PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN DALAM ADAT PERKAWINAN
(STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
TESIS
Oleh:
DEWI SUSANTI 137045035
M A G I S T E R I L M U K O M U N I K A S I FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN DALAM ADAT PERKAWINAN
(STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Komunikasi dalam Program Magister Ilmu
Komunikasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara
Oleh:
DEWI SUSANTI 137045035
M A G I S T E R I L M U K O M U N I K A S I FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2016
PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN PADA ADAT PERKAWINAN (STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN
YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah: (1). mengetahui cara pandang perempuan Minang Pariaman tentang tradisi uang jemputan; dan (2). mengetahui perubahan sikapnya setelah mempersepsikan tradisi tersebut. Teori yang menjadi pedoman adalah teori persepsi budaya oleh Samovar dan Porter. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode kualitatif dengan studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 8 (delapan) orang informan yang diperoleh dengan menggunakan teknik
purposive, dengan kriteria: lahir dan besar di Kota Medan; telah menikah; dan mengalami perjodohan dengan tradisi uang jemputan. Analisis data menggunakan metode analisis kualitatif oleh Miles dan Huberman. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menikah, persepsi informan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (1). Faktor dari dalam diri (world view, pesan verbal/non verbal), di mana tradisi uang jemputan dianggap memberatkan pihak keluarga perempuan dan bertentangan dengan aturan pernikahan dalam agama Islam, karena seharusnya perempuanlah yang dilamar dan diberi uang lamaran (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek dan Shanti). Berbeda dengan Rina dan Nur yang beranggapan bahwa tradisi uang jemputan hanya merupakan kebiasaan masyarakat Pariaman saja, dan (2). Faktor dari luar diri, yaitu tidak adanya peranan keluarga dalam proses enkulturasi budaya, sehingga persepsi lebih dipengaruhi oleh lingkungan yang melahirkan stereotip negatif tentang perempuan Minang “membeli” laki-laki untuk menikah (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek dan Shanti). Namun stereotip tersebut tidak mempengaruhi Rina dan Nur, karena memiliki sumber referensi yang kompeten tentang makna tradisi uang jemputan, yaitu keluarga dan organisasi kesukuan. Setelah menikah, perubahan sikap terjadi pada Leni, Rina, Ita, Dedek dan Shanti yang mempersepsikan bahwa tradisi uang jemputan sudah tidak lagi sesuai diterapkan pada perjodohan generasi muda Minang. Sedangkan Dian, Netty dan Nur beranggapan bahwa tradisi ini masih mungkin dilestarikan pada perjodohan anak-anak mereka kelak.
Kata Kunci: Persepsi Budaya, Komunikasi Keluarga, Perempuan dan Tradisi Uang Jemputan.
FEMALE PARIAMAN MINANGESE'S PERCEPTION OF UANG JEMPUTAN TRADITION IN THE MARRIAGE
CUSTOM
(CASE STUDY OF THE FEMALE PARIAMAN MINANGESE WHO WERE BORN AND RAISED IN THE CITY OF MEDAN)
ABSTRACT
The objective of this research is : (1) to find out female Pariaman Minangese's point of view of uang jemputan tradition; and (2) to see if there is a change of behaviour after percepting the tradition. The main theory is the theory of culture perception of Samovar and Porter. Research method used is qualitative case study. Subject of the research consists of 8 (eight) informants obtained by purposive technique with criterias such as: born and raised in the city of Medan;
married; and having a fixed marriage with uang jemputan tradition. Data gathering is done via in depth interview and documentation study. Data analysis using qualitative analysis by Miles and Huberman. The research shows that before marriage, informant's perception was influenced by two factors, which is (1). Inner factor (world view, verbal/non verbal message), where uang jemputan tradition is considered a burden to one side of the female family and against the law of marriage in Islam, because females are supposed to be proposed for a marriage and be given the money (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek and Shanti). On the contrary with Rina and Nur that assumed that uang jemputan tradition is just a common practice in the Pariaman society, and (2) Outside factor, which is the absence of the family in the enculturation of the culture, so that the perception is more influenced by the surroundings which brings out the negative stereotype about the female Minangese 'buying' male for a marriage (Diah, Leni, Netty, Ita, Dedek and Shanti). Furthermore, the stereotype doesn't affect Rina and Nur, for having the competent reference of the meaning of the uang jemputan tradition, which is the family and tribal organization. After marriage, the behavioral change occurred to Leni, Rina, Ita, Dedek and Shanti that percepted that uang jemputan tradition as a worn out tradition that no longer suitable for the matchmaking of the young Minangese. As for Dian, Netty and Nur assumed that this tradition is still compatible for their children matchmaking in the future.
Keywords: Culture Perception, Family Communication, Female Pariaman Minangese and Uang Jemputan Tradition.
Judul Tesis : PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN DALAM ADAT PERKAWINAN (STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
Nama : Dewi Susanti
Nomor Pokok : 137045035 Program Studi : Ilmu Komunikasi
Menyetujui, Komisi Pembimbing
Ketua, Anggota,
(Dra. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D) (Drs. Safrin, M.Si) NIP. 196704051990032002 NIP. 196110011987011001
Ketua Program Studi, Dekan,
(Dra. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D) (Prof. Dr. Badaruddin, M.Si) NIP. 196704051990032002
Tanggal Lulus : 07 Januari 2016
NIP. 196805251992031002
Telah diuji pada
Tanggal: 07 Januari 2016
PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua : Drs. Hendra Harahap, M.Si
Anggota : 1. Dra. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D 1. Drs. Safrin, M.Si
2. Dr. Nurbani, M.Si
3. Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm
PERNYATAAN
PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN DALAM ADAT PERKAWINAN
(STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
Dengan ini penulis menyatakan bahwa:
1. Tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister pada Program Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
2. Tesis ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk mendapatkan gelar akademik (sarjana, magister, dan/atau doktor), baik di Universitas Sumatera Utara maupun di perguruan tinggi lain.
3. Tesis ini adalah murni gagasan, rumusan, dan penelitian saya sendiri, tanpa bantuan pihak lain, kecuali arahan Komisi Pembimbing dan masukan Tim Penguji.
4. Dalam karya tulis ini tidak terdapat karya atau pendapat yang telah ditulis atau dipublikasikan orang lain, kecuali secara tertulis dengan jelas dicantumkan sebagai acuan dalam naskah dengan disebutkan nama pengarang dan dicantumkan dalam daftar pustaka.
5. Pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya. Apabila ada dikemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, penulis bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi- sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, Januari 2016 Penulis,
(Dewi Susanti)
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim.
Puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan berkah-Nya kepada saya, sehingga dapat menyelesaikan penulisan tesis ini. Shalawat dan salam bagi Nabi Muhammad SAW, seluruh keluarganya, para sahabat-sahabatnya serta seluruh pengikutnya. Semoga kita semua mendapat syafaat beliau di Yaumil akhir kelak. Aamin.
Rasa cinta dan terima kasih yang tak terhingga, senantiasa saya sampaikan kepada pendamping hidup saya, H. Indra Syahputra Munthe, S. HI serta buah hati tercinta, M. Fajri Haikal Munthe atas seluruh do’a, kasih sayang dan pengertian yang tulus. Sembah sujud saya kepada kedua orang tua tercinta, Ibunda Syamsidar Tanjung dan Ayahanda St. Nazirman Koto, atas segala do’a dan kasih sayang kepada ananda. Rasa terima kasih juga saya sampaikan kepada mertua saya, ibunda Salmah br. Sitorus dan ayahanda Payungan Munthe atas do’a dan dukungannya. Selain itu saya juga banyak memperoleh bantuan moril dan materil dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini saya juga menyampaikan ucapan terima kasih yang tulus kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, S.H, M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr.Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
3. Kementrian Komunikasi dan Informasi Republik Indonesia, khususnya Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, selaku pemberi dana beasiswa perkuliahan pada Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara.
4. Ibu Dra. Lusiana Andriani Lubis, MA, Ph.D, selaku Ketua Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sumatera Utara serta sebagai Ketua Komisi Pembimbing. Terima kasih atas dukungan moril yang diberikan kepada saya selama menjalani perkuliahan.
