• Tidak ada hasil yang ditemukan

Informan 5 (Ita)

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 107-111)

BAB IV. TEMUAN PENELITIAN

4.2. Temuan Penelitian

4.2.5. Informan 5 (Ita)

1. Nama : Yunita Handayani

2. Nama Panggilan : Ita

3. Usia : 20 Tahun

4. Suku Pasangan : Minang Pariaman 5. Pendidikan : SMP

6. Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga

7. Alamat : Jalan Pertiwi Gang Ayahanda Nomor 12/A Medan Denai.

Ita adalah mempelai wanita yang menikah pada tanggal 17 Mei 2015, di mana peneliti menghadiri pesta pernikahannya dalam upaya pencarian informan.

Setelah selesai mengadakan pesta pernikahan, peneliti beberapa kali menemui Ita dan melakukan pendekatan kepadanya sebagai subjek penelitian. Setelah dua bulan menjalani pernikahannya, peneliti akhirnya dapat melakukan wawancara mendalam kepada Ita untuk proses penelitian. Proses wawancara tersebut dilakukan di rumah Ita pada tanggal 04 Juli 2015.

Suami Ita bernama April Mandani, seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan status duda tanpa anak yang bekerja sebagai penjahit sepatu. Istrinya meninggal sekitar 1 (satu) tahun yang lalu karena suatu penyakit. Mandani adalah teman abang Ita yang sering berkunjung ke rumah orang tua mereka. Orang tua Ita telah menganggap Mandani seperti anaknya sendiri. Melihat budi pekerti Mandani yang baik dan sopan, ibunya berkeinginan menjadikan Mandani sebagai menantu.

Padahal saat itu, Ita sedang berpacaran dengan laki-laki lain yang juga sesama

orang Minang Pariaman. Pada awalnya Ita merasa terpaksa dijodohkan dan sempat berselisih paham dengan ibunya, karena telah memiliki kekasih atas pilihannya sendiri.

Ternyata Mandani juga memiliki ketertarikan kepada Ita, sehingga Mandanipun melakukan pendekatan kepadanya. Mengetahui kedekatan mereka, ibu Ita yang sangat menyetujui kedekatan tersebut, akhirnya memutuskan datang bersama mamak (paman) Ita, untuk mengunjungi rumah keluarga Mandani dengan maksud meminangnya sebagai menantu. Pertemuan kedua keluarga tersebut membuahkan kesepakatan bahwa Mandani dijemput dengan sejumlah uang jemputan oleh keluarganya. Akhirnya Ita menerima untuk dinikahkan dengan Mandani, karena melihat kebaikan dan keseriusan Mandani kepadanya.

Ita yang hanya berpendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) ini, awalnya menolak untuk menjadi informan penelitian, karena malu dan takut untuk ditanya-tanya. Dengan melakukan pendekatan yang lebih dalam dan atas bantuan Informan 1 (Dian), akhirnya Ita bersedia menjadi informan penelitian.

Selama proses wawancara, Ita masih tetap terlihat malu-malu menjawab pertanyaan peneliti. Ketika peneliti menanyakan pandangannya mengenai unsur agama dan kepercayaan yang terkandung dalam tradisi uang jemputan, ia menuturkan sebagai berikut:

“Ya...kayak mana ya...kalau menurut awak, salah juga sebenarnya.

Suku lain itu....laki-laki yang melamar, orang Minang kok perempuan pula. Kalau dari segi agamanya....ntah lah nggak tau juga awak Kak”.

Ita juga mengemukakan pandangannya mengenai nilai-nilai dalam tradisi uang jemputan, sebagai upaya selektifnya keluarga dalam mencarikan jodoh yang baik untuk anaknya, sebagaimana penuturannya berikut ini:

“Awalnya awak nggak mau....udah duda pun abang itu. Kalau mamak mau menantunya orang Minang juga, karena lebih ngerti kita kalau adatnya sama katanya. Cowok awak dulu orang Minang juga....tapi menurut mamak, suami awak ini lebih baik dia orangnya. Lingkungan tempat tinggal awak memang banyak orang Minang Kak, makanya awak dapat cowokpun orang Minang juga yang dulu itu”.

Ketika peneliti menanyakan, apakah Ita terpaksa dinikahkan dengan sejumlah uang jemputan, kepada laki-laki yang berstatus duda tanpa anak, ia menuturkan sebagai berikut:

“Enggak tau juga lah Kak...awak tenggok baik dia orangnya, mudah-mudahan sampai selamanya. Kalau uang jemputan itu kan keluarga awaknya yang ngasi. Nggak ngerti juga awak...katanya memang udah adat”.

