• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informan Tambahan 3

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 137-143)

BAB IV. TEMUAN PENELITIAN

4.3. Informan Tambahan

4.3.3. Informan Tambahan 3

1. Nama : Chalida Fachruddin

2. Usia : 74 Tahun

3. Jenis Kelamin : Perempuan

4. Suku Pasangan : Minang bukan Pariaman 5. Pendidikan : S3

6. Pekerjaan : Pensiunan Guru Besar Antropologi FISIP USU 7. Alamat : Jalan Setia Budi Nomor 74/D Kelurahan Tanjung

Rejo Medan.

Chalida adalah seorang Antropolog yang juga merupakan tokoh perempuan Minang Pariaman yang aktif dalam hubungan kemasyarakatan suku Minang, hal tersebut membuat beliau dipercaya sebagai Ketua Dewan Pakar pada Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Provinsi Sumatera Utara. Chalida adalah pensiunan guru besar jurusan Antropologi FISIP USU. Setelah pensiun, Beliau kini menetap di Jakarta. Proses wawancara dengan beliau dilakukan secara

wawancara melalui paket kiriman kilat dengan tujuan Jakarta, di mana beliau berdomisili saat ini. Selanjutnya peneliti memperoleh hasilnya melalui e-mail pada tanggal 16 Juli 2015. Peneliti juga melakukan komunikasi melalui handphone kepada beliau, untuk mempertanyakan jawaban-jawaban beliau yang perlu penjelasan lebih dalam.

Chalida adalah seorang perempuan Minang Pariaman yang lahir di perantauan, tepatnya di Kota Pematang Siantar. Beliau mengemukakan bahwa pelaksanaan perkawinan adat Pariaman tidak menyimpang dari agama Islam, karena unsur agama masih menjadi prioritas dalam memilih calon menantu.

Beliau juga menceritakan pengetahuan yang bersumber dari ibunya mengenai prosesi yang dilaksanakan dalam tradisi uang jemputan:

“Menurut ibu saya ketika penjemputan, pihak anak daro membawa benda berharga yang sudah disepakati waktu acara peminangan dari pihak perempuan. Biasanya uang emas yaitu ringgit ameh dan benda-benda berharga lainnya. Benda-benda-benda berharga tersebut diberikan kepada pihak marapulai yang merupakan pelambang bahwa marapulai sebagai anak laki-laki seorang ibu atau keluarga di rumah tersebut tidak diambil begitu saja. Benda-benda tersebut sebagai tanda masih ada ikatan antara anak laki-laki yang sudah menjadi urang sumando dan menetap di lingkungan kerabat isteri. Fungsi lain dari benda-benda tersebut sebagai pernyataan bahwa marapulai adalah keturunan orang terhormat. Adat inilah yang disebut ”bajapuik” dan marapulai adalah “orang jemputan”. Benda-benda berharga tersebut akan kembali kepada anak daro melebihi harga atau jumlahnya, minimal ditambah pakaian sapatagak (pakaian sepasang yang lengkap) yang disebut “panibo”. Panibo diberikan kepada anak daro ketika datang bersama marapulai saat manjalang mintuo atau mengunjungi mertua pertama kali”.

Chalida memahami bahwa tradisi uang jemputan ini dilakukan berbalasan, di mana uang jemputan yang diberikan oleh pihak keluarga perempuan, akan dibalas atau dikembalikan oleh pihak keluarga laki-laki pada saat manjalang mintuo. Pemberian ini diberikan kepada anak daro (pengantin

perempuan), berupa benda-benda berharga atau pakaian yang disebut panibo.

Beliau menambahkan tradisi uang jemputan sebagai syarat terjadinya perkawinan adalah merupakan perwujudan rasa saling menghargai kedua belah pihak keluarga pengantin untuk menunjukkan rasa kasih sayang kepada anak-anak yang dinikahkan, sebagaimana kutipan wawancara beliau yang dituliskan sebagai berikut:

“Bagi masyarakat Pariaman akan merasa tidak beradat kalau tidak melaksanakan tradisi uang jemputan, tetapi sebaiknya perkawinan sesama orang Pariaman saja. Kalau tidak dilaksanakan, orang Pariaman kehilangan tradisinya. Tradisi uang jemputan amat baik diberlakukan, apabila memang seperti yang seharusnya, kedua belah pihak yaitu pihak perempuan memberikan uang atau barang, sebaliknya pihak laki-laki membalasnya lagi yang disebut “panibo”, yaitu pemberian pihak keluarga laki-laki kepada menantu perempuannya, jadi dalam hal ini tidak ada unsur jual beli seperti yang dipersepsikan selama ini, tetapi saling menghargai antar dua keluarga yang masing-masing menyayangi anak”.

