• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROGRESS REPORT (LAPORAN ANTARA) PENELITIAN CLUSTER PENELITIAN INTERDISIPLINER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROGRESS REPORT (LAPORAN ANTARA) PENELITIAN CLUSTER PENELITIAN INTERDISIPLINER"

Copied!
65
0
0

Teks penuh

(1)

PROGRESS REPORT (LAPORAN ANTARA) PENELITIAN CLUSTER PENELITIAN INTERDISIPLINER

PERAN KOMUNIKASI KONSELING DAN KOMUNIKASI ISLAM DALAM UPAYA PEMULIHAN KLIEN DI BALAI REHABILITASI BADAN NARKOTIKA NASIONAL TANAH MERAH-SAMARINDA

Peneliti:

1. Rudy Hadi Kusuma, M.Pd 2. Sri Ayu Rayhaniah, M.Sos

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SAMARINDA

SAMARINDA 2021

(2)

PROGRESS REPORT (LAPORAN ANTARA) PENELITIAN CLUSTER PENELITIAN INTERDISIPLINER

PERAN KOMUNIKASI KONSELING DAN KOMUNIKASI ISLAM DALAM UPAYA PEMULIHAN KLIEN DI BALAI REHABILITASI BADAN NARKOTIKA NASIONAL TANAH MERAH-SAMARINDA

Peneliti:

1. Rudy Hadi Kusuma, M.Pd 2. Sri Ayu Rayhaniah, M.Sos

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN MASYARAKAT (LP2M) INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SAMARINDA

SAMARINDA 2021

(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Penggunaan narkoba di Indonesia membuat kekhawatiran tersendiri bagi agama, negara maupun masyarakat, dikarenakan penggunaannya yang semakin marak. Narkoba yang sejatinya digunakan sebagai obat bius dalam praktek kesehatan, banyak disalahgunakan oleh berbagai pihak dengan berbagai alasan. Sering kita dengar di berbagai media, para artis, pelajar bahkan oknum pejabat yang tertangkap karena penyalahgunaan narkoba.

Mereka seringkali mengungkapkan alasan penggunaan narkoba untuk mencari ketenangan, inspirasi, ingin langsing, ketahanan stamina, dan lain- lain. Memang setiap jenis narkoba memiliki beberapa efek yang tidak sama antara satu jenis dengan jenis lainnya tergantung zat kimia yang terkandung di dalamnya. Namun pemakaian yang tanpa pengawasan dari ahlinya dan alasan yang tidak mendesak merupakan bentuk dari penyalahgunaan dan dilarang, karena tentu saja dampak buruknya jauh lebih besar dibandingkan efek yang diinginkan.

Pengharaman narkoba atau zat-zat yang memabukkan juga disebutkan dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 219 yang berbunyi.

(4)

2

ۡ سَي۞

ۡ َنۡ َ َكَنلُو ۡ

ۡ ر مَخ لٱ

َۡو ۡ

ۡ ر س يَم لٱ

ۡ ساَّنلُو لۡ نع فََٰنَم َوۡ ٞري بَكۡ ٞم ث إۡ ٓاَم هي فۡ لنق ۡ

ۡ سَي َوۡۗاَم ه ع فَّكۡ مۡ نرَب كَأۡٓاَمنهنم ث إ َو

ۡ لنقۡ َۖ َنو فننيۡيَااَمۡ َ َكَنلُو ۡ

ََۡۗ فَع لٱ

ۡن يَبنيۡ َ لََٰذَك ۡ

ۡنَّللّٱ

ۡنمنكَل ۡ

ۡ تََٰيٓ لۡٱ

َۡفَتَتۡ منكَّلُوَعَل ۡ

َۡۖ و نرَّك

ۡ ٩١٢

ۡۡ

Terjemah :

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah:

"Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya".

Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan.

Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir.”1

Ayat di atas menjelaskan tentang keharaman dari zat-zat yang memabukkan. Walaupun memiliki manfaat, akan tetapi hal itu tidak sebanding dengan dampak buruk yang dihasilkan. Oleh karena itu mengkonsumsi narkoba dapat dikategorikan sebagai perbuatan yang diharamkan dan pelakunya akan diganjar dosa besar.

Dampak buruk dari narkoba bermacam-macam, di antaranya seseorang akan merasakan kecanduan sehingga memerlukan dosis yang lebih banyak lagi untuk mendapatkan efek yang diinginkan dan juga bisa mengakibatkan overdosis. Selain itu, dampak buruk lainnya adalah seperti kehilangan kesadaran dan kerusakan sistem syaraf sehingga mempengaruhi mental dan perilaku. Tidak heran jika seseorang yang sedang menggunakan narkoba, maka sikapnya akan berubah dan tidak lagi mematuhi aturan-aturan

1 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 2005), hal. 62

(5)

3 yang berlaku. Belum lagi penggunaan jarum suntik untuk mengonsumsi narkoba secara bergantian dapat mengakibatkan penularan HIV/AIDS. Oleh karena itu, narkoba merupakan salah satu penyebab kematian terbesar dan perusak generasi muda nomor satu di Indonesia.

Prevalensi pengguna narkoba di wilayah Kalimantan Timur menurut data tahun 2010 sebesar 1,95% atau sekitar 45.366 jiwa. Data tersebut pada tahun 2015 naik menjadi 3,1%,. Hal ini berarti 3,1% atau sekitar 77.884 jiwa dari seluruh penduduk provinsi Kalimantan Timur pada tahun 2015 merupakan pengguna narkoba. Dampak dari data tahun 2015 tersebut membuat Kaltim menduduki peringkat ketiga untuk prevalensi pengguna Napza terbesar di Indonesia setelah dua provinsi lainnya yaitu DKI Jakarta dan Riau. Sedangkan di wilayah Kaltim sendiri, Ibu Kota Provinsi Kaltim yaitu kota Samarinda memperoleh peringkat pertama dengan persentase 60%, kemudian disusul Balikpapan dengan persentase 20%, sedangkan sisanya daerah-daerah lainnya di provinsi tersebut. Data dari BNNK Samarinda, menunjukkan jumlah pengguna narkoba di kota Samarinda sebesar 1,99%

dari keseluruhan jumlah penduduknya atau sekitar 15 ribu jiwa.2

Walau demikian, angka tersebut mengalami penurunan berdasarkan laporan hasil penelitian tahun 2018 yang dilakukan oleh pihak LIPI dan BNN.

Tindak penyalahgunaan narkoba di provinsi Kaltim yang sebelumnya peringkat ketiga menurun ke peringkat lima dalam skala nasional. Hal tersebut disebutkan oleh Wakil Gubernur Kaltim Hadi Mulyadi dalam

2Klik Samarinda, “Jumlah Pengguna Narkoba di Samarinda Meningkat, BNNK Minim Dana”, dalam http://kliksamarinda.com/berita-4925-jumlah-pengguna-narkoba-di-samarinda- meningkat-bnnk-minim-dana. html. Diakses pada 12 Agustus 2019.

(6)

4 kegiatan tatap muka Kepala BNN Pusat dengan Forkopinda Kaltim dan Komponen Masyarakat Kaltim, yang diselenggarakan di Pendopo Lamin Etam.3 Tentuya hal ini merupakan capaian keberhasilan dari program pencegahan dan penanggulangan peredaran gelap narkoba (P4GN) sehingga prevalensi penyalahgunaan narkoba di Kaltim menurun.

Sebagai wujud mengatasi persoalan narkoba, pemerintah dan segenap elemennya telah menyatakan perang terhadap narkoba. Hal ini bisa dilihat dari berbagai upaya yag telah dilakukan, di antaranya penyuluhan di berbagai lembaga, penangkapan dan pemidanaan, rehabilitasi dan lain-lain. Mengingat tingginya penyalahgunaan narkoba di Kalimantan Timur khususnya di kota Samarinda, maka pemerintah mendirikan Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) yang berlokasi di Jalan Ruas Samarinda-Bontang, KM 6, Kelurahan Tanah Merah, Kecamatan Samarinda Utara, Kota Samarinda, Provinsi Kalimantan Timur.

Balai rehabilitasi BNN yang telah beroperasi sejak November 2013 dan diresmikan pemakaiannya pada tanggal 11 Agustus 2014 ini memberikan pelayanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial secara terpadu bagi penyalahguna dan atau orang dengan gangguan penggunaan zat (GPZ) narkoba (sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut pecandu narkoba saat ini), yang menjadi klien disana. Alur pelayanan pada klien yang terdiri dari rehabilitasi medis dan sosial masing-masing memiliki tiga step.

