Bab II (2)R-RKPD

173  Download (0)

Teks penuh

(1)

BAB II

EVALUASI HASIL PELAKSANAAN RKPD TAHUN LALU DAN CAPAIAN KINERJA PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN

2.1. Gambaran Umum Kondisi Daerah

Gambaran umum kondisi daerah terhadap Capaian Kinerja Penyelenggaraan Urusan Pemerintahan mencakup aspek geografi dan demografi, aspek kesejahteraan, aspek pelayanan umum, dan aspek daya saing daerah, dapat diuraikan sebagai berikut :

2.1.1. Aspek Geografi dan Demografi 2.1.1.1. Karakteristik lokasi dan wilayah:

a. Luas dan batas wilayah administrasi

Luas Wilayah Kota Tebing Tinggi adalah 3.843,8 hektar atau 38,438 km2. Kota Tebing Tinggi yang berjarak sekitar 80 km dari Kota Medan (ibukota Propinsi Sumatera Utara) serta terletak pada jalur lintas utama Sumatera, yaitu yang menghubungkan Lintas Timur dan Lintas Tengah Sumatera Utara melalui Lintas Diagonal pada ruas jalan Tebing Tinggi-Pematangsiantar-Parapat-Balige-Siborong-borong.

b. Letak dan kondisi geografis

Kota Tebing Tinggi terletak diantara 30 19’-30 21’ Lintang Utara dan 980 9’-980 11’ Bujur Timur dengan batas – batas :

• Sebelah Utara dengan PTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai.

• Sebelah Selatan dengan PTPN IV Kebun Pabatu dan Perkebunan Paya Pinang, Kabupaten Serdang Bedagai.

• Sebelah Timur dengan PT. Socfindo Tanah Besi dan PTPN III Kebun Rambutan, Kabupaten Serdang Bedagai.

• Sebelah Barat dengan PTPN III Kebun Gunung Pamela, Kabupaten Serdang Bedagai.

c. Topografi

Kota Tebing Tinggi memiliki ketinggian rata – rata 26 – 34 meter di atas permukaan laut (dpl),

d. Hidrologi

Kota Tebing Tinggi dilintasi oleh 4 (empat) aliran sungai besar dan kecil, yaitu Sungai Padang, Bahilang, Kalembah dan Sibarau.

e. Klimatologi

(2)

f. Penggunaan Lahan

Berdasarkan data dari Kantor BPS Kota Tebing Tinggi tahun 2010 bahwa sebagian besar wilayah Kota Tebing Tinggi digunakan untuk permukiman 1.387,63 Ha (63,10 %), Sarana Sosial Budaya 241,20 Ha (6,28 %), Pertanian (sawah, tegalan/kebun) 1.956,12 Ha (50,89 %), Industri 22,85 Ha (0,59 %), Semak Belukar 134,45 Ha (3,50 %). Dan Lain-Lain (termasuk rawa-rawa) 101,55 Ha (2,64 %).

2.1.1.2. Potensi Pengembangan Wilayah

Pengembangan potensi Kota Tebing Tinggi kedepan adalah :

• Tersedianya peraturan perundang – undangan yang mengatur pembangunan daerah berdasarkan asas desentralisasi dan otonomi daerah, yaitu Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah dan Undang-Undang Nomor 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pusat dan Daerah. Dimana UU ini memberikan diskreasi kepada daerah untuk mengelola pembangunan daerah, pemerintahan, dan keuangan daerahnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

• Adanya komitmen Pemerintah Kota untuk melaksanakan kepemerintahan yang baik (good governance), cukup tingginya kepedulian dan partisipasi pemangku kepentingan dalam pembangunan kota, serta keberadaan sistem pelayanan perizinan terpadu yang memberikan kemudahan pelayanan untuk berusaha (investasi).

• Letak Kota Tebing Tinggi yang berada pada jaringan jalan lintas Sumatera dan merupakan titik pertemuan jaringan lintas tengah dan lintas timur Sumatera serta jaringan jalan utama (arteri) yang menghubungkan Kota Medan dengan Kota Turis Parapat (DanauToba) serta jaringan kereta api Medan – R. Prapat dan Medan - Siantar. Kemudian posisi strategis kota Tebing Tinggi yang berbatasan langsung dengan kabupaten baru serta statusnya sebagai kota sekunder yang memberikan pelayanan pendidikan, kesehatan, dan jasa perdagangan terhadap hinterlandnya (daerah pinggirannya).

• Pendidikan formal SDM masyarakat Kota Tebing Tinggi cukup memadai yaitu dengan rata-rata lama belajar sebesar 9,89 tahun.

• Tersedianya infrastruktur dan utilitas perkotaan yang memadai serta ketersediaan sumber daya air yang melimpah karena dilalui oleh lima sungai yaitu sungai Padang, Bahilang, Kalembah, Sibarau, dan Sigiling.

• Laju pertumbuhan penduduk rata-rata pertahun yang rendah (0,71%).

• Kerukunan umat beragama, suku dan budaya masyarakat heterogen yang bersifat terbuka serta dapat hidup berdampingan secara damai.

• Batas Wilayah Kota Tebing Tinggi dikelilingi oleh perkebunan (misalnya : PTPN III, PTPN IV maupun Socfindo) merupakan peluang penyerapan tenaga kerja dengan mempersiapkan tenaga kerja siap pakai sesuai dengan standar kualifikasi kebutuhan pekerjaan untuk sektor perkebunan. Dan diharapkan nantinya, Pemerintah Kota Tebing merumuskan strategi pendidikan vocational (kejuruan) yang sesuai dengan kebutuhan industri perkebunan.

(3)

akan berdampak pada pembangunan dan pengembangan Kota Tebing Tinggi, khususnya permukiman, jajanan (kuliner), dan usaha kecil berbasis rumah tangga. Kemudian rencana pembangunan Pelabuhan internasional Kuala Tanjung dan kawasan industri Sei Mangke akan memberikan peluang dalam pembangunan kota dan perekonomian daerah di Tebing Tinggi.

• Adanya rencana pemerintah untuk menyerahkan pengelolaan dan penerimaan seluruh pajak bumi dan bangunan (PBB) ke pemerintah daerah.

2.1.1.3. Wilayah Rawan Bencana

Secara geografis sebagian wilayah Kota Tebing Tinggi merupakan wilayah yang rawan banjir. Permasalahan yang sering terjadi di Kota Tebing Tinggi adalah Bencana Banjir Bandang yang rata-rata terjadi 3-4 kali dalam satu tahun dengan ketinggian air 0,5 s/d 1,5 meter di Kelurahan Mandailing (Kampung Rao), Kelurahan Bandar Sakti, Kelurahan Persiakan, Kelurahan Badak Bejuang, Kelurahan Bandar Utama, Kelurahan Bulian dan Kelurahan Pasar Gambir. Adapun penyebab banjir Bandang tersebut berasal dari meluapnya sungai Bahilang dan sungai Padang yang disebabkan oleh curah hujan tinggi di hulu sungai. Dan upaya yang dilakukan oleh Tim Penanggulangan Bencana seperti Badan Kesbanglinmas, Dinas Kebersihan dan Pertamanan, badan Penanggulangan Bencana Daerah, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, Satpol PP, Camat se-Kota Tebing Tinggi, Unit Pemadam Kebakaran, dan Tagana (Taruna Siaga Bencana) adalah Pemantauan cuaca yang bias secara tiba-tiba dan atau berangsur berpotensi menjadi sumber bahaya bencana; Memonitoring ketinggian air sungai Padang dan sungai Bahilang untuk pendeteksian potensi banjir; Membentuk posko-posko kesiapsiagaan yang diketuai oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah serta Camat se-Kota Tebing Tinggi dan Lurah se-Kecamatan Kota Tebing Tinggi yang daerah rawan bencana. Sedangkan Pernyataan status keadaan darurat bencana dipegang oleh Badan Penanggulangan Bencana selaku Komandan Posko Penanggulangan Bencana. Berdasarkan deskripsi karakteristik wilayah, dapat diidentifikasi wilayah yang berpotensi rawan bencana alam di wilayah Kota Tebing Tinggi, seperti banjir adalah :

1. Kecamatan Rambutan

Kelurahan Sri Padang, Kelurahan Tanjung Marulak, Kelurahan Tanjung Marulak Hilir.

2. Kecamatan Padang Hilir

Kelurahan Tebing Tinggi, Kelurahan Tambangan, Kelurahan Tambangan Hulu.

3. Kecamatan Bajenis

Kelurahan Bulian, Kelurahan Bandar Sakti, Kelurahan Pinang Mancung , Kelurahan Berohol.

4. Kecamatan Padang Hulu

Kelurahan Lubuk Raya, Kelurahan Bandar Sono

5. Kecamatan Tebing Tinggi Kota

(4)

Bencana lain yang kadang terjadi di Kota Tebing Tinggi adalah kebakaran. Data statistik untuk peristiwa kebakaran, baik kebakaran tunggal maupun kebakaran massal di Kota Tebing Tinggi selama periode 2006-2010 di daerah permukiman di pusat kota cukup tinggi. Secara umum faktor utama penyebab terjadinya bencana kebakaran adalah listrik, kompor, lampu, rokok, obat nyamuk dan lain-lain sebagai kelalaian ataupun hal-hal yang tidak dapat diperkirakan. Tantangan penanggulangan kejadian kebakaran adalah prasarana dan sarana pemadam kebakaran yang relatif masih terbatas, dan struktur bangunan dan jaringan jalan yang padat sehingga mempersulit jangkauan ke lokasi kebakaran secara tepat waktu.

2.1.1.4. Demografi

a. Jumlah Penduduk

Berdasarkan Data BPS Kota Tebing Tinggi tahun 2010, jumlah penduduk kota Tebing Tinggi adalah 145.248 jiwa dengan jumlah rumah tangga sebanyak 32.807 rumah tangga.

