

Data lain yang berhubungan dengan penilaian.

Kami menerima data yang disampaikan oleh Perseroan pada dasarnya adalah data yang benar dan merefleksikan kegiatan usaha dan kondisi keuangan yang sebenarnya dari PTA.

HASIL PELAKSANAAN INSPEKSI

Sehubungan dengan adanya pandemi Covid-19, kunjungan lapangan tidak dapat dilakukan, akan tetapi kami telah melakukan diskusi secara daring dan menyampaikan daftar pertanyaan kepada manajemen Perseroan berkenaan dengan aspek-aspek tertentu dari kegiatan usaha PTA

INFORMASI EMPIRIS LAINNYA

Untuk keperluan penilaian usaha ini, kami telah melakukan penelaahan terhadap data dan laporan keuangan PTA serta telah menyampaikan daftar pertanyaan kepada manajemen Perseroan berkenaan dengan aspek-aspek tertentu dari kegiatan usaha PTA. Demikian pula kami telah mewawancara pejabat-pejabat kunci Perseroan. Dalam penilaian usaha inipun kami mempertimbangkan pula informasi yang kami peroleh dari jawaban atas daftar pertanyaan dan jawaban wawancara dari pejabat kunci tersebut.

Hasil penilaiannya kami sajikan sebagai berikut :

INFORMASI UMUM

Laporan ini meliputi penelaahan dan analisa terhadap entitas Perusahaan dalam rangka memberikan pendapat mengenai penilaian saham PTA, sekaligus menjelaskan langkah-langkah kerja dan metode penilaian yang telah dilakukan yang digunakan dalam penilaian saham tersebut.

(21)

Penilaian kami lakukan sesuai dengan Kode Etik Penilai Indonesia dan Standar Penilaian Indonesia (KEPI & SPI) Edisi VII – 2018 yang dikeluarkan oleh Masyarakat Profesi Penilai Indonesia ("MAPPI") dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 35/POJK.04/2020 tentang Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“POJK 35”) serta Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Republik Indonesia Nomor 17/SEOJK.04/2020 tentang Pedoman Penilaian dan Penyajian Laporan Penilaian Bisnis di Pasar Modal (“SEOJK 17”) dengan mendasarkan pada beberapa faktor, antara lain :

Sifat usaha dan latar belakang PTA

Perkembangan ekonomi secara umum dan perkembangan dan kondisi kegiatan usaha Perusahaan secara khusus.

Laporan keuangan historis dari PTA serta prospek usaha dimasa depan Faktor-faktor lain yang kiranya mempengaruhi penilaian

Dalam rangka penilaian saham ini, kami telah memperoleh laporan keuangan PTA untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2016 sampai dengan 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik, serta dokumen PTA lainnya yang relevan serta melakukan diskusi dengan pejabat kunci dari Perseroan. Tanpa melakukan verifikasi lebih jauh, kami berpendapat bahwa data di atas merupakan data posisi keuangan dan hasil usaha PTA yang representatip.

Faktor-faktor tersebut di atas mempunyai pengaruh dan peranan penting dalam penilaian saham PTA, namun pada akhirnya penilaian saham PTA akan bergantung pada data dan informasi yang tersedia pada tanggal penilaian. PTA bergerak dalam bidang industri kosmetik, toiletries dan produk kecantikan.Dalam penilaian saham ini kami menggunakan Pendekatan Pendapatan (income-based approach) atas dasar pada prospek hasil usaha Perusahaan dimasa mendatang yaitu dengan

Metode Diskonto Arus Kas (Discounted Cash Flow Method). Selain dari pada itu

penilaian saham PTA kami lakukan pula dengan Pendekatan Pasar (Market Based

Approach) yaitu dengan menggunakan Metode Pembanding Perusahaan Tercatat di Bursa Efek (Guideline Publicly Traded Company Method).

Dalam melakukan penilaian saham ini pertimbangan yang utama adalah pada data masa lalu sampai dengan tanggal penilaian dan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi posisi keuangan PTA pada tanggal penilaian.

LATAR BELAKANG PERUSAHAAN Pendirian PTA

PT Alliance Cosmetics(”PTA”) merupakan suatu perseroan terbatas yang didirikan

berdasarkan Akta Pendirian No.28 tanggal 25 September 2008, dibuat dihadapan Ukon Krisnajaya, SH, Notaris di Jakarta. Akta tersebut telah memperoleh pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan Surat Keputusan Nomor : AHU-93636.AH.01.01.Tahun 2008 tanggal 4 Desember 2008 dan diumumkan dalam Berita Negara Republik Indonesia tanggal 31 Mei 2011, No. 43.

(22)

Anggaran dasar Perusahaan telah mengalami beberapa kali perubahan, diantaranya dengan (i) Akta No. 01 tanggal 4 April 2019 dari Ian Gelium Lantu, S.H., MKn. notaris di Kota Depok. Mengenai perubahan sebagian anggaran dasar. Perubahan tersebut telah diberitahukan kepada Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia melalui surat penerimaan pemberitahuan perubahan anggaran dasar No. AHU-AH.01.03-0217911 tanggal 24 April 2019; (ii) Akta No. 3 tanggal 04 Desember 2020, dibuat dihadapan notaris Irene Yulia, SH, Notaris di Jakarta mengenai penambahan modal dasar dan perubahan susunan pemegang saham. Perubahan tersebut telah disetujui oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia berdasarkan surat keputusan No. AHU-0082045.AH.01.02.Tahun 2020 tanggal 8 Desember 2020.

