• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONSEP PENGATURAN EKSEKUSI PERADILAN TAT

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KONSEP PENGATURAN EKSEKUSI PERADILAN TAT"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 480

KONSEP PENGATURAN EKSEKUSI PERADILAN TATA USAHA NEGARA DI INDONESIA

Oleh :

Abdul Roni, S.H., M.H. ABSTRAK

Mengingat kelebihan dari Peradilan Tata Usaha Negara di negara Thailand penulis tertarik untuk membandingkan mekanisme pelaksanaan putusan peradilan tata usaha Indonesia dengan di negara Thailand. Harapan penulis dengan membandingkan mekanisme antara kedua negara ini, maka dapat diperoleh gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan dari keduanya, selanjutnya dapat pula diperoleh manfaat dari perbandingan tersebut. Untuk kemudian dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan konsep pengaturan mengenai eksekusi atau pelaksanaan putusan peradilan tata usaha negara di Indonesia. Inti yang didapatkan dari pembahasan dalam konteks dengan permasalahan yang menjadi pokok kajian dalam tulisan ini adalah pemberian sanksi dalam bentuk upaya paksa sebagaimana dimaksud dalam UU PTUN tetap dilaksanakan (eksekutornya) adalah pejabat atasan secara bertingkat dari pejabat tata usaha negara yang dikenai putusan Peradilan Tata Usaha Negara selaku pihak tereksekusi, sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara hanya memerintahkan kepada pejabat atasan dari pejabat tata usaha negara yang tereksekusi, agar supaya putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang telah berkekuatan hukum tetap itu untuk segera dilaksanakan oleh pejabat tata usaha negara yang dikenai putusan selaku

pihak yang tereksekusi. Konsep hukum eksekusi Peradilan tata usaha negara di masa yang akan datang diperlukan tindakan hukum legislator dengan cara membentuk peraturan perundangan dalam bentuk undang-undang tentang jabatan yang mengatur mengenai tata cara atau mekanisme pembebanan uang paksa dan atau sanksi administrasi serta prosedur pengumuman media masa bagi tergugat (pejabat tata usaha negara) yang tidak melaksanakan putusan peradilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum tetap.

A. Pendahuluan

(2)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 481

Negara). Mengingat kendala yang dialami di Indonesia bahwa putusan pengadilan seringkali tidak dipatuhi oleh pemerintah. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa di Indonesia, jaminan terhadap akses keadilan warga negara sebagai penggugat untuk memperoleh keadilan terhambat (Justice Delay) karena putusan hakim yang telah (inkracht van gewijde) tidak dilaksanakan. Disamping itu, pengaturan pelaksanaan upaya paksa tidak efektif untuk memaksa pemerintah (tergugat dalam Kasus Tata Usaha Negara) untuk melaksanakan putusan pengadilan. Untuk menjawab permasalahan tersebut digunakanlah mekanisme upaya paksa yang relatif baru dalam pelaksanaan putusan pengadilan tata usaha negara yang terus disempurnakan teknis pelaksanaannya dalam ketiga Pasal dalam Undang-undang di atas. Eksekusi putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang dilaksanakan sebelum adanya revisi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 lebih dipengaruhi oleh asas self respect/self obicence dan sistem floating execution, yaitu kewenangan melaksanakan putusan pengadilan yang sudah berkekuatan hukum tetap, sepenuhnya diserahkan kepada badan atau pejabat yang berwenang tanpa adanya kewenangan bagi Peradilan Tata Usaha Negara untuk menjatuhkan sanksi. Proses pelaksanaan putusan Peradilan TUN, setelah Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 direvisi melalui Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang

Nomor 51 Tahun 2009, memperlihatkan dipergunakannya system fixed execution, yaitu eksekusi yang pelaksanaannya dapat dipaksakan oleh pengadilan melalui sarana-sarana pemaksa yang diatur didalam peraturan perundang-undangan.

