• Tidak ada hasil yang ditemukan

Vol. 8, No. 7, Oktober 2020

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Vol. 8, No. 7, Oktober 2020"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Jurnal Pendidikan, Sains, dan Humaniora Oktober 2020 eISSN 2657- 0998

1204

Upaya Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas XI IPA-1 Materi

Kesetimbangan Pelajaran Kimia Melalui Model Pembelajaran Tutor

Sebaya Pada SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie

Sofyan

Guru SMA Negeri 1 Glumpang Baro, Kabupaten Pidie Email : [email protected]

ABSTRAK

Kegiatan belajar mengajar tidak selamanya berjalan seperti yang diingkan, karena keberhasilan belajar mengajar dipengaruhi oleh banyak faktor, salah satunya adalah pendekatan pembelajaran yang digunakan guru dalam mengajar. Hal ini juga terjadi di SMA Negeri 1 Glumpang Baro, di mana sebagian besar guru masih melaksanakan kegiatan belajar mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa merasa bosan dan jenuh ini bisa mempengaruhi hasil belajar siswa, sehingga banyak siswa yang tidak tuntas. Berdasarkan masalah tersebut diatas peneliti akan melakukan sebuah penelitian tindakan kelas yang mengacu pada model yang dikembangkan Kemmis dan Mc Taggart yang terdiri dari tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan, refleksi. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar kimia Materi Kesetimbangan pada siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Glumpang Baro Melalui Model Pembelajaran Tutor Sebaya. Penelitian ini dilakukan selama tiga bulan pada semester I Tahun Ajaran 2019/2020 dimana subjek penelitiannya adalah siswa Kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Glumpang Baro yang berjumlah 20 siswa. Data yang diperoleh untuk penelitian berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analisis didapatkan bahwa dengan menggunakan model pembelajaran Tutor Sebaya, terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Demikian juga aktivitas guru dan siswa terus meningkat setiap siklusnya. Simpulan dari penelitian adalah proses pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran Tutor Sebaya terbukti dapat meningkatkan hasil belajar kimia Materi Kesetimbangan pada siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Glumpang Baro.

Kata Kunci: Kimia, Hasil Belajar, Tutor Sebaya

PENDAHULUAN

Era globalisasi dewasa ini sarat dengan berbagai bentuk persaingan global. Hal ini disadari penuh oleh dunia pendidikan Indonesia yang merespon persaingan global tersebut dengan cara memfokuskan pembangunan pendidikan nasional pada tiga hal, yaitu: (1) pemerataan dan perluasan akses pendidikan, (2) peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing pendidikan, dan (3) penguatan tata kelola, akuntabilitas, dan citra publik (Depdiknas, 2006). Berbagai upaya untuk mencapai ketiga landasan pendidikan nasional ini telah diupayakan. Sehubungan dengan peningkatan mutu, misalnya, semua aspek yang dianggap berpengaruh terhadap peningkatan mutu telah mendapat perhatian dan penanganan yang

(2)

1205

serius. Berbagai bentuk perlakuan, pelatihan dan pendidikan bagi guru, sebagai salah satu komponen penting penentu mutu, juga telah dimaksimalkan. Dari segi sarana prasarana, usaha pemerintah juga tidak kurang. Berbagai terobosan dan fasilitas belajar telah diupayakan sehingga mutu pendidikan bisa ditingkatkan. Selain itu, melalui Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), pemerintah juga telah menetapkan standar yang pasti tentang bagaimana pendidikan di setiap jenjang dilaksanakan dan apa saja kompetensi minimal yang harus dicapai oleh setiap lulusannya (BSNP, 2005).

Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia dalam mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya. Pembangunan di bidang pendidikan merupakan merupakan sarana dan wahana yang sangat baik didalam pembinaan sumber daya manusia (Suryanto, 2015:89). Sehingga pendidikan dikatakan berhasil apabila tujuan pendidikan tercapai. Tujuan pendidikan adalah merubah pola pikir dari siswa serta menanamkan akhlak mulia kepada diri siswa tersebut. Untuk mencapai tujuan tersebut dibutuhkan suatu proses, yaitu proses pembelajaran. Hurhasnawati (2011:4) Proses pembelajaran dapat dipandang sebagai suatu proses komunikasi dengan pengertian bahwa pesan pembelajaran yang disampaikan oleh guru dapat diterima oleh guru dapat diterima (diserap) dengan baik atau dapat dikatakan menjadi milik siswa. Proses pembelajaran di sekolah diharapkan mampu memotivasi siswa untuk dapat berpartisipasi aktif di di dalam semua pelajaran yang ada disekolah. Salah satu mata pelajaran di sekolah yaitu kimia. Kimia adalah mata pelajaran yang mempelajari tentang materi dan perubahannya. Mata pelajaran ini sangat penting karena erat hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Banyak kejadian dalam kehidupan yang bisa dipelajari dari sudut pandang kimia. Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (IPA) yang sifatnya selalu berkembang dari waktu ke waktu sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan teknologi (Sanubari, 2014:145).

