• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ritme sirkadian pada mahasiswa dengan pola tidur tidak normal.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Ritme sirkadian pada mahasiswa dengan pola tidur tidak normal."

Copied!
104
0
0

Teks penuh

(1)

ABSTRAK

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

STUDI KASUS Viktor Bayu Wisnu Brata Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keseharian dan aktivitas mahasiswa yang memiliki pola tidur yang tidak normal. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana sebab dan akibat mahasiswa yang memiliki pola tidur tidak normal khususnya di kota Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan studi kasus. Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus. Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada suatu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara secara mendalam yang didukung oleh observasi. Analisis data yang dilakukan dibantu oleh proses reduksi data dan pengkodean. Untuk mengukur validitas penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi dimana peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak terkait dengan subjek.

(2)

ABSTRACT

CIRCADIAN RHYTHM AT UNIVERSITY STUDENTS WITH ABNORMAL SLEEP PATTERN

A CASE STUDY Viktor Bayu Wisnu Brata Sanata Dharma University

2016

This research was aimed to discover the daily life and daily activities of university students who had abnormal sleep pattern. This research discussed the causes and results of university students who had abnormal sleep pattern especially in Yogyakarta.

This research was a case study. This research was a qualitative descriptive research. Qualitative descriptive research was a research using a case study method or approach. This research focused intensively on certain subjects that were studied as a case. The methods used in this research were interviews supported by deep observations. The data were analyzed using data reduction and encoding process. To measure the validity of this research, the researcher used triangulation technique in which the researcher conducted interviews with related parties and subjects.

(3)

i

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

(Studi Kasus)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Program Studi Bimbingan dan Konseling

Oleh:

Viktor Bayu Wisnu Brata NIM: 101114056

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SANATA DHARMA

(4)

ii SKRIPSI

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

Oleh:

Viktor Bayu Wisnu Brata NIM: 101114056

Telah disetujui oleh:

Pembimbing,

(5)

iii SKRIPSI

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

(Studi Kasus)

Dipersiapkan dan ditulis oleh:

Viktor Bayu Wisnu Brata NIM: 101114056

Telah dipertahankan di hadapan sidang Panitia Penguji Pada tanggal 13 Juli 2016

dan dinyatakan telah memenuhi syarat

Susunan Panitia Penguji

Nama Lengkap TandaTangan

Ketua : Dr. Gendon Barus, M.Si ...

Sekretaris : Juster Donal Sinaga, M.Pd ...

Anggota : Dr. Gendon Barus, M.Si …...

Anggota : Drs. R. Budi Sarwono, M.A ...

Anggota : Dra. M. J. Retno Priyani, M.Si ...

Yogyakarta, 15 Juli 2016

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Dekan,

(6)

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

“Mari kita belajar untuk beriman bahwa dibalik semua penderitaan dan kegagalan yang kita hadapi, Tuhan sudah menyiapkan sesuatu yang baik bagi hidup kita dan DIA akan memberikannya pada waktu yang tepat menurut-NYA”

“Setiap masalah menyimpan sisi positif yang belum

terungkapkan” ( Yeremia 29 : 11)

“Mudah untuk percaya kepada TUHAN jika kita melihat apa yang tampak dengan mata jasmani dan memperoleh berkat-berkat materi, tetapi hidup oleh iman yaitu tetap percaya bahwa TUHAN mampu menggenapi rencana – rencana-NYA dalam hidup kita di luar batas ruang dan waktu. Tenang di tengah tekanan dan yakin saat dikelilingi

oleh ketidakpastian bahkan ketika putus harapan.”

Skripsi ini kupersembahkan kepada : Tuhan Yesus Kristus dan Bunda Maria

(7)

v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka sebagaimana layaknya karya ilmiah.

Yogyakarta, 15 Juli 2016

Penulis,

(8)

vi

LEMBAR PERSETUJUAN

PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma:

Nama : Viktor Bayu Wisnu Brata

NIM : 101114056

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul:

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

Dengan demikian saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data, mendistribusikan secara terbatas, dan mempublikasikan di internet maupun media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta ijin dari saya maupun memberikan royalty kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis.

Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya.

Yogyakarta, 15 Juli 2016

Yang menyatakan

(9)

vii ABSTRAK

RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL

STUDI KASUS Viktor Bayu Wisnu Brata Universitas Sanata Dharma

2016

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keseharian dan aktivitas mahasiswa yang memiliki pola tidur yang tidak normal. Penelitian ini membahas mengenai bagaimana sebab dan akibat mahasiswa yang memiliki pola tidur tidak normal khususnya di kota Yogyakarta.

Penelitian ini menggunakan studi kasus. Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus. Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada suatu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara secara mendalam yang didukung oleh observasi. Analisis data yang dilakukan dibantu oleh proses reduksi data dan pengkodean. Untuk mengukur validitas penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi dimana peneliti melakukan wawancara dengan beberapa pihak terkait dengan subjek.

(10)

viii ABSTRACT

CIRCADIAN RHYTHM AT UNIVERSITY STUDENTS WITH ABNORMAL SLEEP PATTERN

A CASE STUDY Viktor Bayu Wisnu Brata Sanata Dharma University

2016

This research was aimed to discover the daily life and daily activities of university students who had abnormal sleep pattern. This research discussed the causes and results of university students who had abnormal sleep pattern especially in Yogyakarta.

This research was a case study. This research was a qualitative descriptive research. Qualitative descriptive research was a research using a case study method or approach. This research focused intensively on certain subjects that were studied as a case. The methods used in this research were interviews supported by deep observations. The data were analyzed using data reduction and encoding process. To measure the validity of this research, the researcher used triangulation technique in which the researcher conducted interviews with related parties and subjects.

(11)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah Bapa yang bertahta di kerajaan Surga yang mulia atas cinta kasih serta berkat yang senantiasa diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “RITME SIRKADIAN PADA MAHASISWA DENGAN POLA TIDUR TIDAK NORMAL”.

Adapun penyusunan skripsi ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, sekaligus sebagai upaya untuk memperdalam wawasan berfikir.

Dalam kesempatan ini tentunya penulis juga ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan dan dukungan dari semua pihak yang turut berperan dalam penyelesaian skripsi ini. Penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Bapak Dr. Gendon Barus, M.Si sebagai Ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

2. Bapak Drs. R. Budi Sarwono, M.A selaku dosen pembimbing yang dengan sabar dan tulus telah memberikan waktu, motivasi, masukan, dan banyak pembelajaran berharga kepada penulis sehingga skripsi ini dapat terselesaikan. 3. Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas

Sanata Dharma Yogyakarta yang telah membekali penulis dengan berbagai ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis.

4. Orangtua penulis yakni Bapak Suharto dan Ibu Yulia Sri Wuryanti, serta kakak adik dan keluarga besar yang selalu mengirimkan doa serta memberikan bantuan moril maupun materiil dalam penyusunan skripsi.

5. Saudara Jordy, Albi, dan Daniel yang telah sudi ikut berpartisipasi sebagai objek penelitian skripsi.

(12)

x

7. Adik-adik BAPELSOS MUDA-MUDI WILOSO Purworejo yang mau meluangkan waktu untuk mendoakan penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi.

8. Teman-teman penulis yang tidak bisa penulis sebutkan satu per satu, terima kasih atas kebersamaan yang penulis dapatkan selama penyusunan skripsi. 9. Kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan motivasi dalam

proses penulisan skripsi.

