BAB IV. TEMUAN PENELITIAN
4.4. Verifikasi Temuan Penelitian
4.4.1. Perempuan Minang Pariaman yang menjalani Tradisi Uang
Terdapat 5 (lima) orang informan atau perempuan Minang Pariaman yang menjalani tradisi uang jemputan, yaitu Dian, Leni, Netty, Ita dan Nur.
Verifikasi akan dilakukan terhadap hasil temuan data masing-masing informan, sesuai dengan tujuan penelitian yang akan dibahas satu per satu, sebagai berikut:
4.4.1.1. Informan Dian
4.4.1.1.(a). Cara pandang tentang tradisi uang jemputan.
Proses enkulturasi pada upaya mentransmisikan nilai-nilai dalam tradisi uang jemputan, tidak terjadi dalam keluarga Dian. Orang tuanya tidak secara khusus mengkomunikasikan tradisi tersebut kepada Dian, sehingga ia tidak memahami makna sebenarnya dari tradisi uang jemputan. Dian sering diajak pulang ke kampung dan berinteraksi dengan keluarga besarnya, khususnya pada
saat pesta pernikahan kerabat yang melaksanakan tradisi uang jemputan.
Cara pandang Dian dibentuk berdasarkan pengalamannya tersebut.
Dian menafsirkan bahwa tradisi uang jemputan memberatkan pihak keluarga perempuan secara ekonomi. Persepsi tersebut juga dipengaruhi oleh adanya stereotip negatif dari teman-teman di lingkungan pendidikannya yang menyebutkan bahwa perempuan Minang Pariaman “membeli” laki-laki untuk menikah. Dian merasa malu dan tidak suka dengan stereotip negatif tersebut, hingga akhirnya ia berkeinginan untuk tidak menikah dengan laki-laki Pariaman.
4.4.1.1.(b). Perubahan Sikap setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan.
Cara pandang Dian yang menilai tradisi uang jemputan sebagai tradisi yang memberatkan pihak keluarga perempuan, serta keinginannya untuk tidak menikah dengan laki-laki Pariaman, terwujud dalam sikapnya yang memilih berhubungan (berpacaran) dengan laki-laki dari suku yang berbeda. Meskipun demikian, ia selalu gagal berkomitmen dengan sang pacar untuk menuju jenjang pernikahan. Pada usia 28 tahun, orang tua Dian berperan dalam menjodohkannya dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Dian akhirnya menerima perjodohan tersebut dengan alasan telah mengenal kepribadian calon suaminya dengan baik, serta telah memiliki pekerjaan yang mapan.
Dian dan sang calon suami membuat kesepakatan bahwa pemberian uang jemputan, digantikan oleh calon suaminya sebagai upaya mengisi adat.
Kesepakatan tersebut juga disetujui oleh kedua belah pihak keluarga yang masih memiliki hubungan kekerabatan. Dian juga menerima panibo dari keluarga suaminya. Pemberian uang jemputan dan panibo tersebut, akhirnya juga untuk kedua pasangan yang dinikahkan, yaitu Dian dan suaminya. Sebagaimana ungkapan Dian “dari pada membesarkan kabau (kerbau) orang, lebih baik membesarkan kabau sendiri”, pemberian tersebut untuk anak kemenakan mereka juga. Keluarga calon suaminya tidak merasa berkeberatan dan tidak memicu terjadinya konflik, karena adat tidak dijalankan sebagaimana mestinya.
Perubahan sikap Dian terjadi setelah menerima perjodohan dan menjalani tradisi uang jemputan. Dian memiliki cara pandang bahwa tradisi uang jemputan adalah bentuk saling menghargai, saling mendukung dan saling menutupi
kekurangan antarkeluarga yang menikahkan anak-anaknya, seperti ungkapannnya
“indak cukuik di ateh, cukuik di bawah” (tidak cukup di atas, dukup di bawah).
Pengetahun Dian juga bertambah, dengan adanya pelaksanaan tradisi baetong di akhir malam pernikahannya. Tradisi baetong adalah bentuk penggalangan dana dari pihak keluarga, untuk membantu biaya pesta yang dikeluarkan tuan rumah.
Pemahaman Dian tentang pepatah Minang di atas, juga dipengaruhi oleh kemampuan dan pemahamannya dalam berbahasa Minang yang diajarkan oleh orang tuanya. Dian berpendapat bahwa dengan mengajarkan bahasa daerah, orang tua akan menanamkan identitas kesukuan kepada anak-anaknya. Ia juga berpandangan bahwa tradisi uang jemputan tidak bertentangan dengan aturan pernikahan dalam agama Islam.
