Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
PUTUSANNomor 163 K/TUN/2014
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA MAHKAMAH AGUNG
Memeriksa perkara Tata Usaha Negara dalam tingkat kasasi telah memutuskan sebagai berikut dalam perkara:
KLEMEN TINAL, SE.MM., kewarganegaraan Indonesia, tempat tinggal di Jalan Percetakan Negara No. 1 A Jayapura Papua, pekerjaan Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua, dalam hal ini memberi kuasa kepada:
1. Zaffnat Masnifit,SH., 2. Hj. Hasniah,SH.MH., 3. Selviana Sanggenafa,SH., 4. Nuraida Duwila,SH., 5. Loerene Yunita,SH., Para Advokat/Penasehat Hukum, kewarganegaraan Indonesia beralamat di Kantor Kuasa Hukum Zeffnat Masnifit,SH. Dan Rekan di Jalan Raya Padang Bulan-Waena Jayapura, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 4 Februari 2014,
Pemohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat;
melawan:
KOMISI PEMILIHAN UMUM KABUPATEN MIMIKA, berkedudukan di Jalan Cenderawasih SP III Kabupaten Mimika, dalam hal ini diwakili oleh : Yohanes Kemong, SIP.M.Si., selanjutnya memberi kuasa kepda Abdul Rahman Upara,SH.MH., kewarganegaraan Indonesia, Advokat dan Konsultan Hukum pada Kantor Advokat dan Konsultan Hukum Abdul Rahman Upara,SH.MH., & Rekam beralamat di Jalan Raya Abepura Kotaraja Ruko Max Auto Reparasi Lt. 2 (Samping PN Jayapura) Distrik Abepura, Kota Jayapura, berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 15 Februari 2014,
Termohon Kasasi dahulu sebagai Tergugat; Mahkamah Agung tersebut;
Membaca surat-surat yang bersangkutan;
Menimbang, bahwa dari surat-surat yang bersangkutan ternyata bahwa sekarang Pemohon Kasasi dahulu sebagai Penggugat telah menggugat sekarang Termohon Kasasi dahulu sebagai Tergugat di muka persidangan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
Obyek Gugatan
Halaman 1 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
1 Bahwa yang menjadi obyek gugatan dalam perkara ini adalah Keputusan KomisiPemilihan Umum Kabupaten Mimika No.21/Kpts/KPU-MMK/ 031.434172/2013 tanggal 24 Agustus 2013 tentang Penetapan Calon Tetap Anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/ Kota tahun 2014;
2 Obyek gugatan dalam perkara ini telah memenuhi syarat sebagaimana dalam Pasal 1 angka 9 Undang Nomor 51 Tahun 2009 jo Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, keputusan Pejabat Tata Usaha Negara bersifat Kongkrit, Individual, dan Final :
• Kongkrit dimana obyek gugatan bersifat nyata berupa keputusan Penetapan Calon Tetap anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR,DPD,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/ Kota tahun 2014;
• Individual dimana obyek gugatan menyebut ditujukan kepada 35 (tiga puluh lima) orang Daftar Calon Tetap;
• Final dimana obyek gugatan menimbulkan akibat hukum, dengan diterbitkannya obyek gugatan berakibat tidak diakomodirnya pasangan yang diajukan oleh Penggugat dalam obyek gugatan dan surat keputusan obyek sengketa tidak lagi memerlukan persetujuan atasan dalam pelaksanaannya;
Dasar Gugatan
1 Bahwa dengan mengacu pada ketentuan Bab VII pasal 42 dan pasal 43 ayat (2) Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 7 tahun 2013 yang mengatur mengenai sengketa pemilu maka apabila ada sengketa Pemilu yang berkaitan dengan Keputusan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota mengenai penetapan DCT Anggota DPR, DPRD Provinsi maka Partai Politik yang merasa kepentingannya dirugikan oleh keputusan tersebut dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara. Bahwa dengan berpedoman pada ketentuan tersebut diatas maka Penggugat sebagai Ketua DPD Partai Golkar berhak untuk mengajukan Gugatan Sengketa Pemilu pada tahapan administrasi yang dilaksanakan oleh Tergugat di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar;
