• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENDAHULUAN KOLIK ABDOMEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN PENDAHULUAN KOLIK ABDOMEN"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENDAHULUAN

KOLIK ABDOMEN

I. KONSEP DASAR MEDIS 1.1 Pengertian

1. Collic abdomen adalah nyeri perut yang kadang timbul secara tiba-tiba dan kadang hilang dan merupakan variasi kondisi dariyang sangat ringan sampai yang bersifat fatal (Ilmu Penyait Dalam, 2001 : 92).

2. Colic Abdomen adalah gangguan pada aliran normal isi usus sepanjang traktus intestinal (Nettina, 2001).

3. Obstruksi terjadi ketika ada gangguan yang menyebabkan terhambatnya aliran isi usus ke depan tetapi peristaltiknya normal (Reeves, 2001)..

1.2 Anatomi

Gaster terletak melintang dari kiri ke kanan melintasi abdomen bagian atas antara hati dan diafragma. Dalam keadaan kosong gaster berbentuk huruf J, gaster akan berakhir pada pylorus yang mempunyai sebuah otot sphincter yang berfungsi menutup dan membuka saat pengisian dan pengosongan lambung.

Gaster berlanjut kedalam duodenum yang berjalan secara anatomis dan visuil sulit dibedakan dari jejenum dan ileum, hanya saja panjang duodenum, kira-kira 25 cm dan berakhir pada ligmen-ligmen treltz berupa sebuah ligamen yang berjalan dari sisi kanan diafragma dekat hiafus esophagus dan melekat pada perbatasan duodenum dan jejenum.

Sisa dari usus halus adalah jejenum ¾ bagian akhir disebut ileum. Secara anatomis letak jejenum adalah diperut bagian kiri, sedangkan ileum dibagian kanan. Makanan masuk melalui sphincter pylorium keduodenum, maka sisa makanan akan melalui katub ileoccal valve,

(2)

yang mencegah berbaliknya makanan dari usus besar kedalam usus halus. Pada ujung caecum terdapat appendix vermicularis.

Colon / usus besar :

Ini lebih besar dari usus halus yang terdiri dari :

* Caecum * Colon pars desendens * Colon Pars aseenden * Rectum

* Colon transversum

Lapisan usus besar ini terdiri dari

* Tunika serosa * Tunika submukosa * Tunika muskularis * Tunika mukosa

1.3 Etiologi

a. Inflamasi peritoneum parietal : perforasi peritonitis, opendisitis, diverti kulitis, pankreanitis, kolesistitis.

b. Kelainan mukosa viseral : tukak peptik, inflamatory bowel disease, kulitis infeksi, esofagitis.

c. Obstrukti viseral : ileus obstruksi, kolik bilier atau renal karena batu. d. Regangan kopsula organ : hepatitis kista ovarium, pilelonefritis. e. Gangguan vaskuler : iskemia atau infark intestinal.

f. Gangguan motilitas : irritable bowel syndrome, dispepsia fungsional. g. Ekstra abdominal : hespes trauma muskuloskeletal, infark miokard

dan paru dan lainnya.

1.4 Patofisiologi

Patofisiologi : rasa sakit perut, baik mendadak maupun berulang, biasanya selalu bersumber :

1. Visera perut

2. Organ lain di luar perut 3. Lesi pada susunan saraf spinal 4. Gangguan metabolic

(3)

Rasa sakit perut somatik berasal dari suatu proses penyakit yang menyebar keseluruh peritonium dan melibatkan visera mensentrium yang berisi banyak ujung saraf somatik , yang lebih dapat meneruskan rasa sakit nya dan lebih dapat melokalisasi rasa sakit daripada saraf otonom. Telah diketahui pula bahwa gangguan pada visera pada mulanya akan menyebabkan rasa sakit visera, tetapi kemudian akan diikuti oleh rasa sakit somatik pula, setelah peritoneum terlibat. Rasa sakit somatik yang dalam akan disertai oleh tegangan otot dan rasa mual yang merupakan gejala khas peritonitis. Refleks rasa sakit perut dapat pula timbul karena adanya rangsangan pada nervus frenikus, misalnya pada pneumonia. Rasa sakit yang berasal dari usus halus akan timbul didaerah perut bagian atas dan epigastrium, sedangkan rasa sakit dari usus besar akan timbul dibagian bawah perut.Reseptor rasa sakit di dalam traktus digestivus terletak pada saraf yang tidak bermielin yang berasal dari sistim saraf otonom pada mukosa usus. Jaras saraf ini disebut sebagai serabut saraf C yang dapat meneruskan rasa sakit lebih menyebar dan lebih lama dari rasa sakit yang dihantarkan dari kulit oleh serabut saraf A.