Kondisi hukum di Indonesia yang seringkali tidak mematuhi putusan pengadilan Tata Usaha Negara berbeda dengan kondisi negara lain yang cenderung sudah mapan dalam praktek negara hukumnya1. Dalam studi perbandingan antara pengadilan administrasi di Prancis, Belanda, Belgia dan Luksemburg (Conseil

D’Etat), Jerman

(Bundesverwaltungsgericht), Yunani (Symvoulion Epikratias), Italia (Consiglio di Stato), Spanyol (Tribunal Supremo), Swiss (Tribunal Federal) dan Mahkamah Uni Eropa (European Union Court of Justice), Frank Esparraga mendapatkan salah satu kesimpulan bahwa pelaksanaan putusan pengadilan administrasi di negara-negara tersebut tidak mengalami kendala yang berarti, disebabkan pada umumnya otoritas publik melaksanakan putusan pengadilan “…however, it can be said that in the countries examined, public authorities generally apply the decisions of

1http://209.85.175.104/search? q-cache:

(3)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 482

the courts2”. Kendati ketaatan pejabat publik terhadap putusan pengadilan terbilang tinggi, jarang putusan pengadilan tidak dipatuhi, namun jika otoritas yang terkait masih enggan melaksanakan putusan pengadilan, kerangka penyelesaian sengketa administrasi di sana menawarkan beberapa prosedur agar putusan ditindaklanjuti oleh pihak yang terkait seperti pengenaan denda atau dimungkinkannya gugatan ganti rugi ke peradilan umum seperti di Prancis dan Belgia3.Tidak berbeda jauh dengan negara yang mapan secara hukum administrasi tersebut, negara tetangga indonesia, Thailand bisa menjadi contoh yang baik mengenai mekanisme hukum yang diterapkan agar putusan pengadila tata

2

Frank Esparraga, Director, Secretariat, Department of Veterans’ Affairs, Sydney, Developments in European Administrative La w. In Administrative Law under the Coalition Government, Edited by John Mc Millan, Published in Canberra by Australian Institute of Administrative Law Inc, 1998. Dalam http://ptunpalu.go.id/index.php?

option=com_content&

view=category&id=1&Itemid=341&FontSize=font-small diakses 23 Maret 2011.

3 Meskipun Peradilan Administrasi di

Thailan baru dibentuk pada tahun 2001, akan tetapi keberadaannya telah ada sejak lama. Keberadaan Peradilan tersebut dapat ditelusuri sejak tahun 1874, Lihat dalam Mahkamah Agung RI. 2009. Laporan Studi Banding Ke Peradilan Administrasi Thailand. Jakarta: MA RI, hlm. 1

usaha negara dapat dipatuhi oleh pihak terkait (Pemerintah). Di negara Thailand meskipun peradilan administrasi baru saja lahir kurang lebih 10 tahun yang lalu4, jauh lebih baik daripada PTUN di Indonesia.

Peradilan Tata Usaha Negara di Thailand secara prosedur berperkara, hanya terdiri dari dua tingkat pemeriksaan saja. MA Peradilan Tata Usaha Negara di Thailand adalah MA tersendiri, terlepas dari MA peradilan umum, dan peradilan lain-lainnya 5”. Sistem peradilan dua

4 Lintong Oloan Siahaan, dalam Sulistyo,

Penerapan Sistem Peradilan 2 (dua) tingkat untuk Peradilan TUN: Studi Tentang UU. No. 5 Tahun 2004 Perubahan Kedua UU. No. 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah Agung, Medan: Sekolah Pasca Sarjana USU, 2007, hlm. 123-124.

5 Apabila negara tersebut menganut sistem

(4)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 483

tingkat dan MA tersendiri ini,banyak dianut diberbagai negara, seperti Belanda dan Prancis. Pada umumnya negara-negara yang mengatur sistem tersebut di atas, mengalami kemajuan pesat dalam perkembangan Peradilan Administasi (PTUN) di negara-negara tersebut sangat maju, berwibawa dan disegani.

B. Permasalahan

Mengingat kelebihan dari Peradilan Tata Usaha Negara di negara Thailand penulis tertarik untuk membandingkan mekanisme pelaksanaan putusan peradilan tata usaha Indonesia dengan di Thailand. Harapannya dengan membandingkan mekanisme antara keduanya dapat diperoleh gambaran mengenai kelebihan dan kelemahan dari keduanya, selanjutnya dapat diperoleh manfaat dari perbandingan tersebut. Untuk kemudian dapat memberikan masukan bagi penyempurnaan konsep pengaturan mengenai eksekusi atau pelaksanaan putusan peradilan tata usaha negara di Indonesia.

