(Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST)
SKRIPSI
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk
Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
OLEH:
SORAYA AZHARA ZAINAL 150200136
DEPARTEMEN HUKUM KEPERDATAAN
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2020
Industril
2019|PN.NIAGA.JKT.PST)
SKRIPSI
Diajakan Sebagai Salah Sstu Syarat Untak Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
Oleh:
SORAYA AZIIARA ZAINAL
150200r36
DEPARTEMEN KEPERDATAAII PROGRAM KEKHUSUS$I PERDATA BW
Dosen Pembimbing
II
Prof. Dr. OK Saidin. SH. M.tlum NIP: 19620213199003 1002
Dr.
-9
Dedi llarianto. SH. M.IIumNIP : 196908201995121001
Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara Medan
2020
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Soraya Azhara Zainal
Nim : 150200136
Departemen : Hukum Keperdataan
Judul Skripsi : Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Desain Industri “Perhiasan”
Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri (Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain
Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST)
Dengan ini menyatakan :
1. Bahwa skripsi yang saya tulis tersebut di atas benar adalah tidak merupakan jiplakan dari skripsi atau karya ilmiah orang lain.
2. Apabila terbukti kemudian hasil skripsi tersebut adalah jiplakan, maka segala akibat hukum yang timbul menjadi tanggung jawab saya.
Dengan demikian ini saya buat dengan sebenarnya tanpa ada paksaan atau tekanan dari pihak manapun.
Medan, 20 Februari 2020
Soraya Azhara Zainal Nim : 150200136
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmaanirrahim
Alhamdulillahi Robbil a‟lamiin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala nikmat islam dan nikmat kesempatan-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara. Adapun skripsi ini berjudul :
TINJAUAN YURIDIS TERHADAP PERLINDUNGAN DESAIN INDUSTRI “PERHIASAN” MENURUT UNDANG-UNDANG NOMOR 31 TAHUN 2000 TENTANG DESAIN INDUSTRI (Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST)
Penulis menyadari adanya keterbatasan dalam pengerjaan skripsi dan masih jauh dari kata kesempurnaan. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan kemampuan dan pengetahuan referensi masalah yang berkaitan dengan skripsi ini.
Untuk itu penulis berupaya untuk hasil penulisan ini bisa lebih baik seperti yang diharapkan. Oleh karena itu, semua saran dan kritik akan penulis terima dari siapa saja dalam rangka perbaikan dan penyempurnaan skripsi ini. Dalam penyusunan skripsi ini, penulis telah banyak mendapat bantuan, bimbingan, arahan, dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya.
Melalui kesempatan ini juga, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini, yaitu:
1. Budiman Ginting, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
2. Saidin, selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
3. Puspa Melati Hasibuan, selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
4. Jelly Leviza, selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara;
5. Rosnidar Sembiring selaku Ketua Departemen Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara;
6. Syamsul Rizal selaku Sekretaris Departemen Hukum Perdata Universitas Sumatera Utara;
7. Saidin, selaku Dosen Pembimbing I yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada penulis pada saat penulisan skripsi ini;
8. Dedi Harianto, selaku Dosen Pembimbing II yang telah banyak meluangkan waktunya dalam memberikan bantuan, bimbingan dan arahan-arahan kepada penulis pada saat penulisan skripsi ini;
9. Bapak Armansyah, selaku Dosen Pembinaan Akademik Penulis;
10. Seluruh Dosen dan Staff Pengajar di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah mendidik dan membimbing penulis selama menempuh pendidikan di Fakultas Universitas Sumatera Utara;
11. Teristimewa kepada orang tua saya yang terpenting dalam hidup saya, yang tersayang ayahanda Sujarto Zainal dan yang tercinta ibunda Sri Rusmidah. Tak henti-hentinya penulis mengucapkan terimah kasih atas segala dorongan, semangat, spriritual, material, serta doa yang selalu ayahanda dan ibunda panjatkan agar langkah dan usaha yang ditempuh dalam penulisan skripsi ini diberikan kemudahan oleh Allah SWT.
12. Terima kasih banyak kepada kedua saudaraku tersayang dan tercinta, Suci Rizayanti Zainal dan Zabal Ahmad Zainal yang tidak pernah berhenti memberi dukungan dan doa kepada penulis.
13. Terima kasih kepada Ummul Hudaini Lubis, yang telah menemani saya dari awal sampai akhir perkuliahan.
14. Terima kasih kepada Isma Ananda Riyanti, Aprilli Dayanti, Siti Hanna Zahro, dan Mulia yang selalu memotivasi untuk menyelesaikan skripsi ini.
15. Terima kasih kepada semua teman-teman penulis yang tidak bisa dituliskan satu persatu namanya yang telah memberikan kontribusi/saran/nasehat kepada penulis dalam penulisan skripsi ini, terima kasih banyak.
Akhir kata semoga skripsi ini membawa manfaat yang sangat besar bagi pembaca dan perkembangan Hukum di Indonesia. Terima kasih.
Medan, 20 Maret 2020 Penulis
Soraya Azhara Zainal
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...i
DAFTAR ISI...iv
ABSTRAK...vi
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1
B. Perumusan Masalah...9
C. Tujuan Penulisan...9
D. Manfaat Penelitian...10
E. Metode Penelitian...11
F. Keaslian Penelitian...14
G. Sistematika Penulisan...17
BAB II PENERAPAN UNSUR KEBARUAN UNTUK DESAIN INDUSTRI PERHIASAN A. Tinjauan Umum Desain Industri...20
1. Pengertian Desain Industri...20
2. Pemegang Hak Desain Industri...24
3. Asas Hukum Desain Industri...25
4. Objek dan Subjek Desain Industri...30
5. Proses Permohonan Pendaftaran Desain Industri...33
6. Pengalihan Hak Atas Desain Industri...37
7. Pembatalan Pendaftaran Hak Atas Desain Industri...39
8. Akibat Hukum Pembatalan Pendaftaran...43
B. Penerapan Unsur Kebaruan Untuk Desain Industri Perhiasan...45
1. Penilaian Kebaruan Desain Industri Berdasarkan Peraturan yang Berlaku di Indonesia...45
2. Hambatan Dalam Penilaian Kebaruan Pada Desain Industri...50
3. Penerapan Unsur Kebaruan Untuk Desain Industri...53
BAB III PERLINDUNGAN TERHADAP DESAIN INDUSTRI PERHIASAN A. Teori-Teori Dasar yang Melandasi Perlindungan HAKI...58
B. Prinsip-Prinsip Perlindungan Hak Desain Industri...63
C. Jangka Waktu Perlindungan Desain Industri...66
D. Perlindungan Terhadap Desain Industri Perhiasan...67
E. Tuntutan Pidana Atas Desain Industri...74
F. Mekanisme Penyelesaian Sengketa di Bidang Desain Industri Berdasarkan UU No.31 Tahun 2000...79
BAB IV ANALISIS PUTUSAN SENGKETA DESAIN INDUSTRI ANTARA PT.QVC.INDO MELAWAN HILTON AGUSTINUS MENGENAI DESAIN INDUSTRI PERHIASAN A. Posisi Kasus...88
1. Kronologi Kasus...89
2. Pertimbangan Hukum...102
3. Putusan...106
B. Analisis Kasus...108
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN………....………..……..116
B. SARAN………..…………...………..117
DAFTAR PUSTAKA………...119
ABSTRAK Soraya Azhara Zainal1
Saidin**
Dedi Harianto***
Desain industri adalah bagian dari Hak Kekayaan Intelektual.
Perlindungan atas desain industri didasarkan pada konsep pemikiran bahwa lahirnya desain industri tidak terlepas dari kemampuan kreativitas cipta, rasa dan karsa yang dimiliki oleh manusia. Jadi ia merupakan produk intelektual manusia, produk peradaban manusia. Adapun permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah (1) penerapan unsur kebaruan untuk desain industri perhiasan, (2) perlindungan terhadap desain industri perhiasan, (3) Analisis putusan sengketa desain industri antara PT QVC INDO melawan Hilton Agustinus mengenai desain industri perhiasan (studi putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST).