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
2 Bahwa Penggugat telah mengajukan permohonan penyelesaian secaraadministratif kepada Badan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Papua dan telah memperoleh Keputusan Sengketa No. 22/Kep-Sengketa/Bawaslu-Papua/ II/2014 yang diterima Penggugat pada tanggal 4 Februari 2014 sehingga telah memenuhi tenggang waktu mengajukan gugatan yaitu paling lama 3 (tiga) hari kerja sejak diterimanya Keputusan Bawaslu dan tanggal 7 Pebruari Penggugat mengajukan gugatan ini ke PTTUN Makassar;
3 Bahwa berdasarkan Pasal 52 dan 53 UU No.8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum anggota DPR, DPD, dan DPRD, Partai Politik berhak untuk melakukan seleksi administrasi terhadap bakal calon DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kab/ Kota sehingga Penggugat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua mempunyai kepentingan dan kewenangan untuk mengajukan Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) anggota DPRD Kabupaten Mimika sebagaimana diatur dalam Peraturan Internal Partai sesuai dengan Keputusan DPP Partai Golkar No. Kep-227/DPP/Golkar/I/2013 sekaligus merupakan jalan tengah untuk mengakomodir masing-masing pihak demi keadilan dan menghindarkan dari konflik internal partai;
4 Bahwa ternyata Tergugat telah mengakomodir Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang diajukan oleh kepengurusan DPD Partai Golkar di bawah kepemimpinan Eltius Omaleng yang tidak melalui Mekanisme Partai sesuai AD/ART Partai Golkar karena Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang diajukan oleh Eltius Omaleng tidak pernah dikonsultasikan kepada Penggugat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua;
5 Bahwa sebelum Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) ditetapkan oleh Tergugat dalam obyek sengketa in casu Penggugat telah memberikan himbauan berupa Surat Penyampaian agar Tergugat tidak melakukan proses penetapan Daftar Calon Sementara (DCS) dan Daftar Calon Tetap (DCT) yang telah diajukan oleh Sdr. Eltius Omaleng karena adanya persoalan Internal Partai yang berakibat dikeluarkannya SK Pemberhentian Sdr. Eltius Omaleng sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Mimika sehingga Sdr. Eltius Omaleng tidak mempunyai kewenangan untuk mengajukan Daftar Calon Tetap (DCT) yang dimuat dalam obyek sengketa in casu;
Halaman 3 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
6 Bahwa dengan dikeluarkannya Surat Keputusan DPD Partai Golkar ProvinsiPapua No.Kep-18/DPD/P-Golkar/P/VII/2013 tentang penunjukan Pemberhentian Ketua dan Sekertaris DPD Partai Golkar Kabupaten Mimika hasil Musdalub membawa konsekwensi yuridis Sdr. Eltius Omaleng tidak berhak dan berwenang untuk mengajukan ataupun menandatangani proses administrasi pengajuan Daftar Calon Tetap (DCT) atas nama DPD Partai Golkar Kabupaten Mimika sehingga dengan mengacu Pasal 31 Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 maka Tergugat harus meminta klarifikasi partai politik atas pemberhentian tersebut; 7 Bahwa pada tanggal 5 Agustus 2013 melalui Surat R-240/DPD/PG/P/VIII/2013
