• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Krissantono 2. Drs, H. Iman Soedarwo PS. \.RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENT ANG PERFILMAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1. Krissantono 2. Drs, H. Iman Soedarwo PS. \.RISALAH RAPAT PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENT ANG PERFILMAN"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

(1)

\.RISALAH RAPAT

PANITIA KHUSUS RANCANGAN UNDANG-UNDANG TENT ANG

Tahun Sidang Masa Persidangan Rapat Ke

Jenis Rapat Si fat Harl, tanggal Wa kt u Tempat Ketua Rapat Sekrelaris Rapat Ac ar a

Anggota Tetap yang hadir Anggota Pengganti yang hadir Pemerintah yaang hadir

ANGGOTA TETAP : 1. Krissantono

2. Drs, H. Iman Soedarwo PS.

PERFILMAN

1991/1992 III

14

Rapat Kerja Terbuka

Jum'at, 7 Pebruari 1992 Pukul 08.30 WIB

Wacanasabha-1 MPR/DPR-RI

Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta .Krissantono(Ketua Panitia Khusus) Toip Heriyanto, S.H:

Pembicaraan Tingkat III Rancangan Undang-undang tentang Perfilman.

22 orang dari 25 orang Anggota.

5 orang dari 12 orang Anggota.

Menteri Penerangan, Sekretaris Jenderal Departemen Penerangan, Inspektorat Jen- deral Departemen Penerangan, Direktorat Jenderal Radio Televisi dan Film, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan De- partemen Penerangan, dan Kepala Biro Hukum Departemen Penerangan beserta Staf.

(2)

3. A. Hartono

4. H. Imron Rosyadi, S.H.

5. Ir. H.T. Suriansyah

6. Drs. H. Abu Hasan Sazili M.

7. Drs. H. Harun Rasyidi 8. Ny. H.S.A. Legowo 9. Ny. Hartini Soesilo W.

10. Drs. Sabar Koembino 11. Drs. Soetrisno R.

12. Savrinus Suardi 13. Soeardi

14. H.E. Kusnaedi 15. H. Isnain Mahmud 16. Drs. E. Syarifuddin 1 7. Drs. Made Sudiartha 18. Ny. H. Aisyah Aminy, S.H.

1 9. H. Kemas Badaruddin 20. H. Andi Cella Nurdin 21. B.N. Marbun, S.H.

22. Drs. H. Ukun Suryaman ANGGOTA PENGGANTI :

1. Ny. A.S. Pitoyo Mangkoesoebroto 2. Ir. Ida Bagus Putera

3. Salvador Januario Ximenes Soares 4. Samsudin

5. Ginandjar

KETUA RAPAT (KRISSANTONO):

Selamat pagi Saudara Menteri Penerangan yang saya hormati,

Saudara~audara Anggota Panitia Khusus yang saya hormati.

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Pada hari ini, hari Jum'at tanggal 7 Pebruari kita akan meneruskan Sidang Pleno Panitia Khusus kita, dan menurut daftar hadir telah hadir 27 Anggota dari 37 Anggota Panitia Khusus dan Rapat ini dihadiri oleh empat Fraksi, dengan demikian sudah dapat kita buka, maka dengan ini

Rapat kami buka dan dinyatakan terbuka untuk umum.

Saudara Menteri Penerangan yang saya hormati beserta Staf,

Saudara-saudara Anggota Pleno Panitia Khusus Rancangan Undang- undang ten tang Perfilman yang saya hormati.

Kemarin kita baru saja menyelesaikan Bab V mengenai Sensor Film, Pasal 32 dan Pasal 33. Waktu sore kemarin memang masih ada dua ayat

(3)

yang istilah kita, kita endapkan, dan pada malam hari memang waktu di- buka-buka dari Daftar Inventarisasi Masalah ini memang temyata masih ada satu materi yang. perlu kami kemukakan pada Sidang Pleno yang mulia ini, yaitu Daftar Inventarisasi Masalah halaman 5, di mana di dalam kolom usulan FKP tercantum istilah Badan Sensor Film adalah badan yang diben- tuk oleh Pemerintah untuk rnengadakan sensor terhadap film yang akan diedarkan, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan.

Kemudian keputusan kita tanggal 28 · Januari yang lalu materi ini.·di pending sampai pada waktu membicarakan pasal-pasal yang berkaitan dengan hal-hal · tersebut,> dan akan ditentukan kemudian penempatannya, apakah di ketentuan umum atau di penjelasan. Sebagai contoh pada waktu rapat kita tanggal 30 Januari waktu kita membicatakan Pasal 9 usulan dalam kolorn

1

FKP nomor 6, masyarakat perfilman sudah kita sepakati rnasuk dalam pen- . jelasan Pasal 9. Setelah kita kemarin satu hari penuh membicarakan rnengenai

sensor film, ·Pasal 32 dan Pasal 33, maka ingin kami tanyakan kepada Sidang Pleno ini perlakuan kita atau tindak lanjut di dalam usulan FKP butir 5 ini, apakah memang sudah terjawab dengan pembicaraan kita satu hari penuh kemarin, dengan demikian maka ini bisa, oleh Fraksi pengusul sudah ditarik a tau mungkin ada hal yang perlu diusulkan. lagi betkaitan · dengan masalah dua ayat yang belum terselesaikan. Kami ingin menanyakan lebih dahulu mengenai hal ini kepada Sidang yang mulia ini.

Kami persilakan dari yang bersangkutan, Fraksi pengusul FKP.

FKP (DRS. H. ABU HASAN SAZILI M.) : Terima kasih Saudara Ketua.

Menteri Penerangan yang kami hormati serta seluruh Anggota Panitia Khusus, memang pada saat kita membicarakan sisi V dari Pasal I tentang Badan Sensor itu kita pending dulu sampai kita membicarakan mengenai masalah yang sama di dalam batang tubuh ini. Dan tibalah sangat pada saat

· ini, kebetulan memang di dalam Pasal 33 itu sedang membicarakan mengenai lembaga sensor ataupun badan sensor itu sendiri, apakah apapun namanya nanti. Setelah kita baca, kemarin rnemang sudah kita setujui mengenai ayat pertama ini. Kemudian kalau kita hubungkan dengan Ayat (2) dan Ayat (3) yang kemarin kita pending maka timbul-lah lagi pemikiran kami, bahwa memang sebetulnya kita sudah menentukan penyensoran·itu dilakukan oleh institusinya. Tetapi belum terdapat di sini seperti apa, binatang apa itu lem- baga sensor film itu, nah saya pikir pada saatnya sekarang-lah mungkin kita bisa rumuskan di dalam kesempatan ini, apa itu Badan Sensor .Film atau Lembaga Sensor Film. lni berkaitan dengan usulan daripada F ABRI kemarin untuk mengisi sesuatu di sini, sehingga tidak langsung kita berbicara kepada Ayat (2) dan Ayat (3) ini. Karena sebetulnya Ayat (2) dan Ayat (3) ini, mungkin kami tanggapi langsung saja, itu bisa kita satukan tentunya, karena

~i sjpi disebutkan ada dua Peraturan Pemerintah.

(4)

Jadi saya pikir Saudara Ketua mungkin bisa kita bicarakan lebih dahulu.

binatang apakah, jenis apakah sebetulnya badan yang melaksanakan tugai sensor itu sendiri di dalam pasal ini.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi dengan kata lain FKP mengusulkan untuk mencakup istilah Bad811 Sensor Film atau Lembaga Sensor Film dari butir 5 ini untuk dibicarakar sekarang dalam kaitan Ayat (2) dan Ayat (3) dari Pasal 33, apakah demikian :

FKP (DRS. H. ABU HASAN SAZILI M.) .:

Kita belum mencabutnya di sana, tetapi kalau memang nanti bahwB pengertiannya itu sudah bisa di tampung di sini dan kita merasa bahwa tida~

perlu lagi disebutkan di sana, di dalam penjelasan umum itu tidak ada per·

soalan. Tetapi kita bicarakan lebih dahulu di sini untuk kejelasan yan~

tadi kami sampaikan, bagaimana bentuknya daripada badan itu sendiri Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih.

Kami mohon tanggapan Fraksi-fraksi dan sekaligus perlakuan kita itu yang kami tanyakan tadi. Dan kemudian yang kedua, yang masih kit~

pendingkan kemarin, apakah bisa kita bicarakan juga pada pagi hari ini atat kita lewatkan ke pasal berikutnya.

Kami persilakan FPP. ·

FPP (NY. HJ. AISY AH AMINY, S.H.) : Terima kasih Saudara Pimpinan.

Assalamu'alaikuin warahmatullahi wabarakatuh.

Setelah mendengarkan apa yang dikemukakan oleh FKP, bagi kam:

menjadi keheranan, sebab ketentuan umum itu adalah kata-kata atau kalima1 yang akan memberikan pengertian khusus dalam Undang-undang ini. Bib nanti dalam Undang-undaJ)g itu ditemukan kata-kata tersebut, dan kalat pun hanya sekali kita sepakat ·bahwa itu hanya juga di penjelasan, ini se panjang yang kita bicarakan kemarin tidak sekalipun ada kata-kata itu. Se hingga dia tidak mempunyai tempat di ketentuan umum.

Nah lalu dipertanyakan binatang apakah yang akan melakukan sensor jelas kemarin kita perdebatkan sebuah Lembaga Sensor Film. Yang kiti perdebatkan adalah masalah sebuah kek, dua buah kek, atau besar. Tetap yang jelas kemarin kita sudah sepakati bahwa yang melakukan sensor itl adalah Lembaga Sensor Film, bukan Badan Sensor Film. Kalimat itu tidak

(5)

kata-kata Badan Sensor Film itu tidak pernah ada, jadi tentunya tidak mung- kin dia ditempatkan di ketentuan umum. Jadi ini jelas barangkal~ kami kira daripada kita membahas berkepanjangan ini posisinya sudah jelas barangkali tidak perlu kita perpanjangkan. Kami kira FKP akan dengan sangat arif untuk dapat menerima, karena memang tidak ada urgensinya untuk dimuat, tentu- nya dia tidak perlu dimuat.

- .