Reseptor nyeri pada perut terbatas di submukosa, lapisan muskularis dan serosa dari organ di abdomen. Serabut C ini akan bersamaan dengan saraf simpatis menuju ke ganglia pre dan paravertebra dan memasuki akar dorsa ganglia. Impuls aferen akan melewati medula spinalis pada traktus spinotalamikus lateralis menuju ke talamus, kemudian ke konteks serebri.

Impuls aferen dari visera biasanya dimulai oleh regangan atau akibat penurunan ambang nyeri pada jaringan yang meradang. Nyeri ini khas bersifat tumpul, pegal, dan berbatas tak jelas serta sulit dilokalisasi. Impuls nyeri dari visera abdomen atas (lambung, duodenum, pankreas, hati, dan sistem empedu) mencapai medula spinalis pada segmen thorakalis 6,7,8 serta dirasakan didaerah epigastrium.Impuls nyeri yang timbul dari segmen usus yang meluas dari ligamentum Treitz sampai fleksura hepatika memasuki segmen Th 9 dan 10, dirasakan di sekitar umbilikus. Dari kolon distalis, ureter, kandung kemih, dan traktus

(4)

genitalia perempuan, impuls nyeri mencapai segmen Th 11 dan 12 serta segmen lumbalis pertama. Nyeri dirasakan pada daerah supra publik dan kadang-kadang menjalar ke labium atau skrotum. Jika proses penyakit meluas ke peritorium maka impuls nyeri dihantarkan oleh serabut aferen somatis ke radiks spinals segmentalis.Nyeri yang disebabkan oleh kelainan metabolik seperti pada keracunan timah dan porfirin belum jelas patofisiologi dan patogenesisnya.

Patofisiologi sakit perut berulang yang fungsional (tidak berhubungan dengan kelainan organik) masih sulit dimengerti. Diperkirakan ada hubungan antara sakit perut berulang fungsional dengan penurunan ambang rangsang nyeri. Berbagai faktor psikologik dan fisiologik dapat berperan sebagai mediator dari sakit perut berulang fungsional.

1.6. Klasifikasi

1. Jenis nyeri perut. a. Nyeri Viseral

Terjadi bila terdapat rangsangan pada organ atau struktur dalam rongga perut. Peritoneum yang menyelimuti organ perut dipersarafi oleh system saraf otonom dan tidak peka terhadap rabaan, atau pemotongan. Dengan demikian, sayatan atau penjahitan pada usus dapat dilakukan tanpa terasa oleh pasien. Akan tetapi, bila terjadi kontraksi yang berlebihan pada otot yang menyebabkan iskemia, misalnya pada kolik atau radang.pasien yang merasakan nyeri visceral tidak dapat menunjukan secara tepat letak nyeri.

Saluran cerna yang berasal dari usus depan (foregut),yaitu lambung, duodenum, sistem hepatobilier, dan pancreas menyebabkan nyeri di ulu hati atau epigastrium.

Saluran cerna yang berasal dari usus tengan (midgut), yaitu usus halus dan usus besar sampai pertengahan colon transversum menyebabkan nyeri di sekitar umbilicus.

(5)

Saluran cerna yang berasal dari usus belakang,(hindgut) yaitu pertengahan kolon transversum sampai dengan kolon sigmoid menimbulkan nyeri perut bagian bawah termasuk buli-buli dan rektosigmoid.

Nyeri Viseral tidak disertai rangsangan peritoneum, sehingga pasien biasanya dapat aktif bergerak.

b. Nyeri Somatik

Terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi. Nyeri dirasakan seperti ditusuk-tusuk atau disayat, dan pasien dapat menunjukan secara tepat letak nyeri dengan jari. Setiap gerakan penderita, baik gerak tubuh maupun napas yang dalam atau batuk, akan menambah rasa nyeri sehingga penderita gawat abdomen yang disertai rangsangan peritoneum berusaha untuk tidak bergerak, bernapas dangkal dan menahan batuk.

