• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manfaat Penelitian

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 31-0)

BAB I. PENDAHULUAN

1.4. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1.4.1. Secara akademis, diharapkan dapat menambah khasanah penelitian ilmu komunikasi, khususnya pada kajian komunikasi antarbudaya. Selain itu diharapkan dapat memberikan motivasi kepada peneliti-peneliti lain, untuk mengkaji lebih dalam penelitian komunikasi tentang tema-tema budaya.

1.4.2. Secara teoritis, diharapkan dapat menambah pemahaman masyarakat akademis mengenai penelitian yang berkaitan dengan tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman di Kota Medan.

1.4.3. Secara praktis, diharapkan dapat menggambarkan terjadinya perubahan atau pergeseran nilai-nilai pada tradisi uang jemputan dalam adat perkawinan Pariaman, melalui persepsi dan terlihat pada perubahan sikap perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan.

BAB II

KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN

2.1. Paradigma Penelitian

Paradigma dalam penelitian ini menggunakan paradigma konstruktivisme. Morissan (2014: 165) mengemukakan, teori konstruktivisme (constructivism) yang dikembangkan oleh Jesse Delia, memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan ilmu komunikasi. Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu melakukan interpretasi dan bertindak, menurut berbagai kategori konseptual yang ada dalam pikirannya. Sedangkan Creswell (2010: 11), menyebutkan bahwa konstruktivisme sosial meneguhkan asumsi bahwa individu-individu selalu berusaha memahami dunia, di mana mereka hidup dan bekerja. Mereka mengembangkan makna-makna subjektif atas pengalaman-pengalaman mereka, makna-makna yang diarahkan pada objek-objek atau benda-benda tertentu.

Ardianto & Anees (2007: 154) menyebutkan bahwa paradigma konstruktivisme merupakan salah satu filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita adalah hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Prinsip dasar konstruktivisme menerangkan bahwa tindakan seseorang ditentukan oleh konstruk diri, sekaligus juga konstruk lingkungan luar dari perspektif diri, sehingga komunikasi itu dapat dirumuskan dan ditentukan oleh diri di tengah pengaruh lingkungan luar. Sebagaimana Sarantakos (dalam Poerwandari, 2007:

22-23), konstruktivis merupakan pendekatan yang menggunakan pola pikir

induktif yaitu berjalan dari spesifik menuju umum, dari yang konkret menuju abstrak, ilmu yang bersifat ideografis, nomotetis dan ilmu yang tidak bebas nilai.

Sementara itu Hidayat (2003: 3) mengemukakan, paradigma konstruktivis sebagai analisis sistematis terhadap socially meaningful action melalui pengamatan langsung dan terperinci, terhadap pelaku sosial yang bersangkutan, menciptakan dan memelihara atau mengelola dunia sosial seseorang.

2.2. Penelitian Sejenis Terdahulu.

Penelitian terdahulu tentang kajian persepsi budaya, khususnya penelitian tentang tradisi uang jemputan atau tradisi bajapuik, dapat dilihat pada beberapa penelitian berikut ini:

(1). Matrilokal dan status perempuan: studi kasus tentang status perempuan dalam Tradisi Bajapuik di Pariaman Sumatera Barat.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Azwar Wilhendri (2000), dalam tesisnya pada Universitas Gajah Mada (UGM), Yokyakarta. Hasil penelitian menyebutkan bahwa dalam lembaga keluarga dengan pola kekerabatan patrilineal-patrilokal, merupakan wadah lahirnya sistem patriarki. Sistem patriarki sebagai analisis dalam studi perempuan, dianggap sebagai salah satu sebab timbulnya pensubordinasian dan penindasan terhadap hak-hak sosial perempuan dalam hubungan kesetaraan gender.

Kota Pariaman secara kultural, merupakan salah satu wilayah di Minangkabau, dengan sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, status dan kedudukan perempuan dianggap sangat kuat. Ternyata pada tradisi bajapuik dengan sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal tersebut, status dan kedudukan perempuan tersubordinasi, baik dalam keluarga maupun dalam

hubungan sosial. Pada sistem patriarki, posisi perempuan berada di bawah otoritas bapak sebelum menikah dan dikuasai oleh suami setelah menikah.

