• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum Farmasi Fisika Kelarut

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Laporan Praktikum Farmasi Fisika Kelarut"

Copied!
22
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi zat terlarut didalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu. Larutan memainkan peranan penting dalam kehidupan sehari-hari. Di alam kebanyakan reaksi berlangsung dalam larutan air, tubuh menyerap mineral, vitamin dan makanan dalam bentuk larutan.Sejalan dengan pesatnya perkembangan penelitian di bidang obat, saat ini tersedia berbagai pilihan obat, sehingga diperlukan pertimbangan yang cermat dalam pemilihan obat untuk mengobati suatu penyakit, kelarutan sangat besar pengaruhnya terhadap pembuatan obat dimana bahan-bahan dapat dicampurkan menjadi suatu larutan sejati, larutan koloid, dan dispersi kasar.

Data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting untuk diketahui dalam pembuatan sediaan farmasi. Sediaan farmasi cairan seperti sirup, eliksir, obat tetes mata, injeksi dan lain-lain dibuat dengan menggunakan pembawa air. Bahkan untuk sediaan obat lainnya seperti suspensi, tablet atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap diperlukan karena didalam saluran cerna obat harus dapat melarut dalam cairan saluran cerna yang komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorpsi.

Pada umumnya obat baru dapat diabsorpsi dari saluran cerna dalam keadaan telarut kecuali kalau transport obat melalui mekanisme pinositosis. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di dalam air.

Faktor – faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu adalah suhu, pH, jenis pelarut, bentuk dan ukuran partikel, konstanta dielektrik bahan pelarut dan penambahan surfaktan.

(2)

farmasetis (dibidang farmasi) dan lebih jauh lagi dapat bertindak sebagai standar atau uji kelarutan.

Oleh karena itu , percobaan kelarutan sangat penting dilakukan agar kita dapat mengetahui usaha – usaha yang dilakukan untuk meningkatkan kelarutan suatu obat yang dapat mempermudah absorpsi obat didalam tubuh manusia.

1.2 Tujuan Percobaan

1. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif.

2. Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan satu zat. 3. Menjelaskan usaha-usaha yang digunakan untuk meningkatkan kelarutan

suatu zat aktif dalam air dalam pembuatan sediaan cair. 1.3 Maksud Percobaan

Untuk mengetahui dan memahami perbandingan kelarutan paracetamol di dalam air, alkohol dan propilenglikol.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Teori Umum

Kelarutan atau solubility (s) adalah kebanyakan senyawa dalam satuan garam yang dapat membuat jenuh larutan. Jika volume larutan dm3 maka

kelarutan itu mempunyai satuan molar (m) (Martin, 1990).

(3)

solut yang tidak terlarut merupakan contoh lain dari keadaan kesetimbangan dinamik (Mochtar, 1989).

Jika gambar ionik dimasukkan kedalam air, maka banyaknya garam yang dapat larut dalam sejumlah pelarut tertentu merupakan nilai dari perkalian ion-ion yang bergam dan merupakan salah stu sifat fisis dari senyawa/garam itu sendiri (Martin, 1990).

Banyaknya garam yang dapat larut dalam sejumlah pelarut disebut kelarutan, jika volume larutan yang dipakai untuk melarutkan 1 dm3, maka

kelarutan garam senyawa tersebut dapat dinyatakan sebagai kepekaan garam atau senyawa tersebut (Arief, 2003).

Kelarutan suatu gram yang sedikit larut juga tergantung pada konsentrasi dari zat-zat yang membentuk kompleks dengan kation gram dan hasil hidolisasi seperti dikatakan diatas adalah suatu contoh yang pereaksi pembentuk kompleksnya yaitu ion hidroksida (Roth,1994).

Telah lazim dikenal dalam bidang kimia bahwa senyawa tidak larut pun tidak memiliki kelarutan. Oleh karena itu senyawa seperti ini lebih tepat dikatakan sebagai senyawa yang sukar larut (Anief, 2003).

Besarnya kelarutan suatu senyawa adalah jenuh, misalnya senyawa yang bersangkutan yang larut dalam sejumlah pelarut tertentu dan merupakan larutan yang jenuh yang ada dalam kesetimbangan dengan bentuk padatnya (Ansel, 1989).