5. Bapak Drs. Safrin, M.Si, selaku Anggota Komisi Pembimbing yang telah memberikan bimbingan dan arahan kepada saya dalam penyusunan tesis ini.
6. Bapak Walikota dan Wakil Walikota Subulussalam serta Bapak Drs. Damhuri, S.P, M.M, selaku Sekretaris Daerah Pemerintahan Kota
Subulussalam atas dukungan moril yang diberikan.
7. Ibu Dr. Nurbani, M.Si atas segala support dan bimbingannya dan Bapak Haris Wijaya, S.Sos, M.Comm, selaku Komisi Pembanding. Bapak Drs.Hendra Harahap, M.Si, selaku Ketua Penguji dan Sekretaris Magister Ilmu Komunikasi. Seluruh Bapak/Ibu Dosen pengajar dan Staf Magister Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas
8. Bapak H.M. Ridwan, Bapak Prof. Usman Pelly, Ph.D, Prof. Dr. Hj. Chalida Fachruddin, MA serta seluruh informan penelitian. Terkhusus kepada Bapak Alm. St. Alamsyah Guci yang telah berpulang ke Rahmatullah (27 Juli 2015), semoga Allah SWT mengampuni segala dosa dan menerima amal ibadah beliau. Aamin.
9. Kepala Bagian Humas dan Protokol, Bapak Masyuri, SKM., serta seluruh rekan-rekan staf pegawai Humas dan Protokol, Kabag. Kepegawaian (Alm.
Bapak Gembira Bancin) dan seluruh staf Kepegawaian Sekretariat Kota Subulussalam. Terkhusus kepada Bapak Jhoni Arizal, S.TP, M.Si atas dukungan moril (melebihi dukungan materi).
10. Kakak saya, Nirawati, A.md serta adik-adik, Dodi Syahputra, Andri Syahputra, Rospita Fitriani, Ardi Syahputra dan Atikah Nisaul Jannah.
Adik-adik ipar penulis, Rahmawati, Hasan Basri, Muhammad Rifa’i, Nurainun, Nurhabibah, Muhammad Desem, Darmansyah dan Nurhasanah.
11. Para sahabat saya Ledi H. Munthe, Rodliatan Naibaho, Harmailisa, Imelda Martiani atas peminjaman buku-bukunya. Rosidah, Mhd. Okawi, Erwina, Yuhani, Endah Puspita Sari, Naylul Husna, Ilyn Devi Diana, Ida Dharmawaty Daulay, Kk Susi dan Keluarga, Pak Suharsono dan Ibu Ani, Ustadz Rasyid Bancin dan keluarga, Kak Yulidar dan keluarga, Ante Fachrina, atas dukungan dan do’anya.
12. Rekan-rekan seperjuangan di Magister Ilmu Komunikasi (Mejikom):
Yusridha A. Batubara, Puty Siyamitri, Zulfi Pandapotan Nst, Donny Y. P, Hari Indrawan Srg, Adi Suroso, Astried W. Sari, Yan Oriza, Devi Dwi Yana Utami, Andri P. Meliala, Eninta Y. G. Manik, Chaspul Chairu Hasibuan, Rizka Firdahlia, Oktolina Simatupang, Erni Sinurat, Nurlenti Purba, Irfan Hakim, Wahyu Hidayat, Sriwahyuni Novalina, Tommy Andrian, Syamsul Adha, Satya D. Wijaya, Hermansyah, Mahmuddin, Yan K. Surbakti, Lisbon Pangaribuan dan Trianto Hutabalian. Semoga sahabat-sahabat menjadi orang-orang sukses dan membawa perubahan untuk Indonesia yang lebih baik. Aamin.
Saya menyadari tesis ini masih memiliki kekurangan dan jauh dari sempurna. Namun harapan saya, semoga tesis ini bermanfaat kepada seluruh pembaca. Semoga kiranya Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberi keberkahan kepada kita semua. Aamin.
Medan, Januari 2016.
Penulis,
(Dewi Susanti)
DAFTAR ISI
Hal
ABSTRAK...i
ABSTRACT...ii
LEMBAR PENGESAHAN TESIS...iii
LEMBAR PENETAPAN PANITIA PENGUJI TESIS...iv
PERNYATAAN...v
KATA PENGANTAR...vi
DAFTAR ISI...viii
DAFTAR GAMBAR...xi
DAFTAR TABEL...xii
DAFTAR LAMPIRAN...xiii
BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah...1
1.2. Fokus Masalah...13
1.3. Tujuan Penelitian...13
1.4. Manfaat Penelitian...14
BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN 2.1. Paradigma Penelitian...15
2.2. Penelitian Sejenis Terdahulu...16
2.3. Uraian Teoritis...21
2.3.1. Komunikasi Antarbudaya...21
2.3.1.(a). Pengertian Komunikasi Antarbudaya...22
2.3.1.(b). Proses enkulturasi dan akulturasi dalam KAB...24
2.3.2. Persepsi Budaya...27
2.3.2.(a). Faktor-faktor yang mempengaruhi Persepsi Interpersonal...29
2.3.2.(b). Elemen-elemen yang mempengaruhi Persepsi Budaya...30
2.3.3. Komunikasi Keluarga...37
2.3.4. Adat Perkawinan masyarakat Pariaman...40
2.3.4.(a). Adat bagi masyarakat Minang...40
2.3.4.(b). Perempuan dalam Adat Perkawinan Pariaman...42
2.3.4.(c). Tradisi Uang Jemputan dalam Adat Perkawinan Pariaman...43
2.4. Kerangka Pemikiran Penelitian...45
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN 3.1. Metode Penelitian...46
3.2. Aspek Kajian Penelitian... .47
3.3. Deskripsi masyarakat Pariaman di Kota Medan... 48
3.4. Subjek Penelitian... 49
3.5. Metode Pengumpulan Data...50
3.6. Instrumen Pengumpulan Data...52
3.7. Teknik Menjamin Keabsahan Data...52
3.8. Metode Analisis Data...53
BAB IV. TEMUAN PENELITIAN 4.1. Proses Penelitian...56
4.2. Temuan Penelitian...61
4.2.1. Informan 1 (Dian)...61
4.2.2. Informan 2 (Leni)...68
4.2.3. Informan 3 (Rina)...74
4.2.4. Informan 4 (Netty)...82
4.2.5. Informan 5 (Ita)...90
4.2.6. Informan 6 (Dedek)...94
4.2.7. Informan 7 (Nur)...100
4.2.8. Informan 8 (Shanti)...105
4.3. Informan Tambahan...110
4.3.1. Informan Tambahan 1...110
4.3.2. Informan Tambahan 2...116
4.3.3. Informan Tambahan 3...120
4.3.4. Informan Tambahan 4...126
4.4. Verifikasi Temuan Penelitian...128
4.4.1. Perempuan Minang Pariaman yang menjalani Tradisi Uang Jemputan...134
4.4.1.1. Informan Dian...134
4.4.1.1.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...134
4.4.1.1.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan ...135
4.4.1.2. Informan Leni...136
4.4.1.2.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...136
4.4.1.2.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...137
4.4.1.3. Informan Netty...138
4.4.1.3.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...138
4.4.1.3.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...139
4.4.1.4. Informan Ita...140
4.4.1.4.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...140
4.4.1.4.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan ...141
4.4.1.5. Informan Nur...142
4.4.1.5.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...142
4.4.1.5.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...142
4.4.2. Perempuan Minang Pariaman yang tidak menjalani ...143
4.4.2.1. Informan Rina...143
4.4.2.1.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...143
4.4.2.1.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...145
4.4.2.2. Informan Dedek...145
4.4.2.2.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...145
4.4.2.2.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...146
4.4.2.3. Informan Shanti...147
4.4.2.3.(a).Cara Pandang tentang tradisi uang jemputan...147
4.4.2.3.(b).Perubahan sikap setelah mempersepsikan...147
BAB V. PEMBAHASAN 5.1. Cara pandang perempuan Minang tentang Tradisi Uang Jemputan...149
5.1.1. Pandangan Dunia (Agama/Sistem Kepercayaan, Nilai dan Sikap...153
5.1.2. Sistem Lambang (Verbal/Non verbal)...157
5.1.3. Organisasi Sosial...171
5.2. Perubahan sikap perempuan Minang setelah mempersepsikan...179
5.2.1. Perubahan cara pandang tentang tradisi uang jemputan...180
5.2.1.(a). Memutuskan menikah dengan laki-laki Pariaman...180
5.2.1.(b). Memutuskan menikah dengan laki-laki dari suku yang berbeda...181
5.2.2. Cara pandang tentang transmisi nilai-nilai dalam tradisi...186
5.2.3. Peranan informan dalam perjodohan anak-anaknya kelak...191
