• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN. Riwayat Contoh Sebagai Pekerja Buruh

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "HASIL DAN PEMBAHASAN. Riwayat Contoh Sebagai Pekerja Buruh"

Copied!
42
0
0

Teks penuh

(1)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Riwayat Contoh Sebagai Pekerja Buruh Tempat Bekerja Contoh

Pada periode 2006-2008 jumlah angkatan kerja perempuan mengalami peningkatan sebesar 4,2 juta orang (Survei Angkatan Kerja Nasional 2008). Peningkatan tenaga kerja perempuan digambarkan dari terserapnya perempuan ke sektor-sektor tradisional seperti industri. Kehadiran industri/pabrik memberikan kesempatan kerja bagi perempuan karena biasanya bekerja di pabrik membutuhkan ketelitian dan ketekunan, sifat tersebut sudah menjadi stereotipe bagi perempuan. Pekerjaan perempuan sebagai buruh pabrik merupakan suatu usaha untuk membantu ekonomi keuangan keluarga demi tercapainya suatu kesejahteraan keluarga. Setiap keluarga memiliki status kesejahteraan yang berbeda dan hal ini diduga dapat dipengaruhi oleh riwayat contoh sebagai pekerja (buruh).

Riwayat contoh sebagai pekerja buruh dilihat berdasarkan tempat bekerja contoh. Lingkungan pabrik sebagai tempat bekerja contoh seharusnya memiliki Standar Operasional Prosedur dan bebas dari berbagai bentuk diskriminasi, khususnya bagi buruh perempuan. Pada penelitian ini, tempat bekerja contoh tersebar pada PT PMG, PT. SB, CV. ARI dan lainnya (Db, PT. SUI, PT. T dan CV. A). Hampir separuh (46,7%) contoh bekerja di PT. PMG, sebanyak 36,7 persen contoh bekerja di PT. SB, sisanya di CV. ARI dan lainnya dengan proporsi masing-masing 10,0 dan 6,6 persen. Sebaran contoh berdasarkan tempat bekerja contoh dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3 Sebaran contoh berdasarkan tempat bekerja contoh

No. Tempat bekerja Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. PT. PMG 28 46,7

2. PT. SB 22 36,7

3. CV. ARI 6 10,0

4. Lainnya (DB, PT. SUI, PT. T dan CV. A) 4 6,6

Lama Bekerja

Kurang dari separuh (40,0%) contoh memiliki lama bekerja kurang dari satu tahun pada pabrik yang sama, pada penelitian ini lama bekerja dilihat dari waktu dimana contoh bekerja saat ini. Sebanyak 28,3 persen contoh memiliki lama bekerja lebih dari lima tahun (Tabel 4). Lamanya waktu bekerja akan menambah pengalaman contoh untuk menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Jika

(2)

contoh dapat menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga maka tujuan keluarga yang sejahtera akan tercapai. Menurut Puspitawati (1992) manajemen sumberdaya keluarga terutama berkaitan dengan manajemen waktu dan pekerjaan merupakan hal yang sangat penting bagi tercapainya tujuan keluarga.

Tabel 4 Sebaran contoh berdasarkan lama bekerja

No. Lama bekerja (tahun) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. < 1 24 40,0

2. 1-2 7 11,7

3. 2-5 12 20,0

4. > 5 17 28,3

Pekerjaan Contoh Sebelumnya

Jika dilihat dari pekerjaan contoh sebelumnya, terdapat contoh yang bekerja sebagai ibu rumahtangga, memiliki usaha, buruh dan lainnya (penjaga counter dan buruh cuci). Hampir setengah (48,4%) contoh sebelumnya tidak bekerja dan kurang dari separuh (45,0%) contoh bekerja sebagai buruh di pabrik yang berbeda dari tempat bekerjanya saat ini, kemudian sisanya tersebar merata pada memiliki usaha dan lainnya (penjaga counter dan buruh cuci) yang masing-masing terdapat dua contoh dengan persentase 3,3 persen (Tabel 5). Perubahan peran istri di sektor publik terlihat signifikan, contoh yang sebelumnya hanya memiliki peran domestik sebagai ibu rumahtangga (tidak bekerja) kemudian bekerja di luar rumah. Hal ini dapat menggeser struktur fungsional dan terjadinya penghapusan budaya patriarkhi di lingkungan masyarakat secara perlahan.

Tabel 5 Sebaran contoh berdasarkan pekerjaan sebelumnya

No. Pekerjaan sebelumnya Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Tidak bekerja 29 48,4

2. Buruh 27 45,0

3. Memiliki usaha 2 3,3

4. Lainnya (penjaga counter dan buruh cuci) 2 3,3

Jam Kerja Contoh

Pada bagian jam kerja contoh, dikategorikan dengan jam kerja normal dan shift. Bagian jam kerja normal adalah jam kerja biasa yaitu berangkat pagi dan pulang kerja di sore hari (dari pukul 08.00-18.00) dengan rata-rata 10,4 jam per hari. Bagian jam kerja shift adalah jam kerja tertentu yang terdiri dari tiga shift, yaitu shift pagi pukul 08.00-16.00, shift sore pukul 16.00 - 24.00, dan shift malam pukul 24.00 - 08.00. Pergantian shift dilakukan setiap satu minggu sekali.

(3)

Namun, ada pula pabrik yang memberlakukan jam lembur sampai melebihi kapasitas fisik.

Lebih dari tiga per empat (86,7%) contoh yaitu sebanyak lima puluh dua orang memiliki bagian jam kerja normal dan sisanya sebanyak delapan orang memiliki bagian jam kerja shift, yaitu sebanyak 13,3 persen. Jadi jika dilihat secara umum, contoh hanya memiliki waktu di rumah bersama keluarga pada sore dan malam hari (Tabel 6).

Tabel 6 Sebaran contoh berdasarkan jam kerja contoh

No. Bagian jam kerja Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Normal (Berangkat pagi pulang sore) 52 86,7

2. Shift (Masuk dan pulang kerja dengan jam tertentu sesuai bagiannya pada waktu berkala)

8 13,3

Lama Bekerja (Jam/Hari)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh (56,7%) contoh memiliki lama bekerja antara 9,0 sampai 10,6 jam per hari dengan rata-rata 10,4 jam per hari yaitu sebanyak tiga puluh empat orang (Tabel 7). Semakin banyak waktu yang digunakan perempuan untuk bekerja di luar rumah maka semakin sedikit waktu yang tersisa untuk melakukan aktivitas di rumah. Sumberdaya materi mencakup barang/benda, jasa, waktu, dan energi (Deacon dan Firebaugh 1988). Waktu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah, dikurangi atau diakumulasi. Penggunaan waktu yang efektif berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan psikologis. Hal ini berarti perempuan sebagai istri sekaligus sebagai pekerja harus dapat melakukan manajemen waktu yang dimiliki dengan baik, kuantitas dan kualitas komunikasi serta interaksi dengan keluarga harus dapat terjaga dengan baik agar tujuan keluarga yang sejahtera baik secara objektif maupun subjektif dapat tercapai.

Menurut Undang-Undang Nomor 13 tentang Ketenagakerjaan menyatakan bahwa pekerja yang bekerja 6 hari dalam semi per hari. Hal ini berarti rata-rata jam kerja contoh tidak sesuai dengan Undang-Undang tersebut. Posisi pekerja sebagai penjahit, pembuang benang, kebersihan, gudang, penyelesaian akhir, pengontrol kualitas, pengawas, dan kantin memiliki lama bekerja 9,0-10,6 jam per hari. Posisi pekerja pada bagian pengemasan, pembantu, pemotong, dan pembuat pola bekerja dengan lama 10,7-12,3 jam per hari. Bagian umum memiliki lama bekerja 12,4-14,0 jam per hari.

(4)

Tabel 7 Sebaran contoh berdasarkan lama bekerja/hari

No. Lama bekerja setiap hari (jam) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. 9,0-10,6 34 56,7 2. 10,7-12,3 23 38,3 3. 12,4-14,0 3 5,0 Minimum – Maksimum 9,0 – 14,0 Rata-rata ± Std. Deviasi 10,4 ± 1,3 Hari Kerja/Minggu

Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh (65,0%) contoh memiliki enam hari kerja dalam satu minggu dan sisanya sebanyak dua puluh satu orang memiliki lima hari kerja yaitu sebanyak 35,0 persen. Hal ini berarti contoh ada yang memiliki satu dan dua hari libur. Berdasarkan Pasal 79 Undang-Undang tentang Ketenagakerjaan, waktu libur wajib diberikan pabrik kepada buruhnya. Biasanya dalam satu minggu diharuskan memiliki waktu libur minimal satu kali. Hal ini berarti hari libur contoh sudah sesuai dengan Undang-Undang. tersebut.

Hari libur memungkinkan contoh melakukan aktivitas domestik dan berinteraksi dengan keluarga. Kemampuan seseorang dalam melakukan penyesuaian dalam pengelolaan waktu merupakan aspek penting dalam melakukan manajemen waktu (Nickell dan Dorsey 1960). Pengelolaan waktu yang baik akan mempermudah untuk mewujudkan keluarga yang sejahtera. Sebaran contoh berdasarkan hari kerja/minggu dapat dilihat pada Tabel 8.

Tabel 8 Sebaran contoh berdasarkan hari kerja/minggu

No. Hari kerja Jumlah (n=60) Persentase(%)

1. 5 hari dalam seminggu 21 35,0

2. 6 hari dalam seminggu 39 65,0

Rata-rata ± Std. Deviasi 5,7 ± 0,5

Posisi Sebagai Pekerja

Posisi pekerjaan biasanya dipengaruhi oleh tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar peluang mendapatkan posisi yang lebih baik. Rata-rata lama pendidikan contoh adalah 9,1 tahun yaitu pada tingkat SMP. Selain tingkat pendidikan, hal lain yang menjadi pertimbangan adalah keterampilan yang dimiliki sesuai dengan barang yang diproduksi oleh pabrik.

Jika dilihat dari sebaran contoh berdasarkan posisi contoh sebagai pekerja pada Tabel 9, terdapat sembilan kategori yaitu bagian umum, penjahit, bagian penyelesaian akhir, pengontrol kualitas, pengawas, pembuang benang, pembantu, pengemasan, lainnya (bagian pola, kantin, kebersihan, pemotong,

(5)

bagian gudang). Pada penelitian ini hampir seluruhnya pabrik merupakan pabrik yang menghasilkan konveksi sehingga lebih dari separuh (60,0%) contoh memiliki posisi sebagai penjahit. Meski tingkat pendidikan tidak terlalu tinggi, keterampilan menjahit dapat diandalkan contoh untuk turut berkontribusi ekonomi terhadap pendapatan keluarga.