C. Pembahasan

Indonesia sebagai negara hukum, termasuk kategori negara hukum modern. Konsepsi negara hukum modern secara konstitusional dapat dirujuk pada rumusan tujuan negara Republik Indonesia, yang menyatakan antara lain: melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah dara Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa serta mewujudkan keadilan sosial. Realisasi terhadap tujuan negara tersebut dilakukan melalui proses pembangunan secara bertahap, berlanjut dan berkesinambungan, sehingga konsekuensi dari itu pemerintah berperan aktif dalam melaksanakan tugas pembangunan dan tugas pelayanan publik.

Untuk memperlancar peran, tugas dan tanggung jawab pemerintah dalam melaksanakan tugas pembangunan serta tugas pelayanan publik yang demikian luas dan berat, kepada pemerintah diberikan pula wewenang berupa freies ermessen atau discretionaire. Dalam melaksanakan atau menyelenggarakan proses pembangunan tersebut, selama ini banyak sekali ditemukan pejabat tata usaha negara menuangkan berbagai tindakan-tindakannya dalam bentuk freies ermessen, seperti peraturan, surat edaran, pengumuman, pedoman dan sebagainya

1. Keputusan administratif

(5)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 484

abstrak, yang dalam praktik tampak dalam bentuk keputusan-keputusan yang sangat berbeda. Namun demikian keputusan-keputusan administratif juga mengandung ciri-ciri yang sama, karena akhirnya dalam teori hanya ada satu pengertian “keputusan administratif”. Adalah penting untuk mempunyai pengertian yang mendalam tentang pengertian keputusan administratif, karena perlu untuk dapat mengenal dalam praktek keputusan-keputusan/tindakan-tindakan tertentu sebagai keputusan administratif. Hal itu diperlukan, karena hukum positif akan mengikat akibat-akibat hukum tertentu pada keputusan-keputusan tersebut, misalnya suatu penyelesaian hukum melalui hakim tertentu. Sifat norma hukum keputusan adalah individual konkrit6.

Konsep hukum eksekusi putusan peradilan Tata Usaha Negara harus memenuhi dan terkait dengan unsur-unsur yuridis dari keputusan tata usaha negara, yang menurut hukum positif yaitu sebagai berikut:

Suatu penetapan tertulis

Dikeluarkan oleh badan atau pejabat Tata Usaha Negara

Berisi tindakan hukum Tata Usaha Negara

6 Philipus M. Hadjon dkk, Pengantar

Hukum Administratif Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University perss, 2008, hlm. 124.

Berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Bersifat konkrit, individual dan final

Menimbulkan akibat hukum bagi seseorang atau badan hukum perdata7.

Eksekusi yang lebih menitik beratkan pada kesadaran pejabat tata usaha negara atau dengan peneguran berjenjang secara hirarki (floating excecution) sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, yang sudah direvisi dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 kemudian direvisi lagi dengan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009, artinya pelaksanaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara diserahkan sepenuhnya kepada pejabat tata usaha negara agar dengan kesadaran hukumnya sendiri bersedia melaksanakan putusan pengadilan, model ini disebut juga dengan eksekusi mengambang karena tidak adanya upaya paksa dari pengadilan untuk melaksanakan putusannya maupun dengan sistem yang lain sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor

7 SF. Marbun, Telaah Yuriprudensi

(6)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 485

51 Tahun 2009 yang merupakan perubahan kedua dari Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 yang menyangkut masalah eksekusi dikenal dengan sistem fixed excecution yaitu eksekusi yang pelaksanaannya dapat dipaksakan oleh pengadilan melalui sarana-sarana pemaksa yang ada, ternyata masih tidak cukup efektif dapat memaksa Pejabat Tata Usaha Negara agar melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara8.

Putusan pengadilan yang dapat dilaksanakan adalah putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde)9. Menurut Indroharto pelaksanaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap pun diwaktu yang akan datang tidak selalu akan semudah yang diharapkan10. Terhadap putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah berkekuatan hukum tetap pada kenyataannya di lapangan masih

8

Supandi, Kepatuhan Hukum Pejabat Dalam Menaati Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan, Ringkasan Penelitian (Disertasi) pada Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005, hlm. 2.