PTA berdomisili di Jakarta dengan kantor pusat beralamat di Gedung Wisma Argo Manunggal Lantai 7, Jl. Gatot Subroto No. 85 Kav. 22, Kelurahan Semanggi, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Modal Saham PTA

Susunan pemegang saham pada tanggal penilaian adalah sebagai berikut:

Pemegang Saham

Lembar Saham (lembar)

Modal Disetor Kepemiikan (%)

ACG International Sdn. Bhd. 208.238.267 208.238.267.000 99,56%

Alliance Cosmetic Pte. Ltd. 909.216 909.216.000 0,43%

Alliance Cosmetic Sdn. Bhd 10.000 10.000.000 0.01%

Total 209.157.483 209.157.483.000 100,00%

Namun Berdasarkan Akta No 2 tanggal 1 Maret 2021, dibuat dihadapan Irene Yulia, S.H., Notaris di Jakarta, terjadi penambahan modal dasar, modal disetor dan ditempatkan, sehingga komposisi pemegang saham dan kepemilikan saham PTA berubah menjadi sebagai berikut:

Pemegang Saham

Lembar Saham (lembar)

Modal Disetor Kepemiikan (%)

ACG International Sdn. Bhd. 224.738.267 224.738.267.000 99,593

Alliance Cosmetics Pte. Ltd. 909.216 909.216.000 0,403

Alliance Cosmetics Sdn. Bhd. 10.000 10.000.000 0,004

(23)

Susunan Pengurus

Susunan Pengurus PTA pada saat penilaian adalah sebagai berikut: Dewan Komisaris:

Komisaris : Yoshikazu Hongo

Dewan DIreksi:

Direktur utama : Chin Choon Keng

Direktur : Josy Rizka

Direktur : Hideaki Nakamura

Kegiatan Usaha PTA

Sesuai dengan pasal 3 anggaran dasar Perusahaan, ruang lingkup kegiatan Perusahaan meliputi bidang perdagangan besar (disributor utama) dan impor produk kosmetik, toiletries, dan produk kecantikan;.

Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada 2010.

Izin-izin yang diperoleh

1. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 02.930.002.7-063.000

2. Izin Prinsip Penanaman Modal Asing dari Badan Koordinasi Penanaman Modal berdasarkan surat No.2391/1IP-PB/PMA/2016 tanggal 15 Juli 2016. 3. Nomor Induk Berusaha : yang dikeluarkan oleh Lembaga Pengelola dan

Penyelenggara OSS pada tanggal 19 Oktober 2018

4. Surat izin lokasi yang diterbitkan oleh Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS dengan nomor 8120211080393 yang dikeluarkan pada tanggal 9 Oktober 2018

5. Surat izin komersial yang diterbitkan oleh Lembaga Pengelola dan Penyelenggara OSS dengan nama KBLI Perdagangan Besar Kosmetik dengan kode 46494 pada tanggal 9 Oktober 2018

6. Surat Pemberitahuan perubahan NIK berdasarkan peraturan Menteri Keuangan Repubblik Indonesia dengan nomor 59/PMK.04/2014 tanggal 25 Maret 2014 dan telah teregistrasi dengan nomor 05.022964

7. Badan koordinasi Penanaman Modal dengan angka pengenal importir – umum (API-U) nomor 090508603-B pada tanggal 26 Mei 2016

(24)

Informasi Lain Tentang PTA

Pemegang Saham Mayoritas dari PTA

PTA tergabung dalam kelompok usaha ACG International Sdn. Bhd. karena pemegang saham mayoritas PTA adalah ACG International Sdn. Bhd. , dimana besarnya kepemilikan sahamnya di PTA adalah sebanyak 208.238.267 lembar saham atau setara dengan kepemilikan 99,56%

SUMBER INFORMASI

Kami menggunakan informasi-informasi dari dokumen-dokumen berikut ini di dalam melakukan analisa penilaian, yaitu:

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2020 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja pada tanggal 31 Maret 2021 dan ditandatangani oleh Ratnawati Setiadi dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2019 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja pada tanggal 18 Mei 2020 dan ditandatangani oleh Ratnawati Setiadi dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2018 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono , Sungkoro & Surja pada tanggal 22 April 2019 dan ditandatangani oleh Ratnawati Setiadi dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2017 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono , Sungkoro & Surja pada tanggal 2 Mei 2018 dan ditandatangani oleh Ratnawati Setiadi dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.

Laporan Keuangan PTA per 31 Desember 2016 yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Purwantono, Sungkoro & Surja pada tanggal 26 April 2017 dan ditandatangani oleh Ratnawati Setiadi dengan pendapat wajar tanpa pengecualian.

Proyeksi Laporan Posisi Keuangan dan Laba Rugi Komprehensif PTA periode 1 Januari 2021 sampai 31 Desember 2025 berikut asumsi-asumsi dasarnya.

Daftar susunan pemegang saham PTA per 31 Desember 2020.

Sebagai tambahan, kami telah melakukan diskusi dengan manajemen Perseroan di Jakarta.