Mengenai yang kedua, kami setuju soalnya dalam Pasal 33 Ayat (2), dan Pasal 33 Ayat (3) itu akan ada Peraturan Pemerintah. Mungkin kita ingin mendapatkan penjelasan lebih dahulu dari Pemerintah, kira-kira untuk Pasal 33 Ayat (2) ini apa isinya. Kalau kami melihat Pasal 33 Ayat (3) me- mang cukup relevan untuk juga adanya Peraturan Pemerintah, sebab akan ada pembentukan yang namanya Lembaga Sensor Film itu, entah namanya apa, tetapi lembaganya kita sepakati, Peraturan Pemerintah-lah nanti yang akan mengatur tentang pembentukan, pendidikan, perizinan, keanggotaan, tugas, dan fungsi dari lembaga itu. Tetapi mengenai Ayat (2) ini mungkin kita masih memerlukan penjelasan dari Pemerintah lebih lanjut, kira-kira Peraturan Pemerintah ini akan memuat apa. Sebab di sini hanya dikatakan, penyelenggaraan sensor film dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah. Apakah dalam Peratur- an Pemerintah yang termuat pada Ayat (3) tidak sekaligus dimuat juga ten- tang pedoman atau ketentuan apa yang harus disisipi dengan lembaga sensor itu nanti.

Menurut pendapat kami, ini cukup satu Peraturan Pemerintah saja yang mengkafer seluruh hal-hal yang dibutuhkan untuk Lembaga Sensor Film itu, bail< mengenai strukturnya, baik mengenai anggotanya, baik me- ngenai tugas, wewenang, dan fungsi yang berkaitan dengan itu.

Demikian Saudara Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Sebelum kami teruskan kepada Pemerintah, kami masih ingin menailya- kan kepada Sidang yang mulia mengenai perlakuan kita yang masih kita pen- dingkan tanggal 28 yang lalu.

Kami persilakan FPDI.

FPDI (B.N. MARBUN, S.H.) : Terima kasih Saudara Pimpinan.

Terima kasih kepada pikiran-pikiran yang baik, selamat pagi kita semua.

Bagi kami semakin bingung, karena secara kekeluargaan kemarin kita sudah lancar menjelaskan lembaga sensor yang juga FKP mencantumkan ada Badan Sensor Film. Dengan demikian secara konsekwensinya, maka apa yang dikata-

(6)

kan di depannya itu gugur. kecuali kemarin juga mengatakan pending ini.

Jadi secara logika kami pikir 1tu tetap1 kalau oisa, FKP berpikir lain 1tu !am persoalan itu. Tetapi mengenai Ayat (2) dan Ayat (3) dari Pasa1 33 ini kita _pendingkan kemarin, saya rasa sebelum kita masuk ke Bab seterusnya, Bab V kita finalkan dulu, selesaikan, dan kami cenderung setuju dengan usul dari FPP bahwa Ayat (2) dan Ayat (3) ini diatur dalam suatu Peraturan Peme- rintah, aan lebih dirinci lagi penyelenggaraannya bagaimana kira-kira, jadi kami berpikir kalau tidak bisa di sini, di keterangan atau di penjelasan.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, kami persilakan F ABRI.

FABRI (SOEARDI):

Terima kasih.

J adi sesuai kesepakatan kita kemarin sore atau kemarin petang, maka hari ini kita langsung membicarakan Ayat (2) Rancangan Undang-undang dari Pasal 33 ini. Di dalam perkembangan pembicaraan kemarin, mengenai Pasa1 2 kita sudah berkembang sedemikian jauh, sehingga nampaknya kita ber- sepakat untuk memformulasikan secara lebih sempurna apa yang dicantum- kan di dalam Pasal 2 Rancangan Undang-undang, maaf Ayat (2) Rancangan Undang-undang. Jadi kalau di sini, saya bacakan Ayat (2) Rancangan Undang- undang; penyelenggaraan sensor film dilakukan dengan berpedoman pada ketentuan yang diatur lebih lanjut oleh Peraturan Pemerintah.

F ABRI menangkap nuansa di dalam Ayat (2) ini, ini mau melanjutkan rangkaian pengaturan dari Ayat (1) sebelumnya, di mana Ayat (1) disebutkan bahwa penyensoran film ciilakukan oleh sebuah Lembaga Sensor Film. Jadi pantas-pantasnya ayat berikutnya adalah menceritakan Lembaga Sensor Film itu apa sih sebenamya persisnya. Ini tidak bertentangan dengan tang- kapan penalaran dari FABRI tentang Ayat (2) Rancangan Undang-undang, F ABRI menangkap apa yang dimaksudkan oleh Ayat (2) Rancangan Undang- undang adalah di dalam penyelenggaraannya si kegiatan sensor itu dikerja- kan oleh sebuah Lembaga Sensor Film. Di sini; Lembaga Sensor Film adalah institusi yang mempunyai tugas, wewenang, fungsi dengan kriteria begini- begini dari mana dia dapatnya, di samping itu ada juga aspek pembinaan dalam film. Jadi kalau saya kembali masalahnya F ABRI sejak kemarin meng- himbau kita sernua agar di Ayat (2) ini kita jelaskan secara lebih garnblang, apa sih sebenamya yang dikatakan Lembaga Sensor Film itu.

Jadi kalau mengacu dari Rancangan Undang-undang Pemerintah bisa diformulasikan, Lembaga Sensor Film adalah lembaga penyelenggara sensor film yang mempunyai wewenang, tugas, fungsi dan menganut kriteria yang diberikan kepadanya oleh Pemerintah di dalarn melaksanakan penyensoran ·

(7)

film. Di samping itu dia juga dibebani aspek pembinaan di dalam pembuatan film, itu yang kita tangkap kemarin, itu yang pertama.

Kemudian yang kedua, yang ditawarkan oleh Ketua dan sudah disambut oleh FKP mengenai ayat-ayat tambahan di dalam penjelasan umum. FABRI setelah perkembangan pembahasan membaca apa yang ditulis di dalam usulan tambahan ketentuan umum, bukan sebagai Badan Sensor Film, tetapi F ABRI sekarang membacanya sebagai Lembaga Sensor Film adalah lembaga yang dibentuk oleh Pemerintah untuk melaksanakan sensor terhadap film yang akan diedarkan, dipertunjukkan dan/atau ditayangkan. Kalau FKP tidak bersih kukuh dengan cerita badan, dan semestinya tidak besih kukuh, karena kita sudah berlanjut kepada yang dinamakannya itu bukan badan tetapi lembaga. Maka dari sana bisa kita angkat materinya, Lembaga Sensor Film adalah lembaga, betul, yang dibentuk oleh Pemerintah, baru disambung dengan yang tadi saya sebutkan, yang mempunyai wewenang, tugas dan fungsi serta kriteria yang dibebankan kepadanya, nyambung lagi kemari;

di dalam melaksanakan sensor terhadap film yang akan diedarkan, diper- tunjukkan dan ditayangkan, titik koma. Di samping itu atau katakanlah, sedangkan secara khusus untuk film nasional Lembaga Sensor Film juga diberi tugas pembinaan untuk pembuatan film.

Jadi formulasi Lembaga Sensor Film dengan nanti perumusan yang mencakup hal-hal yang seperti kami sebutkan tadi menjadi jelas dan gam- blang. Kalau sebelumnya siluet pun masih samar-samar, ya sekarang sudah lebih dari siluet sudah menjadi suatu gambaran nyata. Memang dia belum jelas benar, persisnya wewenang itu apa ? Persisnya tugas dan fungsi itu apa ? Kalau misalnya Pemerintah bisa menambahkan atau mengganti we- wenang itu dengan sedikit formulasi yang lebih jelas itu bisa kita tampung, dengan wewenang ini dan ini, dengan tugas ini-ini dan fungsi begini-begini dan seterusnya. Nanti di Ayat (3) itu di-rovel secara keseluruhannya, se- hingga mungkin Ayat (3) itu berbunyi menjadi; "ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, kedudukan, susunan keanggotaan, wewenang, tugas, dan fungsi dari Lembaga Sensor Film diatur dengan Peraturan Pe- merintah". Jadi lebih sinkron, urutan dan alirannya ada, kemudian tidak tumpang tindih Peraturan Pemerintah, yang satu di Ayat (3) sudah agak jelas maknanya, di Ayat (2) ya secara sinis bisa dikatakan blangko mandat · itu tadi. Tetapi kalau sekali kita masukkan wewenang, tugas, fungsi, itu sudah tidak blangko lagi, apalagi kalau wewenang itu sedikit dielaborasi.

Tentu jangan sampai terlalu dalam, sehingga elaborasinya itu persis dengan Peraturan Pemerintah atau Peraturan Menteri, jadi jangan terlalu ngambang atau kering di atas tetapi sedikit turun ke bawah, tetapi tidak sedetail dan se-terjabar yang di dalam Peraturan Pemerintah ataupun Peraturan Menteri.

Menurut hemat F ABRI, kalau itu kita sepakati bersama maka Pasal 33 menjadi alurnya baik, kejelasannya ada, dan bisa kita pertanggungjawab~·

kan.

(8)

Terima kasih.

Oh sebentar, kemudian kalau ini sudah kita selesai ceritanya nanti, kita bisa perlakukan kembali urgensi dari niat FKP untuk mencantumkan di dalam ketentuan umum kita uji kembali seperti sensor film yang kemarin, setelah kita formulasikan di sini. Kalau tadi diutarakan oleh FPP bahwa Badan Sensor Film tidak ada disebut sama sekali di dalam Rancangan Undang- undang, ini betul tidak ada orang yang bisa membantahnya, karena memang betul di dalam Rancangan Undang-undang tidak ada ke luar istilah Badan Sensor Film. Tetapi dengan peranggapan FKP mengubah namanya menjadi Lembaga Sensor Film, maka setelah saya eek tadi malam, perkataan Lembaga Sensor Film itu muncul dua kali sebelum pasal 32, pertama kali muncul di dalam Pasal 20 tentang cerita impor, di situ dikatakan antara lain anu-anu- anu melalui pabean di tempat kedudukan Lembaga Sensor Film, ada satu kali.