DPD Partai Golkar telah mengirimkan surat kepada Tergugat tentang Penyampaian pemberhentian Ketua dan Sekertaris DPD Partai Golkar Kabupaten Mimika atas nama Eltius Omaleng dan Sdr. Melianus Maturbangs sehingga dengan mengacu pada ketentuan Pasal 59 ayat (1) UU No.8 Tahun 2012 “ “dalam hal kelengkapan dokumen adminstrasi tidak terpenuhi maka KPU Provinsi dan KPU Kota mengembalikan persyaratan administrasi Bakal Calon Anggota DPR, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota kepada Partai Politik peserta pemilu dan Pasal 63 (4) UU No.8 Tahun 2012 maka KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota memberitahukan dan memberikan kesempatan kepada Partai Politik untuk mengajukan pengganti calon dan daftar calon sementara namun hal tersebut tidak dilakukan oleh Tergugat;
8 Bahwa akibat dari perbuatan Tergugat yang tidak melakukan ketentuan Pasal 63 ayat (4) UU No.8 Tahun 2012 tentang Pemilu dan menyatakan berkas pengajuan Daftar Calon Sementara (DCS) dan menetapkan menjadi Daftar Calon Tetap (DCT) yang diajukan oleh Sdr. Eltius Omaleng dianggap lengkap secara resmi maka Tergugat telah menerbitkan Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Mimika No.21/kpts/KPU-MMK/031.434172/ 2013 tanggal 24 Agustus 2013 tentang Penetapan Calon Tetap Anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR,DPD,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014 berdasarkan Hasil Pleno Kabupaten Mimika tertanggal 23 Agustus 2013 sesuai Berita Acara No. 54/BA/VIII/2013;
9. Bahwa Tergugat telah melanggar Asas-asas Umum Pemerintahan yang
Baik sebagaimana dimaksud pasal 53 Ayat (2b) Undang-undang No. 9 Tahun 2004 dimana Tergugat tidak cermat dalam melakukan seleksi bakal calon anggota DPRD
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Kabupaten Mimika sebagaimana dimaksud dalam ketentuan pasal 52,53,59 dan 63ayat (4) UU No.8 Tahun 2012 jo Pasal 31, 34 Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 ; Bahwa berdasarkan hal-hal tersebut di atas, Penggugat mohon kepada Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar agar memberikan putusan sebagai berikut:
Dalam Pokok Perkara
1 Mengabulkan gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2 Menyatakan batal atau tidak sah Keputusan Komisi Pamilihan Umum Kabupaten Mimika No.21/kpts/KPU-MMK/031.434172/2013 tanggal 24 Agustus 2013 tentang Penetapan Calon Tetap Anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR,DPD,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014;
3 Memerintahkan Tergugat untuk mencabut Keputusan Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Mimika No.21/kpts/KPU-MMK/031.434172/2013 tanggal 24 Agustus 2013 tentang Penetapan Calon Tetap Anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR,DPD,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota Tahun 2014;
4 Memerintahkan Tergugat untuk melakukan klarifikasi ulang kepada DPP Partai Golkar dan DPD Partai Golkar Provinsi Papua dalam pengajuan Daftar Calon Tetap (DCT) Anggota DPRD Kabupaten Mimika dari Partai Golkar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (4) UU No.8 Tahun 2012 jo Pasal 31 Peraturan KPU No.7 tahun 2013;
5. Menghukum Tergugat untuk membayar seluruh biaya yang ditimbulkan dalam perkara ini ;
Menimbang, bahwa terhadap gugatan tersebut Tergugat mengajukan eksepsi yang pada pokoknya atas dalil-dalil sebagai berikut:
1 Tentang Tenggang Waktu
a Tergugat mendalilkan telah mengajukan proses sengketa ini terlebih dahulu ke Bawaslu dan telah menerima keputusan No. 22/Kep-Seng/ Bawaslu-Papua/II/2014 yang diakui diterima oleh Penggugat tanggal 4 Februari 2014 sedangkan pengajuan gugatan ini tanggal 7 Januari 2014 (vide angka 2 gugatan), senyatanya tanggal yang tertera dalam gugatan adalah tanggal 5 Februari 2014, jika gugatan diajukan pada tanggal 7 Januari 2014 maka dapat di artikan Penggugat dalam mengajukan perkara
Halaman 5 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