9 Lihat Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5

Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

10Indroharto, Usaha Memahami

Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku II, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005, hlm. 244.

banyak yang tidak dilaksanakan oleh pejabat tata usaha negara, walaupun proses eksekusi sebagaimana diatur dalam Pasal 116 Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 yang merupakan perubahan kedua dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara telah dilakukan sebagaimana tahapan-tahapan yang dimaksud didalam pasal 116 tersebut.

Semestinya seorang pejabat tata usaha negara seharusnya melaksanakan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara karena jabatan Tata Usaha Negara yang merupakan jabatan pemerintahan dilekati dengan hak dan kewajiban atau diberi wewenang untuk melakukan tindakan hukum atau perbuatan hukum yang dilaksanakan oleh pejabatnya11. Di dalam praktek tentang dilaksanakan atau tidaknya putusan Pengadilan Tata Usaha Negara itu bisa berupa: 1). Putusan yang berkekuatan hukum tetap dan mempunyai nilai eksekusi berupa kewajiban tergugat (pejabat tata usaha negara) untuk melakukan sesuatu perbuatan hukum biasanya mencabut suatu keputusan atau menerbitkan keputusan baru sesuai dengan amar (perintah) dalam putusan pengadilan tersebut. 2). Mematuhi perintah hakim dalam penetapannya untuk menangguhkan pelaksanaan tindak lanjut keputusan yang sedang disengketakan itu

11

(7)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 486

sebagai pengecualian terhadap asas Presumptio Iustae Causa12.

2.Ombudsman sebagai lembaga kontrol mal administrasi

Mensiasati agar supaya putusan Pengadilan Tata usaha Negara dapat dilaksanakan dengan baik oleh badan atau pejabat tata usaha negara, maka perlu adanya lembaga kontrol, baik yang bersifat internal maupun eksternal, disini peran dan kontrol dari masyarakat juga sangat diperlukan agar tugas dan pelayanan badan-badan peradilan dan organ-organ administrasi benar-benar berfungsi sesuai peraturan perundang-undangan, kontrol dari masyarakat tersebut salah satunya diwujudkan dengan lahirnya Komisi Ombudsman Nasional.

Komisi Ombudsman Nasional dibentuk pada Tahun 2000 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 2000, pembentukan komisi ombudsman di maksudkan untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa, membantu penguasa agar bekerja secara efektif dan efisien, menanamkan sistem akuntabilitas kepada setiap penyelenggara kekuasaan publik, karena pembentukan komisi ombudsman nasional masih dibentuk berdasarkan keputusan presiden, maka untuk lebih memantapkan posisinya

12 Supandi, Op.Cit, hlm. 6.

dari segi hukum perlu dibentuk atas dasar undang-undang tersendiri. Dalam perkembangannya pada tahun 2008 disahkanlah Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia, dengan adanya Undang-Undang ini Komisi Ombudsman Nasional yang sebelumnya dibentuk berdasarkan Keputusan Presiden telah berubah nomenklatur penyebutannya dari ”Komisi Ombudsman Nasional” menjadi ”Ombudsman Republik Indonesia”.

Menurut ketentuan Pasal 6 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia bahwa Ombudsman berfungsi mengawasi penyelenggaraan pelayanan publik yang diselenggarakan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan baik dipusat maupun didaerah termasuk yang diselenggarakan oleh Badan Usaha Milik Negara, Badan Usaha Milik Daerah, dan Badan Hukum Milik Negara serta badan swasta dan perseorangan yang diberi tugas menyelenggarakan pelayanan publik tertentu13.

Pengawasan di dalam

penyelenggaraan pemerintahan adalah mutlak diperlukan karena tanpa pengawasan atau pengawalan dapat terjadi

13 Lihat Undang-Undang Republik

(8)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 487

tindakan yang sesuka hati, setengah hati, tidak berhati-hati ataupun tanpa hati dalam proses penyelenggaraan pemerintahan14. Mal administrasi menurut Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia pada Pasal 1 angka 3 disebutkan sebagai perilaku atau perbuatan melawan hukum, melampaui wewenang, menggunakan wewenang untuk tujuan lain dari yang menjadi tujuan wewenang tersebut, termasuk kelalaian atau pengabaian kewajiban hukum dalam penyelenggaraan pelayanan publik yang dilakukan oleh penyelenggara negara dan pemerintahan yang menimbulkan kerugian materil dan/atau immateriil bagi masyarakat dan orang perseorangan15.

