• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informan 6 (Dedek)

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 111-117)

BAB IV. TEMUAN PENELITIAN

4.2. Temuan Penelitian

4.2.6. Informan 6 (Dedek)

1. Nama : Dedek Karmila

2. Nama Panggilan : Dedek

3. Usia : 33 Tahun

4. Suku Pasangan : Mandailing 5. Pendidikan : D3

6. Pekerjaan : Karyawan BPDSU (Bank SUMUT)

7. Alamat : Jalan Tangguk Bongkar Nomor 68 Mandala by Pass Medan Denai.

Proses wawancara dilakukan pada tanggal 05 Juli 2015, saat peneliti menemui Dedek di rumahnya. Pada tahun 2010, Dedek menikah dengan laki-laki yang berasal dari suku Mandailing. Ia dan suaminya memiliki profesi yang sama sebagai karyawan pada salah satu bank swasta di Kota Medan. Dari pernikahannya tersebut, ia dikaruniai dua orang anak. Dedek adalah anak ke 4 (empat) dari 7 (tujuh) bersaudara. Anak pertama di dalam keluarga Dedek adalah seorang laki-laki, sedangkan kakak nomor dua hingga adik bungsunya seluruhnya adalah perempuan. Kedua orang tua Dedek adalah orang Pariaman yang telah lama merantau di Kota Medan. Ayahnya mendidik mereka dengan keras dan melarang anak-anak perempuannya agar tidak berpacaran di masa-masa sekolah sebagai bentuk perlindungan dan menjaga kehormatan ke 6 (enam) anak perempuannya dari pengaruh pergaulan bebas.

Dalam urusan jodoh, sang ayah tidak memaksakan anak-anaknya harus menikah dengan sesama suku Minang, asalkan saja si laki- laki tersebut harus beragama Islam dan bertanggung jawab. Berbeda dengan sang ibu yang mengharuskan anak-anaknya menikah dengan orang Minang Pariaman, dengan alasan saling memahami adat istiadatnya. Dedek mengakui keputusan ibunya dalam hal perjodohan, lebih mendominasi dari pada sang ayah. Ibu yang memiliki dua anak balita laki-laki yang lucu ini, mengemukakan pandangannya mengenai unsur agama dan kepercayaan yang terkandung dalam tradisi uang jemputan:

“Ya itulah dia....sanggup dan nggak sanggupnya itu Wi. Makanya kutanya kayak mana?. Sah-sah aja kalau emang sanggup, tapi kalau nggak sanggup, dipaksakan kayak mana? Haram nggak?

haramlah...kan gitu”.

Dedek kembali mengemukakan pemahamannya tentang tradisi uang jemputan dan pandangannya mengenai perempuan yang melakukan pelamaran dalam tradisi Minang:

“Sebenarnya gini Wi, kalau pemahaman aku itu nggak ada perempuan yang melamar. Sebenarnya yang melamar di Pariaman itu, kalau menurut aku tetap si laki-laki, cuma jaman dahulu kalau yang aku tahu...uang jemputan itu, kita kasih untuk modal si laki-laki, tapi dalam ijab kabul...maharnya itu yang ngasi tetap si laki-laki, apa yang kita minta. Jadi adat ajanya itu...kecuali mahar juga dari si perempuan, itu udah menyimpanglah”.

Pengaruh yang kuat dari sang ibu dalam urusan perjodohan, dibuktikan dengan 4 (empat) orang anaknya menikah dengan sesama orang Minang Pariaman. Ketiga orang anak perempuannya dinikahkan dengan memberi sejumlah uang jemputan kepada pihak keluarga laki-laki. Sedangkan anak sulungnya yang merupakan anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga yang seharusnya menerima uang jemputan, namun malah menggantikan sang pacar yang juga merupakan sesama orang Minang Pariaman untuk mengisi adat, memenuhi uang jemputan yang diminta oleh keluarganya. Hal tersebut seperti kutipan wawancara dengan Dedek sebagai berikut:

“Tapi kalau abang aku malah dia yang ngisi adat itu. Dia kan pacaran sama ceweknya...ceweknya orang susahlah. Paman kami minta sekian, ya udah, uang dia dikasihkannya sama ceweknya itu, dibilanglah itu uang dari keluarga si perempuan”.

Kemudian peneliti menanyakan, apakah sikap abang Dedek tersebut memicu terjadinya konflik di dalam keluarga, Dedek menuturkan sebagaimana berikut:

“Iya....sempat ribut juga mamak, katanya nggak punya harga diri kau, kalau nggak ada dijapuiknya. Ini malah kau pula yang ngasi uang japuik itu...kata mamakku sama abangku. Tapi kayak mana, namanya udah saling cinta ya kan....digantikannya posisi ngasi uang itu.

