PENINGKATAN UTILISASI PABRIK KELAPA SAWIT
MELALUI PEMENUHAN PASOKAN TANDAN BUAH SEGAR
DI PTPN III (PERSERO)
TESIS
OLEH
MUNTASHIR MASRIL 147025012/TI
F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
PENINGKATAN UTILISASI PABRIK KELAPA SAWIT
MELALUI PEMENUHAN PASOKAN TANDAN BUAH SEGAR
DI PTPN III (PERSERO)
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Teknik dalam Program Studi Magister Teknik Industri pada Fakultas Teknik Universitas Sumatera Utara
OLEH
MUNTASHIR MASRIL 147025012/TI
F A K U L T A S T E K N I K UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
Judul Tesis : PENINGKATAN UTILISASI PABRIK KELAPA SAWIT MELALUI PEMENUHAN PASOKAN TANDAN BUAH SEGAR DI PTPN III (Persero) Nama Mahasiswa : Muntashir Masril
Nomor Pokok : 147025012 Program Studi : Teknik Industri
Menyetujui Komisi Pembimbing
(Ir. Nazaruddin, MT, Ph.D) (Dr.Ir.Juliza Hidayati, MT) Ketua Anggota
Ketua Program Studi Dekan
(Ir. Nazaruddin, MT, Ph.D) (Ir. Seri Maulina, M.Si., Ph.D)
Tanggal Lulus : 16 Agustus 2019
Telah diuji pada
Tanggal : 16 Agustus 2019
KOMISI PENGUJI TESIS
Ketua : Ir. Nazaruddin, MT, Ph.D Anggota : Dr. Ir. Juliza Hidayati, MT
Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE Dr. Meilita Tryana Sembiring, ST, MT Aulia Ishak, ST, MT, Ph.D
LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul:
Peningkatan Utilisasi Pabrik Kelapa Sawit Melalui Pemenuhan Pasokan Tandan Buah Segar di PTPN III (PERSERO), adalah benar hasil karya saya sendiri dan belum dipublikasikan oleh siapapun sebelumnya, sumber-sumber data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara benar dan jelas.
Medan, Agustus 2019 Yang Membuat Pernyataan
Muntashir Masril NIM: 147025012
MOTTO & PERSEMBAHAN
Sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberikan arti bagi manusia lainnya, jadilah berkah bagi sekitarnya
Tesis ini kupersembahkan untuk
Ibuku Yusra Usman, Istriku Uli Marina Lubis, ST dan Kedua anakku Muhammad Fatih Dhiya & Muhammad Fathir Arkan
ABSTRAK
Distrik Asahan terdiri dari Kebun Sei Dadap, Kebun Bandar Selamat, Kebun Sei Silau, Kebun Pulau Mandi, Kebun Ambalutu, Kebun Hutapadang, dan PKS Sei Silau. Distrik Asahan memiliki kapasitas pabrik sebesar 50 ton TBS per jam. Sejak tahun 2014 PTPN III mengalami penurunan yang cukup signifikan terhadap hasil olahan TBS. Penurunan ini disebabkan pasokan TBS secara keseluruhan tidak mampu memenuhi kapasitas pabrik. Penelitian ini akan fokus melihat utilitas PKS, untuk mendapatkan konsep rancangan pemenuhan pasokan TBS baik yang berasal dari kebun sendiri maupun dari pihak luar, sehingga mampu memenuhi target perusahaan dan meminimalkan idle capacity. Konsep rancangan yang akan dikaji dengan memperhatikan keterbatasan (constraint) dari kebun sendiri yang mempengaruhi jumlah produksi TBS yaitu luas lahan, kelas lahan, umur tanaman, dan kerapatan tanaman.
Analisa dilakukan menggunakan potensi produksi kelapa sawit menurut kelas lahan (PPKS) dan metode Food Supply Chain Networking (FSCN). Metode FSCN dilakukan dengan membahas enam aspek rantai pasok berupa sasaran rantai pasok, struktur rantai pasok, sumberdaya pasokan, manajemen rantai, proses bisnis rantai, dan kinerja rantai pasokan.
Jumlah TBS yang tersedia berdasarkan perhitungan hasil produksi lima tahun mendatang untuk tahun 2019-2023 sebesar 337.156 ton, 328.885 ton, 323.296 ton, 311.253 ton dan 300.401ton. berdasarkan target olah sebanyak 92%
utilitas pabrik, produksi kebun akan mengalami penurunan sekitar 3% per tahun, selama lima tahun PKS Sei Silau akan mengalami kekurangan pasokan TBS, sehingga diperlukan tambahan dari pihak ke III. komposisi tanaman dewasa tidak seimbang, yaitu pada sawit remaja sebesar ±33% sedangkan untuk sawit muda produksi TBS akan meningkat sebesar ±12%, produksi TBS akan menurun pada usia dewasa sebesar ±42% dan untuk sawit yang usia renta akan mulai di Replanting sebesar ±13%.
Kata kunci : utilitas pabrik, luas lahan, umur tanaman, kerapatan, kelas lahan.
ABSTRACT
Asahan District consists of Sei Dadap Estate, Bandar Selamat Estate, Sei Silau Estate, Pulau Mandi Estate, Ambalutu Estate, Hutapadang Estate, and Sei Silau Palm Oil Mill. Asahan District has a factory capacity of 50 tons of FFB per hour. Since 2014, PTPN III had significantly decline to the FFB process output.
This affected by overall supply of FFB not fulfill the POM Capacity. This research focused on utility of POM to get concept design of fulfilment FFB supply whether from inside or outside supplier. Design concept that will studied with review constraint from inside farm that will affect by land area, plant age, density, land class.
Analysis was carried out using bunch production potention according to land class (PPKS) and the Food Supply Chain Networking (FSCN) method. The FSCN method is carried out by discussing six aspects of the supply chain in the form of supply chain objectives, supply chain structure, supply resources, chain management, chain business processes, and supply chain performance.
The number of FFB available based on the calculation of production results for the next five years for 2019-2023 is 337,156 tons, 328,885 tons, 323,296 tons, 311,253 tons and 300,401 tons. Based on the target if as much as 92% of factory utilities, plantation production will decrease by around 3% per year, for five years of Sei Silau POM will experience a shortage of FFB supply, so an additional third party is needed. the composition of the mature plant is not balanced, namely in juvenile palm by ±33% whereas for young palm FFB production will increase by ±12%, FFB production will decrease in mature by
±42% and for palm of old age will start in Replanting by ±13%.
Keywords: factory utility, land area, plant age, density, land class.
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga dapat menyelesaikan tesis dengan judul
”Peningkatan Utilisasi Pabrik Kelapa Sawit Melalui Pemenuhan Pasokan Tandan Buah Segar di PTPN III (Persero)”. Tesis ini merupakan salah satu persyaratan yang diwajibkan dalam rangka menyelesaikan Program Magister Teknik di Universitas Sumatera Utara dan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi PTPN III dalam perencanaan pasokan TBS ke PKS.
Penulis menyadari bahwa penulisan tesis ini tidak dapat terselesaikan tanpa dukungan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan tesis ini terutama kepada:
1. Ayahanda (alm.) Ir. Masril Rahman, MT terhadap pencapaian gelar akademiknya yang memotivasi penulis untuk menyelesaikan tesis ini dan Ibunda tersayang Yusra Usman serta seluruh adik-adik yang telah memberikan dukungan dan doanya yang terus menerus kepada penulis.
2. Istriku Uli Marina Lubis, ST dan kedua anakku yang tiada henti memberikan semangat kepada penulis untuk dapat menyelesaikan tesis ini.
3. Ketua Program Studi sekaligus dosen pembimbing I Ir. Nazaruddin Matondang, MT, Ph.D dan Sekretaris Program Studi sekaligus dosen pembimbing II Dr. Ir. Juliza Hidayati, MT yang terus mendesak, mendukung dan mengarahkan penulis agar dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
4. Kepada Kepala Bagian Pengadaan PTPN III, Yudhi Cahyadi, SP, beserta seluruh Tim Pengadaan dan Bagian Teknologi yang telah memberikan waktu dan kesempatan kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini.
5. Rekan-rekan mahasiswa dan pegawai Magister Teknik Industri Universitas Sumatera Utara.
6. Semua pihak yang telah membantu penulisan tesis ini yang tidak dapat disebutkan satu per satu.
Akhir kata, semoga tesis ini dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan penulis menyadari bahwa penelitian ini masih terdapat ruang untuk penyempurnaan yang lebih baik lagi di masa depan.
Medan, Agustus 2019 Penulis
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Medan, Sumatera Utara pada tanggal 15 Desember 1981 merupakan anak pertama dari empat bersaudara dengan ayahanda (alm.) Ir.