Kemudian di Pasal 23, yang bercerita tentang pengedaran di situ antara lain ada sepotong kalimat, bukan kalimat lengkap ini; hanya film yang telah dinyatakan lulus sensor oleh Lembaga Sensor Film, itu, hanya itu yang ketemu dua kali istilah Lembaga Sensor Film. Jadi dengan data ini F ABRI melihat pendirian FPP untuk mempertahankan, bukan badan jadinya Lem- baga Sensor Film dipengertian umum ada nalarnya, FKP - maaf, FKP untuk mempertahankan Lembaga Sensor Film di dalam ketentuan umum ada nalarnya. Persoalannya tinggal kembali kepada kita semua, apakah perlu benar itu dicantumkan di sana ? Sebagai perbandingan setelah kami amati, perkataan sensor film pun hanya ketemu dua kali di dalam pasal-pasal se- belum Pasal 3 2.

Jadi yang saya kemukakan ini untuk kita merenungkan secara netral, bukan - tolong jangan ditafsirkan di aalam hal ini ya F ABRI membantu FKP, tidak bukan itu maknanya. Tetapi ini sesuai dengan kenyataan yang ada bahwa kenyataan itu begitu, perkara kita tidak suka sensor film, ya terserah, perkara FKP bisa bertahan, haknya dia. Saya hanya mengajukan data bahwa dua kata yang kramat ini, yaitu perkataan sensor film dan Lem- baga Sensor Film dapat ditemukan masing-masing dua kali di dalarn pasal- pasal sebelum Pasal 3 2. Saya kira barangkali menjadi gamblang untuk bahan pembahasan kita pada pagi hari itu untuk menuntaskan hutang kita, Ayat (2) dan Ayat (3). ·

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih atas penjelasan atau sikap dan sekaligus penjelasan dari F ABRI. Untuk tidak membingungkan F ABRI, Juru Bicara-nya yang ter- hormat Saudara Marbun; maka tadi sebenamya karni selaku Pimpinan se- benarnya mengingatkan Sidang ini memperlakukan terhadap yang rnasih pending yang ada kaitannya dengan pasal yang kita bicarakan, itu saja se-

(9)

benarnya. Kalau memang kita sepakat ini di drop, ya di drop, kita sepakat taruh penjelasan-penjelasan formulasi baru-formulasi baru, itu saja sebenar- . nya, jadi itu yang kami tanyakan. Secara kebetulan memang kemarin itu

Ayat (2) dan Ayat (3) masih diendapkan, kok kebetulan ceritanya nyambung ini, yaitu Ayat (I) mengatakan penyensoran film sebagaimana dimaksud dalam Pasal 32 Ayat (1) dilakukan oleh sebuah Lembaga Sensor Film.

Kemarin kalau tidak keliru catat bahwa dalam Ayat (2) ini terungkap suatu ungkapan, khususnya dari F ABRI, supaya juga di situ dimasuklfan hal yang kita bicarakan selama lo bi, . yaitu m.isalnya saja mengenai fungsi pembinaan perfilman nasional, itu antara lain yang kemarin kita catat. Dengan adanya, setelah mengendapkan satu malam inif kemudmn F ABRI mempunyai usul yang lebih konkret, dengan pengertian-pengertian tadi, yaitu kalau di Ayat (1) itu dikatakan; dilakukan oleh sebuah lembaga sensor, Ayat (2) ini mau nyambung Lembaga Sensor Film itu apa ? Lembaga Sensor Film itu, lembaga yang menyelenggarakan atau yang menyelenggarakan sensor film dan dengan berpedoman dengan wewenang, tugas, fungsi serta kriteria yang diberikan kepadanya, kira-kira begitu kalau tadi saya tangkap tadi.

Kemudian juga dimasukkan unsur, adanya unsur pembinaan kepada perfilman nasional. Baru yang Ayat (3) itu memang diungkapkan ketentuan lebih lanjut mengenai pembentukan, kedudukan, susunan anggota, tugas , dan fungsi itu diatur oleh Peraturan Pemerintah, ini yang saya tangkap dari

upaya jalan ke luar yang ditawarkan kepada F ABRI.

Jadi demikian ceritanya yang terhormat Saudara Marbun, jadi kami

· tidak ingin membuat bingung, tetapi justru kita mau memutuskan sesuatu yang memang sudah sama-sama kita sepakatL.

Jadi k~pada FKP pun saya percaya bahwa nama Badan Sensor Film tidak akan dipertahankan begitu. Karena kemarin saya ingatkan juga bahwa kemarin kita sudah mensepakati istilah Lembaga Sensor Film.

FKP kami persilakan.

FKP (DRS. H. ABU HASAN SAZILI M.) : Terima kasih Saudara Ketua.

Saya pikir mungkin karena pagi-pagi saya perlu jelaskan lagi, cleam, mungkin Ibu Aisyah tidak menangkap apa yang kami sampaikan. Bahwa sejak kemarin FKP pun sudah tidak bersih kukuh mengenai nama badan, saya sudah .katakan bahwa what, ever the name, tadi juga saya sampaikan.

Saya bacakan itu karena memang Daftar Inventarisasi Masalah kita, badan atau lembaga what ever the name yang kita setujui. Jadi bukan kita ingin mengangkangi apa namanya, nama yang kita sebutkan di sini; what ever the name yang kita setujui. Jadi karena ini pagi-pagi .mungkin supaya jelas. ·

Terima kasih.

(10)

KETUA RAPA T : Terima kasih.

Tadi saya catat juga ada satu pertanyaan dari FPP yang ditujukan ke- pada Pemerintah, yaitu di dalam Rancangan Undang-undang Ayat (2) ini memang ada perkataan akan diatur lebih lanjut dengan Peraturan Pemerintah.

Mungkin dengan penjelasan Pemerintah Sidang ini lebih lanjut menentukan sikap kita juga kaitannya dengan pembahasan sampai sekarang ini, sampai detik ini.

Kami persilakan lebih dahulu kepada Pemerintah.

PEMERINTAH (MENTERI PENERANGAN/H. HARMOKO) :

Saudara Pimpinan dan para Anggota Panitia Khusus yang saya hormati.

Pemerintah mengucapkan terima kasih terhadap pembahasan yang menyang- kut Ayat (2) dan Ayat (3) Pasal 33, yang kemarin sore kita sepakat untuk diendapkan. Dan berpijak kepada apa yang saya kemukakan kemarin pola pikir Pemerintah menentukan Ayat (1 ), Ayat (2), dan Ayat (3) itu tidak lain Ayat (l) itu kita letakkan pengertian penyensoran film sebagaimana dimaksud Pasal 32 Ayat (1) dilakukan oleh lembaganya.

Yang kedua, penyelenggaraannya, kriterianya, menyelenggarakan lem- baga sensor itu dengan kriteria apa? Sebab kita sepakat seniua; film harus dilindrmgi dari budaya nasional, harus dilindungi dari akhlak moral, ini kita tuangkan di dalam Ayat (2) ini kriterianya, penyelenggaraannya. Maka untuk itu diatur oleh Peraturari Pemerintah, tetapi ini ketat. Sedangkan Ayat (3) itu kita mengembangkan pemikiran bahwa mengenai pembentukannya, kedudukannya, keanggotaannya, tugas dan lain-lain, itu yang tidak diatur.

Bahwa 2 (dua) ayat itu nanti dijadikan satu menjadi Peraturan Pemerintah, tidak ada masalah. Tapi yang penting substansinya <lulu, ini diatur oleh Pemerintah tidak, kalau diatur ya saya pikir sepakat semua.

Kalau menurut hemat saya, baik dari FPP, FPDI, FKP dan FABRI, kalau lihat substansinya tidak ada perbedaan. Pemerintah juga menganggap misalnya kalau di dalam Ayat (2) ini ditentukan mengenai pembinaan, ma- sukkan kriteria, bahwa penyensoran film ini dilakukan atas azas pembinaan terhadap perfilman nasional. Masukkan, tapi yang penting kriteria itu harus jelas mengenai penyelenggaraannya, sebab ini yang diamanatkan oleh kita semua agar sensor film itu nanti betul-betul menjadi lembaga yang kredibilitas- nya tinggi, berwibawa dan memiliki wewenang dan tugas yang betul-betul prima dan diandalkan. Begitulah jalan pikiran alur Pemerintah.

J

adi kalau saya lihat dari pagi-pagi tanggapan tadi, saya tidak melihat adanya perbedaan secara substansial, sehingga apakah mau dijadikan 1 ayat, 2 ayat, tapi yang penting pengerti~nnya <lulu.

(11)

Ini juga bisa Peraturan Pemerintah itukan bisa dijadikan satu, tapi yang penting isinya kan? Ini yang saya ingin kaitkan dan sesuai dengan !obi ke- marin, masalah pembinaan itupun muncul dari pemikiran kita bersama bahwa sensor itu jangan menjadi lembaga yang ditakuti Hanya mengandalkan kepada tajamnya gunting saja, tidak. Tapi di sana ada unsur pembinaan, oleh karena itu dipertegas, mau(dimasukkan dimana? di Ayat (2) silakan. Saya pikir tidak bertentangan di situ. ·

Demikian Pimpinan, terima kasih.

KE1UA RAPAT:

Terima kasih.

J

adi saya teruskan ke FPP, ini karena jawabannya sudah, jadi saya terus- - kan dan sekaligus mungkin bisa menanggapi dan mempercepat proses pem- bicaraan kita karena nampaknya memang dari pihak Pemerintah pun sebenar- nya sudah ada tanggapan yang positif terhadap perlakuan kita juga terhadap Ayat (2) dan Ayat (3) ini.

Saya persilakan.

FPP (NY. HJ. AISY AH AMINY, S.H.) ;

Saudara Ketua, setelah mendengarkan penjelasan Pemerintah, khususnya yang kami pertanyakan itu ialah apakah tentang penyelenggaraannya satu Peraturan Pemerintah, sedangkan tentang · badannya/orangnya itu satu lagi Peraturan Pemerintah. Tadi oleh Pemerintah sudah dijelaskan bahwa yang penting adalah esensinya, pokok pik:iran Pemerintah untuk perlu diaturnya dalam Peraturan Pemerintah tentang kriterianya, lalu tugas-tugas, wewenang, fungsi, dan kemudian juga sekaligus susunan daripada lembaga tersebut ter- masuk keanggotaannya. Menurut pendapat kami ini sudah cukup jelas, dan Pemerintah juga tidak keberatan kalau itu hanya satu peraturan, pokoknya semua termuat di sana.

