208 TINGKAT SERANGAN ULAT API (Setothosea asigna van Eecke) PADA KELAPA SAWIT KATEGORI TANAMAN MENGHASILKAN (TM) PTPN IV UNIT USAHA
KEBUN BAH BIRUNG ULU
Level of Attack of Fire Caterpillars (Setothosea asigna van Eecke) on Palm Oil Category Production (TM) PTPN IV Business Unit Bah Birung Ulu
Sari Anggraini1* dan Rizky Pebriondo Purba2
Program Studi Agroteknologi, Universitas Prima Indonesia Medan, Indonesia Jl. Danau Singkarak Gg madrasah Medan 20117
1*)[email protected], 2)[email protected]
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan hama ulat api yang menyerang tanaman kelapa sawit di blok 17 F afdeling III kebun Bah Birung Ulu. Penelitian ini telah dilaksanakan di blok 17 F afdeling III kebun Bah Birung Ulu selama 1 minggu pada bulan Maret 2021. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode deskrptif dengan pengambilan sampel secara purposive sampling. Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini menggunakan data primer. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data mengenai pengamatan langsung dilapangan pada blok pengamatan, dengan luas 14 ha. Hasil pengamatan dilokasi penelitian dapat disimpulkan bahwa tingkat serangan hama ulat api di blok 17 F afdeling III kebun Bah Birung Ulu dengan hasil rata rata 6 ulat api per pokok dengan kategori ringan.
Kata kunci: Setothosea asigna van Eecke, Tingkat Serangan Hama, Bah Birung Ulu. ABSTRACT
This study aims to determine the level of caterpillar pests that attack oil palm plants in block 17 F Afdeling III, Bah Birung Ulu garden. This research has been carried out in block 17 F afdeling III Bah Birung Ulu garden for 1 week in March 2021. The method used in this research is descriptive method with purposive sampling. The data collected in this study used primary data. The type of data used in this study is data regarding direct field observations in the observation block, with an area of 14 ha. The results of observations at the research location can be concluded that the level of attack of caterpillars in block 17 F afdeling III Bah Birung Ulu garden with an average yield of 6 caterpillars per tree with a mild category.
Keywords: Setothosea asigna van Eecke, Pest Attack Rate, Bah Birung Ulu
PENDAHULUAN
Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki potensi untuk penanaman investasi perkebunan kelapa sawit, karena memiliki beberapa keunggulan. Indonesia memiliki kesesuaian lahan yang dikehendaki oleh tanaman kelapa sawit terbentang mulai wilayah Timur hingga Barat Indonesia. Indonesia memiliki lahan potensial untuk kelapa sawit mencapai
26,5 juta hektar yang tersebar di berbagai provinsi di Indonesia (Badan Pusat Statistik, 2013).
Berdasarkan data dari Pusat Penelitian Kelapa Sawit (2011), salah satu permasalahan penting dalam perkebunan tanaman kelapa sawit adalah serangan ulat pemakan daun yang menyerang baik pada periode tanaman belum menghasilkan
209
(TBM) maupun tanaman menghasilkan (TM).Ulat api merupakan hama utama yang menyerang tanaman kelapa sawit. Ulat api menyerang daun kelapa sawit mulai dari pembibitan, tanaman belum menghasilkan (TBM) dan tanaman menghasilkan (TM).
Sahari (2012) melaporkan bahwa ulat api lebih banyak ditemukan pada tanaman kelapa sawit umur kurang dari tiga tahun.
Serangan ulat api dapat menurunkan produksi tanaman kelapa sawit. Hama yang menyerang kelapa sawit pada setiap daerah tidak selalu sama. Hama tersebut ada yang bersifat permanen ada pula yang bersifat sementara. Kerugian yang ditimbulkan oleh hama sangat besar dampaknya, dapat menurunkan produksi bahkan dapat menyebabkan kematian pada tanaman.
Informasi tentang hama yang menyerang kelapa sawit merupakan salah satu aspek yang perlu mendapat perhatian dalam menunjang program pengembangan pertanaman kelapa sawit, selain itu informasi tersebut juga berguna untuk mengetahui bagaimana cara pengendalian atau penanggulangan yang dapat dilakukan dengan tepat.
Menurut badan pusat statistik Indonesia (2018) luas perkebunan kelapa sawit di provinsi Sumatera Utara 1.601,90 ribu hektare dan Luas perkebunan kelapa
sawit di kabupaten simalungun 27.201,00 ha. Salah satu dimiliki oleh kebun Bah Birung Ulu dengan luas 2.432 ha. Menurut Selayang Pandang PTPN IV (2020) Kebun Bah Birung Ulu memiliki ketinggian 660- 1.100 mdpl, dan memiliki suhu 25o-26 . Tinggi rendahnya serangan hama ulat api (Setothosea asigna Van Eecke) di kebun Bah Birung Ulu sangat dipengaruhi oleh ketinggian dan suhu udara pada lokasi tersebut. Semakin tinggi suhu udara maka semakin mudah hama ulat api untuk berkembang biak, sedangkan jika suhu semakin rendah maka hama ulat api akan semakin sulit untuk berkembang biak.Berdasarkan uraian diatas maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap tingkat serangan hama ulat api yang menyerang tanaman kelapa sawit di kebun Bah Birung Ulu PTPN IV yang bertujuan untuk mengetahui tingkat serangan hama ulat api dan sebagai sumber informasi kepada kebun.
METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan Kecamatan Jorlang Hataran Kabupaten Simalungun. Lokasi penelitian dilaksanakan di Kebun Bah Birung Ulu PTPN IV, Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret 2021.
210 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah kamera, laptop, kertas label, cat pewarna, pinset, alat pengkait, dan alat tulis. Bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Ulat Api (Setothosea asigna van Eecke) dan pelepah tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq).
Metode Penelitian
Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode survei di lahan perkebunan kelapa sawit di blok 17 F afdeling III kebun Bah Birong Ulu PTPN IV yang telah menghasilkan (TM) seluas 14 ha.
Pengambilan sampel sebanyak 6 pohon/ha, setelah ditentukan pohon sampel maka akan dilakukan pengamatan dengan cara mengkait pelepah ke 9, kemudian dihitung ulat api (Setothosea asigna Van Eecke) yang didapat dan dilakukan perhitungan sesuai rumus yang sudah ditentukan.
Pelaksanaan penelitian diawali dengan penentuan lokasi yang akan dilakukan pengamatan. Setelah ditentukan lokasi penelitian dan menentukan titik sampel yang akan dijadikan bahan, maka ulat api akan dihitung pada pelepah ke 9 yang akan menjadi sampel yang sudah ditentukan. Penentuan tanaman contoh berasal dari 1 ha dengan mengambil 6 pohon atau 6 titik sampel pada tanaman
menghasilkan berumur 4 tahun seluas 14 ha pada blok 17 F afdeling III unit usaha kebun Bah Birong Ulu PTPN IV. Tanaman kelapa sawit yang sudah ditentukan sebagai sampel diberi tanda dengan menggunakan cat pewarna, selanjutnya ulat api diambil dengan menggunakan pengkait dan pinset, kemudian ulat api yang didapat dimasukkan kedalam botol plastik yang sudah disediakan dan sudah ditandai dengan menggunakan label.
Gambar 1. Penentuan titik contoh tanaman sampel
Penentuan Tingkat Serangan Hama Ulat Api
Perhitungan tingkat serangan hama ulat api dihitung dengan menggunakan rumus, (Tim pengembangan Materi LPP, 2007):
Efektif:
Tingkat skor/batas ambang yang digunakan:
1. <7 = Ringan 2. 7-9 = Sedang 3. ≥10=Besar
211
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Tingkat serangan hama ulat api di blok 17 F
Perhitungan Tingkat serangan hama ulat api dihitung dengan menggunakan rumus:
Efektif=
= = 5,9
Berdasarkan tabel 1 dan dilakukan perhitungan sesuai rumus, dapat disimpulkan bahwa tingkat serangan ulat api di blok 17 F dalam kategori ringan karena memiliki rata- rata 5,9. Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan dari serangan hama ulat api yaitu intensitas curah hujan, suhu udara, dan kelembaban udara.
Penyebab lain yaitu ulat api mudah menyebar dengan bantuan angin dan terbawa
manusia, serangan predator, ataupun jatuh ke tempat lain. Adapun upaya pengendalian yang di lakukan Kebun Unit Usaha PTPN IV Bah Birung Ulu untuk serangan ulat api dengan pengutipan hama secara manual/
langsung dan metode injeksi yang dilakukan dengan menyuntikkan cairan pada batang tanaman kelapa sawit (Agustina, 2021).
Menurut Santoso et al. (2006) konversi lahan perkebunan teh menjadi perkebunan kelapa sawit berada pada ketinggian 650-1300 m dpl. Sedangkan untuk areal perkebunan yang berada pada ketinggian dia atas 850 m dpl tidak di sarankan untuk di konversi menjadi tanaman kelapa sawit karena suhu udara yang rendah kurang dari 18 Suhu udara yang optimum Hektar
Jumlah Ulat Api (ekor/pokok)
Jumlah Ulat
P1 P2 P3 P4 P5 P6
1 4 4 4 3 3 2 20
2 1 - 2 - - 1 4
3 - - - 3 1 - 4
4 1 2 - - 2 1 6
5 0 1 1 - 2 - 4
6 2 1 - 2 - 1 6
7 - - - 2 1 - 3
8 - 3 - 1 3 1 8
9 1 2 - 2 - - 5
10 - - - 1 3 1 5
11 - - 3 - - 2 5
12 2 2 - 1 - - 5
13 - 1 2 1 - - 4
14 - 3 - 1 - - 4
Total 83
212 bagi kehidupan Setothosea asigna.
