perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
IMPLEMENTASI PERALIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH
DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTA
TUGAS AKHIR
Disusun untuk memenuhi sebagian persyaratan
mencapai derajat Ahli Madya Program Studi Diploma III Perpajakan
Oleh :
MEIRISSA LINDA HAPSARI
NIM F3408056
PROGRAM STUDI DIPLOMA III PERPAJAKAN
FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
commit to user
ii
ABSTRACT
IMPLEMENTASI PERALIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH
DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTA
Meirissa Linda Hapsari F3408056
The purpose of this final task are to know change of earning, contribution provided by BPHTB to Local Original Income (PAD) of Surakarta, to know barrier facing DPPKA Surakarta and efforts conducted by DPPKA Surakarta in optimizing income of BPHTB as local tax. The writing is completes by performing a research in DPPKA Surakarta for two months and then by combining theories and the real condition of BPHTB in Surakarta.
The results of the research are that earning of BPHTB as a local tax was lower than when it was national tax. Nevertheless, contribution provided by BPHTB was high enough. It can be seen from greater ratio of BPHTB earning than ratio of the other local tax earning. Contribution of BPHTB to PAD can be known by compiring realization of earning of BPHTB and realization of PAD times 100%. The 5% BPHTB tariff with the collection system is Self Assesment, and itS npoptkp IS 60 million rupiah.
The conclusion of the research is DPPKA Surakarta is ready for shifting BPHTB collection from national tax to local tax. It can be seen from continuous increased ratio of BPHTB and there is a Local Rule No. 13 of 2010 and mayor’s rule as legal protection for BPHTB collection. Low awareness of taxpayers and inadequates amount of personnel of DPPKA who were able to work on BPHTB were some barriers facing in DPPKA. However, DPPKA was also performing several strategic efforts in order to optimize earning of BPHTB. One of the strategic efforts is to perform field checking related to tax object of BPHTB.
Based on results of the research, the researcher give some suggestions, namely, socialization about tax should be conducted to taxpayers in order to grow awareness of them in paying tax and personnel of DPPKA should be trained and guided and also, amount of personnel of DPPKA should be added with skilled individuals who are able to handle BPHTB works.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
commit to user
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Dan (shalat) itu
sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”(Q.S Al-Baqarah:45)
“Apabila anda berbuat kebaikan kepada orang lain, maka anda telah berbuat baik
kepada diri sendiri.”(Benyamin Franklin)
“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa
dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah.”(Thomas Alva Edison)
“Keramahtamahan dalam perkataan menciptakan keyakinan, keramahtamahan dalam
pemikiran menciptakan kedamaian, keramahtamahan dalam memberi menciptakan
kasih.”(Lao Tse)
Karya ini penulis persembahkan kepada:
Ø Allah SWT
Ø Mama dan Papa tercinta
Ø Kakak tersayang
Ø Seseorang yang telah menjadi motivasi penulis
Ø Teman-teman Perpajakan A dan B 2008
commit to user
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan
berkah dan rahmat-Nya, sehingga Tugas Akhir dengan judul Implementasi Peralihan
Bea Perolehan Hak Atas Tanah dan Bangunan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta dapat terselesaikan dengan baik.
Penulisan Tugas Akhir ini ini dimaksudkan untuk memenuhi persyaratan
mencapai derajat Ahli Madya Program Studi Diploma III Perpajakan Fakultas
Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Dalam kesempatan ini penulis sampaikan ucapan terimakasih kepada pihak–
pihak yang membantu penyusunan laporan Tugas Akhir ini:
1. Allah SWT, atas kasih sayang, kemudahan yang diberikan kepada penulis.
2. Bapak Prof. DR. Bambang Sutopo, M.Com, Ak. selaku Dekan Fakultas Ekonomi
Univrsitas Sebelas Maret Surakarta.
3. Bapak Drs. Santoso Tri Hananto, M.si., Ak. selaku Ketua Program Diploma III
Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta.
4. Bapak Sri Suranta, SE., M.si., Ak. selaku Sekretaris Program Diploma III
Perpajakan Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta dan selaku
Dosen Pembimbing Tugas Akhir yang telah berkenan membimbing dan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
vii
5. Bapak–Ibu Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Sebelas Maret Surakarta yang
telah memberi banyak wawasan yang tentunya akan sangat bermanfaat bagi
penulis.
6. Mama, Papa, Mas Indra, dan Mba Indri, terimakasih atas pengorbanan waktu,
perhatian, dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis.
7. Seluruh karyawan Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota
Surakarta yang telah menerima dengan baik, memberi arahan selama magang
serta membantu penulis dalam mendapatkan informasi dan data guna
terselesaikannya Tugas Akhir ini.
8. Sahabat, saudara, kekasih penulis, Purnama Erdan Tiyasa.
9. Teman–teman DIII Perpajakan angkatan 2008, terimakasih atas kebersamaan
selama ini.
10. Pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu
dalam penulisan Tugas Akhir ini.
Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini jauh dari kesempurnaan. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari semua
pihak. Demikian, semoga Tugas Akhir ini bermanfaat bagi penulis dan pihak yang
berkesempatan mempelajarinya.
Surakarta, 8 April 2011
commit to user
viii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL... i
ABSTRACT ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN ... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xi
DAFTAR GAMBAR ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN A. Gambaran Umum Perusahaan ... 1
1. Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta ... 1
2. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi DPPKA Surakarta ... 3
3. Sumber Daya Manusia ... 4
4. Struktur Organisasi ... 5
5. Deskripsi Jabatan ... 9
6. Tata Kerja DPPKA ... 14
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
ix
B. Latar Belakang Masalah ... 16
C. Perumusan Masalah ... 22
D. Tujuan Penelitian ... 23
E. Manfaat Penelitian ... 23
F. Metode Penelitian ... 24
1. Desain Penelitian ... 24
2. Obyek Penelitian ... 25
3. Lokasi Penelitian ... 25
4. Jenis Penelitian ... 25
5. Jenis dan Sumber Data ... 26
6. Teknik Pengumpulan Data ... 27
7. Teknik Pembahasan ... 27
G. Analisis Data ... 27
BAB II ANALISIS DAN PEMBAHASAN A. Landasan Teori ... 30
1. Definisi Pajak ... 30
2. Pajak Daerah... 31
B. Tinjauan Umum BPHTB ... 33
1. Definisi dan Dasar Hukum BPHTB ... 33
2. Pelaksanaan Pemungutan BPHTB ... 34
C. Pembahasan ... 39
1. Implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA Kota Surakata.... 39
commit to user
x
pajak pusat dan setelah menjadi pajak daerah ... 42
3. Kontribusi penerimaan BPHTB terhadap Pendapatan Asli
Daerah Kota Surakarta ... 44
4. Hambatan yang dihadapi oleh pihak DPPKA Kota Surakarta
dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB ... 48
5. Upaya yang dilakukan DPPKA Kota Surakarta dalam
mengoptimalkan penerimaan BPHTB ... 49
BAB III TEMUAN
A. Kelebihan... 51
B. Kelemahan ... 52
BAB IV PENUTUP
A. Simpulan ... 53
B. Rekomendasi ... 56
DAFTAR PUSTAKA
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
xi
DAFTAR TABEL
TABEL Halaman
I.1 Sumber Daya Manusia DPPKA Surakarta Menurut Jabatan ... ..4
I.2 Sumber Daya Manusia DPPKA Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan ... ..5
II.1 Penerimaan BPHTB di Kota Surakarta ... 43
II.2 Realisasi Penerimaan Pajak Daerah Kota Surakarta selama enam bulan ... 45
commit to user
xii
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR Halaman
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
xiii
DAFTAR LAMPIRAN
1. Surat Pernyataan
2. Surat Permohonan Magang
3. Surat Perizinan Magang
4. Surat Keterangan Penyelesaian Magang
5. Lembar Penilaian Magang
6. Surat Memo Penyerahan Laporan Magang
7. Realisasi Penerimaan PAD dan BPHTB Kota Surakarta
commit to user ABSTRACT
IMPLEMENTASI PERALIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH
DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTA
Meirissa Linda Hapsari F3408056
The purpose of this final task are to know change of earning, contribution provided by BPHTB to Local Original Income (PAD) of Surakarta, to know barrier facing DPPKA Surakarta and efforts conducted by DPPKA Surakarta in optimizing income of BPHTB as local tax. The writing is completes by performing a research in DPPKA Surakarta for two months and then by combining theories and the real condition of BPHTB in Surakarta.