ini belum mendapatkan putusan Bawaslu Provinsi Papua, atau adanyamanipulasi terhadap tanggal pengajuan gugatan yang diduga telah melewati batas waktu yang ditentukan oleh peraturan KPU Maupun Peraturan Mahkamah Agung;
b Bahwa tidak ada hasil keputusan Pengawas Pemilihan Umum Provinsi Papua yang menyatakan Tergugat sebagai pihak yang terkait telah melakukan pelanggaran peraturan penyelenggaraan pemilu terhadap penetapan Daftar Calon Tetap anggota DPRD Kabupaten Mimika (objek Gugatan);
2 Penggugat tidak memiliki kedudukan hukum (Legal Standing) sebagai Penggugat;
a Bahwa sesuai dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 Pasal 268 ayat 2 dan Peraturan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2012 tanggal 28 November 2012 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara Pemilu Pasal 2 (b) mengatur sengketa TUN Pemilu merupakan sengketa yang timbul antara: “ KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota dengan calon anggota DPR,DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang dicoret dari daftar calon tetap sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan KPU tentang Penetapan Daftar Calon Tetap sebagaimana dimaksud dalam Pasal 65 dan 75 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012, 4 (b) Penggugat adalah Calon anggota DPR,DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang dicoret dari daftar calon tetap sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan KPU tentang Penetapan Daftar Calon Tetap Pasal 65 Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012;
b Bahwa objek gugatan secara jelas dan tegas adalah keputusan Tergugat tentang Penetapan Daftar Calon Tetap Anggota DPRD Kabupaten Mimika pada Pemilihan Umum DPR,DPD,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota tahun 2014 dengan demikian yang berhak mengajukan gugatan adalah calon anggota DPRD Kabupaten Mimika yang dicoret dari DCT sebagai akibat dari dikeluarkannya keputusan Tergugat bukan Penggugat sebagai Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua;
c Bahwa in casu Penggugat bukanlah calon yang dicoret dari Daftar Calon Tetap anggota DPRD Kabupaten Mimika, dengan demikian Penggugat
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
tidak mempunyai kedudukan hukum (legal standing) dalam mengajukanperkara ini; 3 Objek Gugatan Kabur
a Bahwa objek sengketa adalah Surat Keputusan Tergugat terkait dengan daftar nama-nama calon anggota DPRD Kabupaten Mimika yang terdiri dari Partai Peserta Pemilu 2014 bukan hanya dari Partai golkar dengan demikian jika Penggugat mempersoalkan surat keputusan Tergugat maka hanya pada calon dari partai Penggugat bukan keseluruhan partai, in casu dengan mempersoalkan objek sengketa tanpa pengecualian maka gugatan ini dapat terkualifikasi kabur dan tidak jelas dan tidak cermat ;
b Bahwa objek sengketa berlaku untuk nama-nama dari partai peserta pemilu legislative 2014 bukan hanya dari partai golkar maka tidak ada dasar hukum Penggugat harus membatalkan objek sengketa secara keseluruhan;
c Bahwa dalam posita gugatan penggugat hanya mendalilkan dan mempermasalahkan calon yang diusulkan oleh Pimpinan DPD Partai Golkar Kabupaten Mimika Sdr. Eltius Omaleng, namun dalam petitum penggugat mohon agar objek sengketa dibatalkan dan dinyatakan tidak sah dengan demikian terjadi pertentangan antara posita dengan petitum, sebab dalam objek sengketa ada nama-nama calon anggota DPRD Kab. Mimika yang diakui dan dinyatakan sah oleh pimpinan partai lain;
d. Bahwa jika majelis hakim pemeriksa perkara ini harus membatalkan objek sengketa maka menimbulkan akibat hukum bagi Calon Anggota DPRD Kabupaten Mimika dari Partai lain yang telah melakukan seleksi dan pendaftaran sesuai dengan prosedur aturan yang berlaku sebagai calon tetap dalam pemilu legislative tahun 2014 ;