Rehabilitasi medis terdiri atas screening/intake, detoksifikasi (1-2 minggu),

3Antara Kaltim, “Penyalahgunaan Narkoba di Kaltim Menurun ke Peringkat Lima”, dalam https://kaltim.antaranews.com/berita/51291/penyalahgunaan-narkoba-di-kaltim-turun-ke- peringkat-lima. Diakses pada 12 Agustus 2019.

(7)

5 dan stabilisasi (1-2 minggu). Step Screening/intake berupa pemeriksaan urine, wawancara, pemeriksaan fisik, pemberian terapi-simptomatik dan rencana terapi. Step Detoksifikasi berupa terapi simptomatik putus zat untuk memulihkan kesehatan fisik. Step Stabilisasi berupa kegiatan komunitas pada tahap orientasi yang berorientasi pada proses penyesuaian diri melalui beberapa strategi yang spesifik, seperti isolasi relatif, intervensi krisis, orientasi fokus dan konseling. Selesai menjalani rehabilitasi medis selanjutnya klien akan memperoleh rehabilitasi sosial yang terdiri atas tiga step yaitu fase primary antara 2-4 bulan yang berupa TC, vokasional dan bimbingan mental, fase re-entry antara 2-4 minggu, dan pasca rehabilitasi selama 50 hari.4 Pelayanan yang diberikan pihak Balai pada klien seluruhnya gratis/tidak dipungut biaya.

Pelayanan di Balai Rehabilitasi BNN diberikan oleh tenaga profesional yang terdiri dari konselor adiksi, dokter, perawat, psikolog dan bintal (pembina mental) yang bekerja sesuai tupoksi masing-masing di samping tenaga lainnya seperti bagian administrasi, keamanan, kebersihan dan lainnya. Mereka pun telah melalui tahap seleksi dan mendapat berbagai pelatihan guna menunjang kinerja maisng-masing. Kelima tenaga profesional di atas bekerja dalam bentuk tim yang disebut tim Individual Treatment Plan.5

4Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda Kalimantan Timur, Profil Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda Kalimantan Timur, (2019), hal. 14.

5Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda Kalimantan Timur, Profil Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda Kalimantan Timur, (2019), hal. 24.

(8)

6 Seluruh bentuk pelayanan yang diberikan pada klien tentu memerlukan peran komunikasi yang efektif dari pemberi layanan. Khusus konseling yang diberikan oleh konselor, terdapat suatu bentuk komunikasi konseling yang berbeda dengan komunikasi pada umumnya. Begitu pula dengan pembinaan mental yang diberikan oleh pembina mental (bintal) khususnya yang beragama Islam untuk menangani klien yang seagama juga memiliki bentuk komunikasi yang disebut komunikasi Islam. Komunikasi konseling merupakan bagian dari keilmuan bimbingan dan konseling, sedangkan komunikasi Islam merupakan bagian dari keilmuan komunikasi dan penyiaran Islam. Komunikasi konseling dan komunikasi Islam memiliki kekhasan masing-masing yang didukung dengan landasan keilmuan khusus yang membuat keduanya menjadi menarik untuk diteliti terkait perannya dalam upaya pemulihan klien Balai Rehabilitasi BNN. Mengingat komunikan (lawan bicara) bagi konselor adiksi dan bintal bukanlah orang pada umumnya karena mereka adalah orang dengan gangguan penggunaan zat (GPZ) atau yang biasa disebut masyarakat sebagai pecandu narkoba atau korban penyalahgunaan narkoba yang biasanya memiliki karakteristik perilaku komunikasi tersendiri. Maka dari itu, kedua bentuk komunikasi ini (komunikasi konseling dan Islam) dianggap memiliki peran tersendiri dalam membantu konselor adiksi dan bintal dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi tempat mereka bertugas. Oleh karena itu, peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam tersebut menjadi dua hal yang patut untuk

(9)

7 diteliti lebih lanjut. Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti mengajukan judul penelitian “Peran Komunikasi Konseling dan Komunikasi Islam dalam Upaya Pemulihan Klien di Balai Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional Tanah Merah-Samarinda.”

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka terdapat dua rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu:

1. Bagaimana perilaku komunikasi klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda?

2. Bagaimana peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah- Samarinda?

3. Apa saja hambatan dalam menjalankan peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda?

4. Bagaimana solusi untuk mengatasi hambatan dalam menjalankan peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan empat rumusan masalah di atas, maka tujuan dari penelitian ini di antaranya adalah:

(10)

8 1. Untuk menganalisis perilaku komunikasi klien di Balai Rehabilitasi BNN

Tanah Merah-Samarinda.

2. Untuk menganalisis peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah- Samarinda.

3. Untuk menganalisis hambatan dalam menjalankan peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Samarinda.

4. Untuk menganalisis solusi dalam mengatasi hambatan dalam menjalankan peran komunikasi konseling dan Komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah Samarinda.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dibagi menjadi dua, yaitu manfaat teoretis dan manfaat praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan kajian informasi, pengetahuan dan pengembangan wawasan keilmuan bagi berbagai pihak yang memiliki kompetensi dan atau berprofesi di bidang bimbingan dan konseling dan bidang komunikasi Islam, khususnya tentang peran komunikasi konseling dan komunikasi Islam dalam upaya pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda. Hasil

(11)

9 penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi rujukan untuk dikembangkan melalui penelitian-penelitian lanjutan.

2. Manfaat Praktis

Selain manfaat teoretis, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat praktis bagi beberapa pihak, di antaranya:

a. Bagi Konselor

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan panduan atau alternatif penyelesaian masalah dan bahan evaluasi diri bagi konselor adiksi maupun calon konselor secara umum dalam memahami peran komunikasi konseling yang efektif guna membantu pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda maupun di Balai Rehabilitasi atau lembaga lain di wilayah yang berbeda.

b. Bagi Pembina Mental (Bintal)

Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan panduan atau alternatif penyelesaian masalah dan bahan evaluasi diri bagi pembina mental (beragama Islam) maupun calon pembina mental dalam memahami peran komunikasi Islam yang efektif guna membantu pemulihan klien di Balai Rehabilitasi BNN Tanah Merah-Samarinda maupun di Balai Rehabilitasi atau lembaga lain di wilayah yang berbeda.

c. Bagi Pengelola Balai Rehabilitasi BNN

Hasil penelitian ini dapat digunakan oleh Pengelola Balai Rehabilitasi BNN dalam mengevaluasi dan menindaklanjuti komunikasi konseling dan komunikasi Islam yang digunakan oleh

(12)

10 konselor adiksi dan pembina mental di Balai Rehabilitasi yang dikelola guna meningkatkan keefektifan pelayanan dalam upaya membantu pemulihan klien rehabilitasi, serta dapat digunakan pula oleh pengelola Balai Rehabilitasi BNN lainnya.

d. Bagi Peneliti Lanjutan

Seluruh rangkaian kegiatan atau proses penelitian sampai hasil yang diperoleh dapat menjadi acuan bagi peneliti lainnya untuk melaksanakan penelitian lanjutan baik yang serupa maupun berupa pengembangan.

E. Penegasan Istilah

Judul penelitian “Peran Komunikasi Konseling dan Komunikasi Islam dalam Upaya Pemulihan Klien di Balai Rehabilitasi (Bareta) Badan Narkotika Nasional (BNN) Tanah Merah-Samarinda” perlu mendapat penegasan untuk beberapa istilah yaitu komunikasi konseling, komunikasi Islam, dan klien. Istilah yang perlu ditegaskan adalah “komunikasi konseling”

yaitu segala bentuk komunikasi langsung antara konselor adiksi dan klien dalam proses konseling di balai rehabilitasi. Selanjutnya istilah “komunikasi Islam”, yaitu segala bentuk komunikasi langsung antara bintal (pembina mental) dan klien yang sama-sama beragama Islam dalam program pembinaan mental di balai rehabilitasi. Sedangkan istilah “klien” di sini digunakan untuk menyebut para pecandu narkoba atau orang dengan

(13)

11 gangguan penggunaan zat (GPZ) yang menjalani program rehabilitasi di Bareta BNN Tanah Merah-Samarinda.

F. Kajian Pustaka

Terkait dengan tema penelitian ini, peneliti telah melakukan penelusuran jurnal, disertasi, tesis, prosiding, dan buku, guna memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keterkaitan tema dan pembahasan, sehingga penelitian-penelitian sebelumnya dapat menjadi bahan kajian pustaka untuk memperkaya penelitian ini. Terdapat delapan hasil penelitian terdahulu yang dikaji pada penelitian ini, yaitu:

Pertama, penelitian berupa jurnal oleh Iskandar Zulkarnain dan Fitri Yanti (2012).6 Hasil penelitian menyimpulkan bahwa: (1) komunikasi antarpribadi teman sebaya sangat efektif berperan dalam rangka pemulihan pengguna narkoba di Sibolangit Centre melalui komunikasi interpersonal antara teman sebaya dengan pengguna narkoba; (2) Peran komunikasi kelompok dalam memulihkan pengguna narkoba di Sibolangit Centre dilaksanakan melalui kegiatan yang menggunakan komunikasi kelompok di antaranya berupa diskusi dalam Morning Meeting, Encounter Group, Static Group.