Tabel 9 Sebaran contoh berdasarkan posisi sebagai pekerja

Kendaraan yang Digunakan ke Tempat Kerja

Sebaran contoh berdasarkan kendaraan yang digunakan contoh ke tempat kerja dapat dilihat pada Tabel 10. Pada penelitian terlihat bahwa kendaraan yang digunakan contoh untuk pergi ke tempat kerja adalah kendaraan milik pribadi berupa motor, kendaraan umum (angkutan umum atau ojek) dan lainnya (keduanya, kadang diantar suami dengan kendaraan milik pribadi dan kadang menggunakan kendaraan umum). Sebagian besar (80,0%) contoh menggunakan kendaraan umum menuju tempat kerjanya yaitu sebanyak empat puluh delapan orang. Sisanya sepuluh orang dengan menggunakan kendaraan milik pribadi (16,7%) dan lainnya sebanyak dua orang dengan presentase 3,3 persen.

Kendaraan yang digunakan ke tempat bekerja akan mempengaruhi waktu yang digunakan contoh untuk melakukan pekerjaan domestik. Jika contoh menggunakan kendaraan milik pribadi maka semakin kecil peluang perjalanan lebih lama dan waktu contoh untuk memasak dan membersihkan rumah akan lebih banyak, peluang terlambat untuk tiba di pabrik akan lebih kecil. Sebaliknya, jika contoh menggunakan kendaraan umum maka semakin besar peluang perjalanan lebih lama dan waktu contoh untuk memasak dan membersihkan rumah akan lebih sedikit, peluang terlambat untuk tiba di pabrik akan lebih besar. Jika menggunakan angkot, hal yang menyebabkan lama di perjalanan adalah kebiasaan angkot yang tidak akan jalan ketika kapasitas angkot belum terpenuhi

No. Posisi sebagai pekerja Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Bagian umum 3 5,0

2. Penjahit 36 60,0

3. Bagian penyelesaian akhir 2 3,3

4. Pengontrol kualitas 4 6,7

5. Pengawas 4 6,7

6. Pembuang benang 2 3,3

7. Pembantu 2 3,3

8. Pengemasan 2 3,3

9. Lainnya (pola, kantin, kebersihan, pemotong,pergudangan)

(6)

seluruhnya. Jika menggunakan ojek, hal yang menyebabkan lama di perjalanan adalah jarak tempuh antara rumah contoh dengan pangkalan ojek yang cukup jauh sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk berjalan kaki menuju pangkalan ojek.

Tabel 10 Sebaran contoh berdasarkan kendaraan yang digunakan contoh ke tempat bekerja

No. Kendaraan yang digunakan Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Milik pribadi (Motor) 10 16,7

2. Umum (Angkot dan ojek) 48 80,0

3. Lainnya (Kadang milik pribadi, kadang umum)

2 3,3

Upah Kerja Contoh

Sumarwan (2004) mendefinisikan pendapatan sebagai imbalan yang diterima keluarga sebagai konsumen dari pekerjaan yang dilakukannya untuk mencari nafakah. Pendapatan pada umumnya diterima dalam bentuk uang. Pasal 89 Undang-Undang Nomor 13 menyatakan bahwa penentuan upah minimum diarahkan kepada pemenuhan kebutuhan kehidupan yang layak. Kebijakan komponen gaji/upah ditetapkan oleh masing-masing perusahaan. Gaji yang dibayarkan oleh perusahaan tidak boleh lebih rendah dari Upah Minimum Propinsi (UMP) yang ditetapkan pemerintah.

Upah kerja yang diterima contoh pada penelitian ini diberikan pabrik melalui tiga cara, yaitu beberapa satuan waktu tertentu: mingguan, dua minggu atau setiap bulan. Adapun cara pembayaran upah oleh pabrik dilakukan melalui dua cara pembayaran yaitu uang tunai atau pembayaran via ATM yang di transfer pihak pabrik ke rekening buruh.

Lebih dari separuh (58,1%) contoh memiliki upah kurang dari Rp 1.172.060,00. UMR Kabupaten Bogor 2011 adalah Rp 1.172.060,00, dapat disimpulkan bahwa upah yang diterima lebih dari separuh (58,1%) contoh adalah di bawah UMR (Tabel 11). Contoh dengan upah di bawah UMR adalah contoh dengan posisi bagian umum, pemotong, dan pengemasan di PT. PMG. Posisi penjahit, penyelesaian akhir, penolong di CV. ARI, posisi penjahit di CV. T dan di Db juga memperoleh upah di bawah nilai UMR.

(7)

Tabel 11 Sebaran contoh berdasarkan upah kerja contoh

No. Kategori (Rp/bulan) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. < Rp 1.172.060,00 36 58,1

2. ≥ Rp 1.172.060,00 26 41,9

Minimum – Maksimum 504.000,00 - 2.400.000,00

Rata-rata ± Std. Deviasi 1.104.038,00 ± 32.176,27

Karakteristik Contoh dan Keluarga

Setiap keluarga pasti memiliki karakteristik yang berbeda. Karakteristik ini dapat mempengaruhi kesejahteraan keluarga. Karakteristik contoh dan keluarga pada penelitian ini meliputi umur istri dan suami, lama pendidikan suami dan istri, jenis pekerjan suami, besar keluarga, pendapatan dan pengeluaran keluarga per bulan, pendapatan dan pengeluaran keluarga per kapita per bulan, rata-rata pengeluaran keluarga untuk pangan dan nonpangan per bulan, dan kepemilikan aset.

Umur Contoh dan Suami

Kurang dari separuh (45,0%) contoh dan kurang dari separuh (38,3%) suami contoh memiliki umur yang berada pada kategori 31-40 tahun dengan rata-rata untuk masing-masing 33,4 tahun dan 36,6 tahun. Berdasarkan Papalia dan Old (2009) dewasa awal adalah umur yang berada pada rentang 20-40 tahun, dewasa madya (41-60 tahun) dan dewasa akhir (61 tahun ke atas). Hal ini berarti kurang dari separuh (45,0% dan 38,3%) contoh dan suami contoh berada pada kategori dewasa awal. Penelitian Rambe (2004) menyebutkan bahwa faktor determinan kesejahteraan subjektif adalah umur kepala keluarga. Umur suami contoh yang berada pada kategori dewasa awal dapat mempengaruhi kesejahteraan subjektif, menurut Hurlock (1980) salah satu tugas perkembangan dewasa awal adalah mulai hidup dalam keluarga atau hidup berkeluarga dan mengelola rumahtangga. Semakin suami dapat mengelola rumahtangga maka pembagian pekerjaan domestik akan semakin baik dan istri akan semakin puas dengan keadaan keluarga yang responsif gender. Sebaran contoh dan suami contoh berdasarkan umur dapat dilihat pada Tabel 12.

(8)

Tabel 12 Sebaran contoh dan suami berdasarkan umur

No. Umur (tahun) Istri Suami

n % n % 1. 20-30 24 40,0 18 30,0 2. 31-40 27 45,0 23 38,3 3. 41-50 8 13,3 17 28,3 4. 51-55 1 1,7 2 3,3 5. 56-65 0 0,0 0 0,0 6. >65 0 0,0 0 0,0 Minimum - Maksimum 20 – 53 25 – 54 Rata-rata ± Std. Deviasi 33,4 ± 7,1 36,6 ± 7,6

Lama Pendidikan Contoh dan Suami

Lama pendidikan atau tingkat pendidikan kepala keluarga yang telah dijalani akan mempengaruhi kesejahteraan keluarga (Rambe 2004). Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin besar peluang mendapatkan pekerjaan dan semakin tinggi pula peluang keluarga untuk sejahtera.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proporsi terbesar lama pendidikan contoh adalah SMA (10-12 tahun) yaitu sebesar 36,7 persen dengan rata-rata 9,1 tahun dan kurang dari setengahnya (41,7%) lama pendidikan suami contoh berada pada jenjang SMA (10-12 tahun) dengan rata-rata 9,2 tahun. Sumarwan (2004) mengemukakan bahwa pendidikan akan mempengaruhi proses keputusan dan pola konsumsi keluarga. Pola konsumsi tersebut diduga akan mempengaruhi pengeluaran dan kesejahteraan keluarga. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka semakin banyak kebutuhan hidup dan akan semakin tinggi perilaku konsumtif. Perilaku konsumtif ini akan mempengaruhi kesejahteraan terkait pengeluaran keluarga. Semakin besar pengeluaran keluarga maka peluang perilaku konsumtif akan semakin besar. Sebaran contoh dan suami contoh berdasarkan lama pendidikan dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13 Sebaran contoh dan suami berdasarkan lama pendidikan

No. Lama pendidikan (tahun)

Istri Suami n % n % 1. 1-6 21 35,0 24 40,0 2. 7-9 17 28,3 9 15,0 3. 10-12 22 36,7 25 41,7 4. 13-16 0 0,0 2 3,3 Minimum - Maksimum 6,0 – 12,0 6,0 – 15,0 Rata-rata ± Std. Deviasi 9,1 ± 2,6 9,2 ± 2,9

(9)

Jenis Pekerjaan Suami

Jenis pekerjaan suami dapat mempengaruhi pendapatan keluarga. Tingkat pendidikan yang tinggi dapat menentukan jenis pekerjaan. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka peluang mendapatkan jenis pekerjaan yang lebih baik akan semakin besar. Deacon dan Firebaugh (1988) mengungkapkan bahwa jenis pekerjaan yang profesional menyediakan pendapatan yang lebih tetap dibandingkan pekerjaan swasta. Namun pekerjaan sebagai swasta cenderung untuk memiliki kesempatan lebih dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Rata-rata lama pendidikan suami contoh adalah 9,2 tahun atau pada tingkat SMP sehingga kurang dari separuh (31,7%) suami contoh bekerja sebagai buruh/kuli yaitu sebanyak dua puluh dua orang bahkan sebanyak tiga orang suami contoh tidak bekerja (5,0%).

Pada penelitian ini pengkategorian jenis pekerjaan suami contoh terdiri dari buruh/kuli, pedagang, wiraswasta, supir, karyawan, petani, PNS, koki, ojek tukang parkir, dan tidak bekerja. Sebanyak 21,7 persen suami contoh bekerja sebagai karyawan, 16,7 persen sebagai supir, 8,3 persen sebagai wiraswasta, sebagai PNS dan koki dengan persentase sebesar 5,0 persen dan sebagai pedagang, petani, ojek dan tukang parkir masing-masing sebanyak satu orang dengan presentase sebesar 1,7 persen. Terdapat suami contoh yang tidak bekerja, hal ini menunjukkan bahwa contoh sebagai istri telah mengambil alih fungsi ekonomi secara signifikan. Padahal rata-rata lama pendidikan contoh dan suami contoh sama yaitu 9 tahun atau pada tingkat SMP. Sebaran suami contoh berdasarkan jenis pekerjaan dapat dilihat pada Tabel 14.

