• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II: TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II: TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II: TINJAUAN DAN LANDASAN TEORI

2.1. Tinjauan Umum

2.1.1. Pengertian Asrama Mahasiswa

Asrama berarti bangunan tempat tinggal bagi orang-orang yang bersifat homogen.

(Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka , Jakarta 1989)

Asrama adalah suatu tempat penginaan yang ditujukan untuk anggota suatu kelompok, umumnya murid-murid sekolah.Asrama biasanya merupakan sebuah bangunan dengan kamar-kamar yang dapat ditempati oleh beberapa penghuni di setiap kamarnya. Para penghuninya menginap di asrama untuk jangka waktu yang lebih lama daripada di hotel atau losmen. Alasan untuk memilih menghuni sebuah asrama bisa berupa tempat tinggal asal sang penghuni yang terlalu jauh, maupun untuk biayanya yang terbilang lebih murah dibandingkan bentuk penginapan lain, miasalnya apartemen. Selain untuk menampung murid-murid, asrama juga sering ditempati peserta suatu pesta olahraga.

Asrama adalah bangunan penginapan penuntut-penuntut atau pelajar bagi tujuan menuntut ilmu. Asrama sekolah dibutuhkan untuk memberi kemudahan kepada pelajar yang menghuninya mencapai kemajuan di bidang pelajaran, memupuk semangat tanggungjawab, berdikari dan bekerjasama yang diingini dalam penghidupan masyarakat dan menggalakkan pertumbuhan rohani dan jasmani yang sihat. Penghuni-penghuni adalah golongan yang bernasib baik kerana mendapat

(2)

kemudahan-kemudahan yang disediakan dan dengan itu mereka hendaklah menggunakan peluang yang diberi dengan sepenuhnya.

2.1.2. Fungsi Asrama Mahasiswa

Pada umumnya tujuan dari asrama adalah menampung dan menjadi tempat tinggal sementara bagi para mahasiswa selama masa studinya. Asrama biasanya dilengkapi dengan fasilitas penunjang yang dapat membantu dan menunjang pembelajaran mahasiswa. Fungsi dan tujuan dari asrama ini pun tergantung dari keinginan pemilik asrama itu, untuk tujuan komersial atau untuk kepentingan sosial.

Fungsi dari asrama adalah tempat tinggal sementara, sebagai sarana penunjang dalam proses balajar serta sebagai sarana interaksi sosial.

Tujuan dari asrama mahasiswa itu sendiri adalah untuk membantu mahasiswa yang berasal dari luar kota Jakarta dalam memperoleh tempat tinggal. Dalam asrama itu sendiri dapat tercipta kehidupan akademis yang baik, dapat meningkatkan mutu pendidikan dengan adanya kontinuitas belajar mahasiswa di luar kampus.

2.1.3. Pengelompokan Asrama Mahasiswa

A. Berdasarkan fungsi dan tujuan

Berdasarkan fungsi dan tujuannya, secara umum asrama mahasiswa atau tempat pemondokan dapat dibagi menjadi:

1. Asrama fungsional

Secara umum yang disebut asrama fungsional adalah :

 Mutu tempat pemondokan yang sudah direncanakan untuk menampung sebagai tempat tinggal orang-orang tertentu

 Mempunyai kapasitas tampung yang cukup besar

(3)

2. Asrama non asrama atau pemondokan

Secara umum yang disebut dengan pemondokan asrama yang non asrama adalah,

 Suatu tempat pemondokan yang tidak direncanakan khusus untuk tempat tinggal atau pemondokan mahasiswa

 Kapasitas tampungnya relatif tidak besar

 Tidak mempunyai organisasi pengelolaan yang jelas

Pada umumnya, yang dikenal masyarakat asrama non asrama ini dapat dibedakan dalam tiga sifat yang didasarkan kepada jangka waktu pemakaian/pembayaran dan jenis fasilitas yang disediakan atau diberikan sebagai berikut,

1. Indekost

• Mahasiswa mendapat pelayanan ( cuci, dap ur dan fasilitas lainny a ) • Membayar uang sewa setiap bulan

• Uang sewa dapat dinaikkan setiap saat oleh pemiliknya 2. Sewa Kamar

• Mahasiswa hanya mendapatkan tempat untuk tidur saja • Membayar uang sewa setiap bulan

(4)

3. Kontrak

• Mahasiswa menyewa kamar atau rumah dalam jangka waktu tertentu (biasanya minimal satu tahun)

• Terkadang harga sewa dapat dicicil dalam 2-3 kali bayar

• Harga sewa dapat dinaikkan sewaktu-waktu oleh pemiliknya berdasarkan musyawarah bersama dan tertulis dalam akte kontrak.

B. Berdasarkan kepemilikan

Berdasarkan kepemilikannya, asrama dapat dibedakan menjadi : 1. Asrama mahasiswa yang berada di bawah perguruan tinggi

 Penghuni : Khusus mahasiswa dari perguruan tinggi yang bersangkutan.  Sifat : Sosial.