Penelitian di atas juga sama-sama membahas komunikasi dalam pemulihan pecandu narkoba, hanya saja lebih membahas tentang penggunaan komunikasi interpersonal dan grup yang dilakukan oleh teman sebaya sesama

6 Iskandar Zulkarnain dan Fitri Yanti, “Peran Komunikasi Antarpribadi dan Komunikasi Kelompok Teman Sebaya dalam Pemulihan Pecandu Narkoba di Sibolangit Centre”, dalam Jurnal Komunika, Vol. 8, No. 1, 2012, hal. 13-34.

(14)

12 pengguna narkoba. Sedangkan penelitian yang akan dilakukan peneliti adalah tentang komunikasi konseling antara konselor adiksi dengan klien dan komunikasi Islam antara pembina mental dengan klien.

Kedua, penelitian berupa tesis oleh Muhammad Mukhlis (2013).7 Penelitian ini memperoleh hasil yaitu: (1) Komunikasi Islam yang digunakan penyuluh dalam rangka mencegah dan memberantas penggunaan narkoba yang tidak semestinya bagi remaja Kota Langsa ialah dengan komunikasi antar pribadi (interpersonal communication). Hal ini dilakukan terhadap korban penyalahguna untuk memulihkan keadaannya kembali sehingga ia bisa terlepas dari penyalahgunaan narkoba dengan teknik persuasif; (2) Penyuluh pada Badan Narkotika Kota Langsa memiliki dua peran (manifest dan laten); (3) Hambatan berupa kekurangan penyuluh dapat diatasi dengan bekerja sama dengan pihak lain seperti perangkat desa dan guru-guru di sekolah.

Penelitian di atas juga membahas tentang komunikasi Islam namun lebih membahas pada pola komunikasi Islam yang digunakan oleh penyuluh untuk pencegahan dan pemberantasan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Sedangkan peneliti akan meneliti tentang peran komunikasi Islam yang dilakukan oleh pembina mental dalam upaya pemulihan orang dengan gangguan penggunaan zat atau klien yang sedang menjalani program rehabilitasi.

7Muhammad Mukhlis, “Pola Komunikasi Islam Penyuluh dalam Pencegahan dan Pemberantasan Bahaya Penyalahgunaan Narkoba di Kalangan Remaja Kota Langsa”, Tesis Program Magister Komunikasi Islam Program Pascasarjana UIN Sumatera Utara, 2013, diperoleh dari http://repository.uinsu.ac.id/1107/. Diakses pada 14 Agustus 2019.

(15)

13 Ketiga, penelitian berupa tesis oleh Erni Suyani (2010).8 Hasil penelitian ini adalah komunikasi antarpribadi dan keaktifan menjalankan ibadah dapat menjadi indikator penentu pulih tidaknya pengguna narkoba.

Secara teoritis dijelaskan bahwa teori komunikasi antarpribadi dan keaktifan menjalankan ibadah bisa diaplikasikan di panti rehabilitasi narkoba di lain tempat.

Hasil penelitian tersebut juga membahas tentang komunikasi interpersonal (antarpribadi) dalam kaitannya dengan kesembuhan pecandu narkoba. Sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan adalah berkaitan dengan peran komunikasi yang tidak hanya berfokus pada interpersonal melainkan juga komunikasi kelompok atau bentuk lainnya, dengan dikhususkan pada komunikasi dalam bentuk komunikasi konseling dan komunikasi Islam.

Keempat, penelitian berupa jurnal oleh Rachmawati Windyaningrum (2014).9 Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan metode communication therapy oleh konselor terhadap residen adalah static counseling dan juga individual counseling, dengan jenis komunikasi verbal maupun nonverbal. Metode tersebut juga tidak terlepas dari kepercayaan, kenyamanan, dan kedekatan antara konselor dengan residen. Ada pula mantan

8 Erni Suyani, “Hubungan Komunikasi Interpersonal dan Keaktifan Beribadah dengan Kesembuhan Pecandu Narkoba di Panti Rehabilitas Narkoba Al-Kamal Kecamatan Sibolangit Kabupaten Deli Serdang”, Tesis Program Magister Komunikasi Islam Program Pascasarjana UIN Sumatera Utara, 2010, diperoleh dari http://repository.uinsu.ac.id/1927/. Diakses pada 14 Agustus 2019.

9 Rachmawati Windyaningrum, “Komunikasi Terapeutik Konselor Adiksi pada Korban Penyalahgunaan Narkoba di Rumah Palma Therapeutic Community Kabupaten Bandung Barat”, dalam Jurnal Kajian Komunikasi, Vol. 2, No. 2, 2014, hal. 173-185.

(16)

14 pecandu yang kemudian menjadi konselor adiksi dengan alasan agar dapat menjadi contoh teladan untuk residen lain dalam proses penyembuhan yang dijalani, adanya pula kerelaan diri membantu sesama residen, dan merupakan wujud perawatan setelah selesai dari proses pemulihan dari kecanduan.

Hasil penelitian di atas juga berbicara tentang komunikasi yang digunakan oleh konselor dalam membantu menangani pecandu narkoba, namun menggunakan istilah komunikasi terapeutik yang juga merupakan salah satu wujud komunikasi konseling. Selain itu perbedaannya, penelitian tersebut lebih membahas metode komunikasinya.

Kelima, penelitian berupa jurnal oleh Valentina Sugianto (2015).10 Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah bahwa keterampilan konselor dalam menerapkan komunikasi antarpribadi sangat berpengaruh terhadap pasien pada proses terapi untuk pengobatan rawat jalan. Keterampilan ini berguna untuk membuat proses terapi menjadi lebih menyenangkan dan kooperatif.

Penelitian di atas juga membahas komunikasi yang diterapkan konselor kepada orang dengan gangguan penggunaan zat narkoba.

Perbedaannya, penelitian di atas membahas komunikasi konselor yang ditujukan pada pasien di BNN Provinsi yang menjalani terapi pengobatan rawat jalan, sedangkan penelitian yang akan dilaksanakan adalah tentang komunikasi konselor dan juga pembina mental yang ditujukan pada klien yang menjalani proses pemulihan di Balai Rehabilitasi BNN pusat.

10 Valentina Sugianto, “Keterampilan Komunikasi Interpersonal Konselor dalam Terapi Pengobatan Rawat Jalan kepada Pasien di BNNP Jawa Timur”, dalam Jurnal E-Komunikasi, Vol.

3 No. 2, 2015, hal. 1-7.

(17)

15 Keenam, kajian konseptual berupa jurnal oleh Zainun (2017).11 Kesimpulan pada jurnal ini adalah bahwa kualitas hubungan antara konselor dengan konseli (yang merupakan orang dengan gangguan kesehatan jiwa ringan) yang terjalin melalui komunikasi konseling bergantung pada kemampuan konselor berkaitan penerapan ragam teknik konseling dan juga bergantung pada kualitas diri sendiri. Konselor dalam membantu orang dengan gangguan kesehatan jiwa ringan dapat bekerja sama dengan tenaga fungsional seperti psikiater/psikolog dalam pemberian layanan terhadap konseli.

Kajian konseptual di atas bisa jadi rujukan dalam membahas komunikasi konseling, namun perbedaannya adalah pada konseli yang dituju yaitu orang dengan gangguan kesehatan jiwa ringan. Sementara itu, peneliti akan meneliti tentang peran komunikasi konseling dan juga komunikasi Islam terhadap orang dengan gangguan penggunaan zat narkoba.

Ketujuh, penelitian berupa jurnal oleh Zulamri (2017).12 Penelitian ini menemukan bahwa pola rehabilitasi pecandu narkoba di BNNP Provinsi Riau dalam sudut pandang konseling Islam termasuk bagian integral dari proses penyembuhan klien. Selama proses tersebut, para klien tidak bisa mengatasi masalahnya sendiri, sehingga diperlukan upaya penguatan mental dan dukungan moril, salah satunya dalam bentuk penanaman Islamic values dalam diri mereka.

11 Zaidun, “Urgensi Komunikasi Konseling Terhadap Gangguan Kesehatan Jiwa Ringan”, dalam Jurnal Consilium, Vol. IV, No. 4, 2017, hal. 122-134.