The results of the research are that earning of BPHTB as a local tax was lower than when it was national tax. Nevertheless, contribution provided by BPHTB was high enough. It can be seen from greater ratio of BPHTB earning than ratio of the other local tax earning. Contribution of BPHTB to PAD can be known by compiring realization of earning of BPHTB and realization of PAD times 100%. The 5% BPHTB tariff with the collection system is Self Assesment, and itS npoptkp IS 60 million rupiah.
The conclusion of the research is DPPKA Surakarta is ready for shifting BPHTB collection from national tax to local tax. It can be seen from continuous increased ratio of BPHTB and there is a Local Rule No. 13 of 2010 and mayor’s rule as legal protection for BPHTB collection. Low awareness of taxpayers and inadequates amount of personnel of DPPKA who were able to work on BPHTB were some barriers facing in DPPKA. However, DPPKA was also performing several strategic efforts in order to optimize earning of BPHTB. One of the strategic efforts is to perform field checking related to tax object of BPHTB.
Based on results of the research, the researcher give some suggestions, namely, socialization about tax should be conducted to taxpayers in order to grow awareness of them in paying tax and personnel of DPPKA should be trained and guided and also, amount of personnel of DPPKA should be added with skilled individuals who are able to handle BPHTB works.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
ABSTRAKSI
IMPLEMENTASI PERALIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS TANAH
DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN PENGELOLAAN
KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTA
Meirissa Linda Hapsari F3408056
Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk mengetahui perubahan penerimaan, kontribusi yang diberikan oleh BPHTB terhadap Pendapatan Asli Daerah Kota Surakarta, untuk mengetahui hambatan serta upaya yang dilakukan DPPKA Surakarta dalam optimalisasi penerimaan BPHTB sebagai pajak daerah. Langkah penulisan ini adalah dengan melakukan penelitian di DPPKA Surakarta selama 2 bulan, kemudian menyatukan antara teori dengan kondisi BPHTB di Surakarta..
Hasil dari penelitian ini adalah bahwa penerimaan BPHTB sebagai pajak daerah lebih rendah dibandingkan ketika sebagai pajak pusat. Walaupun begitu, kontribusi yang diberikan BPHTB terhadap PAD cukup tinggi, dapat dilihat dari lebih besarnya rasio penerimaan BPHTB dibandingkan rasio penerimaan dari pajak daerah lainnya. Kontribusi BPHTB terhadap PAD dapat diketahui dengan membandingkan realisasi penerimaan BPHTB terhadap realisasi PAD dikali 100%..
Kesimpulan dari penelitian ini adalah DPPKA sudah siap dengan peralihan pemungutan BPHTB dari pajak pusat menjadi pajak daerah, terbukti dari selalu meningkatnya rasio penerimaan BPHTB dan sudah adanya Peraturan Daerah Nomor 13 tahun 2010 dan Peraturan Walikota sebagai payung hukum untuk dapat memungut BPHTB. Rendahnya tingkat kesadaran wajib pajak dan minimnya personel DPPKA yang mampu menangani BPHTB merupakan hambatan yang dialami DPPKA, tetapi di sampibg itu DPPKA juga melaksanakan beberapa upaya strategis untuk mengoptimalkan penerimaan BPHTB salah satunya adalah pemeriksaan lapangan terkait objek pajaka BPHTB.
Berdasarkan hasil penelitian, penulis memberi beberapa saran antara lain diadakannya sosialisasi kepada wajib pajak agar tumbuh kesadaran membayar pajak dengan baik dan diadakannya bimbingan bagi personel DPPKA agar menambah jumlah tenaga yang mampu menangani bidang BPHTB.
.
commit to user
BAB I
PENDAHULUAN
A. Gambaran Umum Perusahaan
1. Gambaran Umum DPPKA Kota Surakarta
Berdasarkan Surat Keputusan Walikota Kepala Daerah Kotamadya
Surakarta tanggal 30 Juni 1972 No.162/Kep/Kdh.IV/Kp.72 tentang
penghapusan Bagian Pajak dari Dinas Pemerintahan Umum karena
bertalian dengan pembentukan dinas baru. Dinas baru tersebut adalah
Dinas Pendapatan Daerah yang kemudian sering disingkat DIPENDA.
Dinas Pendapatan Daerah yang dipimpin oleh Kepala Dinas yang
berkedudukan langsung serta bertanggung jawab kepada Walikota. Pada
saat itu, Dinas Pendapatan Daerah dibagi menjadi empat seksi, yaitu Seksi
Umum, Seksi Pajak Daerah, Seksi Pusat atau Provinsi yang diserahkan
kepada Seksi Doleansi/P3 serta Retribusi dan Leges. Masing–masing seksi
dipimpin oleh Kepala Seksi yang dalam menjalankan tugasnya langsung di
bawah pimpinan dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas Pendapatan
Daerah.
Terbitnya Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. KUPD
7/12/41-101 tahun 1978 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas
Pendapatan Daerah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II makin
memperjelas keberadaan Dinas Pendapatan Daerah, disesuaikan dengan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
2
tentang Sistem dan Prosedur Perpajakan, Retribusi Daerah, dan
Pendapatan Daerah lainnya telah mengakibatkan pembagian tugas dan
fungsi dilakukan berdasarkan tahapan kegiatan pemungutan pendapatan
daerah, yaitu pendataan, pemetaan, pembukuan dan seterusnya. Sistem dan
prosedur tersebut dikenal dengan MAPADA (Manual Pendapatan Daerah).
Sistem ini diterapkan di Kotamadya Surakarta dengan terbitnya Peraturan
Daerah Nomor 6 tahun 1990 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja
Dinas Pendapatan Daerah Tingkat II.
Pemerintah Kota Surakarta kembali mengalami perbaikan, dengan
pertimbangan–pertimbangan yang matang, Peraturan Daerah Nomor 6
tahun 1990 tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas Pendapatan
Daerah Tingkat II diubah menjadi Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta.
Dalam peraturan baru tersebut, nama Dinas Pendapatan Daerah berubah
menjadi Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset atau yang
sering disebut dengan DPPKA. Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2008
tentang Organisasi dan Tata Kerja Perangkat Daerah Kota Surakarta
berlaku mulai tanggal 1 Januari 2009. Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset dalam melaksanakan tugas dipimpin oleh Kepala
Dinas yang berkedudukan di bawah dan bertanggung jawab kepada
Walikota melalui Sekretaris Daerah. Saat ini Dinas Pendapatan
Pengelolaan Keuangan dan Aset dibagi ke dalam bidang–bidang yang
commit to user
dipimpin oleh Kepala Bagian atau yang biasa disebut Kabag yang dalam
menjalankan tugasnya langsung di bawah pimpinan dan langsung
bertanggung jawab kepada Kepala DPPKA Kota Surakarta.
2. Kedudukan, Tugas Pokok dan Fungsi DPPKA Surakarta
Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset merupakan unsur
pelaksana Pemerintah Daerah di bidang pendapatan, pengelolaan keuangan
dan aset yang dipimpin langsung oleh Kepala Dinas yang berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Walikota Surakarta. DPPKA Surakarta
mempunyai tugas pokok seperti yang tercantum dalam Peraturan Daerah
Nomor 6 tahun 2008 Pasal 34 ayat (2) yaitu menyelenggarakan urusan
pemerintahan di bidang pendapatan, pengelolaan keuangan dan aset
daerah.