Sementara itu pada sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, seorang perempuan dikuasai oleh mamak (paman) dalam hubungan kerabat (extended family), sekaligus oleh suami di dalam keluarga inti (nuclear family). Hal tersebut dibuktikan dengan lemahnya akses perempuan, dalam pengambilan keputusan untuk menentukan terjadinya ikatan perkawinan, karena intervensi mamak.

Posisi tawar (bargaining position) dalam menentukan nilai uang japuik juga lemah, ini juga berlaku pada pengelolaan uang japuik, penghargaan terhadap status sosial dan status perempuan dalam keluarga.

Kesimpulannya bahwa tradisi bajapuik membuktikan bahwa sistem patriarki terlembaga dalam perkawinan. Penelitian ini membuktikan, sistem patriarki juga terjadi pada sistem kekerabatan matrilineal-matrilokal, di mana perempuan mengalami subordinasi berganda (Sumber: http://etd.ugm.ac.id).

(2). Persepsi remaja tentang Tradisi Uang Jemputan dalam adat perkawinan suku Minang (Studi deskriptif pada Ikatan Keluarga VII Koto sekretariat Jalan Bromo Medan).

Penelitian tersebut dilakukan Susanti (2005), dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana remaja khususnya gadis Minang, mempersepsikan tradisi uang jemputan pada adat perkawinan Pariaman. Dalam penelitian ini, juga dilakukan observasi pada sebuah pesta perkawinan, yang melaksanakan tradisi uang jemputan didalamnya. Hasil penelitian menunjukkan, tradisi uang

jemputan masih dilaksanakan dalam perkawinan masyarakat suku Minang yang berasal dari daerah Pariaman.

Sementara itu seorang tokoh adat Minang Pariaman yang menjadi nara sumber (key informan) dalam penelitian mengatakan bahwa uang jemputan sebenarnya bermakna tanggung jawab mamak (saudara laki-laki ibu), dalam pencarian jodoh yang layak dan sesuai untuk keponakannya.

Sedangkan gadis Minang yang merupakan informan dalam penelitian, umumnya mempersepsikan uang jemputan secara subjektif, yaitu perempuan sebagai pemberi uang jemputan dianggap tidak pantas atau tidak layak (Susanti, 2005: 73).

(3). Perubahan Tradisi Bajapuik pada perkawinan orang Minang Pariaman di Kota Binjai.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Deliani (2005). Hasil penelitian menyebutkan bahwa di Kota Binjai, banyak anak-anak muda Pariaman yang memilih jodohnya sendiri. Sedikit sekali di antara anak-anak orang Minang Pariaman, yang mengikuti perkawinan melalui perjodohan. Keluarga dan para mamak (paman), dalam hal ini hanya mengikuti pilihan mereka dan membantu mempersiapkan kebutuhan pernikahan anak-anak mereka. Para ninik mamak menganggap, jika terjadi pergeseran pada adat itu lumrah, meskipun keinginan untuk memegang adat masih kuat.

Deliani juga menemukan beberapa bentuk perubahan yang terjadi dalam tradisi Bajapuik di Kota Binjai. Perubahan tersebut adalah sebagai berikut: (1). Tradisi perkawinan bajapuik orang Minang Pariaman, berlangsung dengan sejumlah variasi dan penyederhanaan di dalamnya;

(2). Perubahan dalam struktur sosial orang Minang Pariaman, sedikitnya ditandai dengan bergesernya struktur dalam sistem kekerabatan mereka, dari konsep extended family ke arah bentuk nuclear family; dan (3). Perubahan yang terjadi dalam struktur sosial orang Minang tersebut, berimplikasi pada perubahan orientasi nilai budaya pada pelaksanaan tradisi bajapuik. Selain pengaruh dari luar sistem dan sosial budaya orang Minang Pariaman (faktor eksternal), perubahan tradisi bajapuik juga didorong oleh kebutuhan dari dalam (faktor internal).