12 Zulamri, “Pola Rehabilitasi Islami bagi Pecandu Narkoba di Badan Narkotika Nasional Provinsi Riau: Perspektif Konseling Islam”, dalam Jurnal Risalah, Vol. 28, No. 1, 2017, hal. 25- 30.

(18)

16 Penelitian tersebut sama-sama membahas tentang program atau upaya pemulihan klien rehabilitasi pecandu narkoba di BNN, namun dilakukan di BNN Provinsi. Perbedaannya dengan yang akan dilakukan peneliti yaitu penelitian dilakukan di Balai Rehabilitasi BNN pusat di wilayah Samarinda.

Penelitian di atas juga lebih menekankan pada perspektif konseling Islam, bukan konseling umum. Penguatan mental pada penelitian tersebut memiliki kaitan dalam pembahasan komunikasi Islam pada proses pembinaan mental yang menjadi fokus penelitian oleh peneliti.

Kedelapan, penelitian berupa jurnal oleh Nanda Jovanka T., Endang Erawan, dan Kadek Dristiana Dwivayani (2019).13 Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa strategi komunikasi antar pribadi konselor dengan konseli dalam program rehabilitasi rawat jalan adalah strategi komunikasi antar pribadi perspektif humanistik yang meliputi sikap positif, sikap mendukung, empati, dan keterbukaan. Hasil penelitian juga menunjukkan adanya perbedaan penerapan strategi komunikasi antar pribadi yang dilakukan oleh dua konselor yang berbeda. Selain itu, kualifikasi akademik dan pengalaman bekerja dari setiap konselor juga menjadi faktor pendukung lain bagi keefektifan strategi komunikasi antar pribadi yang dijalankan terhadap konseli.

Kesamaan dengan yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu penelitian di atas juga membahas komunikasi yang dilakukan konselor kepada orang dengan gangguan penggunaan zat/pecandu narkoba. Namun penelitian di atas

13 Nanda Jovanka, dkk., “Strategi Komunikasi Antar Pribadi Konselor dengan Pecandu Narkoba dalam Rehabilitasi Rawat Jalan di Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kaltim”, dalam eJournal Ilmu Komunikasi, Vol. 7, No. 1, 2019, hal. 249-263.

(19)

17 lebih membahas komunikasi konselor yang ditujukan pada pasien rawat jalan di BNN Provinsi, sedangkan peneliti akan meneliti tentang komunikasi konselor dan juga pembina mental yang ditujukan pada klien yang menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial di Balai Rehabilitasi BNN pusat walaupun sama-sama berlokasi di wilayah Kalimantan Timur.

Kesembilan, penelitian berupa jurnal oleh Muhammad Musthafalmi (2018).14 Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku komunikasi yang digunakan oleh pecandu narkoba di Kota Pekanbaru berupa komunikasi verbal dan nonverbal. Komunikasi verbal seperti penggunaan istilah untuk menyebut jenis narkoba yang akan digunakan oleh mereka. Bahasa istilah yang dimaksud terbagi atas istilah umum dan khusus. Istilah umum seperti Ck, dan istilah khusus mompa, dompeng, niup, geleg, dan lain-lain.

Sedangkan komunikasi nonverbal berupa gerakan tangan dan jari yang digenggam seperti orang yang ingin memukul. Penelitian tersebut menjadi rujukan bagi peneliti untuk menganalisis karakteristik perilaku komunikasi klien di Bareta BNN Tanah Merah-Samarinda.

14 Muhammad Musthafalmi, “Makna Perilaku Komunikasi antara Pecandu Narkoba di Kota Pekanbaru”, dalam Jurnal JOM FISIP Universitas Riau, Vol. 5, 2018, hal.1-10.

(20)

18 BAB II

KERANGKA TEORETIS

A. Komunikasi Konseling

1. Pengertian Komunikasi Konseling

Secara etimologis, komunikasi berasal dari bahasa latin communis yang berarti membuat atau membangun kebersamaan. Komunikasi berasal pula dari akar kata communico yang berarti membagi.15 Sedangkan secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian pernyataan oleh seseorang kepada orang lain.

Buku karya Sasa Djuarsa Sendjaja yang berjudul Pengantar Ilmu Komunikasi menjabarkan tujuh definisi komunikasi sebagai berikut:

a. Komunikasi adalah proses seorang komunikator menyampaikan stimulus mengutarakan kata-kata sebagai suatu stimulus agar dapat merubah atau membentuk perilaku orang lain (khalayak).

b. Komunikasi adalah proses menyampaikan pengetahuan, pikiran, pendapat, perasaan, keahlian dan lain-lain melalui kata-kata, gambar-gambar, angka- angka, dan lain-lain.

c. Komunikasi merupakan proses yang menjelaskan identitas pembicara, isi pembicaraan, media penyampaian, pendengar, dan akibat atau hasil pembicaraan.

15 Hafied Cangara, Pengantar Ilmu Komunikasi, Edisi Kedua, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), hal. 20.

(21)

19 d. Komunikasi adalah proses yang merubah sesuatu dari yang bersifat

monopoli seseorang menjadi dapat dimiliki oleh lebih dari satu orang.

e. Komunikasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan untuk meminimalisir rasa keraguan atau was-was, bertindak efektif, dan menguatkan ego.

f. Komunikasi adalah suatu proses yang dapat menjadi penghubung antara satu hal dengan hal lainnya dalam kehidupan.

g. Komunikasi adalah seluruh prosedur dimana terjadinya pertukaran pikiran atau adanya pikiran yang bisa saling mempengaruhi.16

Berdasarkan beberapa pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan, pengetahuan, pikiran, perasaan, keahlian dan lain-lain melalui media tertentu dari seorang penyampai pesan kepada penangkap pesan dalam rangka mempengaruhi pikiran dan merubah atau membentuk perilaku orang lain serta menyatukan antara dua orang atau lebih.

Selanjutnya ialah istilah konseling. Konseling secara etimologi berasal dari kata “consilliun” yang dapat diartikan “dengan” atau “bersama” yang disatukan dengan kata “menerima” atau “memahami”. Sedangkan dalam bahasa Anglo-Saxon, istilah konseling berasal dari kata “sellan” yang berarti

“menyerahkan” atau “menyampaikan”.17

Secara terminologi menurut Prayitno, konseling adalah proses layanan bantuan melalui wawancara mendalam oleh seorang ahli kepada individu yang

16 Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 4-5.

17 Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 2013), hal. 99.

(22)

20 perlu bantuan agar masalah yang dihadapi bisa terselesaikan.18 Abdul Hayat menjelaskan bahwa konseling adalah upaya konselor mengarahkan dan memberikan nasihat pada klien agar dapat berubah dari sisi psikologisnya, yang dilakukan dengan sadar.19 Selanjutnya menurut Achmad Juntika Nurihsan, konseling adalah usaha membantu individu dengan proses interaksi antar pribadi antara konselor dan konseli agar mampu memahami diri dan lingkungannya, mampu mengambil keputusan dan tahu tujuan yang ingin dicapai berdasar nilai yang diyakini hingga bisa memperoleh kebahagiaan dan perilakunya menjadi efektif.20

Berdasarkan pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa konseling adalah suatu layanan bantuan profesional yang hanya bisa diberikan oleh konselor kepada konseli (klien) yang membutuhkan dalam rangka mengatasi permasalahan yang dihadapi oleh konseli secara mandiri melalui proses wawancara, pemberian arahan bahkan bila perlu nasihat praktis.

Konseling tidak bisa dihindarkan dari komunikasi, karena proses konseling umumnya dilakukan dengan dialog atau wawancara mendalam dan intensif antara konselor dengan konseli. Komunikasi merupakan hal yang penting bagi berhasil tidaknya proses konseling. Keterampilan berkomunikasi dalam rangkaian kegiatan konseling dipelajari melalui komunikasi konseling, yaitu tentang tatacara atau kaidah menjalin komunikasi oleh seorang konselor pada konseli dalam suatu proses konseling. Keterampilan komunikasi

18 Prayitno dan Erman Amti, Dasar..., hal. 105.

19 Abdul Hayat, Bimbingan Konseling Qur’ani, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2017), hal. 75.

20Achmad Juntika Nurihsan, Bimbingan dan Konseling dalam Berbagai Latar Kehidupan, (Bandung: Refika Aditama, 2014), hal. 10.

(23)

21 konseling diinternalisasikan dalam diri konselor dengan memahami berbagai aspek yang melingkupi diri konseli sehingga seluruh proses konseling mulai dari asesmen awal, membangun hubungan, pembahasan masalah, sampai pada terminasi dapat berjalan sesuai harapan.