Perubahan cara pandang Dian, juga terjadi pada persepsinya mengenai transmisi nilai-nilai budaya dalam tradisi uang jemputan yang perlu dilakukan kepada generasi muda Minang. Ia berpendapat bahwa orang tua, tidak seharusnya memaksakan perjodohan kepada anaknya kelak, namun apabila anaknya menemukan jodoh sesama suku Minang Pariaman, maka perlu dilaksanakan tradisi uang jemputan dalam upaya melestarikan adat Pariaman tersebut.
4.4.1.2. Informan Leni
4.4.1.2.(a). Cara pandang tentang tradisi uang jemputan.
Tidak adanya peranan keluarga dalam mengkomunikasikan nilai-nilai pada tradisi uang jemputan kepada Leni. Pengetahuannya bersumber dari pengalaman paman dan adiknya yang berpacaran, hingga akhirnya menikah dengan sesama suku Minang Pariaman dan menjalani tradisi uang jemputan.
Pelaksanaan tradisi uang jemputan oleh paman dan adiknya tersebut telah
mengalami perubahan, di mana laki-laki (calon suami) menggantikan posisi pihak perempuan dalam memberikan uang jemputan. Dari pengalaman tersebut, Leni menilai bahwa dengan adanya komunikasi yang dilakukan oleh pasangan yang dinikahkan dengan keluarga, tentang kesepakatan tersebut tidak akan menyebabkan terjadinya konflik.
Persepsi Leni juga dipengaruhi oleh adanya stereotip negatif dari teman-teman, di lingkungan pendidikannya yang menyebutkan bahwa perempuan Minang Pariaman “membeli” laki-laki untuk menikah. Ia mengaku tidak suka dan malu dengan adanya stereotip negatif tersebut, hingga akhirnya ia berkeinginan untuk tidak menikah dengan laki-laki Pariaman. Leni berpandangan bahwa tradisi uang jemputan memberatkan bagi pihak keluarga perempuan dan menyalahi aturan agama Islam, karena menurutnya perempuanlah yang harus dimuliakan dengan dipinang dan diberi mahar oleh pihak laki-laki.
4.4.1.2.(b). Perubahan sikap setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan.
Pada tahun 2011 di saat Leni berusia 26 tahun, orang tuanya mulai berperan dalam pencarian jodoh. Leni adalah gadis pemalu yang tidak percaya diri untuk membina hubungan dengan seorang laki-laki, sehingga ia tidak punya calon suami atas pilihannya sendiri, untuk diperkenalkan kepada sang ibu. Ibunya yang telah menjadi orang tua tunggal, di bantu oleh mamak (paman) Leni, akhirnya menjodohkannya dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan mereka. Leni menerima perjodohan tersebut, karena tidak memiliki pilihan jodoh atas keinginan sendiri (tidak pernah berpacaran). Alasan lain Leni menerima perjodohan tersebut, karena melihat
karakter calon suaminya sebagai orang yang baik dan mapan. Akhirnya ia menikah dengan menjalankan tradisi uang jemputan pada pesta pernikahannya.
Meskipun menjalani tradisi uang jemputan, Leni tidak mengalami perubahan sikap. Ia tetap pada persepsi yang negatif tentang tradisi uang jemputan. Sikapnya menerima pelaksanaan tradisi tersebut, hanya merupakan sikap patuhnya pada keluarga yang ingin melaksanakan adat istiadat. Leni sebenarnya tidak menginginkan adanya pelaksanaan tradisi uang jemputan pada pernikahannya. Ia berharap dapat membuat kesepakatan dengan sang calon suami untuk tidak adanya pemberian uang jemputan, karena ketidakmampuan keluarga mereka. Ternyata pihak keluarga calon suaminya, tetap menginginkan anak laki-laki mereka dijemput dengan sejumlah uang, walaupun dalam jumlah yang kecil.
Leni juga tidak memahami adanya panibo dan tidak menerimanya dari pihak keluarga suaminya. Leni juga berpandangan bahwa transmisi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan, tidak perlu dilakukan kepada generasi muda Minang.
Menurutnya tradisi ini tidak lagi sesuai diterapkan pada perjodohan generasi muda Minang.
4.4.1.3. Informan Netty
4.4.1.3.(a). Cara pandang tentang tradisi uang jemputan.
