• Tidak ada hasil yang ditemukan

Adat Perkawinan masyarakat Pariaman

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 57-62)

BAB II. KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.3. Uraian Teoritis

2.3.4. Adat Perkawinan masyarakat Pariaman

2.3.4.(a). Adat bagi masyarakat Minang.

Amir (2006: 172) mengemukakan, masyarakat Minang harus tunduk pada ketentuan peraturan yang terdapat dalam Tali Tiga Sepilin. Ketiga peraturan yang disebut sebagai Tali Tiga Sepilin ini adalah adat Minang, agama Islam dan Undang-undang Negara. Pada kehidupan nyata, penerapan hukum yang terdapat dalam Tali Tiga Sepilin ini tidak selalu berjalan mulus. Ketiga peraturan tersebut seharusnya saling seiring sejalan, saling mengisi dan saling menguatkan. Pada kenyataannya, tidak jarang pula saling bertentangan dan berpotensi untuk saling berbenturan.

Navis (1984: 88), menyebutkan bahwa adat bagi orang Minang adalah kebudayaan secara utuh yang dapat berubah. Namun ada adat yang tidak dapat berubah, seperti kata pepatah : “kain dipasang usang, adaik dipakai baru (kain dipakai usang, adat dipakai baru)”. Maksudnya sebagaimana pakaian bila dipakai terus akan usang, sedangkan adat yang dipakai terus menerus senantiasa awet. Oleh karena ada adat yang tetap tidak berubah di samping yang berubah.

Adat di bagi dalam empat kategori, yakni: (1). adat yang sebenarnya adat;

(2). adat istiadat; (3). adat yang diadatkan; dan (4). adat yang teradat.

Navis (1978: 89) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan empat kategori adat tersebut adalah:

(1). adat yang sebenarnya ialah adat yang asli yang tidak berubah, yang tak lapuk oleh hujan yang tak lekang oleh panas. Kalau dipaksa dengan keras mengubahnya, ia dicabuik indak mati, diasak indak layua (dicabut tidak mati, dipindahkan tidak layu). Adat yang lazim diungkapkan dalam pepatah dan petitih ini, seperti hukum alam yang merupakan falsafah hidup orang Minang.

(2). adat istiadat ialah kebiasaan yang berlaku di tengah masyarakat umum atau setempat, seperti acara yang bersifat seremoni atau tingkah laku pergaulan yang bila dilakukan akan dianggap baik dan bila tidak dilakukan tidak apa-apa. Adat ini dalam mamangan (pepatah) diibaratkan seperti : pohon sayuran yang gadang dek diambak, tinggi dek dianjuang (besar karena dilambuk, tinggi karena dianjung), yang artinya adat itu akan dapat tumbuh karena dirawat dengan baik.

(3). adat yang diadatkan ialah apa yang dinamakan sebagai undang-undang dan hukum yang berlaku, seperti yang didapatkan pada undang-undang luhak dan rantau, undang-undang nan dua puluh. Terhadap adat ini berlaku apa yang diungkapkan mamangan (pepatah) : jikok dicabuik mati, jikok diasak layua (jika dicabut (ia) mati, jika dipindahkan (ia) layu), seperti pohon yang telah hidup berakar, yang dapat tumbuh selama tidak ada tangan yang mengganggu hidupnya.

(4). adat teradat ialah peraturan yang dilahirkan oleh mufakat atau konsensus masyarakat yang memakainya, seperti yang dimaksud mamangan (pepatah): patah tumbuah, hilang baganti (patah tumbuh, hilang berganti). Ibarat pohon yang patah karena bencana, maka ia akan dapat tumbuh lagi pada bekas patahannya. Kalau ia hilang, ia diganti pohon lain pada bekas tempatnya hilang karena pohon itu perlu ada untuk keperluan hidup manusia.

Menurut Nasrun, adat Minangkabau merupakan suatu sistem pandangan hidup yang kekal, segar dan aktual, oleh karena didasarkan pada:

1. Ketentuan-ketentuan yang terdapat pada alam yang nyata dan juga pada nilai positif, teladan baik serta keadaan yang berkembang.

2. Kebersamaan dalam arti seseorang untuk kepentingan bersama, dan kepentingan bersama untuk seseorang.

3. Kemakmuran yang merata.

4. Perimbangan pertentangan yakni pertentangan dihadapi secara nyata serta dengan mufakat berdasarkan alur dan kepatutan.

5. Meletakkan sesuatu pada tempatnya dan menempuh jalan tengah.

6. Menyesuaikan diri dengan kenyataan.

7. Segala sesuatunya berguna menurut tempat, waktu, dan keadaan (dalam Soekanto, 1983: 72-73).

Tradisi uang jemputan merupakan kategori adat yang teradat.

Sebagaimana Sjarifoedin (2011: 477), tradisi perkawinan bajapuik di Pariaman, termasuk ke dalam kategori adat nan teradat karena hanya berlaku di Pariaman, sedangkan di daerah lain tidak mengenal tradisi bajapuik.

2.3.4.(b). Perempuan dalam adat perkawinan Pariaman.

Dalam adat Minang, etika yang harus dimiliki seorang perempuan selain patuh dan hormat kepada kedua orang tua, salah satunya adalah mendengarkan nasehat dan perintah mamak/pamannya. Meskipun mamaknya itu, seorang laki-laki yang lebih muda dibandingkan dengan umurnya, tetapi kalau mereka sudah akhil baligh, patutlah dipandang sebagai mamak juga (Dirajo, 2003: 164).

Demikianlah adat Minang menempatkan peranan seorang mamak yang harus dipatuhi oleh perempuan Minang.