Tabel 14 Sebaran suami contoh berdasarkan jenis pekerjaan

No. Jenis pekerjaan Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Buruh/kuli 19 31,7 2. Pedagang 1 1,7 3. Wiraswasta 5 8,3 4. Supir 10 16,7 5. Karyawan 13 21,7 6. Petani 1 1,7 7. PNS 3 5,0 8. Koki 3 5,0 9. Ojek 1 1,7 10. Tukang parkir 1 1,7 11. Tidak bekerja 3 5,0

(10)

Besar Keluarga

Besar keluarga adalah jumlah seluruh anggota keluarga yang tinggal bersama dalam satu rumah. Besar keluarga menurut BKKBN (1998), dikategorikan menjadi tiga kelompok yaitu kecil (≤ 4 orang), sedang (5 -7 orang) dan besar (> 7 orang).

Berdasarkan Tabel 15 diketahui bahwa lebih dari separuh (71,7%) contoh memiliki ukuran keluarga yang kecil dan sisanya merupakan keluarga sedang yaitu sebanyak tujuh belas orang dengan persentase sebesar 28,3 persen. Besar keluarga contoh memiliki rata-rata 3,9 orang, berdasarkan BKKBN (1998) keluarga contoh termasuk kecil. Pada penelitian ini jumlah anggota keluarga paling sedikit dua orang (belum memiliki anak) dan paling banyak tujuh orang. Menurut Lewin dan Maurin (2005) besar keluarga merupakan faktor penting yang menentukan kesejahteraan keluarga dan menjadi alat ukur untuk memprediksi tingkat kemiskinan keluarga. Semakin kecil ukuran keluarga maka semakin kecil alokasi untuk pengeluaran keluarga sehingga semakin besar peluang keluarga untuk sejahtera.

Tabel 15 Sebaran contoh berdasarkan besar keluarga

No. Besar keluarga Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Kecil (≤ 4 orang) 43 71,7

2. Sedang (5-7 orang) 17 28,3

3. Besar (>7 orang) 0 0,0

Minimum - Maksimum 2,0 – 7,0 Rata-rata ± Std. Deviasi 3,9 ± 1,2

Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga

Pendapatan merupakan imbalan, gaji, upah yang diterima seseorang dengan bekerja. Pendapatan keluarga bukan hanya pendapatan yang berasal dari suami, namun merupakan kesatuan dari pendapatan istri dan anggota keluarga lain (misal anak yang sudah bekerja namun masih tinggal dengan orang tua) dengan tujuan menciptakan kesejahteraan bagi seluruh anggota keluarga. Deacon dan Firebaugh (1988) menyatakan bahwa sumberdaya keuangan keluarga yang utama didapatkan adalah berasal dari pendapatan keluarga. Pendapatan adalah imbalan yang diterima seseorang dari pekerjaan yang telah dilakukannya untuk mencari nafkah (Sumarwan 2004). Pendapatan keluarga berhubungan dengan kesejahteraan keluarga. Semakin tinggi pendapatan keluarga maka semakin besar peluang keluarga untuk sejahtera.

(11)

Kurang dari separuh (48,3%) contoh memiliki pendapatan dengan selang Rp 2.000.000,00 - Rp 2.999.999,00 dan rata-rata sebesar Rp 2.151.207,00. Pendapatan keluarga didapatkan dari pekerjaan utama dan sampingan. Hampir seluruh (95%) contoh mendapatkan pendapatan dengan sumber dari pekerjaan utama saja. Sebanyak tiga orang (5%) memiliki sumber pendapatan baik dari pekerjaan utama maupun sampingan. Jenis pekerjaan sampingan dari ketiga contoh adalah menjual barang dengan cara kredit. Hanya terdapat satu keluarga yang memiliki pendapatan per bulan kurang dari Rp 1.000.000,00 hal ini terjadi karena suami contoh tidak bekerja. Sebanyak tujuh keluarga memiliki pendapatan per bulan lebih besar sama dengan dari Rp 3.000.000,00. Ketujuh contoh tersebut adalah penjahit dari PT. PMG dengan upah sesuai UMR dan memiliki pekerjaan sampingan, pengontrol kualitas di PT. PMG dengan upah sesuai UMR dan memiliki suami dengan pekerjaan swasta, penjahit dari PT. SB dengan upah sesuai UMR dan memiliki suami dengan pekerjaan swasta. Deacon dan Firebaugh (1988) mengungkapkan bahwa jenis pekerjaan yang profesional menyediakan pendapatan yang lebih tetap dibandingkan pekerjaan swasta. Namun pekerjaan sebagai swasta cenderung untuk memiliki kesempatan lebih dalam meningkatkan pendapatan keluarga. Contoh dengan pendapatan per bulan di atas sama dengan Rp 3.000.000,00 lainnya adalah penjahit dari PT. PMG dengan upah sesuai UMR dan memiliki suami dengan pekerjaan sebagai PNS, pengawas dari PT. SB dengan upah sesuai UMR dan memilki pekerjaan sampingan, penjahit dan pengawas dari PT. SB dengan upah sesuai UMR. Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per bulan dapat dilihat pada Tabel 16.

Tabel 16 Sebaran contoh berdasarkan kategori pendapatan keluarga per bulan

No. Kategori (Rp/bulan) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. < 1.000.000,00 1 1,7 2. 1.000.000,00- 1.999.999,00 23 38,3 3. 2.000.000,00- 2.999.999,00 29 48,3 4. ≥ 3.000.000,00 7 11,7 Minimum – Maksimum 600.000,00- 4.000.000,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 2.151.207,00 ± 620.202,18

Pengeluaran dapat digunakan sebagai indikator pendapatan keluarga yang dapat menggambarkan kondisi keuangan keluarga (Sumarwan 2002). Pengeluaran keluarga terdiri dari pengeluaran pangan dan non pangan. Kondisi pengeluaran keluarga lebih besar daripada pendapatan adalah hal yang wajar karena pendapatan bukan satu-satunya sumberdaya keluarga yang dapat

(12)

digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, misalnya dengan cara meminjam atau berhutang. Lebih dari separuh (63,3%) contoh memiliki pengeluaran dengan selang Rp 1.000.000,00 - Rp 1.999.999,00 dan rata-rata sebesar Rp 1.729.962,00. Sebaran contoh berdasarkan pengeluaran keluarga per bulan dapat dilihat pada Tabel 17. Jika dibandingkan antara rata-rata pendapatan dan pengeluaran keluarga per bulan maka dapat disimpulkan bahwa rata-rata pendapatan keluarga per bulan lebih besar daripada rata-rata pengeluaran keluarga per bulan.

Tabel 17 Sebaran contoh berdasarkan kategori pengeluaran keluarga per bulan

No. Kategori (Rp/bulan) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. < 1.000.000,00 6 10,0 2. 1.000.000,00- 1.999.999,00 38 63,3 3. 2.000.000,00- 2.999.999,00 12 20,0 4. > 3.000.000,00 4 6,7 Minimum – Maksimum 285.700,00- 3.277.000,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 1.729.962,00 ± 643.496,33

Pendapatan dan Pengeluaran Keluarga Per Kapita

Pendapatan keluarga per kapita per bulan adalah pendapatan total keluarga dibagi dengan jumlah anggota keluarga. Pendapatan per kapita adalah pendapatan yang layak untuk mencukupi kebutuhan minimal. Pendapatan per kapita dijadikan indikator pembangunan suatu negara. Pendapatan per kapita dihitung untuk mengetahui golongan keluarga miskin atau tidak. Menurut Lewin dan Maurin (2005) besar keluarga merupakan faktor penting yang menentukan kesejahteraan keluarga dan menjadi alat ukur untuk memprediksi tingkat kemiskinan keluarga. Semakin banyak jumlah anggota keluarga maka semakin banyak alokasi pengeluaran keluarga sehingga semakin kecil peluang keluarga untuk sejahtera.

Berdasarkan Tabel 18 terlihat bahwa kurang dari separuh (43,3%) pendapatan keluarga per kapita per bulan lebih besar dari Rp 591.957,00 dengan rataan sebesar Rp 607.445,80. Terdapat satu keluarga yang memiliki pendapatan per kapita per bulan di bawah angka garis kemiskinan, hal ini terjadi karena suami contoh tidak bekerja dan contoh memiliki lima anak dengan anak terkecil masih bersekolah pada tingkat SD.

(13)

Tabel 18 Sebaran contoh berdasarkan pendapatan keluarga per kapita per bulan

No. Kategori (Rp/kapita/bulan) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. ≤ 197. 319* 1 1,7 2. 197.320- 394.638 9 15,0 3. 394.639- 591.957 24 40,0 4. > 591.957 26 43,3 Minimum – Maksimum 85.714,00 – 1.336.050,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 607.445,80 ± 263.905,80 Ket :* Garis Kemiskinan Kabupaten Bogor BPS 2010

Kurang dari setengahnya (41,7%) pengeluaran per kapita per bulan keluarga contoh berkisar pada Rp 394.639,00-Rp 591.957,00 dengan rataan sebesar Rp 487.664,30. Pengkategorian untuk sebaran contoh berdasarkan pendapatan dan pengeluaran keluarga per kapita per bulan adalah berdasarkan Garis Kemiskinan Kabupaten Bogor BPS 2010. Terdapat tiga keluarga dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah angka garis kemiskinan. Contoh dari keluarga tersebut masing-masing memiliki upah di bawah standar nilai UMR dan memiliki anak sebanyak lima, tiga, dan empat anak untuk setiap masing-masing keluarga (Tabel 19).

Tabel 19 Sebaran contoh berdasarkan pengeluaran keluarga per kapita per bulan

No. Kategori (Rp/kapita/bulan) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. ≤ 197. 319* 3 5,0 2. 197.320- 394.638 20 33,3 3. 394.639- 591.957 25 41,7 4. > 591.957 12 20,0 Minimum – Maksimum 145.429,00 – 1.538.750,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 487.664,30 ± 224.975,70 Ket :* Garis Kemiskinan Kabupaten Bogor BPS 2010

Dapat disimpulkan bahwa baik rata-rata pendapatan maupun rata-rata pengeluaran keluarga per kapita per bulan berada di atas garis kemiskinan Kabupaten Bogor 2010.

