NOMOR 7 3 TAHUN 1 9 9 2
TENTANG
PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa peranan usaha perasuransian di Indonesia dalam menunj ang pembangunan nasional perlu diarahkan agar dalam kegiat an usahanya, Perusahaan Perasuransian di Indonesia dapat t umbuh dan berkembang dengan t idak mengabaikan prinsip usaha yang sehat dan bert anggungj awab;
b. bahwa sehubungan dengan it u dipandang perlu unt uk mengat ur penyelenggaraan usaha perasuransian di dalam suat u Perat uran Pemerint ah.
Mengingat : 1. Pasal 5 ayat (2) Undang. Undang Dasar 1945;
2. Kit ab Undang. undang Hukum Dagang (St aat sblad Tahun 1847 Nomor 23) sebagaimana t elah beberapa kali diubah t erakhir dengan Undang. undang Nomor 4 Tahun 1971 t ent ang Perubahan dan Penambahan at as ket ent uan Pasal 54 Kit ab Undang. undang Hukum Dagang (Lembaran Negara. Tahun 1971 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Nomor 2959);
3. Undang. undang Nomor 2 Tahun 1992 t ent ang Usaha Perasuransian (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1992 Nomor 13, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3467);
4. Undang. undang Nomor 25 Tahun 1992 t ent ang Perkoperasian (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 116, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3502);
MEMUTUSKAN :
Menet apkan : PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG PENYELENGGARAAN USAHA PERASURANSIAN.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Yang dimaksud dalam Perat uran Pemerint ah ini dengan:
Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsult an Akt uaria.
3. Ret ensi Sendiri adalah bagian dari j umlah uang pert anggungan unt uk set iap risiko yang menj adi t anggungan sendiri t anpa dukungan reasuransi.
4. Pengurus adalah direksi unt uk perseroan t erbat as at au persero, at au yang set ara dengan it u unt uk koperasi dan usaha bersama. 5. Ment eri adalah Ment eri Keuangan Republik Indonesia.
BAB II
PENUTUPAN OBYEK ASURANSI
Pasal 2
Obyek asuransi di Indonesia hanya dapat diasuransikan pada Perusahaan Asuransi yang mendapat izin usaha dari Ment eri, kecuali dalam hal:
a. t idak ada Perusahaan Asuransi di Indonesia, baik secara sendiri. sendiri maupun bersama. sama, yang memiliki kemampuan menahan risiko asuransi dari obyek yang bersangkut an; at au
b. t idak ada Perusahaan Asuransi yang bersedia melakukan penut upan asuransi at as obyek yang bersangkut an; at au
c. pemilik obyek asuransi yang bersangkut an bukan warga negara Indonesia at au bukan badan hukum Indonesia.
BAB III
PERIZINAN USAHA PERASURANSIAN
Bagian Pert ama
Persyarat an Umum Perusahaan Perasuransian
Pasal 3
(1) Perusahaan Perasuransian dalam rangka melaksanakan kegiat an usahanya harus memenuhi ket ent uan sebagai berikut :
a. Dalam anggaran dasar dinyat akan bahwa:
1. maksud dan t uj uan pendirian perusahaan hanya unt uk menj alankan salah sat u j enis usaha perasuransian;
2. perusahaan t idak memberikan pinj aman kepada pemegang saham.
f ungsi. f ungsi sebagai berikut :
1. Bagi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, yait u f ungsi pengelolaan risiko, f ungsi pengelolaan keuangan, dan f ungsi pelayanan;
2. Bagi Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi, yait u f ungsi pengelolaan keuangan dan f ungsi pelayanan;
3. Bagi Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsult an Akt uaria, yait u f ungsi t eknis sesuai dengan bidang j asa yang diselenggarakannya.
c. Memenuhi ket ent uan permodalan sebagaimana dit et apkan dalam perat uran perundang. undangan yang berlaku.
d. Mempekerj akan t enaga ahli sesuai dengan bidang usahanya dalam j umlah yang memadai unt uk mengelola kegiat an usahanya.
e. Melaksanakan pengelolaan perusahaan sebagaimana dit et apkan dalam Perat uran Pemerint ah ini, yang sekurang. kurangnya didukung dengan:
1. Sist em pengembangan sumber daya manusia; 2. Sist em administ rasi,
3. Sist em pengelolaan dat a.
(2) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai huruf d dan huruf e dit et apkan olch Ment eri.
Pasal 4
(1) Perusahaan Perasuransian yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia dan at au badan hukum Indonesia yang seluruh at au mayorit as pemiliknya warga negara Indonesia, seluruh anggot a dewan komisaris dan Pengurus harus warga negara Indonesia. (2) Anggot a dewan komisaris dan anggot a direksi Perusahaan
Perasuransian yang di dalamnya t erdapat penyert aan langsung pihak asing harus warga negara Indonesia dan warga negara asing, at au seluruhnya warga negara Indonesia.
Pasal 5
risiko.
(3) Pengurus t idak diperkenankan merangkap j abat an pada perusahaan lain, kecuali unt uk j abat an komisaris.
(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (2) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 6
(1) Modal diset or bagi perusahaan yang seluruh pemiliknya warga negara Indonesia dan at au badan hukum Indonesia yang seluruh at au mayorit as pemiliknya warga negara Indonesia, unt uk
masing. masing Perusahaan Perasuransian sekurang. kurangnya sebagai berikut :
a. Rp. 3. 000. 000. 000, . (t iga milyar rupiah), bagi Perusahaan Asuransi Kerugian;
b. Rp. 2. 000. 000. 000, . (dua milyar rupiah), bagi Perusahaan Asuransi Jiwa;
c. Rp. 10. 000. 000. 000, . (sepuluh milyar rupiah), bagi Perusahaan Reasuransi;
d. Rp. 500. 000. 000, . (lima rat us j ut a rupiah), bagi Perusahaan Pialang Asuransi,
e. Rp. 500. 000. 000, . (lima rat us j ut a rupiah), bagi Perusahaan Pialang Reasuransi.