Inilah barangkali yang kami inginkan, dan dengan demikian kami kami k:ira sudah cukup jelas, dan tentang penuangannya bi.Si diselesaikan oleh Tim Perurrtus.

Demikian Saudara Ketua, terima kasih.

KE1UA RAPA T : Terima kasih.

J

adi kami ulang bahwa nampaknya ada maksud dari sidang ini untuk lebih menyederhanakan atau menyatukan antara Pasal 2 dan Pasal 3 ini, karena tadi setelah terjadi dialog antara FPP dengan Pemerintah, memang di sini dikesankan seolah-olah Ayat (2) diatur oleh Pemerintah, Ayat (3) juga oleh Peraturan Pemerintah. Sedangkan Ayat (2) ini dirasakan seolah- olah belum ada pesan apa-apa, apa yang diatur oleh Peraturan Pemerintah itu.

(12)

Tadi dicoba oleh F ABRI untuk lSlannya, dan nampaknya dari pihak Pemerintah pun tidak berkeberatan apa yang perlu diatur dalam Peraturan Pemerintah itu. Dengan pendekadan ini saya kira dengan sikap Pemerintah demikian, saya kira buat kita juga makin jelas bahwa khusus mengenai Ayat (2) ini memang yang mengatur mengenai penyelenggaraan penyensoran mung- kin ada beberapa titipan yang bisa kita berikan kepada Pemerintah dalam hal ini yang akan mengatur lebih lanjut, misalnya yang saya catat usulannya dari FABRI tadi, misalnya bahwa Lembaga Sensor Film adalah lembaga yang menyelenggarakan penyensoran film, dilakukan dengan berpedoman pada kriteria, wewenang, tugas, dan fungsi yang diberikan kepadanya. Ini kalimat- nya terserah nanti, tapi isinya adalah bahwa kriteria, jadi yang dimaksud oleh

P~erintah itu tidak penting dimasukkan di sinimengenai wewenangnya juga, tugas dan fungsi, dan selanjutnya juga kecuali ini bahwa ada titipan atau ke- sepakatan kita kemarin juga bahwa khusus mengenai perfilman nasional

ini/

Lembaga Sensor Film inijuga mempunyai tugas membina.

Dengan muatan ini kita mungkin bisa sekaligus lebih menyatukan pen- dapat terhadap Ayat (2) dan Ayat (3) ini. Sedangkan Ayat (3) nya tentu- nya kemudian mengacu kepada Ayat (2) itu yang perlu diatur juga dengan Peraturan Pemerintah. Apakah dengan telah kita mengadakan bahasan ini apakah dengan demikian kita bisa mensepakati mengenai muatan yang ter- dapat di dalam Ayat (2) itu untuk dapat kita ambil sikap bahwa itu nanti akan dirumuskan oleh Tim Perumus, dan demikian pula Ayat (3), dan ini juga sekaligus bisa menjawab usulan dari FKP itu yang Pasal 1 dari usulan butir tambahan butir 5 itu. Ini yang kami ingin tawarkan.

Jadi nampaknya mengenai Ayat (2) dan Ayat (3) ini sudah ada suatu pendekatan yang makin kental tarafnya, makin menyatu. Tinggal sekarang dengan adanya suatu pendekatan demikian, berarti apakah dari usulan FKP itu bisa juga sekaligus terjawab di dalam lembaga sensor film dalam Ayat (2) itu.

Kami persilakan FKP.

FKP (DRS. H. ABU HASAN SAZILI M) : Terima kasih.

J adi intinya apa yang disampaikan oleh Ketua adalah itu, mengenai masalah ketentuan umum di point 5 tersebut mengenai rumusan tersebut, bagi kami, kami kembalikan. Tadi F ABRI menyatakan kita uji di sini apakah memang masih valid. Kalau memang sudah cukup muatannya diatur di dalam batang tubuh ini, kita tidak berkeberatan bahwa itu sudah masuk di dalam sini, jadi tidak perlu dicantumkan lagi.

Terima kasih.

(13)

KE1UA RAPAT:

Terima kasih.

Jadi dengan demikian kita perlakukan bahwa usulan dari FKP itu sudah tertampung dalam Ayat (2) dari Pasal 33 ini. Dengan demikian maka Daftar Inventarisasi Masalah halaman 5 itu dapat kita cabut begitu. Dengan telah tertampungnya dari ide FKP begitu?

FKP (DRS. H. ABU HASAN SAZILI M):

Kami mohon dari fraksi-fraksi lain, apakah muatan ini kita uji. Kalau memang sudah tertampung ya okey.

Terima kasih.

KE1UA RAPAT :

Bagaimana ini FPDI, FKP minta bantuan ini apakah sudah teruji, ter- tampung.

FPDI (B.N. MARBUN, S.H):

Terima kasih Saudara Pimpinan, dan terima kasih karena kebesaran hati FKP. Kalau menurut kami sudah tertampung dengan baik sekali. Demikian juga Pasal 2 Ayat (2) dan Ayat (3) ini Pasal 33 langsung di-Timmus-kan saja.

KETUA RAPAT:

Baik, terima kasih.

FPP kami Persilakan.

FPP (NY. HJ. AISY AH AMINY, S.H.) ;

Cukup jelas, bahwa ini sebetulnya karena sudah ada, maka kami tadi mengatakan apa masih perlu? 1tulah barangkali seperti yang dikatakan oleh FPDI tadi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih.

Tentunya F ABRI sebagai pengusul ini saya kira akan bersikap sama.

J

adi dengan demikian, maka pertalna adalah perlakuan sidang pleno ini ter- hadap usulan FKP ini bisa dicabut, dan ini saya ingin minta persetujuan kita, apakah setuju?

(RAPAT SETUJU)

(14)

Kemudian yang kcdua adalah Pasal 33 Ayat (2) dan Ayat (3), ini akan kita serahkan kepada Tim Perumus dengan muatan materi sebagai yang kami katakan tadi. Ap~ ini dapat disetujui?

(RAPAT SETUJU)

T erima kasih, jadi pagi-pagi lancar ini.

J

adi utang kita sudah lunas satu pqsatu-satu.

Baiklah kita akan meneruskan pembicaraan kita. Bab VI yaitu peranserta masyarakat. Pertama, dilihat dari judulnya saya kira tidak ada permasalahan, FABRI tetap, FPP tetap dan FPDI saya kira juga meskipnn kosong saya kira tetap, dan FKP menyertakan ralatnya, jadi tetap seperti Rancangan Undang- undang. Dengan demikian judul Bab VI ini tetap seperti Rancangan Undang- undang, setuju?

(RAPAT SETUJU)

Kemudian Pasa.l 34, di sini memang ada beberapa usu1an dan untuk .tidak mcmperpanjang·l waktu kami persilakan mulai dari FKP untuk dapat

mengajukan

usu1annya'.. . .

Kami persilakan.

FKP (SA VRINUS SUARDI) :

Terimi

kasih Saudara Ketua. ·

Sauda.ra Menteri clan para · hadirin sekalian yang saya hormati. Kami sangat menghargai usul Pemerintah yang menempatkan peranserta masyarakat ini da.Wn satu bah tersendiri, · karena menurut hemat kami mcmang peranserta masyarakat ini sangat penting dan menentukan karena kita sedang membicara- kan tcntang media komunikasi massa.

Jadi

di sini khalayak sasaran atau masyarakat diberikan tempat khusus untuk kita berikan · perhatian secukupnya. Da1ain Pasal 34 ini Fraksi kami nienpsulkan ayat baru, jadi sesuai dengan Rancangan Undang-undang ini kami tempatkan sebagai ayat pertama, sedangkan ayat k~ua jkami ada usulan seperti yang tertei'a-dalam Daftar lnventarisasi Masalah ini. Alasannya adalah karena ~ dengan alur pikir yang telah kita lihat urnpamanya saja dari Bab II baru tentang Daftar . Arab dan Tujuan, kemudian.)uga kita lihat um- pamanya Pasa.l. 12 terttang kebebasan berkarya clan bertanggungjawab, maka kami melihat di sini bahwa penting sekali peranserta khalayak sasaran ini kita tonjolkan, sebab kalau kita lihat di sini dalam Ayat (1) urnpamanya.

Di sini kelihatannya kita memberikan fokus perhatian hanya kepada masya- rakat perfilman, sedangkan khalayak sasaran belum diangkat perannya.

Di samping itu sesuai dengan basil daripada dialog kami selama .. ini tcrnyata masalah pendidikan sangat penting dalam rangka meningkatkan

(15)

pcran pcrfilman ini dalain mensukseskan pembangunan. Itulah sebabnya kami menambahkan ayat baru dalam Pasal 34 ini.

Untuk sementara sekian penjelasan kami.

KE1UA RAPAT:

Terima kasih atas usulan yang disampaikan oleh FKP.

Kami.persilakan dari FPDI.

FPDI (DRS. H. UKUN SURY AMAN):

Terima kasih Saudara Ketua. Sebagaimana tertera dalam Daftar Inven- tarisasi Masalah, kami tidak memberikan usulan yang baru atau perbaikan, kecuali cara penulisan .. Kalau dibacakan : ,,Setiap warganegara Indonesia mempunyai ,ha!{ yang sama dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk ber- p_eranserta dalam berkreasi". Kata berperanserta kalau menurut '.Ejaan Yang

· Disempurnakan itu 2 kata, jadi terpisah, bukan tanda hubung. J adi berperan- serta 2 kata, dalam berkreasi koma, berkarya koma, dan berusaha di bidang perfilman. Maaf, · dalam Daftar Inventarisasi Masalah kami itu salah.

Terima kasih.

KE1UA RAPAT:

Terima kasih.

Jadi yang Ayat (2) itu salah kamar ya Pak, sudah dikemhalikan kc kamar yang benar. Jadi dengan kata lain FPDI usul penyempurnaan redaksional dalam cara penulisaii\ begitu pak. Terima kasih. Apakah ini termasuk juga pada halaman 32 itu? FPDI ingin kami tanyakan supaya dalam kesempatan ini sekaligus mengajukan.

FPDI (DRS. H. UKUN SURY AMAN) : Terima kasih Saudara Ketua.

Yang_ dikemukakan oleh Saudara Ketua tadi, merilang ini.tidak termasuk pembahasan peranserta masyarakat.