Adapun fungsi DPPKA antara lain dapat disebutkan sebagai berikut:
a. Penyelenggaraan kesekretariatan dinas.
b.Penyusunan rencana program, pengendalian, evaluasi dan pelaporan.
c. Penyelenggaraan pendaftaran dan pendataan wajib pajak dan wajib
retribusi.
d.Pelaksanaan perhitungan, penetapan dan angsuran pajak dan retribusi.
e. Pengelolaan dan pembukuan penerimaan pajak dan retribusi serta
pendapatan lain.
f. Pelaksanaan penagihan atas keterlambatan pajak, retribusi dan
pendapatan lain.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
4
h.Pengelolaan aset barang daerah.
i. Penyiapan penyusunan, perubahan dan perhitungan anggaran
pendapatan dan belanja daerah.
j. Penyelenggaraan administrasi keuangan daerah.
k.Penyelenggaraan sosialisasi.
l. Pembinaan jabatan fungsional.
m.Pengelolaan Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD).
3. Sumber Daya Manusia
a. Menurut Jabatan
Sumber daya manusia di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan
Aset Kota Surakarta menurut jabatan adalah sebagai berikut:
Tabel I.1
Sumber Daya Manusia DPPKA Surakarta Menurut Jabatan
No Jabatan Jumlah
1 Eselon II 1
2 Eselon IIIA 1
3 Eselon IIIB 6
4 Eselon IVA 20
5 Eselon IVB 3
6 Staf PHS 103
7 Staf THL 19
commit to user
b. Menurut Tingkat Pendidikan
Sumber daya di Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset
Kota Surakarta menurut tingkat pendidikannya sebagai berikut:
Tabel I.2
Sumber Daya Manusia DPPKA Surakarta Menurut Tingkat Pendidikan
No Pendidikan Jumlah
1 S 2 14
2 S 1 50
3 D 3 9
4 SLTA 58
5 SLTP -
6 SD 3
Sumber: DPPKA Surakarta
4. Struktur Organisasi
Struktur organisasi yang baik perlu diterapkan untuk mempermudah
dalam pengawasan manajemen agar pelaksanaan suatu kegiatan dapat
berjalan dengan lancar. Penetapan struktur organisasi yang jelas sangat
diperlukan sesuai dengan bagian masing–masing. Adapun tujuan
disusunnya struktur organisasi adalah sebagai berikut:
a. Menentukan kedudukan seseorang dalam fungsi dan kegiatan sehingga
mampu menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.
b. Mempermudah dalam pelaksanaan tugas dan pekerjaan.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
6
d. Mengkoordinasi kegiatan untuk mencapai tugas yang diharapkan.
Susunan organisasi DPPKA Surakarta seperti yang tercantum dalam
Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2008 adalah sebagai berikut:
a. Kepala
b. Sekretariat, membawahi:
1) Subbagian Perencanaan, Evaluasi dan Pelaporan
2) Subbagian Keuangan
3) Subbagian Umum dan Kepegawaian
c. Bidang Pendaftaran, Pendataan dan Dokumentasi, membawahi:
1) Seksi Pendaftaran dan Pendataan
2) Seksi Dokumentasi dan Pengolahan Data
d. Bidang Penetapan, membawahi:
1) Seksi Perhitungan
2) Seksi Penerbitan Surat Ketetapan
e. Bidang Penagihan, membawahi:
1) Seksi Penagihan dan Keberatan
2) Seksi Pengelolaan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain
f. Bidang Anggaran, membawahi:
1) Seksi Anggaran I
2) Seksi Anggaran II
g. Bidang Perbendaharaan, membawahi:
1) Seksi Pembendaharaan I
commit to user
h. Bidang Akuntansi, membawahi:
1) Seksi Akuntansi I
2) Seksi Akuntansi II
i. Bidang Asset, membawahi:
1) Seksi Perencanaan Aset
2) Seksi Pengelolaan Aset
j. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
k. Kelompok Jabatan Fungsional
Sekretariat dipimpin oleh seorang Sekretaris yang berada di bawah
dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Sedangkan Kelompok
Jabatan Fungsional sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dipimpin oleh
seorang Tenaga Fungsional Senior sebagai Ketua Kelompok dan
bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Subbagian-subbagian
sebagaimana dimaksud pada ayat (1), masing-masing dipimpin oleh
seorang Kepala Subbagian yang berada di bawah dan bertanggung jawab
kepada Kepala Dinas yang bersangkutan. Untuk masing–masing bidang
dipimpin oleh seorang Kepala Bidang yang berada di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kepala Bidang atau Kabid yang berada di
bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Dinas yang bersangkutan.
Untuk lebih jelas mengenai struktur organisasi DPPKA Surakarta
menurut Peraturan Daerah Nomor 6 tahun 2008 dapat dilihat dalam
1
Gambar I. 1
BAGAN ORGANISASI DINAS PENDAPATAN PENGELOAAN KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTAKEPALA DINAS Ir. BUDI YULISTIANTO,M.SI
Pembina Utama Muda/IV.b NIP. 19580719 198901 1 001
JABATAN FUNGSIONAL NIP. 19581224 199310 1 001
SUB. BAG UMUM & KEPEGAWAIAN Sri Rahayu , SE NIP . 19631005 199403 2 003 SUB.BAG KEUANGAN NIP. 19670610 199402 1 003
KA.BID ANGGARAN NIP. 19590324 198903 1 006
KA.BID ASET NIP. 19680110 199301 1 002
SEKSI ANGGARAN I NIP. 19730126 199903 2 005
SEKSI PERENCANAAN ASET Moeh.Yani,S.Sos, MM
Pembina/IV.a NIP. 19651113 198603 1 011
SEKSI PENGELOLAAN NIP. 19640729 198503 2 004
SEKSI AKUNTANSI II Kurnia Widiyanto,SE
Penata Tk. I/III.d NIP. 19670911 199803 1 005
SEKSI PENGELOLAAN ASET Chris Subijono, S.Sos
Penata/III.c NIP. 19551212 198103 1 019
UPTD III NIP. 19670708 199203 1 008 SEKSI PERHITUNGAN
Supartono, SE Penata Tk. I/III.d NIP. 19620713 198503 1 013
SEKSI PENERBITAN SURAT KETETAPAN Dra.Victoria Heny Sulistyarini
Penata Tk. I/III.d NIP. 19641223 198903 2 009
UPTD II NIP. 19620909 199309 1 001
Ka. Sub. Bag. TU UPTD I A.Sri Suwarni, SE
Penata/III.c NIP. 1955106 197905 2 001 KA.BID PENETAPAN
Drs. AG Agung Hendratno , M.Si Pembina/IV.a NIP.19680813 199001 1 002
commit to user
5. Deskripsi Jabatan
a. Kepala Dinas
Kepala Dinas mempunyai tugas yang cukup berat yaitu
melaksanakan urusan pemerintahan di bidang pendapatan daerah.
Uraian tugas seorang Kepala Dinas adalah sebagai berikut:
1) Menyusun rencana strategis dan program kerja tahunan dinas
sesuai dengan program pembangunan daerah.
2) Membagi tugas kepada bawahan sesuai bidang tugas agar
tercipta pemerataan tugas.
3) Memberi petunjuk dan arahan kepada bawahan guna
kejelasan pelaksanaan tugas.
b. Sekretariat
Sekretariat yang posisinya di bawahi langsung oleh Kepala Dinas
mempunyai tugas melaksanakan persiapan, perumusan kebijakan
teknis, pembinaan, pengkoordinasian penyelenggaraan tugas
secara terpadu, pelayanan administrasi dan pelaksanaan di
bidang perencanaan, evaluasi dan pelaporan, keuangan, umum
dan kepegawaian.
Sekretariat membawahi subbagian–subbagian sebagai berikut:
1) Subbagian Perencanaan, Evaluasi, dan Pelaporan
Subbagian ini mempunyai tugas untuk mengumpulkan,
mengolah, serta menyajikan data sebagai bahan penyusunan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
10
juga bertugas sebagai pelaksana atau melaksanakan
monitoring dan pengendalian, analisa dan evaluasi, serta
menyusun laporan hasil pelaksanaan rencana strategis dan
program kerja tahunan Dinas.
2) Subbagian Keuangan
Subbagian Keuangan mempunyai tugas melaksanakan
pengelolaan administrasi keuangan.