(25)

TINJAUAN KONDISI PEREKONOMIAN INDONESIA

Pandemi COVID-19 yang masih berlangsung sampai saat ini telah menyebabkan tekanan pada perekonomian global. Kontraksi pertumbuhan perekonomian secara luas dirasakan oleh banyak negara sebagai imbas dari pemberlakuan kebijakan penanganan COVID-19 seperti pembatasan aktivitas sosial yang berujung pada penurunan aktivitas ekonomi. Sementara jumlah pasien yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia bertambah 8.074 orang tercatat sejak Rabu (30/12/2020) hingga Kamis (31/12/2020). Penambahan pasien itu menyebabkan kasus Covid-19 di Indonesia kini mencapai 743.198 orang. Adapun kasus baru pasien konfirmasi positif Covid-19 tersebar di 34 provinsi. Dari data itu, tercatat lima provinsi dengan penambahan kasus baru tertinggi. Kelima provinsi itu, yakni DKI Jakarta (2.022 kasus baru), Jawa Barat (1.024 kasus baru), Jawa Tengah (939 kasus baru), Jawa Timur (935 kasus baru), dan Sulawesi Selatan (479 kasus baru). Sementara itu, penularan Covid-19 secara keseluruhan hingga saat ini terjadi di 510 kabupaten/kota yang berada di 34 provinsi. Pemerintah juga mencatat ada penambahan 7.356 pasien yang telah dinyatakan sembuh. Dengan demikian, total pasien sembuh dari Covid-19 ada 611.097 orang. Selain itu, ada penambahan pasien yang tutup usia setelah sebelumnya dinyatakan positif virus corona sebanyak 194 orang. Sehingga, jumlah pasien meninggal dunia akibat Covid-19 hingga saat ini menjadi 22.138 orang.

Sumber : Covid19.go.id

Isu penerapan 'rem darurat' di ibu kota kembali muncul di tengah lonjakan kasus baru COVID-19 di akhir tahun. Ini adalah istilah yang mengacu ke penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) ketat. Kasus COVID-19 Jakarta faktanya dalam tren naik cukup signifikan. Dalam satu pekan terakhir, 21-28 Desember, kenaikannya hampir mencapai 2.000 kasus per hari. Di tingkat nasional 6.000-7.000 meski pada 28 Desember kembali turun menjadi 5.854. Ketua Umum DPD Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (Hippi) DKI Jakarta Sarman Simanjorang dalam tirto.id mengatakan, isu rem darurat usai libur tahun baru 2021 membuat pengusaha khawatir. Pasalnya PSBB ketat bakal mengembalikan masa pembatasan jam operasional sehingga aktivitas ekonomi menjadi stagnan. Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas) mencatat selama 10 bulan pandemi, daya beli masyarakat hilang senilai Rp374,4 triliun akibat pendapatan raib.

(26)

Kehilangan ini disebabkan karena penurunan jam kerja dan rendahnya utilisasi industri dan sektor wisata yang di bawah 50%. Kepala Bappenas Suharso Monoarfa dalam tirto.id mengatakan kehilangan daya beli ini bisa membengkak lagi sampai Rp1.000 triliun. Angka itu diperoleh bila perhitungan dilanjutkan pada dampak tak langsung, yakni efek domino yang menimpa sektor pendukung dan turunan dari industri atau usaha terdampak. Pengetatan aktivitas akhir tahun seperti pengurangan jam operasional restoran-pusat perbelanjaan serta pemberlakuan syarat tes antigen dan swab bagi perjalanan antar kota-provinsi bahkan sudah membuat pertumbuhan Q4 terpuruk.

Sejak pandemi Covid-19 melanda, ekonomi Indonesia untuk pertama kalinya terkontraksi pada kuartal II-2020 dengan minus 5,32%. Memasuki kuartal ketiga kontraksi kembali terjadi sebesar 3,49%. Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Pingkan Audrine Kosijungan dalam wartaekonomi.co.id mengatakan, akar permasalahan dari kontraksi perekonomian nasional kita ada pada pandemi Covid-19. Kebijakan penanganan dan pencegahan Covid-19 perlu terus ditingkatkan dan diupayakan oleh seluruh elemen pemerintah dari pusat hingga daerah. Jika pemerintah tidak berfokus pada upaya penanganan Covid-19, langkah-langkah yang ditempuh untuk pemulihan ekonomi pun menjadi sia-sia. Pingkan melanjutkan, jika dilihat dari sektor lapangan usahanya, hanya dua sektor saja yang mengalami peningkatan jika dibandingkan secara tahunan dengan kondisi di kuartal IV-2019. Kedua sektor tersebut ialah sektor informasi dan komunikasi yang bergerak dari 9,78% (Q4 2019) ke 10,91% (Q4 2020) serta sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial dengan pergerakan dari 7,83% (Q4 2019) menjadi 16,54% (Q4 2020). Hal ini sangat relevan dengan dinamika yang terjadi di masyarakat selama pandemi. Pingkan menilai kebijakan pembatasan sosial yang diberlakukan di daerah-daerah di Indonesia per Maret 2020 silam telah mendorong adanya adaptasi kebiasaan baru bagi masyarakat. Kegiatan pendidikan, perekonomian, ibadah, hingga bekerja pun bertransformasi ke arah digitalisasi, sektor informasi dan komunikasi menjadi tumpuannya. Selain itu, sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial juga terdongkrak seiring dengan semakin banyaknya kasus positif Covid-19 dan masyarakat terdampak yang tercatat di Indonesia.

