• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Peserta Didik revisi Makalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Makalah Peserta Didik revisi Makalah"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

Makalah Peserta Didik FAKULTAS TARBIYAH

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) RADEN INTAN LAMPUNG

2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat dan hidayahnya penulis dapat menyusun makalah ini yang berjudul “Peserta Didik”. Sholawat serta salam penulis sanjung agungkan kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad SAW, yang telah membawa kita dari zaman kegelapan sampai terang benderang sekarang ini. Makalah ini dibuat selain untuk melengkapi tugas hadits tarbawi, juga memberi wawasan bagi pembaca dan penulis khususnya.

Makalah ini berusaha untuk menyajikan pengetahuan dan penjabaran tentang Peserta Didik yang bermafaat bagi pembaca dan khususnya bagi penulis. Penulis menyadari makalah ini jauh dari sebuah kesempurnaan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun bagi penulis agar menjadi pelajaran yang berharga khususnya bagi penulis dan pembaca.

Bandar lampung,…Maret 2012

Penulis

(2)

DAFTAR ISI

Halaman JUDUL

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI... ii

BAB I PENDAHULUAN... iii

A. Latar belakang... iii

B. Rumusan masalah... iv

C. Tujuan Masalah... iv

BAB II PEMBAHASAN... 1

A. Pengertian Peserta Didik... 1

B. Aspek / Kebutuhan Peserta Didik... 2

C. Dimensi-dimensi Peserta Didik... 7

D. Tingkat Intelegensi Peserta Didik... 13

E. Etika Peserta Didik... 18

BAB III PENUTUP... 21

A. Kesimpulan ... 21

(3)

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang

Salah satu komponen dalam system pendidikan adalah adanya peserta didik, peserta didik merupakan komponen yang sangat penting dalam system pendidikan, sebab seseorang tidak bisa dikatakan sebagai pendidik apabila tidak ada yang dididiknya.

Peserta didik adalah orang yang memiliki potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik secara fisik maupun psikis, baik pendidikan itu dilingkungan keluarga, sekolah maupun dilingkkungan masyarakat dimana anak tersebut berada.

Sebagai peserta didik juga harus memahami hak dan kewajibanya serta melaksanakanya. Hak adalah sesuatu yang harus diterima oleh peserta didik, sedangkan kewajiaban adalah sesuatu yang wajib dilakkukan atau dilaksanakan oleh peserta didik.

Namun itu semua tidak terlepas dari keterlibatan pendidik, karena seorang pendidik harus memahami dan memberikan pemahaman tentang dimensi-dimensi yang terdapat didalam diri peserta didik terhadap peserta didik itu sendiri, kalau seorang pendidik tidak mengetahui dimensi-dimensi tersebut, maka potensi yang dimiliki oleh peserta didik tersebut akan sulit dikembangkan, dan peserta didikpun juga mengenali potensi yang dimilikinya.

Dalam makalah ini, kami mencoba menghidangkan persoalan-persoalan diatas guna mncapai tujuan pendidikan yang diharapakan, khususnya dalam pendidikan Islam.

B. Rumusan Masalah

Adapun dalam makalah ini penulis akan membahas tentang: 1. Pengertian peserta didik

C. Tujuan Masalah

(4)

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Peserta Didik

Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Secara terminologi peserta didik adalah anak didik atau individu yang mengalami perubahan, perkembangan sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian dari struktural proses pendidikan. Dengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fisik dan mental maupun fikiran.

Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan, tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita seorang selalu banyak mendapat bantuan dari orang tua ataupun saudara yang lebih tua. Dengan demikina dapat di simpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mentah (raw material) yang harus diolah dan bentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan.

Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat. Dalam proses ini peserta didik akan banyak sekali menerima bantuan yang mungkin tidak disadarinya, sebagai contoh seorang peserta didik mendapatkan buku pelajaran tertentu yang ia beli dari sebuah toko buku. Dapat anda bayangkan betapa banyak hal yang telah dilakukan orang lain dalam proses pembuatan dan pendistribusian buku tersebut, mulai dari pengetikan, penyetakan, hingga penjualan.

Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau kedewasaannya sesuai dengan kedewasaannya. Dalam konteks ini seorang pendidik harus mengetahuai ciri-ciri dari peserta didik tersebut.

(5)

1. kelemahan dan ketak berdayaannya 2. berkemauan keras untuk berkembang

3. ingin menjadi diri sendiri (memperoleh kemampuan).[1] b. Kriteria peserta didik :

Syamsul nizar mendeskripsikan enam kriteria peserta didik, yaitu :

1. peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri

2. peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan

3. peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.

4. peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fisik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu 5. peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau fitrah yang dapat

dikembangkan dan berkembang secara dinamis.[2]

Didalam proses pendidikan seorang peserta didik yang berpotensi adalah objek atau tujuan dari sebuah sistem pendidikan yang secara langsung berperan sebagai subjek atau individu yang perlu mendapat pengakuan dari lingkungan sesuai dengan keberadaan individu itu sendiri. Sehingga dengan pengakuan tersebut seorang peserta didik akan mengenal lingkungan dan mampu berkembang dan membentuk kepribadian sesuai dengan lingkungan yang dipilihnya dan mampu mempertanggung jawabkan perbuatannya pada lingkungan tersebut. Sehingga agar seorang pendidik mampu membentuk peserta didik yang berkepribadian dan dapat mempertanggungjawabkan sikapnya, maka seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala karakteristiknya. Adapun hal-hal yang harus dipahami adalah :

1. kebutuhannya 2. dimensi-dimensinya 3. intelegensinya 4. kepribadiannya.[3]

Allah SWT berfirman :

salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Q.S. Al – Qashas 28:26).

(6)

Pada sub bab sebelumnya tengah disinggung bahwasannya untuk mendapatkan keberhasilan dalam proses pendidikan maka seorang pendidik harus mampu memahami karakteristik seorang peserta didik itu sendiri. Kemudian salah satu dari nya adalah kebutuhan peserta didik.

Kebutuhan peserta didik adalah sesuatu kebutuhan yang harus didapatkan oleh peserta didik untuk mendapat kedewasaan ilmu. Kebutuhan peserta didik tersebut wajib dipenuhi atau diberikan oleh pendidik kepada peserta didiknya. Menurut buku yang ditulis oleh Ramayulis, ada delapan kebutuhan peserta didik yang harus dipenuhi, yaitu :

a. Kebutuhan Fisik

Fisik seorang didik selalu mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Proses pertumbuhan fisik ini terbagi menjadi tiga tahapan :

1. Peserta didik pada usia 0 – 7 tahun, pada masa ini peserta didik masih mengalami masa kanak-kanak

2. Peserta didik pada usia 7 – 14 tahun, pada usia ini biasanya peserta didik tengah mengalami masa sekolah yang didukung dengan peraihan pendidikan formal 3. Peserta didik pada 14 – 21 tahun, pada masa ini peserta didik mulai mengalami

masa pubertas yang akan membawa kepada kedewasaan.[4]

Pada masa perkembangan ini lah seorang pendidik perlu memperhatikan perubahan dan perkembangan seorang didik. Karena pada usia ini seorang peserta didik mengalami masa yang penuh dengan pengalaman (terutama pada masa pubertas) yang secara tidak langsung akan membentuk kepribadian peserta didik itu sendiri.