(2) Dalam hal t erdapat penyert aan langsung oleh pihak asing, modal diset or unt uk masing. masing Perusahaan Perasuransian sekurang. kurangnya sebagai berikut :
a. Rp. 15. 000. 000. 000, . (lima belas milyar rupiah), bagi Perusahaan Asuransi Kerugian;
b. Rp. 4. 500. 000. 000, . (empat milyar lima rat us j ut a rupiah), bagi Perusahaan Asuransi Jiwa;
c. Rp. 30. 000. 000. 000, . (t iga puluh milyar rupiah), bagi Perusahaan Reasuransi;
d. Rp. 3. 000. 000. 000, . (t iga milyar rupiah), bagi Perusahaan Pialang Asuransi;
e. Rp. 3. 000. 000. 000. (t iga milyar rupiah), bagi Perusahaan Pialang Reasuransi.
(3) Pada saat pendirian perusahaan, penyert aan langsung pihak asing dalam Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) paling banyak 80% (delapan puluh per serat us).
harus memiliki perj anj ian ant ar pemegang saham yang memuat kesepakat an mengenai rencana peningkat an kepemilikan saham pihak Indonesia.
Pasal 7
(1) Pada awal pendirian, Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus menempat kan sekurang. kurangnya 20% (dua puluh per serat us) dari modal diset or yang dipersyarat kan, dalam bent uk deposit o berj angka dengan perpanj angan ot omat is pada bank umum di In. donesia yang bukan Af iliasi dari Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang bersangkut an.
(2) Deposit o sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan j aminan t erakhir dalam rangka melindungi kepent ingan pemegang polis.
(3) Penempat an deposit o sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus at as nama Ment eri unt uk kepent ingan perusahaan yang bersangkut an.
(4) Deposit o sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus disesuaikan dengan perkembangan volume usaha yang besarnya dit et apkan oleh Ment eri dengan ket ent uan besarnya deposit o dimaksud t idak kurang dari yang dipersyarat kan pada awal pendirian.
(5) Deposit o sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat dicairkan at as perset uj uan Ment eri berdasarkan:
a. bat as permint aan liquidat or dalam hal perusahaan dilikuidasi; at au
b. at as permint aan perusahaan yang bersangkut an dalam hal izin usahanya dicabut at as permint aan perusahaan yang bersangkut an dengan ket ent uan kewaj ibannya t elah diselesaikan.
Pasal 8
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus menyelenggarakan:
a. Pengembangan sumber daya manusia yang dapat menunj ang pengelolaan perusahaan secara prof esional, pengembangan perusahaan secara sehat , adanya kemampuan dalam mengikut i perkembangan t eknologi, sert a penyelenggaraan j asa asuransi secara t ert ib dan bcrt anggung j awab;
b. Administ rasi keuangan yang dapat menunj ang ket ert iban pengelolaan kcuangan dan pelaksanaan pengendalian int ern perusahaan;
analisis dalam rangka pengembangan perusahaan.
(2) Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi harus menyelenggarakan hal. hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a dan huruf b.
(3) Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi dan Perusahaan Konsult an Akt uaria harus menyelenggarakan hal. hal sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a.
(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dit et apkan oleh Ment eri.
Bagian Kedua
Perizinan Perusahaan Perasuransian
Pasal 9
(1) Pemberian izin bagi Perusahaan Perasuransian dilakukan dalam dua t ahap, yait u:
a. perset uj uan prinsip; b. izin usaha.
(2) Ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a t idak berlaku bagi agen asuransi dan konsult an akt uaria.
(3) Permohonan perset uj uan prinsip bagi Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a, diaj ukan kepada Ment eri dengan melampirkan:
a. Anggaran dasar perusahaan yang dibuat di hadapan not aris; b. Rencana susunan organisasi perusahaan;
c. Rencana penggunaan t enaga ahli oleh perusahaan; d. Rencana kerj a perusahaan dalam garis besar;
e. Rancangan perj anj ian kerj asama dengan pihak asing, dalam hal t erdapat penyert aan langsung oleh pihak asing;
f . Program asuransi yang akan dipasarkan dan rencana reasuransinya, khusus bagi Perusahaan Asuransi;
g. Bukt i penempat an deposit o sebagaimana dimaksud dalam Pasal 7 ayat (1).
(4) Perset uj uan prinsip sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) huruf a berlaku unt uk j angka wakt u 1 (sat u) t ahun.
(5) Permohonan izin usaha Perusahaan Perasuransian disampaikan kepada Ment eri dengan melampirkan:
dari inst ansi yang berwenang; b. Susunan organisasi perusahaan;
c. Bukt i pemenuhan penyet oran modal diset or;
d. Surat pengangkat an t enaga ahli yang dipekerj akan oleh perusahaan;
e. Program kerj a perusahaan sert a rincian persiapan yang t elah dilakukan;
f . Perj anj ian kerj asama dengan pihak asing, dalam hal t erdapat penyert aan langsung oleh pihak asing;
g. Cont oh polis, perhit ungan premi, dan perj anj ian reasuransi dari program asuransi yang akan dipasarkan, bagi Perusahaan Asuransi;
h. Perj anj ian ret rosesi bagi Perusahaan Reasuransi;
i. Perj anj ian keagenan dengan Perusahaan Asuransi yang diageni, bagi Perusahaan Agen Asuransi.
(6) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (3) dan ayat (5) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 10
Izin usaha Perusahaan Perasuransian dapat dicabut apabila, dalam j angka wakt u 3 (t iga) bulan t erhit ung sej ak t anggal izin usaha dit et apkan, Perusahaan Perasuransian yang bersangkut an t idak menj alankan kegiat an usahanya.