Sekolah Menegah Atas Negeri 1 Glumpanrg Baro Kabupaten Pidie, yang letaknya di Jalan Glumpang Baro Kecamatan Glumpang Baro Kabupaten Pidie Semua kelas paralel, penulis salah seorang guru di sekolah tersebut mengajar di kelas XI IPA-1, Menurut pengamatan penulis dari semua kelas hanya kelas XI IPA-1 yang kemampuan siswa masing rendah dari 8 orang siswa hanya 12 orang siswa yang tuntas atau hasil belajarnya baik, sedangkan lainnya masih rendah hasil belajarnya terutama Pelajaran Kimia Hal ini terbukti masih banyak siswa yang harus diremedialkan. Hal ini disebab oleh berbagai sebab diantaranya kami mengajar masih menggunakan metode, model, dan alat peraga yang belum relevan. Sehingga membuat siswa pasif, maka hasil belajarnya rendah. Sedangkan harapan penulis semua siswa bernilai baik dan tercapai KKM yang telah di tetapkan 70.

Salah satu cara elaborasi yang efektif adalah dengan menjelaskan materinya kepada orang lain karena seringkali siswa justru lebih mudah memahami materi pelajaran melalui penjelasan teman sebaya (Slavin, 2008:33). Salah satu model pembelajaran yang akan di terapkan adalah model pembelajaran tutor sebaya. Suherman dkk (2003:276) menyatakan Model pembelajaran tutor sebaya adalah siswa yang pandai memberikan bantuan belajar

(3)

1206

kepada siswa yang kurang pandai. Ahmadi dan Supriyono (2004: 45) mengatakan bahwa tutor adalah siswa yang sebaya yang ditunjuk/ditugaskan membantu temannya yang mengalami kesulitan belajar, karena hubungan antara teman umumnya lebih dekat dibandingkan hubungan guru-siswa. Dengan petunjuk-petunjuk dari guru tutor ini membantu temannya yang mengalami kesulitan. Pemilihan tutor ini didasarkan atas prestasi, punya hubungan sosial baik dan cukup disenangi oleh teman-temannya. Tutor berperan sebagi pemimpin dalam kegiatan kelompok sebagi pengganti guru. Jadi, sistem pengajaran tutor sebaya akan membantu siswa yang kurang mampu atau kurang cepat menerima pelajaran dari gurunya. Melalui model pembelajaran tutor sebaya di harapkan dapat meningkatkan keaktifan siswa karena dengan model pembelajaran ini siswa dapat menyerap informasi lebih cepat dan mudah selama model pembelajaran tutor sebaya ini sesuai dengan tujuan pembelajaran kimiayang sebenarnya.

METODE PENELITIAN

Penelitian dilaksanakan selama 3 bulan, mulai dari bulan Agustus sampai dengan bulan September 2019 di SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie. subyek penelitiannya adalah siswa kelas XI IPA-1 SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020 yang berjumlah 20 orang siswa yang terdiri dari 6 laki-laki dan 14 orang siswa perempuan. Dalam penelitian ini pengumpulan data menggunakan teknik tes (tes yang dilaksanakan setiap akhir siklus) dan non tes (Observasi dan dokumentasi). Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis dekskriptif. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang ditandai dengan adanya siklus, adapun dalam penelitian ini terdiri atas 2 siklus. Setiap siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Deskripsi Kondisi Awal

Pembelajaran sebelum pelaksanaan tindakan kelas, guru mengajar secara konvensional. Guru cenderung menstranfer ilmu pada siswa, sehingga siswa pasif, kurang kreatif, bahkan cenderung bosan. Disamping itu dalam menyampaikan Materi guru tanpa menggunakan alat peraga. Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana pembelajaran tampak kaku, berdampak pada nilai yang diperoleh mata pelajaran Kimia khususnya pada materi kesetimbangan kimia di SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Sebelum siklus I (pra siklus) Banyak siswa belum mencapai ketuntasan belajar minimal dalam mempelajari kompetensi dasar tersebut. Hal ini diindikasikan pada capaian nilai hasil belajar di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) sebesar 7,0. Seperti pada tabel berikut.

