i BUPATI BUTON SELATAN
SAMBUTAN
Assalamu „Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji dan syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta‟ala, Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas berkah dan rahmatnya kita semua masih terus diberi kesempatan untuk berkarya dalam segala tindakan nyata untuk mewujudkan masyarakat Kabupaten Buton Selatan yang kita cintai ini kearah yang lebih baik khususnya dalam upaya peningkatan Ketahanan Pangan.
Berbagai pemikiran dan upaya yang telah sama-sama kita arahkan disegala tingkatan, baik di Kabupaten maupun di Kecamatan untuk memberikan kontribusi yang besar bagi upaya menjadikan rakyat lebih sejahtera sejalan dengan strategis pendekatan pembangunan daerah Kabupaten Buton Selatan sesuai dengan Visi Terwujudnya Kabupaten Buton Selatan Sebagai Pusat Pertumbuhan Baru Melalui Optimalisasi Sumberdaya Lokal Menuju Masyarakat Sejahtera, Mandiri dan Bermartabat.
Saya memberikan penghargaan yang tinggi atas kerja keras dari Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Buton Selatan dan Tim Penyusun Peta FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas) Kabupaten Buton Selatan yang telah berhasil meluncurkan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan FSVA (Food Security and Vulnerability Atlas) Kabupaten Buton Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2020.
ii Peta ini menggambarkan kondisi ketahanan dan kerentanan pangan yang dirinci sampai pada tingkat kecamatan, desa dan kelurahan dengan menggunakan 6 (enam) Indikator yang mencerminkan 3 (tiga) aspek Ketahanan Pangan yaitu Ketersediaan Pangan, Akses Pangan, dan Pemanfaatan Pangan.
Ke 6 (enam) Indikator tersebut adalah 1). Rasio luas baku lahan sawah terhadap luas wilayah desa. 2). Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga. 3). Rasio jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap jumlah penduduk desa. 4). Desa yang tidak memiliki akses penghubung memadai melalui darat, air atau udara. 5). Rasio jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga desa. 6). Rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk desa.
Secara umum gambaran yang dihasilkan dari peta ini cukup memberikan keragaman pada hampir semua indikator maupun gambaran menyeluruh (komposit) dimana dari 7 (tujuh) kecamatan terdapat 60 (enam puluh) desa dan 10 (sepuluh) kelurahanyang di analisis dalam FSVA Kabupaten Buton Selatan Tahun 2020 didapati sejumlah prioritas. Priotitas 1 (tingkat kerentanan pangan sangat tinggi) tidak terdapat dikabupaten Buton Selatan, Prioritas 2 (tingkat kerentanan pangan sedang) terdapat 6 desa (8,57%), Prioritas 3 (tingkat kerentanan pangan rendah) terdapat 13 Desa dan 1 kelurahan (20%), prioritas 4 (agak tahan terhadap kondisi rentan pangan) terdapat 23 desa dan 3 kelurahan(37,14(%),Prioritas 5 (tahan terhadap rentan pangan) terdapat 14 Desa dan 5 kelurahan (27,14%), Prioritas 6 (sangat tahan terhadap rentan pangan) terdapat 4 desa dan 1 kelurahan (7,14%).
Hal ini menunjukan telah terjadi peningkatan kondisi ketahanan pangan wilayah karena berbagai upaya pembangunan yang dilakukan oleh kita semua. Gambaran ini juga sejalan dengan kondisi kemiskinan di Kabupaten Buton Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara yang terus menerus berkurang secara signifikan. Namun saya juga menyadari bahwa masih sering terjadi permasalahan pangan diberbagai wilayah dipicu oleh banyak hal antara lain perubahan iklim, distribusi pangan,
iii gejolak harga dan lain sebagainya. Untuk itu saya tetap bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja tuntas dan bekerja dengan ikhlas untuk menjadikan Kabupaten Buton Selatan Provinsi Sulawesi Tenggara lebih baik dimasa mendatang demi kesejatraan masyarakat Kabupaten Buton Selatan yang kita cintai.
Dengan diluncurkannya Buku Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Tahun 2020 ini maka kedepan dapat menjadi arah dan pegangan kita dalam penyusunan program strategis dan kegiatan pada setiap tahapan dilokasi-lokasi yang digambarkan dalam peta ini, agar dapat menuntaskan masalah pangan dan gizi yang bersifat multidimensional, yang tidak dapat dilakukan secara sendiri dan terpisah, namun dapat dilakukan dalam satu tatanan koordinasi yang tepat, cepat, terarah, menyeluruh dan berkesinambungan.
Pada akhirnya, saya berharap peta ini bermanfaat bagi kita semua khususnya Kabupaten Buton Selatan dan semoga Allah Subhanahu Wa Ta‟alla memudahkan segalah urusan kita untuk membangun Kabupaten Buton Selatan yang kita cintai.
Batauga, 2020
Bupati Buton Selatan
H. LA ODE ARUSANI
iv
KATAPENGANTAR
Dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional yang kuat, tentu diperlukan informasi ketahanan pangan yang akurat dan tertata dengan baik. Hal ini diamanatkan dalamUndang-Undang No.18 Tahun 2012 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi.
Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan Kabupaten Buton Selatan (Food Security And Vulnerabilty Atlas, FSVA) yang telah dihasilkan hendaknya dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak untuk memperkuat ketahanan pangan wilayah masing-masing.
Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security And Vulnerabilty Atlas, FSVA) Kabupaten Buton Selatan mencakup 7 (tujuh) Kecamatan serta merupakan konsolidasi berbagai aspek yang terkait dengan ketahanan pangan, seperti ketersediaan pangan serta gizi dan kesehatan.
Hasil analisis FSVA 2020 menunjukkan bahwa Kabupaten Buton Selatan tidak terdapat desa/kelurahan yang masuk pada prioritas 1, akan tetapi masuk pada desa rentan terhadap kerawanan pangan prioritas 2 dan prioritas 3, dengan adanya hasil analisis tersebut perlu adanya perhatian pada daerah-daerah yang masih berada dalam prioritas tersebut. Dengan demikian diharapkan pada tahun- tahun mendatang tidak ada lagi daerah-daerah yang menjadi prioritas utama.
FSVA ini dapat dijadikan referensi dan pedoman bagi upaya-upaya penurunan kerawanan pangan. Untuk itu perlu ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten untuk menyusun FSVA agar dapat memberikan gambaran kondisi Ketahanan dan Kerentanan Pangan sampai pada tingkat Desa.
Kepada semua pihak yang telah turut berperan dalam penyusunan Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (FSVA) Kabupaten Buton Selatan pada kesempatan ini kami ucapkan terimah kasih.
v Kami sadari bahwa penyusunan FSVA Kabupaten Buton Selatan belum sempurna, untuk itu sumbang saran yang bersifat konstruktif sangat kami harapkan demi penyempurnaan peta yang dimaksud.
Kami berharap dengan tersusunnya peta ini dapat memberikan kontribusi yang berarti bagi pembangunan Ketahanan Pangan di Kabupaten Buton Selatan.
KEPALA DINAS KETAHANAN PANGAN KABUPATEN BUTON SELATAN,
MUH. AL ICHSAN, S.Pd.,M.Si NIP. 19710915 199802 1 004
vi
RINGKASAN EKSEKUTIF
1. Ketersediaan informasi ketahanan pangan yang akurat, komprehensif, dan tertata dengan baik sangat penting untuk mendukung upaya pencegahan dan penanganan kerawanan pangan dan gizi, karena dapat memberikan arah dan rekomendasi kepada pembuat keputusan dalam penyusunan program, kebijakan, serta pelaksanaan intervensi di tingkat pusat dan daerah. Penyediaan informasi diamanahkan dalam UU No 18/ 2012 tentang Pangan dan PP No 17/2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi yang mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya untuk membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi.
2. Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas–
FSVA) merupakan peta tematik yang menggambarkan visualisasi geografis dari hasil analisa data indikator kerentanan terhadap kerawanan pangan. Informasi dalam FSVA menjelaskan lokasi wilayah rentan terhadap kerawanan pangan dan indikator utama daerah tersebut rentan terhadap kerawanan pangan.