BAB IV
KESEHATAN KEUANGAN
Pasal 11
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi set iap saat waj ib menj aga t ingkat solvabilit as.
(2) Tingkat solvabilit as sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) adalah selisih ant ara kekayaan yang diperkenankan dengan j umlah kewaj iban dan modal diset or yang dipersyarat kan.
(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai besarnya t ingkat solvabilit as dan kekayaan yang diperkenankan sebagaimana dimaksud dalam ayat
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus memiliki dan menerapkan Ret ensi Sendiri, yang besarnya didasarkan pada kemampuan keuangan dan t ingkat risiko yang dihadapi.
(2) Perusahaan Asuransi Kerugian dan Perusahaan Reasuransi harus menj aga perimbangan yang sehat . ant ara j umlah premi net o dengan j umlah premi brut o, dan perimbangan ant ara j umlah premi net o dengan modal sendiri.
(3) Perusahaan Asuransi Jiwa yang menyelenggarakan program asuransi kecelakaan diri dan program asuransi kesehat an harus menj aga perimbangan yang sehat ant ara j umlah premi net o dengan j umlah premi brut o yang berasal dari program t ermaksud, dan perimbangan ant ara j umlah premi net o yang berasal dari program t ermaksud dengan modal sendiri.
(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1), ayat (2), dan ayat (3) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 13
(1) Invest asi Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi waj ib dilakukan pada j enis invest asi yang aman dan mengunt ungkan sert a memiliki t ingkat likuidit as yang sesuai dengan kewaj iban yang harus dipenuhi.
(2) Ment eri menet apkan j enis. j enis invest asi yang t idak boleh dilakukan oleh Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi.
Pasal 14
(1) Set iap Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi harus membent uk cadangan t eknis asuransi sesuai dengan j enis asuransi yang diselenggarakan, yait u:
a. Cadangan t eknis asuransi kerugian, t erdiri dari cadangan at as premi yang belum merupakan pendapat an, dan cadangan klaim.
b. Cadangan t eknis asuransi j iwa, t erdiri dari cadangan premi, cadangan premi anuit as, cadangan at as premi yang belum merupakan pendapat an dan cadangan klaim.
Pasal 15
(1) Set iap penut upan asuransi yang j umlah uang pert anggungannya melebihi Ret ensi Sendiri harus memperoleh dukungan reasuransi. (2) Penempat an reasuransi ke luar negeri, baik yang dilakukan
langsung oleh Perusahaan Asuransi maupun yang dilakukan melalui Perusahaan Pialang Reasuransi, hanya dapat dilakukan pada penanggung ulang yang oleh Perusahaan Asurarsi yang bersangkut an dapat dibukt ikan t elah memenuhi persyarat an. (3) Ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) berlaku pula
dalam hal penempat an ret roseri ke luar negeri oleh Perusahaan Reasuransi dan Perusahaan Asuransi.
(4) Jumlah premi penut upan langsung Perusahaan Asuransi harus lebih besar dari j umlah premi penut upan t idak langsung.
(5) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1), ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 16
(1) Set iap perj anj ian reasuransi harus dibuat secara t ert ulis dan t idak merupakan perj anj ian yang menj anj ikan keunt ungan past i bagi penanggung ulangnya.
(2) Dalam perj anj ian reasuransi harus dinyat akan bahwa dalam hal Perusahaan Asuransi dilikuidasi, hak dan kewaj iban Perusahaan Asuransi yang t imbul dalam t ransaksi reasuransi sampai dengan saat Perusahaan Asuransi dilikuidasi diselesaikan oleh likuidat or.
BAB V
PEYELENGGARAAN USAHA
Pasal 17
Dalam set iap pemasaran program asuransi harus diungkapkan inf ormal yang relevan, t idak ada yang bert ent angan dengan persyarat an yang dicant umkan dalam polis, dan t idak menyesat kan.
Pasal 18
(1) Perusahaan Asuransi harus t erlebih dahulu melaporkan kepada Ment eri set iap program asuransi baru yang akan dipasarkan.
(2) Perusahaan Asuransi dilarang memasarkan program asuransi baru yang t idak memenuhi ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dan Pasal 20.
(1) Polis at au bent uk perj anj ian asuransi dengan nama apapun, berikut lampiran yang merupakan kesat uan dengannya, t idak boleh mengandung kat a, kat a. kat a, at au kalimat yang dapat menimbulkan penaf siran yang berbeda mengenai resiko yang dit ut up asuransinya, kewaj iban penanggung dan kewaj iban t ert anggung, at au mempersulit t ert anggung mengurus haknya. (2) Dalam polis at au dokumen yang merupakan kesat uan dengannya,
harus dimuat rincian mengenai bagian premi yang dit eruskan kepada Perusahaan Asuransi dan bagian premi yang dibayarkan kepada Perusahaan Pialang Asuransi.
(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 20
(1) Premi harus dit et apkan pada t ingkat yang mencukupi, t idak berlebihan, dan t idak dit erapkan secara diskriminat if .
(2) Tingkat premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinilai t idak mencukupi, apabila:
a. sedemikian rendah sehingga sangat t idak sebanding dengan manf aat yang diperj anj ikan dalam polis asuransi yang bersangkut an;
b. penerapan t ingkat premi secara berkelanj ut an akan membahayakan t ingkat solvabilit as perusahaan;
c. penerapan t ingkat premi secara berkelanj ut an akan dapat merusak iklim kompet isi yang sehat .
(3) Tingkat premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinilai berlebihan apabila sedemikian t inggi sehingga sangat t idak sebanding dengan manf aat yang diperj anj ikan dalam polis asuransi yang bersangkut an.
