4.2.3 URUSAN PILIHAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
4.2.3.1 KONDISI UMUM
Wilayah kota Semarang secara umum struktur daerahnya terdiri atas
tiga bagian yaitu struktur joint (kekar), patahan (fault), dan lipatan. Dengan
karakteristik daerah patahan tanah bersifat erosif dan mempunyai porositas
tinggi, dengan struktur lapisan batuan yang diskontinyu (tak teratur),
heterogen, sehingga mudah bergerak atau longsor.
Posisi wilayah patahan melintas di wilayah sekitar aliran sungai
Kaligarang yang membujur dari arah Utara sampai Selatan disepanjang
Kaligarang yang berbatasan dengan bukit Gombel. Lebih Khusus Patahan ini
bermula dari Ondorante ke arah Utara hingga Bendan Duwur, tebing terjal di
Ondorante, dan pelurusan Kaligarang serta beberapa mata air di Bendan
Duwur. Selanjutnya Wilayah patahan lainnya adalah Meteseh, perumahan
Bukit Kencana Jaya dengan arah patahan melintas dari Utara ke
Selatan,Secara fisik Patahan ini merupakan patahan geser, ditandai adanya
zona sesar.
Kondisi Geologi Wilayah Kota Semarang yang merupakan bentukan
lapisan tanah aluvial / endapan dari beberapa sungaiyang memiliki jenis
lapisan tanah berupa struktur pelapukan, endapan, dan lanau yang dalam ,
secara teknis topografis merupakan 60 % daerah Pegunungan, dan 40 %
daerah dataran.
Sesuai amanat Undang-Undang nomor 7 tahun 2004 tentang Sumber
Daya Air dan PP nomor 43 tahun 2008 tentang air tanah bahwa pengelolaan
tidak lagi menjadi monopoli Pemerintah Pusat tetapi diselenggarakan oleh
Pemerintah Daerah yang dibagi sesuai kewenangannya.
Berdasarkan letak, Kota Semarang berada pada Cekungan Air Tanah
lintas Kabupaten/Kota yaitu Cekungan Air Tanah Ungaran dan Cekungan Air
Tanah Semarang-Demak maka pengelolaan air tanah wilayah Cekungan Air
Tanah Kota Semarang masih menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi
dalam memberikan rekomendasi teknis penerbitan izin Pemakaian/
Pengusahaan Air Tanah. Sedangkan wewenang perijinan sudah dilimpahkan
sepenuhnya kepada Pemerintah Kota.
Dalam pemenuhan kebutuhan air baku Kota Semarang saat ini masih
dengan memanfaatkan air bawah tanah untuk berbagai kegiatan usaha,
permukaan belum mencukupi. Namun perlu disadari bersama bahwa
cadangan air bawah tanah di wilayah Kota Semarang semakin
mengkhawatirkan seiring bertambahnya penduduk, maupun karena
pertumbuhan industri.
Oleh karenanya pengambilan air bawah tanah oleh pribadi dan pelaku
usaha perlu dikendalikan sehingga pemanfaatannyatetap sesuai dengan
kemampuannya. Pengambilan Pemanfaatan air bawah tanah yang kurang
terkendali diyakini mengakibatkan terjadinya kerusakan tata air tanah,
semakin meluasnya sebaran zona air tanah asin dan amblesan tanah yang
justru merugikan masyarakat.
4.2.3.2 KEBIJAKAN PROGRAM
Kebijakan pada Urusan energi dan sumberdaya mineral diarahkan pada
pengelolaan Energi dan Sumberdaya Mineral dengan memperhatikan prinsip
keberlanjutannya bagi generasi yang akan datang dan sedapat mungkin tidak
mengkonsumsi langsung, melainkan memperlakukannya sebagai input untuk
proses produksi berikutnya yang dapat menghasilkan nilai tambah yang
optimal serta pemanfaatan Energi dan Sumberdaya Mineral yang diimbangi
dengan upaya reklamasi dan sistem pengelolaan yang lebih ramah
lingkungan.
