BAB V. PEMBAHASAN
5.1.2. Sistem Lambang (Verbal/Non verbal)
Percakapan verbal antara keluarga dan informan dalam penyampaian pesan tentang perjodohan dengan tradisi uang jemputan, tidak dapat dideskripsikan secara langsung. Hal ini dikarenakan fokus penelitian tidak pada proses penyampaian pesan verbal tersebut, melainkan hanya pada respon (sikap) informan atas pesan verbal tentang perjodohan yang pernah diterima oleh informan, hingga akhirnya mempengaruhi keputusannya dalam menerima atau menolak perjodohan tersebut. Sistem lambang (verbal/non verbal) yang mempengaruhi cara pandang (sikap afektif) informan, dapat dilihat pada komunikasi yang terjadi dalam keluarga informan mengenai perjodohan, yang akan diuraikan melalui tabel 5.3 berikut:
Tabel 5.3. Klasifikasi temuan penelitian
berdasarkan sikap informan yang dipengaruhi oleh pesan verbal/non verbal dalam komunikasi keluarga tentang perjodohan
Informan Sistem lambang
tentang uang japuik Menolak perjodohan
Nur Sang calon memiliki
Proses komunikasi yang terjadi, melalui percakapan keluarga tentang perjodohan, disampaikan melalui pesan verbal (lisan). Pada umumnya pihak keluarga menjodohkan informan dengan mempertimbangkan kemapanan sang calon, yang telah memiliki pekerjaan tetap, sehingga dianggap mampu memberi nafkah pada keluarganya kelak. Proses komunikasi tersebut dapat terjadi, dalam bentuk komunikasi interpersonal, yaitu antara orang tua dan informan, maupun dalam bentuk komunikasi kelompok kecil, disamping melibatkan orang tua dan informan, juga melibatkan mamak (paman).
Dalam hal ini, keluarga (orang tua atau mamak/paman) dan informan, bertindak secara interaktif dan dua arah serta berganti peran sebagai komunikator dan komunikan dalam merespon pesan tentang perjodohan tersebut. Sementara itu perjodohan kepada laki-laki Pariaman (sang calon) dengan pemberian sejumlah uang jemputan, merupakan satu kesatuan isi pesan yang akan ditafsirkan oleh informan, kemudian membentuk cara pandangnya (persepsinya), hingga akhirnya kepada sikap menerima atau menolak pesan tersebut.
Sebagaiman telah dipaparkan pada tabel 5.3 di atas, untuk mempermudah uraian pada pembahasan tentang cara pandang (sikap afektif dan behavioral) yang dipengaruhi oleh pesan verbal/non verbal (sistem lambang) tersebut, akan dijelaskan dengan merujuk pada model komunikasi ABX. Menurut Mulyana (dalam Djamarah, 2004: 38-39), Model ABX dikemukakan oleh Newcomb dari perspektif psikologi-sosial. Model ini menggambarkan bahwa seseorang (A) menyampaikan informasi (pesan) kepada seseorang lainnya (B), mengenai sesuatu (X). Model ini mengasumsikan bahwa orientasi sikap (A) terhadap (B) dan terhadap (X) saling bergantung, dan ketiganya merupakan suatu sistem yang
terdiri dari empat orientasi, yaitu 1). Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap terhadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif); 2). Orientasi A terhadap B; 3). Orientasi B terhadap X; dan 4). Orientasi B terhadap A. Selanjutnya model ini dapat dijelaskan melalui gambar 5.1 berikut:
X
A B
Gambar 5.1 : Model komunikasi ABX (Mulyana dalam Djamarah, 2004: 40).
Bila A dan B mempunyai sikap positif terhadap satu sama lain dan terhadap X (orang, gagasan atau benda), hubungan itu merupakan simetri. Bila A dan B saling membenci, dan salah satu menyukai X, sedangkan yang lainnya tidak, hubungan itu juga merupakan simetri. Akan tetapi, bila A dan B saling menyukai, namun mereka tidak sependapat mengenai X atau bila mereka saling membenci, namun sependapat mengenai X, maka hubungan mereka bukan simetri (Mulyana dalam Djamarah, 2004: 39-41).