Masril Rahman, MT dan ibunda Yusra Usman.
Riwayat pendidikan formal yang dijalani penulis berawal dari Sekolah Dasar (SD) dari tahun 1987 s/d 1993 di SD Neglasari II Bandung, Sekolah Menengah Pertama (SMP) dari tahun 1993 s/d 1996 di SMP Harapan 2 Medan, Sekolah Menengah Umum (SMU) dari tahun 1996 s/d 1999 di SMU Negeri 1 Medan dan pada tahun 1999 penulis melanjutkan studi program strata 1 (S1) di Universitas Sumatera Utara Jurusan Teknik Industri dan selesai pada tahun 2004.
Sejak tahun 2005 hingga sekarang bekerja sebagai karyawan di PT.
Perkebunan Nusantara III (Persero). Pada tahun 2015 penulis melanjutkan studi di Program Studi Magister Teknik Industri Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
RIWAYAT HIDUP ... v
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian ... 6
1.4 Manfaat Penelitian ... 7
1.5 Batasan Masalah ... 7
1.6 Asumsi ... 8
1.7 Sistematika Penulisan Laporan ... 8
BAB 2 STUDI LITERATUR ... 10
2.1 Utilisasi ... 10
2.2 Manajemen Rantai Pasok ... 13
2.3 Rantai Pasok Agro-Industri ... 15
2.4 Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan ... 17
2.4.1 Klasifikasi Kesesuaian Lahan FAO 1976 ... 17
2.4.2 Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan (PPKS) ... 19
2.5 Penelitian Terdahulu ... 22
BAB 3 KERANGKA KONSEPTUAL ... 26
3.1 Kerangka Konseptual ... 26
3.2 Defenisi Variabel Operasional ... 28
BAB 4 RANCANGAN PENELITIAN ... 31
4.2 Lokasi Penelitian ... 32
4.3 Metode Penelitian ... 32
4.3.1 Tahap Penelitian ... 32
4.3.2 Pengumpulan Data ... 34
4.3.3 Analisis Data ... 34
4.3.4 Tahap Perancangan ... 35
4.3.5 Kesimpulan dan Saran ... 35
BAB 5 PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS ... 36
5.1 Analisis Manajemen Rantai Pasok TBS ... 36
5.2 Sasaran Rantai ... 37
5.2.1 Sasaran Pasar ... 37
5.2.2 Sasaran Pengembangan ... 39
5.3 Struktur Rantai Pasokan ... 40
5.3.1 Kantor Pusat PTPN III dan Distrik Manager ... 41
5.3.2 Pemasok TBS Kebun Seinduk ... 42
5.3.3 Pemasok TBS Pihak III (Rakyat) ... 42
5.3.4 Pengangkutan TBS ... 43
5.3.5 PKS PTPN III ... 44
5.3.6 Perusahaan Pengangkutan CPO ... 45
5.3.7 Kantor Pemasaran Bersama ... 46
5.3.8 Stakeholder ... 47
5.4 Manajemen Rantai ... 47
5.4.1 Hubungan Mitra ... 48
5.4.2 Kesepakatan Kontraktual ... 50
5.4.3 Sistem Transaksi ... 52
5.4.4 Kolaborasi Rantai Pasokan ... 52
5.5 Sumberdaya Rantai ... 55
5.5.1 Sumberdaya Teknologi ... 55
5.5.2 Sumberdaya Manusia ... 56
5.6 Proses Bisnis Rantai ... 56
5.6.1 Pola Distribusi ... 56
5.7 Kinerja Rantai ... 60
5.7.1 Efisiensi Rantai Pasokan ... 60
5.9 Data Produksi Kebun Seinduk PTPN III ... 61
5.9.1 Data Produksi PKS Sei Silau ... 61
5.10 Profil Kebun Pemasok Berdasarkan Luas Areal, Tahun Tanam dan Jumlah Tanaman ... 62
5.10.1 Kebun Bandar Selamat... 62
5.10.2 Kebun Huta Padang ... 62
5.10.3 Kebun Sei Silau ... 63
5.10.4 Kebun Ambalutu ... 64
5.10.5 Kebun Pulau Mandi ... 64
5.10.6 Kebun Sei Dadap ... 65
5.11 Perhitungan Potensi Produksi TBS Pemasok Berdasarkan Kelas Lahan ... 65
5.12 Menghitung Potensi Produksi TBS Distrik Asahan ... 66
5.12.1 Kebun Bandar Selamat ... 66
5.12.2 Kebun Sei Silau ... 67
5.12.3 Kebun Hutapadang ... 67
5.12.4 Kebun Ambalutu ... 68
5.12.5 Kebun Pulau Mandi ... 69
5.12.6 Kebun Sei Dadap ... 69
5.12.7 Kebun Distrik Asahan ... 70
5.13 Tarif Angkutan Rupiah Per Kg Distrik Asahan ... 71
BAB 6 ANALISA DAN PERANCANGAN ... 73
6.1 Analisis Ketersediaan TBS Kebun Pemasok ... 73
6.2 Rancangan Pemenuhan Pasokan TBS Distrik Asahan... 76
BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ... 77
7.1 Kesimpulan ... 77
7.2 Saran ... 78
DAFTAR PUSTAKA ... 79
DAFTAR TABEL
Tabel Judul Halaman
1.1 Pabrik Kelapa Sawit di PTPN III ... 2
1.2 TBS Olah PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018 ... 3
2.1 Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan ... 21
2.2 Penelitian Terdahulu ... 23
3.1 Definisi Variabel Operasional ... 28
5.1 Kriteria Pemilihan Mitra ... 49
5.2 Data Jumlah Tenaga Kerja PKS Sei Silau ... 56
5.3 Hasil Olah PKS Sei Silau 2014-2018... 61
5.4 Hasil Data Produksi PKS Sei Silau ... 61
5.5 Profil Kebun Bandar Selamat Berdasarkan Tahun Tanam ... 62
5.6 Profil Kebun Huta Padang Berdasarkan Tahun Tanam ... 63
5.7 Profil Kebun Sei Silau Berdasarkan Tahun Tanam ... 63
5.8 Profil Kebun Ambalutu Berdasarkan Tahun Tanam ... 64
5.9 Profil Kebun Pulau Mandi Berdasarkan Tahun Tanam ... 64
5.10 Profil Kebun Sei Dadap Berdasarkan Tahun Tanam ... 65
5.11 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Bandar Selamat ... 66
5.12 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Sei Silau ... 67
5.13 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Hutapadang ... 68
5.14 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Ambalutu ... 68
5.15 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Pulau Mandi ... 69
5.16 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Sei Dadap ... 70
5.17 Perhitungan Hasil Produksi TBS Kebun Distrik Asahan ... 70
5.18 Perhitungan Hasil Produksi TBS Seluruh Kebun Distrik Asahan
Berdasarkan Kelas Lahan dan Kerapatan Pohon Per Ha ... 71
5.19 Jumlah TBS Tersedia Berdasarkan Perhitungan HasilProduksi ... 71
5.20 Tarif Pengangkutan TBS Kebun Distrik Asahan ke PKS Sei Silau... 72
6.1 Profil Ragam Tahun Tanaman Kebun Pemasok ... 73
6.2 Data Produksi Kebun Distrik Asahan ... 74
6.3 Rancangan Pasokan TBS Distrik Asahan ... 76
DAFTAR GAMBAR
Gambar Judul Halaman
1.1 TBS Olah PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018 ... 3
1.2 Perbandingan Utilitas dan Target Perusahaan... 4
1.3 Stagnasi PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018 ... 5
2.1 Para Pelaku Dalam Rantai Pasokan ... 14
2.2 Potensi Produksi Menurut Kelas Lahan ... 20
3.1 Kerangka Konseptual Penelitian ... 27
4.1 Flowchart Metodologi Penelitian ... 33
5.1 Struktur Rantai Pasok TBS PTPN III ... 41
5.2 Aliran Produk Rantai Pasokan TBS PTPN III ... 57
5.3 Aliran Uang Rantai Pasokan TBS PKS PTPN III ... 58
5.4 Aliran Informasi dalam Rantai Pasokan TBS ... 59
6.1 Produksi TBS Per Kebun Pemasok Distrik Asahan Tahun 2014-2018 ... 75
6.2 Perhitungan Potensi Produksi 5 tahun kedepan ... 75
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran Judul Halaman 1 Standar Produktifitas Menurut Klasifikasi Kesesuaian Lahan S2 ... 81 2 Tahun Tanam Kebun Wilayah Distrik Asahan ... 82 3 Daftar Transportir TBS & CPO Wilayah Distrik Asahan ... 83
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Persaingan bisnis yang semakin ketat menuntut perusahaan harus mampu menyediakan produk tepat waktu, tepat jumlah dan tepat spesifikasi melalui serangkaian proses yang efektif dan efisien. Agar dapat bertahan perusahaan harus mampu meningkatkan kinerjanya secara berkelanjutan. Peningkatan kinerja hanya akan diperoleh jika perusahaan mampu menekan biaya yang dikeluarkan dan memaksimalkan laba. Salah satu upaya untuk menekan biaya adalah dengan memaksimalkan penggunaan sumber daya di sepanjang rantai pasok.