(4). Bentuk-bentuk perubahan pertukaran dalam perkawinan Bajapuik.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Maihasni, Titik Sumarti, Ekawati Sri Wahyuni dan Sediono MP. Tjondronegoro (2010: 190). Hasil penelitian mendapati perubahan pertukaran pada perkawinan bajapuik di Pariaman, melalui 4 (empat) bentuk perubahan pertukaran, yaitu: 1). Uang jemputan adalah uang yang diberikan pihak perempuan kepada pihak laki-laki, dan dikembalikan lagi kepada perempuan pada saat mengunjungi mertua untuk pertama kali. Bentuk pengembalian ini berwujud benda yang bernilai ekonomis, seperti emas dan benda lainnya; 2). Uang hilang adalah pemberian kepada pihak laki-laki, namun tidak dikembalikan kepada pihak perempuan.

Pemberian tersebut dapat berwujud benda, khususnya uang yang dapat dipergunakan sepenuhnya oleh pihak keluarga laki-laki khususnya orang tua;

3). Uang selo adalah salah satu bentuk pengeluaran lain dari pihak perempuan, untuk membiayai adat perkawinan. Uang selo ini diberikan kepada ninik mamak pihak laki-laki, yang hadir pada saat pertunangan; dan 4) Uang tungkatan adalah uang tembusan dari benda-benda tungkatan yang

dibawa perempuan, sebagai persyaratan menjemput mempelai laki-laki untuk dinikahkan.

(5). Uang Japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung.

Penelitian tersebut dilakukan oleh Ririanty Yunita, Syaiful M dan Muhammad Basri (2012). Inti sari dalam penelitian ini berdasarkan rumusan masalah yaitu bagaimanakah persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang uang japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung, maka penelitian ini ditujukan untuk mencari tahu persepsi orang-orang Padang Pariaman perantauan di Bandar Lampung tentang uang japuik dalam adat perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 92 responden penelitian, sebanyak 7 responden atau 8%, mempunyai persepsi negatif mengenai uang japuik. Sementara itu sebanyak 85 responden atau 92% dari 92 responden termasuk dalam kategori persepsi yang positif mengenai uang japuik. Dapat disimpulkan bahwa persepsi para perantau asal kabupaten Padang Pariaman mengenai tradisi pemberian uang japuik pada adat perkawinan Padang Pariaman di Kota Bandar Lampung, termasuk dalam persepsi yang positif (sumber: http://jurnal.fkip.unila.ac.id).

(6). Persepsi pasangan suami-istri terhadap bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin dalam upacara perkawinan masyarakat adat Batak Toba (Studi kualitatif terhadap masyarakat Batak Toba di Kelurahan Medan Tenggara Kecamatan Medan Denai).

Penelitian mengenai persepsi budaya pada tradisi perkawinan suku Batak Toba tersebut dilakukan oleh Sahmaida Lubis (2011). Ada beberapa bentuk komunikasi simbolik yang digunakan dalam adat masyarakat Batak Toba. Bentuk komunikasi simbolik tersebut adalah dekke (ikan mas), mandar hela (sarung menantu laki-laki), boras (beras), dan ulos hela (ulos menantu laki-laki). Simbol-simbol tersebut mengandung makna berupa nilai-nilai perkawinan dan kehidupan masyarakat Batak Toba.

Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin, dalam upacara perkawinan adat Batak Toba dan untuk mengetahui persepsi, berupa pemahaman pasangan suami-istri terhadap bentuk komunikasi simbolik yang diberikan kepada pengantin pada saat upacara adat perkawinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua pasangan suami-istri memahami makna komunikasi simbolik dalam upacara perkawinan adat Batak Toba, dikarenakan kurangnya proses sosialisasi budaya dan cara pandang yang berbeda dari pasangan suami-istri tersebut.

2.3. Uraian Teoritis

2.3.1. Komunikasi Antarbudaya

Hubungan manusia dalam proses komunikasi, tidak terlepas dari pengaruh budaya masing-masing pelaku komunikasi. Sebagaimana Edward T.