Disamping memberikan memperhatikan hal tersebut, seorang pendidik harus selalu memberikan bimbingan, arahan, serta dapat menuntun peserta didik kepada arah kedewasaan yang pada akhirnya mampu menciptakan peserta didik yang dapat mempertanggungjawabkan tentang ketentuan yang telah ia tentukan dalam perjalanan hidupnya dalam lingkungan masyarakat.

b. Kebutuhan Sosial

(7)

Dengan demikian kebutuhan sosial adalah kebutuhan yang berhubungan lansung dengan masyarakat agar peserta didik dapat berinteraksi dengan masyarakat lingkungannya, seperti yang diterima teman-temannya secara wajar. Begitu juga supaya dapat diterima oleh orang lebih tinggi dari dia seperti orang tuanya, guru-gurunya dan pemimpinnya. Kebutuhan ini perlu dipenuhi agar peserta didik dapat memperoleh posisi dan berprestasi dalam pendidikan.[5] Secara singkat dapat disimpulkan bahwa kebutuhan sosial adalah digunakan untuk memberi pengakuan pada seorang peserta didik yang pada hakekatnya adalah seorang individu yang ingin diterima eksistensi atau keberadaannya dalam lingkungan masyarakat sesuai dengan keberadaan dirinya itu sendiri.

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal (Q.S. Al-Hujarat, 49:13)

c. Kebutuhan Untuk Mendapatkan Status

Kebutuhan mendapatkan status adalah suatu yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk mendapatkan tempat dalam suatu lingkungan. Hal ini sangat dibutuhkan oleh peserta didik terutama pada masa pubertas dengan tujuan untuk menumbuhkan sikap kemandirian, identitas serta menumbuhkan rasa kebanggaan diri dalam lingkungan masyarakat.

Dalam proses memperoleh kebutuhan ini biasanya seorang peserta didik ingin menjadi orang yang dapat dibanggakan atau dapat menjadi seorang yang benar-benar berguna dan dapat berbaur secara sempurna di dalam sebuah lingkungan masyarakat.

d. Kebutuhan Mandiri

(8)

Karena pembentukan kepribadian yang berdasarkan pengalaman itulah yang menyebabkan para peserta didik harus dapat bersikap mandiri, mulai dari cara pandang mereka akan masa depan hingga bagaimana ia dapat mencapai ambisi mereka tersebut. Kebutuhan mandiri ini pada dasarnya memiliki tujuan utama yaitu untuk menghindarkan sifat pemberontak pada diri peserta didik, serta menghilangkan rasa tidak puas akan kepercayaan dari orang tua atau pendidik, karena ketika seorang peserta didik terlalu mendapat kekangan akan sangat menghambat daya kreatifitas dan kepercayaan diri untuk berkembang.

e. Kebutuhan Untuk Berprestasi

Untuk mendapatkan kebutuhan ini maka peserta didik harus mampu mendapatkan kebutuhan mendapatkan status dan kebutuhan mandiri terlebih dahulu. Karena kedua hal tersebut sangat erat kaitannya dengan kebutuhan berprestasi. Ketika peserta didik telah mendapatkan kedua kebutuhan tersebut, maka secara langsung peserta didik akan mampu mendapatkan rasa kepercayaan diri dan kemandirian, kedua hal ini lah yang akan menuntutnun langkah peserta didik untuk mendapatkan prestasi.

f. Kebutuhan Ingin Disayangi dan Dicintai

Kebutuhan ini tergolong sangat penting bagi peserta didik, karena kebutuhan ini sangatlah berpengaruh akan pembentukan mental dan prestasi dari seorang peserta didik. Dalam sebuah penelitian membuktikan bahwa sikap kasih sayang dari orang tua akan sangat memberikan mitivasi kepada peserta didik untuk mendapatkan prestasi, dibandingkan dengan dengan sikap yang kaku dan pasif malah akan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan sikap mental peserta didik. Di dalam agama Islam, umat islam meyakini bahwa kasih sayang paling indah adalah kasih sayang dari Allah. Oleh karena itu umat muslim selalu berlomba-lomba untuk mendapatkan kasih sayang dan kenikmatan dari Allah. Sehingga manusia tersebut mendapat jaminan hidup yang baik. Hal ini yang diharapkan para pakar pendidikan akan pentingnya kasih sayang bagi peserta didik.

g. Kebutuhan Untuk Curhat

(9)

masalah yang dia hadapi. Pada hakekatnya ketika seorang yang tengah menglami masa pubertas membutuhkan seorang yang dapat diajak berbagi atau curhat. Tindakan ini akan membuat seorang peserta didik merasa bahwa apa yang dia rasakan dapat dirasakan oleh orang lain. Namun ketika dia tidak memiliki kesempatan untuk berbagi atau curhat masalahnya dengan orang lain, ini akan membentuk sikap tidak percayadiri, merasa dilecehkan, beban masalah yang makin menumpuk yang kesemuanya itu akan memacu emosi seorang peserta didik untuk melakukan hal-hal yang berjalan ke arah keburukan atau negatif. h. Kebutuhan Untuk Memiliki Filsafat Hidup

Pada hakekatnya seetiap manusia telah memiliki filsafat walaupun terkadang ia tidak menyadarinya. Begitu juga dengan peserta didik ia memiliki ide, keindahan, pemikiran, kehidupan, tuhan, rasa benar, salah, berani, takut. Perasaan itulah yang dimaksud dengan filsafat hidup yang dimiliki manusia. Karena terkadang seorang peseta didik tidak menyadair akan adanya ikatan filsafat pada dirinya, maka terkadang seorang peserta didik tidak menyadari bagaimana dia bisa mendapatkannya dan bagaimana caranya. Filsafat hidup sangat erat kaitannya dengan agama, karena agama lah yang akan membimbing manuasia untuk mendapatkan dan mengetahui apa sebenarnya tujuan dari filsafat hidup. Sehingga tidak seorangpun yang tidak membutuhkan agama.

Agama adalah fitrah yang diberikan Allah SWT dalam kehidupan manusia, sehingga tatkala seorang peserta didik mengalami masa kanak-kanak, ia telah memiliki rasa iman. Namun rasa iman ini akan berubah seiring dengan perkembangan usia peserta didik. Ketika seorang peserta didik keluar dari masa kanak-kanak, maka iman tersebut akan berkembang, ia mulai berfikir siapa yang menciptakan saya, siapa yang dapat melindungi saya, siapa yang dapat memberikan perlinfungan kepada saya. Namun iman ini dapat menurun tergantung bagaiman ia beribadah.

(10)

Dan orang-orang yang diberi ilmu (ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu Itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji (Q.S. Saba 34:6). C. Dimensi – Dimensi Peserta Didik

Pada hakekatnya dimensi adalah salah satu media yang dibutuhkan oleh peserta didik untuk membentuk diri, sikap, mental, sosial, budaya, dan kepribadian di masa yang akan datang (kedewasaan).

Widodo Supriyono, dalam bukunya yang berjudul Filsafat manusia dalam Islam, secara garis besar membagi dimensi menjadi dua, yaitu dimensi fisik dan rohani. Dalam bukunya ia menyatakan bahwa secara rohani manusia mempunyai potensi kerohanian yang tak terhingga banyaknya. Potensi-potensi tersebut nampak dalam bentuk memahami sesuatu (Ulil Albab), dapat berfikir atau merenung, memepergunakan akal, dapat beriman, bertaqwa, mengingat, atau mengambil pelajaran, mendengar firman tuhan, dapat berilmu, berkesenian, dapat menguasai tekhnologi tepat guna dan terakhir manusia lahir keduania dengan membawa fitrah.[7]

Didalam Sub Bab ini penulis hanya akan membahas 7 dimensi saja. Adapun ketujuh dimensi tersebut ialah : dimensi fisik, dimensi akal, dimensi keberagamaannya, dimensi akhlak, dimensi rohani, dimensi seni, dan dimensi sosial.

a. Dimensi Fisik (Jasmani)

Fisik manusia terdiri dari dua unsur, yaitu unsur biotik dan unsur abaiotik. Manusia sebagai peserta didik memiliki proses penciptaan yang sama dengan makhluk lain seperti hewan. Namun yang membedakan adalah manusia lebih sempurna dari hewan, hal ini dikarenakan manuasia memiliki nafsu yang dibentengi oleh akal sedangkan hewan hanya memiliki nafsu dan insthink bukanya akal.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya (QS. Attin :4).