Komunikasi yang baik adalah yang terhindar dari segala hambatan dan kesalahpahaman. Komunikasi efektif dapat terwujud jika tujuan tercapai dan komunikasi efisien dapat terwujud jika komunikasi berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan dalam suatu hubungan tanpa adanya buang-buang waktu atau basa-basi tanpa arah. Oleh karena itu, melalui komunikasi konseling yang baik, efektif dan efisien, maka akan terbangun hubungan terapeutik yang menyembuhkan dan tercapainya tujuan.

Pada proses komunikasi konseling, konseli menyampaikan masalahnya kepada konselor guna memperoleh respon dari konselor mengenai masalahnya.

Lalu dari konselor sendiri harus mendengarkan dan mengarahkan klien agar bersifat terbuka kepadanya agar perilaku klien bisa berubah jadi lebih baik guna mendukung penyelesaian problem konseli, agar tujuan tercapai.

2. Keterampilan Komunikasi Konseling

Menurut Sofyan S. Willis, keterampilan-keterampilan komunikasi konseling baik verbal maupun non verbal di antaranya adalah sebagai berikut21: a. Penghampiran (attending)

21 Sofyan S. Willis, Konseling Individual (Teori dan Praktik), (Bandung: Alfabeta, 2009).

(24)

22 Attending terdiri dari Perilaku Attending, Bertanya, Minimal Encourage, Klarifikasi, Refleksi Perasaan, Empati, Paraphrase (Reflection of Content), Attending Summarization (kesimpulan sementara).

1) Perilaku attending, adalah perilaku penampilan yang meliputi eyes contact, body language dan spoken language yang menghampiri klien. Sapaan awal adalah bagian awal dari attending. Ungkapan yang biasa dipakai seperti:

“Selamat pagi”, “Assalaamu’alaikum”, dan “Selamat berjumpa”.22

2) Bertanya, adalah kemampuan membungkus pertanyaan-pertanyaan untuk untuk memulai obrolan dengan klien. Konselor dituntut menguasai keterampilan bertanya seperti membuat pertanyaan terbuka yang memancil munculnya pernyataan-pernyataan baru dari klien. Pertanyaan konselor juga bisa berupa pertanyaan tertutup dalam rangka menjernihkan atau memperjelas informasi, memokuskan pembicaraan konseli, dan mendapatkan informasi tertentu.

3) Dorongan Minimal (minimal encouragement), merupakan upaya konselor agar klien selalu aktif dalam proses konseling dan dirinya bersifat terbuka, agar tujuan tercapai. Dorongan minimal adalah dorongan langsung terhadap perkataan klien secara singkat. Respon konselor diberikan sesedikit mungkin agar dapat memberi kesempatan pada klien untuk dapat berbicara lebih lanjut.

22Arif Ainur Rofiq, Keterampilan Komunikasi Konseling, (Perpustakaan Nasional:

Katalog dalam Terbitan, 2012), hal. 2.

(25)

23 4) Klarifikasi, adalah keterampilan menjernihkan perkataan klien yang belum

jelas. Tujuannya adalah untuk pemeriksaan isi dan memperjelas pesan klien, dan pemeriksaan ketepatan pesan klien dengan persepsi konselor.

5) Refleksi perasaan, adalah upaya konselor merefleksi perasaan, pikiran, dan pengalaman yang disampaikan klien melalui pernyataan, intonasi dan sikapnya yang terdiri dari refleksi perasaan, pikiran, dan pengalaman.

6) Menangkap pesan utama (paraphrasing). Konselor harus bisa menangkap pesan utama dari ide, perasaan, dan pengalaman yang dikemukakan klien.

Kemudian menyampaikan ulang pada klien dengan bahasa sederhana dan mudah dimengerti.

7) Empati, merupakan kemampuan memahami permasalahan klien, melihat dari perspektif klien, peka terhadap perasaan klien, merasa dan berpikir bersama klien dan bukan untuk atau tentang klien, sehingga konselor mengetahui proses klien merasakan perasaannya.

8) Menyimpulkan sementara, yang dilakukan setiap periode waktu tertentu oleh konselor bersama klien, guna memperoleh pemahaman dari apa yang sudah disampaikan. Tujuannya yaitu memberi kesempatan pada klien untuk mengambil feedback, menyimpulkan perkembangan hasil pembicaraan secara bertahap, meningkatkan kualitas pembicaraan dan memperjelas fokus wawancara konseling.

(26)

24 B. Kompetensi Verbal Influensing

Kompetensi Verbal Influensing terdiri atas disclosing self, leading, facilitating, information giving, confrontation, reinforcement, silent, and influencing summarization.

a) Mendekatkan diri (disclosing self), merupakan kemampuan membuka informasi personal guna membuat klien lebih terbuka. Dilakukan biasanya di pertemuan awal konseling dalam rangka menyiptakan rasa nyaman, aman, merasa diterima, dan menumbuhkan kerelaan klien untuk menjalani konseling.

b) Memimpin (leading), adalah kemampuan konselor untuk mengarahkan pembicaraan agar dapat mencapai tujuan. Tujuannya antara lain agar klien tetap pada fokus pembicaraan dan arah pembicaraa terfokus pada tujuan konseling.

c) Memudahkan (facilitating) adalah suatu keterampilan membuka komunikasi agar klien mudah menjalin pembicaraan dengan konselor dan mengungkapkan permasalahannya secara terbuka dan memberdayakan klien untuk mencapai tujuan-tujuannya.

d) Pemberian Informasi (information giving), dilakukan oleh konselor saat klien memerlukan informasi guna memperjelas pengetahuan dan pemahamannya tentang berbagai hal, seperti informasi tujuan, proses dan kode etik proses konseling yang akan dijalani atau informasi lainnya.

Konselor yang kurang menguasai informasi yang diperlukan klien, maka

(27)

25 dapat diarahkan agar klien mencari langsung kepada sumber relevan yang terpercaya dan akurat.

e) Konfrontasi (confrontation), merupakan teknik komunikasi yang menentang klien, disebabkan adanya ketidaksesuaian antara pernyataan dan tingkah laku klien atau adanya inkonsistensi antara perkataan dan perbuatan, atau antara ide awal dengan ide selanjutnya.

f) Memberikan penguatan (reinforcement), yaitu konselor memicu klien untuk mempertahankan dan meningkatkan tingkah laku positif dengan cara memberi pujian, reward dan mendengarkan apa yang disampaikan klien dengan serius.

g) Diam (silent), adalah tidak adanya komunikasi verbal dalam arti melakukan komunikasi non verbal. Idealnya antara 5 - 10 detik dan selebihnya diganti dengan dorongan minimal. Tujuannya untuk menunggu klien berpikir dan untuk menunjang perilaku attending dan empati sehingga klien bisa nyaman berbicara.

h) Menyimpulkan (influencing summarization), dilakukan di sesi akhir konseling. Konselor bisa bersama klien untuk menyimpulkan hasil pembicaraan yang berkaitan dengan keadaan klien saat ini terutama menyangkut tema tertentu, memantapkan rencana klien, dan pokok-pokok yang akan didiskusikan pada sesi selanjutnya.

(28)

26 3. Penerapan Teknik Komunikasi dalam Tahapan Konseling

Proses konseling memiliki tiga tahapan, yaitu: (1) tahap pembuka atau pendefinisian masalah, (2) tahap pertengahan atau tahap inti/kerja, dan (3) tahap penutup atau perubahan dan tindakan. Masing-masing tahapan konseling memiliki teknik komunikasi tertentu. Teknik tersebut dapat dilihat pada bagan di bawah ini:23

Gambar 1. Bagan teknik-teknik komunikasi pada setiap tahapan konseling Sumber: (Willis, 2009: 132)

23 Sofyan S. Willis, Konseling Individual (Teori dan Praktik). Bandung: Alfabeta, 2009, hal. 132.

TAHAP PEMBUKA

(Definisi Masalah)

TAHAP PERTENGAHAN

(Tahap Kerja)

TAHAP PENUTUP

(Change & Action)

Attending

Mendengarkan

Empati

Refleksi

Eksplorasi

Bertanya

Menangkap pesan utama

Mendorong dan dorongan minimal

Menyimpulkan sementara

Memimpin

Memfokuskan

Konfrontasi

Menjernihkan

Memudahkan

Mengarahkan

Dorongan minimal

Diam

Mengambil inisiatif

Memberi nasehat

Memberi informasi

Menafsirkan

Menyimpulkan

Merencanakan

Menilai

Mengakhiri konseling

(29)

27 B. Komunikasi Islam

1. Pengertian Komunikasi Islam

Pengertian komunikasi sudah dibahas pada pembahasan tentang komunikasi konseling di atas. Sedangkan pengertian Islam, secara etimologis atau bahasa berasal dari kata salima yang dalam bahasa arab artinya selamat.

