• Tidak ada hasil yang ditemukan

4. PEMBAHASAN. Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "4. PEMBAHASAN. Universitas Kristen Petra"

Copied!
63
0
0

Teks penuh

(1)4. PEMBAHASAN. 4.1.. Proses Produksi PT XYZ adalah perusahaan manufaktur rokok yang ingin menerapkan. lean manufacturing pada departemen Sigaret Kretek Mesin (SKM). Departemen SKM adalah departemen manufaktur yang memproduksi berbagai macam brand rokok. Pada penelitian ini, pembuatan value stream mapping (VSM) dan identifikasi waste hanya akan dilakukan pada brand MD. Terdapat tiga plant pada departemen SKM, yaitu SKM 1, SKM 2, dan SKM 3 yang memproduksi brand yang berbeda-beda. Proses produksi pada departemen SKM meliputi filter maker, cigarette maker, cigarette packer, dan case packer. Produksi brand MD untuk proses filter maker dilakukan di SKM 1, sedangkan proses cigarette maker, cigarette packer, dan case packer dilakukan di SKM 3.. 4.1.1. Aliran Material dan Informasi Proses produksi pada departemen SKM diawali oleh Production Planning and Inventory Control (PPIC) supervisor yang membuat weekly production planning, yaitu perencanaan jumlah dan jenis produk yang akan diproduksi dalam periode seminggu ke depan. Setiap akhir minggu, PPIC supervisor akan meneruskan production planning minggu berikutnya kepada PPIC Admin dan tim produksi melalui media elektronik. PPIC supervisor berperan sebagai production control. PPIC supervisor membuat weekly production planning berdasarkan laporan dari bagian logistic yang diberikan secara mingguan. Berdasarkan laporan tersebut PPIC supervisor membuat perencanaan target produksi dalam seminggu ke depan. Bagian logistic berperan sebagai konsumen. PPIC Admin akan melakukan breakdown jumlah dan jenis material yang dibutuhkan untuk menghasilkan produk sesuai dengan jumlah dan jenis produk yang tercantum dalam weekly production planning. PPIC Admin juga akan melakukan pemesanan material yang dibutuhkan kepada para suppliers, yaitu 29 Universitas Kristen Petra.

(2) material warehouse, packaging warehouse, dan tobacco warehouse. Pemesanan material kepada material warehouse dilakukan secara harian, sedangkan pemesanan material kepada packaging warehouse dan tobacco warehouse dilakukan secara mingguan. Material yang dipesan tersebut tiba di lantai produksi sesuai dengan jadwal kedatangan yang telah diminta oleh PPIC Admin. Pemesanan material oleh PPIC Admin kepada suppliers menunjukkan sistem pull. Pengiriman material dari material warehouse dan packaging warehouse dilakukan dengan menggunakan truk. Pengiriman material dari tobacco warehouse dikirimkan dengan menggunakan conveyor yang menghubungkan antar plant. Material yang berasal dari material warehouse dan packaging warehouse setelah tiba di departemen SKM akan dibongkar di unloading station dan dibawa ke material staging area untuk disimpan. Material yang berasal dari tobacco warehouse setelah tiba di departemen SKM akan langsung menuju ke mesin proses yang membutuhkan material tersebut, yaitu cigarette maker. Kegiatan bongkar muat pada unloading station sampai penyimpanan material di staging area menunjukkan sistem push. Tim produksi terdiri atas shift manager dan shift supervisor. Tim produksi tersebut bertanggung jawab mengawasi secara langsung jalannya keseluruhan aktivitas yang terdapat pada departemen SKM, mulai proses produksi, kegiatan unloading dan loading material, dan kegiatan pendukung lainnya. Shift manager dan shift supervisor juga saling memberi masukan kepada PPIC supervisor dalam menentukan weekly production planning. Proses produksi rokok yang dilakukan pada departemen SKM antara lain filter maker, cigarette maker, cigarette packer, dan case packer. Proses produksi filter maker dilakukan di SKM 1. Proses cigarette maker, cigarette packer, dan case packer dilakukan di SKM 3. Berikut ini adalah input dan ouput dari kelima proses tersebut. Tabel 4.1. Input dan Output Proses Produksi Proses Filter maker Cigarette maker Cigarette packer Case packer. Input Material (AC dan PW) Material (Tembakau, CI, TI) dan filter rods Material (AL, IF, OP, OS, TP, TS, stamp) dan cigarette sticks Material (CB, KP, SE, TB) dan sloft. Output Filter rods Cigarette sticks Sloft Box. 30 Universitas Kristen Petra.

(3) Transportasi antar proses di atas dihubungkan oleh conveyor. Pada akhir proses case packer terdapat proses palletizing, yaitu peletakkan box secara manual oleh operator pada pallet untuk memudahkan perpindahan finished goods. Setelah pallet berisi 30 box, pallet akan dibawa ke finished goods staging area. Pengiriman finished goods ke finished goods warehouse (FGW) dan Depo akan menunggu sampai jumlah tertentu. Pengiriman ke FGW akan dilakukan ketika sudah tersedia 14 pallet (420 box). Pengiriman ke Depo akan dilakukan ketika sudah tersedia 440 box. Finished goods yang akan dikirim dibawa ke loading station untuk dilakukan barcoding terlebih dulu sebelum diberangkatkan. Aliran material di atas menunjukkan sistem push. Filter rods yang diproduksi pada proses filter maker dibawa menuju proses cigarette maker melalui filter shooter. Apabila filter shooter mengalami gangguan sehingga tidak dapat mendistribusikan filter rods, maka dispatcher SKM 3 akan meminta kiriman filter rods dalam doss kepada dispatcher SKM 1. Filter rods dalam doss tersebut akan dikirim menggunakan truk dan dibongkar di unloading station dan diletakkan di material staging area SKM 3. Operator cigarette maker yang membutuhkan akan mengambil filter rods sesuai dengan kebutuhan pada material staging area. Dispatchers adalah operator non produksi yang memiliki wewenang untuk menerima dan mengeluarkan barang dari plant. Material yang terdapat pada material staging area akan dibawa dan didekatkan oleh operator material supply ke setiap mesin proses yang membutuhkan, yaitu filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer. Materialmaterial tersebut diletakkan pada troli material, dimana setiap mesin proses memiliki troli material tersendiri. Hal ini bertujuan untuk memudahkan operator dalam menggunakan dan memasang material ke mesin. Material AC dan PW untuk proses filter maker. Material tembakau, CI, dan TI untuk proses cigarette maker. Material AL, IF, OP, OS, TP, TS, ET, SL, dan stamp untuk proses cigarette packer. Aliran material untuk ketiga mesin proses tersebut menunjukkan sistem push. Material CB, KP, SE, dan TB untuk proses case packer, operator akan mengambil sendiri ke material staging area. Hal ini menunjukkan aliran material dengan sistem pull.. 31 Universitas Kristen Petra.