BAB IV. SIMPULAN DAN SARAN 6.1. Simpulan...196
6.2. Saran...199
DAFTAR PUSTAKA...201 LAMPIRAN
DAFTAR GAMBAR
Gambar Hal
2.1. Kerangka Pemikiran Penelitian...45
5.1. Model Komunikasi ABX...159
5.2. Model ABX pada komunikasi keluarga Dian...160
5.3. Model ABX pada komunikasi keluarga Leni...161
5.4. Model ABX pada komunikasi keluarga Rina...163
5.5. Model ABX pada komunikasi keluarga Netty...164
5.6. Model ABX pada komunikasi keluarga Ita...165
5.7. Model ABX pada komunikasi keluarga Dedek...167
5.8.Model ABX pada komunikasi keluarga Nur...168
5.9. Model ABX pada komunikasi keluarga Shanti...169
DAFTAR TABEL
Tabel Hal
4.1. Klasifikasi temuan penelitian berdasarkan aspek kajian dan kerangka
pemikiran penelitian...129 5.1. Klasifikasi temuan penelitian berdasarkan cara pandang tentang nilai-nilai
dalam tradisi uang jemputan...153 5.2. Klasifikasi temuan penelitian berdasarkan sikap perempuan Minang
Pariaman tentang tradisi uang jemputan...155 5.3. Klasifikasi temuan penelitian berdasarkan sikap informan yang
dipengaruhi oleh pesan verbal dan non verbal...157 5.4. Klasifikasi temuan penelitian berdasarkan perubahan sikap perempuan
Minang Pariaman setelah mempersepsikan...179 5.5. Klasifikasi tingkat generasi pada informan berdasarkan usia...192
DAFTAR LAMPIRAN
1. Glosari
2. Daftar Pedoman wawancara 3. Biodata Informan Utama 4. Biodata Informan Tambahan
5. Transkrip Hasil Wawancara Informan Utama 6. Transkrip Hasil Wawancara Informan Tambahan 7. Dokumentasi Penelitian
8. Biodata Penulis
PERSEPSI PEREMPUAN MINANG PARIAMAN TENTANG TRADISI UANG JEMPUTAN PADA ADAT PERKAWINAN (STUDI KASUS PADA PEREMPUAN MINANG PARIAMAN
YANG LAHIR DAN BESAR DI KOTA MEDAN)
ABSTRAK
Tujuan penelitian ini adalah: (1). mengetahui cara pandang perempuan Minang Pariaman tentang tradisi uang jemputan; dan (2). mengetahui perubahan sikapnya setelah mempersepsikan tradisi tersebut. Teori yang menjadi pedoman adalah teori persepsi budaya oleh Samovar dan Porter. Metode penelitian yang digunakan
adalah metode kualitatif dengan studi kasus. Subjek penelitian terdiri dari 8 (delapan) orang informan yang diperoleh dengan menggunakan teknik
purposive, dengan kriteria: lahir dan besar di Kota Medan; telah menikah; dan mengalami perjodohan dengan tradisi uang jemputan. Analisis data menggunakan metode analisis kualitatif oleh Miles dan Huberman. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum menikah, persepsi informan dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu (1). Faktor dari dalam diri (world view, pesan verbal/non verbal), di mana tradisi uang jemputan dianggap memberatkan pihak keluarga perempuan dan bertentangan dengan aturan pernikahan dalam agama Islam, karena seharusnya perempuanlah yang dilamar dan diberi uang lamaran (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek dan Shanti). Berbeda dengan Rina dan Nur yang beranggapan bahwa tradisi uang jemputan hanya merupakan kebiasaan masyarakat Pariaman saja, dan (2). Faktor dari luar diri, yaitu tidak adanya peranan keluarga dalam proses enkulturasi budaya, sehingga persepsi lebih dipengaruhi oleh lingkungan yang melahirkan stereotip negatif tentang perempuan Minang “membeli” laki-laki untuk menikah (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek dan Shanti). Namun stereotip tersebut tidak mempengaruhi Rina dan Nur, karena memiliki sumber referensi yang kompeten tentang makna tradisi uang jemputan, yaitu keluarga dan organisasi kesukuan. Setelah menikah, perubahan sikap terjadi pada Leni, Rina, Ita, Dedek dan Shanti yang mempersepsikan bahwa tradisi uang jemputan sudah tidak lagi sesuai diterapkan pada perjodohan generasi muda Minang. Sedangkan Dian, Netty dan Nur beranggapan bahwa tradisi ini masih mungkin dilestarikan pada perjodohan anak-anak mereka kelak.
Kata Kunci: Persepsi Budaya, Komunikasi Keluarga, Perempuan dan Tradisi Uang Jemputan.
FEMALE PARIAMAN MINANGESE'S PERCEPTION OF UANG JEMPUTAN TRADITION IN THE MARRIAGE
CUSTOM
(CASE STUDY OF THE FEMALE PARIAMAN MINANGESE WHO WERE BORN AND RAISED IN THE CITY OF MEDAN)
ABSTRACT
The objective of this research is : (1) to find out female Pariaman Minangese's point of view of uang jemputan tradition; and (2) to see if there is a change of behaviour after percepting the tradition. The main theory is the theory of culture perception of Samovar and Porter. Research method used is qualitative case study. Subject of the research consists of 8 (eight) informants obtained by purposive technique with criterias such as: born and raised in the city of Medan;
married; and having a fixed marriage with uang jemputan tradition. Data gathering is done via in depth interview and documentation study. Data analysis using qualitative analysis by Miles and Huberman. The research shows that before marriage, informant's perception was influenced by two factors, which is (1). Inner factor (world view, verbal/non verbal message), where uang jemputan tradition is considered a burden to one side of the female family and against the law of marriage in Islam, because females are supposed to be proposed for a marriage and be given the money (Dian, Leni, Netty, Ita, Dedek and Shanti). On the contrary with Rina and Nur that assumed that uang jemputan tradition is just a common practice in the Pariaman society, and (2) Outside factor, which is the absence of the family in the enculturation of the culture, so that the perception is more influenced by the surroundings which brings out the negative stereotype about the female Minangese 'buying' male for a marriage (Diah, Leni, Netty, Ita, Dedek and Shanti). Furthermore, the stereotype doesn't affect Rina and Nur, for having the competent reference of the meaning of the uang jemputan tradition, which is the family and tribal organization. After marriage, the behavioral change occurred to Leni, Rina, Ita, Dedek and Shanti that percepted that uang jemputan tradition as a worn out tradition that no longer suitable for the matchmaking of the young Minangese. As for Dian, Netty and Nur assumed that this tradition is still compatible for their children matchmaking in the future.
Keywords: Culture Perception, Family Communication, Female Pariaman Minangese and Uang Jemputan Tradition.
BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Setiap kultur mempunyai aturan komunikasi sendiri-sendiri. Aturan ini menetapkan mana yang patut dan mana yang tidak patut (DeVito, 1997: 490).
Seperti halnya kultur (budaya) perkawinan yang dianut oleh masyarakat suku Minang di daerah Pariaman, Provinsi Sumatera Barat. Sjarifoeddin (2011: 476) menyebutkan bahwa adat perkawinan antara satu daerah dengan daerah lainnya di Minangkabau memiliki perbedaan. Tata cara perkawinan di Pariaman, berbeda dari tata cara perkawinan di daerah lainnya seperti Payakumbuh, Bukittinggi dan lainnya.
Pada masyarakat suku Minang yang menganut sistem matrilineal, posisi suami adalah sebagai urang sumando atau orang yang datang dalam keluarga istri.