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif. Metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah “metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada. Pada penelitian hukum normatif, yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder, yang mencakup bahan hukum primer, sekunder dan tersier.
Dari hasil penelitian dapat disimpulkan (1) penerapan unsur kebaruan desain industri perhiasan dalam kasus ini yakni, yang dianggap baru apabila memiliki perbedaan dari desain yang telah ada dan apabila ia memiliki perbedaan yang jauh dari desain yang telah ada terdahulu. (2) Bentuk Perlindungan desain industri perhiasan dengan adanya Negara bertanggung jawab, perlindungan hukum dari pemerintah dengan disediakannya aturan dan penanggulangan kejahatan melalui kebijakan pidana, mengenai desain industri perhiasan, penyelesaian sengketa melalui pengadilan dan diluar pengadilan. (3) analisis dalam kasus ini dapat dinilai tidak adanya kebaruan dapat dilihat dari desain industri perhiasan milik penggugat bila dibandingkan dengan desain industri perhiasan milik tergugat, maka keduanya jika diperlihatkan dalam persidangan perhiasan tersebut memiliki persamaan dan tidak ada perbedaan.
Kata Kunci: Perlindungan Hukum. Desain Industri
*Mahasiswa Fakultas Hukum Sumatera Utara
**Dosen pembimbing I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
***Dosen pembimbing II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Desain industri adalah bagian dari Hak Kekayaan Intelektual.
Perlindungan atas desain industri didasarkan pada konsep pemikiran bahwa lahirnya desain industri tidak terlepas dari kemampuan kreativitas cipta, rasa dan karsa yang dimiliki oleh manusia. Jadi ia merupakan produk intelektual manusia, produk peradaban manusia. Ada kesamaan antara hak cipta bidang seni lukis (seni grafika) dengan desain industri, akan tetapi perbedaannya akan lebih terlihat ketika desain industri itu dalam wujudnya lebih mendekati paten. Jika desain industri itu semula diwujudkan dalam bentuk lukisan, karikatur atau gambar/grafik, satu dimensi yang dapat diklaim sebagai hak cipta maka, pada tahapan berikutnya ia disusun dalam bentuk dua atau tiga dimensi dan dapat diwujudkan dalam satu pola yang melahirkan produk materil dan dapat diterapkan dalam aktivitas industri. Dalam wujud itulah kemudian ia dirumuskan sebagai desain industri.2
Definisi normatif desain industri dirumuskan sebagai berikut :
“Desain Industri adalah suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan dari padanya yang berbentuk tiga dimensi atau dua dimensi yang memberikan kesan estestis dan dapat di wujudkan dalam pola tiga dimensi atau dua dimensi serta dapat di pakai untuk menghasilkan suatu produk, barang komoditas industri, atau kerajinan tangan “.
2 OK Saidin, Aspek Hukum Kekayaan Intelektual, Cetakan Ketujuh, (Jakarta :PT RajaGrasindo Persada,2010) , hlm. 467
Merujuk pada definisi di atas maka, karakteristik desain industri itu dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Satu kreasi tentang bentuk, konfigurasi atau komposisi garis atau warna, atau garis dan atau warna atau gabungan keduanya.
2. Bentuk konfigurasi atau komposisi tersebut harus berbentuk dua atau tiga dimensi.
3. Bentuk tersebut harus pula memberi kesan estetis.
4. Kesemua itu (butir 1, 2 dan 3 di atas) harus dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, berupa barang, komoditas industri, atau kerajinan tangan.
Unsur yang terdapat pada karakteristik 1, 2 dan 3 lebih mendekati pada perlindungan hak cipta, namun unsur yang terdapat pada butir 4 merupakan unsur yang harus ada dalam paten.3
Indonesia sebagai negara berkembang sudah menjadi anggota dan secara sah ikut dalam Trade Related Aspect of Intellectual Property Rights (TRIPs), melalui ratifikasi WTO Agreement dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994. Ratifikasi ini kemudian diimplementasikan dalam revisi terhadap ketiga Undang-Undang bidang Hak Kekayaan Intelektual yang berlaku saat itu, diikuti perubahan yang menyusul kemudian, serta pengundangan beberapa bidang Hak Kekayaan Intelektual yang baru bagi Indonesia, yakni Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Undang-Undang Nomor 32 tahun 2000 tentang Desain Tata letak Sirkuit Terpadu, Undang-Undang Nomor 30 tahun 2000 tentang Rahasia Dagang serta Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2000 tentang Perlindungan Varietas Tanaman.4
3 Ibid, hlm. 468
4 Achmad Zen Umar Purba, Hak Kekayaan Intelektual Pasca TRIPs, (Bandung: PT.
Alumni, 2005), hlm. 7.
Salah satu kewajiban yang dipersyaratkan dalam TRIPs Agreement adalah seluruh negara anggota termasuk Indonesia wajib melaksanakan penegakan hukum Hak Kekayaan Intelektual. Sebagai negara berkembang, Indonesia pun harus memajukan sektor industri yang meningkatkan pada kemampuan daya saing dari berbagai sudut pandang maupun oleh daya pikir yang lebih modern dan lebih maju lagi, dengan mendasarkan pada hasil olah pikir yang telah ada sebelumnya.
Daya saing tersebut, antara lain dengan memanfaatkan peranan desain industri, dalam upaya peningkatan terhadap hasil industri atas suatu produk tertentu yang lebih berkualitas, dimana kualitas tersebut dapat dinilai dari segi kreasi dan inovasi produk yang bersangkutan dan dalam menjamin kelangsungannya maka haruslah diberlakukannya suatu perlindungan hukum yang layak atas desain industri.5
Untuk melindungi desain industri dari peniruan atau persaingan yang curang, maka desain industri tersebut harus didaftarkan di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Hak atas desain industri tercipta karena pendaftaran dan hak eksklusif atas suatu desain akan diperoleh karena pendaftaran. Pendaftaran adalah mutlak untuk terjadinya suatu hak desain industri. Oleh karena itu sistem pendaftaran yang dianut UU NO. 31 Tahun 2000 adalah bersifat konstitutif, yakni sistem yang menyatakan hak itu baru terbit setelah dilakukan pendaftaran (first to file.6
5 Abdulkadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak kekayaan Intelektual, (Bandung:
PT Citra Aditya Bakti, 2001), hlm. 265.
6 Insan Budi Maulana, A-B-C Desain Industri Teori dan Praktek di Indonesia, Cetakan Pertama, (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2010), hlm. 15.
Desain Industri yang termasuk dalam kelompok Industrial Right menganut sistem perlindungan fist to file yaitu memberi perlindungan ekslusif berkaitan dengan hak moral dan hak ekonomi pada pendaftar pertama. Konsekuensi yuridis dari tidak efektifnya ketentuan pasal 10 jo pasal 12 Undang-Undang No. 31 tahun 2000 Tentang Desain Industri yang mengatur perihal pendaftaran hak ( first to file) yaitu tidak dilakukannya pendaftaran hak atas karya desain industri oleh
pendesainnya berakibat pendesain tidak mendapat perlindungan hukum dan secara yuridis tidak berhak atas karya desainnya. Perlindungan hukum akan berada pada pihak yang melakukan pendaftaran atas karya tersebut dan memiliki bukti sertifikat pendaftaran.7
Berarti orang yang pertama mengajukan permohonan hak atas desain industri itulah yang akan mendapatkan perlindungan hukum dan bukan orang yang mendesain pertama kali. Sistem pendaftaran pertama (first to file system) mempunyai kekuatan hukum dan menjamin suatu keadilan setelah diundangkan dan sebagai bukti telah dilakukannya pendaftaran hak dan telah dipenuhinya, baik persyaratan substantif maupun persyaratan administrasi, maka pendaftar akan memperoleh sertifikat hak desain industri. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan landasan perlindungan hukum agar pemegang hak desain industri dilindungi dari berbagai bentuk pelanggaran berupa penjiplakan, pembajakan, atau peniruan atas desain industri terkenal.8
7 Ni Ketut Supasti Dharmawan, Nyoman Mas Aryani, “Keberadaan Regulasi Desain Industri Berkaitan Dengan Perlindungan Hukum Atas Karya Desain di Bali”, Jurnal Kertha Patrika, Vol. 33, No. 1, November 2012, hlm. 2
8 Abdul Kadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektual, Cetakan Kedua (Bandung: PT. Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 292.