(4) Pada lantai produksi departemen SKM terdapat inventori, baik inventori berupa raw material, work in process (WIP), dan finished goods. Letak inventori tersebut adalah sebagai berikut. •. Material staging area: menyimpan material dari suppliers.. •. Inventori mesin filter: menyimpan material kebutuhan mesin filter maker.. •. Filter staging area: menyimpan filter rods dalam doss. •. Filter buffer: menyimpan filter rods hasil produksi filter maker untuk kemudian didistribusikan ke proses cigarette maker melalui filter shooter.. •. Inventori mesin maker: menyimpan material kebutuhan mesin cigarette maker.. •. Cigarette in tray: menyimpan WIP batangan rokok.. •. Inventori mesin packer: menyimpan material kebutuhan mesin cigarette packer.. •. Finished goods staging area: menyimpan finished goods sebelum dikirim ke FGW dan Depo. Agar memudahkan memahami aliran material dan informasi pada. departemen SKM, sketsa current state value stream mapping dapat dilihat pada gambar 4.1. di bawah ini.. 32 Universitas Kristen Petra.

(5) 33 Universitas Kristen Petra.  .  . Gambar 4.1. Sketsa Current State Value Stream Mapping 33 Universitas Kristen Petra.

(6) 4.1.2. Detail Proses Produksi. Gambar 4.2. Peta Proses Operasi Proses pada departemen SKM adalah filter maker, cigarette maker, cigarette packer, dan case packer. Proses filter maker dilakukan di SKM 1, sedangkan proses yang lain dilakukan di SKM 3. Proses filter maker adalah proses pembuatan filter rods yang digunakan sebagai material komponen pembentuk rokok pada proses cigarette maker. Filter rods yang dihasilkan tersebut adalah WIP inventori dan disimpan ke dua tempat, yaitu filter buffer dan filter staging area. Setiap mesin filter maker memiliki filter buffer tersendiri dimana filter rods pada masing-masing filter buffer didistribusikan ke proses cigarette maker melalui filter shooter. Filter rods pada filter staging area terlebih dulu ditempatkan dalam doss dan pallet sebelum disimpan ke filter staging area dan dikirim ke SKM 3 apabila dibutuhkan. Prioritas penyimpanan filter rods dilakukan pada filter buffer, apabila filter buffer telah penuh filter rods akan disimpan dalam doss. Satu doss berisi 5500 filter rods. Satu pallet berisi 60 doss.. 34 Universitas Kristen Petra.

(7) Proses cigarette maker adalah proses pembuatan batangan rokok. Batangan rokok akan didistribusikan ke proses cigarette packer melalui conveyor. Apabila mesin proses cigarette packer mengalami overload atau breakdown dan tidak dapat menerima, batangan rokok akan diturunkan dari conveyor dan disimpan dalam tray, dimana satu tray dapat menyimpan 5500 batang rokok. Tray tersebut ditampung dalam troli, satu troli dapat menampung 21 tray. Sebaliknya, apabila proses cigarette packer kekurangan supply rokok dari cigarette maker, rokok dalam tray tersebut dapat dinaikkan kembali pada conveyor. Rokok dalam tray tersebut menjadi WIP inventori. Proses cigarette packer adalah proses pengemasan batangan rokok yang meliputi packing dan cartoning. Output dari proses ini adalah sloft yang akan didistribusikan ke proses case packer melalui conveyor. Apabila proses case packer mengalami overload atau breakdown, sloft yang dihasilkan akan ditampung terlebih dulu dalam troli. Ketika mesin telah berjalan normal operator cigarette packer akan menaikkan sloft pada conveyor. Apabila breakdown berlangsung lama, proses case packer dikerjakan secara manual oleh operator rework. Pada akhir proses cigarette packer akan dilakukan pemeriksaan kualitas oleh Quality Control technician. Proses case packer adalah proses pengemasan akhir yang meliputi baling dan case packing dengan output berupa box. Box yang keluar dari proses case packer akan ditimbang terlebih dulu sebagai pengecekan untuk mengetahui apakah terdapat kekurangan produk pada box. Setelah ditimbang box akan diletakkan pada pallet (proses palletizing). Satu pallet berisi 30 box. Berikut ini adalah satuan yang digunakan pada proses produksi brand MD. •. 1 doss filter = 5500 filter rods. •. 1 pallet filter = 60 doss filter. •. 1 tray rokok = 5500 batang rokok. •. 1 pack = 16 batang rokok. •. 1 sloft = 10 pack. •. 1 bale = 10 slof. •. 1 box = 6 bale. •. 1 pallet finished goods = 30 box 35 Universitas Kristen Petra.

(8) Jumlah mesin yang digunakan dalam proses produksi brand MD adalah sebagai berikut. Tabel 4.2. Jumlah Mesin Produksi Proses Filter Maker (FM) Cigarette Maker (CM) Cigarette Packer (CP). Case Packer (CS). Deskripsi Proses pembuatan filter rods Proses pembuatan batangan rokok Proses pengemasan batangan rokok yang meliputi packing (pack) dan cartoning (sloft) Proses pengemasan akhir yang meliputi baling (bale) dan case packing (box). Jumlah Mesin 3 9 9. 2. Terdapat tiga filter buffer yang digunakan untuk menyimpan filter rods. filter buffer 1 dan 2 dialokasikan untuk mensuplai filter rods pada 4 mesin cigarette maker. Filter buffer 3 dialokasikan untuk mensuplai filter rods pada 1 mesin cigarette maker.. 4.1.3. Material dan Finished Goods Pada departemen SKM terdapat tiga supplier material, yaitu material warehouse, packaging warehouse, dan tobacco warehouse. Pengiriman material dari material warehouse dan packaging warehouse menggunakan truk. Pengiriman material dari tobacco warehouse menggunakan conveyor yang menghubungkan antara SKM 3 dan tobacco warehouse. Berikut ini material yang berasal dari ketiga suppliers tersebut beserta jadwal kedatangan material pada departemen SKM.. 36 Universitas Kristen Petra.

(9) Tabel 4.3. Suppliers, Material, dan Jadwal Kedatangan Pengirim (Suppliers) Material warehouse. Material warehouse. Penerima SKM 1. SKM 3. Material • • • • • • • • • • • • • •. AC PW CI TI AL IF OP OS TP TS CB KP SE TB. Packaging warehouse. SKM 3. • ET • SL. Tobacco warehouse. SKM 3. • Tembakau. Jadwal Kedatangan Pukul 09.00 Pukul 13.00. Pukul 10.00 Pukul 14.00 Pukul 19.00. Pukul 08.00 Pukul 15.00 Pukul 20.00 _. Terdapat dua tujuan pengiriman finished goods, yaitu finished goods warehouse dan Depo. Pengiriman finished goods ke finished goods warehouse adalah sebanyak 14 pallet (420 box) dengan menggunakan truk yang tersedia di SKM 3. Pengiriman ke finished goods warehouse dilakukan antara pukul 21.00 sampai dengan pukul 08.00 ketika tidak dilakukan pengiriman ke Depo. Tidak ada jadwal khusus untuk pengiriman ke finished goods warehouse, selama telah tersedia 14 pallet, truk dapat segera diberangkatkan. Pengiriman finished goods ke Depo adalah sebanyak 440 box dengan menggunakan truk yang berasal dari logistic. Pengiriman ke Depo dilakukan sesuai jadwal sebagai berikut.. 37 Universitas Kristen Petra.