(4) Penerapan t ingkat premi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dinilai bersif at diskriminat if apabila t ert anggung dengan luas penut upan yang sama sert a dengan j enis dan t ingkat risiko yang sama dikenakan t ingkat premi yang berbeda.
Pasal 21
(1) Penet apan t ingkat premi asuransi harus didasarkan pada perhit ungan analisis risiko yang sehat .
Pasal 22
(1) Premi asuransi dapat dibayarkan langsung oleh t ert anggung kepada Perusahaan Asuransi, at au melalui Perusahaan Pialang Asuransi unt uk kepent ingan t ert anggung.
(2) Dalam hal premi asuransi dibayarkan melalui Perusahaan Pialang Asuransi, Perusahaan Pialang Asuransi waj ib menyerahkan premi t ersebut kepada Perusahaan Asuransi sebelum berakhimya t enggang wakt u pembayaran premi yang dit et apkan dalam polis asuransi yang bersangkut an.
(3) Dalam hal penyerahan premi oleh Perusahaan Pialang Asuransi dilakukan set elah berakhirnya t enggang wakt u sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Perusahaan Pialang Asuransi yang bersangkut an waj ib bert anggung j awab at as pembayaran klaim yang t imbul dari kerugian yang t erj adi dalam j angka wakt u ant ara habisnya t enggang wakt u sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sampai dengan diserahkannya premi kepada Perusahaan Asuransi.
Pasal 23
(1) Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi dilarang melakukan t indakan yang dapat memperlambat penyelesaian at au pembayaran klaim, at au t idak melakukan t indakan yang seharusnya dilakukan yang dapat mengakibat kan kelambat an penyelesaian at au pembayaran klaim.
(2) Tert anggung dalam molakukan pengurusan penyelesaian klaim dapat menunj uk pihak lain, t ermasuk Perusahaan Pialang Asuransi yang dipergunakan j asanya oleh t ert anggung dalam penut upan asuransi yang bersangkut an.
(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 24
(1) Perusahaan Pialang Asuransi waj ib memberikan ket erangan yang sej elas. j elasnya kepada penanggung t ent ang obyek asuransi yang dipert anggungkan, dan waj ib menj elaskan secara benar kepada t ert anggung t ent ang ket ent uan isi polis, t ermasuk mengenai hak dan kewaj iban t ert anggung.
(2) Perusahaan Pialang Asuransi dilarang menerbit kan dokumen penut upan sement ara dan at au polis asuransi.
(3) Perusahaan Pialang Asuransi harus menj aga perimbangan yang schat ant ara j umlah premi yang belum diset or kepada Perusahaan Asuransi dan j umlah modal sendiri.
(1) Perusahaan Pialang Reasuransi waj ib memberikan ket erangan yang sej elas. j elasnya kepada penanggung ulang t ent ang obyek asuransi yang diasuransikan, sert a kepada penanggung t ent ang hak dan kewaj ibannya.
(2) Perusahaan Pialang Reasuransi yang menerima pembayaran premi dari penanggung waj ib menyet orkannya kepada penanggung ulang sesuai dengan t enggang wakt u pembayaran premi sebagaimana yang t ert era dalam perj anj ian reasuransi.
Pasal 26
(1) Set iap penilai kerugian asuransi dalam menj alankan usahanya harus mempergunakan keahlian berdasarkan norma prof esi yang berlaku.
(2) Set iap konsult an akt uaria dalam menj alankan kegiat an usahanya harus mempergunakan keahlian berdasarkan norma prof esi yang berlaku.
(3) Ment eri dapat memberikan arahan bagi penilai kerugian asuransi dan konsult an akt uaria dalam menyusun norma prof esi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2).
Pasal 27
(1) Set iap Agen Asuransi hanya dapat menj adi agen dari 1 (sat u) Perusahaan Asuransi.
(2) Agen Asuransi waj ib memiliki perj anj ian keagenan dengan Perusahaan Asuransi yang diageni.
(3) Semua t indakan Agen Asuransi yang berkait an dengan t ransaksi asuransi menj adi t anggung j awab Perusahaan Asuransi yang diageni.
(4) Agen Asuransi dalam menj alankan kegiat annya harus memberikan ket erangan yang benar dan j elas kepada calon t ert anggung t ent ang program asuransi yang dipasarkan dan ket ent uan isi polis, t ermasuk mengenai hak dan kewaj iban calon t ert anggung.
Pasal 28
(1) Perusahaan Perasuransian dapat menggunakan t enaga asing sebagai t enaga ahli, penaschat at au konsult an yang penggunaannya :
perasuransian; dan
b. j angka wakt u unt uk proyek at au program sebagaimana dimaksud dalam huruf a paling lama 5 (lima) t ahun.
(2) Perusahaan Perasuransian yang di dalamnya t erdapat penyert aan langsung oleh pihak asing sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) dapat menggunakan t enaga asing sebagai t enaga eksekut if di luar Pengurus dengan memenuhi ket ent uan sebagai berikut :
a. t enaga asing t ersebut menduduki j abat an yang belum dapat diisi oleh t enaga kerj a warga negara Indonesia;
b. mempunyai program Indonesianisasi yang j elas melalui pendidikan dan lat ihan.
(3) Disamping persyarat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2), penggunaan t enaga kerj a asing sert a t at acara penggunaannya mengikut i perat uran perundang. undangan di bidang ket enagakerj aaan.
(4) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (2) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 29
(1) Set iap pembukaan kant or cabang Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi, yang dalam kegiat annya memiliki kewenangan unt uk menerima at au menolak penut upan asuransi dan at au menandat angani polis dan at au menet apkan unt uk membayar at au menolak klaim, harus t erlebih dahulu memperoleh izin dari Ment eri.
(2) Unt uk memperoleh izin pembukaan kant or sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi harus memenuhi ket ent uan t ingkat solvabilit as.
