• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PEMASARAN TELUR AYAM RAS DI PASAR TRADISIONAL KOTAMADYA TEBING TINGGI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "ANALISIS PEMASARAN TELUR AYAM RAS DI PASAR TRADISIONAL KOTAMADYA TEBING TINGGI"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PEMASARAN TELUR AYAM RAS DI PASAR TRADISIONAL KOTAMADYA TEBING TINGGI

SKRIPSI

OLEH SITI FADILLAH

140306012

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(2)

ANALISIS PEMASARAN TELUR AYAM RAS DI PASAR TRADISIONAL KOTAMADYA TEBING TINGGI

SKRIPSI

Oleh:

SITI FADILLAH 140306012

Skripsi sebagai salah satu syarat untuk mendapatkan gelar sarjana di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian

Universitas Sumatera Utara

PROGRAM STUDI PETERNAKAN FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2018

(3)

Judul : Analisis Pemasaran Telur Ayam Ras di Pasar Tradisional Kotamadya Tebing Tinggi

Nama : Siti Fadillah

NIM : 140306012

Fakultas : Pertanian Program Studi : Peternakan

Disetujui oleh:

Komisi Pembimbing

Ir. Iskandar Sembiring, MM Dr. Ir. Yunilas, MP.

Ketua Anggota

Mengetahui,

Prof. Dr. Ir. Hasnudi, MS Ketua Program Studi Peternakan

Tanggal Acc : 2018

(4)

ABSTRAK

SITI FADILLAH, 2018 “Analisis Pemasaran Telur Ayam Ras di Pasar Tradisional Kotamadya Tebing Tinggi”, dibimbing oleh ISKANDAR SEMBIRING dan YUNILAS.

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik lembaga- lembaga pemasaran telur ayam ras, dan saluran pemasaran telur ayam ras, menganalisis margin pemasaran, farmer share, rasio keuntungan, dan biaya telur ayam ras, serta menganalisis efisiensi pemasaran telur ayam ras di Kotamadya Tebing Tinggi. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2018 – Agustus 2018.

Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah penarikan sample pedagang pengecer dengan menggunakan rumus slovin, sedangkan sampel peternak dan lembaga pemasaran lainnya dengan snowball sampling.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik wawancara menggunakan kuisioner.

Analisis data meliputi biaya pemasaran, margin pemasaran, share peternak dan rasio keuntungan biaya dari masing-masing saluran pemasaran. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua saluran pemasaran. Margin pemasaran pemasaran terkecil diperoleh saluran pemasaran I, maka dari itu saluran pemasaran I memiliki rasio keuntungan terhadap biaya terbesar. Farmer’s share terbesar diperoleh pada saluran pemasaran I. Jadi dapat disimpulkan bahwa saluran pertama adalah saluran yang paling efisien karena memiliki biaya terkecil dan keuntungan yang besar. Kebutuhan telur ayam ras di Kotamadya Tebing Tinggi (100%) dipasok dari luar kota.

Kata kunci : telur ayam ras, saluran pemasaran, efisiensi pemasaran

(5)

ABSTRACT

SITI FADILLAH, 2018 “Analyze the Marketing of Ras Chicken Eggs in the Traditional Market of Tebing Tinggi Municipality”. Guided by ISKANDAR SEMBIRING and YUNILAS.

This study aims to identify the characteristics of ras chicken egg marketing institutions, and ras chicken egg marketing channels, analyze marketing margins, farmer share, profit ratio, and cost of ras chicken egg, as well as analyze the marketing efficiency of ras chicken eggs in Tebing Tinggi Municipality. This research was conducted in June 2018 - August 2018. The method used in data collection is the delivery of retailer's sample by using the Slovin formula, while the sample of breeders and other marketing institutions with snowball sampling. Data collection was carried out using interview questionnaire techniques.

Data analysis includes marketing costs, marketing margins, farmer share and cost benefit ratio of each marketing channel. The results of this study indicate that there are two marketing channels. The smallest marketing marketing margin is obtained by marketing channel I, therefore marketing channel I has the largest ratio of profit to cost. Farmer’s biggest share is obtained in marketing channel I. So it can be concluded that the first channel is the most efficient channel because it has the smallest cost and a large profit. The need for ras chicken eggs in the Municipality of Tebing Tinggi (100%) is supplied from outside the city.

Keywords: ras chicken eggs, marketing channels, marketing efficiency

(6)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Medan pada tanggal 21 Januari 1997 dari Bapak Achmad Yani dan Ibu Erni Sahari. Penulis merupakan putri pertama dari empat bersaudara.

Penulis menyelesaikan pendidikan dasar pada tahun 2008 di SD Swasta AL-Jama’iyah Medan, pendidikan menengah pertama diselesaikan di SMP Nurul Islam Indonesia pada tahun 2011 dan dilanjutkan ke pendidikan menengah atas yang diselesaikan pada tahun 2014 di SMA Negeri 6 Medan. Pada tahun 2014 penulis diterima sebagai mahasiswa Universitas Sumatera Utara melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Penulis memilih program studi Peternakan.

Selama mengikuti perkuliahan, penulis aktif sebagai anggota Ikatan Mahasiswa Peternakan (IMAPET) dan sekretaris umum Himpunan Mahasiswa Muslim Peternakan USU (HIMMIP).

Penulis melaksanakan praktik kerja lapangan (PKL) di Unit Peternakan Koperasi Karyawan PT. Perkebunan Sumatera Utara Tanjung Kasau Kecamatan Sei Suka Kabupaten Batubara dari tanggal 24 Juli 2017 sampai 3 September 2017.

(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan proposal ini dengan baik yang berjudul “Analisis Pemasaran Telur Ayam Ras di Pasar Tradisional Kotamadya Tebing Tinggi”.

Penulis mengucapkan terima kasih kepada orangtua atas doa, semangat, dan pengorbanan materil maupun moril yang telah diberikan selama ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ir. Iskandar Sembiring, MM selaku ketua komisi pembimbing dan Ibu Dr. Ir. Yunilas, MP selaku anggota komisi pembimbing yang telah membimbing dan memberikan arahan dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini dan semua pihak yang ikut membantu.

Disamping itu, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada civitas akademika di Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, serta semua rekan mahasiswa yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi.

Penulis juga mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat membantu memberikan informasi yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan serta pelaku usaha bidang peternakan.

(8)

DAFTAR ISI

Hal.

ABSTRAK ... i

ABSTRACT ... ii

RIWAYAT HIDUP ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... ix

DAFTAR LAMPIRAN ... x

PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1

Rumusan Masalah ... 4

Tujuan Penelitian ... 4

Manfaat Penelitian ... 5

TINJAUAN PUSTAKA Bauran Pemasaran (Marketing Mix) ... 6

Product (Produk) ... 6

Telur Ayam Ras ... 6

Karakteristik Telur Ayam Ras ... 7

Price (Harga) ... 8

Promotion (Promosi) ... 8

Place (Tempat) ... 8

Pasar ... 9

Pemasaran ... 9

Fungsi-fungsi Pemasaran ... 10

Distribusi Produk dari Produsen ke Konsumen ... 11

Margin Pemasaran ... 13

Efisiensi Pemasaran ... 14

Kerangka Pemikiran ... 15

METODE PENELITIAN Lokasi dan Waktu ... 16

Metode Penelitian ... 16

Metode Penentuan Daerah Penelitian ... 16

Populasi dan Sampel ... 17

Metode Pengumpulan Data ... 18

Metode Analisis Data ... 18

Defenisi dan Batasan Operasional ... 20

Defenisi ... 20

Batasan Operasional ... 22

(9)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 23

Letak dan Keadaan Geografis Kotamadya Tebing Tinggi ... 23

Lokasi Penelitian ... 24

Pedagang Pengecer Telur Ayam Ras ... 25

Profil Responden Karakteristik Pedagang ... 26

Karakteristik Peternak ... 29

Lembaga Pemasaran ... 30

Saluran Pemasaran ... 33

Margin Pemasaran ... 34

Farmer’s Share ... 40

Rasio Keuntungan dan Biaya ... 41

Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Ras ... 43

KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan ... 42

Saran ... 42

DAFTAR PUSTAKA ... 43

LAMPIRAN ... 45

(10)

DAFTAR TABEL

No. Hal.

1. Komposisi Kimia Telur Ayam Ras ... 7

2. Daftar Harga Telur Ayam Ras Tahun 2018 di Tingkat Pedagang Pengecer Kotamadya Tebing Tinggi ... 8

3. Pasar tradisional di Kotamadya Tebing Tinggi ... 16

4. Jumlah Penduduk Kotamadya Tebing Tinggi per Kecamatan menurut Jenis Kelamin ... 23

5. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer Responden ... 25

6. Usia Pedagang Pengecer ... 26

7. Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Pengecer ... 27

8. Pengalaman Usaha Pedagang Pengecer ... 27

9. Jenis Kelamin Agen Telur Ayam Ras ... 28

10. Umur Agen Telur Ayam Ras ... 28

11. Tingkat Pendidikan Formal Agen ... 29

12. Pengalaman Usaha Agen ... 29

13. Jenis Kelamin Peternak ... 30

14. Umur Peternak ... 30

15. Tingkat Pendidikan Peternak ... 31

16. Pengalaman Beternak ... 31

17. Biaya Pemasaran Telur Ayam Ras pada Saluran Pemasaran I ... 37

18. Biaya Pemasaran Telur Ayam Ras pada Saluran Pemasaran IIa ... 38

19. Biaya Pemasaran Telur Ayam Ras pada Saluran Pemasaran IIb ... 39

20. Margin Pemasaran ... 41

21. Analisis Farmer’s Share pada Saluran Pemasaran Telur Ayam Ras ... 42

(11)

22. Analisis Rasio Keuntungan terhadap Biaya ... 43 23. Efisiensi Pemasaran Telur Ayam Ras pada setiap Saluran Pemasaran dan Lembaga Pemasaran ... 44

(12)

DAFTAR GAMBAR

No. Hal.