Chalida menyebutkan bahwa pelaksanaan tradisi uang jemputan sudah kehilangan makna yang sebenarnya. Fungsi adat jemputan sudah berubah menjadi fungsi ekonomi yang mengutamakan uang semata, sehingga menyebabkan terjadinya ketidaksepakatan mengenai penentuan jumlah uang jemputan karena ketidakmampuan ekonomi pihak keluarga perempuan. Beliau melanjutkan tentang pemahamannya mengenai peranan pihak perempuan dalam hal pelamaran:

“Sejak acara peminangan sampai acara perkawinan atas prakarsa pihak perempuan. Pengantin laki-laki atau marapulai adalah tamu terhormat kerabat pengantin perempuan atau anak daro yang kelak statusnya sebagai urang sumando atau pihak yang datang karena dijemput atau dijapuik secara adat. Peritiwa ini dirangkum oleh pepatah...sigai mancari anau....anau tatap sigai baranjak. Datang dek bajapuik....pai jo baanta. Ayam putiah tabang siang...basuluah matohari. Bagalanggang mato rang banyak....tangga mencari enau.

Enau tetap tangga bapindah (datang karena dijemput...pergi dengan diantar. Bagai ayam putih terbang siang...bersuluh matahari, disaksikan mata orang banyak).

Chalida menyebutkan pula bahwa tradisi yang hanya dimiliki oleh masyarakat Pariaman ini, perlu dilestarikan dengan cara mendokumentasikannya sebagai suatu kearifan lokal, agar generasi muda Minang dapat memahami makna yang sebenarnya dalam tradisi tersebut, sebagaimana kutipan hasil wawancara beliau yang dituliskan sebagai berikut:

“Pewarisan nilai-nilai budaya dari generasi terdahulu hanya melalui lisan saja. Nilai-nilai budaya tidak didokumentasikan, sehingga adat istiadat sangat mudah berubah menjadi adat yang diadatkan. karena manusia memang senantiasa berubah. Fenomena ini buat orang Minang bukan hal yang aneh, karena ada pepatah adat bahwa “sakali aia gadang, sakali tapian barubah” (sekali air besar, sekali tepiannya berubah). Seharusnya nilai-nilai budaya didokumentasikan dengan baik, apalagi adat di Minangkabau dikawal oleh adanya Kerapatan Adat. Tentunya nilai budaya dalam adat bajapuik yang merupakan kearifan lokal dapat menjadi pegangan dalam kehidupan masyarakat Pariaman. Perubahan pasti terjadi pada penerapan, namun nilai positif sebagaimana makna semula tetap utuh”.

Menurut beliau telah terjadi pergeseran nilai dalam tradisi uang jemputan pada saat ini, di mana pergeseran nilai tersebut menimbulkan stereotip terhadap masyarakat Minang Pariaman:

“Pergeseran nilai sudah pasti terjadi, seperti adanya istilah “uang”

muncul dan menjadi baku. Fungsi adat beralih menjadi fungsi ekonomi. Perjodohan menjadi ajang jual beli, ada tawar menawar.

Fenomena ini pula yang menjadi “cap” untuk orang Pariaman bahwa laki-laki dibeli atau perempuan membeli laki-laki untuk menikah”.

Perubahan sikap juga terjadi pada Chalida dalam mempersepsikan tradisi uang jemputan. Awalnya stereotip yang ada pada masyarakat Pariaman yang beliau gambarkan melalui kata “cap” atau istilah negatif yang melekat pada tradisi uang jemputan, mempengaruhi sikap beliau dalam mempersepsikan tradisi

“Sebagai perempuan Minang yang lahir dan besar diperantauan, oleh

“cap“ tersebut ketika masih remaja, saya merasa disudutkan karena ada pula persepsi bahwa perempuan Pariaman pemegang kendali dalam rumah tangga. Saya bertanya kepada Ibu saya, beliau menjelaskan “adat bajapuik” yang dikenal dalam perkawinan masyarakat Pariaman bukan “uang japuik” atau uang jemputan”.

Persepsi saya menjadi positif karena saya sebagai seorang Antropolog, dapat memahami dari sejarahnya dan melihat ada fungsi lain dari tradisi uang jemputan yang dapat dilestarikan”. Saya tidak setuju uang jemputan dengan fungsi ekonomi, tetapi saya mendukung tradisi japuik sebagai proses saling menghargai antar besan dan tidak terlepas dari sistem matrilineal ciri khas orang Minang”.

