BAB IV. TEMUAN PENELITIAN
4.2. Temuan Penelitian
4.2.8. Informan 8 (Shanti)
1. Nama : Shanti Nazir
2. Nama Panggilan : Shanti
3. Usia : 33 Tahun
4. Suku Pasangan : Mandailing 5. Pendidikan : S1
6. Pekerjaan : Karyawan Swasta
7. Alamat : Jalan Bromo Gang Panjang Nomor 2 Medan Denai.
Shanti menikah dengan seorang laki-laki yang berasal dari suku Mandailing yang berprofesi sebagai guru sekaligus sebagai seorang wirausaha.
Pada bulan Desember tahun 2012, ia menikah dengan suaminya di usia yang telah menginjak 30 tahun dan dikaruniai seorang putra berusia 2 (dua) tahun. Shanti sangat terbuka menjawab pertanyaan yang peneliti ajukan, saat ditemui di rumahnya dalam proses wawancara pada tanggal 14 September 2015. Bagi Shanti membicarakan tentang tradisi uang jemputan adalah mengingat kembali masa sulit dirinya dalam pencarian jodoh. Sebelum akhirnya menikah dengan laki-laki dari suku yang berbeda, Shanti pernah mengalami kegagalan perjodohan yang diatur oleh keluarganya dengan seorang laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman. Peneliti mencoba menggali lebih dalam tentang pengalaman menarik yang pernah dialami oleh Shanti mengenai kegagalan perjodohan tersebut.
Dua minggu setelah proses wisuda dan menyelesaikan perkuliahan pada awal Februari tahun 2005, Shanti langsung mendapat tawaran pekerjaan sebagai
karyawan di salah satu perusahaan swasta di Kota Medan. Kepribadian Shanti yang aktif dan pandai bergaul dengan siapa saja, membuat orang tuanya berharap Shanti segera menemukan jodoh. Namun Shanti adalah sosok pekerja keras yang memiliki prinsip tidak akan menikah, sebelum mampu membahagiakan kedua orang tua dan adik-adiknya. Shanti adalah anak ke 2 (dua) dari 5 (lima) bersaudara yang terlalu sibuk bekerja hingga menomorduakan urusan jodoh. Hal ini membuat kedua orang tuanya resah dan selalu berupaya mencarikan jodoh untuknya. Shanti memiliki satu kakak perempuan yang menikah dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman, sementara itu adik laki-lakinya juga telah dinikahkan dengan perempuan Minang Pariaman pula.
Pada awal tahun 2009 di saat Shanti memasuki usia 27 tahun, kedua orang tuanya sudah resah, dikarenakan Shanti belum juga menikah dan terlalu sibuk dengan pekerjaannya. Akhirnya kedua orang tuanya menjodohkan Shanti dengan seorang laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman yang berprofesi sebagai pengusaha optik di Palembang. Perjodohan tersebut diprakarsai orang tuanya dan dibantu oleh mamak (paman), adik laki-laki ibunya yang tinggal di Pariaman. Mamak tersebut berhubungan baik dengan orang tua dari laki-laki yang akan dijodohkan dengan Shanti, sehingga ia merasa cukup mengenal prilaku sang calon menantu dari orang tuanya yang juga tinggal di Pariaman. Shanti dan laki-laki tersebut hanya sekali bertemu dan berkomunikasi secara langsung, ketika laki-laki tersebut datang mengunjungi Shanti di Kota Medan. Pada awalnya Shanti menolak untuk dijodohkan, karena merasa masih belum mampu membahagiakan keluarganya dan dikarenakan ia tidak cukup mengenal kepribadian laki-laki tersebut.
Demi keinginan untuk berbakti kepada kedua orang tua yang sangat menginginkannya segera menikah, Shanti akhirnya menerima perjodohan tersebut. Saat proses pelamaran yang dilakukan oleh mamak (paman)nya di Pariaman, disepakatilah sejumlah uang jemputan yang sebenarnya tidak disetujui Shanti karena dirasakan memberatkan keluarganya, sebagaimana penuturannya berikut:
“Kasihan saya dengan orang tua, mereka sebenarnya tidak mampu secara ekonomi memenuhi uang jemputan yang diminta keluarga laki-laki itu...tapi mamak (paman) yang di kampung, mau membantu menambah uang jemputannya. Direncanakanlah pernikahan itu pada bulan Oktober 2009. Orang tua sebenarnya hanya ingin saya segera menikah. Saya sendiri masih mau berbakti sama mereka...membantu mereka menyekolahkan adik-adik. Saat itu sebenarnya, ada teman satu profesi dengan saya yang serius mau melamar, namun dia dari suku yang berbeda. Orang tua saya nggak setuju...mereka inginnya menantu dari sesama suku Minang juga, padahal laki-laki itu mau melamar saya dengan uang kasih sayang, berapapun yang saya minta...jadi orang tua saya, tidak perlu harus mengusahakan uang jemputan itu ”.