Supply chain dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aktifitas yang terlibat dalam proses transformasi dan distribusi mulai dari bahan baku paling awal (diperoleh dari alam) sampai produk diterima konsumen paling akhir. Maka, supply chain terdiri dari perusahaan yang mengangkut bahan baku dari bumi/alam, perusahaan yang mentransformasikan bahan baku menjadi bahan setengah jadi atau komponen, supplier bahan-bahan pendukung produk, perusahaan perakitan, distributor, dan retailer yang menjual barang tersebut ke konsumen akhir (Indrajit, 2003).
PT. Perkebunan Nusantara III atau yang disingkat dengan PTPN III merupakan salah satu perusahaan perkebunan yang menghasilkan komoditas Crude Palm Oil (CPO) dan Inti Sawit (Kernel) yang potensial di Sumatera Utara.
luar negeri. Nilai strategis komoditas CPO tersebut turut mendorong PTPN III untuk meningkatkan kinerja perusahaan sehingga mencapai keunggulan bersaing.
PTPN III memiliki 12 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) dengan sumber bahan baku Tandan Buah Segar (TBS) yang berasal dari kebun seinduk dan pembelian dari pihak luar (kebun swasta dan kebun rakyat). Pabrik Kelapa Sawit yang berada di lingkungan PTPN III dapat dilihat pada Tabel 1.1.
Tabel 1.1 Pabrik Kelapa Sawit di PTPN III
No. Pabrik kelapa sawit Kapasitas
(ton/jam)
1. Sei Meranti 50
2. Sei Daun 50
3. Torgamba 50
4. Sei Baruhur 30
5. Aek Torop 50
6. Aek Raso 30
7. Sisumut 30
8. Aek Nabara Selatan 50
9. Sei Silau 50
10. Sei Mangkei 75
11. Rambutan 30
12. Hapesong 30
Total 525
Sejak tahun 2014 PTPN III mengalami penurunan yang cukup signifikan terhadap hasil olahan TBS. Penurunan ini disebabkan pasokan TBS secara keseluruhan tidak mampu memenuhi kapasitas pabrik. Dari data pasokan TBS rata-rata untuk PKS Sei Silau hanya sekitar 1000 ton per hari, sedangkan
kapasitas pabrik keseluruhan sebesar 1100 ton per hari. Kinerja pengolahan pabrik dapat dilihat pada Tabel 1.2 dan Gambar 1.1.
Tabel 1.2 TBS Olah PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018
Gambar 1.1 TBS Olah PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018 (Sumber: Data PTPN III) Tabel 1.2 dan Gambar 1.1 Memperlihatkan bahwa hasil olah secara umum masih dibawah kapasitas (target olah) yang diharapkan perusahaan. Penurunan jumlah TBS yang diolah PKS Sei Silau PTPN III terjadi berulang-ulang.
Tahun Jan Feb Mar Apr Mei Jun Jul Agu Sep Okt Nov Des Setahun
2014 27,295 22,785 31,770 25,260 28,223 27,660 25,970 27,455 25,830 27,630 25,400 26,364 321,642
2015 14,855 14,555 18,667 23,015 25,755 24,804 24,525 27,150 20,700 25,400 24,000 22,498 265,924
2016 14,775 17,275 17,625 20,003 23,350 22,550 19,960 25,425 27,750 27,189 23,775 25,203 264,879
2017 20,450 16,475 19,225 20,685 20,633 18,800 29,150 23,975 21,100 24,250 21,925 25,698 262,366
2018 19,700 18,400 18,725 20,250 26,050 19,865 26,625 24,300 27,575 24,825 25,475 23,021 274,811
Target 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 27,500 330,000
perjam atau setara dengan 1100 ton/hari (1 hari 20 jam kerja). Dalam satu bulan TBS yang mampu diolah PTPN III maksimum sebesar 27.500 ton/bulan (rata-rata 1 bulan 25 hari kerja). Dari Gambar 1.1 diatas pasokan TBS tidak mampu memenuhi kapasitas olah PKS Sei Silau PTPN III setiap bulannya.
Berdasarkan sasaran yang di tetapkan perusahaan, kapasitas olah pabrik minimal sebesar 90%, sedangkan kenyataannya perusahaan belum mampu mencapai target tersebut. Gambar 1.2 menunjukkan perbandingan antara target utilitas pabrik dan pencapaian perusahaan dari tahun 2014 hingga 2018.
Gambar 1.2. Perbandingan Utilitas dan Target Perusahaan
Gambar 1.2 menunjukkan capaian utilisasi PTPN III, dimana target utilisasi belum mampu dicapai selama 4 tahun terakhir. Utilisasi pabrik terus mengalami penurunan dan titik terendah di Tahun 2017 hanya sekitar 75%. Tidak terpenuhinya kapasitas olah PKS menyebabkan terjadinya idle capacity. Faktor
yang terus mengalami penurunan. Adapun penurunan karena disebabkan kerusakan pabrik masih dalam batas toleransi (dibawah 5%) seperti yang pada Gambar 1.3.
Gambar 1.3. Stagnasi PKS Sei Silau Tahun 2014 s.d 2018
Kapasitas pabrik yang menganggur (idle capacity) ini berdampak pada penurunan jumlah produksi Crude Palm Oil (CPO) yang dihasilkan PKS-PKS tersebut.
Penelitian ini akan fokus melihat ketidakseimbangan kapasitas olah PKS dengan pasokan TBS di PTPN III, untuk mendapatkan konsep rancangan pemenuhan pasokan TBS baik yang berasal dari kebun sendiri maupun dari pihak luar, sehingga mampu memenuhi target perusahaan dan meminimalkan idle capacity. Konsep rancangan yang akan dikaji dengan memperhatikan keterbatasan (constraint) dari kebun sendiri yang mempengaruhi jumlah produksi TBS yaitu luas lahan, kelas lahan, umur tanaman, dan kerapatan tanaman.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, permasalahan yang akan dicari pemecahannya dalam penelitian ini adalah pasokan TBS yang tidak mampu memenuhi kapasitas pengolahan Pabrik Kelapa Sawit di lingkungan Distrik Asahan PTPN III. Akibat ketidakseimbangan ini kapasitas produksi tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal, sehingga output yang dihasilkan tidak dapat memenuhi target perusahaan. Untuk mengatasi permasalahan tersebut perlu dirancang suatu konsep pasokan TBS dalam upaya memenuhi kapasitas olah pabrik di lingkungan Distrik Asahan PTPN III sehingga utilisasi PKS Sei Silau di PTPN III dapat ditingkatkan.
1.3 Tujuan dan Sasaran Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah mendapatkan suatu konsep rancangan pasokan TBS dalam upaya memenuhi kapasitas olah pabrik di lingkungan PTPN III untuk PKS Sei Silau.
Rancangan tersebut diharapkan mampu memaksimalkan kapasitas olah PKS di PTPN III yaitu minimal sebesar 1000 ton per hari.
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada beberapa pihak yang terkait, diantaranya:
1. Secara Praktis
a. Memberikan pertimbangan, masukan, informasi, dan rekomendasi untuk selanjutnya menjadi referensi bagi perusahaan dalam meningkatkan utilisasi dan produktivitasnya
b. Memberikan gambaran rancangan perbaikan pasokan TBS untuk memaksimalkan kapasitas olah PKS Sei Silau di PTPN III.
c. Memberikan gambaran kepada perusahaan mengenai faktor-faktor yang menyebabkan penurunan pasokan TBS.
2. Secara Ilmiah
a. Penelitian ini dapat menjadi referensi untuk pengembangan khasanah ilmu pengetahuan.
b. Kesempatan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan pengalaman selama proses penelitian dan penulisan laporan, khususnya dalam kajian supply chain management.
1.5 Batasan Masalah
Penelitian ini dilaksanakan di Pabrik Kelapa Sawit Sei Silau PTPN III.
Batasan masalah yang digunakan agar tujuan penelitian tercapai, yaitu:
a. Pembahasan penelitian didasarkan pada faktor jumlah luas lahan, umur tanaman, kelas lahan, dan kerapatan tanaman per hektar.
b. Pembahasan penelitian dilakukan sampai dengan rancangan konseptual pasokan TBS di PKS Sei Silau PTPN III berdasarkan
ketersediaan TBS dari kebun pemasok tanpa dilakukannya implementasi.