2. Letak Nyeri Perut

Nyeri viseral dari suatu organ biasanya sesuai letak dengan organ tersebut pada masa embrional, sedangkan letak nyeri somatik biasanya dekat dengan organ sumber nyeri somatik.

3. Sifat Nyeri a. Nyeri alih

Terjadi jika suatu segmen persarafan melayani lebih dari satu daerah.

Misalnya :

1) Rangsangan pada diafragma oleh perdarahan atau peradangan akan dirasakan nyeri dibahu

2) Rangsangan pada kolesistitis akut dirasakan di ujung belikat.

3) Abses dibawah diafragma atau rangsangan karena radang atau trauma pada permukaan limpa atau hati akan dirasakan nyeri dibahu.

(6)

4) Kolik ureter atau kolik pielum, nyeri dirasakan sampai ke alat kelamin luar seperti labium mayor pada wanita dan testis pada pria.

b. Nyeri Proyeksi

Adalah nyeri yang disebabkan oleh rangsangan saraf sensorik akibat cedera atau radang saraf.contoh: nyeri fantom setelah amputasi, atau nyeri perifer setempat pada herpes zoster.

c. Nyeri kontinu

Nyeri akibat rangsangan pada peritoneum parietal akan dirasakan terus-menerus karena berlangsung terus.pada saat pemeriksaan penderita peritonitis, ditemukan nyeri tekan setempat, dan defense muscular untuk melindungi bagian yang meradang dan menghindari gerakan atau tekanan setempat. d. Nyeri kolik

Kolik merupakan nyeri viseral akibat spasme otot polos organ berongga dan biasanya disebabkan oleh hambatan pasase dalam organ tersebut (obstruksi usus, batu ureter, batu empedu, peningkatan intraluminer). Nyeri ini timbul karena hipoksia, dan dirasakan hilang timbul, mual bahkan sampai muntah, dan dalam serangan penderita sangat gelisah, kadang sampai berguling-guling ditempat tidur. Nyeri kolik mempunyai Trias yang khas, yaitu serangan nyeri perut yang kumatan disertai mual atau muntah dan gerak paksa.

e. Nyeri Iskemik

Nyeri ini sangat hebat, menetap, dan tidak menyurut. Ini merupakan tanda jaringan terancam nekrosis, lebih lanjut akan tampak tanda intosikasi umum.

f. Nyeri pindah

Nyeri berubah sesuai dengan perkembangan patologi, misalnya tahap awal apendisitis, nyeri visceral dirasakan disekitar pusat disertai rasa mual karena apendiks termasuk usus tengah, setelah diseluruh dinding termasuk peritoneum nyeri dirasakan

(7)

dirasakan perut kanan bawah, jika terjadi nekrosis dan gangren, nyeri berubah menjadi nyeri iskemik, menetap dan tidak menyurut, dan dapat jatuh kedalam toksis.Pada perforasi tukak nyeri dirasakan di ulu hati pindah ke kanan bawah. - Menghindari mengkonsumsi sayuran tertentu misalnya, kol, sawi

- Menghindari melakukan aktivitas yang berat 1.7. Manifestasi Klinis

Klien akan merasakan nyeri perut yang hebat / nyeri tekan, muntah, bisa juga kenaikan suhu bisa juga disertai dengan gejala yang sesuai penyakitnya.

Skala nyeri

I : Ringan : telah mengganggu Adl dan pasien dapat tidur II : Sedang : mengganggu ADL dan pasien dapat tidur III : Berat : mengganggu ADL dan pasien tidak dapat tidur 1.8. Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan penunjang kadang perlu untuk mempermudah mengambil keputusan, misalnya pemeriksaan darah, urin, feses. Kadang perlu juga dilakukan pemeriksaan radiologi dan endoskopi.

Beberapa uji laboratorium tertentu dilakukan antara lain nilai hemoglobin dan hematokrit, untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan atau dehidrasi. Hitung leukosit dapat menunjukkan adanya proses peradangan. Hitung trombosit dan faktor koagulasi, disamping diperlukan untuk persiapan bedah, juga dapat membantu menegakkan diagnosis yang lainnya.