Oleh karena itu, untuk menghormati posisi laki-laki (suami), ibarat pepatah
“datang karano dipanggia, tibo karano dianta” (datang karena dipanggil, tiba karena diantar), masyarakat Pariaman mewujudkannya dalam bentuk proses bajapuik pada adat perkawinan yang melibatkan barang-barang yang bernilai, seperti emas atau uang (Sjarifoedin, 2011: 477). Proses bajapuik atau menjemput laki-laki dengan melibatkan uang inilah yang disebut sebagai tradisi uang jemputan (japuik), pada adat perkawinan masyarakat Pariaman.
Maihasni, Sumarti, Wahyuni dan Tjondronegoro (2010: 178), mengemukakan bahwa tradisi uang jemputan merupakan implementasi dari sistem
matrilineal suku Minang di Pariaman, di mana harta pusaka ditetapkan menjadi milik perempuan, sementara laki-laki tidak mendapatkan apa-apa. Oleh karena itu, wajar bila laki-laki yang diterima sebagai menantu, diberikan uang jemputan sebagai modal bagi mereka untuk hidup berumah tangga. Sjarifoedin (2011: 474) menambahkan dalam adat perkawinan di Pariaman, pihak wanitalah yang melamar dan menjemput serta membayar pihak pria, ketika akan melangsungkan perkawinan. Karena itu adat perkawinan Pariaman, lebih dikenal dengan
“perkawinan bajapuik” atau “perkawinan berjemputan”. Adat perkawinan Pariaman yang demikian adalah adat lokal Pariaman, tidak berlaku untuk seluruh wilayah Minangkabau Sumatera Barat.
Uang jemputan umumnya terdapat di daerah Pariaman dan Kota Padang.
Laki-laki dijemput oleh keluarga perempuan dengan sejumlah uang atau barang berharga lainnya pada saat peminangan. Jika keluarga laki-laki setuju, peminangan bisa diterima. Jika tidak, berarti batal. Semakin tinggi kedudukan sosial laki-laki, semakin tinggi pula uang jemputannya (Yaswirman, 2011: 135).
Dari pernyataan tersebut, dapat digambarkan bahwa dalam tradisi uang jemputan, terdapat aturan komunikasi yang bersifat transaksional antar keluarga calon pengantin dalam mencapai kesepakatan mengenai jumlah uang jemputan, sebagai syarat perkawinan. Tidak tercapainya kesepakatan dari kedua belah pihak keluarga tersebut dapat berakibat pada gagalnya rencana perkawinan, di mana hal ini menggambarkan tidak efektifnya proses komunikasi yang dilakukan.
Seperti dikisahkan dalam sebuah cerpen yang dimuat pada harian Kompas Tahun 2007, berjudul “Uang Jemputan” karya Farizal Sikumbang.
Cerpen ini mengisahkan Aku (penulis) yang terhalang kisah cintanya dengan
seorang gadis bernama Faraswati. Keluarga Faraswati tidak mampu memenuhi uang jemputan sebesar sepuluh juta rupiah, sebagai syarat perkawinan yang diminta oleh keluarganya. Tokoh Aku (penulis) sebenarnya menolak adanya tradisi tersebut. Keinginannya menikahi Faraswati terhalang, karena harus mematuhi adat istidat (sumber: http://manggopohalamsaiyo.blogspot.com). Kisah tersebut menceritakan tentang, tidak efektifnya proses komunikasi yang dilakukan mengenai kesepakatan uang jemputan sebagai syarat perkawinan.
Proses komunikasi yang tidak efektif pada pelaksanaan tradisi uang jemputan, juga dikisahkan dalam sebuah film pendek karya Ferdinand Almi, berjudul “Salisiah Adaik” yang artinya “Selisih Adat”. Film tersebut menceritakan tentang perjalanan cinta dua sejoli, bernama Muslim dan Rosa. Cinta keduanya tidak dapat bersatu, karena memiliki adat perkawinan yang saling bertentangan.
Muslim adalah pemuda Pariaman, sedangkan Rosa adalah gadis Payakumbuh.
Bagi keluarga Muslim, dalam adat perkawinan Pariaman mengharuskan adanya pemberian uang jemputan dari pihak perempuan. Sementara bagi keluarga Rosa, dalam adat perkawinan Payakumbuh mengharuskan adanya pelaksanaan tradisi sasuduik. Tradisi sasuduik adalah kewajiban calon suami untuk memenuhi tanggung jawab dalam memberikan perlengkapan kamar kepada perempuan yang akan dinikahi. Perselisihan adat tersebut membuat kisah cinta Muslim dan Rosa, sulit dipersatukan dalam sebuah ikatan perkawinan (sumber: http://www.warta- andalas.com).
Pada awalnya uang jemputan diberikan kepada laki-laki yang memiliki darah bangsawan, namun kini telah bergeser kepada laki-laki yang memiliki status
sosial tinggi, seperti gelar kesarjanaan. Sekarang ini uang jemputan bukan lagi untuk laki-laki yang dijemput, melainkan untuk ibunya (Navis, 1984: 201).
Kuntjaraningrat mengemukakan bahwa penetapan besarnya uang jemputan, merupakan masalah sulit yang harus ditempuh oleh keluarga perempuan dalam melakukan peminangan. Uang jemputan telah berubah pelaksanaannya menjadi “uang hilang”. Istilah “hilang” berarti pemberian pihak keluarga perempuan, tidak dibalas oleh pihak keluarga laki-laki.
Sementara dalam prosesi yang sebenarnya, pemberian uang jemputan seharusnya dibalas atau dikembalikan oleh pihak keluarga laki-laki dalam bentuk pemberian perhiasan atau benda berharga lainnya yang disebut panibo. Pemberian ini dilaksanakan pada saat anak daro (pengantin perempuan), datang mengunjungi mertua (manjalang mintuo) untuk pertama kali (dalam jurnal Depdikbud, 1978: 11).
Pernyataan di atas didukung oleh Al Reza (2011: 72) yang menyebutkan, di dalam agama Islam hanya dikenal dengan mahar sebagai pemberian laki-laki untuk calon istrinya, bukan sebaliknya seperti yang berlaku pada tradisi uang hilang. Oleh karena itulah uang hilang bertentangan dengan hukum Islam.
Meskipun demikian perkawinan yang tidak memakai uang jemputan itu tetap sah, karena pemberian uang jemputan itu adalah syarat tersendiri yang timbul karena kebiasaan masyarakat Pariaman. Perkawinan dapat dilakukan asalkan rukun dan syarat perkawinan terpenuhi, seperti terdapat dalam ketentuan Hukum Islam dan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Amir (2006: 172) mengemukakan, masyarakat Minang harus tunduk pada ketentuan peraturan yang terdapat dalam Tali Tiga Sepilin. Ke tiga peraturan yang disebut sebagai Tali Tiga Sepilin ini adalah adat Minang, agama Islam dan Undang-undang Negara. Pendapat senada disampaikan Ibrahim (1984: 15), bahwa
“adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah” merupakan ungkapan yang mencerminkan masyarakat Sumatera Barat, di samping mereka teguh memegang adatnya, juga taat melaksanakan syariat agamanya. Di sisi lain, Abdullah
(1987: 104) mengemukakan, pada mulanya antara adat Minang dan Islam memang terjadi konflik, setidaknya demikian menurut peneliti-peneliti barat sejak masa penjajahan.
Pendapat tersebut didukung Yaswirman (2011: 112), bahwa perbenturan persepsi antara adat dan Islam muncul dalam bidang sosial kemasyarakatan, terutama bidang kekerabatan. Adat Minangkabau menganut sistem matrilineal, sedangkan Islam menganut sistem patrilineal. Di Minangkabau, suami tinggal bersama di rumah keluarga istri, sedangkan dalam Islam sebaliknya, istri tinggal di rumah yang disediakan suami. Dampaknya meluas kepada sistem perkawinan, perwalian, kepemilikan harta dan pewarisan. Kendati telah ada konsensus “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato, adat mamakai”, namun mewujudkan persentuhan adat dan Islam dalam persoalan ini, mengalami proses yang sangat panjang.