Penulis menyadari bahwa hasil karya penulisan ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun. Akhirnya, penulis berharap semoga hasil karya ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Yogyakarta, 15 Juli 2016 Penulis

(13)

xi DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... iv

PENYATAAN KEASLIAN KARYA ... v

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Pembatasan Masalah ... 3

D. Rumusan Masalah ... 4

E. Tujuan Penelitian... 4

F. Manfaat Penelitian... 4

G. Batasan Istilah ... 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Konsep Tidur ... 7

1. Definisi Tidur ... 7

(14)

xii

3. Ukuran-Ukuran Psikofisiologis dan Tahap-Tahap Tidur ... 11

4. Empat Tahap EEG Tidur ... 12

5. Sebab-Sebab Orang Susah Tidur ... 13

6. Konsekuensi Mental dari Tidak Tidur ... 14

B. Ritme Sirkadian ... 14

1. Definisi Ritme Sirkadian ... 14

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ritme Sirkadian ... 16

C. Hakikat Mahasiswa ... 16

1. Definisi Mahasiswa ... 16

2. Karakteristik Perkembangan Mahasiswa... 17

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 20

B. Waktu Penelitian ... 20

C. Subjek Penelitian ... 20

D. Teknik Pengumpulan Data ... 21

1. Wawancara ... 21

2. Observasi ... 23

E. Agenda Pertemuan Dengan Subjek dan Informan ... 23

F. Analisis Data ... 27

1. Pengumpulan Data ... 28

2. Reduksi Data ... 28

3. Sajian Data ... 29

G. Validitas Data ... 29

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN A. Subjek I ... 30

1. Sejarah Kehidupan Subjek I ... 30

2. Analisis Data Subjek I ... 30

a. Latar belakang kehidupan keluarga ... 30

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural ... 31

(15)

xiii

d. Perkembangan kognitif ... 32

e. Perkembangan sosial dan status sosial sekarang ini ... 32

f. Ciri-ciri kepribadian ... 33

B. Subjek II ... 34

1. Sejarah Kehidupan Subjek II ... 34

2. Analisis Data Subjek II ... 34

a. Latar belakang kehidupan keluarga ... 34

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural ... 35

c. Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan ... 35

d. Perkembangan kognitif ... 35

e. Perkembangan sosial dan status sosial sekarang ini ... 36

f. Ciri-ciri kepribadian ... 37

C. Subjek III ... 38

1. Sejarah Kehidupan Subjek III... 38

2. Analisis Data Subjek III ... 38

a. Latar belakang kehidupan keluarga ... 38

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural ... 39

c. Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan ... 39

d. Perkembangan kognitif ... 40

e. Perkembangan sosial dan status sosial sekarang ini ... 40

f. Ciri-ciri kepribadian ... 42

D. Ritme Sirkadian Subjek I, Subjek II, dan Subjek III... 42

1. Cahaya (Siang Malam) ... 42

2. Temperatur... 43

3. Aktivitas Sosial ... 45

4. Rutinitas ... 46

(16)

xiv BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

(17)

xv

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Panduan wawancara ... 22

Tabel 2. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek I dan informan ... 23

[image:17.595.86.508.247.625.2]

Tabel 3. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek II dan informan ... 25

(18)

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Lembar persetujuan menjadi informan

(19)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tidur memiliki hubungan yang erat dengan kesehatan dan kualitas hidup manusia. Kualitas tidur mengacu pada indeks subjektif dari bagaimana tidur yang dialami seseorang. Seseorang memiliki siklus siang malam 24 jam yang disebut ritme sirkadian. Hal ini sangat mempengaruhi kualitas tidur seseorang bila ritme sirkadian seseorang lebih stabil dan konsisten menyebabkan kualitas tidur lebih baik. Siklus sirkadian adalah proses berputar dari terang ke gelap dan kembali lagi setiap 24 jam, dan kebanyakan spesies yang hidup di permukaan bumi telah beradaptasi dengan perubahan reguler dalam lingkungannya. Dalam proses kehidupannya, manusia memanfaatkan cahaya di siang hari untuk mengurus berbagai kebutuhan biologisnya, dan setelah itu mereka banyak tidur di malam hari. Proses sirkadian pada mahasiswa yang sedang menempuh kuliah sangatlah unik, namun peneliti lebih tertarik untuk meneliti ritme sirkadian pada mahasiswa yang pola tidurnya tidak normal.

Mahasiswa adalah status yang disandang oleh seseorang karena hubungannya dengan perguruan tinggi yang diharapkan dapat menjadi calon-calon intelektual. Bisa juga definisi mahasiswa adalah orang yang menuntut ilmu atau belajar di perguruan tinggi, baik itu di universitas, institut ataupun akademi. Mereka adalah orang-orang yang terdaftar sebagai murid di suatu perguruan tinggi dapat disebut dengan mahasiswa. Secara lebih singkatnya mahasiswa yaitu suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi, universitas, institut ataupun akademi.

(20)

banyak dilakukan karena satu dan banyak hal, terutama dalam kehidupan mahasiswa. Mahasiswa tidak terlepas dari kebiasaan buruk mereka mengenai pola tidur yang tidak teratur. Kebiasaan tidur yang buruk ini rupanya sudah melekat pada beberapa mahasiswa khususnya mahasiswa yang tinggal di kota Yogyakarta. Banyaknya tempat hiburan dan tempat nongkrong yang tersebar di kota Yogyakarta sangat memanjakan mahasiswa yang tidak mampu mengontrol pola kehidupan. Pola kehidupan yang penulis maksud adalah rutinitas yang dilakukan oleh mahasiswa pada umumnya. Misalnya seperti berangkat ke kampus tepat waktu, mampu mengatur pola kehidupan yang ideal untuk beraktifitas atau bisa dikatakan bangun pada pagi hari pada pukul 05.00 pagi dan tidur malam hari tepat waktu maksimal pukul 22.00 malam. Dalam segi kesehatan pola tidur yang baik adalah 6-8 jam perhari, itu adalah batas minimal untuk orang dewasa. Melihat dari banyaknya mahasiswa yang tidur kurang dari 6 jam perhari dapat mempengaruhi beberapa fungsi dalam tubuhnya.

Di era globalisasi saat ini seiring dengan kemajuan teknologi yang semakin mumpuni, mahasiswa disuguhkan dengan berbagai sarana dan prasarana, ponsel pintar atau smartphone salah satunya, smartphone menjadikan mahasiswa ketergantungan terhadap fitur dan aplikasi yang ada, misalnya mahasiswa ketergantungan dengan aplikasi jejaring sosial pada aplikasi smartphone tersebut. Pada kalangan mahasiswa terutama laki-laki, tidak sedikit juga mereka menghabiskan banyak waktu dengan bermain game atau dapat disebut juga dengan gamer. Bermain game pada era saat ini sangat banyak macamnya, mulai game yang berada pada smartphone yang mereka genggam maupun game yang berada pada laptop maupun komputer yang mereka miliki. Salah kaprah dalam pemanfaatan teknologi inilah yang dapat memicu mahasiswa menjadi kurangnya tanggung jawab pada studi yang sedang mereka pikul sebagai seorang mahasiswa.

(21)

baik itu pekerjaan/tugas kuliah yang tidak terselesaikan tepat pada waktunya ataupun absensi yang jarang hadir dalam perkuliahan bahkan banyak juga ditemui mahasiswa yang tidak bisa bangun pagi akibat begadang hingga larut malam sehingga menimbulkan kekacauan pada nilai akademiknya.

Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik untuk meneliti ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidurnya tidak normal, terkhusus pada mahasiswa yang mengalami perubahan rutinitas atau tidak mampu mengatur pola tidur yang normal. Untuk itu, dalam penelitian ini akan dideskripsikan bagaimana ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidak mampu mengatur pola tidur yang normal.

B. Identifikasi Masalah

1. Mahasiswa yang belum tidur pada pukul 22.00 atau begadang hingga larut malam.

2. Begitu banyak akibat begadang berdasarkan identifikasi di lapangan bahwa mahasiswa tertentu sering tidak masuk kampus terutama pada mata kuliah pagi hari ataupun terlambat.

3. Dampak dan akibat dari begadang adalah aktivitas mahasiswa menjadi kurang produktif dan membentuk pola tidur yang salah.

C. Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, fokus kajian diarahkan pada menjawab masalah-masalah yang teridentifikasi di atas khusunya siklus ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidak sesuai regulasi ritme sirkadian normal.

D. Rumusan Masalah

Berangkat dari latar belakang masalah di atas, rumusan masalah yang akan dijawab adalah sebagai berikut:

(22)

2. Aktivitas apa yang dilakukan ketika tidak berada pada siklus ritme sirkadian yang normal?

3. Bagaimana sebab dan akibat mahasiswa yang memiliki pola tidur tidak normal khususnya di kota Yogyakarta?

E. Tujuan Penelitian

1. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana siklus ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidurnya tidak normal.

2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana sebab dan akibat mahasiswa yang memiliki pola tidur tidak normal.

F. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Praktis

a. Dosen dan Mahasiswa

Bermanfaat sebagai informasi bagaimana siklus ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidak sesuai regulasi ritme sirkadian normal pada kehidupannya.

b. Orang awam

Mengetahui bagaimana siklus ritme sirkadian pada mahasiswa yang tidak sesuai regulasi ritme sirkadian normal pada kehidupannya.

2. Manfaat Teoritis

(23)

G. Batasan Istilah 1. Tidur

Tidur merupakan keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan, tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktifitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi terhadap perubahan fisiologis dan terjadi penurunan respon terhadap rangsangan dari luar.

2. Ritme Sirkadian

Ritme Sirkadian merupakan siklus perubahan dari terang ke gelap dan kembali lagi setiap 24 jam yang telah diadaptasi oleh mahluk di permukaan bumi. Tubuh manusia akan berfungsi secara maksimal pada siang hari dan akan menurun pada malam hari karena dipengaruhi oleh gelap terang (siang-malam).