Tabel 1. Nilai Tes Pra Siklus

NO Hasil (Angka) Hasil (Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen

1 3,66-4,00 A Sangat baik - 0 %

2 3.00-3,65 B Baik 3 16,7 %

(4)

1207

4 1,66-2,65 D Kurang 8 44,4 %

5 <1,66 E Sangat Kurang 1 5,6 %

Jumlah 18 100%

Sumber: Hasil tabulais data Agustus 2019

Berdasarkan hasil analisis dalam tabel di atas diketahui bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai A (sangat baik) sejumlah 0% atau tidak ada, yang mendapat nilai B (baik) sebanyak 16,7% atau sebanyak 3 siswa dan yang mendapat nilai C (cukup) sebanyak 33,3% atau 6 siswa, dan yang mendapat nilai kurang 44,4% atau sebanyak 6 siswa, sedangkan yang mendapat nilai sangat kurang 5,6% atau sebanyak 1 siswa.

Deskripsi Hasil Siklus I

1) Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus I dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pemilihan Materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran. Materi yang dipilih dalam penelitian ini artinya setiap RPP disampaikan dalam 1 kali tatap muka. Dengan demikian, selama siklus I terjadi 2 kali tatap muka.

b. Pembentukan kelompok-kelompok belajar. Pada siklus I, siswa dalam satu kelas dibagi menjadi 4 kelompok kecil dengan memperhatikan heterogenitas kemampuan. 2) Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus I dapat dideskripsikan sebagai berikut: a. Pelaksanaan Tatap Muka

Tatap muka I dan II dengan RPP tentang pembelajaran Kimia khususnya materi kesetimbangan kimia di SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran tutor sebaya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

 Guru secara klasikal menjelaskan strategi pembelajaran yang harus dilaksanakan siswa.

 Secara kelompok siswa berkompetisi menempelkan pias–pias peta pada peta yang telah didesain. Kelompok yang selesai terlebih dulu boleh memperagakan yel–yelnya.

 Secara kelompok siswa mencari dan menemukan pada buku panduan.

 Secara kelompok siswa bertanya jawab antar kelompok untuk mempresentasikan hasil kerjanya.

 Kelompok yang mendapat skor paling tinggi mendapat hadiah.

 Guru memberi umpan balik hasil pemahaman siswa terhadap Materi yang dipelajari dengan mengadakan evaluasi berupa tes.

 Guru menilai hasil evaluasi.

 Guru memberikan tindak lanjut.

Sekilas gambaran proses pembelajaran pada siklus I, guru tidak lagi mentransfer Materi pada siswa, tapi siswa secara aktif bekerja sama dalam kelompok untuk mencari Materi serta mendiskusikannya. Siswa tampak aktif dan bergairah dalam pembelajaran. Dalam kegiatan ini mereka saling bekerja sama dan bertanggung jawab untuk

(5)

1208

berkompetisi dengan kelompok lain dalam menyelesaikan lembar kerja siswa .Suasana pembelajaran lebih menyenangkan nampak semua siswa bergairah dalam mengikuti pelajaran.

b. Wawancara

Wawancara dilaksanakan pada saat kegiatan tatap muka setelah selesai diskusi. Kegiatan wawancara dilaksanakan oleh guru terhadap beberapa anggota kelompok. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana perasaan siswa dalam memahami materi kesetimbangan kimia melalui model pembelajaran tutor sebaya dan wawancara juga digunakan sebagai bahan refleksi.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru kelas (teman sejawat) pada SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui secara detail keaktifan, kerjasama, kecepatan dan ketepatan siswa dalam memahami Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi dan untuk merencanakan rencana tindakan pada siklus II.

3) Hasil Pengamatan

Untuk memperjelas data hasil tes siklus I dapat dilihat pada tabel berikut ini: Tabel 2. Hasil Rekap Nilai Tes Siklus I

No Hasil (Angka) Hasil ( Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen

1 85-100 A Sangat baik 2 11,1 % 2 75-84 B Baik 9 50,0 % 3 65-74 C Cukup 6 33,3 % 4 55-64 D Kurang 1 5,6 % 5 <54 E Sangat Kurang - - Jumlah 100 %

Sumber: Hasil Tabulasi Data Oktober 2019

Dari hasil tes siklus I, menunjukkan bahwa hasil yang mencapai nilai A (sangat baik) adalah 2 siswa (11,1 %), sedangkan yang mendapat nilai B (baik) adalah 9 siswa atau (50,0 %), sedangkan dari jumlah 18 siswa yang masih mendapatkan nilai C (cukup) sebanyak 6 siswa (33,3 %), sedangkan yang mendapat nilai D (kurang) ada 1 siswa (5,6 %), sedangkan yang mendapat nilai D (sangat kurang) tidak ada atau 0 % .