3. FSVA Kabupaten merupakan peta yang menggambarkan situasi ketahanan dan kerentanan pangan wilayah desa. Indikator yang digunakan dalam penyusunan FSVA merupakan turunan dari tiga aspek ketahanan pangan, yaitu ketersediaan, keterjangkauan dan pemanfaatan pangan. Pemilihan indikator didasarkan pada: (i) keterwakilan 3 pilar ketahanan pangan (ii) tingkat sensitifitas dalam mengukur situasi ketahanan pangan dan gizi; dan (iii) ketersediaan data tersedia secara rutin untuk periode tertentu yang mencakup seluruh wilayah desa. Enam indikator digunakan dalam penyusunan FSVA Kabupaten.
vii 4. Indikator pada aspek ketersediaan pangan adalah (1) Rasio luas lahan baku
sawah terhadap luas lahan total; (2) Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga. Indikator pada akses pangan adalah (1) Rasio penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap total jumlah penduduk; (2) Desa dengan akses penghubung kurang memadai.
Indikator pada aspek pemanfaatan pangan adalah: (1) Rasio rumah tangga tanpa akses air bersih; (2) Rasio tenaga kesehatan terhadap penduduk.
5. Desa/kelurahan diklasifikasikan dalam 6 kelompok ketahanan pangan dan gizi berdasarkan pada tingkat keparahan dan penyebab dari situasi ketahanan pangan dan gizi. Desa/kelurahan di Prioritas 1, 2 dan 3 merupakan wilayah rentan pangan dengan klasifikasi Prioritas 1 tingkat rentan pangan tinggi, Prioritas 2 rentan pangan sedang, dan priroritas 3 rentan pangan rendah.
Desa/kelurahan di Prioritas 4, 5, dan 6 merupakan wilayah tahan pangan dengan klasifikasi prioritas 4 tahan pangan rendah, prioritas 5 tahan pangan sedang, sedangkan prioritas 6 yaitu tahan pangan tinggi.
6. Secara umum gambaran yang dihasilkan dari peta ini cukup memberikan keragaman pada hampir semua indikator maupun gambaran menyeluruh (komposit) dimana dari 7 (tujuh) kecamatan terdapat 60 (enam puluh) desa dan 10 (sepuluh) kelurahan yang di analisis dalam FSVA Kabupaten Buton Selatan tahun 2020 didapati sejumlah prioritas. Priotitas 1 (tingkat kerentanan pangan sangat tinggi) tidak terdapat dikabupaten Buton selatan, prioritas 2 (tingkat kerentanan pangan sedang) terdapat 6 desa (8,57%), prioritas 3 (tingkat kerentanan pangan rendah) terdapat 13 Desa dan 1 kelurahan (20%), prioritas 4 (agak tahan terhadap kondisi rentan pangan) terdapat 23 desa dan 3 kelurahan(37,14(%), prioritas 5 (tahan terhadap rentan pangan) terdapat 14 Desa dan 5 kelurahan (27,14%), prioritas 6 (sangat tahan terhadap rentan pangan) terdapat 4 desa dan 1 kelurahan (7,14%).
viii 7. Karakteristik desa rentan pangan ditandai dengan :
a. Tingginya laju pertumbuhan penduduk tanpa dibarengi dengan keseimbangan jumlah tenaga kesehatan, perbandingan antara jumlah penduduk dengan tenaga kesehatan yang dikoreksi dengan tingkat kepadatan penduduk.
b. Rendahnya rasio luas lahan sawah terhadap luas wilayah desa karena lahan sawah memiliki korelasi yang positif terhadap tingkat ketersediaan pangan dengan mempengaruhi tingkat produksi pangan.
c. Rendahnya rasio sarana dan prasarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tangga di desa maka di asumsikan semakin rendah tingkat ketersediaan pangan di desa tersebut
d. Penduduk dengan tingkat kesejatraan terendah diasumsikan tidak memiliki daya beli yang memadai untuk mengakses pangan
e. Masyarakat yang tinggal di daerah yang tidak memiliki akses penghubung yang memadai maka di asumsikan kurang maksimal dalam akses ke pelayanan jasa termasuk dalam memperoleh pangan
f. Tingginya rasio rumah tangga tanpa akses air bersih, perbandingan jumlah rumah tangga dengan sumber air bersih tidak terlindung.
8. Program-program peningkatan ketahanan pangan dan menangani kerentanan pangan desa diarahkan pada kegiatan:
a. Penanganan kemiskinan melalui penyediaan lapangan kerja, padat karya, redistribusi lahan; pembangunan infrastruktur dasar (jalan, listrik, rumah sakit), dan pemberian bantuan sosial; serta pembangunan usaha produktif/UMKM/padat karya untuk menggerakan ekonomi wilayah
ix b. Peningkatan akses air bersih melalui penyediaan fasilitas dan layanan air
bersih; sosialisasi dan penyuluhan c. Penyediaan tenaga kesehatan
d. Peningkatan SDM penyuluh pertanian dan penambahan tenaga penyuluh pertanian lapangan
e. Kawasan Mandiri Pangan (KMP)
f. Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL)
g. Program kegiatan Family Farming (Pertanian Keluarga) h. Pengolahan Industri Pangan Lokal
i. Advokasi dan Sosialisasi penganekaragaman konsumsi pangan
j. Pengembangan kawasan pertanian secara terpadu di sentra produksi k. Pengembangan program Pekarangan Pangan Lestari (P2L)
l. Pengembangan program Obor Pangan Lestari (OPAL) m. Peningkatan Program-program Kesehatan
x
DAFTAR ISI
Halaman SAMBUTAN BUPATI BUTON SELATAN
KATA PENGANTAR
i iv
RINGKASAN EKSEKUTIF vi
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xii
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
BAB I PENDAHULUAN 1
1.1. Latar Belakang 1
1.2. KerangkaKonsepKetahananPangan Dan Gizi 5 1.3. Metodologi
1.3.1 Indikator
1.3.2 Metode Analisis
1.3.2.1 Analisis Indikator Individu 1.3.2.2 Analisis Komposit
1.3.2.3 Pemetaan
10 10 12 12 12 15
BAB 2 KETERSEDIAAN PANGAN 16
2.1. Lahan Pertanian 17
2.2. Produksi 2.2.1 Padi 2.2.2 Jagung 2.2.3 Ubi Kayu 2.2.4 Ubi Jalar
19 22 23 25 26
2.3. Sarana dan Prasarana Ekonomi 28
xi
BAB 3 AKSES TERHADAP PANGAN 32
3.1. Penduduk Dengan Tingkat Kesejahteraan Terendah 32
3.2. Akses Transportasi 35
3.3. Strategi Peningkatan Akses Pangan 37
BAB 4 PEMANFAATAN PANGAN 40
4.1. Akses Terhadap Air Bersih 40
4.2. Rasio Tenaga Kesehatan 42
4.3. Dampak (Outcome) Dari Status Kesehatan 45 4.4. Strategi Peningkatan Pemanfaatan Pangan 54
BAB 5 KETAHANAN DAN KERENTANAN PANGAN KOMPOSIT 60
5.1. Kondisi Ketahanan Pangan 61
5.2 Faktor Penyebab Kerentanan Pangan 63
BAB 6 REKOMENDASI KEBIJAKAN 66
xii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Buton Selatan (juta rupiah), 2015-2019
2
Tabel 1.2 Indikator FSVA Kabupaten 2019 11
Tabel 1.3 Bobot Indikator Individu 14
Tabel 2.1 Sebaran Rasio Luas Baku Lahan Sawah Terhadap Total Lahan Berdasarkan Prioritas
18
Tabel 2.2 Produksi Serelia Pokok dan Umbi-umbian 2015-2019 (ton) 20 Tabel 2.3 Produksi Total Serelia Per Tahun dan Laju Pertumbuhan
Produksi (2015-2019)
21
Tabel 2.4 Produksi Padi 2015-2019 (ton) 22
Tabel 2.5 Produksi Jagung 2015-2019 (ton) 24
Tabel 2.6 Produksi Ubi Kayu 2015-2019 (ton) 25
Tabel 2.7 Produksi Ubi Jalar 2015-2019 (ton) 26
Tabel 2.8 Sebaran Rasio Sarana dan Prasarana Ekonomi Berdasarkan Prioritas
28
Tabel 3.1 Persentase Populasi Dibawah Garis Kemiskinan Kabupaten Buton Selatan
33
Tabel 3.2 Sebaran Desa Dengan Tingkat Kesejahteraan Terendah Berdasarkan Skala Prioritas
34
Tabel 4.1 Sebaran Desa Berdasarkan Rumah Tangga Tanpa Akses Air Bersih Berdasarkan Skala Prioritas
41
Tabel 4.2 Sebaran Rasio Tenaga Kesehatan Di Desa Berdasarkan Skala Prioritas