3. Mahasiswa

Mahasiswa adalah sebutan bagi orang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di sebuah perguruan tinggi yang terdiri atas sekolah tinggi, akademi, dan yang paling umum adalah universitas.

4. Siklus Tidur Normal

Pada umumnya durasi tidur setiap manusia dewasa adalah 6-8 jam perhari. Pada pagi hari manusia terbangun untuk beraktivitas karena faktor cahaya atau sinar matahari yang secara alamiah memanggil untuk memulai beraktivitas. Di lain sisi jika cahaya sinar matahari tersebut mulai redup dan menghilang atau lebih dikenal malam hari, maka aktiviatas manusia akan mulai menurun dan bersiap untuk istirahat/tidur. Hal tersebut menjadi rangkaian yang teratur dalam kehidupan setiap manusia yang memiliki siklus tidur yang normal.

(24)
(25)

7 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A.Konsep Tidur 1. Definisi Tidur

Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar dimana seseorang masih dapat dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik atau dengan rangsang lainnya (Guyton & Hall, 1997). Menurut Potter & Perry (2005) tidur merupakan proses fisiologis yang bersiklus bergantian dengan periode yang lebih lama dari keterjagaan.

Tidur merupakan salah satu cara untuk melepas kelelahan baik jasmani maupun mental. Tidur juga dapat diartikan suatu kondisi istirahat alami yang dialami oleh manusia dan hewan yang sangat penting untuk kesehatan. Secara alami dan otomatis jika tubuh lelah maka kita akan merasa ngantuk sehingga memaksa tubuh kita untuk beristirahat secara fisik dan mental. Dengan waktu tidur yang cukup maka kita akan merasa segar bugar ketika bangun pagi dan siap melakukan berbagai aktivitas sepanjang hari dari pagi hingga malam. Normalnya manusia tidur pada saat malam hari hingga pagi hari, namun tidak jarang ada orang yang bisa tidur dari siang sampai malam hari karena tuntutan pekerjaan atau karena sudah terbiasa.

2. Gangguan Tidur

Gangguan tidur primer merupakan gangguan tidur seseorang yang tidak berkaitan dengan gangguan klinis lainnya. Gangguan-gangguan tersebut meliputi insomnia, hipersomnia, narcolepsi, sleep apnea, dan parasomnia. Gangguan tidur sekunder adalah gangguan tidur yang disebabkan oleh gangguan klinik lainnya seperti disfungsi tiroid, depresi, atau alkoholisme (Kozier, 1995).

(26)

Insomnia adalah gangguan tidur yang lebih umum terjadi, merupakan suatu ketidakmampuan untuk memperoleh jumlah atau kualitas tidur yang kuat. Orang yang menderita insomnia tidak merasakan kesegaran ketika bangun pagi. Terdapat 3 tipe insomnia, yaitu kesulitan untuk memulai tidur (initial insomnia), kesulitan untuk tetap tidur karena sering terjaga (intermittent atau maintenance insomnia), dan bangun terlalu pagi dan tidak bisa tidur kembali (terminal insomnia/premature awakening). Insomnia dapat diakibatkan dari rasa tak nyaman (discomfort) fisik tetapi lebih sering merupakan akibat overstimulasi mental sehingga terjadi kecemasan. Orang kadang-kadang menjadi cemas karena mereka memikirkan kenapa tidak dapat tidur. Orang yang terbiasa minum obat dan minum banyak alkohol lebih mudah mengalami insomnia.Penanganan untuk insomnia seringkali perlu mengembangkan pola perilaku baru yang menginduksi tidur. Kegunaan obat tidur masih diragukan karena obat tidak dapat menghilangkan penyebab masalah, dan penggunaan dalam jangka waktu yang lama dapat menimbulkan ketergantungan obat (drugs dependencies).

b. Hipersomnia

Hipersomnia berlawanan dengan insomnia, yaitu tidur yang berlebihan, khususnya di siang hari. Orang hipersomnia seringkali tidur sampai pagi hari dan dapat tidur lagi selama siang hari. Hipersomnia disebabkan oleh kondisi medik seperti akibat kerusakan sistem saraf pusat dan gangguan ginjal, hati atau gangguan metabolik tertentu seperti diabetik acidosis dan hipertiroidisme. Dalam beberapa hal orang menggunakan insomnia sebagai mekanisme koping untuk menghindar dari tanggung jawab di siang hari.

c. Narkolepsi

(27)

Penyebabnya tidak diketahui, ada anggapan yang meyakini karena adanya kerusakan genetikpada sistem saraf pusat yang menyebabkan tidur REM tidak dapat dikontrol. Pada serangan narkolepsi, tidur dimulai dengan fase REM. Narkolepsi seringkali dikontrol oleh suatu stimulant sistem saraf pusat, seperti pemoline atau deanol.

d. Henti Nafas Saat Tidur (Sleep Apnea)

Sleep apnea adalah masa henti bernafas selama tidur. Gangguan ini perlu dikaji oleh seorang yang ahli tentang tidur, tetapi sering terjadi pada orang yang tidur mendengkur dengan keras, sering terjaga/bangun di malam hari, tidur di siang hari yang berlebihan, insomnia, nyeri kepala pada pagi hari, kemunduran intelektual, iritabel atau perubahan kepribadian lainnya dan perubahan fisiologis seperti hipertensi dan aritmia jantung (Weaver & Willman, 1986, dalam Kozier, 1995). Sleep apnea lebih sering dialami laki-laki lebih dari 50 tahun dan wanita postmenopaus. Periode apnea, dapat berlangsung dari 10 detik sampai dengan 2 menit. Biasanya sleep apnea terjadi selama tidur REM atau NREM. Frekuensi kejadianya berkisar antara 50-600 kali dalam satu malam. Peristiwa apnea ini menghabiskan energi seseorang dan menyebabkan tidur siang hari yang berlebihan.

Terdapat tiga tipe yang umum dari henti nafas saat tidur (sleep apnea) adalah sebagai berikut:

1) Apnea Obstruksi (Obstructive Apnea)

(28)

2) Apnea Sentral (Central Apnea)

Tipe ini terjadi karena adanya defect pada pusat respirasi di otak. Semua kegiatan bernafas, seperti pergerakan dada dan mengalirnya udara berhenti. Klien yang mengalami injuri pada batang otak dan distropi muscular seringkali mengalami central sleep apnea. Sampai saat ini tidak tersedia pengobatannya.

3) Apnea Campuran (Mixed Apnea)

Tipe terakhir ini merupakan kombinasi atau gabungan dari central apnea dan obstruktive apnea. Suatu peristiwa sleep apnea dimulai dengan mendengkur, sesudah itu berhenti bernafas, diikuti oleh mendengus-dengus sebagai tanda memulai kembali bernafas. Menuju akhir setiap episode apnea, terjadi peningkatan kadar karbondioksida dalam darah yang menyebabkan klien terbangun. Pengobatan harus diarahkan pada penyebab apnea, misalnya jika disebabkan oleh pembesaran tonsil maka dapat diangkat. Penggunaan alat pada hidung yaitu continous positive airway pressure (CPAP) pada malam hari seringkali efektif. Sleep apnea dapat mempengaruhi penampilan kerja maupun sekolah. Selain itu sleep apnea yang lama dapat menyebabkan peningkatan tajam pada tekanan darah dan dapat juga menyebabkan aritmia jantung, hipertensi pulmoner dan kemudian kegagalan jantung kiri.

e. Parasomnia

Parasomnia menunjukan suatu kelompok perilaku terjaga yang berkaitan dengan tidur. Terdapat 5 macam parasomnia, yaitu:

1) Somnambulism

Tipe ini disebut juga tidur jalan (sleepwalking) terjadi selama tahap 1 dan 4 tidur NREM. Somnambulism bersifat episodik dan biasanya terjadi 1-2 jam setelah jatuh tidur. Orang yang tidur berjalan cenderung tidak memperhatikan (misalnya : jatuh dari tangga) dan seringkali memerlukan perlindungan dari cidera.

(29)

Berbicara selama tidur terjadi selama tidur NREM sebelum tidur REM. Pada tipe ini jarang terdapat masalah pada yang mengalami kecuali terhadap yang lainnya.

3) Nocturnal Enuresis

Ngompol (bedwetting) selama tidur biasanya terjadi pada anak-anak diatas 3 tahun. Lebih sering pada anak laki-laki dari pada wanita. Seringkali terjadi 1-2 jam setelah jatuh tidur, ketika mencapai tidur tahap 1 sampai dengan tahap 4 tidur NREM.