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kelarutan suatu zat antara lain adalah (Mirawati, 2007) :

1. Pengaruh pH

Zat aktif yang sering digunakan didalam dunia pengobatan adalah zat organik yang bersifat asam lemah, kelarutan asam lemah seperti barbiturat dan sulfonamide dalam akar akan bertambah dengan naiknya pH karena terbentuknya garam yang mudah larut dalam air. Sedangkan basa-basa organic seperti alkaloida dan anastetik pada umumnya sukar larut.

2. Pengaruh temperatur

(4)

3. Pengaruh jenis pelarut

Kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut. Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar ionik, begitu juga sebaliknya.

4. Pengaruh konstanta dielektrik

Telah diketahui bahwa kelarutan suatu zat sangat dipengaruhi oleh polaritas pelarut.

5. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel

Kelarutan suatu zat akan naik dengan berkurangnya ukuran partikel suatu zat. Konfigurasi molekul dan bentuk sediaan susunan kristal juga mempengaruhi.

6. Pengaruh penambahan zat-zat lain

Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan kelarutan suatu zat. Surfaktan mempunyai kecenderungan berasosiasi membentuk agregat yang dikenal sebagai misel.

Sifat yang penting dari misel ini adalah kemampuannya untuk menaikkan kelarutan zat yang biasanya sukar larut dalam air. Proses ini dikenall sebagai solubility. Solubility terjadi karena molekul zat yang sukar larut berasosiasi dengan misel membentuk suatu larutan yang jernih dan stabil secara termodinamika. Lokasi molekul zat terlarut dalam misel tergantung pada pelarut zat tersebut. Molekul non polar akan masuk kedaerah polisade dan membentuk suatu misell campuran (Mirawati, 2007).

Selain penambahan surfaktan dapat juga ditambahkan zat-zat pembentuk kompleks untuk menaikkan kelarutan suatu zat, misalnya penambahan ureten dalam pembuatan injeksi khirin (Mohtar, 1989).

Kelarutan suatu zat dalam pelarut tertentu diketahui dengan membuat larutan jenuh dari zat itu pada suhu yang spesifik dan penentuan jumlah zat yang larut pada sejumlah berat tertentu dan larutan dengan cara analisis kimia (Ansel, 2005).

(5)

Tipe larutan yang paling umum yang kita jumpai di laboratorium terdiri atas solute yang terlarut dalam zat cair, oleh karena itu sebagian besar perhatian kita, kita arahkan terhadap larutan tipe ini. Larutan yang berbentuk cair (contohnya NaCl dalam air), melarutkan zat cair dalam zat cair (contohnya etilen glikol dalam air, larutan anti beku), atau melarutkan gas dalam zat cair contohnya CO2 dalam air, efferfescens) (Ditjen POM, 1979).

Untuk menyatakan kelarutan zat kimia, istilah kelarutan dalam pengertian umum kadang-kadang perlu digunakan tanpa mengindahkan perubahan kimia yang mungkin terjadi pada pelarutan tersebut. Pernyataan kelarutan zat dalam bagian tertentu pelarut adalah kelarutan pada suhu 20oC dan kecuali dinyatakan lain menunjukkan bahwa, 1 bagian bobot zat padat atau 1 bagian volume zat cair larut dalam bagian volume tertentu pelarut, pernyataan kelarutan yang tidak disertai angka adalah kelarutan pada suhu kamar, kecuali dinyatakan lain, zat jika dilarutkan boleh menunjukkan sedikit kotoran mekanik seperti bagian kertas saring, serat dan butiran debu. Pernyataan bagian dalam kelarutan berarti bahwa 1 g zat padat atau 1 ml zat cair dalam sejumlah dalam sejumlah ml pelarut (Ditjen POM, 1979).

Jika kelarutan suatu zat tidak diketahui dengan pasti, kelarutannya dapat ditunjukkan dengan istilah sebagai bentuk (Ditjen POM, 1979).

