• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informan 4 (Netty)

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 99-107)

BAB IV. TEMUAN PENELITIAN

4.2. Temuan Penelitian

4.2.4. Informan 4 (Netty)

1. Nama : Syarmawati

2. Nama Panggilan : Netty

3. Usia : 56 Tahun

4. Suku Pasangan : Minang Pariaman 5. Pendidikan : D3

6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

7. Alamat : Jalan Pintu Air IV Perumahan Politeknik

Netty adalah seorang ibu rumah tangga yang juga aktif dalam kegiatan sosial. Salah satu aktifitas sosialnya adalah menjabat sebagai Ketua POPTI (Persatuan Orang tua Penyandang Talasemia Indonesia) perwakilan Sumatera Utara. Beliau memiliki 4 (empat) orang anak yang terdiri dari 1 (satu) orang anak laki-laki dan 3 (tiga) orang anak perempuan. Anak perempuan bungsunya menyandang penyakit talasemia, yaitu suatu penyakit di mana tubuh penderitanya tidak dapat membentuk sel-sel darah merah. Hal inilah yang mendorong beliau untuk aktif dalam organisasi POPTI tersebut. Setelah berjuang selama bertahun-tahun untuk pengobatan anaknya, akhirnya pada bertahun-tahun 2013 sang anak meninggal dunia dalam usia 13 tahun.

Proses wawancara dilakukan pada tanggal 03 Juli 2015, di ruang kerja suami Netty yang bekerja sebagai seorang dosen di Politektik Negeri Medan.

Perempuan paruh baya yang berwajah keibuan tersebut, begitu terbuka dan bersahabat untuk menjawab segala pertanyaan peneliti. Beliau menikah pada tahun 1986, karena perjodohan orang tua dengan suaminya yang juga sesama suku Minang Pariaman dan melaksanakan tradisi uang jemputan saat pernikahannya dahulu. Ketika peneliti menanyakan pandangannya mengenai unsur agama dalam tradisi uang jemputan, beliau mengatakan bahwa tidak ada permasalahan dengan agama karena uang jemputan bukan mahar. Mahar sebagaimana ketentuan agama Islam tetap menjadi hak perempuan yang wajib diberikan oleh suami, sebagaimana penuturan beliau berikut:

“Tidak ada permasalahannya dengan agama, karena itu hanya merupakan tradisi semata. Uang jemputan berbeda dengan mahar, mahar harus si laki-laki yang memberikan kepada si perempuan, tetap yang dijalani syariat Islam itu, sah nikah itu memang harus lelaki yang memberi mahar. Saya kebetulan diterpa adat ini, tapi uang mahar

Beliau kembali menjelaskan bahwa tradisi uang jemputan itu berbalasan dalam arti pemberian uang jemputan oleh pihak perempuan, nantinya akan dibalas atau dikembalikan lagi oleh pihak keluarga laki-laki pada saat manjalang mintuo.

Pengetahuannya tentang hal tersebut, beliau dapat dari keseringannya menyaksikan pelaksanaan tradisi uang jemputan pada pernikahan kerabatnya di kampung maupun di perantauan, seperti kutipan wawancara berikut:

“Kalau seandainya tidak memberatkan bagi keluarganya, itu sangat baik. Uang jemputan ya, bukan uang hilang...itu berbeda. Hanya istilah saja, itu akan dikembalikan lagi kepada si perempuan. Malah dikembalikannnya lebih banyak lagi. Tapi kalau si perempuan ngunduh istilahnya atau istilah orang Minang manjalang....itu akan dikembalikan lebih banyak dari pada uang jemputan yang diberikan kepada si laki-laki. Saya sering pulang kampung, kalau di sana kuat sekali pelaksanaan adat japuik itu ”.

Beliau memahami adanya perbedaan uang hilang dengan uang jemputan.

Kedua hal tersebut menurutnya, tidak bertentangan dengan agama. Tradisi tersebut bermakna penghargaan terhadap laki-laki yang akan datang ke rumah perempuan:

“Uang hilang itu begini...kalau si lelaki itu misalnya lepas dari pendidikan, mungkin untuk masuk ke jenjang pekerjaan, mungkin belum ada modal, uang hilang itulah yang diperjuangkan. Biasanya uang hilang itu untuk si anak lelaki tersebut. Tapi ada juga kalau anaknya sudah mapan, untuk orangtuanya. Berbeda dengan uang hilang, kalau uang hilang memang untuk si laki-laki, kalau uang jemputan itu dikembalikan untuk wanita lagi. Saya pikir nggak bermasalah dengan agama kita. Uang jemputan menjadi syarat perkawinan...karena memang itu tradisi orang Pariaman, dulunya seperti itu. Kalau tidak ada uang jemputan, tidak ada uang hilang, dianggap mereka itu tidak bermartabat...tidak dihargai. Semacam perjuangan hidup laki-laki yang sudah dewasa itu, karena si laki-laki ini adalah orang yang datang ke keluarga istri”.