1. Kerangka Pemikiran ... 14 2. Skema Saluran Pemasaran I ... 35 3. Skema Saluran Pemasaran II ... 35

(13)

DAFTAR LAMPIRAN

No. Hal.

1. Profil Pedagang Pengecer Telur Ayam Ras ... 49

2. Profil Agen Telur Ayam Ras ... 51

3. Profil Peternak Telur Ayam Ras ... 51

4. Data Pedagang Pengecer pada Saluran Pemasaran I ... 52

5. Data Pedagang Pengecer pada Saluran Pemasaran IIa ... 53

6. Data Pedagang Pengecer pada Saluran IIb ... 55

7. Data Peternak Telur Ayam Ras ... 58

8. Data Agen Telur Ayam Ras ... 58

9. Dokumentasi Penelitian ... 59

10. Kuisioner ... 63

(14)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Telur sebagai sumber protein dengan segmentasi pasar seluruh lapisan masyarakat dan ada kecendrungan dari waktu ke waktu permintaan telur selalu meningkat karena adanya kebiasaan masyarakat kita yang gemar makan telur, bahkan setiap ada perayaan hari besar selalu menghadirkan telur sebagai menu lauk dalam hidangan mereka. Sikap masyarakat ini tentunya berimplikasi positif pada perkembangan peternakan ayam ras petelur baik skala besar maupun skala kecil. Kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras dari lapisan perkotaan hingga masyarakat pedesaan. Meskipun permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif, tetapi pada saat-saat tertentu permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi, misalnya untuk keperluan hajatan, hari-hari besar dan sebagainya, karena adanya budaya dalam masyarakat kita menjadikan telur sebagai lauk wajib setiap acara.

Rata-rata konsumsi telur dari masing-masing pulau di Indonesia memperlihatkan variasi yang besar. Masyarakat di pulau Sumatera dan Jawa mengkonsumsi telur lebih banyak dibandingkan dengan pulau-pulau lain, terutama terhadap masyarakat di pulau Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua (Nurmanaf, 2003). Sekretariat Ditjen PKH (2016) mengatakan bahwa rata-rata konsumsi produk telur ayam ras per kapita per tahun di Indonesia mengalami peningkatan pada tahun 2015 sebesar 97.398 butir dan pada tahun 2016 sebanyak 99.796 butir.

Marlina (2013) menyatakan konsumsi telur lebih tinggi dari pada konsumsi hasil ternak lain, karena mudah diperoleh dan harganya relatif murah.

(15)

Produksi telur secara agregat meningkat tajam khususnya di tahun-tahun 1980an dan berlanjut secara kontinu hingga sekarang. Produksi telur dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama yang berkaitan langsung dan tidak langsung dengan pendukung pengembangannya.

Dari data BPS Kota Tebing Tinggi tahun 2016 diketahui bahwa Kotamadya Tebing Tinggi merupakan salah satu dari delapan kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, letaknya berada di bagian tengah kecamatan Tebing Tinggi kabupaten Serdang Bedagai. Kotamadya Tebing Tinggi memiliki luas 38,438 km² dengan jumlah penduduk mencapai 156.815 jiwa.

Rudianto (2006) menyatakan Kotamadya Tebing Tinggi memiliki peran sebagai pusat pelayanan bagi wilayah belakang diantaranya Kecamatan Dolok Masihul, Kecamatan Sipispis, Kecamatan Bandar Khalipah dan Kecamatan Tebing Tinggi, dimana Kotamadya Tebing Tinggi cenderung sebagai kota pengumpul dan distribusi, sedangkan wilayah belakang sebagai wilayah penyedia.

Kotamadya Tebing Tinggi ini memiliki 3 pasar tradisional besar (Pasar Gambir, Pasar Inpres, dan Pasar Sakti) untuk memasarkan setiap produk pangan.

Pasar tradisional adalah salah satu tempat berlangsungnya aktivitas pemasaran produk peternakan seperti telur ayam ras atau biasa disebut telur ayam Eropa.

Kotamadya Tebing Tinggi menurut BPS Kota Tebing Tinggi (2017) bahwa pada tahun 2010 hingga tahun 2015 Kotamadya Tebing Tinggi tidak memiliki produksi telur ayam ras dikarenakan tidak adanya populasi ayam ras petelur di kota tersebut. Hal inilah yang mengakibatkan para pedagang di Kotamadya Tebing Tinggi mensuplai telur ayam ras dari luar kota untuk

(16)

memenuhi kebutuhan akan konsumsi telur ayam ras bagi masyarakat dengan melakukan kegiatan pemasaran.

Pemasaran telur merupakan proses akhir dari suatu kegiatan usaha peternakan telur ayam ras dimana peternak atau produsen menyampaikan hasil produksinya kepada konsumen dengan bantuan lembaga pemasaran yang terdapat satu atau lebih dari lembaga pemasaran yang terlibat, dimana setiap lembaga pemasaran akan berhubungan dengan lembaga pemasaran lainnya. Peran lembaga pemasaran sangat dibutuhkan oleh produsen agar produk yang dihasilkan oleh produsen cepat sampai ke tangan konsumen. Saluran pemasaran akan terjadi pada saat pedagang melakukan transaksi penjualan dengan berbagai lembaga pemasaran (Pinto, et al, 2016).

Aktifitas pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang paling penting, dimana pada kegiatan ini tujuannya adalah menyalurkan produk berupa telur ayam ras dari peternak sampai ke tangan konsumen akhir yang melibatkan beberapa lembaga pemasaran untuk memudahkan produsen dalam menyalurkan telur. Pemeran penting yang dapat mempengaruhi efisien atau tidaknya suatu pemasaran adalah pihak penentu harga yang menerima harga yang dapat diartikan bahwa orang tersebut adalah sebagai pelaku penting dalam pasar yang dapat mempengaruhi harga telur ayam ras, apabila seorang investor hanya bertindak sendiri maka tetap tidak bisa menentukan harga dari suatu sekuritas sehingga margin pemasaran memiliki nilai tinggi.

Hal ini menyebabkan telur ayam ras memiliki potensi untuk terus dikembangkan dan dipasarkan, sehingga perlu adanya kegiatan pemasaran yang baik untuk memenuhi kebutuhan konsumsi telur ayam ras di wilayah Kotamadya

(17)

Tebing Tinggi. Peneliti merasa perlu melakukan penelitian mengenai “Analisis Pemasaran Telur Ayam Ras di Pasar Tradisional Kotamadya Tebing Tinggi.

Rumusan Masalah

1. Bagaimana karakteristik lembaga-lembaga pemasaran yang telibat dalam pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi?

2. Bagaimana bentuk saluran pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi?

3. Bagaimana analisis pemasaran dilihat dari margin pemasaran, farmer share, rasio keuntungan, dan biaya?

4. Apakah sistem saluran pemasaran telur ayam ras sudah efisien?

Tujuan Penelitian

Mengidentifikasi karakteristik lembaga-lembaga pemasaran telur ayam ras, dan saluran pemasaran telur ayam ras, menganalisis margin pemasaran, farmer share, rasio keuntungan, dan biaya telur ayam ras, serta menganalisis

efisiensi pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi.

Manfaat Penelitian

1. Bahan informasi bagi para pelaku bisnis atau para pedagang mengenai pemasaran telur ayam ras.

2. Bahan informasi bagi pemerintah dalam pengambilan keputusan yang berhubungan dengan usaha pemasaran telur ayam ras.

3. Menjadi literatur untuk penelitian-penelitian yang sejenis.

(18)

TINJAUAN PUSTAKA

Bauran Pemasaran (Marketing Mix)

Bauran pemasaran adalah perangkat pemasaran yang baik meliputi produk, penentuan harga, promosi, dan distribusi digabungkan untuk menghasilkan respon yang diinginkan pasar sasaran (Kotler dan Amstrong, 2012).

Product (Produk)

Product adalah segala sesuatu yang ditawarkan kepada masyarakat untuk

dilihat, dipegang, dibeli atau dikonsumsi. Mengelola unsur produk termasuk perencanaan dan pengembagan produk atau jasa yang tepat untuk dipasarkan (Bagus, 2002). Dalam hal ini produk yang akan diteliti adalah telur ayam ras.

a. Telur Ayam Ras

Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Hampir seluruh kalangan masyarakat dapat mengonsumsi telur ayam ras untuk memenuhi kebutuhan protein hewani. Hal ini karena telur ayam ras relatif murah dan mudah diperoleh serta dapat memenuhi kebutuhan gizi yang diharapkan (Lestari, 2009).