Rata-rata Pengeluaran Pangan dan Non Pangan

Rata-rata pengeluaran keluarga dapat dilihat dari pengeluaran pangan dan non pangan. Pengeluaran pangan adalah pengeluaran yang dialokasikan untuk makanan pokok, sumber protein yang terdiri dari telur ayam, susu, dan daging, sayur-sayuran, buah-buahan, dan jajanan lainnya. Pengeluaran non pangan adalah pengeluaran yang dialokasikan untuk pendidikan, perumahan dan bahan bakar, transportasi, pakaian, dan kesehatan. Pada pengeluaran pendidikan, uang dialokasikan untuk bayaran uang sekolah (formal/non formal), seragam sekolah, buku pelajaran, foto kopi bahan pelajaran, dan uang jajan. Pada

(14)

pengeluaran perumahan dan bahan bakar, uang dialokasikan untuk pembayaran listrik, air, telepon (rekening telepon rumah dan pulsa HP), bahan bakar (LPG, gas kota, minyak tanah/bahan bakar lainnya). Pada pengeluaran transportasi, uang dialokasikan untuk bensin kendaraan bermotor atau ongkos untuk kendaraan umum. Pada pengeluaran untuk pakaian, uang dialokasikan untuk biaya pembelian baju/celana dan sepatu/alas kaki. Pada pengeluaran untuk kesehatan, uang dialoksikan untuk pembayaran untuk pembelian perlengkapan mandi dan cuci, obat/dokter/bidan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 48,6 persen rata-rata pengeluaran keluarga contoh digunakan untuk kebutuhan pangan yaitu sebesar Rp 860.766,70. Pada pengeluaran non pangan memiliki presentase sebesar 51,5 persen dengan rata-rata Rp 912.050,00. Hal ini menunjukkan bahwa keluarga contoh memiliki alokasi pengeluaran non pangan lebih besar daripada pengeluaran untuk pangan (Tabel 20). Engel (1993) mengatakan bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan rumahtangga maka semakin rendah presentase pengeluaran untuk pangan. Dapat disimpulkan bahwa keluarga contoh terkategori sejahtera. Pengeluaran non pangan banyak dialokasikan contoh untuk biaya pendidikan anak.

Tabel 20 Sebaran contoh berdasarkan rata-rata pengeluaran keluarga pangan dan non pangan per bulan

Pengeluaran Rp Persentase (%)

Pangan

Minimum – Maksimum 300.00000,00 – 1.800 000,00

48,5 Rata-rata ± Standar Deviasi 860.766,70 ± 363.802,50

Non pangan

Minimum – Maksimum 118.000,00 – 2.599.000,00 51,5

Rata-rata ± Standar Deviasi 912.050,00 ± 486.864,10

Total Pengeluaran

Minimum – Maksimum 785.000,00 – 3.277.000,00 100,0

Rata-rata ± Standar Deviasi 1.772.817,00 ± 631.185,30

Kontribusi Ekonomi Perempuan terhadap Pendapatan Keluarga

Kontribusi ekonomi perempuan adalah peran perempuan dalam menjalankan fungsi ekonomi keluarga sebagai usaha untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga dan merupakan proporsi antara pendapatan istri dengan total pendapatan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh (33,3%) contoh memiliki kontribusi ekonomi dengan selang 41,0-50,0 persen. Pendapatan istri paling kecil adalah sebesar Rp 504.000,00 dan paling besar sebesar Rp 2.400.000,00 (Tabel 21). Ukoha (2003) menyatakan bahwa

(15)

kontribusi perempuan terhadap pertanian keluarganya adalah sebesar 66,6 persen. Sebanyak 5,0 persen contoh memiliki kontribusi ekonomi 100,0 persen terhadap pendapatan keluarga, hal ini terjadi karena adanya suami contoh yang tidak bekerja, yaitu sebanyak tiga orang. Hal ini menunjukkan bahwa istri telah mengambil alih fungsi ekonomi secara signifikan di dalam keluarga.

Kontribusi ekonomi istri yang lebih besar daripada suami menimbulkan pro dan kontra. Bekerjanya perempuan di luar rumah dapat menggeser struktur fungsional dalam masyarakat. Pada masyarakat yang kontra dan masih sangat memegang budaya patriarki menganggap suami memiliki peran dominan dalam keluarga termasuk dalam hal mencari nafkah. Menurut Poesposoetjipto (1996) seorang perempuan dalam budaya timur akan terpandang dan disegani bila ia mampu membina keluarga yang sejahtera. Istri dianggap baik jika dapat merawat rumah dan mengasuh anak. Namun ketika suami tidak sanggup memberi nafkah kepada istri karena fisik yang tidak kuat (karena sakit, tidak bekerja, dan lain-lain) maka yang membiayai kebutuhan keluarga adalah istrinya. Pada kasus ini peran istri tidak menjadi sumber konflik keluarga bahkan menjadi strategi koping bagi keluarga untuk bertahan.

Tabel 21 Sebaran contoh berdasarkan kontribusi ekonomi perempuan terhadap pendapatan keluarga

No. Kontribusi (%) Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. 0-10 0 0,0 2. 11-20 0 0,0 3. 21-30 1 1,7 4. 31-40 12 20,0 5. 41-50 20 33,3 6. 51-60 14 23,3 7. 61-70 9 15,0 8. 71-80 1 1,7 9. 81-90 0 0,0 10. 91-100 3 5,0 Minimum – Maksimum 504.000,00 - 2.400.000,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 1.115.705,00 ± 32.176,27

Rata-rata kontribusi ekonomi perempuan adalah proporsi antara rata-rata pendapatan istri dengan rata-rata total pendapatan keluarga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kontribusi ekonomi perempuan terhadap keluarga adalah sebesar 51,0 persen dengan rata-rata pendapatan istri sebesar Rp 1.115.705,00. Angka tersebut cukup signifikan bagi pendapatan keluarga, karena fungsi ekonomi keluarga telah diambil alih oleh perempuan sebagai istri yang telah melebihi keseimbangan (50/50) dengan fungsi ekonomi suami. Hal ini

(16)

didukung oleh penelitian Fadah et al. (2004) yang menyatakan bahwa besarnya kontribusi yang diberikan oleh buruh perempuan terhadap pendapatan keluarga yang dilihat dari proporsi rata-rata upah buruh perempuan terhadap rata-rata pendapatan keluarga cukup besar yakni sebesar 52,3 persen. Urgensi kontribusi ekonomi perempuan terhadap pendapatan keluarga tidak dapat diabaikan, meski memiliki lama pendidikan rata-rata 9,1 tahun dengan rata-rata berada pada tingkat SMP dan upah rata-rata di bawah standar contoh tetap dapat menjalankan fungsi ekonomi dalam keluarga.

Tabel 22 Sebaran contoh berdasarkan rata-rata kontribusi ekonomi perempuan terhadap pendapatan keluarga

No. Kontribusi (Rp/bulan) Rata-rata

pendapatan (Rp) Persentase (%) 1. Suami 1.003.035,00 46,0 2. Istri 1.115.705,00 51,0 3. Anak 25.833,33 1,0

4. Anggota keluarga lainnya 33.333,33 2,0

Total pendapatan keluarga 2.177.906,70 100,0

Kepemilikan Aset

Material aset merupakan sumber aset keluarga yang memiliki nilai ekonomi dan dapat digunakan untuk melindungi, merubah, mengkonsumsi, atau memproduksi/investasi (Deacon dan Firebaugh 1988). Ketersediaan aset dapat memudahkan manajemen keuangan dari hal-hal yang tidak dapat diprediksi. Penelitian ini ingin membandingkan kepemilikan aset berdasarkan gender, apakah statusnya hanya milik suami, hanya milik istri, atau bersama (suami dan istri). Status kepemilikan untuk rumah, motor, perhiasan, tabungan dan lahan pertanian adalah status milik berdasarkan surat/akta yang memiliki kekuatan di mata hukum. Status kepemilikan untuk barang elektronik seperti televisi, radio/tape, kulkas, mesin cuci, handphone dan peralatan berharga lainnya seperti sofa dan kompor gas adalah status milik berdasarkan kontribusi keuangan pada saat pembelian barang-barang tersebut. Dikatakan milik bersama ketika pembelian barang-barang tersebut, sumber keuangan untuk membeli adalah berasal dari keduanya, baik istri maupun suami. Pada kategori lainnya, berarti kontribusi keuangan pada saat pembelian barang-barang tersebut adalah berasal dari orangtua atau keluarga besar atau sengaja membuat pernyataan di akta/surat berkekuatan hukum atas nama anak. Pada keluarga contoh yang menempati rumah dengan cara mengontrak, berarti status kepemilikan rumah adalah tidak punya.

(17)

Pada hasil penelitian, jika ditinjau dari kepemilikan aset terlihat bahwa sebesar 10,0 persen status kepemilikan rumah adalah milik suami. Sebanyak lima contoh dengan persentase sebesar 8,3 persen menempati rumah milik istri dan bersama (suami dan istri). Kepemilikan kendaraan motor yang dimiliki contoh sebanyak sembilan belas orang (31,7%) adalah milik suami, sebanyak 8,3 persen milik istri, dan 20,0 persen milik bersama (suami dan istri). Pada kepemilikan barang elektronik, hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari separuh (63,3%) contoh memiliki televisi dengan status milik bersama (suami dan istri), sebesar 31,7 persen memiliki radio/tape hak bersama, kurang dari separuh (31,7%) contoh memiliki kulkas dengan hak milik bersama, sebagian kecil (13,3%) contoh dengan kepemilikan mesin cuci adalah hak milik bersama dan lebih dari separuh (61,7%) contoh memiliki handphone dengan status milik bersama (suami dan istri). Hasil penelitian menunjukkan bahwa seperempat (25,0%) contoh memiliki perhiasan emas dengan status milik istri dan sebagian kecil (13,3%) contoh memiliki tabungan milik bersama. Pada kepemilikan pertanian, perikanan dan ternak, sebagian kecil (6,6%) contoh memiliki sawah dengan status milik istri dan hampir sebagian kecil (1,7%) pula contoh memiliki ladang dan tambak dengan status hak milik suami.