(10) Tabel 4.4. Jadwal Pengiriman Finished Goods ke Depo Pengirim. Penerima. SKM 3. Depo. Jadwal Pengiriman Pukul 08.00 Pukul 09.00 Pukul 11.00 Pukul 13.00 Pukul 16.00 Pukul 17.00 Pukul 19.00 Pukul 20.00 Pukul 21.00. 4.1.4. Operator yang Bertugas Berikut ini adalah jumlah operator yang bertugas pada setiap mesin dan kegiatan pada departemen SKM.. Tabel 4.5. Jumlah Operator yang Bertugas pada Satu Mesin Proses Proses Filter Maker (FM) Cigarette Maker (CM) Cigarette Packer (CP) Case Packer (CS) Palletizing (PL) Material Supply SKM 1 Material Supply SKM 3. Operator 1 1 2 1 1 1/3 2/9. Helper 1 2/9 ½ -. Pada proses filter maker terdapat satu orang operator dan satu helper yang bertugas pada setiap mesin. Operator bertugas menjalankan dan mengawasi kelancaran jalannya mesin serta bertanggung jawab atas kelancaran produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Helper bertugas membantu operator dalam menjalankan mesin dan dapat menggantikan operator untuk sementara waktu ketika operator meninggalkan mesin untuk keperluan pribadi. Misal ke toilet, shalat, atau makan. Pada proses cigarette maker terdapat satu orang operator dan 2/9 orang helper yang bertugas pada setiap mesin. Operator bertugas menjalankan dan mengawasi kelancaran jalannya mesin serta bertanggung jawab atas kelancaran 38 Universitas Kristen Petra.

(11) produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Kedua helper bertugas menaikkan dan menurunkan tray rokok dari conveyor pada 9 mesin, sehingga helper yang dialokasikan untuk bertugas pada satu mesin adalah 2/9 orang. Helper pada proses cigarette maker tidak memiliki wewenang untuk menjalankan mesin. Pada proses cigarette packer terdapat dua orang operator yang bertugas pada setiap mesin. Operator bertugas menjalankan dan mengawasi kelancaran jalannya mesin serta bertanggung jawab atas kelancaran produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Kedua operator pada setiap mesin pada umumnya saling membagi tugas dalam mengawasi mesin terdiri atas proses packing dan cartoning. Pada proses case packer terdapat satu orang operator dan ½ orang helper yang bertugas pada setiap mesin. Operator bertugas menjalankan dan mengawasi kelancaran jalannya mesin serta bertanggung jawab atas kelancaran produksi dan kualitas produk yang dihasilkan. Pada proses case packer terdapat satu orang helper yang bertugas membantu menjalankan dan mengawasi jalannya mesin serta mengisikan material ke mesin. Helper tersebut bertugas membantu di kedua mesin case packer, sehingga helper untuk satu mesin case packer adalah ½ orang. Pada proses palletizing terdapat satu orang yang bertugas pada setiap proses. Operator bertugas untuk meletakkan box pada pallet serta melakukan pengecekan pada box yang dihasilkan oleh proses case packer, apakah dalam kondisi baik atau tidak. Operator palletizing menimbang berat box apakah sudah sesuai dengan standar untuk memastikan box telah terisi produk dengan lengkap. Operator palletizing juga bertugas untuk memastikan bahwa kode produksi pada box telah tercetak dengan baik. Setiap plant memiliki operator material supply tersendiri. Operator yang bertugas untuk kegiatan material supply pada satu troli material mesin filter maker di SKM 1 adalah 1/3. Pada SKM 1 terdapat satu operator material supply untuk mensuplai 3 troli material filter maker. Operator yang bertugas untuk kegiatan material supply pada satu troli material mesin cigarette maker dan cigarette packer di SKM 3 adalah 2/9. Pada SKM 3 terdapat dua operator material supply yang bertugas mensuplai 9 troli material cigarette maker dan cigarette packer.. 39 Universitas Kristen Petra.

(12) 4.1.5. Peralatan Handling Selain menggunakan conveyor sebagai media transportasi antar proses, departemen SKM juga menggunakan forklift, hand lift dan hand pallet untuk kegiatan bongkar muat, material supply dan transportasi finished goods ke staging area. Berikut ini adalah peralatan handling yang terdapat di departemen SKM. Tabel 4.6. Jumlah Peralatan Handling Lokasi SKM 1. Peralatan Forklift diesel Forklift elektrik Hand lift Hand Pallet. SKM 3. Forklift diesel Hand lift. Hand Pallet. Jumlah Kegunaan 1 Melakukan kegiatan bongkar muat di luar lantai produksi 2 Melakukan kegiatan bongkar muat di dalam lantai produksi dan mendistribusikan material ke mesin 1 Mendistribusikan material ke mesin (digunakan untuk area yang sempit) 5 Mendistribusikan material ke mesin dan membawa finished goods ke staging area 1 Melakukan kegiatan bongkar muat di luar lantai produksi 3 Melakukan kegiatan bongkar muat di dalam lantai produksi dan mendistribusikan material ke mesin 5 Mendistribusikan material ke mesin dan membawa finished goods ke staging area. Terdapat dua jenis forklift pada departemen SKM, yaitu diesel dan elektrik. Forklift diesel digunakan di luar lantai produksi karena forklift diesel menghasilkan emisi gas buang yang dapat menggangu kualitas produk rokok. Forklift elektrik yang tidak menghasilkan emisi gas buang, khusus digunakan di dalam lantai produksi untuk memindahkan material. Hand lift memiliki fungsi yang sama dengan forklift, hanya saja bentuk hand lift lebih ramping sehingga bisa digunakan pada area yang sempit. Hand pallet digunakan dengan ditarik atau didorong secara manual oleh operator yang membutuhkan. Hand pallet memanfaatkan tenaga pompa hidrolik untuk mengangkat beban pada pallet.. 40 Universitas Kristen Petra.

(13) Tabel 4.7. Deskripsi Peralatan Handling Peralatan Forklift diesel Forklift elektrik Hand lift Hand Pallet. Sumber Energi Bahan bakar minyak (solar) Listrik (baterai) Listrik (baterai) -. Kapasitas Angkut. Lama Penggunaan. 2,50 ton. Tidak terhingga. 2,00 ton 1,00 ton 1,00 ton. ± 4 jam pada penggunaan optimal ± 4 jam pada penggunaan optimal Tidak terhingga. Sumber energi forklift elektrik dan hand lift adalah energi listrik dimana baterai pada forklift elektrik dan hand lift harus dilakukan charging ketika baterai telah habis. Charging baterai dapat dilakukan di charging area yang terletak di dekat loading dock..   .  . Gambar 4.3. Forklift, Hand Lift, dan Hand Pallet Sumber: http://www.international-lifts.com/images/jpg/toyota-forklift http://www.jungheinrich.com/fileadmin/general/bildarchiv/s/pics. 4.1.6. Layout Lantai Produksi Proses produksi brand MD dilakukan di dua lokasi plant yang berbeda, yaitu SKM 1 dan SKM 3. Karena informasi yang bersifat rahasia, penggambaran layout lantai produksi hanya berupa garis besar saja dan hanya yang berhubungan dengan proses produksi brand MD. a. SKM 1. 41 Universitas Kristen Petra.

(14) 42 Universitas Kristen Petra. Skala 1 : 2. Gambar 4.4. Layout Lantai Produksi SKM 1 42 Universitas Kristen Petra.