Kelembaban udara sangat mempengaruhi pembiakan, pertumbuhan, perkembangan dan keaktifan serangga. Serangga memiliki kemampuan yang berbeda beda terhadap kelembaban udara (Susniahti et al., 2005).
Menurut Selayang Pandang PTPN IV (2020), kebun Bah Birong Ulu memiliki ketinggian 660- 1.100 mdpl, dan memiliki suhu 25-26 . Tinggi rendahnya serangan hama ulat api (Setothosea asigna Van Eecke) di kebun Bah Birong Ulu sangat dipengaruhi oleh ketinggian dan suhu udara pada lokasi tersebut. Semakin tinggi suhu udara maka semakin mudah hama ulat api untuk berkembang biak, sedangkan jika suhu semakin rendah maka hama ulat api akan semakin sulit untuk berkembang biak.
Metode Pengendalian Hama Ulat Api (S.asigna)
Ulat api (Setothosea asigna) memiliki siklus hidup lebih dari 3 bulan yakni masa penetasan telur 6-8 hari, stadia ulat berlangsung 50 hari (8-9 instar) dan masa pupa 40 hari. Ulat hidup berkelompok disekitar tempat penetasan telur.ulat dewasa akan menjatuhkan diri ketanah untuk memulai masa berkepompong. Ulat ini sangat rakus, mampu mengkonsumsi daun 300-500 cm (Lubis, 2008). Ulat api (Setothosea asigna) merupakan salah satu
hama yang sangat berbahaya bagi tanaman kelapa sawit, tinggi rendah serangan hama ulat api diperkebunan kelapa sawit sangat berpengaruh pada produktivitas kelapa sawit. Sebelum penyebaran dan ulat api menyebar luas maka dilakukan pengendalian. Adapun teknik pengendalian hama ulat api yaitu Secara biologis, sistem pengendalian hama terpadu dan secara kimiawi. Adapun cara pengendalian secara biologis diantaranya yaitu menggunakan parasitoid dan predator. Sedangkan pada sistem pengendalian terpadu dapat dilakukan pengamatan selama satu bulan sekali dan dilakukan pengematan kembali satu minggu setelah dilakukan pengendalian, menentukan perlu tidaknya dilakukan pengendalian ulang. (Prawirosukarto, 2002). Pengendalian secara kimiawi juga dapat dilakukan dalam pengendalian ulat api yaitu dengan penyemprotan (fogging) atau injeksi batang (Trunk injection) menggunakan insektisida.
KESIMPULAN
Kebun Bah Birong Ulu PTPN IV merupakan perkebunan kelapa sawit yang berada pada dataran tinggi dengan suhu udara rendah, maka dari itu tinggi rendah tingkat serangan hama ulat api (Setothosea asigna) sangat berpengaruh pada ketinggian lokasi peneltian dan suhu udara di lokasi penelitian. Setelah dilaksanakan penelitian di
213
blok 17 F afdeling III kebun bah birong ulu PTPN IV, dapat disimpulkan bahwa tingkat serangan hama ulat api di blok 17 F di afdeling III kebun bah birong ulu masuk dalam kategori rendah, karna memiliki rata- rata sebesar 5,9.
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, N.A. 2021. Tingkat serangan hama ulat api setothosea asigna dan hama ulat kantung Metisaplana pada perkebunan kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq) di PTPN IV Unit Usaha Bah Birung Ulu.
Jurnal Ilmiah Rhizobia, Vol 3 No 1, Februari 2021.
Badan Pusat Statistik. 2013. Distribusi Lahan Potensial Perkebunan Kelapa Sawit Menurut Provinsi (ha). Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. 2018 Statistik kelapa sawit Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Lubis, A.U. 2008. Kelapa Sawit (Elaeis guineensis Jacq) di Indonesia Edisi ke-2.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. Medan.
Pusat Penelitian Kelapa Sawit. 2011. Informasi Organisme Pengganggu Tanaman. Vol H1- 0001. Oktober 2011.
Prawirosukarto, 2002. Pengenalan dan Pengendalian Hama Ulat pada Tanaman Kelapa Sawit. Pusat Penelitian Kelapa Sawit.
Sahari B. 2012. Struktur komunitas parasitoid hymenoptera di perkebunan kelapa sawit, Desa Pandu Jaya Kecamatan Pangkalan Lada Kalimantan Tengah. Disertasi Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.
Santoso, S. 2006. Konversi perubahan iklim panduan lengkap SPSS Versi 20. PT Elex Media Komputindo. Jakarta.
Susniahti, N., Sumeno, H., dan Sudrajat. 2005.
Ilmu Hama Tumbuhan. Universitas Padjadjaran. Bandung.
Tim Pengembangan Materi LPP. 2007. Buku Pintar Mandor. LPP Press. Yogyakarta.