`
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RUANG DAHLIA RUMAH
SAKIT JIWA PROF. HB. SA’ANIN PADANG
KARYA TULIS ILMIAH
Oleh :
DINO SAPUTRA NIM : 143110210
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG TAHUN 2017
`
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG
ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GANGGUAN DEFISIT PERAWATAN DIRI DI RUANG DAHLIA RUMAH
SAKIT JIWA PROF. HB. SA’ANIN PADANG
KARYA TULIS ILMIAH
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Diploma pada Program Studi D-III Keperawatan Poltekkes Kemenkes Padang
Oleh :
DINO SAPUTRA NIM : 143110210
JURUSAN KEPERAWATAN
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG TAHUN 2017
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama : Dino Saputra
NIM : 143110210
Tempat/tanggal lahir : Lubuk Basung/ 31 Agustus 1996
Agama : Islam
Status perkawinan : Belum Menikah Orang tua : Ayah : Jhonni Aries
Ibu : Samsi Fitri
Alamat : Pasar Durian, Manggopoh, Kecamatan Lubuk Basung, Kabupaten Agam, Sumatra Barat
Riwayat Pendidikan
Pendidikan Tahun
TK Pertiwi 2001 - 2002
SD Negeri 18 Balai Satu 2002 – 2008
SMP Negeri 2 Lubuk Basung 2008 - 2011
SMA Negeri 2 Lubuk Basung 2011 - 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadiran Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan Judul “Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Gangguan Defisit Perawatan Diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang Tahun 2017 ”Peneliti menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari ibu Heppi Sasmita, S.Kp, M.Kep, Sp.Jiwa selaku pembimbing I dan bapak H. Sunardi, SKM, M.Kes selaku pembimbing II yang telah menyediakan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mengarahkan peneliti dalam penyusunan karya tulis ilmiah ini. Dan tidak lupa pula mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak H.Sunardi,SKM,M.Kes selaku Direktur Politeknik kesehatan Kementrian Kesehtan RI Padang.
2. Ibu Hj.Murniati Muchtar,SKM, M.Biomed selaku Ketua Jurusan Keperawatan Politenik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI padang. 3. Ibu Ns.Idrawati Bahar,S.Kep M.Kep selaku Ketua Program Studi D III
Keperawatan Padang Politeknik Kesehatan Kementrian Kesehatan RI Padang.
4. Ibu Dr. Lily Gracediani, M.Kes selaku kepala RSJ Prof. HB. Saanin Padang beserta staf yang telah mengizinkan peneliti untuk melakukan penelitian.
5. Bapak ibu dosen serta staf Jurusan Keperawatan yang telah memberikan pengetahuan dan pengalaman selama perkuliahan.
6. Teristimewa kepada oragtua dan saudara tercinta yang telah memberikan semangat dan dukungan serta restu yang tak dapat ternilai dengan apapun. 7. Rekan-rekan seperjuangan mahasiswa Politeknik Kesehatan Kementerian
Kesehatan RI Padang Program Studi D-III keperawatan Padang serta semua pihak yang tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu yang telah membantu peneliti menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
8. Kepala Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang. 9. Perawat ruangan rawat inap Dahlia RSJ Prof. HB. Saanin Padang yang
10. Para sahabat saya Gian Sizal, Fauzan Suki, Angga Ujang dan Yanda Ijun yang selalu membantu peneliti dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
Akhir kata, peneliti berharap karya tulis ilmiah ini bermanfaat khususnya bagi peneliti sendiri dan pihak yang telah membacanya, serta peneliti mendoakan semoga segala bantuan yang telah diberikan mendapatkan balasan dari Allah SWT. Semoga nantinya dapat membawa manfaat bagi pengembangan ilmu keperawatan. Aamiin.
Padang, Juni2017
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PADANG JURUSAN KEPERAWATAN
Karya Tulis Ilmiah, Juni 2017 Dino Saputra
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
Isi : xii + 62 Halaman + 9 Lampiran
ABSTRAK
Defisit perawatan diri banyak terjadi pada pasien dengan gangguan jiwa. Penderita gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang sebanyak 2.956 jiwa (28,5 %) pada tahun 2016. Tujuan penelitian ini adalah menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri diruangan dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang 2017.
Desain penelitian yaitu studi kasus dalam bentuk deskriptif. Waktu penelitian tanggal 17-26 Mei 2017 di Ruangan Dahlia RSJ Prof HB Saanin Padang. Populasi adalah 21 orang pasien gangguan jiwa yang mengalami defisit perawatan diri dan sampel yang diambil adalah 2 (dua) orang pasien defisit perawatan diri yang berada di Ruang Dahlia RSJ Prof HB Saanin Padang dengan cara simple random
sampling. Instrumen yang digunakan adalah format pengkajian sampai evaluasi
keperawatan jiwa. Cara pengumpulan data dimulai dari wawancara, pengukuran, observasi dan studi dokumentasi. Analisa yang dilakukan meliputi menganalisis semua tahapan proses keperawatan jiwa dibandingkan dengan dan teori.
Hasil penelitian didapatkan partisipan 1 lebih suka menyendiri, malu, tidak memiliki kemampuan melakukan aktivitas dan mencurigai orang lain. Partisipan 2 mendengar suara-suara yang menyuruh untuk tidak melakukan aktivitas, mondar mandir, bicara sendiri dan terdapat penyakit kulit diseluruh tubuhnya. Diagnosa keperawatan jiwa yang didapatkan yaitu, defisit perawatan diri, harga diri rendah, pada partisipan 1 terdapat resiko perilaku kekerasan dan pada partisipan 2 halusinasi serta kerusakan integritas kulit. Rencana keperawatan jiwa yang dilaksanakan sudah terstandar dan intervensi untuk kerusakan integritas kulit yaitu pemberian salap ketokonazole, semua rencana tindakan keperawatan jiwa dapat dilaksanakan pada implementasi keperawatan dan evaluasi.
Penelitian ini Sebagai gambaran dalam pemberian asuhan keperawatan khususnya pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri bahwa perawat tidak hanya terfokus melakukan implementasi pada diagnosa defisit perawatan diri saja tetapi harus memperhatikan diagnosa penyerta seperti kerusakan integritas kulit.
Kata Kunci (Key Word) : Defisit Perawatan Diri, Asuhan Keperawatan Daftar Pustaka : 20 (2011-2016)
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...i
HALAMAN PENGESAHAN...ii KATA PENGANTAR...iii LEMBAR ORISINALITAS...v LEMBAR PERSETUJUAN...vi ABSTRAK...vii DAFTAR ISI...viii DAFTAR TABEL...x DAFTAR GAMBAR...xi DAFTAR LAMPIRAN...xii BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1 B. Rumusan Masalah...6 C. Tujuan Penelitian...7 D. Manfaat Penelitian...8
BAB II TINJAUAN TEORITIS A. Konsep Dasar...9
1. Pengertian...9
2. Rentang Respon Defisit Perawatan Diri...10
3. Proses Terjadinya Masalah Defisit Perawatan Diri...10
4. Psikodinamika Terjadinya Defisit Perawatan Diri...13
5. Jenis-jenis Defisit Perawatan Diri...14
6. Tanda dan Gejala Defisit Perawatan Diri...14
7. Dampak Defisit Perawatan Diri...15
8. Mekanisme Koping...15
B. Konsep Asuhan Keperawatan pada Pasien Defisit Perawatan Diri...16
1. Pengkajian...16 2. Pohon masalah...22 3. Masalah keperawatan...22 4. Intervensi keperawatan...22 5. Implementasi keperawatan...31 6. Evaluasi keperawatan...32 7. Dokumentasi keperawatan...33
BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian...34
B. Tempat dan waktu...34
C. Populasi dan sampel...34
D. Instrument pengumpulan data...35
E. Teknik pengumpulan data...36
G. Analisa Data...38
BAB IV DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN A. Deskripsi Kasus...39 1. Pengkajian...39 2. Diagnosa Keperawatan...45 3. Intervensi Keperawatan...45 4. Implementasi Keperawatan...46 5. Evaluasi Keperawatan...48 B. Pembahasan...50 1. Pengkajian...50 2. Diagnosa Keperawatan...53 3. Intervensi Keperawatan...55 4. Implementasi Keperawatan...56 5. Evaluasi Keperawatan...58 BAB V PENUTUP A. Kesimpulan...60 B. Saran...62 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Intervensi keperawatan...22 Tabel 4.1 Deskripsi Kasus...39
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Rentang respon defisit perawatan diri...10 Gambar 2.2 Psikodinamika terjadinya defisit perawatan diri...13 Gambar 2.3 Pohon masalah...22
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Pengkajian asuhan keperawatan jiwa Partisipan 1 dan partisipan 2 Lampiran 2. Inform consent partisipan 1 dan partisipan 2
Lampiran 3. Lembar konsultasi proposal
Lampiran 4. Lembar konsultasi karya tulis ilmiah
Lampiran 5. Surat pengantar izin penelitian Poltekkes Kemenkes Padang
Lampiran 6. Surat izin penelitian di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang Lampiran 7. Surat telah selesai melakukan penelitian di Rumah Sakit Jiwa Prof.