Sedangkan berdasarkan Rasio jenis kelamin penduduk Kota Tebing Tinggi maka jumlah penduduk laki-laki lebih sedikit dari jumlah perempuan. Pada tahun 2010 jumlah penduduk laki-laki sebanyak 71.892 jiwa (49.49 persen) dan perempuan 73.356 (50.51 persen). Dan rasio jenis kelamin (Sex Ratio) penduduk Kota Tebing Tinggi sebesar 98 persen, yang berarti hanya ada 98 orang laki-laki dalam 100 penduduk perempuan. Sebagian besar penduduk Kota Tebing Tinggi berdomisili di Kecamatan Padang Hilir (22,77 persen), Kecamatan Tebing Tinggi Kota 21,60 persen), Kecamatan Rambutan (20,69 persen), Kecamatan Padang Hulu (18,39 persen), dan Kecamatan Bajenis (16,55 persen).

b. Laju Pertumbuhan Penduduk

Dari data BPS Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 dalam Kota Tebing Tinggi Dalam Angka 2011, maka laju pertumbuhan penduduk Kota Tebing Tinggi Tahun 2000-2010 sebesar 1,62 persen.

c. Sebaran Penduduk

Menurut Data BPS Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 dengan luas wilayah Kota Tebing Tinggi yang hanya 38.438 km2 maka tingkat kepadatan penduduk Kota Tebing Tinggi mencapai 3.78 jiwa/ km2.

d. Komposisi Penduduk

(5)

2.1.2. Aspek Kesejahteraan Masyarakat

2.1.2.1. Fokus Kesejahteraan dan Pemerataan Ekonomi

Aspek kesejahteraan masyarakat berdasarkan fokus kesejahteraan antara lain dapat dilihat dari angka pertumbuhan PDRB, Inflasi, PDRB perkapita, disparitas pendapatan masyarakat dan persentase penduduk yang berada diatas garis kemiskinan. Secara umum dapat diungkapkan sebagai berikut :

a. Pertumbuhan PDRB

Hasil analisis pertumbuhan PDRB, dapat disajikan dalam contoh tabel, sebagai berikut:

Tabel – 2.1

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan Tahun 2012

Pemerintah Kota Tebing Tinggi

NO Sektor

2010*) 2011*) 2012*) 2013*)

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) % (Rp) %)

1 Pertanian 18.183,77 1.60 19,274 1.56

20

,450 1.56 21.867 1.56

2 Pertambangan dan Penggalian 992,88 0.08 1,053 0.09 1,117 0.09 1.194 0.09

3 Industri Pengolahan 167.818,61 19.67

178,05

7 14.39 188,919 14.39 202.011 14.4

4

Listrik,Gas dan Air

bersih 4.790,99 0.49 5,082 0.41 5,392 0.41 5.765 0.41

5 Bangunan

99.153,85 9.90

105,20

3 8.50 111,620 8.50 119.355 8,5

6 Perdagangan, Hotel dan Restoran 298.899,57 22.55

317,13

6 25.64 336,481 25.64 359.799 25.6

7 Pengangkutan dan Komunikasi 205.82,46 14.43

218,37

8 17.65

23 1,699

17.6 5

247.75

5 17.7

8

Keuangan, sewa, dan Jasa Perusahaan

111.654,18 12.01

118,46

6 9.58

12

5,693 9.58

134.40

3 9.58

9 Jasa-jasa

258.609,58 19.28

274,38

7 22.18

29 1,125

22.1 8

311.29

9 22.2

PDRB

1.165.932,88 100,00

1, 237,05

4 100.10 1,312,514 100.19 1.403.471 100.00

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber Data : Data BPS Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 dan Data Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Konstan dimana struktur ekonominya tetap didominasi oleh sektor

(6)

Dari tabel 2.5 diatas diperoleh gambaran bahwa secara umum struktur ekonomi pembentuk PDRB Kota Tebing Tinggi atas dasar harga konstan didominasi oleh sektor

Perdagangan, Hotel dan Restoran; Jasa-jasa; Pengangkutan dan Komunikasi; Industri Pengolahan; Keuangan, sewa dan Jasa. Perusahaan; Bangunan ; Pertanian; Listrik,Gas dan Air bersih; dan Pertambangan dan Penggalian.

Tabel : 2.2

Nilai dan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007 s.d 2010 Atas Dasar Harga Berlaku

Pemerintah Kota Tebing Tinggi

NO Sektor

2010*) 2011*) 2012*) 2013*)

(Rp) (Rp) (Rp) (Rp) (Rp) % (Rp) %)

1 Pertanian 36.753.34 1.56

41,347 1.60 46,309.18 1.59 49.518 1.59

2 Pertambangan danPenggalian 1.732.82 0.09 1,941 0.08 2,173.65 0.07 2.324 0.07

3

Industri

Pengolahan 451.399.16 14.39

5

07,824 19.67

568,762.

63 19.76 608.177 19.76

4 Listrik,Gas dan Air bersih 11.307.43 0.41

12,721 0.49 14,247.35 0.49 15.234 0.49

5 Bangunan 227.141.64 8.50

2

55,534 9.90 286,198.31 9.94 306.031 9.94

6

Perdagangan, Hotel dan Restoran

517.438.37 25.64 5

82,118 22.55

651,971.

99 22.65 697.153 22.65

7 Pengangkutan danKomunikasi 331.245.15 17.65

3

72,651 14.43 417,368.66 14.50 446.292 14.50

8

Keuangan, sewa, dan Jasa

Perusahaan 275.551.58 9.58

3

09,995 12.01 347,194.80 12.06 371.255 12.06

9 Jasa-jasa 442.397.97 22.18

4

97,697 19.28 557,421.14 19.36 596.050 19.36

PDRB 2.294.967.45 100.00 2,581,837.00 100.45 2,904,567.00 100.89 3.105.853 100.89

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber Data : Data BPS Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 dan Data Proyeksi PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dimana struktur ekonominya tetap didominasi oleh sektor

Perdagangan, Hotel, & Restoran; Industri Pengolahan; Jasa-jasa ; Pengangkutan & Komunikasi; Keuangan, sewa, & Jasa Perusahaan; Bangunan; Pertanian; Listrik,Gas dan Air bersih serta Pertambangan & Penggalian.

(7)

Tabel – 2.3

Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007. s.d 2011 Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk)

Pemerintah Kota Tebing Tinggi

NO Sektor

2007 2008 2009 2010*) 2011*)

Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk

% % % % % % % % % %

1 Pertanian -6.30 1.78 5.29- 1.69 2.46- 1.63 1.61- 1.56 1.60 1.56

2 Pertambangan &Penggalian -2.37 0.09 0.59- 0.09 1.82 0.09 1.02- 0.09 0.08 0.09

3 Industri Pengolahan

3.52 14.80 2.80 14.63

-0.22 14.43 0.34 14.39 19.67

14.3 9 4 Listrik,Gas, & Air bersih 10.01- 0.43 6.57- 0.42 4.66- 0.41 4.54- 0.41 0.49 0.41

5 Bangunan 2.19 8.29 2.85 8.39 4.15 8.50 4.77 8.50 9.90 8.50

6 Perdagangan, Hotel, &

Restoran 2.33 24.89 1.95 25.41

-1.48 25.46 0.11 25.64 22.55

25.6 4

7 Pengangkutan &Komunikasi

-6.19 17.25

-4.92 17.33

-2.55 17.45

-3.21 17.65 14.43

17.6 5

8 Keuangan, sewa, & Jasa

Perusah. 2.94 9.64

-0.49 9.72 0.01 9.72

-0.79 9.58 12.01 9.58

9 Jasa-jasa

-2.31 22.84

-1.27 22.32 2.45 22.31 0.43 22.18 19.28

22.1 8

PDRB 0.00

100.00 0.00 100.00 0.00 100.00 0.00 100.00 100.45

100. 10

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber Data : Data BPS Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 dan Data Proyeksi Perkembangan Kontribusi Sektor dalam PDRB Tahun 2007. s.d 2011Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Pemerintah Kota Tebing Tinggi.

(8)

Tabel – 2.4

Pertumbuhan Kontribusi Sektor dan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku (Hb) dan Harga Konstan (Hk) Tahun 2007, Tahun 2008; Tahun 2009; dan Tahun 2010

Pemerintah Kota Tebing Tinggi

NO Sektor

Pertumbuhan

2007 Pertumbuhan2008 Pertumbuhan2009 Pertumbuhan2010*)

Hb Hk Hb Hk Hb Hk Hb Hk

% % % % % % % %

1 Pertanian 6.52 -6.69 7.27 -5.15 8.73 -3.40 11.07 -4.26

2 Pertambangan & Penggalian 10.99 -1.82 12.60 -1.51 13.50 -0.78 11.74 -1.28 3 Industri Pengolahan 17.68 -1.55 16.44 -1.14 11.23 -1.37 13.27 -0.27 4 Listrik,Gas, & Air bersih 2.30 -5.26 5.82 -2.43 6.29 -2.22 7.76 -0.72

5 Bangunan 16.17 1.11 16.48 1.23 16.11 1.37 18.27 0.04

6 Perdagangan, Hotel, & Restoran 16.33 1.26 15.47 2.12 9.83 0.17 13.01 0.70

7 Pengangkutan & Komunikasi 0.84 -0.30 7.68 0.45 8.63 0.71 9.26 1.17

8 Keuangan, sewa, & Jasa Perusah. 17.02 5.56 12.71 0.84 11.49 0.00 11.99 -1.49 9 Jasa-jasa 11.06 -2.02 11.82 -2.26 14.20 -0.06 13.37 -0.57

PDRB 13.68 0/00 13.26 0.00 11.48 0.00 12.89 0.00

Sumber : BPS Kota Tebing Tinggi 2010 (data diolah)

(9)

Tabel- 2.5

Perkembangan PDRB Provinsi/Kabupaten/Kota Tahun 2006 s.d 2010 Atas Dasar Harga Konstan dan Harga Berlaku (Milyar Rupiah)