(11)

abiotik itu oleh Allah SWT diciptakanlah makhluk yang didalamnya diberikan sebuah energi kehidupan yang berupa ruh.

Ramayulis, dalam bukunya ia mengambil pendapat Alghazali yang menyatakan bahwa daya hidup yang berupa ruh ini merupakan vitalitas kehidupan yang sangat bergantung pada konstruksi fisik seperti susunan sel, fungsi kelenjar, alat pencernaan, susunan saraf, urat, darah, daging, tulang sumsum, kulit, rambut, dan sebagainya.[8]

b. Dimensi Akal

Ramayulis dalam bukunya ia mengambil pendapat al – Ishfahami yang membagi akal menjadi dua macam yaitu :

1. Aql Al-Mathhu’ : yaitu akal yang merupakan pancaran dari Allah SWT sebagai fitrah Illahi.

2. Aql al-masmu : yaitu akal yang merupakan kemampuan menerima yang

dapat dikembangkan oleh manusia.[9] Akal ini tidak dapat dilepaskan dari diri manusia, karena digunakan untuk menggerakkan akal mathhu untuk tetap berada di jalan Allah.

Akal memiliki fungsi sebagai berikut : 1. Akal adalah penahan nafsu.

2. Akal adalah pengertian dan pemikiran yang berubah-ubah dalam menghadapi. sesuatu baik yang nampak jelas maupun yang tidak jelas.

3. Akal adalah petunjuk yang membedakan hidayah dan kesesatan. 4. Akal adalah kesadaran batin dan pengaturan.

5. Adalah pandangan batin yang berpandangan tembus melebihi penglihatan mata

6. Akal adalah daya ingat mengambil dari masa lampau untuk masa yang akan dihadapi.[10]

(12)

ini perlu mendapatkan bimbingan serta didikan agar tetap mampu berkembang kearah yang positif.

c. Dimensi Keberagaman

Manusia sejak lahir kedunia telah menerima kodrat sebagai homodivinous atau homo religius yaitu makhluk yang percaya akan adanya tuhan atau makhluk yang beragama. Dalam agama islam diyakini bahwa pada saat janin manusia berada dalam kandungan seorang ibu, dan ketika ditiupkan nyawa kedalam janin tersebut oleh sang kholiq, maka janin mengatakan bahwa aku akan beriman kepada-Mu (Allah). Dari sinilah manusia mempunyai fitrah sebagai makhluk yang memiliki kepercayaan akan adanya tuhan sejak lahir. Dalam Ayat Al-qur’an ditegaskan :

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Al – A’raf : 172)

Berkaitan dengan adanya kepercayaan akan adanya tuhan, ilsam memiliki tiga implikasi dasar pada diri manusia yang didasarkan dari adanya satu kesamaan dari jutaan perbedaan yang terdapat diri manusia, yaitu :

1. impikasi yang berkaitan dengan pendidikan di masa depan, dimana fitrah dikembangkan seoptimal mungkin dengan tidak mendikotomikan materi

2. tujuan (ultimate goal) pendidikan, yaitu insan kamil yang akan berhasil jika manusia menjalankan tugasnya sebagi abdullah dan kholifah

3. muatan materi dan metodologi pendidikan, diadakan spesialisasi dengan metode integralistik dan disesuaikan dengan fitrah manusia.[11]

d. Dimensi Akhlak

Kata akhlak dalam pendidikan islam adalah seuatu yang sangat diutamakan. Dalam islam akhlak sangat erat kaitannya dengan pendidikan agama sehingga dikatakan bahwa akhlak tidak dapat lepas dari pendidikan agama.

(13)

muncul akhlak yang mulia. Maka akhlak dalam islam bersumber pada iman dan taqwa dan mempunyai tujuan langsung yaitu keridhoan dari Allah SWT.

Akhlak dalam islam memiliki tujuh ciri, yaitu : 1. bersifat menyeluruh atau universal

2. menghargai tabiat manusia yang terdiri dari berbagai dimensi 3. bersifat sederhana atau tidak berlebih-lebihan

4. realistis, sesuai dengan akal dan kemampuan manusia

5. kemudahan, manusia tidak diberi beban yang melebihi kemampuannya 6. mengikat kepercayaan dengan amal, perkataan, perbuatan, teori, dan praktek

7. tetap dalam dasar-dasar dan prinsip-prisnsip akhlak umum.[12]

Pendidikan akhlak mulai diberikan sejak manusia lahir kedunia, dengan tujuan untuk membentuk manusia yang bermoral baik, berkemauan keras, bijaksana, sempurna, sopan dan beradab, ikhlas, jujur, dan suci. Namun perlu disadari bahwasannya pendidikan akhlak akan dapat terbentuk dari adanya pengalaman pada diri peserta didik.

Disisi keagamaan, Ari Ginanjar menyatakan bahwa inti dari kecerdasan spiritual adalah pemahaman tentang kehadiran manusia itu sendiri yang muaranya menjadi ma’rifat kepada Allah SWT. Ketika manusia mendapatkan ma’rifat tersebut, maka manusia secara langsung akan dapat mengenali dirinya sendiri sekaligus mengenal tuhannya. Dalam prespeksi islam hal ini merupakan tingkat kecerdasan yang paling tinggi.

Kecerdasan spiritual memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Bersikap asertif, memiliki keyakinan yang tinggi dan pemahaman yang sempurna tentang ke-Esaan Tuhan, sehingga seorang tersebut tidak akan takut akan makhluk.

2. Berusaha mengadakan inovasi, selalu berusaha mencari hal baru untuk kemajuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang telah ada.

(14)

sehingga membuat manusia tersentuh perasaan dan mampu menanamkan sikap tunduk dan patuh yang mebuat hati bergetar ketika dapat merasakan sifat kemahaan tersebut.

Dalam islam kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan peningkatan iman yang merupakan sumber ketenangan batin dan keseleamatan, serta melakukan ibadah yang dapat membersihkan jiwa seseorang.

e. Dimensi Rohani (Kejiwaan)

Tidak jauh berbeda dengan dimensi akhlak, dimensi rohani dalah adalah dimensi yang sangat penting dan harus ada pada peserta didik. Hal ini dikarenakan rohani (kejiwaan) harus dapat mengendalikan keadaan manusia untuk hidu bahagia, sehat, merasa aman dan tenteram. Penciptaan manusia tidak akan sempurna debelum ditiupkan oleh Allah sebagian ruh baginya.

Allah SWT berfirman :

Maka apabila aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniup kan kedalamnya ruh (ciptaan)-Ku, Maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud (Al – hijr : 29).

Menurut Al- Ghazali ruh terbagi menjadi dua bentuk, yaitu al – ruh dan al- nafs. Al-ruh adalah daya manusia untuk mengenal dirinya sendiri, tuhan, dan mencapai ilmu pengetahuan, sehingga dapat menentukan manusia berkepribadian, berakhlak mulia serta menjadi motivator sekaligus penggerak bagi manusia untuk menjalankan perintah Allah. Al-nafs adalah pembeda dengan makhluk lainnya dengan kata lain pembeda tingkatan manusia dengan makhluk lain yang sama-sama memiliki al-nafs seperti halnya hewan dan tumbuhan.[13]

Menurut pendapat Al-Syari’ati ruh adalah bersifat dinamis, sehingga dengan sifat yang dinamis itu, memungkinkan manusia untuk mencapai derajat yang setinggi-tingginya. Atau malah akan menjerumuskannya dari pada derajat yang serendah-rendahnya. Hal ini dikarenakan manusia yang memiliki kebebasan untuk mendekatkan diri ke arah kutub rab nya atau malah kearah kutub tanah. Dengan demikian secara singkat dapat dikatakan bahwa ruh manusia dapat berkembang ketaraf yang lebih tinggi apabila bergerak kearah ruh illahinya. f. Dimensi Seni (Keindahan)

(15)

utama seni pada diri manusia adalah untuk beribadah kepada Allah dan menajalankan fungsi kekhalifahannya serta mendapatkan kebahagiaan spiritual yang menjadi rahmat bagi sebagian alam dan keridhoan Allah SWT.