Bahwa terhadap gugatan tersebut, Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar telah mengambil putusan, yaitu Putusan Nomor 01/G/2014/PT.TUN.MKS., Tanggal 10 Maret 2014 yang amarnya sebagai berikut:
Dalam Eksepsi :
- Menerima eksepsi Tergugat; Dalam Pokok Perkara :
Halaman 7 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
- Menyatakan gugatan Penggugat tidak diterima;- Menghukum Penggugat untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.101.000,- (seratus satu ribu rupiah);
Menimbang, bahwa sesudah putusan terakhir ini diberitahukan kepada Penggugat pada Tanggal 10 Maret 2014, kemudian terhadapnya oleh Penggugat dengan perantaraan kuasanya berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 4 Februari 2014 diajukan permohonan kasasi secara lisan pada Tanggal 10 Maret 2014, sebagaimana ternyata dari Akta Permohonan Kasasi Nomor 01/G/2014/ PT.TUN.MKS., yang dibuat oleh Panitera Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar. Permohonan tersebut diikuti dengan Memori Kasasi yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar tersebut pada tanggal 14 Maret 2014;
Bahwa setelah itu, oleh Termohon Kasasi yang pada Tanggal 14 Maret 2014 telah diberitahu tentang Memori Kasasi dari Pemohon Kasasi, diajukan Jawaban Memori Kasasi (Kontra Memori Kasasi) yang diterima di Kepaniteraan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara Makassar pada Tanggal 19 Maret 2014;
Menimbang, bahwa permohonan kasasi a quo beserta alasan- alasannya telah diberitahukan kepada pihak lawan dengan saksama, diajukan dalam tenggang waktu dan dengan cara yang ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2009, maka secara formal dapat diterima;
alasan kasasi
Menimbang, bahwa alasan-alasan yang diajukan oleh Pemohon Kasasi dalam Memori Kasasi pada pokoknya sebagai berikut:
1. Putusan Judex Facti tidak menerapkan hukum sebagaimana mestinya:
1 Putusan a quo tidak sempurna pertimbangan hukumnya (Onvoeldoende Gemotiveerd) Bahwa dalam memutuskan perkara a quo Majelis Hakim Pengadilan Tinggi tidak sempurna pertimbangan hukumnya karena di dalam putusannya pada halaman 26 point 2 Majelis melihat adanya pertentangan antara ketentuan Pasal 43 ayat (2) Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 7 Tahun 2013 yang pada pokoknya menentukan bahwa apabila sengketa Pemilu yang berkaitan dengan Keputusan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota mengenai penetapan DCT Anggota DPR,DPRD Provinsi/DPRA dan DPRD kabupaten/Kota/DPRK di Provinsi Aceh
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 42 tidak dapat diselesaikan oleh partaipolitik dan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota, partai politik yang merasa kepentingannya dirugikan oleh keputusan tersebut dapat mengajukan gugatan ke pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.
Bahwa dari 2 (dua) ketentuan mengenai Penetapan daftar calon Tetap (DCT) yang dikeluarkan oleh KPU, KPU Provinsi dan KPU Kabupaten/Kota disimpulkan terdapat norma hukum yang saling bertentangan satu dengan yang lain, disatu sisi menurut Pasal 268 ayat (2) huruf b UU No. 8 Tahun 2012 Penggugatnya adalah Calon Anggota DPR,DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota yang dicoret dari daftar calon tetap sebagai akibat dikeluarkannya Keputusan KPU tentang Penetapan daftar calon tetap sedangkan disisi lain Pasal 43 ayat (2) Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 menyebutkan partai politik yang merasa kepentingannya dirugikan oleh keputusan tersebut (penetapan DCT) dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara.
