• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab I. Pendahuluan. harus bisa mengimbangi dengan banyaknya budaya yang kita miliki. 1

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Bab I. Pendahuluan. harus bisa mengimbangi dengan banyaknya budaya yang kita miliki. 1"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

1 Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki keberagaman budaya yang sangat banyak yang mana Hingga kini pihak Kemendikbud mengaku telah mencatat setidaknya lebih dari 67.273 warisan budaya yang ada di Indonesia.

Menurutnya, jumlah tersebut meliputi 11.627 warisan budaya benda tak bergerak, 53.538 benda bergerak dan 2.108 warisan budaya tak benda Setiap daerah yang ada di Indonesia memiliki kebudayaan yang khas yang menunjukkan identitas suatu daerah tersebut. Salah satu kebudayaan yang dapat ditemui di berbagai masayarakat Indonesia adalah mengenai perpindahan hak atas suatu tanah adalah berbeda-beda antara satu daerah dengan daerah lainnya, ada berbagai cara yang dapat dilakukan untuk melakukan perpindahan hak atas tanah apalagi tanah sekarang merupakan sesuatu hal yang mahal tidak semua orang itu bisa membeli suatu bidang tanah. Maka dari itu dapat dipahami bahwa perkembangan hukum yang ada harus bisa mengimbangi dengan banyaknya budaya yang kita miliki.1

Perkembangan hubungan hukum didalam masyarakat begitulah amat cepat terutama dalam kasus keperdataan contohnya dalam jual beli,persewaan

1 Fitriana Fitriana, Yusuf Adam Hilman, and Bambang Triono, “Peran Dinas Pariwisata Dan

Kebudayaan Dalam Upaya Pelestarian Kesenian Budaya Lokal,” Jurnal Inovasi Ilmu Sosial Dan Politik 2, no. 1 (2020): 1, https://doi.org/10.33474/jisop.v2i1.4899.

(2)

2

,utang piutang atau yang lainnya. Dalam masayarakat jawa sendiri ada suatu kebiasaan atau adat mengenai perpindahan hak atas suatu tanah yang biasa disebut gadai tanah. Dalam pelaksanaan gadai tanah ini yang menjadi objek gadai lazimnya sebuah tanah pertanian. Hal yang seperti itu sudah dilakukan sudah sejak lama dan diwariskan secara temurun dalam pelaksanaannya dan sudah tentu perbuatan yang seperti itu sudah bisa dikatakan sebuah adat, seperti pengertian adat yaitu kebiasaan yang dilakukan secara ajeg dan diturunkan atau diwariskan kebiasan itu ke generasi selanjutnya.2

Gadai tanah sendiri merupakan sebuah hubungan hukum antara pemberi gadai dengan penerima gadai yang mana di dahului perjanjian pokonya yaitu utang piutang lalu juga jaminan dalam utang piutang itu yaitu tanah milik pemberi gadai. Dalam perjanjian gadai tanah ini kepimilikan tanah yang menjadi objek gadai untuk sementara waktu berpindah tangan ke penerima gadai dan penerima gadai ini bebas menggunakan tersebut. Lalu dalam Penebusan gadai tanah itu tergantung kepada kemampuan dan keamauan yang menggadaikan meskipun tentang pengembalian utang itu sudah di tentukan kapan harus dilunasi apabila sudah melewati waktu yang sudah ditentukan akan tetapi masih belum memilki uang cukup maka tanah

;;tersebut tetap berada di kekuasaan penerima gadai hingga pemberi gadai tersebut bisa melunasi. Dalam transaksi utang piutang dengan jaminan tanah (gadai) itu dilandasakan atas kesepakatan kedua belah pihak baik sisi uang

2 Dominikus Rato, Hukum Adat Di Indonesia (Suatu Pengantar), Surabaya (Laksbang Justitia, 2014).

(3)

3

yang dijadikan utang piutang dengan tanahnya lalu lama waktu utang piutang itu berlangsung, selain itu dalam pelaksanaan utang piutang tersebut itu di dasarkan atas tolong menolong antar sesama warga masayarakat.3

Praktik utang piutang dengan jaminan tanah ini lebih mudah dipahami oleh masyarakat dan sifatnya sederhana terlebih lagi ada tanggungan bunga yang dibebankan setiap bulannya jika meminjam ke lembaga peminjaman atau bank, selain itu meminjam di lembaga peminjaman atau bank ini harus membutuhkan waktu yang cukup lama yang disebabkan oleh Lembaga perbankan sangat menerapkan prinsip kehati-hatian dalam menyalurkan kreditnya.4 Apalagi kebanyakan dari pemberi gadai ini menggadaikan tanahnya ini untuk memenuhi kebutuhan mereka yang begitu mendesak dan membutuhkan dana yang cepat dan tidak ribet agar bisa menambal kebutuhan mereka.