(15) Pada lantai produksi SKM 1 terdapat 6 line produksi proses fiilter maker, tetapi yang digunakan untuk memproduksi brand MD hanya 3 mesin, yaitu FM1, FM2, dan FM3. Ketiga mesin tersebut dilengkapi dengan filter buffer untuk menampung filter rods hasil produksi proses filter maker. Filter rods yang terdapat pada filter buffer akan didistribusikan pada proses cigarette maker di SKM 3 melalui filter shooter. Pada SKM 1 juga terdapat material staging area dan finished goods staging area. Kedua area tersebut digunakan untuk menyimpan material yang akan digunakan dan finished goods hasil proses produksi yang ada di SKM 1. Pada bagian utara terdapat area penyimpanan filter rods dalam doss yang diletakkan pada pallet.. b. SKM 3 Pada proses peroduksi brand MD di SKM 3 terdapat 9 line produksi proses cigarette maker dan cigarette packer, yaitu 0 sampai 9, kecuali line 6 tidak beroperasi. Terdapat dua area material staging area, material staging area A dan B. Material staging area A terletak di sisi timur dan digunakan untuk menyimpan material shared pallet (satu pallet material digunakan untuk memenuhi kebutuhan semua mesin). Material staging area B terletak di belakang mesin dan digunakan untuk menyimpan material single pallet (satu pallet material digunakan untuk memenuhi kebutuhan satu mesin). Perpindahan produk dari mesin cigarette maker ke cigarette packer berupa batangan rokok dihubungkan oleh conveyor. Perpindahan produk dari cigarette packer ke case packer berupa sloft dihubungan oleh conveyor. Sloft yang dihasilkan oleh 9 mesin cigarette packer dihubungkan oleh dua conveyor di sisi utara dan selatan menuju 2 mesin case packer. Box yang dihasilkan oleh mesin case packer akan diletakkan di pallet pada proses palletizing yang terdapat di kedua ujung mesin case packer. Loading dock terletak pada sisi utara dan digunakan untuk aktivitas loading dan unloading. Waste area adalah tempat dikumpulkannya defect yang dihasilkan pada proses produksi. Pada tempat ini defect yang dihasilkan ditimbang dan dicatat, apabila dapat dilakukan rework akan dibawa ke rework room. 43 Universitas Kristen Petra.

(16) 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. Forklift. 2,00m. Dispatcher. CM7. CM6. Material Staging Area B. Universitas Kristen Petra. CP4. CP5. PL1. CM2. CP3. CP2. CM1. C S 1. CP1. 2,00m. CM3. CM4. Rework Room Toilet. Office. Tool Room. Forklift Forklift Forklift. Office 45 sq m. Waste Area 2,50m. 2,00m. PL0. Material Staging Area B. CM5. 2,50m. 2,50m. CM8. 2,00m. CM9. Loading Dock. 2,00m. FG Staging Area A. CM0. C S 0. 2,00m. CP7. 2,00m. CP8. FG Staging Area B. CP9. Conveyor. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 1,35m. 44 2,00m. CP0. Material Staging Area A. 2,00m. 2,00m. 2,00m. 2,50m. Conveyor. Pantry. 2,00m. 1,50m. 3,00m. Skala 1 : 3. Gambar 4.5. Layout Lantai Produksi SKM 3 44 Universitas Kristen Petra.

(17) 4.2.. Perhitungan Cycle Time, Setup Time, dan Uptime Pada penggambaran VSM perlu dilengkapi data-data pendukung berupa. data cycle time, setup time dan uptime. Data pendukung setiap proses akan dibahas pada subbab di bawah ini.. 4.2.1. Perhitungan Cycle Time (C/T) Perhitungan C/T setiap proses dikonversikan ke dalam satuan satu juta batang rokok untuk memudahkan mengetahui perbandingan C/T antar proses dan dimana letak bottleneck pada departemen SKM. Pada perhitungan C/T diperlukan data design speed mesin dan proporsi penggunaan satuan yang digunakan dalam satu batang rokok. Data design speed digunakan untuk menghitung C/T proses yang dilakukan secara otomatis menggunakan mesin, seperti proses filter maker, cigarette maker, cigarette packer dan case packer. Pada C/T proses yang dilakukan secara manual seperti palletizing dihitung dengan metode perhitungan waku baku. Cara perhitungan C/T proses yang dilakukan secara otomatis dalam memproduksi satu juta batang rokok akan dicontohkan pada perhituangan C/T proses filter maker. Cara perhitungan C/T adalah sebagai berikut. •. Output/menit = design speed = 5.000 rod/menit. •. C/T proses filter maker =. 1 output / menit. C/T proses filter maker untuk satu juta batang = =. 1 × 1.000.000 output / menit. 1.000.000 = 200 menit 5.000. •. Proporsi penggunaan filter dalam satu batang rokok = ¼ = 0,25 rod. •. C/T proses filter maker untuk memproduksi satu juta batang = C/T proses x proporsi penggunaan = 200 x 0,25 = 50 menit Cara perhitungan C/T proses yang dilakukan secara manual pada proses. palletizing adalah dengan menggunakan metode pengukuran waktu baku. Cara perhitungan C/T proses palletizing adalah sebagai berikut.. 45 Universitas Kristen Petra.

(18) •. Mengumpulkan data waktu palletizing, yaitu waktu yang diperlukan operator untuk meletakkan satu box pada pallet.. •. Melakukan pengujian data yang meliputi uji kenormalan, uji keseragaman data, dan uji kecukupan. Setelah data dinyatakan cukup, data dapat yang telah dikumpulkan dapat diolah. Data waktu proses palletizing dapat dilihat pada lampiran 1.. ∑X. 161,44 = 4,89 detik 33. •. Waktu siklus =. •. Waktu normal = waktu siklus × performance = 4,89 × 0,98 = 4,79 detik. n. i. =. Skill. : Average (D) = 0. Effort. : Average (D) = 0. Condition. : Average (D) = 0. Consistency. : Fair (E). = -0,02. Total. = -0,02. Performance = 1+ (-0,02) = 0,98 •. Waktu baku = waktu normal × = 4,79 ×. 100% 100% − % allowance. 100% 100% − 13%. = 5,51 detik = 0,09 menit •. Output/menit =. 1 = 10,89 box 0,09. Satu orang operator dapat menatakan 10,89 box dalam satu menit. •. C/T proses palletizing =. 1 output / menit. C/T proses palletizing satu juta box = =. 1 × 1.000.000 output / menit 1000.000 = 91.841,88 menit 10,89 1 = 0,000104 box 9600. •. Proporsi penggunaan box dalam satu batang rokok =. •. C/T proses palletizing untuk satu juta batang rokok = C/T proses × proporsi penggunaan = 91.841,88 × 0,000104 = 9,57 menit 46 Universitas Kristen Petra.