Netty mengungkapkan nilai-nilai budaya yang terkandung di dalam tradisi uang jemputan adalah perwujudan dari sistem matrilineal. Hal tersebut seperti

“Karena kita kan di Minangkabau itu...di Pariaman itu memakai sistem matrilineal, kalau di suku lain patrilineal. Jadi memang ada saya rasa....segi positifnya, karena kalau mencari jodoh tersebut, orang tua tahu bibit, bebet, bobot si calon menantu mereka, jadi tidak sembarangan memilihnya”.

Netty menambahkan bahwa terkadang uang jemputan dan uang hilang, diminta kedua-duanya oleh pihak keluarga laki-laki. Hal tersebut terjadi, apabila si laki-laki memiliki status sosial yang tinggi. Bagi Netty, pelaksanaan uang hilang itu dapat menjadi masalah, bila tidak mempertimbangkan kemampuan ekonomi pihak keluarga perempuan, sebagaimana penuturannya berikut ini:

“Yang jadi masalah mungkin uang hilang itu, kalau uang jemputan itu saya rasa nggak masalah. Jadi saat kedua belah pihak bertemu atau membicarakan kelanjutan hubungan anaknya, mereka membicarakan apakah pakai uang jemputan atau pakai uang hilang, atau kedua-duanya. Biasa kalau si anak lelakinya sudah berkedudukan atau berpendidikan atau segi sosialnya lebih tinggi, itu biasa orang tua menjalani kedua-duanya. Kalau dari segi keluarga pria minta uang hilang itu...istilahnya itu, dia merasa sudah membesarkan anaknya dengan jerih payahnya, jadi dia minta uang hilang itu. Saya pikir letak keberatan itu...kesepakatannya, kalau seandainya orang tua lelaki tidak mempertimbangkan kemampuan si perempuan, dia seolah-olah seperti menjual anaknya. Kalau seandainya jumlah uang hilang itu wajar, tidak ada masalah. Seharusnya dilihat juga sesuai kemampuan pihak perempuan”.

Netty mengakui pula bahwa pada awalnya ia kontra dengan tradisi uang jemputan karena ketidakpahamannya. Setelah menjalani pernikahan dengan melaksanakan tradisi uang jemputan, Netty memahami makna tradisi tersebut:

“Tadinya saya kontra....karena saya merasakan dan mengalami uang jemputan itu kembali kepada kami, jadi saya merasa oh....seperti ini.

Karena saya dilahirkan di Medan, jadi saya nggak mengerti adat yang sebenarnya itu bagaimana saat itu. Sesudah saya alami...saya pikir uang jemputan itu hanya untuk menghormati atau memberi penghargaan terhadap keluarga si lelaki. Tapi memang....saya lebih

mungkin adat bisa lebih pengertian dari pada berlainan etnis. Karena kalau lain etnis, kita harus mempelajari budaya suami kita tersebut...jadi kita harus belajar lagi”.

Netty menambahkan bahwa adanya tradisi baetong yang dilaksanakan di akhir pelaksanaan pesta perkawinan, merupakan bentuk saling tolong menolong keluarga untuk membantu biaya pesta yang telah dikeluarkan tuan rumah:

“Kalau orang Minang ini....ada lagi yang khusus dimilikinya yaitu tradisi baetong. Baetong itu bahasa Indonesianya “berhitung”. Suku lain nggak ada itu tradisi itu. Jadi baetong itu....kumpul-kumpul dana dari sanak saudara, untuk bantu keluarganya yang sedang pesta. Itu biasanya dilaksanakan di akhir malam sesudah pesta. Dipimpin niniak mamak (orang yang dituakan) biasanya, digelar tikar...baru duduklah niniak mamak itu, terus disebutkan satu persatu pake mic (microfon), nama-nama yang nyumbang itu, berapa pula sumbangannya. Apa itu...semacam sumbangan dana dari tamu-tamu yang hadir. Kalau sekilas kita dengar, semacam pamer atau riya. Tapi makna sebenarnya saling memotivasi sanak saudara, untuk ikut menyumbang. Malu dia...kalau namanya nggak disebut, berarti dia tidak tahu bersaudara”.