Program-program pembangunan pada Urusan energi dan sumberdaya
mineral yang dilaksanakan adalah sebagai berikut :
1. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan
2. Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat Yang
Berpotensi Merusak Lingkungan
Program-program ini dilaksanakan dalam rangka pengendalian,
pembinaan, pengawasan kegiatan Pengambilan Air Tanah yang ditenggarai
salah satu penyebab penurunan tanah di wilayah Kota Semarang dan
kegiatan Pengambilan Galian C / Mineral Batuan.
4.2.3.3 REALISASI PELAKSANAAN PROGRAM DAN KEGIATAN
4.2.3.3.1 PENDANAAN
Alokasi dana yang disediakan untuk pelaksanaan program/kegiatan
Rp. 480.000.000 (Empat Ratus Delapan Puluh Juta Rupiah )untuk
pelaksanaan tugas teknis pada urusan Energi dan Sumberdaya Mineral.
Adapun realisasi pelaksanaan program dan kegiatan pada Urusan
Energi dan Sumberdaya Mineral adalah sebagai berikut :
1. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan
Kegiatan yang dilaksanakandalam Program ini adalah sebagai berikut :
NO KEGIATAN ANGGARAN
(Rp.)
REALISASI ANGGARAN
(Rp.)
PERSENTASE REALISASI
(%) SKPD : Dinas PSDA & ESDM
1 Penyusunan PERATURAN DAERAH Galian C 280.000.000 19.229.050 6,68 JUMLAH PROGRAM 280.000.000 19.229.050 6,68
2. Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat yang Berpotensi
Merusak Lingkungan
Kegiatan yang dilaksanakan dalam Program ini adalah sebagai berikut :
NO KEGIATAN ANGGARAN
(Rp.)
REALISASI ANGGARAN
(Rp.)
PERSENTASE REALISASI
(%) SKPD : Dinas PSDA & ESDM
1 Monitoring Air Bawah Tanah 100.000.000 50.696.500 50,70
2 Monitoring Galian C 100.000.000 16.691.500 16,69
JUMLAH PROGRAM 200.000.000 67.388.000 67,39
4.2.3.3.2 HASIL YANG DICAPAI
Pelaksanaan Kegiatan / program urusan Energi dan Sumber Daya
Mineral pada tahun 2013 adalah sebagai berikut :
1. Program Pembinaan dan Pengawasan Bidang Pertambangan
Pemerintah Kota Semarang pada tahun 2013 telah menyusun Naskah
Akademik Pengelolaan Pengangkutan Galian Tanah (semula Galian C)
sebagai kerangka dasar pertimbangan untuk menyusun Rancangan
Peraturan Daerah harapannya kegiatan ini dapat ditindaklanjuti dalam
pembahasan Raperdanya oleh bersama oleh DPRD Kota Semarang.
2. Program Pengawasan dan Penertiban Kegiatan Rakyat yang
Berpotensi Merusak Lingkungan
Capaian kinerja Program ini dapat dilihat antara lain sebagai berikut :
a) Berdasarkan hasil pendataan, jumlah sumur bor (ABT) yang ada di
NO TAHUN JUMLAH SUMUR
KAP PRODUKSI
(M3/THN)
1 1990 300 23.000.000
2 1995 320 27.000.000
3 2000 1.050 38.000.000
4 2009 1.700 45.000.000
5 2010 1.929 48.000.000
6 2011 3852 90.000.000
7 2012 3924 102.000.000
8 2013 4046 104.965.665
Sumber : Dinas PSDA & ESDM Kota Semarang Tahun 2013
b) Program ini juga diarahkan pada penguatan data dan dalam hal
penyediaan air baku bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang
belum terjangkau pelayanan PDAM, Pemerintah Kota selama 5 tahun
terus berupaya memberikan layanan jangkuan air bersih, pada daerah
yang tidak terjangkau jaringan PDAM, daerah rawan air bersih dan
kekeringan melalui kegiatan pembangunan sumur-sumur air tanah di
wilayah Kecamatan Ngaliyan, Tugu, Mijen, Candisari, Tembalang
Pedurungan dan Gunungpati. Kegiatan tersebut untuk satu unit sumur
dapat mencukupi kebutuhan warga ± 200 KK dengan debit pengambilan
1,5 l/dt. Dalam kegiatan pengeboran tetap mempertimbangkan konteks
konservasi sesuai kajian teknis, konstruksi dan design pengeboran
sumur yang mengatur kedalaman pemasangan pipa, saringan, pompa,
pembatasan debit pengambilan air tanah dan larangan pengambilan air
tanah pada zona merah. Namun masih dalam konteks pengendalian
seperti, pembangunan sumur/ pemberian ijin rekomendasi dilakukan di
luar zona Merah Pengambilan ABT.