Telur jenis ini diproduksi dari ayam ras petelur yang diternakkan dalam jumlah besar dengan cara budidaya dan pemberian pakan yang modern dan teratur, serta dengan produktivitas telur yang tinggi. Hampir setiap bagian telur mempunyai unsur yang sangat bermanfaat bagi tubuh. Bahan makan ini mengandung protein sekitar 13 persen dan lemak sekitar 12 persen. Sebagian protein (50%) dan semua lemak terdapat pada kuning telur. Disamping itu, telur

(19)

juga mengandung 10 macam asam amio esensial dari 18 macam asam amino yang ada (Sarwono, 1994).

b. Karakteristik Telur Ayam Ras

Telur ayam ras adalah salah satu sumber pangan protein hewani yang populer dan sangat diminati oleh masyarakat. Telur merupakan salah satu bahan pangan yang paling lengkap gizinya. Selain itu, bahan pangan ini juga bersifat serba guna karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Komposisinya terdiri dari 11% kulit telur, 58% putih telur, dan 31% kuning telur. Telur merupakan produk peternakan yang memberikan sumbangan terbesar bagi tercapainya kecukupan gizi masyarakat. Sumber telur konsumsi yang paling mudah diperoleh dan tersedia dalam jumlah yang cukup adalah ayam petelur (layer) (Sudaryani, 2003).

Tabel 1. Komposisi kimia telur ayam ras Komposisi Kimia Telur Utuh

Air (%) 74,0

Protein (%) 12,8

Lemak (%) 11,5

Karbohidrat (%) 0,7

Kalsium (%) 54,0

Fosfor (%) 180,0

Menurut Stadellman (1995), putih telur atau albumen mempunyai proporsi yang tinggi dalam komposisi telur mencapai 60% dari total berat telur. Presentasi putih telur pada ayam dan umur dari telur. Kuning telur merupakan bagian paling penting bagi isi telur, sebab pada bagian inilah terdapat dan tempat tumbuh embrio hewan, khususnya pada telur yang telah dibuahi. Bagian kuning telur ini terbungkus semacam selaput tipis yang sangat kuat dan elastis yang disebut Sumber : Direktorat Gizi Departemen Kesehatan RI (1989).

(20)

membrane vetelina, kuning telur memiliki komposisi gizi yang lebih lengkap daripada putih telur dan terdiri dari air lemak, karbohidrat, mineral dan vitamin.

Price (Harga)

Price sejumlah uang yang konsumen bayar untuk membeli produk atau

mengganti hak milik produk. Harga meliputi last price, discount, payment period, credit terms, dan retail price (Bagus, 2002).

Tabel 2. Daftar harga telur ayam ras tahun 2018 di tingkat pedagang pengecer Kotamadya Tebing Tinggi

Bulan Harga (Rp) Perubahan Harga Hari Sebelumnya

Satuan Januari

Februari

1.250 1.250

- -

Butir Butir

Maret 1.250 - Butir

April 1.300 - Butir

Mei 1.350 - Butir

Juni 1.400 - Butir

Sumber: Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara (2018)

Promotion (Promosi)

Promotion adalah berbagai kegiatan perusahaan untuk mengkomunikasikan dan memperkenalkan produk pada pasar sasaran. Variabel promosi meliputi antara lain sales promotion, advertising, sales force, public relation, personal selling, dan direct marketing (Bagus, 2002).

Pedagang telur ayam ras melakukan promosi dengan berinteraksi secara langsung antara satu atau lebih calon pembeli dengan tujuan melakukan penjualan.

Place (Tempat)

Place merupakan berbagai kegiatan perusahaan untuk membuat produk yang dihasilkan atau dijual terjangkau dan tersedia bagi pasar sasaran (Bagus, 2002).

(21)

a. Pasar

Pasar diartikan sebagai tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi. Pasar memiliki tempat atau lokasi tertentu sehinga memungkinkan pembeli dan penjual bertemu untuk melakukan transaksi jual beli produk baik barang maupun jasa (Kasmir, 2010).

Dalam ilmu ekonomi pasar didefenisikan sebagai besarnya permintaan dan penawaran pada suatu jenis barang atau jasa tertentu. Jadi, pasar merupakan

permintaan dan penawaran secara keseluruhan untuk barang dan jasa tertentu (Ahman dan Rohmana, 2007).

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan transaksi penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual dan pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar menawar. Kebanyakan penjual atau pengelola menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahanbahan makanan berupa ikan, sayuran, buah, telur, daging, kain, pakaian, jasa dan lain-lain (Daryanto, 2010).

b. Pemasaran

Pemasaran adalah suatu proses dan manajerial yang membuat individu atau kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan dengan menciptakan, menawarkan dan mempertukarkan produk yang bernilai kepada pihak lain atau segala kegiatan yang menyangkut penyampaian produk atau jasa mulai dari produsen sampai konsumen (Shinta, 2011).

Menurut Kotler dan Amstrong (1994) pemasaran merupakan suatu proses sosial dan manajerial dengan mana individu dan kelompok memperoleh apa yang

(22)

mereka inginkan dengan cara menciptakan dan mempertukarkan produk dan nilai dengan pihak lain.

c. Fungsi-fungsi Pemasaran

Fungsi dan peranan pemasaran adalah mengusahakan agar pembeli memperoleh barang yang diinginkan pada tempat, waktu, bentuk dan harga yang tepat, sehingga dapat meningkatkan nilai tambah pada barang yang ditawarkan.

Pemasaran mempunyai empat fungsi utama yaitu fungsi pengangkutan, penyimpanan dan pengolahan serta fungsi pembiayaan (Mubyarto, 1989).

Proses pemasaran memiliki fungsi yang harus dilakukan oleh produsen dan pelaku agribisnis. Fungsi-fungsi pemasaran meliputi fungsi pertukaran, fungsi fisik, dan fungsi fasilitas. Fungsi pertukaran adalah tindakan memperlancar pemindahan hak milik barang atau jasa (pembelian dan penjualan). Fungsi fisik adalah tindakan penanganan, pemindahan, dan perubahan fisik komoditi (penyimpanan, transportasi, dan pengolahan). Fungsi fasilitas yaitu mempermudah fungsi pertukaran dan fungsi fisik (penanggungan resiko dan penggolongan) (Kohls dan Uhls, 1985).

Fungsi pertukaran dalam pemasaran meliputi kegiatan yang menyangkut pengalihan kepemilikan dalam sistem pemasaran. Fungsi pertukaran ini terdiri dari fungsi penjualan dan pembelian. Fungsi fisik meliputi kegiatan-kegiatan yang secara langsung diperlakukan terhadap komoditi, sehingga komoditi tersebut mengalami tambahan guna tempat dan guna waktu. Berdasarkan definisi fungsi fisik di atas, maka fungsi fisik ini meliputi pengangkutan dan penyimpanan.

Fungsi penyedia fasilitas, pada hakekatnya adalah untuk memperlancar fungsi

(23)

pertukaran dan fungsi fisik, meliputi standarisasi, penanggungan resiko, informasi harga, dan penyediaan dana (Sudiyono, 2002).

d. Distribusi Produk dari Produsen ke Konsumen

Distribusi memegang peranan penting dalam kehidupan sehari-hari dalam masyarakat. Dengan adanya saluran distribusi yang baik dapat menjamin ketersediaan produk yang dibutuhkan oleh masyarakat. Tanpa ada distribusi produsen akan kesulitan untuk memasarkan produknya dan konsumen pun harus bersusah payah mengejar produsen untuk dapat menikmati produknya. Menurut Warren J. Keegan (2003) Saluran Distribusi adalah saluran yang digunakan oleh produsen untuk menyalurkan barang tersebut dari produsen sampai ke konsumen atau pemakai industri.

Keputusan mengenai saluran distribusi dalam pemasaran adalah merupakan salah satu keputusan yang paling kritis yang dihadapi manajemen.

Saluran yang dipilih akan mempengaruhi seluruh keputusan pemasaran yang lainnya. Dalam rangka untuk menyalurkan barang dan jasa dari produsen kepada konsumen maka perusahaan harus benar-benar memilih atau menyeleksi saluran distribusi yang akan digunakan, sebab kesalahan dalam pemilihan saluran distribusi ini dapat menghambat bahkan dapat memacetkan usaha menyalurkan barang atau jasa tersebut (Nainggolan, 2017).

Kotler dan Keller (2007), membagi saluran distribusi produk atas empat jalur, yaitu:

1.) Produsen Konsumen

(24)

Bentuk saluran ini adalah bentuk yang paling pendek dan sederhana sebab tanpa menggunakan perantara. Produsen dapat menjual barang yang dihasilkan melalui pos atau langsung mendatangi rumah konsumen.

2.) Produsen Pengecer Konsumen

Dalam saluran distribusi ini produsen menginginkan suatu lembaga lain, maksudnya dalam hal ini pengecer yang menyampaikan produknya ke konsumen, di mana penegecer langsung membeli produk tanpa melalui pedagang besar dan menjualnya kembali kepada konsumen.

3.) Produsen Pedagang Besar Pengecer Konsumen

Jenis saluran distribusi ini dilaksanakan oleh produsen yang tidak ingin menjual secara langsung tetapi menginginkan suatu lembaga guna menyalurkan produknya, sehingga dalam hal ini produsen menjual kepada pedagang besar saja. Kemudian para pedagang besarlah yang menjual kembali kepada pengecer dan meneruskannya ke tangan konsumen. Jadi disini produsen hanya berhubungan dengan pedagang besar.

4.) Produsen Agen Pedagang Besar Pengecer Konsumen

Jenis saluran distribusi lainnya yang sering dipakai para produsen adalah dengan melibatkan agen di dalamnya. Disini agen fungsinya adalah sebagai penyalur yang kemudian mengatur sistem penjualannya kepada saluran pedagang besar selanjutnya kepada pengecer dan kemudian sampai ke tangan konsumen.

5.) Produsen Agen Pengecer Konsumen

(25)

Dalam saluran distribusi ini produsen memilih agen yang akan dipertemukan produsen untuk menjalankan kegiatan penjualan kepada pengecer dan selanjutnya pengecer kepada konsumen.