Dari kata tersebut terbentuklah kata aslama yang memiliki arti menyerahkan diri atau tunduk dan patuh. Dari kata aslama itulah lalu terbentuklah kata islam. Sedangkan secara terminologis atau istilah, islam adalah sebuah agama yang berintikan tauhid (mengesakan Tuhan) yang diturunkan oleh Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam sebagai utusan-Nya yang terakhir dan berlaku pula pada setiap manusia, di mana pun dan kapan pun, yang ajarannya meliputi seluruh aspek kehidupan manusia.24

Dalam buku Komunikasi Islam karya Harjani Hefni, menyebutkan bahwa menurut Abdul Karim Zaidan dalam Ushul al-Dakwah, definisi Islam adalah sebagai berikut:

a. Islam adalah sebuah sistem peraturan yang lengkap (komprehensif) tentang semua urusan kehidupan, serta panduan menjalani kehidupan dengan segala konsekuensi dari penerimaan atau penolakan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. dari Allah Subhanahu wata’ala. Definisi ini memaknai Islam sebagai paket lengkap (komprehensif) tentang segala urusan kehidupan dan konsekuensi menolak

24ASM. Romli, “Arti Islam: Etimologis dan Terminologis”, dalam https://pusdai.wordpress.com/2008/11/12/arti-islam-etimologis-terminologis. Diakses pada 14 April 2017.

(30)

28 paket yang ada. Oleh karena itu, orang yang menerima Islam secara parsial atau tidak lengkap dianggap belum berislam dengan sebenarnya.. Hal ini hasil dari pemahaman firman Allah Subhanahu wata’ala dalam QS. Al- Baqarah ayat 208:

اَهُّيَأََٰٓي

ۡٱ

َۡ ي ذَّل

ْۡيَننَميَء ۡ ٱ

ْۡيَنلُونخ د

ۡي ف ۡ

ۡ م لُو سل ٱ

ۡ ت َََٰنطنخْۡيَنع بَّتَتۡ َلَ َوۡ ٗةَّفٓاَك ۡ

ۡ ََٰط يَّشل ٱ

ۡ

ۡنهَّك إ

ۡ ٞ ي بُّمۡ ٞ وندَنۡ منكَل ۥۡ

٩٠٢

ۡ

Terjemah:

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.

Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”25

b. Definisi lain, Islam adalah kumpulan nilai yang diturunkan Allah Subhanahu wata’ala kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. untuk diajarkan kepada seluruh manusia, nilai-nilai tersebut berupa hukum syariat, muamalat, akhlak dan berita, yang tercantum dalam Al-Quran dan sunnah. Definisi ini hampir mirip dengan definisi sebelumnya, hanya saja definisi ini menambahkan berita sebagai informasi yang penting untuk kehidupan manusia.

Berdasarkan informasi dari Al-Quran dan As-Sunnah ditemukan bahwa komunikasi Islam adalah komunikasi yang berupaya untuk membangun hubungan dengan diri sendiri, dengan Sang Pencipta, serta dengan sesama untuk menghadirkan kedamaian, keramahan, dan

25 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 2005), hal.63.

(31)

29 keselamatan buat diri dan lingkungan dengan cara tunduk dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.26

Dari definisi-definisi di atas peneliti mengambil kesimpulan bahwa komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan atau informasi yang berupa nilai-nilai islam dari komunikator kepada komunikan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah.

2. Sumber-Sumber Komunikasi Islam

Sebagai bidang ilmu yang tergolong muda, komunikasi Islam bersumber dari Al-Qur’an, As-Sunnah, Kitab-kitab para Ulama dan Ilmu Komunikasi. Adapun penjelasannya sebagai berikut.

a. Al-Quran

Secara etimologis atau bahasa, kata Al-Quran berasal dari bahasa Arab yaitu qara’a yang memiliki arti mengumpulkan dan menghimpun.

Sedangkan Qira’ah berarti merangkai huruf-huruf dan kata-kata satu dengan lainnya dalam satu ungkapan kata yang teratur. Al-Quran asal katanya sama dengan qira’ah, yaitu akar kata (masdar-infinitif) dari qara’a - qira’atan - qur’anan.27

Secara terminologis atau peristilahan, Al-Quran merupakan nama sebuah kitab suci yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad Shallallaahu ‘alaihi wasallam. Selain itu sebutan Al-Quran tidak terbatas

26 Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 14.

27 Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Mabahits Fii U’luumil Qur’an, Terj., Aunur Rafiq El- Mazni, Pengantar Studi Ilmu Al-Quran, (Jakarta: Pustaka Al-Kautsar, 2006), hal. 16.

(32)

30 pada sebuah kitab saja, namun juga setiap bagian (ayat-ayat) di dalam kitab tersebut juga disebut Al-Quran. Oleh karena itu,ketika seseorang membaca satu ayat saja, maka tetap disebut membaca Al-Quran.28

Sebagai mukjizat dan pedoman hidup yang berasal dari Allah Subhanahu wata’ala, Al-Quran memiliki fungsi sebagai berikut.

1) Al-Quran sebagai Huda (Petunjuk)

Di antara aktivitas sehari-hari yang sangat memerlukan petunjuk dari Al-Quran adalah komunikasi. Banyak ayat-ayat dalam Al-Quran yang menerangkan tentang komunikasi, baik komunikasi dengan Allah, sesama manusia, maupun diri sendiri. Membangun komunikasi dengan sesama manusia dalam agama Islam disebut dengan istilah silaturrahmi.

2) Al-Quran sebagai Furqan (Pembeda)

Al-Quran juga memiliki sifat sebagai furqan, yang artinya pembeda.

Maksudnya Al-Quran dapat menunjukkan kepada manusia mana yang baik dan mana yang tidak baik, mana yang halal dan mana yang haram. Hai ini juga menegaskan bahwa seharusnya ada ciri khas kaum Muslimin yang membedakannya dengan selain mereka.

Kekhasan tersebut juga terpancar dalam hal komunikasi, yaitu ilmu komunikasi Islam. Karena dalam Islam segala hal merupakan ibadah dan harus dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, termasuk halnya komunikasi. Jadi kegiatan komunikasi bukan sekedar untuk kepuasan diri dan menyenangkan orang lain saja. Dengan keyakinan ini seorang muslim

28 Syaikh Manna’ Al-Qaththan, “Mabahits.…, hal. 17.

(33)

31 menjadi semangat untuk membangun komunikasi yang positif dan takut melakukan tindakan yang merusak.29

3) Al-Quran sebagai Syifa’ (Obat)

Syifa’ yang berarti obat, maksudnya Al-Quran dapat menjadi obat bagi manusia. Seperti halnya tubuh, hati pun dapat sakit. Maka membaca Al-Quran adalah obat yang mujarab. Sedangkan dari sisi komunikasi, perkataan yang baik dan silaturrahmi seperti yang diajarkan dalam Al-Quran dapat menjadi obat yang menghilangkan luka hati ataupun permusuhan.

4) Al-Quran sebagai Rahmat

Allah bersifat Rahman dan Rahim (kasih sayang), Dia selalu mengedepankan sifat tersebut daripada sifat-sifat lainnya dalam menetapkan suatu perkara untuk makhluk-Nya. Dan sebagai pedoman hidup, Al-Quran merupakan wujud nyata dari rahmat Allah. Segala hal tercantum dalam Al- Quran, begitu pula halnya dengan komunikasi. Ketika komunikasi itu bisa berjalan dengan baik dan menyenangkan tentunya ini merupakan rahmat bagi manusia.

Untuk membantu kita memahami makna Al-Quran, terutama tentang komunikasi maka kita harus merujuk kepada para ulama yang pakar di bidang tafsir dan ulum Al-Quran. Kitab-kitab tafsir akan membantu kita untuk merujuk sumber dasar dalam ilmu komunikasi Islam, terutama ayat- ayat yang terkait dengan komunikasi antara manusia dan Penciptanya (komunikasi trasedental), komunikasi manusia dan dirinya sendiri

29 Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 31-32.

(34)

32 (komunikasi intrapersonal), dan komunikasi manusia dengan sesama (komunikasi interpersonal).

b. Sunnah

Secara etimologi atau bahasa, kata Sunnah berasal dari bahasa Arab yaitu sanna, yasinnu, yasunnu, sannan, yang artinya menerangkan. Kata Sunnah juga bersinonim dengan Ath-Thariqah yang berarti jalan, metode atau pandangan hidup.30 Selain itu, kata tersebut juga bersinonim dengan kata sirah, yang berarti kebiasaan, jalan, cara, dan tingkah laku.31

Sedangkan secara terminologi, Kata As Sunnah memiliki makna yang berbeda. Di antaranya sebagai berikut:

1) Menurut ahli hadist dan ushul fiqih, sunnah adalah periwayatan yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam baik berupa perkataan, perbuatan, ketetapan, dan sifat beliau.