Pembentukan ombudsman nasional adalah untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan oleh penguasa, membantu penguasa agar bekerja secara efektif dan efisien, menanamkan sistem akuntabilitas kepada setiap penyelenggara kekuasaan publik16. Menurut Sunaryati Hartono,

14 Saldi Isra, Membangun Demokrasi

Membongkar Korupsi, Sebuah Kumpulan Wa wancara, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010, hlm. xxxv.

15 Lihat Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang

Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia.

16 Antonius Sujata, Efektifitas Komisi

Ombudsman Nasional, Cetakan Komisi Ombudsman Nasional, Jakarta, 2002, hlm.10

sebagaimana dinyatakan oleh Lintong Oloan Siahaan bahwa ombudsman nasional bukan lembaga pengadilan, Kejaksaan, Kepolisian maupun Pengacara, meskipun dalam menjalankan tugasnya sehari-hari bekerjanya hampir mirip dengan tugas lembaga-lembaga tersebut17.

Tugas Ombudsman Nasional juga berbeda dengan tugas lembaga swadaya masyarakat, Ombudsman harus membatasi diri sedemikian rupa hingga tidak terjadi duplikasi penanganan masalah pengaduan dengan lembaga-lembaga yang ada, misalnya komisi tidak akan mencampuri pengambilan putusan-putusan pengadilan secara teknis, akan tetapi apabila ada kelainan-kelainan dalam prosedur administrasi yang bertentangan dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan yang diperkirakan dapat mempengaruhi pengambilan putusan itu, maka kelainan-kelainan prosedur administrasi itulah yang menjadi objek sasaran penelitian Ombudsman, demikian juga terhadap lembaga-lembaga kejaksaan, kepolisian dan organ administrasi lain-lainnya18.

Hubungan antara peranan Ombudsman Republik Indonesia dengan

17 Lintong Oloan Siahaan, Prospek PTUN

Sebagai Pranata Penyelesaian Sengketa Administrasi Di Indonesia, Jakarta: Perum Percetakan Negara RI, 2005, hlm. 132.

(9)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 488

pelaksanaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara secara tegas tidak diatur, baik di dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara terutama pasal 116 yang mengatur masalah eksekusi atau pelaksanaan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) tentang adanya kewenangan Ombudsman Republik Indonesia untuk ikut berperan serta sebagai pelaksana putusan Pengadilan Tata Usaha Negara.

Begitupun di dalam Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 tentang Ombudsman Republik Indonesia terutama pada Pasal 6 dan Pasal 7 tentang fungsi dan tugas Ombudsman Republik Indonesia juga secara tegas tidak disebutkan adanya peran dari ombudsman untuk menindak lanjuti putusan Pengadilan Tata Usaha Negara yang tidak dilaksanakan oleh pejabat Tata Usaha Negara. Dalam hubungannya dengan hal tersebut di atas, walaupun secara normatif memang secara tegas tidak diatur adanya hubungan antara pelaksanaan putusan Peradilan tata usaha negara disatu sisi dengan tugas dan kewenangan ombudsman disisi lain, tetapi dalam tataran praktek penulis melihat adanya peran dari Ombudsman Republik Indonesia yang seolah-olah dapat dikatakan sangat stategis bila difungsikan

sebagai organ/lembaga pelaksana putusan Pengadilan Tata Usaha Negara.