Semakin banyak lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran maka marjin pemasaran akan semakin besar. Semakin panjang tata niaga semakin besar pula marjin pemasaran, dan akan mengindikasikan saluran pemasaran tersebut semakin tidak efisien, sedangkan bila jumlah marjin pemasaran semakin kecil semakin efisien saluran pemasaran yang ada (Daniel, 2002).

Margin Pemasaran

Menurut Nainggolan (2017) margin pemasaran adalah perbedaan harga yang diterima oleh peternak penghasil dengan harga yang dibayarkan oleh konsumen akhir. Marjin pemasaran sebagai perbedaan antara harga dibayarkan oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima oleh lembaga pemasaran dan (biaya dari jasa-jasa pemasaran yang dibutuhkan sebagai akibat permintaan dan penawaran jasa-jasa pemasaran. Biaya dari jasa-jasa tersebut terdiri atas biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran yang terlibat dalam melakukan fungsi pemasaran dan keuntungan yang diperoleh sebagai imbalan jasa melakukan fungsi pemasaran tersebut. Jadi komponen marjin pemasaran terdiri atas biaya pemasaran dan keuntungan pemasaran, sehingga secara sistematis margin dapat ditulis sebagai berikut :

Marjin Pemasaran = Harga konsumen – Harga produsen

(26)

Efisiensi Pemasaran

Efisiensi pemasaran adalah nisbah antara total biaya dengan total nilai produk yang dipasarkan (Soekartawi, 1989). Dapat dirumuskan dengan :

Efisiensi Pemasaran = Total Biaya Pemasaran x 100 % Total Harga Produk

Dalam perhitungan total biaya transportasi dilakukan dengan menghitung rata-rata transportasi yang dikeluarkan kemudian dibagi dengan rata-rata volume pembelian. Untuk perhitungan total biaya produk dilakukan dengan menghitung marjin pemasaran kemudian ditambahkan dengan harga jual produsen.

Masalah pemasaran komoditi pertanian pada dasarnya adalah bagaimana menyalurkan produk-produk pertanian dari produsen kepada konsumen dengan harga yang wajar dan biaya pemasaran minimal. Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efisiensi pemasarannya adalah < 1.

(27)

Kerangka Pemikiran

Gambar 1. Bagan Kerangka Pemikiran Analisis Pemasaran Telur

Ayam Ras

Peternak/Produsen Lembaga Pemasaran

• Pedagang Pengumpul

• Pedagang Besar

• Pedagang Pengecer

Konsumen

Analisis Kualitatif

• Karakteristik

Lembaga Pemasaran

• Saluran Pemasaran

Analisis Kuantitatif

• Efisiensi Pemasaran

• Margin Pemasaran

• Share Biaya dan Keuntungan

• Farmer’s Share

• Rasio Keuntungan

(28)

METODE PENELITIAN

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilakukan di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi, provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Juli sampai Agustus 2018.

Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei dengan responden pedagang pengecer yang menjual telur ayam ras di pasar tradisional, pedagang pengumpul, dan peternak. Survei adalah metode pengumpulan data primer dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan kepada responden individu dalam bentuk kuesioner (Erlina, 2011).

Metode Penentuan Daerah Penelitian

Daerah penelitian kajian pemasaran telur ayam ras yaitu Kotamadya Tebing Tinggi, dimana daerah ini merupakan salah satu tempat pemasaran telur ayam ras yang ada di Sumatera Utara. Lokasi penelitian ditentukan secara purposive (sengaja) di beberapa pasar tradisional yang ada di Kotamadya Tebing

Tinggi. Pasar tradisional yang dipilih sebagai lokasi penelitian adalah Pasar Gambir di Kecamatan Padang Hulu, Pasar Sakti di Kecamatan Bajenis, dan Pasar Inpres di Kecamatan Tebing Tinggi Kota. Alasan memilih ketiga pasar tradisional tersebut sebagai lokasi penelitian dikarenakan ketiga pasar tradisional tersebut menjual komoditi yang akan diteliti dan merupakan pasar besar di Kotamadya Tebing Tinggi.

(29)

Tabel 3. Pasar tradisional di Kotamadya Tebing Tinggi

Pasar Tradisional Daerah

Pasar Inpres Kec. Tebing Tinggi Kota

Pasar Gambir Kec. Padang Hulu

Pasar Kain Kec. Padang Hulu

Pasar Sakti Kec. Bajenis

Pasar Baru Kec. Bajenis

Sumber: Dinas Perdagangan Kota Tebing Tinggi (2017)

Kotamadya Tebing Tinggi memiliki 5 pasar tradisional yaitu pasar Inpres, pasar Gambir, pasar Kain, pasar Sakti, dan pasar Baru. Diantara kelima pasar tradisional tersebut hanya ada 3 pasar tradisional yang menjual komoditi yang diteliti, sementara 2 pasar lainnya hanya menjual berbagai jenis barang tekstil seperti kain-kain dan pakaian.

Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah semua lembaga-lembaga pemasaran yang terlibat pada pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi, seperti pedagang pengecer telur ayam ras di pasar tradisional, pedagang besar, agen, dan peternak/produsen.

Penentuan jumlah responden pedagang telur ayam ras dapat ditentukan dengan rumus Slovin dalam Umar (2001) sebagai berikut :

N

n =

1 + N (e)2 Dimana :

n = Jumlah Sampel N = Jumlah Populasi

e = Tingkat Kelonggaran (5%)

(30)

Sedangkan peternak/produsen dan lembaga pemasaran lainnya seperti pedagang besar dan agen ditentukan dengan snowball sampling dengan cara mengikuti aliran pemasaran berdasarkan informasi yang didapatkan dari pedagang pengecer telur sebelumnya.

Metode Pengumpulan Data

Data primer dan sekunder dikumpulkan pada saat penelitian berlangsung.

Data-data primer dikumpulkan dengan menggunakan teknik observasi langsung dan wawancara dengan responden menggunakan angket atau kuisioner. Data-data sekunder dikumpulkan dari data BPS (Badan Pusat Statistik) Kota Tebing Tinggi dan dari instansi lain yang terkait dengan penelitian serta dari literatur, buku atau jurnal.

Metode Analisis Data

Data yang diperoleh dalam penelitian ini diolah secara kualitatif dan kuantitatif, dan disajikan dalam bentuk uraian dan tabulasi angka. Pengolahan data dilakukan dengan metode deskriptif.

Analisis kualitatif digunakan untuk mengetahui karakteristik lembaga pemasaran, dan saluran pemasaran telur ayam ras.

1. Analisis margin pemasaran.

Menurut Soekartawi (1995), untuk mencari margin pemasaran dapat digunakan rumus :

Mp = Pr - Pf Keterangan:

MP : Margin pemasaran (Rp/kg)

Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/kg) Pf : Harga di tingkat peternak (Rp/kg)

(31)

Pf Pr

x 100 % Kpi

(Pr – Pf) Kbi (Pr – Pf) 2. Analisis Farmer’s Share yang diterima produsen

Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari share harga yang diterima produsen dapat digunakan rumus :

Spf = Keterangan :

Spf : Farmer’s Share (%)

Pr : Harga di tingkat konsumen (Rp/kg) Pf : Harga di tingkat peternak (Rp/kg)

3. Analisis share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran Menurut Sudiyono (2002), untuk mencari share biaya pemasaran dan share keuntungan lembaga pemasaran dapat digunakan rumus :

Ski =

Sbi = Keterangan :

Ski : Share keuntungan lembaga pemasaran ke-i (i = 1) (Rp/kg) Kpi : keuntungan lembaga pemasaran ke-i (Rp/kg)

Sbi : Share biaya pemasaran ke-i (Rp/kg) Kpi : biaya pemasaran ke-i (Rp/kg) Pr : harga di tingkat konsumen (Rp/kg) Pf : harga di tingkat produsen (Rp/kg) 4. Efisiensi Pemasaran

Efisiensi Pemasaran = Total Biaya Pemasaran Total Harga Produk

x 100 % x 100 %

x 100 %

(32)

Menurut Downey dan Erickson (1992) bahwa sistem pemasaran dikatakan efisien kalau nilai efisiensi pemasarannya adalah < 1.

Tolak ukur yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan melihat perbandingan share keuntungan dari masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dalam proses pemasaran dibandingkan dengan biaya pemasaran dari masing-masing lembaga pemasaran yang terlibat dengan kriteria sebagai berikut :

1. Margin pemasaran

Pemasaran dikatakan efisien apabila margin pemasaran peternak lebih besar dari margin pemasaran yang dierima oleh lembaga pemasaran secara keseluruhan dan sebaliknya.

2. Berdasarkan share biaya dan share keuntungan

Pemasaran dikatakan efisien jika share keuntungan > dari share biaya dan sebaliknya.

3. Berdasarkan farmer’s share

Dikatakan efisien jika farmer’s share > 50 %. Nilai farmer’s share memiliki hubungan negatif dengan margin pemasaran artinya semakin tinggi margin pemasaran maka farmer’s share semakin rendah.

4. Rasio keuntungan biaya

Dikatakan efisien jika rasio keuntungan biaya > 1 dan sebaliknya Definisi dan Batasan Operasional

Untuk menghindari kekeliruan dan kesalahpahaman dalam menafsirkan penelitian, maka dibuat definisi dan batasan operasional sebagai berikut :

(33)

Defenisi

1. Telur ayam ras adalah telur yang diproduksi dari ayam ras petelur yang diternakkan dalam jumlah besar dengan cara budidaya dan pemberian pakan yang modern dan teratur, serta dengan produktivitas telur yang tinggi.