4) Ereksi Tidur Malam (Nocturnal Erection)

Ereksi dimalam hari dan mimpi basah terjadi selama tidur REM. Kondisi ini umumnya dimulai selama masa remaja dan tidak menyebabkan gangguan tidur yang bermakna.

5) Bruxism

Biasanya terjadi selama tahap 2 NREM, terjadi gesekan diantara gigi, dapat menyebabkan ujung gigi menjadi patah dan lepasnya gigi.

3. Ukuran-Ukuran Psikofisiologis dan Tahap-Tahap Tidur

Tiga standar ukuran psikofisiologis tidur, ada perubahan-perubahan besar pada EEG manusia sepanjang waktu tidur malamnya (Loomis, Harvey, & Hobary, 1936).Meskipun gelombang-gelombang EEG yang menyertai tidur pada umumnyabervoltase tinggi dan lamban, ada periode-periode di sepanjang malam yang didominasi oleh gelombang-gelombang cepat bervoltase rendah yang mirip dengan yang tampak pada subjek-subjek yang tidak tidur.

1. Pada 1953, Aserinsku & Kleitman menemukan bahwa rapid eye movement (REM) atau gerakan mata yang cepat terjadi di bawah pelupuk mata yang tertutup pada subjek-subjek yang tidur selama periode-periode aktivitas EEG yang cepat dan bervoltase rendah ini.

(30)

3. Electroencephalogram (EEG), electrooculogram (EOG), dan electromyogram (EMG) leher menjadi tiga dasar psikofisiologis baku untuk mendefinisikan tahap-tahap tidur (Rechtchaffen & Kales, 1968).

4. Empat Tahap EEG Tidur

Tahap I: gelombang alfa – pasang surut gelombang-gelombang EEG 8 sampai 12 Hz, mulai menyela gelombang-gelombang tinggi-frekuensi rendah voltase yang menandai active wakefullnes (keadaan bangun aktif). EEG tidur tahap I adalah sinyal tinggi frekuensi rendah-voltase yang mirip tetapi lebih lamban dibanding yang tampak pada keadaan bangun aktif.

Tahap II: EEG tahap II memiliki amplitudo yang sedikit lebih tinggi dan frekuensi yang lebih rendah dibanding EEG tahap I. Selain itu, tahap ini disela oleh dua bentuk gelombang yang khas: K complexes adalah sebuah gelombang negatif besar (defleksi ke atas) yang tiba-tiba diikuti oleh sebuah gelombang positif besar (defleksi ke bawah). Setiap sleep spindle adalah pasang-surut gelombang 12 sampai 14Hz selama 1 sampai 2 detik.

Tahap III:EEG tidur tahap III didefinisikan oleh keberadaan gelombang-gelombang delta, gelombang EEG paling besar dan paling lamban dengan frekuensi sebesar 1 sampai 12Hz yang muncul sekali-kali.

Tahap IV: EEG tidur tahap IV didefinisikan oleh gelombang-gelombang delta. Begitu subjek mencapai tidur EEG tahap IV, mereka bertahan di tahap itu selama waktu tertentu, dan kemudian mundur kembali melalui tahap-tahap tidur sampai ke tahap-tahap I.

(31)

emergent stage I EEG biasanya disebut REM sleep (tidur sleep), yang dinamai berdasarkan gerakan-gerakan mata cepat yang terkait dengannya, sementara semua tahap tidur lainnya disebut NREM sleep (non-REM sleep). Tahap III & IV keduanya disebut slow-wave sleep (SWS) atau tidur gelombang lamban, yang dinamai berdasarkan gelombang-gelombang delta yang merupakan ciri kedua tahap ini.

5. Sebab-Sebab Orang Susah Tidur

Menurut (Rafknowlodge, 2004) kesulitan tidur ringan biasanya dipicu oleh: a. Stres

Stres adalah ketidakmampuan mengatasi ancaman yang dihadapi oleh mental, fisik, emosional, dan spiritual manusia, yang ada pada suatu saat dapat mempengaruhi kesehatan fisik manusia tersebut.

b. Suasana Ramai/Berisik

Lingkungan yang tidak mendukung untuk tidur malam, seperti terlalu berisik dapat menyebabkan kesulitan tidur karena dapat mengganggu ketenangan untuk beristirahat atau tidur

c. Perbedaan Suhu Udara

Perbedaan suhu udara atau temperatur udara merupakan pergantian kondisi yang dapat dirasakan/keadaan panas atau dinginnya udara.

d. Perubahan Lingkungan Sekitar

Lingkungan sekitar juga mempengaruhi kesulitan tidur, karena jika lingkungan kurang kondusif maka akan terjadi kesulitan tidur. Lingkungan yang kurang begitu kondusif disebabkan oleh beberapa faktor seperti terlalu banyak cahaya, tempat tidur yang tidak mendukung.

e. Masalah Jadwal Tidur dan Bangun yang Tidak Teratur

Terlalu sering mengurangi tidur atau waktu tidur yang tidak stabil dan tidak ada jadwal rutin yang ditentukan untuk tidur.

(32)

Efek samping pengobatan adalah suatu dampak atau pengaruh yang merugikan dan tidak diinginkan, yang timbul sebagai hasil dari suatu pengobatan.

6. Konsekuensi Mental dari Tidak Tidur

Leproult dkk (1998) mengatakan bahwa kekurangan tidur yang kronis dapat mengakibatkan hormon stres kortisol, yang dapat merusak atau mengganggu sel-sel otak yang dibutuhkan untuk pembelajaran dan ingatan. Selain itu, sel-sel otak yang baru dapat gagal berkembang atau dapat juga tumbuh secara abnormal.Bagi mahasiswa atau semua orang yang sedang menjalani program studi maka kurang tidur bisa menyebabkan kurangnya kemampuan kognitif. Hal ini disebabkan karena kurang tidur akan membuat otak kurang konsentrasi, tidak bisa memiliki ingatan yang baik, tidak bisa menggunakan nalar dengan baik dan sulit untuk menemukan solusi masalah. Bagi orang yang sedang menjalani studi maka akibatnya bisa sangat komplek seperti penundaan kelulusan dan penurunan prestasi.

B.Ritme Sirkadian

1. Definisi Ritme Sirkadian

Istilah circadian atau sirkadian pertama kali diperkenalkan oleh Dr. Franz Halberg, seorang berkebangsaan Jerman pada tahun 1959 untuk menjelaskan terjadinya perubahan fungsi-fungsi tubuh pada diri manusia. Istilah ini berasal dari bahasa latin, “circa” yang berarti ‘sekitar’ dan “dies” yang berarti ‘satu hari’, jadi yang disebut circadian perubahan fungsi-fungsi tubuh tersebut mengikuti satu ritme tertentu, maka konsep circadian ini lebih dikenal dengan sebutan ritme sirkadian (circadian rhytm).

(33)

Fungsi-fungsi tubuh tersebut akan meningkat atau sangat aktif pada siang hari tetapi akan menurun atau tidak aktif pada malam hari atau sebaliknya. Masa selama siang hari disebut sebagai fase ergotropic dimana kinerja manusia berada pada puncaknya, sedangkan masa malam hari disebut fase trophotropic dimana terjadi proses istirahat dan pemulihan tenaga (Tayyari & Smith, 1997).

Selama 24 jam tubuh manusia memiliki jadwal yang akan menjadi irama dan terus saja berulang. Jam biologis pada manusia normal akan memiliki patokan seperti gambar di bawah ini:

(34)

Siklus sirkadian adalah proses berputar dari terang ke gelap dan kembali lagi setiap 24 jam, dan kebanyakan spesies yang hidup di permukaan bumi telah beradaptasi dengan perubahan reguler dalam lingkungannya (Foster & Kritzman, 2004). Irama biologis dari tubuh untuk tidur secara berkelanjutan akan bersinkronasi dengan fungsi tubuh yang lain. Contohnya, perubahan pada suhu tubuh akan berhubungan dengan pola tidur. Pada keadaan normal, suhu tubuh mencapai posisi puncaknya pada sore hari, menurun secara berangsur, dan kemudian menurun secara tajam setelah seseorang tidur (Potter & Perry, 2010: 175).

2. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ritme Sirkadian

Faktor-faktor seperti cahaya, temperatur, aktivitas sosial, dan rutinitas kerja mempengaruhi irama sirkadian dan siklus tidur-bangun sehari-hari. Pada tubuh setiap orang mempunyai jam biologis yang menyinkronisasikan siklus tidurnya. Hal ini menjelaskan mengapa beberapa orang tertidur pada pukul 8 malam, sedangkan yang lain tidur pada tengah malam atau ketika hendak subuh. Orang lain juga lebih aktif di waktu yang berbeda pada satu hari. (Potter & Perry, 2010).