3) Subbagian Umum dan Kepegawaian
Subbagian Umum dan Kepegawaian mempunyai tugas yang
cukup banyak yaitu melaksanakan urusan surat–menyurat,
kearsipan, penggandaan, administrasi, perijinan, perjalanan
dinas, hubungan rumah masyarakat, sistem jaringan
dokumentasi, informasi hukum, administrasi kepegawaian,
rumah tangga, pengaturan penggunaan kendaraan dinas dan
perlengkapannya, dan pengelolaan barang inventoris.
c. Bidang Pendaftaran, Pendataan dan Dokumentasi
Bidang ini mempunyai tugas pokok melaksanakan perumusan
kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
pendaftaran, pendataan, dokumentasi dan pengolahan data sesuai
dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.
Bidang Pendaftaran, Pendataan, dan Dokumentasi membawahi
commit to user
1) Seksi Pendaftaran dan Pendataan
Seksi ini mempunyai tugas melaksanakan pendaftaran,
pendataan dan pemeriksaan di lapangan terhadap Wajib
Pajak Daerah dan Wajib Pajak Retribusi Daerah.
2) Seksi Dokumentasi dan Pengolahan Data
Tugas dari Seksi Dokumentasi dan Pengolahan Data adalah
menghimpun, mendokumentasi, menganalisa dan mengolah
data Wajib Pajak Daerah dan Wajib Pajak Retribusi Daerah.
d. Bidang Penetapan
Bidang Penetapan bertugas menyelenggarakan pembinaan dan
bombingan di bidang perhitungan, penerbitan Surat Penetapan
Pajak dan Retribusi serta perhitungan besarnya angsuran bagi
pemohon sesuai dengan kebijakan teknis yang telah ditetapkan
Kepala Dinas.
Bidang Penetapan membawahi seksi–seksi sebagai berikut:
1) Seksi Perhitungan
Tugas dari Seksi Perhitungan adalah melaksanakan
perhitungan dan penetapan besarnya pajak dan retribusi.
2) Seksi Penerbitan Surat Ketetapan
Seksi Penerbitan Surat Ketetapan mempunyai tugas
menetapkan Surat Ketetapan Pajak (SKP), Surat Ketetapan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
12
e. Bidang Penagihan
Bidang Penagihan mempunyai tugas menyelenggarakan
bimbingan dan pembinaan di bidang penagihan dan keberatan
serta pengelolaan penerimaan sumber pendapatan lainnya, sesuai
dengan kebijakan teknis yang ditetapkan oleh Kepala Dinas.
Bidang Penagihan membawahi seksi–seksi sebagai berikut:
1) Seksi Penagihan dan Keberatan
Seksi ini bertugas melaksanakan penagihan tunggakan pajak
daerah, retribusi daerah dan sumber pendapatan lainnya serta
melayani permohonan keberatan dan penyelesaiannya.
2) Seksi Pengelolaan Penerimaan Sumber Pendapatan Lain
Tugas yang dibebankan kepada seksi ini adalah
mengumpulkan data sumber–sumber penerimaan lain di luar
pajak daerah dan retribusi daerah sesuai ketentuan peraturan
perundangan yang berlaku.
f. Bidang Anggaran
Bidang Anggaran mempunyai tugas pokok melaksanakan
perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di
bidang perencanaan, pengelolaan dan pengendalian anggran
pendapatan, belanja dan pembiayaan daerah dalam rangka
penyusunan dan pelaksanaan APBD dan Perubahan APBD.
Bidang Anggaran terdiri dari dua seksi yang merupakan satu
commit to user
1) Seksi Anggaran I
2) Seksi Anggaran II
g. Bidang Perbendaharaan
Bidang Perbendaharaan bertugas melaksanakan perumusan
kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di bidang
pengelolaan perbendaharaan I dan II. Bidang Akuntansi
membawahi seksi–seksi sebagai berikut:
1) Seksi Perbendaharaan I
2) Seksi Perbendaharaan II
h. Bidang Akuntansi
Bidang akuntansi mempunyai tugas pokok melaksanakan
perumusan kebijakan teknis, pembinaan dan pelaksanaan di
bidang penyelenggaraan tata akuntansi keuangan daerah pada
tingkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan penyusunan
laporan pertanggungjawaban pelaksanaan APBD Kota Surakarta.
Bidang Akuntansi dibantu dua kelompok seksi, yaitu:
1) Seksi Akuntansi I
2) Seksi Akuntansi II
i. Bidang Aset
Bidang Aset mempunyai tugas untuk mencatat serta mengelola
semua aset yang dimiliki oleh Pemerintah Daerah Kota
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
14
1) Seksi Perencanaan Aset
Seksi ini bertugas merencanakan dan mengembangkan
semua aset yang dimiliki Pemerintah Daerah Kota Surakarta
sehingga dapat berguna bagi masyarakat dan pemerintah.
2) Seksi Pengelolaan Aset
Seksi ini bertugas sebagai pelaksana rencana yang telah
dibuat oleh Seksi Perencanaan Aset dan juga sebagai
pengelola aset tersebut.
j. Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD)
UPTD bertugas memungut dan mengelola Pajak dan Retribusi
Daerah Kota Surakarta.
k. Kelompok Jabatan Fungsional
Kelompok Jabatan Fungsional mempunyai tugas melaksanakan
sebagian tugas Kepala Dinas pada cabang dinas di kecamatan.
6. Tata Kerja DPPKA
DPPKA Kotamadya II Surakarta mendapatkan pembinaan teknis
fungsional dari DPPKA Tingkat I Jawa Tengah. Dalam
melaksanakan tugasnya Kepala Dinas menerapkan prinsip-prinsip
koordinasi, integrasi, sinkronasi, dan simplikasi sesuai dengan
bidang tugasnya masing–masing.
Kepala Sekretariat, para Kepala Seksi, dan Kepala Unit
Penyuluhan bertanggung jawab memberikan bimbingan atau
pembinaan kepada bawahannya serta melaporkan hasil pelaksanaan
commit to user
Sekretariat, Kepala Seksi, Kepala Unit Penyuluhan, dan Kepala Unit
Pelaksanaan, dan Kepala Unit Pelaksanaan Teknis Dinas
bertanggung jawab kepada Kepala Dinas. Para Kepala Seksi pada
DPPKA bertanggung jawab kepada Kepala Bagian yang
membidanginya. Kepala Dinas, Kepala Sekretariat, dan Kepala Seksi
di lingkungan DPPKA Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta
diangkat dan diberhentikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat II
Surakarta. Kepala Urusan, Kepala Seksi, dan Kepala Unit
Penyuluhan di lingkungan DPPKA Kotamadya Daerah Tingkat II
diangkat dan diberhentikan oleh Walikotamadya Kepala Daerah
Tingkat II Surakarta.
7. Visi dan Misi DPPKA
a. Visi DPPKA
Visi DPPKA adalah mewujudkan peningkatan pendapatan daerah
yang optimal untuk mendukung penyelenggaraan Pemerintah
Kotamadya Daerah Tingkat II Surakarta.
b. Misi DPPKA
Misi DPPKA antara lain sebagai berikut:
1) Mengutamakan kualitas pelayanan ketertiban.
2) Meningkatkan pendapatan daerah secara optimal.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
16
B. Latar Belakang Masalah
Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan negara hukum
yang berdasarkan Pancasila dan Undang–Undang Dasar 1945. Dalam
perkembangannya telah menghasilkan pembangunan yang pesat dalam
kehidupan nasional yang perlu dilanjutkan dengan dukungan
pemerintah dan seluruh potensi masyarakat, karena itu menempatkan
perpajakan sebagai salah satu perwujudan kewajiban kenegaraan yang
merupakan sarana peran serta dalam pembiayaan negara dan
pembangunan nasional.
Dahulu penyelenggara pemerintahan menggunakan dua sistem,
yaitu sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi ataupun desentralisasi
sebagai suatu sistem administrasi pemerintahan, dalam banyak hal tidak
dapat dilepaskan dari proses pertumbuhan suatu negara. Namun, adanya
krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1998 membuat daerah menjadi
bergantung kepada setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintah pusat,
sehingga sekarang ini pemerintah hanya menerapkan satu sistem yaitu
desentralisasi. Adapun pengertian desentralisasi adalah penyerahan
kewenangan dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah untuk
mengurus rumah tangganya sendiri. Sistem pemerintahan inilah yang
kemudian disebut dengan otonomi daerah. Otonomi daerah dilancarkan
sejak 1 Januari 2001. Daerah–daerah otonom (kabupaten/kota) diberi
kewenangan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sesuai
commit to user
perundang–undangan yang berlaku.
Otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab disertai
dengan kewenangan mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri
memerlukan dukungan tersedianya pendapatan daerah yang memadai.
Lahirnya otonomi daerah telah memberikan kewenangan daerah untuk
mengatur dan mengurus sumber–sumber penerimaan daerah yang
berasal dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Perimbangan, Pinjaman
Daerah dan sumber penerimaan lainnya.
Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai salah satu sumber
penerimaan daerah yang berasal dari dalam daerah yang bersangkutan
harus ditingkatkan seoptimal mungkin dalam rangka mewujudkan
semangat kemandirian lokal. Dalam hubungannya dengan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah, maka peranan yang dimainkan oleh
Pemerintah Daerah perlu mendapatkan penekanan sekaligus dukungan
yang sungguh–sungguh, maka terdapat dua pandangan tentang peranan
yang seharusnya dimainkan oleh Pemerintah Daerah, yaitu:
Pertama, Pemerintah Daerah pada dasarnya adalah lembaga yang
menyelenggarakan pelayanan tertentu untuk masyarakat, memberikan
pelayanan yang semata–mata bermanfaat untuk daerah. Tujuan
Pemerintah Daerah bersifat tata usaha dan ekonomi.
Kedua, menekankan peranan Pemerintah Daerah yang
mencerminkan keinginan masyarakat setempat. Tujuan Pemerintah
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
18
merupakan wadah bagi penduduk setempat untuk mengemukakan
aspirasi mereka. Hubungan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
tercermin dalam pembagian kekuasaan antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah sehingga tiap tingkatan memiliki lingkup
kewenangan sendiri–sendiri. Menurut Prof. DR. H. Rahardjo
Adidasmita (2011:13) peranan Pemerintah Daerah mencangkup tiga
aspek:
1. Pemerintah daerah diberi kekuasaan untuk menghimpun sendiri
pajak yang dapat menghasilkan pendapatan daerah dan untuk
menentukan sendiri tarif pajak daerah.
2. Bagi hasil penerimaan pajak nasional antara Pemerintah Pusat dan
Pemerintah Daerah.
3. Bantuan umum dari Pemerintah Pusat tanpa pengendalian dari
Pemerintah Pusat atas penggunaanya.
Tanah mempunyai fungsi sosial sebagai karunia Tuhan Yang
Maha Esa, sedangkan bangunan memberikan keuntungan dan atau
kedudukan sosial ekonomi yang baik bagi orang pribadi atau badan
yang mempunyai hak atasnya, oleh karena itu mereka yang
memperoleh hak atas tanah dan bangunan wajar bila menyerahkan
sebagian nilai ekonomi yang diperolehnya kepada negara melalui
pembayaran pajak, dalam hal ini Bea Perolehan Hak atas Tanah dan
Bangunan (BPHTB). Namun, pengenaan BPHTB menurut Undang–
commit to user
terutama masyarakat golongan ekonomi lemah dan masyarakat yang
berpenghasilan rendah, yaitu dengan mengatur nilai perolehan hak atas
tanah dan bangunan yang tidak dikenakan pajak (Nilai Perolehan Objek
Pajak Tidak Kena Pajak).
BPHTB tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia karena
merupakan pajak yang menyangkut kepemilikan tanah dan bangunan.
Seperti yang dikemukakan Mudrajad Kuncoro dalam Otonomi dan
Pembangunan Daerah (2004:28), BPHTB menurut Undang–Undang
No. 25 tahun 1999 pasal 6 merupakan dana perimbangan bagian daerah
(dana bagi hasil), yang selama ini pelaksanaan pemungutan BPHTB
dilakukan oleh Pemerintah Pusat dan penerimaan pajaknya diberikan
kembali ke Pemerintah Daerah melalui pola bagi hasil. Tetapi, seperti
yang diamanatkan melalui Undang–undang No. 28 tahun 2009 tentang
Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, BPHTB dialihkan dari pajak pusat
menjadi pajak daerah, terhitung sejak 1 Januari 2011.
Dahulu ketika BPHTB sebagai pajak pusat, daerah tidak
mendapat 100% penerimaan pajak ini. Pemerintah pusat mendapat
bagian 20% dari seluruh penerimaan BPHTB yang kemudian bagian
Pemerintah Pusat ini dibagikan secara merata ke seluruh daerah
Kabupaten/Kota, sedangkan Pemerintah Daerah mendapat bagian
sebesar 80% yang dibagi 16% untuk Daerah Provinsi dan 64% untuk
Daerah Kabupaten/Kota. Kini, 100% penerimaan BPHTB menjadi hak
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
20
pengelolaan ini memiliki beberapa tujuan, di antaranya adalah
memberikan kewenangan lebih besar kepada daerah di bidang
perpajakan, penyempurnaan sistem pungutan pajak dan retribusi daerah,
peningkatan efektifitas pengawasan sebagai perwujudan pemerintahan
daerah yang mandiri serta jika dikaitkan dengan unsur pelayanan
masyarakat, akuntabilitas dan transparansi menjadi isu yang paling
disoroti di era otonomi daerah. Beban pajak properti sering dikaitkan
langsung dengan pelayanan masyarakat yang diberikan Pemerintah
Daerah, misalnya dalam menyediakan sarana prasarana, sehingga
logikanya wajar bila pajak properti dikelola langsung oleh Pemerintah
Daerah untuk otonomi daerah dalam rangka meningkatkan pelayanan
kepada masyarakat dan kemandirian daerah. Fungsi pelayanan dan
pengawasan terhadap subjek dan objek pajak diharapkan dapat lebih
optimal apabila Pemerintah Daerah yang bertanggung jawab atas
pemungutan pajaknya.
Sistem yang digunakan dalam pemungutah pajak BPHTB adalah
Self Assessment System yang memberi kepercayaan penuh kepada
Wajib Pajak (WP) untuk melaksanakan hak dan kewajibannya, mulai
dari menghitung, menyetorkan dan melaporkan sendiri pajak yang
terutang, sehingga idealnya Wajib Pajak akan bersikap proaktif
terhadap kewajibannya dalam membayar pajak. Tarif yang ditetapkan
pemerintah untuk Bea Perolehan Hak Atas Tanah Dan Bangunan adalah
commit to user
(NPOPKP) atas Tanah dan Bangunan. Tarif tersebut ditetapkan secara
tunggal agar Wajib Pajak dapat lebih mudah dalam melaksanakan
Sistem Self Assessment yang diberlakukan pemerintah. Dalam
pemberlakuan sistem ini pemerintah membuat Surat Setoran Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (SSB) agar Wajib Pajak dapat
menyetorkan secara langsung BPHTB yang terutang. SSB ini
digunakan sebagai bukti bagi Wajib Pajak dalam proses pengalihan hak
bagi pejabat atau tempat pembayaran dilakukan. Dengan peralihan
tersebut diharapkan BPHTB akan menjadi salah satu sumber PAD yang
cukup potensial bagi daerah tertentu dibandingkan dari keseluruhan
penerimaan pajak daerah yang selama ini ada. Perubahan ini tentunya
merubah pihak yang melayani BPHTB, yang selama ini tanggung
jawab Direktorat Jenderal Pajak menjadi tanggung jawab Dinas
Pendapatan Daerah. Pengalihan kewenangan ini bukan hal yang mudah
karena diperlukannya kesiapan dari semua pihak yang terkait agar
pengalihan kewenangan berjalan optimal.
Implementasi berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia
(1995:374) mempunyai arti penerapan atau pelaksanaan. Dalam hal ini
merupakan pelaksanaan peralihan BPHTB dari Pajak Pusat kemudian
menjadi Pajak Daerah, yaitu mulai 1 Januari 2011 telah dikelola
langsung oleh Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota
Surakarta.
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
22
penerimaan BPHTB, kendala dan upaya yang dilakukan pihak
Pemerintah Daerah untuk mengoptimalkan penerimaan tersebut.