2. Produsen/Peternak adalah orang yang menghasilkan produk telur ayam ras dan terlibat dalam saluran pemasaran telur ayam ras

3. Pedagang pengumpul adalah lembaga pemasaran yang membeli telur ayam ras dari peternak dan menjual nya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu.

4. Pedagang pengecer adalah lembaga pemasaran yang membeli telur ayam ras dari pedagang pengumpul, pedagang besar dan menjual nya kembali dengan tingkat keuntungan tertentu.

5. Konsumen akhir adalah seseorang atau kelompok yang membeli telur ayam ras dari pedagang telur ayam ras untuk dikonsumsi.

6. Pemasaran adalah kegiatan ekonomi yang berfungsi menyampaikan barang dari produsen ke konsumen melalui perantara atau lembaga pemasaran.

7. Lembaga pemasaran adalah orang atau badan usaha yang terlibat dalam proses pemasaran telur ayam ras di Kotamadya Tebing Tinggi.

8. Saluran pemasaran adalah penjualan barang-barang dan volume arus barang pada setiap saluran dari peternak/produsen ke konsumen.

9. Margin pemasaran adalah selisih harga jual telur ayam ke lembaga pemasaran berikutnya dengan harga beli dari lembaga pemasaran sebelumnya.

10. Harga jual peternak (Rp/butir) adalah harga rata-rata produk per butir yang diterima peternak.

(34)

11. Harga beli ditingkat pedagang (Rp/Butir) adalah harga rata-rata produk per butir yang dibeli dari peternak atau dari pedagang perantara sebelumnya.

12. Farmer’s share adalah persentase harga telur ayam yang diterima oleh peternak yaitu dengan membandingkan harga telur ayam dari peternak dengan harga beli telur ayam pada konsumen akhir dikalikan 100%.

13. Efisiensi pemasaran adalah suatu ukuran dimana pembagian antar biaya yang dikeluarkan untuk memasarkan tiap unit produk dengan harga produk yang dipasarkan dan dinyatakan dalam persen.

Batasan operasional

1. Penelitian dilakukan di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi dan lokasi asal telur ayam ras yang diperjual belikan.

2. Penelitian dilakukan mulai bulan Juli – Agustus 2018

3. Objek penelitian adalah lembaga-lembaga pemasaran telur ayam ras yang terlibat dalam pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi.

4. Ruang lingkup penelitian ini adalah analisis pemasaran telur ayam ras di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi. Analisis pemasaran dilakukan dengan melihat lembaga dan saluran pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis farmer’s share, share biaya pemasaran, dan share keuntungan, serta menganalisis efisiensi pemasaran.

(35)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Letak dan Keadaan Geografis Kotamadya Tebing Tinggi

Kotamadya Tebing Tinggi berada pada jalur transportasi regional yang menghubungkan Kota Medan dengan daerah Kabupaten/Kota lainnya di Sumatera Utara. Wilayah administrasi Kotamadya Tebing Tinggi berjarak lebih kurang 80 km dari Kota Medan, diapit oleh empat perkebunan besar, yaitu PTPN III Rambutan di sebelah Utara, PT. Socfindo Kebun Tanah Besi di sebelah Timur, PTPN III Kebun Pabatu di sebelah Selatan, dan PTPN III Kebun Bandar Bejambu di sebelah Barat.

Kotamadya Tebing Tinggi merupakan salah satu dari delapan kota yang ada di Provinsi Sumatera Utara, letaknya berada di bagian tengah kecamatan Tebing Tinggi kabupaten Serdang Bedagai. Kotamadya Tebing Tinggi memiliki luas 38,438 km² dan yang terletak pada daerah dataran rendah Pulau Sumatera

dengan ketinggian 18 – 34 meter di atas permukaan laut (BPS Kota Tebing Tinggi, 2016).

Letak astronomi Kotamadya Tebing Tinggi antara 3⁰ 19’00” - 3⁰ 21’00”

Lintang Utara dan 98⁰11’ - 98⁰21’ Bujur Timur. Luas wilayah Kotamadya Tebing Tinggi sebesar 0,05 persen dari luas wilayah provinsi Sumatera Utara. Curah hujan tertinggi di Kotamadya Tebing Tinggi tahun 2016 tercatat 229 mm dan hari hujan sebanyak 14 hari. Waktu dengan curah hujan terendah terjadi pada bulan Mei dengan curah hujan 1 mm (BPS Kota Tebing Tinggi, 2016).

(36)

Sejak otonomi daerah tahun 2001, Kotamadya Tebing Tinggi mengalami perubahan yang diakibatkan karena pemekaran. Pemekaran Kotamadya Tebing Tinggi terbentuk berdasarkan Peraturan Daerah Kotamadya Tebing Tinggi Nomor 15 Tahun 2006 tanggal 9 November 2006. Jumlah kecamatan bertambah dari tiga kecamatan menjadi lima kecamatan dan jumlah kelurahan bertambah dari 27 kelurahan menjadi 35 kelurahan.

Jumlah penduduk Kotamadya Tebing Tinggi mencapai 158.902 jiwa yang terdiri dari 78.582 laki-laki dan 80.320 perempuan.

Tabel 4. Jumlah penduduk Kotamadya Tebing Tinggi per kecamatan menurut jenis kelamin

Kecamatan Jenis Kelamin Rasio Jenis

Kelamin Laki-Laki Perempuan Jumlah

1. Padang Hulu 14.594 14.933 29.482 97,43

2. Tebing Tinggi Kota 12.218 12.854 25.072 95,05

3. Rambutan 17.182 17.752 34.934 96,79

4. Bajenis 18.154 18.359 36.513 98,88

5. Padang Hilir 16.479 16.422 32.901 100,35

Kota Tebing Tinggi 78 582 80 320 158 902 97,84 Sumber: Badan Pusat Statistik Kota Tebing Tinggi 2017

Lokasi Penelitian a. Pasar Inpres

Pasar Inpres merupakan salah satu pasar yang ada di Kotamadya Tebing Tinggi. Pasar ini terletak di Kecamatan Tebing Tinggi Kota, pasar ini terletak di sebelah sungai. Luas pasar ini yaitu 25.000 m². Dikelola oleh Perusahaan Daerah Tebing Tinggi Kota. Pasar ini berdiri pada tahun 1997 sebagai tempat bertransaksi ekonomi masayarakat kecamatan Tebing Tinggi Kota. Pasar ini tidak memiliki gedung dengan beberapa lantai, tetapi hanya berupa kios-kios kecil yang yang menjual berbagai kebutuhan pokok.

(37)

b. Pasar Sakti

Pasar Sakti berdiri pada tahun 1977 yang merupakan Pasar Daerah yang dikelola oleh Pemko Tebing Tinggi. Pasar ini terletak di jalan F. Tandean Kelurahan Bandar Sakti, Kecamatan Bajenis, Kotamadya Tebing Tinggi. Pasar ini memiliki bangunan yang terdiri dari beberapa kios/stan. Ada bebrapa pedagang yang berjualan dengan menggunakan tenda disekitar bangunan pasar yang ada.

Pasar ini memiliki luas ± 30.000 m².

c. Pasar Gambir

Pasar ini berdiri dari tahun 1970, dimana rata-rata pedagang yang berjualan merupakan suku Thionghoa, sehingga dulunya pasar ini dikenal dengan nama Pasar Thionghoa. Pasar ini terletak ini di jalan Iskandar Muda kecamatan Padang Hulu. Bangunan berlantai tiga terdiri dari Pasar Gambir A, B, dan C, tetapi masih banyak pedagang yang berjualan di badan jalan sehingga membuat macet arus lalu lintas. Pasar Gambir dikelola oleh Dinas Pendapatan dan Dinas Kouperindag Pemerintah Kota Tebing Tinggi.

Pedagang Pengecer Telur Ayam Ras

Pedagang pengecer telur ayam ras yang terdapat di pasar tradisional memperoleh telur ayam ras dari luar kota untuk memenuhi kebutuhan akan konsumsi telur. Di pasar Sakti ada 11 pedagang pengecer telur ayam ras yang setiap harinya melakukan kegiatan pemasaran telur ayam ras, pedagang pengecer telur ayam ras di pasar Gambir sebanyak 18 orang, sementara pedagang pengecer di pasar Inpres sebanyak 6 orang yang menjual telur ayam ras.

(38)

Profil Responden

Karakteristik Pedagang Pengecer

Dalam menyampaikan komoditi telur dari produsen hingga ke tangan konsumen akan melalui beberapa lembaga pemasaran. Dalam penelitan ini terdapat 35 orang responden pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi. Masing-masing pedagang pengecer dari ketiga pasar tradisional yang terlibat memiliki sifat yang berpengaruh pada aktivitas pemasaran yang dilakukan. Karakteristik pedagang pengecer yang meliputi jenis kelamin, umur, tingkat pendidikan, dan pengalaman berdagang.

a. Jenis Kelamin Pedagang Pengecer

Tabel 5. Jenis kelamin pedagang pengecer responden

Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %

Pria 19 54,28

Wanita 16 45,71

Total 35 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Responden pedagang pengecer berjumlah 35 orang yang terdiri dari 19 orang pria (54,28%) dan 16 orang wanita (45,71%). Banyaknya jumlah pria daripada wanita yang berkaitan dengan aktivitas fisik seperti pemesanan dan pengangkutan yang dilakukan pedagang dengan tenaga yang lebih besar. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Fachri (2017) yang menyatakan bahwa banyaknya jumlah pedagang yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan berkaitan dengan aktivitas fisik seperti pemesanan, pengangkutan dan pemotongan yang dilakukan pedagang memerlukan waktu dan tenaga yang lebih besar.