(3) Kant or sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) harus memiliki t enaga ahli, sist em administ rasi dan sist em pengolahan dat a yang memadai.
(4) Set iap pembukaan kant or Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi selain kant or cabang sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus t erlebih dahulu dilaporkan kepada Ment eri.
(5) Set iap pembukaan kant or cabang Perusahaan Penunj ang Usaha Asuransi dalam bent uk at au dengan nama apapun harus t erlebih dahulu dilaporkan kepada Mcnt eri.
(1) Izin pembukaan kant or cabang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) dapat dicabut , apabila dalam j angka wakt u 2 (dua) bulan t erhit ung sej ak t anggal izin pembukaan kant or cabang dit et apkan, kant or cabang yang bersangkut an t idak menj alankan kegiat an usahanya.
(2) Set iap penut upan kant or cabang Perusahaan Perasuransian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 waj ib dilaporkan kepada Ment eri.
Pasal 31
(1) Set iap perubahan t erhadap ket ent uan persyarat an yang t elah dipenuhi dalam rangka pemberian izin usaha, harus t erlebih dahulu dilaporkan kepada Ment eri.
(2) Dalam hal perubahan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) t idak memenuhi ket ent uan Perat uran Pemerint ah ini besert a perat uran pelaksanaanya, Ment eri memerint ahkan dilakukannya perbaikan t erhadap perubahan dimaksud agar t et ap memenuhi ket ent uan yang berlaku.
(3) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai ayat (1) dan ayat (2) dit et apkan oleh Ment eri.
BAB VI
PENYELENGGARAAN PROGRAM ASURANSI SOSIAL
Pasal 32
(1) Program Asuransi Sosial merupakan program asuransi yang diselenggarakan secara waj ib berdasarkan suat u Undang. undang. (2) Program Asuransi Sosial sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)
hanya dapat diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara yang dibent uk khusus unt uk it u.
Pasal 33
Pasal 34
Perusahaan Asuransi yang menyelenggarakan Program Asuransi Sosial dalam menyelenggarakan usahanya waj ib memenuhi ket ent uan Perat uran Pemerint ah ini besert a perat uran pelaksanaannya.
Pasal 35
(1) Perusahaan Asuransi yang t elah menyelenggarakan Program Asuransi Sosial pada saat dit et apkannya Perat uran Pemerint ah ini, diwaj ibkan unt uk menyesuaikan kegiat annya.
(2) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai penyesuaian kegiat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) sert a j angka wakt unya dit et apkan oleh Ment eri.
BAB VII
MERGER DAN KONSOLIDASI
Pasal 36
(1) Perusahaan Asuransi dan Perusahaan Reasuransi yang akan melakukan merger at au konsolidasi harus t erlebih dahulu memperoleh perset uj uan dari Ment eri.
(2) Merger at au konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) hanya dapat dilakukan ant ara:
a. Perusahaan Asuransi Kerugian dengan Perusahaan Asuransi Kerugian at au dengan Perusahaan Reasuransi, unt uk membent uk Perusahaan Asuransi Kerugian;
b. Perusahaan Reasuransi dengan Perusahaan Reasuransi at au dengan Perusahaan Asuransi Kerugian, unt uk membent uk Perusahaan Reasuransi; at au
c. Perusahaan Asuransi Jiwa dengan Perusahaan Asuransi Jiwa, unt uk membent uk Perusahaan Asuransi Jiwa.
(3) Unt uk memperoleh perset uj uan merger at au konsolidasi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), harus dipenuhi ket ent uan: a. Merger at au konsolidasi t ersebut t idak mengurangi hak
t ert anggung;
b. Kondisi keuangan perusahaan hasil merger at au konsolidasi harus t et ap memenuhi ket ent uan mengenai t ingkat solvabilit as.
Pasal 37
Set iap Perusahaan Perasuransian yang t idak memenuhi ket ent uan dalam Perat uran Pemerint ah ini dan perat uran pelaksanaannya t ent ang perizinan usaha, kesehat an keuangan, penyelenggaraan usaha, penyampaian laporan, pengumuman neraca dan perhit ungan laba rugi, at au t ent ang pemeriksaan langsung, dikenakan sanksi peringat an, sanksi pembat asan kegiat an usaha, dan sanksi pencabut an izin usaha.
Pasal 38
(1) Tanpa mengurangi ket ent uan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37, maka t erhadap:
a. Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi yang t idak menyampaikan laporan keuangan t ahunan dan laporan operat ional t ahunan dan at au t idak mengumumkan neraca dan perhit ungan laba rugi, sesuai dengan j angka wakt u yang dit et apkan, dikenakan denda administ rat ip Rp. 1. 000. 000, . (sat u j ut a rupiah) unt uk set iap hari ket erlambat an.
b. Perusahaan Pialang Asuransi at au Perusahaan Pialang Reasuransi yang t idak menyampaikan laporan keuangan t ahunan dan laporan operat ional t ahunan sesuai dengan j angka wakt u yang dit et apkan, dikenakan denda administ rat ip Rp. 500. 000, . (lima rat us ribu rupiah) unt uk set iap hari ket erlambat an.
(2) Ket ent uan lebih lanj ut mengenai t at a cara pengenaan denda sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 39
(1) Pengenaan denda administ rat ip berakhir pada saat pembayaran denda ke Kant or Perbendaharaan dan Kas Negara yang diikut i dengan penyampaian laporan keuangan t ahunan dan at au laporan operasional t ahunan dan at au pengumuman neraca dan perhit ungan laba rugi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38 selambat . lambat nya dalam 2 (dua) hari kerj a.
Pasal 40
Perusahaan Perasuransian yang t elah dikenakan denda selama 90 (sembilan puluh) hari ket erlambat an t et api belum j uga menyampaikan laporan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 38, dengan t idak membebaskan kewaj iban membayar denda yang t elah dikenakan unt uk j angka 90 (sembilan puluh) hari t ermaksud, dikenakan sanksi pembat asan kegiat an usaha.