Namun disisi lain praktik gadai tanah itu juga menimbulkan kerugian disalah satu pihak karena debitur/pemberi gadai tadi harus kehilangan tanah mereka sekaligus sumber pendapatannya apalagi jika si debitur ini bermata pencaharian bercocok tanam maka secara terpaksa harus beralih profesi lain agar tetap mendapatkan pendapatan setiap harinya. Dilain sisi pihak penerima gadai akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar karena bisa

3 Faura Rita, “Pelaksanaan Gadai Tanah Pertanian Kenagarian Asam Kumbang Kecamatan Bayang Utara Ditinjau Dari Pasal 7 Undang-Undang Nomor 56 PRP.Tahun 1960,” Swara Justisia 5, no. April (2021): 15–38.

4 D A N Hambatan Hambatannya, D I Kecamatan, and Kalipuro Kabupaten, “Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Islam Malang 1036” 26 (2020): 1036–46.

(4)

4

menggarap tanah yang dijadikan objek gadai tanah itu lalu pemberi gadai ini juga akan mendapatkan pengembalian uang yang telah di pinjamkan sebelumnya ke pemberi gadai dengan nominalnya sama dengan apa yang dipinjamkan sebelumnya tanpa dikurangi sedikitpun.

Perjanjian utang piutang dengan jaminan tanah (gadai) yang di lakukan masyarakat Indonesia dalam prakteknya banyak yang masih belum berpedoman dengan hukum positif yang berlaku pada saat ini, akan tetapi mereka masih berpedoman dengan hukum adat yang sifatnya turun temurun.5 Baik itu dalam pembuatan perjanjian dimana mereka hanya melakukan perjanjian secara lisan saja baik itu dilakukan dengan kedua belah pihak saja atau ada pihak yang lain terlibat dalam perjanjian tersebut, lalu dalam jangka waktu pengembalian uang yang sudah dipinjam juga diatur waktu pengembaliannya bahkan ada yang tidak diatur waktu pengembaliannya. Cara pengembalian uang yang sudah dipinjam itu nominalnya sama dengan apa yang sudah dipinjamkan sebelumnya dan terkadang meskipun sudah melunasi utangnya objek gadai tanah tidak bisa kembali langsung ke pemberi gadai karena masih di gunakan untuk menanam dan harus menunggu hingga waktu panen tiba baru kembali ke pemberi gadai.

Hal itu sesuai dengan apa yang sudah di praktikkan di desa ngablak kecamatan cluwak kabupaten pati dalam perjanjian utang piutang jaminan

5 St Nurjannah, “Perjanjian Gadai Tanah ( Pa ’ Pitaggallang ) Pada Masyarakat Tani Desa Je ’ Netallasa”

2, no. 56 (2020): 221–28.

(5)

5

tanah (gadai) dimana mereka dalam perjanjian tersebut tidak ada ketentuan pasti mengenai kapan tanah itu harus dikembalikan akan tetapi berdasarkan kapan uang itu dikembalikan jika tidak dapat mengembalikan maka tanah itu akan tetap dikuasi oleh si penerima gadai, tidak ada batasan waktunya. Untuk tata cara penebusannya mereka masih menggunakan hukum adat yaitu dengan cara mengembalikan uang yang sesuai yang ia pinjam sebelumnya

Adapun Penelitian-penelitian yang telah dilakukan perihal tema serupa, adalah sebagai berikut:

1. Judul” GADAI TANAH PERTANIAN MENURUT PASAL 7 UNDANG- UNDANG NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 DAN IMPLEMENTASINYA DI DESA DONGI KECAMATAN PITU RIAWA KABUPATEN SIDRAP

“,Artikel ini membahas Aturan Hukum Tentang Sistem Gadai Tanah Pertanian di Desa Dongi Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap dan Efektifitas Undang-Undang Nomor 56 Prp Tahun 1960 di Desa Dongi Kecamatan Pitu Riawa Kabupaten Sidrap (Annisa Reski Syamsuri, Sohrah, Nurjannah: 2017)

2. Judul “PELAKSANAAN GADAI TANAH PERTANIAN KENAGARIAN ASAM KUMBANG KECAMATAN BAYANG UTARA DITINJAU DARI PASAL 7 UNDANG-UNDANG NOMOR 56 PRP.TAHUN 1960”,artikel ini membahas mengenai Dasar hukum gadai tanah pertanian dan Ketentuan gadai tanah pertanian (Rita Faura:2021)

(6)

6

3. Judul “AKIBAT HUKUM GADAI TANAH YANG MELEBIHI WAKTU 7 TAHUN PADA MASYARAKAT BERDASARKAN PASAL 7 UNDANG- UNDANG NOMOR 56 PRP TAHUN 1960 (Studi di Desa Lantan Kec.