c) Dalam hal kegiatan Penambangan Galian C upaya yang dihasilkan
produk galian tanah atau batu bata, sebagai permintaan akan
Pembangunan dilakukan dalam kerangka pengendalian, Adapun hasil
pendataan luas dan Perkiraan produksi golongan galian C khusus tanah
urug di Kota Semarang meliputi :
No
Lokasi Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah Penambang
(Org)
Produksi Khusus tanah Urug
(m3/hari)
Jumlah Penambang
(Org)
Produksi khusus tanah urug
(m3/Hari)
Kecamatan Kelurahan
1 Tembalang Mangunharjo + 60 + 240 1 240
Rowosari + 20 + 1.200 2 1280
Tandang 0 0 1 80
No
Lokasi Tahun 2012 Tahun 2013
Jumlah Penambang (Org) Produksi Khusus tanah Urug
(m3/hari)
Jumlah Penambang (Org) Produksi khusus tanah urug
(m3/Hari)
Kecamatan Kelurahan
2 Ngaliyan Ngaliyan + 10 + 80 2 160
Bambankerep Kalipancur + 10 0 + 120 0 1 1 120 50
Wonosari 0 0 1 60
3 Gunungpati Sukorejo 0 0 1 40
Mangunsari 0 0 1 120
Cepoko 0 0 1 20
Ngadirgo 0 0 1 20
4 Mijen Kedungpane
Polaman Tambangan Jatibarang + 20 + 20 0 0 + 160 + 10 0 0 0 0 1 1 (BSB) 0 0 60 100
Wates 0 0 1 25
Sumber : Dinas PSDA & ESDM Kota Semarang Tahun 2013
Dari Potret Tabel produksi golongan galian C khusus tanah urug terjadi
peningkatan utamanya terkait permintaan tanah urug dalam rangka
kepentingan pembangunan perumahan/ permukiman yang sangat diperlukan.
Untuk itu perlu perangkat / regulasi dalam pengendalian tata cara galian
tanah.
4.2.3.4 PERMASALAHAN YANG DIHADAPI
Pada pelaksanaan kegiatan Tahun 2013 diidentifikasi kendala yaitu:
1. Melihat Perkembangan Peningkatan Produksi Tanah Galian kiranya
Pengelolaan galian C belum sepenuhnya optimal dilaksanakan karena
kendala belum terselesaikannya regulasi Peraturan Daerah galian c
termasuk aturan teknis pola pengendaliannya, namun dalam
pelaksanaan pengawasannya masuk dalam Urusan Wajib Lingkungan
Hidup.
2. Belum selesainya dalam penyusunan Peraturan Walikota Sebagai
Tindak Lanjut Perda Tentang Pengaturan ABT berakibat pada belum
terkelolanya tentang Ijin dan Pengendalian Air bawah tanah di Tingkat
Pemerintah Kota dengan Baik.
4.2.3.6 RENCANA TINDAK LANJUT
Rencana Tindak lanjut dalam menghadapi permasalahan tersebut
diatas adalah
1. Melanjutkan Legalisasi Peraturan Daerah Pengangkutan Galian Tanah
2014, dan menyusun penjabarannya dalam Peraturan Walikota yang
sudah dibuat konsepnya dan dilakukan pembahasan.
2. Menetapkan kebijakan pengelolaan kawasan yang berpotensi untuk
ditambang secara terpadu dengan pengelolaan penataan tata ruang
menjadi suatu bagian yang tak terpisahkan.
3. Melanjutkan pembahasan dan penyusunan Konsep penjabaran dalam
Peraturan Walikota Tentang Perda Air Bawah Tanah dalam kegiatan
2014.
4. Menyelenggarakan kontrol pengendalian dan pemantauan pemanfaatan
air tanah melalui penciptaan instrument pengendalian, pengambilan air
tanah untuk zona merah, peningkatan pengambilan air tanah dan