Hall (dalam Syam, 2013: 84), mengemukakan bahwa “komunikasi adalah budaya dan budaya adalah komunikasi”. Sekurang-kurangnya ada 3 (tiga) pandangan terhadap komunikasi, yaitu:

1). Komunikasi sebagai aktivitas simbolis.

Aktivitas komunikasi menggunakan simbol-simbol bermakna, yang diubah ke dalam kata-kata (verbal) untuk ditulis dan diucapkan atau simbol non verbal untuk diperagakan. Simbol komunikasi itu dapat berbentuk tindakan dan aktivitas manusia, atau tampilan objek yang mewaliki makna tertentu.

2). Komunikasi sebagai proses.

Komunikasi merupakan aktifitas yang dinamis, aktifitas yang terus berlangsung secara berkesinambungan, sehingga dia terus mengalami perubahan.

3). Komunikasi sebagai pertukaran makna.

Para ahli mengatakan bahwa komunikasi adalah kegiatan “pertukaran makna”. Makna itu ada dalam setiap orang yang mengirimkan pesan. Jadi makna bukan sekedar kata-kata verbal atau perilaku non verbal, tetapi makna adalah pesan yang dimaksudkan pengirim dan diharapkan akan dimengerti pula oleh penerima (Liliweri, 2007: 5-6).

2.3.1.(a). Pengertian Komunikasi Antarbudaya

Samovar, et al. (2010: 55) menyebutkan komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya berbeda.

Pendapat serupa juga dikemukakan Tubbs & Moss (2005: 236-237), bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio-ekonomi). Penggolongan kelompok-kelompok budaya tidak bersifat mutlak. DeVito (1997: 480), mendefenisikan komunikasi antarbudaya secara luas sebagai bentuk komunikasi

di antara orang-orang yang berasal dari kelompok yang berbeda, selain juga secara lebih sempit mencakup bidang komunikasi antara kultur yang berbeda.

Lubis (2012: 44) mengemukakan bahwa, komunikasi yang berlangsung di antara individu yang berbeda budaya, selalu mengalami hambatan-hambatan yang disengaja maupun tidak disengaja atau tanpa disadari. Hal ini merupakan sesuatu yang wajar kalau ditinjau dari komunikasi antarbudaya. Dengan demikian terlihat adanya dinamika di antara para peserta yang berkomunikasi, dengan keragaman budaya yang melatarbelakanginya.

Setiap orang berkomunikasi dengan kerangka pemikiran (frame of reference) dan keluasan pengalaman (field of experience) yang berbeda-beda satu sama lain, yang dipengaruhi oleh latar belakang budayanya. Oleh karena itu komunikasi antarbudaya menjadi penting dipelajari, tidak hanya untuk tujuan efektifitas berkomunikasi dengan orang yang berbeda budaya, melainkan juga untuk efektifitas pemahaman terhadap budaya sendiri. Sebagaimana disebutkan Litvin (dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010), bahwa tujuan studi komunikasi antarbudaya bersifat kognitif dan afektif, yaitu untuk:

1) Menyadari bias budaya sendiri.

2) Lebih peka secara budaya.

3) Memperoleh kapasitas untuk benar-benar terlibat dengan anggota dari budaya lain dan menciptakan hubungan yang langgeng dan memuaskan dengan orang tersebut.

4) Merangsang pemahaman yang lebih besar atas budaya sendiri.

5) Memperluas dan memperdalam pengalaman seseorang.

6) Mempelajari keterampilan komunikasi yang membuat seseorang mampu menerima gaya dan isi komunikasinya sendiri.

7) Membantu memahami budaya sebagai hal yang menghasilkan dan memelihara semesta wacana dan makna bagi para anggotanya.

8) Membantu memahami kontak antarbudaya sebagai suatu cara memperoleh pandangan ke dalam budaya sendiri: asumsi-asumsi, nilai-nilai, kebebasan-kebebasan dan keterbatasan-keterbatasannya.

9) Membantu memahami model-model, konsep-konsep dan aplikasi-aplikasi bidang komunikasi antarbudaya.