Beliau juga mengatakan bahwa dalam hal pemilihan jodoh, ia lebih cenderung mengikuti kemauan orang tua, sebagaimana penuturannya berikut:

“Dan saya nggak ada pula berhubungan dengan laki-laki di luar etnis gitu. Saya dulu istilahnya menuruti orang tua saja. Kalau kita sudah di rantau, jodoh itu biasa nggak dipaksakan. Apalagi saat ini orang tua tidak bisa memaksakan kehendaknya, orang tua saya lebih demokratis terhadap anaknya. Kalau dia ingin bermenantukan orang Minang juga, biasanya dia memberitahukan kepada anaknya, diperkenalkan terlebih dahulu....cocok apa tidaknya. Kalau seandainya sudah kenal, baru ninik mamak yang berperan untuk proses adat. Saya seperti itu....diperkenalkan dahulu, sesudah itu baru ninik mamak dan orangtua saya yang berperan menjalankan adat”.

Ketika peneliti menanyakan mengenai peranan bahasa daerah dalam mentransmisikan nilai-nilai budaya di dalam keluarga, Netty menuturkan bahwa berbahasa daerah sangat penting diterapkan dalam keluarga. Kedua orang tua beliau selalu menggunakan bahasa Minang dalam berkomunikasi dengan anak-anaknya, sehingga beliau memahami dan mahir berbahasa Minang. Namun Netty

mengakui sulit menerapkan berbahasa Minang kepada anak-anaknya saat ini, karena pengaruh lingkungan dan alat-alat komunikasi yang semakin canggih, membuat anak-anaknya lebih mengenal dan lebih tertarik dengan budaya asing dari pada budaya asal. Beliau menuturkan peranan keluarga dalam mentransmisikan nilai-nilai budaya yang ada dalam tradisi uang jemputan:

“Sebenarnya sosialisasi terhadap generasi baru, mungkin....orang tua dan ninik mamak kita agak kurang mensosialisasikan adat Pariaman itu. Ini lho....uang jemputan itu begini, uang hilang itu begini, jadi kita bisa memahami”.

Selain itu, Netty juga mengatakan bahwa peranan lingkungan juga turut membentuk persepsinya mengenai tradisi uang jemputan:

“Saya pernah kuliah dan pernah juga kerja. Di lingkungan kerja juga, pendidikan juga, kan pernah dibahas sesama teman begitu....kok membeli pula perempuan Minang kalau mau menikah. Jadi saya merasa....kita diberatkan, tapi sebenarnya kalau saya nilai sekarang tidak diberatkan”.

Peneliti menanyakan bagaimana Netty memandang proses transmisi nilai-nilai pada tradisi uang jemputan, kepada generasi muda Minang dan bagaimana pula keterlibatan ia sebagai orang tua dalam hal pencarian jodoh pada anak-anaknya kelak, ia menuturkan sebagaimana kutipan berikut:

“Kalau saya pasti akan menjelaskan kepada anak-anak saya mengenai nilai-nilai luhur pada tradisi uang jemputan tersebut, karena saya selalu mengajak anak-anak saya, kalau ada saudara pesta dan mereka melihat tradisi tersebut dilaksanakan. Apalagi saya dan suami sama-sama suku Minang Pariaman, jadi harus kita kenalkan itu budaya asal kita kepada anak. Cuma masalahnya bagaimana pilihan anak...saat menikah nanti. Kalau sesama suku Minang Pariaman, mungkin tradisi

Netty juga menambahkan bahwa sebagai orang tua, ia ingin memiliki menantu dari sesama suku Minang Pariaman, sebagaimana penuturannya berikut:

“Anak gadis saya yang sulung sudah berusia 27 tahun....dia bekerja dan belum menikah. Sebenarnya kami para orang tua resah juga.

Sebenarnya saya tidak mau memaksakan kehendak, ya....pastilah kalau ditanya, orang tua memiliki harapan punya menantu sesama suku. Namun semua itu tergantung jodoh si anak....sekarang ini ada keinginan untuk mengenalkan dengan laki-laki yang menurut kita, sebagai orang tua ini....baik dan layak untuk dijadikan menantu, tapi sampai saat ini kami juga belum mendapatkannya. Terus terang saya minta juga saudara-saudara saya mencarikan....tapi belum jodohnya mungkin”.