44
Tabel 4.3 Penderita Gizi Buruk 2015-2019 46
Tabel 4.4 Jumlah Kematian Balita dan Ibu Saat Melahirkan Per Kecamatan Tahun 2018-2019
47
Tabel 4.5 Jumlah Stunting di Kecamatan Batu Atas Tahun 2019 49
xiii Tabel 4.6 Jumlah Stunting di Kecamatan Lapandewa Tahun 2019 49 Tabel 4.7 Jumlah Stunting di Kecamatan Sampolawa Tahun 2019 50 Tabel 4.8 Jumlah Stunting di Kecamatan Batauga Tahun 2019 51 Tabel 4.9 Jumlah Stunting di Kecamatan Siompu Barat Tahun 2019 51 Tabel 4.10 Jumlah Stunting di Kecamatan Siompu Tahun 2019 52 Tabel 4.11 Jumlah Stunting di Kecamatan Kadatua Tahun 2019 52 Tabel 4.12 Jumlah Stunting di Kabupaten Buton Selatan Tahun 2019 53 Tabel 5.1 Sebaran Jumlah Desa Berdasarkan Prioritas Komposit 61
xiv
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1 Konsep Ketahanan Pangan Dan Gizi 7
Gambar 2.1 Peta Rasio Luas Lahan Baku Sawah Terhadap Luas Wilayah Desa
19
Gambar 2.2 Produksi Serealia Pokok dan Umbi-umbian 2015-2019 (ton) 21 Gambar 2.3 Produksi Total Serealia Per Tahun dan Laju Pertumbuhan
Produksi (2015-2019)
22
Gambar 2.4 Produksi Padi 2015-2019 (ton) 23
Gambar 2.5 Produksi Jagung 2015-2016 (ton) 24
Gambar 2.6 Produksi Ubi Kayu 2015-2016 (ton) 25
Gambar 2.7 Produksi Ubi Jalar 2015-2019 (ton) 26
Gambar 2.8
Gambar 3.1
Gambar 3.2
Gambar 4.1
Gambar 4.2
Gambar 4.3 Gambar 4.4
Gambar 4.5
Gambar 4.6
Gambar 5.1 Gambar 5.2
Peta Rasio Sarana dan Prasarana Penyedia Pangan Terhadap Jumlah Rumah Tangga
Peta Rasio Jumlah Penduduk Dengan Tingkat Kesejahteraan Terendah
Peta Desa Yang Tidak Memiliki Akses Penghubung Yang Memadai
Peta Rasio Jumlah Rumah Tangga Tanpa Akses Air Bersih Terhadap Jumlah Rumah Tangga
Peta Rasio Jumlah Penduduk Desa Per Tenaga Kesehatan Terhadap Kepadatan Penduduk
Diagram Penderita Gizi Buruk Kabupaten Buton Selatan Diagram Jumlah Kematian Balita/Bayi di Kabupaten Buton Selatan Tahun 2018 dan 2019
Diagram Jumlah Kematian ibu melahirkan di Kabupaten Buton Selatan Tahun 2018 dan 2019
Diagram Balita Stunting di Kabupaten Buton Selatan Tahun 2019
Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan
Diagram Sebaran Jumlah Desa Prioritas 2 Per Kecamatan
29
33
37
41
44
46 48
48
53
60 62
xv Gambar 5.3
Gambar 6.1
Diagram Sebaran Jumlah Desa Prioritas 3 Per Kecamatan Kerangka Investasi Untuk Meningkatkan Ketahanan Pangan
63 67
xvi
DAFTAR LAMPIRAN
1. Data Analisis SAE FSVA Kabupaten Buton Selatan Tahun 2020 2. Data Template Hasil Analisis FSVATahun 2020
3. Data Hasil Analisis Luas Lahan Baku SawahTerhadap Luas Wilayah Desa
4. Data Hasil Analisis Sarana dan Prasarana Penyedia Pangan terhadap Jumlah Rumah Tangga
5. Data Hasil AnalisisJumlah Penduduk Dengan Tingkat Kesejahteraan Terendah
6. Data Hasil Analisis Desa Yang Tidak Memiliki Akses Penghubung Yang Memadai
7. Data Hasil Analisis Jumlah Rumah Tangga Tanpa Akses Air Bersih Terhadap Rumah Tangga
8. Data Hasil AnalisisJumlah Penduduk Desa Per Tenaga Kesehatan Terhadap Kepadatan Penduduk
9. DataHasil AnalisisKomposit
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Kabupaten Buton Selatan terdiri dari 7 (tujuh) kecamatan, 10 (sepuluh) kelurahan dan 60 (enam puluh) desa dengan total penduduk sebesar 98.582 jiwa (Dukcapil).
Kabupaten Buton Selatan terdiri dari 3 (tiga) pulau besaryang berpenghuni yaitu Pulau Batu Atas, Pulau Siompu, dan Pulau Kadatua dan mempunyai 2 (dua) pulau kecil yang tidak berpenghuni yaitu Pulau Liwuto Ngkidi dan Pulau Kawi- Kawia.Secara geografis terletak di bagian Selatan garis khatulistiwa, memanjang dari utara ke selatan di antara 5˚30‟- 6˚25.‟Lintang selatan dan memanjang dari barat ke timur di antara 20˚122‟- 4˚122‟bujur timur. Kabupaten Buton Selatan di sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Betoambari, Kecamatan Murhum, Kecamatan Sorawolio Kota Baubau, dan Kecamatan Pasar Wajo Kabupaten Buton, sebelah selatan berbatasan dengan Laut Flores, sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Pasarwajo dan Kecamatan Wabula Kabupaten Buton dan sebelah barat berbatasan dengan Laut Flores. Kabupaten Buton Selatan yang memiliki wilayah daratan seluas ± 348 km2 atau ± 34.800 ha dan wilayah perairan (laut) diperkirakan seluas ± 2.478,73 km2 atau ± 247.873 ha. Secara klimatologis, Kabupaten Buton Selatan memiliki pola tipe curah hujan tipe M, yaitu daerah basah memiliki curah hujan lebih dari 2.000 mm per tahun dan daerah kering memiliki curah hujan kurang dari 2.000 mm per tahun.
2 Perekonomian Kabupaten Buton Selatantergantung pada sektor Pertanian, Perikanan, Perkebunan, Pariwisata dan pertambangan, akan tetapi yang masih mempunyai peranan tinggi terhadap PDRB atas dasar harga berlaku adalah pada sektor pertanian dan Perikanan, dalam hal ini dapat dilihat tabel 1.1 dibawah ini
Tabel 1.1 Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga Berlaku Menurut Lapangan Usaha di Kabupaten Buton Selatan (juta rupiah), 2015-2019
Sumber; BPS 2020 (Buton Selatan Dalam Angka 2020)
No Lapangan Usaha 2015 2016 2017 2018 2019
1 2 3 4 5 6 7
1 Pertanian, Kehutanan dan
Perikanan 592 207,50 669 980,39 743 398,98 822 845,06 908 850,77
2 Pertambangan dan penggalian 606 942,09 681 583,09 751 306,49 811 042,30 862 629,56 3 Industri Pengolahan 79 328,44 85 327,72 93 750,51 95 855,49 101 645,10
4 Pengadaan Listrik dan Gas 588,37 709,47 868,03 893 961,89
5
Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah,Limbah, dan Daur Ulang
5 826,59 6 415,30 6 870,05 7 218,97 7 448,29
6 Konstruksi 283 883,89 322 248,50 345 877,80 384 100,17 432 922,22
7
Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motor
162 374,43 180 459,06 207 047,41 233 481,77 256 556,60
8 Transportasi dan Pergudangan 17 839,98 19 473,87 21 579,06 23 500,93 25 823,70
9 Penyediaan Akomodasi dan
Makan Minum 2 849,63 3 128,94 3 324,60 3 679,45 4 059,50
10 Informasi dan Komunikasi 18 729,77 20 407,48 23 954,48 25 707,32 27 766,95 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 18 063,31 20 316,58 21 912,65 22 931,18 24 605,78
12 Real Estate 1 455,57 1 590,27 1 698,03 1 661,03 1 712,53
13 Jasa Perusahaan 457,37 495,89 530,02 569,31 615,36
14
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
54 944,29 57 891,06 63 268,34 66 223,68 72 134,32
15 Jasa Pendidikan 109 047,70 120 580,13 131 082,67 142 362,81 153 641,71 16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan
Sosial 28 008,61 30 218,11 32 120,19 35 014,54 38 341,83
17 Jasa Lainnya 12 890,36 14 904,30 15 676,05 16 570,33 17 281,91
Produk Domestik Regional Bruto
(PDRB) 1 995 437,91 2 235 730,15 2 464 265,38 2 693 657,35 2 936 998,02
3 Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dapat didefinisikan sebagai keseluruhan nilai tambah barang dan jasa yang dihasilkan oleh seluruh unit usaha dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu satu tahun. Nilai PDRB mencerminkan kemajuan ekonomi suatu daerah.