Terima kasih.

KE1UA RAPAT:

. Baik, jadi ini memang dalam rapat kita tangg.tl 31, itu memang sudah ada keputusan untuk di-Panja-kan yaitu mengenai perlindungan\hukum dan sebagainya itu.

J

adi ini untuk klarifikasi kita saja supaya tidak terlewatkan.

Kami persilakan FABRI untuk menyampaikan usulannya.

FADRI (SOEARDI):

Terima kasih,

(16)

Dari F ABRI untuk Pasal 34 ini dengan judul bab-nya peranserta masya- rakat, memang barangkali merupakan bab yang terpendek dalam sejarah kita membahas Rancangan Undang-undang ini, hanya 2 baris saja. Dan yang 2 baris itupun sebetulnya belum peranserta masyarakat, tapi peranserta insan Indonesia, setiap warganegara.

jadi FABRI seperti Fraksi yang lain ingin menambah lebih dalam lagi mengenai peranserta masyarakat itu secara pine point kira-kira gambarannya bagaimana-?

Untuk Pasal 34 yang ada di dalam Rancangan Undang-undang, FABRI cenderung memforrnulasikannya menjadi Ayat (1). Kemudian FABRI ingin menambahkan Ayat (2) nya mengenai peranserta masyarakat. Di dalam Daftar lnventarisasi Masalah tertulis Ayat (2) usulan : "Setiap kelompok masyarakat mempunyai hak dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk ber- peranserta dalam pembinaan perfilman sesuai aturan dan saluran yang ber- laku ''. Ini memang luas, tapi di sini · maksudnya itu bahwa di sana ada peran- serta masyarakat, minimal itu. Kalau mungkin bisa dielaborasi oleh kita semua seperti yang dikemukakan Fraksi lain, F ABRI nanti menanggapi berikutnya.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, kami persilakan FPP.

FPP (NY. HJ. AISY AH AMINY, S.H.) : Terima kasih Saudara Ketua.

FPP ingin menambahkan satu ayat,jadi Ayat (2). Kalau bunyinya di sini menyatakan : Pemerintah perlu melakukan usaha-usaha ke arah peningkatan daya apresiasi terhadap film. Yang menjadi latar belakang usulan FPP. ialah kelihatannya masyarakat kita daya apresiasinya terhadap film itu memang ma- sih rendah sekali, sehingga masyarakat itu kadang-kadang karena disuguhkan dengan film-film yang pada umumnya boleh dikatakan kurang bermutu, lalu menilai bahwa film itu ya begitu adanya. Sementara ini sebetulnya pernah kita dengar ada Yayasan Citra yang menyelenggarakan kursus: cuma-cuma untuk guru-guru Sekolah Menengah Atas dengan mata pelajaran apresiasi film.

Ini maksudnya supaya guru-guru itu nanti mengajarkan lagi di sekolah- sekolahnya bagaimana anak-anak ini meng-apreciate suatu film itu sehingga benar-benar lalu film yang ingin dia tonton itu adalah cocok dengan dia se- bagai seorang anak di tengah masyarakat yang memang dididik dengan nilai- nilai moral Pancasila dan lain-lain.

Menurut pendapat kam~ karena yayasan ini sekarang berhenti kegiatan- nya karem tidak mempunyai atau kurang dana atau kurang sarana untuk itu, barangkali ini perlu ditunjang oleh Pemerintah. Mungkin kalimatnya harus direvisi sedemikian rupa sehingga merupakan kalimat di mana daya apresiasi

(17)

masyarakat perlu ditingkatkan dengan bantuan oleh Pemerintah. Itulah kira- kira yang kami maksudkan.

Sekali lagi kami melihat bahwa kalau kita tidak ada usaha untuk b~nar­

benar masyarakat kita lebih dewasa dalam meng-apresiasi film ini, maka per- filman nasional akan susah meningkatkan mutu karena selalu yang disuguhkan film-film yang kualitasnya seperti yang selama ini dikenal oleh masyarakat dan akhirnya makin lama produser itu tidak akan terangsang untuk membuat film-film yang lebih bermutu lagi.

Memikian Saudara Ketua, terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, dari putaran pertama ini kita dapat melihat dengan jelas bahwa nampaknya semua Fraksi dapat mensepakati apa bunyi rumusan di da- lam Rancangan Undang-undang, dengan sedikit koreksi dari FPDI, koreksi tulisan. Yang nampak jelas juga dalam putaran pertama ini adalah FKP, F ABRI dan FPP .mengusulkan materi tambahan untuk kelengkapan peranserta ini. Mungkin inilah pada putaran kedua ini bisa kita saling memberikan tang- gapan dan sekaligus untuk dapat menyempurnakan Rancangan Undang-un- dang ini.

Kami persilakan tanggapan pertama, FKP.

FKP (SAVRINUS SUARDI) :

Terima kasih Saudara Pimpinan, Saudara Menteri, hadirin sekalian yang terhormat. Pada awal pembicaraan kami tadi, kami mengatakan dengan meng- ingatkan kita semua bahwa kita berbicara mengenai media komunikasi massa dengar pandang.

Kalau kita melihat, media komunikasi massa itu p~ling tidak kita menge- nal 5 unsur penting saya kira. Pertama komunikator, kedua pesannya, ketiga medianya, keempat efeknya, dan kemudian saya kira feetback-nya (umpan balik). Dan kita sudah sering mendengar mengenai masalah umpan balik, khu- susnya saya kira bagi 'negara-negara berkembang seperti kita ini, pengaruh um-.

pan balik itu sangat penting dalam rangka merencanakan komunikasi yang sangat efektif, khususnya bagi masyarakat yang masih kurang barangkali pen- didikannya, dan masih tradisional. Karena itu kami mengangkat peran ma- syarakat luas ini dalam Pasal 34 ini dalam rangka umpan balik itu, malah se- karang ada istilah baru, umpan maj u, feeding forward. Jadi merencanakan komunikasi itu sebelumnya, sehingga memang mencapai sasarannya. Di sini- lah peran masyarakat ini sangat dipentingkan, sangat kami tonjolkan dalam bab ini, karena inijuga menurut kami akan ad.a kaitannya dengan bab berikut- nya di mana akan dibentuk badan dan sebagainya itu. Jadi ini alur pikirannya

~tu, memang sejalan.

(18)

Kernudian masalah pendidikan, saya kira kita semua sependapat bahwa . pcranserta masyarakat itu sangat penting dalam rangka meningkatkan mutu pcrfilman kita melalui manusia-manusia yang mengabdikan dirinya dalam durtia pedilrnan. ~erti kita mengetahui juga umpamanya dalam bidang kri- tik film, saya kira kita hanya punya 1 - 2 orang selain Pak Asrul Sani dan se- karang Salim Said. Inilah hal-hal yang harus kita tumbuhkan. Juga lembaga pendidikan dalatn bidang perfilrnan ini juga sangat kurang, sehingga kita ba- nyak menerima keluhan tentang mutu, skenario, mutu produksi, kandungan dari perfilman kita yang begitu rendah dan lain-lain sebagainya. Jadi ini kami kira alasan yang telah kami kemukakan disini, dan menanggapi kami kira dari FPDI kami kira tidak usah tangga.pi, kami kira jelas, karena ini juga dekat dengan kami di sini.

FPP kami rasa nadanya sudah sama, barangkali kandungannya nanti perlu kita sesuaikan karena:kamikira barangkali cakupannya nanti akan kita atur bersama supaya bisa apa yang kami maksudkan dengan apa yang kami sampai- kan oleh FPP bisa kita kawinkan.

Kemudian dengan F ABRI saya kira juga pikirannya se arah jadi saya ti- dak melihat ada yang bertentangan, cuma nanti barangkali kita perlu padukan pengertiannya dan sasaran yang ingin kita capai kami kira, khususnya dalam peranserta masyarakat luas. J adi bukan hanya masyarakat yang sekarang ini sudah bergerak di bidang perfilrnan, tapi masyarakat pada umumnya dalam rangka umpan balik itu ta.di atau umpan maju, kalau ini istilah baru sekarang ini. Sa.ya kira kalau saya bisa usulka'n, nanti bisa di-Timmus-kan barangkali.

Terima kasih Saudara Ketua.

KETUARAPAT:

Terima kasih atas tanggapan dari FKP, kami persilakan FPDI.

FPDl(DRS. H. UKUN SURYAMAN):

Terima kasih Saudara Ketua.

Yang terhormat Saudara Menteri, dan hadirin yang kami muliakan.

Menanggapi usulan dari rekan-rekan kami, pertama-tama kami arahkan kepada FPP. Dikemukakan di sini, Pemerintah perlu melakukan usaha-usaha ke arah peningkatan daya apresiasi masyarakat terhadap film.

Menurut pandangan kami usulan ayat ini sebenamya tempatnya di Bab VII, khususnya terdapat pada huruf

c,

apalagi kalaudikaitkan dengan penje- lasannya. Bab VII butir c, melindungi penumbuhan dan perkembangan per- filman Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya, dan huruf c ini diberikan pcnjelasan yang juga cukup jelas.

Selanjutnya terhadap usulan FKP dan FABRI yang pada dasarnya mirip, kami berpendapat bahwa isi pasal yang diajukan oleh Pemerintah itu sudah

(19)

_mantap dalam pengertian makro-nya sudah terarah, tetapi kami tidak berke- beratan kalau pengertian berkreasi, berkarya dan berusaha bisa dijelaskan dalam penjelasan, karena di sini Pasal 34 itu cukup jelas.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih FPDI atas tanggapannya, kami persilakan FPP.

FPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, S.H.):

Terima kasih Saudara P impinan.