Tabel 23 Sebaran contoh berdasarkan kepemilikan aset

Jenis aset

Status Kepemilikan (%)

Punya Tidak

Punya Suami Istri Bersama

(Suami dan Istri) Lainnya (Orangtua, Keluarga besar, atau anak) 1.Rumah 10,0 8,3 8,3 65,1 8,3 2.Motor 31,7 8,3 20,0 3,3 36,7 3.TV 5,0 20,0 63,3 6,7 5,0 4.Radio/tape 3,3 11,7 31,7 5,0 48,3 5.Kulkas 1,7 8,3 35,0 5,0 50,0 6.Mesin cuci 0,0 0,0 13,3 3,4 83,3 7.Handphone 5,0 16,7 61,7 0,0 16,7 8.Perhiasan/emas 3,3 25,0 6,7 0,0 65,0 9.Tabungan 3,3 11,7 13,3 1,7 70,0 10.Sawah 0,0 6,6 1,7 1,7 90,0 11.Ladang/kebun 1,7 0,0 0,0 0,0 98,3 12.Tambak 1,7 0,0 0,0 0,0 98,3 13.Sofa 1,7 3,3 45,0 8,3 41,7 14.Kompor gas 1,7 13,3 78,3 5,0 1,7

Pada kepemilikan barang berharga lainnya, hampir separuh contoh memiliki sofa dengan status bersama (suami dan istri) dengan persentase sebesar 45,0 persen dan lebih dari separuh (78,3%) contoh menggunakan

(18)

kompor gas milik bersama. Sebaran contoh berdasarkan kepemilikan aset secara lengkap dapat dilihat pada Tabel 23. Jadi, sebagian besar status kepemilikan aset adalah milik bersama (suami dan istri), meski istri telah mengambil alih fungsi ekonomi secara signifikan namun tidak terjadi pendominasian terhadap kepemilikan aset dari istri maupun suami.

Peran Ganda

Peran ganda adalah jumlah peran yang berorientasi pada pendekatan hubungan dengan orang lain dan frekuensi peran (Chen 2010). Kontribusi ekonomi yang didapatkan perempuan dengan cara bekerja di luar rumah (pabrik) sebagai buruh sangat mendesak urgensinya dan hal tersebut menyebabkan konsekuensi peran ganda bagi perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar (80,0%) contoh memiliki alasan berperan ganda sebagai pekerja buruh adalah karena ekonomi (Tabel 24). Hal ini sejalan dengan Herawati (2000) yang mengungkapkan bahwa semakin tinggi jumlah perempuan yang bekerja di luar rumah dapat disebabkan oleh tuntutan ekonomi keluarga, meningkatnya pendidikan, terbukanya kesempatan kerja bagi perempuan dan teknologi yang semakin maju. Uang merupakan alasan terbesar bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah.

Sebanyak tiga contoh memiliki alasan ekonomi dan pengembangan diri dalam bekerja, ketiga contoh tersebut memiliki pendapatan total pada rentang Rp 2.000.000,00- 2.999.999,00. Umur anak terkecil mereka masing-masing adalah 6 tahun, belum memiliki anak, dan 7,5 tahun. Ketiga contoh merasa pendapatan yang didapatkan dari suami kurang cukup menutupi kebutuhan sehari-hari, anak terkecil dirasa sudah bisa mandiri bahkan satu contoh diantara ketiga contoh tersebut belum memiliki anak, selain itu mereka merasa bosan jika berada di rumah sepanjang hari. Hal ini mendorong mereka untuk mengembangkan diri dengan bekerja di samping alasan ekonomi.

Tabel 24 Sebaran contoh berdasarkan alasan berperan ganda sebagai pekerja

No. Alasan berperan ganda sebagai pekerja Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Ekonomi 48 80,0

2. Pengembangan diri 9 15,0

(19)

Jumlah Peran Istri dalam Sektor Publik dan Domestik

Peran ganda adalah total jumlah peran yang berorientasi pada pendekatan hubungan dengan orang lain dan frekuensi peran (frekuensi kontak face to face dengan orang lain selama satu tahun). Hasil penelitian Chen (2010) menyatakan bahwa klasifikasi peran ganda istri terdiri dari 12 aspek: sebagai anak, istri, orangtua, nenek, saudara kandung, teman, bagian dari keluarga besar, tetangga, pekerja, anggota grup, aktivis keagamaan, dan sukarelawan. Peran yang tidak menunut banyak waktu adalah peran sebagai anak, istri, orangtua, nenek, dan saudara kandung. Lain halnya dengan peran sebagai pekerja buruh. Semakin banyak jumlah peran ganda yang sedang dijalani, maka semakin tinggi peran ganda.

Berdasarkan Tabel 25, lebih dari tiga per empat (86,7%) contoh memiliki peran sebagai anak, artinya mereka masih memiliki orangtua, sebagian besar (96,7%) contoh memiliki peran sebagai istri dan seluruh (100,0%) contoh adalah pekerja buruh, namun sebagian besar (96,7% dan 95,0%) contoh tidak memiliki peran sebagai anggota organisasi buruh dan anggota pengajian karena waktu yang dimiliki contoh sudah dicurahkan seluruhnya untuk bekerja dan melakukan tugas domestik sebagai istri. Menurut hasil wawancara contoh merasa tidak memiliki waktu lagi untuk melakukan kegiatan tersebut. Jumlah peran minimal dan maksimal dari keseluruhan contoh adalah sebanyak 4 dan 11 peran dengan rata-rata 6 hingga 7 peran.

Tabel 25 Sebaran contoh berdasarkan jumlah peran di sektor domestik dan publik No Pernyataan Ya Tidak Jumlah (n=60) Persentase (%) Jumlah (n=60) Persentase (%) 1. Sebagai anak 52 86,7 8 13,3 2. Sebagai istri 58 96,7 2 3,3 3. Sebagai orangtua 55 91,7 5 8,3 4. Sebagai nenek 5 8,3 55 91,7

5. Sebagai saudara kandung 51 85,0 9 15,0

6. Sebagai teman 52 86,7 8 13,3

7. Sebagai panutan keluarga besar

32 53,3 28 46,7

8. Sebagai tokoh masyarakat 18 30,0 42 70,0

9. Sebagai pekerja/buruh 60 100,0 0.0 0,0

10. Sebagai sukarelawan 12 20,0 48 80,0

11. Sebagai anggota organisasi buruh

2 3,3 58 96,7

12. Sebagai anggota pengajian 9 15,0 51 95,0

Minimum – Maksimum 4-11

(20)

Peran ganda lebih menguntungkan untuk kesejahteraan psikologi laki-laki daripada perempuan di Jepang dan Barat (Sugihara 2008). Artinya istri yang bekerja memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang lebih rendah dibandingkan suami yang bekerja karena perempuan yang memiliki peran sebagai istri sekaligus sebagai pekerja akan memiliki beban ganda terkait pekerjaan domestik karena menurut Puspitawati (2009), sistem patriarkhi menganggap suami sebagai pencari nafkah utama (main-breadwinner) dan istri hanya berperan dalam sektor domestik yaitu mengurus rumah tangga (homemaker) dan sebatas menjadi secondary breadwinner.

Frekuensi Peran

Frekuensi peran adalah intensitas/seberapa sering contoh menjalankan peran-peran yang sedang dijalani saat ini. Sering jika contoh melakukan tugas dan fungsi terkait perannya minimal satu kali dilakukan dalam waktu sebulan, jarang jika dilakukan satu kali dalam satu tahun dan tidak pernah jika sama sekali dilakukan. Jika contoh memiliki peran sebagai anak maka frekuensi peran yang diukur adalah seberapa sering interaksi contoh dengan orangtua, peran sebagai istri maka yang dilihat adalah seberapa sering contoh berinteraksi dengan suami, peran sebagai orangtua dan nenek berarti peran yang diukur adalah seberapa sering contoh berinteraksi dengan anak dan cucu. Jika contoh memiliki peran sebagai saudara kandung maka frekuensi peran yang diukur adalah seberapa sering interaksi contoh dengan saudara kandung, peran sebagai teman maka yang dilihat adalah seberapa sering contoh berinteraksi dengan teman, peran sebagai panutan keluarga besar dilihat berdasarkan seberapa sering contoh berinteraksi dengan keluarga besar. Jika contoh memiliki peran sebagai tokoh masyarakat maka frekuensi peran yang diukur adalah seberapa sering contoh berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Pengukuran frekuensi peran contoh sebagai pekerja, sukarelawan, anggota koperasi/organisasi buruh, anggota pengajian/keagamaan diukur berdasarkan seberapa sering contoh berinteraksi dengan berbagai elemen di lingkungan pabrik, masyarakat sekitar terkait program dari pabrik, dengan berbagai elemen di dalam organisasi buruh dan dengan anggota pengajian/keagamaan lainnya.

(21)

Herzog et al. (1998) menyatakan bahwa perempuan yang terlibat dalam peran ganda seperti aktivitas grup akan meningkatkan kesejahteraan subjektifnya. Semakin sering perempuan berinteraksi dengan aktivitas grup maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan subjektif. Sebagian besar (91,7% dan 98,3%) contoh sering berinteraksi dengan suami dan lingkungan pabrik terkait perannya sebagai istri dan pekerja buruh pabrik. Lebih dari tiga per empat (86,7%; 88,3%; 83,4%; 81,7%) contoh sering berinteraksi dengan orangtua, anak, teman, masyarakat (Tabel 26). Artinya contoh sering berinteraksi dalam sektor domestik dengan peran sebagai istri, anak, orangtua dan sering berinteraksi dalam sektor publik dengan peran sebagai pekerja buruh dan tokoh masyarakat. Frekuensi peran sebagai pekerja buruh dan tokoh masyarakat memungkinkan dapat mempengaruhi tingkat kesejahteraan contoh. Hasil penelitian Chen (2010) menyebutkan bahwa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan lansia di China adalah perbedaan gender dan frekuensi peran. Semakin banyak frekuensi peran, kontak dengan tetangga dan aktivitas grup maka semakin tinggi rata-rata kesejahteraan perempuan.

Tabel 26 Sebaran contoh berdasarkan frekuensi peran

No Pernyataan Tidak Pernah Jarang Sering

n % n % n % 1. Dengan orangtua 5 8,3 3 5,0 52 86,7 2. Dengan suami 3 5,0 2 3,3 55 91,7 3. Dengan anak 6 10,0 1 1,7 53 88,3 4. Dengan cucu 48 80,0 3 5,0 9 15,0 5. Dengan saudara Kandung 5 8,3 10 16,7 45 75,0 6. Dengan teman 5 8,3 5 8,3 50 83,4 7. Dengan keluarga Besar 3 5,0 14 23,3 43 71,7 8. Dengan masyarakat 0 0,0 11 18,3 49 81,7 9. Dengan lingkungan Pabrik 0 0,0 1 1,7 59 98,3 10. Dengan anggota Sukarelawan 50 83,3 3 5,0 7 11,7 11. Dengan anggota organisasi buruh 58 96,7 1 1,7 1 1,7 12. Dengan anggota pengajian 42 70,0 14 23,3 4 6,7

(22)

Michelle et al. (1974) menyatakan bahwa peran ganda disebutkan dengan konsep dualisme cultural yakni adanya konsep lingkungan domestik dan publik. Peran domestik mencakup peran perempuan sebagai istri, ibu dan pengelola rumahtangga. Sementara peran publik meliputi pengertian perempuan sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat, dan organisasi masyarakat. Peran ganda adalah konsekuensi perempuan sebagai istri sekaligus sebagai pekerja. Pada variabel peran ganda terdapat dua aspek, yaitu jumlah peran dan frekuensi peran, kemudian kedua aspek tersebut disatukan. Kurang dari tiga per empat (70,0%) contoh memiliki peran ganda dengan kategori sedang dengan rata-rata skor sebesar 60,6 yang juga terkategori sedang (Tabel 27). Semakin tinggi peran ganda berarti semakin banyak jumlah peran yang sedang dijalani contoh dan semakin sering contoh berinteraksi menjalani peran-peran tersebut. Rata-rata peran ganda contoh terkaegori sedang, hal ini terjadi karena contoh sering berinteraksi dalam sektor domestik dengan peran sebagai istri, anak, orangtua dan sering berinteraksi dalam sektor publik hanya sebatas sebagai pekerja buruh dan tokoh masyarakat. Artinya jumlah peran dalam sektor domestik lebih banyak daripada di sektor publik.