4) Refleksi

Berdasarkan hasil tes kemampuan awal dengan hasil tes kemampuan siklus I dapat dilihat adanya pengurangan jumlah siswa yang masih di bawah Kriteria ketuntasan Minimal. Pada pra siklus jumlah siswa yang dibawah KKM sebanyak 15 anak dan pada akhir siklus I berkurang menjadi 11 anak. Nilai rata-rata kelas meningkat dari 4,83 menjadi 6,67. Jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan siklus I, seperti disajikan dalam tabel berikut ini.

(6)

1209

Tabel 3. Perbandingan Hasil Nilai Tes Pra Siklus dan Siklus I No Hasil Tes (dalam huruf ) Jumlah siswa yang berhasil

Pra Siklus Siklus I

1 A (85 -100) - 2 2 B (75-84) 3 9 3 C (65-74) 6 6 4 D (55-64) 8 1 5 E (< 54) 1 - Jumlah 18 18

Sumber: Hasil Tabulasi data September 2019

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadinya peningkatan dari pra siklus ke siklus I. Peningkatan ini dapat dilihat dari jumlah siswa yang memperoleh nilai E pada prasiklus berjumlah 1 siswa, sedangkan pada siklus I sudah tidak ada. Siswa yang memperoleh nilai D pada pra siklus berjumlah 8 siswa, sedangkan pada siklus I menurun menjadi 1 siswa. Siswa yang memperoleh nilai C masih sama yaitu 6 orang baik pada prasiklus maupun Siklus I. Namun siswa yang memperoleh nilai B pada prasiklus berjumlah 3 siswa, meningkat pada siklus I menjadi 9 siswa, sedangkan tidak ada siswa yang memperoleh nilai A pada prasiklus, akan tetapi pada siklus I meningkat menjadi 2 siswa.

Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Belajar antara Pra Siklus dengan Siklus I

No Ketuntasan

Jumlah Siswa

Pra Siklus Siklus I

Jumlah Persen Jumlah Persen

1. Tuntas 3 16,66% 7 38,88%

2. Belum Tuntas 15 83,34% 11 61,11%

Jumlah 18 100% 18 100%

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada prasiklus dari 18 siswa, jumlah siswa yang tuntas 3 siswa (16,66%) dan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 15 siswa (83,345). Pada siklus I jumlah siswa yang tuntas sebanyak 7 siswa (38,888%) dan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 11 siswa (61,11%) serta mengalami peningkatan ketuntasan sebesar 22,22% dari pada prasiklus. Namun demikian belum mencapai indikator yang diharapkan, sehingga perlu dilakukannya perbaikan perbaikan pembelajaran pada siklus II.

Deskripsi Hasil Siklus II

1) Perencanaan Tindakan

Perencanaan tindakan dalam siklus II dapat diuraikan sebagai berikut:

a. Pemilihan Materi dan penyusunan rencana pelasaksanaan pembelajaran. Dalam siklus II, pada hakikatnya merupakan perbaikan atas kondisi siklus I. Atas dasar Materi pelajaran tersebut kemudian dilanjutkan dengan pembuatan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Alokasi waktu yang dibutuhkan untuk kegiatan tersebut adalah 2 x 45 menit dengan 2 kali tatap muka.

(7)

1210

b. Pembentukan kelompok siswa. Pada siklus II, strategi pembelajaran yang digunakan dalam pembelajaran adalah pembelajaran dengan tutor sebaya, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar yang dikemas dalam bentuk kuis yang dikompetisikan antar kelompok, sehingga siswa dibagi menjadi 4 kelompok untuk memperebutakan penempatan letak peta secara benar tepat dan cepat.

2) Pelaksanaan Tindakan

Pelaksanaan tindakan pada siklus II dapat dideskripsikan sebagai berikut: a. Pelaksanaan Tatap Muka

Tatap muka I dan II dengan RPP tentang Materi . Metode pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran dengan Tutor sebaya. Adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:

 Guru memberikan evaluasi atas kegiatan pembelajaran pada siklus I.

 Guru memberikan motivasi pentingnya strategi pembelajaran dengan Tutor sebaya.

 Guru melatih siswa untuk menerapkan strategi pembelajaran dengan Tutor sebaya secara mandiri.

 Mengevaluasi tugas latihan pembelajaran dengan Tutor sebaya.

 Membimbing siswa untuk merangkum pelajaran.

 Guru memberikan evaluasi dengan tes.

 Guru menilai hasil evaluasi.

Pada pelaksanaan pembelajaran pada siklus II siswa masaih belajar secara kelompok, namun dalam kegiatan kelompok ini siswa tertantang untuk lebih mandiri dalam menguasai materi. Karena disamping belajar secara kelompok, namun mereka antar individu harus berkompetisi secara pribadi.

b. Wawancara

Wawancara dilaksanakan pada saat siswa melakukan kegiatan pembelajaran. Wawancara diperlukan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam memahami, memadukan dengan mata pelajaran lain. Disamping itu, wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan-kesulitan yang dialami oleh siswa. Hasil wawancara digunakan sebagai bahan refleksi.

c. Observasi

Observasi dilaksanakan pada keseluruhan kegiatan tatap muka, dalam hal ini observasi dilakukan oleh 2 (dua) observer yaitu guru pada SMA Negeri 2 Sigli Kabupaten Pidie. Observasi dilaksanakan untuk mengetahui aktivitas siswa secara langsung dalam proses pembelajaran. Hasil observasi digunakan sebagai bahan refleksi.

3) Hasil Pengamatan

Hasil pengamatan pada siklus II dapat dideskripsikan seperti pada tabel berikut ini. Tabel 5. Rekap Hasil Nilai Tes Siklus II

No Hasil (Angka) Hasil (Huruf) Arti Lambang Jumlah Siswa Persen

1 85-100 A Sangat Baik 4 22,2 %

2 75-84 B Baik 12 66,7 %

3 65-74 C Cukup 2 11,1 %

(8)

1211

5 <54 E Sangat Kurang - -

Jumlah 18 100%

Sumber: Tabulasi Data Oktober 2019

Dari diagram di atas dapat diketahui bahwa yang mendapatkan nilai sangat baik (A) adalah 22,2% atau 4 siswa, sedangkan yang terbanyak yaitu yang mendapat nilai baik (B) adalah 66,7% atau 12 siswa. Dan yang mendapat nilai C (cukup) adalah 11,1% atau sebanyak 2 siswa. Sedangkan yang mendapat nilai D dan E tidak ada. Sedangkan nilai rata-rata kelas 7,66. Ketuntasan belajar pada siklus II dapat ditabulasikan seperti pada tabel di bawah ini:

Tabel 6. Ketuntasan Belajar Siklus II

No Ketuntasan Belajar Jumlah Siswa

Jumlah Persen

1. Tuntas 16 88,89 %

2. Belum Tuntas 2 11,11 %

Jumlah 18 100 %

Berdasarkan data pada tabel tersebut di atas diketahui bahwa siswa yang mencapai ketuntasan sebanyak 16 siswa (88,88%) dan yang beluntas sebanyak 2 siswa (11,11%) yang berarti sudah ada peningkatan dibandingkan siklus I.

4) Refleksi

Berdasarkan nilai hasil siklus I dan nilai hasil siklus II dapat diketahui bahwa pembelajaran yang digunakan model pembelajaran tutor sebaya. Jika dibandingkan antara keadaan kondisi awal , siklus I dan siklus II dapat dilihat bahwa saat kondisi awal rata- rata kelas sebesar 4,83 , sedangkan nilai rata- rata kelas siklus II sudah ada peningkatan menjadi 6,67. Adapun kenaikan rata-rata pada siklus II menjadi 7,66. Untuk melihat peningkatan nilai siswa dapat dilihat pada tabel.

Tabel 7. Perbandingan Hasil Nilai Tes Model Siklus I dan Siklus II No Hasil Tes Jumlah Siswa yang Berhasil

Siklus I Siklus II 1 A (85 -100) 2 4 2 B (75-84) 9 12 3 C (65-74) 6 2 4 D (55-64) 1 - 5 E (< 54) - - Jumlah 18 18

Sumber: Hasil Tabulasi Data Oktober 2019

Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa terjadinya peningkatan dari siklus I ke siklus II. Peningkatan ini dapat dilihat tidak ada siswa yang memperoleh nilai E baik pada siklus I maupun siklus II. Siswa yang memperoleh nilai D pada siklus I berjumlah 1 orang, sedangkan pada siklus II tidak ada siswa yang mendapat nilai D. Siswa yang memperoleh nilai C pada Siklus I 6 siswa,sedangkan pada siklus II menurun menjadi 2 siswa. Namun

(9)

1212

siswa yang memperoleh nilai B pada siklus I berjumlah 9 siswa, meningkat pada siklus II menjadi 12 siswa, sedangkan yang memperoleh nilai A pada siklus I 2 siswa, akan tetapi pada siklus II meningkat menjadi 4 orang.

Tabel 9. Perbandingan Ketuntasan Nilai Rata-Rata Pra Siklus, Siklus I dan Siklus II

No Uraian Jumlah siswa Rata-Rata

Tuntas Belum Tuntas

1 Kondisi Awal 3 15 40,83

2 Siklus I 7 11 60,67

3 Siklus II 16 2 70,66

Berdasarkan data pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa pada prasiklus, jumlah siswa yang tuntas 3 siswa dan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 15 siswa denan rata-rata 40,83. Pada siklus I jumlah siswa yang tuntas sebanyak 7 siswa dan jumlah siswa yang belum tuntas sebanyak 11 siswa dengan rata-rata 60,67 serta mengalami peningkatan ketuntasan sebesar 22,22% dari pada prasiklus. pada siklus II siswa yang tuntas berjumlah 16 siswa dan siswa yang belum tuntas berjumlah 2 orang dengan rata-rata 7,66 dan mengalami peningkatan sebesar 50,01%. Pada siklus II sudah ketuntasan siswa sudah mencapai indikator yang diharapkan. sehingga penelitian dihentikan.

Pembahasan

Proses pembelajaran pada siklus I sudah menunjukkan adanya perubahan, meskipun belum semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan kegiatan yang bersifat kelompok ada anggapan bahwa prestasi maupun nilai yang di dapat secara kelompok . Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan permainan serta perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok, serta antar kelompok. Masing-masing siswa ada peningkatan latihan bertanya dan menjwab antar kelompok, sehingga terlatih ketrampilan bertanya jawab. Terjalin kerjasama inter dan antar kelompok. Ada persaingan positif antar kelompok mereka saling berkompetisi untuk memperoleh penghargaan dan menunjukkan untuk jati diri pada siswa. Hasil antara kondisi awal dengan siklus I menyebabkan adanya perubahan walau belum bisa optimal, hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar . Dari hasil tes akhir siklus I ternyata lebih baik dibandingkan dengan tingkat ketuntasan belajar siswa pada kondisi awal atau sebelum dilakukan tindakan. Perbandingan tersebut dapat disajikan pada tabel berikut :

Tabel 10. Perbandingan Kegiatan dan Hasil Pada Pra Siklus dan Siklus I

NO Pra Siklus Siklus I

1 Tindakan Tindakan

Pembelajaran konvensional, tanpa menggunakan alat peraga

Penerapan Model Pembelajaran totor sebaya

2 Hasil Belajar Hasil Belajar

 Ketuntasan  Ketuntasan

~ Tuntas : 3 ( 16,66%) ~ Tuntas : 7 ( 38,88%)

(10)

1213

 Nilai Tertinggi :8  Nilai Tertinggi : 9

 Nilai terendah :2  Nilai terendah :4

 Nilai rata- rata : 4,83  Nilai rata- rata : 6,67

 Refleksi

Nilai rata- rata meningkat 1,84 = 1,84/4,83 x100% =38,09%

3 Proses belajar Proses belajar

 Proses pembelajaran pasif  Proses pembelajaran ada perubahan , siswa

mulai aktif

 Siswa kurang terlibat dalam proses

pembelajaran

 Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran

 Siswa hanya mendengarkan, kadang mencatat  Siswa mencari dan menemukan materi,mencatat dan mengkomunikasikan antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok

 Belum memanfaatkan media pembelajaran yang tepat

 Sudah memanfaatkan media pembelajaran sesuai Materi

 Belum tumbuh kreatifitas dan kerjasama antar teman

 Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab mulai tampak

 Sebagian kecil indera yang aktif  Sebagian besar alat indera aktif

Dari hasil refleksi siklus I dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan pembelajaran tutor sebaya siswa mengalami peningkatan baik dalam mencapai ketuntasan belajar yaitu dari 15 siswa belum tuntas pada pra siklus 7 siswa yang belum tuntas. Sedangkan nilai rata – rata kelas ada kenaikan sebesar 38,09%. Pada siklus I ini belum semua siswa mencapai ketuntasan karena ada sebagian siswa berpandangan bahwa kegiatan yang bersifat kelompok, penilaiannya juga kelompok.

Proses pembelajaran pada siklus II sudah menunjukkan semua siswa terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran. Hal ini dikarenakan sekalipun kegiatan bersifat kelompok namun ada tugas individual yang harus dipertanggung jawabkan, karena ada kompetisi kelompok maupun kompetisi individu. Dari hasil pengamatan telah terjadi kreatifitas dan keaktifan siswa secara mental maupun motorik, karena kegiatan pembelajaran yang dilakukan dengan permainan perlu kecermatan dan ketepatan. Ada interaksi antar siswa secara individu maupun kelompok, serta antar kelompok. Masing- masing siswa ada peningkatan latihan bertanya jawab dan bisa mengkaitkan dengan mata pelajaran lain maupun pengetahuan umum, sehingga disamping terlatih ketrampilan bertanya jawab, siswa terlatih berargumentasi. Ada persaingan positif antar kelompok untuk penghargaan dan menunjukkan jati diri pada siswa.

Hasil antara siklusI dengan siklus II ada perubahan secara signifikan, hal ini ditandai dengan peningkatan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan belajar. dari hasil tes akhir siklus II ternyata lebih baik dibandingkan dengan tingkat ketuntasan belajar siswa pada siklus I. Peningkatan hasil belajar maupun ketuntasan tersebut dapat disajikan pada tabel 4.18 dibawah ini:

Tabel 11. Perbandingan Kegiatan dan Hasil Pada Siklus I dan Siklus II

NO Siklus I Siklus II

1 Tindakan Tindakan

Penerapan Model Pembelajaran totor sebaya

(11)

1214

2 Hasil Belajar Hasil Belajar

 Ketuntasan  Ketuntasan

~ Tuntas : 7 (38,88%) ~ Tuntas : 16 ( 88,89%)

~ Belum tuntas : 11( 61,11%) ~ Belum tuntas : 2( 11,,11%)

 Nilai Tertinggi :9  Nilai Tertinggi : 10

 Nilai terendah :4  Nilai terendah :6

 Nilai rata- rata : 6,67  Nilai rata- rata : 7,66

 Refleksi

Nilai rata- rata meningkat 0,99 = 0,99/6,67 x100% =14,84%

3 Proses belajar Proses belajar

 Proses pembelajaran ada perubahan, siswa mulai aktif

 Proses pembelajaran siswa aktif dan kreatif serta cekatan

 Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran

 Siswa terlibat langsung dalam proses pembelajaran, dan masing- masing siswa punya tugas mandiri

 Siswa mencari dan menemukan materi, mencatat serta mengko-munikasikan antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok

 Siswa mencari dan menemukan materi,mencatat dan mengkomunikasikan dan mendemontra-sikan hasil penyelesaian secara kompetitif antar teman dalam kelompok maupun antar kelompok

 Belum memanfaatkan media

pembelajaran sesuai materi

 Sudah memanfaatkan media pembelajaran sesuai Materi yaitu pias-pias peta yang diperagakan

 Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab mulai tampak.

 Kreatifitas, kerjasama, tanggung jawab dan ide, kecermatan, ketepatan dan kecepatan muncul

 Sebagian besar alat indera aktif  Semua alat alat indera aktif, baik mental

maupun fisik

Dengan melihat perbandingan hasil tes siklus I dan siklus II ada peningkatan yang cukup signifikan, baik dilihat dari ketuntasan belajar maupun hasil perolehan nilai rata- rata kelas. Dari sejumlah 18 siswa masih ada 2 siswa yang belum mencapai ketuntasan, hal ini memang kedua siswa tersebut harus mendapatkan pelayanan khusus, namun sekalipun 2 siswa ini belum mencapai ketuntasan, di sisi lain tetap bergairah dalam belajar. Sedangkan ketuntasan ada peningkatan sebesar 228,62% dibandingkan pada siklus I

Sedangkan nilai tertinggi pada siklus I sudah ada peningkatan dengan mendapat nilai 10 sebanyak 4 siswa, hal ini karena ke-empat anak tersebut disamping mempunyai kemampuan cukup, didukung rasa senang dan dalam belajar, sehingga mereka dapat nilai yang optimal. Dari nilai rata- rata kelas yang dicapai pada siklus II ada peningkatan sebesar 24,84 % dibandingkan nilai rata- rata kelas pada siklus I. Secara umum dari hasil pengamatan dan tes sebelum pra siklus, hingga siklus II, dapat disimpulkan bahwa melalui penerapan model pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar Kimia.

Dari hasil penelitian, dapat dilihat dan telah terjadi peningkatan hasil belajar siswa kelas XI IPA-1 pada materi kesetimbangan kimia melalui penerapan model pembelajaran tutor sebaya dengan nilai rata- rata yaitu 4,83 pada kondisi awal menjadi 6,67 pada siklus I dan 7,66 pada siklus II. Nilai rata-rata siklus I meningkat 38,09% dari kondisi awal, nilai rata-rata siklus II meningkat 14,84% dari siklus I. Peningkatan nilai rata-rata kelas secara keseluruhan sebesar 2,83. Sedangkan ketuntasan belajar pada siklus I ada peningkatan

(12)

1215

sebesar 22,22% dari kondisi awal, siklus II meningkat 50,01% dari siklus I. Pada akhir siklus II jelas terdapat perubahan positif pada siswa mengenai pemahaman siswa. Dengan menggunakan pembelajaran tutor sebaya dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA-1 materi kesetimbangan pelajaran kimia melalui model pembelajaran tutor sebaya pada SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie.