Berdasarkan temuan penelitian yang telah diuraikan pada tabel 5.3 di atas, model ABX pada proses penyampaian pesan perjodohan dalam komunikasi keluarga masing-masing informan yang membentuk cara pandang (sikap afektif dan behavioral) informan, akan dibahas satu per satu sebagai berikut:
1. Komunikasi keluarga Dian.
Proses penyampaian pesan melalui komunikasi keluarga Dian tentang perjodohan kepada laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ + = Hubungan Simetri
Keluarga + Dian
Gambar 5.2 : Model ABX pada komunikasi keluarga Dian.
Keluarga Dian memiliki sikap positif terhadap tradisi uang jemputan, sehingga berkeinginan menjodohkan Dian dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dalam upaya pelestarian adat istiadat. Keluarga dalam hal ini orang tua Dian, mengkomunikasikan keinginan perjodohan Dian dengan laki-laki Pariaman yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka.
Pesan verbal tersebut kemudian dipertimbangkan Dian, sebagai suatu pilihan untuk keputusan pemilihan jodohnya, karena pernah gagal membina hubungan dengan laki-laki dari suku yang berbeda. Hubungan yang positif antara orang tua dan Dian, membuat pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi tersebut bersifat persuasif, di mana Dian diberikan kesempatan untuk mengenali lebih dalam calon jodohnya tersebut. Sebagaimana disebutkan oleh Cangara (2011:
118), bahwa penyusunan pesan yang bersifat persuasif, memiliki tujuan untuk mengubah persepsi, sikap dan pendapat.
Dian yang telah mengenali kepribadian sang calon sebelumnya, mengabaikan persepsi negatifnya tentang tradisi uang jemputan. Ia akhirnya menerima perjodohan tersebut, karena melihat kepribadian yang baik sang calon pendamping hidupnya kelak sebagai pesan non verbal yang ia tafsirkan terhadap pesan perjodohan dirinya dengan sang calon. Pesan non verbal tersebut mempengaruhi tindakan (behavioral) sebagai wujud dari sikap Dian, yang terlihat pada keputusan pemilihan jodohnya, di mana ia akhirnya menerima perjodohan keluarga dan menjalani tradisi uang jemputan. Persepsi negatif Dian juga berubah menjadi persepsi yang positif terhadap tradisi uang jemputan. Proses komunikasi keluarga tersebut menciptakan hubungan yang simetri antara keluarga dan Dian.
2. Komunikasi Keluarga Leni.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Leni tentang perjodohan kepada laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ +/- = Hubungan Asimetri
Keluarga + Leni
Gambar 5.3 : Model ABX pada komunikasi keluarga Leni.
Keluarga Leni memiliki sikap positif terhadap tradisi uang jemputan, sehingga berkeinginan menjodohkannya dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman, di usia Leni yang telah layak untuk dinikahkan. Keluarga
dalam hal ini orang tua dibantu oleh mamak (paman) Leni, mengkomunikasikan keinginan perjodohan Leni dengan laki-laki Pariaman yang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga mereka. Pesan verbal tersebut kemudian dipertimbangkan Leni, sebagai suatu pilihan untuk keputusan pemilihan jodoh baginya, di mana ia tidak memiliki calon atas pilihannya sendiri.
Hubungan yang positif antara keluarga dan Leni, membuat penyampaian pesan perjodohan tersebut dilakukan dengan cara persuasi, di mana Leni juga melewati masa pendekatan lebih dalam dengan sang calon jodoh. Setelah melewati masa perkenalan, Leni melihat kepribadian yang baik dari sang calon jodohnya, sebagai pesan non verbal yang ditafsirkan Leni terhadap perjodohan tersebut. Hal ini membuatnya mengabaikan persepsi negatif tentang tradisi uang jemputan dan akhirnya menerima perjodohan.