Tabel Indikator Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016 – 2020

Indikasi Ekonomi 2016 2017 2018 2019 2020 Pertumbuhan PDB (yoy, %) 5,02 5,07 5,17 5,02 -2,07 Nominal PDB (Rp. Triliun) 12.406,8 13.588,8 14.837,4 15.833,9 15.434,2 Tingkat Inflasi (%, akhir tahun) 3,02 3,61 3,13 3,02 1,68 Suku Bunga BI (%) 4,75 4,25 6,00 5,00 3,75 Cadangan Devisa (USD Miliar) 116,4 130,196 120,7 129,2 135,9

Nilai Tukar Rupiah

(27)

Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 16-17 Desember 2020 memutuskan untuk mempertahankan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 3,75%, suku bunga Deposit Facility sebesar 3,00%, dan suku bunga Lending Facility sebesar 4,50%. Keputusan ini konsisten dengan prakiraan inflasi yang tetap rendah dan stabilitas eksternal yang terjaga, serta upaya untuk mendukung pemulihan ekonomi. Bank Indonesia memperkuat sinergi kebijakan dan mendukung berbagai kebijakan lanjutan untuk membangun optimisme pemulihan ekonomi nasional, melalui pembukaan sektor-sektor ekonomi produktif dan aman Covid-19, akselerasi stimulus fiskal, penyaluran kredit perbankan dari sisi permintaan dan penawaran, melanjutkan stimulus moneter dan makroprudensial, serta mengakselerasi digitalisasi ekonomi dan keuangan. Di samping kebijakan tersebut, Bank Indonesia menempuh pula langkah-langkah sebagai berikut:

1. Melanjutkan kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah agar sejalan dengan fundamental dan mekanisme pasar.

2. Memperkuat strategi operasi moneter untuk mendukung stance kebijakan moneter akomodatif.

3. Memperkuat kebijakan makroprudensial akomodatif untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan kepada sektor-sektor prioritas dalam rangka pemulihan ekonomi nasional di tengah terjaganya ketahanan sistem keuangan.

4. Mendorong penurunan suku bunga kredit melalui pengawasan dan komunikasi publik atas transparansi suku bunga perbankan dengan koordinasi bersama OJK.

5. Memperkuat pendalaman pasar uang melalui perluasan underlying DNDF guna meningkatkan likuiditas dan penguatan JISDOR sebagai acuan dalam mekanisme penentuan nilai tukar di pasar valas.

6. Memperkuat koordinasi pengawasan perbankan secara terpadu antara Bank Indonesia, OJK dan LPS dalam rangka mendukung stabilitas sistem keuangan.

7. Mempercepat transformasi digital dan sinergi untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi melalui penguatan kebijakan sistem pembayaran dan percepatan implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia 2025. Bank Indonesia terus mengarahkan seluruh instrumen kebijakan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional, dengan tetap menjaga terkendalinya inflasi dan memelihara stabilitas nilai tukar Rupiah, serta mendukung stabilitas sistem keuangan. Koordinasi kebijakan yang erat dengan Pemerintah dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta mempercepat pemulihan ekonomi nasional. Fokus koordinasi kebijakan diarahkan pada mengatasi permasalahan sisi permintaan dan penawaran dalam penyaluran kredit/pembiayaan dari perbankan kepada dunia usaha pada sektor-sektor prioritas yang mendukung pertumbuhan ekonomi dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Nilai tukar Rupiah terjaga didukung langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia dan berlanjutnya aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik.

(28)

Nilai tukar Rupiah pada 16 Desember menguat 0,63% secara rerata, meskipun melemah terbatas 0,04% secara point to point dibandingkan dengan level November 2020. Perkembangan nilai tukar Rupiah yang terjaga didorong peningkatan aliran masuk modal asing ke pasar keuangan domestik seiring dengan menurunnya ketidakpastian pasar keuangan global dan persepsi positif investor terhadap prospek perbaikan perekonomian domestik.

Sementara inflasi 2020 tercatat rendah sejalan permintaan yang belum kuat dan pasokan yang memadai. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada 2020 tercatat sebesar 1,68% (yoy) dan berada di bawah kisaran sasaran 3,0%±1%. Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh inflasi inti yang tercatat rendah sebesar 1,60% (yoy), sejalan dengan pengaruh permintaan domestik yang belum kuat, konsistensi kebijakan Bank Indonesia dalam mengarahkan ekspektasi inflasi pada kisaran target, dan dampak nilai tukar terhadap inflasi yang menurun. Inflasi pada tahun 2021 diprakirakan tetap terkendali dalam sasaran 3,0%±1%. Ke depan, Bank Indonesia tetap berkomitmen menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah melalui Tim Pengendali Inflasi (TPI dan TPID), guna mengendalikan inflasi IHK sesuai kisaran targetnya. Posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Desember 2020 sebesar 135,9 miliar dolar AS, meningkat dibandingkan dengan posisi pada akhir November 2020 sebesar 133,6 miliar dolar AS. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 10,2 bulan impor atau 9,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Peningkatan posisi cadangan devisa pada Desember 2020 terutama dipengaruhi oleh penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan penerimaan pajak. Ke depan, Bank Indonesia memandang cadangan devisa tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam mendorong pemulihan ekonomi.

(29)

Dari sisi pengeluaran, ekonomi Indonesia tahun 2020 mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 2,07%. Kontraksi terjadi pada hampir semua komponen PDB pengeluaran, kecuali Komponen PK-P yang tumbuh sebesar 1,94%. Kontraksi terdalam terjadi pada Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 7,70%, diikuti Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB), Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT), dan Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang masing-masing sebesar 4,95%; 4,29%; dan 2,63%. Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa yang merupakan faktor pengurang terkontraksi sebesar 14,71%. Struktur PDB Indonesia menurut pengeluaran atas dasar harga berlaku tahun 2020 tidak menunjukkan perubahan yang berarti. Perekonomian Indonesia masih didominasi oleh Komponen PK-RT yang mencakup lebih dari separuh PDB Indonesia yaitu sebesar 57,66%; diikuti oleh Komponen PMTB sebesar 31,73%; Komponen Ekspor Barang dan Jasa sebesar 17,17%; Komponen PK-P sebesar 9,29%; Komponen PK-LNPRT sebesar 1,30%; dan Komponen Perubahan Invenori sebesar 0,63%. Sementara itu, Komponen Impor Barang dan Jasa sebagai faktor pengurang dalam PDB memiliki peran sebesar 16,02%.