Proses transmisi nilai-nilai pada tradisi uang jemputan, tidak dikomunikasikan oleh orang tua Netty. Referensinya tentang tradisi tersebut diperoleh melalui pengalaman dalam menyaksikan pesta pernikahan kerabat di kampung halaman orang tuanya maupun di Kota Medan. Di dalam keluarga, ke dua orang tua Netty juga memakai bahasa Minang untuk berkomunikasi sehari-hari, sehingga beliau memahami dan mahir berbahasa daerahnya tersebut.
Persepsi Netty juga dipengaruhi oleh adanya stereotip negatif dari teman-teman di lingkungan pergaulannya (lingkungan pendidikan dan pekerjaan), yang menyebutkan bahwa perempuan Minang “membeli” laki-laki untuk menikah, sehingga ia merasa kontra dengan tradisi yang menjadi syarat perkawinan dalam sukunya sendiri (intra culture). Netty juga memandang tradisi uang jemputan sebagai tradisi yang memberatkan bagi pihak keluarga perempuan.
4.4.1.3.(b). Perubahan sikap setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan.
Pada tahun 1986, Netty menikah atas perjodohan yang diprakarsai oleh ke dua orang tuanya, dengan seorang laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman. Beliau dijodohkan pada saat berusia 27 tahun, dengan memberikan sejumlah uang jemputan untuk menghargai status sosial sang calon suami.
Perubahan sikap terjadi pada Netty, setelah menikah dan menjalani tradisi uang jemputan pada pesta pernikahannya. Netty menerima adanya panibo dari keluarga suaminya dan menjalankan tradisi baetong pada saat pesta pernikahannya dahulu.
Hal tersebut ikut membentuk perubahan sikapnya dalam mempersepsikan tradisi uang jemputan. Setelah menjalani tradisi tersebut, beliaupun memiliki persepsi yang positif bahwa sebenarnya tradisi uang jemputan, tidak memberatkan dan uang jemputan kembali kepada pasangan yang dinikahkan.
Beliau juga berpandangan bahwa tradisi uang jemputan tidak bertentangan dengan agama, karena uang jemputan bukanlah mahar. Tradisi tersebut memiliki nilai-nilai penghargaan terhadap status sosial laki-laki dan
sebagai bentuk selektifitas keluarga dalam pencarian jodoh untuk anaknya.
Perubahan sikap juga terjadi pada cara pandang Netty tentang transmisi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan, yang perlu dilakukan pada anak-anaknya.
Meskipun ia berpandangan tidak akan memaksakan perjodohan kepada anak-anaknya kelak, namun ia mengakui memiliki keinginan punya menantu sesama suku Minang Pariaman. Sikapnya tersebut terlihat pada keinginan dan usahanya dalam mencarikan jodoh dari sesama suku, untuk anak gadisnya yang telah berusia 27 tahun, namun belum juga menikah.
4.4.1.4. Informan Ita.
4.4.1.4.(a). Cara pandang tentang tradisi uang jemputan.
Keluarga Ita tidak berperan dalam proses transmisi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan, sehingga referensi Ita hanya bersumber dari pengalamannya menyaksikan pelaksanaan tradisi tersebut pada pesta pernikahan kerabatnya. Ke dua orang tua Ita membiasakan berbahasa Minang di dalam keluarga, sehingga ia dapat memahami arti bahasa daerahnya tersebut, meskipun tidak terlalu mahir mengkomunikasikannya. Ita dan keluarga tinggal di lingkungan yang dominan dihuni sesama etnis Minang Pariaman. Ia pernah berpacaran dengan seorang laki-laki Pariaman, karena sang ibu mengharuskan anak-anaknya menikah dengan sesama suku.
Meskipun hidup di antara lingkungan tetangga yang dominan memiliki suku Minang Pariaman dan juga memiliki kekasih sesama suku Pariaman, Ita tidak terlalu peduli tentang makna tradisi uang jemputan. Pengalaman kerabatnya tentang tradisi uang jemputan, membentuk persepsi Ita bahwa permintaan sejumlah uang tersebut, memberatkan bagi keluarga pihak keluarga perempuan.
Menurutnya, tradisi uang jemputan menyalahi aturan perkawinan dalam agama Islam, karena seharusnya pihak keluarga laki-lakilah yang melakukan pelamaran.
Persepsi Ita tentang tradisi uang jemputan, hanya sebatas pada pengkekalan adat yang sudah menjadi kebiasaan dalam adat perkawinan sukunya.
4.4.1.4.(b). Perubahan sikap setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan.