Dalam urusan perjodohan generasi muda Minang, tidak hanya orang tua yang berperan, seorang “mamak” atau paman (saudara laki-laki ibu) juga ikut berperan. Mamak termasuk orang yang berkuasa terhadap keturunan. Keturunan yang dimaksud adalah kemenakan yang menjadi anak dalam keluarga inti. Jika tanggung jawab orang tua terhadap anak-anaknya sampai mereka dewasa, maka tanggung jawab dan kekuasaan mamak terhadap kemenakannya, seakan-akan bukan dalam waktu terbatas. Kekuasaan itu mulai terlihat sejak kemenakan masih kecil, mencarikan jodoh sampai berumah tangga (Yaswirman, 2011: 167-168).
Sebuah novel berjudul “Memang Jodoh” karangan Marah Rusli, menceritakan tentang peranan keluarga dalam urusan perjodohan yang dikisahkan Rusli melalui novel semiautobiografi kehidupannya, dalam belenggu adat istiadat
perkawinan Minang. Hamli (tokoh utama dalam novel) selalu mendapat desakan dari para mamak (paman)nya untuk mau menerima pinangan, di antara beberapa perempuan sesama suku Minang yang akan memberinya uang jemputan. Hamli diperbolehkan melakukan poligami dengan alasan agar perempuan Minang yang akan ia nikahi, mendapat keturunan yang baik darinya, sebagai seorang keturunan bangsawan dari kerajaan Pagaruyung di Kota Padang. Sikap Hamli yang sangat menentang poligami dan tradisi uang jemputan, membuatnya memilih meninggalkan kampung halaman dan merantau ke Bogor untuk melanjutkan pendidikan. Akhirnya terjadi konflik antara Hamli dengan keluarga besarnya, disebabkan Hamli memutuskan menikahi seorang perempuan dari suku Jawa, yang kini menjadi istrinya. (Rusli, 2013: 10).
Kisah lain tentang peranan keluarga dalam perjodohan dengan tradisi uang jemputan yang cukup menarik, ditulis oleh Desni Intan Suri dalam sebuah novel fiksi, berjudul “Aku Tidak Membeli Cintamu”. Novel tersebut menceritakan kisah seorang gadih gadang indak balaki (gadis yang telah dewasa, namun belum bersuami). Tokoh utama pada novel tersebut bernama Suci Intan Baiduri. Ia sangat menentang keinginan ibunya, untuk menikahkan dirinya kepada laki-laki Pariaman dengan sejumlah uang jemputan. Suci memandang sistem matrilineal, membuat perempuan Minang menjadi lebih berkuasa dari pada laki-laki, apalagi dengan adanya tradisi uang jemputan. Suci melihat hal tersebut pada karakter ibunya yang selalu memegang setiap keputusan dalam urusan rumah tangga. Suci berpendapat bahwa adat Minang yang sesungguhnya, bertujuan untuk melahirkan watak bundo kanduang bagi wanita Minang, yaitu sebuah watak kepemimpinan perempuan yang terampil, cermat dan bijaksana. Akhirnya Suci menerima
perjodohan tersebut setelah mengetahui bahwa laki-laki yang dijodohkan dengan dirinya adalah laki-laki yang ia kagumi selama ini dan memiliki prinsip, tidak menginginkan adanya tradisi uang jemputan dalam perkawinan (Suri, 2012: 70).
Dari kedua kisah pada novel di atas, penulis mencoba menyampaikan adanya persepsi berbeda tentang tradisi uang jemputan. Persepsi tersebut digambarkan oleh tokoh Hamli dan Suci yang bersikap menolak tradisi uang jemputan, setelah keluarga berperan dalam memprakarsai perjodohan dengan tradisi uang jemputan. Berbeda dengan hasil penelitian Yunita, Muhammad dan Basri (2010) yang mendapati bahwa persepsi masyarakat Padang Pariaman di Kota Lampung, tentang tradisi uang jemputan adalah persepsi yang positif.
Tradisi tersebut menurut responden, merupakan upaya untuk melestarikan adat istiadat Minang Pariaman (sumber: http//jurnal.fkip.unila.ac.id). Ini menunjukkan bahwa setiap orang memiliki cara pandang atau persepsi yang berbeda-beda dalam memaknai suatu budaya. Samovar & Porter (dalam Lubis, 2012: 63) menyebutkan, ada 3 (tiga) elemen-elemen pokok yang mempengaruhi persepsi budaya, yaitu: (1). pandangan dunia (world view) yang terdiri dari agama/sistem kepercayaan, nilai-nilai dan sikap perilaku; (2). sistem lambang (verbal dan non verbal); dan (3). organisasi sosial.
Masyarakat Minangkabau, sebagaimana juga dengan masyarakat lainnya di Indonesia, sekarang ini sedang menghadapi goncangan-goncangan budaya (culture shocks) yang sangat hebat, akibat tantangan dan serangan yang datang dari berbagai penjuru dunia secara bertubi-tubi. Di samping itu juga akibat proses pelapukan yang terjadi dari dalam, yang semua ini bisa membahayakan eksistensi dan keberlanjutan budaya Minang sendiri (Naim, 2000: 10). Sering terjadi saat ini
pada orang Minang perantauan atau yang tinggal di perkotaan, tanpa mengenyampingkan adat, masalah uang jemputan dapat diatasi. Misalnya secara simbolis jumlahnya tetap dibunyikan, tapi dalam praktiknya tidak dilaksanakan.
Kecuali di antara pihak itu, ada yang tidak mempunyai itikad baik dalam perkawinan. Kalau hal ini yang terjadi, memang lebih baik rencana perkawinan tersebut dibatalkan dini hari. Seperti pepatah “kumbang tidak seekor, bunga tidak setangkai” (Sjarifoedin, 2011: 481).
Menurut Provencher, model migrasi masyarakat Minangkabau sering disebut merantau dalam bentuk perpindahan tradisional, institusional dan normatif (dalam Pelly, 2013: 9). Selanjutnya Thomas & Znaniecki menyebutkan, fungsi migrasi adalah sebagai cultural transmitter atau penyalur arus budaya (dalam Naim, 2013: 13). Kota Medan menempati urutan pertama, setelah Binjai, Tebing Tinggi, dan Kota lainnya di Sumatera Utara yang merupakan tempat tujuan perantau Minangkabau dengan jumlah yang besar, berdasarkan hasil sensus penduduk pada tahun 1930 (Naim, 2013: 105). Sementara itu pada tahun 1981, penduduk etnis Minangkabau, merupakan urutan ke lima sebagai penduduk terbanyak di Kota Medan, setelah etnis Jawa, Batak Toba, Tionghoa dan Mandailing (Pelly, 2011: 97).
Kehadiran orang Minangkabau di Kota Medan dalam jumlah yang besar, merupakan faktor yang menempatkan mereka, tidak merasa tersudut oleh situasi atau merasa terasing sebagai pendatang. Orang Minang berprinsip seperti apa yang dikatakan pepatah “dima bumi dipijak, disinan langik dijunjuang”, yang artinya di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Orang Minang dapat berbaur dan beradaptasi dengan budaya tuan rumah. Mereka juga membentuk
organisasi berdasarkan daerah asal di Sumatera Barat, seperti Pariaman, Batu Sangkar, Maninjau, Pasaman dan sebagainya (Naim, 2013: 108-109).
Penelitian yang pernah peneliti lakukan pada tahun 2005, mendapati bahwa tradisi uang jemputan masih dilaksanakan orang Minang yang berasal dari daerah Tujuh Koto, Kabupaten Pariaman yang ada di Kota Medan, sebagai lokasi penelitian. Persepsi tentang tradisi uang jemputan oleh remaja putri Minang sebagai informan penelitian, cenderung bersifat subjektif, di mana perempuan sebagai pemberi uang jemputan dianggap tidak layak atau tidak pantas (Susanti, 2005: 73). Sedangkan di daerah asal tradisi ini, Bupati Padang Pariaman sendiri pernah menghimbau agar masyarakat Pariaman, menghapus tradisi uang japuik atau uang hilang. Pada tanggal 25 Januari 1990, dikeluarkan keputusan bersama antara Bupati, Lembaga Adat dan Lembaga Agama setempat untuk menghapus tradisi uang hilang (Al Reza, 2011: 1).