Barangkali dari FPP sama dengan FKP dan FABRI berbeda dengan FPDI yang merasa sudah cukup, kami merasa bahwa bagian ini justru kurang cukup, kalau kita baca kalimatnya; setiap warga Indonesia mempunyai hak yang sama dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dalam berkreasi, berkarya berusaha di bidang perfilman. Ini datar-datar saja, memang selama ini tidak ada larangan untuk itu. Jadi kita sekarang tentunya Undang- undang ini harus benar-benar rnendorong bagairnana peran serta rnasyarakat itu yang itu yang kita harapkan, akibatnya perfilman nasional akan benar-be- nar rnemadai dari segi kualitas atau mutu dan dari segi jumlah, sehingga apa yang selama ini dirisaukan oleh masyarakat perfilman terlalu banyaknya sub- plisi dan oleh masyarakat pada umumnya dirisaukan. Budaya yang bekem- bang sekarang karena banyaknya perfilman yang diimpor, maka budaya asing- lah yang lebih banyak berkembang di tengah masyarakat. Usaha apa yang bisa dilakukan oleh masyarakat, sehingga arahnya itu kita mencapai terwujud- nya perfilman nasional yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan bangsa dan negara. Memang dirasakan oleh masyarakat sesuai apa yang diharapkan.

Untuk itu kami merasa perlu ada tambahan diktum dalam Pasal ini yang bunyinya, yang apa intinya ialah peran yang lebih nonkrit lagi, sehingga apa yang diharapkan terwujud.

Kemudian terhadap usul yang diusulkan oleh FKP kami dapat memaha- mi, tetapi barangkali perlu pengelolaan lebih lanjut, demikian juga usul dari FABRI.

Terhadap tanggapan dari FPDI terhadap usul dari FPP yang mengatakan sudah ada dalam Bab VII Pasal 35 ayat c, kalimatnya melindungi pertumbuh- an perfilman Indonesia dalam arti yang seluas-luasnya, justru bukan itu yang kami maksudkan. Jadi kalau mungkin apakah, karena terlalu pagi jadi kurang paham kalimatnya.

Jadi dalam hal ini Saudara Ketua, yang perlu kami jelaskan bukan itu maksudnya, jadi perlu bicarakan lebih lanjut ialah bagaimana kita benar-benar mendorong partisipasi masyarakat atau peran masyarakat ini kearah terwujud- nya cita-cita dari Undang-undang ini terwujudnya suatu perfilman nasional

(20)

yang benar-benar mempunyai masa depan yang cerah, sehingga film nasional kita ini menjadi tuan rumah dalam negaranya sendiri.

Terima kasih Saudara Ketua.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, kami persilakan FABRI.

FABRI (SOEARDI) : Terima kasih Saudara Ketua,

Nampaknya karena semua Fraksi sudah menanggapi, FABRI gampang ringgal merangkum-rangkum saja.

Jadi kalau melihat perkembangan pembicaraan bagian ke dua ini, FABRI melihat bahwa ke tiga Fraksi dan empat dengan' FABRI sendiri itu sama-sama sepakat bahwa Pasal 34 seperti tertulis di dalam Rancangan Undang-undang itu kita terima dengan baik. Ke tiga Fraksi yaitu FPP, FKP, FABRI mempu- nyai itikad baik untuk memberikan formulasi.yang melebar, karena di dalam formulasi Rancangan Undang-undang sama sekali tidak dicantumkan secara pin-poin peran serta masyarakat, padahal judulnya peran serta masyarakat, bahkan perkataan masyarakatpun tidak menemukannya barangkali tidak ada dalam buku saya tidak tahu di buku yang lain.

Kemudian FABRI sangat menghargai apa yang dikemukakan oleh Fraksi lain sebagai. tanggapan. Tanggapan pertama dari FPDI yang menyatakan Pasal 34 Rancangan Undang-undang sudah baik FABRI setuju, kemudian ekor ucapan dari FPDI tadi yang berbunyi; apabila dipandang perlu untuk menam- bahkan ayat-ayat lain sepanjang lebih melengkapi Bab ini 1FPDI akan melihat clan mempertimbangkannya, bahkan mungkin di dalam hati sudah menyetu•

juinya. Oleh karenanya dengan penalaran seperti itu FABRI ingin mengajak kita semua untuk bersama-sama menyempumakan Pasal 34 ini menjadi de·

mikian. Bagian penama sama dengan bunyi Rancangan Undang-undang asli- nya, itu bisa kita tuangkan di dalam ayat (1 ).

Kemudian bagian ke dua adalah ya sebut saja misalnya yang diajukan oleh FABRI, walaupun yang saya minta bukan formulasi secara persis, tetapi substansi yang terkandung di dalam kalimat itu, yaitu mengenai peran serta masyarakat dan peluang-peluang yang kita buka di dalam Undang-undang ini untuk memungkinnan masyarakat berperan serta.

Dari dua hal ini menurut FABRI menjadi jelas, bahwa di sana ada peran serta warga negara ada pera.r. sena masyarakat, yang kedua ini justru kita pa- kai sebagai judul Bab. Oleh karenanya FABRI menghimbau kita semua, ke lima pihak untuk memberikan elaborasi terhadap butir ke dua, yaitu peran serta masyarakat. Butir penama; peran serta warga negara Indonesia, FABRI melihat bahwa peqabarannya sudah habis dikupas di dalam Bab IV. Jadi di

(21)

Bab IV itu adalah peran masyaraka.t secara paripuma dikupas dari mulai pem- buatan film sampai pertunjukan dan penayangan, tidak perlu dielaborasi di sini.

Kemudian untuk kelompok masyarakat ke dua FABRI cenderung me- narnbah.kan lagi setelah perkembangan ini di Daftar Inventarisasi Masalahnya tidak ada tolong jangan dilihat di Daftar Inventari&isi Masalah, setelah per- kembangan putaran kedua ini FABRI cenderung untuk memmbah ayat lagi sejalan dengan intro Ayat (2) dari FKP yang berbuny~ peran masyarakat da- pat diwujudkan dalam bentuk. Jadi berbagai bentuk peran masyarakat ini mari kita tuangkan di dalam Ayat (3), secara gamblang sekali FPP sudah me- nentang kita semua untuk mengisi bentuk atau wujud pecan serta masyarakat ini, kami sambut dengan gegap gernpita Bu.

Kemudian kira-kira bagaimana ide saran F ABRI untuk mengisinya Satu kita rangkum usulan, saran, pandangan dari Fraksi-fraksi yang sudah tertuang di dalam Daftar Inventarisasi Masalah. Yang kita tampung adalah niat baik yang hakiki bukan formulasi persisi karena menulis bisa macam-macam makna.

Kedua saya tertarik apa yang telah dikemukakan oleh FKP tentang lima butir, lima butir apa namanya, lima unsur komunikasi massa, FABRI ingin mengajak kita semua ke lima unsur kominikasi massa itu, kita jadikan sebagai panduan atau jembatan bodoh untuk mengisi bentuk dan wujud peluang yang diberikan kepada masyarakat. Saya tunjuk satu contoh, penama kali unsur pertama tadi komun:ikator, komunikator ini harus ditingkatkan, ditingkatkan- nya dengan apa, dengan cara lain pendidikan, pendidikan ini bisa dibebankan kepada masyarakat tapi maksudnya bukan dibebankan. kepada masyarakat saja, karena Pemerintahpun punya kewajiban mengadakan pendidikan-pendi- dikan. Tetapi mengingat kemampuan terbatas dibuka peluang untuk masya- rakat untuk berkiprah pula di segi pendidikan ini, terma,suk saran FPP di mana dari pendidikan itu bermuara kepada meningkatknya maya apresiasi.

Kemudian butir ke dua, dari unsur-unsur, yang terhormat Saudara Sya- fri Yunas, adalah pesannya atau masa~. Untuk memberikan muatan kepada pesan ini, ini perlu juga diupayakan peran masyarakat untuk menunjang mu- tu dari pesan itu, sehingga dia betul-betul berases dan berdampak positif ter- hadap masyarakat, caranya mari kita cari. Sampai kepada yang terakhiv mi- salnya cerita feet back atau umpan balik dengan catatan sekarang umpan maju, ini juga misalnya bisa saya contohkan, feet back ini bisa berbentuk atau berwujud nanti antara lain pengikut senaan unsur masyarakat, apakah. dia Pimpman in formal, apakah dia apa, kepala "badan-badan" yang dibuat oleh Pemerinta~ sep~jang badan itu bermanfaat dengan menampung unsur masya- rakat demi kemaJuan perfilman. Lembaga Sensor Film juga ada unsur masya- . rakyatnya, sudah terjawab oleh Pemerintah ya, walatipun belum diucapkan.

Jadi kembali lagi kepada masalahnya FABRI cenderung mari kita sem- pumakan Pasal 34 keseluruhannya itu dengan penama Ayat (1) cukup kita mengkutip apa yang dikemukakan dalam Rancangan Undang-undang, Ayat

(22)

(2) cantolannya adalah mengenai keterbukaan peluang bagi peran serta masya- rakat, Ayat (3) wujudnya secara pin-poin di dalam peran serta masyarakat.

Dengan jalan pikiran ini semua usulan makna saripati dari usulan setiap Frak- si bisa terakomodasikan kesana, bahkan masih kurang, mari kekurangnya kita isi, dernikian tanggapan FABRI dengan catatan untuk Ketua jangan terlalu ccpat di-Timmus-kan karena butir-butirnya belum ketemu.

Terima kasih.

KETUARAPAT:

Terima kasih.

Mernang kami belum saatnya untuk tanya Tim Perumus atau apa, terima kasih demik:ian putaran pertama dan ke dua sudah kita dengar bersama, nam- paknya ada kehendak dari Fraksi-fraksi untuk lebih melengkapi bunyi dari Rancangan Umang-undang ini

Kami mohon tanggapan dari Pemerintah, kami persilakan.

PEMERINTAH (MENTERI PENERANGAN/H. HARMOKO) : Pimpinan dan para Anggota Panitia Khusus yang kami hormati,

Kalau kita merenung sejenak dari isi Pasal 34 kita kaitkan dengan j udul, maka sebenarnya apa yang hendak kita kembangkan pemikiran itu adalah hak dari masyarakat, hak dari pada warga negara.

Kemudian kita berikan kesempatan yang seluas-luasnya, untuk apa untuk berpartisipasi, istilahnya untuk berperan sena, dalam hal apa, berkreasi, ber- karya dan berusaha di bidang perfilman.