C.Hakikat Mahasiswa 1. Definisi Mahasiswa

(35)

dan tepat merupakan sifat yang cenderung melekat pada diri setiap mahasiswa, yang merupakan prinsip yang saling melengkapi.

Seorang mahasiswa dikategorikan pada tahap perkembangan yang usianya 18 sampai 25 tahun. Tahap ini dapat digolongkan pada masa remaja akhir sampai masa dewasa awal dan dilihat dari segi perkembangan pada usia mahasiswa ini ialah pemantapan pendirian hidup (Yusuf, 2012: 27). Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa mahasiswa ialah seseorang peserta didik berusia 18 sampai 25 tahun yang terdaftar dan menjalani pendidikannya di perguruan tinggi baik dari akademik, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Sedangkan dalam penelitian ini subyek yang digunakan ialah seorang mahasiswa yang berusia 23 tahun dan tercatat sebagai mahasiswa aktif.

2. Karakteristik Perkembangan Mahasiswa

Ciri-ciri perkembangan remaja lanjut atau atau remaja akhir (usia 18 sampai 21 tahun) dapat dilihat dalam tugas-tugas perkembangan (Gunarsa, 2001) yaitu:

a. Menerima keadaan fisiknya, perubahan fisiologis dan organis yang sedemikian hebat pada tahun-tahun sebelumnya, pada masa remaja akhir sudah lebih tenang. Struktur dan penampilan fisik sudah menetap dan harus diterima sebagaimana adanya. Kekecewaan karena kondisi fisik tertentu tidak lagi mengganggu dan sedikit demi sedikit mulai menerima keadaannya.

(36)

c. Mampu bergaul, dia mulai mengembangkan kemampuan mengadakan hubungan sosial baik dengan teman sebaya maupun orang lain yang berbeda tingkat kematangan sosialnya. Dia mampu menyesuaikan dan memperlihatkan kemampuan bersosialisasi dalam tingkat kematangan sesuai dengan norma sosial yang ada.

d. Menemukan model untuk identifikasi, dalam proses ke arah kematangan pribadi, tokoh identifikasi sering kali menjadi faktor penting, tanpa tokoh identifikasi timbul kekaburan akan model yang ingin ditiru dan memberikan pengarahan bagaimana bertingkah laku dan bersikap sebaik-baiknya.

e. Mengetahui dan menerima kemampuan sendiri, pengertian dan penilaian yang objektif mengenai keadaan diri sendiri mulai terpupuk. Kekurangan dan kegagalan yang bersumber pada keadaan kemampuan tidak lagi mengganggu berfungsinya kepribadian dan menghambat prestasi yang ingin dicapai.

f. Memperkuat penguasaan diri atas dasar skala nilai dan norma, nilai pribadi yang tadinya menjadi norma dalam melakukan sesuatu tindakan bergeser ke arah penyesuaian terhadap norma di luar dirinya, baik yang berhubungan dengan nilai sosial ataupun nilai moral. Nilai pribadi adakalanya harus disesuaikan dengan nilai-nilai umum (positif) yang berlaku di lingkungannya.

g. Meninggalkan reaksi dan cara penyesuaian kekanak-kanakan, dunia remaja mulai ditinggalkan dan dihadapannya terbentang dunia dewasa yang akan dimasuki. Ketergantungan secara psikis mulai ditinggalkan dan ia mampu mengurus dan menentukan sendiri. Dapat dikatakan masa ini ialah masa persiapan ke arah tahapan perkembangan berikutnya yakni masa dewasa muda.

(37)

(dalam Ahmadi & Sholeh, 1991: 90) ciri-ciri kedewasaan seseorang antara lain:

1) Dapat berdiri sendiri dalam kehidupannya. Ia tidak selalu minta pertolongan orang lain dan jika ada bantuan orang lain tetap ada pada tanggung jawabnya dalam menyelesaikan tugas-tugas hidup.

2) Dapat bertanggung jawab dalam arti sebenarnya terutama moral. 3) Memiliki sifat-sifat yang konstruktif terhadap masyarakat dimana ia

berada.

(38)

20 BAB III

METODE PENELITIAN

A.Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian yang bersifat kualitatif. Penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif deskriptif. Hadari Nawawi (2003) berpendapat bahwa penelitian kualitatif deskriptif adalah berupa penelitian dengan metode atau pendekatan studi kasus. Penelitian ini memusatkan diri secara intensif pada suatu obyek tertentu yang mempelajarinya sebagai suatu kasus. Data studi kasus dapat diperoleh dari semua pihak yang bersangkutan, dengan kata lain dalam studi ini dikumpulkan dari berbagai sumber.

“Penelitian studi kasus akan kurang kedalamannya bilamana hanya dipusatkan pada fase tertentu saja atau salah satu aspek tertentu sebelum memperoleh gambaran umum tentang studi kasus tersebut. Sebaliknya studi kasus akan kehilangan artinya kalau hanya ditujukan sekedar untuk memperoleh gambaran umum namun tanpa menemukan sesuatu atau beberapa aspek khusus yang perlu dipelajari secara intensif dan mendalam. Studi kasus yang baik harus dilakukan secara langsung dalam kehidupan sebenarnya dari kasus yang diselidiki. Walaupun demikian, data studi kasus dapat diperoleh tidak saja dari kasus yang diteliti, tetapi juga dapat diperoleh dari semua pihak yang mengetahui dan mengenal kasus tersebut dengan baik. Dengan kata lain, data dalam studi kasus dapat diperoleh dari berbagai sumber namun terbatas dalam kasus yang akan diteliti (Hadari Nawawi, 2003).”

B.Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan mulai bulan April 2016 hingga Mei 2016. Waktu yang diperlukan untuk penelitian dapat berubah sesuai dengan kebutuhan penelitian.

C. Subjek Penelitian

(39)

peneliti dapatkan dari teman-teman para subjek dan tetangga kos subjek. Ritme sirkadian normal mahasiswa pada umumnya merupakan manusia yang mampu produktif pada pagi hari dan menggunakan malam hari sebagai persiapan menyambut aktifitas dikeesokan hari.

D.Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan bagian yang sangat penting dalam setiap kegiatan penelitian. Hal tersebut dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat, terperinci, dan dapat dipercaya serta dapat dipertanggungjawabkan, maka teknik pengumpulan data yang digunakan harus tepat. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara (indepht interview).

1. Wawancara

(40)
[image:40.595.88.516.124.752.2]

Tabel 1. Panduan wawancara

NO ASPEK DAFTAR PERTANYAAN

1. Cahaya

(Siang Malam)

a. Bagaimana cara anda mengelola ritme sirkadian anda dalam kegiatan sehari-hari? b. Apa saja hambatan yang anda temui terkait

dengan pola tidur anda yang tidak normal? c. Apa yang anda lakukan ketika anda tidak

berhasil memanfaatkan ritme sirkadian dengan maksimal?

d. Apakah anda bersemangat dalam menjalani aktivitas jika ritme sirkadian yang anda jalani tidak normal?

2. Temperatur a. Apakah anda tidak merasa terganggu jika suhu tubuh (panas) anda tidak normal terkait dengan ritme sirkadian anda yang sering begadang?

3. Aktivitas Sosial a. Apakah anda adalah orang yang tergolong aktif dalam kegiatan di kampus atau di lingkungan tempat anda tinggal?

b. Apakah dalam menjalani kegiatan anda di lingkungan tidak terganggu jika ritme sirkadian anda lain daripada umumnya? c. Bagaimana cara anda mengelolanya? 4. Rutinitas a. Apakah anda mempunyai kegiatan diluar

kewajiban anda sebagai mahasiswa?

b. Mengapa ritme sirkadian anda tidak normal atau berbeda dengan mahasiswa pada umumnya?

(41)

2. Observasi

Teknik pengumpulan data kedua yang dilakukan oleh peneliti adalah obervasi. Teknik pengumpulan data dengan observasi digunakan peneliti untuk mengamati perilaku dan proses kerja subjek. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan jenis observasi partisipatif moderat dengan terlibat dalam kegiatan sehari-hari subjek. Sambil melakukan pengamatan, peneliti ikut melakukan apa yang dikerjakan oleh subjek dalam beberapa kegiatan. Dengan observasi partisipatif ini, maka data yang diperoleh akan lebih lengkap dan tajam. Dalam setiap observasi ini peneliti menyiapkan catatan lapangan untuk mencatat setiap perilaku dan proses kerja subjek sebagai sumber data. Catatan lapangan juga sering digunakan peneliti ketika dalam proses menjalankan teknik wawancara baik terstruktur maupun tidak terstruktur.

[image:41.595.89.519.220.744.2]

E.Agenda Pertemuan Dengan Subjek dan Informan

Tabel 2. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek I dan informan

SUBJEK I

No. Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan

1. Rabu, 20 April 2016

Observasi a. Observasi subjek Jordy di kos dan di kampus.

2. Kamis, 21 April 2016

Wawancara dan Menggali Informasi

a. Kegiatan subjek di kampus pada siang hari. b. Pandangan subjek

mengenai ritme sirkadian dalam kehidupan sehari-hari.

(42)

kultural, dan

pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan.

3. Jumat, 22 April 2016

Wawancara Terstruktur

a. Aspek-aspek ritme sirkadian berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat oleh peneliti.

4. Senin, 25 April 2016

Menggali Informasi a. Informasi mengenai data diri dan latar belakang keluarga dan riwayat kehidupan subjek. 5. Selasa, 26 April

2016

Wawancara Tidak Terstruktur

a. Informasi dari informan kampus dan informan kos

6. Rabu, 27 April 2016

Sharing a. Pengalaman peneliti dengan subjek terkait ritme sirkadian yang menyimpang/tidak normal.

(43)
[image:43.595.87.518.141.750.2]

Tabel 3. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek II dan informan

SUBJEK II

No. Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan

1. Kamis, 28 April 2016

Observasi a. Observasi subjek Albi di kos dan di kampus.

2. Senin, 2 Mei 2016

Wawancara dan Menggali Informasi

a. Kegiatan subjek di kampus pada siang hari. b. Pandangan subjek

mengenai ritme sirkadian dalam kehidupan sehari-hari.

c. Riwayat kehidupan subjek, lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosio kultural, dan

pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan.

3. Selasa, 3 Mei 2016

Wawancara Terstruktur

a. Aspek-aspek ritme sirkadian berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat oleh peneliti.

4. Rabu, 4 Mei 2016

Menggali Informasi a. Informasi mengenai data diri dan latar belakang keluarga dan riwayat kehidupan subjek. 5. Kamis, 5 Mei

2016

Wawancara Tidak Terstruktur

(44)
[image:44.595.86.521.113.728.2]

Tabel 4. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek III dan informan kos.

6. Minggu, 8 Mei 2016

Sharing a. Pengalaman peneliti dengan subjek terkait ritme sirkadian yang menyimpang/tidak normal.

b. Memberikan sedikit masukan positif kepada subjek.

SUBJEK III

No. Hari/Tanggal Kegiatan Keterangan

1. Senin, 9Mei 2016

Observasi a. Observasi subjek Daniel di kos dan di kampus.

2. Selasa, 10 Mei 2016

Wawancara dan Menggali Informasi

a. Kegiatan subjek di kampus pada siang hari. b. Pandangan subjek

mengenai ritme sirkadian dalam kehidupan sehari-hari.

c. Riwayat kehidupan subjek, lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosio kultural, dan

(45)

F. Analisis Data

Analisis data pada penelitian ini ialah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara dan catatan lapangan yang didapatkan melalui observasi secara langsung, sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan pada orang lain. Proses analisis data sendiri dimulai dari pembuatan verbatim melalui rekaman wawancara, reduksi data, dan analisisnya. Verbatim adalah percakapan wawancara dengan cara menuliskan setiap kata per kata jawaban ataupun ungkapan dan pertanyaan yang sudah diajukan kepada subjek. Sebelum menganalisis, peneliti 3. Rabu, 11 Mei

2016

Wawancara Terstruktur

a. Aspek-aspek ritme sirkadian berdasarkan pedoman wawancara yang telah dibuat oleh peneliti.

4. Kamis, 12 Mei 2016

Menggali Informasi a. Informasi mengenai data diri dan latar belakang keluarga dan riwayat kehidupan subjek. 5. Sabtu, 14 Mei

2016

Wawancara Tidak Terstruktur

a. Informasi dari informan kampus dan informan kos.

6. Minggu, 15 Mei 2016

Sharing a. Pengalaman peneliti dengan subjek terkait ritme sirkadian yang menyimpang/tidak normal.

(46)

melakukan proses reduksi data. Selanjutnya peneliti membuat analisis berdasarkan data yang sudah ada, dan menyajikannya dalam bentuk teks deksriptif. Berikut penjelasan dari tiap-tiap tahap:

1. Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini didapat dari beberapa sumber antara lain buku-buku yang relevan, informasi dan keterangan berupa pendapat, tanggapan, serta pandangan yang diperoleh dari informan. Sedangkan pengumpul data dilakukan dengan teknik wawancara. Data dikumpulkan oleh peneliti merupakan data-data yang dapat menunjang penelitian yang dilakukan oleh peneliti.

2. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang bersifat pokok, memfokuskan pada hal yang penting, mencari tema dan polanya, dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian, peneliti lebih mudah untuk mencari data yang diperlukan. Pada saat reduksi data, peneliti menentukan beberapa informan yang paling sesuai dengan apa yang diperlukan oleh peneliti, sehingga data yang diperoleh menjadi lebih akurat.

3. Sajian Data

(47)

G.Validitas Data

Dalam penelitian kualitatif, temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti. Selain itu, perlu diketahui bahwa kebenaran realitas data menurut penelitian kualitatif tidak bersifat tunggal, tetapi jamak dan tergantung pada kemampuan peneliti mengkonstruksi fenomena yang diamati, serta dibentuk dalam diri seorang sebagai hasil proses mental tiap individu dengan berbagai latar belakangnya. Dalam wawancara untuk mengumpulkan informasi, peneliti menggunakan teknik triangulasi untuk melihat validitas penelitian. “Sugiyono (2010) menjelaskan bahwa ada dua jenis triangulasi yaitu triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Triangulasi teknik berarti peneliti menggunakan teknik pengumpulan data yang berbeda-beda untuk mendapatkan data dari sumber yang sama”. Peneliti menggunakan observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi untuk sumber data yang sama secara serempak. Sedangkan triangulasi sumber berarti untuk mendapatkan data dari sumber yang berbeda-beda dengan teknik yang sama. Data diperoleh dari beberapa pihak yang terkait dengan subjek.

“Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dalam penelitian kualitatif” (Patton dalam Moleong, 2009). Hal itu dapat dicapai dengan jalan membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakannya secara pribadi dan membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.

(48)

30 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.Subjek I

1. Sejarah Kehidupan Subjek I

Seperti remaja pada umumnya setelah lulus SMA, Jordy melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi di Palembang. Proses Jordy dalam menjalani studi di Palembang sempat mengalami kendala dan pada akhirnya ia kembali ke daerah asalnya untuk meyakinkan kedua orangtuanya untuk kembali mengenyam di perguruan tinggi, namun kali ini Jordy menempuh studi di perguruan tinggi di Jogja. Dalam perjalanan subjek menempuh studi di Jogja sampai saat ini tidak menemui suatu kendala seperti sebelumnya. Yogyakarta banyak menyuguhkan berbagai keperluan bagi masyarakatnya, misalnya seperti orang yang mencari ilmu pendidikan, di Jogja pun digelar untuk orang yang ingin benar-benar mencari ilmu pendidikan di lain sisi bilamana seseorang ingin mencari hiburan, di Jogja pula juga menyuguhkan berbagai macam sarana hiburan. Pada kasus ini, Subjek terlalu larut dalam suatu hiburan hingga ia sering begadang pada malam hari. Aktivitas yang dilakukan yaitu menghabiskan waktunya yang seharusnya untuk istirahat malam tetapi digunakan untuk bermain game hingga larut pagi. Kebiasaan begadang tersebut sudah melekat di dalam diri subjek sejak ia tinggal di Palembang hingga sekarang ia tinggal di Jogja.

2. Analisis Data Subjek I

a. Latar belakang kehidupan keluarga

(49)

Jordy : “Kalau latar belakang saya di rumah, saya itu adalah anak pertama dari dua bersaudara dan orangtua saya itu bapak tamatan SMA dan untuk ibu itu tamatan D3 Akutansi, jadi misalnya kalau saya di rumah itu orangtua saya selalu menekankan untuk sesama anggota keluarga untuk terjalin suatu komunikasi yang jelas, jadi ibaratnya kalau antara aku sama adekku maupun sama orangtua harus terjalin komunikasi yang jelas dan yang kedua orangtua selalu menekankan pentingnya pendidikan, jadi kalau pendidikan itu karena dia cuman tamatan SMA jadi dia nggak pengen anaknya juga sebatas tamatan SMA, jadi dia lebih memikirkan anaknya gimana untuk sekolah lebih lanjut dan supaya anak-anaknya mereka bisa ibaratnya bisa bersaing di

dunia mendatang.”

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural

Jordy lahir di Atambua saat ayahnya sedang dinas di kota tersebut dan sempat tinggal selama 3 tahun. Seiring berjalannya waktu ayah Jordy berpindah dinas ke Bali dan sampai sekarang keluarganya menetap di Bali. Masyarakat dan lingkungan Jordy di Bali umumnya adalah suku asli Bali dan tergolong dalam lingkungan ekonomi menengah ke atas. Bisa dikatakan lingkungan masyarakatnya adalah orang mampu, karena mayoritas dari mereka bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi di luar pulau Bali dan mayoritas kuliah di pulau Jawa.

c. Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan

(50)

d. Perkembangan kognitif

Perkembangan kognitif Jordy tergolong baik. Meskipun dalam mengawali pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sewaktu ia di Palembang sempat gagal.Saat ini Jordy sudah mengambil Judul Tugas Akhir ‘TA’. Jordy memang mempunyai pengalaman gagal dalam kuliah, namun hal itu tidak membuat ia patah semangat dalam mengenyam ilmu bekal bagi masa depannya.

e. Perkembangan sosial dan status sosial sekarang ini

Masyarakat yang tinggal disekitar Jordy adalah mahasiswa yang mempunyai kesibukan yang beragam. Pada saat peneliti datang ke kos Jordy, terlihat bahwa banyak teman-teman atau tetangga kosnya yang saling tegur sapa dan terlihat sangat mengenal dekat dengan Jordy. Hal tersebut membuktikan bahwa Jordy merupakan pribadi yang menarik bagi lingkungan sekitarnya. Berikut kutipan ungkapan langsung dari teman kos subjek pada wawancara tidak terstruktur di bawah ini:

Aji :“Kalau kesehariannya ya suka ngumpul, maksudnya kalau bersosialisasinya gampang, karena juga kenal deket sudah hampir tiga tahun jadi udah dekat, cuman ini aja ya e... kalau misalkan ngumpul tu... ini aja waktunya aja kadangkan mas Jordy itu waktunya kebanyakan dari malam dia baru bersosialisasi jadinya kadang, ini aja sih waktunya aja ya kadang kalau ngumpul sama mas Jordy itu malam, mungkin juga karena mas Jordy itu tidurnya baru bangun juga udah siang hari gitu, tapi kalau ngumpul sih baik-baik aja kok, orangnya juga enak, e.. kalau diajak ngobrol baik, santai juga orangnya, cuma itu aja sih mas kalau dia udah ketemu di kamar itu lama banget, kalau saya nggak sama temen-temen saya yang sebelah lagi itu nggak suruh keluar itu nggak bakalan keluar.”

(51)

Iskandar : Ya kalau menurut saya pribadi Jordy ini baik ya, ya senang bergaul, kalau dengan saya sendiri ya saya cukup dekat dengan Jordy, saya sering apa ya, ya kalau jeda saya itu sering ke kantin ngopi makan ya sering juga sih dibayari dia, ya tahu sendiri kan mas kalau anak kos-kosan/anak rantau kadang-kadang

uangnya sering mepet, ya gitulah.”

Peneliti : “Lalu begini mas Iskandar terkait aktivitas di kampus terkhusunya itu untuk kuliah mas, dalam kuliah pagi itu gimana mas? Beliau itu dalam mengikuti mata perkuliahan selama berlangsung pada kuliah pagi

hari itu bisa diberikan penjelasan mas?”

Iskandar : “Kalau kuliah pagi Jordy ini ya sering terlambat sih mas, ya kadang titip absen juga tapi kalau masuk ya paling duduk di belakang. Ya ngantuk, kadang tidur kadang maen game ya seperti itulah mas.”

Peneliti : “Berarti kalau dia berangkat bisa dipastikan ngantuk -ngantukan gitu mas? Atau gimana?

Iskandar : “Ya seperti itu mas,”

Peneliti : “Lalu begini mas Iskandar, mas Jordy ini apakah tergolong mahasiswa yang aktif di dalam bidang keorganisasian yang ada di kampus anda mas?”

Iskandar :”Kalau dulu sih aktif ya mas ya, ya saya dulu juga sering bareng dia ikut organisasi, tapi kalau sekarang saya kurang tahu mas tentang masalah organisasi, soalnya kalau ketemu dia ngobrolnya masalah game, masalah bola, ya kapan maen futsal, soalnya kami juga

sering maen futsal bareng.”

Dari pernyataan kedua informan di atas dapat disimpulkan bahwa Jordy memiliki pribadi yang menarik di lingkungan kos maupun di lingkungan kampus.

f. Ciri-ciri kepribadian

(52)

gagal hingga sekarang ia hampir menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai mahasiswa.

B.Subjek II

1. Sejarah Kehidupan Subjek II

Subjek kedua kali ini adalah lulusan dari SMK di Lampung. Setelah lulus dari SMK subjek mendapat arahan dari orangtuanya untuk melanjutkan kursus sebagai montir, akan tetapi subjek menolaknya karena tidak sesuai dengan minat dirinya. Karena tekadnya yang kuat untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, akhirnya subjek mendapat brosur dari salah satu Universitas di Jogja. Kedua orangtua selanjutnya merestui keinginan subjek untuk kuliah dan tinggal di Jogja.Pada kasus kedua kali ini, subjek tergolong dalam mahasiswa yang pola tidurnya tidak normal lantaran aktivitas dan kegiatan di kampus yang terlalu padat hingga menuntut subjek untuk istirahat tidak teratur.

2. Analisis Data Subjek II

a. Latar belakang kehidupan keluarga

Keluarga Albi adalah keluarga yang memberikan kebebasan bagi anak-anaknya dalam mengambil keputusan. Berikut kutipan ungkapan langsung dari Albi pada wawancara tidak terstruktur ini:

Peneliti :“Bisa diceritakan mas latar

belakangkeluarga mas Albi itu bagaimana

mas?”

Albi (Subjek kedua):”Begini mas, saya anak terakhir dari empat bersaudara, sedangkan kedua orangtua saya hanya tamatan SD. Maka dari itu saya memiliki cita-cita untuk menjunjung tinggi derajat keluarga saya, dengan cara saya kuliah di Jogja untuk memperoleh gelar sarjana nantinya. Pastinya itu didukung dari keluarga terkhusus dari

kedua orangtua.”

(53)

ungkapan di atas bahwa ia ingin menjunjung tinggi derajat keluarganya. Latar belakang keluarga yang bukan tergolong dari keluarga yang berpendidikan tinggi, namun Albi ingin membuat suatu perubahan bagi keluarganya. Ia berani tampil beda dengan teman-teman di lingkungan tempat asalnya untuk merantau ke Jogja guna menempuh pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Faktor pendukung dari kedua orangtuanya yang mampu mewujudkan pilihan yang Albi pilih adalah bentuk apresiasi moril dari keluarga meskipun keluarganya tidak tergolong dari keluarga yang berpendidikan tinggi.

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural

Lingkungan tempat tinggal subjek saat di Lampung mayoritas tergolong dalam masyarakat ekonomi menengah ke bawah. Pada umumnya setelah selesai menempuh studi di SMA/Sederajat masyarakat lebih memilih untuk melanjutkan bertani daripada melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Tempat asal subjek merupakan daerah yang penduduknya dari pendatang atau transmigran. Hal tersebut dikuatkan dengan kedua orangtua subjek yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah yang melakukan transmigrasi ke Lampung.

c. Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan

Riwayat subjek dari sejak lahir hingga dewasa sekarang, subjek tidak pernah mengalami gangguan penyakit yang kronis. Subjek adalah pribadi yang gemar berolah raga. Aktivitas yang subjek lakukan di lingkungan kampus juga menuntut subjek untuk mengikuti kegiatan UKM beladiri yang bersifat wajib bagi mahasiswa baru dan hingga sekarang masih ditekuni oleh subjek.

d. Perkembangan kognitif

(54)

pribadi yang memiliki perkembangan kognitif yang menonjol, didukung dari menentukan pilihan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi yaitu kuliah di Jogja, karena pada umumnya lingkungan tempat asal subjek setelah lulus dari SMA/sederajat langsung melanjutkan bertani dan tidak banyak untuk melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi.

e. Perkembangan sosial dan status sosial sekarang ini

Perkembangan sosial subjek bisa dikatakan cukup baik dan menarik. Subjek merupakan tipe pribadi yang cukup mudah membangun relasi dengan teman-teman di lingkungan tempat tinggalnya sekarang. Subjek juga tidak pernah terlibat dalam pelanggaran norma yang berlaku di lingkungannya.