Mengingat pentingnya pelaksanaan pengoptimalan pendapatan daerah
dari peralihan BPHTB yang dikelola Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta, maka penulis mengambil judul
“IMPLEMENTASI PERALIHAN BEA PEROLEHAN HAK ATAS
TANAH DAN BANGUNAN PADA DINAS PENDAPATAN,
PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET KOTA SURAKARTA”.
C. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka
dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA Kota
Suakarta?
2. Bagaimana perubahan penerimaan BPHTB Kota Surakarta
ketika sebagai pajak pusat dan setelah menjadi pajak daerah?
3. Bagaimana kontribusi penerimaan BPHTB terhadap Pendapatan
Asli Daerah Kota Surakarta?
4. Hambatan apa saja yang dihadapi oleh pihak DPPKA Kota
Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB di
Surakarta?
5. Bagaimana upaya yang dilakukan DPPKA Kota Surakarta
commit to user
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas, adapun
tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui implementasi peralihan BPHTB pada
DPPKA Kota Surakarta.
2. Untuk mengetahui perubahan penerimaan BPHTB ketika
sebagai pajak pusat dan setelah menjadi pajak daerah.
3. Untuk mengetahui kontribusi penerimaan BPHTB terhadap
Pendapatan Asli Daerah Kota Surakarta.
4. Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh pihak DPPKA
Kota Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB.
5. Untuk mengetahui dan mengkaji upaya yang dilakukan DPPKA
Kota Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB.
E. Manfaat penelitian
Beberapa manfaat yang diharapkan dari penulisan Tugas Akhir ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagi Penulis
Dapat menambah pengetahuan tentang pengaruh BPHTB
bagi penerimaan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Surakarta
serta dapat mengaplikasikan ilmu perpajakan yang diperoleh di
bangku kuliah ke dalam dunia kerja sesungguhnya, khususnya
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
24
2. Bagi Instansi atau Lembaga
Diharapkan dapat memberikan masukan bagi DPPKA Kota
Surakarta sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan
kebijakan yang berkenaan dengan BPHTB, sehingga dapat
meningkatkan penerimaan pendapatan daerah dari sektor
BPHTB. Selain itu, dapat digunakan sebagai evaluasi atas
pelaksanaan kegiatan pemungutan pajak yang selama ini sudah
dilakukan, dengan harapan akan dapat lebih meningkatkan
kinerja DPPKA Kota Surakarta di masa yang akan datang.
3. Bagi Pihak Lain
Semoga penelitian ini dapat memberikan gambaran
mengenai BPHTB, pengaruhnya terhadap Pendapatan Asli
Daerah Kota Surakarta serta diharapkan dapat menjadi dasar
penelitian selanjutnya yang lebih luas dan mendalam.
F. Metode Penelitian
Ada beberapa metode yang dilakukan penulis dalam
mengumpulkan data antara lain:
1. Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah Desain Kasus,
dilakukan apabila pertanyaan “ bagaimana ” menjadi permasalahan
utama penelitian dengan keharusan membuat deskripsi atau analisis
commit to user
tersebut. Dalam penulisan Tugas Akhir ini penulis membahas
tentang bagaimana implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA
Kota Surakarta, perubahan penerimaan BPHTB, hambatan dan
upaya yang dilakukan Pemerintah Kota Surakarta untuk
mengoptimalkan penerimaan BPHTB.
2. Obyek Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian
Tugas Akhir ini, maka obyek yang diteliti adalah pajak daerah yang
berada di Surakarta terutama Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah
dan Bangunan (BPHTB).
3. Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Dinas Pendapatan Pengelolaan
Keuangan dan Aset Kota Surakarta untuk memudahkan pemenuhan
dalam penyesuaian serta memperoleh data-data primer dan sekunder
yang langsung dengan obyek penelitian.
4. Jenis Penelitian
a. Penelitian kepustakaan, yaitu dengan membaca dan mempelajari
buku dan data-data yang berhubungan dengan BPHTB.
b. Penelitian lapangan, yaitu penelitian yang dilakukan dengan
terjun langsung ke instansi yang berhubungan dengan objek
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
26
5. Jenis dan Sumber Data
a. Jenis Data
1) Data Kualitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk
kata, kalimat dan gambar.
2) Data Kuantitatif, yaitu data yang dinyatakan dalam bentuk
angka atau data kualitatif yang diangkakan.
b. Sumber Data
1) Sumber data berasal dari:
a) Data Primer, yaitu data yang diperoleh langsung dari
obyek yang diteliti, seperti target dan realisasi
penerimaan Pajak BPHTB di Kota Surakarta.
b) Data Sekunder, yaitu data yang diperoleh dengan
mempelajari buku–buku, arsip, Undang–undang
Perpajakan yang berlaku, serta Surat Keputusan tentang
Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
(BPHTB).
2) Sumber data diambil dari:
a) Informan, yaitu orang yang dipandang mengetahui
permasalahan yang akan dibahas dan bersedia
memberikan informasi mengenai hal terkait.
b) Dokumen, merupakan sumber data yang memiliki posisi
commit to user
6. Teknik Pengumpulan Data
a. Interview atau wawancara, yaitu metode pengumpulan data
dalam penelitian yang dilakukan dengan mengadakan tanya
jawab langsung untuk mendapatkan keterangan atau
informasi dari pejabat instansi terkait dengan berdasarkan
daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan sebelumnya.
b. Observasi, yaitu pengamatan secara langsung pada instansi
yang menangani langsung obyek penelitian.
7. Teknik Pembahasan
Teknik pembahasan yang digunakan penulis dalam
membuat Tugas Akhir ini adalah Pembahasan Deskriptif, yaitu
membuat gambaran atau deskripsi secara sistematis, faktual dan
akurat mengenai implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA
Kota Surakarta, perubahan penerimaan BPHTB, kontribusi
penerimaan BPHTB bagi Pendapatan Asli Daerah Kota
Surakarta, hambatan serta upaya yang dilakukan DPPKA dalam
meningkatkan penerimaan BPHTB di Surakarta.
G. Analisis Data
Setelah data diperoleh dan dikumpulkan secara lengkap
selanjutnya data dianalisa kemudian disimpulkan untuk mendapatkan
gambaran atau jawaban permasalahan yang dikehendaki, dalam hal ini
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
28
Bangunan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset
Kota Surakarta. Adapun permasalahan tersebut antara lain:
1. Implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA Kota Surakarta
Untuk mengetahui implementasi peralihan BPHTB pada
DPPKA Kota Surakarta, dapat dijelaskan berdasar pelaksanaan
pemungutan BPHTB, hasil pungutan BPHTB, dan semua
kewenangan dalam pemungutan BPHTB menjadi tanggung jawab
Pemerintah Daerah Kota Surakarta melalui Walikota, dan Peraturan
Daerah Nomor 13 tahun 2010 adalah peraturan daerah yang
merupakan payung hukum implementasi peralihan BPHTB pada
DPPKA Kota Surakarta.
2. Perubahan Penerimaan BPHTB Kota Surakarta ketika sebagai
pajak pusat dan setelah menjadi pajak daerah
Dahulu BPHTB adalah pajak pusat dan merupakan dana
perimbangan, yakni dikelola Pemerintah Pusat dan hasil
penerimaannya dibagikan secara merata ke Pemerintah Daerah.
Tetapi sejak 1 Januari 2011, BPHTB sudah dialihkan menjadi pajak
daerah. Untuk mengetahui perubahan penerimaan tersebut dilakukan
perbandingan penerimaan BPHTB ketika sebagai pajak pusat dan
setelah menjadi pajak daerah. Dalam hal ini, jangka waktu yang
commit to user
3. Kontribusi penerimaan BPHTB terhadap Pendapatan Asli
Daerah Kota Surakarta
Untuk mengetahui kontribusi penerimaan BPHTB terhadap
Pendapatan Asli Daerah Kota Surakarta, dilakukan dengan cara
perhitungan sebagai berikut:
4. Hambatan yang dihadapi oleh pihak DPPKA Kota Surakarta
dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB di Surakarta
Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi oleh pihak DPPKA
Kota Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB adalah
dengan melakukan wawancara dengan pihak dalam instansi terkait.