3. Konsep eksekusi peradilan tata usaha negara di masa yang akan datang

Dalam konteks dengan pembahasan konsep hukum pengaturan eksekusi peradilan tata usaha negara di masa, kiranya perlu dikemukakan bahwa subjek dalam hukum administrasi adalah jabatan. Subjek yang abstrak yakni jabatan tidak dapat dituntut pidana karena tidak mungkin dapat melakukan kesalahan, yang dapat melakukan tindak pidana sebagai kesalahan adalah pemegang jabatanya yaitu orang yang bedrtindak mewakili jabatan yang disebut pejabat. Jadi pejabat yang menyimpang/menyeleweng dari tugasnya dapat dituntut baik secara hukum pidana, hukum perdata, dan hukum administratif. Pengertian jabatan (ambt) adalah lingkungan pekerjaan-pekerjaan yang tetap dalam hubungan dengan keseluruhan tugas negara. Jadi jabatan merupakan suatu kesatuan yang lebih kecil sebagai bagian dari kesatuan tugas-tugas yang lebih besar yaitu tugas-tugas negara.

(10)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 489

dibedakan antara pejabat-pejabat struktural dan pejabat-pejabat non struktural.

Amrah Muslimin dalam buku Beberapa azas dan pengertian pokok tentang administrasi dan hukum administrasi menerangkan bahwa :

Pejabat-pejabat yang struktural : hubungan antara negara dan pejabat-pejabat ini adalah hubungan dinas publik, berdasarkan peraturan umum tentang kepegawaian. Golongan ini merupakan golongan pejabat-pejabat yang terbesar jumlahnya ditentukan menurut formasi.

Pejabat-pejabat yang non struktural : yang hubunganya dengan pemerintah diliputi oleh unsur-unsur politik. Pejabat-pejabat ini disebut Pejabat-pejabat-Pejabat-pejabat negara yang fasilitas-fasilitas keuangan dan sarana kerjanya diliputi oleh aturan-aturan khusus diluar aturan-aturan pejabat diluar pejabat negeri. Dalam golongan kedua ini termasuk antara lain: Menteri-menteri, Ketua-ketua Lembaga Tertinggi Negara dan sebagainya.19

Dari pengertian yang dikemukakan oleh Amran Muslimin sebagaimana

19

Amrah Muslimin, Beberapa asas dan Pengertian Pokok Tentang Administrasi dan Hukum Administrasi, Bandung, Alumni, 1985, hlm. 18

tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa berdasarkan pada adanya pepatah, yang menyatakan Hak Publik dalam arti subyektif adalah kewajiban publik ( Publiek Recht is Publieke plicht ), hal ini mengandung makna eksekusi peradilan tata usaha negara yang diartikan oleh pejabat tata usaha negara selaku pihak yang tereksekusi sebagai hak, yang sebenarnya adalah dalam pengertian subyektif merupakan suatu kewajiban.

Oleh karena melaksanakan keputusan peradilan tata usaha negara merupakan kewajiban dalam arti publik, maka sudah seharusnyalah badan atau pejabat tata usaha negara itu mematuhi dan melaksanakan keputusan peradilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum tetap dan bagi badan/pejabat tata usaha negara yang tidak melaksanakan keputusan peradilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum tetap, maka terhadap badan/pejabat tata usaha negara itu dapat dikenakan sanksi yang pengaturanya harus dirumuskan dalam undang-undang tentang jabatan sebagai sarana upaya paksa.

D. Kesimpulan

(11)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 490

tereksekusi, sedangkan Peradilan Tata Usaha Negara hanya memerintahkan kepada pejabat atasan dari pejabat tata usaha negara yang tereksekusi, agar supaya putusan Peradilan Tata Usaha Negara yang telah berkekuatan hukum tetap itu untuk segera dilaksanakan oleh pejabat tata usaha negara yang dikenai putusan selaku pihak yang tereksekusi.

Konsep hukum eksekusi Peradilan tata usaha negara di masa yang akan datang diperlukan tindakan hukum legislator dengan cara membentuk peraturan perundang-undangan dalam bentuk undang-undang tentang jabatan yang mengatur mengenai tata cara atau mekanisme pembebanan uang paksa dan atau sanksi administrasi serta prosedur pengumuman media masa bagi tergugat (pejabat tata usaha negara) yang tidak melaksanakan putusan peradilan tata usaha negara yang telah berkekuatan hukum tetap.