No Kabupaten/Kota PDRB

2007 2008 2009

HB HK HB HK HB HK

Kabupaten

1. Nias 3 181,871 1 738,560 865,141 441,569 982,253 468,225 2. Mandailing Natal 2 603,792 1 685,696 3 012,042 1 794,258 3 502,980 1 909,226 3. Tapanuli Selatan 2 351,501 1 554,560 2 558,434 1 631,791 2 761,514 1 697,914 4. Tapanuli Tengah 1 616,001 1 000,474 1 796,326 1 062,313 1 987,160 1 122,907 5. Tapanuli Utara 2 729,500 1 377,745 3 126,117 1 456,881 3 392,626 1 529,396 6. Toba Samosir 2 414,620 1 501,684 2 744,392 1 585,967 3 056,049 1 669,356 7. Labuhan Batu 5 257,085 2 792,160 6 077,301 2 957,401 6 658,794 3 101,701 8. Asahan 8 227,045 4 670,899 9 505,603 4 905,418 10 435,935 5 134,419 9. Simalungun 7 647,486 4 823,349 8 412,295 5 049,397 9 221,621 5 285,269 10. Dairi 2 860,205 1 789,802 3 116,742 1 864,538 3 392,997 1 952,586 11. Karo 4 483,324 2 869,737 5 058,679 30 19,388 5 646,544 3 175,599 12. Deli Serdang 26 041,988 12 264,029 30 116,831 12 994,129 34 172,480 13 698,059 13. Langkat 11 455,319 6 178,019 13 243,635 6 491,755 14 786,580 6 817,320 14. Nias Selatan 1 692,400 1 090,666 1 854,542 1 136,549 2 031,682 1 182,898 15. Humbang Hasundutan 1 727,279 856,381 1 983,027 906,356 2 189,647 954,552

16. Pakpak Barat 231,069 137,831 258,923 145,915 290,299 154,419 17. Samosir 1 287,458 908,458 1 392,282 9 532,851 1 519,319 1 002,459 18. Serdang Bedagai 6 429,010 3 814,434 7 472,749 4 047,771 8 490,357 4 287,253 19. Batu Bara 11 463,160 6 486,778 13 191,958 6 774,665 14 517,227 7 063,219 20. Padang Lawas Utara 1 154,426 659,752 1 271,658 692,685 1 424,469 732,284 21. Padang Lawas 1 105,758 645,094 1 214,722 675,997 1 349,482 710,757 22. Labuhan Batu Selatan 4 246,643 2 409,247 4 953,963 2 558,627 5 472,191 2 685,094

23. Labuhan Batu Utara 4 816,746 2 678,222 5 625,529 2 842,977 6 284,978 2 993,328

24. Nias Utara - - 862,341 430,775 998,844 459,590

25. Nias Barat - - 444,010 225,888 506,339 239,259

Kota

26. Sibolga 1 075,261 623,780 1 235,093 660,274 1 361,122 697,916 27. Tanjung Balai 229,502 1 229,074 2 480,130 1 278,149 2 754,807 1 331,005 28. Pematang Siantar 3 094,890 1 729,336 3 464,686 1 828,230 3 746,216 1 926,299 29. Tebing Tinggi 1 610,172 978,411 1 823,672 1 037,465 2 032,877 1 099,239 30. Medan 55 455,585 29 352,924 65 316,256 31 373,951 72 666,893 33 430,687 31. Binjai 3 311,301 1705,073 3 815,248 1 799,485 4 312,459 1 902,998 32. Padang Sidempuan 1 511,816 787,904 1 744,259 835,919 1 899,012 884,255

33. Gunung Sitoli - - 1 495,456 756,845 1 775,104 813,260

Provinsi Sumatera Utara 183 312,211 100 340,079 211 534,156 106 217,188 235 620,869 112 112,756

Sumber : Tebing Tinggi Dalam Angka 2010

Untuk perkembangan PDRB Atas Dasar Harga Berlaku dan Konstan tingkat Kabupaten/Kota dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009 terlihat bahwa Kota Medan masih merupakan daerah yang memiliki angka PDRB tertinggi di Sumatera Utara dimana tahun 2009 Kota Medan memberikan sumbangan terhadap PDRB Sumatera Utara ADHB terbesar dibandingkan Kota Tebing Tinggi yang hanya memberikan sumbangan PDRB sebesar Rp. 1.099.239.- dan yang paling terkecil memberikan sumbangan PDRB Sumatera Utara di tingkat Kota adalah Kota Sibolga.

(10)

PDRB Perkapita merupakan gambaran ratuk sebagai hasa-rata pendapatan yang diterima oleh setiap penduduk sebagai hasil dari proses produksi. Pada periode 2006-2010, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Kota Tebing Tinggi terus mengalami peningkatan. Pada tahun 2006, PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Kota Tebing Tinggi sebesar Rp. 10.20 juta per tahun (Rp. 0.85 juta per orang per bulan). Pada tahun 2010, angka tersebut naik menjadi Rp. 15.80 juta (Rp. 1.32 juta per orang per bulan). PDRB per kapita atas dasar harga berlaku Kota Tebing Tinggi Tahun 2010 tersebut meningkat 11.74 persen dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar Rp. 14.14 juta (Rp. 1.18 juta per orang per bulan). Secara riil, dengan mengeluarkan faktor inflasi, PDRB per kapita yang dilihat atas dasar harga konstan Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010 sebesar Rp. 8.03 juta (Rp. 0.68 juta per orang per bulan). PDRB per kapita tersebut naik sebesar 4.97 persen bila dibandingkan dengan tahun 2009 sebesar Rp. 7.65 juta (Rp. 0,64 juta per orang per bulan).

Tabel : 2.6

PDRB Per Kapita Kota Tebing Tinggi Tahun 2006-2010 (Juta Rupiah)

PDRB

Per Kapita 2006

2007ingkan dengan tahun 2009 sebesar Rp.

2008 2009 2010*)

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Atas Dasar Harga Berlaku

10,27 11,55 12,93 14,24 15,80

Atas Dasar Harga Konstan

6,69 7,02 7,35 7,70 8,03

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber : Data BPS Kota Tebing Tinggi dalam PDRB Kota Tebing Tinggi menurut Lapangan Usaha 2010

Dengan demikian, menurut PDRB per kapta atas dasar harga konstan 2000 sudah ada perbaikan dalam taraf hidup riil masyarakat di Kota Tebing Tinggi selama periode 2006-2010, dari yang sebelumnya tahun 2006 hanya memperoleh Rp. 554.249.- per orang per bulan menjadi Rp. 668.932 per orang per bulan pada tahun 2010.

c. Distribusi Pendapatan

Indeks Gini

(11)

(Sumber Data : Bappeda Kota Tebing Tinggi dalam Kajian Interaksi antara Kinerja Ekonomi dan kemiskinan di Kota Tebing Tinggi).

Kemudian berdasarkan kurva Lorenz juga menunjukkan bahwa ketimpangan pengeluaran rumah tangga di Tebing Tinggi relatif rendah. Hal ini ditunjukkan bahwa semakin jauh jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat ketidakmerataannya. Sebaliknya semakin dekat jarak kurva Lorenz dari garis diagonal, semakin tinggi tingkat pemerataan distribusi pendapatannya.

d. Penduduk diatas garis kemiskinan

Kemiskinan adalah sebuah permasalahan yang bersifat komprehensif mencakup kondisi perekonomian, kependudukan, ketenagakerjaan, kesehatan, dan pendidikan. Sedangkan penduduk miskin adalah penduduk yang tidak mempunyai kemampuan dalam memenuhi kebutuhan dasar untuk kehidupan yang layak, baik kebutuhan dasar makanan maupun kebutuhan dasar bukan makanan. Sedangkan Garis Kemiskinan dapat dinyatakan dalam nilai rupiah dimana seseorang dapat memenuhi kebutuhan minimum makanan dan bukan makanan, dengan kata lain Penduduk yang berada di bawah garis kemiskinan disebut sebagai penduduk miskin. Adapun kategori Indikator miskin menurut BPS adalah : Untuk pelaksanaan pelayanan kesejahteraan sosial bagi fakir miskin maka diperlukan indikator yang lebih merefleksikan tingkat kemiskinan yang sesungguhnya di masyarakat. Indikator untuk menentukan fakir miskin tersebut ialah :

1. Penghasilan rendah atau berada dibawah garis sangat miskin yang diukur dari tingkat pengeluaran perorangan perbulan berdasarkan standar BPS per wilayah propinsi dan kabupaten/ kota.

2. Ketergantungan pada bantuan pangan untuk penduduk miskin (seperti zakat/ beras untuk miskin/ santunan sosial).

3. Keterbatasan kepemilikan pakaian untuk setiap anggota keluarga pertahun (hanya mampu memiliki 1 stel pakaian lengkap perorang pertahun).

4. Tidak mampu membiayai pengobatan jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit.

5. Tidak mampu membiayai pengobatan jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit.

6. Tidak mampu membiayai pendidikan dasar 9 tahun bagi anak-anaknya.

7. Tidak memiliki harta (asset) yang dapat dimanfaatkan hasilnya atau dijual untuk membiayai kebutuhan hidup selama tiga bulan atau dua kali batas garis sangat miskin.

8. Ada anggota keluarga yang meninggal dalam usia muda atau kurang dari 40 tahun akibat tidak mampu mengobati penyakit sejak awal.