Akhirnya pada pertengahan bulan Mei tahun 2009, perjodohan tersebut dibatalkan. Hal itu disebabkan oleh laki-laki yang akan dijodohkan dengan Shanti, tidak memiliki keseriusan dalam rencana pernikahan, sebagaimana penjelasan Shanti seperti kutipan wawancara berikut:
“Sejak lamaran bulan Februari sampai Mei 2009 itu, laki-laki itu tidak ada komunikasi dengan saya, padahal rencana pernikahan makin dekat. Setiap saya telpon tidak pernah diangkat dan saya sms, tidak ada balasan. Selama 3 bulan....saya merasa nggak ada keseriusannya, padahal kami jarak jauh, saya di Medan...dia di Palembang. Hati kecil saya merasa, laki-laki itu nggak serius ingin menikah dengan saya.
Saya cuma ingin berusaha menciptakan komunikasi yang baik sama dia, sehingga terbiasa nanti kalau sudah berumah tangga. Seorang laki-laki seharusnya, berusaha lebih dekat dengan perempuan yang ia inginkan menjadi istrinya kan...ini malah nggak. Akhirnya suatu hari saya pinjam handphone kakak saya untuk menelponnya....ternyata dia angkat, susah payah saya memaksa dia untuk menjelaskan tentang alasan sikapnya selama ini kepada saya. Ternyata ia mengakui bahwa ia terpaksa menjalani perjodohan ini, karena permintaan orang tuanya
minta dia secara jantan dan bertanggungjawab datang ke paman saya untuk membatalkan rencana pernikahan itu, karena tidak ada gunanya bila tetap dilanjutkan dan sebelum akhirnya pernikahan tersebut menyakiti banyak pihak. Tadinya saya berfikir, dia masih menjadi seorang pengecut dan tidak berani mendatangi paman saya. Ternyata apa yang saya ucapkan padanya, mungkin mampu membuka fikirannya. Akhirnya ia dan keluarganya menemui paman saya di kampung sana. Bulan Mei 2009 itu...perjodohan itupun dibatalkan.
Saya amat bersyukur kepada Allah...perjodohan yang nggak saya inginkan itu akhirnya batal”.
Shanti mengakui tidak bersedih dengan peristiwa itu, karena ia belum memiliki perasaan apapun kepada laki-laki tersebut. Namun Shanti mengaku kecewa pada keluarganya yang terlalu memaksakan kehendak kepada dirinya:
“Saya nggak punya perasaan apapun sama laki-laki itu, sampai saat inipun saya tidak merasa pernah gagal menikah. Saya menjalaninya karena berniat ingin berbakti pada orang tua. Dulu....ayah dan ibu saya menikah tanpa saling mengenal lebih dahulu dan mereka bahagia sampai saat ini. Namun jaman sekarang tidak bisa disamakan dengan jaman orang tua kita dulu kan. Seperti makan buah simalakama saya menjalani perjodohan itu, bila diputuskan...takut keluarga saya kecewa. Kalau diteruskan saya merasa menjerumuskan diri sendiri dalam pernikahan dengan orang yang salah”.
Saat peneliti menanyakan alasan Shanti menerima perjodohan tersebut, ia menuturkan sebagaimana kutipan wawancara berikut:
“Saya berprinsip pacar itu adalah suami kita, indahnya pacaran setelah menikah....mungkin pilihan orang tua adalah yang terbaik dalam pikiran saya. Mungkin dengan cara seperti itu, Allah mempertemukan saya dengan jodoh...saya berusaha positif menjalani itu. Ternyata pengalaman itu hanya perjalanan saya untuk mendapatkan jodoh yang terbaik. Dan ternyata orang tua juga bisa salah, yang mereka fikir terbaik untuk anaknya...ternyata bukan yang terbaik di mata Allah”.