Dalam agama islam Allah telah menghadirkan dimensi seni ini didalam Al-Qur’an. Kitab suci Al-qur’an memiliki kandungan nilai seni yang sangat mulia nan indah. Hal ini karena A-lqur’an adalah ekspresi dari Allah SWT untuk memberikan kebijakan dan pengetahuan kepada seluruh semesta Alam. Sehingga kesastraan yang terdapat di dalam Al-Qur’an benar-benar menunjukkan kehadiran Illahi didalam mu’jizat yang bersifat universal ini.

Allah SWT berfirman :

Dan kamu memperoleh pandangan yang indah padanya, ketika kamu membawanya kembali ke kandang dan ketika kamu melepaskannya ke tempat penggembalaan (QS. An-nahl : 6)

Keindahan selalu berkaitan dengan adanya keimanan pada diri manusia. Semakin tinggi iman yang dimiliki oleh manusia maka dia akan makin dapat merasakan keindahan akan segala sesuatu yang di ciptakan oleh tuhannya.

g. Dimensi Sosial

Dimensi sosial bagi manusia sangat erat kaitannya dengan sebuah golongan, kelompok, maupun lingkungan masyarakat. Lingkungan terkecil dalam dimensi sosial adalah keluarga, yang berperan sebagai sumber utama peserta didik untuk membentuk kedewasaan. Didalam islam dimensi sosial dimaksudkan agar manusia mengetahui bahwa tanggung jawab tidak hanya diperuntukkan pada perbuatan yang bersifat pribadi namun perbuatan yang bersifat umum.

Dalam dimensi sosial seorang peserta didik harus mampu menjalin ikatan yang dinamis antara keperntingan pribadi dengan kepentingan sosial. Ikatan sosial yang kuat akan mendorong setiap manusia untuk peduli akan orang lain, menolong sesama serta menunjukkan cermin keimanan kepada Allah SWT. Nabi SAW bersabda :

Demi allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, orang yang tidur kekenyangan, sedangkan tangannya kelaparan, padahal ia mengetahuinya.

D. Tingkat Intelegensi Peserta Didik

(16)

Besar Bahasa Indoneseia (KBBI) intelegensi adalah daya menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan mempergunakan alat-alat berpikir menurut tujuan dan kecerdasannya.

Berdasarkan pengertian diatas jelaslah bahwa intelegensi peserta didik adalah kecerdasan yang dimiliki peserta didik yang digunakan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan yang baru ataupun memahami sesuatu yang baru berdasarkan tingkat kecerdasan dan tujuan. Sehingga intelegensi atau kecerdasan dalam pendidikan islam dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu :

1. kecerdasan intelektual 2. kecerdasan emosional 3. kecerdasan spiritual 4. Kecerdasan Qalbiyah.

1. Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang berhubungan dengan pengambangan tingkat kemampuan dan kecerdasan otak, logika atau IQ. Ramayulis dalam bukunya menyatakan, kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang menuntut pemberdayaan otak, hati, jasmani, dan pengaktifan manusia untuk berinteraksi secara fungsional dengan yang lain.[14]

Kecerdasan intelektual pada diri manusia sangat erat kaitannya dengan proses berfikir atau kecerdasan fikiran yang disebut dengan aspek kognitif. Dalam aspek ini manusia dipaksa untuk dapat mempertimbangkan sesuatu, memecahkan atau memutuskan sesuatu masalah dengan menggunakan fikiran yang logis (logika). Secara umum kecerdasan intelektual dapat digolongkan sebagai berikut : · Tingkat Inteltua

· Super normal

· Normal dan sedikit dibawah normal · Sub Normal

- Normal atau subnormal, IQ 90 – 110 - Berdorline, IQ 70 – 90

(17)

- Genius, IQ diatas 140 - Gifted, IQ 130 – 140

Menurut pengantar pendidikan anak luar biasa yang disusun oleh Sam Isbani, mengatakan bahwa tingkat intelegensi peserta didik dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. berkelainan sosial 2. berkelainan jasmani 3. berkelainan mental

1. anak nakal/ delinquen

2. anak yang menyendiri, menjauhkan diri dari masyarakat

1. anak timpang

2. anak berkelainan penglihatan 3. anak berkelainan pendengaran 4. anak berkelainan bicara 5. anak kerdil

1. tingkat kecerdasan rendah

2. tingkat kecerdasan tinggi.[15]

2. Kecerdasan Emosional

Menurut Daniel Gomelen, kecerdasan Emosional adalah kemampuan untuk memotovasi diri sendiri, bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati, tidak melebih-lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati, menjaga akan beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berfikir, berempati dan berdo’a.[16]

(18)

memotivasi dirinya sendiri untuk melakukan sesuatu hal yang bersifat positif, bahkan diharapakan dengan adanya kecerdasan ini seorang peserta didik mampu untuk menghilangkan rasa malas yang timbul pada dirinya.

Ari Ginanjar mengemukakan aspek-aspek yang berhubungan dengan kecerdasan emosional, sebagai berikut :

1. Konsistensi (istiqamah) 2. Kerendahan hati (tawadhu’)

3. Berusaha dan berserah diri (tawakkal) 4. Ketulusan (ikhlas), totalitas (kaffah) 5. Keseimbangan (tawazun)

6. Integritas dan penyempurnaan (ihsan)

Didalam islam hal tersebut disebut dengan akhlaq al karimah.[17] Akhlaq Al Karimah ini mampu mengendalikan seseorang dari keinginan-keinginan, yang bersifat negatif, dan sebaliknya mengarahkan seseorang untuk melakukan hal-hal yang posistif.

Solovery menerangkan tentang ciri-ciri kecerdasan emosional sebagai berikut :

1. Respon yang cepat namun ceroboh 2. Mendahulukan perasaan daripada fikiran 3. Realitas simbolik yang seperti anak-anak

4. Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang 5. Realitas yang ditentukan oleh keadaan.[18]

Berdasarkan ciri-ciri tersebut dapat disimpulkan bahwa kecerdasan emosional yang bekerja secara acak tanpa pemikiran yang logis. Apabila tidak didampingi oleh pemikiran yang bersifat logis (Kecerdasan Intelektual) dikhawatirkan malah akan mendorong peserta didik untuk melakukan hal-hal yang negatif atau melakukan sesuatu yang monoton (tidak berkembang).

(19)

1. musyarathah, berjanji pada diri sendiri untuk membiasakan perbuatan baik dan membuang perbuatan buruk

2. muraqobah, memonitor reaksi dan perilaku sehari-hari

3. muhasabah, melakukan perhitungan baik dan buruk yang pernah dilakukan

4. mu’atabah dan mu’aqabah, mengecam keburukan yang dikerjakan dan menghukum diri sendiri.[19]

3. Kecerdasan Spiritual

Secara etimologi spritual berarti yang berkehidupan atau sifat hidup. Kecerdasan spiritula pada diri manusia berorientasi pada dua hal, yakni berorientasi kepada hal yang bersifat duniawi dan agama.

Ketika seseorang mengorirntasikan kecerdasan spiritual kedalam sesuatu yang bersifat duniawai, maka yang hadir dalam dirinya adalah bagaimana ia dapat memaknai hidup dan mengelola nilai-nilai kehidupan. Bukan untuk menentukan atau memilih keyakinan dan kepercayaan akan suatu agama.