Bahwa dengan adanya 2 (dua) norma yang saling bertentangan maka menurut pendapat Majelis Hakim berlakulah Azas Lex Superior derogate Legi Imperior yang mengandung arti “ Peraturan yang lebih tinggi menyampingkan peraturan yang rendah “ dengan demikian sesuai asaz tersebut ketentuan Pasal 43 ayat (2) Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 patut dikesampingkan.
Bahwa berdasarkan pertimbangan diatas maka dalil Penggugat sebagaimana telah diuraikan diatas tidaklah beralasan hukum dan patut untuk dikesampingkan.
1.2 Bahwa tidak ada hal yang saling bertentangan antara aturan hukum yang termuat dalam Pasal 268 ayat (2) huruf b Undang-undang No.8 Tahun 2012 dan Peraturan Mahkamah Agung RI No.6 Tahun 2012 dengan Pasal 43 ayat (2) Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 karena Peraturan KPU No.7 tahun 2013 sendiri dikeluarkan setelah UU No.8 Tahun 2012 sehingga dapat artikan bahwa Peraturan KPU dibuat untuk mengatur hal-hal bersifat teknis dan sebagai pelaksana UU No.8 Tahun 2012 sehingga sulit di mengerti jika KPU membuat aturan yang bertentangan dengan UU No.8 Tahun 2012. 1.3 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 8 ayat (1) huruf e UU No.15 Tahun 2011
tentang Penyelenggaraan Pemilihan Umum menyatakan bahwa tugas dan
Halaman 9 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
wewenang Komisi Pemilihan Umum dalam menyelenggarakan PemilihanUmum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yaitu menyusun dan menetapkan pedoman teknis untuk setiap tahapan pemilu setelah terlebih dahulu berkonsultasi dengan DPR dan Pemerintah.
Bahwa dalam teknis pelaksanaan tahapan pemilu yang telah dilaksanakan oleh Tergugat/Termohon Kasasi berpegang pada Peraturan KPU No.7 Tahun 2013 sehingga tidak bertentangan dengan hukum apabila Penggugat/ Pemohon Kasasi menggunakan dasar hukum Peraturan KPU No. 7 Tahun 2013 Pasal 43 ayat (2) “ Apabila ada sengketa pemilu yang berkaitan dengan keputusan KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota mengenai Penetapan DCT Anggota DPR,DPRD,DPRD kab/Kota tidak dapat diselesaikan oleh Partai Politik dan KPU, KPU Provinsi dan KPU Kab/Kota maka Partai Politik yang merasa kepentingannya dirugikan oleh Keputusan tersebut dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara “
1 Judex Facti telah salah menerapkan atau melanggar hukum yang berlaku.
1 Bahwa tidak ada pertentangan norma hukum antara UU No. 8 Tahun 2012 dengan Pasal 42 dan Pasal 43 Peraturan KPU No.7 Tahun 2013, Peraturan KPU No. 7 Tahun 2013 mengatur hal-hal yang bersifat teknis sehingga untuk mengisi kekosongan hukum Asas Lex Specialis derogate Legi Generalis maka berlakukah Peraturan KPU No. 7 Tahun 2013 sebagai dasar hukum Penggugat mengajukan gugatan.
2 Bahwa Penggugat mengajukan gugatan ini adalah bukan atas nama pribadi/ individu tetapi atas nama Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Papua yang merasa kepentingan Partai Golkar dirugikan atas obyek sengketa in casu .