9. Ada anggota keluarga usia 15 tahun keatas yang buta huruf. 10. Tinggal dirumah yang tidak layak huni.

11. Luas rumah kurang dari 4 meter persegi. 12. Kesulitan air bersih.

13. Rumah tidak mempunyai sirkulasi udara. 14. Sanitasi lingkungan yang kumuh (tidak sehat).

(12)

(14.58 persen). Jika dibandingkan dengan persentase rata-rata penduduk miskin di Sumatera Utara, angka-angka tersebut relative tinggi. Untuk kota di Sumatera Utara, Tebing Tinggi merupakan kota yang persentase KK miskinnya nomor tiga terbesar setelah Kota Tanjung Balai dan Sibolga.

e. Laju Inflasi

Tabel : 2.7

Nilai inflasi rata-rata Tahun 2006 s.d 2010 Kota Tebing Tinggi

Uraian 2006 2007 2008 2009 2010*)

Inflasi 7,11 7,27 6,81 5,21 6,43

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber : Data BPS Kota Tebing Tinggi dalam PDRB Kota Tebing Tinggi menurut Lapangan Usaha 2010

2.2. Fokus Kesejahteraan Sosial

1) Bidang Pendidikan

a. Angka melek huruf

Ukuran yang sangat mendasar dari indikator pendidikan, secara makro adalah kemampuan membaca dan menulis (angka melek huruf) penduduk dewasa, yaitu kemampuan untuk membaca dan menulis huruf dan huruf lainnya. Berdasarkan data Susenas Tahun 2010 menunjukkan bahwa angka melek huruf penduduk dewasa Kota Tebing Tinggi cenderung stabil. Pada tahun 2009 angka melek huruf Kota Tebing Tinggi sebesar 98.61 persen dan meningkat menjadi 98.7 persen pada tahun 2010.

Tabel : 2.8

Angka Melek Huruf Kota Tebing Tinggi dan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2010

No. Provinsi/Kota

Angka Melek Huruf (persen) Tahun

2006 2007 2008 2009 2010*)

1 Provinsi

Sumatera Utara

97.00 97.03 97.08 97.15 97.32

2 Kota Tebing

Tinggi

98.50 98.53 98.53 98.61 98.7

Catatan : *) Angka Sementara

(13)

Bila dibandingkan dengan Provinsi Sumatera Utara secara umum dapat dikatakan bahwa tingkat pendidikan Kota Tebing Tinggi sudah lebih tinggi. Hal ini berdasarkan data Susenas tahun 2010, angka melek huruf Provinsi Sumatera Utara tercatat sebesar 97.32 persen sedangkan angka melek huruf Kota Tebing Tinggi mencapai 98.70 persen. Bila dibandingkan dengan kabupaten/kota lain, angka melek huruf Kota Tebing Tinggi berada pada urutan keduabelas.

b. Rata-rata Lama Sekolah

Indikator pendidikan selain angka melek huruf yang digunakan untuk penghitungan indeks pembangunan manusia antara lain adalah rata-rata lama sekolah. Indikator rata-rata lama sekolah merupakan rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk dewasa berusia 15 tahun ke atas untuk menempuh pendidikan formal yang pernah dijalani.

Tabel : 2.9

Rata-rata Lama Sekolah Kota Tebing Tinggi dan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006-2010

No. Provinsi/Kota

Rata-rata Lama Sekolah (Tahun) Tahun

2006 2007 2008 2009 2010*)

1 Provinsi

Sumatera Utara

8.60 8.60 8.60 8.65 8.85

2 Kota Tebing

Tinggi 9.80 9.80 9.80 9.81 9.85

Catatan : *) Angka Sementara

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Indeks Pembangunan Manusia Kota Tebing Tinggi 2010

(14)

c. Fokus Seni Budaya dan Olahraga

Tabel 2.10

Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Tahun 2009 , 2010 dan 2011

Sumber Data : Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tebing Tinggi Tahun 2011

Tabel 2.11

Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Tahun 2010

Sumber Data : Dinas Pemuda dan Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tebing Tinggi Tahun 2011

No Capaian Pembangunan Satuan Tahun 2009 Tahun

2010 Tahun 2011 1. Jumlah grup kesenian per 10.000

penduduk 10 12 16

2. Jumlah Gedung Kesenian per 10.000 penduduk

- - -

-3 Jumlah Klub Olahraga per 10.000 penduduk

klub 90 98 106

4 Jumlah Gedung Olahraga per 10.000 penduduk

unit 2 -

-N0. Kota/Kecamatan

Jumlah grup kesenian per 10.000 penduduk

Jumlah Gedung Kesenian per 10.000 penduduk

Jumlah Klub Olahraga per 10.000 penduduk

Jumlah Gedung Olahraga per 10.000 penduduk

1. Kota Tebing Tinggi 16 - 106 2

2. Kecamatan Rambutan 4 - 24 1

3 Kecamatan Tebing

Tinggi Kota

2 - 15

-4 Kecamatan Padang Hilir 4 - 25

-5 Kecamatan Padang Hulu 4 - 20 1

(15)

-3. Aspek Pelayanan Umum

3.1. Fokus Layanan Urusan Wajib

3.1.1. Pendidikan

a. Angka Partisipasi Sekolah (APrS)

Angka partisipasi sekolah merupakan indikator yang menunjukkan persentase usia sekolah yang saat ini duduk di bangku sekolah baik SD, SMP maupun SMA. Artinya, APrS ini menunjukkan akses penduduk usia sekolah terhadap pendidikan di suatu daerah. Berdasarkan Data Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara Tahun 2010, APrS SD Kota Tebing Tinggi adalah sebesar 90,71%. Angka ini lebih rendah dari APrS SD Provinsi Sumatera Utara (94,24%). Kemudian APrS SMP adalah sebesar 74,71% lebih rendah dari Provinsi Sumatera Utara (74,74%).

Secara umum angka di atas menunjukkan bahwa terjadi penurunan APrS dari jenjang SD ke jenjang SMP. Hal ini harus diperhatikan serius oleh Pemko Tebing Tinggi karena penurunan angka ini apakah disebabkan tingginya angka putus sekolah atau angka mengulang kelas. Penurunan angka ini juga secara langsung dapat mengakibatkan sulitnya pencapaian program wajib belajar 12 tahun yang telah dicanangkan oleh Pemerintah Kota Tebing Tinggi.

Tabel 2.12

Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2006-2010 Kota Tebing Tinggi

No .

Jenjang Pendidikan 2006 2007 2008 2009 2010

1. SD/MI

1.1 Jumlah murid usia 7-12 tahun 16.151 16.340 16.342 16.195 16.335

1.2 Jumlah penduduk kelompok usia

7-12 tahun 17.549 18.017 18.225 18.468 15.746

1.3 APS SD/MI 104.25 91.95 100.97 100.64 121.14

2. SMP/MTs

2.1 Jumlah Murid usia 13-15 tahun 7.676 7.664 8.324 7.901 7.311

2.2 Jumlah penduduk kelompok usia

13-15 tahun 9.606 9.043 9.986 10.755 9.059

2.3 APS SMP/MTs 126.42 113.47 111.00 119.23 132.35

(16)

Tabel 2.13

Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2010 Menurut Kota/Kecamatan

Kota Tebing Tinggi

No. Kota/Kecamatan

SD/MI SMP/MTs

Jumlah murid usia 7-12 tahun

Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun

APS Jumlah

Murid usia 13-15 tahun

Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun

APS

1. Kota Tebing Tinggi

16.335 15.746 121,14 7.311 9.059 132,35

2. Kecamatan

Rambutan

3.123 3.515 132,60 401 1.790 10.863

3 Kecamatan

Tebing Tinggi Kota

5.170 3.364 199.64 4.408 1.935 294,01

4 Kecamatan

Padang Hilir

2.446 3.098 84,96 537 1.782 52,47

5 Kecamatan

Padang Hulu

2.517 2.741 92,45 715 1.578 7.605

6 Kecamatan

Bajenis

2.687 3.420 89,21 1.250 1.655 112,56

Sumber Data : Profil Dinas Pendidikan Tahun 2010

b. Ratio Ketersediaan Sekolah/penduduk usia sekolah

Tabel 2.14

Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2006-2010 Kota Tebing Tinggi

No .

Jenjang Pendidikan 2006 2007 2008 2009 2010

1. SD/MI

1.1 Jumlah gedung sekolah 95 97 98 98 98

1.2 Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun

17.549 16.340 18.255 18.468 15.746

1.3 Rasio 185 169 187 189 161

2. SMP/MTs

2.1 Jumlah gedung sekolah 28 29 29 30 31

2.2 Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun

9.606 9.043 9.986 10.755 9.059

2.3 Rasio 344 312 345 359 293

(17)

Tabel 2.15

Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2010 Menurut Kota/Kecamatan

Kota Tebing Tinggi

N0. Kota/Kecamatan

SD/MI SMP/MTs

Jumlah gedung sekolah

Jumlah penduduk kelompok usia 7-12 tahun

Rasio Jumlah

gedung sekolah

Jumlah penduduk kelompok usia 13-15 tahun

Rasio

1. Kota Tebing

Tinggi 98 15.746 161 31 9.059 293

2. Kecamatan

Rambutan

19 3.123 165 3 1.797 599

3 Kecamatan

Tebing Tinggi Kota

27 3.364 125 16 1.935 121

4 Kecamatan

Padang Hilir

17 3.098 183 3 1.782 594

5 Kecamatan

Padang Hulu

17 2.741 162 3 1.578 526

6 Kecamatan

Bajenis

18 3.420 190 6 1.967 328

Sumber Data : Profil Dinas Pendidikan Tahun 2010

c. Ratio Murid terhadap Sekolah dan Guru pada berbagai jenjang pendidikan Dari data di bawah ini terlihat bahwa rasio murid terhadap sekolah dan guru. Rasio murid terhadap sekolah menunjukkan bahwa masyarakat Kota Tebing Tinggi lebih berminat pada sekolah – sekolah umum dibandingkan sekolah yang dikelola oleh Departemen Agama. Kemudian rasio murid terhadap guru menunjukkan bahwa angka rasio antara 8 – 16. Artinya angka ratio tersebut cukup ideal untuk melakukan pengajaran dan bimbingan kepada siswa.

Tabel : 2.16

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Taman Kanak-Kanak /Raudhatul Athfal (RA)/Bustanul Athfal di Kota Tebing Tinggi

Tahun Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. 2007 38 2.276 166 14

2. 2008 37 2.173 147 15

3. 2009 37 2.313 182 13

4. 2010 36 2.959 179 17

(18)

Tabel : 2.17

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Taman Sekolah Dasar (SD) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. Padang Hulu 16 2.853 177 16

2. Tebing Tinggi Kota 27 6.386 357 18

3 Rambutan 19 4.105 224 18

4 Bajenis 16 2.992 148 16

5 Padang Hilir 16 2.849 175 16

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka, 2010

Tabel : 2.18

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kota Tebing Tinggi

Tahun Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. 2007 4 500 33 15

2. 2008 4 518 44 12

3. 2009 4 523 26 20

4. 2010 4 550 47 2

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka, 2010

Tabel : 2.19

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Taman Sekolah Dasar (SD) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. Padang Hulu 2 775 52 15

2. Tebing Tinggi Kota 14 5.464 387 14

3 Rambutan 3 1.037 61 17

4 Bajenis 3 1.186 117 10

5 Padang Hilir 1 646 38 17

(19)

Tabel : 2.20

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Tebing Tinggi

Tahun Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. 2007 8 1.586 136136 12

2. 2008 8 1.622 140 12

3. 2009 8 1.529 126 11

4. 2010 8 1.368 11

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka, 2010

Tabel : 2.21

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kota Tebing Tinggi

Tahun Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. 2007 8 1.586 136 12

2. 2008 8 1.622 136 12

3. 2009 8 1.529 140 11

4. 2010 8 1.368 126 11

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka, 2010

Tabel : 2.22

Banyaknya Sekolah, Murid. Guru dan Rasio Murid-Guru Sekolah Menengah Atas (SMA) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Tahun Jumlah Sekolah Jumlah Murid Jumlah Guru Rasio Murid dengan Guru

1. SMA 15 6.325 456 14

2. SMK 13 6.079 485 13

3. MA 7 914 119 8

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka, 2010

d. Jumlah Lembaga Pendidikan, Peserta Didik dan Tenaga Pendidik

(20)

jumlah tenaga pendidik sebanyak 2.726 guru untuk lembaga formal dan 146 guru untuk tenaga non-formal.

Tabel : 2.23

Jumlah Lembaga Pendidikan, Peserta Didik dan Tenaga Pendidik

Sumber Data : Profil Dinas Pendidikan Tebing Tinggi, 2010

e. Fasilitas pendidikan

(21)

Tabel : 2.24 Fasilitas pendidikan

No. Jenjang Satuan Pendidikan

Kondisi Ruang Kelas

Jumlah

Baik Rusak

Ringan Rusak Berat

01 TK 64 2 0 66

02 RA 24 3 0 27

03 SD 542 47 15 604

04 MI 15 6 0 21

05 SMP 236 13 3 252

06 MTs 39 1 0 40

07 SMA 188 17 0 205

08 MA 32 2 0 34

09 SMK 179 25 0 204

Jumlah 1.319 116 18 1.453

Sumber Data : Profil Dinas Pendidikan Tebing Tinggi, 2010

f. Kualifikasi Guru

Kondisi kualifikasi guru di Tebing Tinggi menunjukkan bahwa sudah sebagian besar Strata 1 (S1/Sarjana) khususnya di jenjang pendidikan SMP dan SMA. Namun, untuk jenjang TK s.d SD masih banyak ditemukan guru dengan kualifikasi pendidikan terakhir adalah SMA dan D2-D3. Untuk ke depannya, kemungkinan guru dengan kualifikasi tersebut akan berkurang karena sistem rekrutmen guru saat ini sudah pada jenjang minimal sarjana. Kondisi kualifikasi guru Tebing Tinggi dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel : 2.25

(22)

g. Angka Partisipasi Kasar

Tabel : 2.26

Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2010 Kota Tebing Tinggi

NO Jenjang Pendidikan 2010

1 PAUD

1.1. Jumlah siswa PAUD 2.959

1.2. APK PAUD 31,74

2 SD/MI

2.1. jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SD/MI

19.735

2.2. APK SD/MI 125,33

3 SMP/MTs

3.1. jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan

SMP/MTs 10.476

3.2. APK SMP/MTs 115,64

4 SMA/SMK/MA

4.1. jumlah siswa yang bersekolah di jenjang pendidikan SMA/SMK/MA

13.318

4.2. APK SMA/SMK/MA 115,26

Sumber Data : Profil Dinas Pendidikan Kota Tebing Tinggi, 2010

Dari data Angka Partisipasi Kasar (APK) Tahun 2010 terlihat bahwa APK untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Tebing Tinggi masih tergolong rendah yaitu 31,74%, sehingga masih perlu perhatian yang lebih baik lagi pada tahun mendatang.

h. Angka Partisipasi Murni

Perkembangan Angka Partisipasi Murni di Tebing Tinggi sampai tahun 2010 dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel : 2.27

Perkembangan APM Tahun 2010 Kota Tebing Tinggi

NO Jenjang Pendidikan 2010

1 APM SD/MI 103,74

2 APM SMP/MTs 80,70

3 APM SMA/MA/SMK 75,21

(23)

Dari data Angka Partisipasi Murni Kota Tebing Tinggi tahun 2010, terlihat bahwa ada kecenderungan terjadinya penurunan jumlah partisipasi siswa dari APM siswa SD (103,74%), SLTP (SMP/MTs) (80,70%) dan SLTA (SMA/MA/MK) 75,21%. Hal ini menunjukkan masih banyak anak yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi diatasnya (putus sekolah). Hal ini disebabkan masih rendahnya minat dan dorongan orang tua untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Disamping masih terbatasnya kemampuan ekonomi masyarakat yang berpenghasilan rendah. Dalam rangka pencapaian sasaran pendidikan di Tebing Tinggi yakni Wajib Belajar 12 tahun dan untuk mewujudkan industrialisasi di Provinsi Sumatera Utara diperlukan Sumber Daya Manusia yang memiliki pendidikan dan keahlian yang memadai atau minimal tamat Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SLTA) khususnya dari Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).

3.1.2. Kesehatan

Pada bidang kesehatan capaian yang telah diperoleh sampai dengan tahun 2010, dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Khusus terkait dengan cakupan pelayanan kesehatan untuk masyarakat miskin adalah sebesar 82,16%, lebih besar dari cakupan layanan Askeskin yang sebesar 80,24 %. Artinya, sekitar 1,92% masyarakat yang tidak tertampung dalam program Askeskin tetap dilayani oleh rumah sakit dan puskesmas di Tebing Tinggi. Sebesar 97,14 % bayi yang telah mendapatkan imunisasi. Kemudian balita gizi buruk yang mendapat perawatan, penanganan TBC dan DBD sebesar 100%.

Tabel : 2.28

Capaian Indikator Bidang Kesehatan sampai dengan tahun 2010

No. Indikator Capaian

1. Rasio posyandu per satuan balita 1: 111,53

2. Rasio puskesmas per satuan penduduk 1: 15.673

3. Rasio pustu per satuan penduduk 1:10.076

4. Rasio Rumah Sakit per satuan penduduk 1:28.212

5. Rasio dokter per 100.000 penduduk 1:68

6. Rasio tenaga medis per 100.000 penduduk 1:274

7. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 100%

8. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan

yang memiliki kompetensi kebidanan 100%

9. Cakupan Desa/kelurahan Universal Child Immunization

(UCI) 97,14%

10. Cakupan Balita Gizi Buruk mendapat perawatan 100%

11. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA

100%

12. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit DBD

100%

13. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat

miskin 82,16%

14. Cakupan kunjungan bayi 90,57%

15. Rasio puskesmas/jumlah penduduk 1:15.673

16. Rasio pembantu puskesmas/jumlah penduduk 1:10.076

(24)

Capaian Indikator utama bidang kesehatan adalah sebagai berikut : a. Angka Kematian Bayi (AKB)

Angka kelangsungan hidup bayi atau Angka Kematian Bayi (AKB) dilihat dari data kematian/1.000 kelahiran hidup. Untuk Tebing Tinggi AKB pada tahun 2010 adalah sebesar 6,37/1.000 kelahiran hidup atau 0,637 %, lebih tinggi sedikit dibandingkan tahun 2009 yang hanya sebesar 6,34/1.000 kelahiran hidup. Angka ini lebih rendah dari AKB Provinsi Sumatera Utara yaitu 25,6/1.000 kelahiran hidup atau 2,56%.

b. Angka Kematian Balita (AKABA)

Kematian balita tercatat 48 kasus atau 15.20/1.000 kelahiran hidup. Angka ini mengalami peningkatan dibanding tahun 2008 dengan 44 kasus atau 14.01/1.000 kelahiran hidup.

c. Angka Kematian Ibu Melahirkan

Pada tahun 2009 dilaporkan 4 kasus kematian ibu melahirkan atau 127.7/100.000 kelahiran hidup, lebih baik jika dibandingkan dengan tahun 2008 dengan 5 kasus atau 159.24/100.000 kelahiran hidup).

d. Usia Harapan Hidup (Life Expectancy)

Angka Harapan Hidup digunakan untuk menilai tingkat kesehatan penduduk yang dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari hasil upaya peningkatan taraf kesehatan secara keseluruhan. Kebijaksanaan peningkatan kesehatan antara lain adalah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk membiasakan diri menuju hidup sehat, diperkirakan sangat membantu memperpanjang harapan hidup penduduk. Kemudian meningkatkan taraf sosial ekonomi masyarakat memungkinkan penduduk untuk memperoleh perawatan kesehatan yang lebih baik sehingga memperpanjang usia. Sejalan dengan Angka Harapan Hidup pada tahun 2006 sebesar 70,3 dan tahun 2009 menjadi 71,2. Meningkatnya angka harapan hidup ini karena makin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan dan makin meningkatnya kondisi sosial ekonomi, yang sangat memungkinkan memberikan jalan bagi perbaikan gizi serta kesehatan di lingkungan masyarakat itu sendiri maka angka harapan hidup naik.

(25)

Tabel : 2.29

Angka Harapan Hidup di masing masing Kota di Propinsi Sumatera Utara Tahun 2009

Kota Angka Harapan Hidup

2009

(1) (2)

1. Sibolga 70,1

2. Tanjung Balai 70,0

3. Pematangsiantar 72,0

4. Tebing Tinggi 71,2

5. M e d a n 71,7

6. B i n j a i 71,6

7. Padangsidimpuan 69,4

Sumber: BPS Propinsi Sumatera Utara.

3.1.3. Bidang Kependudukan dan Tenaga Kerja a. Persentase penduduk miskin

Jumlah penduduk miskin di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2009 adalah sebanyak 20.808 jiwa. Jumlah ini merupakan jumlah penduduk yang memperoleh Jamkesmas dan jamkesda di Tebing Tinggi. Artinya, tingkat kemiskinan penduduk di Tebing Tinggi pada tahun 2009 adalah 14,58%. Dengan tingginya angka kemiskinan tersebut, maka Pemerintah Kota harus memfokuskan program pembangunannya untuk menangani masalah kemiskinan ini.

b. Kesempatan kerja (Rasio penduduk yang bekerja)

(26)

Tabel : 2.30

Penduduk Kota Tebing Tinggi berumur 15 tahun keatas yang bekerja, mencari pekerjaan, dan bukan angkatan kerja menurut jenis kelamin

Tahun 2010 No. Jenis Kegiatan

(Type of Activity) Laki-Laki(Male) Perempuan(Female) Jumlah(Total) 1 Angkatan Kerja (Labour

Force)

46.464 27.210 73.824

Bekerja (Working) 42.524 23.227 65.751

Mencari Pekerjaan (Seeking Job)

2.024 2.328 4.325

2 Bukan Angkatan Kerja

( Non Labour force)

25.428 46.176 71.424

Jumlah (Total) 71.892 73.356 145.248

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2010

3.1.4. Pekerjaan Umum

a. Jaringan jalan dalam kondisi baik

Berikut adalah tabel yang menunjukkan panjang jalan di Kota Tebing Tinggi menurut kondisi dan status yang diambil dari Dinas Pekerjaan Umum Kota Tebing Tinggi.

Tabel : 2.31

Panjang jalan di Kota Tebing Tinggi menurut Kondisi dan Status, 2009 ( Km )

No. Keadaan Negara Provinsi Kota Jumlah

1. Baik 16,32 1,00 195,64 212,96

2. Sedang 2,88 1,00 21,21 25,09

3. Rusak 0,00 2,50 18,86 21,36

Total 19,02 4,50 235,72 259,42

Sumber Data : Dinas Pekerjaan Umum Kota Tebing Tinggi, 2009

Dari tabel di atas diketahui bahwa panjang jalan kota di Kota Tebing Tinggi dengan kondisi baik sepanjang 195,64 Km, untuk kondisi sedang sepanjang 21,21 Km dan untuk kondisi dan status jalan rusak sepanjang 18,86 Km. Jadi total panjang jalan kota di Kota Tebing Tinggi untuk tahun 2009 sepanjang 235,72 Km.

b. Panjang jalan dilalui Roda 4

(27)

Kondisi dan Status di atas diperoleh bahwa panjang jalan yang dapat dilalui kendaraan roda 4 yaitu sepanjang 259,42 km.

c. Rumah Tangga Pengguna Air Bersih

Tabel : 2.32

Persentase Rumah Tangga di kota Tebing Tinggi Menurut Sumber Air Minum Tahun 2009

No. Sumber Air 2009

1. Ledeng / Air dalam kemasan 24,49

2. Pompa 59,39

3. Sumur Terlindung 13,98

4. Sumur Tak Terlindung 1,48

5. Mata Air Terlindung 0,16

6. Mata Air Tak Terlindung 0,33

7. Air Sungai 0,16

8. Air Hujan 0,00

Sumber : Susenas, 2009

Dari data Persentase Rumah Tangga di Kota Tebing Tinggi menurut Sumber Air Minum di atas terlihat bahwa penduduk di Kota Tebing Tinggi masih dominan menggunakan sumber air pompa yaitu sebesar 59,39 %.

d. Rumah Tangga Pengguna Listrik

Fasilitas perumahan yang digunakan oleh rumah tangga adalah mencerminkan tingkat kesehatan dan lingkungannya. Dari data yang ada, dapat kita lihat bahwa di Kota tebing Tinggi masih ada rumah tangga yang menggunakan penerangan bukan listrik walaupun persentasenya sangat kecil yakni sekitar 1,32 % di tahun 2009.

Tabel : 2.33

Persentase Rumah Tangga di kota Tebing Tinggi Menurut Sumber Penerangan Tahun 2009

Sumber Penerangan 2009

1. Listrik PLN 98,68

2. Aladin/Petromak 0,66

3. Pelita/Sentir/Obor 0,49

4. Lainnya 0,16

Sumber : Susenas, 2009

e. Rumah Tangga Bersanitasi

Tabel : 2.34

Persentase Rumah Tangga di Kota Tebing Tinggi

Menurut Kepemilikan Fasilitas Tempat Buang Air Besar Tahun 2009

No. Kepemilikan Kloset Tahun 2009

(28)

2. Bersama 11,36

3. Umum 1,15

4. Lainnya 3,13

Sumber : Susenas 2009

Menurut Susenas 2009, kepemilikan fasilitas tempat buang air besar terbanyak adalah sendiri, sebesar 84,36%. Kemudian yang bersama sebanyak 11,36 %, sementara yang umum dan lainnya ada 4,28 %. Dari data tersebut, hampir keseluruhan rumah tangga di Kota Tebing Tinggi telah memiliki fasilitas sendiri.

f. Lingkungan Pemukiman Kumuh

Tabel : 2.35

Persentase Kawasan Kumuh di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

No. Kecamatan Kelurahan WilayahLuas

(km2)

Jumlah Penduduk

(jiwa)

Jumlah Rumah Tangga (kk)

1. Padang Hulu 1. Bandarsono

2. Persiakan

1,40 0,90

5325 5589

956 1310

2. Tebing Tinggi Kota 1. Mandailing2.Bandar Utama 0,240,98 32105617 1368874

3. Rambutan 1.Sri Padang2.Tg. Marulak Hilir

0,61 0,65

4416 3615

1083 989

4. Bajenis 1. Bandar Sakti 0,78 5005 1191

Sumber : SK Walikota No. 460/036 Tahun 2010

Data di atas menunjukkan bahwa dari 5 kecamatan yang ada di Kota Tebing Tinggi hanya 1 Kecamatan yang tidak termasuk dalam Kawasan Kumuh yaitu Kecamatan Padang Hilir.

3.1.5. Perumahan

Luas lantai,jenis lantai, jenis dinding dan atap rumah dapat dijadikan sebagai indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena merupakan aspek yang dapat menggambarkan keadaan suatu tempat tinggal. Berikut adalah tabel yang menunjukkan persentase rumah tangga menurut luas lantai, jenis lantai, jenis dinding dan atap rumah di Kota Tebing Tinggi berdasarkan data Susenas tahun 2009.

(29)

Persentase Rumah Tangga menurut luas lantai di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

No Luas Lantai (m2) Tahun 2009

1 < 20 1,15

2 20 – 49 23,20

3 50 – 99 53,46

4 100 – 149 15,94

5 > 150 6,25

Sumber data : Susenas tahun 2009

Dari data diatas jumlah yang paling dominan adalah rumah tangga yang menempati rumah dengan luas lantai antara 50 – 99 m2 yaitu sebesar 53,46 %. Sedangkan untuk luas lantai antara 100 – 149 m2 persentasenya sebesar 15,94 %.

Tabel : 2.37

Persentase Rumah Tangga menurut jenis lantai di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

No Jenis Lantai Tahun 2009

1 Bukan Tanah 98,52

2 Tanah 1,48

Sumber data : Susenas tahun 2009

Dari data diatas persentase rumah penduduk yang memiliki lantai bukan tanah sudah lebih tinggi dari data rumah penduduk yang menggunakan lantai tanah yaitu sebesar 98,52 %

Tabel : 2.38

Persentase Rumah Tangga menurut jenis dinding rumah di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

No Jenis Dinding Tahun 2009

1 Tembok 68,74

2 Bukan Tembok 31,26

Sumber data : Susenas tahun 2009

Dari data diatas persentase rumah penduduk yang menggunakan tembok lebih tinggi dari rumah yang tidak menggunakan tembok yaitu sebesar 68,74 %.

(30)

Persentase Rumah Tangga menurut jenis Atap rumah di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

No Jenis Atap Tahun 2009 (%)

1 Beton 3,79

2 Genteng 0,33

3 Sirap 0,16

4 Seng 92,10

5 Asbes 1,32

6 Ijuk/ daun 2,30

Sumber data : Susenas tahun 2009

Dari data diatas persentase rumah penduduk yang paling banyak menggunakan atap seng yaitu sebesar 92,10 %.

3.1.6 Penataan Ruang

Hal – hal / kegiatan yang dilaksanakan dalam Program Pemanfaatan ruang yaitu Survei, Pendataan dan Pemetaan Kota Tebing Tinggi yang menghasilkan survei dan pemetaan Kota Tebing Tinggi.

3.1.7 Perhubungan

a. Jumlah Uji KIR Angkutan Umum

Tabel di bawah ini menunjukkan persentase uji KIR Angkutan Umum di Kota Tebing Tinggi tahun 2008 dan 2009. Dari data tersebut sepeda motor memiliki jumlah terbesar di tahun 2009 yaitu 64.485.