10) Membantu menyadari bahwa sistem-sistem nilai yang berbeda dapat dipelajari secara sistematis, dibandingkan dan dipahami.

Seseorang dari latar belakang budaya tertentu akan terlibat dalam situasi komunikasi antarbudaya, saat mengalami proses akulturasi dengan orang yang memiliki latar belakang budaya berbeda. Cara kita berkomunikasi sebagian besar dipengaruhi oleh kultur, sehingga orang-orang dari kultur yang berbeda akan berkomunikasi secara berbeda (DeVito, 1997: 481). Brislin (dalam Samovar, et al., 2010: 44), menyebutkan bahwa nilai-nilai yang dianggap penting oleh suatu masyarakat yang sudah ada selama beberapa tahun, harus diturunkan dari satu generasi ke generasi yang lainnya dalam proses enkulturasi budaya.

2.3.1.(b). Proses Enkulturasi dan Akulturasi dalam Komunikasi Antarbudaya.

Dalam mempelajari budaya, setiap individu yang lahir ke dunia, akan melewati proses enkulturasi dan akulturasi. Enkulturasi mengacu pada proses di mana kultur ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Orang tua, kelompok teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan

merupakan guru-guru utama di bidang kultur. Sedangkan akulturasi mengacu pada proses di mana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain (DeVito, 1997: 479). Sementara itu Samovar, et al.

(2010: 479), mendefenisikan akulturasi sebagai proses pembelajaran bagaimana hidup dalam budaya yang baru. Sebagaimana Lubis (2012: 21), menyebutkan bahwa kita mempelajari kultur (budaya), bukan mewarisinya.

Pada dasarnya manusia-manusia menciptakan budaya atau lingkungan sosial mereka sebagai suatu adaptasi terhadap lingkungan fisik dan biologis mereka. Kebiasaan-kebiasaan, praktik-praktik dan tradisi-tradisi untuk terus hidup dan berkembang, diwariskan oleh suatu generasi ke generasi lainnya dalam suatu masyarakat tertentu. Pada gilirannya kelompok atau ras tersebut tidak menyadari dari mana asal warisan kebijaksanaan tersebut. Generasi-generasi berikutnya terkondisikan untuk menerima “kebenaran-kebenaran” tersebut tentang kehidupan di sekitar mereka, pantangan-pantangan dan nilai-nilai tertentu ditetapkan dan melalui banyak cara orang-orang menerima penjelasan tentang perilaku “yang dapat diterima” untuk hidup dalam masyarakat tersebut. Budaya mempengaruhi dan dipengaruhi oleh setiap fase aktifitas manusia (Haris dan Moran dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010: 55).

Komunikasi antarbudaya terjadi ketika anggota dari satu budaya tertentu, memberikan pesan kepada anggota dari budaya yang lain. Lebih tepatnya, komunikasi antarbudaya melibatkan interaksi antara orang-orang yang persepsi budaya dan sistem simbolnya, cukup berbeda dalam suatu komunikasi (Samovar et. al, 2010: 13). Selanjutnya Gudykunst (2003: 316) menyebutkan, terdapat beberapa potensi masalah dalam proses akulturasi budaya, antara lain:

1. Stereotip.

Stereotip biasa terjadi karena kita bertemu dengan banyak orang dan berhadapan dengan banyak hal yang tidak selalu sama dan tidak kita ketahui. Masalah timbul ketika kita tidak menyadari bahwa kita memiliki stereotip negatif. Stereotip dapat berupa prasangka positif dan negatif, dan kadang-kadang dapat dijadikan alasan untuk bertindak diskriminatif.

2. Prasangka.

Prasangka memberikan perasaan dan tingkah laku negatif yang melibatkan rasa marah, takut, keseganan dan perasaan gelisah. Brislin (dalam Gudykunst, 2003: 323) mengatakan prasangka adalah perasaan mengenai hal baik atau buruk, benar atau salah, pantas atau tidak pantas dan lain-lain.