Disisi keagamaan, Ari Ginanjar menyatakan bahwa inti dari kecerdasan spiritual adalah pemahaman tentang kehadiran manusia itu sendiri yang muaranya menjadi ma’rifat kepada Allah SWT. Ketika manusia mendapatkan ma’rifat tersebut, maka manusia secara langsung akan dapat mengenali dirinya sendiri sekaligus mengenal tuhannya. Dalam prespeksi islam hal ini merupakan tingkat kecerdasan yang paling tinggi.

Kecerdasan spiritual memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

1. Bersikap asertif, memiliki keyakinan yang tinggi dan pemahaman yang sempurna tentang ke-Esaan Tuhan, sehingga seorang tersebut tidak akan takut akan makhluk.

2. Berusaha mengadakan inovasi, selalu berusaha mencari hal baru untuk kemajuan hidup dan menghasilkan sesuatu yang lebih baik dari sesuatu yang telah ada. 3. Berfikit lateral, berfikir akan adanya sesuatu yang lebih tinggi dari semua

(20)

Dalam islam kecerdasan spiritual dapat dikembangkan dengan peningkatan iman yang merupakan sumber ketenangan batin dan keseleamatan, serta melakukan ibadah yang dapat membersihkan jiwa seseorang.

h. Kecerdasan Qalbiyah

Secara etimologi qalbiah berasal dari kata qalbu yang berarti hati. Dalam pengertian istilah kecerdasan qalbiyah berarti kemampuan manusia untuk memahami kalbu dengan sempurna dan mengungkapkan isi hati dengan sempurna sehingga dapat menjalin hubungan moralitas yang sempurna antara manusia dan ubudiyah.

Kecerdasan kalbu pada diri manusia yang sempurna akan menghandirkan kecerdasan agama dalam dirinya. Kecerdasan agama adalah tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari kecerdasan qalbiyah. Ketika seseorang telah mencapai kecerdasan agama maka secara langsung seorang tersebut akan memiliki kecerdasan yang melampaui kecerdasan intelktula, kecerdasan emosional, dan kecerdasan spiritual.

Ramayulis dalam bukunya menyatakah bahwa ciri utama kecerdasan qalbiyah adalah:

1. respon yang intuitif ilabiab

2. lebih mendahulukan nilai-nilai ketuhanan dari pada nilai-nilai kemanusiaan 3. realitas subyektif diposiskan sama kuatnya posisinya, atau lebih tinggi dengan realitas obyektif

4. didapat dengan pendekatan penerapan spiritual keagamaan dan pensucian diri.[20]

E. Etika Peserta Didik

Etika peserta didik adalah seuatu yang harus dipenuhi dalam proses pendidikan. Dalam etika peserta didik, peserta didik memiliki kewajiban yang harus dilaksanakan oleh peserta didik. Dalam buku yang ditulis oleh Rama yulis, menurut Al-Ghozali ada sebelas kewajiban peserta didik, yaitu :

(21)

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepadaku (Ad-dzariat : 56)

2. Mengurangi kecenderungan pada duniawi dibandingkan masalah ukhrowi. Dan Sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang

(Adh Dhuha : 4)

3. Bersikap tawadhu’ (rendah hati) dengan cara meninggalkan kepentingan pribadi untuk kepentingan pendidikannya.

4. Menjaga pikiran dan pertantangan yang timbul dari berbagai aliran

5. Mempelajari ilmu – ilmu yang terpuji, baik untuk ukhrowi maupun untuk duniawi.

6. Belajar dengan bertahap dengan cara memulai pelajaran yang mudah menuju pelajaran yang sukar.

7. Belajar ilmu sampai tuntas untuk kemudian hari beralih pada ilmu yang lainnya, sehingga anak didik memiliki spesifikasi ilmu pengetahuan secara mendalam. 8. Mengenal nilai-nilai ilmiah atas ilmu pengetahuan yang dipelajari.

9. Memprioritaskan ilmu diniyah sebelum memasuki ilmu duniawi.

10. Mengenal nilai-nilai pragmatis bagi suatu ilmu pengetahuan, yaitu ilmu yang dapat bermanfaat dalam kehidupan dinia akherat.

11. Anak didik harus tunduk pada nasehat pendidik.[21]

Agar peserta didik mendapatkan keridhoan dari Allah SWT dalam menuntut ilmu, maka peserta didik harus mampu memahami etika yang harus dimilkinya, yaitu :

1. Peserta didik hendaknya senantiasa membersihkan hatinya sebelum menuntut ilmu.

2. Tujuan belajar hendaknya ditujukan untuk menghiasi roh dengan berbagai sifat keutamaan.

3. Memiliki kemauan yang kuat untuk mencari dan menuntut ilmu di berbagai tempat.

4. Setiap peserta didik wajib menghormati pendidiknya.

(22)

Namun etika peserta didik tersebut perlu disempurnakan dengan empat akhlak peserta didik dalam menuntut ilmu, yaitu :

1. Peserta didik harus membersihkan hatinya dari kotoran dan penyakit jiwa sebelum ia menuntut ilmu, sebab belajar merupakan ibadah yang harus dikerjakan dengan hati yang bersih.

2. Peserta didik harus mempunyai tujuan menuntut ilmu dalam rangka menghiasi jiwa dengan sifat keimanan, mendekatkan diri kepada Allah.

3. Seorang peserta didik harus tabah dalam memperoleh ilmu pengetahuan dan sabar dalam menghadapi tantangan dan cobaan yang datang.

4. Seorang harus ikhlas dalam menuntut ilmu dengan menghormati guru atau pendidik, berusaha memperoleh kerelaan dari guru dengan mempergunakan beberapa cara yang baik.[23]

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan uraian tentang peserta didik dalam pendidikan islam dalam bab sebelumnya, maka penulis menarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Peserta didik adalah individu yang mengalami perkembangan dan perubahan, sehingga ia harus mendapatkan bimbingan dan arahan untuk membentuk sikap moral dan kepribadian.

2. Kebutuhan peserta didik yang berupa kebutuhan fisik, sosial, mendapatkan status, mandiri, berprestasi, ingin disayangi dan dicintai, curhat, dan mendapatkan filsafat hidup harus dipenuhi oleh pendidik untuk menunjang perkembangan dan pembentukan sikap moral peserta didik sebagai insan kamil.

(23)

4. Peserta didik akan melampaui kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual ketika ia telah mencapai tingkatan ilmu yang melibihi tingkatan kecerdasan qalbiyah, yaitu kecerdasan agama.

5. Etika peserta didik dalam proses pendidikan islam sangatlah berperan penting dalam proses perkembangan dan pencapaian peserta didik sebagai insan kamil.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu dkk. Ilmu Pendidikan Cetakan ke II. PT Rineka Cipta. Jakarta. 2006. Ramayulis. Ilmu Pendidikan Islam. Kalam Mulia. Jakarta. 2006.

Supriono,Widodo. Filsafat Manusia dalam Islam. Pustaka Belajar. Yogyakarta, 1996.

Vandha. Pendidikan Islam dan Sumber Daya Manusia. Jakarta. 2008.