1.9. Pencegahan

1. Mengurangi mengkonsumsi makanan yang pedas 2. Tidak mengkonsumsi makanan yang asem 3. Tidak mengkonsumsi mie instant

4. Menghindari mengkonsumsi sayuran tertentu misalnya, kol, sawi 5. Menghindari melakukan aktivitas yang berat

(8)

1.10.Penatalaksanaan

1. Obat prokinetik, untuk mempercepat peristaltik saluran gastrointestinal.

Ex. Betanekol, metoklopramid, domperiden dan cisaride

2. Obat anti sekretorik, untuk menurunkan keasaman dan menurunkan jumlah sekresi lambung. Pada umumnya tergolong antagonis reseptor H2 (ARH2).

Ex. Simetidine, rantidine dan famatidin 3. Antasida

4. Obat pelindung mukosa Ex. Sukralfat.

II. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN 2.1. Pengkajian, meliputi : a. Identitas klien 1) Nama 2) Umur 3) Jenis kelamin 4) Suku bangsa 5) Pekerjaan 6) Pendidikan 7) Alamat 8) Tanggal MRS 9) Diagnosis b. Keluhan utama

Keluhan yang dirasakan klien sebelum MRS dan saat MRS. Biasanya klien mengeluh nyeri perut, defans muskular, muntah dan lain-lain. c. Riwayat kesehatan

 Riwayat kesehatan sekarang

Sejak kapan serangan itu timbul, lokasi, kualitas, dan faktor yang mempengaruhi dan memperberat keluhan sehingga dibawa ke Rumah Sakit.

(9)

 Riwayat kesehatan dahulu

Pasien mempunyai riwayat penyakit tertentu seperti implamasi peritonium, appendisitis, diverkulitis, pankreasitis, colesititis, dan lain-lain.

 Riwayat kesehatan keluarga

Gambaran mengenai kesehatan keluarga dan adanya penyakit keturunan atau menular.

d. Pola- pola fungsi kesehatan

 Pola pesepsi dan tata laksana hidup sehat

Perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan sehingga dapat menimbulkan perawatan diri.

 Pola nutrisi dan metabolisme

Terjadi gangguan nutris karena klien merasakan nyeri sehingga tidak toleran terhadap makanan dan klien selalu ingin muntah.  Pola eliminasi

Terjadi gangguan karena klien tidak toleran terhadap makanan sehingga terjadi konstipasi.

 Pola aktivitas dan latihan

Akan terjadi kelemahan dan kelelahan.  Pola persepsi dan konsep diri

Tidak terjadi gangguan / perubahan dalam diri klien.  Pola sensori dan kognitif

Kurangnya pengetahuan akan menyebabkan collic abdomen yang berulang.

 Pola reproduksi dan seksual

Tidak terjadi dalam gangguan dalam pola reproduksi dan seksual.  Pola hubungan peran

Kemungkinan akan terjadi perubahan peran selama klien sakit sehubungan dengan proses penyakitnya.

 Pola penanggulangan stress

Meliputi : Penyebab stress, koping terhadap stress dan pemecahan masalah

(10)

 Pola tata nilai dan kepercayaan

Tidak terjadi gangguan pada pola tata nilai dan kepercayaan. e. Pemeriksaan fisik

 Status kesehatan umum

Akan terjadi nyeri perut yang hebat, akibat proses penyakitnya.  Sistem respirasi

Sesuai dengan derajat nyerinya, jika nyerinya ringan kemungkinan tidak terjadi sesak tapi jika derajat nyerinya hebat / meninggi akan terjadi sesak.

 Sistem kardiovaskuler

Bisa terjadi takikardi, brodikardi dan disritmia atau penyakit jantung lainnya.

 Sistem persyarafan

Nyeri abdumen, pusing/sakit kepala karena sinar.  Sistem gastrointestinal.

Pada sistem gastrointestinal didapatkan intoleran terhadap makanan / nafsu makan berkurang, muntah.

- Inspeksi : Bentuk simetris

- Palpasi terdapat nyeri tekan superfisial pembuluh darah masa hepar dan lian tidak teraba.

- Perfusi : terdengar redup atau suara tympani cairan atau masa berkurang

- Auskultasi : bising usus (dengan menggunakan difragma stetoskop) peristaltik usus meningkat

 Sistem genitourinaria/eliminasi

Terjadi konstipasi akibat intoleransi terhadap makanan. f. Analisa Data

 Data 1

Ds : Nyeri pada perut

Do : Ekspresi wajah penderita, postur tubuh, berhati-hati dengan abdomen, respon autonomik misalnya perubahan tanda vital.