PDB Menurut Lapangan Usaha

Atas Dasar Harga Berlaku dan Harga Konstan 2010 (triliun rupiah)

(30)

Laju Pertumbuhan PDB Menurut Lapangan Usaha (persen)

Sumber: www.bps.go.id

Perkembangan Ekspor Impor Indonesia

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor Indonesia Desember 2020 mencapai US$16,54 miliar atau meningkat 8,39% dibanding ekspor November 2020. Demikian juga dibanding Desember 2019 meningkat 14,63%. Ekspor nonmigas Desember 2020 mencapai US$15,52 miliar, naik 7,06% dibanding November 2020. Demikian juga jika dibanding ekspor nonmigas Desember 2019, naik 16,73%. Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari–Desember 2020 mencapai US$163,31 miliar atau menurun 2,61% dibanding periode yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor nonmigas mencapai US$155,00 miliar atau menurun 0,57%. Peningkatan terbesar ekspor nonmigas Desember 2020 terhadap November 2020 terjadi pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$264,2 juta (11,23%), sedangkan penurunan terbesar terjadi pada besi dan baja sebesar US$77,7 juta (6,06%). Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari– Desember 2020 naik 2,95% dibanding periode yang sama tahun 2019, demikian juga ekspor hasil pertanian naik 13,98%, sementara ekspor hasil tambang dan lainnya turun 20,70%. Ekspor nonmigas Desember 2020 terbesar adalah ke Tiongkok yaitu US$3,32 miliar, disusul Amerika Serikat US$1,87 miliar dan Jepang US$1,25 miliar, dengan kontribusi ketiganya mencapai 41,50%. Sementara ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,27 miliar.

(31)

Menurut provinsi asal barang, ekspor Indonesia terbesar pada Januari–Desember 2020 berasal dari Jawa Barat dengan nilai US$26,59 miliar (16,28%), diikuti Jawa Timur US$20,31 miliar (12,44%) dan Riau US$13,77 miliar (8,43%).

Sumber : www.bps.go.id

Sedangkan untuk nilai impor Indonesia Desember 2020 mencapai US$14,44 miliar atau naik 14,00% dibandingkan November 2020. Sementara jika dibandingkan Desember 2019 turun 0,47%. Impor migas Desember 2020 senilai US$1,48 miliar atau naik 36,57% dibandingkan November 2020, namun jika dibandingkan Desember 2019 turun 30,54%. Impor nonmigas Desember 2020 mencapai US$12,96 miliar atau naik 11,89% dibandingkan November 2020. Demikian pula jika dibandingkan Desember 2019 naik 4,71%. Peningkatan impor nonmigas terbesar Desember 2020 dibandingkan November 2020 adalah golongan mesin dan peralatan mekanis senilai US$240,0 juta (12,48%), sedangkan penurunan terbesar adalah golongan logam mulia dan perhiasan/permata senilai US$146,9 juta (39,68%). Tiga negara pemasok barang impor nonmigas terbesar selama Januari– Desember 2020 adalah Tiongkok senilai US$39,35 miliar (30,91%), Jepang US$10,63 miliar (8,35%), dan Singapura US$8,12 miliar (6,38%). Impor nonmigas dari ASEAN senilai US$23,41 miliar (18,39%) dan Uni Eropa senilai US$10,09 miliar (7,92%). Nilai impor seluruh golongan penggunaan barang selama Januari– Desember 2020 turun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Penurunan terjadi pada golongan barang konsumsi (10,93%), bahan baku/penolong (18,32%), dan barang modal (16,73%).

Inflasi dan IHSG

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pada Desember 2020 terjadi inflasi sebesar 0,45% dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 105,68. Dari 90 kota IHK, 87 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Gunungsitoli sebesar 1,87% dengan IHK sebesar 107,85 dan terendah terjadi di Tanjung Selor sebesar 0,05% dengan IHK sebesar 102,47. Sementara deflasi tertinggi terjadi di Luwuk sebesar 0,26% dengan IHK sebesar 107,51 dan terendah terjadi di Ambon sebesar 0,07% dengan IHK sebesar 105,52. I

(32)

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 1,49%; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 0,03%; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,03%; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,08%; kelompok kesehatan sebesar 0,19%; kelompok transportasi sebesar 0,46%; dan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 0,27%. Kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,01%; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,01%; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,29%. Sementara kelompok yang tidak mengalami perubahan, yaitu kelompok pendidikan. Tingkat inflasi tahun kalender (Januari–Desember) 2020 dan tingkat inflasi tahun ke tahun (Desember 2020 terhadap Desember 2019) sebesar 1,68. Komponen inti pada Desember 2020 mengalami inflasi sebesar 0,05%. Tingkat inflasi komponen inti tahun kalender (Januari–Desember) 2020 dan tingkat inflasi komponen inti tahun ke tahun (Desember 2020 terhadap Desember 2019) sebesar 1,60%.