Tindakan (behavioral) sebagai wujud sikap Leni, terlihat pada keputusannya yang menerima perjodohan tersebut (pada gambar dengan tanda positif/+), namun tidak sependapat dengan adanya pelaksanaan tradisi uang jemputan pada pernikahannya (pada gambar dengan tanda negatif/-). Ia tetap pada persepsi negatif bahwa tradisi tersebut memberatkan pihak keluarganya. Leni bersikap pasrah menerima keputusan orang tuanya dalam memenuhi permintaan keluarga calon suaminya, dengan memberi sejumlah uang jemputan. Proses komunikasi tersebut menciptakan hubungan yang tidak simetris (asimetris) pada keluarga Leni, karena sebenarnya ada perbedaan pendapat antara Leni dan keluarga dalam komunikasi yang dilakukan.
3. Komunikasi keluarga Rina.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Rina tentang perjodohan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ -/+ = Hubungan Asimetri
Keluarga + Rina
Gambar 5.4 : Model ABX pada komunikasi keluarga Rina.
Keluarga Rina melalui peranan mamak (paman), mengkomunikasikan keinginan menjodohkan Rina dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman. Sikap positif keluarga terhadap tradisi uang jemputan, terlihat pada
pilihan jodoh yang ditawarkan kepada Rina adalah laki-laki dari sesama suku.
Hubungan yang positif antara keluarga dan Rina, membuat penyampaian pesan perjodohan tersebut dilakukan dengan cara persuasi, di mana Rina juga diberi kebebasan menentukan sikapnya sendiri tanpa adanya paksaan keluarga.
Meskipun memiliki persepsi positif tentang tradisi uang jemputan (pada gambar dengan tanda positif/+), Rina bersikap menolak perjodohan (pada gambar dengan tanda negatif/-). Alasan penolak tersebut, karena stigma negatif Rina tentang sosok laki-laki Pariaman, yang memiliki kebiasaan duduk di warung kopi sebagai kebiasaan seorang pemalas. Hal tersebut merupakan pesan non verbal yang ditafsikannya sehingga membentuk sikapnya. Penolakan terhadap pesan
perjodohan tersebut menggambarkan hubungan tidak simetris (asimetris) antara Rina dan keluarganya.
4. Komunikasi keluarga Netty.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Netty tentang perjodohan kepada laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dengan tradisi uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ + = Hubungan Simetri
Keluarga + Netty
Gambar 5.5 : Model ABX pada komunikasi keluarga Netty.
Keluarga Netty memiliki sikap positif terhadap tradisi uang jemputan, sehingga berkeinginan menjodohkan Netty dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dalam upaya melestarikan adat istiadat. Keluarga dalam hal ini orang tua Netty, mengkomunikasikan keinginan perjodohan tersebut kepadanya.
Hubungan yang positif antara Netty dan orang tuanya, membuat pesan yang disampaikan dalam proses komunikasi tersebut bersifat persuasif, di mana ia diberikan kesempatan untuk mengenali lebih dalam, calon jodohnya tersebut.
Sebagaimana disebutkan oleh Cangara (2011: 118), bahwa penyusunan pesan yang bersifat persuasif, memiliki tujuan untuk mengubah persepsi, sikap dan pendapat.
Dari proses perkenalan tersebut, Netty akhirnya menerima perjodohan, karena melihat kepribadian yang baik dari sang calon, sebagai pendamping hidupnya kelak. Melihat kepribadian yang baik dari sang calon merupakan pesan non verbal (tidak dibahasakan), yang ditafsirkan Netty terhadap pesan dalam komunikasi yang dilakukan, sehingga mempengaruhi tindakan (behavioral) sebagai wujud dari sikap Netty, dalam menerima perjodohan keluarga tersebut.