Sangat mudah larut Mudah larut

Larut

Agak sukar larut Sukar larut Sangat sukar larut Praktis tidak larut

Kurang dari 1 1 sampai 10 10 sampai 10 30 sampai 100 100 sampai 1.000 1.000 sampai 10.000

Lebih dari 10.000 2.2 Prosedur Kerja (Anonim, 2015)

A. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

(6)

tambahkan lagi sejumlah tertentu asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh.

2. Saring dan tentukan kadar asam salisilat yang terlarut dalam masing-masing larutan

B. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan zat

1. Buat campuran pelarut-pelarut seperti yang tertera pada tabel di bawah ini :

Pelarut Air % (v/v)

Alkohol % (v/v) Propilen glikol %v/v)

A 60 0 40

B 60 5 35

C 60 10 30

D 60 15 25

E 60 20 20

F 60 30 10

G 60 35 5

H 60 40 0

2. Ambil 50 ml campuran pelarut, larutkan asam salisilat sebanyak 1 g ke dalam masing-masing campuran pelarut.

3. Kocok larutan dengan stirer selama 1,5 jam, jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah asam salisilat sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.

4. Saring larutan, tentukan kadar asam salisilat yang larut. 5. Buat kurva antara kelarutan asam salisilat dengan harga

konstatnta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan. C. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat

1. Buat 50 ml larutan tween 80 dengan konsentrasi 0; 0,1:0,5; 1; 10; 50 dan 100 mg/ml air.

2. Tambahkan asam benzoat sedikit demi sedikit sampai diperoleh larutan jenuh.

3. Kocok larutan selama 2 jam, kalau ada endapan yang larut selama pengocokan, tambahkan lagi asam salisilat sampai didapat larutan yang jenuh kembali.

(7)

5. Buat grafik antara kelarutan asam benzoat dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.

6. Tentukan konsentrasi misel kritik tween 80 D. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

1. Buat 100 ml larutan dapar fosfat dengan pH 4,5,6,7, dan 8.

2. Ambil 25 ml larutan masing-masing larutan lalu ditambahkan 0,5 g natrium diklofenak ke dalamnya.

3. Kocok larutan selama 2 jam, kalau ada endapan yang larut selama pengocokan, tambahkan lagi asam salisilat sampai didapat larutan yang jenuh kembali.

4. Saring larutan dan tentukan kadar natrium diklofenak yang terlarut dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada panjang gelombang 274-278 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.

(8)

BAB 3 METODE KERJA 3.1 Alat Dan Bahan

3.1.1 Alat yang digunakan

Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini yaitu gelas kimia 25 ml, erlenmeyer 25 ml, gelas ukur 50 ml, magnetic stirrer, kertas grafik, sendok tanduk, botol semprot, botol coklat 100 mL, pipet pendek, pipet panjang, spektrofotometer, kuvet, corong, oven, dan timbangan analitik.

3.1.2 Bahan yang digunakan

Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini yaitu Air Suling, Alkohol, Propilenglikol, Parasetamol, Dapar fosfat pH 6, Dapar fosfat pH 8, Dapar fosfat pH 10, larutan NaOH 0,1 N, Tween 80, Alumunium Foil,dan Kertas Saring,

3.2 Cara Kerja

A. Menentukan kelarutan suatu zat secara kuantitatif

(9)

pengocokan, ditambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh endapan yang tidak larut.

2. Saring dan tentukan kadar asam paracetamol yang terlarut dalam larutan.

B. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan zat

Dibuat 5 ml campuran bahan pelarut yang tertera pada tabel dibawah ini: Pelarut Air % ( v/v ) Alkohol %

(v/v)

Propilen glikol % ( v/v )

A 60 0 40

B 60 10 30

C 60 20 20

D 60 35 55

E 60 40 0

1. Ambil 5 ml campuran pelarut, larutkan paracetamol sebanyak 100 mg ke dalam masing-masing campuran pelarut.

2. Kocok larutan dengan stirrer selama 30menit. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.

3. Saring larutan dan tentukan kadar asam salisilat yang larut.

4. Buatlah kurva antara kelarutan paracetamol dengan harga konstanta dielektrik bahan pelarut campur yang ditambahkan.

C. Pengaruh penambahan surfaktan terhadap kelarutan suatu zat

1. Buatlah larutan tween 80 dengan konsentrasi 0,1; 0,5; 1,0; 5,0; 10,0;; dan 100 mg.

2. Tambahkan 100 mg paracetamol ke dalam masing-masing larutan. Dikocok larutan dengan stirrer selama 1 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.