(39)

b. Usia Pedagang Pengecer

Responden pedagang pengecer yang berjumlah 35 orang terdiri dari laki- laki dan perempuan. Rata-rata umur responden adalah berumur 38 tahun dengan pedagang termuda adalah berumur 20 tahun dan pedagang yang tertua adalah berumur 54 tahun. Ini mengindikasikan bahwa pedagang responden yang dipilih masih berusia produktif (36-50 tahun) dan masih memungkinkan untuk mengembangkan usaha pada waktu yang lama.

Tabel 6. Usia pedagang responden

Kelompok Umur Jumlah Pedagang

(orang) %

< 35 12 34,28

36-50 22 62,85

> 51 1 2,85

Total 35 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Pedagang responden pada umur produktif yaitu pada umur 36-50 tahun adalah sebanyak 22 orang (62,85%) dan pedagang dengan umur dibawah 35 tahun adalah sebanyak 12 orang (34,28%), sementara itu pada tingkat umur lebih besar dari 51 tahun adalah sebanyak 1 orang (2,85%). Hal ini mengindikasikan bahwa pedagang sebagian besar termasuk dalam umur yang produktif dan sudah cukup berpengalaman.

c. Tingkat Pendidikan Pedagang Pengecer

Pada tabel 7 menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 5 orang (14,28%) responden tamat SMP, sebanyak 26 orang (74,28%) responden tamat SMA/SLTA, 3 orang (8,57%) responden tamat dari D3, dan 1 orang (2,85%) responden tamat dari S1 perguruan tinggi. Hal ini menunjukkan sebagian besar dari pedagang pengecer responden memiliki tingkat

(40)

pendidikan yang cukup tinggi (di atas SLTA). Tingkat pendidikan menentukan kecekatan dalam penyerapan informasi di pasar.

Tabel 7. Tingkat pendidikan formal pedagang pengecer Tingkat Pendidikan Jumlah Pedagang

(orang)

%

SMP 5 14,28

SMA/SLTA 26 74,28

D3 3 8,57

S1 1 2,85

Total 35 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018) d. Pengalaman Usaha

Pada Tabel 8 menunjukkan bahwa pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha lebih kecil dari 10 tahun adalah sebesar 17 orang (48,57%), dan pengalaman berusaha 10-20 tahun adalah sebesar 18 orang (51,42). Jadi hal ini menunjukkan bahwa pedagang relatif sudah berpengalaman di atas 10 tahun.

Tabel 8. Pengalaman usaha pedagang pengecer Pengalaman Usaha

(tahun)

Jumlah Pedagang (orang)

%

< 10 17 48,57

10-20 18 51,42

Total 35 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Adanya pedagang responden yang memiliki pengalaman berusaha di atas 10 tahun menunjukkan bahwa pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaran telur ayam ras karena membutuhkan pengetahuan dan informasi mengenai pemasaran telur ayam ras dan juga membutuhkan relasi. Dari pengalaman berusaha ini terlihat bahwa umumnya setiap pelaku pasar membangun hubungan kerja yang didasarkan atas kepercayaan dan lamanya hubungan kerja yang terjalin diantara sesama pedagang. Semakin lama dia

(41)

berusaha maka akan semakin mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari pihak pelaku pasar yang lain.

Karakteristik Agen

Agen telur ayam ras dalam penelitian ini adalah pedagang yang berperan sebagai penyalur telur ayam ras dari peternak hingga sampai ke pedagang pengecer. Agen yang terlibat dalam pemasaran telur ayam ras ini adalah sebanyak 2 orang.

a. Jenis Kelamin Agen

Tabel 9. Jenis kelamin agen telur ayam ras

Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %

Pria 2 100

Wanita - -

Total 2 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel 9, agen yang mengangkut telur ayam ras dari Kecamatan Pantai Labu menuju Kotamadya Tebing Tinggi 100% berjenis kelamin pria. Hal ini disebabkan pengangkutan telur ayam ras hendaklah menggunakan tenaga yang maksimal dan menggunakan kecekatan dalam hal fisik untuk mengurangi resiko dalam hal kerusakan produk pada masa pengangkutan.

b. Umur Agen

Tabel 10. Umur agen telur ayam ras

Kelompok Umur Jumlah Agen (orang) %

< 35 - -

36-50 2 100

> 51 - -

Total 2 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel di atas agen telur ayam ras yang berjumlah 2 orang, termasuk dalam golongan umur yang masih produktif (36-50 tahun) dan masih

(42)

dalam kondisi yang bugar untuk melakukan proses pengangkutan telur ayam ras ke Kotamadya Tebing Tinggi.

c. Tingkat Pendidikan Agen

Tabel 11. Tingkat pendidikan formal agen Tingkat Pendidikan Jumlah Agen

(orang)

%

SMP - -

SMA/SLTA 2 100

D3 - -

S1 - -

Total 2 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel 11, menunjukkan tingkat pendidikan dalam bentuk jumlah dan persentasi sebanyak 2 orang (100%) agen tamat SMA. Hal ini menunjukkan bahwa agen telur ayam ras memiliki tingkat pendidikan yang cukup tinggi. Tingkat pendidikan menentukan kecekatan dalam penyerapan informasi dalam memasarkan telur ayam ras yang diperoleh dari peternak.

d. Pengalaman Usaha Agen

Tabel 12. Pengalaman usaha agen telur ayam ras Pengalaman Usaha

(tahun)

Jumlah Agen (orang)

%

< 10 - -

10-20 1 50

>20 1 50

Total 2 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel di atas, bahwa masing-masing agen dengan pengalam usaha antara 10-20 tahun dan > 20 tahun sebesar 50%. Jadi hal ini menunjukkan bahwa agen relatif sudah berpengalaman di atas 10 tahun. Pengalaman berusaha sangat dibutuhkan oleh pelaku pemasaran telur ayam ras karena membutuhkan pengetahuan dan informasi mengenai pemasaran telur ayam ras dan juga membutuhkan relasi. Dari pengalaman berusaha ini terlihat bahwa umumnya

(43)

setiap pelaku pasar membangun hubungan kerja yang didasarkan atas kepercayaan dan lamanya hubungan kerja yang terjalin diantara sesama pedagang.

Karakteristik Peternak

Peternak responden dalam penelitian ini berasal dari luar Kotamadya Tebing Tinggi yaitu di Kecamatan Pantai Labu. Peternak dari Kecamatan Pantai Labu berjumlah 3 orang.

a. Jenis Kelamin Peternak

Tabel 13. Jenis Kelamin Peternak

Jenis Kelamin Jumlah Pedagang (orang) %

Pria 2 66,66

Wanita 1 33,33

Total 3 100

Sumber: Hasil Survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel 13, bahwa sebanyak 66,66% peternak (2 orang) berjenis kelamin pria, sedangkan 33,33% peternak (1 orang) berjenis kelamin wanita. Hal ini menunjukkan bahwa peternak berjenis kelamin pria lebih unggul dalam hal tenaga fisik yang berhubungan dengan proses produksi telur ayam dan dalam hal pengangkutan telur untuk dipasarkan.

b. Umur Peternak

Tabel 14. Umur peternak

Kelompok Umur Jumlah Peternak (orang) %

21-30 - -

31-40 - -

41-50 1 33,3

51-60 1 33,3

>60 1 33,3

Jumlah 3 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel di atas persentase kelompok umur 41 - 50, 51 - 60, dan

> 60 tahun adalah sebesar 33,3%. Hal ini menunjukkan bahwa umur peternak

(44)

tersebut dikatakan produktif (15-64 tahun) yang artinya tidak ada batasan umur dalam beternak ayam ras petelur. Jumlah ternak yang diusahakan merupakan skala peternakan yang besar dengan populasi 20.000 – 200.000 ekor.

c. Tingkat Pendidikan Peternak Tabel 15. Tingkat pendidikan peternak

Tingkat Pendidikan Jumlah

Peternak (orang) %

Tamat SMP - -

Tamat SMA 2 66,6

Tamat S1 1 33,3

Total 3 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Berdasarkan tabel tingkat pendidikan peternak paling banyak adalah tamatan SMA yaitu sebanyak 2 orang (66,6%), dan diikuti dengan pendidikan S1 yaitu 1 orang (33,3%). Hal ini mengindikasikan dengan tingginya pendidikan peternak, tingkat penerimaan mereka terhadap informasi mengenai telur ayam ras adalah cepat.

d. Pengalaman Beternak Tabel 16. Pengalaman beternak

Pengalaman Jumlah Peternak (orang) %

<15 tahun - -

>15 tahun 3 100

Total 3 100

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Pada tabel 16 di atas dapat diketahui bahwa karakteristik peternak responden berdasarkan pengalaman usaha beternak menunjukkan bahwa 100%

peternak responden memiliki pengalaman lebih besar dari 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa peternak ayam ras sudah memiliki banyak pengalaman beternak ayam ras, sehingga dapat menjalankan usaha dengan manajemen yang baik untuk hasil yang maksimal.

(45)

Lembaga Pemasaran

Kotamadya Tebing Tinggi tidak memproduksi telur ayam ras dikarenakan tidak adanya peternakan ayam ras di daerah ini. Untuk memenuhi telur kebutuhan akan konsumsi telur ayam ras di Kotamadya Tebing ini, telur ayam ras didatangkan dari luar daerah yaitu Kecamatan Pantai Labu dari Kabupaten Deli Serdang. Jadi, pemasaran telur ayam ras dalam jumlah besar berasal dari luar kota.