Persepsi negatif Netty juga berubah menjadi persepsi yang positif terhadap tradisi uang jemputan, setelah menjalaninya. Proses komunikasi keluarga tersebut menciptakan hubungan yang simetri antara Netty dengan keluarganya.
5. Komunikasi keluarga Ita.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Ita tentang perjodohan kepada laki-laki Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ +/- = Hubungan Asimetri
Keluarga - Ita
Gambar 5.6 : Model ABX pada komunikasi keluarga Ita.
Keluarga Ita memiliki sikap positif terhadap tradisi uang jemputan, sehingga berkeinginan menjodohkan Ita dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman sebagai wujud pelestarian adat. Keluarga dalam hal ini orang tua Ita, mengkomunikasikan keinginan perjodohan tersebut kepadanya. Hubungan
yang sempat terlibat konflik antara Ita dan orang tuanya, membuat penyampaian pesan perjodohan tersebut sedikit memaksakan kehendak orang tua.
Ita sebelumnya telah memiliki calon atas pilihannya sendiri, namun orang tuanya memiliki pilihan jodoh sendiri untuk dinikahkan kepada Ita. Meskipun demikian, calon pilihan orang tua yang sebenarnya telah dikenali Ita sebagai teman abang kandungnya, diketahui Ita memiliki kepribadian yang baik. Oleh karena sikap patuh terhadap orang tua, membuat Ita akhirnya mengabaikan persepsi negatifnya tentang tradisi uang jemputan dan menerima perjodohan.
Alasan kepatuhan terhadap orang tua dan keyakinan bahwa sang calon tersebut adalah orang yang baik, merupakan pesan non verbal (yang tidak dibahasakan), yang tafsirkan Ita terhadap isi pesan perjodohan, sehingga mempengaruhi sikapnya.
Tindakan (behavioral) sebagai wujud sikap Ita, terlihat pada keputusannya dalam menerima perjodohan tersebut (pada gambar dengan tanda positif/+), namun tidak sependapat dengan adanya pelaksanaan tradisi uang jemputan pada pernikahannya (pada gambar dengan tanda negatif/-). Ia tetap pada persepsi negatif bahwa tradisi tersebut memberatkan pihak keluarga perempuan. Ita bersikap pasrah menerima keputusan orang tuanya yang tetap memenuhi permintaan keluarga calon suaminya, dalam memberi sejumlah uang jemputan.
Proses komunikasi tersebut menciptakan hubungan yang tidak simetris (asimetris) pada keluarga Ita, karena sebenarnya ada perbedaan pendapat antara Ita dan keluarganya.
6. Komunikasi keluarga Dedek.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Dedek tentang perjodohan kepada laki-laki Pariaman dengan pemberian uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ - = Hubungan Asimetri
Keluarga - Dedek
Gambar 5.7 : Model ABX pada komunikasi keluarga Dedek.
Orang tua Dedek mengkomunikasikan keinginannya menjodohkan Dedek dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dengan sejumlah uang jemputan sebagai syarat perkawinan. Sikap positif keluarga terhadap tradisi uang jemputan, terlihat pada pilihan jodoh yang ditawarkan kepada Dedek adalah laki-laki dari sesama suku. Hubungannya dengan orang tua, sempat terlibat konflik, karena Dedek menolak perjodohan tersebut. Sikapnya menolak perjodohan, karena dipengaruhi oleh persepsi negatifnya tentang prosesi tradisi uang jemputan, sebagai prosesi yang ribet (merepotkan) dan memberatkan pihak perempuan, sebagai pesan non verbal yang ia tafsirkan tentang tradisi tersebut.
Respon (sikap) Dedek dipengaruhi oleh pesan non verbal, yang ia tafsirkan terhadap pesan perjodohan tersebut, sehingga melahirkan tindakan (behavioral) berupa penolakan. Hal tersebut membuat hubungan yang tidak simetris (asimetris) dalam proses komunikasi antara Dedek dengan keluarganya.