Sementara itu masyarakat di luar suku Minang, sering mengartikan tradisi uang jemputan sebagai tradisi “membeli laki-laki”. Dahulu seluruh masyarakat di daerah Sumatera Barat, memakai tradisi uang jemputan pada adat pernikahan. Sekarang ini, Kota Pariaman adalah satu dari sedikit daerah di Sumatera Barat yang tetap mempertahankan adat tersebut. Tradisi “membeli laki- laki” dengan sejumlah uang ini, ditentukan berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak keluarga (sumber: http://www.infominang.com). Adanya stereotip tentang tradisi uang jemputan sebagai tradisi “membeli laki-laki”, merupakan cara pandang atau persepsi yang berbeda dari ekspektasi sebenarnya tentang nilai-nilai tradisi uang jemputan, di mana pemberian uang jemputan dimaksudkan sebagai modal bagi laki-laki untuk hidup berumah tangga (Maihasni, et. al., 2010: 178).
Mulyana mengemukakan bahwa dalam komunikasi antarmanusia, stereotip umumnya akan menghambat keefektifan komunikasi, bahkan pada gilirannya akan menghambat integrasi manusia yang sudah pasti dilakukan lewat komunikasi (dalam Mulyana & Rakhmat, 2010: 236).
Suatu kajian yang menarik mengenai perbedaan persepsi masyarakat, khususnya generasi muda Minang Pariaman tentang tradisi uang jemputan.
Pelaksanaan suatu tradisi akan kuat, bila dilaksanakan di daerah asal.
Bagaimanakah jika tradisi tersebut, dilaksanakan di luar daerah asal atau di perantauan?. Tradisi uang jemputan yang dilaksanakan di daerah rantau akan melewati proses enkulturasi dan akulturasi. Proses ini akan berpengaruh pada persepsi budaya generasi muda, khususnya yang lahir dan besar di perantauan, sebagai generasi penerus dalam proses transmisi nilai-nilai budaya.
Sebagaimana Samovar, et al. (2010: 49) menyebutkan bahwa “kita lebih dari budaya kita”. Meskipun semua budaya memberikan referensi secara umum, manusia bukanlah tawanan dari budaya mereka atau tunduk pada semua hal dari budaya tersebut. Manusia berfikir, merasa, dan berperan dalam perilaku sosial kolektif mereka. Akibatnya, nilai dan perilaku dari budaya tertentu, mungkin bukanlah merupakan nilai dan perilaku semua individu dalam budaya tersebut.
Sjarifoedin (2011: 477) mengemukakan, tradisi perkawinan dengan uang jemputan sering mengundang pro dan kontra dalam masyarakat, baik dari dalam maupun dari luar masyarakat Pariaman. Namun tradisi tersebut tetap langgeng dan eksis dilaksanakan.
Proses yang dilalui individu untuk memperoleh aturan-aturan (budaya) komunikasi, dimulai pada masa awal kehidupan. Melalui proses sosialisasi dan
pendidikan, pola-pola budaya ditanamkan ke dalam sistem saraf dan menjadi bagian kepribadian dan perilaku kita. Proses belajar ini memungkinkan kita berinteraksi dengan anggota-anggota budaya lainnya yang memiliki pola-pola komunikasi serupa (Adler dalam Mulyana & Rakhmat, 2010: 138).
Pada akhirnya proses komunikasi yang dilakukan dalam tradisi uang jemputan, berakibat pada berhasil atau tidaknya seorang perempuan Minang Pariaman untuk mendapatkan suami (menikah). Hal ini disebabkan, bahwa dalam suku Minang, merupakan aib besar bagi suatu keluarga, kalau mereka mempunyai
“gadih gadang indak balaki” atau gadis yang telah dewasa, namun belum memiliki suami (Sjarifoedin, 2011: 471). Kelahiran anak perempuan, sebenarnya sangat didambakan oleh masyarakat Minang sebagai pelanjut kekerabatan dan pemegang hak atas kekayaan keluarga. Kedudukan perempuan menjadi sentral untuk urusan di dalam maupun di luar (Yaswirman, 2011: 125-126).
Berdasarkan seluruh paparan di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian komunikasi dalam adat perkawinan suku Minang, khususnya pada persepsi tentang tradisi uang jemputan oleh perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan. Alasan pemilihan permasalahan ini, disebabkan karena perempuan Minang Pariaman pada sistem matrilineal, merupakan pihak yang memiliki peranan utama dalam proses pelamaran dan pemberian uang jemputan. Hal ini dapat dikatakan pula bahwa pihak perempuan merupakan komunikator dalam proses pelamaran dengan tradisi uang jemputan.
Budaya didefenisikan, dibentuk, ditransmisikan, dan dipelajari melalui komunikasi (Edward T. Hall dalam Ruben dan Stewart, 2013: 361). Ketika seorang perempuan dianggap layak untuk memasuki kehidupan pernikahan,
keluarga akan berperan dalam urusan perjodohan dan penyampaian pesan tentang adanya tradisi uang jemputan sebagai syarat perkawinan. Oleh karena itu peneliti ingin mengetahui lebih dalam, tentang persepsi dan perubahan sikap perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan, tentang tradisi uang jemputan sebagai adat perkawinan sukunya (intra culture) yang menerpa dirinya.
Alasan pemilihan Kota Medan sebagai lokasi penelitian, dikarenakan Kota Medan merupakan Kota Metropolitan ketiga setelah Jakarta dan Surabaya (Pelly, 2013: 4) yang memiliki kedekatan geografis dengan Sumatera Barat sebagai daerah asal tradisi uang jemputan. Sebagaimana dikemukakan Mochtar Naim bahwa hubungan komunikatif yang relatif lancar, antara perantau di Kota Medan dengan kampung halaman, memungkinkan perantau Minangkabau rutin untuk pulang kampung (Naim, 2013: 109). Pada keluarga perantau Minang yang berasal dari Pariaman yang ada di Kota Medan, memungkinkan terjadinya proses komunikasi dalam pewarisan nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan, sebagai upaya menjalankan misi budaya. Pelly (2013: 3) mengemukakan bahwa, dengan meneliti “misi budaya” yang dibawa para perantau ke daerah perantauan, kita bisa melihat budaya tuan rumah yang dominan itu, dapat mempengaruhi konsep-konsep budaya yang dibawa para perantau dari daerah asal.
Dalam era globalisasi informasi, suatu fenomena tidak hanya sekedar memerlukan pertimbangan nilai baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek, tetapi memerlukan pertimbangan lain, apakah menguntungkan atau merugikan, layak atau tidak layak dan sebagainya (El Karimah dan Wahyudin, 2010: 52). Perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan sebagai Kota Metropolitan, akan dipengaruhi oleh berbagai faktor dalam
kehidupan modern dan multikultural, sehingga turut pula membentuk persepsi budayanya tentang tradisi uang jemputan yang menarik untuk diteliti. Selain itu dalam referensi yang peneliti telusuri dan baca, peneliti belum mendapati penelitian sebelumnya yang meneliti persepsi perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan tentang tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman. Oleh karena itu peneliti ingin melakukan penelitian ini, untuk memberikan variasi terhadap penelitian sejenis.
1.2. Fokus Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, peneliti menetapkan fokus masalah penelitian sebagai berikut:
1.2.1. Bagaimana cara pandang perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan tentang tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan?
1.2.2.Bagaimana perubahan sikap perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan?
1.3 Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
1.3.1. Mengetahui cara pandang perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan tentang tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan.
1.3.2. Mengetahui perubahan sikap perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan.
1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1.4.1. Secara akademis, diharapkan dapat menambah khasanah penelitian ilmu komunikasi, khususnya pada kajian komunikasi antarbudaya. Selain itu diharapkan dapat memberikan motivasi kepada peneliti-peneliti lain, untuk mengkaji lebih dalam penelitian komunikasi tentang tema-tema budaya.
1.4.2. Secara teoritis, diharapkan dapat menambah pemahaman masyarakat akademis mengenai penelitian yang berkaitan dengan tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman di Kota Medan.
1.4.3. Secara praktis, diharapkan dapat menggambarkan terjadinya perubahan atau pergeseran nilai-nilai pada tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman, melalui persepsi dan terlihat pada perubahan sikap perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN
2.1. Paradigma Penelitian
Paradigma dalam penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Morissan (2014: 165) mengemukakan, teori konstruktivisme (constructivism) yang dikembangkan oleh Jesse Delia, memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak, menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Sedangkan Creswell (2010: 11), menyebutkan bahwa konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia, di mana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman- pengalaman mereka, makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda- benda tertentu.
