Latar Belakang
Saponifikasi adalah reaksi hidrolisis asam lemak oleh adanya basa kuat (misalnya NaOH). Sabun terutama mengandung C12 dan C16 selain itu juga mengandung asam karboksilat. Saponifikasi antara trigliserida dan basa kuat menghasilkan produk berupa sabun dan gliserol. Saponification Value atau SAP merupakan suatu nilai yang menunjukkan berapa banyak basa yang dibutuhkan untuk mereaksikan lemak atau minyak secara sempurna.
Reaksi pembuatan sabun atau saponifikasi menghasilkan sabun sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping. Gliserin sebagai produk samping juga memiliki nilai jual. Sabun merupakan garam yang terbentuk dari asam lemak dan alkali. Sabun dengan berat molekul rendah akan lebih mudah larut dan memiliki struktur sabun yang lebih keras. Sabun memiliki kelarutan yang tinggi dalam air, tetapi sabun tidak larut menjadi partikel yang lebih kecil, melainkan larut dalam bentuk ion.
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines. NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida (minyak atau lemak).
Ethanolamines merupakan golongan senyawa amin alkohol. Senyawa
tersebut dapat digunakan untuk membuat sabun dari asam lemak. Sabun yang dihasilkan sangat mudah larut dalam air, mudah berbusa, dan mampu menurunkan kesadahan air. Sabun yang terbuat dari ethanolamines dan minyak kelapa menunjukkan sifat mudah berbusa tetapi sabun tersebut lebih umum digunakan sebagai sabun industri dan deterjen, bukan sebagai sabun rumah tangga. Pencampuran alkali yang berbeda sering dilakukan oleh industri sabun dengan tujuan untuk mendapatkan sabun dengan keunggulan tertentu.
Bahan pembuatan sabun terdiri dari dua jenis, yaitu bahan baku dan bahan pendukung. Bahan baku dalam pembuatan sabun adalah minyak atau lemak dan senyawa alkali (basa). Bahan pendukung dalam pembuatan sabun digunakan untuk menambah kualitas produk sabun, baik dari nilai guna maupun dari daya tarik. Bahan pendukung yang umum dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya natrium klorida, natrium karbonat, natrium fosfat, parfum, dan pewarna. Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.
Tujuan Percobaan
- untuk membuat sabun dengan mereaksikan antara minyak atau lemak dengan NaOH atau basa kuat.
Saponifikasi merupakan salah satu metode pemurnian secara fisik. Saponifikasi dilakukan dengan menambahkan basa pada minyak yang akan dimurnikan. Sabun yang terbentuk dari proses ini dapat dipisahkan dengan 30 sentrifugasi. Penambahan basa pada proses saponifikasi akan bereaksi dengan asam lemak bebas membentuk sabun yang mengendap dengan membawa serta lendir, kotoran dan sebagian zat warna (Zulkifli dan Estiasih, 2014).
Minyak jagung merupakan trigliserida yang disusun oleh gliserol dan asam-asam lemak. Komposisi trigliserida yang tinggi membuat minyak jagung juga cocok digunakan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel. Masalah yang ditemui dalam pembuatan biodiesel dari bahan baku minyak jagung adalah bagaimana pengaruh temperatur dan tekanan, jumlah katalis, dan rasio reaktan terhadap konversi minyak jagung menjadi metil ester. Serta bagaimana menentukan kinetika reaksinya (Sidabutar, dkk., 2013).
Hidrolisis yang terjadi pada minyak jagung menggunakan air subkritis
menyebabkan pembentukan asam karboksilat dengan efisiensi yang sama jika
menggunakan metode konvensional. Air subkritis merupakan cairan yang
memiliki termperatur diantara titik didih atmosfer dan titik didih kritis (347oC).
Hidrolisis akan terjadi dengan cepat pada suhu 280oC dan akan mengalami
perubahan 100% (Pinto dan Lancas, 2006).
Saponifikasi menggunakan minyak adalah ketentuan yang telah ditetapkan
untuk menghasilkan gliserol dan asam lemak dari reaksi KOH yang mengandung
etanol dengan minyak. Dalam industri oleokimia sangat memerlukan asam lemak
digunakan sebagai bahan baku makanan, kosmetik, industri farmasi, produksi
sabun, deterjen dan produk lainnya (Salimon, dkk., 2012).