1.6 Asumsi
Asumsi-asumsi yang digunakan agar tahapan penelitian ini dapat dilaksanakan adalah:
1. Kapasitas pabrik sesuai desain.
2. Proses produksi berjalan normal.
3. Produksi kebun dalam keadaan normal artinya tidak terjadi gangguan force major, seperti musim yang ekstrim atau terjadi bencana alam.
4. Tidak terjadi perubahan sistem pasokan TBS.
1.7 SistematikaPenulisan Laporan
Hasil penelitian mengenai analisis pasokan TBS ini diuraikan dalam tujuh bab. Bab pertama menjelaskan hal-hal yang mendasari dilakukannya penelitian serta identifikasi masalah penelitian. Bab ini berisikan latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, batasan masalah, asumsi, serta sistematika penulisan laporan. Sub bab latar belakang menggambarkan fenomena (gejala) yang ditemukan di perusahaan sebagai alasan mengapa penelitian perlu dilakukan. Sub bab tujuan penelitian meliputi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai dalam penelitian ini.
Bab kedua memaparkan memaparkan teori-teori dan pemikiran-pemikiran yang digunakan sebagai landasan dalam menganalisis dan mencari solusi
pemecahan masalah. Landasan teori digunakan untuk menguatkan metode yang digunakan dalam memecahkan permasalahan penelitian ini.
Bab ketiga menggambarkan kerangka konseptual yang dilaksanakan dengan memperlihatkan struktur dan sifat hubungan logis antar variabel-variabel penelitian yang digunakan.
Bab keempat menjelaskan rancangan penelitian dan uraian tahapan- tahapan yang dilakukan dalam menyelesaikan permasalahan penelitian.
Bab kelima memaparkan data penelitian yang diperoleh dari hasil wawancara, pengamatan langsung, dan dokumen-dokumen perusahaan sebagai bahan untuk melakukan pengolahan data. Pengolahan data dilakukan untuk memecahkan permasalahan penelitian.
Bab keenam memaparkan analisis terhadap hasil yang diperoleh serta membuat rancangan penelitian guna menjawab permasalahan penelitian.
Bab ketujuh memaparkan kesimpulan dari hasil penelitian dan juga berisi saran yang bermanfaat bagi perusahaan dan penelitian berikutnya.
BAB 2
STUDI LITERATUR
2.1. Utilisasi
Utilisasi berasal dari kata utilization yang berarti pemanfaatan dan penggunaan. Menurut Davies (1980) faktor utilisasi adalah perbandingan antara aktifitas (activity) dengan kapasitas (capacity). Utilisasi (utilization) adalah rasio input yang benar-benar digunakan dengan jumlah input yang tersedia. Misalnya utilisasi tenaga kerja adalah rasio waktu kerja aktual yang dihabiskan dengan jumlah total waktu kerja yang tersedia. Perbedaan antara keduanya dapat disebabkan oleh inefisiensi dalam proses yang menyebabkan kehilangan waktu kerja atau ketidakseimbangan dalam waktu siklus pada setiap tahap proses yang mengarah pada waktu menganggur pekerja di beberapa tahap sementara mereka pada tahap lain bekerja. Utilisasi kapasitas adalah rasio dari kapasitas yang sebenarnya digunakan dengan kapasitas total yang tersedia. Sedangkan utilitas peralatan produksi berarti seberapa besar pemanfaatan alat untuk kegiatan produksi. Lebih tegasnya utilisasi berarti perbandingan seberapa besar suatu peralatan telah dipergunakan/ dimanfaatkan dibanding dengan kapasitasnya.
Perencanaan produksi meliputi perencanaan dan pengorganisasian orang- orang, bahan-bahan, mesin-mesin, peralatan serta modal yang diperlukan untuk melakukan proses produksi (Machfud, 1999). Perencanaan dan pengendalian produksi mempunyai peranan sentral dalam peningkatan produktifitas, karena melalui perencanaan dan pengendalian produksi yang baik akan dicapai
penghematan dalam biaya bahan, pemanfaatan sumber daya baik fasilitas produksi (mesin), tenaga kerja serta waktu yang optimal (tidak boros dan tidak banyak terhambat dalam proses produksi yang dapat merugikan waktu produksi) (Machfud, 1999).
Perencanaan produksi yaitu proses penentuan sumber-sumber yang diperlukan untuk melaksanakan operasi manufakturing serta mengalokasikannya sehingga menghasilkan produk dalam jumlah dan kualitas yang diharapkan dengan mengeluarkan ongkos lebih rendah (Buffa, 1989).
Perencanaan produksi dipengaruhi oleh faktor-faktor internal dan eksternal perusahaan. Faktor eksternal perusahaan dapat berupa kebijakan pemerintah, inflasi dan bencana alam. Faktor internal perusahaan didominasi oleh factor-faktor yang berada dalam kekuasaan pimpinan, seperti kapasitas mesin, produktivitas tenaga kerja, kemampuan pengadaan dan penyediaan bahan.
Kapasitas adalah kemampuan pembatas dari unit produksi untuk berproduksi dalam waktu tertentu, dan biasanya dinyatakan dalam bentuk keluaran (output) per satuan waktu (Buffa, 1989). Proses perencanaan kapasitas suatu industri meliputi kegiatan peramalan permintaan di masa mendatang, termasuk kemungkinan dampak teknologi, persaingan yang timbul serta kejadian- kejadian lain yang berpengaruh. Kapasitas produksi suatu industri menentukan sejauh mana industry tersebut mendapatkan keuntungan. Perencanaan kapasitas industri baru, mempengaruhi cepat lambatnya industri tersebut mendapatkan laba dari produk yang dihasilkan, oleh sebab itu perencanaan kapasitas produksi terpasang industri yang baru berdiri sangatlah penting. Perencanaan kapasitas
dapat dilihat dari teknologi yang dipakai, struktur biaya serta bahan baku yang tersedia.
Perencanaan kapasitas normal suatu industri memerlukan informasi mengenai kapasitas maksimal suatu mesin. Kapasitas maksimal merupakan jumlah produksi yang layak secara teknis, berhubungan dengan kapasitas terpasang yang dijamin supplier pabrik. Dengan adanya kapasitas maksimal nominal dapat memberikan masukan kepada pengguna untuk mendapatkan angka output maksimal, kerja lembur, dan bisa menentukan suku cadang yang dibutuhkan.
Dalam memahami utilisasi, beberapa istilah yang perlu diketahui yaitu sebagai berikut:
1. Kapasitas desain (design capacity).
Kapasitas desain adalah output maksimum sistem secara teoritis pada suatu periode waktu tertentu dengan kondisi yang ideal. Perhitungan kapasitas desain dihitung oleh engginer yang melakukan perencanaan fasilitas produksi sesuai permintaan dari manajer operasional. Kapasitas ini adalah kapasitas yang secara perhitungan dapat diproduksi oleh fasilitas produksi tersebut.
2. Kapasitas efektif (effective capacity).
Kapasitas efektif adalah kapasitas yang diperkirakan dapat dicapai oleh sebuah perusahaan dengan keterbatasan operasi yang ada sekarang.
Seorang manajer dapat menghitung perkiraan kapasitas produksi efektif yang mampu dihasilkan oleh suatu fasilitas produksi.
3. Output aktual
Output aktual adalah laju output yang dicapai secara aktual yang tidak dapat melebihi kapasitas efektif. Output yang sebenarnya dihasilkan oleh suatu fasilitas produksi.
4. Utilisasi
Utilisasi adalah persentase dari pemanfaatan kapasitas Dengan kata lain utilisasi adalah perbandingan output aktual dengan kapasitas desain yang dinyatakan dalam persentase.
5. Efisiensi
Efisiensi dalam hal kapasitas produksi yaitu persentase dari kapasitas efektif yang sesungguhnya telah dicapai atau perbandingan output aktual dengan kapasitas efektif yang dinyatakan dalam persentase.
6. Output yang Diperkirakan (Expected Output).
Output yang diperkirakan terkadang mengacu pada kapasitas yang dinilai (rated output). Expexted Output dapat diketahui dengan mengalikan kapasitas efektif dengan efisiensi.
2.2. Manajemen Rantai Pasok
Supply chain adalah jaringan perusahaan-perusahaan (umumnya terdiri dari supplier, pabrik, distributor, agen, toko, retailer, dll) yang secara bersama-sama bekerja untuk menciptakan dan menghantarkan suatu produk atau jasa sampai kepada konsumen akhir (Pujawan I, N, 2005). Sebuah rantai pasokan terdiri dari seluruh pihak yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam
rangka memenuhi kebutuhan konsumen. Pelaku yang terlibat dalam rantai pasok diperlihatkan pada Gambar 2.1.