PDRB perkapita salah satu tolak ukur untuk mengetahui tingkat kemakmuran suatu darerah dapat dilihat dari besarnya PDRB perkapita. Rata-rata peningkatan PDRB perkapita penduduk kabupaten Buton Selatan memperlihatkan angka diatas 5%, ini menunjukan tingkat kemakmuran yang mulai membaik.
Dalam struktur perekonomian Kabupaten Buton Selatan sektor pertanian dan perikanan masih merupakan sektor yang mempunyai peran terbesar terhadap PDRB atas dasar harga berlaku.
Dari tabel 1.1 dapat dilihat bahwa pada bidang pertanian, perikanan dan kehutanan Sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 selalu mengalami peningkatan, rata-rata peningkatan kenaikan mencapai lebih kurang 10% setiap tahunnya. Pada tahun tahun 2015 sampai tahun pada 2019 meningkat sebesar 53,47 %. Kenaikan ini disebabkan semua sub sektor yang ada dalam sektor pertanian, perikanan dan kehutanan mengalami kenaikan peranan. Selain sektorPertanian, sektor yang mengalami kenaikan tahun 2019 adalah sektor pertambangan dalam hal ini penambangan pasir, yaitu 42,13%; dari sektor konstruksimengalami kenaikan 52,50%; sektor Perdagangan Besar dan Eceran;
Reparasi Mobil dan Sepeda Motorjuga mengalami kenaikan 58%; dan dari sektor jasa pendidikan mengalami kenaikan 40,89%.
4 Undang-undang No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan Pasal 114 dan Peraturan Pemerintah No. 17 tahun 2015 tentang Ketahanan Pangan dan Gizi Pasal 75 mengamanatkan Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai dengan kewenangannya berkewajiban membangun, menyusun, dan mengembangkan Sistem Informasi Pangan dan Gizi yang terintegrasi, yang dapat digunakan untuk perencanaan, pemantauan dan evaluasi, stabilisasi pasokan dan harga pangan serta sebagai sistem peringatan dini terhadap masalah pangan dan kerawanan pangan dan gizi.
Informasi tentang ketahanan dan kerentanan pangan penting untuk memberikan informasi kepada para pembuat keputusan dalam pembuatan program dan kebijakan, baik di tingkat pusat maupun tingkat lokal, untuk lebih memprioritaskan intervensi dan program berdasarkan kebutuhan dan potensi dampak kerawanan pangan yang tinggi. Informasi tersebut dapat dimanfaatkan sebagai salah satu instrumen untuk mengelola krisis pangan dalam rangka upaya perlindungan/penghindaran dari krisis pangan dan gizi baik jangka pendek, menengah maupun panjang.
Dalam rangka menyediakan informasi ketahanan pangan yang yang akurat dan komprehensif, disusunlah Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan/Food Security and Vulnerability Atlas-FSVA sebagai instrumenuntuk monitoring ketahanan pangan wilayah. Di tingkat nasional FSVA disusun sejak tahun 2002 bekerja sama dengan World Food Programme (WFP). Kerjasama tersebut telah menghasilkan Peta Kerawanan Pangan (Food Insecurity Atlas - FIA) pada tahun 2005. Pada tahun 2009, 2015, 2018 disusun Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan (Food Security and Vulnerability Atlas – FSVA).
5 Sebagai tindak lanjut penyusunan FSVA Nasional disusun pula FSVA Provinsi dengan analisis sampai tingkat kecamatan dan FSVA Kabupaten dengan analisis sampai tingkat desa. Dengan demikian, permasalahan pangan dapat dideteksi secara cepat sampai level yang paling bawah. FSVA kabupaten telah disusun sejak tahun 2012 dan dimutakhirkan pada tahun 2016. Untuk mengakomodir perkembangan situasi ketahanan pangan dan pemekaran wilayah desa, maka dilakukan pemutakhiran FSVA Kabupaten pada tahun 2019.
Seperti halnya FSVA Nasional dan Provinsi, FSVA Kabupaten menyediakan sarana bagi para pengambil keputusan untuk secara cepat dalam mengidentifikasi daerah yang lebih rentan, dimana investasi dari berbagai sektor seperti pelayanan jasa, pembangunan manusia dan infrastruktur yang berkaitan dengan ketahanan pangan dapat memberikan dampak yang lebih baik terhadap penghidupan, ketahanan pangan dan gizi masyarakat pada tingkat desa.
Pengembangan FSVA tingkat desa merupakan hal yang sangat penting, dimana kondisi ekologi dan kepulauan yang membentang dari timur ke barat, kondisi iklim yang dinamis dan keragaman sumber penghidupan masyarakat menunjukkan adanya perbedaan situasi ketahanan pangan dan gizi di masing- masing wilayah. FSVA Kabupaten akan menjadi alat yang sangat penting dalam perencanaan dan pengambilan keputusan untuk mengurangi kesenjangan ketahanan pangan.
1.2 KERANGKA KONSEP KETAHANAN PANGAN DAN GIZI
Peran pangan bukan hanya penting untuk memenuhi kebutuhan fisik dasar dan mencegah kelaparan, namun lebih jauh dari itu peran pangan dengan kandungan gizi di dalamnya bagi kecerdasan bangsa dan peningkatan kualitas hidup manusia untuk menghasilkan manusia yang sehat, cerdas, aktif dan produktif seperti disebutkan dalam definisi ketahanan pangan. Kecukupan pemenuhan pangan dalam jumlah dan mutunya berkorelasi dengan produktivitas kerja dan
6 pertumbuhan otak serta kecerdasan dan pada akhirnya berperan dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Dalam undang-undang didefinisikan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi negara sampai dengan perseorangan yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, baik jumlah maupun mutunya, aman, beragam, bergizi, merata, dan terjangkau serta tidak bertentangan dengan agama, keyakinan, dan budaya masyarakat, untuk dapat hidup sehat, aktif, dan produktif secara berkelanjutan. Menimbang pentingnya ketahanan pangan dalam pembangunan nasional, Bab III Undang-undang Pangan Nomor 18 Tahun 2012 mengamanatkan bahwa Pemerintah harus melakukan perencanaan penyelenggaraan pangan. Pada pasal 6, penyelenggaraan pangan diarahkan untuk mewujudkan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan.
Definisi ketahanan pangan (food security) yang dianut oleh Food and Agricultural Organisation (FAO) dan dirujuk oleh UU Pangan saat ini mengacu pada konsep awal food security yang dihasilkan oleh World Food Summittahun 1996. Merujuk pada konsep tentang pentingnya nutrition security yang diajukan oleh Unicef pada awal tahun 1990an yang menambahkan aspek penyakit infeksi sebagai penyebab masalah gizi disamping ketahanan pangan rumahtangga, maka International Food Policy Research Institute (IFPRI) menyebut konsep ketahanan pangan FAO tersebut sebagai Food and Nutrition Security. Pada tahun 2012 FAO1 mengajukan definisi food security menjadi food and nutrition security untuk menyempurnakan konsep dan definisi sebelumnya.