7. Komunikasi keluarga Nur.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Nur tentang perjodohan kepada laki-laki Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ + = Hubungan Simetri
Keluarga + Nur
Gambar 5.8 : Model ABX pada komunikasi keluarga Nur.
Keluarga Nur memiliki sikap positif terhadap tradisi uang jemputan, sehingga berkeinginan menjodohkan Nur dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman, sehingga akan melestarikan adat istiadat sukunya. Orang tuanya mengkomunikasikan keinginan perjodohan tersebut kepada Nur.
Hubungan yang positif antara Nur dan orang tua, membuat ia akhirnya menerima perjodohan tersebut. Karena melihat kepribadian yang baik dari sang calon, sebagai pendamping hidupnya kelak, membuat Nur menerima perjodohan. Alasan tersebut adalah respon (sikap) Nur yang dipengaruhi pesan non verbal (yang tidak dibahasakan) dalam komunikasi tentang perjodohan yang dilakukan oleh keluarganya. Tindakan (behavioral) sebagai wujud dari sikap Nur, terlihat pada keputusannya, ketika menerima perjodohan keluarga dan menjalani tradisi uang jemputan. Proses komunikasi keluarga tersebut menciptakan hubungan yang simetri antara keluarga dan Nur.
8. Komunikasi keluarga Shanti.
Proses penyampaian pesan dalam komunikasi keluarga Shanti tentang perjodohan kepada laki-laki Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan, dapat digambarkan sebagai berikut:
Pesan tentang perjodohan
+ +/- = Hubungan Asimetri
Keluarga + Shanti
Gambar 5.9 : Model ABX pada komunikasi keluarga Shanti.
Keluarga dalam hal ini orang tua dibantu oleh mamak (paman), mengkomunikasikan keinginan untuk menjodohkan Shanti dengan laki-laki dari sesama suku Minang Pariaman dengan pemberian sejumlah uang jemputan. Sikap positif keluarga Shanti terhadap tradisi uang jemputan, terlihat pada pilihan jodoh yang ditawarkan kepadanya adalah laki-laki dari sesama suku. Hubungan positif Shanti dengan orang tuanya, membuat ia menerima perjodohan tersebut dengan alasan ingin mematuhi keputusan kedua orangtuanya tersebut.
Meskipun sebenarnya memiliki persepsi negatif tentang tradisi uang jemputan serta belum mengenal kepribadian sang calon jodoh dengan baik (pada gambar dengan tanda negatif/-), Shanti akhirnya mau menjalani perjodohan tersebut (pada gambar dengan tanda positif/+), sesuai keinginan orang tuanya.
Namun akhirnya perjodohan tersebut dibatalkan, dengan alasan tidak adanya keseriusan sang calon untuk menjalani rencana pernikahan. Sikap Shanti
dipengaruhi oleh pesan non verbal (tidak dibahasakan) yang ia tafsirkan terhadap pesan perjodohan tersebut, bahwa orang tua juga bisa tidak selektif dalam memilihkan jodoh untuk anaknya. Hubungan Shanti dan keluarganya berada pada hubungan yang tidak simetris (asimetris), karena sebenarnya memiliki perbedaan pendapat tentang isi pesan perjodohan tersebut.
Selanjutnya akan dibahas mengenai keterkaitan pemahaman berbahasa Minang dengan pemahaman budaya oleh informan, sebagaimana Haviland (dalam Sihabuddin, 2013: 66), menyebutkan bahasa adalah suatu sistem bunyi, yang digabungkan menurut aturan tertentu menimbulkan arti yang dapat ditangkap oleh semua orang yang berbicara dalam bahasa tersebut. Bahasa sebagai peta realitas budaya yang tidak dapat dialihkan secara sempurna ke dalam suatu bahasa lain.