3. Saring larutan dan di tentukan kadar paraceamol yang larut.

4. Buatlah kurva antara kelarutan paracetamol dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan.

5. Tentukan konsentrasi misel kritik (KMK) tween 80. D. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

1. Buat 25 ml larutan dapar fosfat dengan pH 6, 8 dan 10.

(10)

3. Kocok larutan dengan stirrer selama 1 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan, di tambahkan lagi sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh larutan yang jenuh kembali.

4. Saring larutan dan ditentukan kadar paracetamolyang terlarut dalam masing-masing larutan dapar dengan cara spektrofotometri UV pada panjang gelombang 236 nm. Bila konsentrasi larutan terlalu pekat encerkan dulu dengan larutan dapar yang sesuai.

(11)

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil

4.1.1 Menentukan Kelarutan Suatu Zat Secara Kuantitatif

PCT (g) Vol Air (ml) BeratKertasSarin g (g) Berat kertas saring + residu BeratResidu (g) Jumlahterlaru t (g)

1,04 50 1.4005 2.356

9 0,9464

0,0936

4.1.2 Pengaruh Pelarut Campur Terhadap Kelarutan Zat

Pelarut Perbandi ngan K. Dielekt rik Berat Kertas Saring (g) Berat Kertas Saring + Residu (g) Berat Residu (g) Jumlah terlarut (g)

(12)

4.1.3 Pengaruh Penambahan Surfaktan Terhadap Kelarutan Suatu Zat Paracetamo l (g) Konsentrasi Tween 80% Berat Kertas Saring (g) Berat Kertas Saring + Residu

(g) Berat Residu (g) Jumlah Terlaru t (g) 100 mg 0,1% 1,0325 2,7775 1,745 0,755 100 mg 0,5% 0,8158 2,4939 1,6781 0,3219 100 mg 1,0% 1,4547 2,0013 0,5466 0,4534 100 mg 5,0% 0,8124 0,8882 0,0758 1,4242 100 mg 10% 1,1097 1,6948 0,5851 0,4149 100 mg 100 mg 1,0805 1,5625 0,482 0,518 4.1 Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

pH larutan Berat sampel Berast kertas saring Sampel dan kertas saring Residu sampel Sampel yang larut

6 100 mg 1,0541 g 1,7176 g 0,6635 g 0,3365 g 8 100 mg 1,4607g 1,9833 g 0,5226 g 0,4774g 10 100 mg 1,2980 g 1,3016 g 0,0036 g 0,9964g Perhitungan

1. Kelarutan suatu zat secara kuantitatif

 Residu = berat zat – berat kertas timbang = 2.3469 - 1.4005

= 0.9464 g

 Sampel yang larut = berat awal – berat residu = 1.04 – 0.9464

= 0.0936 g  Kelarutan = 50mL

0.0936g

= 534.18 mL/g (sukar larut)

2. Pengaruh pelarut campuran terhadap kelarutan suatu zat Dik Konstanta dielektrik :

Air : 80,4

Propilen glikol : 32 Alkohol : 23,3  Pelarut A :

Air : 60

(13)

Propilen glikol : 10040 x32 ¿12,8

= 48,24 + 12,8 = 61,04  Pelarut B :

Air : 60

100x80,4 ¿48,2 Alkohol : 5

100x23.3 ¿1,165 Propilen glikol : 35

100x32 ¿11,2

= 48,24 + 1,165 + 11,2 = 60,605

 Pelarut C :

Air : 60

100x80,4 ¿48,24 Alkohol : 10010 x23.3 ¿2,33

Propilen glikol : 30

100x32 ¿9,6

= 48,24 + 2,33 + 9,6 = 60,17

 Pelarut D :

Air : 60

100x80,4 ¿48,24 Alkohol : 10015 x23.3 ¿3,495

Propilen glikol : 25

100x32 ¿8

= 48,24 + 3,495 + 8 = 59,735

 Pelarut E :