3. Etnosentrisme.

Nanda dan Warms (dalam Gudykunst, 2003: 331) menyebutkan, etnosentrisme merupakan pandangan bahwa budaya seseorang lebih unggul dibandingkan budaya lain. Pandangan bahwa budaya lain, dinilai berdasarkan standar budaya kita. Kita menjadi etnosentris ketika kita melihat budaya lain melalui kacamata budaya kita atau posisi sosial kita.

Sebagaimana (Samovar, et, al. dalam Mulyana dan Rakhmat, 2010: 76), etnosentrisme adalah kecenderungan memandang orang lain, secara tidak sadar dengan menggunakan kelompok kita sendiri dan kebiasaan kita sendiri sebagai kriteria untuk segala penilaian. Sumber utama perbedaan budaya dalam sikap adalah etnosentrisme.

4. Culture shock (gegar budaya).

Kalvero Aberg (dalam Gudykunst, 2003: 335), gegar budaya ditimbulkan oleh rasa gelisah, sebagai akibat dari hilangnya semua tanda dan simbol yang biasa kita hadapi dalam hubungan sosial. Gegar budaya dapat menyebabkan rasa putus asa, lelah dan perasaan tidak nyaman.

2.3.2. Persepsi Budaya

Adler (dalam Samovar, et al., 2010: 224) menyebutkan, persepsi merupakan suatu hal yang ditentukan oleh budaya. Kita belajar untuk melihat dunia dengan suatu cara tertentu yang didasarkan pada latar belakang budaya kita.

Sebagaimana Wood (dalam Samovar, et al., 2010: 34), bahwa kita mempelajari pandangan dan pola budaya dalam proses komunikasi, ketika kita berinteraksi dengan orang lain, kita mengerti tentang kepercayaan, nilai, norma, dan bahasa budaya kita.

Persepsi sering dianggap sebagai inti komunikasi. Sedangkan penafsiran atau interpretasi adalah inti persepsi yang identik dengan penyandian balik (decoding) dalam proses komunikasi (Riswandi, 2009: 50). Sementara itu hubungan manusia dalam proses komunikasi, tidak terlepas dari pengaruh budaya masing-masing pelaku komunikasi. Setiap kultur mempunyai aturan komunikasi sendiri-sendiri. Aturan ini menetapkan mana yang patut dan mana yang tidak patut (DeVito, 1997: 490).

Samovar, et al. (2010: 221) menjelaskan bahwa persepsi merupakan suatu cara untuk membuat dunia fisik dan sosial menjadi masuk akal. Sementara Mulyana dan Rakhmat (2010: 25), mendefenisikan persepsi sebagai proses internal yang kita lakukan untuk memilih, mengevaluasi dan mengorganisasikan

rangsangan dari lingkungan eksternal. Selanjutnya Sobur (2003: 445), mengemukakan persepsi dalam arti sempit ialah penglihatan, bagaimana seseorang melihat sesuatu, sedangkan dalam arti luas ialah pandangan atau pengertian, yaitu bagaimana seseorang memandang atau mengartikan sesuatu.

Liliweri (2011: 153), menyebutkan persepsi merupakan proses di mana individu memilih, mengorganisasikan, dan menginterpretasikan apa yang dibayangkan tentang dunia sekelilingnya. Sementara itu Matsumoto (2004: 60), mengungkapkan bahwa persepsi mengacu pada proses, di mana informasi inderawi diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermakna. Desiderato (dalam Rakhmat, 2007: 51), menjelaskan bahwa persepsi adalah pengalaman tentang objek, peristiwa, atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan. Persepsi ialah memberikan makna pada stimuli inderawi (sensory stimuli). Hubungan sensasi dan persepsi sudah jelas. Sensasi adalah bagian dari persepsi. Walaupun begitu, menafsirkan makna informasi inderawi tidak hanya melibatkan sensasi, tetapi juga atensi, ekspektasi, motivasi dan memori. Selanjutnya Mulyana (2001: 180-191) menjelaskan beberapa sifat-sifat persepsi, sebagai berikut:

1) Persepsi bersifat selektif.