Gambar 2.1 Para Pelaku Dalam Rantai Pasokan (Chopra & Meindl 2007)
Tujuan yang hendak dicapai dari setiap rantai suplai adalah untuk memaksimalkan nilai yang dihasilkan secara keseluruhan (Chopra, 2001).
Manajemen rantai pasokan merupakan bidang kajian yang terletak pada efisiensi dan efektifitas aliran barang, informasi, dan aliran uang yang terjadi secara simultan sehingga dapat menyatukan SCM dengan pihak yang terlibat. Pada manajemen rantai pasokan tidak hanya berorientasi pada urusan tetapi memihak pada internal perusahaan, melainkan juga urusan eksternal yang menyangkut hubungan dengan perusahaan-perusahaan partner. Untuk menghasilkan produk yang berkualitas dan ketepatan dalam pengiriman produk yang sesuai dengan keinginan konsumen, diperlukan adanya kerjasama antara elemen - elemen dalam rantai pasokan yang baik (Ariska, 2016). Nilai yang dimasud adalah selisih antara
nilai sebuah produk akhir bagi konsumen dengan biaya rantai pasokan yang ditimbulkan dalam memenuhi permintaan konsumen tersebut. Rantai suplai yang terintegrasi akan meningkatkan keseluruhan nilai yang dihasilkan oleh rantai suplai tersebut. Manajemen rantai pasok merupakan suatu jaringan fasilitas yang bermula dari bahan mentah dan ditransformasikan menjadi bahan setengah jadi dan kemudian produk akhir serta pengiriman produk ke konsumen melalui sistem distribusi yang tepat.
2.3. Rantai Pasok Agro-Industri
Rantai pasokan dalam agroindustri (agri-industry supply chain) sendiri digunakan untuk menggambarkan aktivitas mulai dari proses produksi hingga ke proses distribusi yang membawa produk perkebunan atau produk pertanian dari tanah pertanian ke konsumen (Ahumada & Villalobos 2009). Rantai pasokan agroindustri dibentuk oleh serangkaian organisasi yang melakukan proses produksi (oleh petani), proses distribusi, proses pengolahannya, dan pemasaran produk hasil perkebunan ke konsumen. Perbedaan karakteristik yang jelas antara produk manufaktur dengan produk agroindustri juga menimbulkan perbedaan dalam rantai pasokan keduanya. Menurut Aramyan et al. (2006), yang membuat rantai pasok agroindustri berbeda dengan rantai pasok produk lainnya adalah:
1. Sifat produksinya, yang sebagian berbasis pada proses biologis, sehingga meningkatkan keanekaragaman dan resiko.
2. Sifat produknya, yang memiliki beberapa karakterisitik khusus, seperti mudah rusak/lenyap (perishablelity) dan kamba (bulky), sehingga
3. Perilaku sosial dan konsumen terhadap isu-isu keamanan pangan, keselamatan binatang, dan tekanan lingkungan.
Menurut Aramyan et al. (2006), terdapat dua tipe rantai pasok agroindustri, yaitu:
1. Rantai pasok untuk produk segar, seperti sayuran, bunga dan buah- buahan.
2. Rantai pasok untuk produk pertanian hasil pemrosesan termasuk produk perkebunan.
Menurut Lumsden (1998), rantai pasokan terdiri dari lima aliran yang berbeda, antara lain:
1. Aliran fisik bahan terdiri dari barang yang diangkut dari produsen ke konsumen, misalnya CPO dan inti sawit.
2. Aliran moneter biasanya berjalan dari belakang konsumen kepada produsen melalui organisasi di dalam rantai pasokan.
3. Aliran horizontal informasi dua arah; dari konsumen terhadap produser dan kembali lagi. Informasi yang dibutuhkan, misalnya untuk menghasilkan produk yang tepat atau mengenai waktu pengiriman.
4. Arus informasi vertikal terjadi antara empat arus horisontal, untuk misalnya sistem track-dan-trace truk.
5. Aliran fisik lainnya adalah aliran sumber daya, misalnya truk yang digunakan untuk mengangkut barang dari satu tujuan yang lain di dalam perusahaan.
2.4. Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan 2.4.1. Klasifikasi Kesesuaian Lahan FAO 1976
Pengertian kesesuaian lahan, kesesuaian lahan adalah tingkat kecocokan suatu bidang lahan untuk suatu penggunaan tertentu. Klasifikasi kesesuaian lahan adalah perbandingan (matching) antara kualitas lahan dengan persyaratan penggunaan lahan yang diinginkan. Struktur klasifikasi kesesuaian lahan menurut kerangka kerja FAO 1976 dalam Rayes (2007) adalah terdiri dari 4 kategori sebagai berikut:
1. Ordo (Order) : menunjukkan keadaan kesesuaian secara umum.
2. Klas (Class) : menunjukkan tingkat kesesuaian dalam ordo.
3. Sub-Klas : menunjukkan keadaan tingkatan dalam kelas yang didasarkan pada jenis pembatas atau macam perbaikan yang diperlukan dalam kelas.
4. Satuan (Unit) : menunjukkan tingkatan dalam sub-kelas didasarkan pada perbedaan-perbedaan kecil yang berpengaruh dalam pengelolaannya.
Kesesuaian lahan pada tingkat ordo berdasarkan kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976) dibedakan menjadi 2 kategori, yaitu:
1. Ordo S, sesuai (Suitable) adalah lahan yang dapat digunakan untuk penggunaan tertentu secara lestari, tanpa atau sedikit resiko kerusakan terhadap sumber daya lahannya. Penggunaan lahan tersebut akan memberi keuntungan lebih besar daripada masukan yang diberikan.
2. Ordo N, tidak sesuai (Not Suitable) adalah lahan yang mempunyai pembatas demikian rupa sehingga mencegah penggunaan secara lestari untuk suatu tujuan yang direncanakan.
Lahan kategori ini tidak sesuai untuk penggunaan tertentu karena beberapa alasan. Hal ini dapat terjadi karena penggunaan lahan yang diusulkan secara teknis tidak memungkinkan untuk dilaksanakan, misalnya membangun irigasi pada lahan yang curam yang berbatu, atau karena dapat menyebabkan degradasi lingkungan yang parah, seperti penanaman pada lereng yang curam. Selain itu, sering pula didasarkan pada pertimbangan ekonomi yaitu nilai keuntungan yang diharapkan lebih kecil daripada biaya yang dikeluarkan.
Kesesuaian Lahan pada Tingkat kelas merupakan pembagian lebih lanjut dari Ordo dan menggambarkan tingkat kesesuaian dari suatu Ordo. Tingkat dalam kelas ditunjukkan oleh angka (nomor urut) yang ditulis dibelakang simbol Ordo. Nomor urut tersebut menunjukkan tingkatan kelas yang makin menurun dalam suatu Ordo. Jumlah kelas yang dianjurkan adalah sebanyak 3 (tiga) kelas dalam Ordo S, yaitu: S1, S2, S3 dan 2 (dua) kelas dalam Ordo N, yaitu: N1 dan N2.
Kelas S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) merupakan lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi serta tidak menyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada umumnya. Kelas S2 atau Cukup Sesuai (Moderately Suitable) merupakan lahan
pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan. Kelas S3 atau Sesuai Marginal (Marginal Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan.
yang diperlukan.
Kelas N1, kelas N1 atau tidak sesuai saat ini (Currently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tapi masih mungkin untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang rasional. Faktor-faktor pembatasnya begitu berat sehingga menghalangi keberhasilan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang. Kelas N2, kelas N2 atau tidak sesuai selamanya (Permanently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.
2.4.2. Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan (PPKS)
Gambar 2.2. dibawah ini menunjukkan produksi TBS dimulai pada tahun ke 3 meningkat hingga tahun ke delapan, pada tahun ke sembilan hingga tahun ke 13 produksi akan mencapai maksimum, dan kemudian pada tahun ke 14 produksi TBS akan menurun hingga tahun ke 25 masa efektif kelapa sawit. Untuk lahan kelas 1 yaitu S1 lahan dengan kualitas sangat baik, sehingga produksi pada lahan kelas ini akan menghasilkan produksi TBS paling banyak, dilanjutkan dengan lahan kelas S2 dan S3.
Gambar 2.2 Potensi Produksi Menurut Kelas Lahan
Tabel 2.1 menunjukkan potensi produksi kelapa sawit bermutu dan melaksanakan budidaya sesuai dengan standar teknis, berdasarkan kelas tanah dalam jangka waktu 20 tahun.
Klasifikasi kesesuaian lahan meliputi:
1. Kelas sangat sesuai (S1), cukup sesuai (S2), sesuai marginal (S3), tidak sesuai saat ini (N1), tidak sesuai permanen (N2).