(19) Tabel 4.8. Perhitungan Cycle Time Proses. Proses. UoM. Output/ menit (UoM). FM CM CP CS PL. Rods Sticks Packs bale box. 5.000 7.000 420 21 10,89. C/T untuk Penggunaan produksi dalam 1 batang 1 juta unit rokok (UoM/menit) 200 ¼ 142,86 1 2.380,95 1/16 47.619,05 1/1600 91.841,88 1/9600. C/T untuk produksi 1 juta batang rokok (menit) 50 142,86 148,81 29,76 9,57. 4.2.2. Perhitungan Setup Time Pada perhitungan setup time diperlukan data waktu cleaning mingguan mesin, rata-rata running time mesin, dan lama waktu yang diperlukan operator untuk melakukan persiapan pengoperasian mesin dalam sekali pergantian shift. Data waktu cleaning mingguan dan rata-rata running time mesin diperoleh melalui wawancara kepada operator dan mekanik. Data lama waktu yang diperlukan operator untuk melakukan persiapan pengoperasian mesin dalam sekali pergantian shift diperoleh dengan melakukan pengamatan kepada setiap mesin. Data waktu pergantian shift dapat dilihat pada lampiran 2. Cara melakukan perhitungan setup time proses akan dicontohkan pada perhitungan setup time proses filter maker sebagai berikut. •. Setup time = =. cleaning + pergantian _ shift running _ time 5 jam × 60menit + 12menit 15shift. = 32 menit/shift. Tabel 4.9. Perhitungan Setup Time Proses Proses FM CM CP CS PL. Cleaning (weekly) 5 jam 5 jam 5 jam 5 jam -. Rata-rata running time 15 shift 15 shift 15 shift 15 shift -. Pergantian shift 12 menit 20 menit 20 menit 12 menit -. Setup Time/shift 32 menit/shift 40 menit/shift 40 menit/shift 32 menit/shift 0 menit/shift. 47 Universitas Kristen Petra.

(20) Pada kegiatan palletizing karena dilakukan secara manual, tidak perlu dilakukan setup. Setup time pada kegiatan palletizing adalah sama dengan nol. Pada proses filter maker, cigarette maker, cigarette packer, dan case packer, kegiatan yang dilakukan selama pergantian shift adalah sebagai berikut. •. Melakukan perhitungan stok akhir material dan hasil produksi pada shift tersebut, serta mengisi laporan produksi harian (LPH). Pada proses filter maker dan case packer, mesin dihentikan kurang lebih 5 menit sebelum shift berakhir.. •. Melakukan cleaning awal shift untuk membersihkan sisa oli dan lem yang mengering pada mesin. Pada proses filter maker dan case packer, dilakukan cleaning kurang lebih 7 menit. Pada proses cigarette maker dan cigarette packer karena kompleksitas mesin yang tinggi membutuhkan waktu cleaning yang lebih lama. Pada mesin cigarette packer terdapat penggantian kode produksi yang menunjukkan pada mesin dan shift berapa packing dilakukan.. 4.2.3. Perhitungan Uptime Data uptime proses diperoleh dari menghitung rata-rata uptime bulanan setiap mesin proses yang ada pada departemen SKM. Uptime adalah persentase produksi aktual dibandingkan dengan produksi teoritikal. Data uptime berasal dari arsip perusahaan yang kemudian akan dilakukan pengolahan. Data uptime setiap mesin dapat dilihat pada lampiran 3. Berikut ini adalah uptime proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer selama 6 bulan. Pada proses case packer tidak tersedia data uptime. a. Uptime proses filter maker (%) Tabel 4.10. Uptime Proses Filter Maker Mesin FM1 FM2 FM3. Rata-rata (%) 87,21 84,71 69,24. Berdasarkan data uptime selama enam bulan di atas, diketahui rata-rata uptime untuk proses filter maker adalah sebesar 80,38%. 48 Universitas Kristen Petra.

(21) b. Uptime proses cigarette maker (%) Tabel 4.11. Uptime Proses Cigarette Maker Mesin CM0 CM1 CM2 CM3 CM4 CM5 CM7 CM8 CM9. Rata-rata (%) 67,40 74,30 69,45 68,18 67,90 61,59 69,15 68,83 68,23. Pada tabel 4.11. di atas, dapat dilihat bahwa rata-rata uptime selama enam bulan untuk proses cigarette maker adalah sebesar 68,34%.. c. Uptime proses cigarette packer (%) Tabel 4.12. Uptime Proses Cigarette Packer Mesin CP0 CP1 CP2 CP3 CP4 CP5 CP7 CP8 CP9. Rata-rata (%) 65,68 71,42 68,29 70,16 71,35 69,10 70,15 67,12 73,16. Berdasarkan data di atas, diketahui bahwa rata-rata uptime selama enam bulan untuk proses cigarette packer adalah sebesar 69,60%.. 4.3.. Identifikasi Waste Terdapat tujuh macam waste yang akan diidentifikasi pada proses. produksi brand MD. Ketujuh waste tersebut antara lain overproduction, waiting, transportion, overprocessing, inventory, unnecessary motion dan defects yang akan dibahas pada subbab berikut. 49 Universitas Kristen Petra.

(22) 4.3.1. Identifikasi Overproduction Waste Identifikasi overproduction waste diperoleh dengan menghitung selisih produksi aktual dengan rencana produksi yang telah ditentukan oleh PPIC supervisor. Pengamatan overproduction waste hanya dilakukan pada proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer. Proses case packer tidak dilakukan pengamatan karena proses case packer merupakan proses pengemasan dimana proses tersebut mengikuti ketiga proses sebelumnya. Data produksi aktual dan rencana produksi diperoleh dari arsip perusahaan yang kemudian akan dilakukan pengolahan. Data selisih produksi aktual dengan rencana produksi dihitung dalam nilai persentase dapat dilihat pada tabel 4.13.. Tabel 4.13. Data Persentase Overproduction Waste Minggu-1 Minggu-2 Minggu-3 Minggu-4 Minggu-5 Minggu-6 Minggu-7 Minggu-8 Rata-rata =. Filter Maker 72,50% 115,21% 74,68% 95,51% 77,19% 52,01% 69,00% 123,77% 84,98%. Cigarette Maker 5,42% 8,28% -2,78% 7,43% 8,05% 3,45% 8,09% 7,67% 5,70%. Cigarette Packer 4,26% 7,18% -4,22% 5,93% 6,98% 2,62% 6,36% 6,27% 4,42%. Overproduction terbesar terdapat pada proses filter maker, yaitu 84,98%. Hal ini disebabkan karena produksi yang dilakukan seringkali melebihi dari rencana produksi yang ditentukan oleh PPIC supervisor. Overproduction terbesar proses filter maker berasal dari mesin FM3. Data overproduction untuk setiap mesin dapat dilihat pada lampiran 4. Overproduction pada FM3 disebabkan karena rencana produksi pada FM3 lebih kecil dari FM1 dan FM2, sedangkan pada kenyataannya FM3 tetap berproduksi dengan volume sama besar seperti FM1 dan FM2. Overproduction pada FM3 tidak dianggap sebagai waste karena stok tersebut digunakan untuk menutup kekurangan produksi yang sering terjadi pada FM1 dan FM2. Mengingat proses filter maker adalah proses pembuatan filter. 50 Universitas Kristen Petra.