2) Menurut ulama fiqih, sunnah adalah semua amalan yang berpahala ketika dikerjakan dan tidak berdosa ketika ditinggalkan.

3) Menurut ulama aqidah, sunnah adalah seluruh petunjuk Nabi Shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam pondasi agama dan cabang- cabangnya, baik berupa keyakinan, amalan, maupun petunjuk lain.

Dalam masalah ini, sunnah adalah lawan dari bid’ah.32

30Aden Zaeid Alfarobi, “Pengertian dan Definisi As Sunnah”, dalam http://www.vianeso.com/2011/10/pengertian-dan-definisi-as-sunnah.html. Diakses pada 16 April 2017.

31 Wikipedia, “Sirah”, dalam https://id.wikipedia.org/wiki/Sirah. Diakses pada 16 April 2017.

32Media Islam Online, “Pengertian Sunnah Menurut Bahasa dan Istilah”, dalam http://hasmidepok.org/kajian-islam/pengertian-sunnah-menurut-bahasa-dan-istilah.html. Diakses pada 16 April 2017.

(35)

33 Sesuai dengan definisi etimologis dan terminologisnya, Sunnah berfungsi sebagai penjelas atau penerang bagi Al-Quran. Meskipun Al- Quran diturunkan sebagai pedoman hidup atau panduan untuk manusia, namun pedoman atau panduan tersebut tentu saja harus lebih dijelaskan dan diterangkan lagi, karena manusia memiliki keterbatasan dalam pemahaman dan perbedaan budaya maupun persepsi.

Rasulullah sebagai selain sebagai utusan Allah, beliau juga merupakan suri tauladan bagi umat manusia, sehingga segala hal menyangkut kehidupan ataupun tingkah laku beliau menjadi contoh bagi umat islam. Begitu pun dalam konteks komunikasi, bagaimana cara beliau berkomunikasi dengan keluarga, sahabat ataupun orang lain merupakan bahan baku yang sangat kaya untuk kajian ilmu komunikasi.

c. Kitab-kitab Para Ulama

Selain Al-Quran dan As-Sunnah, ilmu pengetahuan Islam secara umum dan ilmu tentang akhlak dan adab secara khusus sangat kaya dengan bahan yang bisa dikembangkan untuk memperkaya bangunan ilmu komunikasi Islam.33semua itu bisa diperoleh dari Kitab-kitab karangan Ulama-ulama terdahulu yang masyhur seperti kitab Ihya Ulumuddin, kitab Adabul Alim wal Muta’alim, kitab Nashoihul ‘Ibad, dan beragam kitab lainnya baik kitab-kitab fiqih, tasawuf, aqidah, dan lain sebagainya.

d. Ilmu Komunikasi

33 Harjani Hefni, Komunikasi Islam, (Jakarta: Kencana, 2015), hal. 48.

(36)

34 Menurut Berger dan Chafee (1987), ilmu komunikasi adalah suatu pengamatan terhadap produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambing melalui pengembangan teori-teori yang dapat diuji dan digeneralisasikan dengan tujuan menjelaskan fenomena yang berkaitan dengan produksi, proses, dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang.34

Pengertian di atas memberikan tiga pokok pikiran utama sebagai berikut:

1) Objek pengamatan yang menjadi fokus perhatian dalam ilmu komunikasi adalah produksi, proses dan pengaruh dari sistem-sistem tanda dan lambang dalam konteks kehidupan manusia.

2) Ilmu komunikasi bersifat ilmiah empiris (scientific) dalam arti pokok- pokok pikiran dalam ilmu komunikasi (dalam bentuk teori-teori) harus berlaku umum.

3) Ilmu komunikasi bertujuan menjelaskan fenomena sosial yang berkaitan dengan produksi, prose, dan pengaruh dari sistem tanda dan lambang.35

Ilmu komunikasi dengan karakteristiknya seperti di atas sangat bermanfaat dalam membangun ilmu komunikasi Islam. Banyak hal yang bermanfaat telah disumbangkan oleh ilmu komunikasi terutama dalam kajian empiriknya. Karena pertimbangan itulah, dalam membangun ilmu komunikasi Islam kita sangat memerlukan ilmu komunikasi umum.

34 Harjani Hefni, Komunikasi…, hal. 49.

35 Harjani Hefni, Komunikasi...., hal. 49.

(37)

35 3. Fungsi-Fungsi Komunikasi Islam

Ada tujuh fungsi komunikasi Islam yang diambil dari istilah-istilah dalam Al-Quran, yaitu: fungsi informasi diambil dari istilah naba’ dan khabar, fungsi meyakinkan diambil dari metode hiwar dan jidal, fungsi mengingatkan diambil dari metode tadzkir dan indzar, fungsi memotivasi diperoleh dari metode tabligh dan tabsyir, fungsi sosial didapat dari metode ta’aruf, fungsi bimbingan dari metode irsyad dan nasihat, fungsi kepuasan spiritual dari mau’idzah dan nasihat, serta fungsi hiburan diambil dari istilah idkhal al-surur.

a. Fungsi Informasi

Sejak lahir manusia mendapatkan berbagai informs dari panca inderanya. Hal-hal yang didapatkan tersebut sebagian diserap, lalu disampaikan kembali kepada orang lain. Di dalam Islam, diperintahkan untuk menjauhi informasi yang buruk ataupun menimbulkan masalah, seperti namimah (adu domba), fitnah, dan berdusta. Bahkan orang yang suka menyampaikan berita tidak benar dianggap sebagai diancam dengan kemurkaan Allah..

b. Fungsi Meyakinkan

Islam menjunjung tinggi hak individu dalam berpendapat dan berkreasi. Oleh karena itu, ketika seseorang memiliki suatu ide, saran ataupun gagasan, maka Islam menganjurkan untuk menyampaikannya dengan cara yang baik dan benar, lagi santun. Dalam komunikasi Islam dikenal dengan metode hiwar (dialog) dan jidal (debat).

(38)

36 c. Fungsi Mengingatkan

Sebuah ungkapan menyebutkan “Al-insan mahalul khata’ wan nisyan”, yang artinya manusia adalah tempatnya salah dan lupa. Sebagai seorang manusia biasa tentunya wajar jika melakukan kesalahan, kekhilafan ataupun lupa, baik disengaja maupun tidak tidak sengaja. Namun tentunya kita tidak boleh terus-terusan melakukan kesalahan tersebut, sehingga diperlukan bantuan orang lain untuk mengingatkan. Dan ini merupakan bagian dari kewajiban sebagai seorang muslim. Metode yang paling cocok digunakan adalah metode tadzkir (mengingatkan) dan indzar (memperingatkan).

d. Fungsi Memotivasi

Salah satu fungsi dari komunikasi islam adalah memotivasi. Ini adalah salah satu fungsi yang sangat penting. Untuk menjalani kehidupan yang penuh dengan berbagai suka dan duka, tentunya diperlukan motivasi.

Motivasi tersebut menjadikan seseorang tetap sabar, istiqomah dalam berbuat kebaikan, dan meningkatkan kualitas dirinya. Motivasi itu bisa berasal dari diri sendiri maupun dari orang lain. Hal ini pun tercantum dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 157, yaitu perintah untuk menyampaikan kabar gembira untuk orang-orang yang sabar dan berbuat kebajikan. Metode ini dalam komunikasi Islam disebut dengan metode tabligh (menyampaikan kebaikan) dan tabsyir (menyampaikan kabar gembira).

e. Fungsi Sosialisasi

(39)

37 Seorang manusia tidak pernah bisa lepas dari manusia lainnya.

Manusia memiliki berbagai kebutuhan, yang tidak hanya sebatas sandang- pangan-papan saja, namun juga kebutuhan untuk bersosial. Kebutuhan bersosial ini tidak hanya terbatas pada lingkungan rumah saja,namun juga pada lingkungan yang semakin besar seperti berbangsa dan bernegara. Di dalam Al-Quran hal ini pun telah disebutkan dalam Q.S. Al-Hujurat ayat 13, metode ini dalam komunikasi islam disebut dengan ta’aruf.

f. Fungsi Bimbingan

Salah satu fungsi dari komunikasi islam adalah bimbingan, yang dalam bahasa arab disebut dengan irsyad. Bisa pula berbentuk nasihat.