Air : 10060 x80,4 ¿48,24

Alkohol : 20

100x23.3 ¿4,66 Propilen glikol : 10020 x32 ¿6,4

= 48,24 + 4,66 + 6,4 = 59,3

 Pelarut F :

Air : 10060 x80,4 ¿48,24

Alkohol : 30

(14)

Propilen glikol : 10010 x32 ¿3,2

= 48,24 + 6,99 + 3,2 = 58,43  Pelarut G :

Air : 60

100x80,4 ¿48,24 Alkohol : 35

100x23.3 ¿8,155 Propilen glikol : 5

100x32 ¿1,6

= 48,24 + 8,155 + 1,6 = 57,995

 Pelarut H :

Air : 60

100x80,4 ¿48,24 Alkohol : 10040 x23.3 ¿9,32

= 48,24 + 9,32 = 57,56

3. Pengaruh surfaktan terhadap kelarutan suatu zat  Tween 0,1 %

Residu sampel = 2,7775 gr – 1,0325 gr = 1,745 gr

Sampel yang larut = 2,5 gr – 1,745 gr = 0,755 gr/100 ml kelarutan= 100

0,755

¿132,45ml/gr (sukar larut)  Tween 0,5 %

Residu sampel = 2,4939 gr – 0,8158 gr = 1,6781 g

Sampel yang larut = 2 gr – 1,6781 gr = 0,3219 gr/100 ml

kelarutan= 100ml 0,3219gr ¿310,65ml/gr

 Tween 1,0 %

Residu sampel = 2,0013 gr – 1,4547 gr = 0,5466 gr

Sampel yang larut = 1 gr – 0,5466 gr = 0,4534 gr/100 ml Kelarutan= 100

0,4534

(15)

 Tween 5,0%

Residu sampel = 0,8882 gr – 0,8124 gr = 0,0758 gr

Sampel yang larut = 1,5 gr – 0,0758 gr = 1,4242 gr/100 ml

Kelarutan= 100ml 1,4242gr

¿70,214ml/gr (agak sukar larut)  Tween 5%

Residu sampel = 1,6948 gr – 1,1097 gr = 0,5851 gr

Sampel yang larut = 1 gr – 0,5851 gr = 0,4149 gr/100 ml

Kelarutan= 100ml 0,4149gr

¿241,02ml/gr (sukar larut)  Tween 10%

Residu sampel = 1,5625 gr – 1,0805 gr = 0,482 gr

Sampel yang larut = 1 gr – 0,482 gr = 0,518 gr/100 ml

Kelarutan= 100ml 0,518gr

¿193,05ml/gr (sukar larut) 4. Pengaruh pH terhadap kelarutan suatu zat

 pH 6

Residu sampel = 2,1662 gr – 1,4653 gr = 0,6969 gr

Sampel yang larut = 1 gr – 0,6969 gr = 0,3031gr/100 ml Kelarutan=53,6ml

0,303g

¿176,897ml/gr (sukar larut)  pH 8

Residu sampel = 1,7176 gr - 1,0541 gr = 0,6635 gr

Sampel yang larut = 1 gr – 0,6635 gr = 0,3365 gr

Kelarutan= 55, 6ml 0,3365g

(16)

 pH 10

Residu sampel = 1,9833 gr – 1,4607 gr = 0, 5226 gr

Sampel yang larut = 1gr – 0,5226 gr = 0, 4774gr Kelarutan= 79,1ml

0,4774g

¿165,689ml/gr (sukar larut)

4.2 Pembahasan

Larutan adalah campuran homogen antara zat pelarut dan zat terlarut. Kelarutan adalah kemampuan suatu zat melarut dalam pelarut tertentu. Larutan pada umumnya dibagi menjadi tiga yaitu larutan jenuh adalah larutan yang zat terlarutnya dapat melarut dalam zat pelarutnya dalam konsentrasi yang maksimal. Larutan lewad jenuh terjadi pada saat zat terlarut sudah melewati batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya yang biasanya ditandai dengan terbentuknya endapan. Lautan tak jenuh terjadi saat zat terlarut belum mencapai batas maksimal zat pelarut untuk melarutkannya.