Indonesia kaya akan berbagai budaya dan kesenian, salah satunya dalam bentuk perhiasan. Perempuan adalah pengguna perhiasan yang paling utama dalam berbagai kesempatan, dengan menggunakan material yang cukup variatif.
Pergeseran penggunaan perhiasan bertema tradisional dan etnik yang dikenakan oleh perempuan muda sangat terlihat, disebabkan banyaknya desainer-desainer muda menciptakan jenis perhiasan mengikuti perkembangan zaman. Proses pembuatan dan pengembangan perhiasan, disesuaikan dengan fenomena yang tengah berlaku di masyarakat. Perkembangan perhiasan dari masa ke masa menggambarkan karakter dan budaya yang berbeda dari tiap-tiap jamannya.
Desain perhiasan yang inovatif memiliki dasar kreatifitas serta terinspirasi berdasarkan pengamatan budaya.9
Perhiasan dikenal sebagai salah satu barang kegunaan yang umumnya dikenakan oleh pria dan wanita sebagai alat untuk mempercantik diri atau pelengkap berbusana dan bahkan untuk meningkatkan status sosial. Komoditi perhiasan dalam perdagangan internasional dibedakan sebagai berikut:10
a. Perhiasan logam mulia, yaitu perhiasan yang bahannya terbuat dari emas, perak, platina dan dikombinasikan dengan bantuan mulia yang sering disebut real jewelry atau fine jewelry.
b. Perhiasan imitasi yaitu produk perhiasanyang bahannya terbuat dari berbagai bahan diluar logam mulia seperti kulit, plastik, kerang, tanduk, tulang, perunggu, kayu dan lain sebagainya yang dibentuk sesuai dengan tujuan pemakaian, yang sering disebut fashion jewelry atau imitation.
c. Batuan mulia yaitu perhiasan yang terbuat dari batuan mulia, intan, mutiara dan sebagainya diproses sedemikian rupa menjadi batuan atau jenis potongan lepas yang digunakan sebagai barang perhiasan atau
9 Rika Nugraha, “Kajian Desain Perhiasan Tulola Jelwery Dengan Inspirasi Budaya Bali Program Studi Kriya Tekstil dan Mode, Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom”, Jurnal Rupa, Vol. 01, No. 01, Januari-Juni 2016 hlm. 51.
10 Tumpal Silaloho, Leo Mualdy Cristofell, Review Kebijakan Perpajakan dalam Rangka Pengembangan Ekspor Hasil Industri Perhiasan, Jurnal Kemendag, Vol. 1, No. 1, 2007, hlm. 52
dekorasi yang mempunyai fungsi atau manfaat dari kehidupan sehari-hari.
Hak desain industri dapat beralih atau dialihkan dengan cara pewarisan, hibah, wasiat, perjanjian tertulis, atau sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan. Pengalihan hak desain industri tesebut harus disertai dengan dokumen tentang pengalihan hak dan wajib dicatat dalam daftar umum desain industri pada Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual dengan membayar sesuai ketentuan. Pemegang hak desain industri juga dapat memberikan lisensi kepada pihak ketiga dalam jangka waktu tertentu dan syarat tertentu untuk melaksanakan hak desain industri.11
Hak desain industri dapat pula berakhir sebelum waktunya karena adanya pembatalan. Pembatalan pendaftaran desain industri tersebut bisa terjadi karena permintaan pemegang hak desain industri dan bisa juga karena adanya gugatan perdata dari pihak lain. Pembatalan pendaftaran desain industri berdasarkan permintaan hak desain industri diatur dalam Pasal 37 Undang-Undang Desain Industri. Berdasarkan Pasal 37 ini, pemegang hak desain industri mempunyai hak untuk membatalkan pendaftaran desain industrinya. Pembatalan hak desain industri ini hanya dapat dilakukan bila mendapat persetujuan secara tertulis dari penerima lisensi hak desain industri yang tercatat dalam daftar umum desain industri.12
Suatu desain industri yang terdaftar pun bukanlah berarti tidak dapat dibatalkan. Sesungguhnya apabila mencermati ketentuan desain industri, maka dalam kondisi-kondisi tertentu sangat dimungkinkan untuk dilakukan suatu
11 Haris Munandar dan Sally Sitanggang, Mengenal Hak Kekayaan Intelektual, Hak cipta,Paten, Merek dan Seluk Beluknya (Jakarta: Erlangga, 2008) Hal. 64-65.
12 Rachmadi Usman, Hukum Hak Atas Kekayaan Intelektual Perlindungan Dan Dimensi Hukumnya Di Indonesia, (Bandung: PT Alumni, 2003), Hal. 449-450.
pembatalan. Apabila pembatalan pendaftaran dilaksanakan ada akibat hukum yang ditimbulkan. Akibat hukumnya bahwa pembatalan pendaftaran desain industri menghapuskan segala akibat hukum yang berkaitan dengan hak desain industri dan hak-hak lainnya yang berasal dari desain industri tersebut. Hak-hak lain yang dimaksudkan disini apabila pemegang hak desain industri telah mengalihkan haknya kepada pihak ketiga sesuai ketentuan yang berlaku. Oleh karena itu, pada akhirnya dapat dipahami bahwa pembatalan desain industri terdaftar pada dasarnya menurut ketentuan Undang-Undang Desain industri sangat mungkin terjadi yang tentunya didasarkan pada syarat-syarat sebagaimana yang diatur dalam ketentuan Undang-Undang Desain Industri.13
Pada dasarnya pemegang hak desain industri saling bersaing untuk menciptakan suatu barang inovatif pada produk yang sama. Walaupun diakhir hasilnya akan terlihat berbeda dan sama-sama mendaftarkan produk inovatifnya ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual. Namun kurangnya pemahaman dibidang Hak Kekayaan Intelektual khususnya dibidang desain industri membuat pemegang hak desain industri menjadi salah dalam menafsirkan tentang sistem pendaftaran pertama desain industri. Oleh karena itu, dapat dianalisis kasus yang berkaitan dengan desain industri.
Seperti salah satu kasus yang terjadi mengenai gugatan pembatalan desain industri yaitu desain industri konfigurasi perhiasan. Dimana Hilton Agustinus selaku tergugat pada tingkat Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mendaftarkan desain industri berupa produk dengan Desain Industri konfigurasi perhiasan sebagai hasil
13 Muhammad Arief, artikel Desain Industri terdaftar, dapatkah dibatalkan?, 17 April 2011,http://pusathki.uii.ac.id/artikel/artikel/desain-industri-terdaftar-dapatkah-dibatalkan.html, Diakses padatanggal 8 November 2019.
desainnya dan mendapatkan hak eksklusif melalui permohonan pendaftaran hak desain industrinya, yaitu sertifikat desain industri konfigurasi perhiasan terdaftar dengan Nomor IDD0047054.
PT. QVC INDO selaku penggugat mendalilkan bahwa penggugat sejak lama telah mengetahui / memakai / menjual produk dengan desain industri konfigurasi perhiasan yang sama dan mirip dengan produk yang didaftarkan tergugat desain industri konfigurasinya pada turut tergugat dengan demikian desain industri konfigurasi produk dibawah registrasi Nomor. IDD00047054 milik tergugat sudah terpublikasi secara luas menjadi milik publik (public domain) sebelum didaftarkan oleh tergugat. Dalam hal ini PT QVC INDO berkeyakinan bahwa patut diduga desain industri konfigurasi tergugat tersebut juga diajukan tergugat dengan itikad buruk (dishosnesty purpose) dan bertujuan untuk memonopoli hak atas desain industri perhiasan yang sudah menjadi milik umum.