2. S1, pembatas sangat kecil, tidak menurunkan hasil nyata.
3. S2, ada pembatas kecil, berpengaruh terhadap hasil, perlu input, dapat diatasi petani.
4. S3, faktor pembatas berat, perlu input lebih banyak, perlu modal besar dan bantuan pemerintah.
5. N, tidak sesuai untuk diusahakan, sulit diatasi.
Tabel 2.1. Potensi Produksi Kelapa Sawit Menurut Kelas Lahan (Sumber PPKS Medan)
Komposisi Tanaman
Umur Tanaman
(Tahun)
Potensi Produksi Menurut Kelas Lahan TBS (Ton/Ha)
S1 S2 S3
Muda (3-8 tahun) 3 9 7,3 6,2
4 15 13,5 12
5 18 16 14,5
6 21 18,5 17
7 26 23 22
8 30 25,5 24
Remaja (9-13 Tahun) 9 31 28 26
10 31 28 26
11 31 28 26
12 31 28 26
13 31 28 26
Dewasa (14-20 tahun) 14 30 27 25
15 28 26 24,5
16 27 25,5 23,5
17 26 24,5 22
18 25 23,5 21
19 24 22,5 20
20 23 21,5 19
Tua (21-24 tahun) 21 22 21 18
22 20 19 17
23 19 18 16
24 18 17 15
Renta ( >24 tahun) 25 17 16 14
Jumlah - 553 505,3 460,7
Rata-rata - 24 22,0 20,0
Keterangan: S1 (Lahan kualitas 1), S2 (Lahan kualitas 2), S3 (Lahan kualitas 3)
Pada Komoditas Sawit daya hasil (ton/ha/tahun) tandan buah segar berdasarkan kelas kesesuaian lahan:
a. S1 : > 24 ton/ha/th.
b. S2 : 19-24 ton/ha/th.
c. S3 : 13-18 ton/ha/th.
d. N : < 12 ton/ha/th.
Berdasarkan data dari bagian tanaman, Seluruh kebun seinduk yang
memasok ke PKS PTPN III mempunyai karakteristik lahan kelas S1, S2 dan S3, sehingga dari Tabel 2.1 diatas dapat digunakan untuk menghitung produksi yang dihasilkan dari kebun pemasok.
2.5. Penelitian Terdahulu
Penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya yang berkaitan dengan utilitas dan manajemen rantai pasok. Peninjauan ulang (review) dilakukan terhadap artikel, jurnal, dan penelitian-penelitian yang pernah dilakukan sebelumnya. Peninjauan ulang dilakukan untuk mendapatkan informasi dari penelitian sebelumnya yang sejalan dengan penelitian yang dilakukan. Penelitian terdahulu yang di ditinjau kembali (di review) dapat dilihat pada Tabel 2.2.
Tabel 2.2. Penelitian Terdahulu
No Nama
Peneliti/
Tahun
Judul Penelitian
Variabel Metodologi Hasil
1 Mariyah, Yusman Syaukat, Sri Hartono, Anna Fariyanti, Bayu Krisnamu rthi/2018
Penentuan umur optimal peremajaan kelapa sawit di
Kabupaten Paser Kalimantan Timur
Data produksi TBS, biaya, luas lahan
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunak an data primer (melalui kuesioner dan
wawancara) dan
sekunder.
Tanaman kelapa sawit di wilayah kabupaten Paser yang berumur 34
tahun telah
memasuki umur optimal peremajaan dan harus segera diremajakan untuk menjaga
keberlanjutan pendapatan
rumahtangga kelapa sawit. Hal ini ditunjukkan dengan hasil estimasi
bahwa umur
optimal peremajaan kelapa sawit di Kabupaten Paser dengan fungsi produksi kuadratik dan fungsi produksi kubik berkisar antara 33-35 tahun.
Umur optimal peremajaan kelapa sawit di Kabupaten Paser akan semakin pendek apabila terjadi penurunan tingkat suku bunga, kenaikan
produktivitas TBS, kenaikan harga TBS, dan penurunan biaya usaha tani.
Tabel 2.2. (Lanjutan)
No Nama
Peneliti/
Tahun
Judul Penelitian
Variabel Metodologi Hasil
2 Ira
Primalasari, Bambang Sumantri dan Sriyoto/2017
Analisis Rantai Pasok Tandan Buah Segar (TBS) Pada PT.
Sandabi Indah Lestari di Kabupaten Bengkulu Utara
Nilai Margin pemasok TBS
Penelitian dilakukan dengan mengumpul kan
informasi sebanyak banyaknya dengan metode survei
Aliran rantai pasok TBS yang
terjadi di
lapangan terdapat aktivitas produk, informasi dan keuangan yang berbeda. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa
terdapat 4 pola aliran rantai pasok TBS di PT.
SIL, yaitu: Pola aliran rantai pasok
I, Pola aliran rantai pasok II, Pola aliran rantai pasok III dan Pola aliran rantai pasok IV. Margin pemasaran yang diterima oleh masing-masing aliran rantai pasok
berbeda sesuai dengan biaya pemasaran yang dikeluarkan.
Rantai pasok III memiliki margin pemasaran
terkecil yaitu 0%.
Tabel 2.2. (Lanjutan)
No Nama
Peneliti/
Tahun
Judul Penelitian
Variabel Metodologi Hasil
3 Rumbiati/
2015
Kinerja Rantai Pasok Tandan Buah Segar Kelapa Sawit dalam Meningkat kan Laba dan
Mencapai Tujuan Perusahaan pada PT.
Cahaya Cemerlang Lestari
Data produksi TBS, CPO, kapasitas
Penelitian dilakukan dengan pendekatan kuantitatif dengan menggunak an data primer dan sekunder.
Kinerja aktivitas penerimaan Tandan Buah Segar dari kebun kurang baik, dimana dari 12 bulan penerimaan TBS, hanya dua bulan
yang mampu
mencapai target
budget yang
ditetapkan yaitu pada bulan Januari dan Maret 2013, sedangkan kinerja terburuk terjadi pada bulan Juni, Juli dan Desember 2013 dimana kinerja aktivitas penerimaan TBS dibawah 80%.
Melihat rendahnya pencapaian target penerimaan tandan buah segar (TBS) dari kebun rakyat atau dari petani sekitar, dirasakan
perlu bagi
perusahaan untuk mulai melakukan diversifikasi usaha di bidang budidaya kelapa sawit agar mampu mencapai
target yang
ditetapkan oleh pabrik.
BAB 3
KERANGKA KONSEPTUAL
3.1 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual menggambarkan hubungan yang logis antara variabel-variabel penelitian yang dibangun berdasarkan teori-teori sebelumnya sehingga masalah penelitian dapat dipecahkan. Dalam penelitian ini variable yang akan diidentifikasi yaitu variable terikat dan variable bebas. Variabel terikat (dependent variable) yang sering juga disebut variabel kriteria (criterion variable) adalah variabel yang nilai nya di pengaruhi atau ditentukan oleh variabel lain (variabel bebas). Sedangkan Variabel bebas (independent variable) yang sering juga disebut sebagai variabel prediktor (predictor variable) adalah variabel yang mempengaruhi variabel dependen baik secara positif maupun secara negatif.
Berdasarkan beberapa teori yang telah dijelaskan pada Bab 2, variabel- variabel yang akan diidentifikasi dan dianalisis terkait dengan permasalahan tidak terpenuhinya pasokan TBS pada PKS Sei Silau sehingga kapasitas olah PKS tidak mampu dimaksimalkan. Hasil analisis terhadap variabel tersebut digunakan untuk merancang rantai pasokan yang lebih efektif. Keputusan mengenai rancangan rantai pasokan mencakup bagaimana perencanaan rantai pasokan selama beberapa tahun ke depan, bagaimana bentuk rantai pasokannya, bagaimana memperoleh bahan baku dan alokasinya, serta proses proses yang dilalui pada setiap tahapannya.
Gambar 3.1 menunjukkan kerangka konseptual penelitian ini. Ruang lingkup model pasokan TBS dibatasi pada pemasok kelapa sawit hingga ke Pabrik Kelapa Sawit.
Gambar 3.1. Kerangka Konseptual Penelitian
Gambar 3.1 menunjukkan kerangka konseptual penelitian yang akan dilakukan. Indikator luas kebun, umur tanaman, kerapatan tanaman dan kelas lahan maka diketahui jumlah produksi TBS kebun seinduk. Produksi kebun seinduk tersebut akan memasok TBS ke setiap PKS di PTPN III. Alokasi supply TBS kebun seinduk ke PKS telah ditentukan sebelumnya oleh perusahaan. Selain hasil produksi kebun seinduk PKS di PTPN III juga menerima TBS dari pihak luar.