[1] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Cetakan ke II, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2006, Hal 40

[2] Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2006, Hal. 77 [3] Ramayulis, Op.cit. Hal. 78

[4] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Cop.cit, Hal. 42 [5] Ramayulis, Cop.cit, Hal. 78

[13] Al-Ghazali, Mi’raj as-Salikhin, al-saqafat al-islamiyat, kairo, 1994, Hal. 16 [14] Ramayulis, Op.cit., Hal. 97

[15] Drs. Abu Ahmadi dan Dra. Nur Uhbiyati, Op.cit, Hal. 46

[16] Daniel Golmen, Kecerdasan Emosional Edisi Terjemahan Cetakan Ke 9 Gramediya, Jakarta, 1999, Hal. 45

[17] Ari Ginanjar Agustian, Emotional Spiritual Quotient : Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam, Arga, Jakarta, 2001, Hal. 199

(24)

[23] Ibid, Hal 120

(25)

makalah hadits tarbawi: hadits tentang peserta didik

MAKALAH HADITS TARBAWI: PESERTA DIDIK dan PERAN SERTA DALAM PENDIDIKAN

I. PENDAHULUAN

Peserta didik adalah orang yang memilii potensi dasar, yang perlu dikembangkan melalui pendidikan, baik melalui fsik maupun psikis, baik itu pendidikan di lingkungan keluarga, sekolah, maupun di lingkungan masyarakat dimana anak tersebut berada. Potensi dasar itu sering disebut sebagai ftrah.. dalam menentukan potensi ftrah

tersebut orang tua memiliki peran yang sangat penting dalam pendidikan.

Secara kodrati anak memerlukan pendidikan atau bimbingan karena dipahami sebagai kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dimiliki seorang anak. Manusia akan menemukan status sebagai manusia apabila telah mendapatkan pendidikan. Untuk itu pendidikan bagi anak menjadi factor penting dalam memanusiakan manusia. Melalui pendidikan itulah manusia dapat menemukan pengetahuan, kecakapan, dan keahlian dalam kehidupannya.

Sebagai makhluk yang imitasi (meniru) pendidikan menjadi hal yang harus diberikan pada anak. Tanpa dididik anak tidak akan mampu mengembangkan ftrah kebaikan yang dibawa sejak lahir tersebut. Untuk itu pendidikan terhadap anak harus dioptimalkan sehingga segala potensinya dapat berkembang dan bermanfaat dalam

hidupnya diwaktu akan dating. Dengan pendidikan anak akan mampu membedakan yang baik dan buruk, benar dan salah, dan lain

sebagainya sehingga hidupnya dapat berkualitas dan dapat berhasil sesuai apa yang diharapkan.

(26)

II. RUMUSAN MASALAH

A. Apa pengertian peserta didik ?

B. Bagaimana hadits tentang peserta didik ?

III. PEMBAHASAN

A. Pengertian peserta didik

Secara etimologi peserta didik adalah anak didik yang mendapat pengajaran ilmu. Sedangkan secara terminology peserta didik adalah anak atau individu yang mengalami perubahan, pertumbuhan dan perkembangan, sehingga masih memerlukan bimbingan dan arahan dalam membentuk kepribadian serta sebagai bagian struktural proses pendidikan. Bengan kata lain peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fsik, mental maupun psikis.

Sebagai individu yang tengah mengalami fase perkembangan tentu peserta didik tersebut masih banyak memerlukan bantuan, bimbingan dan arahan untuk menuju kesempurnaan. Hal ini dapat dicontohkan ketika seorang peserta didik berada pada usia balita selalu mendapatkan bantuan dari orang tuanya. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peserta didik merupakan barang mewah (raw material) yang harus diolah dan dibentuk sehingga menjadi suatu produk pendidikan. Berdasarkan hal tersebut secara singkat dapat dikatakan bahwa setiap peserta didik memiliki eksistensi atau

kehadiran dalam sebuah lingkungan, seperti halnya sekolah, keluarga, pesantren bahkan dalam lingkungan masyarakat.

Dengan diakuinya keberadaan seorang peserta didik dalam konteks kehadiran dan keindividuannya, maka tugas dari seorang pendidik adalah memberikan bantuan, arahan, dan bimbingan kepada peserta didik menuju kesempurnaan atau sesuai dengan

kedewasaannya.

kriteria peseta didik :

(27)

a. Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa

b. peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri

c. peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan d. peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu

baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada.

e. peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fsik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu

f. peserta didik adalah manusia yang memiliki potensi atau ftrah yang dapat dikembangkan dan berkembang secara dinamis. 1[1]

Di dalam proses pendidikan seorang peserta didik yang berpotensi adalah objek atau tujuan dari sebuah sistem pendidikan yang secara langsung berperan sebagai subyek atau individu yang perlu mendapat pengakuan dari lingkungan sesuai dengan keberadaan individu itu sendiri. Sehingga dengan pengakuan tersebut seorang peserta didik akan mengenal lingkungan dan mampu berkembang dan membentuk kepribadian sesuai dengan lingkungan yang dipilihnya dan mampu mempertanggungjawabkan perbuatannya pada lingkungan tersebut. Sehingga agar seorang pendidik harus mampu memahami peserta didik beserta segala karakteristiknya. Adapun hal-hal yang harus dipahami adalah:

1. kebutuhannya 2. dimensi-dimensinya 3. intelegensinya 4. kepribadiannya.2[2]

B. Hadits tentang peserta didik Karakteristik peserta didik

1 [1] Vandha. Pendidikan Islam dan Sumber Daya Manusia. (Jakarta. 2008) hlm. 72

(28)

Semua manusia dilahirkan dalam keadaan ftrah yaitu suci, sebagian ulama mengatakan bahwa ftrah tersebut adalah potensi beragama. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang berbunyi:

ُدَلوُي ٍدوُل ْوَم ُلُك مَلَس َو ِهْيَلَع ُ َا ىَلَص ُيِبَنلا َلاَق َلاَق ُهْنَع ُ َا َي ِضَر َةَرْيَرُه يِبَأ ْنَع

،َةَمْيِهَبْلا ُجَتْنُت ِةَمْيِهَبْلا ِلَثَمَك ِهِناَسِجَمُي ْوَأ ِهِناَرِصَنُي ْوَأ ِهِناَد ِوَهُي ُها َوَبَأَف ِةَرْطِفْلا ىَلَع

كلامو ىئاسنلاو ىذمرتلاو دوادوبأو ملسمو ىراخبلا هاور َءاَع ْد َج اَهْيِف ى َرَت ْلَه

هريغو

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa nabi SAW

bersabda:”Setiap anak dilahirkan menurut ftrah (potensi beragama islam), Selanjutnya, kedua orang tuanyalah yang membelokannya menjadi yahudi, Nasrani, atau Majusi bagaikan binatang melahirkan

binatang, apakah kamu melihat kekurangan padanya?” (HR. Imam

bukhari dan Imam Muslim, Abu Dawud, tirmidzi, Nasa’I, Malik) Dari hadits di atas ada dua hal yang dapat di pahami yaitu, pertama: setiap manusia yang lahir memiliki potensi, menjadi orang jahat dan potensi yang lainnya. Kedua: potensi tersebut dapat dipengaruhi oleh lingkungan terutama orang tua karena merekalah yang pertama yang sangat berperan dalam menjadikan anaknya menjadi yahudi, nasrani, dan majusi.

Konsep hadits tersebt sesuai dengan teori konvergensi pada perkembangannya dipengaruhi oleh keturunan dan lingkungan. Yaitu setiap anak yang lahir akan dipengaruhi oleh factor

keturunannya, contoh anak yang terlahir dari keluraga yang baik-baik tentunya dia akan menjadi anak yang baik serta dipengaruhi oleh lingkungannya. Hanya saja dalam konsep hadits di atas secara umum manusia lahir memiliki potensi yang sama. Maka dari itu sebagai orang tua wajib baginya untuk memilihkan lingkungan yang baik agar anak dapat berkembang ke arah yang baik.