(11)

Masalah : Gangguan rasa nyaman (nyeri akut / kronik). Etiologi : Proses penyakitnya.

 Data 2

Ds : Klien terlihat gelisah

Do : Perubahan tanda vital, perilaku menyerang, panik, kurang kontak mata, ekspresi wajah.

Masalah : Ansietas / cemas

Etiologi : Perubahan status kesehatan (ancaman kematian)  Data 3

Ds : Nyeri perut

Do : Muntah, intoleran terhadap makanan, mual. Masalah : Resiko gangguan pemenuhan nutrisi

Etiologi : Anoreksia (proses penyakitnya) 2.2 Diagnosa keperawatan

 Data 1

Gangguan rasa nyaman (nyeri akut/kronis) berhubungan dengan proses penyakitnya ditandai dengan nyeri perut, ekspresi wajah penderita, postur tubuh, berhati-hati dengan abdomen, respon autonomik.

 Data 2

Ansietas (cemas) berhubungan dengan status kesehatan (ancaman kematian) ditandai dengan klien terlihat gelisah, perubahan tanda vital, prilaku menyerang, panik, kurang kontak mata, ekspresi wajah penderita.

 Data 3

Resiko gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia (proses penyakitnya) ditandai dengan muntah, mual, nyeri perut, intoleran terhadap makanan.

2.3 Perencanaan

(12)

Gangguan rasa nyaman (nyeri akut/kronis) berhubungan dengan proses penyakitnya ditandai dengan nyeri perut, ekspresi wajah penderita, postur tubuh, berhati-hati dengan abdomen, respon autonomik.

Tujuan : Nyeri berkurang Kriteria hasil :

 Klien menyatakan nyeri mulai berkurang  Ekspresi wajah klien tidak menyeringai * Rencana tindakan

a. Catat keluhan nyeri, termasuk lokasi lamanya. b. Observasi TTV klien.

c. Kaji ulang faktor yang meningkatkan atau menurunkan nyeri. d. Berikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi untuk

pasien.

e. Identifikasi dan batasi makanan yang menimbulkan ketidaknyamanan.

f. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi. * Rasional :

a. Nyeri tidak selalu ada tetapi bila ada harus dibandingkan dengan gejala nyeri pasien sebelumnya dimana dapat membantu siagnosa.

b. Untuk mengetahui perkembangan klien.

c. Membantu dalam membuat diagnosa dan kebutuhan terapi. d. Makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga

menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin.

e. Makanan khusus yang menyebabkan distress bermacam-macam antara individu. Penelitian menunjukkan merica dan kopi berbahaya dapat menimbulkan dispepsia.

(13)

 Data 2

Ansietas (cemas) berhubungan dengan status kesehatan (ancaman kematian) ditandai dengan klien terlihat gelisah, perubahan tanda vital, prilaku menyerang, panik, kurang kontak mata, ekspresi wajah penderita.

Tujuan : Cemas berkurang Kriteria hasil :

 Menunjukkan rileks  Klien tidak terlihat gelisah

 Menunjukkan pemecahan masalah * Rencana tindakan

a. Awasi respon fisiologis seperti takipnea, palpitasi.

b. Catat petunjuk prilaku seperti gelisah, mudah terangsang, kurang kontak mata.

c. Dorong pernyataan takut dan ansietas : berikan umpan balik. d. Dorong orang terdekat tinggal dengan pasien.

e. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi * Rasional

a. Dapat menjadi indikatif derajat takut yang dialami pasien tetapi dapat juga berhubungan dengan kondisi fisik.

b. Indikator derajat takut yang dialami pasien,misal : pasien akan merasa tak terkontrol terhaap situasi atau mencapai status panik.

c. Membantu pasien menerima perasaan dan memberikan kesempatan untuk memperjelas kesalahan konsep.

d. Membantu menurunkan takut melalui pengalaman menakutkan menjadi seorang diri.

e. Untuk mempercepat proses penyembuhan dan memberikan rasa tenang pada klien.

 Diagnosa 3

Resiko gangguan pemenuhan nutrisi berhubungan dengan anoreksia (proses penyakitnya) ditandai dengan muntah, mual, nyeri perut,

(14)

intoleran terhadap makanan.