Setiap orang menerima begitu banyak rangsangan inderawi, bila manusia harus menafsirkan semua, ia bisa gila. Karena itu persepsi bersifat selektif dalam menafsirkan rangsangan yang diterima tersebut.

2) Persepsi bersifat dugaan.

Karena data yang kita peroleh mengenai objek melalui penginderaan tidak pernah lengkap, persepsi merupakan loncatan langsung pada kesimpulan.

3) Persepsi bersifat evaluatif.

Orang menjalani kehidupan dengan perasaan bahwa apa yang mereka persepsi adalah nyata. Mereka berfikir menerima pesan dan menafsirkannya sebagai suatu proses yang alamiah. Akan tetapi terkadang alat-alat indera dan persepsi kita menipu, sehingga perlu mengevaluasinya kembali.

4) Persepsi bersifat kontekstual.

Suatu rangsangan dari luar harus diorganisasikan. Dari semua pengaruh yang ada dalam persepsi kita, konteks merupakan salah satu pengaruh paling kuat. Konteks yang melingkungi kita ketika melihat suatu objek, orang atau suatu kejadian yang sangat mempengaruhi struktur kognitif, pengharapan dan juga persepsi kita.

2.3.2.(a). Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi interpersonal

Rakhmat (2007: 89-91), menjelaskan ada beberapa faktor yang mempengaruhi persepsi interpersonal, yaitu:

(1). Pengalaman

Pengalaman mempengaruhi kecermatan persepsi. Pengalaman tidak selalu lewat proses belajar formal. Pengalaman kita bertambah juga melalui rangkaian peristiwa yang pernah kita hadapi.

(2). Motivasi

Proses konstruktif yang mewarnai persepsi interpersonal sangat banyak melibatkan unsur-unsur motivasi. Telah banyak penelitian tentang pengaruh motivasi sosial terhadap persepsi, seperti motif biologis, ganjaran dan hukuman, karakteristik kepribadian, dan perasaan terancam

karena persona stimuli. motif personal lainnya yang mempengaruhi persepsi interpersonal adalah kebutuhan untuk mempercayai dunia yang adil. Menurut Lerner (dalam Rakhmat, 2007: 89), kita perlu mempercayai bahwa dunia ini diatur secara adil. Orang diganjar dan dihukum karena perbuatannya. Bila kita melihat orang sukses, kita cenderung menanggapinya sebagai orang yang memiliki karakteristik baik. Motif dunia ini, sering mendistorsi persepsi kita.

(3). Kepribadian

Dalam psikoanalisis, dikenal proyeksi, sebagai salah satu cara pertahanan ego. Proyeksi adalah mengeksternalisasikan pengalaman subjektif secara tidak sadar. Orang melemparkan perasaan bersalahnya kepada orang lain.

Pada persepsi interpersonal, orang mengenakan pada orang lain, sifat-sifat yang ada pada dirinya, yang tidak disenanginya. Kepribadian otoriter adalah sindrom kepribadian yang ditandai oleh ketegaran berpegangan pada nilai-nilai konvensional, hasrat berkuasa yang tinggi, kekakuan dalam hubungan interpersonal, kecenderungan melemparkan tanggung jawab pada sesuatu di luar dirinya, dan memproyeksikan sebab-sebab dari peristiwa yang tidak menyenangkan pada kekuatan di luar dirinya.

2.3.2.(b). Elemen-elemen yang mempengaruhi persepsi budaya.

Sebagaimana dikutip dari pandangan Samovar, et al. tentang hal-hal yang mempengaruhi persepsi budaya, oleh Mulyana dan Rakhmat (2010: 26) diterjemahkan sebagai unsur-unsur sosio-budaya yang mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang kita bangun dalam persepsi kita, yang

Sebagaimana dikutip dari pandangan Samovar, et al. tentang hal-hal yang mempengaruhi persepsi budaya, oleh Mulyana dan Rakhmat (2010: 26) diterjemahkan sebagai unsur-unsur sosio-budaya yang mempunyai pengaruh besar dan langsung atas makna-makna yang kita bangun dalam persepsi kita, yang

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 31-0)