 Pemilik : Perguruan tinggi yang bersangkutan. 2. Asrama mahasiswa yang bersubsidi

Subsidi sebagian

 Penghuni : Khusus mahasiswa dari daerah tertentu.  Sifat : Sosial.

 Pemilik : Suatu badan usaha yang bersangkutan dengan subsidi sebagian dari pemerintah daerah.

Subsidi seluruhnya

 Penghuni : Prioritas anggota dari yayasan.  Sifat : Sosial.

(5)

3. Asrama mahasiswa komersial

 Penghuni : Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi.  Sifat : Komersial.

 Pemilik : Suatu badan usaha atau swasta yang mempunyai modal.

C. Berdasarkan pengelola asrama

Berdasarkan pengelola asrama, asrama dapat dibedakan menjadi : 1. Asrama yang dikelola oleh instansi atau kesatuan tertentu.

 Karena harga sewa yang relatif murah, menyebabkan penghuni yang ingin tetap tinggal di asrama yang cukup bagus.

 Maintanance bangunan kurang karena dana yang tersedia terbatas dan biasanya kurang.

 Fasilitas yang disediakan relatif sederhana.

2. Asrama yang dikelola oleh suatu badan usaha atau yayasan adalah sebagai berikut :

 Sistem pengelolaannya cukup memadai  Maintenance bangunan cukup diperhatikan  Fasilitas yang disediakan relatif cukup

3. Asrama yang dikelola oleh badan swasta dan bersifat komersial, adalah sebagai berikut :

 Karena harga sewanya selalu disesuaikan dengan perkembangan harga-harga di luar, sehingga sering berubah dan dinaikkan menyebabkan penghuni sering cepat pindah dan berganti- ganti.

 Sistem pengelolaannya cukup ketat.  Maintanance bangunan cukup terpelihara.

 Fasilitas yang disediakan disesuaikan dengan kondisi dan tingkat sewanya.

(6)

Kesimpulan:

Asrama mahasiswa adalah bangunan yang digunakan sebagai tempat tinggal, selama masa perkuliahan berlangsung. Dimana terdapat batasan untuk tinggal misalnya hanya pada tahun pertama atau dua tahun pertama. Biasanya bangunan asrama ini terdiri dari banyak unit kamar yang tidak dihuni sendiri, namun dalam 1 kamar dihuni oleh beberapa orang.

2.2. Tinjauan Khusus Topik – Ekspresi Bentuk

1. Pengertian ekspresi adalah :

• Pengungkapan atau proses menyatakan yaitu memperlihatkan atau

menyatakan maksud gagasan perasaan, dan sebagainya.

(sumber : kamus besar bahasa Indonesia penerbit balai pustaka)

• Pernyataan mental dari bentuk arsitektur yang unsurnya menggunakan referensi dasar dari pengalaman pengamat atas bentuk-bentuk arsitektur yang pernah dialaminya.

(sumber : poejo boedoyo, arsitektur, manusia dan pengamatanya, djambatan, Jakarta, 1986, hal 43)

2. Pengertian bentuk adalah :

• Bentuk adalah sebuah istilah yang memiliki beberapa pengertian, misalnya dalam berupa gambaran, wujud, dan sistem. Secara fisik bentuk arsitektur mempunyai unsur-unsur garis, bidang, volume, tekstur dan warna.

(sumber : kamus besar bahasa Indonesia Badudu Zain penerbit sinar harapan, Jakarta, 1994)

3. Pengertian ekspresi bentuk :

• Ekspresi bentuk merupakan suatu ungkapan yang mencerminkan pada perubahan dari aspek kebutuhan yang berfungsi sebagai tempat untuk berlindung dan melakukan kegiatan. Dimana perpaduan unsur-unsur tersebut akan menghasilkan ekspresi.

(7)

2.2.1 Tinjauan Teoritis Penerapan Teori – Teori Arsitektur

Teori Pendukung Terhadap Tema

Bentuk arsitektural adalah titik temu antara massa dan ruang, bentuk-bentuk arsitektural, tekstur, material, pemisahan antara cahaya dan bayangan, warna, dan merupakan perpaduan dalam menentukan mutu atau jiwa dalam penggambaran ruang. Mutu arsitektur akan ditentukan oleh keahlian seorang perancang dalam menggunakan dan menyatukan unsur-unsur tadi, baik dalam pembentukan ruang dalam (interior) maupun ruang-ruang luar (eksterior) disekeliling bangunan-bangunan. (Edmund N. Bacon, Perancangan Kota, 1974).