Tujuan : Klien tidak merasa nyeri perut] Kriteria hasil :

 Klien tidak merasa mual dan muntah.  Klien toleran terhadap makanannya. * Rencana tindakan

a. Kaji dan observasi TTV klien.

b. Dorong klien untuk makan makanannya sedikit demi sedikit. c. Berikan makan sedikit tapi sering sesuai indikasi pasien. d. Kolaborasi dengan tim gizi dalam pemberian diit.

* Rasional

a. Untuk mengetahui keadaan / perkembangan klien.

b. Agar isi dalam lambung tidak kosong atau memperbaiki keadaan sistem pencernaan klien.

c. Makanan mempunyai efek penetralisir asam, juga menghancurkan kandungan gaster. Makan sedikit mencegah distensi dan haluaran gastrin.

d. Melakukan fungsi independen perawat. 2.4 Pelaksanaan / implementasi

Pada tahap ini ada pengolahan dan perwujudan dari rencana perawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan secara optimal.

2.5 Evaluasi

Evaluasi adalah perbandingan yang sistemik dan terencana tentang kesehatan pasien dengan tujuan yang telah ditetapkan dan dilakukan dengan cara berkesinambungan dengan melibatkan pasien dan tenaga kesehatan lain.

(15)

PENYIMPANGAN KDM

Inflamasi peritonium perietal

Perforasi peritontis

Kelainan mukosa viseral

Divertikulitis

Apendisitis Pankreasitis Kolesitisis

Gangguan veskuler Obstruksi viseral Pegangan kapsula organ Ekstra abdominal Gangguan motilitas Colic abdomen

Gangguan rasa nyaman (nyeri)

Hipertermi Sepsis

Resiko syok neurogenik

Intoleransi nutrisi

Mual muntah

Anoreksia Bising usus meningkat

Gangguan pola nutrisi Gangguan perfusi jaringan

(16)

DAFTAR PUSTAKA

H. Slamet Suyono. Prof. Dr. SpPD. KE., Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, FKUI Jakarta, 2001.

H. Syaifuddin Drs. B.Ac, Anatomi Fisiologi, EGC Jakarta, 2007.

Marllyn E. Doenges dkk, Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3, Jakarta, 2000.

Mudjiastuti, Diktat Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Masalah Pencernaan Makanan, Surabaya, Tidak dipublikasikan.

Nettina, Sandra M. Pedoman Praktik Keperawatan. Alih bahasa Setiawan dkk. Ed. 1. Jakarta : EGC; 2001

Smeltzer Suzanne C. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth. Alih bahasa Agung Waluyo, dkk. Editor Monica Ester, dkk. Ed. 8. Jakarta : EGC; 2001.

Referensi

Dokumen terkait

S: Pasien mengatakan nyeri luka operasi yang dirasakan seperti disayat-sayat di abdomen kuadran kanan dan kiri bawah regio suprapubik, intensitas nyeri sedang

S : klien mengatakan merasa kurang nyaman karena terpasang selang pipis, pasien juga mengatakan nyeri post operasi, P: nyeri ketika beraktivitas, Q: seperti ditusuk-tusuk, R:

- Bantu pasien dalam merawat diri dan pelaksanaan aktivitas bila pasien merasa lelah - Anjurkan untuk sitirahat bila pasien merasa lelah / bila adanya nyeri.. - Bantu memilih

Pasien juga berasa ada cairan yang turun dari belakang hidung ke tenggorokan serta sering pusing seperti ditusuk- tusuk dan kedua rongga hidungnya tersumbat.. Kepala dirasakan

Merupakan alasan utama pasien untuk datang ke tempat pelayanan kesehatan dan apa saja yang dirasakan pasien. Yang umumnya pasien datang dengan keluhan nyeri kepala di daerah

S: pasien masih merasa nyeri seperti ditusuk-tusuk didaerah simfisis yang masih hilang timbul dengan skala nyeri 2 O: ekspresi wajah pasien sudah sedikit. rileks, TD : 130/80

 Terjepitnya urat saraf.. Nyeri yang dirasakan oleh pasian juga tergantung dari cara jatuh, penyebab jatuh, tempat jatuh dan posisi ketika pasien terjatuh. Pada

Saat dilakukan pengkajian pada nn.v nyerinya skala 7 seperti ditusuk-tusuk, klien juga tampak meringis kesakitan karena nyeri yang dirasakan hilang timbul saat