Kelarutan dalam besaran kuantitatif didefinisikan sebagai konsentrasi zat terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, sedangkan secara kualitatif didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk dispersi molekuler homogen. Menurut U.S. Pharmacopeia dan National Formulary definisi kelarutan obat adalah jumlah ml pelarut di mana akan larut 1 gram zat terlarut.

Proses kelarutan diatur oleh tiga factor. Factor pertama adalah gaya kohesi zat terlarut. Factor kedua adalah gaya kohesi pelarut dan yang ketiga adalah hasil interaksi antara zat terlarut yang terdisolusi dan molekul pelarut setelah pemutusan.

(17)

Zat organik yang bersifat asam lemah/basah lemah adalah zat aktif yang sering digunakan dalam dunia pengobatan. Kelarutannya dipengaruhi pH, yakni untuk dapat larut. Zat organik yang bersifat asam lemah diberikan atau dicampurkan dulu dengan larutan basa agar berbentuk garam organik yang mudah larut dalam air, demikian sebaliknya.

2. Temperatur

Ada 3 pernyataan tentang kelarutan yang dipengaruhi oleh temperature yaitu :

a. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan meningkat, namun bila didinginkan dia akan mengendap.

b. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan meningkat. c. Bila suhu dinaikkan, kelarutan akan kecil. 3. Pengaruh bentuk dan ukuran partikel

Semakin kecil ukuran partikel, maka kelarutan zat tersebut akan meningkat, begitu pula sebaliknya.

4. Pengaruh jenis pelarut

Pelarut polar akan melarutkan lebih baik zat-zat polar atau ionik, begitu pula sebaliknya. Pelarut non polar akan melarutkan lebih baik zat-zat non polar atau molekul.

5. Pengaruh konstanta dielektrik

Besarnya dielektrik diatur dengan penambahan pelarut lain. 6. Pengaruh penambahan zat-zat lain

Surfaktan adalah suatu zat yang sering digunakan untuk menaikkan kelarutan suatu zat.

(18)

penambahan surfaktan terdiri dua bagian yaitu bagian polar dan non polar, bila didispersikan dalam air pada konsentrasi rendah, akan berkumpul pada permukaan dengan mengorientasikan bagian polar ke arah bagian air.

Pada praktikum ini dilakukan beberapa percobaan yaitu pertama, pada kelarutan Paracetamol secara kuantitatif dimana cara kerjanya adalah Dimasukkan 100 mg paracetamol ke dalam 5 mL air dalam vial 10 mL, kocok selama 1,5 jam dengan stirer jika ada endapan yang larut selama pengocokan maka tambahkan sejumlah tertentu paracetamol sampai diperoleh endapan yang tidak larut. Disaring dan ditentukan kadar paracetamol yang terlarut dalam larutan dan diperoleh berat residu paracetamol 0,9464 gram dan jumlah paracetamol yang terlarut 0,0936 gram. Dari data tersebut diperoleh hasil bahwa paracetamol dapat larut 534.18 mL/g bagian dalam air (sukar larut).

(19)

Ketiga, pada pengaruh surfaktan terhadap kelarutan, cara kerjanya adalah Dibuat larutan tween 80 dengan konsentrasi: 0,1 ; 0,5 ; 1,0 ; 5,0 ;10,0 dan 100 mg. Ditambahkan 100 mg paracetamol ke dalam masing-masing larutan. Dikocok larutan dengan stirrer selama 1,5 jam. Jika ada endapan yang larut selama pengocokan tambahkan lagi sejumlah larutan tertentu paracetamol sampai dperoleh yang jenuh kembali. Disaring larutan dan tentukan kadar paracetamol yang larut. Dibuat kurva antara kelarutan paracetamol dengan konsentrasi tween 80 yang digunakan. Ditentukan konsentrasi misl kritik (KMK) tween 80 dan dari data yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa penambahan surfaktan dapat menurunkan tegangan antarmuka antara paracetamol sehingga mempermudah kelarutan, namun pada konsentrasi misel kritik (KMK) kelarutan paracetamol menjadi konstan. Pada konsentrasi tween 80 0,1% jumlah paracetamol yang terlarut 132,45ml/gr , pada konsentrasi tween 80 0,5% jumlah paracetamol yang terlarut 310,65ml/gr , pada konsentrasi tween 80 1% jumlah paracetamol yang terlarut 220,55ml/gr , pada konsentrasi tween 80 5% jumlah paracetamol yang terlarut 70,214ml/gr , dan pada konsentrasi tween 80 10% jumlah paracetamol yang terlarut 241,02ml/gr