Bentuk Dalam Arsitektur

Bentuk merupakan sebuah istilah inklusif yang memiliki beberapa pengertian, bentuk yang dapat dihubungkan pada penampilan luar yang dapat dikenali seperti sebuah kursi atau tubuh seseorang yang mendudukinya. Hal ini juga menjelaskan kondisi tertentu di mana sesuatu dapat mewujudkan keberadaanya, misalnya bila kita bicara mengenai air dalam bentuk es atau uap. Dalam seni dan perancangan, sering kali dipergunakan istilah tadi untuk menggambarkan struktur formal sebuah pekerjaan/cara dalam menyusun dan mengkoordinasi unsur-unsur dan bagian-bagian dari suatu komposisi untuk menghasilkan suatu gambaran nyata.

Dalam konteks studi ini, bentuk dapat dihubungkan baik dengan struktur internal maupun garis eksternal serta prinsip yang memberikan kesatuan secara menyeluruh. Jika bentuk lebih sering dimaksudkan sebagai pengertian massa atau isi tiga dimensi, maka wujud secara khusus lebih mengarah pada aspek penting bentuk yang mewujudkan penampilanya (konfigurasi) atau perletakan garis atau kontur yang membatasi suatu gambar atau bentuk.

Bentuk memiliki ciri – ciri visual seperti :

Wujud :

Sisi luar karakteristik atau konfigurasi permukaan suatu bentuk tertentu. Wujud juga merupakan aspek utama di mana bentuk-bentuk dapat di identifikasikan dan dikatagorikan.

(8)

Contoh :

Dimensi :

Dimensi fisik suatu bentuk berupa panjang, lebar dan tebal. Dimensi-dimensi ini menentukan proporsi dan bentuk, sedangkan skalanya ditentukan oleh ukuran relatifnya terhadap bentuk-bentuk lain dalam konteksnya.

Contoh :

Warna :

Merupakan sebuah fenomena pencahayaan dan persepsi visual yang menjelaskan persepsi individu dalam corak, intensitas dan nada. Warna adalah atribut yang paling menyolok membedakan suatu bentuk dari lingkungannya. Warna juga mempengaruhi bobot visual suatu bentuk.

(9)

Contoh :

Tekstur :

Kualitas yang dapat diraba dan dapat dilihat yang diberikan kepermukaan oleh ukuran, bentuk, pengaturan dan proporsi bagian benda. Tekstur juga menentukan sampai dimana permukaan suatu bentuk memantulkan atau menyerap cahaya datang.

(10)

Bentuk juga memiliki sifat-sifat tertentu yang menentukan pola dan komposisi unsur-unsurnya.

1. Posisi :

Letak dari sebuah bentuk adalah relatif terhadap lingkunganya atau lingkungan visual di mana bentuk itu terlihat.

2. Orientasi :

Arah dari sebuah bentuk relatif terhadap bidang dasar, arah mata angin, bentuk-bentuk benda lain, atau terhadap seseorang yang melihatnya.

3. Inersia Visual :

Merupakan tingkat konsentrasi dan stabilitas suatu bentuk. Inersia visual suatu bentuk tergantung pada geometri dan orientasinya terhadap bidang dasar, gaya tarik bumi, dan garis pandangan manusia.

(11)

Semua sifat-sifat bentuk ini pada kenyataannya dipengaruhi oleh keadaan bagaimana kita memandangnya :

1. Perspektif atau sudut pandang yang berbeda memperlihatkan wujud ataupun aspek-aspek bentuk dalam pandangan mata manusia.

2. Jarak kita terhadap bentuk tersebut menentukan ukuran yang tampak.

3. Keadaan pencahayaan di mana kita melihat suatu bentuk akan mempengaruhi kejelasan dari wujud dan struktural.

4. Lingkungan visual yang mengelilingi benda tersebut mempengaruhi kemampuan kita dalam menterjemahkan dan mengindentifikasi bentuk tersebut.

Bentuk-bentuk beraturan dan tidak beraturan

Bentuk beraturan adalah bentuk-bentuk yang berhubungan satu sama lain dan tersusun secara rapih dan konsisten. Pada umumnya bentuk-bentuk tersebut bersifat stabil dan simetris terhadap satu sumbu atau lebih. Bola, silinder, kerucut, kubus, dan piramida merupakan contoh utama bentuk- bentuk beraturan.

Bentuk-bentuk dapat mempertahankan keteraturanya meskipun dimensi- dimensinya diubah, ataupun unsur-unsur ditambahkan atau dikurangi. Berdasarkan pengalaman dalam membangun bentuk-bentuk serupa, kita dapat membangun suatu bentuk teratur yang baru berdasarkan bentuk dasar meskipun dengan menghilangkan atau menambahkan beberapa bagiannya. Bentuk tak beraturan adalah bentuk yang bagian-bagiannya tidak serupa dan hubungan antar bagiannya tidak konsisten. Pada umumnya bentuk ini tidak simetris dan lebih dinamis dibandingkan bentuk beraturan. Bentuk tak beraturan biasa berasal dari bentuk beraturan yang dikurangi oleh suatu bentuk tak beraturan ataupun hasil dari komposisi tak beraturan dan bentuk- bentuk beraturan.