Bahasa sebagai wujud penyampaian pesan mempengaruhi persepsi, menyalurkan dan turut membentuk pikiran.
Ditemukan bahwa pada umumnya para informan sebagai perempuan Minang Pariaman yang lahir dan besar di Kota Medan, tidak terlalu mahir berbahasa Minang. Peranan bahasa Minang sebagai identitas suku yang harus dipelajari oleh para informan sebagai generasi muda suku Minang, tidak berperan pada pemahaman mereka tentang budaya Minang, khususnya tradisi uang jemputan (Leni, Rina, Ita, Dedek dan Shanti). Sebagaimana disebutkan oleh nara sumber, prof. Chalida Fachruddin yang juga menjabat sebagai Ketua Dewan Pakar pada Persatuan Keluarga Daerah Pariaman (PKDP) Provinsi Sumatera Utara sekaligus sebagai seorang Antropolog dalam wawancara bersama peneliti, sebagai berikut:
“Sangat perlu saya rasa bahasa Minang diajarkan dalam keluarga, tapi
suku asalnya ketika dia bisa berbahasa daerah. Karena ada dalam beberapa tradisi yang tidak bisa dijelaskan dengan bahasa Indonesia, misalnya petatah petitih...harus paham kita bahasa daerah kita itu.
Sayangnya orang tua dahulu...kalau marah-marah saja baru berbahasa Minang. Saya paham bahasa daerah karena saya kuliah jurusan Antropologi, jadi saya juga mempelajari bahasa daerah saya. Pada umumnya di daerah perantauan, orang Minang yang tidak dominan budayanya, bahasa sehari-harinya adalah bahasa Indonesia. Keluarga Minang di dalam dan di luar rumah, berbahasa Indonesia saja...sehingga pemahaman nilai-nilai budaya Minang menjadi kurang bahkan tidak ada, apalagi tradisi uang jemputan yang bertolak belakang dengan tradisi sekitarnya. Akhirnya pemahaman generasi muda di rantau menjadi kabur. Tidak adanya pemahaman nilai budaya Minang yang lebih mudah transmisinya selain melalui bahasa daerah, sehingga generasi muda memahami tradisi uang jemputan itu.”.
Pernyataan nara sumber di atas, juga dikuatkan oleh nara sumber lainnya yaitu Bapak H.M. Ridwan dalam penuturannya berikut:
“Penggunaan bahasa daerah sekarang ini, sudah jarang dibiasakan di rumah keluarga Minang. Perbauran generasi muda Minang dengan suku-suku lainnya membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam komunikasi keluarga, bahkan bahasa asing lebih disukai dari pada bahasa daerah asalnya.
Generasi muda Minang lebih banyak hanya mampu memahami sedikit saja bahasa Minang. Saya di rumah ini pake juga bahasa Minang itu, kalau bicara sama istri, sama keluarga dari kampung. Kalau ”.
Sementara itu hanya 3 (tiga) informan, yaitu Dian, Netty dan Nur yang memahamami dan mahir berbahasa Minang. Hal ini juga mempengaruhi pemahaman dan persepsi mereka tentang tradisi uang jemputan.
5.1.3. Organisasi sosial.
Pada umumnya keluarga informan tidak berperan dalam proses enkulturasi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan (Dian, Leni, Netty, Ita, Nur dan Shanti). Lima dari enam informan tersebut, juga tidak memiliki kedekatan dengan daerah asal (kampung halaman), karena kebiasaan pulang kampung hanya tradisi di waktu kecil saja, sehingga mereka tidak memiliki banyak referensi tentang tradisi uang jemputan dan melahirkan persepsi negatif
tentang tradisi tersebut. Hanya informan Nur yang memiliki kedekatan dengan kampung halaman, karena kebiasaan pulang kampung dan keaktifannya dalam organisasi kesukuan, sehingga meskipun makna tradisi tersebut, tidak secara khusus dikomunikasikan oleh keluarga, Nur memiliki persepsi yang positif.