Tabel : 2.40

Uji KIR Kendaraan Umum di Kota Tebing Tinggi Tahun 2008 dan 2009

Tahun PenumpangMobil Bus Mobil Truk SepedaMotor Jumlah

2008 3790 50 2944 44999 51783

2009 3615 397 3901 64485 72398

Sumber data : Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi, 2011

b. Kepemilikan KIR Angkutan Umum

Tabel : 2.41

Kepemilikan KIR Angkutan Umum di Kota Tebing Tinggi Tahun 2009

IKK Rumus Capaian Kinerja Keterangan

1. Jumlah angkutan umum yang

tidak memiliki KIR = 0 unit 3600 100%

0

x unit unit

0 %

Balai Pengujian Kendaraan Bermotor ( PKB ) 2. Jumlah angkutan umum =

3600 unit - -

(31)

Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa Balai Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) belum dibangun dan wadah untuk pengujian tersebut belum ada sehingga capaian kinerja masih 0 % dan telah diusulkan untuk pembangunan balai tersebut di tahun 2012.

c. Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum ( KIR )

Pengujian kelayakan angkutan umum berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi tahun 2009 memiliki lama pengujian 1 jam.

Tabel : 2.42

Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum ( KIR )

IKK Rumus Capaian Kinerja Keterangan

Lama Pengujian Kelayakan Angkutan Umum ( KIR )

Jangka waktu proses pengujian angkutan umum

1 jam PKB

Sumber data : Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi, 2010 d. Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum

Data Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi di bawah ini menunjukkan bahwa biaya pengujian kelayakan angkutan umum dengan tarif Rp. 11.500,- untuk yang berdomisili di Tebing Tinggi dan Rp. 21.500,- untuk diluar Kota Tebing Tinggi.

Tabel : 2.43

Biaya Pengujian Kelayakan Angkutan Umum

IKK Rumus Capaian Kinerja Keterangan

Biaya Pengujian Kelayakan

Angkutan Umum

-1. Rp. 1-1.500,- untuk alamat domisili Tebing Tinggi

2. Rp. 21.500,- untuk alamat luar Tebing Tinggi ( numpang uji )

PKB

Sumber data : Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi, 2010

e. Rasio Ijin Trayek

Berdasarkan data dari Dinas Perhubungan Kota Tebing Tinggi tahun 2009 angkutan kota yang beroperasi sebanyak 289 unit yang melayani 11 ( sebelas ) jaringan trayek. Sedangkan becak bermotor pengangkut orang ( BBPO ) sebanyak 1274 unit.

f. Pemasangan Rambu- Rambu

(32)

3.1.8. Lingkungan Hidup a. Penanganan Sampah

Data yang didapat dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tebing Tinggi tahun 2009 bahwa persentase volume sampah yang telah ditangani adalah sebesar 62,63 %. Kondisi ini menunjukkan bahwa Pemerintah Kota Tebing Tinggi telah berupaya menangani masalah sampah walaupun belum optimal.

b. Tempat Pembuangan Sampah ( TPS ) Per Satuan Penduduk

Jumlah penduduk di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2008 sebanyak 141.059 jiwa. Dari data yang diperoleh dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tebing Tinggi jumlah TPS yang ada di Kota Tebing Tinggi sebanyak 124 buah yang tersebar di 5 Kecamatan.

3.1.9. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

Rata – rata jumlah anak per keluarga di Tebing Tinggi adalah 2 anak. Jumlah pasangan akseptor KB baru tahun 2009 sebanyak 4.053 pasangan dengan cakupan peserta KB aktif sebesar 72,08 %. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikutnya.

Tabel : 2.44

Capaian Indikator Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

No Uraian 2009

1 Rata-rata jumlah anak per keluarga 2

2 Jumlah Akseptor Baru (pasangan) 4.053

3 Cakupan peserta KB aktif (% dari jlh PUS) 17.954 pasangan (72,08 %) Sumber: BPS Kota Tebing Tinggi, 2010

3.1.10. Sosial

Berikut ini merupakan stakeholders yang terkait dengan penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) di Tebing Tinggi. Dari data terlihat bahwa ada 1 (satu) Panti Sosial yang menangani PMKS di Tebing Tinggi dan terdapat 49 orang relawan sosial. Selain itu, terdapat lembaga lainnya yang terkait dalam penanganan PMKS. Keberadaan lembaga tersebut merupakan modal dasar dalam penanganan PMKS di Tebing Tinggi.

Tabel : 2.45

Lembaga dan Aktor yang Terlibat dalam Penanganan PMKS Kota Tebing Tinggi

No. Sarana/Lembaga/Aktor Jumlah

1 Panti Sosial 1 Unit

2 Karang Taruna 220 Buah

3 Organisasi Masyarakat 120 Kelompok

4 Relawan Sosial 49 orang

5 Kelompok Usaha Bersama 22 Kelompok

Sumber: Dinas Sosial, TK, dan KB, 2010

(33)

Ketahanan Pangan adalah kondisi terpenuhinya pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan yang cukup,baik jumlah maupun mutunya aman.

a. Ketersediaan Pangan

Kebutuhan beras penduduk Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010 adalah sebesar 20.202 ton sedangkan produksi beras di Kota Tebing Tinggi sebesar 3.275 ton hanya mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat Kota Tebing Tinggi sebesar 16,21 %. Artinya untuk memenuhi kebutuhan beras dapat dipenuhi dari daerah hinterland seperti Kabupaten Simalungun, Pematang Siantar, Deli Serdang, Serdang Bedagai, dan daerah sentra produksi lainnya. Ketersediaan beras di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010 adalah sebesar 29.016 Ton.

b. Kerawanan Pangan

Kerawanan Pangan adalah suatu kondisi ketidakcukupan pangan yang dialami oleh daerah, masyarakat atau rumah tangga pada waktu tertentu untuk memenuhi standar kebutuhan fisiologis bagi pertumbuhan dan kesehatan masyarakat. Program Aksi Gema Pangan pada Tahun 2010 dilaksanakan di Kelurahan Pinang Mancung Penanganan KK Miskin di Kelurahan Gema Pangan dilaksanakan melalui pembinaan Kelompok Afinitas. Tahun 2010 telah terbentuk kelompok Afinitas di Kelurahan Gema Pangan sebanyak 3 Kelompok dengan jumlah anggota 40 orang.Guna menanggulangi kerawanan pangan pada masyarakat miskin, pada Tahun 2010 Pemerintah Kota Tebing Tinggi menyalurkan Beras Miskin (Raskin) sebanyak 759.900 kg untuk 4.470 KK miskin. Pembagian Raskin tersebut diberikan untuk masing-masing 1 (satu) KK sebanyak 15 kg – 20 kg setiap bulan. Jumlah Raskin yang disalurkan kepada rumah tangga miskin berdasarkan data dari Bagian Administrasi Ekonomi dan Pembangunan Setdako Tebing Tinggi dilihat pada tabel berikut:

Tabel : 2.46

Pemberian Bantuan Beras Raskin di Kota Tebing Tinggi Tahun 2006-2010

No. Tahun Rumah Tangga Miskin Raskin yang disalurkan

( Kg )

1 2006 5.262 KK 10 Kg/KK

2 2007 5.248 KK 10 Kg/KK

3 2008 5.250 KK 10 Kg - 15 Kg/KK

4 2009 5.016 KK 15 Kg/KK

5 2010 4.470 KK 15 Kg – 20 Kg/KK

Sumber: Bagian Administrasi Ekonomi dan Pembangunan Setdako Tebing Tinggi

c. Konsumsi dan Mutu Pangan

(34)

Kantor Ketahanan Pangan Kota Tebing Tinggi bersama sama dengan Dinas Pertanian telah melakukan beberapa upaya sebagai berikut :

1. Melaksanakan sosialisasi pangan beragam, bergizi, seimbang bagi kelompok wanita di 5 kecamatan Kota Tebing Tinggi.

2. Melaksanakan kegiatan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) bagi kelompok dasawisma, melalui pemberian bantuan peralatan tepungnisasi

3. Melaksanakan pelatihan pengolahan aneka pangan beragam, bergizi seimbang kepada TPPKK Kota Tebing Tinggi.

d. Keamanan Pangan

Berdasarkan data di lapangan hampir semua sampel jenis jajanan anak sekolah yang favorit bagi anak-anak yang dijadikan sampel mengandung Mikrobiologi dan Bahan Tambahan Makanan (pewarna) yang sangat berbahaya bagi kesehatan anak-anak. Untuk itu perlu adanya upaya koordinasi dengan semua pihak dalam upaya pembinaan dan pengawasan guna pencegahan penggunaan bahan-bahan berbahaya terhadap pangan khususnya pada jajanan anak sekolah.

Beberapa upaya yang telah dilakukan antara lain :

1. Uji laboratorium bekerja sama dengan Badan POM Provinsi Sumatera Utara

2. Sosialisasi dan pembinaan pangan segar yang aman di pasar-pasar tradisional.

3. Sosialisasi keamanan pangan pada kantin-kantin sekolah bagi Anak Sekolah Dasar.

e. Regulasi Ketahanan Pangan

Menyangkut regulasi yang berkaitan dengan ketahanan pangan di Provinsi Sumatera Utara telah diterbitkan peraturan perundang-undangan yakni :

a. Peraturan Gubernur Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Dewan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara (Berita Daerah Provinsi Sumatera Utara Tahun 2006 Nomor 14 Seri G)

b. Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 25 Tahun 2009 Tentang Pengembangan Gerakan Masyarakat Mandiri Pangan Dan Swasembada Pangan.

3.2. Fokus Layanan Urusan Pilihan 3.2.1. Urusan Pilihan Pertanian

a. Pertanian

a.1. Pangan Utama

(35)

persen dari produksi tahun 2009 yang sebesar 8.200 ton. Sementara itu komoditi sayur-sayuran yang dipanen di Kota Tebing Tinggi pada tahun 2010 antara lain tanaman sawi, kacang panjang, cabe, terong, ketimun, kangkung dan bayam. Produksi sayur-sayuran pada tahun 2010 seluruhnya mengalami peningkatan dari tahun 20009. Peningkatan terbesar terjadi pada komoditi kacang panjang. Pada umumnya produksi komoditi buah-buahan pada tahun 2010 mengalami peningkatan pada hampir seluruh jenis komoditi.