Selama kita berkecimpung baik dengan massa padat maupun ruang kosong didalam arsitekur, bentuk-bentuk beraturan biasa berada dalam bentuk- bentuk

(12)

tak beraturan. Demikian juga bentuk-bentuk tak beraturan biasa berada dalam bentuk-bentuk beraturan.

Perubahan Bentuk

Semua bentuk dapat dipahami sebagai hasil dari perubahan benda pejal utama, melalui variasi-variasi yang timbul akibat manipulasi dimensinya, atau akibat penambahan maupun pengurangan elemen-elemennya.

• Perubahan Dimensi,

Suatu bentuk dapat diubah dengan mengganti salah satu atau beberapa dimensi-dimensinya dan tetap mempertahankan identitasnya sebagai anggota bagian dari satu bentuk. Sebuah kubus misalnya, dapat mengubah ukuran tinggi, lebar atau panjangnya. Bentuk tersebut dapat dipadatkan menjadi bentuk bidang pipih atau direntangkan menjadi bentuk linier.

• Perubahan dengan Pengurangan,

Suatu bentuk dapat diubah dengan mengurangi sebagian dari volumenya. Tergantung dari banyaknya pengurangan, suatu bentuk mampu mempertahankan identitas asalnya atau diubah menjadi suatu bentuk yang lain sama sekali. Sebagai contoh, sebuah kubus dapat mempertahankan identitasnya sebagai kubus walaupun sebagian dari kubus tersebut dihilangkan atau diubah menjadi serangkaian bentuk polihedran teratur yang menggambarkan suatu bola.

• Perubahan dengan Penambahan.

Suatu bentuk dapat diubah dengan menambah unsur-unsur tertentu kepada volume bendanya. Sifat proses penambahan serta jumlah dan ukuran relatif unsur yang ditambahkan akan menentukan apakan identitas bentuk asal dapat dipertahankan atau berubah.

(13)

(D.K. Ching, Francis, Arsitektur bentu, ruang dan tatanan) Psikologi warna remaja : • Merah : Power, energi, kehangatan, cinta, nafsu, agresi dan bahaya.

Biru : Kepercayaan, konservatif, keamanan, teknologi, kebersihan dan

keteraturan.

Hijau : Alami, sehat, keberuntungan dan pembaharuan.

Kuning : Optimis, harapan, filosofi, ketidakjujuran, pengecut dan

pengkhianatan.

Ungu/Jingga : Spiritual, misteri, kebangsawanan, transformasi,

kekasaran dan keangkuhan. • Oranye : Energy, keseimbangan dan kehangantan.

Coklat : Tanah/Bumi, reliability, comfort, daya tahan.

Abu Abu : Intelek, masa depan, kesederhanaan dan kesedihan.

• Putih : Kesucian, kebersihan, ketepatan, ketidakbersalahan, setril dan

kematian.

Hitam : Power, seksualitas, kecanggihan, kematian, misteri, ketakutan,

kesedihan dan keanggunan. Hitam melambangkan keanggunan

(Elegance), kemakmuran (Wealth) dan kecanggihan

(Sopiscated).

Berdasarkan pengaruh psikologis warna terhadap karakteristik remaja, maka warna – warna yang cocok untuk remaja adalah warna – warna terang dan soft (lembut) seperti kuning, merah, hijau muda, pink, orange, biru muda, dan lain – lain.

(14)

2.3. Pengertian Sustainability – Energy efficiency

Sustainable Design adalah suatu reaksi atas terjadinya pemanasan global

dan krisis lingkungan, pertambahan penduduk dan aktivitas ekonomi, menipisnya sumber daya alam, rusaknya ekosistem dan biodiversity. Para pendukung dari desain berkelanjutan ini percaya bahwa krisis terbesar terjadi karena design yang konvensional dan pekerjaan perindustrian yang tidak menghargai resiko dan dampak lingkungan. Green design dianggap sebagai cara untuk menurunkan atau menghilangkan dampak–dampak tersebut dan melindungi kualitas hidup dengan menggunakan bahan yang baik dan desain yang pintar untuk mengganti produk yang merusak lingkungan.

Sustainable design juga merujuk kepada “green design, “eco-design”, atau desain untuk lingkungan. Sustainable desain juga diartikan sebagai sebuah seni bagaimana mendesain objek–objek yang berhubungan dengan prinsip ekonomi, sosial, dan ekologi berkelanjutan. Semua objek yang didesain dimulai dari objek makro sampai dengan bangunan, kota, dan bahkan permukaan dunia.