Dalam hal ftrah anak, orang tua memiliki peranan terbesar dalam pendidikan anak. Orang tuanyalah yang akan

menentukan keberhasilan pendidikan anak. Pendidikan tersebut yang membedakan antara anak dengan hewan yang begitu lahir induknya membiarkan anaknya tumbuh dan berkembang untuk memenuhi tugasnya sebagai hewan dewasa karena hewan umumnya telah diberi perlengkapan yang sudah memungkinkan untuk berkembang

(29)

Menurut Al-Ghazali anak adalah amanah Allah yang harus dijaga dan dididik untuk mencapai keutamaan dalam hidup dan

mendekatkan diri kepada Allah. Semua bayi yang dilahirkan di dunia ini bagaikan sebuah mutiara yang belum diukir dan belum berbentuk tapi amat bernilai tinggi. Kedua orang tuanyalah yang akan mengukir dan membentuknya menjadi mutiara yang berkualitas tinggi dan disenangi semua orang. Ketergantungan anak terhadap orang tua hendaknya dikurangi secara bertahap sampai akil baligh.3[3]

Islam memandang bahwa kemampuan dasar manusia atau pembawaan disebut ftrah, dalam surat Ar-Rum ayat 30

disebutkan bahwa ftrah adalah:

“Maka hadapkanlah wajahmu kepada agama dengan selurus-lurusnya, (sesuai dengan kecenderungan aslinya), itulah ftrah Allah yang

menciptakan manusia atau ftrahh Itulah agama yang lurus, namun

kebanyakan orang tidak mengetahuinya”(QS. Ar-Rum: 30)

Fitrah dalam ayat tersebut implikasi kependidikan yang berkonotasi paham nativisme. Kata ftrah di atas mengandung makna kejadian yang membawa potensi dasar beragama yang benar yaitu agama islam. ftrah dalam pengertian ini berkaitan juga dengan faktor hereditas (keturunan) yang bersumber dari orang tua termasuk

keturunan beragama (religionitas) sebagaimana hadits di atas. Menurut Ali Fikri sebagaimana dikutip oleh H.M Arifn kecenderungan nafsu itu berpindah dari orangtua secara turun menurun, oleh karena itu anak adalah rahasia dari orang tuanya, karena manusia dari sejak awal perkembagannya berada digaris keturunan keagamaan orang tuanya. Jika orang tuanya muslim, maka anaknya menjadi muslim, dan jika orang tuanya kafr maka anaknya akan menjadi kafr pula.

Oleh karena itu usaha untuk mempengaruhi jiwa manusia melalui pendidikan dapat berperan positif untuk mengarahkan

perkembangan seseorang kepada jalan kebenaran, hal ini terutama dapat dilakukan oleh orang tua, karena tanpa usaha melalui

pendidikan yang baik dari orang tua, maka nak akan terjerumus ke dalam kesesatan dan kesalahan. Allah memberi kebebasan kepada

(30)

manusia untuk memilih dua jalan yaitu benar dan salah sebagaimana ayat berikut:

“dan aku tunjukkan dia dua macam(jalan yang benar dan jalan yang sesat)”h

Dengan demikian ftrah (potensi) manusia diberi Allah kemampuan untuk memilih jalan yang benar ataupun salah.

Kemampuan memilih tersebut dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ditempuh oleh seseorang. Dengan pendidikan akan melatih seseorang untuk mampu berfkir sehat, mampu membedakan yang benar dan yng salah, oleh karena itu dapat menentukan pilihan yang tepat pada jalan yang benar bukan jalan yang sesat.4[4]

Peserta didik memiliki kemuliaan

Sehubungan dengan ini ditemukan hadits antara lain:

:لوقي ملسو هيلع ا ىلص ا لوسر :تعمس لاق سنأ نع

ْمُكَدَل ْوَأ ا ْوُم ِرْكَأ

.ىئاضقلا هاور ْمُهَباَدآ ا ْوُن ِس ْحَأ َو

Dari Anas, saya mendengarkan Rasulullah SAW bersabda:Muliakanlah

anak-anakmu dan baguskanlah pendidikannya”h(HR. Qadhai).

Hadits tersebut memang perintah kepada orang tua untuk memuliakan anaknya dengan bagu, akan tetapi dapat juga kita pahami dari hadits tersebut tertuju kepada peserta didik, dimana seorang peserta didik harus memiliki kemuliaan atau martabat.

Adapun diantara membaguskan pendidikan anak pada hadits di atas yaitu: memberikan pemahaman-pemahaman kepada anak, memberikan teladan memilihkan lembaga pendidikan yang baik bagi perkembangan anaknya serta memilihkan teman sebaya yang tidak akan menjerumuskan anaknya kepada jalan yang tidak baik

Peserta didik terhindar dari kutukan Allah

اَيْنُدلا َنِإ َلَأ ُلوُقَي َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َا ىَلَص ِ َا َلوُسَر ُتْعِمَس ُلوُقَي َةَرْيَرُه ىبأ نع

ىذمرتلا هاور ٌمِلَعَتُم ْوَأ ٌمِلاَع َو ُهَلا َو اَم َو ِ َا ُرْكِذ َلِإ اَهيِف اَم ٌنوُعْلَم ٌةَنوُعْلَم

(31)

Dari Abu Hurairah, ia berkata: saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya dunia dan isinya terkutuk, kecuali dzikir kepada Allah dan hal-hal yang terkait dengannya, alim (guru),

dan mutaalim (peserta didik)h(HR. Tirmidzi)5[5]

Dari hadits di atas jelaslah bahwa salah satu yang tidak terhindar dari kutukan Allah adalah mutaalim/orang yang belajar (peserta didik), hal ini karena peserta didik merupakan sosok yang sedang mencari kebenaran yaitu dengan menuntut ilmu, sehingga ketika pendidik telah memiliki ilmu derajatnya akan diangkat oleh Allah SWT.

Peserta didik adalah orang yang lebih baik.

ُمِلاَعْلا ِمْلِعْلا اَذَهِب ْمُكْيَلَع َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َا ىَلَص ِ َا ُلوُسَر َلاَق َلاَق َةَماَمُأ يِبَأ ْنَع

ىناربطلا هاور ِساَنلا ِرِئاَس يِف َرْيَخ َل َو ِر ْجَلا يِف ِناَكي ِرَش ُمِلَعَتُمْلا َو

Dari Abi Umamah, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “hendaklah kamu ambil ilmu ini…orang alim(pendidik) dan mutaalim (peserta didik) berserikat dalampahala dan tidak ada manusia yang lebih

daripadanyah(HR. Thabrani).6[6]

Dalam hadits di atas, dapat dipahami bahwa pendidik dan peserta didik merupakan manusia yang lebih baik. Hal ini perlu

diperhatikan oleh pendidik agar tidak terjadinya otoriter dalam mengajar, serta guru merasa lebih baik di depan peserta didiknya. Tedapat juga hadits lain yaitu:

َمَلَعَت ْنَم ْمُكَلَضْفَأ َنِإ َمَلَس َو ِهْيَلَع ُ َا ىَلَص ُيِبَنلا َلاَق َلاَق َناَفَع ِنْب َناَمْثُع ْنَع

ىراخبلا هاور ُهَمَلَع َو َنآ ْرُقْلا

Utsman bin Afan berkata, Rasulullah SAW bersabda: “sesungguhnya orang yang paling utama diantara kamu adalah orang yang

mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannaya”h

5 [5] Al-Tirmidzi, Al-Maktabah Al-Syamilah

(32)

Hadits ini menjelaskan orang yang paling utama adalah yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Dalam hal ini kami berpendapat bahwa segala bentuk ilmu pengetahuan yang benar berasal atau ada didlam Al-Qur’an. Maka peserta didik yang

mempelajari ilmu agama akan tergolong kepada orang yang utama. Hadits tentang petunjuk ilmu dan hidayah

ىَدُهْلا َنِم ِهِب ُ اا يِنَثَعَب اَم ُلَثَم َل اَق مّلَسَو ِهْيَلَع ُ اا ىّلَص ّيِبّنلا ْنَع ىَسوُم يِبَأ ْنَع

َ َلَكْلا ْتَتَبْنَاَف َءاَمْلا ْتَلِبَق ٌةّيِقَن اَهْنِم َناَكف اًضْرَأ َباَصَأ ِرْيِثَكْلا ِثْيَغْلا ِلَثَمَك ِمْلِعْلاَو