Shanti mengakui bahwa orang tuanya memiliki sikap fanatik terhadap adat istiadat, di mana dalam urusan perjodohan, orang tuanya menginginkan anak-anaknya menikah dengan sesama suku Minang Pariaman, seperti yang terjadi pada kakak perempuan dan adik laki-laki Shanti. Ia menuturkan pandangannya
mengenai unsur agama dan kepercayaan dalam tradisi uang jemputan, yang berbeda dengan suku lainnya:
“Kadang bisa menyalahi aturan agama juga menurut saya, dalam agama menikah itukan....jangan diberatkan dan harus saling cinta.
Uang jemputan itu terkadang ditetapkan, tidak memperhitungkan kesanggupan pihak perempuan saya lihat. Kalau suku lain...pihak laki-laki yang melamar dan memberi uang kasih sayang kepada calon istrinya. Jadi....wajar orang bilang, ih...orang Minang ini, laki-laki pula yang dibeli. Terus terang...saya malu mendengarkannya”.
Shanti juga mengemukakan pendapatnya mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi uang jemputan:
“Uang jemputan itu untuk menghargai status sosial laki-laki, karena dia dianggap udah mapan, punya usaha optik, jadi dianggap mampu menghidupi keluarga nantinya. Makanya uang jemputan itu diberikan sebagai tambahan modal usahanya. Tapi karena pengalaman saya yang lalu, jadinya saya menilai...kalau dapat laki-laki dari suku yang sama, uang jemputan itu memberatkan. Kayak ada trauma bagi saya, kalau menikah dengan sesama orang Pariaman. Setelah kejadian itu, saya memang berkeinginan menikah dengan laki-laki dari suku yang berbeda....ternyata Alhamdulillah, Allah mengabulkan. Akhirnya orang tua juga terbuka fikirannya, laki-laki yang baik itu tidak dinilai dari suku. Saya dan suami dekat dengan keluarga...sehingga walaupun orang tua menilai saya telat menikah, namun mereka melihat kalau saya bahagia sekarang. Saya yakin, sebenarnya setiap orang tua itu hanya menginginkan kebahagiaan anaknya, tapi karena sikap fanatik terhadap kesukuan tadi...jadinya bisa salah juga”.
Ia juga menuturkan persepsinya tentang peranan keluarga dalam proses transmisi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan kepada generasi muda Minang:
“Saya rasa nggak sesuai lagi tradisi uang jemputan itu dilaksanakan.
Harusnya orang tua jangan bersikap fanatik pada adat istiadat, apalagi menyangkut perjodohan...bisa jadi anak berjodoh dengan laki-laki yang berbeda suku. Orang tua hanya perlu menasehati anak, agar tidak salah memilih pasangan hidup. Jangan gara-gara memaksakan adat itu dijalankan, hubungan orang tua dan anak tidak baik. Saya juga akan bersikap seperti itu kepada anak-anak saya kelak”.
Peneliti menanyakan keseringan Shanti pulang kampung dan menyaksikan pelaksanaan tradisi uang jemputan di sana:
“Saya jarang ya pulang kampung....orang tua juga jarang pulang kampung, karena banyak kesibukan di sini kan. Paling-paling kalau ada pesta saudara, orang tua aja yang pergi. Jadi saya nggak banyak memahami tradisi itu kalau di kampung itu....bahkan waktu mamak (paman) saya mewakili orang tua saya untuk melamar laki-laki itu, saya dan orang tua tetap di Medan. Makanya saya nggak merasa pernah gagal menikah. Kalau saudara saya pesta...trus pakai uang jemputan, saya nggak terlalu memperhatikan juga. Pengalaman saya ya....saat gagal dijodohkan itu”.
Di dalam keluarga, bahasa Minang juga digunakan sebagai bahasa sehari-hari. Shanti mengakui tidak terlalu mahir berbahasa Minang, namun ia dapat memahami bila orang lain berkomunikasi menggunakan bahasa daerahnya tersebut. Ia juga menambahkan bahwa secara khusus tradisi ini tidak pernah dijelaskan makna yang sebenarnya oleh orang tuanya. Referensi Shanti tentang tradisi uang jemputan bersumber dari pengalamannya sendiri.
4.3. Informan Tambahan