Pasal 41
(1) Pengenaan sanksi peringat an dilakukan oleh Ment eri segera set elah diket ahui adanya pelanggaran sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37.
(2) Pengenaan sanksi peringat an sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dikenakan paling banyak 3 (t iga) kali bert urut . t urut dengan j angka wakt u paling lama masing. masing 1 (sat u) bulan.
(3) Dalam hal perusahaan t elah dikenakan sanksi peringat an t erakhir, dan dalam j angka wakt u 30 (t iga puluh) hari set elah peringat an dimaksud perusahaan t et ap t idak memenuhi kewaj iban yang dipersyarat kan, perusahaan yang bersangkut an dikenakan sanksi pembat asan kegiat an usaha.
Pasal 42
(1) Sanksi pembat asan kegiat an usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 41 ayat (3) berlaku sej ak t anggal dit et apkan unt uk j angka wakt u paling lama 12 (dua belas) bulan.
(2) Dalam hal Ment eri menilai diperlukan adanya suat u rencana kerj a dalam rangka mengat asi penyebab dari sanksi pembat asan kegiat an usaha pada saat penet apan pembat asan kegiat an usaha Ment eri dapat memerint ahkan penyusunan rencana kerj a yang harus disampaikan kepada Ment eri dalam j angka wakt u paling lama 3 (t iga) bulan.
(3) Dalam hal Perusahaan Perasuransian dapat mengat asi penyebab dari sanksi pembat asan kegiat an usaha dalam j angka wakt u
sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Ment eri mencabut sanksi pembat asan kegiat an usaha.
Pasal 43
(1) Ment eri dapat mencabut izin usaha Perusahaan Pialang Asuransi yang diwaj ibkan membayar klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).
(2) Tanpa mengurangi berlakunya ket ent uan Pasal 41 dan Pasal 42, pencabut an izin usaha sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan t ahapan pelaksanaan sebagai berikut :
a. Pengenaan sanksi peringat an dilakukan oleh Ment eri segera set elah diket ahui adanya kewaj iban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3).
b. Pengenaan sanksi pembat asan kegiat an usaha dilakukan oleh Ment eri apabila Perusahaan Pialang Asuransi t idak memenuhi kewaj iban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) dalam j angka wakt u 1 (sat u) bulan set elah dit et apkannya sanksi peringat an sebagaimana dimaksud dalam huruf a.
c. Pengenaan sanksi pencabut an izin usaha dilakukan oleh Ment eri apabila Perusahaan Pialang Asuransi t idak dapat memenuhi kewaj iban pembayaran klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) dalam j angka wakt u 1 (sat u) bulan set elah dit et apkannya sanksi pembat asan kegiat an usaha sebagaimana dimaksud dalam huruf a.
(3) Dalam hal t erdapat Perusahaan Pialang Asuransi yang diwaj ibkan membayar klaim sebagaimana dimaksud dalam Pasal 22 ayat (3) unt uk kedua kalinya, maka pelanggaran yang dilakukan oleh Perusahaan Pialang Asuransi yang bersangkut an dianggap sebagai kelanj ut an dari pelanggaran sebelumnya dan pengenaan sanksi sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan mengikut i kelanj ut an t ahapan pelaksanaan pengenaan sanksi yang pernah dilakukan t anpa harus mengulangi dari t ahap pemberian peringat an.
BAB IX
KETENTUAN PERALIHAN
Pasal 44
(1) Bagi Perusahaan Perasuransian yang t elah mendapat izin usaha pada saat Perat uran Pemerint ah ini dit et apkan, izin usahanya dinyat akan t elap berlaku, dan diwaj ibkan menyesuaikan diri
(2) Perusahaan Pialang Asuransi yang t elah mendapat izin usaha pada saat Perat uran Pcmerint ah ini dit et apkan, waj ib memperbarui izin usahanya sebagai Perusahaan Pialang Asuransi at au Perusahaan Pialang Reasuransi.
(3) Penyesuaian sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) dit et apkan oleh Ment eri.
Pasal 45
Perat uran pelaksanaan Kcput usan Presiden Nomor 40 Tahun 1988 t ent ang Usaha Di Bidang Asuransi Kerugian sert a ket ent uan lainnya masih berlaku sampai dengan diberlakukannya perat uran perundang. undangan yang menggant ikannya berdasarkan Perat uran Pemerint ah ini.
BAB X
KETENTUAN PENUTUP
Pasal 46
Dengan dit et apkannya Perat uran Pemerint ah ini, Keput usan Presiden Nomor 40 Tahun 1988 t ent ang Usaha Di Bidang Asuransi Kerugian dinyat akan t idak berlaku lagi.
Pasal 47
Perat uran Pemerint ah ini mulai berlaku sej ak t anggal diundangkan.
Agar set iap orang menget ahuinya, memerint ahkan pengundangan Perat uran Pemerint ah ini dengan penempat annya dalam Lembaran Negara Republik Indonesia.
Dit et apkan di Jakart a
pada t anggal 30 Okt ober 1992
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
t t d
pada t anggal 30 Okt ober 1992
MENTERI/ SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA
t t d
PENJELASAN ATAS
PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 73 TAHUN 1992
TENTANG
PENYELEGGARAAN USAHA PERASURANSIAN
UMUM
Dalam rangka meningkat kan pelaksanaan Pembangunan Nasional at as dasar kekuat an sendiri, diperlukan upaya menat a lembaga-lembaga keuangan agar mampu melaksanakan f ungsinya menyediakan j asa keuangan yang dibut uhkan oleh masyarakat dan dunia usaha, sert a dapat benar-benar memperoleh kepercayaan dari masyarakat at as ket angguhan dan keandalannya, sehingga semakin mampu berperan dalam mendorong pert umbuhan ekonomi, memperluas pemerat aan pembangunan dan hasil-hasilnya t ermasuk memperluas kesempat an berusaha dan lapangan kerj a.