(20)

Data kelarutan suatu zat dalam air sangat penting untuk diketahui dalam pembuatan sediaan farmasi.Sediaan farmasi cairan seperti sirup, eliksir, obat tetes mata, injeksi dan lain-lain dibuat dengan menggunakan pembawa air. Bahkan untuk bentuk sediaan obat lainnya seperti suspense, tablet atau kapsul yang diberikan secara oral, data ini tetap diperlukan karena dalam saluran cerna obat harus dapat melarut dalam cairan saluran cerna yang komponen utamanya adalah air agar dapat diabsorbsi.

Pada umumnya obat baru dapat di absorbsi dari saluran cerna dalam keadaan terlarut kecuali kalau transport obat melalui mekanisme pinositosis. Oleh karena itu salah satu cara untuk meningkatkan ketersediaan hayati suatu sediaan adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya di dalam air. Adapun kesalahan yang diperoleh karena beberapa faktor yaitu :

 Kurang teliti dalam melihat endapannya, sehingga dilakukan

penambahan terus-menerus walaupun sudah lewat jenuh  Kurang teliti dalam menimbang hasil residu

 Terlalu sebentar dikocok di stirrer , sehingga asam salisilat belum larut

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2015. Penuntun Praktikum Farmasi Fisika. Universitas Muslim Indonesia : Makassar.

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Depkes RI ; Jakarta.

Hardjadi, 1993, Ilmu Kimia Analitik Dasar, PT Gramedia Pestaka, Jakarta.

Anief, Moh. 2003. IlmuMeracikObat, Gajah Mada University Press; Yogyakarta.

Ansel, Haward. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Fakultas Farmasi Universitas Muslim Indonesia; Makassar.

Martin, Alfred dkk. 1990. Farmasi Fisika jilid I dan II Edisi III. Press; Yogyakarta.

(22)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

a. Semakin lama pengocokan maka kelarutan suatu zat semakin besar. b. Semakin tinggi konstanta dialektrik suatu zat maka semakin tinggi pula

kelarutan suatu zat.

c. Semakin besar konsentrasi surfaktan yang ditambahkan maka semakin tinggi pula kelarutan suatu zat.

d. Semakin tinggi pH suatu zat maka semakin cepat pula kelarutan suatu zat.

5.2 Saran

Referensi

Dokumen terkait

Setelah disaring, dilipat dan diletakkan diatas cawan porselin yang telah diberi etiket,lalu dikeringkan dalam oven pada suhu 105 o C selama 30 menit.. Setelah kering asam

Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-partikel obat larut dalam cairan pada suatu

Peniter yang digunakan adalah NaOH, karena NaOH adalah larutan yang bersifat basa, sedangkan asam salisilat adalah larutan yang bersifat asam, sehingga keduanya dapat direaksikan

Untuk larutan koloid liofilik diperlukan NaCl (larutan elektrolit) yang lebih banyak dibandingkan dengan larutan koloid liofobik karena pada koloid liofilik terdapat

Hal tersebut sesuai dengan hasil pegamatan dari praktikum, dimana pada saat konsentrasi larutan sebesar 0,240385 M , waktu yang dibutuhkan larutan hingga terjadi endapan

Simpan larutan ditempat yang gelap selama 20 menit Endapan lalu disaring dan dicuci dengan 10 mL HNO3 0,05 N kemudian di cek dengan mengunakan HCl untuk mengetahui

Kelarutan suatu zat didefinisikan sebagai jumlah solut yang dibutuhkan untuk menghasilkan suatu larutan jenuh dalam sejumlah solven (Moechtar, 1989)...

Larutan sisa pemisahan Ce ditambah NH 4 H teknis sampai pH 8, endapan yang terbentuk disaring Filtrat ditambah asam oksalat sampai tidak terbentuk endapan lagi.. Endapan disaring,