1Disampaikan pada Commitee on World Food Security, 36th sessions of 15-22 October 2012, Rome-Italia
7 Upaya FAO ini sejalan dengan upaya Standing Committee on Nutrition (SCN), suatu lembaga non struktural yang juga berada di bawah United Nations (PBB) yang pada tahun 20132 juga merekomendasikan penyempurnaan definisi ketahanan pangan (food security) menjadi ketahanan pangan dan gizi (food and nutrition security). Dalam pemahaman baru ini, perwujudan ketahanan pangan tidak hanya berorientasi pada upaya penyediaan pangan dalam jumlah yang cukup bagi setiap individu, namun juga harus disertai upaya untuk meningkatkan efektivitas pemanfaatan pangan bagi terciptanya status gizi yang baik bagi setiap individu. Dalam konteks ini optimalisasi utilisasi pangan tidak cukup hanya dari kualitas pangan yang dikonsumsi, namun juga harus didukung oleh terhindarnya setiap individu dari penyakit infeksi yang dapat mengganggu tumbuh kembang dan kesehatan melalui kecukupan air bersih dan kondisi sanitasi lingkungan dan higiene yang baik. Kerangka pikir ketahanan pangan dan gizi ini dituangkan dalam Gambar 1.1.
Gambar 1.1. KonsepKetahanan Pangan dan Gizi (Sumber: FAO dan UNSCN)
2Disampaikan pada UNSCN Meeting of the Minds and Nutrition Impact of Food System, 25-28 March di New York
8 Analisis dan pemetaan FSVA dilakukan berdasarkan pada pemahaman mengenai ketahanan pangan dan gizi seperti yang tercantum dalam Kerangka Konsep Ketahanan Pangan dan Gizi (Gambar 1.1). Kerangka konseptual tersebut dibangun berdasarkan tiga pilar ketahanan pangan, yaitu: ketersediaan, akses dan pemanfaatan pangan, serta mengintegrasikan gizi dan kerentanan di dalam keseluruhan pilar tersebut.
Ketersediaan pangan adalah kondisi tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri, cadangan pangan, serta pemasukan pangan (termasuk didalamnya impor dan bantuan pangan) apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan. Ketersediaan pangan dapat dihitung pada tingkat nasional, regional, kecamatan dan tingkat masyarakat.
Akses pangan adalah kemampuan rumah tangga untuk memperoleh cukup pangan yang bergizi, melalui satu atau kombinasi dari berbagai sumber seperti:
produksi dan persediaan sendiri, pembelian, barter, hadiah, pinjaman dan bantuan pangan. Pangan mungkin tersedia di suatu daerah tetapi tidak dapat diakses oleh rumah tangga tertentu jika mereka tidak mampu secara fisik, ekonomi atau sosial, mengakses jumlah dan keragaman makanan yang cukup.
Pemanfaatan pangan merujuk padapenggunaan pangan oleh rumah tangga dan kemampuan individuuntuk menyerap dan memetabolisme zat gizi. Pemanfaatan pangan juga meliputi cara penyimpanan, pengolahan dan penyiapan makanan, keamanan air untuk minum dan memasak, kondisi kebersihan, kebiasaan pemberian makan (terutama bagi individu dengan kebutuhan makanan khusus), distribusi makanan dalam rumah tangga sesuai dengan kebutuhan individu (pertumbuhan, kehamilan dan menyusui), dan status kesehatan setiap anggota rumah tangga. Mengingat peran yang besar dari seorang ibu dalam meningkatkan profil gizi keluarga, terutama untuk bayi dan anak-anak, pendidikan ibu sering digunakan sebagai salah satu proxy untuk mengukur pemanfaatan pangan rumah tangga.
9 Dampak gizi dan kesehatan merujuk pada status gizi individu, termasuk defisiensi mikronutrien, pencapaian morbiditas dan mortalitas. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pangan, serta praktek-praktek perawatan umum, memiliki kontribusi terhadap dampak keadaan gizi pada kesehatan masyarakat dan penanganan penyakit yang lebih luas.
Kerentanan dalam peta ini selanjutnya merujuk pada kerentanan terhadap kerawanan pangan dan gizi. Tingkat kerentanan individu, rumah tangga atau kelompok masyarakat ditentukan oleh pemahaman terhadap faktor-faktor risiko dan kemampuan untuk mengatasi situasi tertekan.
Kerawanan pangan dapat menjadi kondisi yang kronis atau transien. Kerawanan pangan kronis adalah ketidakmampuan jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum dan biasanya berhubungan dengan struktural dan faktor-faktor yang tidak berubah dengan cepat, seperti iklim setempat, jenis tanah, sistem pemerintahan daerah, infrastruktur publik, sistim kepemilikan lahan, distribusi pendapatan dan mata pencaharian, hubungan antar suku, tingkat pendidikan, sosial budaya/adat istiadat dll.
Kerawanan pangan transien adalah ketidakmampuan sementara yang bersifat jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pangan minimum yang sebagian besar berhubungan dengan faktor dinamis yang dapat berubah dengan cepat/tiba-tiba seperti penyakit menular, bencana alam, pengungsian, perubahan fungsi pasar, tingkat hutang dan migrasi. Perubahan faktor dinamis tersebut umumnya menyebabkan kenaikan harga pangan yang lebihmempengaruhi penduduk miskin dibandingkan penduduk kaya, mengingat sebagian besar dari pendapatan penduduk miskin digunakan untuk membeli makanan. Kerawanan pangan transien yang berulang dapat menyebabkan kerawanan aset rumah tangga, menurunnya ketahanan pangan dan akhirnya dapat menyebabkan kerawanan pangan kronis.
10 1.3 METODOLOGI
Kerentanan pangan dan gizi adalah masalah multi-dimensional yang memerlukan analisis dari sejumlah parameter.Kompleksitas masalah ketahanan pangan dan gizi dapat dikurangi dengan mengelompokkan indikator proxy ke dalam tiga kelompok yang berbeda tetapi saling berhubungan, yaitu ketersediaan pangan, keterjangkauan/akses rumah tangga terhadap pangan dan pemanfaatan pangan secara individu. Pertimbangan gizi, termasuk ketersediaan dan keterjangkauan bahan pangan bergizi tersebar dalam ketiga kelompok tersebut.
1.3.1 INDIKATOR
Kerentanan terhadap kerawanan pangan tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten, memiliki karakteristik masing-masing sehingga tidak semua indikator nasional maupun provinsi dapat digunakan untuk memetakan kerentanan terhadap kerawanan pangan di tingkat kabupaten. Pemilihan indikator FSVA Kabupaten didasarkan pada: (i) hasil review terhadap pemetaan daerah rentan rawan pangan yang telah dilakukan sebelumnya; (ii) tingkat sensitivitasdalam mengukur situasi ketahanan pangan dan gizi; (iii) keterwakilan pilar ketahanan pangan dan gizi; dan (iv) ketersediaan data pada seluruh desa.
11 Indikator yang digunakan dalam FSVA Kabupaten terdiri dari 6 (enam) indikator yang mencerminkan tiga aspek ketahanan pangan.
Tabel 1.2. Indikator FSVA Kabupaten 2019
Indikator Definisi Sumber Data
A. Aspek Ketersediaan Pangan Rasio luas baku lahan
sawah terhadap luas wilayah desa
Luas baku lahan sawah dibandingkan luas wilayah desa
BPS; Pusat Data Informasi Kementan 2018
Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga
Jumlah sarana dan prasarana ekonomi (pasar, minimarket, toko, warung, restoran dll) dibandingkan jumlah rumah tangga desa
Potensi Desa 2018, BPS Jumlah Rumah Tangga 2018 dari Proyeksi Sensus Penduduk (SP) 2010
B. Aspek Akses terhadap Pangan Rasio jumlah penduduk
dengan tingkat
kesejahteraan terendah terhadap jumlah
penduduk desa
Jumlah penduduk dengan status kesejahteraan
terendah (penduduk dengan tingkat kesejahteraan pada Desil 1) dibandingkan jumlah penduduk desa
Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin (SK.71/2018) Jumlah Rumah Tangga 2018 dari Proyeksi SP 2010
Desa yang tidak memiliki akses penghubung
memadai melalui darat atau air atau udara
Desa yang tidak memiliki akses penghubung memadai dengan kriteria:(1) Desa dengan sarana transportasi darat tidak dapat dilalui sepanjang tahun; (2) Desa dengan sarana transportasi air atau udara namun tidak tersedia angkutan umum
Potensi Desa 2018, BPS
12
Indikator Definisi Sumber Data
C. Aspek Pemanfaatan Pangan Rasio jumlah rumah
tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga desa
Jumlah rumah tangga desil 1 s/d 4 dengan sumber air bersih tidak terlindung dibandingkan jumlah rumah tangga desa
Data Terpadu Program Penanganan Fakir Miskin (SK.71/2018)
Rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk desa
Jumlah tenaga kesehatan terdiri atas: 1) Dokter umum/spesialis; 2) dokter gigi; 3) bidan; 4) tenaga kesehatan lainnya (perawat, tenaga kesehatan
masyarakat, tenaga gizi, apoteker/asisten apoteker) dibandingkan jumlah penduduk desa
Potensi Desa 2018, BPS Jumlah penduduk 2018 dari Proyeksi SP 2010
1.3.2 METODE ANALISIS
1.3.2.1 Analisis Indikator Individu
Analisis indikator individu dilakukan dengan mengelompokkan indikator individu kedalam beberapa kelas berdasarkan metode sebaran empiris. Sementara itu data kategorik mengikuti standar pengelompokkan yang sudah ditetapkan oleh BPS.