HB. Saanin Padang
Lampiran 8. Daftar nama pasien Defisit Perawatan Diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Menurut UU Nomor 18 pasal 1 & 3 Tahun 2014 Kesehatan Jiwa adalah kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual,dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan diri sendiri, dapat mengatasi tekanan, bekerja secara produktif serta mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya (UU Kesehatan Jiwa, 2014). Apabila seseorang/individu tersebut mengalami kesehatan jiwa baik fisik, mental, spiritual, tapi tidak dapat mengendalikan stres dan tidak ingin bersosialisasi dengan orang lain maka individu tersebut mengalami gangguan jiwa.
Gangguan jiwa adalah gangguan dalam cara berpikir, kehendak, emosi dan tindakan, di mana individu tidak dapat menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan (Marshaly, 2013). Menurut Madalise dkk (2015) Gangguan jiwa menyebabkan penderitanya tidak sanggup menilai dengan baik kenyataan, tidak menguasai dirinya untuk mencegah mengganggu orang lain atau merusak /menyakiti dirinya sendiri.
Data World Health Organization (WHO) menunjukkan, terdapat sekitar 350 juta orang mengalami depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta orang menderita skizofrenia, serta 47,5 juta orang terkena dimensia. Karena berbagai faktor biologis, psikologis, sosial dan keanekaragaman penduduk, maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah serta memberikan dampak
pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka panjang (WHO, 2016).
Prevalensi gangguan jiwa berat di Indonesia dengan gangguan jiwa tertinggi di Indonesia terdapat di DI Yogyakarta dan Aceh (masing-masing 2,7%), sedangkan yang terendah di Kalimantan Barat (0,7%). Prevalensi gangguan jiwa berat nasional sebesar 1,7 jiwa per mil.Sedangkan di Provinsi Sumatera Barat prevalensi gangguan jiwa berat dalam persentase sekitar 1,9%, dibawah DI Yogyakarta dan Aceh yang mengalami gangguan jiwa berat paling tinggi (Riskesdas, 2013).
Berdasarkan data dari Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas kesehatan Kota Padang, jumlah kunjungan rawat jalan, rawat inap dan kunjungan gangguan jiwa di sarana pelayanan kesehatan Kota Padang tahun 2014 didapatkan kunjungan gangguan jiwa di RSJ Prof HB Saanin Padang dengan klien rawat jalan laki-laki dan perempuan sebanyak 24.548 orang, kunjungan rawat inap laki-laki dan perempuan sebanyak 2.112 orang (Profil Kesehatan Kota Padang Tahun 2014, Dinas Kesehatan Kota Padang 2015).
Data dari Instalasi Rekam Medis Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang pada tahun 2016, pasien dengan gangguan jiwa sebanyak 10.365 jiwa dengan pasien rawat inap baru sebanyak 1.106 jiwa dan pasien lama sebanyak 1.174 jiwa, sedangkan pasien rawat jalan baru sebanyak 4.478 jiwa dan pasien lama sebanyak 3.607 jiwa dengan skizofrenia sebanyak 2.478 jiwa. Penderita gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri sebanyak 2.956 jiwa (28,5 %) dan terbanyak pada tahun 2016 adalah di ruang Gelatik sebanyak 534 jiwa.
Sedangkan Maret 2017 didapatkan data pasien dengan gangguan jiwa di 6 Ruangan diantaranya Ruang Melati sebanyak 41 orang, Ruang Cendrawasih 12 orang, Ruang Merpati 27 orang, Ruang Flamboyan 16 orang, Ruang Nuri 32 orang dan di Ruang Dahlia didapatkan 44 orang pasien dengan 21 orang dengan gangguan defisit perawatan diri.
Gangguan jiwa terbagi kedalam dua jenis yaitu gangguan jiwa ringan dan gangguan jiwa berat. Skizofrenia merupakan salah suatu gangguan jiwa berat yang akan membebani masyarakat sepanjang hidup penderita, ditandai dengan disorganisasi pikiran, perasaan dan perilaku defisit perawatan diri.
Defisit perawatan diri merupakan suatu kondisi pada seseorang yang mengalami kelemahan kemampuan dalam melengkapi aktivitas perawatan diri secara mandiri seperti mandi, berhias, makan dan BAK/BAB (Khaeriyah,2013). Menurut Yusuf (2015) Defisit perwatan diri adalah suatu keadaan seseorang mengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau napas dan penampilan tidak rapi.
Tanda dan gejala pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri biasanya tampak seperti rambut kotor, gigi kotor, badan berdaki dan bau, kuku panjang dan kotor, rambut acak-acakan, pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki-laki tidak bercukur, pada pasien perempuan tidak berdandan, tidak ketidakmampuan mengambil makan sendiri, makan berceceran dan tidak pada tempatnya, buang air besar atau buang air kecil
tidak pada tempatnya dan tidak membersihkan diri dengan baik setelah buang air besar atau buang air kecil (Keliat dan Akemat, 2014)
Dampak apabila defisit perawatan diri tidak ditangani, maka akan berakibat buruk baik bagi dirinya sendiri, orang lain sertalingkungan sekitarnya. Dampak fisik bagi dirinya sediri yaitu banyaknya gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan diri dengan baik seperti gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku. Sedangkan untuk dampak psikososial yaitu gangguan kebutuhan rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi dan gangguan interaksi sosial (Dermawan, 2013). Sedangkan dampak bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya adalah terganggunya kenyamanan dan ketentraman masyarakat.
Peran perawat dalam memberikan asuhan keperawatan diantaranya sebagai pendidik, narasumber, penasihat dan pemimpin (Direja, 2011). Adapun peran perawat dalam penanganan masalah defisit perawatan diri di rumah sakit jiwa yaitu melakukan penerapan asuhan keperawatan berupa penerapan strategi pelaksanaan defisit perawatan diri. Strategi pelaksanaan pada pasien defisit perawatan diri yaitu dengan melatih pasien cara perawatan kebersihan diri/mandi, melatih pasien berdandan atau berhias, melatih pasien makan dan minum secara mandiri dan mengajarkan pasien melakukan buang air besar dan buang air kecil secara mandiri (Fitria, 2012). Untuk mengoptimalkan kemampuan pasien dalam perawatan diri, maka petugas memberikan reward
atau reinforcement kepada pasien berupa pujian yang dapat memotivasi pasien untuk melakukan kebersihan diri.
Berdasarkan hasil Penelitian yang dilakukan oleh Khaeriyah (2013) di RSJD Dr. Amino Gondohutomo Semarang, mengenai kemampuan perawatan diri pada 50 orang klien defisit perawatan diri yang diberikan strategi pelaksanaan komunikasi defisit perawatan diri, didapatkan hasil bahwa ada perbedaan kemampuan perawatan diri pre dan post strategi pelaksanaan komunikasi defisit perawatan diri.
Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang merupakan rumah sakit tipe A yang ada di kota padang dan merupakan salah satu Rumah Sakit Jiwa terbesar yang ada di Sumatera Barat. Menurut pengalaman peneliti saat praktek klinik keperawatan Jiwa II di Ruangan Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang pada tanggal 31 oktober sampai dengan 12 november 2016 ditemukan sekitar 6 dari 10 (60%) pasien dengan masalah defisit perawatan diri. Hasil wawancara dengan salah satu petugas didapatkan sekitar 65% pasien yang dirawat di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang mengalami gangguan defisit perawatan diri. Masalah yang biasanya timbul pada pasien di ruangan tersebut yaitu badan klien bau, pakaian yang tidak rapi, makan berceceran, dan kadang buang air besar dan buang air kecil tidak pada tempatnya seperti di tempat tidur.