Batukliang Utara Kab. Lombok Tengah)”, Membahas mengenai Faktor- Faktor Yang Melatarbelakangi Seseorang Menggadaikan Tanah di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah dan Akibat Hukum Tanah Gadai yang Melebihi Waktu 7 Tahun Apabila Dikaitkan Dengan Pasal 7 Undang-Ulndang Nomor 56 Prp Tahun 1960 di Desa Lantan, Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah (Egi Prasetya Maulana,Suratman,Diyan Isnaeni: 2021)

Namun hingga kini belum ada yang melakukan penelitian perihal praktik utang piutang jaminan tanah (gadai) dan kendala perjanjian utang piutang (gadai) tanah di desa ngablak kecamatan cluwak kabupaten pati,sehingga penelitian ini layak untuk dilaksanakan.

B. Rumusan Masalah

Bagaimana praktik utang piutang dengan jaminan tanah (gadai) di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati?

C. Tujuan

Tujuan dari penelitian yang dilakukan adalah sebagai berikut:

(7)

7

1. Mengetahui praktik utang piutang jaminan tanah (gadai) di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati

2. Memahami motif atau alasan praktik utang piutang dengan jaminan tanah (Gadai) di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati D. Manfaat Penelitian

Penelitian yang dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Menambah pengetahuan mengenai bagaimana perjanjian utang piutang dengan jaminan tanah pertanian (gadai) di Desa Ngablak Kecamatan Cluwak Kabupaten Pati berdasarkan hukum adat yang berlaku disana

E. Kegunaan Penelitian

Selain daripada manfaat terdapat pula kegunaan yang diharapkan dari adanya penelitian ini, yaitu sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui hukum adat tentang perjanjian utang piutang dengan tanah pertanian sebagai jaminannya

F. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian hukum empiris.

Penelitian hukum empiris adalah penelitian hukum yang mengkaji ketentuan hukum yang berlaku serta apa yang terjadi dalam kenyataan di masyarakat atau penelitian yang dilakukan terhadap

(8)

8

keadaan sebenarnya yang terjadi di masyarakat, dengan maksud menemukan fakta-fakta yang dijadikan data penelitian yang kemudian data tersebut dianalisis untuk mengidentifikasi masalah yang pada akhirnya menuju pada penyelesaian masalah.6

Metode ini digunakan karena dari judul dan permasalahan yang diangkat mengharuskan peneliti untuk menjabarkan Penerapan dan hambatan yang dihadapi dalam praktik kehidupan masyarakat. Hal ini searah dengan pernyataan Soerjono Soekanto bahwa topik- topik atau tema yang relevan untuk diteliti menggunakan metode penelitian hukum empiris adalah Penelitian terhadap identifikasi hukum, dan penelitian terhadap efektifitas hukum. Penelitian hukum empiris bersumber dari data yang diperoleh langsung dari masyarakat dengan melalui pengamatan atau observasi maupun wawancara.

2. Analisa data

Analisa yang akan digunakan dalam tulisan ini adalah metode pendekatan kualitatif. Pendekatan ini focus terhadap makna, penalaran atau keadaan di dalam suatu saat tertentu, selain itu penelitian kualitatif banyak meneliti tentang kehidupan suatu masayarakat di setiap harinya.7 Oleh karena itu peneliti harus bisa

6 Waluyo Bambang, Peneltian Hukum Dalam Praktek (Jakarta: Sinar Grafika, 2002).

7 Rukin, Metode Penelitian Kualitatif (Takalar: Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia, 2019).

(9)

9

membaur dengan masyarkat yang akan di teliti tersebut agar data yang di dapat sesuai dengan apa yang diharapkan peneliti tersebut.

Pertama peneliti akan melakukan pendekatan undang-undang dan konseptual yaitu studi pustaka, dalam hal ini teori-teori hukum dan pasal-pasal dalam undang-undang agraria, peraturan pemerintah berkaitan dengan pertanahan, peraturan daerah berkaitan dengan Perjanjian Gadai beserta aturan pelaksananya, dan surat-surat edaran maupun keputusan badan pemerintahan yang menunjang topik yang dibahas untuk dianalisis secara krtikal dan dijelaskan makna serta implikasinya terhadap subjek hukum. Kedua, peneliti dengan pendekatan kualitatif melakukan pengamatan untuk menggali masalah yang ada di masyarakat berkaitan dengan perjanjian gadai.