5. Upaya yang dilakukan DPPKA Kota Surakarta dalam
mengoptimalkan penerimaan BPHTB di Surakarta
Untuk mengetahui upaya yang dihadapi oleh pihak DPPKA
Kota Surakarta dalam mengoptimalkan penerimaan BPHTB adalah
dengan melakukan wawancara dengan pihak dalam instansi terkait. Realisasi penerimaan BPHTB
Kontribusi = x 100%
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
30 BAB II
ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Landasan Teori
1. Definisi Pajak
Beberapa kutipan difinisi pajak yang dikemukakan oleh para ahli,
adalah sebagai berikut:
a. Pajak (P. J. A. Adriani dalam Waluyo, 2007) adalah iuran kepada
kas negara (yang dapat dipisahkan) yang terutang oleh wajib pajak
yang membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak
mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan
gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum
berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan
pemerintahan.
b. Pajak (Rochmat Soemitro dalam Richard dan Wirawan, 2004) adalah
iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang
dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa–imbal (kontra–
prestasi), yang langsung dapat ditunjukkan dan digunakan untuk
membayar pengeluaran umum.
Adapun fungsi pajak (Mardiasmo, 2003) antara lain:
a. Fungsi Budgeter yaitu sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi
commit to user
b. Fungsi Reguler yaitu sebagai alat mengatur atau melaksanakan
kebijakan di bidang sosial dan ekonomi.
Sistem Pemungutan Pajak dapat dibagi menjadi:
a. Official Assesment System adalah sistem pemungutan yang memberi
wewenang kepada pemerintah untuk menentukan besarnya pajak
yang terutang oleh wajib pajak.
b. Self Assesment System adalah sistem pemungutan pajak yang
memberi wewenang kepada wajib pajak menentukan sendiri
besarnya pajak yang terutang.
c. With Holding System adalah sistem pemungutan pajak yang memberi
wewenang pada pihak ketiga.
Seperti yang dikutip dalam buku Perpajakan Teori dan Kasus oleh
Siti Resmi, pajak menurut lembaga pemungut dikelompokkan menjadi
dua, yaitu:
a. Pajak Pusat, adalah jenis pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat
yang dalam pelaksanaanya dilakukan oleh Departemen Keuangan
melalui Direktorat Jenderal Pajak.
b. Pajak Daerah, adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah
dan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah.
2. Pajak Daerah
Berdasarkan Undang–Undang No. 28 tahun 2009, yang disebut
dengan pajak daerah adalah adalah kontribusi wajib kepada daerah yang
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
32
Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan langsung dan
digunakan untuk keperluan daerah bagi sebesar-besarnya kemakmuran
rakyat.
Kriteria pajak daerah secara spesifik diuraikan oleh Davey (1988)
dalam Pajak dan Retribusi Daerah, terdiri dari empat hal:
a. Pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah berdasarkan pengaturan
dari daerah sendiri.
b. Pajak yang dipungut berdasarkan peraturan pemerintah pusat tetapi
penetapan tarifnya dilakukan oleh pemerintah daerah.
c. Pajak yang ditetapkan dan atau dipungut oleh pemerintah daerah.
d. Pajak yang dipungut dan diadministrasikan oleh pemerintah pusat
tetapi hasil pungutannya diberikan kepada pemerintah daerah.
Adapun jenis Pajak Daerah yang tercantum dalam Undang-Undang
No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah antara lain:
a. Pajak propinsi yang terdiri dari:
1) Pajak Kendaraan Bermotor
2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor
3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor
4) Pajak Air Permukaan, dan
5) Pajak Rokok
b. Jenis Pajak kabupaten/kota terdiri atas:
1) Pajak Hotel
commit to user
3) Pajak Hiburan
4) Pajak Reklame
5) Pajak Penerangan Jalan
6) Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan
7) Pajak Parkir
8) Pajak Air Tanah
9) Pajak Sarang Burung Walet
10) Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan, dan
11) Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan
B. Tinjauan Umum BPHTB
1. Definisi dan Dasar Hukum
Berdasarkan Peraturan Daerah No. 13 tahun 2010 yang dimaksud
dengan Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) adalah
pajak yang dikenakan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan.
Perolehan Hak atas Tanah dan/atau Bangunan adalah perbuatan atau
peristiwa hukum yang mengakibatkan diperolehnya hak atas tanah
dan/atau bangunan oleh orang pribadi atau Badan. Hak atas Tanah
dan/atau Bangunan adalah hak atas tanah, termasuk hak pengelolaan,
beserta bangunan di atasnya, sebagaimana dimaksud dalam
undang-undang di bidang pertanahan dan bangunan.
Sesuai dengan bunyi Pasal 33 ayat (3) Undang-Undang Dasar 1945
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
34
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
Tanah sebagai bagian dari bumi yang merupakan karunia Tuhan
Yang Maha Esa, di samping memenuhi kebutuhan dasar untuk papan dan
lahan usaha, juga merupakan alat investasi yang sangat menguntungkan.
Di samping itu, bangunan juga memberi manfaat ekonomi bagi
pemiliknya. Oleh karena itu, bagi mereka yang memperoleh hak atas tanah
dan bangunan, wajar menyerahkan sebagian dari nilai ekonomi yang
diperolehnya kepada negara melalui pembayaran pajak, yang dalam hal ini
adalah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB).
Dasar hukum pemungutan BPHTB pada Dinas Pendapatan,
Pengelolaan Keuangan dan Aset Kota Surakarta adalah:
a. Undang-Undang No. 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan
Retribusi Daerah.
b. Peraturan Daerah Kota Surakarta No. 13 tahun 2010 tentang Bea
Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.
2. Pelaksanaan Pemungutan BPHTB
Subjek pajak BPHTB adalah orang pribadi atau badan yang
memperoleh hak atas tanah dan/atau bangunan. Subyek pajak
berkewajiban membayar pajak sebagai wajib pajak, sedangkan obyek
commit to user
a. Pemindahan Hak
Pemindahan hak disebabkan oleh peristiwa hukum jual beli, tukar
menukar, hibah, hibah wasiat, pemasukan dalam perseroan atau
badan hukum lainnya, pemisahan hak yang mengakibatkan
peralihan, penunjukkan pembeli dalam lelang, pelaksanaan putusan
hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap, penggabungan
usaha, peleburan usaha, pemekaran usaha dan hadiah.
b. Pemberian Hak Baru, meliputi:
1) Kelanjutan pelepasan hak.
2) Di luar pelepasan hak.
Menurut ketentuan Pasal 4 (empat) Peraturan Daerah No. 13 tahun
2010, obyek pajak yang tidak dikenakan BPHTB adalah sebagai berikut:
a. Perwakilan diplomatik, konsulat berdasar asas timbal balik.
b. Negara untuk penyelenggaraan pemerintahan dan pelaksanaan
pembangunan guna kepentingan umum.
c. Perwakilan organisasi internasional yang ditetapkan oleh Menteri.
d. Orang pribadi atau badan karena konversi hak dan perbuatan hukum
lain dengan tidak adanya perubahan nama.
e. Karena wakaf.
f. Untuk digunakan kepentingan ibadah.
Prinsip-prinsip yang diatur dalam Undang-Undang BPHTB adalah:
a. Pemenuhan kewajiban BPHTB adalah berdasarkar sistem Self
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
36
b. Besarnya tarif ditetapkan sebesar 5% dari Nilai Perolehan Objek
Pajak Kena Pajak.
c. Adanya sanksi bagi Wajib Pajak maupun pejabat-pejabat umum
yang melanggar ketentuan atau tidak melaksnakan kewajibannya
menurut Undang-Undang yang berlaku.
d. Hasil penerimaan BPHTB sebagian besar diserahkan kepada
Pemerintah Daerah, untuk meningkatkan pendapatan daerah.
e. Semua pungutan atas perolehan hak atas tanah dan atau bangunan di
luar ketentuan ini tidak diperkenankan.
Berdasarkan prinsip di atas, pemenuhan kewajiban Bea Perolehan
Hak Atas Tanah dan Bangunan adalah menggunakan sistem Self
Assesment yaitu sistem pemungutan di mana Wajib Pajak harus
menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan jumlah pajak
yang terutang. Aparat Pajak (fiskus) hanya bertugas melakukan
penyuluhan dan pengawasan untuk mengetahui kepatuhan wajib pajak.