Pada Putusan Hakim Niaga Jakarta Pusat Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST menyatakan membatalkan desain industri milik Hilton Agustinus. Pertimbangan Hakim Pengadilan Niaga dalam memutuskan perkara adalah bahwa desain industri konfigurasi perhiasan yang dimiliki tergugat tidak memiliki nilai kebaruan (not novel) dan bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum (adanya itikad tidak baik), agama, atau kesusilaan, dan menuntut turut tergugat untuk membatalkan desain industri atas nama tergugat dan mencoretnya dari daftar umum desain industri dengan segala akibat hukumnya. Maka dalam Putusan Pengadilan Niaga Jakarta Pusat mengabulkan gugatan penggugat untuk
seluruhnya. Menyatakan desain industri konfigurasi perhiasan yang terdaftar dibawah Nomor. IDD00047054 sejak tanggal 27 Juli 2016 pada turut tergugat atas nama tergugat tidak memiliki nilai kebaruan (not novel).
Berdasarkan uraian dan permasalahan diatas, maka diputuskan untuk menuangkan permasalahan tersebut dalam bentuk skripsi dengan judul :
Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Desain Industri “Perhiasan” Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri (Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST)
B. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka permasalahan yang ingin dibahas dalam penelitian ini, yaitu :
1. Bagaimana penerapan unsur kebaruan untuk desain industri perhiasan?
2. Bagaimana perlindungan terhadap desain industri perhiasan?
3. Analisis putusan sengketa desain industri antara PT QVC INDO melawan Hilton Agustinus mengenai desain industri perhiasan (studi putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST) ?
C. Tujuan Penulisan
Berdasarkan perumusan masalah sebagaimana yang telah diuraikan di atas makan tujuan penulisan dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui dan mengkaji bagaimana penerapan unsur kebaruan untuk desain industri perhiasan.
2. Untuk mengetahui dan mengkaji bagaimana perlindungan terhadap desain industri perhiasan.
3. Untuk mengetahui dan menganalisis mengenai analisis putusan sengketa desain industri antara PT QVC INDO melawan Hilton Agustinus mengenai desain industri perhiasan (studi putusan Nomor 19/Pdt.Sus- Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST)
D. Manfaat Penelitian
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoretis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam pengembangan ilmu pengetahuan terutama dalam perkembangan ilmu hukum khususnya untuk menambah wawasan bagi kalangan akademik tentang hukum perlindungan desain industri. Sehingga dapat memberikan sumbangan pemikiran guna membangun argumentasi ilmiah mengenai Tinjauan Yuridis Perlindungan Desain Industri Perhiasan.
2. Manfaat Praktis
Manfaat secara praktis diharapkan memberikan pengetahuan mengenai tentang sistem-sistem pengaturan hak desain industri seperti:
a. Untuk memberikan pemahaman terhadap masyarakat dan pelaku bisnis tentang pentingnya pendaftaran hak milik desain industri yang didaftarkan direktorat jenderal HKI.
b. Memberikan pemahaman bagaimana undang-undang desain industri dalam melindungi suatu pelanggaran desain industri yang dilakukan oleh masyarakat atau pelaku bisnis.
c. Memberikan masukan terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dibidang desain industri, dan memberikan pemahaman dan informasi bagi masyarakat dan pelaku bisnis agar dapat memahami tentang bagaimana cara mendaftarkan atau cara pengalihan suatu desain industri tersebut sesuai dengan undang-undang desain industri No. 31 Tahun 2000.
E. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian hukum normatif. Metode penelitian hukum normatif atau metode penelitian hukum kepustakaan adalah “metode atau cara yang dipergunakan di dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan pustaka yang ada”.14 Pada penelitian hukum normatif, yang diteliti hanya bahan pustaka atau data sekunder, yang mencakup bahan hukum primer, sekunder dan tersier.15
2. Sifat Penelitian
Penelitian ini adalah bersifat deskriptif analitis, artinya, “penelitian yang menggambarkan masalah dengan cara menjabarkan fakta secara sistematik,
14 Soejono Soekanto dan Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat, Jakarta, PT Raja Grafindo Persada, 2009, hal.13-14.
15 Soerjono Soekanto, Op Cit, hlm. 52.
faktual dan akurat”.16 Maksud dari penelitian ini adalah untuk memperoleh fakta yang lengkap dan jelas tentang permasalahan mengenai perlindungan desain industri perhiasan kemudian dikaitkan dengan ketentuan dan peraturan-peraturan hukum yang berlaku, sehingga akhirnya dapat diperoleh suatu kesimpulan.
3. Sumber Data Penelitian
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder yang merupakan data yang diperoleh dari dokumen - dokumen yang resmi, buku - buku, hasil - hasil penelitian dan data primer yang merupakan data yang diperoleh langsung dari narasumber atau langsung dari sumber pertama,17 yang terdiri dari :
a. Bahan Hukum Primer yaitu bahan-bahan hukum yang mempunyai kekuatan hukum yang mengikat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Bahan Hukum Primer meliputi Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005 tentang Desain Industri, Putusan Nomor 19/Pdt,Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST.
b. Bahan Hukum Sekunder, yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer, seperti, buku-buku yang berkaitan dengan Desain Industri, laporan, jurnal-jurnal, atau artikel ilmiah, hasil- hasil penelitian serta berbagai hasil penemuan ilmiah yang berkaitan dengan pembahasan.
c. Bahan hukum tersier ialah bahan hukum yang memberikan petunjuk
16 Bambang Suggono, Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Suatu Tinjauan Singkat, (Jakarta: Radja Grafindo Persada, 2007), hlm. 33.
17 Tampil Anshari, Metodologi Penelitian Hukum Penulisan Skripsi, (Medan: Pustaka Bangsa Press, 2009), hlm. 30.
maupun penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus umum, kamus hukum, majalah yang menjadi tambahan bagi penulisan skripsi iniyang berkaitan dengan penelitian ini.18 4. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang dipergunakan dalam penulisan ini adalah Penelitian Kepustakaan (Library Research) yakni dengan cara melakukan studi kepustakaan dari sumber bacaan berupa buku-buku, literatur-literatur hukum, Undang-undang No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2005 tentang Desain Industri, serta hasil penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan skripsi ini.
5. Alat Pengumpulan Data
Alat yang digunakan dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah studi dokumen yang dilakukan secara tidak langsung digunakan untuk memperoleh data sekunder, dengan membaca, mempelajari, meneliti, dan mengidentifikasi literatur, peraturan perundang-undangan dan menganalisis putusan pengadilan.
6. Analisa Data dan Penarikan Kesimpulan
Analisa data yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan metode analisis data secara kualitatif yaitu “suatu kegiatan yang dilakukan untuk menentukan isi atau makna suatu aturan hukum yang dijadikan rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hukum yang menjadi obyek kajian”.19
Penarikan kesimpulan dari proses berfikir dianggap valid bila proses
18 Abdurahman, Sosiologi dan Metodelogi Penelitian Hukum, (Malang: UMM Press, 2009), hlm. 25.
19 Bambang Suggoyo, Op.cit, hlm.30.
berpikir tersebut dilakukan menurut cara tertentu, misalnya cara penarikan kesimpulan secara deduktif yaitu cara pengambilan kesimpulan dari umum ke khusus. Di dalam deduktif, kesimpulan harus mengikuti alasan (premis) yang diberikan, alasan yang dikatakan berarti kesimpulan dan merupakan suatu bukti (proof).20 Jadi penarikan kesimpulan secara deduktif dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung oleh peneliti terhadap objek penelitian mengenai Tinjauan Yuridis Perlindungan Desain Industri “Perhiasan” Menurut UU No. 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri.
F. Keaslian Penelitian
Penelitian ini dilakukan atas ide dan pemikiran dari peneliti sendiri atas masukan yang berasal dari berbagai pihak guna membantu penelitian yang dimaksud. Sepanjang yang telah ditelusuri dan diketahui di lingkungan FakultasHukum Universitas Sumatera Utara, penelitian tentang Tinjauan Yuridis Terhadap Perlindungan Desain Industri “Perhiasan” Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 Tentang Desain Industri (Studi Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST) belum pernah ditulis sebelumnya. Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa penelitian ini merupakan karya ilmiah yang asli, bila dikemudian hari ditemukan judul yang sama, maka dapat dipertanggungjawabkan sepenuhnya.