Survey awal pada tanggal 21 Maret 2017 di Ruang Dahlia didapatkan 44 orang pasien pada bulan Maret dengan 21 orang mengalami gangguan defisit perawatan diri. Berdasarkan studi pendahuluan dari 21 orang pasien
dilakukan observasi kepada 3 orang pasien dan didapatkan gejala seperti, pakaian yang tidak rapi, makan berceceran dan rambut acak-acakan. Penerapan strategi pelaksanaan komunikasi kebersihan diri pada klien sudah diterapkan di ruangan. Strategi Pelaksanaan komunikasi ini dilaksanakan oleh perawat pelaksana dan mahasiswa/mahasiswi yang sedang menjalani praktik klinik di ruangan. Tetapi kesenjangan yang ditemukan adalah belum efektifnya pelaksanaan Strategi Pelaksanaan komunikasi ini karena perawat pelaksana belum melakukan secara berkesinambungan serta kurang maksimalnya pengevaluasian yang dilakukan pada klien setelah diberikan intervensi melalui strategi pelaksanaan komunikasi.
Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan diatas maka peneliti tertarik mengangkat kasus tentang penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang tahun 2017.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah di uraikan oleh peneliti diatas, maka perumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Provinsi Sumatera Barat Padang 2017 ?
C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum
Untuk menerapkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB Saanin Provinsi Sumatera Barat Padang 2017.
2. Tujuan Khusus
Berdasarkan tujuan umum dapat dibuat tujuan khusus sebagai berikut : a. Mampu mendeskripsikan hasil pengkajian keperawatan pada pasien
dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang 2017.
b. Mampu mendeskripsikan rumusan diagnosa keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang 2017.
c. Mampu mendeskripsikan rencana keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang 2017.
d. Mampu mendeskripsikan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang 2017.
e. Mampu mendeskripsikan evaluasi pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang 2017.
D. Manfaat Penelitian 1. Aplikatif
a. Bagi Rumah Sakit dan Perawat
Sebagai masukan serta acuan bagi perawat dalam meningkatkan pelayanan keperawatan, terutama dalam penerapan asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan defisit perawatan diri. b. Peneliti
Sebagai pengembangan kemampuan peneliti dalam melaksanakan asuhan keperawatan dan menambah wawasan ilmu pengetahuan bagi peneliti dalam penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri.
2. Pengembangan Keilmuan
Hasil penulisan yang di peroleh dapat digunakan sebagai perbandingan dan bahan untuk penelitian selanjutnya di bidang keperawatan dan dapat menjadi referensi dan rujukan dalam pembuatan ataupun pengaplikasian askep gangguan Defisit Perwatan Diri.
BAB II
TINJAUAN TEORITIS
A. Konsep Dasar 1. Pengertian
Pewatan diri adalah salah satu kemampuan manusia dalam memenuhi kebutuhannya sehari-hari guna mempertahankan kehidupan, kesehatan dan kesejahteraan sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien bisa dinyatakan terganggu keperawatan dirinya jika tidak dapat melakukan perawatan diri sendiri (Depkes, 2000 dalam Direja, 2011).
Personal hygiene adalah suatu tindakan untuk memelihara kebersihan dan kesehatan seseorang untuk kesejahteraan fisik dan psikis (Poter. Perry, 2005 dalam Direja, 2011). Tarwoto dan Wartonah (2000, dalam Direja, 2011) menjelaskan kurang perawatan diri adalah kondisi dimana seseorang tidak mampu melakukan perawatan kebersihan untuk dirinya.
Menurut Nurjannah (2004, dalam Dermawan, 2013) Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan seseorang untuk melakukan aktifitas perawatan diri seperti mandi, berhias/berdandan, makan dan toileting. Defisit perwatan diri adalah suatu keadaan seseorang mengalami kelainan dalam kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari secara mandiri. Tidak ada keinginan untuk mandi secara teratur, tidak menyisir rambut, pakaian kotor, bau badan, bau napas dan penampilan tidak rapi. Defisit perawatan diri merupakan salah satu masalah yang timbul pada pasien gangguan jiwa. Pasien gangguan jiwa kronis sering mengalami ketidakpedulian merawat diri. Keadaan ini
merupakan gejala perilaku negatif dan menyebabkan pasien dikucilkan baik dalam keluarga maupun masyarakat (Yusuf, 2015).
2. Rentang Respon
Menurut Dermawan (2013), adapun rentang respon defisit perawatan diri sebagai berikut :
Adaptif Maladaptif
Pola perawatan diri seimbang
Kadang perawatan diri kadang tidak
Tidak melakukan perawatan diri pada
saat stress Gambar 2.1 Rentang Respon
a. Pola perawatan diri seimbang : saat klien mendapatkan stresor dan mampu untuk berprilaku adaptif, maka pola perawatan yang dilakukan klien seimbang, klien masih melakukan perawatan diri.
b. Kadang perawatan diri kadang tidak: saat klien mendapatkan stresor kadang – kadang klien tidak memperhatikan perawatan dirinya,
c. Tidak melakukan perawatan diri : klien mengatakan dia tidak peduli dan tidak bisa melakukan perawatan saat stresor.
3. Proses Terjadinya Masalah Defisit Perawatan Diri
Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan, 2013), penyebab defisit perawatan diri adalah :
a. Faktor predisposisi 1) Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif terganggu.
2) Biologis
Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.
3) Kemampuan realitas turun
Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitas yang kurang menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.
4) Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
b. Faktor presipitasi
Yang merupakan faktor presipitasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan motivasi, kerusakan kognisi atau perceptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan, 2013), faktor-faktor yang mempengaruhi personal hygiene adalah:
1) Body image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan dirinya. 2) Praktik sosial
Pada anak-anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi perubahan pola personal hygiene. 3) Status sosial ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi, shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4) Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien menderita diabetes melitus ia harus menjaga kebersihan kakinya.
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6) Kebiasaan seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti penggunaan sabun, sampo dan lain-lain. 7) Kondisi fisik atau psikis
Pada keadaan tertentu/sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu bantuan untuk melakukannya.
4. Psikodinamika terjadinya defisit perawatan diri
Trauma situasional - Kecelakaan - Perceraian - Korban perkosaan - Putus sekolah Perasaan negatif
Gambar 2.2 Proses terjadinya defisit perawatan diri (Dermawan, 2013) 5. Jenis-Jenis Defisit Perawatan Diri
Menurut Nurjannah (2004, dalam Dermawan (2013) Jenis-jenis defisit perawatan diri terdiri dari:
Harga Diri Rendah
Faktor Presipitasi - Kurang penurunan motivasi - Kerusakan kognisi atau
perceptual
- Lelah/lemah yang dialami individu
Kemampuan melakukan aktivitas
menurun
Faktor Predisposisi - Perkembangan : keluarga terlalu
memanjakan klien - Biologis : penyakit kronis - Kemampuan realitas menurun :
ketidakpedulian dirinya - Sosial : kurang dukungan dan
latihan
Data Subyektif - Pasien mersa lemah - Malas untuk beraktivitas - Merasa tidak berdaya
Data Obyektif - Rambut kotor, acak-acakan - Badan dan pakaian kotor dan bau - Mulut dan gigi bau
- Kulit kusam dan kotor
- Kuku panjang dan tidak terawat
Defisit Perawatan Diri
Koping individu tidak efektif
Menarik diri, merasa tidak berguna, rasa bersalah
Ketidakpedulian merawat diri
stress Menghindari interaksi
dengan orang lain
kesepian
Koping individu tidak efektif
a. Kurang perawatan diri : Mandi / kebersihan
Kurang perawatan diri (mandi) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktivitas mandi / kebersihan diri.
b. Kurang perawatan diri : mengenakan pakaian / berhias
Kurang perawatan diri (mengenakan pakaian) adalah gangguan kemampuan memakai pakaian dan aktivitas berdandan sendiri.
c. Kurang perawatan diri : makan
Kurang perawatan diri (makan) adalah gangguan kemampuan untuk menunjukkan aktivitas makan.
d. Kurang perawatan diri : toileting
Kurang perawatan diri (toileting) adalah gangguan kemampuan untuk melakukan atau menyelesaikan.
6. Tanda dan Gejala Defisit Perawatn Diri
Menurut Depkes (2000, dalam Dermawan, 2013) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah :
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor. 2) Rambut dan kulit kotor. 3) Kuku panjang dan kotor. 4) Gigi kotor disertai mulut bau. 5) Penampilan tidak rapi.
b. Psikologis
1) Malas, tidak ada inisiatif. 2) Menarik diri, isolasi diri.