(23) rods yang digunakan sebagai material pada proses cigarette maker, diharapkan tidak terjadi kekurangan produksi dari proses filter maker. Pada proses cigarette maker dan cigarette packer terdapat overproduction sebesar 5,70% dan 4,42%. Angka tersebut masih dianggap wajar dan dapat diterima oleh perusahaan. Overproduction ini tidak dianggap sebagai waste karena karena berapapun jumlah rokok yang dihasilkan oleh departemen SKM akan diterima oleh logistic. Overproduction ini juga dapat digunakan sebagai cadangan stok dalam menghadapi permintaan konsumen yang fluktuatif.. 4.3.2. Identifikasi Waiting Waste Waiting waste diidentifikasi melalui pengamatan yang dilakukan pada setiap aktivitas yang terjadi pada lantai produksi, mulai dari material diturunkan pada kegiatan unloading pada unloading station sampai dengan kegiatan loading finished goods pada loading station. Dilakukan juga pengamatan pada aktivitas operator mesin untuk mengetahui persentase idle dan waiting operator. Berdasarkan pengamatan, berikut ini adalah kegiatan waiting yang terdapat pada lantai produksi departemen SKM 1. Waiting pada kegiatan unloading material di SKM 1 dan SKM 3 Pada kegiatan unloading, material yang datang dari suppliers akan diterima dan diperiksa oleh pihak administrasi. Setelah material diperiksa dan diterima dengan kondisi baik, material akan dibawa oleh operator material supply ke material staging area dengan menggunakan forklift. Waiting waste pada kegiatan unloading adalah adanya kegiatan menunggu kedatangan pihak administrasi atau dispatchers untuk menerima material dan kedatangan operator material supply untuk membawa material ke material staging area. Data waktu waiting pada proses unloading di SKM 1 dan SKM 3 dapat dilihat pada lampiran 5. Waktu menunggu pada kegiatan unloading bervariasi tergantung dari penyebabnya. Kegiatan menunggu yang terjadi karena menunggu kedatangan pihak administrasi disebabkan karena pihak administrasi membutuhkan waktu untuk berjalan dari kantor menuju unloading station. Waktu rata-rata yang dibutuhkan oleh pihak administrasi untuk berjalan ke unloading station adalah. 51 Universitas Kristen Petra.

(24) 2,13 menit. Kegiatan menunggu yang terjadi karena menunggu kedatangan operator material supply disebabkan karena operator material supply sedang melakukan kegiatan supply material atau operator sedang istirahat makan pagi. Selain menunggu kedatangan pihak administrasi dan operator material supply, kegiatan unloading dapat menunggu karena operator material supply sedang menyelesaikan kegiatan unloading dari supplier yang lain. Kedatangan truk dari packaging warehouse dan material warehouse yang terjadi secara bersamaan dapat menyebabkan antrian pada kegiatan unloading. 2. Waiting pada kegiatan loading finished goods di SKM 3 Pada kegiatan loading, finished goods akan diperiksa terlebih dulu oleh dispatcher sebelum dimuat ke truk. Dispatcher adalah operator non produksi yang bertanggung jawab atas masuk dan keluarnya barang dari plant. Terdapat satu orang dispatcher untuk setiap plant. Dispatcher akan meminta bantuan operator material supply untuk menyiapkan finished goods yang akan di muat pada loading station untuk kemudian dilakukan barcoding. Pada kegiatan loading ini hampir tidak ada waiting. Hal ini disebabkan karena ketika akan melakukan loading, dispatcher telah menginformasikan terlebih dulu kepada operator material supply, driver forklift, dan driver truk kurang lebih satu jam sebelumnya bahwa akan dilakukan pengiriman finished good sehingga pihak yang terkait dapat bersiap-siap. Waiting yang terjadi umumnya disebabkan karena menunggu dispatcher menginputkan data barcoding sampai selesai mencetak bon pengiriman finished goods. Kegiatan input ini cukup memakan waktu, terutama apabila server dalam keadaan sibuk yaitu sekitar pukul 17.00. 3. Conditioning (waiting) selama empat jam untuk finished goods karena menunggu persetujuan passed dari pihak Quality Control. Pengiriman finished goods menuju Depo harus mengalami conditioning terlebih dulu untuk memastikan tidak terdapat defect pada produk yang akan dikirim. Pengiriman menuju Depo mengalami kontrol kualitas yang ketat karena pengiriman ini menuju luar pabrik yang tidak memungkinkan untuk dilakukan penarikan finished goods apabila terdapat product hold.. 52 Universitas Kristen Petra.

(25) 4. Waiting dan idle operator pada proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer Pengamatan dilakukan pada aktivitas operator proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer berdasarkan permintaan perusahaan. Proses case packer dinilai hanya sebagai proses penunjang dari proses sebelumnya dan tidak dilakukan pengamatan. Pengamatan aktivitas operator dilakukan pada salah satu mesin dengan kinerja rata-rata yang telah ditentukan oleh perusahaan, yaitu mesin FM2, CM0, dan CP0 sebagai sample untuk mewakili mesin yang lain. Pengamatan pada aktivitas operator dapat dilihat pada tabel aktivitas operator dan mesin yang terdapat pada lampiran 6. Berdasarkan tabel aktivitas operator dan mesin yang telah dibuat, diketahui persentase waiting dan idle untuk proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer adalah sebagai berikut.. Tabel 4.14. Persentase Waiting dan Idle Operator Proses Filter maker Cigarette maker Cigarette packer. Waiting dan Idle (%) Operator: 74,68% Helper: 78,09% Operator: 68,69% Operator 1: 52,47% Operator 2: 54,42%. Pada data di atas, persentase waiting dan idle paling rendah terdapat pada proses cigarette packer. Hal ini disebabkan karena proses cigarette packer menggunakan jenis material lebih banyak dan tingkat kompleksitas mesin yang lebih tinggi dibanding kedua proses yang lain. Proses filter maker dan cigarette maker hanya menggunakan dua jenis material, sedangkan proses cigarette packer menggunakan delapan jenis material. Jumlah material yang lebih banyak dan tingkat kompleksitas mesin yang tinggi menyebabkan operator harus lebih teliti dalam mengawasi dan menjalankan mesin.. 4.3.3. Identifikasi Transportation Waste Transportation waste diidentifikasi melalui pengamatan yang dilakukan pada lantai produksi. Pengamatan dilakukan untuk mengetahui berapa lama waktu 53 Universitas Kristen Petra.

(26) yang dibutuhkan suatu produk untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pengamatan proses transportasi dilakukan mulai dari material diturunkan pada kegiatan unloading pada unloading station sampai dengan kegiatan loading finished goods pada loading station. Pada identifikasi transportation waste, yang diamati adalah perpindahan produk dari satu tempat ke tempat yang lain. Berdasarkan sketsa VSM yang telah dibuat sebelumnya, kegiatan transportasi pada departemen SKM dalam memproduksi brand MD adalah sebagai berikut. 1. Kegiatan unloading membawa pallet material dari parking area ke unloading station di SKM 1 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift diesel. 2. Kegiatan unloading membawa pallet material dari unloading station ke material staging area di SKM 1 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift elektrik. 3. Kegiatan supply material proses filter maker, yaitu AC dan PW oleh operator material supply dengan menggunakan forklift elektrik atau hand lift. 4. Perpindahan filter rods pada pallet ke filter staging area oleh operator material supply dengan menggunakan forklift elektrik atau hand lift. 5. Transfer filter rods dari proses filter maker di SKM 1 ke proses cigarette maker di SKM 3 melalui filter shooter. 6. Kegiatan unloading membawa pallet berisi material dari parking area ke unloading station di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift diesel. 7. Kegiatan unloading membawa pallet berisi material dari unloading station ke material staging area di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan hand lift. 8. Kegiatan supply material proses cigarette maker, yaitu CI dan TI oleh operator material supply dengan menggunakan hand lift atau hand pallet. 9. Kegiatan supply material proses cigarette packer, yaitu AL, IF, OP, OS, TP, TS, ET, dan SL oleh operator material supply dengan menggunakan hand lift atau hand pallet. 10. Kegiatan mengambil material proses case packer, yaitu CB dan KP dari. 54 Universitas Kristen Petra.