Inflasi (2016-2020)

Sumber : BPS, BI

Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di zona merah pada sesi terakhir perdagangan tahun 2020. IHSG ditutup turun 57,10 poin atau 0,95% ke 5.979. Pada penutupan perdagangan, Rabu (30/12/2020), terdapat 143 saham menguat, 365 saham melemah dan 119 saham stagnan. Transaksi perdagangan mencapai Rp14,5 triliun dari 24,7 miliar lembar saham yang diperdagangkan. Indeks LQ45 turun 10,70 poin atau 1,13% ke 934,88, indeks JII turun 7,88 poin atau 1,23% ke 630,42, indeks IDX30 turun 1,72 poin atau 0,34% ke 502,27 dan indeks MNC36 turun 1,87 poin atau 0,58% ke 322,34. Sementara itu, saham-saham yang masuk top gainers yaitu PT Panin Sekuritas Tbk (PANS) naik Rp240 atau 22,97% ke Rp1.285, saham PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) naik Rp23 atau 21,70% ke Rp129 dan saham PT Mahaka Radio Integra Tbk (MARI) naik Rp12 atau 15,38% ke Rp90. Adapun saham-saham yang masuk top losers antara lain, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) turun Rp30 atau 6,94% ke Rp402, saham PT PP Properti Tbk (PPRO) turun Rp7 atau 6,93% ke Rp94 dan saham PT Kapuas

(33)

Grafik Pertumbuhan IHSG

Sumber: finance.yahoo.com

Pada hari bursa terakhir di tahun 2020, IHSG ditutup melemah 0,95% di level 5.979,07. Perdagangan di sesi penutup 30 Desember 2020 ini berakhir di zona merah, yang disebabkan oleh aksi profit taking menjelang libur panjang tahun baru. Research Analyst MNC Securitas, Catherina Vincentia dalam ekbis.sindonews.com berpendapat, investor ingin memantau perkembangan selanjutnya dari vaksin dan sentimen global lainnya, sehingga lebih memilih untuk reserving cash. Merangkum pergerakannya sepanjang 2020, IHSG telah melemah 4,85% YTD 30 Desember 2020. Cathy menjelaskan, investor perlu mewaspadai hal-hal berikut dalam menyambut tahun 2021 mendatang, yaitu: 1) Distribusi dan efektivitas vaksin yang apabila ternyata di bawah ekspektasi, serta perkembangan mutasi virus COVID-19 yang lebih buruk dibandingkan dengan saat ini. 2) Realisasi pertumbuhan ekonomi dan kinerja emiten yang berada di bawah estimasi analis dan pasar; 3) Implementasi omnibus law; 4) Bencana alam yang disebabkan oleh perubahan iklim yang ekstrim, dimana hal ini menjadi faktor yang berada di luar kendali. Lebih lanjut, Cathy memaparkan, beberapa sektor yang perlu dicermati untuk tahun 2021 antara lain: 1) Perbankan masih menjadi motor penggerak bagi pertumbuhan IHSG dikarenakan bobot terhadap IHSG yang sangat dominan mencapai 38%; 2) Sektor Telekomunikasi dinilai positif seiring dengan perubahan gaya hidup masyarakat yang saat ini banyak menggunakan layanan online, serta banyaknya aksi M&A. 3) Sektor pertambangan logam terutama nikel yang menjadi proxy green economy yang sangat berkorelasi erat dengan pengembangan EV; 4) Sektor Perkebunan CPO, dimana di tengah masa pandemi saja, harga CPO mengalami peningkatan. Tim Riset MNC Sekuritas memprediksi pasar modal Indonesia pada tahun 2021 akan cenderung sideways mengingat sentimen vaksin yang sudah priced-in di pasar. Menurut Cathy IHSG diprediksi akan berada pada level 6.320 yang merupakan base case, dan bull case berada pada level 7.221 untuk tahun 2021.

(34)

Prospek Perekonomian Indonesia

Bank Dunia (World Bank) menyatakan jika ekonomi Indonesia kini perlahan pulih setelah sebagian aktivitas ekonomi domestik dan global dibuka kembali. Bahkan ekonomi bakal positif di 2021 dan 2022. Berdasarkan laporan 'Indonesia Economic Prospects Desember 2020: Toward a Secure and Fast Recovery', yang dikutip dalam cnbcindonesia.com, Bank Dunia memprediksi ekonomi positif Indonesia sebesar 4,4% pada 2021 mendatang. Di 2022, ekonomi Indonesia diperkirakan juga akan tumbuh sebesar 4,8%. Pertumbuhan pada tahun mendatang secara umum didorong oleh pemulihan konsumsi swasta. Perkiraan ini juga mengasumsikan bahwa tingkat kepercayaan konsumen mulai meningkat, dan hilangnya pendapatan rumah tangga tetap rendah berkat hasil pasar tenaga kerja yang lebih baik serta bantuan sosial yang memadai. Didorong konsumsi yang lebih kuat dan investasi, pertumbuhan akan menguat ke 4,8% pada 2022 seiring meningkatnya kepercayaan dengan syarat bahwa vaksin yang efektif dan aman akan tersedia bagi sebagian besar populasi. Namun hal ini hanya dapat diraih Indonesia jika pemerintah fokus terhadap penanganan pandemi Covid-19. Dalam laporan tersebut, Bank Dunia merekomendasikan Indonesia untuk fokus pada penguatan dan percepatan pemulihan. Prioritas utama adalah untuk menghindari kemunduran akibat perkembangan buruk terkait pandemi. Kesehatan publik tetap menjadi prioritas teratas untuk mengizinkan ekonomi tetap terbuka dan bergerak menuju pembukaan kembali aktivitas ekonomi secara menyeluruh dan aman.