Di sela proses wawancara, suami Netty bernama Bapak Ibnu Hajar yang juga ikut mendengarkan wawancara peneliti bersama istrinya, memperlihatkan sebuah tulisan dari seorang temannya, bernama Bapak Yulfrinov yang merupakan ninik mamak orang Minang. Menurut suami Netty, tulisan tersebut perlu ia sampaikan kepada peneliti untuk menambah pemahaman mengenai adat istiadat Minang, sebagaimana penuturan beliau berikut:

“Ini....Bapak ada punya kawan, dia ninik mamak juga. Dia paham masalah adat istiadat Minang ini, tapi sekarang dia tinggal di Papua.

Ada tulisannya dulu...di share (dibagikan) ke bbm kawan-kawan sesama orang Minang, termasuklah Bapak ni menerima. Menurut Bapak...penting juga ini untuk penelitian Dewi, supaya menambah pemahaman kita”.

Peneliti mengutip beberapa bagian dari tulisan tersebut yang berkenaan dengan permasalahan penelitian sebagai berikut:

“Mengapa wanita melamar laki-laki?. Ini adalah tuduhan yang ngawur. Dalam adat Minangkabau yang melamar bukan wanita, melainkan keluarga si wanita, Mengapa? Karena memang begitulah seharusnya orang tua, berkeinginan kuat agar anak perempuannya mendapatkan jodoh yang terbaik. Bukankah Umar bin Khattab juga antusias mencarikan suami untuk anak beliau, Hafshah binti Umar?

Dan satu hal yang perlu diketahui bahwa ternyata, dahulu Rasulullah SAW juga dilamar oleh wanita, yaitu Siti Khadijah RA, istri pertama Rasulullah yang paling beliau cintai, yang tidak pernah beliau madu

melalui perantara, tidak dilakukan langsung oleh perempuan yang bersangkutan.

Mengapa laki-laki tinggal di rumah istrinya setelah menikah?. Dalam Islam, tidak ada aturan ketat dalam urusan tempat tinggal. Seseorang boleh tinggal di mana saja, di rumah dia kah, di rumah suaminya kah, di rumah istrinya kah, ataupun di rumah mertua. Dalam adat Minangkabau, seorang lelaki setelah menikah harus tinggal di rumah mertua, meskipun tidak selamanya, karena banyak juga yang pindah setelah punya anak, karena rumah mertua tidak lagi mencukupi. Jika kita jeli, kita dapat melihat manfaat luar biasa dari aturan ini. Di awal berumah tangga, wanita yang belum terbiasa masak akan lebih intensif untuk belajar kembali dari ibunya. Keselamatan si wanita juga lebih terjaga, karena segala gerak-gerik suaminya diperhatikan. Tidak akan ada cerita KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga), karena di rumah istri ada ayahnya, ada saudara laki-lakinya. Menurut beberapa penelitian, permasalahan rumah tangga banyak muncul saat wanita tinggal di rumah si laki-laki. Bukankah sering kita dengar, bahwa hubungan istri dan ibu adalah hubungan yang rumit dan kecemburuan antara keduanya adalah kecemburuan yang tidak bisa dijelaskan. Dan lagi, fakta yang tak bisa dibantah adalah bahwa Rasulullah SAW juga diboyong ke rumah Siti Khadijah setelah beliau berdua resmi menikah.

Memang dalam adat Minangkabau, suku dan marga itu diturunkan oleh ibu. Di sini kita harus bedakan, mana yang suku, mana yang nasab (keturunan). Tidak ada istilah, bahwa pada suku Minang nasab (keturunan) anak, turun dari ibu. Tidak pernah sekalipun terdengar

“Fulan bin Ibunya”. Yang ada hanyalah fulan bin ayahnya, seperti Fakhry Emil Habib bin Asra Faber (contoh). Dalam prakteknya juga demikian, bukankah anak perempuan di Minangkabau dinikahkan oleh ayahnya, bukan ibunya? Lalu siapa yang berani-beraninya mengatakan kalau nasab (keturunan) orang Minang itu dari ibu?

Polanya tetap begitu dan akan selalu sama bahwa suku turun dari ibu, sedangkan nasab (keturunan) tetap turun dari ayah” (sumber: tulisan Bapak Yulfrinov (tokoh adat Minang/ninik mamak) yang di share melalui handphone suami informan Netty dan di e-mailkan kepada peneliti).

Tulisan tersebut menjadi masukan untuk lebih memahami tentang adat istiadat Minang, oleh karena itu peneliti merasa perlu mengutipnya dalam penelitian ini.

4.2.5. Informan 5

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 99-107)