Berdasarkan penelusuran perpustakaan dari hasil-hasil pembahasan skripsi yang sudah ada maupun yang sedang dilakukan ternyata belum pernah dilakukan
20 J. Supranto, Metode Penelitian Hukum dan Statistik, (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), hlm.65.
pembahasan skripsi yang berjudul di atas, namun pada dasarnya ada beberapa kemiripan judul namun tidak dengan kemiripan materi yaitu:
1. Skripsi dari Rensen Aristo P.S, (Nim: 990222048) yang berjudul:
Perlindungan Hukum Desain Industri Sebagai Hak Milik Intelektual Menurut UU No. 31 Tahun 2000. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimana proses pengalihan hak atas desain industri?
b. Bagaimana cara berakhirnya pendaftaran hak desain industri?
c. Bagaimanakah mekanisme penegakan hukum terhadap pelanggaran hak atas desain industri?
2. Skripsi dari Roma Victoria (Nim: 090200227) yang berjudul:
Perlindungan Desain Industri dalam Industri Kerajinan Tangan Usaha Kecil Menengah (UKM) Menurut UU No 31 Tahun 2000. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimanakah pengaturan desain dalam industri kerajinan tangan usaha kecil menengah (UKM)?
b. Bagaimanakah perlindungan hukum desain industri dalam industri kerajinan tangan usaha kecil menengah (UKM)?
c. Bagaimanakah peran pendaftaran desain industri dalam industri kerajinan tangan dalam mengatasi hambatan yang dialami oleh usaha kecil menengah (UKM)?
3. Skripsi dari Desy Rizki Koto (Nim: 010200072) yang berjudul:
Penerapan Prinsip Itikad Baik dalam Penyelesaian Sengketa Desain Industri. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimana penerapan prinsip baik dalam penyelesaian sengketa desain industri dalam prakteknya di Indonesia?
b. Bagaimana akibat hukum terhadap desain yang belum terdaftar di kantor Hak Cipta, Desain Industri, Desain Tata Letak Sirkuit Terpadu dan Rahasia Dagang?
4. Skripsi dari Windy Maya Arleta (Nim: 02M0067) yang berjudul:
Perlindungan Hukum Terhadap Hak Desain Industri Dalam Rangka Optimalisasi Fungsi Praktek Persaingan Usaha. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Apakah dengan diterbitkannya sertifikat desain industri telah cukup untuk melindungi pemegang hak eksklusifnya?
b. Bagaimanakah perlindungan hukum terhadap hak desain industri dalam optimalisasi praktek persaingan usaha?
5. Skripsi dari Irwansyah (Nim: 990200077) yang berjudul:
Pendaftaran dan Pembatalan Pendaftaran Desain Industri Menurut Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimanakah tatacara pendaftaran desain industri menurut Undang- undang Nomor 31 Tahun 2000?
b. Bagaimanakah berakhirnya suatu perlindungan hukum terhadap Desain Industri?
c. Apakah akibat hukum yang akan terjadi atas pembatalan pendaftaran Desain Industri Tersebut?
d. Bagaimanakah bentuk penegakan hukum terhadap pelanggaran hak atas Desain Industri?
6. Skripsi dari Sri Hadiningrum (Nim: 017005035/HK) yang berjudul:
Persepsi Pengusaha Furniture di Kota Medan Terhadap Pentingnya Perlindungan Desain Industri. Permasalahan dalam skripsi ini adalah:
a. Bagaimanakah pemahaman pelaku usaha furniture tentang perlindungan desain industri di Kota Medan?
b. Faktor-faktor apa yang menyebabkan pendesain/pengusaha furniture tidak mendaftarkan desain industrinya di Kota Medan?
c. Bagaimanakah upaya pemerintah dalam memberikan perlindungan hukum desain industri dengan kemajuan sektor perindustrian dan perekonomian?
Dengan demikian, penulisan skripsi ini dapat dikatakan yang pertama kali dilakukan, sehingga keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik dan moral.
G. Sistematika Penelitian
Sistematika penulisan skripsi ini dibagi dalam beberapa tahapan yang disebutkan dengan bab dan setiap bab masing-masing diuraikan permasalahannya secara tersendiri namun konteksnya masih berkaitan antara yang satu dengan yang lain. Materi pembahasan keseluruhan skripsi ini diatur secara sistematis dan secara terperinci serta dibagi menjadi 5 (lima) bab sebagai berikut :
Bab pertama, merupakan pendahuluan bab yang menggambarkan secara umum tentang latar belakang, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode penelitian, keaslian penelitian, serta sistematika penelitian yang akan berkenaan dengan permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini.
Bab kedua, membahas mengenai Penerapan Unsur Kebaruan Untuk Desain Industri Perhiasan, didalam Bab ini digambarkan tentang tinjauan umum tentang desain industri yang terdiri dari sub-sub bab antara lain pengertian desain industri, pemegang hak desain industri, asas hukum perlindungan desain industri, objek dan subjek desain industri, proses permohonan pendaftaran desain industri, pengalihan hak atas desain industri, pembatalan pendaftaran hak atas desain industri, akibat hukum pembatalan pendaftaran dan Penilaian Kebaruan Desain Industri Berdasarkan Peraturan yang Berlaku di Indonesia, Hambatan Dalam Penilaian Kebaruan Pada Desain Industri, Penerapan Unsur Kebaruan Untuk Desain Industri Perhiasan.
Bab ketiga, pada bab ini menjelaskan mengenai Perlindungan Terhadap desain Industri Perhiasan, yang terdiri dari Teori-Teori Dasar yang Melandasi Perlindungan HAKI, Prinsip-Prinsip Perlindungan Hak Desain Industri, Jangka Waktu Perlindugan Desain Industri, Perlindungan Terhadap Desain Industri Perhiasan, Tuntutan Pidana Atas Desain Industri, Mekanisme Penyelesaian Sengketa di Bidang Desain Industri Berdasarkan UU No. 31 Tahun 2000
Bab keempat, dalam bab ini diuraikan mengenai Analisis Putusan Sengketa Desain Industri PT. QVC INDO melawan Hilton Agustinus mengenai desain industri perhiasan, pada Bab ini menjelaskan mengenai, posisi kasus,
Pertimbangan Hakim Terhadap Putusan Nomor 19/Pdt.Sus-Desain Industri/2019/PN.NIAGA.JKT.PST, analisis kasus.
Bab kelima, merupakan bab kesimpulan dan saran dari seluruh rangkaian bab-bab sebelumnya yang berisikan kesimpulan dari bab-bab yang telah dibahas sebelumnya yang dibuat berdasarkan uraian skripsi ini yang dilengkapi dengan saran-saran yang mungkin berguna dan dapat dipergunakan untuk menyempurnakan penulisan skripsi ini.
BAB II
PENERAPAN UNSUR KEBARUAN UNTUK DESAIN INDUSTRI PERHIASAN
A. Tinjauan Umum Desain Industri 1. Pengertian Desain Industri
Desain industri menurut Pasal 1 angka 1 UU No.31 Tahun 2000 adalah:
“suatu kreasi tentang bentuk, konfigurasi, atau komposisi garis atau warna, atau garis dan warna, atau gabungan dari padanya yang berbentuk 3 (tiga) dimensi atau 2 (dua) dimensi serta dapat dipakai untuk menghasilkan suatu produk, barang atau komoditi industri dan kerajinan tangan”.