International Monetary Fund (IMF) memberikan outlook yang lebih baik untuk perekonomian Indonesia jika dibandingkan dengan prediksi Bank Dunia. Berdasarkan perkiraan IMF, pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) Indonesia tahun 2021 berada di 4,8% lebih besar 40 basis poin (bps) ketimbang perkiraan Bank Dunia di 4,4%. Untuk tahun 2022, IMF bahkan lebih optimis dari Bank Dunia. Ekonomi RI diproyeksi tumbuh di angka 6% tahun 2022 sementara ramalan Bank Dunia menyebutkan pertumbuhan PDB RI tahun 2022 di angka 4,8%. Kebijakan makroekonomi yang akomodatif untuk tahun ini masih akan ditempuh. Tema kebijakan fiskal yang mendukung pemulihan ekonomi menjadi sorotan oleh lembaga keuangan global tersebut. Pemerintah masih akan mengalokasikan anggaran untuk mengatasi pandemi Covid-19 seperti yang sudah dilakukan di tahun 2020. Pemerintah juga mengalokasikan anggaran untuk investasi yang memiliki dampak besar salah satunya adalah infrastruktur. Setelah sempat dinomorduakan, pemerintah berupaya menggenjot kembali pembangunan infrastruktur di tahun 2021. Sebanyak Rp 417,8 triliun digunakan untuk pembangunan infrastruktur sebagai salah satu upaya pemulihan ekonomi nasional.

Sementara menurut Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memproyeksi, pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 3% pada tahun 2021. Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad dalam liputan6.com mengatakan, pandemi Covid-19 masih menghantui kelas menengah untuk melakukan konsumsi. Dengan segala perkembangan global maupun domestik, INDEF memperkirakan ppertumbuhan tahun 2021 sebesar 3%. Lanjut Tauhid, laju kredit perbankan diprediksi hanya mencapai 5 hingga 6% dari prediksi normal 9 hingga 11% dikarenakan permintaan yang belum normal. Inflasi di tahun 2021, menurut proyeksi Indef, akan menyentuh angka 2,5% dari yang normalnya 3%.

(35)

Hal ini dikarenakan program pemulihan ekonomi masih belum terlaksana dengan optimal dan daya beli masyarakat masih terbatas untuk suplai pangan dan kebutuhan pokok..

Tinjauan Industri Kosmetik

Perkembangan industri kosmetik di Indonesia semakin meningkat dari tahun ke tahun. Indonesia merupakan pasar menggiurkan bagi produk kosmetik dengan jumlah penduduk mencapai 270,20 juta jiwa dan penduduk perempuan sebesar 133,54 juta jiwa atau 49,42% dari total jumlah penduduk. Ditambah lagi segmen kaum adam yang tidak kalah memperhatikan penampilan, membuat pasar produk-produk kosmetik semakin melebar. Seiring perkembangan zaman, industri kosmetik tidak hanya menjadi kebutuhan primer kaum wanita, tetapi juga mulai berinovasi pada produk kosmetik untuk pria dan anak-anak. Sementara itu, hingga 2019 Kemenperin mencatat terdapat 797 industri kosmetik nasional. Angka tersebut naik dari 760 perusahaan pada tahun sebelumnya. Sebanyak 95 persen dari total industri kosmetik nasional tersebut merupakan sektor Industri Kecil Menengah (IKM). Banyak produsen kosmetik dan produk herbal mulai memperhatikan masalah perlindungan lingkungan, dan juga mempertimbangkan perlindungan lingkungan saat memilih bahan kemasan kosmetik. Di samping itu, ada pula tren masyarakat untuk menggunakan produk dari bahan alami sehingga membuka peluang munculnya produk kosmetik berbahan alami, seperti produk spa dan masker wajah. Tren memadukan jamu dengan produk kecantikan juga ikut menggerakkan pasar kosmetik dan personal care.

Saat ini pandemi Covid-19 tengah menekan seluruh sektor ekonomi di Indonesia, tidak terkecuali industri kosmetik. Penjualan menurun drastis diawal pandemi seiring berkurangnya kegiatan merias wajah akibat terbatasnya aktivitas. Berdasarkan hasil survei McKinsey, diperkirakan pendapatan industri kecantikan global turun 20 hingga 30 persen pada tahun 2020. Tekanan pandemi ini turut dirasakan oleh Martha Tilaar Group, perusahaan produk kosmetik dalam negeri. Alhasil, perusahan harus melakukan berbagai upaya, termasuk berinovasi, untuk bisa bertahan di tengah pandemi. Menurut data McKinsey, penjualan kosmetik secara global turun, terutama yang dekoratif seperti lipstik, blush on, dan sebagainya. CEO Martha Tilaar Group Kilala Tilaar dalam webinar Indonesia Industry Outlook 2021 yang dikutip dalam kompas.com menjelaskan, pada kondisi dalam negeri suplai produk memadai di pasar namun permintaan yang melemah. Kilala mengatakan, kondisi ini pada akhirnya membuat antar perusahaan produsen kosmetik bersaing banting harga untuk bisa menarik konsumen. Setiap perusahaan berupaya mempertahankan arus kas untuk bisa bertahan di tengah pelemahan ekonomi. Kilala menambahkan, iklan-iklan kosmetik diskon up to 40 persen atau 60 persen karena memang stok untuk di awal tahun atau kuartal I dan II mungkin belum habis karena pandemi.