Garam yang berasal dari asam-asam karboksilat rantai panjang disebut
sabun dengan cara proses pembuatan sabun. Penambahan NaCl pada campuran
akan menyebabkan sabun mengendap. Setelah sabun dipisahkan, gliserol dapat
diisolasi dengan cara distilasi. Sabun dapat dimurnikan dengan beberapa cara.
Sabun juga dapat ditambah dengan pewangi atau parfum. Garam-garam natrium
dari asam karboksilar rantai panjang (sabun) hampir larut sempurna dalam air
(Sastrohamidjojo, 2009).
Sabun dapat dihasilkan dari minyak nabati dan minyak hewani. Lemak
tersebut haruslah mengandung basa kuat yang biasanya adalah natrium hidroksida
(NaOH). Minyak hewan yang biasa digunakan berasal dari lemak, minyak paus,
dan minyak ikan. Minyak yang berasal dari tumbuhan biasanya berasal dari
minyak kelapa sawit, minyak kelapa, kacang tanah, kacang kedelai dan minyak
zaitun (Commons, dkk., 1991).
Asam-asam tak jenuh mudah mengalami oksidasi udara, ternyata
isomer-isomer cis lebih mudah mengalami oksidasi daripada trans. Reaksi oksidasi
meliputi penarikan oleh radikal peroksida untuk membentuk
hidroperoksida-hidroperoksida yang stabil, dimana zat ini terurai menjadi asam-asam keto dan
hidroksiketo. Sifat fisika dan kimia dari lemak ditentukan oleh sifat-sifat dari
asam-asam lemak yang dominan yang menyusun lemak. Lemak yang
mengandung jumlah besar dari asam yang mempunyai titik didih relatif rendah,
Saponifikasi memiliki arti pembuatan sabun. Saponifikasi dari ester
dengan NaOH menghasilkan garam natrium dari asam karboksilat. Saponifikaasi
dari trigliserida menghasilkan garam dari asam lemak rantai panjang. Molekul
sabun mengandung rantai hidrokarbon yang panjang dan atom ion. Molekul
hidrokarbon adalah molekul yang bersifat hidrofobik dan larut dalam larutan
nonpolar jika atom ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air
(Fessenden dan Fessenden, 1979).
Bahan
- Minyak bimoli dan garam AA - Minyak jelanta dan garam revina - Minyak jagung dan garam dolphin
- Minyak bunga matahari dan garam arwana - Minyak VCO dan garam jangkar
- Minyak kedelai dan garam paus
- NaOH 3 M - MgSO4 1 M - CaCl2 1 M - NaCl
- Etanol Absolute - Aquadest
Alat
- Masker - Sarung tangan - kain flannel - Tissue - Brus tabung - Penjepit tabung - Tabung reaksi - Beaker glass - Gelas ukur - Pipet tetes - Pemanas Bunsen - Spatula
- Sendok
Prosedur Percobaan 1. Saponifikasi
- Dimasukkan 20 ml etanol absolute dan 15 ml NaOh 3 M. - Dipanaskan diatas Bunsen sehingga terbentuk endapan. - Didinginkan.
- Ditambahkan 2 ml larutan NaCl jenuh. - Dipisahkan sabun dan gliserol.
2. Test Uji
- Dimasukkan padatan sabun ke dalam 3 tabung reaksi.
- Ditambahkan 3 ml aquadest ke dalam masing-masing tabung reaksi :
- Tabung 1 : ditambahkan MgSO4 1 M sebanyak 1 ml. - Tabung 2 : ditambahkan CaCl2 1 M sebanyak 1 ml. Tabung 3 :
-- Dikocok dan diamati buih yang terjadi. - Dicatat hasilnya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Saponifikasi
Pas Bahan Pengamatan
1 Minyak bimoli dan garam AA Terdapat endapan 2 Minyak jelanta dan garam revina Terdapat endapan 3 Minyak jagung dan garam dolphin Terdapat endapan 4 Minyak matahari dan garam dolphin Terdapat endapan 5 Minyak VCO dan garam jangkar Terdapat endapan 6 Minyak kedelai dan garam paus Terdapat endapan
Pas Bahan Keterangan
Tabung 1 Tabung 2 Tabung 3
1 Minyak bimoli
dan garam dolphin Berbuih Tidak berbuih -4 Minyak matahari
Sabun merupakan senyawa kimia yang dihasikan dari reaksi lemak atau minyak dengan alkali. Sabun juga merupakan garam-garam monovalen dari asam karboksilat dengan rumus umunya RCOOM, R adalah rantai lurus (alifatis) panjang dengan jumlah atom C bervariasi, yaitu antara C12 – C18 dan M adalah kation dari kelompok alkali atau ion amonium. Sabun adalah garam logam dari asam lemak.
Pada prinsipnya sabun dibuat dengan cara mereaksikan asam lemak dan alkali sehingga terjadi reaksi penyabunan.
- Reaksi pertama :
Lemak + NaOH Hidrolisa mendidih Gliserol + Asam lemak - Reaksi kedua :
Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang danujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non-polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. Karena adanya rantai hidrokarbon, sebuah molekul sabun secara keseluruhan tidaklah benar-benar larut dalam air. Namun sabun mudah tersuspensi dalam air karena membentuk misel (micelles), yakni segerombol (50-150) molekul sabun yang rantai hidrokarbonnya mengelompok dengan ujung-ujung ionnya menghadap ke air.
Kegunaan sabun ialah kemempuannya mengemulsi kotoran berminyak sehingga dapat dibuang dengan pembilasan. Kemampuan ini disebabkan oleh dua sifat sabun. Pertama, rantai hidrokarbon sebuah molekul sabun larut dalam zat-zat non-polar, seperti tetesan-tetesan minyak. Kedua, ujung anion molekul sabun, yang tertarik pada air, ditolak oleh ujung anion molekul-molekul sabun yang menyembul dari tetesan minyak lain. Karena tolak-menolak antara tetes-tetes sabun-minyak, maka minyak itu tidak dapat saling bergabung tetapi tetap tersuspensi.
Sabun termasuk dalam kelas umum senyawa yang disebut surfaktan, yakni senyawa yang dapat menurunkan tegangan permukaan air. Molekul surfaktan apa saja mengandung suatu ujung hidrofobik (satu rantai molekul atau lebih) dan suatu ujung hidrofilik. Porsi hidrokarbon suatu molekul surfaktan harus mengandung 12 atom karbon atau lebih agar efektif.
bersifat hidrofob (menolak air) sedangkan gugus karboksilat – COO bersifat hidrofil.
RCOONa RCOO- + Na+
Larutan sabun selalu trihidrolisa di dalam air sehingga bersifat sedikit alkalis. Dengan penambahan indikator PP(fenolftalein) selalu berwarna merah muda. Sehingga dalam waktu bersamaan akan terdapat molekul-moleku RCOONa, RCOOH dan ion-ion RCOO ,OH dan Na+.
RCOONa RCOOH + Na+ Sabun dan asam lemak dapat membentuk :
X RCOOH + Y RCOONa (RCOOH)X (RCOONa)Y
Suhu titer sabun adalah suhu dimana larutan koloid sabun berubah menjadi kasar dan tidak aktif lagi. Sedangkan titik keruh adalah suhu dimana larutan koloid sabun menjadi keruh karena terbentuknya dispersi kasar dan larutan sabun menjadi kental sehingga dapat dipilin. Titik keruh disebut juga suhu pilin. Suhu titer dan titik keruh tidak jauh berbeda dan merupakan indikasi dimana larutan sabun tidak aktif lagi. Maka untuk penggunaan sebagai detergen, larutan sabun dipanaskan sampai mendekati suhu titer.
Larutan asam akan segera menghidrolisa sabun menjadi asam lemak kembali. Di dalam air dingin berbentuk gumpalan dan di dalam air panas akan meleleh dan membentuk lapisan minyak yang jernih di permukaan larutan asam.
R – COONa + HCl H+ R – COOH + NaCl Sifat-sifat sabun diantaranya yaitu:
a. Sabun larut dalam alkohol dan sedikit larut dalam pelarut lemak.
b. Dalam air terlarut secara kolodial dan bersifat surfaktan yang terdiri dari molekul yang suka air (hidrofil) dan tidak suka air (hidrofob).
c. Dalam air sadah (mengandung Ca dan Mg berlebih) mengendap sebagai sabun kalsium/ natrium.
d. Dalam asam, sabun akan terhidrolisa menjadi asam lemak kembali.
e. Larutan encer sabun terionkan membentuk anion dari alkil karboksilat, yang aktif sebagai pencuci (ZAP).
f. Hidrolisa dalam air bersifat alkali dan terbentuk molekul RCOONa, RCOOH, dan ion-ion RCOO-, OH-, dan Na+.
g. Panjang rantai alkil akan mempengaruhi sifat fisik sabun seperti derajat hidrolisa, suhu titer, dan titik keruh. Untuk sabun jumlah C-nya 14,15, dan 17.
Secara teoritis semua minyak atau lemak dapat digunakan untuk membuat sabun. Meskipun demikian, ada beberapa faktor yang dipertimbangkan dalam memilih minyak atau lemak sebagai bahan mentah untuk membuat sabun. Beberapa bahan yang dapat digunakan dalam pembuatan sabun antara lain, yaitu beberapa diantaranya sebagai berikut:
Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan. Perbedaan antara minyak dan lemak adalah wujud keduanya dalam keadaan ruang. Minyak akan berwujud cair pada temperatur ruang (± 28°C), sedangkan lemak akan berwujud padat.
Jumlah minyak atau lemak yang digunakan dalam proses pembuatan sabun harus dibatasi karena berbagai alasan, seperti: kelayakan ekonomi, spesifikasi produk (sabun tidak mudah teroksidasi, mudah berbusa, dan mudah larut), dan lain-lain. Beberapa jenis minyak atau lemak yang biasa dipakai dalam proses pembuatan sabun di antaranya :
1. Tallow ( Lemak Sapi )
2. Lard ( Lemak Babi )
Lard merupakan minyak babi yang masih banyak mengandung asam lemak tak jenuh seperti asam oleat (60-65%) dan asam lemak jenuh seperti asam stearat (35-40%). Jika digunakan sebagai pengganti tallow, lard harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu untuk mengurangi ketidakjenuhannya. Sabun yang dihasilkan dari lard berwarna putih dan mudah berbusa.
3. Palm Oil ( Minyak Sawit )
Minyak sawit berwarna jingga kemerahan karena adanya kandungan zat warna karotenoid sehingga jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun harus dipucatkan terlebih dahulu. Sabun yang terbuat dari 100% minyak sawit akan bersifat keras dan sulit berbusa. Maka dari itu, jika akan digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun, minyak sawit harus dicampur dengan bahan lainnya. Kandungan asam lemaknya yaitu asam palmitat 42-44%, asam oleat 35-40%, asam linoleat 10%, asam linolenat 0,3%, asam arachidonat 0,3%, asam laurat 0,3%, dan asam miristat 0,5-1%.
4. Coconut Oil ( Minyak Kelapa )
5. Palm Kernel Oil ( Minyak Inti Sawit )
Minyak inti sawit diperoleh dari biji buah sawit. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak yang mirip dengan minyak kelapa sehingga dapat digunakan sebagai pengganti minyak kelapa. Minyak inti sawit memiliki kandungan asam lemak tak jenuh lebih tinggi dan asam lemak rantai pendek lebih rendah daripada minyak kelapa. Kandungan asam lemak yang terdapat pada palm kernel oil yaitu : asam laurat 40-52%, asam miristat 14-18%, asam oleat 11-19%, asam palmitat 7-9%, asam kaprat 3-7%, asam kaprilat 3-5%, asam stearat 1-3%, dan asam linoleat 2%.
6. Palm Oil Stearine ( Minyak Sawit Stearin )
Minyak sawit stearin adalah minyak yang dihasilkan dari ekstraksi asam-asam lemak dari minyak sawit dengan pelarut aseton dan heksana. Kandungan asam lemak terbesar dalam minyak ini adalah asam palmitat 52-58% dan asam oleat 27-32%. Selain itu juga terdapat asam linoleat 6,6-8,2%, asam stearat 4,8-5,3%, asam miristat 1,2-1,3%, asam laurat 0,1-0,4%.
7. Marine Oil
Marine oil berasal dari mamalia laut (paus) dan ikan laut. Marine oil memiliki kandungan asam lemak tak jenuh (asam oleat) yang cukup tinggi, sehingga harus dihidrogenasi parsial terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai bahan baku.
Minyak jarak berwarna bening dan dapat dimanfaatkan sebagai kosmetika, bahan baku pembuatan biodisel dan sabun. Minyak jarak mempunyai massa jenis 0,957-0,963 kg/liter, bilangan iodium 82-88 g I2/100 g, bilangan penyabunan 176-181 mg KOH/g. Minyak jarak mengandung komponen gliserida atau dikenal sebagai senyawa ester. Komposisi asam lemak minyak jarak terdiri dari asam riccinoleat sebanyak 86%, asam oleat 8,5%, asam linoleat 3,5%, asam stearat 0,5-2,0%, asam dihidroksi stearat 1-2%.
9. Olive Oil ( Minyak Zaitun )
Minyak zaitun berasal dari ekstraksi buah zaitun. Minyak zaitun dengan kualitas tinggi memiliki warna kekuningan. Sabun yang berasal dari minyak zaitun memiliki sifat yang keras tapi lembut bagi kulit. Zaitun secara alami mengandung beberapa senyawa yang tak tersabunkan seperti fenol, tokoferol, sterol, pigmen, dan squalen. Minyak zaitun juga mengandung triasil gliserol yang sebagian besar di antaranya berupa asam lemak tidak jenuh tunggal jenis oleat. Kandungan asam oleat tersebut dapat mencapai 55-83 persen dari total asam lemak dalam minyak zaitun. 10. Campuran Minyak dan Lemak
b. Alkali
Jenis alkali yang umum digunakan dalam proses saponifikasi adalah NaOH, KOH, Na2CO3, NH4OH, dan ethanolamines (sinonim: 2-Aminoethanol, monoethanolamine, dengan rumus kimia C2H7NO, dan formulasi kimia NH2CH2CH2OH). NaOH, atau yang biasa dikenal dengan soda kaustik dalam industri sabun, merupakan alkali yang paling banyak digunakan dalam pembuatan sabun keras. KOH banyak digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Na2CO3 (abu soda/natrium karbonat) merupakan alkali yang murah dan dapat menyabunkan asam lemak, tetapi tidak dapat menyabunkan trigliserida dari minyak atau lemak.
Bahan baku pendukung digunakan untuk membantu proses penyempurnaan sabun hasil saponifikasi (pegendapan sabun dan pengambilan gliserin) sampai sabun menjadi produk yang siap dipasarkan. Bahan-bahan tersebut adalah NaCl (garam) dan bahan-bahan aditif.
1. Garam ( NaCl )
2. Bahan Aditif
Bahan aditif merupakan bahan-bahan yang ditambahkan ke dalam sabun yang bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen. Bahan-bahan aditif tersebut antara lain: builders, fillers inert, antioksidan, pewarna,dan parfum.
a. Builders (Bahan Pembentuk / Penguat)
Builders digunakan untuk melunakkan air sadah dengan cara
mengikat mineral mineral yang terlarut pada air, sehingga bahan bahan lain yang berfungsi untuk mengikat lemak dan membasahi permukaan dapat berkonsentrasi pada fungsi utamanya. Builder juga membantu menciptakan kondisi keasaman yang tepat agar proses pembersihan dapat berlangsung lebih baik serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas.
b. Filler (Bahan Pengisi)
Filler (bahan pengisi) ini berfungsi sebagai pengisi dari seluruh
campuran bahan baku. Pemberian bahan ini berguna untuk memperbanyak atau memperbesar volume. Keberadaan bahan ini dalam campuran bahan baku sabun semata mata ditinjau dari aspekekonomis. Pada umumnya, sebagai bahan pengisi sabun digunakan sodium sulfat. Bahan lain yang sering digunakan sebagai bahan pengisi, yaitu tetra sodium pyrophosphate dan sodium sitrat. Bahan pengisi ini berwarna putih, berbentuk bubuk, dan mudah larut dalam air.
Bahan antioksidan pada sabun juga dapat menstabilkan sabun terutama pada bau tengik atau rancid. Natrium Silikat, natrium hiposulfid, dan natrium tiosulfat diketahui dapat digunakan sebagai antioksidan. Stanous klorida juga merupakan antioksidan yang sangat kuat dan juga dapat memutihkan sabun atau sebagai bleaching agent.
d. Bahan Pewarna (Coloring Agent)
Bahan ini berfungsi untuk memberikan warna kepada sabun. Ini ditujukan agar memberikan efek yang menarik bagi konsumen untuk mencoba sabun ataupun membeli sabun dengan warna yang menarik. Biasanya warna warna sabun itu terdiri dari warna merah, putih, hijau maupun orange.
e. Bahan Pewangi (fragrances)
Parfum termasuk bahan pendukung. Keberadaaan parfum memegang peranan besar dalam hal keterkaitan konsumen akan produk sabun. Artinya, walaupun secara kualitas sabun yang ditawarkan bagus, tetapi bila salah memberi parfum akan berakibat fatal. Beberapa nama parfum yang digunakan dalam pembuatan sabun diantaranyabouquct deep water, alpine, dan spring flower.