Ardianto & Anees (2007: 154) menyebutkan bahwa paradigma konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Prinsip dasar konstruktivisme menerangkan bahwa tindakan seseorang ditentukan oleh konstruk diri, sekaligus juga konstruk lingkungan luar dari perspektif diri, sehingga komunikasi itu dapat dirumuskan dan ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Sebagaimana Sarantakos (dalam Poerwandari, 2007:
22-23), konstruktivis merupakan pendekatan yang menggunakan pola pikir
induktif yaitu berjalan dari spesifik menuju umum, dari yang konkret menuju abstrak, ilmu yang bersifat ideografis, nomotetis dan ilmu yang tidak bebas nilai.
Sementara itu Hidayat (2003: 3) mengemukakan, paradigma konstruktivis sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci, terhadap pelaku sosial yang bersangkutan, menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial seseorang.
2.2. Penelitian Sejenis Terdahulu.
Penelitian terdahulu tentang kajian persepsi budaya, khususnya penelitian tentang tradisi uang jemputan atau tradisi bajapuik, dapat dilihat pada beberapa penelitian berikut ini:
(1). Matrilokal dan status perempuan: studi kasus tentang status perempuan dalam Tradisi Bajapuik di Pariaman Sumatera Barat.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Azwar Wilhendri (2000), dalam tesisnya pada Universitas Gajah Mada (UGM), Yokyakarta. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dalam lembaga keluarga dengan pola kekerabatan patrilineal-patrilokal, merupakan wadah lahirnya sistem patriarki. Sistem patriarki sebagai analisis dalam studi perempuan, dianggap sebagai salah satu sebab timbulnya pensubordinasian dan penindasan terhadap hak-hak sosial perempuan dalam hubungan kesetaraan gender.
Kota Pariaman secara kultural, merupakan salah satu wilayah di Minangkabau, dengan sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, status dan kedudukan perempuan dianggap sangat kuat. Ternyata pada tradisi bajapuik dengan sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal tersebut, status dan kedudukan perempuan tersubordinasi, baik dalam keluarga maupun dalam
hubungan sosial. Pada sistem patriarki, posisi perempuan berada di bawah otoritas bapak sebelum menikah dan dikuasai oleh suami setelah menikah.
Sementara itu pada sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, seorang perempuan dikuasai oleh mamak (paman) dalam hubungan kerabat (extended family), sekaligus oleh suami di dalam keluarga inti (nuclear family). Hal tersebut dibuktikan dengan lemahnya akses perempuan, dalam pengambilan keputusan untuk menentukan terjadinya ikatan perkawinan, karena intervensi mamak.
Posisi tawar (bargaining position) dalam menentukan nilai uang japuik juga lemah, ini juga berlaku pada pengelolaan uang japuik, penghargaan terhadap status sosial dan status perempuan dalam keluarga.
Kesimpulannya bahwa tradisi bajapuik membuktikan bahwa sistem patriarki terlembaga dalam perkawinan. Penelitian ini membuktikan, sistem patriarki juga terjadi pada sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, di mana perempuan mengalami subordinasi berganda (Sumber: http://etd.ugm.ac.id).
(2). Persepsi remaja tentang Tradisi Uang Jemputan dalam adat perkawinan suku Minang (Studi deskriptif pada Ikatan Keluarga VII Koto sekretariat Jalan Bromo Medan).
Penelitian tersebut dilakukan Susanti (2005), dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana remaja khususnya gadis Minang, mempersepsikan tradisi uang jemputan pada adat perkawinan Pariaman. Dalam penelitian ini, juga dilakukan observasi pada sebuah pesta perkawinan, yang melaksanakan tradisi uang jemputan didalamnya. Hasil penelitian menunjukkan, tradisi uang
jemputan masih dilaksanakan dalam perkawinan masyarakat suku Minang yang berasal dari daerah Pariaman.
Sementara itu seorang tokoh adat Minang Pariaman yang menjadi nara sumber (key informan) dalam penelitian mengatakan bahwa uang jemputan sebenarnya bermakna tanggung jawab mamak (saudara laki-laki ibu), dalam pencarian jodoh yang layak dan sesuai untuk keponakannya.
Sedangkan gadis Minang yang merupakan informan dalam penelitian, umumnya mempersepsikan uang jemputan secara subjektif, yaitu perempuan sebagai pemberi uang jemputan dianggap tidak pantas atau tidak layak (Susanti, 2005: 73).
(3). Perubahan Tradisi Bajapuik pada perkawinan orang Minang Pariaman di Kota Binjai.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Deliani (2005). Hasil penelitian menyebutkan bahwa di Kota Binjai, banyak anak-anak muda Pariaman yang memilih jodohnya sendiri. Sedikit sekali di antara anak-anak orang Minang Pariaman, yang mengikuti perkawinan melalui perjodohan. Keluarga dan para mamak (paman), dalam hal ini hanya mengikuti pilihan mereka dan membantu mempersiapkan kebutuhan pernikahan anak-anak mereka. Para ninik mamak menganggap, jika terjadi pergeseran pada adat itu lumrah, meskipun keinginan untuk memegang adat masih kuat.
Deliani juga menemukan beberapa bentuk perubahan yang terjadi dalam tradisi Bajapuik di Kota Binjai. Perubahan tersebut adalah sebagai berikut: (1). Tradisi perkawinan bajapuik orang Minang Pariaman, berlangsung dengan sejumlah variasi dan penyederhanaan di dalamnya;
(2). Perubahan dalam struktur sosial orang Minang Pariaman, sedikitnya ditandai dengan bergesernya struktur dalam sistem kekerabatan mereka, dari konsep extended family ke arah bentuk nuclear family; dan (3). Perubahan yang terjadi dalam struktur sosial orang Minang tersebut, berimplikasi pada perubahan orientasi nilai budaya pada pelaksanaan tradisi bajapuik. Selain pengaruh dari luar sistem dan sosial budaya orang Minang Pariaman (faktor eksternal), perubahan tradisi bajapuik juga didorong oleh kebutuhan dari dalam (faktor internal).
(4). Bentuk-bentuk perubahan pertukaran dalam perkawinan Bajapuik.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Maihasni, Titik Sumarti, Ekawati Sri Wahyuni dan Sediono MP. Tjondronegoro (2010: 190). Hasil penelitian mendapati perubahan pertukaran pada perkawinan bajapuik di Pariaman, melalui 4 (empat) bentuk perubahan pertukaran, yaitu: 1). Uang jemputan adalah uang yang diberikan pihak perempuan kepada pihak laki-laki, dan dikembalikan lagi kepada perempuan pada saat mengunjungi mertua untuk pertama kali. Bentuk pengembalian ini berwujud benda yang bernilai ekonomis, seperti emas dan benda lainnya; 2). Uang hilang adalah pemberian kepada pihak laki-laki, namun tidak dikembalikan kepada pihak perempuan.
Pemberian tersebut dapat berwujud benda, khususnya uang yang dapat dipergunakan sepenuhnya oleh pihak keluarga laki-laki khususnya orang tua;
3). Uang selo adalah salah satu bentuk pengeluaran lain dari pihak perempuan, untuk membiayai adat perkawinan. Uang selo ini diberikan kepada ninik mamak pihak laki-laki, yang hadir pada saat pertunangan; dan 4) Uang tungkatan adalah uang tembusan dari benda-benda tungkatan yang
dibawa perempuan, sebagai persyaratan menjemput mempelai laki-laki untuk dinikahkan.
(5). Uang Japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung.
Penelitian tersebut dilakukan oleh Ririanty Yunita, Syaiful M dan Muhammad Basri (2012). Inti sari dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu bagaimanakah persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang uang japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung, maka penelitian ini ditujukan untuk mencari tahu persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang uang japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 responden penelitian, sebanyak 7 responden atau 8%, mempunyai persepsi negatif mengenai uang japuik. Sementara itu sebanyak 85 responden atau 92% dari 92 responden termasuk dalam kategori persepsi yang positif mengenai uang japuik. Dapat disimpulkan bahwa persepsi para perantau asal kabupaten Padang Pariaman mengenai tradisi pemberian uang japuik pada adat perkawinan Padang Pariaman di Kota Bandar Lampung, termasuk dalam persepsi yang positif (sumber: http://jurnal.fkip.unila.ac.id).