Desain industri yang dilindungi adalah yang bukan semata-mata untuk mencapai suatu hasil teknis atau karena fungsinya. WIPO (World Intellectual Property Organization)21 menjelaskan bahwa “ciri utama dari rumusan desain industri ini adalah bahwa karya desain industri dapat diwujudkan dalam pola atau cetakan untuk menghasilkan barang-barang dalam proses industri”. Istilah Desain Industri diatur dalam Pasal 25 dan Pasal 26 TRIPs Agreement. Dalam Undang- Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian, istilah yang dipakai adalah desain produk industri, sedangkan istilah Industrial Design atau Design sering digunakan oleh masyarakat Eropa dan Jepang. Penyebutan nama Undang-Undang ini dengan nama Undang-Undang Desain Industri, yang lebih tepat sebagai padanan kata industrial design daripada menyebutnya dengan nama Undang- Undang tentang Desain Produk Industri. Dengan penamaan itu akan memudahkan
21 Zuleha, Pengaturan Hukum Hak Kekayaan Intelektual Pengetahuan Tradisional Masyarakat Adat, Jurnal Ilmiah “DUNIA ILMU”, Vol. 2 No. 1 Maret 2016, hlm. 14
sosialisasi kepada kalangan pengusaha dan pendesain. Disamping itu, karena istilah desain industri lebih dekat dengan kata asingnya, dan lebih sering digunakan dalam berbagai literatur, yang sebenarnya cukup penting adalah bagaimana definisi desain industri itu disusun agar tidak menimbulkan penafsiran yang berbeda beda.22
Dapat dikatakan bahwa desain industri merupakan seni terapan di mana estetika dan Usability (kemudahan dalam menggunakan suatu barang) suatu barang disempurnakan. Sebuah karya desain dianggap sebagai kekayaan intelektual karena merupakan hasil buah pikiran dan kreativitas dari pendesainnya, oleh sebab itu dilindungi sebagai hak kekayaan intelektual melalui Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.23
Desain industri pada awalnya memang sekadar merupakan penyempurnaan dari suatu produk atau desain yang sudah ada. Namun dalam kenyataannya desain baru yang lebih baik sangat mempengaruhi tampilan suatu produk, mengesankan kenyamanan, atau mencitrakan kualitas yang serba lebih baik. Secara psikologis, produk yang sama kalau ditampilkan dalam desain yang lebih menarik akan dapat meningkatkan daya saing dan nilai komersialnya. Oleh sebab itu desain industri mengandung nilai ekonomis tersendiri. Penciptanya pun memerlukan olah pikir tersendiri yang tentunya juga perlu dihargai.24
Untuk dapat memahami secara lebih mendalam mengenai hak desain industri, terlebih dahulu akan diuraikan pengertian mengenai desain:
22 Suyud Margono, Hak Milik Industri Pengaturan dan Praktiknya di Indonesia, (Bogor:
Ghalia Indonesia, 2011, hlm. 186-18
23 Haris Munandar, Sally Sitanggang, Mengenal HAKI Hak Kekayaan Intelektual, (Jakarta: Erlangga,2011), hlm. 62.
24 Ibid,hlm. 63.
David I. Brainbridge mengemukakan pendapatnya mengenai desain yang merupakan “aspek-aspek dari atau fitur-fitur yang terdapat pada suatu barang;
suatu desain bukanlah barang itu sendiri dan patut dicatat bahwa dalam hukum HAKI, kata „Desain‟ memiliki makna yang terbatas”. Dalam penggunaan yang wajar kata‟Desain‟ dapat diartikan sebagai rencana atau skema yang dapat berupa tulisan atau gambar yang menunjukkan bagaimana sesuatu harus diwujudkan atau bagaimana elemen-elemen dari suatu Item atau barang harus diwujudkan atau bagaimana elemen-elemen dari suatu barang harus disusun. Kemungkinan lainnya adalah suatu desain dapat berupa suatu pola dekoratif. Tetapi dalam bahasa hukum, suatu desain didefinisikan berdasarkan referensi terhadap ketentuan- ketentuan yang dapat diterapkan atas desain terdaftar atau hak desain sebagaimana mestinya.25
Jeremy Philips dan Alison Firth berpendapat bahwa “desain mencakup segala aspek tentang bentuk atau konfigurasi/susunan baik internal maupun eksternal baik yang merupakan bagian maupun keseluruhan dari sebuah benda.
Dekorasi permukaan dikesampingkan dan suatu desain harus spesifik”.26
Bernardo M. Cremades berpendapat bahwa desain industri merupakan
“suatu aransemen grafik dari linen dan warna-warna untuk tujuan komersial yang digunakan untuk suatu dekorasi produk, baik yang menggunakan manual, mesin atau kombinasi keduanya”.27
Adapun yang dimaksudkan dengan hak desain industri berdasarkan Pasal
25 Ranti Fauza Mayana, Perlindungan Desain Industri di Indonesia (Jakarta:
PT.Grasindo,2004), hlm. 49.
26 Ibid, hlm. 50
27 Ibid, hlm. 51.
1 ayat (5) UU N O. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri adalah hak eksklusif yang diberikan oleh negara Republik Indonesia kepada Pendesain atas hasil kreasinya untuk selama waktu tertentu melaksanakan sendiri, atau memberikan persetujuan kepada pihak lain untuk melaksanakan hak tersebut. Berdasarkan ketentuan Pasal 1 ayat (5) UU No. 31 Tahun 2000 tersebut, dapat disimpulkan bahwa hak atas desain industri adalah hak khusus pemilik desain terdaftar yang diperoleh dari negara. Dengan kata lain, berarti diperolehnya hak kepemilikan atas desain industri adalah sebagai konsekuensi telah didaftarkannya desain industri tersebut pada Kantor Desain.28
Trevor Black mengemukakan pendapatnya bahwa hak desain merupakan
“suatu hak atas kepemilikan intelektual yang baru merupakan hak milik perseorangan yang bergerak dalam bidang desain-desain yang asli atau orisinil.
Kata „asli‟ atau „orisinil‟ berarti bahwa desain tersebut merupakan suatu desain yang tidak biasa dalam bidang khusus desain”. Desain berarti rancangan dari semua aspek atau konfigurasi, baik seluruh maupun sebagian dari suatu benda, termasuk bagian dari internal maupun eksternal suatu bentuk atau konfigurasi.
Desain harus asli atau orisinil dan harus memenuhi syarat bahwa suatu benda telah dibuat berdasarkan suatu desain. 29
Hak desain merupakan “suatu hak eksklusif untuk memproduksi ulang desain-desain dengan tujuan komersil, dengan membuat suatu benda berdasarkan suatu desain atau membuat suatu dokumen desain yang mencatat tentang desain
28 Ibid, hlm. 52.
29 Ibid, hlm. 54.
yang akan dibuat bendanya.30
Pada dasarnya desain industri merupakan pattern (pola) yang dipakai dalam proses produksi barang secara komersil, dan dipakai secara berulang-ulang.
Unsur dipakainya dalam proses produksi yang berulang-ulang inilah yang merupakan ciri dan bahkan pembeda dari ciptaan yang diatur dalam hak cipta.
Unsur lain yang menjadi ciri dari hak desain adalah cenderung ciptaan itu berkaitan dengan estetika produk, aspek kemudahan, atau kenyamanan dalam penggunaan produk yang dihasilkan sehingga memberikan sumbangan yang berarti untuk kesuksesan pemasaran barang tersebut.31
2. Pemegang Hak Desain Industri
Orang yang berhak memegang hak desain industri adalah pendesain atau orang yang menerima hak tersebut dari pendesain. Jika desain industri dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaan, maka pemegang hak desain industri adalah pihak pemberi kerja. Jika desain industri dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, maka pembuat desain industri dianggap sebagai pendesain pemegang Hak Desain Industri. Ketentuan ini juga berlaku untuk desain yang dikerjakan oleh orang lain (bukan karyawan) berdasarkan pesanan yang dibuat oleh lembaga swasta atau perorangan. Ketentuan sebagaimana dimaksud tidak menghapus hak pendesain untuk tetap dicantumkan namanya dalam sertifikat desain industri, daftar umum desain industri dan berita resmi desain industri. Pencantuman nama pendesain merupakan suatu keharusan
30 Ibid, hlm. 55.
31 Muhammad Djumhana dan R. Djubaedillah, Hak Milik Intelektual :Sejarah, Teori dan Prakteknya di Indonesia (Edisi Revisi), (Bandung: PT.Citra Aditya Bakti, 2003), hlm. 220.