PENUTUP Simpulan

Penerapan Pembelajaran Tutor Sebaya Siswa kelas XI IPA-1 materi kesetimbangan kimia. Hasil belajar mata Pelajaran Kimia khususnya materi kesetimbangan kimia di SMA Negeri 1 Glumpang Baro Kabupaten Pidie Tahun Pelajaran 2019/2020, pada akhir siklus I, siswa yang mencapai ketuntasan belajar sebanyak 61,11% (25 siswa), dan siswa yang belum tuntas sebanyak 38,89% (7 siswa), sedangkan pada akhir siklus II, sebanyak 88,89% (16 siswa) dan sebanyak 11,11% (2 siswa) belum mencapai ketuntasan belajar. Dengan nilai rata-rata kelas siklus I 6,67 dan rata- rata kelas siklus II 7,66. Adapun hasil non tes pengamatan proses belajar menunjukkan perubahan siswa lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Secara keseluruhan rata-rata kelas mencapai kenaikan sebesar 0,99 atau 14,84%, dan ketuntasan belajar siswa secara keseluruhan mencapai peningkatan sebesar 72,23% jika dibandingkan dengan kondisi awal.

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, H. Abu dan Supriyono, Widodo. 2004. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta. Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 2006. Kurikulum 2006. Jakarta: Madia

Makmur Maju Mandiri.

Depdiknas. 2006. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: Depdiknas.

Eko Suryanto, dkk. 2015. Efektivitas Model Pembelajaran Modified Free Inquiry(MFI)

disertai Peer Tutoring Terhadap Belajar Siswa Pada Materi Hidrolisis Garam SiswaKelas XI Semester Genap SMAN 1 Kartasura Tahun Pelajaran 2013/2014.

Surakarta: Jurnal FKIP UNS.

Nurhasnawati. 2011. Media Pembelajaran. Pekanbaru: Yayasan Pusaka Riau.

Sanubari, Fajar. dkk 2014. Penerapan Metode Pembelajaran Tutor Teman Sebaya

Dilengkapi Dengan Media Interaktif Flash Untuk Meningkatkan Minat Dan Prestasi Belajar Siswa Kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1Sukoharjo Tahun Pelajaran 2013/2014 Pada Materi Penyangga. Dalam jurnal pendidikan kimia (JPK), Vol 3 No. 4 tahun 2014, ISSN 2337-9995

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning Teori, Riset dan Praktik. Bandung: Bumi Aksara. Suherman, Erman dkk. 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung:

Gambar

Tabel 1. Nilai Tes Pra Siklus
Tabel  2. Hasil  Rekap Nilai Tes Siklus I
Tabel 4. Perbandingan Ketuntasan Belajar antara Pra Siklus dengan Siklus I  No  Ketuntasan
Tabel 5. Rekap Hasil Nilai Tes Siklus II
+4

Referensi

Dokumen terkait

Dengan adanya hasil tes akhir siklus II telah mencapai indikator keberhasilan yang ditetapkan di kelas yakni Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 70 atau minimal

Peneliti juga memberikan reward kepada guru-guru yang telah melaksanakan disiplin waktu kehadiran sekolah dan disiplin waktu dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, maka peneliti sebagai Kepala sekolah tertarik untuk melakukan penelitian dengan menerapkan supervisi

Setelah kedua kelas diketahui mempunyai kemampuan awal yang sama, selanjutnya dilakukan uji perbedaan dua rata-rata yang bertujuan untuk mengetahui apakah

Penelitian ini merupakan penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menetapkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) melalui

Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil pra-siklus, hasil tindakan siklus I, dan hasil tindakan siklus II. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan melalui

n = Banyaknya mahasiswa yang mengikuti tes Hasil tes akhir siklus dikatakan memenuhi kriteria jika mahasiswa yang mendapat nilai lebih dari sama dengan 56 paling sedikit 75 % dari

Hasil tersebut memenuhi kriteria minimal ketuntasan yang ditentukan yaitu sebesar 75% dari keseluruhan peserta didik mencapai kategori aktif sehingga mem- buktikan bahwa penerapan model