Masalahnya kakak iparku itu....orang susah juga. Kan...memberatkan itu kalau dipaksakan. Tapi pandai-pandailah abangku mendekati mamak, kalau ayah setuju-setuju aja waktu itu. Eh....payahlah mamakku ini, fanatik kali sama adat. Udah dua anak abangku, barulah luluh juga dia lihat cucunya. Udah agak berubahlah sikit (sedikit) mamakku itu”.

Dedek menjelaskan pemahamannya tentang nilai-nilai budaya yang diwariskan generasi terdahulu dalam tradisi uang jemputan, sebagai modal bagi laki-laki untuk menghidupi anak istrinya kelak, seperti penuturannya berikut:

“Karenakan kebanyakan dulu, tahu lah orang Minangkan hobi merantau...iya kan. Ke sana...ke sana...nanti balik, sukalah sama anak orang di kampung itu, karena dia usaha nanti di sana, itulah untuk modal dia. Intinya sih, untuk memodalkan laki-laki dalam menghidupi anak istrinya nanti”.

Peneliti menanyakan tentang keseringan Dedek pulang kampung dan bagaimana pandangannya mengenai pelaksanaan tradisi uang jemputan di sana:

“Waktu kecil-kecil dulunya...orang tua rajin bawa anak-anaknya pulang kampung. Biar tau berkeluarga katanya...tapi kalau sekarang jaranglah. Dulu kalau ada pesta saudara, sering juga diajak mamak...tapi aku sibuk kerja, nggak ada waktunya. Kalau uang japuik itu....aku taunya dari pengalaman-pengalaman abang sama kakakku.

Mereka kan pestanya di sini (Medan). Ya...itu tadi, ribet....yang banyak keluar uang, perempuannya”.

Selanjutnya pandangan Dedek mengenai penerapan nilai-nilai budaya dalam pelaksanaan tradisi uang jemputan saat ini, telah mengalami perubahan sesuai kesepakatan orang yang menjalankannya. Ia menjelaskan hal tersebut berdasarkan pengalaman saudara-saudaranya, sebagaimana kutipan wawancara

“Tergantung orangnya sih....waktu itu sepupu cewekku dapat orang Pariaman, orang tua si laki-laki nggak mau anaknya dijemput. Uang mahar dari si laki-laki...sedangkan masalah uang pesta mereka masing-masing aja. Sama-sama orang Pariaman lah itu, ya....kalau memang orang itu setuju, ya...terjadikan. Nggak ada keterpaksaan.

Tapi yang lain-lain...kayak abangku, terus dua orang kakakku dan adikku...semua ngikutin adat Pariaman kali, pakai uang jemputan.

Kalau kakak-kakakku dijodohin, tahulah orang Pariaman ini....suka kali jodoh-jodohin. Umpamanya nanti ketemulah paman si laki-laki dan paman si perempuan, dijodohkanlah anak-anaknya”.

Pada tahun 2005 ayah Dedek meninggal dunia. Sejak saat itu, ia menggantikan posisi sang ayah sebagai tulang punggung keluarga. Ia menafkahi sang ibu dan membantu biaya pendidikan dua orang adik perempuannya, hingga ke jenjang perguruan tinggi. Desakan kepada Dedek untuk segera menikah, sudah sangat sering diutarakan sang ibu, apalagi Dedek telah didahului oleh satu orang adik perempuannya yang menikah dengan sesama orang Pariaman. Desakan segera menikah tersebut, membuat Dedek enggan pulang ke Medan, di mana saat itu, ia ditempatkan di daerah Serdang Bedagai oleh kantor tempatnya bekerja.

Dedek beberapa kali pernah dijodohkan dengan lelaki Minang Pariaman oleh ibunya, namun ia menolak karena tak ingin menikah dengan sesama suku:

“Aku memang berniat nggak milih orang Pariaman, karena orang Pariaman itu ribet (merepotkan). Ntahlah Wi....orang Pariaman ini nanti, udahlah kita yang manjapuik ya kan, terus nanti sampai seminggu itu antar makanan ke sana ke sini, aduh...capek deh. Ntah kapan lagi mau bulan madunya. Sepupu-sepupuku kalau dapat yang berprofesi gitu, Rp. 50 juta nggak kemana Wi. Sementara yang manggaleh (berdagang) aja Rp. 25 juta, apalagi yang berprofesi kan...akhirnya aku nggak mau dijodohkan. Udah 3 (tiga) orang kulihat kan Wi....abang sama kakak-kakakku. Kadang aku fikir ada yang nggak sesuai...memanglah mahar dari si laki-laki, aku bilang dari segi agama sah-sah aja. Pariaman kan memang dibebankan sama perempuan semua masalah pesta itu. Masalahnya awak kemaren tulang punggung, sejak ayah ku meninggal tahun 2005. Pernah waktu aku dijodohkan itu, nggak suka aja aku, dimintanya pula nanti Rp. 50 juta...ih dari mana?. Adalah uang misalnya...biaya kuliah adikku gimana?...jadi aku mikir panjanglah, sempat aku sama orang Pariaman juga....nyarikan uangnya itu Wi”.