DAFTAR PUSTAKA

Mahkamah Agung RI. 2009. Laporan Studi Banding Ke Peradilan Administrasi Thailand. Jakarta: MA RI

Lintong Oloan Siahaan, dalam Sulistyo, Penerapan Sistem Peradilan 2 (dua) tingkat untuk Peradilan TUN: Studi Tentang UU. No. 5 Tahun 2004 Perubahan Kedua UU. No. 14 Tahun 1985 Tentang Mahkamah

Agung, Medan: Sekolah Pasca Sarjana USU, 2007

Philipus M. Hadjon dkk, Pengantar Hukum Administratif Indonesia, Yogyakarta: Gadjah Mada University perss, 2008

SF. Marbun, Telaah Yuriprudensi Aanwijziq Natuurmonumenten, Penunjukan Satu Daerah Sebagai Staatnatuurmonument Bukan Merupakan Keputusan yang Mengikat Umum, Paper untuk penataran Hukum Administrasi Negara, Kerja Sama Indonesia-Belanda, Bandung: Unpad, 10-22 Agustus 1987.

Supandi, Kepatuhan Hukum Pejabat Dalam Menaati Putusan Pengadilan Tata Usaha Negara di Medan, Ringkasan Penelitian (Disertasi) pada Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005

Lihat Pasal 15 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku II, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005

(12)

Solusi Volume VI, Nomor 3, September 2014 491

Penelitian (Disertasi) pada Universitas Sumatera Utara, Medan, 2005

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2009 tentang Peradilan Tata Usaha Negara.

Indroharto, Usaha Memahami Undang-Undang Tentang Peradilan Tata Usaha Negara, Buku II, Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2005

Saldi Isra, Membangun Demokrasi Membongkar Korupsi, Sebuah Kumpulan Wawancara, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010.

Lihat Pasal 1 Angka 3 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2008 Tentang Ombudsman Republik Indonesia.Antonius Sujata, Efektifitas Komisi Ombudsman Nasional, Cetakan Komisi Ombudsman Nasional, Jakarta, 2002

Lintong Oloan Siahaan, Prospek PTUN Sebagai Pranata Penyelesaian Sengketa Administrasi Di Indonesia, Jakarta: Perum Percetakan Negara RI, 2005

Amrah Muslimin, Beberapa asas dan Pengertian Pokok Tentang Administrasi dan Hukum Administrasi, Bandung, Alumni, 1985

http://209.85.175.104/search? q-cache: ZFOGqiQsh6IJ: Kompas.com/kompas

cetak/061/13/politik hukum/2359537.htm. diakses pada 20 Mei 2014

Frank Esparraga, Director, Secretariat, Department of Veterans’ Affairs, Sydney, Developments in European Administrative Law. In Administrative Law under the Coalition Government, Edited by John Mc Millan, Published in Canberra by Australian Institute of Administrative Law

Inc, 1998. Dalam

http://ptunpalu.go.id/index.php? option=com_content&

Referensi

Dokumen terkait

Diharapkan isi buku ini, secara metaforis, dapat mendo- rong Anda menjadi Coach yang mampu berperan seba- gaimana jamu beras kencur : menghibur, menyembuhkan dan/atau

Dengan dasar pemikiran tersebut Dinas Pendidikan Aceh melalui UPTD Balai Teknologi Komunikasi dan Informasi Pendidikan Aceh berencana mengadakan Lomba

Dari segi penerapan ilmu, mahasiswa yang acuh berarti sama saja menyianyiakan ilmu yang diperoleh dari perguruan tinggi, mahasiswa terhenti dalam pergerakan dan menjadi

Dari hasil uji t untuk variabel yang sama adalah memiliki nilai signifikan 0,001 dimana nilai tersebut lebih kecil dari 0,05 sehingga mempunyai pengaruh positif

publik yang ada dalam instansi atau perusahaan tersebut. Sudah tentu suasana di dalam badan atau perusahaan itu sendiri yang menjadi target internal Public Relations ,

Rekomendasi wilayah keprospekan peningkatan status dari sumber daya spekulaif menjadi sumber daya hipoteik tercapai 5 Rekomendasi, yang dihasilkan dari kegiatan

This study suggested that road management should therefore concentrate some efforts on maintained road surface and improved road facilities in national road to increase

13 Implikasi Pengambilan Keputusan Kebijakan Publik Dibidang Pangan yang Dilandasi Oleh Nilai-nilai Sismennas Terhadap Peningkatan Ketahanan Pangan dan