1.3.2.2 Analisis Komposit
Metodologi yang diadopsi untuk analisis komposit adalah dengan menggunakan metode pembobotan. Metode pembobotan digunakan untuk menentukan tingkat kepentingan relatif indikator terhadap masing-masing aspek ketahanan pangan.
Metode pembobotan dalam penyusunan FSVA mengacu pada metode yang dikembangkan oleh The Economist Intelligence Unit (EIU) dalam penyusunan
13 Global Food Security Index(EIU 2016 dan 2017) dan International Food Policy Research Institute (IFPRI) dalam penyusunan Gobal Hunger Index (IFPRI 2017).
Goodridge (2007) menyatakan jika variabel yang digunakan dalam perhitungan indeks berbeda, maka perlu dilakukan secara tertimbang (pembobotan) untuk membentuk indeks agregat yang disesuaikan dengan tujuannya.
Langkah-langkah perhitungan analisis komposit adalah sebagai berikut:
a. Standarisasi nilai indikator dengan menggunakan z-score dan distance to scale (0 – 100)
b. Menghitung skor komposit kabupaten/kota dengan cara menjumlahkan hasil perkalian antara masing-masing nilai indikator yang sudah distandarisasi dengan bobot indikator, dengan rumus:
( ) ∑
………...… (1) Dimana:
Yj : Skor komposit kabupaten/kota ke-j ai : Bobot masing-masing indikator
Xij : Nilai standarisasi masing-masing indikator pada kabupaten/kota ke-j Besaran bobot masing-masing indikator dibagi sama besar untuk setiap aspek ketahanan pangan, karena setiap aspek memiliki peran yang sama besar terhadap penentuan ketahanan pangan wilayah. Bobot untuk setiap indikator mencerminkan signifikansi atau pentingnya indikator tersebut dalam menentukan tingkat ketahanan pangan suatu wilayah.
14 Tabel 1.3 Bobot Indikator Individu
No Indikator Bobot
1. Rasio luas baku lahan sawah terhadap luas wilayah desa
1/6
2. Rasio jumlah sarana dan prasarana ekonomi terhadap jumlah rumah tangga
1/6
Sub Total 1/3
3. Rasio jumlah penduduk dengan tingkat kesejahteraan terendah terhadap jumlah penduduk desa
1/6
4. Desa yang tidak memiliki akses penghubung memadai 1/6
Sub Total 1/3
5 Rasio jumlah rumah tangga tanpa akses air bersih terhadap jumlah rumah tangga desa
1/6
8 Rasio jumlah tenaga kesehatan terhadap jumlah penduduk desa
1/6
Sub Total 1/3
c. Mengelompokan desa/kelurahan ke dalam 6 kelompok prioritas berdasarkan cut off point komposit. Skor komposit yang dihasilkan pada masing-masing wilayah dikelompokkan ke dalam 6 kelompok berdasarkan cut off point komposit. Cut off point komposit merupakan hasil penjumlahan dari masing- masing perkalian antara bobot indikator individu dengan cut off point indikator individu hasil standarisasi z-score dan distance to scale (0-100).
15
………...… (2)
Dimana:
Kj : cut off point komposit ke-J ai : Bobot indikator ke-i
Cij : Nilai standarisasi cut off point indikator ke-I kelompok ke-j
Wilayah yang masuk ke dalam kelompok 1 adalah desa/kelurahan yang cenderung memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi daripada desa/kelurahan dengan kelompok diatasnya, sebaliknya wilayah pada kelompok 6 merupakan desa/kelurahan yang memiliki ketahanan pangan paling baik. Penting untuk menegaskan kembali bahwa sebuah desa/kelurahan yang diidentifikasikan sebagai relatif lebih tahan pangan (kelompok Prioritas 4- 6), tidak berarti semua penduduk di dalamnya juga tahan pangan. Demikian juga, tidak semua penduduk di desa/kelurahan Prioritas 1-3 tergolong rentan pangan.
1.3.2.3 Pemetaan
Hasil analisis indikator individu dan komposit kemudian divisualisasikan dalam bentuk peta. Peta-peta yang dihasilkan menggunakan pola warna seragam dalam gradasi warna merah dan hijau. Gradasi merah menunjukkan variasi tingkat kerentanan pangan tinggi dan gradasi hijau menggambarkan variasi kerentanan pangan rendah. Untuk kedua kelompok warna tersebut, warna yang semakin tua menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dari ketahanan atau kerentanan pangan.
16
BAB 2
KETERSEDIAAN PANGAN
Undang-undang Pangan No. 18 tahun 2012 mendefinisikan ketersediaan pangan sebagai kondisi tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri dan cadangan pangan nasional serta impor apabila kedua sumber utama tidak dapat memenuhi kebutuhan. Produksi pangan adalah kegiatan atau proses menghasilkan, menyiapkan, mengolah, membuat, mengawetkan, mengemas, mengemas kembali, dan/atau mengubah bentuk Pangan. Sedangkan cadangan pangan nasional adalah persediaan pangan di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk konsumsi manusia dan untuk menghadapi masalah kekurangan pangan, gangguan pasokan dan harga, serta keadaan darurat.
Penyediaan pangan diwujudkan untuk memenuhi kebutuhan dan konsumsi pangan bagi masyarakat, rumah tangga dan perseorangan secara berkelanjutan.
Mayoritas bahan pangan yang diproduksi maupun didatangkan dari luar wilayah harus masuk terlebih dahulu ke pasar sebelum sampai ke rumah tangga.
Oleh karena itu, selain kapasitas produksi pangan, keberadaan sarana dan prasarana penyedia pangan seperti pasar akan terkait erat dengan ketersediaan pangan di suatu wilayah.
17 2.1. LAHAN PERTANIAN
Rasio luas baku lahan sawah terhadap luas wilayah kabupaten adalah perbandingan antara luas baku lahan sawah dengan luas wilayah desa. Rasio lahan sawah terhadap luas wilayah desa digunakan sebagai salah satu indikator dalam aspek ketersediaan pangan karena lahan sawah memiliki korelasi yang positif terhadap tingkat ketersediaan pangan dengan mempengaruhi kapasitas produksi pangan3. Oleh sebab itu, semakin tinggi rasio luas lahan sawah terhadap luas wilayah desa maka diasumsikan ketersediaan pangan juga akan semakin baik, begitu pula sebaliknya.