Menurut ketentuan Pasal 6 (enam) Peraturan Daerah No. 13 tahun
2010 tentang Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan menyebutkan
adanya:
a. Dasar pengenaan pajak adalah Nilai Perolehan Obyek Pajak (NPOP).
b. Nilai Perolehan Obyek Pajak sebagaimana dimaksud ayat (1) dalam
hal:
1) Jual-beli adalah harga transaksi.
commit to user
3) Hibah adalah nilai pasar.
4) Hibah wasiat adalah nilai pasar.
5) Waris adalah nilai pasar.
6) Pemasukan dalam perseroan atau badan hukum lainnya adalah
nilai pasar.
7) Pemisahan hak yang mengakibatkan peralihan adalah nilai pasar.
8) Penunjukan pembeli dalam lelang adalah harga transaksi yang
tercantum dalam risalah lelang.
9) Pelaksanaan putusan hakim yang mempunyai kekuatan hukum
tetap adalah nilai pasar.
10)Pemberian hak baru atas tanah sebagai kelanjutan dari pelepasan
hak adalah nilai pasar.
11)Pemberian hak baru atas tanah di luar pelepasan hak adalah nilai
pasar.
12)Penggabungan usaha adalah nilai pasar.
13)Peleburan usaha adalah nilai pasar.
14)Pemekaran usaha adalah nilai pasar.
15)Hadiah adalah nilai pasar.
NPOP apabila tidak diketahui atau lebih rendah dari NJOP PBB,
maka yang digunakan adalah NJOP PBB pada tahun terjadinya perolehan.
Sesuai Peraturan Daerah No. 13 tahun 2010, tarif BPHTB merupakan tarif
tunggal sebesar 5% (lima persen). Penentuan tarif tunggal dimaksudkan
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
38
dan/atau bangunan yang diperoleh dari waris atau hibah ditetapkan sebesar
2,5% (dua setengah persen).
Adapun Pasal 7 Undang-Undang No. 28 tahun 2009 mengatur
mengenai besarnya Nilai Perolehan Obyek Pajak Tidak Kena Pajak
ditetapkan sebesar Rp 60.000.000,00 (enam puluh juta rupiah). Khusus
untuk tanah dan/atau bangunan yang diperoleh dari waris atau hibah
wasiat yang diterima orang pribadi yang masih dalam hubungan keluarga
sedarah dalam garis keturunan lurus satu derajat ke atas atau satu derajat
ke bawah dengan pemberi hibah wasiat, termasuk suami atau istri, Nilai
Perolehan Obyek Pajak Tidak Kena Pajak ditetapkan sebesar Rp
300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah).
Perhitungan BPHTB terutang:
5% x NPOP Kena Pajak
commit to user
C. Pembahasan
1. Implementasi peralihan BPHTB pada DPPKA Kota Surakarta
Awalnya BPHTB adalah pajak pusat, sehingga Pemerintah Daerah
hanya mendapat penerimaan BPHTB melalui pola bagi hasil, yaitu 64%
dari 80% total penerimaan BPHTB. Namun kini dengan adanya
Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi
Daerah, 100% penerimaan BPHTB menjadi hak daerah yang merupakan
lokasi transaksi pajak properti guna pembiayaan kebutuhan daerah
bersangkutan. BPHTB sepenuhnya dialihkan ke kabupaten atau kota
sejak 1 Januari 2011.
Pemerintah Kota Surakarta membuat Peraturan Daerah Nomor 13
tahun 2010 sebagai payung hukum yang menguatkan pelaksanaan
pemungutan BPHTB di Surakarta. Perwakilan personel Pemerintah Kota
Surakarta juga sudah dikirim untuk mengikuti diklat BPHTB yang
diadakan di balai perpajakan di Yogyakarta. Hal ini dimaksudkan untuk
mempersiapkan personel Pemerintah Kota Surakarta agar dapat
melakukan pemungutan BPHTB sesuai ketentuan yang berlaku. Adanya
software dan hardware yang sudah siap, guna mekanisme pemungutan
BPHTB, yaitu saat pembayaran dan pelaporan yang dilakukan
masyarakat sebagai wajib pajak, misalnya mempersiapkan SSPD BPHTB
(Surat Setoran Pajak Daerah Bea Perolehan Hak atas Tanah dan/atau
Bangunan) yang digunakan untuk menyetor BPHTB. Di samping itu,
perpustakaan.uns.ac.id digilib.uns.ac.id
commit to user
40
penyetoran BPHTB yang di akhir tahun akan digunakan untuk laporan
realisasi pendapatan BPHTB, dan dijadikan bahan untuk menetapkan
target di tahun berikutnya. Pemerintah Kota Surakarta juga sudah bekerja
sama dengan Perhimpunan Notaris Surakarta, sehingga SSPD BPHTB
dapat diambil di notaris. Hal ini mempermudah masyarakat selaku wajib
pajak dalam pengisian SSPD BPHTB karena dalam pengisian tersebut
wajib pajak mendapat bantuan dari notaris.
Implementasi peralihan BPHTB ini tentunya merubah pihak yang
menangani pemungutan BPHTB, yaitu yang semula tanggung jawab
Direktorat Jendral Pajak melalui KPP, kini menjadi tanggung jawab
DPPKA Kota Surakarta melalui Walikota. Adapun bagian pada DPPKA
Kota Surakarta yang berkaitan dalam implementasi peralihan
pemungutan BPHTB, meliputi: Kas Daerah, Customer Service Office
(CSO), Pendaftaran dan Pendataan (Dafda) dan Penetapan. Kegiatan
yang sehubungan dengan pemungutan BPHTB pada masing-masing
bagian adalah setelah dilakukannya pengisian SSPD BPHTB, wajib pajak
mendatangi Kas Daerah untuk membayar BPHTB terhutang, selanjutnya
wajib pajak ke CSO untuk pengecekan berkas yang diperlukan dalam
pembayaran BPHTB. Dari CSO, berkas dan SSPD BPHTB masuk ke
Dafda untuk diinput data. Penetapan menjadi bagian terakhir dalam
pembayaran pajak oleh wajib pajak, yaitu berkas dari bagian Dafda
dimasukkan ke bagian Penetapan untuk pengecekan data, pada langkah
commit to user
Penetapan juga dilakukan validasi untuk menentukan adanya kurang atau
lebih bayar dalam perhitungan yang dilakukan wajib pajak. Apabila telah
dilakukan validasi, maka berkas yang disampaikan di bagian Penetapan
kemudian dikembalikan kepada wajib pajak melalui CSO, yang
kemudian berkas SSPD BPHTB menjadi syarat untuk mengurus balik
nama ke Badan Pertanahan Nasional.
Berdasar Undang-Undang Nomor 28 tahun 2009 dan Peraturan
Daerah Nomor 13 tahun 2010, dasar pengenaan BPHTB adalah NPOP,
tetapi pada kenyataan yang terjadi yang digunakan adalah NJOP, karena
Pemerintah Daerah untuk mengarah ke NPOP tidak mudah. Sementara
wajib pajak pada dasarnya menginginkan kewajiban pajaknya rendah dan
notaris juga cenderung ingin membantu meringankan klien dalam
membayar pajaknya, di samping itu penggunaan NJOP lebih mudah
karena sudah diketahui nominalnya, sedangkan NPOP itu sendiri sulit
diketahui besaran nominalnya. Perhitungan untuk BPHTB terhutang
dengan menggunakan NPOP maupun NJOP sama, yaitu menggunakan
tarif tunggal 5% dari nilai transaksi setelah dikurangi NJOPTKP, yang
membedakan hanyalah besaran nominalnya. Adapun apabila NJOP lebih
tinggi daripada harga jual, misal NJOP Rp 825.000/meter sedangkan
harga jualnya adalah Rp 500.000/meter, maka tetap saja yang digunakan
adalah NJOP, yaitu Rp 825.000/meter.
Masih digunakannya NJOP sebagai dasar pengenaan di suatu