Ada beberapa karakteristik yang perlu diperhatikan dalam memilih bahan dasar pembuatan sabun, diantaranya:
a. Warna
b. Angka Penyabunan
Angka saponifikasi adalah angka yang terdapat pada milligram kalium hidroksida yang digunakan dalam proses saponifikasi sempurna pada satu gram minyak. Angka saponifikasi digunakan untuk menghitung alkali yang dibutuhkan dalam saponifikasi secara sempurna pada lemak atau minyak. c. Bilangan Iod
Bilangan iod digunakan untuk menghitung ketidakjenuhan minyak atau lemak, semakin besar angka iod, maka asam lemak tersebut semakin tidak jenuh. Dalam pencampurannya, bilangan iod menjadi sangat penting yaitu untuk mengidentifikasi ketahanan sabun pada suhu tertentu.
KESIMPULAN
1. Saponifikasi merupakan proses pembuatan sabun yang berlangsung dengan mereaksikan asam lemak khususnya trigliserida dengan alkali yang menghasilkan sabun dan hasil samping berupa gliserol. Sabun merupakan garam (natrium) yang mempunyai rantai karbon yang panjang.
2. Suatu molekul sabun mengandung suatu rantai hidrokarbon panjang danujung ion. Bagian hidrokarbon dari molekul itu bersifat hidrofobik dan larut dalam zat-zat non-polar, sedangkan ujung ion bersifat hidrofilik dan larut dalam air. 3. Larutan sabun selalu trihidrolisa di dalam air sehingga bersifat sedikit alkalis.
Sehingga dalam waktu bersamaan akan terdapat molekul-molekul RCOONa, RCOOH dan ion-ion RCOO, OH dan Na+.
4. Suhu titer sabun adalah suhu dimana larutan koloid sabun berubah menjadi kasar dan tidak aktif lagi. Sedangkan titik keruh adalah suhu dimana larutan koloid sabun menjadi keruh karena terbentuknya dispersi kasar dan larutan sabun menjadi kental sehingga dapat dipilin.
5. Minyak atau lemak merupakan senyawa lipid yang memiliki struktur berupa ester dari gliserol. Pada proses pembuatan sabun, jenis minyak atau lemak yang digunakan adalah minyak nabati atau lemak hewan.
6. Dari hasil percobaan yang diperoleh, semua minyak dan garam yang dicampukan menghasilkan endapan. Hal ini menunjukkan bahwa minyak yang digunakan mengandung asam lemak yang cocok untuk pembuatan sabun atau saponifikasi.
7. Dari hasil percobaan yang diperoleh, endapan yang dihasilkan dari reaksi antara minyak dengan garam tertentu adalah sabun. Hal ini dapat terjadi karena selain bahan tersebut, juga ditambahkan basa kuat pada proses saponifikasi ini. 8. Dari uji tes reaksi antara minyak dan garam tertentu dengan reagensia CaCl2 1
DAFTAR PUSTAKA
Commons, C., S. Jarrett, C. McKenzie, W. Moseley, M. Porter, dan M. Williamson. 1991. Chemistry Two, Chemistry and the Marketplace, Energy and Matter. Rigby Heinemann, Melbourne.
Fessenden, R. J., J. S. Fessenden. 1979. Organic Chemistry. Willard Grant Press, United States of America.
Pinto, J. S. S., dan F. M. Lancas. 2006. Hydrolysis of corn oil using subcritical water. Journal Braz Chemical Social. 17(1):85-89.
Salimon, J., B. M. Abdullah, dan N. Salih. 2012. Saponification of jatropha curcas seed oil: optimization by D-optimal design. International Journal of Chemical Engineering. 2012(1):1-6.
Sastrohamidjojo, H. 2009. Kimia Organik: Stereokimia, Karbohidrat, Lemak dan Protein. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.
Sidabutar, E. D. C., M. N. Faniudin, dan M. Said. Pengaruh rasio reaktan dan jumlah katalis terhadap konversi minyak jagung menjadi metil ester. Jurnal Teknik kimia. 19(1):40-48.
Wilbraham, A. C., M. S. Matta. 1992. Pengantar Kimia Organik dan Hayati. Penerbit ITB, Bandung.