Dari 60 (enam puluh) desa dan 10 (sepuluh) kelurahan di Kabupaten Buton Selatan, 58 (lima puluh delapan) Desa dan 8 (delapan) Kelurahan masuk dalam prioritas 1 (93 %) yaitu di Kecamatan Batua Atas terdiri dari Desa Batu Atas liwu, Desa Batu Atas Barat, Desa Tolando Jaya, Batua atas timur, Desa Wacuala, Desa Taduasa, Desa Wambongi. Kecamatan Lapandewa yaitu Desa Lapandewa Makmur, Desa Gaya Baru, Desa Burangasi Rumbia, Desa Burangasi, Desa Lapandewa, Desa Lapandewa Kaindea, Desa Landewa Jaya, Desa Bangun, Desa Wawoangi, Kelurahan Katilombu, Desa Bahari, Desa Gerak Makmur, Desa Gunung Sejuk, Desa Hendea, Desa Watiginanda, Desa Bahari Dua, Desa Bahari Tiga, Desa Tira, Desa Windu Makmur. Kecamatan Batauga yaitu Desa Poogalampa, Desa Bola, Kelurahan Majapahit, Kelurahan Masiri, Kelurahan Laompo, Kelurahan Busoa, Desa Lawela, Desa Lampanairi, Desa Lawela Selatan. Kecamatan Siompu Barat yaitu Desa Lalole, Desa Molona, Desa Mbanua, Desa Watuampara, Desa Katampe, Desa Lamaninggara, Desa Kamoali dan Mokobeau. Kecamatan Siompu yaitu Desa Biwinapada, Desa Kaimbulawa, Desa Wakinamboro, Desa Tongali, Desa Lontoi, Desa Karae, Desa Batuawu, Desa Nggula-nggula, Desa Waindawula, Desa
3 Yudhistira (2013) Analisis Dampak Alih Fungsi Lahan Pertanian Terhadap Ketahanan Pangan di Kabupaten Bekasi Jawa Barat. Fakultas Ekonomi
18 Lapara. Kecamatan Kadatua yaitu Desa Waonu, Desa Kapoa, Desa Kaofe, Desa Uwemaasi, Desa Lipu, Desa Banabungi, Desa Kapoa Barat, Desa Mawambunga, Desa Marawali, Desa Banabungi Selatan. Daerah-daerah tersebut merupakan prioritas utama yang menggambarkan tingkat kerentanan pangan wilayah yang paling tinggi (sangat rentan) sedangkan, 2 (dua) Desa dan 2 (dua) Kelurahan masuk dalam prioritas 6 (7%) yaitu Kelurahan Jaya bakti, Kelurahan Katilombu, Desa Sandang Pangan dan Desa Lipu Mangau menunjukkan wilayah dengan tingkat ketahanan pangan paling baik (sangat tahan). Kecamatan yang memiliki rasio lahan prioritas 6 di dominasi oleh Kecamatan Sampolawa yaitu sebanyak 2 (dua) desa dan 2 (dua) kelurahan. Kondisi ini menunjukan bahwa Kabupaten Buton selatan mempunyai rasio luas lahan baku sawah terhadap luas wilayah desa lebih rendah, sehingga ketersediaan pangan juga semakin rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti kondisi kesesuaian lahan, iklim, irigasi dan lain lain, dimana untuk tahun 2019 di Kabupaten Buton selatan hanya mengembangkan jenis tanaman padi ladang akan tetapi ditahun 2020 mulai membuka lahan percontohan di BPP kecamatan Sampolawa.
Tabel 2.1 Sebaran rasio luas baku lahan sawah terhadap total lahan berdasarkan prioritas
Prioritas Rasio lahan sawah Jumlah Desa Persentase
1 0,0335 58 desa dan 2 kelurahan 93
2 0,0335 - 0
3 0,0335 - 0
4 0,0335 - 0
5 0,0335 - 0
6 0,0000 2 desa dan 2 kelurahan 7
19 Gambar 2.1 Peta Rasio Luas Lahan Baku Sawah Terhadap Luas Wilayah Desa
2.2. PRODUKSI
Pemerintah Kabupaten Buton Selatan telah mempromosikan produksi pertanian dan telah mengadopsi beberapa tindakan perlindungan bagi petani. Pertanian (termasuk peternakan, kehutanan, dan perikanan) telah memberikan kontribusi sebesar 10,45% dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Selatan pada tahun 2019dan memberikan peluang yang signifikan untuk berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan pangan, penanggulangan kemiskinan, dan dinamika pertumbuhan ekonomi. Produksi padi hanya menyumbangkan 87 ton dari total produksi serealia yang dihasilkan Kabupaten Buton Selatan, kondisi defisit produksi padi tersebut disebabkan karena di Kabupaten Buton Selatan sejak tahun 2015 sampai dengan tahun 2019 hanya memberikan hasil produksi yang berasal dari padi ladang yang berasal dari satu
20 kecamatan yaitu kecamatan sampolawa. Kondisi Kabupaten Buton selatan yang memiliki topografi yang bervariasi, kondisi iklim, kondisi kelayakan tanah yang menyebabkan tidak semua kecamatan dapat mengembangkan tanaman padi walaupun hanya sebatas tanaman padi ladang, kondisi topografi Kabupaten Buton selatan sebagian besar hanya cocok untuk mengembangkan tanaman pokok lain seperti jagung, Ubi kayu, ubi jalar, dan tanaman-tanaman perkebunan, buah-buahan, dan sayur-sayuran. Ubi Kayumenjadi penyumbang terbesar Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Buton Selatanpada tahun 2019 sebesar 21.774 ton dari total produksi umbu-umbian sedangkan jagung merupakan penyumbang terbesar pada tahun 2019 sebesar 1.855 ton dari total produksi serealia.Berdasarkan Tabel 2.1 dan Gambar 2.2, produksi jagung,ubi kayu dan ubi jalar di Kabupaten Buton Selatanmengalami penurunan di tahun 2019, ini disebabkan keadaan iklim dan beralihnya jenis tanaman yang ditanam oleh para petani di Kabupaten Buton Selatan. Sedangkan Produksi padi meningkat rata-rata 51,20 ton selama 5 tahun, yaitu dari pencapaian produksi 20 ton tahun 2015 menjadi 87 ton pada tahun 2019.
Tabel 2.2 Produksi Serealia Pokok dan Umbi-umbian 2015-2019 (Ton) Serealia 2015 2016 2017 2018 2019 Rata-rata 5 tahun Padi
Jagung Ubi Kayu Ubi Jalar
20 1.668 15.683 963,60
32 2.297 10 465
38 1.154 26.447 514
79 2.029 27.098 764
87 1.855 21.774 555
51,20 1.800,60 18.202,40 652,32
Sumber: Kabupaten Buton Selatan Dalam Angka 2015-2019, BPS
21 Gambar 2.2 Diagram Produksi Serealia Pokok dan Umbi-umbian
2015-2019 (Ton)
Total produksi serealia dan laju pertumbuhan produksi tahun 2015-2019 menunjukkan pertumbuhan sebesar 6,03 %, yaitu dari total produksi tahun 2015 sebesar 1.615,91 ton menjadi 1.942 ton pada tahun 2019. Sebaran total produksi serealia selama 5 tahun terbesar terjadi pada tahun 2016, yaitu sebesar 2.329 ton dan terkecil pada tahun 2017 yaitu sebesar 1.192 ton. Produksi serealia pertahun dan laju pertumbuhannya dapat dilihat pada Tabel 2.3.
Tabel 2.3 Produksi Total Serealia per Tahun dan Laju Pertumbuhan Produksi (2015-2019)
Kecamatan Produksi Total Serealia Laju
Pertumbuhan 2015 - 2019 2015 2016 2017 2018 2019
1. Sampolawa 2. Batu Atas 3. Lapandewa 4. Batauga 5. Siompu 6. Kadatua 7. Siompu Barat
754,73 - 82,09 627,69 60,20 60,30 30,90
51 6 654 1.435 66 37 80
50 7 550 384 70 46 85
627,7 20,2 511,5 655,1 89,5 50,5 153,5
668 0 794 342 127 11 0
430,29 6,64 518,32 688,76 82,54 40,96 69,88 Jumlah 1.615,91 2.329 1.192 2.108 1.942 1.837,38 Sumber: Dinas Pertanian Kabupaten Buton Selatan
0 5000 10000 15000 20000 25000 30000
2015 2016 2017 2018 2019
Padi Jangung Ubi Kayu Ubi Jalar
22 Gambar 2.3. Diagram Produksi Total Serealia per Tahun dan Laju
Pertumbuhan Produksi (2015-2019)
2.2.1 Padi
Produksi padi pada tingkat kecamatan di Kabupaten Buton Selatan selama 5 tahun terakhir (2015-2019) telah dianalisis dan disajikan pada Tabel 2.4. Produksi padi tahun 2019hanya terdapat di Kecamatan Sampolawa. Peningkatan terjadi di kecamatan Sampolawa. Produksi padi tertinggi di kecamatan Sampolawa sebesar 87 ton pada tahun 2019.