Sustainable arsitektur adalah desain atas bangunan yang berkelanjutan. Arsitektur berkelanjutan mencoba untuk mengurangi dampak–dampak lingkungan selama menghasilkan komponen bangunan, proses konstruksi berlangsung, dan juga pada saat melakukan daur ulang sistem bangunan (pemanasan, penggunaan listik, pembersih carpet,dll). Penerapan desain ini menekankan pada effisiensi sistem pemanasan dan pendinginan, alternatif sumber energi seperti passive solar, menggunakan material daur ulang, dan menggunakan tenaga yang ada dalam tapak (technology solar ray, kekuatan angin), penyiraman tanaman dengan air hujan untuk taman dan cuci, dan juga penggunaan atap hijau yang dapat menyaring dan mengkontrol air hujan.

Sustainable landscape arsitektur adalah desain yang perduli dengan rencana desain ruang luar. Teknik desain menanam pohon untuk melindungi bangunan dari matahari atau melindungi dari angin, menggunakan material lokal sehingga mengurangi penggunaan energi dalam transportasi.

(15)

Energi adalah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Energi dapat ditemukan dalam beragam bentuk, seperti energi kimia, energi listrik, energi cahaya, energi panas, energi mekanik, dan energi nuklir.

(Arsitektur sadar Energi , Prasato Satwiko . 2005)

Energy is primerily from generated sources and is used throughout the year in relatively constant quantities.

(Tropical Sustainable Architecture Social and environment dimension, Joo Hwa Bay & Bon Lay Ong . 2006)

2.2.2 Prinsip-Prinsip Sustainable Design

Terdapat banyak prinsip – prinsip di dalam sustainable design. Para arsitek terkenal membuat dan memutuskan apa saja yang termasuk dalam prinsip sustainable architecture.

Prinsip – prinsip Sustainable Design : • Low-impacts material;

Dalam pemilihan material sangatlah berdampak. Memilih material non-toxic, produk yang didaur ulang yang membutuhkan sedikit energi untuk memprosesnya.

• Energy efficiency

Menggunakan proses pembuatan secara bersamaan dalam jumlah banyak sehingga menghasilkan produk yang membutuhkan sedikit energi. • Quality and Durability ;

Menggunakan produk yang tahan lama dan mempunyai umur yang panjang sehingga produk dapat digunakan secara maksimal dan mengurangi dampak penggantian produk secara berkala.

• Design for re-use and recyclin g

Produk, proses, dan sistem seharusnya didesign untuk digunakan berulang kali (tidak sekali pakai).

(16)

• Renewability

Material seharusnya berasal dari daerah sekitar sehingga dapat menghemat penggunaan energi dalam distribusi.

• Small is beauty

Memaksimalkan fungsi ruang, sehingga lebih efektif dan tidak membuat ruang menjadi terlalu luas sehingga lebih efisien dalam penggunaan energi. ( www.wikipedia.org )

2.2.3 Peran Energi Dalam Arsitektur

Menurut Prasato Satwiko dalam buku y ang berjudu l Arsitektur Sadar Energi tahun 2005 disebutkan bahwa :

Efisiensi energi bukanlah kriteria baru dalam desain arsitektur. Iklim adalah salah satu faktor yang memaksa manusia berpikir tentang energi.Arsitektur lokal, seringkali dipuji oleh arsitek masa kini karena ramah lingkungan dan hemat energi.Bangunan tradisional memakai bahan-bahan daur ulang, atau bahan-bahan yang dapat dengan mudah ditemukan di alam seperti kayu, bambu dan bebatuan. Mereka juga menerapkan ventilasi dan penerangan alami yang tidak memakai energi tambahan. Ini berbeda dengan kecenderungan gaya arsitektur saat ini, dimana karena informasi yang hebat, gaya untuk iklim dingin, misalnya di iklim panas. Sudah tentu diperlukan sarana untuk memberikan kompensasi atas kesalahan tersebut, seperti keharusan memakai AC. Peran energi dalam arsitektur sangat luas. Pada proyek komersial,kebutuhan energi perlu dihitung rinci, atau paling tidak dipikirkan antara lain untuk :

• Survey

• Proses perancangan

• Transp ortasi material ban gunan • Konstruksi (p embangunan) • Operasional :

o Penerangan (ruang dalam dalam dan ruang luar) o Ventilasi (sistem penyejuk udara , fan)

(17)

o Penyediaan air (minum, sanitasi, mandi, penyiraman)

o Transportasi (lift untuk transportasi lokal,kendaraan untuk mencapai lokasi bangunan)

o Penyimpanan ( ruang pendingin ) • Perawatan berkala

o Pembersihan

o Penggantian elemen ban gun an o Pengecatan

• Renovasi besar ( penyesuaian bangunan untuk fungsi baru )

• Penghan curan (bangunan tidak layak dipertahankan, lahan akan dipakai untuk fungsi baru)

• Pengangkutan runtuhan bangunan ke lahan lain

Prasato Satwiko pun mengatakan :

Dengan memfokuskan permasalahan, strategi penataan energi bangunan dapat dikembangkan dengan lebih terarah. Strategi yang paling baik adalah dengan memaksimalkan potensi positif dan meminimalkan dampak potensi negatif yang ada di lahan. Hal itu dapat berarti mengolah total setiap elemen desain, baik yang langsung pada bangunan maupun yang ada di lingkungannya. Harus selalu diingat bahwa lingkungan harus dirancang sedemikian rupa agar dapat mendukung terciptanya kualitas hidup yang baik (nyaman dan produktif). Itu dapat melibatkan pemakaian energi yang sangat banyak, sehingga perlu ditata. Dalam konteks iklim tropis seperti di Indonesia (panas lembab), maka konsep rancangan bangunan dan lingkunagan perlu diarahkan untuk :

(18)

• Meminimalkan energi yang diperlukan untuk memperoleh kenyamanan termal

• Meminimalkan energi yang diperlukan untuk memperoleh penerangan yang sehat dan indah

• Meminimalkan energi yang diperlukan untuk pengadaan air • M eminimalkan energi yang diperlukan untuk transp ortasi vertikal

• Meminimalkan energi yang diperlukan untuk merawat dan men gganti peralatan

• Meminimalkan energi yang diperlukan untuk merawat elemen bangunan

2.2.4 Contoh-Contoh Bangunan Hemat Energi

Stoomvart Matschappij Nederland

Gedung yang terletak di pertigaan Jalan Mpu Tantular

(Altingstraat) dan Jalan Kutilang (Hoofdwachstraat) ini merupakan salah satu karya dari Herman Thomas Karsten (1884-1945). Pembangunan selesai pada sekitar tahun 1930-an, dengan arsitektur bangunan perpaduan antara Eropa dan lokal.

Pada awalnya, gedung ini difungsikan sebagai kantor bagi perusahaan pelayaran di zaman kolonial yang bernama Stoomvart Matschappij Nederland, kini masih dipergun akan sebagai kantor oleh PT Djakarta Lloy.

Gbr. 1 : eksterior Stoomvart Matschappij Nederland Gbr. 2 : interior Stoomvart Matschappij Nederland

(19)

Salah satu ciri khas yang menonjol dari gedung ini adalah atap nya yang berbentuk limasan dengan sudut kemiringan yang cukup tajam. Hal ini menurut Albertus Sidharta, salah seorang pengajar di FT Unika Soegijap ranata Semarang merupakan sebuah karya yang menakjubkan."Genteng biasa yang dipergunakan, meski dengan kemiringan seperti itu, tidak sekalipun melorot turun, "katanya beberapa waktu lalu saat ditemui di tengah-tengah seminar di Lawang Sewu. Hal itu, menurutnya, hanya bisa dilakukan dengan kecermatan dan ketelitian yang sangat tinggi. Sebuah hasil karya arsitektur yang mengagumkan di masa lalu. Bangunan dua lantai ini berbentuk segi empat dan memiliki pintu masuk tepat berada di tengah-tengah bangunan. Walaupun Karsten menerapkan ciri arsitektur tropis, namun dalam pemilihan bahan bakunya dia secara khusus mendatangkan dari Belanda.

A Ardiyanto, staf pengajar jurusan Arsitektur Unika Soegijap ranata dalam makalahnya saat menjadi pembicara pada sebuah seminar mengenang karya-karya Herman Thomas Karsten menuliskan, desain bangunan SMN menunjukkan bahwa telah ada upaya penghematan energi listrik. Hal itu terlihat dari atap kaca dengan desain khusus untuk pencahayaan alami dari sinar matahari, sekaligus sebagai sirkulasi udara. Konsep bangunan yang "hemat energi" tersebut juga dipaparkan oleh Yulianto Sumalyo dalam bukunya Arsitektur Kolonial Belanda di Indonesia yang diterbitkan oleh Gajah Mada University Press tahun 1995. Dalam buku yang berjudul asli L’Architecture Colonial Hollanda is en Indonesie, yang mengetengahkan karya-karya arsitek besar Belanda di Indonesia tersebut, dia menuliskan dalam ruang kantor SMN, plafon dibuat tinggi dengan jendela dan ventilasi yang lebar. Hal itu dimaksudkan untuk penghawaan dan pencahayaan yang alami.

Grha Wonokoyo, Surabaya

Gbr. 3 : eksterior Grha

(20)

(Seri Rumah Ide : Sustainable Construction . 2007)

Lokasi : Jl. Taman Bun gkul 1-3-5-7 Surabaya

Arsitek : Ir. Jimmy Priatman, M .Arch

Tahun : 2002-2004

Gedung perkantoran yang terletak tepat di persimpangan jalan raya Darmo dan Taman Bungkul ini ternyata memang didesain dengan prinsip hemat energi. Pihak PT Tirto Dewi Sejahtera sebagai pemilik berharap desain hemat energi bisa menciptakan efisiensi operasional bangunan dalam jangka panjang.

Terdiri atas 3 massa, yaitu lobby gedung 2 lantai, conference building 4 lantai, dan 10 lantai gedung perkantoran-lantai teratas difungsikan sebagai aula. Gedung ini juga mempunyai lantai bawah tanah. Efisiensi penggunaan AC di gedung ini terbilang mengagumkan, sebab dari total luas 7.836,67 m2, 2.515,59 m2 nya tidak menggunakan AC, belum termasuk basement.

Dari sisi sosial, bangunan perkantoran ini mempunyai nilai keberlanjutan yang bisa dibilang mencakup semua kriteria yang ada. Kenyamanan pengguna, misalnya benar-benar diperhatikan dengan menciptakan bukaan-bukaan yang tinggi (3,75 m) sehingga hanya 1 m area kantor yang tidak terkena cahaya matahari. Masuknya cahaya matahari ke dalam gedung, membuat penerangan di siang hari tidak diperlukan. Selain memberikan perasaan nyaman, pencahayaan alami juga terbukti meningkatkan tingkat produktivitas kerja. Begitu pula dengan udara luar yang dapat diakses pengguna melalui jendela-jendela yang dapat dibuka.

Efisiensi bangunan yang ditunjukkan melalui tingkat hunian yang tinggi, yaitu 85 %, dengan jam operasional 8 jam sehari. Untuk bangunan dengan fungsi perkantoran, tingkat efisiensi hunian ini cukap tinggi. Efisiensi dalam berinteraksi juga benar-benar dipertimbangkan dengan mengalokasikan satu lantai untuk satu divisi. Dengan demikian jumlah interasi dengan alat bantu

(21)

bisa ditekan. Meskipun demikian, untuk memudahkan komunikasi fasilitas telepon dan internet juga disediakan.

Dari sisi adapatabilitas atau tingkat flesibilitas bangunan untuk berganti fungsi atau mewadahi kegiatan yang berbeda , sang arsitek antara lain mendesain ruang outdoor bertrotoar adaptif yang dapat difungsikan sebagai lahan parkir. Sementara itu ruang dalamnya memiliki ruang berplafon lebih dari 3 m. Makin tinggi plafondnya makin fleksibel suatu ruang dalam mengakomodasi perubahan. Setiap lantai kantor juga demikian. Tidak menggunakan partisi permanen. Ruang- ruang tersebut memanfaatkan partisi yang bisa dibongkar sehingga dapat dengan mudah dialihfungsikan untuk kebutuhan yang lain. Kualitas berkelanjutan juga ditunjukkan melalui kemudahan perawatan bangunan. Pembersihan dan pemeliharaan kaca bangunan, misalnya, dap at dilakukan dengan gondola yang semuanya memakai rel.

Penghematan energi merupakan upaya yang menjadi prioritas dalam mewujudkan nilai keberlanjutan pada bangunan Grha Wonokoyo. Usaha yang memberikan dampak signifikan adalah pengaplikasian teknologi penghawaan buatan yang dapat mengurangi konsumsi energi. Upaya ini dibarengi pula dengan sistem mematikan AC secara otomatis di lantai perkantoran pada jam istirahat dan pada jam 16.00. Gedung lantai perkantoran yang sebagian besar menghadap ke selatan memberikan keuntungan, yaitu paparan cahaya matahari tidak langsung masuk ke dalam bangunan. Dengan demikian, panas yang masuk bisa direduksi. Beban kerja AC pun menurun. Efisiensi energi juga dicapai melalui pemanfaatan potensi cahaya matahari sebagai penerang alami pada jam- jam kerja. Lampu dinyalakan hanya saat kondisi cuaca ekstrem, misalnya mendung. Tindakan ini merupakan usaha penghematan yang amat berarti untuk bangunan sebesar Grha Wonokoyo.

Dari sisi penghematan air, sejauh ini usaha yang dilakukan adalah dengan efisiensi sistem plumbing yang dipusatkan dalam satu area core plumbing. Dampak positif yang signifikan dari prinsip hemat energi pada gedung ini adalah running cost bisa ditekan sampai 40% jika dibandingkan bangunan-bangunan konvensional lain yang memiliki skala hampir sama.

(22)

Saat dirancang tahun 2001-2002, Grha Wonokoyo hanya dikondisikan untuk menghemat listrik. Dibandingkan gedung lain yang bisa menghabiskan 200kwH/m2/tahun, pemakaian listrik Grha Wonokoyo bisa ditekan menjadi hanya 88kwH/m2/tahun.

(23)

2.5 Studi Literatur

KYORITSU DORMITORIES

Kyoritsu dormitories ini dikhususkan bagi mahasiswa universitas Ky oritsu pada tahun pertama, dengan sistem 1 semester, maka tinggal di asrama selama 4 bulan dan untuk mahasiswa y ang akan tinggal selama 1 tahun, maka akan menempati asrama selama 10 bulan, Hal ini dikarenakan adanya libur pada musim dingin dan musim panas. Hunian yang dikhususkan bagi mahasiswa p ria saja ini mempunyai luas 8m2 tiap kamarnya. Pada asrama ini terdap at 62 kamar, dimana pada tiap kamar dihuni oleh satu orang. Kyoritsu dormitories ini pun menyewakan kamar dengan sistem pembayaran harian.

Gbr. 5 : Eksterior Kyoritsu Dormitories

(24)

Fasilitas tiap kamar:  Tempat tidur  Meja belajar  Kursi  Lampu belajar  Lemari pakaian  Rak buku  AC  Telepon  Internet Fasilitas lain:

 Makan 2 kali sehari ( pagi dan malam)  Ruang makan bersama

 Kamar mandi dengan shower tiap lantai  Ruang belajar bersama

 Laundry  Cafetaria

(25)

HARDIN HOUSE

Hardin house ini adalah asrama putri yang digunakan sebagai tempat tinggal untuk mahasiswa Texas University. Dibangun pada tahun 1937. Pada asrama ini terdapat 224 kamar yang terbagi men jadi 6 bangunan dalam satu komp leks, yaitu Red house, Green house, Main house, Red Annex, Grant house dan the Apartments. Dalam 1 kamar dihuni oleh 2 atau 3 orang. Pada asrama ini terdapat ibu asrama, petugas kebersihan yang membersihkan kamar 2 kali seminggu serta koki. Pada asrama ini terdapat pula tempat untuk menginap bagi orangtua yang datang atau berkunjung.

Gbr. 9 : Eksterior Hardin

House Gbr. 10 : Eksterior Hardin House

Gbr. 11 : KamarTidur Hardin House

(26)

Fasilitas :  Makan

 Dua buah kolam renang  Taman dan tempat duduk  Parkir  Ruang belajar  Komputer  Ruang bersama  Internet  TV Cable

Berikut adalah gambar denah unit dari tiap bangunan di hardin house :  Main House

Gbr. 12 : Kolam renang Hardin House Gbr. 13 : Ruang makan Hardin House Gbr. 14 : Denah Main

(27)

 Green House  Red House

Gbr. 16 : Denah Green

House tipe A Gbr. 17 : Denah Green House tipe C

Gbr. 18 : Denah Red House tipe A

Gbr. 19 : Denah Red House tipe E

(28)

 Annex

 Apartments

 Grant house

Gbr. 20 : Denah Annex tipe

A Gbr. 21 : denah Annex tipe B

Gbr. 22 : denah Apartment

tipe A Gbr. 23 : denah Apartment tipe B

Gbr. 24 : denah Grant

(29)

Kesimpulan :

Dari beberapa contoh asrama yang digunakan sebagai studi literatur, dapat disimpulkan bahwa asrama tersebut tidak beda jauh dengan tinjauan lapangan. Asrama mahasiswa rata- rata dikelola oleh kampus. Dengan kamar tidur dihuni oleh beberapa mahasiswa. Dimana fasilitas pada tiap kamar dilengkapi dengan tempat tidur, meja belajar dan lemari serta rak buku. Ada pula beberapa asrama yang dilengkapi dengan kamar mandi dalam kamar tidurnya.

Referensi

Dokumen terkait

Online Analytical Processing (OLAP) merupakan suatu metode pendekatan untuk menyajikan jawaban dari permintaan proses analisis yang bersifat dimensional secara cepat, yaitu desain

Penjualan satu atau lebih bisnis yang ada sekarang atau pemisahan bagian perusahaan yang ada sekarang. Hal ini dilakukan karena kegagalan yang terjadi secara

dalam keadaan yang sempurna, maka kemudi akan menjadi stabil, sebab bila terjadi kesalahan pada salah satu unsur front wheel alignment maka kemudi tidak akan stabil

a) Tingkat Penjualan. Perusahaan dengan penjualan yang relative stabil berarti memiliki aliran kas yang relative stabil pula maka dapat menggunakan hutang yang lebih besar

Sistem secara umum dapat di definisikan sebagai suatu totalitas suatu himpunan bagian-bagian yang satu sama lain saling berhubungan sedemikian rupa sehingga menjadi

- Bentuk konstruksi tangga diusahakan sederhana, layak, sehingga dengan mudah dan cepat dikerjakan serta murah biayanya.. - Bentuknya rapih, indah dipandang dan serasi dengan

Logo jenis ini terdiri dari nama perusahaan atau produk dengan gaya tipografis yang berkarakter kuat, tersusun dari bentuk-bentuk grafis seperti oval, kotak, atau

Animasi merupakan salah satu bentuk visual bergerak yang dapat dimanfaatkan untuk menjelaskan materi pembelajaran yang sulit disampaikan secara umum.. Salah satu