Di Kota Pariaman, istilah “gadih gadang indak balaki” membuat seorang mamak orang Pariaman, sangat peduli untuk menyelesaikan masalah tersebut. Begitu pedulinya para mamak di Pariaman terhadap isu gadih gadang indak balaki ini, maka sesuai teori ekonomi demand curve, menaik se-iring meningkatnya tingkat permintaan hingga pada suatu saat terjadi penurunan tingkat suplai laki-laki yang mapan. Akibatnya merusak titik ekuilibrium dan memunculkan kolusi (dalam artian persaingan yang positif), artinya pihak keluarga anak gadis, siap memberikan kompensasi berapapun nilainya, asalkan anak gadisnya menikah dan mendapatkan suami. Dari kondisi tersebut muncul istilah uang hilang yang dalam prakteknya sama-sama dijalankan dengan uang jemputan. Uang jemputan akan dikembalikan

yang diberikan oleh keluarga pihak pengantin wanita. Terkadang pemberian itu melebih nilai yang diterima oleh pihak marapulai (pengantin pria) sebelumnya, karena pemberian tersebut menyangkut gengsi keluarga marapulai itu sendiri (sumber: http://sosbud.kompasiana.com).

Pendapat senada disampaikan Sjarifoedin (2011: 471) bahwa gadis gadang indak balaki (gadis dewasa, namun belum menikah) di Pariaman, merupakan aib bagi keluarga. Kondisi ini membuat pihak keluarga perempuan yang terdiri dari ibu-bapak, mamak/paman dan ninik mamak dari pihak ibu, berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan suami bagi anak kemenakannya, bahkan bersedia untuk membayar kepada pihak calon mempelai laki-laki. Terkadang jumlah uang jemputan yang diminta, tidak masuk akal sehingga membebani pihak perempuan.

2.3.4.(c). Tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman.

Tradisi uang jemputan merupakan syarat terjadinya perkawinan yang berlaku bagi masyarakat di daerah Pariaman.

Tradisi uang jemputan adalah memberikan sejumlah uang atau barang berharga lainnya oleh pihak perempuan, kepada pihak laki-laki sebagai syarat terjadinya perkawinan. Jumlah uang jemputan ditetapkan dengan kesepakatan bersama, antara keluarga laki-laki dan keluarga perempuan.

Jika keluarga laki-laki setuju, peminangan bisa diterima. Jika tidak, berarti batal. Semakin tinggi kedudukan sosial laki-laki, semakin tinggi pula uang jemputannya. Uang jemputan diserahkan ketika acara manjapuik marapulai yaitu tradisi menjemput pengantin pria, sebelum melangsungkan akad nikah di rumah perempuan. Uang jemputan ini akan dikembalikan lagi oleh pihak laki-laki dalam bentuk perhiasan atau benda-benda berharga lainnya disebut panibo, yang diberikan saat manjalang mintuo yaitu pada saat perempuan berkunjung pertama kalinya ke rumah mertua (dalam Navis, 1984: 201;

Maihasni,et. al., 2010: 173-174; Yaswirman, 2011: 135; Sjarifoedin, 2011: 478; Naim, 2013: 329).

Proses pelaksanaan tradisi uang jemputan seperti dikutip dalam Jurnal Depdikbud, Dirjen Kebudayaan, Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional

Padang (2000: 29-59), berjudul “Pola Hubungan Kekerabatan Masyarakat Pariaman dalam Upacara Perkawinan”, adalah sebagai berikut :

Bila ada orang Pariaman yang anak gadisnya telah siap menikah, maka orang tuanya akan mulai mencari jodoh untuk anak mereka. Saat mereka menemukan laki-laki yang dirasakan cocok, maka keluarga perempuan akan mengunjungi keluarga laki-laki tersebut, dinamakan marantak tanggo (menginjak tangga), acara ini sebagai tahap awal bagi seorang wanita mengenal calon suaminya, melalui pihak keluarganya. Bila dirasakan cocok, maka keluarga kedua belah pihak akan berunding dan melaksanakan acara mamendekkan hetongan, yaitu keluarga perempuan akan batandang (berkunjung) kembali, ke rumah calon mempelai laki-laki (marapulai), untuk melakukan musyawarah.

Sebelum mamendekkan hetongan, orang tua anak daro (calon pengantin perempuan) akan menyampaikan maksud mereka, kepada mamak tungganai (paman anak daro dari pihak ibu yang paling tua). Biasanya mamak akan bertanya pada calon anak daro, apakah benar-benar siap akan menikah, karena biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuik (uang jemputan), akan dipersiapkan oleh keluarga perempuan. Bila keluarganya termasuk sederhana, maka keluarga akan mempertimbangkan menjual harato pusako (harta pusaka), untuk membiayai pernikahan. Kemudian dalam acara mamendekkan hetongan, kedua belah pihak akan membicarakan tentang besarnya uang japuik dan berbagai persyaratan lainnya.

Sementara itu, Fiony Sukmasari menyebutkan syarat-syarat perkawinan dalam adat Minangkabau sebagai berikut:

1. Kedua calon mempelai harus beragama Islam.

2. Kedua calon mempelai tidak sedarah atau tidak berasal dari nagari atau luhak yang sama, kecuali pesukuan itu berasal dari nagari atau luhak yang lain.

3. Kedua calon mempelai dapat saling menghormati dan menghargai orang tua dan keluarga kedua belah pihak.

4. Calon suami (marapulai) sudah mempunyai sumber penghasilan (dalam Amir, 2006: 12-13).

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 57-62)