Dengan t elah dit et apkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1992 t ent ang Usaha Perasuransian, maka t elah t erdapat salah sat u perangkat hukum bagi indust ri perasuransian yang merupakan salah sat u unsur lembaga keuangan, yang diharapkan dapat berperan dalam menanggulangi risiko yang dihadapi anggot a masyarakat dan sekaligus merupakan salah sat u lembaga penghimpun dana masyarakat .
Dalam memperkuat pelaksanaan f ungsi Perusahaan Perasuransian, perlu diberikan kesempat an yang luas kepada pihak-pihak yang ingin berusaha di bidang perasuransian, sekaligus dengan penegasan bahwa penyelenggaraan kegiat an usaha t ersebut dilakukan secara sehat dan bert anggung j awab, dan t idak mengabaikan kepent ingan masyarakat pada umumnya at au t ert anggung khususnya.
Unt uk it u, dalam melaksanakan kegiat an usahanya Perusahaan Perasuransian perlu t et ap mempert ahankan ket aat annya pada syarat - syarat penyelenggaraan usaha, t ermasuk mengenai t ingkat kesehat an usaha, sebagaimana yang dipersyarat kan di dalam Perat uran Pemerint ah ini.
PASAL DEMI PASAL
Pasal 1
Cukup j elas
Pasal 2
mampu at au bersedia melakukan penut upan asuransi at as obyek yang bersangkut an, penut upannya dimungkinkan dilakukan oleh Perusahaan Asuransi di luar negeri.
Pasal 3 Ayat (1)
Dalam anggaran dasar harus dinyat akan secara t egas j enis usaha perasuransian yang akan dij alankan.
Cont oh perat uran perundang-undangan yang berlaku dalam huruf c, adalah Undang-undang Nomor 2 t ahun 1992 t ent ang Usaha Perasuransian besert a perat uran pelaksanaannya sert a Kit ab Undang-undang Hukum Dagang (KUHD).
Ayat (2) Cukup j elas
Pasal 4 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 5 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 6 Ayat (1)
usaha bersama.
Ket ent uan permodalan t idak dikenakan pada Perusahaan Agen Asuransi, Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi, dan Perusahaan Konsult an Akt uaria karena dalam kegiat an perusahaan-perusahaan dimaksud yang lebih dominan adalah unsur prof esionalisme. Dengan demikian, unsur permodalan diharapkan dapat dipenuhi sendiri sesuai dengan kebut uhan perusahaan yang bersangkut an dalam menj alankan kegiat an usahanya t anpa perlu adanya pengat uran.
Ayat (2) Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Apabila t erj adi perubahan pemegang saham, maka pemegang saham baru waj ib t unduk dan mengikat kan diri pada perj anj ian kerj asama yang t elah dibuat oleh para pemegang saham pendiri, yang ant ara lain memuat t ent ang peningkat an kepemilikan saham pihak Indonesia.
Peningkat an kepemilikan saham pihak Indonesia t ersebut dapat dit empuh ant ara lain melalui penj ualan saham dari pihak asing kepada pihak Indonesia, peningkat an penyert aan modal pihak Indonesia, dan at au penj ualan saham melalui bursa ef ek di Indonesia.
Pasal 7 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Bunga at au hasil deposit o yang dit empat kan at as nama Ment eri unt uk kepent ingan perusahaan adalah menj adi hak perusahaan yang bersangkut an.
Ayat (4) Cukup j elas Ayat (5)
Cukup j elas
Pengembangan sumber daya manusia yang dimaksudkan dalam Ayat (1) huruf a t ermasuk pula peningkat an penget ahuan dan ket erampilan bagi para Agen Asuransi yang melakukan kegiat an pemasaran unt uk dan at as nama Perusahaan Asuransi yang diageni.
Ayat (2) Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 9 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Sebelum berakhirnya j angka wakt u 1 (sat u) t ahun, Perusahaan Perasuransian dapat mempersiapkan diri dan mengaj ukan izin usaha.
Ayat (5)
Yang dimaksud dengan ret rosesi dalam huruf h adalah pert anggungan ulang at as penut upan reasuransi.
Ayat (6) Cukup j elas
Pasal 10
Cukup j elas
Pasal 11 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 12 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Yang dimaksud dengan premi brut o dalam ayat ini adalah premi penut upan langsung dit ambah premi penut upan t idak langsung, set elah masing-masing dikurangi komisi. Sedangkan premi net o adalah premi brut o dikurangi premi reasuransi dibayar, set elah premi reasuransi dibayar t ersebut dikurangi komisinya.
Cont oh perhit ungan :
Seandainya perusahaan menerima premi penut upan langsung Rp. 1. 000, - dengan komisi dibayar 20%. Dari penut upan langsung t ersebut direasuransikan 50%-nya. Unt uk it u perusahaan menerima komisi reasuransi sebesar 25% dari premi reasuransi yang dibayarnya. Di samping it u perusahaan menerima pula premi penut upan t idak langsung Rp. 300, -. dengan komisi reasuransi dibayar sebesar 25% pula. Maka premi brut o dan premi net o sebagaimana dimaksud dalam ayat ini adalah sebagai berikut :
PENUTUPAN LANGSUNG :
a. Premi dit erima = Rp. 1. 000, - b. Komisi keperant araan
Dibayar (20% x a) = Rp. 200, - PENURUPAN REASURANSI :
c. Premi reasuransi dibayar
(50% x a) = Rp. 500, - d. Komisi reasuransi dit erima
(25% x c) = Rp. 125, -
PENUTUPAN TIDAK LANGSUNG :
BRUTO = ! penut upan - penut upan ! + ! t upan t idak - t upan t idak ! ! langsung langsung ! ! langsung langsung !
= [ a - b] + [ e – f ]
= [ Rp 1. 000, - - Rp 200, -] + [ Rp 300, - Rp 75, -] = Rp 1. 025, -
! Premi Komisi ! PREMI NETO = PREMI BRUTO - ! Reasuransi - Reasuransi ! ! dibayar dit erima !
= Rp 1. 025; 48, - - [ Rp 5OO- - Rp 125, -] = Rp 650, -
Ayat (3) Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 13 Ayat (1)
Dana yang diinvest asikan oleh Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi sebagian besar berasal dari masyarakat dan berkait an dengan kewaj iban perusahaan yang bersangkut an kepada para t ert anggung. Oleh sebab it u, pengelolaan invest asi harus dilaksanakan dengan mempert imbangkan aspek yuridis, t ingkat risiko, t ingkat keunt ungan, dan t ingkat likuidit as yang sesuai dengan kewaj iban yang harus dipenuhi. Unt uk it u, Ment eri menet apkan j enis-j enis invest asi yang dapat dilakukan, misalnya deposit o, sert a saham dan obligasi yang diperj ual belikan di bursa ef ek di Indonesia.
Ayat (2) Cukup j elas
Cadangan t eknis menggambarkan kewaj iban Perusahaan Asuransi at au Perusahaan Reasuransi, yang t imbul dalam rangka t ransaksi asuransi. Dengan ket ent uan Pasal ini. Perusahaan Asuransi Kerugian harus membent uk cadangan t eknis, yait u:
- cadangan at as premi yang belum merupakan pendapat an (unearned premium reserve), yait u bagian premi dari pert anggungan yang masih berj alan,
- cadangan klaim.
Perusahaan Asuransi Jiwa, dengan mempert imbangkan j enis program asuransi yang dipasarkan, harus membent uk cadangan t eknis, yait u:
- cadangan premi,
- cadangan premi anuit as,
- cadangan at as premi yang belum merupakan pendapat an, - cadangan klaim.
Perusahaan Reasuransi, dengan mempert imbangkan j enis asuransi yang dit ut up reasuransinya, harus membent uk cadangan t eknis, yait u:
- cadangan at as premi yang belum merupakan pendapat an, - cadangan premi,
- cadangan klaim. Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 15 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat . (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas Ayat (5)
Cukup j elas
Ket ent uan dalam ayat ini melarang perj anj ian reasuransi yang memungkinkan pihak penanggung ulang memperoleh penerimaan yang sudah dipast ikan t idak kurang dari j umlah t ert ent u, t erlepas dari besarnya klaim yang dicakup dalam perj anj ian reasuransi dimaksud.
Ayat (2) Cukup j elas
Pasal 17
Yang dimaksud dengan pemasaran program asuransi adalah set iap kegiat an yang secara langsung at au t idak langsung dilakukan unt uk menarik calon t ert anggung, t ermasuk kegiat an promosi, iklan, brosur, dan prospekt us.
Pasal 18 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 19 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 20 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Ayat (3) Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 21 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 22 Ayat (1)
Termasuk dalam pembayaran premi asuransi langsung dari t ert anggung kepada Perusahaan Asuransi adalah set iap pembayaran baik dilakukan langsung kepada Perusahaan Asuransi maupun pembayaran melalui badan perant ara yang dit unj uk oleh Perusahaan Asuransi, misalnya Agen Asuransi, bank, dan sebagainya.
Ayat (2) Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 23 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Ayat (3) Cukup j elas
Pasal 24 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 25 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 26 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 27 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 28 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 29 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas Ayat (5)
Cukup j elas Ayat (6)
Cukup j elas
Pasal 30 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 31 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Ayat (1)
Dalam ket ent uan ini dikandung pengert ian bahwa Program Asuransi Sosial t ersebut didasarkan pada undang-undang t ersendiri dan penyelenggaraannya bersif at waj ib.
Ayat (2) Cukup j elas
Pasal 33
Cukup j elas
Pasal 34
Cukup j elas
Pasal 35 Ayat (1)
cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 36 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 37
Sanksi pembat asan kegiat an usaha dapat dilakukan ant ara lain dalam bent uk :
a. Larangan melakukan penut upan pert anggungan baru bagi Perusahaan Asuransi;
baru bagi Perusahaan Reasuransi;
c. Larangan melakukan j asa keperant araan bagi Perusahaan Pialang Asuransi dan Perusahaan Pialang Reasuransi;
d. Larangan melakukan j asa konsult asi akt uaria bagi Perusahaan Konsult an Akt uaria;
e. Larangan melakukan j asa penilaian kerugian bagi Perusahaan Penilai Kerugian Asuransi;
f . Larangan melakukan j asa pemasaran bagi Agen Asuransi.
Pasal 38 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 39 Ayat (1)
Dalam hal laporan disampaikan melalui usaha j asa pengiriman, bat as wakt u 2 (dua) hari kerj a dihit ung sej ak t anggal pembayaran denda sampai dengan t anggal pengiriman melalui usaha j asa pengiriman.
Unt uk pemenuhan pengumuman neraca dan laporan laba rugi pada surat kabar harian, bat as wakt u 2 (dua) hari kerj a dihit ung sej ak t anggal dit erimanya permint aan pemuat an pengumuman neraca dan laporan laba rugi dimaksud pada surat kabar harian. Ayat (2)
Cukup j elas
Pasal 40
Cukup j elas
Pasal 41 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Pasal 42 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas Ayat (4)
Cukup j elas
Pasal 43 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 44 Ayat (1)
Cukup j elas Ayat (2)
Cukup j elas Ayat (3)
Cukup j elas
Pasal 45
Cukup j elas
Pasal 46
Cukup j elas