3. Alasan Memilih Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian yang dipilih oleh peneliti adalah Desa Ngablak Kecamatan Cluwak, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena wilayah lokasi yang dijadikan tempat penelitian itu dalam melkasanakn praktik utang piutang dengan jaminan tanaha (gadai) masih menggunakan aturan adat yang berlaku, baik itu dalam hal jangka waktu dalam perjanjian utang piutang itu yang atau cara penebusannya yang masih menggunakan system lama yang menebus tanah yang

(10)

10

dijadikan jaminan tadi dengan membayar sejumlah uang yang sam dengan apa yang ia pinjam pada saat perjanjian itu terjadi. Lokasi penelitian yang dipilih juga mudah untuk diakses karena letaknya yang dekat dengan tempat tinggal peneliti.

4. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari:

a. Data primer, meliputi:

Wawancara yang dilakukan secara langsung dan mendalam dengan:

 Bapak Km dengan bapak Lq

 Bapak Kd dengan Ibu J

 Bu Dw dan Bapak Mk

Karena sedang dalam perjanjian gadai tanah atau yang sudah melakukan perjanjian gadai tanah. Selain itu dalam penelitian ini nama responden tidak disebutkan karena permintaan dari para respondennya dengan berbagai alasan.

b. Data sekunder, meliputi:

1) Bahan hukum primer adalah peraturan perundang- undangan, terdiri dari:

I. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945);

(11)

11

II. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA);

III. Hukum Adat

2) Bahan Hukum Sekunder adalah bahan-bahan yang ada kaitannya dengan bahan hukum primer dan bisa membantu masyarakat memahami dan mengetahui bahan hukum primer, yang terdiri dari buku-buku hukum, artikel jurnal, putusan, hasil penelitian, publikasi ilmiah, berita, skripsi dan disertasi yang berkaitan dengan permasalahan yang akan dikaji.

5. Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan melakukan penelitian terjun ke lapangan, yakni teknik pengumpulan data dengan cara peneliti melakukan wawancara secara langsung kedua belah pihak yaitu penerima gadai dan pemberi gadai baik itu yang sedang berlamngsung gadai ataupun pihak yang sudah melakukan gadai.

6. Teknik Analisis Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik analisis kualitatif, yaitu dengan mengumpulkan data, mengkualifikasikannya kemudian menghubung-hubungkannya dengan teori yang

(12)

12

berhubungan dengan masalahnya dan akhirnya menarik kesimpulan untuk menentukan hasilnya, yang menghasilkan data deskriptif. Data deskriptif adalah apa yang dinyatakan informan secara lisan maupun tulisan dan juga perilaku nyata diamati dan dipelajari secara utuh.

7. Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah B. Perumusan Masalah C. Tujuan Penelitian D. Manfaat Penelitian E. Kegunaan Penelitian F. Metode Penelitian G. Sistematika Penulisan BAB II TINJAUAN PUSTAKA

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan B. Saran

Referensi

Dokumen terkait

Uji ini digunakan untuk menguji pengaruh variabel independen yaitu pendapatan asli daerah, dana alokasi umum dan dana alokasi khusus terhadap variabel dependen yaitu

dalam salah satu faktor tersebut ada hubungan dengan kegiatan mentoring yaitu rasa ingin tahu seseorang terhadap sifat keberagamaan, kebutuhan seseorang yang

a) Kuantitas adalah banyaknya jumlah produk yang dihasilkan oleh karyawan Batik Tulis Gedog Tuban UD Budi Karya sesuai dengan target yang telah ditetapkan. b)

Tahapan dalam metode analisis terdiri dari analisis terhadap landasan teori yang digunakan sebagai dasar dari sistem, serta analisis data-data dan informasi yang diperoleh dari

Jika nilai signifikan (sig) > (0,05) atau nilai t hitung < t tabel, maka secara parsial variabel independen tersebut tidak mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap

Cerita ini mengemukakan tema keberanian luar biasa seorang raja yang bernama Indera Nata dalam usaha mencari gajah bergadingkan emas dan menyelamatkan tujuh orang

Dari hasil pengklasifikasian pada Tabel 6 dapat disimpulkan bahwa metode K-Nearest Neighbor bekerja lebih baik dibandingkan dengan Naïve Bayes untuk kasus data status kerja

Dalam rangka mendukung UPSUS Padi, Jagung dan Kedelai terdapat kegiatan penyuluhan yang harus segera dilaksanakan berkenaan dengan APBN-P 2015, yaitu pengawalan