dalam bidang HKI dan dikenal dengan istilah Hak Moral (Moral Right).32
Berita resmi desain industri adalah “lembaran resmi yang diterbitkan secara berkala oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual yang memuat hal-hal yang menurut undang-undang ini harus dimuat didalamnya”. Dengan demikian, pemegang hak desain industri adalah:33
a. Pendesain, atau
b. Penerima hak dari pendesain karena pewarisan atau pengalihan atau sebab- sebab lain yang yang dibenarkan Undang-Undang, atau
c. Pemberi kerja dalam hubungan dinas, atau
d. Pembuat sebagai pendesain dalam hubungan kerja
Dalam pemberian hak yang diberikan kepada pemegang Hak Desain Industri adalah hak eksklusif dimana hak tersebut merupakan hak untuk melaksanakan Hak Desain Industri yang dimilikinya dan untuk melarang orang lain yang tanpa persetujuannya membuat, memakai, menjual, mengimpor, mengekspor, dan atau mengedarkan barang yang diberi hak Desain Industri akan tetapi dalam pelaksanaan tersebut dikecualikan dari ketentuan apabila pemakaian desain industri untuk kepentingan penelitian dan pendidikan, sepanjang tidak merugikan kepentingan yang wajar dari pemegang Hak Desain Industri.34
3. Asas Hukum Perlindungan Desain Industri
Disamping berlakunya asas-asas (prinsip hukum) hukum benda terhadap hak atas desain industri, asas hukum yang mendasari hak ini adalah:35
32 Tomi Suryo Utomo, Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Di Era Global:Sebuah Kajian Konteporer, Cetakan Pertama, (Yogyakarta:Graha Ilmu, 2010), hlm. 233.
33 Abdul Kadir Muhammad, Kajian Hukum Ekonomi Hak Kekayaan Intelektua, Cetakan Kedua, (Bandung:PT. Citra Aditya Bakti, 2007), hlm. 297.
34 Iswi Hariyani, Prosedur Mengurus HAKI (Hak Kekayaan Intelektual) Yang Benar, Cetakan Pertama, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010), hlm.190.
35 OK Saidin,Aspek hukum kekayaan intelektual, (Jakarta :PT RajaGrasindo Persada,2010) , hlm. 477
a. Asas publisitas
Asas publisitas bermakna bahwa adanya hak tersebut didasarkan pada pengumuman atau publikasi di mana masyarakat umum dapat mengetahui keberadaan tersebut. Untuk itu hak atas desain industri itu diberikan oleh negara setelah hak tersebut terdaftar dalam berita resmi negara. Di sini perbedaan yang mendasar dengan hak cipta, yang menyangkut sistem pendaftaran deklaratif, sedangkan hak atas desain industri menganut sistem pendaftaran konstitutif, jadi ada persamaannya dengan paten.
Untuk pemenuhan asas publisitas inilah diperlukan ada pemeriksaan oleh badan yang menyelenggarakan pendaftaran. Pemeriksaan terhadap permohonan hak atas desain industri, mencakup dua hal:
1) Pemeriksaan administratif.
2) Pemeriksaan substantif.
Tentang langkah-langkah pemeriksaan administratif, prosedur yang dilalui adalah sebagai berikut: 36
a. Di Indonesia badan yang melakukan pemeriksaan terhadap permohonan hak atas desain industri adalah Direktorat Jenderal HAKI yang berada di bawah Departemen Kehakiman.
b. Apabila hak atas desain industri itu bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban umum, agama dan kesusilaan atau apabila ternyata terdapat kekurangan dalam pemenuhan persyaratan atau juga permohonan dianggap telah ditarik kembali maka Direktorat Jenderal akan menerbitkan keputusan penolakan atas permohonan hak tersebut.
c. Pemohon atau kuasanya diberi kesempatan untuk mengajukan keberatan atas keputusan penolakan atau anggapan penarikan kembali permohonan tersebut dalam waktu paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal diterimanya surat penolakan atau pemberitahuan penarikan kembali permohonan tersebut.
36 Ibid.
d. Dalam hal pemohon tidak mengajukan keberatan, keputusan penolakan atau penarikan kembali oleh Direktorat Jenderal menjadi keputusan yang bersifat tetap.
e. Terhadap keputusan penolakan atau penarikan kembali oleh Direktorat Jenderal, pemohon atau kuasanya dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan Niaga dengan tata cara sebagaimana diatur dalam Undang- Undang No. 31 Tahun 2000.
Permohonan yang telah memenuhi persyaratan akan diumumkan oleh Direktorat Jenderal dengan cara menempatkan pada sarana yang khusus untuk itu yang dapat dengan mudah serta jelas dilihat oleh masyarakat, paling lama 3 bulan terhitung sejak tanggal penerimaan. Pengumuman tersebut memuat:37
1) nama dan alamat lengkap pemohon;
2) nama dan alamat lengkap kuasa dalam hal permohonan diajukan melalui kuasa;
3) tanggal dan nomor penerimaan permohonan;
4) nama negara dan tanggal penerimaan permohonan yang pertama kali apabila permohonan diajukan dengan menggunakan hak prioritas;
5) judul desain industri; dan
6) gambar atau foto desain industri.
Dalam hal permohonan ditolak atau dianggap ditarik kembali, tetapi kemudian didaftarkan atas putusan pengadilan, pengumuman dilakukan setelah Direktorat Jenderal menerima salinan putusan tersebut. Pada saat pengajuan permohonan, pemohon dapat meminta secara tertulis agar pengumuman permohonan ditunda. Penundaan pengumuman tidak boleh melebihi waktu 12 (dua belas) bulan terhitung sejak tanggal penerimaan atau terhitung sejak tanggal prioritas. Sejak tanggal dimulainya pengumuman, setiap pihak dapat mengajukan keberatan tertulis yang mencakup hal-hal yang bersifat substantif kepada Direktorat Jenderal dengan membayar biaya.
Pengajuan keberatan harus sudah diterima oleh Direktorat Jenderal paling
37 Ibid., hlm. 478
lama 3 bulan terhitung sejak tanggal dimulainya pengumuman. Keberatan diberitahukan oleh Direktorat Jenderal kepada pemohon. Pemohon dapat menyampaikan sanggahan atas keberatan paling lama 3 bulan terhitung sejak tanggal pengiriman pemberitahuan oleh Direktorat Jenderal. Dalam hal adanya keberatan terhadap permohonan, dilakukan pemeriksaan substantif oleh pemeriksa. Direktorat Jenderal menggunakan keberatan dan sanggahan yang diajukan sebagai bahan pertimbangan dalam pemeriksaan untuk memutuskan diterima atau ditolaknya permohonan. Direktorat Jenderal berkewajiban memberikan keputusan untuk menyetujui atau menolak keberatan dalam waktu paling lama 6 bulan terhitung sejak berakhirnya jangka waktu pengumuman.
Keputusan Direktorat Jenderal diberitahukan secara tertulis kepada pemohon atau kuasanya paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal dikeluarkannya keputusan tersebut. Pemeriksa adalah pejabat pada Direktorat Jenderal yang berkedudukan sebagai pejabat fungsional, yang diangkat dan diberhentikan dengan Keputusan Menteri. Kepada pemeriksa diberikan jenjang dan tunjangan fungsional sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pemohon yang permohonannya ditolak dapat mengajukan gugatan ke Pengadilan Niaga dalam waktu paling lama 3 bulan terhitung sejak tanggal pengiriman pemberitahuan dengan tata cara sebagaimana diatur dalam undang- undang ini.
Terhadap permohonan yang ditolak, pemohon dapat mengajukan secara tertulis keberatan beserta alasannya kepada Direktorat Jenderal. Dalam hal Direktorat Jenderal berpendapat bahwa permohonan tidak sesuai dengan yang
berlaku, pemohon dapat mengajukan gugatanterhadap keputusan penolakan Direktorat Jenderal kepada Pengadilan Niaga dengan tatacara sebagaimana diatur dalam undang-undang ini. Dalam hal tidak terdapat keberatan terhadap permohonan hingga berakhirnya jangka waktu pengajuan keberatan, Direktorat Jenderal menerbitkan dan memberikan Sertifikat Desain Industri paling lama 30 hari terhitung sejak tanggal berakhirnya jangka waktu tersebut. Sertifikat Desain Industri mulai berlaku terhitung sejak tanggal penerimaan. Pihak yang memerlukan salinan Sertifikat Desain Industri dapat memintanya kepada Direktorat Jenderal dengan membayar biaya.38
b. Asas kemanunggalan (kesatuan)
Tentang asas kemanunggalan, ini bermakna bahwa hak atas desain industri tidak boleh dipisah-pisahkan dalam satu kesatuan yang utuh untuk satu komponen desain. Misalnya kalau desain itu berupa sepatu, maka harus sepatu yang utuh, tidak boleh hanya desain telapaknya saja, berbeda jika dimaksudkan desain itu hanya berupa telapak saja, maka hak yang dilindungi hanya telapaknya saja.