Meskipun telah memiliki calon pendamping hidup, yaitu seorang laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman, hubungan Ita dengan sang pacar tidak sampai ke pelaminan. Ibunya lebih memilih, menjodohkan Ita dengan laki-laki Pariaman yang menurutnya lebih baik dari pada pacar sang anak. Walaupun merasa sedikit terpaksa dinikahkan dengan calon pilihan sang ibu yang telah berstatus duda, namun ia melihat ada kebaikan perilaku dari sang calon suami, sehingga ia mau menerima dan pasrah menjalankan perjodohan dengan melaksanakan tradisi uang jemputan.
Dari perjodohan yang diprakarsai oleh orang tuanya tersebut, Ita berpandangan bahwa nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi uang jemputan adalah sebagai bentuk selektifitas keluarga dalam mencarikan jodoh untuk anaknya. Namun persepsi Ita tentang transmisi nilai-nilai pada tradisi uang jemputan, tidak perlu dilakukan kepada generasi muda Minang mendatang, karena terkadang tradisi yang dilaksanakan karena perjodohan tersebut, menurutnya terkesan memaksakan kehendak orang tua kepada sang anak.
Tidak terjadi perubahan cara pandang Ita, setelah menjalani tradisi uang jemputan. Persepsinya tetap pada persepsi yang negatif tentang pelaksanaan tradisi uang jemputan tersebut. Ita juga tidak memahami adanya panibo sebagai bentuk balasan atas pemberian uang jemputan tersebut, karena ia tidak menerima panibo tersebut dari keluarga suaminya saat menikah dulu.
4.4.1.5 Informan Nur
4.4.1.5.(a). Cara pandang tentang tradisi uang jemputan.
Referensi Nur tentang tradisi uang jemputan, bersumber dari pengalaman kerabatnya yang melaksanakan tradisi tersebut pada pesta pernikahan.
Pengalaman tersebut sering ia saksikan di kampung halaman orang tuanya maupun di Kota Medan. Makna tradisi uang jemputan, tidak secara khusus dikomunikasikan oleh keluarga Nur, namun ia memiliki persepsi positif tentang tradisi uang jemputan. Pengetahuannya tentang nilai-nilai yang ada dalam tradisi tersebut adalah sebagai bentuk penghargaan terhadap status sosial laki-laki dan sebagai modal usaha. Nur beranggapan bahwa tradisi uang jemputan, tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam, karena hanya merupakan suatu kebiasaan masyarakat Pariaman dalam adat perkawinan.
4.4.1.5.(b). Perubahan sikap setelah mempersepsikan tradisi uang jemputan.
Nur menikah dengan laki-laki Pariaman, karena perjodohan orang tuanya dan dibantu oleh paman (mamak)nya, di saat beliau berusia 18 tahun. Alasannya menerima perjodohan tersebut, dikarenakan keyakinannya bahwa orang tua akan memilihkan jodoh yang baik untuknya. Ia juga mengenal sang calon sebagai orang yang baik dan telah memiliki pekerjaan yang tetap.
Tidak terjadi perubahan sikap pada Nur, setelah menjalani tradisi uang jemputan. Persepsinya tetap positif tentang tradisi uang jemputan, bahkan pengetahuannya bertambah dengan adanya tradisi baetong di saat pesta pernikahannya dahulu. Beliau beranggapan bahwa tradisi baetong tersebut menunjukkan solidaritas keluarga dalam membantu tuan rumah untuk meringankan biaya pesta. Nur juga mengetahui adanya perubahan yang terjadi
dalam tradisi uang jemputan, di mana bila pasangan tersebut berpacaran, laki-laki menggantikan posisi pemberi uang jemputan sebagai upaya mengisi adat. Namun Nur beranggapan, orang tua tetap harus mempersiapkan uang jemputan tersebut saat menikahkan anaknya kelak.
Proses enkulturasi pada tradisi uang jemputan yang ia lakukan pada anak-anaknya, mencontoh seperti yang dilakukan oleh orang tuanya dahulu. Ketika menghadiri dan menyaksikan pesta pernikahan kerabatnya, Nur beranggapan anak-anaknya telah memahami tradisi tersebut, tanpa harus secara khusus mengkomunikasikan nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut kepada anak-anaknya. Dalam urusan perjodohan anak-anaknya, beliau juga berperan besar, dengan mengharuskan pilihan jodoh sang anak kepada sesama suku Minang Pariaman.
4.4.2. Perempuan Minang Pariaman yang tidak menjalani tradisi uang