Variabel terikat yang digunakan pada penelitian ini adalah Peningkatan utilisasi PKS yang dipengaruhi oleh variabel bebas. Jumlah produksi kebun seinduk yang dipengaruhi oleh luas kebun, umur tanaman, kerapatan pohon, dan kelas lahan dan pasokan TBS dari pihak luar merupakan variabel bebas. Kapasitas
olah pabrik sesuai desain merupakan pengendali pasokan TBS dari kebun sendiri dan kebun pihak luar dalam memenuhi jumlah pasokan TBS ke PKS di PTPN III.
3.2 Definisi Variabel Operasional
Variabel operasional merupakan penegasan arti dan makna setiap variabel dalam kerangka konseptual. Tujuannya untuk menyamakan pengertian yang dibutuhkan untuk pengukuran nilai masing-masing variabel. Variabel yang akan dikaji dalam peningkatan utilisasi pabrik melalui pasokan TBS dapat dijelaskan pada Tabel 3.1.
Tabel 3.1. Defenisi Variabel Operasional
No Variabel Defenisi
A. Independen
1 Luas kebun Besaran yang menyatakan ukuran dua dimensi (dwigatra) suatu bagian permukaan kebun kelapa sawit yang dibatasi dengan jelas.
2 Umur tanaman Satuan waktu yang mengukur waktu keberadaan tanaman mulai dari di hidup (tumbuh di tanah).
3 Kerapatan tanaman Jumlah tanaman per satuan luas lahan.
4 Kelas lahan Tingkat kesesuaian pada tingkat ordo berdasarkan kerangka kerja evaluasi lahan FAO (1976).
B. Dependen
5 Peningkatan Utilisasi PKS
Pencapaian utilisasi yang diinginkan oleh Perusahaan
C. Intervening
6 Jumlah produksi kebun sendiri
potensi hasil produksi kebun kelapa sawit yang dimiliki oleh PTPN III berdasarkan dimensi luas kebun, umur tanaman, kelas lahan, dan kerapatan.
Klasifikasi kelas lahan dapat dikelompokkan dalam lima (5) kategori yaitu sebagai berikut:
a. Kelas S1 atau Sangat Sesuai (Highly Suitable) merupakan lahan yang tidak mempunyai pembatas yang berat untuk penggunaan secara lestari atau hanya mempunyai pembatas tidak berarti dan tidak berpengaruh nyata terhadap produksi serta tidak menyebabkan kenaikan masukan yang diberikan pada umumnya.
b. Kelas S2 atau Cukup Sesuai (Moderately Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas agak berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan, serta meningkatkan masukan yang diperlukan.
c. Kelas S3 atau Sesuai Marginal (Marginal Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat untuk mempertahankan tingkat pengelolaan yang harus dilakukan. Pembatas akan mengurangi produktivitas dan keuntungan. Perlu ditingkatkan masukan yang diperlukan.
d. Kelas N1 atau tidak sesuai saat ini (Currently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang lebih berat, tapi masih mungkin untuk diatasi, hanya tidak dapat diperbaiki dengan tingkat pengetahuan sekarang ini dengan biaya yang rasional. Faktor-faktor pembatasnya begitu berat sehingga menghalangi keberhasilan penggunaan lahan yang lestari dalam jangka panjang.
e. Kelas N2 atau tidak sesuai selamanya (Permanently Not Suitable) merupakan lahan yang mempunyai pembatas yang sangat berat, sehingga tidak mungkin digunakan bagi suatu penggunaan yang lestari.
BAB 4
RANCANGAN PENELITIAN
4.1 Tipe Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif dalam kelompok studi kasus (case study). Menurut Hidayat (2010), penelitian deskriptif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menemukan pengetahuan yang seluas- luasnya terhadap objek penelitian pada suatu masa tertentu. Sedangkan menurut Punaji (2010) penelitian deskriptif adalah penelitian yang tujuannya untuk menjelaskan atau mendeskripsikan suatu peristiwa, keadaan, objek apakah orang, atau segala sesuatu yang terkait dengan variabel-variebel yang bisa dijelaskan baik menggunakan angka-angka maupun kata-kata. Penelitian ini digolongkan dalam penelitian deskriptif karena penelitian ini memaparkan setiap variabel yang mempengaruhi masalah yang ada sekarang secara sistematis dan aktual berdasarkan data yang ada yaitu meliputi variabel-variabel yang mempengaruhi pasokan TBS PTPN III.
Penelitian studi kasus adalah suatu penelitian tentang status subyek penelitian yang berkenaan dengan suatu kondisi spesifik. (Maxfield dalam Sinulingga, S., 2013). Penelitian ini digolongkan dalam penelitian studi kasus karena spesifik dengan tujuan mendapatkan rancangan pemenuhan pasokan TBS untuk PKS Sei Silau di PTPN III. Penelitian ini meliputi proses pengumpulan, penyajian, evaluasi dan pengolahan data serta analisis dan interpretasi.
4.2 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Pabrik Kelapa Sawit Sei Silau PTPN III dan Kebun Seinduk Distrik Asahan PTPN III di Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Februari 2019.
4.3 Metode Penelitian
Metode penelitian merupakan tahapan-tahapan, petunjuk pelaksanaan, atau petunjuk teknis dalam melakukan pencarian masalah, penentuan solusi, dan mencari solusi dari masalah penelitian.
4.3.1 Tahap Penelitian
Tahapan penelitian dimulai dari penemuan gejala, merumuskan masalah, sampai pada analisis pasokan TBS ke masing-masing PKS. Tahapan penelitian dapat dilihat pada Gambar 4.1.
Tahapan penelitian dimulai dengan studi pendahuluan yang dilakukan melalui studi pustaka dan lapangan untuk menemukan dan merumuskan masalah, menentukan tujuan serta batasan penelitian. Tahapan penelitian dilakukan sampai diperoleh keseimbangan pasokan TBS dengan kapasitas masing-masing PKS untuk merancang sistem pasokan TBS baru sehingga kapasitas olah setiap PKS terpenuhi.
Gambar 4.1 Flowchart Metodologi Penelitian
4.3.2 Pengumpulan Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini bersumber dari data primer dan sekunder yaitu:
a. Data Primer.
Data primer diperoleh dari pengamatan langsung ke lapangan. Data primer yang diperoleh dari pengamatan tesebut berupa data produksi, kapasitas pabrik, data TBS masuk, data luas Kebun, Produksi per tahun.
b. Data Sekunder.
Data sekunder yaitu data dan informasi yang diperoleh dari PKS PTPN III berupa Laporan Produksi beberapa tahun silam, informasi mengenai PKS dan kebun pemasoknya, luas masing-masing kebun, umur tanaman, dan kapasitas PKS. Data sekunder juga diperoleh dari kantor pusat PTPN III di Medan.
4.3.3 Analisis Data
Data yang telah dikumpulkan kemudian dilakukan pengolahan data dengan statistik inferensial dan deskriptif. Analisa dilakukan menggunakan metode Food Supply Chain Networking (FSCN). Metode FSCN dilakukan dengan membahas enam aspek rantai pasok berupa sasaran rantai pasok, struktur rantai pasok, sumberdaya pasokan, manajemen rantai, proses bisnis rantai, dan kinerja rantai pasokan dimana keenam aspek tersebut diharapkan dapat menghasilkan gambaran utuh mengenai penerapan manajemen rantai pasokan TBS pada PKS Sei Silau di PTPN III (PERSERO).
Setelah dilakukan analisis FSCN, berikutnya dilakukan perhitungan pasokan TBS untuk melihat proporsi pasokan TBS dari kebun sendiri dan kebun swasta. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perbandingan pasokan TBS yang diperoleh dari kebun sendiri ataupun kebun swasta.
5. Tahap Perancangan
Hasil yang diperoleh pada tahap penelitian akan menjadi input pada tahap perancangan. Perancangan yang dilakukan adalah membuat suatu konsep rancangan pasokan TBS agar dapat memenuhi kapasitas olah pabrik di lingkungan PTPN III.
6. Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan penelitian diperoleh dari hasil pengolahan data, analisis, dan proses perancangan yang mampu menjawab tujuan penelitian. Sedangkan saran (rekomendasi) merupakan masukan terhadap perusahaan agar mampu mengelaborasi hasil penelitian. Selain untuk perusahaan, saran juga diberikan untuk pelaksanaan penelitian berikutnya.
BAB 5
PENGOLAHAN DATA DAN ANALISIS
5.1 Analisis Manajemen Rantai Pasok TBS
Salah satu langkah awal yang terpenting dalam melakukan analisis manajemen rantai pasokan adalah dengan melakukan analisis terhadap model atau kondisi rantai pasokan yang terjadi. Dari hasil analisis dan evaluasi kondisi manajemen rantai pasokan tersebut, maka akan dihasilkan berbagai informasi menyangkut potensi, peluang serta hambatan maupun permasalahan yang terjadi aliran rantai pasokan suatu produk. Informasi mengenai kondisi manajemen rantai pasokan kemudian menjadi suatu input bagi perbaikan dan pengembangan rantai pasokan.