(6). Persepsi pasangan suami-istri terhadap bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin dalam upacara perkawinan masyarakat adat Batak Toba (Studi kualitatif terhadap masyarakat Batak Toba di Kelurahan Medan Tenggara Kecamatan Medan Denai).
Penelitian mengenai persepsi budaya pada tradisi perkawinan suku Batak Toba tersebut dilakukan oleh Sahmaida Lubis (2011). Ada beberapa bentuk komunikasi simbolik yang digunakan dalam adat masyarakat Batak Toba. Bentuk komunikasi simbolik tersebut adalah dekke (ikan mas), mandar hela (sarung menantu laki-laki), boras (beras), dan ulos hela (ulos menantu laki-laki). Simbol-simbol tersebut mengandung makna berupa nilai-nilai perkawinan dan kehidupan masyarakat Batak Toba.
Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin, dalam upacara perkawinan adat Batak Toba dan untuk mengetahui persepsi, berupa pemahaman pasangan suami-istri terhadap bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin pada saat upacara adat perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pasangan suami-istri memahami makna komunikasi simbolik dalam upacara perkawinan adat Batak Toba, dikarenakan kurangnya proses sosialisasi budaya dan cara pandang yang berbeda dari pasangan suami-istri tersebut.
2.3. Uraian Teoritis
2.3.1. Komunikasi Antarbudaya
Hubungan manusia dalam proses komunikasi, tidak terlepas dari pengaruh budaya masing-masing pelaku komunikasi. Sebagaimana Edward T.
Hall (dalam Syam, 2013: 84), mengemukakan bahwa “komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi”. Sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) pandangan terhadap komunikasi, yaitu:
1). Komunikasi sebagai aktivitas simbolis.
Aktivitas komunikasi menggunakan simbol-simbol bermakna, yang diubah ke dalam kata-kata (verbal) untuk ditulis dan diucapkan atau simbol non verbal untuk diperagakan. Simbol komunikasi itu dapat berbentuk tindakan dan aktivitas manusia, atau tampilan objek yang mewaliki makna tertentu.
2). Komunikasi sebagai proses.
Komunikasi merupakan aktifitas yang dinamis, aktifitas yang terus berlangsung secara berkesinambungan, sehingga dia terus mengalami perubahan.
3). Komunikasi sebagai pertukaran makna.
Para ahli mengatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan “pertukaran makna”. Makna itu ada dalam setiap orang yang mengirimkan pesan. Jadi makna bukan sekedar kata-kata verbal atau perilaku non verbal, tetapi makna adalah pesan yang dimaksudkan pengirim dan diharapkan akan dimengerti pula oleh penerima (Liliweri, 2007: 5-6).
2.3.1.(a). Pengertian Komunikasi Antarbudaya
Samovar, et al. (2010: 55) menyebutkan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya berbeda.
Pendapat serupa juga dikemukakan Tubbs & Moss (2005: 236-237), bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio-ekonomi). Penggolongan kelompok-kelompok budaya tidak bersifat mutlak. DeVito (1997: 480), mendefenisikan komunikasi antarbudaya secara luas sebagai bentuk komunikasi
di antara orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda, selain juga secara lebih sempit mencakup bidang komunikasi antara kultur yang berbeda.
Lubis (2012: 44) mengemukakan bahwa, komunikasi yang berlangsung di antara individu yang berbeda budaya, selalu mengalami hambatan-hambatan yang disengaja maupun tidak disengaja atau tanpa disadari. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar kalau ditinjau dari komunikasi antarbudaya. Dengan demikian terlihat adanya dinamika di antara para peserta yang berkomunikasi, dengan keragaman budaya yang melatarbelakanginya.
Setiap orang berkomunikasi dengan kerangka pemikiran (frame of reference) dan keluasan pengalaman (field of experience) yang berbeda-beda satu sama lain, yang dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Oleh karena itu komunikasi antarbudaya menjadi penting dipelajari, tidak hanya untuk tujuan efektifitas berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya, melainkan juga untuk efektifitas pemahaman terhadap budaya sendiri. Sebagaimana disebutkan Litvin (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010), bahwa tujuan studi komunikasi antarbudaya bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk:
1) Menyadari bias budaya sendiri.
2) Lebih peka secara budaya.
3) Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain dan menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan dengan orang tersebut.
4) Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.
5) Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.
6) Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.
7) Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.
8) Membantu memahami kontak antarbudaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan- kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.
9) Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antarbudaya.
10) Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan dan dipahami.
Seseorang dari latar belakang budaya tertentu akan terlibat dalam situasi komunikasi antarbudaya, saat mengalami proses akulturasi dengan orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Cara kita berkomunikasi sebagian besar dipengaruhi oleh kultur, sehingga orang-orang dari kultur yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda (DeVito, 1997: 481). Brislin (dalam Samovar, et al., 2010: 44), menyebutkan bahwa nilai-nilai yang dianggap penting oleh suatu masyarakat yang sudah ada selama beberapa tahun, harus diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lainnya dalam proses enkulturasi budaya.
2.3.1.(b). Proses Enkulturasi dan Akulturasi dalam Komunikasi Antarbudaya.
Dalam mempelajari budaya, setiap individu yang lahir ke dunia, akan melewati proses enkulturasi dan akulturasi. Enkulturasi mengacu pada proses di mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan
merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Sedangkan akulturasi mengacu pada proses di mana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain (DeVito, 1997: 479). Sementara itu Samovar, et al.
(2010: 479), mendefenisikan akulturasi sebagai proses pembelajaran bagaimana hidup dalam budaya yang baru. Sebagaimana Lubis (2012: 21), menyebutkan bahwa kita mempelajari kultur (budaya), bukan mewarisinya.
Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan-kebiasaan, praktik-praktik dan tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembang, diwariskan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu. Pada gilirannya kelompok atau ras tersebut tidak menyadari dari mana asal warisan kebijaksanaan tersebut. Generasi-generasi berikutnya terkondisikan untuk menerima “kebenaran-kebenaran” tersebut tentang kehidupan di sekitar mereka, pantangan-pantangan dan nilai-nilai tertentu ditetapkan dan melalui banyak cara orang-orang menerima penjelasan tentang perilaku “yang dapat diterima” untuk hidup dalam masyarakat tersebut. Budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap fase aktifitas manusia (Haris dan Moran dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010: 55).
Komunikasi antarbudaya terjadi ketika anggota dari satu budaya tertentu, memberikan pesan kepada anggota dari budaya yang lain. Lebih tepatnya, komunikasi antarbudaya melibatkan interaksi antara orang-orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya, cukup berbeda dalam suatu komunikasi (Samovar et. al, 2010: 13). Selanjutnya Gudykunst (2003: 316) menyebutkan, terdapat beberapa potensi masalah dalam proses akulturasi budaya, antara lain:
1. Stereotip.
Stereotip biasa terjadi karena kita bertemu dengan banyak orang dan berhadapan dengan banyak hal yang tidak selalu sama dan tidak kita ketahui. Masalah timbul ketika kita tidak menyadari bahwa kita memiliki stereotip negatif. Stereotip dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dapat dijadikan alasan untuk bertindak diskriminatif.
2. Prasangka.
Prasangka memberikan perasaan dan tingkah laku negatif yang melibatkan rasa marah, takut, keseganan dan perasaan gelisah. Brislin (dalam Gudykunst, 2003: 323) mengatakan prasangka adalah perasaan mengenai hal baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak pantas dan lain- lain.
3. Etnosentrisme.
Nanda dan Warms (dalam Gudykunst, 2003: 331) menyebutkan, etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya lain. Pandangan bahwa budaya lain, dinilai berdasarkan standar budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.
Sebagaimana (Samovar, et, al. dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010: 76), etnosentrisme adalah kecenderungan memandang orang lain, secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk segala penilaian. Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme.