• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara self efficacy dan self management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara self efficacy dan self management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia."

Copied!
143
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DAN SELF MANAGEMENT

PADA INDIVIDU DENGAN DIABETES TIPE 2 DI INDONESIA

Ni Made Brigitha Aprilia Pamella Dewi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan self-management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan 48 individu dengan diabetes tipe 2 (30 perempuan, 18 laki-laki). Instrument penelitian ini menggunakan skala self efficacy dan skala self management. Skala self efficacy terdiri dari 33 item dan skala self management terdiri dari 23 item. Hasil menunjukkan bahwa self efficacy berkorelasi secara positif signifikan pada self management (r= 0.471, p= 0.001; p<0.01). Subjek dengan self efficacy tinggi memiliki self management yang baik di medication, diet, monitoring, olahraga, kontrol rutin ke dokter, dan pengambilan keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah subjek memiliki self efficacy yang tinggi sehingga mereka memiliki tingkat self manajemen yang baik dan hanya 5,8% yang memiliki self efficacy rendah. Tambahan, Usia berkorelasi positif dan signifikan dengan self efficacy (r= 0.307, p= 0.034; p< 0.05). Akan tetapi, usia tidak berkorelasi secara signifikan dengan self management. Secara umum, subjek memiliki kontrol diabetes; mereka memiliki self efficacy yang tinggi, dan perilaku self management yang optimal. Oleh karena itu self efficacy dan self management menjadi komponen dasar bagi pasien untuk menjalankan program diabetes.

(2)

THE RELATION BETWEEN SELF EFFICACY AND SELF MANAGEMENT IN INDIVIDUALS WITH TYPE 2 DIABETES IN

INDONESIA

Ni Made Brigitha Aprilia Pamella Dewi

ABSTRACT

The research aimed for knowing the relation between self efficacy and self management in individuals with type 2 diabetes in Indonesia. This research involved 48 individuals (30 women, 18 men) with type 2 diabetes. The used instruments were self efficacy scale and self management scale. The self efficacy scale consists of 33 items and self management scale consists of 23 items. Result showed that self efficacy was positively correlated with self management (r= 0.471, p= 0.001; p<0.01). Subject with higher self efficacy had better self management in medication, diet, monitoring, exercise, medical appointment, and decision making. The research showed that more than half of subjects had higher self efficacy and they had good self management and that only 5.8% had low self efficacy. In addition, age was positively correlated with self efficacy (r= 0.307,

p= 0.034; p< 0.05). But, age wasn’t significantly correlated with self management. In general,

subjects have diabetes controlled; their self efficacy was high and they had optimal self management behaviors. Therefore, self efficacy and self management for patients are essential components of diabetes programs.

(3)

HUBUNGAN ANTARA

SELF EFFICACY

DAN

SELF

MANAGEMENT

PADA INDIVIDU DENGAN DIABETES TIPE 2

DI INDONESIA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi

Disusun Oleh:

Ni Made Brigitha Aprilia Pamella Dewi 099114005

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA

(4)
(5)
(6)
(7)

v

!

"#$ #%&

'

$!

('( #" )

*+

' !# + ! ', #- -+ %#',+ *

' ) '

%#'#% '( " "( ) ' % %

*#$.('*

)($(

!

! ', *()

"#$'

-#-

&#$ + ',

(8)
(9)

vii

HUBUNGAN ANTARA SELF EFFICACY DAN SELF MANAGEMENT PADA INDIVIDU DENGAN DIABETES TIPE 2 DI INDONESIA

Ni Made Brigitha Aprilia Pamella Dewi

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara self-efficacy dan self-management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia. Penelitian ini menggunakan 48 individu dengan diabetes tipe 2 (30 perempuan, 18 laki-laki). Instrument penelitian ini menggunakan skala self efficacy dan skala self management. Skala self efficacy terdiri dari 33 item dan skala self management terdiri dari 23 item. Hasil menunjukkan bahwa self efficacy berkorelasi secara positif signifikan pada self management (r= 0.471, p= 0.001; p<0.01). Subjek dengan self efficacy tinggi memiliki self management yang baik di medication, diet, monitoring, olahraga, kontrol rutin ke dokter, dan pengambilan keputusan. Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari setengah subjek memiliki self efficacy yang tinggi sehingga mereka memiliki tingkat self manajemen yang baik dan hanya 5,8% yang memiliki self efficacy rendah. Tambahan, Usia berkorelasi positif dan signifikan dengan self efficacy (r= 0.307, p= 0.034; p< 0.05). Akan tetapi, usia tidak berkorelasi secara signifikan dengan self management. Secara umum, subjek memiliki kontrol diabetes; mereka memiliki self efficacy yang tinggi, dan perilaku self management yang optimal. Oleh karena itu self efficacy dan self management menjadi komponen dasar bagi pasien untuk menjalankan program diabetes.

(10)

viii

THE RELATION BETWEEN SELF EFFICACY AND SELF MANAGEMENT IN INDIVIDUALS WITH TYPE 2 DIABETES IN INDONESIA

Ni Made Brigitha Aprilia Pamella Dewi

ABSTRACT

The research aimed for knowing the relation between self efficacy and self management in individuals with type 2 diabetes in Indonesia. This research involved 48 individuals (30 women, 18 men) with type 2 diabetes. The used instrument were self efficacy scale and self management scale. The self efficacy scale consist of 33 items and self management scale consists of 23 items. Result showed that self efficacy was positively correlated with self management (r= 0.471, p= 0.001; p<0.01). Subject with higher self efficacy had better self management in medication, diet, monitoring, exercise, medical appointment, and decision making. The research showed that more than half of subjects had higher self efficacy and theyhad good self management and that only 5.8% had low self efficacy. In addition, age was positively correlated with self efficacy (r= 0.307, p= 0.034; p< 0.05). But, age wasn’t significantly correlated with self management. In general, subjects have diabetes controlled; their self efficacy was high and they had optimal self management behaviors. Therefore, self efficacy and self management for patients are essential components of diabetes programs.

(11)
(12)

x

KATA PENGANTAR

Puji syukur dan terima kasih saya ucapkan kepada Tuhan Yesus Kristus atas

segala penyertaan dan pendampingan selama proses pengerjaan skripsi ini. Penulis

memohon maaf apabila terdapat hal-hal yang tidak berkenan. Pada proses penulisan

skripsi ini penulis juga mengucapkan terimakasih kepada :

1. Bapak Cornelius Siswa Widyatmoko, M.Psi. selaku Dekan Fakultas Psikologi

Universitas Sanata Dharma

2. Ibu Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si selaku Kepala Program Studi Fakultas

Psikologi Universitas Sanata Dharma.

3. Dosen pembimbing skripsi saya ibu Debri Pristinella, M.Si yang selalu sabar

dan memberi arahan selama proses skripsi ini. Terima kasih sekali ibu, yang

diajarkan akan selalu saya ingat.

4. Ibu Dr. Tjipto, M.Si Susana selaku dosen pembimbing akademik kelas A yang

mendampingi saya selama perkuliahan. Terima kasih karena membuat saya

untuk terus berpikir maju ke depan.

5. Ibu Monica EM., M.Psych selaku dosen yang memberikan inspirasi topik dan

arahan dalam skripsi saya. Good luck for your study.. GBU

6. Bapak Agung Santoso, M.A selaku dosen yang membantu membangun pondasi

skripsi dan tempat saya curhat masalah analisis data.

7. Dosen-dosen fakultas Psikologi yang telah banyak memberikan ilmu selama

(13)

xi

8. Seluruh staff Fakultas Psikologi: mas Gandung, mbak Nanik, pak Gi, mas muji

dan mas Doni. Terima kasih untuk keramahannya. Maaf kalau sering bikin

repot ☺.

9. Pak Parjianto personalia RS. Panti Rapih, ibu Lestari personalia St. Elisabet,

ibu Endah personalia RS. Panti Nugroho, dr Sarjoko, dan pihak-pihak yang

membantu proses pengambilan data penelitian saya.

10. Wakil Rektor III USD, Panitia APP Kevikepan DIY dan gereja St. Maria

Assumpta Pakem yang sudah memberi support dan bantuan yang besar.

11. Seluruh staff perpustakaan terkhususnya pak yanto yang telah memberikan

banyak bantuan selama saya mengerjakan skripsi.

12. Seluruh subjek penelitian saya yang sudah mau direpotkan dan mendoakan

keberhasilan saya. Terus berjuang ya bapak/ibu, kalian dapat memiliki hidup

yang berkualitas.

13. Matur suksma Papi dan Mama yang selalu mendoakan, memberikan support, menunggu dengan sabar sampai skripsi ini selesai. Terima kasih karena

memberikan saya kebebasan untuk hidup dan mengajarkan perbedaan. Skripsi

ini hadiah kecil dari saya untuk kalian. Thank you for being a wonderful parent. I love u so much..

14. Kak Tika dan Bella, saudara-saudara ku yang terpisah provinsi dan pulau yang

memberikan doa dan dukungan.

15. Ibu Agus Murti dan Bapak Agus Santoso yang memberikan keramahan,

(14)

xii

16. Dominicus Yusan Tria Putra untuk setiap cinta, kesabaran, penghiburan dan

semangat yang diberikan kepada saya. Terima kasih telah menjadi seorang

sahabat, kakak, teman berantem, dan harta saya. Mari kita selesaikan pendakian

kita hingga puncak.

17. Sahabat yang luar biasa; Tania, Manik, Okvi, Vivin, Fheni, Jeanet, Meri, Adi,

Ayu, Gunung, Pujo, Dimas, Dorin, Yoyo, Pungki, Sambat, Anton, OMK

UPWW, dan OMK Paroki Pakem. Terima kasih untuk dukungan, bantuan, dan

tempat berkeluh kesah. Kita adalah satu keluarga. Teruslah berjuang untuk

cita-cita kita.

18. Tim pencari data penelitian: Dorin, mbak Puri, Yogi, Chiputera, Fheni, Angel,

Riris, Vivi, Manik, Entong, Okvi, mas Putra, mbak Lina, mbak Siwi, mbak

Erlin, mas Yosep, bude Tari, bude Dewi, bu Sri. Terima kasih karena sudah

mau direpotkan. Skripsi ini ada berkat bantuan kalian. God Bless..

19. Arthur, Merlin, dan Berlin yang selalu ada dalam sedih, senang, menjaga,

mengajarkan untuk sabar, dan bertanggung jawab. Terima kasih karena

memilih saya untuk hidup bersama.

20. Mas Paymoen, mas Komenk, mas Timo, mas Hanes dan mas Betet yang

memberikan ilmu dan pengalaman yang belum bisa saya dapatkan di bangku

kuliah. Belajar untuk tidak menyerah, tenang, bersikap profesional,dan berelasi

(15)
(16)

xiv

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN MOTTO ... iv

HALAMAN PERSEMBAHAN ... v

HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

ABSTRAK ... vii

ABSTRACT ... viii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiv

DAFTAR TABEL ... xviii

DAFTAR LAMPIRAN ... xix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 9

C. Tujuan Penelitian ... 9

D. Manfaat Penelitian ... 9

1. Manfaat Teoritis ... 9

(17)

xv

BAB II LANDASAN TEORI ... 11

A. Self Management ... 11

1. Definisi Self Management ... 11

2. Aspek-aspek Self Management Pada Individu Dengan Diabetes Tipe 2 ... 13

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 ... 17

4. Optimalisasi Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 (Santrock, 2011) ... 19

B. Self Efficacy ... 21

1. Definisi Self Efficacy ... 21

2. Aspek-aspek Self Efficacy ... 22

3. Sumber Self Efficacy(Sources of Self Efficacy) ... 24

C. Diabetes ... 29

1. Definisi Diabetes ... 29

2. Kriteria Diabetes Tipe 2 ... 31

3. Dampak Diabetes Tipe 2 ... 32

D. Hubungan antara Self Efficacy dan Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 di Indonesia ... 35

E. Skema Hubungan antara Self Efficacy dan Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 di Indonesia ... 38

(18)

xvi

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 40

A. Jenis Penelitian ... 40

B. Identifikasi Variabel ... 40

C. Definisi Operasional ... 40

1. Self Management ... 40

2. Self Efficacy ... 41

D. Subjek Penelitian ... 42

E. Metode Sampling ... 43

F. Instrumen Penelitian ... 43

1. Skala Self Management ... 44

2. Skala Self Efficacy ... 46

G. Pengujian Instrumen Penelitian ... 48

H. Kategorisasi ... 49

I. Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... 49

1. Validitas Skala ... 49

2. Seleksi Item ... 50

3. Reliabilitas ... 54

J. Metode Analisis Data ... 55

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 56

(19)

xvii

B. Deskripsi Subjek ... 57

1. Jenis Kelamin ... 57

2. Usia ... 57

3. Durasi Diabetes Tipe 2 ... 58

C. Hasil Penelitian ... 59

1. Statistik Data Penelitian ... 59

2. Kategorisasi Subjek Penelitian ... 59

3. Uji Normalitas ... 61

4. Uji Linearitas ... 62

5. Uji Hipotesis ... 62

6. Hasil Tambahan ... 63

D. Pembahasan ... 64

E. Keterbatasan Penelitian ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 70

A. Kesimpulan ... 70

B. Saran ... 71

1. Bagi Peneliti Selanjutnya ... 71

2. Bagi Instansi Kesehatan di Indonesia ... 71

3. Bagi Para Individu dengan Diabetes Tipe 2 ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72

(20)

xviii

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Blue Print Skala Self Management ... 45

Tabel 2. Blue Print Skala Self Efficacy ... 47

Tabel 3. Rumus Norma Kategorisasi (Azwar, 2012) ... 49

Tabel 4. Blue Print Skala Self Management setelah Uji Coba ... 51

Tabel 5. Blue Print Skala Self Efficacy setelah Uji Coba ... 53

Tabel 6. Interpretasi Koefisien Korelasi (Sugiyono, 2008) ... 55

Tabel 7. Deskripsi Jenis Kelamin ... 57

Tabel 8. Deskripsi Usia ... 58

Tabel 9. Deskripsi Lama Diabetes ... 58

Tabel 10. Statistika Data Penelitian ... 59

Tabel 11. Kategorisasi Skor Variabel Self efficacy dan Self Management ... 60

Tabel 12. Kategorisasi Data Self Efficacy dan Self Management ... 60

Tabel 13. Uji Normalitas ... 61

Tabel 14. Uji Linearitas ... 62

Tabel 15. Uji Hipotesis ... 63

(21)

xix

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1: SKALA UJI COBA ... 80

LAMPIRAN 2: RELIABILITAS SKALA ... 93

LAMPIRAN 3: SKALA PENELITIAN ... 103

LAMPIRAN 4: DESKRIPSI SUBJEK ... 112

LAMPIRAN 5: UJI ASUMSI ... 116

LAMPIRAN 6: UJI HIPOTESIS ... 119

LAMPIRAN 7: HASIL TAMBAHAN ... 120

(22)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Diabetes merupakan salah satu penyakit kronis yang menjadi penyebab

kematian 80% bagi penduduk di negara-negara barat (Maes, Leventhal, &

DeRidder, dalam Macrodimitris & Endler, 2001). Diabetes adalah perubahan

sistem kimiawi dalam tubuh yang mengakibatkan kadar gula berlebih di dalam

darah (Bilous, 2002). Sebagian besar diabetes dibedakan ke dalam dua kategori

umum. Diabetes tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus- IDDM) ditandai oleh defiensi absolut insulin akibat kerusakan sel β pankreas (Kummar, Abbas & Fauston, 2005). Hal ini disebabkan oleh kelainan genetik yang dibawa sejak lahir

(Pramudiarja, 2012) yang membuat sel-sel di dalam tubuh tidak dapat

memproduksi insulin sehingga penderita harus bergantung terhadap suntikan

insulin selama hidupnya (Johnson, 1998). Pada diabetes tipe 2 ( non-insulin-dependent diabetes mellitus –NIDDM) disebabkan oleh kombinasi resisten perifer terhadap kerja insulin dan kurangnya respon sekretorik sel β pankreas (“defisiensi insulin relative”) (Kummar et al., 2005). Hal ini berarti suplai insulin di dalam tubuh berkurang atau tidak cukup efektif sehingga gula darah naik lebih

lamban (Bilous, 2002). Diabetes tipe ini disebabkan oleh gaya hidup yang kurang

(23)

Individu dengan diabetes cenderung mengalami peningkatan dari tahun ke

tahun. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pada tahun 2000

jumlah individu dengan diabetes di Indonesia sebesar 8, 4 juta (Pdpersi, 2011)

dari 206.264.595 juta penduduk (BPS, 2013). Badan Pusat Statistik (BPS) juga

mencatat adanya kenaikan jumlah individu dengan diabetes menjadi 13, 7 juta

orang pada tahun 2003 (Pdpersi, 2011) dari 213.550.500 juta penduduk

(DataStatistik-Indonesia, 2013). Berdasarkan pola pertambahan penduduk

tersebut diperkirakan pada tahun 2030 akan ada kenaikan individu dengan

diabetes sebesar 20,1 juta dengan tingkat prevalensi 14,7 % untuk daerah urban

dan 7,2 % di rural (Pdpersi, 2011). Hal ini berarti bahwa adanya kenaikan

individu dengan diabetes yang lebih tinggi sebesar 14,7% di daerah perkotaan

dibandingkan di daerah pedesaan yang hanya mengalami kenaikan sebesar 7,2%.

Saat ini diperkirakan jumlah individu dengan diabetes di dunia mencapai angka

200 juta jiwa dan diprediksikan bahwa pada tahun 2020 individu dengan diabetes

akan bertambah menjadi 350 juta jiwa (RiauPosOnline, 2012).

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah individu dengan

diabetes terbanyak. Hal ini ditunjukan oleh temuan Badan Kesehatan Dunia

(World Health Organization/ WHO) yang menempatkan Indonesia sebagai peringkat ke lima negara dengan individu dengan diabetes terbanyak di dunia.

WHO juga memperkirakan bahwa pada tahun 2030 penderita diabetes tipe 2 di

Indonesia akan meningkat hingga tiga kali lipat menjadi 21,3 juta jiwa. Pada

(24)

sampai 90% dibandingkan individu dengan diabetes tipe 1 yang berkisar 10%

(Kummar et al., 2005).

Adanya data yang menunjukkan tingginya angka individu dengan diabetes

membuat pengobatan diabetes menjadi intensif dan berkelanjutan. Tritmen

diabetes yang secara umum dilakukan pada individu dengan diabetes antara lain

pengobatan medis, monitoring glukosa darah, terapi diet, dan olahraga

(Gonder-Frederick, Cox, & Ritterband, 2002). Selain itu seleksi makanan serta pengaturan

pola makan dapat diterapkan dalam perawatan diabetes (Savoca & Miller, 2001)

Pengobatan dan tritmen yang dilakukan oleh individu dengan diabetes dapat

meminimalisir resiko terjadinya komplikasi kardiovaskular, mengurangi resiko

hipertensi, hiperlipidemi, dan mengontrol gula darah. (Gonder-Frederick et al.,

2002). Salah satu cara, yaitu ketaatan pengobatan dan kehadiran waktu kontrol

dapat memberikan intervensi pada tekanan darah dan kolesterol (Hills-Briggs,

Gary, Bone, Hill, Levine, & Brancati, 2005). Hasil tersebut dapat tercapai ketika

penderita diabetes melaksanakan tritmen secara intensif sehingga memberikan

dampak pada kualitas hidup individu dengan diabetes (Gonder-Frederick et al.,

2002). Pelaksanaan tritmen secara intensif pada individu dengan diabetes sering

dikenal dengan self management.

Pelaksanaan manajemen diabetes bukan hal yang mudah. Terdapat beberapa

hambatan dalam pelaksanaan manajemen diabetes antara lain hambatan yang

berasal dari faktor pasien dan faktor yang berasal dari penyedia layanan

(25)

dan kepercayaan. Selain itu terdapat juga hambatan yang berupa pengetahuan,

budaya, sumber penghasilan, co-morbidities, dan dukungan sosial dalam pelaksanaan manajemen diabetes (Nam, Chesla, Stotts, Kroon, & Janson, 2011).

Pada penelitian mengenai faktor penghambat dari pasien yang berupa

perilaku dan kepercayaan menjelaskan bahwa sekitar 33 % individu dengan

diabetes memiliki keengganan dalam melakukan terapi insulin (Polonsky, Fisher,

Dowe & Edelman dalam Nam et al., 2011). Hal ini disebabkan oleh sikap dan

keyakinan individu yang menganggap bahwa terapi insulin merupakan kegagalan

mereka dalam mengelola penyakit diabetes (Davis & Renda dalam Nam et al.,

2011). Selain itu, individu dengan diabetes ini meyakini bahwa terapi insulin

akan memperburuk penyakit mereka dan menghasilkan komplikasi yang lebih

parah (Davis & Renda dalam Nam et al., 2011). Kesalahpahaman inilah yang

pada akhirnya mempengaruhi pasien dalam melakukan self-management diabetes tipe 2.

Pada faktor yang berasal dari penyedia layanan kesehatan, faktor

penghambat berupa kepercayaan, perilaku, pengetahuan, interaksi dan

komunikasi antara pasien dan penyedia layanan serta sistem kesehatan (Nam, et

al., 2011). Salah satu penelitian menunjukkan bahwa perilaku empati yang

dilakukan oleh penyedia layanan kesehatan dapat membentuk perilaku self-management (Peyrot, Burns, Daviesc, Forbes, Hermannse, Holtf, Kalrag, Nicolucci, Pouwer, Wensj, Willaingk, & Skovlundl, 2012). Akan tetapi

(26)

kurang jelas dan intesif (Schetman et al., dalam Hill-Briggs et al., 2005). Padahal

untuk menjalani self-management diperlukan pengertian dan penjelasan dalam pelaksanaannya.

Secara psikologis, Self management berperan sebagai pycho-behavioral yang mempengaruhi hasil kesehatan yang dapat menentukan perkembangan

pengobatan dan penyakit (Cobden, Niessen, Barr, Rutten, & Redekop, 2010).

Self management juga berperan dalam meningkatkan kepuasan pelaksanaan tritment dan mengurangi gejala depresi sehingga individu memiliki kesejahteraan

(Cobden et al., 2010). Self management dibuat agar individu terfasilitasi secara pengetahuan, keterampilan, dan dalam pelaksanaan perawatan diri (Funnel,

Brown, Childs, Hosey, Jensen, Maryniuk, Peyrot, Piette, Reader, Simineiro,

Weinger, & Weiss, 2008)

Perilaku self-management pada individu dengan diabetes sangat penting. Salah satu penelitian menjelaskan bahwa rendahnya perilaku manajemen diri

serta kurangnya partisipasi dalam mengikuti program pendidikan, diet maupun

pengobatan membuat individu dengan diabetes mengalami gejala depresi (Park,

Hong, Lee, Ha, & Sung, 2004). Gejala depresi tersebut berupa perasaan sedih,

putus asa, kehilangan berat badan, perasaan lelah yang menghambat aktivitas,

serta kesulitan dalam berkonsentrasi (Hufman, Vernoy, & Vernoy, 2000). Hal ini

(27)

mengurangi perilaku beresiko meskipun mereka mengetahui resikonya (Nam et

al., 2011)

Tingginya angka individu dengan diabetes terutama di Indonesia serta

kurangnya self management diabetes memberikan dampak permasalahan pada beberapa area seperti masalah kesehatan fisik dan psikologis. Dari segi dampak

kesehatan fisik, individu dengan diabetes rentan terkena penyakit makrovaskular

(komplikasi pada pembuluh darah arteri yang lebih besar), mikrovaskular

(komplikasi pada pembuluh darah kecil), retinopati (kerusakan retina), nefropati

diabetes (penyakit ginjal progresif), kebutaan dan penyakit ginjal stadium akhir

(Kummar et al., 2005). Diabetes juga menjadi faktor munculnya sakit jantung,

stroke, hipertensi, dan kerusakan pada sistem saraf (Cahyafitri, 2010).

Dari segi dampak secara psikologis terlihat bahwa individu dengan diabetes

tipe 1 maupun tipe 2 rentan mengalami depresi dua kali lipat dibandingkan

dengan orang pada umumnya tanpa diabetes (Anderson, Freedland, Clouse, &

Lustman, 2001). Hal ini disebabkan karena individu dengan diabetes memiliki

kondisi yang tidak sama seperti orang pada umumnya. Dalam kesehariannya

individu dengan diabetes menghadapi situasi fisik dan emosi yang penuh stres

(Kanner, Hamrin & Grey, 2003). Hal ini dikarenakan individu melakukan

perubahan gaya hidup dan melaksanakan berbagai tritmen yang kompleks

(Lerman, 2005) seperti harus melakukan pemilihan makanan dan pengaturan

pola makan untuk menjaga tingkat glukosa darah dalam tubuh (Savoca & Miller,

(28)

menyesuaikan diri terhadap penyakitnya sehingga mengalami distress dan

rendahnya self-efficacy setelah 2-3 tahun terdiagnosis (Thoolen, De Ridder, Benshing, Gorter, & Rutten, 2006).

Diabetes merupakan penyakit seumur hidup sehingga membutuhkan proses

perawatan dan pengobatan yang panjang dan lama. Self-management merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan dalam memunculkan perilaku gaya

hidup sehat yang dapat membantu meminimalkan atau mencegah komplikasi

akut dan efek jangka panjang selanjutnya pada individu dengan diabetes (Sousa,

Zauszniewski, Musil Price Lea & Davis dalam Al-Khawaldeh, Al-Hassan, &

Froelicher, 2011). Adanya keyakinan individu dalam melakukan perilaku self-management bervariasi sesuai dengan perilaku yang dibutuhkan oleh individu (Al-Khawaldeh et al., 2011). Salah satu contoh, apabila individu ingin

mendapatkan tingkat gula darah yang stabil maka individu akan melakukan self-management terhadap asupan makanan yang dikonsumsi. Perilaku self-management yang secara umum biasa dilakukan oleh penderita diabetes yaitu obat, diet, monitoring glukosa, olahraga, kontrol dokter, dan pengambilan

keputusan sehari-hari (Gonder-Frederick et al., 2002).

Pada pengobatan diabetes diperlukan perubahan perilaku yang kompleks

mulai dari gaya hidup hingga pola makan. Salah satu faktor yang dapat membuat

(29)

tindakan yang diperlukan untuk pencapaian tugas tertentu (Bandura, 1986). Self-efficacy bertujuan agar seorang individu percaya terhadap kemampuan diri sehingga dapat melaksanakan tugas yang diberikan secara kompeten dan efektif.

Pada penelitian ini diharapkan self-efficacy yang dimiliki individu dengan diabetes membantu dalam pembentukan perilaku self-management sehingga dapat mengurangi dampak psikologis seperti depresi yang akhirnya mengurang

resiko kesehatan dan komplikasi akut.

Pada penelitian ini, peneliti juga meneliti keseluruhan aspek self management pada individu dengan diabetes 2. Hal ini dikarenakan pada penelitian sebelumnya terbatas hanya meneliti hubungan self-efficacy dengan ketaatan perilaku self management berupa diet (Senécal, Nouwen & White, 2000) dan kontrol metabolik (Brown et al.; Stenstrom et al.; Surgenor et al.

dalam O’Hea, Moon, Karen, Grothe, Boudereaux, Bodenlos, Wallston, &

Brantley, 2009). Peneliti sebelumnya meneliti aspek diet karena aspek tersebut

dianggap sebagai pusat dari self management pada diabetes (Senécal et al., 2000). Selain itu, peneliti sebelumnya meneliti aspek kontrol metabolik karena

merupakan aspek self management secara klinis (O’Hea et al., 2009). Merujuk pada penelitian sebelumnya maka peneliti ingin menambahkan seluruh perilaku

self management yang wajib dilakukan oleh penderita diabetes yaitu obat, diet, monitoring glukosa, olahraga, kontrol dokter, dan pengambilan keputusan

(30)

antara self-efficacy dan self-management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia.

Penelitian ini memiliki keunikan yaitu menggunakan variabel self-efficacy

dalam dunia kesehatan yang biasa digunakan dalam dunia pendidikan. Penelitian

ini juga berfokus pada individu dengan diabetes tipe 2 karena banyak penelitian

yang telah meneliti diabetes namun tidak dikelompokkan secara spesifik

berdasarkan tipe diabetes. Selain itu, tingkat jumlah individu dengan diabetes

tipe 2 di indonesia yang lebih banyak dibandingkan penderita diabetes tipe 1.

Individu dengan diabetes tipe 2 memiliki sakit yang lebih dapat dikontrol

dibandingkan diabetes tipe 1 maka penelitian ini berfokus pada penderita

diabetes tipe 2.

B. Rumusan Masalah

Apakah terdapat hubungan self efficacy dan self management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia ?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubunganantara self efficacy dan self management pada individu dengan diabetes tipe 2 di Indonesia.

D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis

Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan sumbangan informasi bagi

(31)

2. Manfaat Praktis

Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu rujukan dalam

(32)

11

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Self Management

1. Definisi Self Management

Self management merupakan kemampuan yang dapat digunakan untuk membuat diri lebih terorganisir, produktif, memiliki kepuasan, dan mampu

merealisasikan potensi yang dimiliki (Marshal & McHardy, 1999). Self management juga merupakan proses-proses internal pengubahan cara berpikir yang bertujuan untuk mengarahkan pada satu tujuan melalui

penggunaan keterampilan yang dimiliki sehingga mempengaruhi perilaku

atau perhatian individu (Karely dalam Creer & Holroyd, 1997). Dapat

disimpulkan bahwa kemampuan self management merupakan kunci untuk menjaga fungsi tubuh dan meningkatkan hasil yang dituju oleh individu

dengan diabetes (Nuovo, 2007). Self management dapat diterapkan pada berbagai bidang. Salah satu bidang yang menerapkan self management yaitu bidang kesehatan. Hal ini dikarenakan self management merupakan komponen inti pada seluruh penyakit kronis (Levich, 2007) yang digunakan

sebagai strategi penanganan melakukan manajemen diri sehingga memberi

hasil yang lebih baik.

(33)

penyakit diabetes untuk meningkatkan kesehatan (Funell, Brown, Childs,

Haas, Hosey, Jensen, Maryniuk, Peyrot, Piete, Reader, Siminerio,

Katieweinger, Weiss, 2008). Selain itu, self-management juga merupakan dasar penting bagi individu dengan diabetes agar dapat menerapkan

pengambilan keputusan yang tepat dalam pengelolaan diabetes (Funnell &

Anderson, 2004). Mamerow (2008) juga menjelaskan bahwa Self management merupakan perubahan gaya hidup positif yang dapat menghasilkan peningkatan kontrol glikemik dan mengurangi komplikasi

diabetes. Self management yang dilakukan tidak hanya berupa ketaatan pada tritmen harian tetapi juga pada manajemen psikologi dan sosial (Hummel,

2013)

Self-management dibuat untuk membantu individu dengan diabetes dalam memberi fasilitas pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan untuk

melakukan perawatan diri (Funell et al., 2008). Perilaku self management

memberi pengaruh bagi individu dengan diabetes terhadap cara pengambilan

keputusan, melakukan perawatan diri, memecahkan masalah terkait dengan

penyakitnya serta dapat melakukan sinergi pengobatan dengan pelayan

kesehatan (Funell et al., 2008). Pada akhirnya, self management dapat meningkatkan hasil klinis, status kesehatan, dan kualitas hidup individu

dengan diabetes (Funell et al., 2008).

(34)

positif sehingga meningkatkan kesehatan dan mengurangi komplikasi bagi

individu dengan diabetes.

2. Aspek – aspek Self Management pada Individu dengan DiabetesTipe 2

Aspek-aspek self management individu dengan diabetes tipe 2 antara lain:

a. Medication

Secara klinis, penanganan diabetes yang umum dilakukan melalui

pengobatan (medication). Pengobatan merupakan pemberian obat pengendali gula darah. Jenis obat yang diberikan kepada individu

dengan diabetes, yaitu berupa tablet dan insulin (suntikan) (Cahyono,

2008). Setiap obat yang diberikan kepada individu dengan diabetes

harus dapat dikenali dosis, dan aturan minum (Cahyono, 2008). Pada

pemberian sutikan insulin, individu dengan diabetes diberikan

keterampilan mengenai cara penyuntikan, pengaturan dosis insulin dan

pemeliharaan alat. Penerapan manajemen pemberian obat secara teratur

bertujuan untuk menjaga kenormalan tingkat glukosa dalam darah

(ADA, 2013).

b. Diet

Diet adalah komponen penting dalam manajemen diabetes (Gordon,

2007). Diet pada individu dengan diabetes merupakan perencanaan

dalam pengelolaan pola makan yang baik (Sutedjo, 2010). Pengelolaan

(35)

diet yang telah ditetapkan. Menurut Cahyono (2008) makanan bagi

individu dengan diabetes harus mengandung unsur lengkap seperti

kabrohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral, dan air yang cukup.

Dalam konsumsi makanan, individu dengan diabetes harus terlebih

dahulu mengkonsultasikan kepada ahli gizi. Diet bertujuan untuk

menormalkan tingkat glukosa dan lipid (lemak) dalam darah. Diet juga dapat menjaga berat badan ideal (Brashers, 2003) dan menyeimbangkan

asupan kalori individu dengan diabetes. Para ahli dan ADA (American Diabetes Association) merekomendasikan asupan kalori yang dikonsumsi sebanyak 50% – 60% berasal dari karbohidrat, 12%- 20%

berasal dari protein, dan tidak lebih dari 30% berasal dari lemak (Health

& Administration Development Group, 1999).

c. Monitoring atau Tes Glikemia

Monitoring glukosa darah merupakan salah satu strategi para individu dengan diabetes untuk melihat kondisi glukosa darah dalam

tubuh (ADA, 2013). Dalam monitoring glukosa darah, individu melakukan tes glikemia. Tes glikemia merupakan pengukuran kadar glukosa dalam darah atau urin (McDowell & Brown, 2007). Tes

glikemia membantu pemahaman individu dengan diabetes dalam

(36)

d. Olahraga

Olahraga merupakan salah satu tritmen penting dalam pelaksanaan

self management diabetes. Perilaku olahraga yang dikombinasikan diet (Health & Administration Development Group, 1999) membantu

menurunkan kadar gula darah dengan cara meningkatkan pembakaran

glukosa dan peningkatan kadar insulin (Cahyono, 2008). Salah satu

jenis olahraga yang dapat dilakukan oleh individu dengan diabetes

adalah berjalan (Regina, tanpa tahun). Berjalan merupakan latihan yang

bagus, terutama untuk orang yang jarang berolahraga (Health &

Administration Development Group, 1999). Seseorang dapat mulai

berjalan 15 – 20 menit dalam kurun waktu 3 atau 4 kali seminggu,

kemudian secara bertahap meningkatkan kecepatan atau jarak berjalan

(Health & Administration Development Group, 1999). Olahraga yang

dilakukan oleh individu dengan diabetes berdasarkan pada pemeriksaan

dan konsultasi dengan dokter (Bararah, 2012).

e. Kontrol Rutin ke Dokter

Kontrol rutin ke dokter merupakan salah satu aspek manajemen

individu dengan diabetes untuk mengkonsultasikan penyakit diabetes

secara berkala kepada dokter. Kontrol rutin bertujuan agar dokter dapat

memantau berat badan, tekanan darah, lemak darah, fungsi organ, diet,

dan olahraga yang dapat dilakukan oleh individu dengan diabetes.

(37)

informasi akan kondisi diabetesnya. Individu yang sering melakukan

kontrol ke dokter akan mendapatkan informasi mengenai kadar gula

darah, sehingga semakin baik pula pengawasan terhadap diabetesnya

(Purtierplacenta, 2011).

f. Pengambilan Keputusan

Pengambilan keputusan dalam dunia kesehatan diartikan sebagai

kemampuan yang dimiliki untuk membuat suatu keputusan yang masuk

akal tentang cara menangani suatu penyakit, cedera, dan rasa sakit

(Devettere, 2010). Pada pengambilan suatu keputusan, individu dengan

diabetes harus terlebih dahulu memahami kondisi penyakitnya, mampu

mengevaluasi dampak keputusan yang diambil berdampak baik, serta

mampu memproses dampak yang dapat terjadi pada dirinya (Devettere,

2010). Pengambilan keputusan membantu memahami, mengevaluasi,

dan memproses tentang diri dan kondisi sehingga individu dengan

diabetes dapat mengambil keputusan yang tepat bagi dirinya.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa aspek-aspek

dalam self management meliputi medication (pengobatan), diet, monitoring

atau tes glikemia, olahraga, kontrol rutin ke dokter, dan pengambilan

(38)

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2

a. Edukasi

Penyakit diabetes merupakan penyakit yang tidak bisa sembuh.

Penyakit diabetes memerlukan penanganan yang intensif agar terhindar

dari komplikasi. Edukasi diabetes berfokus dalam meningkatkan

kepercayaan diri individu dengan diabetes terkait dalam keefektivan

pelaksanaan self-management (Aljasem et al., 2001; William & Bond, 2010). Edukasi bertujuan untuk menyampaikan cara melakukan

manajemen diri, sehingga individu dapat menyusun program yang efektif

terkait dengan kesehatannya (Aljasem et al., 2001). Pengetahuan tentang

diabetes yang didapat mempermudah pekerjaan yang dilakukan serta

memberikan keuntungan bagi kesehatan individu dengan diabetes

(Aljasem et al., 2001). Informasi tentang diabetes dapat diperoleh dari

petugas kesehatan, buku-buku kesehatan popular, seminar, atau media

informasi lainnya (Cahyono, 2008).

b. Sosial dan Lingkungan

Pemberian perhatian dan dukungan dari keluarga atau orang lain

sangat penting bagi individu dengan diabetes. Dukungan sosial dapat

meningkatkan kepercayaan diri, motivasi, dan antusiame dalam

(39)

yang mendapatkan pertolongan dari anaknya memiliki tingkat dukungan

emosional dan coping yang lebih tinggi bagi penyakitnya dibandingkan

mereka yang tidak menerima pertolongan (Kanbara, Taniguchi, Sakaue,

Wanga, Takaki, Yajima, Naruse, Kojima, Sauriasari, Ogino, 2008). Hal

ini dapat dikaitkan dengan pola attachment yang terdapat dalam keluarga. Individu dengan diabetes dengan exhibited dismissing attachment

memiliki tingkat ketaatan pengobatan yang rendah jika dibandingkan

individu dengan pola kelekatan preoccupied atau secure attachment

(Schafer, McCaul, Glasgow, 1986). Selain itu, individu dengan diabetes

yang kurang mendapat dukungan dari keluarga biasanya akan memiliki

ketidaktaatan dalam pengobatan harian maupun kontrol terhadap

penyakitnya (Paul, Wayne, Joan, Edward, 2001; William & Bond, 2010).

c. Sistem Pelayanan Kesehatan

Kesuksesan self management individu dengan diabetes dapat dipengaruhi oleh tipe dan kualitas hubungan dokter pasien, kepribadian

dokter, atau tipe spesialisasi dari institusi klinis (Pringle et al. dalam

Rose, Flieghe, Hildebrandt, Schirop, Klapp, 2002). Penerapan sistem

pelayanan yang baik membantu dalam meningkatkan ketaatan

manajemen individu dengan diabetes. Pada beberapa penelitian

menginformasikan penjelasan pengobatan untuk kaum minoritas (Afrika

(40)

putih (Schetman et al. dalam Hill-Briggs et al., 2005) sehingga

menyebabkan kurangnya informasi dan pemahaman dalam pengobatan.

d. Penyakit dan Obat

Diabetes merupakan jenis penyakit yang memiliki penanganan yang

komplek. Penanganan dilakukan tidak hanya melalui obat tetapi juga

mengubah keseluruhan gaya hidup penderitanya. Pada umumnya individu

dengan diabetes lebih mudah mengikuti anjuran minum obat

(Gonder-Frederick et al., 2002) daripada melakukan tritmen diabetes yang lain

seperti merubah kebiasaan makan dan aktivitas fisik (Gonder- Frederick

et al., 2002).

Berdasarkan hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor

yang mempengaruhi self management pada individu dengan diabetes tipe 2 meliputi edukasi, sosial, sistem pelayanan kesehatan, penyakit dan obat.

4. Optimalisasi Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 (Santrock, 2011)

Optimalisasi self management dideskripsikan dari teori optimalisasi selektif melalui kompensasi (Santrock, 2011). Teori ini mendeskripsikan

cara agar individu dapat menghasilkan sumber daya dan mengalokasikan

secara efektif ke dalam tugas-tugas yang ingin dilakukan. Dalam hal ini

(41)

a. Seleksi (selection)

Seleksi merupakan proses pemilihan agar memiliki dampak atau

respon yang baik dalam pelaksanaan tujuan (APA, 2007). Pada tahapan

seleksi individu berfokus pada tujuan yang penting di dalam hidup,

sehingga individu membuat komitmen terhadap pencapaian tugas-tugas.

Dalam hal ini fokus tujuan individu adalah pelaksanaan self management diabetes.

b. Optimalisasi (optimization)

Optimalisasi merupakan usaha individu dalam mempertahankan

performa di beberapa bidang, melalui praktik terus menerus dan

penggunaan teknologi baru. Individu diabetes tipe 2 melakukan hal-hal

yang telah direncanakan dalam self management. Pada proses optimalisasi, individu meluangkan waktu untuk memperoleh informasi

tentang self management, sehingga individu dapat menunjukkan peforma yang baik di dalam keseharian pelaksanaan self management

pada diabetes tipe 2.

c. Kompensasi (compensation)

Kompensasi merupakan substitusi atau pengembangan kekuatan

atau kemampuan di satu daerah untuk mengimbangi kekurangan

lainnya. (APA, 2007). Individu diabetes tipe 2 perlu melakukan

kompensasi di lingkungannya yang mengandung tuntutan secara mental

(42)

dan mengingat cara-cara lain untuk memenuhi pelaksanaan self management.

B. Self Efficacy

1. Definisi Self Efficacy

Self efficacy merupakan penilaian akan kemampuan diri seseorang dalam mengorganisasikan dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan untuk

mencapai suatu tujuan (Bandura, 1986, 1997; Taylor, Peplau, & Sears, 2009;

Schunk, 2012). Self efficacy juga diyakini sebagai keyakinan akan kemampuan diri terhadap kompetensi dan efektivitas di bidang tertentu

(Woolfolk, 2009) yang dapat digunakan untuk mengubah kondisi yang ada di

lingkungan (Feist & Feist, 2008) atau kondisi di masa mendatang (Pervin,

Cervone, & John, 2010).

Pendapat lain mengatakan bahwa self efficacy adalah keyakinan individu akan kemampuan dalam melakukan tindakan berdasarkan pada keterampilan,

dan kecakapannya (Schunk 2012). Self efficacy juga didefinisikan sebagai pandangan akan kemampuan dalam melakukan suatu hal yang memuaskan

dalam situasi tertentu berdasarkan kondisi lingkungan dan kondisi kognitif.

(Alwisol, 2009).

Berdasarkan pendapat dari para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa

self efficacy dalam penelitian ini adalah penilaian terhadap kemampuan diri dalam melaksanakan suatu tugas yang didasarkan pada kapabilitas,

(43)

2. Aspek-aspek Self Efficacy

Menurut Bandura (1997) self efficacy terdiri dari tiga aspek yaitu: a. Tingkatan (level)

Setiap individu memiliki pandangan yang berbeda-beda terhadap

kemampuan efikasi dirinya. Self efficacy dipengaruh oleh tingkatan tuntutan tugas yang terdiri atas tugas sederhana, tugas sulit atau tuntutan

kinerja yang berat pada suatu bidang. Pandangan terhadap kemampuan

melaksanakan tugas dapat diukur melalui kinerja yang sukses dalam

melaksanakan tuntutan tugas. Jika tidak ada hambatan dalam

melaksanakan tugas maka aktivitas menjadi mudah untuk dilakukan. Hal

ini berarti tugas yang mudah membuat orang memiliki self efficacy yang tinggi.

Individu dengan self efficacy tinggi akan melakukan usaha lebih banyak dan bertahan dalam pelaksanaan tugas sulit (Bandura & Cervone;

Schunk dalam Schunk, 2012). Self efficacy tinggi juga dimiliki oleh individu yang mendapatkan tugas sulit tetapi berhasil melaksanakan

(Alwisol, 2009). Kesuksesan kinerja dalam menghadapi tugas sulit akan meningkatkan self efficacy (Feist & Feist, 2008) sehingga individu merasa yakin bahwa mereka memiliki keterampilan yang dibutuhkan dalam

(44)

b. Keadaan Umum (Generality)

Individu akan menilai kemampuan mereka lebih efektif dalam pada

keadaan umum atau pada keadaan khusus saja. Individu yang memiliki

self efficacy tinggi di bidang tertentu merasa tidak takut gagal dan mampu memunculkan strategi-strategi baru dalam pelaksanaan tugas (Woolfolk,

2009). Generality dapat mencangkup tingkat kesamaan kegiatan, modal akan kemampuan (perilaku, kognitif, afektif), kualitas lingkungan, dan

karakteristik orang yang dikenai perilaku tersebut. Penilaian akan

kemampuan tersebut juga bergantung pada domain aktivitas dan konteks

situasional serta keyakinan masyarakat terhadap keberhasilan mereka.

Artinya jika individu memiliki self efficacy yang tinggi maka dalam keadaan apa pun individu tersebut akan tetap merasa mampu. Jika

Individu memiliki self efficacy yang rendah hanya akan mampu melakukan tugas yang spesifik.

c. Kekuatan (Strength)

Pada aspek strength berhubungan terhadap kekuatan individu terhadap keyakinannya dalam pelaksanaan tugas. Strenght dari self efficacy yang rendah akan mudah hilang oleh pengalaman yang tidak sesuai dengan harapan. Individu yang memiliki keyakinan self efficacy

yang tinggi akan yakin terhadap kemampuan diri sehingga terus berupaya

dalam menghadapi kesulitan dan hambatan. Individu dengan self efficacy

(45)

Kekuatan dari self efficacy yang besar dan kuat memungkinkan bahwa aktivitas yang dipilih akan berhasil dilakukan.

Berdasarkan hal tersebut maka dapat dikatakan bahwa aspek-aspek

dalam self efficacy meliputi level (Tingkat kesulitan tugas), generality

(keadaan umum dari tugas), dan strength (keyakinan akan kemampuan dalam pelaksanaan tugas).

3. Sumber Self Efficacy (Sources of Self Efficacy)

Ada beberapa faktor yang menjadi sumber dari self efficacy antara lain (Bandura, 1986; 1997):

a. Enactive Mastery Experiences

Enactive mastery experiences merupakan pengalaman langsung tentang kesuksesan atau kegagalan yang memberikan pengaruh pada self efficacy (Alwisol, 2009). Keberhasilan yang diraih oleh individu dapat membangun kepercayaan yang kuat dalam self efficacy Sebaliknya, kegagalan dapat merusak self efficacy terutama jika kegagalan itu terjadi sebelum adanya pengalaman keberhasilan. Individu yang mengalami

keberhasilan dengan mudah akan kembali mengharapkan hasil yang cepat

dan menjadi mudah putus asa jika mengalami kegagalan. Keberhasilan

yang di dalam prosesnya mendapatkan kesulitan akan memberikan

pembelajaran pada seseorang mengenai cara mengubah kegagalan

menjadi kesuksesan dan semakin mengasah kemampuan. Individu yang

(46)

dalam menghadapi kesulitan dan tidak menyerah jika mengalami

kemunduran. Hal ini menyebabkan individu memiliki self efficacy tinggi serta merasa lebih mampu.

b. Vicarious Experiences

Vicarious experience merupakan sikap seorang individu dalam mengidentifikasi dirinya dengan pengalaman orang lain sehingga

memberikan pengaruh pada self efficacy (Woolkfol, 2009). Vicarious experience menjadi sumber informasi mengenai kemampuan seseorang. Penilaian akan keberhasilan sebagian dipengaruhi oleh vicarious experience melalui pencapaian dari pengalaman orang lain yang ditiru. Pengalaman orang lain berfungsi sebagai alat yang efektif dalam

menciptakan rasa keberhasilan pribadi. Efficacy individu akan meningkat ketika mengamati keberhasilan orang lain, sebaliknya efficacy akan menurun jika mengamati orang dengan kemampuan yang sama gagal

(Alwisol, 2009). Salah satu contoh adalah seorang siswa yang melihat

model dalam bekerja. Ketika model bekerja dengan baik maka efficacy

siswa menjadi meningkat sedangkan jika model bekerja dengan buruk

maka ekspektasi efficacy siswa menjadi menurun (Woolfolk, 2009).

Vicarious experience memiliki dua bentuk dalam pengamatan model yaitu live modeling dan symbolic modelling. Live modeling merupakan pengamatan individu terhadap model yang nyata (Alwisol, 2009).

(47)

simbolik seperti tokoh film, komik, atau cerita (Alwisol, 2009). Vicarious experience tidak memiliki pengaruh yang besar ketika model yang diamati memiliki kemampuan yang berbeda dengan individu pengamat

(Alwisol, 2009). Vicarious experience merupakan pengalaman yang lebih lemah dari pada pengalaman langsung. Akan tetapi vicarious experience dapat dijadikan sebagai pengganti dari pengalaman langsung yang sifatnya meningkatkan atau menetralkan pengalaman langsung

tersebut.

c. Verbal Persuasion (Persuasi Verbal)

Verbal persuasion merupakan umpan balik yang diberikan kepada individu atas kinerjanya (Woolfolk, 2009). Verbal persuasion terbagi menjadi empat jenis yaitu sugestion, exhortation, self-instruction, dan

interpretive treatment (Alwisol, 2009). Sugestion merupakan kata-kata yang didasari oleh kepercayaan individu yang dapat mempengaruhi.

Exhortation merupakan kata-kata nasihat atau peringatan yang sifatnya mendesak/ memaksa. Self-instruction merupakan kata-kata persuasif yang memerintah diri sendiri. Interpretive treatment merupakan kata-kata yang mengubah atribusi atau sebagai penanggung jawab suatu kejadian

emosional.

Verbal persuasion merupakan sarana yang dapat memperkuat keyakinan individu tentang kemampuan yang mereka miliki dalam

(48)

keberhasilan ditengah kesulitan maka individu juga akan lebih mudah

menjaga sense of efficacy yang dimiliki. Verbal persuasion memiliki keterbatasan dimana tidak dapat bertahan lama dalam peningkatan self efficacy. Akan tetapi, verbal persuasion dapat mendorong individu ke arah yang positif jika masih dalam batas-batas yang realistis. Jika

individu dipersuasi untuk meningkatkan kepercayaan dirinya secara tidak

realistis hal ini akan menyebabkan kegagalan yang dapat merusak

kepercayaan terhadap kemampuan indvidu tersebut. Dicontohkan bahwa

individu yang dipersuasi bahwa memiliki kemampuan untuk

menyelesaikan tugas akan menunjukkan usaha yang lebih besar daripada

individu yang dipersuasi oleh rasa keraguan dan kekurangan dalam diri

ketika adanya kesulitan. Verbal persuasion memiliki dampak positif untuk meningkatkan self efficacy sehingga individu menjadi lebih percaya bahwa mereka memiliki kemampuan.

d. Psychological and Affective States (Keadaan Psikologis dan Emosional) Psychological and Affective states merupakan interpretasi keadaan tingkat emosi yang memberikan pengaruh pada self efficacy (Woolfolk, 2009). Individu sering dihadapkan pada situasi yang stressfull dan penuh beban (Bandura, 1986; 1997). Kondisi emosi yang tinggi menyebabkan

disfungsi pada individu sehingga melemahkan kinerja. Emosi yang kuat

dapat berupa rasa takut yang besar, kecemasan, dan kondisi stress yang

(49)

performansi yang berdampak juga pada penurunan self efficacy (Feist & Feist, 2008). Individu yang memiliki perasaan cemas dan khawatir dalam

pelaksanaan tugas akan menurunkan self efficacy sedangkan perasaan bergairah dapat meningkatkan self efficacy (Bandura; Pintrich & Schunk dalam Woolfolk, 2009).

Dalam melakukan penilaian akan kemampuan, individu

mengandalkan pada informasi somatik (kondisi tubuh) yang disampaikan

oleh keadaan psikologis dan emosional (Bandura, 1986; 1997). Indikator

somatik dalam efficacy personal berhubungan dengan bidang-bidang seperti prestasi, fungsi kesehatan, dan mengatasai sumber stres. Terdapat

empat cara utama yang dapat digunakan untuk meningkatkan self efficacy, yaitu meningkatkan kemampuan fisik, mengurangi tingkatan stres, emosi negatif, dan manafsirkan secara tepat kondisi tubuh

(Bandura, 1986; 1997).

Berdasarkan pendapat para ahli diatas, maka sumber dalam self efficacy

meliputi enactive mastery experiences (pengalaman langsung), vicarious experience (pengalaman orang lain), verbal persuasion (persuasi verbal), dan

(50)

C. Diabetes

1. Definisi Diabetes

Diabetes merupakan kumpulan kelainan yang disebabkan oleh defisiensi

insulin (Ganong, 1995). Artinya suplai insulin di dalam tubuh berkurang

atau tidak cukup efektif sehingga gula darah naik lebih lamban (Bilous,

2002). Diabetes juga merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan

gambaran umum hiperglikemia (Kummar dkk, 2005). Artinya diabetes

merupakan penyakit yang merusak sistem metabolisme tubuh sehingga gula

darah menjadi tinggi. Berdasarkan pendapat para ahli maka diabetes

didefinisikan sebagai ganguan hormon insulin yang mengatur kadar gula

darah dalam tubuh (Cahyono, 2008).

Pada umumnya, diabetes dibedakan ke dalam dua kategori. Diabetes

tipe 1 (insulin-dependent diabetes mellitus- IDDM) yang merupakan defisiensi absolute insulin akibat kerusakan sel β pankreas (Kummar et al., 2005) yang disebabkan oleh proses imunologis (anti bodi yang menyerang

pankreas tubuh) atau dikarenakan infeksi virus (Cahyono, 2008).

Diabetes tipe 2 (non insulin-dependent diabetes mellitus – NIDDM) merupakan keadaan kombinasi resisten perifer terhadap kerja insulin dan

kurannya respon sekretorik sel β pankreas (“defisiensi insulin relative”) (Kummar et al., 2005). Hal ini berarti bahwa suplai insulin di dalam tubuh

berkurang atau tidak cukup efektif sehingga gula darah naik lebih lamban

(51)

sehat (Bararah, 2012). Diabetes tipe 2 juga dapat didefinisikan sebagai

kondisi dimana terjadi keletihan pankreas dan adanya resitensi insulin di

dalam tubuh (Cahyono, 2008) yang disebabkan oleh gaya hidup yang tidak

sehat.

Dari pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa diabetes merupakan

penyakit yang disebabkan oleh defisiensi insulin yang menyebabkan insulin

tidak dapat berfungsi secara efektif di dalam tubuh. Pada penelitian ini,

peneliti akan melakukan penelitian secara khusus terhadap diabetes tipe 2

yaitu kondisi resistensi insulin di dalam tubuh yang menyebabkan

berkurangnya jumlah insulin di dalam tubuh sehingga gula darah naik secara

lamban.

Pada penelitian ini, peneliti memilih diabetes tipe 2 karena Indonesia

merupakan negara dengan jumlah penderita terbesar ke lima di dunia

berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization/ WHO). Pada kasus-kasus diabetes yang terjadi, penderita diabetes tipe 2

berkisar 80% sampai 90% dibandingkan penderita diabetes tipe 1 yang

berkisar 10% (Kummar et al., 2005). Pada penelitian sebelumnya, peneliti

lain mengabaikan tipe variasi dari penyakit diabetes (Macrodimitris &

Endler, 2001). Pada penelitian ini, peneliti merasa penting untuk melihat tipe

diabetes secara spesifik. Berdasarkan data dan teori, diabetes tipe 2 memiliki

(52)

(Macrodimitris & Endler, 2001). Diabetes tipe 2 juga merupakan penyakit

yang terkontrol sehingga lebih fokus dalam pengukurannya.

2. Kriteria Diabetes Tipe 2

Diabetes tipe 2 merupakan kondisi resistensi insulin di dalam tubuh

sehingga gula darah naik secara perlahan. Individu dengan diabetes pada

umumnya akan memiliki kritetria sebagai berikut:

a. Kriteria Fisik

1) Merasa lelah dan mengalami penurunan berat badan atau obesitas

tanpa penyebab yang jelas (Kummar et al., 2005).

2) Sulit terjadi penggunaan gula darah pada tubuh (Misnadiarly,

2006).

3) Pengobatan tidak harus dengan insulin (Misnadiarly, 2006).

4) Biasanya terjadi pada umur > 45 tahun (Misnadiarly, 2006).

5) Mudah kehilangan tenaga dan merasa tidak sehat (Sustrani, Alam,

& Hadibroto, 2006)

6) Sering buang air kecil (Sustrani et al., 2006)

7) Air seni memiliki rasa seperti kecap manis (Ganong, 1995)

b. Kriteria Klinis (Brashers, 2003)

(53)

− Glukosa plasma puasa (FPG) ≥ 7mmol/L (126mg/ dL) yang merupakan pengukuran tingkat glukosa dalam darah yang

dilakukan ketika menjalani puasa.

− Konsentrasi glukosa plasma sewaktu ≥ 11,1 mmol/L (200mg/ dl) yang merupakan pengukuran tingkat glukosa dalam darah

yang dapat dilakukan kapan saja tanpa memperhitungkan

waktu makan.

− Kadar glukosa plasma 2 jam ≥ 11.1 mmol/L selama uji toleransi glukosa oral (OGTT) yang merupakan pengukuran

tingkat glukosa dalam darah yang dilakukan dalam waktu dua

jam setelah makan.

2) Kadar tingkatan hemoglobin yang mengandung glukosa(gula)

berada diatas 7%

3) Kadar c-Peptida (fragmen tidak aktif yang terlepas dari proinsulin)

normal atau meningkat.

3. Dampak Diabetes Tipe 2

Individu dengan diabetes tipe 2 adalah individu dengan resistensi insulin

di dalam tubuh yang menyebabkan berkurangnya jumlah insulin di dalam

tubuh sehingga gula darah naik secara lamban. Hal tersebut menyebabkan

(54)

a. Dampak Kesehatan Fisik (Misnadiarly, 2006; Sustrani et al., 2006)

1) Kehilangan kesadaran yang disebabkan oleh banyaknya kadar gula

darah (hiperglikemia) atau sedikitnya kadar gula darah

(hipoglikemia) dalam tubuh.

2) Penderita dapat mengalami tekanan darah tinggi, penyakit jantung

dan kerusakan pada organ ginjal.

3) Adanya ganguan penglihatan seperti katarak sampai terjadi

kebutaan.

4) Adanya infeksi kulit yang berat sehingga harus diamputasi agar

tidak menjalar ke jaringan yang lain.

5) Adanya penurunan kemampuan indra terutama pada indra mata dan

telinga

6) Adanya kerusakan organ-organ tubuh seperti lambung, jantung,

paru-paru dan kandung kemih

7) Penurunan kemampuan seksual terutama pada pria.

b. Dampak Psikologis

1) Depresi (Anderson et al., 2001)

Penderita diabetes tipe 2 rentan mengalami depresi. Depresi

dapat mempengaruhi kondisi tubuh, mood, dan pikiran sehingga berdampak pada pola makan dan tidur (Saiiari, Moslehi, Sajadiyan,

2011). Depresi merupakan akibat dari perubahan kondisi tubuh dan

(55)

diabetes melakukan perubahan gaya hidup dan melaksanakan

berbagai tritmen yang kompleks (Lerman, 2005). Kondisi inilah yang

menyebabkan penderita diabetes menghadapi situasi fisik dan emosi

yang penuh stress (Kanner et al., 2003).

Penderita diabetes tipe 2 yang mengalami depresi secara

signifikan mengalami perubahan suasana hati dan disfungsi kognitif

(Watari, Letamendi, Elderkin-Thompson, Haroon, Miller, Darwin, &

Kumar, 2006). Disfungsi kognitif yang dialami penderita diabetes

yaitu lambat dalam memproses informasi dan memiliki executive functioning (perencanaan, pembuatan keputusan, pelaksanaan tugas) yang rendah (Watari et al., 2006).

2) Ketaatan Perawatan Diri yang Rendah

Tingginya tingkat depresi pada penderita diabetes membuat

penderita diabetes memiliki ketaatan yang rendah terhadap perawatan

dirinya (Park et al., 2004). Hal ini dikarenakan perasaan

pengingkaran dan penolakan yang menyebabkan penderita tidak taat

terhadap pemantauan dirinya sendiri (Behrman, Kliegman, & Arvin,

(56)

D. Hubungan antara Self Efficacy dan Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 di Indonesia

Self efficacy merupakan penilaian akan kemampuan diri seseorang dalam mengorganisasikan dan melaksanakan suatu tindakan yang diperlukan untuk

mencapai suatu tujuan (Bandura, 1986, 1997; Taylor et al., 2009; Schunk, 2012).

Selain itu, self efficacy juga diyakini sebagai keyakinan akan kemampuan diri terhadap kompetensi dan efektivitas di bidang tertentu (Woolfolk, 2009) yang

dapat digunakan untuk mengubah kondisi yang ada di lingkungan (Feist & Feist,

2008) atau kondisi di masa mendatang (Pervin et al., 2010). Self efficacy yang dimiliki oleh setiap individu berbeda satu sama lain. Berdasarkan keyakinan

mereka atas tingkat kesulitan tugas yang dihadapi, keadaan umum dari tugas, dan

keyakinan akan kemampuan dalam pelaksanaan tugas (Bandura, 1986; 1997).

Self efficacy berdasarkan teori kognitif sosial menjelaskan interaksi antara perilaku, diri, dan faktor lingkungan bagi kesehatan dan penyakit kronis (Sarkar,

Fisher, Schillinger, 2006). Individu dengan diabetes tipe 2 dalam pelaksanaan

self management memerlukan perubahan perilaku, diri, dan lingkungan dalam aktivitas sehari-hari (Sarkar et al., 2006). Konsep self efficacy menjadi relevan untuk meningkatkan self management. Self efficacy merupakan faktor kunci dalam perubahan perilaku karena memberikan pengaruh melalui proses kognitif,

(57)

diabetes, self efficacy merupakan keyakinan akan kemampuan diri, sehingga individu dengan diabetes menjadi percaya diri melakukan perilaku self management (Sarkar et al., 2006). Penelitian di Jordania menunjukan bahwa individu yang memiliki self efficacy tinggi juga memiliki perilaku self management yang baik dalam diet, olahraga, dan tes glikemia (Al-Khawaldeh et al., 2012). Self efficacy juga dapat memberikan pengaruh pada perilaku kesehatan (Schunk, 2012) sehingga individu akan melakukan self management bagi kesehatan dan kesejahteraannya (Bandura dalam Schunk, 2012).

Individu dengan diabetes tipe 2 yang memiliki self efficacy tinggi akan berpikir positif, dapat memotivasi diri ketika menghadapi kesulitan, dapat

mengendalikan emosi ketika dalam keadaan yang penuh tekanan, serta dapat

membuat keputusan di saat kritis (Benight & Bandura dalam Schunk, 2012). Di

sisi lain, self efficacy yang tinggi membuat individu dapat menjalankan perilaku

self management dengan taat (Bandura, 1987). Akan tetapi, individu yang memiliki tingkat self efficacy yang rendah akan memiliki perilaku yang kurang berusaha untuk mencapai keberhasilan (Bandura, 1987). Pada individu dengan

diabetes tipe 2 terlihat bahwa individu dengan self efficacy rendah memiliki kontrol yang rendah dalam monitoring gula darah (O’Hea et al., 2008). Di

samping itu, individu menjadi rentan mengalami depresi (Kanner et al., 2003;

Thoolen et al., 2006)

(58)

pengaturan pola makan, kontrol rutin ke dokter, dan pengambilan keputusan. Self management merupakan kemampuan seseorang untuk mengelola gaya hidup positif sehingga meningkatkan kesehatan dan mengurangi komplikasi bagi

individu dengan diabetes.

Berdasarkan uraian diatas, maka peneliti ingin meneliti apakah terdapat

(59)

E. Skema Hubungan antara Self Efficacy dan Self Management pada Individu dengan Diabetes Tipe 2 di Indonesia

Penderita diabetes tipe 2

Self efficacy

1. Tingkatan (Level)

2. Keadaaan Umum (Generality)

3. Kekuatan (Strength)

Kepercayaan diri akan kemampuan mengontrol diri

Self Management

Medication

• Diet

Monitoring/ Tes Glikemia

• Olahraga

• Kontrol rutin ke dokter

(60)

F. Hipotesis

Berdasarkan uraian diatas maka peneliti merumuskan hipotesis penelitian

sebagai berikut:

Ada hubungan positif antara self efficacy dengan self management pada individu dengan diabetes tipe 2. Apabila tingkat self efficacy tinggi maka tingkat

self management juga akan tinggi. Sebaliknya, apabila tingkat self efficacy

Gambar

Table 1. Blue Print Skala Self Managemet
Table 2. Blue Print Skala Self Efficacy
Tabel 3. Rumus Norma Kategorisasi (Azwar, 2012)
Table 4. Blue Print Skala Self Management setelah Uji Coba
+7

Referensi

Dokumen terkait

dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “ Hubungan Self-efficacy terhadap Kepatuhan Pola Diit pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 ”.. Skripsi ini disusun sebagai

HUBUNGAN ANTARA INDEKS MASSA TUBUH DENGAN TEKANAN DARAH PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERKONTROL DI PROGRAM PENGELOLAAN PENYAKIT KRONIS SURAKARTA..

&#34;Edukasi Diabetes terhadap Penurunan Glukosa Darah pada Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2&#34;,.. Journal of Telenursing

Gambaran tingkat Self Management penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Usia Dewasa Madya (40- 60 Tahun) Di Spesialis Perawatan Luka Diabetes Rumat Unit Pondok Gede memiliki tingkat Self

Faktor-faktor yang mempengaruhi self-efficacy menurut Bandura meliputi: (1) pengalaman keberhasilan (mastery experience), yang mana jika individu sempat mengalami

Salah satu bentuk untuk meningkatkan pengetahuan dan mengubah perilaku pasien dengan edukasi kesehatan yang dapat diberikan pada pasien diabetes mellitus tipe 2 adalah Diabetes Self

KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa Hubungan Self Efficacy dan Dukungan Keluarga dengan Self Care Pada Penderita Diabetes Melitus Tipe II di Wilayah

Gambaran Self Care Management pada Pasien Diabetes Mellitu tipe II Tabel 13 Gambaran Self Care Management pada Pasien Diabetes Mellitu Tipe II di UPTD Puskesmas IV Dinas Kesehatan