Saat ini telah berkembang upaya untuk menganalisis rantai pasokan suatu produk dengan menggunakan berbagai metode yang tentunya disesuaikan dengan karakteristik produk maupun karakteristik pelaku rantai pasok serta industri.
Pembahasan mengenai model rantai pasokan tandan buah segar pada penelitian ini, akan menggunakan suatu kerangka kerja (framework) berupa analisis rantai pasokan yang dikembangkan oleh Lambert dan Cooper (2000) yang kemudian di modifikasi oleh Vorst (2005). Kerangka analisis yang dikembangkan tersebut adalah Food Supply Chain Networking (FSCN). Kerangka FSCN merupakan suatu framework yang memungkinkan peneliti maupun manajer suatu perusahaan untuk dapat mengidentifikasi suatu rantai pasokan secara komprehensif meliputi
berbagai hal seperti deskripsi pelaku rantai dan peranannya, hubungan diantara pelaku rantai, mekanisme transaksi, dan alokasi sumberdaya.
Pembahasan mengenai manajemen rantai pasok TBS di PKS Sei Silau menggunakan kerangaka kerja FSCN, yang akan menganalisis beberapa aspek yakni sasaran rantai, struktur rantai, manajemen rantai, sumberdaya rantai, proses bisnis rantai, serta analisis kinerja rantai pasokan. Hasil pembahasan yang dihasilkan diharapkan dapat menjadi agenda pembenahan pada perusahaan agar memiliki kinerja rantai pasokan yang baik, memahami karakteristik konsumen, menjamin ketersediaan produk dan mutu serta kontinuitasnya, logistik dan distribusi yang baik, komunikasi dan informasi yang baik, serta hubungan yang efektif antar pelaku rantai.
5.2. Sasaran Rantai
Aspek ini menjelaskan tujuan yang ingin dicapai dalam rantai pasok tandan buah segar ke PKS Sei Silau PTPN III yang dilihat dari dua sisi, yaitu sasaran pasar dan sasaran pengembangan. Sasaran atau tujuan yang ditetapkan tersebut nantinya akan menjadi acuan apakah rantai pasokan tersebut telah berjalan dengan baik atau masih perlu diperbaiki.
5.2.1 Sasaran Pasar
Sasaran pasar dari produk CPO adalah untuk kebutuhan domestik dan juga ekspor, produk CPO merupakan produk yang memerlukan penanganan khusus
ketika akan didistribusikan, karena sifat dan karakteristik CPO yang mudah rusak karena itulah perlu diperhatikan dalam hal pengiriman maupun transportasinya.
Pergeseran paradigma perdagangan CPO dari konsep product driven menjadi market driven telah menempatkan konsumen sebagai objek yang sangat penting. Hal tersebut kemudian membuat para produsen baik itu skala perusahaan, kelompok tani atau koperasi maupun petani secara individual harus sangat memperhatikan karakteristik konsumen dan pola permintaan secara lebih cermat.
Posisi pasar atau konsumen di dalam suatu rantai pasokan merupakan tujuan akhir dari suatu pengelolaan rantai pasokan yang terintegrasi meliputi berbagai pihak.
Permintaan dan harapan konsumen harus mampu direspon dengan baik oleh segenap pelaku rantai pasokan agar keinginan konsumen terhadap produk yang disalurkan tersebut terpenuhi, baik dari segi kuantitas atau ketersediaan, kualitas produk, waktu penyampaian yang cepat. Terpenuhinya permintaan dan keinginan konsumen tersebut pada akhirnya akan membuat konsumen lebih loyal kepada produk yang dihasilkan oleh suatu rantai pasokan. Hal tersebut tentunya akan meningkatkan keunggulan bersaing dari suatu rantai pasokan dibandingkan dengan rantai pasokan lain yang menghasilkan produk sejenis.
Sasaran pasar dalam hal ini adalah standar persyaratan mutu CPO dan Inti produksi yaitu untuk CPO kadar air maksimum 0,15%, kadar kotoran maksimum 0,02 dan ALB 3,5%. Sedangkan untuk inti kadar air maksimum 7%, kadar kotoran maksimum 6%, dan ALB sebesar 1% sedangkan sasaran untuk penjualan ekspor ALB CPO maksimum 5%.
5.2.2. Sasaran Pengembangan
Sasaran pengembangan rantai pasokan adalah suatu upaya bersama dari berbagai pihak yang terlibat dalam rantai pasokan untuk secara spesifik mengembangkan suatu aspek dalam peningkatan kinerja rantai. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengembangkan rantai pasokan adalah dengan cara melakukan koordinasi secara sinergi, antar pihak dalam rantai pasokan. Hal tersebut dikarenakan tujuan yang ingin dicapai bukan hanya bagi kepentingan beberapa pelaku sebagai individual melainkan tujuan kolektif perusahaan yaitu PTPN III.
Penggunaan teknologi informasi digunakan untuk penunjang pengembangan rantai pasokan mutlak diperlukan. Sebagai contoh internet untuk menghubungan laporan produksi secara real time sehingga menghubungakan kebun-kebun seinduk dengan PKS, walaupun demikian pengembangan rantai pasokan memang tidak mudah dilakukan karena melibatkan berbagai pihak dengan kepentingannya masing-masing meskipun dibawah satu manajemen. Oleh karena itu, diperlukan suatu sasaran pengembangan yang disepakati secara bersama sehingga upaya pelaksanaan pencapaian sasaran tersebut akan didukung semua pihak yang terkait. Sasaran nya adalah pemenuhan bahan baku TBS yang memenuhi syarat mutu dan volumenya. Bahan baku adalah salah satu unsur produksi yang diolah melalui proses untuk dijadikan produk. Bahan baku yang baik dapat meningkatkan keberhasilan untuk mendapatkan hasil produk yang baik bila diproses dengan benar. karenanya selain mutu yang baik pada bahan baku di perlukan juga persyaratan yang lain untuk mendapatkan hasil pengolahan yang
baik yaitu jumlah yang cukup dan waktu yang tepat. Persyaratan-persyaratan bahan baku yang harus dipenuhi adalah:
1. Memenuhi persyaratan mutu.
2. Volume yang mencukupi terhadap kapasitas pabrik.
3. Waktu yang tepat tiba dipabrik.
Apabila satu persyaratan di atas tidak dipenuhi maka efisiensi dan efektifitas menjadi tidak terwujud seperti yang diharapkan. Bahan baku utama di dalam bidang pengolahan kelapa sawit menjadi CPO adalah berupa tandan buah segar (TBS). Tandan buah segar itu sendiri adalah tandan buah normal kelapa sawit dalam proses produksinya akan menghasilkan produk utama yaitu minyak mentah CPO dan inti sawit.
Sasaran pengembangan selanjutnya adalah menyangkut penguatan rantai pasokan melalui pelaksanaan kemitraan yang berkesinambungan. Kerjasama kemitraan ataupun bentuk koordinasi lainnya yang melibatkan pihak petani mitra PTPN III, beberapa institusi pendukung yang diarahkan kepada pemenuhan kapasitas produksi, untuk mitra petani pemasok terkait pemenuhan bahan baku TBS pada saat kebun sendiri produksinya tidak mencukupi.
5.3 Struktur Rantai Pasokan
Beberapa faktor yang menentukan struktur rantai pasokan antara lan jumlah rantai pasokan, karakteristik produk yang dihasilkan, jarak antara pabrik dan pasar (konsumen), serta peranan yang dimiliki oleh setiap pelaku rantai pasokan. Pembahasan struktur pasokan tandan buah segar akan menjabarkan
beberapa anggota rantai pasokan beserta peranannya dalam rantai pasokan tandan buah segar. Anggota rantai pasokan yang dimaksud adalah pelaku usaha serta beberapa stakeholder terkait. Struktur rantai pasokan TBS yang terjadi pada PTPN III PKS Sei Silau Dapat dilihat pada Gambar 5.1.
Keterangan:
= Aliran Produk
= Aliran Uang
= Aliran Informasi
Gambar 5.1 Struktur Rantai Pasok TBS PTPN III
5.3.1 Kantor Pusat PTPN III dan Distrik Manager
Kantor Pusat PTPN III sebagai pengendali utama segala kebijakan secara umum terkait dengan rantai pasokan TBS di kedua belas PKS, hal-hal terkait dengan rencana kerja tahunan, operasional dan komunikasi-komunikasi yang efektif secara umum antar bagian pusat dengan bagian operasional. Sebagai pengendali utama, terkait kebijakan pembelian TBS dari Pihak III atau