J

adi kalau melihat isi dari pada Ran- cangan Undang-undang yang disampaikan khusus Pasal 34 ini harusnya di- baca. secara luas pengertiannya, itu maknanya setelah saya menyimak usulan- usulan baik dari FKP, FABRI, maupun FPP saya tidak menyebut FPDI ka- rena FPDI cukup jelas. Sa ya merangkum pemikiran-pemikiran yang diusul- kan tadi secara maknawi, maknawi dan nawaitunya itu baik, begitu baiknya, sebenarnya sudah tercantum di dalam rumusan yang luas cakupannya, mau bicara apa saja, contoh apa yang diusulkan oleh FKP mengenai peran serta di dalam pendidikan, kemudian interaksi, semuanya ini hal yang justru diberi pe- ran seluas-luasnya, FABRI setiap kelompok masyarakat mempunyai hak ke- sempatan yang seluas-luasnya, saya pikir berperan serta dalam hal berusaha di dalarn bidang perfilman, apakah itu keterbukaan peluang masyarakat nama- nya, apakah itu peran serta rnasyarakat secara maknawi sudah tercantum di dalam Rancangan ini.

Demikian juga dari FPP termasuk daya apresnsi masyara.kat, kalau kita ingin itu difokuskan kepada peran masyarakat tinggal kalimatnya barangkali da ya apresilsi masyarakat didahulukan peningkatannya, oleh siapa, oleh karem

(23)

itu usulan-usulan rangkuman dari ke tiga Fraksi yang bagus itu menurut he- mat saya dapat dicantumkan di dalain pcnjelasan, schingga Pasal yang me- nyangkut Pasal 34- ini sccara luas kita mcmberi arti, ini kalau pcmikiran Pemc- rintah, scbab apa dari Rancanga.n ini memang dari Pasa.134 dinyatakan cukup jelas begitu saja. Tetpi kalau diatur, apalagi kalau diisi dengan yang.lain-Jain- nya diminta oleh FABRI sebab banyak sckali kalau kita bicara. pcran masya- rakat kalau dituangkan di dalaJn Pasal ini scmuanya nanti, padahal ini

5adah

mencakup semuanya tinggal penjclasannya apa yang dimaksud dcngan kesem- pa tan yang seluas-luasnya untuk berpcran serta. itu.

Kemudian kreasinya apa, karyanya apa, usahanya apa, kembangkan se- mua itu bisa dijelaskan di sana dan juga. menampung apa yang diinginkan FABRI masih banyak lagi, memang Pemerintah berpikir mungkin masih ada hal-hal yang perlu ditampung. Oleh karena itu apa yang kami sampaikan tadi sebenamya tidak ada perbedaan pendapat dalam hal ini, cuma penempata.n- nya saja kalau kita di dalain Pasal kita harus mencantumkan sclumhnya. Sc- hab kalau kita bicara mengenai pendidikan apresiasi kita bi01ra juga denga.n training,.pendidikan itu masih macam-macam, pendidikan formal, non formal, terus apresiasi masyarakat bagaimana ini merupakan salah satu pera.n serta ma- . syarakat dan banyak sekali kalau kita ingin tuangkan. ba:ik dari scgi peran ser- ta idealnya maupun peran serta materiilnya, itu bisa kita rangkum. keseluruh- annya. Oleh karena itu tanpa mengurangi maknawinya tadi danrnawaitunya tadi yang cukup baik semua, hendaknya marilah hal ini kita kembmgkan pe- mikiran, jadi Pemerintah cenderung untuk hal-hal yang tadi di dalam penjelas- an saja, sehingga Pasal 34 ini secam luas berbicara .mengenai sesuai dengan judul tadi peran serta masyarakat._

Demikian sementara yang irigin disampaikan Pemerintah dan Pemerin- tah terima kasih dalam suasana yang pagi ini, apa yang diusuJkan memang me- nurut hemat kamiltidakada perbedaan, pendapat semuanya sama. Ranca.ngan apa tadi yang dikemukakan oleh

I

FKP teori telekominikasi,

lkalau

ada teori ada 5, 6 dan 7 lagi sa.tunya. Apa yangldisebut usul responsibility tJUlggungja- wab masyarakat, ada lagi, ada di mana di semuanya. Saya pikir itu kita sepa- kat semuanya, karena kita ini memang sudah menyatu gelombangnya,. tetapi untuk menuangkan ini marilah kita, karena ini Undang-undang biara dengan Undang-undang jadi.

Demikian Pimpinan tcrima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih atas tanggapan dari Pemerintah.

Sedang yang kami mulilkan dari putaran penyajian usulan serta tanggap- an termasuk juga tanggapan dari Pemerintah, maka kami bisa menyimpulkan bahwa bunyi Pasal 34 seperti yang dinyatakan di dalam Rancangan Undang- undang baik oleh FKP, FABRI, FPP dan FPDI dengan satu koreksian kecil yaitu koma (,) clan ini saya kira tidak ada keberatan saya kira yang lain-lain.

599

(24)

Nam_paknya keutuhan bunyi sepeni Rancangan. Undang-undang ini dapat disepakati, yang kami ingin tanyakan adalah, apakah bunyi rumusan Rancang- an Undang-undang Pasal 34 dengan penyempurnaan dari FPDI koma (,) tadi bisa kita sahkan di dalam Sidang Pleno ini, kami baru tanya rumusan, kami belum tanya yang lain-lain, apakah dapat disetujui ·?

FABRI (DRS. MADE SUDIARTHA):

Saudara Pimpinan yang terhormat,

Apa yang telah disampaikan oleh Pimpinan, kami tidak membantah tetapi sebelum mengarah ke itu, kami ingin menanyakan kepada Pemerintah sehubungan dengan rumusan.usul FABRI itu terkait dengan peran serta ma- syarakat, kalau memang itu diperkenankan akan kami lanjutkan.

Di dalam usulan FABRI di sana disebutkan pada Ayat ke (2) di sana di- sebutkan; kesempatan seluas-luasnya untuk berperan serta dalam pembinaan perfilman sesuai dan saluran yang berlaku. Karena pengertian peran serta ti- dak hanya ikut di.dalam suatu kegiatan, tetapi dalam peran serta dalam arti pengawasan, sosial kontrol, tadi di dalam pembinaan ini termasuk sosial kon- trol mi dalam bidang perfilman, karena film ini adalah merupakan cerminan budaya bangsa.

Jadi disinilah peran serta masyarakat ini di dalam rangka kegiatan per- tilma.n itu memang dimunculkan, ini hanya penjelasan saja dan rnohon pen- jelasan Pemerintah.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi. kami tadi menanyakan kepada Sidang yang mulia ini khususnya ru- musan dari Rancangan Undang-undang. Jadi kami belurn menyinggung tam-

; bahan dari Fraksi-fraksi yang lain, ini yang perlu kami tanyakan,jadi sebelum kepada Pernerintah karena setiap kita mempunyai hak juga untuk bertanya, karena ini untuk musyawarah untuk mufakat.

Kami ingin kembali kepada pertanyaan kami apakah Pasal 34 Rancangan Undang-undang seperti bunyi seperti adanya dengan penyempurnaan redak- sional koma (,) di belakang kata "berkarya oleh FPDI ini dapat kita setujui

Kami ·persilakan FPP.

FPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, S.H.):

Saudara Pimpinan, kalau Saudara Pimpinan bertanya ini maksudnya bahwa sejalan dengan yang dik.emukakan dengan Pemerintah bahwa kalimat ini sudah mengandung semuanya, kalau ini yang dimaksudkan bahwa dise~

rujui ayat ini, kami tidak sependapat itu prinsipnya, jadi barangkali kalau bunyinya seperti ini, kami sepakat. Tetapi masalahnya bahwa dia sudah me-

(25)

ngandung semua-semuanya kami belum sepakat, jadi sebaiknya tidak usah harus kita setujui dulu satu dan kita biearakan dulu berikutnya bagaimana, apakah sependapat dengan Pemerintah bahwa apapun silakan di penjelasan.

Sedangkan kami berpendapat, kalimat ini belum menunjukkan apa-apa kami ingin mengusulkan dalam Pasal ini ada yang ditunjukkan yang lebih kon- krit, jadi mohon kiranya tidak usah buru-buru mengetok <lulu, sebab kalimat ini.mempunyai pengertian. Menurut kami kalimat ini masih blank perlu diisi, Pemerintah mengatakan silakan mengisi di penjelasan. Kami melihat Pasal.ini perlu diisi dalam batang tubuh bukan dalam penjelasan.

Terima kasih Saudara Ketua.

KETUA RAP AT : Ya, FPDI, silakan.

FPDI (B.N. MARBUN, S.H.) :

Terima kasih Saudara Ketua, dan terima kasih juga penjelasan Pemerin- tah yang nada-nadanya hampir sama dengan FPDI itu. Pertama kepada Ibu Aisyah, sebenamya yang diusulkan tentang gambaran Ayat (2) itu sudah ada dalarn Pimpinan. Pemerintah melakukan pembinaan perfilman Indonesia un- tuk 1, 2, 3, a, b, c, d. Ijinkanlah kami memberikan suatu pemikiran urun rem- buk yang agak lebihjauh.

Kita harus berterima kasih kepada rumusan ini, Pasal 34 ini yang telah menyerahkan seluas-luasnya kepada masyarakat, kok dikembalikan lagi ke- pada Pemerintah mengaturnya nanti overrool terlalu banyak diatur nantinya tidak ada kreasinya lagi. Kenapa kita tidak tangkap yang baik ini, didifinisi- kan yang lebih singkat, pendek, lebih terbatas lagi, nanti itu juga rugi bangsa ini.

Kesempatan yang baik ini marilah kita tangkap dan kita isi dengan ca- tatan dari Pemerintah dengan besar hati, FPDI juga tidak berkeberatan apabila tidak merasa perlu menjabarkannya contoh-contohnya dalam penjelasan, mengapa tidak ? Tetapi sudah dikasih mandat penuh kepada kita, kita kem- balikan mandat itu kami tidak setuju, dengan demikian rumusannya cukup mantap, padat dan baik.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Terima kasih, FKP ingin bicara kami persilakan.

FKP (SAVRINUS SUARDI):

Terima kasih Saudara Pimpinan, Saudara Menteri dan hadirin sekalian, Seperti kami katakan tadi bahwa sebemrnya mengenai rumusan ini FKP

(26)

sudah menerimanya, tetapi kami tetap.berpendapat bahwa apa yang tertera ini belum mengandung semua aspek daripada usaha perfilman sebagai media komunikasi, karena kelihatannya peran serta dari masyarakat luas kurang di- tonj olkan dan lebih merupakan obyek, jadi mereka masih tidak diperlaktikan sebagai subjek dalam proses perfilman ini.