Tabel 2.4 Produksi Padi 2015 - 2019 (Ton)
Kecamatan Padi
2015 2016 2017 2018 2019
1. Sampolawa 2. Batu Atas 3. Lapandewa 4. Batauga 5. Siompu 6. Kadatua 7. Siompu Barat
15 - - 5 - - -
24 - - 8 - - -
21 - - 17 - - -
79 - - - - - -
87 - - - - - -
Jumlah 20 32 38 79 87
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2015-2019, BPS 0
200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
2015 2016 2017 2018 2019
Sampolawa Batu Atas Lapandewa Batauga Siompu Kadatua Siompu barat
23 Gambar 2.4.DiagramProduksi Padi 2015 - 2019 (Ton)
2.2.2 Jagung
Pada tahun 2019, produksi jagung mencapai 1.855 ton. Hal ini menunjukkan terjadi penurunan 8,58 % dibanding tahun 2018. Penurunan produksi Jagung pada tahun 2019 ini disebabkan banyaknya lahan pertanian beralih fungsimenjadi pemukiman, selain itu juga disebabkan oleh rendahnya curah hujan yang terjadi di Kabupaten Buton Selatan. Sebaran produksi jagung terbesar terjadi pada tahun 2016, yaitu sebesar 2.297 ton. Kontribusi terbesar terjadi di Kecamatan Lapandewa sebesar 794 ton, menyusul Kecamatan Sampalawa sebesar 581 ton dan terendahterjadi di kecamatan Batu Atas dan Siompu Baratkarena tidak adanya produksi jagung yang dihasil di kedua kecamatan tersebut. Secara rinci produksi jagung tahun 2015-2019 disajikan pada Tabel 2.5.
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
2015 2016 2017 2018 2019
Sampolawa Batu Atas Lapandewa Batauga Siompu Kadatua Siompu Barat
24 Tabel 2.5 Produksi Jagung 2015 - 2019 (Ton)
Kabupaten Jagung
2015 2016 2017 2018 2019
1. Sampolawa 2. Batu Atas 3. Lapandewa 4. Batauga 5. Siompu 6. Kadatua 7. Siompu Barat
739,73 - 82,09 622,69 60,20 60,30 30,90
27 6 654 1.427 66 37 80
29 7 550 367 70 46 85
548,7 20,2 511,5 655,1 89,5 50,5 153,5
581 0 794 342 127 11 0
Jumlah 1.595,91 2.297 1.154 2.029 1.855
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2015-2019, BPS
Gambar 2.5.DiagramProduksi Jagung 2015 - 2019 (Ton)
0 200 400 600 800 1000 1200 1400 1600
2015 2016 2017 2018 2019
Sampolawa Batu Atas Lapandewa Batauga Siompu Kadatua Siompu Barat
25 2.2.3 Ubi Kayu
Produksi ubi kayu Menurun dari 15,683 ton pada tahun 2015 menjadi 10 ton pada tahun 2016. Kemudian pada tahun 2017 dan 2018 mengalami peningkatan dengan jumlah 26,447 ton dan 27,098 ton, akan tetapi di tahun 2019 kembali mengalami penurunan produksi ubi kayu menjadi 21,774 ton. Daerah yang merupakan sentra produksi ubi kayu terbesar pada tahun 2019 meliputi kecamatan Batauga, adapun rincian produksi ubi kayu ditiap kecamatan tahun 2015-2019 disajikan pada Tabel 2.6.
Tabel 2.6 Produksi Ubi Kayu 2015 - 2019 (Ton)
Kecamatan Ubi Kayu
2015 2016 2017 2018 2019
1. Sampolawa 2. Batu Atas 3. Lapandewa 4. Batauga 5. Siompu 6. Kadatua 7. Siompu Barat
8.125,59 - 3.015,19 2.034 680 831 997
10 - - - - - -
126 456 3.872 18.864 780 750 1.599
4.362,16 794,49 3.942,56 9.675,26 3.033,01 2.238,26 3.052,26
2.833 368 2.529 7.449 4.318 1.018 3.259
Jumlah 15.683 10 26.447 27.098 21.774
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2015-2019, BPS
Gambar 2.6DiagramProduksi Ubi Kayu 2015 - 2019 (Ton)
0,00 2.000,00 4.000,00 6.000,00 8.000,00 10.000,00 12.000,00 14.000,00 16.000,00 18.000,00 20.000,00
2015 2016 2017 2018 2019
Sampolawa Batu Atas Lapandewa Batauga Siompu Kadatua Siompu Barat
26 2.2.4 Ubi Jalar
Produksi ubi jalar terbesar selama kurun waktu 5 tahun (2015-2019) terjadi pada tahun 2015, yaitu sebesar 963,60 ton. Kecamatan Sampolawa merupakan penyumbang terbesar, yaitu sebesar 803,6 ton, Kecamatan Batauga sebesar 96 ton, Kecamatan Lapandewa sebesar 59 ton dan Kecamatan Siompu Barat sebesar 5 ton. Rincian produksi ubi jalar tahun 2015 - 2019 disajikan pada Tabel 2.7.
Tabel 2.7 Produksi Ubi Jalar 2015 - 2019 (Ton)
Kabupaten Ubi jalar
2015 2016 2017 2018 2019
1. Sampolawa 2. Batu Atas 3. Lapandewa 4. Batauga 5. Siompu 6. Kadatua 7. Siompu Barat
803,6 0 59 96 0 0 5
82 30 10 2 271 10 60
82 295 22 2 33 15 65
283,60 129,45 42,70 44,95 126,20 32,70 104,40
87 113 0 0 121 26 208
Jumlah 963,60 465 514 764 555
Sumber: Kabupaten Dalam Angka 2015-2019, BPS
Gambar 2.7.DiagramProduksi Ubi Jalar 2015 - 2019 (Ton)
0 100 200 300 400 500 600 700 800 900
2015 2016 2017 2018 2019
Sampolawa Batu Atas Lapandewa Batauga Siompu Kadatua Siompu Barat
27 2.3. SARANA DAN PRASARANA EKONOMI
Rasio jumlah sarana dan prasarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tanggaadalah perbandingan antara jumlah sarana dan prasarana penyedia pangan (pasar, minimarket, toko, warung, restoran, dll) dengan jumlah rumah tangga di desa. Sarana dan prasarana penyedia pangan diasumsikan sebagai tempat penyimpan pangan (stok pangan) yang diperoleh dari petani sebagai produsen pangan maupun dari luar wilayah, yang selanjutnya disediakan bagi masyarakat untuk di konsumsi. Oleh karena itu, semakin tinggi rasio sarana dan prasarana penyedia pangan terhadap jumlah rumah tangga di desa maka diasumsikan semakin baik tingkat ketersediaan pangan di desa tersebut.
Dari 60 (enam puluh) desa dan 10 (sepuluh) kelurahan di Kabupaten Buton Selatan, 10 Desa atau 14, 29% Desa masuk dalam prioritas 1 (tingkat kerentanan pangan tinggi) yaitu Desa Batu Atas Liwu, Batu Atas Barat, Desa Tolando Jaya, Desa Batu Atas Timur, Desa Wacuala, Desa Taduasa, Desa Wambongi, Desa Gunung Sejuk, Desa Mbanua, dan Desa Uwemaasi. 7 Desa dan 4 Kelurahan masuk dalam prioritas 2 (tingkat kerentanan pangan sedang) atau 15,71 % yaitu Desa Wawoangi, Kelurahan Katilombu, Desa Gerak Makmur, Desa Hendea, Desa Lipu Mangau, Kelurahan Masiri, Kelurahan Molagina, Kelurahan Bandar Batauga, Desa Kaimbulawa, Desa Wakinamboro dan Desa Marawali. 9 Desa dan 5 Kelurahan masuk dalam prioritas 3 (tingkat kerentanan pangan rendah) atau sebesar 20 % yaitu Desa Gaya Baru, Desa Lapandewa, Desa Bahari, Kelurahan Todombulu, Desa Watiginanda, Kelurahan Majapahit, Kelurahan Laompo, Kelurahan Busoa, Desa Lawela Selatan, Kelurahan Lakambau, Desa Molona, Desa Kaofe, Desa Banabungi, Desa Banabungi Selatan. 14 Desa masuk dalam prioritas 4 (tahan terhadap kerentanan pangan rendah) atau sekita 20 % yaitu Desa Burangasi Rumbia, Desa Burangasi, Desa Bahari Dua, Desa Tira, Desa Windu Makmur, Desa Bola, Desa Lawela, Desa Katampe, Desa Lamaninggara, Desa