Saat peneliti menanyakan pandangan Dedek mengenai proses transmisi, kepada generasi muda Minang dalam upaya pewarisan dan pelestarian nilai-nilai budaya khususnya pada tradisi uang jemputan, Dedek menjelaskan pandangannya sebagaimana kutipan wawancara berikut:

“Aku rasa udah nggak pas lagi, kalau tradisi itu dipakai dalam perkawinan. Mampu kali pihak perempuannya....malah itu yang dijadikan alasan sama keluarga laki-laki, minta banyak pula dia uang jemputannya. Belum pernahlah kulihat...ada yang pengertian soal uang jemputan itu, mesti kali dilaksanakan. Melestarikan adat, kalau memberatkan buat apa iya kan....paling bisalah toleransi kalau mereka itu pacaran, tapi itupun belum tentu disetujui pihak keluarga.

Awakpun malu, dengar orang bilang....ih, perempuan Minang itu kalau kawin laki-lakinya “dibeli” ya. Sempat aku dulu kayak gitu, ih...kurasa hancur kalilah. Awak mau juga berbakti sama orang tua iya kan...tapi mereka mau menang sendiri”.

Berdasarkan pernyataan Dedek di atas, peneliti menanyakan kembali apakah ia akan bersikap yang sama dalam hal perjodohan anak-anaknyanya kelak:

“Iyalah Wik....aku aja nggak setuju uang japuik itu. Kalau anak-anakku nanti, ada yang sama orang Pariaman jodohnya, kalau bisa nggak usah pakai uang japuik, nasional ajalah. Itu tadi alasannya ribet (merepotkan) kali adat Pariaman ini. Aku rasa udah ditinggalkan orangpun adat istiadat japuik itu nantinya....karena udah berkembang pemikiran orang sekarang. Yang wajib itu hukum pernikahan dalam Islam yang dijalankan, nggak wajib ada uang japuik”.

Selanjutnya peneliti menanyakan mengenai penggunaan bahasa daerah serta proses komunikasi tentang tradisi uang jemputan di dalam keluarga:

“Bahasa daerah digunakan di dalam keluarga, mendiang ayahpun diwajibkannya kami berbahasa daerah. Dia memang menanamkan mau tinggal di manapun kalian, bahasa daerah kita jangan pernah ditinggalkan...jadi ngerti awak bahasa Minang itu kan. Mamakku totok (fasih) kali bahasa Minangnya...dari waktu kami udah mulai cocok untuk dikawinkan, mamakku udah menjelaskan tentang uang japuik itu, udah adat kita katanya. Kalau laki-laki dikasi uang japuik itu berarti menghargai dia sebagai menantu ”.

Akhirnya pada tahun 2010, Dedek memilih menikah dengan laki-laki dari suku yang berbeda. Keputusan tersebut sempat tidak disetujui oleh ibu dan sanak

saudaranya. Oleh karena itu, Dedek berusaha memberi pengertian dan melakukan pendekatan kepada ibunya, sebagaimana kutipan wawancara berikut:

“Suamiku ini kawan kuliah abangku, udah dianggap kayak anaklah sama mamak....anak angkat gitu. Pas aku sama suamiku, dia orang Batak....mamakku agak nentang (melarang) juga, wajib orang Pariaman juga mau si mamak. Terakhir sempat bertengkar juga aku sama mamak, kayak mana ya....sampai nangis mamakku. Aku bilang pelan-pelan sama mamakku...aku bukan mau buat mamak nangis, cuma pahamilah kemauan anaknya....sampai kubilang kayak gitu.

Nggak mesti kali orang Pariaman kan Mak?....wajib rupanya?...kalau wajib udah nggak apa-apa, tapi mamak tengok anak mamak, bahagia nggak?...senang mamak, kubilang kayak gitu. Harus kayak gitu kita ngomong baru ngerti”.

Ibu Dedek akhirnya memberi persetujuan untuk menikah dengan laki-laki pilihannya, karena sebelumnya sang ibu telah mengenal kepribadiaan laki-laki tersebut dengan baik. Sikap fanatik sang ibu, mulai berubah menjadi lebih terbuka menerima adik-adiknya berpacaran dengan laki-laki dari suku yang berbeda, asalkan laki-laki tersebut memiliki kepribadian yang baik dan bertanggungjawab sebagai pasangan hidup anak-anaknya kelak.

4.2.7. Informan 7

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 111-117)