(27) material staging area oleh operator proses case packer dengan menggunakan hand pallet. 11. Transfer batangan rokok dari proses cigarette maker ke proses cigarette packer melalui conveyor. 12. Transfer sloft dari proses cigarette packer ke proses case packer melalui conveyor. 13. Transfer box dari proses case packer ke proses palletizing melalui conveyor. 14. Perpindahan finished goods pada pallet dari proses palletizing ke finished goods staging area oleh operator proses palletizing dengan menggunakan hand pallet. 15. Kegiatan loading membawa pallet berisi finished goods dari finished goods staging area ke loading station di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan hand pallet. 16. Kegiatan loading membawa pallet berisi finished goods dari loading station ke parking area di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift diesel. Terdapat dua jenis transportasi pada departemen SKM, transportasi yang dilakukan secara manual menggunakan forklift atau hand lift dan transportasi yang dilakukan secara otomatis menggunakan conveyor. Kegiatan transportasi yang dilakukan secara manual adalah kegiatan nomor 1, 2, 3, 4, 6, 7, 8, 9, 10, 11, 15, 16, dan 17. Kegiatan transportasi yang dilakukan secara otomatis adalah kegiatan nomor 5, 12, 13, dan 14. Pengukuran waktu kegiatan transportasi diukur dengan metode perhitungan waktu baku. Pada kegiatan transportasi yang dilakukan secara otomatis nilai performance adalah sama dengan satu dan allowance adalah sebesar nol persen. Data perhitungan waktu transportation waste dapat dilihat pada tabel 4.15. Data transportasi dihitung berdasarkan satuan ketika perpindahan dilakukan (misal pallet). Data waktu transportasi tersebut kemudian dikonversikan dalam satuan waktu untuk melakukan perpindahan dalam satu juta batang rokok. Konversi hanya dilakukan untuk kegiatan transportasi yang dilakukan secara manual. Kegiatan yang dilakukan secara otomatis dengan menggunakan conveyor tidak dilakukan konversi karena dapat mengakibatkan overlapping data waktu.. 55 Universitas Kristen Petra.

(28) Tabel 4.15. Data Waktu Transportasi No 1 2 3a 3b 4 5 6 7 8a 8b 9a 9b 9c 9d 9e 9f 9g. Waktu Baku. Aktivitas Unloading SKM 1: parking area ke unloading station Unloading SKM 1: unloading station ke material staging area Supply material proses filter maker (material AC) Supply material proses filter maker (material PW) Transportasi dari proses filter maker ke filter staging area Transfer filter rods melalui filter shooter Unloading SKM 3: parking area ke unloading station Unloading SKM 3: unloading station ke material staging area Supply material proses cigarette maker (material CI) Supply material proses cigarette maker (material TI) Supply material proses cigarette packer (material AL) Supply material proses cigarette packer (material IF) Supply material proses cigarette packer (material OP) Supply material proses cigarette packer (material OS) Supply material proses cigarette packer (material TP & TS) Supply material proses cigarette packer (material ET) Supply material proses cigarette packer (material SL). 9,11 detik/pallet 31,30 detik/pallet 97,50 detik/pallet 355,51 detik 100,39 detik/pallet 20,05 detik 24,41 detik/pallet 90,24 detik/pallet 1,893,91 detik 1,091,57 detik 1,691,89 detik 1,153,19 detik 1,112,22 detik 696,03 detik 701,27 detik 2,072,31 detik 1,718,51 detik. Waktu Baku 1 Juta Batang Rokok 2,11 detik 7,23 detik 18,94 detik 3,70 detik 76,05 detik 20,05 detik 69,98 detik 258,70 detik 87,68 detik 50,54 detik 78,33 detik 53,39 detik 51,49 detik 32,22 detik 32,47 detik 106,60 detik 44,20 detik. 0,04 menit 0,12 menit 0,32 menit 0,06 menit 1,27 menit 0,33 menit 1,17 menit 4,31 menit 1,46 menit 0,84 menit 1,31 menit 0,89 menit 0,86 menit 0,54 menit 0,54 menit 1,78 menit 0,74 menit. 56 Universitas Kristen Petra.

(29) Tabel 4.15. Data Waktu Transportasi (sambungan) No. Aktivitas. Material taking proses case packer (material CB) Material taking proses case 10b packer (material KP) Transfer batangan rokok melalui 11 conveyor 10a. 12. Transfer sloft melalui conveyor. 13. Transfer box melalui conveyor. 14 15 16. Transportasi dari proses palletizing ke finished goods staging area Loading: finished goods staging area ke loading station Loading: loading station ke parking area. Waktu Baku 29,63 detik/pallet 29,77 detik/pallet 143,31 detik. Waktu Baku 1 Juta Batang Rokok 22,05 0,37 detik menit 0,03 1,92 detik menit 143,31 2,39 detik menit 75,13 1,25 75,13 detik detik menit 0,07 4,00 detik 4,00 detik menit 42,63 148,02 detik/pallet detik 73,30 detik/pallet 18,86 detik/pallet. 2,47 menit. 254,51 detik 65,49 detik. 4,24 menit 1,09 menit 28,47 Total = menit. Pada data waktu transportation waste yang terdapat pada tabel 4.15., dapat dilihat bahwa waktu transportasi terlama adalah kegiatan unloading membawa pallet berisi material dari unloading station ke material staging area di SKM 3 oleh operator material supply (No 8). Jarak tempuh yang panjang untuk membawa material ke material staging area merupakan penyebab lamanya transportasi tersebut.. Letak. unloading. station. dan. material. staging. area terletak. berseberangan pada sisi timur dan barat plant. Waktu transportasi terlama yang kedua adalah kegiatan loading membawa pallet berisi finished goods dari finished goods staging area ke loading station di SKM 3 (No 16). Hal ini disebabkan karena alat yang digunakan adalah hand pallet yang ditarik secara manual oleh operator material supply, sehingga waktu tempuh menyesuaikan dengan kecepatan jalan operator. Berbeda dengan kecepatan forklift dan hand lift yang lebih cepat dan stabil. Selain alat yang digunakan, jarak tempuh juga mempengaruhi lama waktu transportasi. 57 Universitas Kristen Petra.