3) Merasa tak berdaya, rendah diri dan merasa hina. c. Sosial
1) Interaksi kurang. 2) Kegiataan kurang.
3) Tidak mampu berperilaku sesuai norma.
4) Cara makan tidak teratur, BAK dan BAB di sembaraang tempat, gosok gigi dan mandi tidak mampu mandiri.
Data yang biasa ditemukan dalam defisit perawatan diri adalah : a. Data subyektif
1) Pasien merasa lemah. 2) Malas untuk beraktivitas. 3) Merasa tidak berdaya. b. Data obyektif
1) Rambut kotor, acak-acakan. 2) Bdan dan pakaian kotor dan bau. 3) Mulut dan gigi bau.
4) Kulit kusam dan kotor.
5) Kuku panjang dan tidak terawat.
7. Dampak Defisit Perawatan Diri
Menurut Dermawan (2013) dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene ialah :
a. Dampak fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan telinga dan gangguan fisik pada kuku.
b. Dampak psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan rasa nyaman , kebutuhan dicintai dan mencinti, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan gangguan interaksi sosial.
8. Mekanisme Koping
Mekanisme koping pada pasien dengan defisit perawatan diri adalah sebagai berikut:
a. Regresi, menghindari stress, kecemasan dan menampilkan perilaku kembali, seperti pada perilaku perkembangan anak atau berhubungan dengan masalah proses informasi dan upaya untuk mengulangi ansietas (Dermawan, 2013).
b. Penyangkalan ( Denial ), melindungi diri terhadap kenyataan yang tak menyenangkan dengan menolak menghadapi hal itu, yang sering dilakukan dengan cara melarikan diri seperti menjadi “sakit” atau kesibukan lain serta tidak berani melihat dan mengakui kenyataan yang menakutkan (Yusuf dkk, 2015).
c. Menarik diri, reaksi yang ditampilkan dapat berupa reaksi fisik maupun psikologis, reaksi fisk yaitu individu pergi atau lari menghindar sumber stresor, misalnya: menjauhi, sumber infeksi, gas beracun dan lain-lain. Reaksi psikologis individu menunjukkan perilaku apatis, mengisolasi diri, tidak berminat, sering disertai rasa takut dan bermusuhan (Dermawan, 2013).
d. Intelektualisasi, suatu bentuk penyekatan emosional karena beban emosi dalam suatu keadaan yang menyakitkan, diputuskan, atau diubah (distorsi) misalnya rasa sedih karena kematian orang dekat, maka mengatakan “sudah nasibnya” atau “sekarang ia sudah tidak menderita lagi” (Yusuf dkk, 2015)
B. Asuhan Keperawatan Teorotis 1. Pengkajian Keperawatan
a. Identitas
Biasanya identitas terdiri dari: nama klien, umur, jenis kelamin, alamat, agama, pekerjaan, tanggal masuk, alasan masuk, nomor rekam medik, keluarga yang dapat dihubungi.
b. Alasan Masuk
Biasanya apa yang menyebabkan pasien atau keluarga datang, atau dirawat dirumah sakit. Biasanya masalah yang di alami pasien yaitu senang menyendiri, tidak mau banyak berbicara dengan orang lain, terlihat murung, penampilan acak-acakan, tidak peduli dengan diri sendiri dan mulai mengganggu orang lain.
c. Faktor Predisposisi.
Pada pasien yang mengalami defisit perawatan diri ditemukan adanya faktor herediter mengalami gangguan jiwa, adanya
penyakit fisik dan mental yang diderita pasien sehingga menyebabkan pasien tidak mampu melakukan perawatan diri. Ditemukan adanya faktor perkembangan dimana keluarga terlalu melindungi dan memanjakan pasien sehingga perkembangan inisiatif terganggu, menurunnya kemampuan realitas sehingga menyebabkan ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri serta didapatkan kurangnya dukungan dan situasi lingkungan yang mempengaruhi kemampuan dalam perawatan diri.
d. Pemeriksaan Fisik
Biasanya pada pemeriksaan fisik dilakukan pemeriksaan tanda-tanda vital (TTV), pemeriksaan secara keseluruhan tubuh yaitu pemeriksaan head to toe yang biasanya penampilan klien yang kotor dan acak-acakan.
e. Psikososial 1) Genogram
Biasanya menggambarkan pasien dengan anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa, dilihat dari pola komunikasi, pengambilan keputusan dan pola asuh.
2) Konsep diri a) Citra tubuh
Biasanya persepsi pasien tentang tubuhnya, bagian tubuh yang disukai, reaksi pasien terhadap bagian tubuh yang disukai dan tidak disukai.
b) Identitas diri
Biasanya dikaji status dan posisi pasien sebelum pasien dirawat, kepuasan pasien terhadap status dan posisinya, kepuasan pasien sebagai laki-laki atau perempuan , keunikan yang dimiliki sesuai dengan jenis kelamin dan posisinnya.
Biasanya meliputi tugas atau peran pasien dalam keluarga/ pekerjaan/ kelompok/ masyarakat, kemampuan pasien dalam melaksanakan fungsi atau perannya, perubahan yang terjadi saat pasien sakit dan dirawat, bagaimana perasaan pasien akibat perubahan tersebut.
d) Ideal diri
Biasanya berisi harapan pasien terhadap kedaan tubuh yang ideal, posisi, tugas, peran dalam keluarga, pekerjaan atau sekolah, harapan pasien terhadap lingkungan sekitar, serta harapan pasien terhadap penyakitnya
e) Harga diri
Biasanya mengkaji tentang hubungan pasien dengan orang lain sesuai dengan kondisi, dampak pada pasien berubungan dengan orang lain, fungsi peran tidak sesuai harapan, penilaian pasien terhadap pandangan atau penghargaan orang lain.
f) Hubungn sosial
Biasanya hubungan pasien dengan orang lain sangat terganggu karena penampilan pasien yang kotor sehingga orang sekitar menghindari pasien. Adanya hambatan dalam behubungan dengan orang lain, minat berinteraksi dengan orang lain.
g) spiritual
1) Nilai dan keyakinan
Biasanya nilai dan keyakinan terhadap agama pasien terganggu karna tidak menghirauan lagi dirinya.
2) Kegiatan ibadah
Biasanya kegiatan ibadah pasien tidak dilakukan ketika pasien menglami gangguan jiwa.
1) Penampilan
Biasanya penampilan pasien sangat tidak rapi, tidak tahu cara berpakaian, dan penggunaan pakaian tidak sesuai.
2) Cara bicara/ pembicaraan
Biasanya cara bicara pasien lambat, gagap, sering terhenti/bloking, apatisserta tidak mampu memulai pembicaraan.
3) Aktivitas motorik
Biasanya klien tampak lesu, gelisah, tremor dan kompulsif.
4) Alam perasaan
Biasanya keadaan pasien tampak sedih, putus asa, merasa tidak berdaya, rendah diri dan merasa dihina. 5) Afek
Biasanya afek pasien tampak datar, tumpul, emosi pasien berubah-ubah, kesepian, apatis, depresi/sedih dan cemas.
6) Interaksi selama wawancara
Biasanya respon pasien saat wawancara tidak kooperatif, mudah tersinggung, kontak kurang serta curiga yang menunjukan sikap atau peran tidak percaya kepada pewawancara atau orang lain.
7) Persepsi
Biasanya pasien berhalusinasi tentang ketakutan terhadap hal-hal kebersihan diri baik halusinasi pendengaran, penglihatan serta halusinasi perabaan yang membuat pasien tidak mau membersihkan diri dan pasien mengalami depersonalisasi.
8) Proses pikir
Biasanya bentuk pikir pasien otistik, dereistik, sirkumtansial, kadang tangensial, kehilangan asosiasi,
pembicaraan meloncat dari topik satu ke topik lainnya dan kadang pembicaraan berhenti tiba-tiba.
i) Kebutuhan pasien pulang 1) Makan
Biasanya pasien kurang makan, cara makan pasien terganggu serta pasien tidak memiliki kemampuan menyiapkan dan membersihkan alat makan.
2) Berpakaian
Biasanya pasien tidak mau mengganti pakaian, tidak bisa menggunakan pakaian yang sesuai dan tidak bisa berdandan.
3) Mandi
Biasanya pasien jarang mandi, tidak tahu cara mandi, tidak gosok gigi, tidak mencuci rambut, tidak menggunting kuku, tubuh pasien tampak kusam dan bdan pasien mengeluarkan aroma bau.
4) BAB/BAK
Biasanya pasien BAB/BAK tidak pada tempatnya seperti di tempat tidur dan pasien tidak bisa membersihkan WC setelah BAB/BAK.
5) Istirahat
Biasanya istirahat pasien terganggu dan tidak melakukan aktivitas apapun setelah bangun tidur. 6) Penggunaan obat
Apabila pasien mendapat obat, biasanya pasien minum obat tidak teratur.
7) Aktivitas dalam rumah
Biasanya pasien tidak mampu melakukan semua aktivitas di dalam maupun diluar rumah karena pasien selalu merasa malas.
1) Adaptif
Biasanya pasien tidak mau berbicara dengan orang lain, tidak bisa menyelesikan masalah yang ada, pasien tidak mampu berolahraga karena pasien selalu malas. 2) Maladaptif
Biasanya pasien bereaksi sangat lambat atau kadang berlebihan, pasien tidak mau bekerja sama sekali, selalu menghindari orang lain.
3) Masalah psikososial dan lingkungan
Biasanya pasien mengalami masalah psikososial seperti berinteraksi dengan orang lain dan lingkungan. Biasanya disebabkan oleh kurangnya dukungan dari keluarga, pendidikan yang kurang, masalah dengan sosial ekonomi dan pelayanan kesehatan.
4) Pengetahuan
Biasanya pasien defisit perawatan diri terkadang mengalami gangguan kognitif sehingga tidak mampu mengambil keputusan.
k) Sumber Koping
Sumber koping merupakan suatu evaluasi terhadap pilihan koping dan strategi seseorang. Individu dapat mengatasi stress dan ansietas dengan menggunakan sumber koping yang ada di lingkungannya. Sumber koping tersebut dijadikan sebagai modal untuk menyelesaikan masalah. Dukungan sosial dan keyakinan budaya dapat membantu seorang mengintegrasikan pengalaman yang menimbulkan stressdan mengadopsi strategi koping yang efektif.
2. Pohon Masalah
Isolasi Sosial
Defisit Perawatan Diri
Effect
Harga Diri Rendah Kronis
Gambar 2.3 Pohon Masalah Defisit Perawatan Diri (Fitria, 2012)
3. Masalah Keperawatan
Masalah keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan defisit perawatan diri menurut Fitria (2012), adalah sebagai berikut:
a. Defisit perawatan diri b. Harga diri rendah c. Isolasi sosial
4. Intervensi Keperawatan
Berdasarkan Nursing Intervention Classification & Nursing Outcome
Clsasification (2016) :
Tabel 2.1 MASALAH
KEPERWATAN NOC NIC
Defist perawatan diri : mandi
Perawatan diri : mandi Kriteria hasil :
- Masuk dan keluar dari kamar mandi - Mengambil alat/bahan mandi - Mendapat air mandi - Menyalakan keran - Mengatur air - Mengatur aliran air
- Mandi di bak cuci - Mandi di bak mandi - Mandi dengan bersiram - Mencuci wajah - Mencuci badan Bantuan perawatan diri : mandi/berpakaian Definisi : membantu pasien melakukan kebersihan diri. Aktivitaas-aktivitas : 1. Pertimbangkan
budaya pasien saat mempromosikan aktivitas perawatan diri 2. Pertimbangkan usia pasien saat mempromosikan aktivitas perawatan diri
3. Tentukan jumlah dan tipe terkait bantuan
bagian atas - Mandi badan bagian bawah - Membersihkan area perineum - Mengeringkan badan yang diperlukan 4. Letakkan handuk,
sabun, deodoran, alat bercukur, dan asesoris lain yang diperlukan di tepi tempat tidur atau kamar mandi 5. Sediakan lingkungan
yang terapeutik dengan memastikan kehangatan, suasana rileks, privasi dan pengalaman pribadi 6. Fasilitsi pasien untuk
menggosok gigi dengan tepat
7. Fasilitasi pasien untuk mandi sendiri dengan tepat
8. Monitor kebersihan kuku, sesuai dengan kemampuan merawat diri pasien
9. Monitor integritas kulit pasien
10.Jaga ritual kebersihan 11. Fasilitasi untuk
mempertahankan rutunitas waktu tidur pasien yang biasanya, tanda sebelun tidur, dan obyek yang familiar untuk pasien 12.Dukung orangtua
atau keluarga berpartisipasi dalam ritual menjelang tidur yang biasa dilakukan, dengan tepat
13.Berikan bantuan sampai pasien
benar-benar mampu
merawat diri secara mandiri
Memandikan Aktivitas-aktivitas : - Bantu memandikan
pasien dengan menggunakan kursi untuk mandi, bak tempat mandi, mandi dengan mandiri, dengan menggunakan cara yang tepat atau sesuai keinginan pasien
- Cuci rambut sesuai dengan kebutuhan atau keinginan
- Mandi dengan air yang mempunyai suhu yang nyaman - Bantu dalam hal
perawatan perineal
jika memang
diperlukan
- Bantu dalam hal kebersihan
- Cukur pasien sesuai dengan indikasi - Tawarkan mencuci
tangan setelah eliminasi dan sebelum makan
- Monitor kondisi kulit saat mandi
- Monitor fungsi kemampuan saat mandi
Defist perawatan diri : berpakaian Perawatan diri : berpakaian/berdandan Kriteria hasil : - Memilih pakaian - Mengambil pakaian dari lemari - Mengambil pakaian dari lemari dinding - Mengambil pakaian - Memakai pakaian bagian atas - Memakai pakaian bagian bawah - Mengancingkan baju - Menggunakan ikat Berpakaian Definisi : memilih, memakaikan, dan melepaskan pakaian seseorang yang tidak bisa melakukan sendiri Aktivitas-aktivitas : 1. Identifikasi area dimana pasien membutuhkan bantuan dalam berpakaian 2. Monitor kemampuan pasien untuk berpakaian sendiri
pinggang
- Menutup resleting - Memakai kaos kaki - Memakai sepatu - Memasang tali sepatu - Membuka baju bagian
atas
- Membuka baju bagian bawah
3. Pakaikan pasien setelah
membersihkan diri diselesaikan
4. Dukung pasien untuk berpartisipasi dalam pemilihan pakaian 5. Dukung penggunaan
perangkat perawatan diri dengan tepat 6. Pakaikan pakaian
yang tidak ketat, dengan tepat
7. Ganti pakaian pasien pada saat waktu tidur 8. Tawari untuk
mencuci pakaian, bila perlu 9. Berikan bantuan sampai pasien sepenuhnya mampu memikul tanggung jawab untuk berpakaian sendiri Defist perawatan diri
: makan/minum
Perawatan diri : makan Kriteria hasil :
- Menyiapkan makanan yang akan disantap - Membuka tutup
makanan
- Menggunakan alat makan
- Menaruh makanan pada alat makan
- Mengambil cangkir atau gelas
- Memasukkan makanan ke mulut dengan jari - Memasukkan makanan ke mulut dengan sendok - Memasukkan makanan ke mulut dengan peralatan (makan) - Minum dengan gelas
atau cangkir
- Menaruh makanan di mulut
Bantuan perawatan diri: pemberian makan Definisi : membantu seseorang untuk makan Aktivitas-aktivitas : 1. Monitor kemampuan
pasien untuk menelan 2. Identifikasi diet yang
disarankan
3. Atur meja dan nampan makanan agar terlihat menarik 4. Ciptakan lingkungan
yang menyenangkan selama waktu makan 5. Pastikan posisi pasien
yang tepat untuk memfasilitasi
mengunyah dan menelan
6. Berikan bantuan fisik, sesuai kebutuhan 7. Berikan penurunan
- Memanipulasi makanan di mulut - Mengunyah makanan - Menelan makanan - Menelan minuman - Menghabiskan makanan
nyeri yang cukup sebelum makan, dengan tepat
8. Berikan kebersihan mulut sebelum makan 9. Makanan disajikan dengan tepat dalam nampansesuai
kebutuhan, misalnya daging yang sudah dipotong atau telur yang telah dikupas 10. Buka bungkusan
makanan
11. Jangan meletakkan makanan pada sisi dimana pandangan seseorang tidak dapat melihat
12. Gambarkan lokasi dari makanan yang ada di nampan untuk seseorang yang memiliki gangguan penglihatan
13. Posisikan pasien dalam posisi makan yang nyaman
14. Berikan pengalas makanan
15. Berikan sedotan minuman, sesuai kebutuhan atau sesuai keinginan
16. Berikan makanan dengan suhu yang paling sesuai
17. Sediakan makanan dan minuman yang disukai, dengan tepat 18. Monitor berat badan
pasien dengan tepat 19. Monitor status hidrasi
pasien dengan tepat 20. Dukung pasien untuk
makan di ruang makan, jika tersedia 21. Sediakan interaksi
sosial dengan tepat 22. Berikan alat-alat yang
bisa memfasilitasi pasien untuk makan sendiri
23. Gunakan cangkir dengan pegangan yang besar, jika diperlukan
24. Gunakan alat makan dan gelas yang tidak mudah pecah dan tidak berat, sesuai kebutuhan
25. Berikan penanda sesering mungkin dengan pengawasan ketat, dengan tepat Defist perawatan diri
: elminasi
Perawatan diri : eliminasi
Kriteria hasil :
- Merespon saat kandung kemih penuh dengan tepat waktu
- Menanggapi dorongan untuk buang air besar secara tepat waktu - Masuk dan keluar dari
kamar mandi - Membuka pakaian - Memposisikan diri di
toilet atau alat bantu eliminasi
- Sampai ke toilet antara dorongan atau hampir keluarnya urin
- Sampai ke toilet antara dorongan sampai keluarnya feses - Mengosongkan kandung kemih - Mengosongkan usus - Mengelap sendiri
setelah buang urin - Mengelap sendiri
setelah buang air besar - Berdiri setelah Bantuan perawatan diri: eliminasi Definisi : membantu dalam eliminasi Aktivitas-aktivitas : 1. Pertimbangkan
budaya pasien saat mempromosikan aktivitas perawatan diri 2. Pertimbangkan usia pasien saat mempromosikan aktivitas perawatan diri
3. Lepaskan baju yang diperlukan sehingga bisa melakukan eliminasi
4. Bantu pasien ke toilet atau tempat lain untuk eliminasi pada interval waktu tertentu 5. Pertimbangkan respon pasien terhadap kurangnya privasi
eliminasi atau berdiri dari kursi bantu untuk eliminasi
- Merapikan pakaian setelah ke kamar mandi
6. Beri privasi selama eliminasi
7. Fasilitasi kebersihan toilet setelah menyelesaikan
eliminasi
8. Ganti pakaian pasien setelah eliminasi 9. Siram
toilet/berdihkan alat-alat untuk eliminasi (kursi toilet/commode, pispot) 10. Buatlah jadwal aktivitas terkait eliminasi, dengan tepat 11. Instruksikan pasien atau yang lain dalam rutinitas toilet
12. Buatlah kegiatan eliminasi, dengan tepat dan sesuai kebutuhan
13. Sediakan alat bantu (misalnya, kateter eksternal atau urinal), dengan tepat 14. Monitar integritas kulit pasien Manajemen lingkungan Aktivitas-aktivits : 1. Ciptakan lingkungan
yang aman bagi pasien
2. Lindungi pasien dengan pegangan pada sisi/bantalan disisi ruangan yang sesuai
3. Dampingi pasien selama tidak ada perawatan bangsal 4. Sediakan tempat tidur
dengan ketinggian yang rendah
5. Letakkan benda yang sering digunakan dalam jangkauan pasien
6. Sediakan tempat tidur dan lingkungan yang bersih dan nyaman 7. Sediakan linen dan
pakaian dalam dengan kondisi baik
8. Singkirkan
bahan-bahan yang
dipergunakan selama penggantian pakaian dan eliminasi, serta bau apapun yang tersisa, sebelum kunjungan dan waktu makan
A. Tindakan keperawatan pada pasien
Menurut dermawan (2013), penatalaksanaan defisit perawatan diri dapat dilakukan dengan pendekatan strategi pelaksanaan (SP). Strategi pelaksanaan tersebut adalah :
SP 1 pasien :
1) Identifikasi masalah perawatan diri : kebersihan diri, berdandan, makan/minum, BAB/BAK.
2) Jelaskan pentingnya kebersihan diri. 3) Jelaskan cara dan alat kebersihan diri.
4) Latih cara menjaga kebersihan diri : mandi dan ganti pakaian, sikat gigi, cuci rambut, potong kuku.
5) Masukkan pada jadwal kegiatan harian untuk latihan mandi, sikat gigi (2 kali per hari), cuci rambut ( 2 kali per minggu), potong kuku (satu kali per minggu).
1) Evaluasi kegiatan kebersihan diri. Beri pujian. 2) Jelaskan cara dan alat untuk berdandan.
3) Latih cara berdandan setelah kebersihan diri : sisiran, rias muka untuk perempuan; sisiran, cukuran untuk pria.
4) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk kebersihan diri dan berdandan. SP 3 pasien :
1) Evaluasi kegiatan kebersihan diri dan berdandan. Beri pujian. 2) Jelaskan cara dan alat makan dan minum.
3) Latih cara dan alat makan dan minum. 4) Latih cara makan dan minum yang baik.
5) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kebersihan diri, berdandan, makan dan minum yang baik.
SP 4 pasien :
1) Evaluasi kegiatan kebersihan diri, berdandan, makan dan minum. Beri pujian.
2) Jelaskan cara buang air besar dan buang air kecil yang baik. 3) Latih buang air besar dan buang air kecil yang baik.
4) Masukkan pada jadwal kegiatan untuk latihan kebersihan diri, berdandan, makan dan minum serta buang air besar dan buang air kecil.
B. Tindakan keperawatan pada keluarga SP 1 keluarga :
1) Diskusikan masalah yang dirasakan dalam merawat pasien.
2) Jelaskan pengertian, tanda dan gejala dan proses terjadinya defisit perawatan diri (gunakan booklet).
3) Jelaskan cara merawat defisit perawatan diri. 4) Latih cara merawat : kebersihan diri.
5) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberikan pujian.
SP 2 keluarga :
1) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat atau melatih pasien kebersihan diri. Beri pujian.
2) Bimbing keluarga membantu pasien berdandan.
3) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan memberi pujian.
SP 3 keluarga :
1) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat atau melatih pasien kebersihan diri dan berdandan. Beri pujian.
2) Bimbing keluarga membantu makan dan minum pasien. 3) Anjurkan membantu pasien sesuai jadwal dan berikan pujian.
SP 4 keluarga :
1) Evaluasi kegiatan keluarga dalam merawat atau melatih pasien kebersihan diri, berdandan, makan dan minum. Beri pujian.
2) Bimbing keluarga merawat buang air besar dan buang air kecil pasien.
3) Jelaskan follow up ke PKM, tanda kambuh, rujukan.
5. Implementasi
Implementasi tindakan keoerawatan disesuaikan dengan rencana tindakan keperawatan. Sebelum melaksanakan tindakan yang sudah direncanakan, perawat perlu memvalidasi dengan singkat, apakah rencana tindakan masih sesuai dan dibutuhkan oleh pasien saat ini. Semua tindakan yang telah dilaksanakan beserta respons pasien didokumentasikan (Prabowo, 2014).
6. Evaluasi
Menurut Direja (2011), evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan keperawatan kepada pasien. Evaluasi dapat dibagi dua yaitu: Evaluasi proses atau formatif yang dilakukan setiap selesai melaksanakan tindakan, evaluasi hasil tau sumatif yang dilakukan dengan membandingkan antara respons pasien dan tujuan khusus serta umum yang telah ditentukan.
Evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan pendekatan SOAP, sebagai berikut
a. S : Respon subjektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan dapat di ukur dengan menanyakan kepada pasien langsung.
b. O : Respon objektif pasien terhadap tinddakan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dapat diukur dengan mengobservasi perilaku pasien pada saat tindakan dilakukan.
c. A : Analisis ulang atas data subjektif data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru atau ada data yang kontradiksi dengan masalah yang ada .
d. P : Perencanaan atau tindak lanjut berdasarkan hasil analisis pada respon pasien yang terdiri dari tindakan lanjut pasien dan tindakan lanjut oleh perawat.
Rencana tindakan lanjut dapat berupa:
a. Rencana diteruskan jika masalah tidak berubah
b. Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan
c. Rencanakan dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang dengan masalah yang ad serta diagnosa lama dibatalkan d. Rencana atau diagnosa selesai jika tujuan sudah tercapai dan yang
diperlukan adalah memelihara dan mempertahankan kondisi yang baru.
Pasien dan keluarga perlu dilibatkan dalam evaluasi aga dapat melihat perubahan berusaha mempertahankan dan memelihara. Pada evaluasi sangat diperlukan reinforment untuk menguatkan perubahan yang positif. Pasien dan keluarga juga dimotivasi untuk melakukan self-reinforcement (Prabowo, 2014).
9. Dokumentasi
Dokumentasi implementasi dan evaluasi tindakan keperawatan hendaknya tidak dianggap hal yang sepele oleh perawat maupun
peserta didik keperawatan, dan hal ini dianjurkan menggunakan formulir yang sama seperti dokumentasi proses keperawatan di unit rawat jalan. Gawat darurat, rehabilitasi (Direja, 2011).
Dokumentasi asuhan keperawatan dilakukan setiap tahap proses keperawatan, karenanya dokumentasi asuhan dalam keperawatan jiwa berupa dokumentasi pengkajian, diagnosis keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi (Dermawan, 2013).
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menerangkan atau menggambarkan masalah penelitian yang terjadi berdasarkan karakteristik tempat, waktu, umur, jenis kelamin, sosial,
ekonomi, pekerjaan, status perkawinan, cara hidup (pola hidup), dan lain-lain (Hidayat, 2012).
Penelitian ini ditujukan untuk menggambarkan bagaimana penerapan asuhan keperawatan pada pasien dengan gangguan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang 2017.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada dua responden dengan defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang dari tanggal 17 Mei 2017 sampai dengan 26 Mei 2017.
C. Populasi dan Sampel 1. Populasi
Populasi adalah seluruh subjek (misalnya manusia; klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam 2015). Populasi dari penelitian ini adalah 21 orang pasien gangguan jiwa yang mengalami defisit perawatan diri setelah di observasi yang berada di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang bulan Maret 2017.
2. Sampel
Sampel terdiri atas bagian populasi terjangkau yang dapat dipergunakan sebagai subjek penelitian melalui sampling. Sedangkan sampling adalah proses menyeleksi porsi dari populasi yang dapat mewakili populasi yang ada (Nursalam 2015). Sampel dalam penelitian ini adalah pasien defisit perawatan diri yang berda di Ruang Dahlia RSJ Prof HB Saanin Padang tahun 2017. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara mengumpulkan seluruh pasien gangguan defisit perawatan diri di Ruangan Dahlia yang sudah di observasi yang sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan oleh peneliti. Setelah diobservasi didapatkan 21 orang klien yang memenuhi kriteria, maka dilakukan cara simple random sampling atau acak sederhana yaitu dengan menggunakan cara pengambilan lot nama-nama pasien atau pengundian. Dalam penelitian ini sampel yang diambil adalah 2 (dua) orang pasien defisit perawatan diri yang berada di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang. Sample yang dipilih berdasarkan kriteria sampel.
Adapun kriteria sampel dalam penelitian ini adalah :
a. Kriteria inklusi yaitu karakteristik umum subjek penelitian dari suatu populasi target yang terjangkau dan akan diteliti (Nursalam, 2015). Kriteria Inklusi :
1) Pasien dan keluarga bersedia menjadi responden 2) Pasien gangguan jiwa dengan defisit perawatan diri
3) Klien gangguan jiwa berat yang sudah kooperatif dan sudah bisa berkomunikasi verbal dengan cukup baik
4) Pasien dengan defisit perawatan diri yang berada di Ruang Dahlia RSJ Prof HB Saanin Padang tahun 2017
b. Kriteria ekslusi yaitu menghilangkan/mengeluarkan subjek yang memenuhi kriteria inklusi dari studi karena berbagai sebab (Nursalam, 2015).
Kriteria ekslusi :
1) Pasien yang mengalami cacat fisik yang dapat mengganggu proses penelitian.
D. Instrumen Pengumpulan Data
Instrumen penelitian atau disebut alat pengumpulan data. Dalam pembuatannya mengacu pada variabel penelitian, definisi operasional dan skala pengukuran data yang dipilih (Suyanto, 2011). Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah format asuhan keperawatan, format skrining dan alat-alat pemeriksaan fisik.
Pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi langsung, dan studi dokumentasi.
1. Format pengkajian keperawatan terdiri dari: identitas pasien, alasan masuk, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, psikososial, genogram, konsep diri, dan program pengobatan.
2. Format analisa data terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, data, masalah, dan etiologi (pohon masalah).
3. Format diagnosa keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, tanggal dan paraf ditemukannya masalah, serta tanggal dan paraf dipecahkannya masalah.
4. Format rencana asuhan keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, diagnosa keperawatan, intervensi.
5. Format implementasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, implementasi keperawatan, dan paraf yang melakukan implementasi keperawatan. 6. Format evaluasi keperawatan terdiri dari: nama pasien, nomor rekam
medik, hari dan tanggal, diagnosa keperawatan, evaluasi keperawatan, dan paraf yang mengevaluasi tindakan keperawatan.
E. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama yaitu dengan menggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak (Sugiyono, 2014).
1. Observasi
Dalam observasi ini, peneliti mengobservasi atau melihat kondisi dari pasien seperti keadaan umum pasien, ekspresi pasien saat berkomunikasi dan kegiatan pasien di ruangan
2. Pengukuran
Pengukuran yaitu melakukan pemantauan kondisi pasien dengan metoda mengukur dengan menggunakan alat ukur pemeriksaan, seperti melakukan pengukuran tanda-tanda vital.
Peneliti melakukan wawancara dengan kedua partisipan menggunakan format pengkajian yang telah disediakan mulai dari pengkajian identitas sampai kepada aspek medik.
4. Dokumentasi
Peneliti melakukan pendokumentasian tindakan yang telah dilakukan.
F. Jenis – Jenis dan Cara Pengumpulan Data 1. Jenis Data
a. Data Primer
Data primer adalah data yang dikumpulkan langsung dari pasien seperti pengkajian kepada pasien, meliputi: Identitas pasien, riwayat kesehatan pasien, pola aktifitas sehari-hari dirumah dan pemeriksaan fisik terhadap pasien.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh langsung dari keluarga, perawat, rekam medis, dan data penunjang (hasil labor dan diagnostik) yang ada di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof HB Saanin Padang. Data sekunder umumnya berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam arsip yang tidak dipublikasikan.
2. Cara Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik, observasi langsung, dan studi dokumentasi. Adapun langkah-langkah pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah:
a. Peneliti meminta izin penelitian dari institusi asal peneliti yaitu Poltekkes Kemenkes Padang.
b. Meminta surat rekomendasi ke Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
d. Meminta izin ke Kepala Ruangan Rawat Inap Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
e. Melakukan pemilihan sampel dengan populasi pasien defisit perawatan diri di Ruang Dahlia Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang
f. Pemilihan sample dilakukan dengan teknik simple random sampling dimana sampel dipilih dengan sistem acak yaitu dengan pengundian, di dapatkan dua sampel untuk dijadikan responden. Dalam hal ini peneliti melakukan pemilihan acak dengan cara mengambil lot nama-nama pasien
g. Informed Consent diberikan kepada petugas ruangan sebelum meminta persetujuan responden
h. Mendatangi responden dan menjelaskan tentang tujuan penelitian i. Responden menandatangani Informed Consent, peneliti meminta
waktu responden untuk melakukan asuhan keperawatan, dan kemudian peneliti pamit dan meninggalkan RSJ Prof. HB. Saanin Padang.
G. Rencana Analisis
Data yang ditemukan saat pengkajian dikelompokan dan dianalisis berdasarkan data subjektif dan objektif, sehingga dapat dirumuskan diagnosa keperawatan, kemudian menyusun rencana keperawatan dan melakukan implementasi serta evaluasi keperawatan dengan cara dinarasikan. Analisis selanjutnya membandingkan asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada pasien 1 dan 2 dengan teori dan penelitian terdahulu (Nursalam, 2015).
BAB IV
DESKRIPSI KASUS DAN PEMBAHASAN
Deskripsi kasus ini menjelaskan tentang ringkasan pelaksanaan asuhan keperawatan pada klien defisit perawatan diri yang telah dilaksanakan di Rumah Sakit Jiwa HB Saanin Padang yang dimulai tanggal 17 – 22 Mei 2017. Gambaran asuhan keperawatan yang telah peneliti lakukan meliputi pengkajian keperawatan,
merumuskan diagnosa keperawatan, merumuskan intervensi keperawatan, melakukan implementasi keperawatan sampai melakukan evaluasi keperawatan. Kasus yang dikelola peneliti berjumlah 2 partisipan, partisipan 1 dengan Tn. N seorang laki-laki, berusia 47 tahun, beragama islam, tinggal di Komp. Villa Anggrek Blok 2 no. 26 RT. 04 RW. 13 Balai Gadang, Koto Tangah, Padang dan tidak memiliki pekerjaan. Partisipan 2 dengan Tn. M seorang laki-laki, berusia 45 tahun, beragama islam, tinggal di Jl. Sudirman no. 125 Jawi-Jawi, Pariaman Tangah dan tidak memiliki pekerjaan.
A. Deskripsi Kasus
Tabel 4.1 Asuhan
Keperawatan Partisipan 1 Partisipan 2
Identitas Klien Pengkajian dilakukan oleh peneliti pada tanggal 17 Mei 2017 pada pukul 11:00 WIB dan didapatkan identitas klien yaitu jenis kelamin laki-laki dengan inisial Tn. N. Partisipan 1 berusia 47 tahun, agama islam dan bertempat tinggal di Komp. Villa Anggrek Blok 2 no. 26 RT. 04 RW. 13 Balai Gadang, Koto Tangah, Padang. Klien dirawat sejak tanggal 24 april 2017.
Pengkajian dilakukan oleh peneliti pada tanggal 17 Mei 2017 pada pukul 14:00 WIB dan didapatkan identitas klien yaitu jenis kelamin laki-laki dengan inisial Tn. M berusia 45 tahun, agama islam dan bertempat tinggal di Jl. Sudirman no. 125 Jawi-Jawi, Pariaman Tangah. Klien dirawat sejak tanggal 2 februari 2017.
Alasan Masuk Partisipan 1 masuk Rumah Sakit Jiwa karena klien gelisah, marah-marah tanpa sebab, emosi labil, mudah tersinggung, meninju-ninju dinding dan adanya perasaan curiga. Klien mengatakan bertengkar dengan kakaknya.
Partisipan 2 masuk Rumah Sakit Jiwa karena klien mengamuk di RSM Regina Eye Center, memecah kaca, melempar mobil, marah-marah tanpa sebab, emosi labil, bicara-bicara sendiri, baju barlapis-lapis, bau dan kumal. Keluhan
Utama
Pada saat dilakukan pengkajian pada tanggal 17 Mei 2017, partisipan 1 mengatakan lebih suka sendiri dan tidur-tiduran di kamar. Partisipan 1 mengatakan malu, dan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan aktivitas. Tatapan masih tajam, sering mengepalkan tangannya, masih
Pada saat dilakukan pengkajian tanggal 17 Mei 2017, partisipan 2 mengatakan ada suara-suara yang menyuruhnya untuk tidak melakukan aktivitas, merasa tidak mampu melakukan aktivitas. Partisipan 2 tampak mondar-mandir dan bicara sendiri, menundukkan kepala. Mulut bau, pakaian
mencurigai orang lain. Penampilan partisipan 1 tampak tidak rapi, kuku pendek tapi kotor, sesekali tampak menggaruk-garuk kaki dan tangannya, dan saat makan masih berserakan dan mulut bau.
tidak rapi, terdapat penyakit kulit di seluruh tubuhnya, tampak menggaruk-garuk tubuhnya. Pada saat makan tampak masih berserakan.
Faktor Predisposisi
Partisipan 1 mengatakan sudah mengalami sakit sejak tahun 2004 dan sekarang dirawat untuk yang ketiga kalinya, dirawat terakhir kali pada tahun 2006. Partisipan 1 menggelandang ± 3 bulan ini dan kadang pulang ke rumah kakaknya.
Partisipan 1 sebelumnya sudah pernah dirawat di Rumah Sakit Jiwa Prof. HB. Saanin Padang. Namun sejak pulang dari rawatan partisipan 1 tidak pernah minum obat.
Partisipan 1 mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa dan tidak ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa. Partisipan 1 pernah sebelumnya melakukan kekerasan kepada anggota keluarganya yaitu bertengkar dengan kakaknya. Tidak pernah mengalami aniaya fisik, seksual, penolakan serta tindakan kriminal baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar. Partisipan 1 mengatakan tidak pernah memiliki pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.
Partisipan 2 mengatakan sebelumnya belum pernah dirawat. Klien menderita penyakit ini sejak tahun 2012. Partisipan 2 tidak pernah mengalami aniaya fisik, kekerasan seksual, tindakan kriminal serta penolakan baik dalam keluarga maupun lingkungan sekitar.
Partisipan 2 mengatakan tidak ada anggota keluarga yang menderita gangguan jiwa dan tidak ada keluarga yang memiliki riwayat gangguan jiwa serta tidak ada memiliki pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan.
Pemeriksaan Fisik
Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik pada partisipan 1 didapatkan TD : 120/80 mmHg, Nadi : 84 x/i, Pernafasan : 21 x/i, Suhu : 36,7
oC. Partisipan 1 mengatakan
tidak ada mengalami keluhan
Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik pada partisipan 2 didapatkan data TD : 130/70 mmHg, Nadi : 89 x/i, Pernafasan : 19 x/i, Suhu : 37 oC. Partisipan 2 mengatakan
fisik pada tubuhnya. Tampak klien menggaruk tangan dan kakinya. Gigi klien terlihat kotor.
kulitnya gatal-gatal, menderita penyakit kulit pada kepala, tangan, kaki dan badan.
Psikososial a. Genogram b. Konsep diri c. Hubungan Sosial d. Spiritual
Pada pengkajian psikososial, partisipan 1 mengatakan orangtuanya sudah meninggal dunia dan dia tinggal dengan kakaknya. Tn. N merupakan anak kelima dari 5 bersaudara. Terkadang Tn. N sering bertengkar dengan kakaknya, mengambil keputusan sendiri dan kabur dari rumah kakaknya.
Pengkajian kensep diri pada partisipan 1 didapatkan partisipan 1 mengatakan dirinya seorang laki-laki dan menyukai seluruh bagian tubuhnya serta menyadari perannya sebagai seorang ayah dari anak-anaknya dan suami dari istrinya serta mengatakan dirinya dihargai keluarganya, pada saat ini partisipan 1 ingin cepat sembuh dan ingin pulang.
Partisipan 1 mengatakan biasanya dekat dengan anak-anak, istri, kakak dan orangtuanya. Partisipan 1 tinggal dengan kakaknya. Tidak ada hambatan dalam berhubungan dengan orang lain disekitarnya. Partisipan 1 tidak ada berperan serta dalam kegiatan kelompok atau masyarakat sejak sakit.
Semenjak dirawat partisipan 1 mengatakan jarang melakukan ibadah seperti shalat dan berzikir namun Tn. N menjunjung tinggi dan mengatakan beragama islam
Pengkajian psikososial partisipan 2 didapatkan partisipan 2 merupakan anak ke 2 dari 3 bersaudara dan mengatakan dirinya belum menikah. Partisipan 2 mengatakan tidak memiliki tempat tinggal dikarenakan kedua orantuanya telah meninggal dunia. Didalam keluarga yang sering mengambil keputusan adalah ayahnya sebelum ayahnya meninggal.
Pada pengkajian pola konsep diri didapatkan Partisipan 2 mengatakan tidak ada anggota tubuh yang partisipan 2 tidak sukai. Partisipan 2 menyadari dirinya sebagai seorang laki-laki, tinggal di jalanan dan tidak punya keluarga. Partisipan 2 tidak ada berperan di masyarakat. Partisipan 2 ingin sembuh dan pulang kerumah sendiri. Partisipan 2 mengatakan masih bisa melakukan kegiatan-kegiatan dan mencari pekerjaan.
Pada pengkajian pola hubungan sosial, Partisipan 2 mengatakan tidak memiliki orang terdekat, tidak memiliki peran di dalam masyarakat. Partisipan 2 mengatakan tidak ada orang-orang yang mau menerima keberadaannya. Pada pengkajian pola spiritual didapatkan partisipan 2 mengatakan beragama islam. Tapi partisipan 2 mengatakan tidak perlu beribadah karena