PERTIMBANGAN HUKUM
Menimbang, bahwa terhadap alasan-alasan tersebut Mahkamah Agung berpendapat:
Bahwa alasan tersebut tidak dapat dibenarkan, oleh karena putusan Judex Facti sudah benar, karena berdasarkan Pasal 268 ayat (2) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilihan Umum Anggta DPR, DPD dan DPRD jo. Pasal 1 (2) Perma Nomor 6 Tahun 2012 tentang Tata Cara Penyelesaian Sengketa Tata Usaha Negara Pemilu Penggugat tidak mempunyai legal standing untuk
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
mengajukan gugatan ini, lagi pula pada hakekatnya alasan-alasan kasasi ini tidakdapat dibenarkan, karena alasan-alasan kasasi ini pada hakekatnya mengenai penilaian hasil pembuktian yang bersifat penghargaan tentang suatu kenyataan, hal mana tidak dapat dipertimbangkan dalam pemeriksaan pada tingkat kasasi, karena pemeriksaan pada tingkat kasasi hanya berkenaan dengan tidak dilaksanakan atau ada kesalahan dalam pelaksanaan hukum sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 30 Undang-Undang No. 14 Tahun 1985 sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2004;
Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan tersebut di atas, ternyata putusan Judex Facti dalam perkara ini tidak bertentangan dengan hukum dan/atau undang-undang, maka permohonan kasasi yang diajukan Pemohon Kasasi: KLEMEN TINAL, SE.MM., tersebut harus ditolak;
Menimbang, bahwa dengan ditolaknya permohonan kasasi, maka Pemohon Kasasi dinyatakan sebagai pihak yang kalah, dan karenanya dihukum untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi ini;
Memperhatikan pasal-pasal dari Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman, Undang-Undang Nomor 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang Nomor 3 Tahun 2009, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan perubahan kedua dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, serta peraturan perundang-undangan lain yang terkait;
MENGADILI,
Menolak permohonan kasasi dari Pemohon Kasasi: KLEMEN TINAL, SE.MM., tersebut;
Menghukum Pemohon Kasasi untuk membayar biaya perkara dalam tingkat kasasi sebesar Rp500.000,00 (lima ratus ribu Rupiah);
Demikianlah diputuskan dalam rapat permusyawaratan Mahkamah Agung pada
hari Rabu, tanggal 18 Juni 2014, oleh Dr.H.Imam Soebechi,SH.MH., Ketua Muda
Mahkamah Agung Urusan Lingkungan Peradilan Tata Usaha Negara yang ditetapkan oleh Ketua Mahkamah Agung sebagai Ketua Majelis, H.Yulius,SH.MH., dan Dr.H.Supandi,SH.M.Hum., Hakim-Hakim Agung sebagai Anggota Majelis, dan diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari itu juga oleh Ketua Majelis
Halaman 11 dari 12 halaman Putusan Nomor 163 K/TUN/2014
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
Mahkamah Agung Republik Indonesia
beserta Hakim-Hakim Anggota Majelis tersebut dan dibantu oleh Sumartanto,SH.MH.,Panitera Pengganti dengan tidak dihadiri oleh para pihak.
Anggota Majelis: Ketua Majelis,
Ttd/H.Yulius,SH.MH., ttd
Ttd/Dr.H.Supandi,SH.M.Hum., Dr.H.Imam Soebechi,SH.MH.,
Biaya-biaya perkara : Panitera Pengganti, 1. Meterai ... Rp 6.000,00 ttd 2. Redaksi ... Rp 5.000,00 Sumartanto,SH.MH., 3. Administrasi ………... Rp 489.000,00 + Jumlah ... Rp 500.000,00 Untuk Salinan MAHKAMAH AGUNG R.I.
a.n. Panitera
Panitera Muda Tata Usaha Negara,
ASHADI, SH. NIP. : 220000754
Disclaimer
Kepaniteraan Mahkamah Agung Republik Indonesia berusaha untuk selalu mencantumkan informasi paling kini dan akurat sebagai bentuk komitmen Mahkamah Agung untuk pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan fungsi peradilan. Namun dalam hal-hal tertentu masih dimungkinkan terjadi permasalahan teknis terkait dengan akurasi dan keterkinian informasi yang kami sajikan, hal mana akan terus kami perbaiki dari waktu kewaktu. Dalam hal Anda menemukan inakurasi informasi yang termuat pada situs ini atau informasi yang seharusnya ada, namun belum tersedia, maka harap segera hubungi Kepaniteraan Mahkamah Agung RI melalui :
Email : [email protected]