Tujuan dari bimbingan untuk mengajak seseorang kepada kebaikan dan menjauhi keburukan, memperbaiki diri, menemukan potensi diri, dan meningkatkan potensi diri.

g. Fungsi Kepuasan Spiritual

Seperti hanya dengan tubuh, ruh pun memiliki kebutuhan. Ruh perlu untuk berkomunikasi dengan penciptanya (komunikasi trasedental). Hal ini telah disebutkan dalam Q.S. Ar-Ra’du ayat 28, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenang. Ketenangan yang diperoleh merupakan kepuasan spiritual. Selain itu fungsi komunikasi berupa kepuasan spiritual juga bisa didapatkan dari metode mauidzah (wejangan) dan nasihat. Di mana ketika seseorang mengamalkan komunikasi islam, maka dia akan merasakan feedback baik bukan hanya secara zahir saja tapi juga secara batin (kepuasan spiritual).

(40)

38 h. Fungsi Hiburan

Ketika seseorang menghadapi musibah, dalam islam diperintahkan mengucapkan innalillahi rojiun. Ucapan ini merupakan doa sekaligus penghibur untuk orang yang terkena musibah. Fungsi dari menghibur ini pun disebutkan dalam hadist Nabi, “Barangsiapa beriman kepada Allah, hendaknya dia berkata yang baik atau diam.” (H.R. Bukhari).

4. Sifat-Sifat Verbal Komunikasi Islam

Di dalam Al-Quran, kata qaul disandingkan dengan sifat tertentu, berikut adalah qaul yang disebutkan dalam Al-Quran yaitu:

a. Qaulan Ma’rufan

Ma’rufan artinya kebaikan dunia maupun akhirat. Al-Quran beberapa kali menggunakan ungkapan ini dalam peristiwa yang berbeda- beda. Dari situ dapat dipahami bahwa qaulan ma’rufan adalah perkataan yang baik, ramah, tidak kotor dan tidak menyakiti orang lain.

Salah satu cara agar kita dapat mengamalkan qaulan ma’rufan ini adalah dengan memiliki rasa malu. Rasa malu dapat menjadi control diri bagi seseorang, sehingga terhindar dari lisan yang kotor.

b. Qaulan Kariman

Qaulan kariman secara bahasa berarti perkataan yang mulia dan berharga. Dalam berbahasa, dikenal adanya kata yang bersinonim namun secara penggunaan berbeda, ada yang terdengar sopan dan kurang sopan ketika digunakan dalam suatu kondisi. Contohnya ketika berbicara dengan

(41)

39 orang yang lebih tua, maka kita seharusnya menggunakan pemilihan kata yang tepat. Hal ini berbeda ketika kita bicara dengan teman sebaya.

Beberapa bentuk kata-kata mulia (qaulan kariman) yang dianjurkan Allah untuk diterapkan hamba-hamba-Nya, antara lain: Kata Maaf (qaul afwan), menyebarkan salam (afsyus salam), ucapan terima kasih (syukron), dan kata-kata yang bermanfaat (qaul naf’an).

c. Qaulan Maysuran

Menurut bahasa, qaulan maysuran artinya perkataan yang mudah.

Maksudnya seorang komunikator hendaknya ketika berkata-kata kepada orang lain, kata-kata tersebut mengandung kemudahan bagi komunikan.

Baik kemudahan dalam urusan maupun kemudahan dalam menerima perkataan tersebut.

d. Qaulan Balighan

Kata baligh dalam bahasa arab artinya sampai, mengenai sasaran, mencapai tujuan atau efektif. Maksud dari qaulan balighan adalah perkataan yang disampaikan hendaknya tepat pada sasaran dan mengena.

Untuk itu seorang komunikator perlu memilih kata yang tepat, menggunakan gaya bahasa yang sesuai dengan kadar intelektual seseorang.

e. Qaulan Layyinan

Ungkapan qaulan layyinan secara bahasa berarti ungkapan yang lemah lembut. Komunikasi islam mengajarkan kita untuk dapat berkata lemah lembut kepada orang lain, agar perkataan tersebut dapat diterima di hati dan menyenangkan bagi orang yang mendengar. Dikatakan bahwa salah

(42)

40 satu cara untuk menaklukkan hati yang keras adalah dengan perkataan yang lemah lembut.

f. Qaulan Sadidan

Menurut bahasa, qaulan sadidan artinya perkataan yang benar.

Qaulan Sadidan berarti pembicaran, ucapan, atau perkataan yang benar, baik dari segi substansi (materi, isi, pesan) maupun redaksi (tata bahasa).

Dari segi substansi, komunikasi Islam harus menginformasikan atau menyampaikan kebenaran, faktual, hal yang benar saja, jujur, tidak berbohong, juga tidak merekayasa atau memanipulasi fakta.36

Namun tidak semua kata yang benar menjadi tepat kalau ditempatkan pada posisi yang tidak benar. Misalnya menceritakan suatu tragedi kepada orang yang sakit jantung. Maka ini akan berakibat fatal dan hal ini tidak sadidan (tepat sasaran). Maka peneliti mengambil kesimpulan bahwa qaulan sadidan adalah perkataan yang benar dan tepat pada kondisinya.

g. Qaulan Tsaqilan

Ungkapan qaulan tsaqilan secara bahasa berarti perkataan yang berat. Ungkapan ini terdapat dalam firman Allah SWT dalam QS. Al- Muzzammil ayat 5:

اَّك إ

ۡ الًي وَثۡ ٗلَ ََقۡ َ يَلُوَنۡي و لُوننَس ۡ ٥

ۡ

36Asep Syamsul M. Romli, “Komunikasi Islam: Makna dan Prinsip”, dalam http://romeltea.com/komunikasi-islam-makna-dan-prinsip/. Diakses pada 18 April 2017.

(43)

41 Terjemah:

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kapadamu perkataan yang berat.”37

Maksud dari ayat di atas adalah bahwa Al-Quran mengandung tugas- tugas yang tidaklah mudah bagi Rasullullah. Di sisi lain struktur bahasa Al- Quran juga sangat berat, maksud berat di sini adalah sangat berbobot, sehingga tidak mudah untuk ditiru.

Jadi qaulan tsaqilan dalam kontek komunikasi maksudnya apa-apa yang kita sampaikan atau ucapkan hendaklah merupakan kata-kata yang berbobot dan penuh makna, memiliki nilai yang mendalam, memerlukan perenungan untuk memahaminya dan bertahan lama.

h. Qaulan ‘Adziman

Secara bahasa, qaulan ‘adziman artinya perkataan yang besar.

Namun dalam peristilahan, secara konotasi ungkapan qaulan ‘adziman memiliki arti perkataan yang besar dosa atau keburukannya, sepeti halnya tercantum dalam Q.S. Al-Isra ayat 40. Dalam ayat tersebut Allah mengkritik kaum jahiliyah yang meyakini bahwa malaikat adalah perempuan dan meyakini pula bahwa malaikat itu merupakan anak perempuan Tuhan.

Ungkapan seperti ini merupakan perkataan yang besar, maksudnya kekejian yang besar, besar kelancangannya, besar kedustaannya dan jauh keluar dari kebenaran.

37 Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung : Syaamil Cipta Media, 2005), hal. 806.

Gambar

Gambar 1. Bagan teknik-teknik komunikasi pada setiap tahapan konseling  Sumber: (Willis, 2009: 132)
Gambar 2. Alur Kerangka Berpikir

Referensi

Dokumen terkait

menyebabkan produk yang dihasilkan juga rendah, sebaliknya kosentrasi starter yang sangat tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri karena mengalami keterbatasan

Pada saat start disentuh pada layar screen yang terlihat pada gambar 4.14 maka motor yang pertama akan aktif sesuai dengan waktu yang telah terprogram pada PLC dan

Data yang diperlukan dalam penelitian ini adalah aspek-aspek yang berkaitan dengan pengembangan media pembelajaran Berbasis multimedia Autoplay yang ditinjau dari

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan studi lapangan. Tehnik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui

Dalam hal ini penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi minat nasabah memilih produk tabungan wakaf di bank CIMB Niaga Syariah Cabang

Untuk penelitian yang dilakukan diperlukan kajian pustaka yang berguna sebagai bahan bahan pertimbangan dan bahan sistematis tentang hasil penilitian terdahulu yang

Hasil penelitian Sudirman (2018) yang dilaksanakan di 3 Pondok Pesantren di Makassar, menyimpulkan kondisi sanitasi lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar dari

Proliferasi sel kanker setelah pemberian nanopartikel emas F.carica Tahapan penting dalam penelitian antikanker adalah mengetahui kemampuan suatu senyawa untuk dapat menghambat