Dari pernyataan di atas, dapat dilihat perubahan sikap Chalida dalam mempersepsikan tradisi uang jemputan. Sebagai seorang Antropolog, perubahan sikap beliau terjadi saat beliau mempelajari tradisi tersebut dari sejarahnya. Beliau memiliki pengalaman mengenai pelaksanaan tradisi uang jemputan dari para kerabat yang menikah dan melaksanakan tradisi tersebut. Beliau juga mengemukakan sikapnya dalam memilih jodoh:

“Dalam keluarga saya ada beberapa yang melaksanakan tradisi uang jemputan, tetapi tujuannya murni untuk masa depan, kehidupan rumah tangga yang dijodohkan aman damai saja. Pengalaman saya sebagai kakak yang mempunyai beberapa adik perempuan, tradisi uang jemputan bisa digunakan tetapi bukan jual beli. Uang memang untuk masa depan mereka yang dijodohkan dan syarat mencari jodoh yang diajarkan agama. Saya menikah dengan orang dari Bonjol (Pasaman), tidak dijodohkan, karena itu merupakan pilihan saya sendiri. Pada awalnya orang tua tidak setuju karena bukan orang Pariaman, namun akhirnya disetujui juga dengan standar pilihan jodoh menurut Islam”.

Dari pernyataan di atas, Chalida menjelaskan bahwa orang tuanya lebih menginginkan beliau menikah dengan sesama orang Minang Pariaman, namun pada kenyataanya beliau memilih menikah dengan orang Minang yang bukan berasal dari Pariaman. Ketika peneliti menanyakan mengenai bagaimana penggunaan bahasa daerah di dalam keluarga, beliau menjelaskan bahwa

penggunaan bahasa daerah diperlukan untuk memudahkan generasi muda Minang dalam memahami nilai-nilai budaya, sebagaimana kutipan wawancara berikut:

“Pada umumnya di daerah perantauan, orang Minang yang tidak dominan budayanya, bahasa sehari-harinya adalah bahasa Indonesia.

Keluarga Minang di dalam dan di luar rumah, berbahasa Indonesia saja...sehingga pemahaman nilai-nilai budaya Minang menjadi kurang bahkan tidak ada, apalagi tradisi uang jemputan yang bertolak belakang dengan tradisi sekitarnya. Akhirnya pemahaman generasi muda di rantau menjadi kabur. Tidak adanya pemahaman nilai budaya Minang yang lebih mudah transmisinya, selain melalui bahasa daerah, sehingga generasi muda memahami tradisi uang jemputan itu”.

Chalida juga menambahkan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam keluarga, berpengaruh pada kecintaan generasi muda Minang untuk mempelajari adat istiadat Minang, seperti penuturan beliau yang dituliskan sebagai berikut:

“Sangat perlu saya rasa bahasa Minang diajarkan dalam keluarga, tapi bahasa yang baik-baik ya, karena anak-anak akan lebih mencintai suku asalnya ketika dia bisa berbahasa daerah. Karena ada dalam beberapa tradisi yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa Indonesia, misalnya petatah petitih...harus paham kita bahasa daerah kita itu.

Sayangnya orang tua saya dahulu...kalau marah-marah saja baru berbahasa Minang. Saya paham bahasa daerah karena saya kuliah jurusan Antropologi, jadi saya juga mempelajari bahasa daerah saya”

Selanjutnya Chalida menuturkan bahwa pengetahuan adat hanya milik orang tua semata. Kedua orang tua beliau akhirnya memiliki peranan dalam transmisi nilai-nilai budaya dalam tradisi uang jemputan, ketika beliau mempertanyakan tentang makna sebenarnya dari pelaksanaan tradisi tersebut, sebagaimana penuturan beliau yang dituliskan berikut ini:

“Pengalaman saya sebagai orang rantau, pengetahuan adat hanya milik orang tua semata. Orang tua saya tidak pernah membicarakan mengenai adat termasuk tradisi yang kita bincangkan ini. Saya mengetahui tradisi uang jemputan secara tidak sengaja karena ada sepupu saya, orang tuanya mengalami masalah dan membicarakannya dengan ayah saya. Saya dibesarkan di lingkungan rantau dan berbaur dengan etnis lain. Selain itu seperti yang saya katakan, ketika saya

disudutkan sebagai orang Pariaman, akhirnya saya bertanya tentang makna tradisi tersebut kepada ibu saya”.

Beliau juga menuturkan mengenai peranan mamak atau paman dalam hal perjodohan di perantauan:

“Di perantauan, orang Minang tentu termasuk orang Pariaman tidak lagi berada dalam lingkungan keluarga luas. Tanggung jawab terhadap anak berada sepenuhnya di tangan orang tua, juga mengenai perjodohan sampai ke pesta perkawinan, orang tua yang memutuskan.

Kalau ada mamakpun hanya sebagai panitia saja, mengenai perjodohan biasanya anak sudah ada pilihan. Andai kata bertemu jodoh sesama orang Pariaman, tergantung kedua orang tua untuk melaksanakan tradisi uang jemputan atau tidak”.

4.3.4. Informan Tambahan 4

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 137-143)