Tabel 27 Sebaran contoh berdasarkan kategori peran ganda

No. Kategori peran ganda Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Rendah (0-33,3%) 0 0,0

2. Sedang (33,4-66,6%) 42 70,0

3. Tinggi (66,7-100%) 18 30,0

Minimum – Maksimum 41,7 – 85,4

Rata-rata ± Std. Deviasi 60,6 ± 10,6

Secara umum contoh hanya memiliki waktu rata-rata sekitar 13 jam di rumah per harinya. Waktu ini digunakan contoh untuk melakukan kegiatan domestik dan istirahat sehingga tidak ada waktu lagi untuk melakukan kegiatan publik lainnya. Kemampuan seseorang dalam melakukan penyesuaian dalam pengelolaan waktu merupakan aspek penting dalam melakukan manajemen waktu (Nickell dan Dorsey 1960). Menurut Puspitawati (1992) manajemen sumberdaya keluarga terutama berkaitan dengan manajemen waktu dan pekerjaan merupakan hal yang sangat penting bagi tercapainya tujuan keluarga. Waktu yang banyak dialokasikan untuk bekerja sebagai buruh pabrik dan sebagai istri yang menjalani tugas domestik menyebabkan kurangnya peran lain di sektor publik.

(23)

Strategi Penyeimbangan Antara Keluarga dan Pekerjaan

Pada penelitian ini terdapat dua aspek dalam strategi menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga, yaitu persepsi dan tindakan. Pada setiap aspek terdapat tiga kategori, yaitu prioritas ke keluarga, prioritas ke pekerjaan, dan seimbang. Pada aspek persepsi dengan kategori prioritas ke keluarga, sebagian kecil (1,7%) contoh tidak setuju, lebih dari separuh (65,0%) contoh setuju, kurang dari separuh (33,3%) contoh sangat setuju bahwa keluarga merupakan prioritas utama dibandingkan dengan pekerjaan. Lebih dari tiga per empat (88,3%) tidak setuju, kurang dari separuh (10,0%) contoh setuju, dan sebagian kecil (1,7%) contoh sangat setuju membawa anak ke tempat kerja. Kurang dari separuh (43,3%) contoh tidak setuju, lebih dari separuh (51,7%) contoh setuju, dan sebagian kecil (5,0%) contoh sangat setuju untuk menelepon ke rumah. Pada kategori prioritas ke pekerjaan tiga per empat (75,0%) contoh tidak setuju, kurang dari separuh (23,3%) contoh setuju, dan sebagian kecil (1,7%) contoh sangat setuju bahwa kepentingan anak dan suami dapat dikorbankan. Pada kategori seimbang, sebagian kecil (5,0%) contoh tidak setuju, tiga per empat (75,0%) contoh setuju, kurang dari separuh (20,0%) contoh sangat setuju bahwa masalah keluarga dan pekerjaan tidak dapat dicampuradukkan (Tabel 28).

Tabel 28 Sebaran contoh berdasarakan persepsi dalam menyeimbangkan antara aktivitas pekerjaan dan keluarga

No. Pernyataan Tidak Setuju Setuju Sangat

Setuju

n % n % n %

1 Prioritas ke keluarga :

a. Keluarga prioritas utama dibandingkan dengan pekerjaan 1 1,7 39 65,0 20 33,3 b. Membawa anak ke tempat kerja 53 88,3 6 10,0 1 1,7

c. Hal wajar bagi ibu yang bekerja di luar rumah untuk menelepon ke rumah

26 43,3 31 51,7 3 5,0

2. Prioritas ke pekerjaan : Kepentingan anak

dan suami dapat dikorbankan dibandingkan dengan tugas di tempat kerja

45 75,0 14 23,3 1 1,7

3. Seimbang :

Masalah pekerjaan tidak dapat dicampuradukkan dengan masalah rumah

(24)

Pada aspek tindakan dengan kategori prioritas ke keluarga, sebagian kecil (3,3%) contoh tidak pernah, lebih dari setengah (70,0%) contoh kadang-kadang, dan kurang dari separuh (26,7%) contoh sering tidak masuk kerja karena anak atau suami sakit. Sebagian kecil (8,3%) contoh tidak pernah, tiga per empat (75,0%) contoh kadang-kadang, dan kurang dari separuh (16,7%) contoh sering menunda pekerjaan untuk kepentingan anak. Lebih dari tiga per empat (86,7%) contoh kadang-kadang, kurang dari setengah (13,3%) contoh sering membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum berangkat kerja. Hampir separuh (48,3%) contoh tidak pernah, kurang dari separuh (45%) contoh kadang-kadang, dan sebagian kecil (6,7%) contoh sering tidak mematuhi perintah atasan dengan alasan kepentingan keluarga. Sebagian kecil (15,0%) contoh tidak pernah, lebih dari setengah (80,0%) contoh kadang-kadang, dan sebagian kecil (5,0%) contoh sering pulang lebih awal karena urusan keluarga.

Tabel 29 Sebaran contoh berdasarakan tindakan dalam menyeimbangkan antara aktivitas pekerjaan dan keluarga

No. Pernyataan Tidak Pernah

Kadang-Kadang

Sering

n % n % n %

1. Prioritas ke keluarga : a. Tidak masuk kerja

karena anak atau suami sakit 2 3,3 42 70,0 16 26,7 b. Menunda pekerjaan untuk kepentingan anak 5 8,3 45 75,0 10 16,7 c. Membersihkan rumah terlebih dahulu sebelum berangkat kerja 0 0,0 52 86,7 8 13,3 d. Tidak mematuhi perintah atasan dengan alasan kepentingan keluarga 29 48,3 27 45,0 4 6,7

e. Pulang dari tempat kerja lebih awal karena urusan keluarga

9 15,0 48 80,0 3 5,0

2. Prioritas ke pekerjaan : Melakukan resiko apapun

untuk kemajuan karir 47 78,3 13 21,7 0 0,0

3. Seimbang :

Bersepakat dengan suami untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga

(25)

Pada kategori prioritas ke pekerjaan, lebih dari tiga per empat (78,3%) contoh tidak pernah, kurang dari separuh (21,7%) contoh kadang-kadang melakukan resiko apapun demi kemajuan karir. Pada kategori seimbang sebagian kecil (1,7%) contoh tidak pernah, lebih dari tiga per empat (78,3%) contoh kadang-kadang, dan kurang dari separuh (20,0%) contoh sering bersepakat dengan suami untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga (Tabel 29).

Sumberdaya materi mencakup barang/benda, jasa, waktu, dan energi (Deacon dan Firebaugh 1988). Waktu sifatnya tetap, tidak bisa ditambah, dikurangi atau diakumulasi. Penggunaan waktu yang efektif berkaitan dengan pencapaian kesejahteraan psikologis. Manajemen waktu yang baik adalah salah satu strategi menyeimbangkan keluarga dan pekerjaan, sejalan dengan Poesposoetjipto (1996) seorang perempuan dalam budaya Timur akan terpandang dan disegani bila ia mampu membina keluarga yang sejahtera. Hal tersebut dapat terwujud jika perempuan dapat menjaga keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Ketika perempuan lebih memprioritaskan pekerjaan daripada keluarga, maka akan memicu konflik dalam keluarga, begitu juga ketika perempuan lebih memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan maka akan memicu pemutusan hubungan kerja (PHK).

Pada penelitian ini terdapat dua aspek dalam strategi menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga, yaitu persepsi dan tindakan. Jika kedua aspek disatukan maka terlihat bahwa sebagian besar (80,0%) contoh melakukan keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Hal ini terjadi karena status kepemilikan aset rumah milik orang tua dan hak milik keluarga besar memiliki proporsi yang cukup tinggi. Kondisi ini menyebabkan contoh mudah mendapatkan dukungan sosial dari orang tua dan keluarga besar lainnya untuk melakukan kegiatan domestik seperti mengasuh anak, memasak, membersihkan rumah dan kegiatan domestik lainnya dalam rangka menyeimbangkan antara pekerjaan dan keluarga. Menurut Puspitawati (2008), adanya dukungan sosial dari keluarga maupun dari lingkungan selain keluarga terhadap perempuan bekerja sangat membantu perempuan sebagai istri sekaligus sebagai pekerja. Jika perempuan sukses menyeimbangkan peran-perannya dalam keluarga dan pekerjaan maka akan mempermudah mewujudkan kesejahteraan keluarga. Sebesar 16,7 persen contoh lebih memprioritaskan keluarga daripada pekerjaan

(26)

dan sebagian kecil (3,3%) contoh prioritas pada pekerjaan yaitu sebanyak dua orang (Tabel 30).

Tabel 30 Sebaran contoh berdasarkan kategori strategi perempuan bekerja dalam menyeimbangkan antara aktivitas pekerjaan dan keluarga

No. Kategori strategi perempuan bekerja Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Prioritas keluarga (0-33,3%) 10 16,7

2. Seimbang (33,4-66,6%) 48 80,0

3. Prioritas pekerjaan (66,7-100%) 2 3,3

Minimum – Maksimum 25,0 – 71,0

Rata-rata ± Std. Deviasi 42,5 ± 9,6

Terdapat dua contoh yang memiliki strategi dengan kategori prioritas pada pekerjaan. Contoh pertama adalah seorang penjahit dari PT. SB, usianya baru 35 tahun. Upah yang diterima setiap bulannya adalah Rp 1.172.100,00 sesuai dengan nilai UMR, ia memiliki tiga orang anak dengan umur anak terkecil 5 tahun. Suami contoh yang tidak bekerja diduga penyebab contoh lebih memprioritaskan pekerjaan demi terpenuhinya kebutuhan sehari-hari. Hal ini diperkuat dengan motivasi contoh bekerja adalah karena alasan ekonomi dan contoh tidak memiliki peran lain di sektor publik selain sebagai pekerja buruh pabrik. Contoh kedua yang lebih memprioritaskan pekerjaan daripada keluarga adalah buruh pabrik dengan posisi sebagai pengemas di PT. SB, tingkat pendidikannya yang SD membuat ia berada pada posisi tersebut. Contoh memiliki dua orang anak dengan umur anak terkecil adalah 4 tahun. Ia mendapatkan upah setiap bulannya di bawah nilai UMR yaitu Rp 600.000,00 dan suaminya yang bekerja sebagai supir pun hanya memiliki penghasilan sebesar Rp 600.000,00 setiap bulannya. Penegeluaran keluarga contoh setiap bulannya pun lebih besar daripada pendapatannya, hal ini diduga penyebab contoh lebih memprioritaskan pekerjaan daripada keluarga. Hal ini sejalan dengan Clarke et al. (2004) yang menyatakan bahwa karakteristik personal berkontribusi untuk kesuksesan keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga seiring dengan peran ganda.