Dalam penelitian ini pedagang pengecer yang dipilih sebagai sampel adalah pedagang yang berada di Pasar Gambir, Pasar Sakti, dan Pasar Inpres yang ada di Kotamadya Tebing Tinggi. Pedagang pengecer pasar Gambir dan pasar Sakti memperoleh telur dari agen, sedangkan pedagang pengecer pasar Inpres memperoleh telur dari peternak di Kecamatan Pantai Labu secara langsung.

Frekuensi pembelian telur ayam ras oleh pedagang pengecer di pasar Sakti sebanyak dua kali dalam seminggu, dengan jumlah telur yang masuk sebanyak 24.300 butir telur ayam ras dengan harga jual rata-rata Rp. 1.309,-/butir.

Frekuensi pembelian telur ayam ras oleh pedagang di pasar Gambir sebanyak empat kali dalam seminggu, dengan jumlah telur yang masuk sebanyak 71.700 butir/minggu dengan harga jual rata-rata Rp. 1.337,-/butir. Sedangakan frekuensi pembelian telur para pedagang pengecer di pasar Inpres sebanyak dua kali dalam seminggu dengan jumlah telur yang masuk ke pasar sebanyak 15.900 butir dengan harga jual rata-rata Rp. 1.328,-/butir.

Pedagang pengumpul atau agen adalah lembaga pemasaran yang bertindak membeli telur ayam ras dari peternak dan menjual ke pedagang pengecer.

Pedagang pengumpul atau agen dalam penelitian ini adalah sebanyak 2 orang yang membeli telur dari peternak langung. Agen mengambil telur dari peternak

(46)

yang berada di Kecamatan Pantai Labu dengan menggunakan Pick up. Agen yang menjual telur di pasar Sakti melakukan pengangkutan sebanyak dua kali dalam seminggu dengan jumlah telur yang dijual sebanyak 48.000 butir dengan harga jual Rp. 1.180,-/butir, tidak semua telur yang diangkut dalam pick up masuk ke pasar Sakti, sebagian lagi telur dijual ke daerah lain. Sementara agen yang menjual telur ayam ras ke pasar Gambir melakukan pengangkutan dengan pick up sebanyak empat kali dalam seminggu, jumlah telur yang diangkut sebanyak 96.000 butir dengan harga jual Rp. 1.200,-/butir, telur yang diangkut tidak semua dijual di pasar ini, karen sebagian lagi dijual ke pengecer kecil di luar pasar Gambir.

Telur ayam yang diperjual belikan di pasar tradisional Kotamadya Tebing Tinggi berasal dari peternak ayam ras petelur di Kecamatan Pantai Labu. Peternak adalah produsen dari telur ayam ras yang memasarkan atau menjual telur ke pedagang pengumpul atau agen. Peternak langsung menjual telur tanpa melakukan penyortiran. Peternak ayam ras petelur menjual telur rata-rata Rp.

1.000/butir. Jumlah responden peternak adalah sebesar 3 orang di Kecamatan Pantai Labu. Jadi peternak skala usaha menengah dan besar berada di Kecamatan Pantai Labu dan merekalah yang mensuplai sebagian besar kebutuhan telur.

Dalam penelitian ini tergambar bahwa masing-masing peternak sudah mempunyai langganan sendiri. Hasil penelitian menunjukkan telur yang berasal dari peternak- peternak di Kecamatan Pantai Labu dibeli oleh pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan telur di luar kota seperti Kotamadya Tebing Tinggi.

Pedagang pengumpul membeli telur dari peternak dan menjualnya ke pedagang pengecer di Kotamadya Tebing Tinggi.

(47)

Konsumen merupakan pihak terakhir di dalam saluran pemasaran telur ayam ras yang terdiri dari dua jenis yaitu konsumen yang mengkonsumsi langsung dan konsumen yang membeli telur untuk dijual kembali setelah diolah (penjual makanan, penjual kue, dll).

Jumlah responden peternak adalah sebesar 3 orang di Kecamatan Pantai Labu. Jadi peternak skala usaha menengah dan besar berada di Kecamatan Pantai Labu dan merekalah yang mensuplai sebagian esar kebutuhan telur. Dalam penelitian ini tergambar bahwa masing-masing peternak sudah mempunyai langganan sendiri. Hasil penelitian menunjukkan telur yang berasal dari peternak- peternak di Kecamatan Pantai Labu dibeli oleh pedagang pengumpul untuk memenuhi kebutuhan telur di luar kota seperti Kotamadya Tebing Tinggi.

Pedagang pengumpul membeli telur dari peternak dan menjualnya ke pedagang pengecer di Kotamadya Tebing Tinggi.

Pedagang pengecer adalah pedagang yang langsung berhubungan dengan konsumen telur ayam ras di Kotamadya Tebing Tinggi. Pedagang pengecer adalam penelitian ini adalah sebanyak 35 orang di pasar tradisional. Pedagang pengecer di pasar tradional berada di Pasar Gambir, Pasar Sakti, dan Pasar Inpres.

Pengecer menjual ke konsumen, rumah makan, penjual burger, penjual kue, bakso, dll.

Saluran Pemasaran

Dalam kegiatan pemasaran terdapat lembaga pemasaran yang merupakan lembaga perantara yang menghubungkan produsen ke konsumen dalam menyampaikan hasil produksi:

(48)

Saluran Pemasaran I

Gambar 2. Skema Saluran Pemasaran I

Berdasarkan gambar di atas adalah jenis pemasaran yang termasuk saluran pemasaran satu tingkat karena saluran ini hanya menggunakan satu lembaga perantara yaitu pedagang pengecer. Peternak telur ayam ras pada saluran ini berasal dari Kecamatan Pantai Labu yang memproduksi telur dalam skala kecil dan menjualnya langsung ke pedagang pengecer di pasar dengan menggunakan pick up.

Saluran Pemasaran II

Gambar 3. Skema Saluran Pemasaran II

Berdasarkan gambar di atas saluran pemasaran kedua merupakan saluran pemasaran dua tingkat karena pemasaran telur dari peternak ke konsumen melalui 2 lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul atau agen dan pedagang pengecer. Peternak berasal dari Kecamatan Pantai Labu dan menjual telur ayam ras kepada agen yang datang ke peternak. Agen mengangkut telur menggunakan pick up dan langsung dijual ke pedagang pengecer di pasar. Pada saluran pemasaran II ini dibagi atas pemasaran IIa dan IIb. Kedua pemasaran tersebut dibedakan dikarenakan ada dua pasar tradisional yang berada dalam satu saluran ini sehingga biaya pemasaran akan berbeda jauh nantinya.

Peternak Pedagang

Pengecer

Konsumen

Peternak Agen Pedagang

Pengecer

Konsumen

(49)

Margin Pemasaran

Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh peternak telur ayam ras dengan harga ayang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli telur ayam ras. Margin pemasaran suatu komoditas terdiri dari biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh masing-masing lembaga pemasaran serta keuntungan yang diterima oleh peternak telur ayam ras dan lembaga-lembaga pemasaran. Untuk dapat mengetahui besarnya keuntungan yang didapatkan pelaku pemasaran serta biaya- biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh lembaga pemasaran maka perlu dilakukan analisismargin pemasaran pada setiap saluranpemasaran.

Saluran pertama yaitu melibatkan satu lembaga pemasaran, yaitu agen. Saluran pemasaran ini meliputi Peternak Pedagang Pengecer Konsumen. Saluran pemasaran kedua melibatkan dua lembaga pemasaran meliputi Peternak Agen Pedagang Pengecer Konsumen.

Saluran pemasaran I terdiri dari peternak yang berasal dari Kecamatan Pantai Labu dan pedagang pengecer yang berada di pasar tradisional di Kotamadya Tebing Tinggi. Biaya pemasaran yang dikeluarkan peternak terdiri dari biaya tray karton sebesar Rp. 1.280.000,- per bulan, tali sebesar Rp. 32.000,- per bulan, dan biaya pengangkutan sebesar Rp. 1.200.000,- per bulan, sehingga biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh peternak adalah sebesar Rp. 2.512.000,- per bulan.

(50)

Tabel 17. Biaya pemasaran telur ayam ras yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada saluran pemasaran I

Biaya Saluran Pemasaran I

No. Jenis Jumlah Telur

(Butir/Bulan)

Biaya Pemasaran

(Rp)

Biaya Rata- Rata (Rp) 1. Peternak (24.000 butir) 96.000

a. Tray Karton @400 1.280.000

b. Tali @8.000 32.000

c. Pengangkutan 1.200.000

Jumlah 2.512.000 26,16

2. Pedagang Pengecer (15.900) 63.600

a. Tenaga Kerja 166.000

b. Sewa Toko 85.000

c. Kebersihan 60.000

d. Tali dan Plastik 62.000

Jumlah 373.000 5,86

Total Biaya Pemasaran 2.885.000 32,03

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer pada saluran pemasaran I ini adalah sebesar Rp. 373.000,- per bulan meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 166.000,- per bulan, biaya tali dan plastik sebesar Rp. 62.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 85.000,- per bulan, dan biaya kebersihan sebesar Rp. 60.000,- per bulan dan jumlah telur yang diperoleh adalah sebesar 15.900 butir sehingga biaya rata-rata perbutir adalah sebesar Rp. 5,86 per butir.