Sementara itu, dua informan lainnya yaitu Rina dan Dedek, memperoleh pemahaman tentang tradisi uang jemputan melalui proses enkulturasi yang diperankan oleh keluarga. Namun hanya Rina yang memahami nilai-nilai positif tradisi tersebut. Pemahamannya didukung oleh pengalamannya tinggal selama + 5 tahun di Pariaman dan sering menyaksikan tradisi uang jemputan, dilaksanakan pada pernikahan kerabatnya. Sementara itu Dedek jarang pulang kampung dan lebih sering menyaksikan pelaksanaan tradisi uang hilang pada pernikahan kerabatnya, di mana tidak adanya pengetahuan Dedek, mengenai pengembalian terhadap pemberian uang jemputan (panibo). Tidak adanya pemahaman tentang panibo tersebut, melahirkan persepsi negatif Dedek bahwa tradisi uang jemputan hanya memberatkan satu pihak saja, yaitu pihak keluarga perempuan. Referensi Dedek tentang tradisi uang jemputan sebenarnya adalah pelaksanaan tradisi uang hilang.
Sebagaimana disebutkan bahwa keluarga merupakan transmitor utama pengetahuan, nilai, perilaku, peranan dan kebiasaan dari generasi ke generasi.
Melalui kata dan contoh, keluarga membentuk kepribadian seorang anak dan menanamkan pola fikir dan cara bertingkah laku, sehingga menjadi suatu kebiasaan (DeGenova dan Rice dalam Samovar, et al., 2010: 65). Secara khusus temuan ini mendukung hasil penelitian Usman Pelly pada tahun 1980-an, yang menyebutkan bahwa pengetahuan anak-anak muda Minang mengenai adat,
terbatas pada cerita-cerita lisan atau upacara-upacara dengan keluarga dan tetangga, karena mereka dibesarkan dalam daerah rantau, mereka tidak memiliki ikatan perasaan yang kuat dengan rumah nenek moyang mereka dan orang tua (Pelly, 2013: 312).
Sebelum membahas tentang perubahan sikap informan setelah menikah (menjalani atau tidak menjalani tradisi uang jemputan), terlebih dahulu akan dibahas mengenai pola komunikasi keluarga, dalam memprakarsai perjodohan dengan tradisi uang jemputan yang pada akhirnya menerpa para informan. Ketika informan telah memasuki usia yang layak untuk menikah, keluarga akan berperan dalam perjodohannya. Pola komunikasi nilai-nilai budaya pada tradisi uang jemputan yang diterapkan melalui perjodohan tersebut, akan dipersepsikan oleh informan dalam sikap menerima atau menolak perjodohan.
Ditemukan bahwa orang tua seluruh informan mulai merasa resah, akan memiliki gadis gadang indak balaki, ketika anak gadisnya sudah memasuki usia di atas 18 tahun, sehingga berusaha mencarikan jodoh (Dian, Leni, Rina, Netty, Ita, Dedek, Nur dan Shanti), sebagaimana disampaikan Sjarifoedin (2011: 471) bahwa gadis gadang indak balaki (gadis dewasa namun belum menikah) di Pariaman, merupakan aib bagi keluarga. Kondisi ini membuat pihak keluarga perempuan yang terdiri dari ibu-bapak, mamak/paman dan ninik mamak dari pihak ibu, berusaha sekuat tenaga untuk mencarikan suami bagi anak kemenakannya, bahkan bersedia untuk membayar kepada pihak calon mempelai laki-laki. Terkadang jumlah uang jemputan yang diminta, tidak masuk akal sehingga membebani pihak perempuan.
Selanjutnya pola komunikasi keluarga akan dibahas, dengan merujuk
Selanjutnya pola komunikasi keluarga akan dibahas, dengan merujuk