(27)

Kesejahteraan Keluarga Kesejahteraan Objektif

Pada penelitian ini kesejahteraan keluarga terdiri dari kesejahteraan objektif dan subjektif. Kesejahteraan objektif adalah kesejahteraan ekonomi yang dilihat berdasarkan pendapatan dan pengeluaran per kapita per bulan.

Jika dilihat berdasarkan garis miskin Kabupaten Bogor 2010 maka dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh memiliki pendapatan di atas garis kemiskinan Rp 197.319,00 dengan proporsi 98,3 persen (Tabel 31). Hal ini dapat terjadi karena rata-rata kontribusi ekonomi yang diberikan perempuan terhadap pendapatan keluarga sebesar 51,0 persen. Kesejahteraan yang diukur dengan menggunakan GK terdapat besar keluarga sebagai indikatornya. Menurut Lewin dan Maurin (2005) besar keluarga merupakan faktor penting yang menentukan kesejahteraan keluarga dan menjadi alat ukur untuk memprediksi tingkat kemiskinan keluarga. Semakin sedikit jumlah anggota keluarga maka semakin banyak sedikit alokasi pengeluaran keluarga sehingga semakin besar peluang keluarga untuk sejahtera.

Dapat disimpulkan bahwa sebagian besar contoh terkategori sejahtera. Hanya satu contoh yang terkategori tidak sejahtera, contoh ini memiliki posisi sebagai bagian umum di PT. PMG dan memiliki lima anak. Meski total pengeluaran per bulan keluarganya lebih besar daripada pendapatan, meski tingkat pendidikan yang ia selesaikan adalah hanya sebatas Sekolah Dasar, dan meski dengan upah di bawah nilai UMR ia berusaha menutupi kebutuhan hidup sehari-hari keluarganya karena suami contoh tidak bekerja. Sumber pendapatan bagi keluarga seluruhnya bersumber dari contoh. Artinya contoh telah berkontribusi ekonomi 100% bagi keluarganya dan telah mengganti posisi suami serta menjalankan fungsi ekonomi secara signifikan.

Tabel 31 Sebaran contoh berdasarkan kesejahteraan objektif yang dilihat dari pendapatan keluarga per kapita per bulan

No. Kesejahteraan objektif Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Tidak sejahtera (≤197. 319)* 1 1,7

2. Sejahtera (>197. 319) 59 98,3

Minimum – Maksimum 85.714,00 – 1.336.050,00 Rata-rata ± Std. Deviasi 607.445,80 ± 26.905,80 Keterangan: * Garis Kemiskinan Kabupaten Bogor BPS 2010

(28)

Contoh dengan kontribusi ekonomi yang besar bagi keluarganya maka akan memiliki total pendapatan keluarga yang besar, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan objektif keluarga. Peluang keluarga untuk sejahtera akan semakin besar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh (45,0%) contoh dengan kontribusi ekonomi kurang dari 50,0 persen dari total pendapatannya dan lebih dari separuh (53,3%) contoh dengan kontribusi ekonomi lebih atau sama dengan 50,0 persen terkategori keluarga sejahtera (Tabel 32). Berdasarkan analisis crosstabs yang dilakukan, nilai signifikansinya adalah 0,031 dan artinya terdapat hubungan yang cukup signifikan antara kontribusi ekonomi dan kesejahteraan objektif.

Tabel 32 Sebaran contoh berdasarkan kontribusi ekonomi dan kesejahteraan

Kesejahteraan

Kontribusi Ekonomi Total

< 50,0% ≥ 50,0% n % n % n % Tidak Sejahtera 0 0,0 1 1,7 1 1,7 Sejahtera 27 45,0 32 53,3 59 98,3 Total 27 45,0 33 55,0 60 100,0 Sig 0,031*

Keterangan: *berkorelasi signifikan pada level 0,05 **berkorelasi signifikan pada level 0,01

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurang dari separuh (30,0%) contoh dengan peran ganda yang tinggi memiliki keluarga terkategori sejahtera. Terdapat sebagian kecil (1,7%) contoh dan kurang dari separuh (45,0%) contoh dengan peran ganda sedang memiliki keluarga terkategori tidak sejahtera dan sejahtera (Tabel 33). Berdasarkan nilai signifikansinya (sig=0,315), dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang cukup signifikan antara peran ganda dan kesejahteraan objektif. Hal tersebut terjadi karena berdasarkan Chen (2010), klasifikasi 12 peran ganda dan 5 peran publik diantaranya, yaitu sebagai tokoh masyarakat, pekerja, sukarelawan, anggota organisasi buruh, dan anggota pengajian, hanya satu peran saja yang memiliki nilai ekonomi/mendapatkan upah yaitu sebagai pekerja. Meski peran ganda yang dimiliki contoh tinggi, namun tidak berhubungan dengan kesejahteraan objektifnya, karena contoh tidak dibayar terkait dengan peran yang dilakukannya.

(29)

Tabel 33 Sebaran contoh berdasarkan peran ganda dan kesejahteraan

Kesejahteraan Peran Ganda Total

Rendah Sedang Tinggi

n % n % n % n %

Tidak Sejahtera 0 0,0 1 1,7 0 0,0 1 1,7

Sejahtera 0 0,0 41 68,3 18 30,0 59 98,3

Total 0 0,0 42 70,0 18 30,0 60 100,0

Sig 0,315

Keterangan: *berkorelasi signifikan pada level 0,05 **berkorelasi signifikan pada level 0,01 Kesejahteraan Subjektif

Definisi dari kesejahteraan subjektif adalah kepuasan hidup berdasarkan standar personal (Chen 2010). Menurut Raharto dan Romdiati (2000) pengukuran kesejahteraan subjektif didasarkan pada pertimbangan individual. Kesejateraan keluarga subjektif tersebut terdiri dari keadaan kesehatan, keuangan, makanan, tempat tinggal, pakaian, materi/aset, pendidikan, manajemen sumberdaya keluarga, pekerjaan, mental dan spiritual, dan hubungan komunikasi antar sesama. Selain itu juga kesejahteraan terhadap keadaan keuangan yang dirasakan contoh (financial well-being).

Sunarti (2001) melakukan penelitian ketahanan keluarga dengan menggunakan pendekatan sistem (input-proses-output). Hasilnya ditemukan faktor laten ketahanan keluarga, yaitu ketahanan fisik, sosial, dan psikologis. Ketahanan fisik mencakup kesejahteraan fisik, ketahanan sosial mencakup kesejahteraan sosial, dan ketahanan psikologis mencakup kesejahteraan psikologis. Pada indkator kesejahteraan fisik, terlihat bahwa separuh (50,0%) dan lebih dari separuh (53,3%) contoh tidak puas terhadap keadaan tabungan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda dan keadaan tabungan keluarga. Tiga per empat (80,0%) contoh cukup puas dengan keadaan keuangan, tempat tinggal keluarga keluarga, kemampuan untuk menangani masalah keuangan, dan keadaan kontribusi untuk keuangan yang lebih baik. Sebagian besar (93,3%) contoh cukup puas dengan keadaan makanan dan pakaian keluarga. Kurang dari tiga per empat (73,3%) contoh cukup puas dengan keadaan materi/asset keluarga dan keterlibatannya dalam aktivitas ekonomi keuangan. Tiga per empat (75,0%) contoh cukup puas dengan gaya manajemen waktu dan manajemen pekerjaannya. Sebagian besar contoh menjawab cukup puas pada indikator kesejahteraan fisik dan hanya sebagian kecil contoh yang menjawab sangat puas untuk setiap indikator (Tabel 34).

(30)

Tabel 34 Sebaran contoh berdasarkan indikator kesejahteraan fisik

No. Indikator Kesejahteraan Fisik Tidak Puas Cukup Puas Sangat Puas

n % n % n %

1. Keadaan keuangan keluarga anda

11 18,3 48 80,0 1 1,7

2. Keadaan makanan keluarga anda

3 5,0 56 93,3 1 1,7

3. Keadaan tempat tinggal keluarga anda

8 13,3 48 80,0 4 6,7

4. Keadaan pakaian keluarga anda 1 1,7 56 93,3 3 5,0

5. Keadaan materi/ aset keluarga anda

13 21,7 44 73,3 3 5,0

6. Keadaan kesehatan fisik anda 5 8,3 49 81,7 6 10,0

7. Survival strategi yang dilaksanakan keluarga

6 10,0 49 81,7 5 8,3

8. Gaya manajemen waktu anda 14 23,3 45 75,0 1 1,7

9. Gaya manajemen keuangan 13 21,7 45 75,0 2 3,3

10. Gaya manajemen pekerjaan 5 8,3 50 83,4 5 8,3

11. Keterlibatan anda dalam aktivitas ekonomi keuangan

6 10,0 44 73,3 10 16,7

12. Keterlibatan suami anda dalam aktivitas ekonomi

8 13,3 36 60,0 16 26,7

13. Keadaan tabungan untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dapat ditunda

30 50,0 28 46,7 2 3,3

14. Keadaani uang cash untuk pengeluaran yang tidak terduga

22 36,7 36 60,0 2 3,3

15. Kemampuan untuk menangani masalah keuangan

10 16,7 48 80,0 2 3,3

16. Keadaan belanja untuk makan tanpa mengganggu anggaran belanja

8 13,4 50 83,3 2 3,3

17. Keadaan kontribusi untuk keuangan yang lebih baik

9 15,0 48 80,0 3 5,0

18. Keadaan menangani masalah untuk membayar tagihan tepat waktu

5 8,3 43 71,7 12 20,0

19. Keadaan dalam menjalani masa tua dengan keuangan yang baik

16 26,7 40 66,7 4 6,6

20. Keadaan tabungan untuk sesuatu yang spesial, misalnya lebaran

18 30,0 39 65,0 3 5,0

21. Anggota keluarga membantu pendapatan keluarga

26 43,3 30 50,0 4 6,7

22. Keadaan tabungan keluarga 32 53,3 26 43,3 2 3,4

23. Keadaan kepala keluarga yang mudah mendapatkan

pekerjaaan

12 20,0 42 70,0 6 10,0

Minimum – Maksimum 17,4 – 82,6

Rata-rata ± Std. Deviasi 43,4 ± 11,9

Pada indikator kesejahteraan sosial, hasil penelitian menunjukkan bahwa tiga per empat (75,0%) contoh tidak puas dengan keterlibatan dalam perkumpulan desa. Lebih dari separuh (68,3%, 61,7%, dan 66,6%) contoh cukup

(31)

puas dengan hubungan/komunikasi dengan orangtua/mertua, suami, dan pembagian peran antara suami-istri (Tabel 35).