Biaya pemasaran terbesar ditanggung oleh peternak karena peternak melakukan pengiriman keluar kota sehingga biaya pengangkutan lebih besar.

Sedangkan biaya pemasaran terkecil terdapat pada pedagang pengecer yaitu sebesar Rp. 373.000,- per bulan.

Biaya saluran pemasaran IIa yang dikeluarkan oleh peternak antara lain biaya tray karton sebesar Rp. 2.560.000,- per bulan dan biaya tali plastik sebesar Rp. 30.000,- per bulan. Biaya pemasaran oleh agen terdiri dari biaya bensin

(51)

sebesar Rp. 1.200.000,- per bulan, biaya konsumsi sebesar Rp. 320.000,- per bulan, dan biaya tenaga kerja untuk 2 orag agen sebesar Rp. 2.000.000,- per bulan. Total biaya adalah sebesar Rp. 3.520.000,- per bulan dan dengan jumlah telur yang dipasarkan 192.000 butir maka biaya per butir adalah sebesar Rp.

18,33.

Tabel 18. Biaya pemasaran telur ayam ras yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada saluran pemasaran IIa

Biaya Saluran Pemasaran II

No. Jenis Jumlah Telur

(Butir/Bulan)

Biaya Pemasaran

(Rp)

Biaya Rata- Rata (Rp)

1. Peternak (48.000) 192.000

a. Tray Karton @400 2.560.000

b.Tali @7.500 30.000

Jumlah 2.590.000 13,48

2. Agen (48.000) 192.000

a. Bensin 1.200.000

b. Konsumsi 320.000

c. Tenaga Kerja (2) 2.000.000

Jumlah 3.520.000 18,33

3. Pedagang Pengecer (24.300) 97.200

a. Tenaga Kerja 162.000

b. Sewa Toko 152.000

c. Kebersihan 28.000

d. Tali 24.000

e. Plastik 40.000

Jumlah 406.000 4,17

Total Biaya Pemasaran 6.516.000 35,99

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Biaya pemasaran pedagang pengecer sebesar Rp. 406.000,- per bulan dengan jumlah penjualan adalah sebesar Rp. 97.200 butir maka biaya rata-rata per butir adalah Rp. 4,17. Biaya pemasaran pedagang pengecer meliputi biaya tenaga kerja sebesar Rp. 162.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 152.000, per bulan, biaya kebersihan sebesar Rp. 28.000,- per bulan, biaya tali sebesar Rp.

(52)

24.000,- per bulan, biaya plastik sebesar Rp. 40.000,- per bulan. Total biaya pemasaran untuk saluran pemasaran II adalah sebesar Rp. 6.516.000,- per bulan dan biaya per butir adalah Rp. 35,99.

Tabel 19. Biaya pemasaran telur ayam ras yang dikeluarkan oleh setiap lembaga pemasaran pada saluran pemasaran IIb

Biaya Saluran Pemasaran IIb

No. Jenis Jumlah Telur

(Butir/Bulan)

Biaya Pemasaran

(Rp)

Biaya Rata-Rata

(Rp)

1. Peternak (96.000) 384.000

a. Tray Karton @400 5.120.000

b.Tali @7.500 30.000

Jumlah 5.150.000 13,41

2. Agen (96.000) 384.000

a. Bensin 2.400.000

b. Konsumsi 640.000

c. Tenaga Kerja (2) 3.000.000

Jumlah 6.040.000 15,72

3. Pedagang Pengecer (71.700) 286.800

a. Tenaga Kerja 174.000

b. Sewa Toko 100.000

c. Kebersihan 40.000

d. Tali 22.000

e. Plastik 40.000

Jumlah 376.000 1,31

Total Biaya Pemasaran 11.566.000 30,45

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Biaya pemasaran IIb yang dikeluarkan oleh peternak antara lain biaya tray karton adalah sebesar Rp. 5.120.000,- per bulan, dan biaya tali plastik sebesar Rp.

30.000,- per bulan, maka total biaya pemasaran peternak adalah sebesar Rp. 5.150.000,- per bulan dengan jumlah telur yang dipasarkan 384.000 butir

maka jumlah biaya rata-rata adalah sebesar Rp. 13,41. Biaya yang dikeluarkan oleh agen meliputi biaya bensin sebesar Rp. 2.400.000,- per bulan, biaya konsumsi sebesar Rp. 640.000,- per bulan, dan biaya tenaga kerja untuk dua orang

(53)

adalah sebesar Rp. 3.000.000,-per bulan. Total biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh agen adalah sebesar Rp. 6.040.000,- per bulan dengan jumlah penjualan 384.000 butir maka biaya rata-rata per butir adalah sebesar Rp. 15,72.

Biaya yang dikeluarkan pedagang pengecer antara lain biaya tenaga kerja sebesar Rp. 174.000,- per bulan, biaya sewa toko sebesar Rp. 100.000,- per bulan, biaya kebersihan adalah sebesar Rp. 40.000,- per bulan, biaya tali sebesar Rp.

22.000,- per bulan, dan biaya plastik sebesar Rp. 10.000,- per bulan. Sehingga biaya yang dikeluarkan oleh pedagang pengecer adalah sebesar Rp. 376.000,- per bulan dengan jumlah penjualan 286.800 butir maka biaya pemasaran rata-rata adalah sebesar Rp. 1,31.

Margin pemasaran terbesar terdapat pada jalur pemasaran IIb yaitu sebesar

Rp. 337 karena jalur IIb merupakan rantai terpanjang dari pada jalur pemasaran I, meskipun jalur pemasaran IIb memiliki rantai pemasaran yang sama dengan jalur IIa tetapi margin keduanya memiliki perbedaan, hal ini dikarenakan pada jalur IIb adanya perbedaan harga jual yang lebih tinggi mulai dari agen hingga pedagang pengecer, serta konsumen akhir pada jalur IIb bukan hanya untuk dikonsumsi langsung tetapi sebagian besar telur ayam ras dijual kembali dalam bentuk olahan makanan dalam jumlah besar.

Margin pemasaran terkecil terdapat pada jalur pemasaran I yaitu sebesar

Rp. 178 dimana pada jalur ini peternak langsung menjual telur ayam ras kepada pedagang pengecer. Selain itu pedagang pengecer menjual telur ayam ras hanya dalam jumlah sedikit dan rata-rata konsumen yang membeli telur ayam ras adalah untuk dikonsumsi secara langsung. Pada jalur ini terjalin hubungan yang sangat dekat dan saling mempercayai sehingga peternak selalu menjaga kualitas telurnya

(54)

yang dijual. Pada jalur I, IIa, dan IIb besar margin pemasaran ditentukan oleh jarak distribusi dan panjang pendeknya rantai pemasaran.

Tabel 20. Margin pemasaran

Uraian

Saluran Pemasaran

1 2a 2b

Nilai (Rp/butir) Nilai (Rp/butir) Nilai (Rp/butir) Peternak

Harga Jual 1.150 1.000 1.000

Biaya Pemasaran 26,16 13,48 13,41

Agen

Harga Beli 1.000 1.000

Biaya Pemasaran 18,33 15,72

Keuntungan 161,67 184,28

Harga Jual 1.180 1.200

Margin 180 200

Pedagang Pengecer

Harga Beli 1.150 1.180 1.200

Biaya Pemasaran 5,86 4,17 1,31

Keuntungan 172,14 124,83 135,69

Harga Jual 1.328 1.309 1.337

Margin 178 129 137

Total Biaya Pemasaran 32,03 35,98 30,44

Total Keuntungan 172,14 286,5 319,97

Total Margin 178 309 337

R/C Ratio 5,37 7,96 10,51

Sumber: Hasil survei data diolah (2018)

Pada ketiga jalur pemasaran telur ayam ras, biaya terbesar ditanggung oleh jalur pemasaran IIa yaitu Rp. 35,99. Hal ini karena rantai pemasaran yang melalui dua lembaga pemasaran dan jumlah yang diperjualbelikan sangat banyak.

Sementara biaya terkecil terdapat pada pemasaran IIb, meskipun jalur pemasaran IIb memiliki rantai yang sama dengan jalur pemasaran IIa, hal ini dikarenakan pada jalur IIb biaya pemasaran pada pedagang pengecer lebih sedikit yang disebabkan oleh biaya untuk sewa toko yang sedikit lebih murah. Sementara biaya

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan menganalisis bentuk saluran pemasaran telur ayam ras, menganalisis besarnya persentase margin, biaya dan keuntungan pemasaran pada berbagai

73 mengetahui bentuk saluran pemasaran ayam broiler di pasar tradisional Kota Manado, (2) Berapa besar margin pemasaran dan keuntungan dari masing- masing

Anindita, 2004, Skripsi Suherman Edy “Analisis Marjin pemasaran Daging Sapi di Pasar Tradisonal Kota Medan”, Universitas Sumatera Utara, Medan.. Badan Ketahanan Pangan

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik peternak, agen dan pedagang pengecer pemasaran ayam broiler, dan saluran pemasaran ayam

Margin pemasaran merupakan selisih harga yang diterima oleh peternak telur bebek dengan harga yang dikeluarkan oleh konsumen yang membeli telur bebek. Margin

Komponen Nilai Tambah Pemasaran Ayam Ras Pedaging di Tingkat Pedagang Pengumpul1.

konsumen makin besar marjin pemasaran maka akan semakin tinggi pula harga. yang harus dibayar oleh konsumen rumah tangga (Amalia et al., 2013).. Konsep

Daging ayam broiler dapat memberikan nilai tambah yang cukup berarti?. bagi aktivitas perdagangan dan pemasaran yang bisa membuka