Karena itu kami mengusulkan agar di samping ayat ini kita tambah satu ayat lagi. Dari Pasal 34 ini, ini Ayat (1 )-nya, Ayat (2 )-nya berisi nanti kita kombinasikan usul FABRI, FPP sama FKP, jadi kita bikin satu ayat baru, ayat yang kedua supaya muatannya itu lengkap usul F ABRI, FPP, dan FKP, jadi kita bikin ayat barn ayat yang kedua supaya muatannya itu Paripuma.

J

adi kami usulkan demikian supaya kita menambah ayat baru saja supaya.usul yang tadi bisa ditampung, j adi kemana dia mengerjakan formulasi, selanjumya terserah tapi saya kira usul kami ini layak dan patut dipertimbangkan.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

J

adi kalau boleh kami meringkas dari pandangan dua setengah ini bahwa, , pertama dari Fraksi-fraksi yaitu FKP, FABRI dan FPP dan FPDI kecuali de- ngan penyempumaannya, terhadap bunyi Rancangan Undang-undang seperti apa adanya, maka tidak ada keberatan, jadi dengan kata lain setuju.

Kedua, bahwa FKP, FABRI dan FPP merasa bahwa dengan rumusan seperti Rancangan Undang-undang itu nampaknya belum lengkap sebagaimana diatur di dalam judul oleh karena itu ke tiga Fraksi ini ingin memberikan su- atu bentuk dari peran serta masyarakat tersebut. Bentuk-bentuk itu seperti tertuang dalam usulan Fraksi-fraksi, FABRI membuka suatu klausul kalau dia adalah hak warga negara, klausul berikumya adalah kelompok masyarakat.

K emu di an FKP mem berikan ben tuk yang lebih ko nkr et: wuj udnya- mengenai pendidikan dan juga interaksi positif serta FPP memberi bentuknya pening- katan daya apresiasi masyarakat.

Usulan dari ketiga Fraksi ini telah ditanggapi oleh Pemerintah sebagai usulan yang sangat baik dan bermanfaat. Usulan tersebut dipandang Pemerin- tah hendaknya ditampung di penjelasan. Demikian pula pandangan dari FPDI juga demikian, artinya bahwa usulan dari Fraksi-fraksi khususnya FABRI dan FKP ini kiranya dapat dipertimbangkan di penjelasan sedangkan FPP dikata- kan sudah tertuang di dalam Pasal 31 huruf c.

Inilah rangkuman yang ada selama pembicaraan selama ini, tadi pimpin- an baru menanyakan bunyi Rancangan Undang-undang itu, kami belum meng- adakan suatu evaluasi bahwa kami sependapat dengan Pemerintah a tau d~ngan

FKP atau dengan FABRI atau dengan FPP, kami hanya menanyakan bunyi seperti ini dengan rumusan itu. Maksud kami adalah kalaupun kita sepakat ini, kita sepakati dan yang belum kita sepakati apakah akan kita buka putar- an baru lagi, apakah kita akan mendengarkan dan memahami serta menerima

(27)

usulan dari Pemerintah dan juga usulan FPDI ta.di, atau apakah mungkin haJ ini perlu dituangkan dalam batang tubuh.

Untuk itu tentunya ada suatu perlakuan tersendiri terhadap usulan·usul·

an ini yang tadi sudah dicoba oleh FABRI diringkaskan, ini yang sebenamya menjadi maksud dari kami untuk meranyakan yang pertama tadi.

J

adi kepa·

da Yang terhormat Ibu Aisyah Aminy, kami belum memihak terlebih dahulu tetapi kami hanya menawarkan dan nampaknya putaran ini bunyi Rancangan Undang-undang tidak soal yang menjadi soal adalah tambahan dari ketiga

Fraksi ini. ·

FABRI (SOEARDI):

Atas pertanyaan ketua mengenai formulasi Rancangan Undang-undang yang disempurnakan oleh PDI apakah bisadisepakati,jawaban FABRI adalah FABRI sepenuhnya menyepakati formulasi Rancangn Undang·undang Pasal 34 dengan koreksi penulisan dari FPDI sebagai Ayat (1 ).

Terima kasih.

KETUA RAPAT : Terima kasih.

Nampaknya ini juga dari FKP juga demikian karena tadi dari pembicara sebelumnya kami menangkap bahwa FKP mengusulkan menjadi 2 ayat, FABRI mengusulkan menjadi 3 ayat itu menurut catatan kami, dan FPP me- mang belum secara eksplisit 2 atau 3 ayat tetapi dari nadajaw.aban tadi nam- paknya beliau menginginkan ada tambahan ayat, clan nampaknya·Rancangan Undang-undang ini dij adikan ayat pertama.

J

adi di sini ada 2 pendapat saran dari Fraksi-fraksi ini pendapat pertama ditamping di penjelasan, itu.adalah pendapat dari Pemerintah clan FPDI, sedangkan pendapat yang kedua adalah saran dari FKP., F ABRI dan FPP saran ini ditampung di dalam tambahan ayat, mana sekarang yang akan kita tempuh.

Kami persilakan FPDI.

FPDI (B.N. MARBUN., S.H.):

Terima ka'sih Saudara Pimpinan.

Kami cukup mengerti pikiran atau tambahan pikiran dari FKP, FABRI dan FPP, namun setelah kami timbang-tim bangng kembali kalau kita baca de·

ngan tenang,Pasal 34 tersebut setiap warga negara Indonesia mempunyai hak yang sama dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk berperan serta dan her·

kreasi berkarya dan berusaha di bidang perfilman seluas-luasnya.

Sekarang kita kembalikan lagi kepada Pemerintah, menjadi sebagian nanti akhirnya tidak luas lagi dengan demikian hal yang sudah jelas di s'ini dan cukup ma.ntap saya rasa jangan dikurangi lagi, tetapi apa kira-kira ber·

(28)

juang seluas-luasnya itu, kalau kurang jelas yah di penjelasan. Nal\lun demiki- an kami tidak keras kepala dalam hal ini mari kita pertimbangkan, tetapi ja- ngan mengurangi lagi nasib yang sudah baik ini.

KETUA RAPAT :

Terima kasih tampak bermaksud mendahului pandangan dari Fraksi- fraksi saya kira Fraksi-fraksi pengusul mungkin tidak bermaksud untuk me- ngurangi kesempatan yang seluas-luasnya mungkin itikad baiknya ingin men- jabarkan apa yang dimaksud seluas-luasnya tadi, ini yang saya tangkap mung- kin saya keliru menangkap, tapi itu yang kami tangkap, jadi.perlakuan kita terhadap hal ini apakah kita dapat mensepakati Rancangan Undang-undang teJ;lebih dahulu dengan catatan bahwa usulan yang terdapat pada FKP, FPP dan FABRI ini dapat kita Panitia Kerjakan.

FKP (SAVRINUS SUARDI):

Sekedar klarifikasi Saudara Ketua, sebab Bung Marbun tadi mengatakan seolah-olah kita ini ingin menyerahkan kepada Pemerintah, sekarang ini se- mangat deregulasi dan debirokratisasi itu jauh dari pikiran kami untuk me- nambah tangan Pemerintah, justeru kami ingin meluaskan. Saya kira Bung Marbun keliru menangkap.

Terima kasih.

FPP (NY. HJ. AISYAH AMINY, S.H.):

Menanggapi komentar dari FPDI ini sudah ada.kesempatan seluas-luas- nya, tetapi kita ingin yang ko~et: itu sepeni apa misalnya setiap warga ne- gara mempunyai hak yang seluas-luasnya untuk berusaha di Indonesia, tetapi nyatanya sekarang pengusaha kecil makin terjepit, sekarang apa yang dapat kita lakukan supaya ini terdorong untuk berbuat. Kesempatan seluas-luasnya itu perlu ada arahan yang lebih jelas antara lain barangkali kita hanya ingin memperlihatkan bahwa apresiasi itu salah satu. Jadi bagaimana peran serta masyarakat itu kira-kira apa saj a sebab tadi dikatakan pasalnya, pasal yang memang luas terbuka apa saj a seperti la utan, tetapi kita ingin lebih · konkret dilihat dan dibaca seperti apa bentuknya itu.

KETUA RAPAT:

Saya kira mengenai argumentasi betapa pentingnya dari ayat-ayat 'itu saya kira semua sudah maklum.

FABRI (SOEARDI):

Terima kasih.

Jadi nampaknya sekarang belum lagi mendekati pendekatan yang kental, maka FABRI mengusulkan kita break menjernihkan pikiran dan badan ini kemudian kita lanjutkan lagi setelah break.

Referensi

Dokumen terkait

Data Flow Diagram 1 (DFD Level 1) Maintenance Batas Waktu Pengisian Pada DFD level 1 mengelola data batas waktu pengisian untuk penilaian kinerja guru terdapat beberapa

Korosi ini juga dapat disebut sebagai pemisahan unsur logam akibat perbedaan dari potensial logam (logam yang sama namun memiliki jumblah elektron yang berbeda), yang mana

Pasal 12 Ayat (2), yang kemarin sore juga kita bicarakan, kita kaitkan dengan Pasal 14 Ayat (2), yaitu yang mengandung usulan mengenai tambahan kata-kata yang

53 F-PAN, Drs. Rusli Ridwan, M.Si, Risalah Rapat Panitia Khusus Rancangan Undang- undang tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan Jenis Rapat Raker IV Tanggal 2 Maret

Saya kira ini memang masih ada kaitan · dengan apa yang dibicaral&lt;an sebelumnya, kalau saya menangkap disini bahwa di daerah yang belum kompetisi itu bisa tidak ada

Untuk koreksinya, dan saya kira sesuai dengan record saya tidak menyebutkan bahwa pembahasannya bergeser atau tadi menurut FPP pembicaraan bergeser tapi focus- nya

(2) Pengajuan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan dalam bentuk pengajuan Rancangan Undang-Undang tentang Penetapan

Usul PDI iti\ sebenarnya tidc:l.k terlalu mengubah ma.teri atau esensi ha - nya penyemuurna.an satu kata,aaya juga tidak seoara. penuh mengklaim bahwa,g sul itu