Ita mengatakan sebelum menikah, ia tidak memahami makna tradisi uang jemputan. Orang tuanya tidak pernah menjelaskan makna tradisi tersebut kepadanya. Akhirnya setelah menikah, ia diterpa oleh tradisi uang jemputan dan memahami bahwa tradisi tersebut merupakan adat yang sudah menjadi syarat perkawinan, seperti penuturannya berikut ini:

“Ya..itu pula adatnya, udah syaratnya pula kayak gitu. Sebenarnya awak nggak ngerti-ngerti juga, mamak nggak pernah cerita-cerita sama kami, tapi banyak keluarga awak kayak gitu kalau nikah, katanya tradisi kita udah memang kayak gitu”.

Sikap Ita dalam memahami tradisi uang jemputan dan menerima

menjalankan tradisi uang jemputan sebagai upaya mengkekalkan adat. Sementara itu, ketika peneliti menanyakan mengenai penggunaan bahasa daerah dalam keluarga, Ita menuturkan sebagaimana kutipan wawancara berikut:

“Mamak sama ayah...bahasa Minang aja di rumah Kak, awak enggak lancar kali ngomongnya, tapi kalau dengar orang ngomong...awak tau artinya”.

Ita memiliki referensi mengenai tradisi uang jemputan yang bersumber dari pengalaman kerabatnya yang sering ia saksikan di Kota Medan. Ita mengakui orang tuanya jarang sekali membawanya pulang kampung, sehingga ia tidak memiliki pemahaman tentang pelaksanaan tradisi tersebut di kampung halaman orang tuanya:

“Jaranglah Kak....mamak sama ayah kalau pulang kampung sering berdua aja, hemat ongkos mungkin. Ada sesekali bawa kami...kalau pas ada rezekinya pulang pas lebaran. Awak tengok di sininya, kalau saudara-saudara awak...banyak yang nikah pakai uang jemputan itu.

Kadang awak tanya juga berapa uang jemputannya, Rp. 10 juta...katanya. Ya Allah...banyaknya, awak bilang juga sama cowok awak yang dulu, bang....jangan minta uang banyak-banyak nanti ya, nggak sanggup keluarga awak. Eh...rupanya nggak jadi juga sama dia”.

Ia mengakui tidak pernah mendapatkan penjelasan langsung dari orang tuanya mengenai makna tradisi uang jemputan. Ita berkeyakinan bahwa pilihan orang tua merupakan pilihan yang terbaik:

“Awak tengokkan, mamak suka dia sama abang (suaminya)...katanya bagus itu orangnya. Akhirnya awak ikut pilihan orang tua aja Kak...mungkin ini yang terbaik. Padahal dulu awak tentang (bantah) juga mamak itu, masak sama duda dikawinkan awak. Kata mamak....abang itu dulu ada juga yang mau sama dia, jadi mamak ngasi aja uang jemputan yang diminta keluarga abang. Ada orang lain juga mau menjadikan abang ini menantu, berarti nggak salah mamak katanya...lihat dia itu baik orangnya”.

Keputusan orang tua Ita untuk meminang Mandani, dikarenakan penilaian terhadap Mandani sebagai calon menantu yang baik dan layak diberi uang jemputan. Peneliti menanyakan pandangan Ita, terhadap proses transmisi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan dalam upaya pewarisan budaya kepada generasi muda Minang mendatang, ia menuturkan sebagaimana kutipan berikut:

“Nggak usahlah ada lagi ngasi uang jemputan itu...karena kadang-kadang orang tua maksa anaknya. Iya...kalau dapat jodoh yang betul-betul baik, tapi kalau nggak....kasihan anaknya. Mudah-mudahan suami awak ini, sampai selamanya tetap baiklah dia”.

Ita berpandangan bahwa tradisi uang jemputan sudah tidak lagi sesuai, bila dilaksanakan dalam perjodohan generasi muda Minang. Peranan orang tua yang memaksakan perjodohan, dipandang merugikan bagi masa depan sang anak, apabila laki-laki yang dijodohkan tersebut ternyata tidak baik.

4.2.6. Informan 6

Dalam dokumen TESIS. Oleh: DEWI SUSANTI (Halaman 107-111)