Demikian pula bila desain itu berupa botol berikut tutupnya, maka yang dilindungi dapat berupa botol dan tutupnya berupa satu kesatuan. Konsekuensinya jika ada pendesain baru mengubah bentuk tutupnya, maka pendesain pertama tidak dapat mengklaim. Oleh karena itu, jika botol dan tutupnya dapat dipisahkan, maka tutup botol satu kesatuan dan botolnya satu kesatuan, jadi ada dua desain industri.39
38 OK Saidin, Op. cit., hlm. 480.
39 Ibid, hlm. 481.
c. Asas kebaruan
Oleh karena itu, asas kebaruan menjadi prinsip hukum yang juga perlu mendapat perhatian dalam perlindungan hak atas desain industri ini. Hanya desain yang benar-benar baru, yang dapat diberikan hak. Ukuran atau kriteria kebaruan itu adalah apabila desain industri yang akan didaftarkan itu tidak sama dengan desain industri yang telah ada sebelumnya sebagaimana telah disinggung di muka.40
4. Objek dan Subjek Desain Industri
Di dalam Undang-Undang Desain Industri telah jelas diatur bahwa tidak semua desain industri dapat menjadi objek desain desain industri. Desain industri yang mendapat Hak Desain Industri adalah desain industri yang baru dan telah terdaftar serta desain industri yang tidak melanggar peraturan perundang- undangan yang berlaku, ketertiban umum, kesusilaan atau agama. Adapun penjelasan dari kedua objek desain industri tersebut adalah sebagai berikut :
a. Desain industri yang baru:
Hak Desain Industri diberikan untuk desain industri yang baru. Hal ini berarti bahwa hanya desain industri yang mempunyai unsur kebaruan saja yang dapat diberikan perlindungan hukum dan dengan sendirinya dapat didaftar, dimana Desain Industri dianggap baru apabila pada tanggal penerimaan permohonan pendaftaran oleh Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, desain industri tersebut tidak sama dengan pengungkapan yang telah ada
40 Ibid, hlm. 481.
sebelumnya, sedangkan yang dimaksud dengan pengungkapan sebelumnya adalah pengungkapan desain industri sebelum tanggal penerimaan permohonan atau tanggal prioritas dalam hal permohonan diajukan dengan hak prioritas, atau telah diumumkan atau digunakan di Indonesia ataupun di luar Indonesia.41
Suatu desain industri tidak dianggap telah diumumkan apabila dalam jangka waktu paling lama 6 bulan sebelum tanggal penerimaannya desain tersebut telah dipertunjukkan dalam suatu pameran nasional atau internasional di Indonesia ataupun di luar negeri., baik itu resmi atau diakui sebagai resmi dan juga telah digunakan di Indonesia oleh pendesain dalam rangka percobaan dengan tujuan pendidikan, penelitian, pengembangan.42
“Pameran resmi” yang dimaksudkan disini adalah pameran yang diselenggarakan oleh pemerintah, sedangkan “pameran yang diakui resmi” adalah pameran yang diselenggarakan oleh masyarakat, tetapi diakui pemerintah.43
b. Tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertibaban umum, agama atau kesusilaan :
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, tidak semua desain industri yang baru dapat diberikan Hak Desain Industri. Pasal 4 Undang-Undang Desain Industri mengatur desain industri yang tidak mendapatkan perlindungan, yakni Hak Desain Industri tidak dapat diberikan apabila desain industri yang bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, ketertiban
41 Pasal 2 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri.
42 Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
43 Iswi Hariyani, Prosedur Mengurus HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) Yang Benar, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2010) hlm. 189.
umum, agama atau kesusilaan.44
Subjek Desain Industri diterangkan sebagai berikut :
Sebagai suatu hak atas karya intelektual, maka hak atas desain industri suatu saat harus menjadi milik publik dan menjalankan fungsi sosialnya. Oleh karena tenggang waktu perlindungannya dibatasi. Dalam UU Desain Industri Indonesia perlindungan terhada hak atas desain industri hanya diberikan selama kurun waktu 10 tahun terhitung sejak tanggal penerimaan pendaftaran yang dimuat dalam Daftar Umum Desain Industri yang diumumkan dalam Berita Resmi Desain Industri Departemen Kehakiman RI.
Mereka-mereka yang daat diberi hak untuk memperoleh hak atas desain industri adalah:45
1) Pendesain atau yang menerima hak tersebut dari pendesain.
2) Dalam hal pendesain terdiri atas beberapa orang secara bersama, hak desain industri diberikan kepada mereka secara bersama, kecuali jika diperjanjikan lain.
Selajutnya dalam Pasal 7 Undang-Undang No 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri disebutkan pula:
a. Jika suatu desain industri dibuat dalam hubungan dinas dengan pihak lain dalam lingkungan pekerjaannya, pemegang hak desain industri adalah pihak yang untuk dan/atau dalam dinasnya desain industri itu dikerjakan, kecuali ada perjanjian lain antara kedua pihak dengan tidak mengurangi hak pendesain apabila penggunaan desain industri itu diperluas sampai ke luar hubungan dinas.
b. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam butir 1 berlaku pula bagi desain industri yang dibuat orang lain berdasarkan pesanan yang berlaku dalam hubungan dinas.
44 Pasal 4 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri
45 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Pasal 6 ayat (1) dan (2).
c. Jika suatu desain industri dibuat dalam hubungan kerja atau berdasarkan pesanan, orang yang membuat desain industri itu dianggap sebagai pendesain dan pemegang hak desain industri, kecuali jika diperjanjikan lain antara kedua pihak.46
Ketentuan sebagaimana dimaksud tidak menghapus hak pendesain untuk tetap dicantumkan namanya dalam Sertifikat Desain Industri, Daftar Umum Desain Industri, dan Berita Resmi Desain Industri.47
Dalam hal seorang pendesain membuat desain karena terikat dalam hubungan hukum dengan pihak lain, seperti ikatan dinas, maka ada beberapa ketentuan tertentu mengenai siapakah yang menjadi subyek hukum untuk memiliki hak atas desain tersebut, yaitu:48
1) Dalam hal pembuatan desain industri tersebut berdasarkan pesanan yang dilakukan dalam hubungan dinas, maka pemegang hak desain industri tersebut adalah pihak yang untuk dan atau dalam dinasnya desain industri itu dipesan.49 Meskipun secara prinsip yang berhak memiliki hak desain itu adalah pihak yang memberikan pekerjaan, namun pendesain berhak memperoleh imbalan yang layak dengan memperhatikan manfaat ekonomi yang dapat diperoleh dari hasil desain tersebut.
2) Jika suatu desain dibuat berdasarkan pesanan atau dalam hubungan kerja, maka pihak yang membuat desain itu sebagai pendesainnya dan sebaliknya pemilik desain tersebut adalah pemesannya, kecuali apabila diperjanjikan lain antara kedua pihak tersebut.
5. Proses Permohonan Pendaftaran Desain Industri
Setelah dikeluarkannya Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri telah terjadi proses pendaftaran desain industri yang dilakukan melalui Kantor Pendaftaran Desain Industri di Ditjen HKI. Konsekuensi yuridis
46 Undang-undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Pasal 7 ayat (1) dan (2).
47 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, Pasal 8
48 Gunawan Suryomucirto. “Aspek Hukum Desain Industri”, Makalah disampaikan pada Rangkaian Lokakarya Terbatas Masalah-Masalah Kepailitan dan Wawasan Hukum Bisnis Lainnya, Jakarta, 10-11 Februari 2004, hlm. 163