Bahkan, menurut Kilala, industri kosmetik diperkirakan akan pulih ke kondisi normal seperti sebelum pandemi pada kuartal III-2021 mendatang. Sebab, pemulihan industri ini sangat bergantung pada vaksin yang mendorong kembali normalnya aktivitas. Kendati demikian, tekanan dari penjualan kosmetik diakui Kilala membuat Martha Tilaar harus berinovasi pada produk-produknya.

(36)

Perusahaan beralih ke produk kesehatan seperti hand sanitizer, pembersih lantai, dan sabun cuci tangan, hingga jamu. Di sisi lain, perusahaan juga mendorong penjualan produk-produk perawatan tubuh yang bisa diaplikasikan di rumah, seperti skincare, lulur, hingga masker, yang memang tengah diminati pasar. Tidak hanya itu, perusahaan juga berupaya menggenjot penjualan produk lewat online, baik pesanan melalui aplikasi chat ataupun marketplace. Langkah ini seiring dengan pergeseran gaya belanja masyarakat yang kini lebih suka daring. Adanya adaptasi kebiasaan baru akibat pandemi Covid-19, telah menggeser pola belanja dari offline menjadi online. Hal ini terlihat dari meningkatnya transaksi online produk kosmetik sebesar 80%. Pelaku industri kecil menengah (IKM) kosmetik dituntut untuk bisa memanfaatkan peluang usaha di tengah kondisi pandemi Covid-19. Social distancing menyebabkan konsumen menjadi lebih banyak waktu di rumah, sehingga lebih banyak waktu merawat kulit, badan, dan rambut akibatnya belanja permintaan untuk perawatan di rumah semakin meningkat menggantikan kebutuhan salon dan spa.

Meski dilanda pandemi Covid-19, industri kecantikan mencatatkan pertumbuhan yang cenderung stabil. Hal ini membuktikan bahwa industri tersebut terbilang mampu bertahan dalam beberapa kali krisis ekonomi. Berdasarkan data McKinsey yang dikutip dalam bisnis.com, industri kecantikan menghasilkan US$500 miliar per tahun. Angka ini diprediksi masih akan mengalami kenaikan seiring pembatasan sosial dan adaptasi baru yang masih berlangsung. Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih menyampaikan bahwa pada 2020 sektor kosmetik tumbuh, yang terlihat dari kinerja pertumbuhan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional, di mana kosmetik termasuk di dalamnya, tumbuh 9,39 persen. Sektor tersebut berkontribusi 1,92 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Lebih lanjut Gati mengatakan di tengah tekanan dampak pandemi Covid-19, kelompok manufaktur tersebut mampu memberikan kontribusi signifikan terhadap devisa melalui capaian nilai ekspornya yang menembus 317 juta dolar AS atau Rp 4,44 triliun pada semester I-2020, atau naik 15,2 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Ia berharap Industri farmasi dan obat tradisional, termasuk kosmetik terus didorong untuk menggunakan bahan baku lokal karena Indonesia memiliki keunggulan komparatif dibandingkan dengan negara-negara penghasil produk jamu dan kosmetik berbahan alami lainnya seperti China, Malaysia maupun Thailand. Gati menambahkan Indonesia memiliki potensi tanaman obat yang banyak tumbuh di berbagai wilayah dengan jumlah sekitar 30.000 spesies dari 40.000 spesies tanaman obat di dunia.

Daya tarik pasar kosmetik Indonesia tentu tidak lepas dari besarnya jumlah populasi penduduk. tidak heran, merek-merek kosmetik multinasional berbondong-bondong masuk ke pasar kosmetik Indonesia. Tren pertumbuhan pasat kosmetik di Tanah Air itu sudah tampak sejak dua tahun lalu. Sayangnya, kenaikan itu tidak sepenuhnya dinikmati oleh produsen-produsen lokal. Buktinya, produk-produk impor tampak membanjiri pasar kosmetik negeri ini. Setidaknya ada 45 negara yang produk-produknya mencari peruntungan di pasar ini, di antaranya Paris, Amerika, Jepang, Malaysia, Thailand, China, dan Korea Selatan. Produk-produk dari Eropa, Amerika, dan Jepang sudah lebih dulu masuk ke pasar kosmetik Indonesia karena memang negara-negara tersebut merupakan produsen kosmetik terkenal di dunia.

Gambar

Tabel Indikator Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2016 – 2020
Grafik Pertumbuhan IHSG

Referensi

Dokumen terkait

Menyetujui dan mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan untuk Tahun Buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020, yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik

1 Penyajian Laporan Keuangan Publikasi pada tanggal dan untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2021 dan 2020 di atas disusun berdasarkan Laporan Keuangan PT Bank

Menerima baik dan menyetujui serta mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 yang telah diaudit oleh Kantor

Menyetujui serta mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2014 yang telah diaudit oleh kantor Akuntan Publik Tanudiredja,

Menerima baik dan menyetujui serta mengesahkan Laporan Keuangan Perseroan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2013 yang telah diaudit oleh

Bank Harda Internasional Tbk (“Bank”) tanggal 31 Desember 2020, yang disusun oleh manajemen Bank sesuai sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia, yang telah diaudit

Telkomsel lanjutan Perubahan liabilitas diestimasi manfaat pensiun untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2020 dan 2019: 2020 2019 Liabilitas diestimasi manfaat

Ringkasan penilaian kinerja pegawai periode 1 Januari sd 31 Desember 2023 di Kantor Kementerian Agama Kota