Di bawah ini merupakan wawancara tidak terstruktur dengan teman kampus subjek yang menunjukan bahwa Albi kurang kondusif dalam mengikuti mata perkuliahan di pagi hari. Berikut kutipan wawancaranya:

Bram : Kalau Albi mas ya, sejauh yang saya tahu ketika di kampus dia itu ya tergolong mahasiswa yang aktif

sebenarnya.”

Peneliti : Aktifnya itu dalam gimana mas? Bisa disimpulkan mas?

Bram :“Jadi aktifnya itu dalam arti, dia setahu saya mas ya dia itu ikut beberapa kelembagaan yang saya tahu itu yang pertama itu mengikuti beladiri mas, sama kemudian yang kedua keagamaan, yaitu jadi kemudian kan di kelembagaan itu ya dia tergolong juga aktif setahu saya, ya mas juga tahu sendiri kalau di kelembagaan kan banyak kegiatan seperti itu mas,

aktifitasnya padat.”

Peneliti :“Baik begini mas Bram, mengenai aktivitas di kampusnya pada kuliah pagi itu bagaimana mas?

Bisa mas Bram jelaskan lebih rinci?”

(55)

banyak di kelembagaan, jadi pagi itu mas sering telat, sering telat itu kalau digambarkan sering mengejar jam itu lho mas, kalau misalnya jam tujuh (07.00) Nah, kebetulan kalau dosennya ada yang misalnya lebih luwes gitu, dia bisa masuk cuman ada beberapa, tapi ada beberapa dosen yang dia disiplin soal waktu nah, dia (Albi) tidak boleh masuk begitu, itu sempet beberapa kali saya dapati seperti itu soal ya kaya terlambat itu, sering terlambatlah, nah kalau untuk ketika di kelas.”

Peneliti :“Dalam mata perkuliahan gimana mas? Bisa

digambarkan mas?”

Bram :“Ya kalau untuk di kelas ituya terlihat kurang semangat mas,lemes gitu lho. Maksudnya kurang semangat, kalau yang terlihat yang bisa saya ceritkan misalnya tangannya itu menyangga kepalanya gitu mas,kemudian ya sesekali ngantuk terpejam matanya gitu mas, jadi kurang semangatlah intinya kurang semangat ya seperti tertidur-tidur, karena mungkin karena ya kurang tahu mungkin aktif di kelembagaan atau seperti apa, yang jelas setahu saya dan sempet saya lihat ya seperti itu kalau Albi

di kelas pagi.”

Dalam wawancara tidak terstruktur di atas antara peneliti dengan Bram (informan subjek Albi) dapat menjelaskan bagaimana Albi menemui kendala dalam aktivitas akademiknya terutama dalam mengikuti mata perkuliahan pagi akibat terlalu padat partisipasinya mengikuti organisasi di kampus.

f. Ciri-ciri kepribadian

(56)

aktivitas padat. Berikut kutipan ungkapan langsung dari teman kos subjek pada wawancara tidak terstruktur di bawah ini:

Peneliti :“Gimana sih mas, mas Albi itu orangnya kalau di lingkungan kos-kosan ini?”

Anjas :“Orangya itu jarang kelihatan mas kalau di pagi hari, kalau saya bangun aja dia udah berangkat kuliah, paling ketemu sama dia itu malem hari, pas lagi nongkrong di angkringan di depan kos-kosan.”

Pernyataan singkat informan di atas dapat menjelaskan bagaimana regulasi keseharian subjek kedua kali ini. Meskipun tergolong dalam mahasiswa yang mempunyai kegiatan padat, ia tetap menyempatkan untuk bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya.

C.Subjek III

1. Sejarah Kehidupan Subjek III

Subjek penelitian ketiga berikut ini adalah mahasiswa yang dikenal sebagai mahasiswa yang sering begadang dengan aktivitas dunia malam. Sebagai mahasiswa semester sepuluh di perguruan tinggi di Jogja, Daniel sangat mengerti hiruk pikuk dan keadaan di kota Jogja khususnya di tempat-tempat hiburan malam. Tidak sedikit mahasiswa di Jogja yang tergiur dalam pengaruh dunia malam dan akibatnya mempengaruhi kegiatan pada perkuliahan, salah satunya subjek berikut yang memiliki nama samaran Daniel. Jakarta adalah tempat asal subjek . Semenjak ia mempunyai kebiasaan untuk dugem dan terbawa sampai ke Jogja, menurutnya hal tersebut sudah terbentuk sejak ia masih SMA. Daniel mengakui bahwa ia salah di dalam pergaulan sehingga menyebabkan pola tidurnya yang salah tersebut sampai membentuk suatu kebiasaan buruk. 2. Analisis Data Subjek III

a. Latar belakang kehidupan keluarga

(57)

lebih cenderung dengan pekerjaan. Berikut ungkapan wawancara tidak terstruktur antara peneliti dengan subjek :

Peneliti :“Selamat malam mas Daniel, gini mas ini bisa diceritakan mas, latar belakang keluarga mas Daniel

itu gimana mas?”

Daniel :“Eee... latar belakang ya mas ya, jadinya saya itu anak kedua dari dua bersaudara jadinya saya punya kakak, itu perempuan, terus ya saya tinggal di Jakarta. Ibu sama bapak saya itu ya lulusan SMA tapi mereka punya usaha dan ya kalau saya bilang sih mas, ya ibu sama bapak saya ya lebih fokus ke arah usahanya gitu lho mas, jadinya saya cuma yaudah disuruh sekolah terus disuruh kuliah, mangkanya saya berpikiran paling besok saya nerusin usaha keluarga saya sih

mas, gitu doang sih mas.”

Dari ungkapan wawancara tidak terstruktur di atas menunjukan bahwa pola asuh orang tua yang kurang memperhatikan anak sangat terlihat jelas. Hal tersebut menurut peneliti yang dapat memicu subjek ketiga ini menjadi tak terarah/pola tidur yang tidak normal.

b. Lingkungan fisik, sosio-ekonomi dan sosial kultural

Lingkungan daerah Daniel termasuk golongan menengah ke atas dalam hal ekonomi saat ia tinggal di Jakarta, dan selama ini di Jogja ia menempati rumah kos ekslusif di daerah Seturan,Yogyakarta. Mayoritas yang tingal di rumah kos tersebut tergolong dari kalangan atas. Lingkungan rumah kos tersebut dihuni dari beberapa etnis, etnis tinghoa dan suku jawa mendominasi di rumah kos tersebut.

c. Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan

Pertumbuhan jasmani dan riwayat kesehatan Daniel pernah mengalami beberapa gejala penyakit sewaktu ia tinggal di Jogja. Berikut wawancara tidak terstruktur dengan subjek terkait:

(58)

Daniel :“Penyakit yang kronis ya mas ya, cuma pernah dulu sih mas pas awal-awal, e... awal-awal kuliah itu sekitar semester tigaan, itu tu saya sempat kena hepatitis tapi itu cuman gejala doang sih mas, tapi belum ke arah penyakitnya tapi dah sempet masuk Rumah Sakit beberapa minggu opname, terus sempet juga baru kayaknya sih

Gambar

Tabel 4. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek III dan informan ...............  26
Tabel 1. Panduan wawancara
Tabel 2. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek I dan informan
Tabel 3. Agenda pertemuan peneliti dengan subjek II dan informan
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dan apabila mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Malang memiliki kualitas tidur yang baik dan tidak terdapat gangguan memori jangka pendek, maka

Aspek yang akan dibahas yaitu jenis kelamin, alasan bermain, jenis game, lama bermain dan waktu bermain game online, kondisi tubuh pada saat bangun tidur akibat

Subjek tidur selama tiga sampai empat jam dalam sehari dikarenakan subjek sedang menghadapi tugas akhir. Jika hari-hari biasa dimana tidak ada tugas yang berat, subjek

Pengkajian pada Ny.S diperoleh data subjektif klien mengatakan susah tidur sudah lama beserta penyakit hipertensinya, klien mengatakan tidak bisa tidur siang,

Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola tidur dengan kejadian akne vulgaris pada Mahasiswa Universitas Sebelas

Namun sebenarnya hal itu berdampak negatif bagi dirinya karena selain jadwal tidur sudah tidak teratur yang dialaminya saat itu, merokok dapat menyebabkan seseorang insomnia

Hasil: Sebagian besar responden memiliki perilaku penggunaan gadget yang tidak baik, yaitu sebanyak 68 orang (57,1%) dan sebagian besar responden memiliki kualitas

Hal ini menunjukan bahwa data yang dianalisis lebih kecil dari 0,05 (< 0,05) artinya kedua variabel menunjukan adanya hubungan negatif antara kecemasan dengan pola tidur