Tabel 35 Sebaran contoh berdasarkan indikator kesejahteraan sosial

No. Indikator Kesejahteraan Sosial Tidak Puas Cukup Puas Sangat Puas

n % n % n %

1. Hubungan/ komunikasi dengan orangtua/mertua

6 10,0 41 68,3 13 21,7

2. Hubungan/komunikasi dengan suami

1 1,7 57 61,7 22 36,6

3. Pembagian peran antara suami- istri

10 16,7 40 66,6 10 16,7

4. Keterlibatan anda dalam perkumpulan desa

1 75,0 2 25,0 0 0,0

Minimum – Maksimum 0,0 – 87,5

Rata-rata ± Std. Deviasi 46,5 ± 16,1

Berdasarkan indikator psikologis, terlihat bahwa tiga per empat (75,0%) contoh cukup puas dengan keadaan spiritual/mental, dan perasaan terhadap penghasilan suaminya. Lebih dari tiga per empat (76,7%) contoh cukup puas dengan kebersihan rumahnya. Sebagian besar contoh menjawab cukup puas pada indikator kesejahteraan psikologis (Tabel 36).

Tabel 36 Sebaran contoh berdasarkan indikator kesejahteraan psikologis

No. Indikator Kesejahteraan Psikologis

Tidak Puas Cukup Puas Sangat Puas

n % n % n %

1. Keadaan spiritual/ mental anda 4 6,7 45 75,0 11 18,3 2. Optimisme menyongsong

masa depan

10 16,7 33 55,0 17 28,3

3. Perasaan anda terhadap kebersihan rumah anda

10 16,7 46 76,7 4 6,6

4. Perasaan anda terhadap kesehatan fisik suami anda

2 3,3 51 85,0 7 11,7

5. Perasaan anda terhadap penghasilan suami anda

13 21,7 45 75,0 2 3,3

6. Perasaan anda terhadap kesehatan mental suami anda

2 3,3 53 88,3 5 8,4

7. Perasaan anda terhadap komunikasi dengan suami

3 5,0 26 60,0 21 35,0

8. Perasaan anda terhadap kebutuhan sexual dengan suami

3 5,0 48 80,0 9 15,0

9. Perasaan anda terhadap perilaku suami dalam membantu pekerjaan rumah tangga

5 8,4 41 68,3 14 23,3

10. Perasaan memiliki keuangan lebih baik untuk lima tahun mendatang

20 33,4 35 58,3 5 8,3

Minimum – Maksimum 20,0 – 90,0

(32)

Skor kesejahteraan subjektif keluarga didapatkan dari total skor komposit kesejahteraan fisik, sosial, dan psikologis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar contoh memiliki kesejahteraan subjektif pada kategori sedang dengan persentase sebesar 86,6 persen. Sebanyak 11,7 persen contoh terkategori rendah dan 1,7 persen terkategori tinggi. Seorang contoh yang terkategori tinggi ini merupakan aktivis di pabrik dan cukup berpengaruh bagi teman-temannya di pabrik. Contoh merupakan penjahit di PT. PMG dan memilki 3 orang anak, usia contoh baru 32 tahun dan usia suami contoh 40 tahun. Upah yang ia terima setiap bulannya sudah sesuai dengan nilai UMR. Aktivitas di pabrik terkait perannya di organisasi buruh diduga penyebab contoh memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang tinggi (Tabel 37). Hal ini sejalan dengan Herzog et al. (1998) menyatakan bahwa perempuan yang terlibat dalam peran ganda seperti aktivitas grup akan meningkatkan kesejahteraan subjektifnya.

Tabel 37 Sebaran contoh berdasarkan kategori kesejahteraan keluarga subjektif

No Kesejahteraan keluarga subjektif Jumlah (n=60) Persentase (%)

1. Rendah (0-33,3%) 7 11,7

2. Sedang (33,4-66,6%) 52 86,6

3. Tinggi (66,7-100%) 1 1,7

Sebagian besar buruh pabrik memiliki tingkat kesejahteraan subjektif yang sedang karena proporsi kontribusi ekonomi contoh terhadap pendapatan keluarga cukup besar yaitu 51,0 persen dan sebagian besar contoh dapat melakukan keseimbangan antara keluarga dan pekerjaan. Hal ini didukung oleh Puspitawati (2008) bahwa kontribusi pendapatan istri terhadap pendapatan keluarga berkorelasi signifikan dengan kesejahteraan subjektif dan adanya pengaruh antara strategi penyeimbangan dengan kesejahteraan keluarga subjektif (Puspitawati 2009). Semakin besar kontribusi ekonomi perempuan yang diberikan pada pendapatan keluarganya maka semakin tinggi tingkat kesejahteraan subjektifnya. Semakin contoh dapat melakukan keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga maka semakin menaikkan tingkat kesejahteraan subjektif.

Hubungan Antar Variabel

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara lama pendidikan contoh dan kesejahteraan objektif. Artinya semakin tinggi tingkat pendidikan contoh maka peluang contoh untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan pendapatan yang lebih tinggi

(33)

semakin besar sehingga peluang keluarga untuk lebih sejahtera juga semakin besar. Hasil ini sejalan dengan Rambe (2004) bahwa pendidikan kepala keluarga memiliki pengaruh signifikan terhadap kesejahteraan, pendidikan merupakan variabel yang dapat mempengaruhi kesejahteraan secara signifikan. Terdapat hubungan yang positif signifikan antara kontribusi ekonomi perempuan dan kesejahteraan objektif. Hal ini berarti semakin tinggi kontribusi ekonomi yang diberikan oleh perempuan pada keluarga maka semakin tinggi pula kesejahteraan keluarga. Hal ini didukung Puspitawati (2008) yang menyatakan bahwa kontribusi pendapatan istri terhadap pendapatan keluarga berkorelasi signifikan dengan kesejahteraan.

Antara lama pendidikan contoh dan kesejahteraan subjektif memiliki hubungan yang positif signifikan. Artinya, semakin tinggi pendidikan contoh maka akan semakin tinggi kesejahteraan subjektif contoh. Hal ini sejalan dengan (Zhang 2007) yang menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi kesejahteraan subjektif adalah umur, gender dan pendidikan. Didukung pula oleh Lee (2006) yang menyatakan bahwa pendidikan berhubungan positif dengan kesejahteraan. Terdapat hubungan yang positif signifikan antara penyeimbangan antara pekerjaan dan keluarga dengan kesejahteraan subjektif. Semakin tinggi contoh memprioritaskan keluarga maka semakin tinggi kesejahteraan subjektif contoh. Hasil ini didukung Puspitawati (2009) yang mengungkapkan bahwa bila contoh semakin memprioritaskan keluarga lebih besar daripada pekerjaan maka berpengaruh terhadap peningkatan kesejahteraan baik fisik, sosial maupun psikologis. Didukung pula oleh Lee (2006) yang menyatakan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga berhubungan positif dengan kesejahteraan, serta hasil penelitian Beham (2010) yang mengungkapkan bahwa keseimbangan antara pekerjaan dan keluarga berpengaruh terhadap kepuasan.

Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara peran ganda, ksejahteraan objektif dan subjektif, namun arahya positif. Artinya semakin tinggi peran ganda, maka memiliki kecenderungan semakin tinggi pula kesejahteraan objektif dan subjektif. Semakin banyak peran yang dimiliki, maka kecenderungan semakin tinggi pendapatan yang diperoleh dan pengembangan diri perempuan semakin optimal. Hal ini dapat terjadi karena sebagian besar contoh merasa cukup puas dengan gaya manajemen pekerjaan, keadaan keuangan keluarga, dan keterlibatan dalam aktivitas ekonomi keuangan. Meski jam kerja contoh di pabrik

Gambar

Tabel 14 Sebaran suami contoh berdasarkan jenis pekerjaan
Tabel 20 Sebaran contoh berdasarkan rata-rata pengeluaran keluarga pangan      dan non pangan per bulan
Tabel 23 Sebaran contoh berdasarkan kepemilikan aset  Jenis aset
Tabel 25 Sebaran contoh berdasarkan jumlah peran di sektor domestik dan                       publik  No  Pernyataan  Ya  Tidak  Jumlah   (n=60)  Persentase  (%)  Jumlah  (n=60)  Persentase (%)  1
+7

Referensi

Dokumen terkait

Teknik analisis data yang digunakan dengan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dengan grafik.Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu pekerja pabrik

Kesimpulan : Pada penelitian ini, proporsi dermatomikosis superfisial yang dijumpai pada pekerja pabrik tahu di Desa Mabar Kecamatan Medan Deli sebesar 25%, sebagian besar

Besar kontribusi pengaruh jumlah anggota keluarga, luas lahan, umur, pendidikan, pendapatan dan jumlah tenaga kerja terhadap jumlah jam kerja yang

Gambar 7 Sebaran contoh berdasarkan tingkat kecukupan energi dan jenis kelamin Dapat dilihat bahwa sebagian besar contoh laki-laki maupun perempuan memiliki intake energi

Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa sebagian besar contoh (75.0%) dengan tingkat kecukupan energi yang kurang banyak terdapat ada contoh yang berpendapatan &lt; Rp

tambahan yang dimiliki oleh suami menyebabkan pendapatan keluarga, khususnya pendapatan suami yang memiliki kontribusi terbesar terhadap keluarga, lebih besar

Untuk Desa Pasindangan, sebagian besar (72%) contoh merupakan rumahtangga tidak miskin dan sisanya (28%) contoh merupakan rumahtangga miskin, sedangkan di Desa Banjarsari jumlah

Abstrak ________ Kata kunci Latar Belakang Metode Hasil Pembahasan Simpulan Daftar Pustaka Contoh proporsi naskah artikel penelitian eksperimen. (Ucapan