Tabel : 2.47

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Padi (Padi Sawah dan Padi Ladang) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan

Padi Sawah Padi Ladang

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Padang Hulu 280 1.652 5,9 -- --

--Tebing Tinggi

Kota -- -- -- -- --

--Rambutan 88 519,2 5,9 -- --

--Bajenis 810 4.779 5,9 -- --

--Padang Hilir -- -- -- -- --

--Tebing Tinggi 1.178 6.950,2 5,9 -- --

--Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011

Tabel : 2.48

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Jagung dan Kedelai menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan Luas Jagung Kedelai

Panen (Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Padang Hulu 23 102,6 44,629 -- --

--Tebing Tinggi Kota

-- -- -- -- --

--Rambutan 5 22,31 44,62 -- --

--Bajenis 7 31,23 44,62 -- --

--Padang Hilir 14 62,46 44,62 -- --

--Tebing Tinggi 49 218,6 44,62 -- --

(36)

Tabel : 2.49

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Kacang Tanah dan Kacang Hijau menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan

Kacang Tanah Kacang Hijau

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Padang Hulu 1 1,12 11,18 1 1,03

10,29-Tebing Tinggi

Kota 0 -- -- 0 --

--Rambutan 0 -- -- 1 1,03 10,29

Bajenis 1 1,12 11,18 0 --

--Padang Hilir 1 1,12 11,18 0 --

--Tebing Tinggi 3 3,36 11,18 2 2,06 10,29

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011

Tabel : 2.50

Luas Panen, Produksi dan Produktivitas Ubi Kayu dan Ubi Jalar menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan

Ubi Kayu Ubi Jalar

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Luas Panen

(Ha)

Produksi (ton)

Produktivitas (Kuintal/ha)

Padang Hulu 17 440,8 259,3 1 11,2 112,49

Tebing Tinggi

Kota 4 103,7 259,3 0 --

--Rambutan 8 207,4 259,3 0 --

--Bajenis 19 492,7 254,3 3 33,7 112,49

Padang Hilir 255 6.612,2 254,3 3 33,7 112,49

Tebing Tinggi 273 7.856,8 259,3 7 78,6 112,49

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011

Tabel : 2.51

Luas Panen, Tanaman Sayuran (Ha) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan (1)

Bawang Merah

Cabe Kentang Kubis Wortel Petsai Lainnya

(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Padang Hulu 0 0 0 0 0 3 40

Tebing Tinggi Kota

0 0 0 0 0 0 8

Rambutan 0 0 0 0 0 10 38

Bajenis 0 2 0 0 0 5 48

Padang Hilir 0 0 0 0 0 0 23

Tebing Tinggi 0 2 0 0 0 28 157

(37)

Tabel : 2.52

Produksi Tanaman Sayuran (Kw) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan (1)

Bawang

Merah Cabe Kentang Kubis Wortel Petsai Lainnya

(2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Padang Hulu 0 -- 0 0 0 242,18 2.464,21

Tebing Tinggi Kota

0 -- 0 0 0 0 199,68

Rambutan 0 -- 0 0 0 2.420,18 1.776,51

Bajenis 0 90,8 0 0 0 1.210,8 1.777,25

Padang Hilir 0 -- 0 0 0 0 1.143,88

Tebing Tinggi 0 90,8 0 0 0 3.873,2 7.361,59

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011

Tabel : 2.53

Produksi Buah-buahan (ton) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan Mangga Durian Jeruk Pisang Pepaya Nanas Lainnya

Padang Hulu 20 -- -- 50 10 -- 30

Tebing Tinggi Kota

-- -- -- 11,5 20 -- 9

Rambutan 2 -- -- 57,5 -- 2,2 362

Bajenis 130 -- 5 79 61 10 1.126

Padang Hilir -- -- 2 245 129 71 104

Tebing Tinggi 152 -- 7 443 220 83,2 1.631

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011

Tabel : 2.54

Produksi Buah-buahan (ton) menurut Kecamatan di Kota Tebing Tinggi

Kecamatan Karet Kelapa Kelapa

Sawit

Kopi Lada Kakao Lainnya

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Padang Hulu -- -- -- -- -- --

--Tebing Tinggi

Kota -- -- -- -- -- 4

--Rambutan 1 5 16 -- -- 11

--Bajenis -- -- -- -- -- --

--Padang Hilir -- -- 28 -- -- 4

--Tebing Tinggi 1 5 44 -- -- 19

(38)

b. Peternakan

Secara keseluruhan populasi ternak di Kota Tebing Tinggi tahun 2010 lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya. Populasi ternak pada tahun 2010 terdiri dari : sapi sebanyak 609 ekor, kambing 6.463 ekor, domba 1.013 ekor dan babi 1.388 ekor. Pada tahun 2010, produksi daging sapi sebanyak 138.780 kg, daging kambing 5.352 kg, daging domba 4.080 kg dan daging babi 109.740 kg. sementara itu populasi ayam bertambah dari 222.807 ekor menjadi 233.926 ekor dan populasi itik bertambah dari 10.443 ekor menjadi 10.966 ekor. Produksi telur tahun 2010 secara keseluruhan sebanyak 391.810 butir atau naik sekitar 1,79 persen dari produksi telur tahun 2009 sebanyak 384.925 butir.

Tabel : 2.55

Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kota Tebing Tinggi (000 ekor) 2010

Kecamatan Sapi

Perah

Sapi Potong

Kerbau Kuda Kambing Domba Babi

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8)

Padang Hulu Tebing Tinggi Kota

Rambutan Bajenis Padang Hilir

0

Tebing Tinggi 0 609 0 0 6.463 1.013 1.388

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011.

Tabel : 2.56

Populasi Unggas Menurut Kecamatan dan Jenis Unggas di Kota Tebing Tinggi (000 ekor) 2010

Kecamatan Ayam

Kampung Ayam Petelor Ayam Pedaging Itik

(1) (2) (3) (4) (5)

Padang Hulu Tebing Tinggi Kota

Rambutan Bajenis Padang Hilir

14.292

Tebing Tinggi 67.396 0 166.530 10.966

(39)

Tabel : 2.57

Populasi Ternak Menurut Kecamatan dan Jenis Ternak di Kota Tebing Tinggi (000 ekor) 2010

Kecamatan Sapi Kerbau Kuda Kambing Domba Babi

(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7)

Padang Hulu Tebing Tinggi Kota

Rambutan Bajenis Padang Hilir

136

Tebing Tinggi 609 0 0 6.463 1.013 1.388

Sumber Data : BPS Kota Tebing Tinggi dalam Tebing Tinggi Dalam Angka Tahun 2011.

Tabel : 2.58

Produksi Daging Ternak Besar dan Kecil menurut Jenis Ternak 2005 - 2010 (kg)

Tahun Sapi Kerbau Kambing Domba Babi

(1) (2) (3) (4) (5) (6)

Produksi Daging Unggas di Kota Tebing Tinggi menurut Jenis Unggas 2005 - 2010 (kg)

Tahun Ayam Ras Kambing Domba

Pedaging Petelur

2005

Figur

Tabel : 2.2

Tabel :

2.2 p.6
Tabel – 2.3

Tabel –

2.3 p.7
Tabel – 2.4

Tabel –

2.4 p.8
Tabel : 2.6

Tabel :

2.6 p.10
Tabel : 2.7

Tabel :

2.7 p.12
Tabel 2.11Perkembangan Seni, Budaya dan Olahraga Tahun 2010

Tabel 2.11Perkembangan

Seni, Budaya dan Olahraga Tahun 2010 p.14
Tabel 2.12Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2006-2010

Tabel 2.12Perkembangan

Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2006-2010 p.15
Tabel 2.14Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2006-2010

Tabel 2.14Ketersediaan

Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2006-2010 p.16
Tabel 2.13Perkembangan Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2010

Tabel 2.13Perkembangan

Angka Partisipasi Sekolah (APS) Tahun 2010 p.16
Tabel 2.15Ketersediaan Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2010

Tabel 2.15Ketersediaan

Sekolah dan Penduduk Usia Sekolah Tahun 2010 p.17
Tabel : 2.18

Tabel :

2.18 p.18
Tabel : 2.20

Tabel :

2.20 p.19
Tabel : 2.22

Tabel :

2.22 p.19
Tabel : 2.25

Tabel :

2.25 p.21
Tabel : 2.24

Tabel :

2.24 p.21
Tabel : 2.27

Tabel :

2.27 p.22
Tabel : 2.28

Tabel :

2.28 p.23
Tabel : 2.29

Tabel :

2.29 p.25
Tabel : 2.32

Tabel :

2.32 p.27
Tabel : 2.36

Tabel :

2.36 p.28
Tabel di bawah ini menunjukkan persentase uji KIR Angkutan Umum di Kota Tebing Tinggi tahun 2008 dan 2009

Tabel di

bawah ini menunjukkan persentase uji KIR Angkutan Umum di Kota Tebing Tinggi tahun 2008 dan 2009 p.30
Tabel : 2.62

Tabel :

2.62 p.40
Tabel : 2.63

Tabel :

2.63 p.41
Tabel – 2.65

Tabel –

2.65 p.60
Tabel – 2.68

Tabel –

2.68 p.80
Tabel – 2.69

Tabel –

2.69 p.100
Tabel – 2.66

Tabel –

2.66 p.122
Tabel – 2.67

Tabel –

2.67 p.144
Tabel – 2.68

Tabel –

2.68 p.153
Tabel – 2.69

Tabel –

2.69 p.163

Referensi

Memperbarui...

Related subjects : Bab II (2)R-RKPD