اوُبِرَشَف َساّنلا اَهِب ُ اا َعَفَنَف َءاَمْلا ْتَكَسْمَأ ُبِداَجَأ اَهْنِم ْتَناَك َو َرْيِثَكْلا َبْشُعْلاَو

ُتِبْنُت َلَو ًءاَم ُكِسْمُت َل ٌناَعْيِق َيِه اَمّنِأ ىَرْخُأ ًةَفِئاَط اَهْنِم ْتَباَصَأَو اْوُعَرَزَو اْوَقَسَو

ْمَل ْنَم ُلَثَمَو َمّلَعَو َمِلَعَف ِهِب ُ اا يِنَثَعَب اَم ُهَعَفَنَو ِ اا ِنْيد يِف َهُقَف ْنَم ُلَثَم َكِلَذَف ً َلَك

هذهو دمحاو ناخيشلا هجرخا) ِهِب ُتْلِسْرُأ ىِذّلا ِ اا ىَدُه ْلَبْقَي ْمَلَو اًسْأَر َكِل َذِب ْعَفْرَي

( مالعو ملع نم لضف باب : ملعلا باتك : يراخبلا ةياور

Dari Abi Musa r.a. berkata : Nabi Saw bersabda : “

perumpamaan petunjuk (hidayah) dan ilmu yang diberikan Allah kepadaku bagaikan hujan yang mengguyur bumih Ada diantara bagian bumi itu yang gembur dan menyerap air, lalu ia menumbuhkan

rerumputan dan ilalang yang banyakh Dan ada sebagian lagi yang padat yang dapat menahan air (danau), kemudian Allah

menjadikannya bermanfaat bagi manusia sehingga mereka bisa minum binatang ternak dan bercocok tanamh Dan ada tanah tandus yang tidak bisa menyimpan air juga tidak bisa menumbuhkan

rerumputanh Itulah perumpamaan oranga yang memahami agama Allah dan mengambil manfaat dari apa yang diberikan Allah kepadakuh Ia tahu dan mengajarkan apa yang ia ketahuih Juga perumpamaan orang yang acuh tak acuh dan tidak mau menerima hidayah Allah

yang diberikan Allah kepadakuh” (Muttafaq’alaih)7[7]

Hadits di atas Pada hadis diatas Nabi Saw.

Mengumpamakan petunjuk dan ilmu yang untuk disampaikan kepada manusia yang menjadi tugas yang diberikan Allah, adalah seumpama hujan lebat yang menimpa suatu daerah. Sebagian tanah didaerah itu ada yang subur lalu tumbuhlah disitu tumbuhan-tumbuhan yang baik, yang kering yang basah serta banyak rambut. Sebagian tanah

(33)

didaerah itu keras, dan air tidak meresap ketanah. Karena itu tergenglah ar diatasnya, maka air itu dapat dipergunakan untuk

minuman manusia. Sebagian tanah yang lain merupakan licin, tandus, tidak dapat menampung air dan tidak dapat pula menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Bagian tanah yang pertama diibaratkan orang yang dapat mendalamkan pengetahuan dalam ilmu agama dan hukum Allah serta memberi manfaat kepadanya dengan apa yang Nabi

datangkan. Dia mempelajari agama dan mengajarkan apa yang telah dkatahui kepada orang lain.

Sebagian tanah yang tidak dapat menghasilkan apa-apa, tidak dapat menampung air menjadi minuman dan tidak dapat

menumbuhkan tanam-tanaman adalah perumpamaan orang yang sombong, tidak ada kemauannya untuk menerima ilmu atau tidak ada perhatiannya untuk beramal. Dia merupakan tanah yang benar-benar berzat garam, tidak dapat menampung air, bahkan merusaknya. Ini adalah perumpamaan orang yang tidak mau menerima agama. 8[8]

Dari hadis tersebut dapat diketahui bahwa ada golongan yang ilmunya memberi faedah bagi dirinya sendiri, dan bagi

masyarakatnya. Ada golongan yang ilmunya tidak memberi faedah kepada dia sendiri tetapi memberi faedah bagi orang lain. Dan ada yang tidak memberi faedah bagi dirinya sendiri dan tidak pula untuk orang lain.

IV. KESIMPULAN

Dari pembahasan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa peserta didik adalah seorang individu yang tengah mengalami fase perkembangan atau pertumbuhan baik dari segi fsik, mental maupun psikis.

(34)

kriteria peserta didik adalah sebagai berikut: Peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa, peserta didik bukanlah miniatur orang dewasa tetapi memiliki dunianya sendiri, peserta didik memiliki periodasi perkembangan dan pertumbuhan, peserta didik adalah makhluk Allah yang memiliki perbedaan individu baik disebabkan oleh faktor bawaan maupun lingkungan dimana ia berada, peserta didik merupakan dua unsur utama jasmani dan rohani, unsur jasmani memiliki daya fsik, dan unsur rohani memiliki daya akal hati nurani dan nafsu

Terdapat hadits-hadits yang menjelaskan tentang peserta didik diantaranya sudah tertera pada pembahasan di atas yaitu hadits tentang keutamaan peserta didik, kemuliaan peserta didik, hadits tentang petunjuk ilmu dan hidayah.

V. PENUTUP

Demikian makalah ini kami buat. Kami sadar bahwa dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah kami selanjutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Amin

DAFTAR PUSTAKA

Al-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir. Al-Maktabah Al-Syamilah.

Al-Tirmidzi, Al-Maktabah Al-Syamilah.

Dhofr Muhil. Syarah dan Terjamah Riyadhus Shalihin/ Imam Nawawi.

Jakarta: Al-‘I’tishom.

Hasbi Ash Shidieqy, Teuku Muhammad. Mutiara Hadis 6 Pemerintahan

& Jihad, Berburu, Qurban, Minuman &Perhiasan, Tata Krama, Memberi

(35)

Keutamaan Etika, Syair, Ru’yah & Mimpi, Beberapa Keutamaan Nabi

Sawh,Keutamaan Para Nabih Semarang: Pustaka Rizki Putra. 2003.

Supriyono Widodo. Filsafat Manusia dalam Islamh Yogyakarta: Pustaka

Belajar. 1996.

Suryani, Hadits Tarbawih Yogyakarta: Teras. 2012.

Uhbiyati Nur. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan Islamh Semarang: Pustaka

Rizki Putra. 2002.

Referensi

Dokumen terkait

Dokumen Rencana Kinerja Tahunan Kecamatan Bandung Wetan Kota Bandung Tahun 2015 ini disusun berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandung Nomor 08 Tahun 2011 tentang Perubahan

Penempatan obyek yang telah selesai dikerjakan, sebaiknya diatur dengan mempertimbangkan cara kerja secara keseluruhan, termasuk urut-urutan gerakannya.Untuk membantu

Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak mempunyai tugas melaksanakan koordinasi, bimbingan teknis, pengendalian, analisis, evaluasi, penjabaran kebijakan serta pelaksanaan tugas

Seiring bertambahnya jumlah penduduk yang pesat dan semakin meningkatnya taraf hidup masyarakat, mengakibatkan kebutuhan rumah tinggal semakin tinggi karena rumah

Such a theology would need to make religion change its view about prostitution from an unjust one of total condemnation not only of the institution of

dan Sumatera Barat) yang berperan penting dalam meningkatkan rasa nasionalisme dan patriotisme masyarakat Indonesia. Hasil dari wawancara kami menunjukkan bahwa hanya

Pada saat pengisian Surat Bukti Gadai, Putra menginginkan jangka waktu Uang Kelebihan dinyatakan kadaluarsa apabila telah melebihi jangka waktu 6 (enam) bulan sejak