(30) Waktu transportasi tercepat adalah kegiatan mengambil material KP untuk proses case packer dari material staging area oleh operator proses case packer (No 11b). Hal ini disebabkan oleh jarak tempuh yang pendek dan komposisi satu pallet material KP yang dapat digunakan untuk produksi lebih dari satu juta batang rokok. Waktu transportasi tercepat kedua adalah kegiatan unloading membawa pallet material dari parking area ke unloading station di SKM 1 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift diesel (No 1). Penyebabnya karena jarak tempuh yang pendek dan kapasitas angkut forklift diesel yang besar. Pada sekali transportasi forklift diesel dapat mengangkut dua sampai empat pallet material dengan jenis yang berbeda. Pada satu pallet material dapat digunakan untuk produksi lebih dari satu juta batang. Pada departemen SKM terdapat kegiatan transportasi yang terjadi di luar kebiasaan, yaitu perpindahan filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3. Transportasi ini terjadi apabila filter shooter bermasalah sehingga filter rods tidak dapat terdistribusi ke proses cigarette maker dan dapat menghambat produksi rokok. Solusi dari masalah ini adalah dengan melakukan pengiriman filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3 dengan menggunakan truk. Berikut ini kegiatan transportasi yang terjadi pada perpindahan filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3. 1. Transportasi filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3. 2. Kegiatan unloading membawa pallet berisi filter rods dari parking area ke unloading station di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan forklift diesel. 3. Kegiatan unloading membawa pallet berisi filter rods dari unloading station ke material staging area di SKM 3 oleh operator material supply dengan menggunakan hand lift. 4. Kegiatan mengambil filter rods di material staging area oleh operator cigarette maker dengan menggunakan troli. Data perhitungan waktu perpindahan filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3 dapat dilihat pada tabel 4.16. sebagai berikut.. 58 Universitas Kristen Petra.

(31) Tabel 4.16. Data Waktu Transportasi Filter Rods dari SKM 1 ke SKM 3 No 1 2 3 4. Waktu Baku Transportasi filter rods ke SKM 3.600,00 3 detik Unloading SKM 3: parking area 24,41 ke unloading station detik/pallet Unloading SKM 3: unloading 90,24 station ke material staging area detik/pallet Filter rods taking proses 120 detik/angkut cigarette maker Aktivitas. Waktu Baku 1 Juta Batang Rokok 2.727,27 45,45 detik menit 18,49 0,31 detik menit 68,36 1,14 detik menit 454,55 7,58 detik menit. Perpindahan filter rods pada pallet dari SKM 1 ke SKM 3 (No 1) membutuhkan waktu selama 45,45 menit untuk memenuhi kebutuhan produksi satu juta batang. Pengukuran waktu dimulai ketika dispatcher SKM 3 menghubungi dispatcher SKM 1 untuk memesan filter rods sampai filter rods dalam pallet tiba dan diterima oleh dispatcher SKM 3. Ketika dilakukan pengiriman, membutuhkan waktu selama 60 menit untuk sekali pengiriman dengan jumlah dalam sekali pengiriman kurang lebih adalah empat pallet. Angka tersebut adalah waktu perkiraan maksimal yang diperoleh dari wawancara pada kedua dispatchers. Hal ini disebabkan karena tidak adanya alat transportasi (kendaraan) khusus untuk mengirim filter rods. Pada setiap plant tersedia masingmasing truk yang dialokasikan untuk mengirim finished goods ke finished goods warehouse (FGW). Pengiriman filter rods dilakukan dengan menggunakan truk tersebut. Apabila truk sedang digunakan untuk mengirim ke FGW, pengiriman filter rods harus menunggu truk tersebut selesai melakukan pengiriman. Terkadang, apabila terdapat pengiriman material dari material warehouse yang tiba di SKM 1 dan akan melanjutkan pengiriman ke SKM 3, filter rods dalam pallet dapat dibawa sekaligus (dititipkan). Aktivitas perpindahan filter rods dalam doss (No 4) dilakukan oleh operator cigarette maker dengan menggunakan troli yang telah disediakan pada setiap mesin. Operator membutuhkan waktu kurang lebih 120 detik untuk sekali pengambilan, dengan jumlah 12 doss pada umumnya. Waktu yang dibutuhkan oleh operator cigarette maker untuk mengambil filter rods untuk kebutuhan produksi satu juta batang rokok adalah 7,58 menit. 59 Universitas Kristen Petra.

(32) 4.3.4. Identifikasi Overprocessing Waste Overprocessing waste diidentifikasi dari banyaknya rework pemasangan ulang material stamp pada pack rokok. Kegiatan rework dilakukan karena terdapat reject produk pack pada proses cigarette packer dan case packer, dimana material stamp dapat digunakan kembali apabila reject produk pack tersebut terjadi. Rework dilakukan oleh operator rework meliputi kegiatan melepas dan menempel kembali stamp. Berikut ini adalah data jumlah produk pack yang mengalami rework. Data diperoleh dari arsip perusahaan yang kemudian dilakukan pengolahan. Jumlah produk pack yang mengalami rework dibagi berdasarkan asal proses, yaitu proses cigarette packer atau case packer.. Tabel 4.17. Data Overprocessing Waste Proses CP0 CP1 CP2 CP3 CP4 CP5 CP7 CP8 CP9 Total CS1 CS0 Total. Minggu-1 6.695 5.196 4.742 5.681 4.221 6.536 4.051 5.324 5.929 48.375 5.540 2.720 8.260. Minggu-2 5.517 6.027 5.444 9.803 6.406 4.145 2.422 5.110 3.367 48.241 4.620 4.580 9.200. Minggu-3 6.387 5.805 6.894 8.341 7.896 5.413 8.721 7.151 5.014 61.622 4.910 7.120 12.030. Minggu-4 5.507 5.107 10.205 8.043 7.599 7.522 6.479 12.111 6.102 68.675 8.140 7.390 15.530. Berdasarkan data selama empat minggu di atas, total rework yang berasal dari proses cigarette packer adalah 226.913 pack dan berasal dari proses case packer adalah 45.020 pack. Pada proses cigarette packer, rework paling banyak berasal dari mesin CP8 pada minggu keempat, yaitu 12.111 pack. Pada proses case packer, rework paling banyak berasal dari mesin CS1 pada minggu keempat, yaitu 8.140 pack.. 60 Universitas Kristen Petra.

(33) Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan, penyebab terjadinya rework karena terdapat reject produk pack pada proses cigarette packer dan case packer adalah sebagai berikut. a. Proses cigarette packer •. Setting mesin yang tidak tepat sehingga menyebabkan stamp tidak tertempel dengan baik (misal stamp tertempel miring atau panjang sebelah) sehingga stamp dilepas dan perlu ditempel ulang.. •. Cleaning mingguan dan cleaning pergantian shift tidak dilakukan dengan teliti menyebabkan masih terdapat oli yang tercecer sehingga stamp kotor terkena oli dan perlu diganti dengan stamp yang baru. Selain itu terdapat lem yang mengering dan menyumbat sehingga stamp tidak tertempel dengan baik.. •. Terjadi jammed pada mesin menyebabkan pack menjadi rusak (pack terjepit dan robek). Stamp yang masih baik dilepas dan dikumpulkan oleh operator rework untuk digunakan kembali.. b. Proses case packer Rework yang dilakukan karena reject pada proses case packer terjadi karena terdapat jammed pada mesin. Ketika mesin jammed, terdapat sloft yang terjepit sehingga turut merusak isi pack di dalammya. Pack yang baik dapat dikembalikan ke proses cigarette packer untuk packing ulang. Sedangkan pada pack yang rusak apabila terdapat stamp yang masih baik dikumpulkan oleh operator rework untuk digunakan kembali.. 4.3.5. Identifikasi Inventory Waste Langkah pertama yang perlu dilakukan untuk mengidentikasi adanya inventory waste pada departemen SKM adalah dengan melakukan perhitungan inventori pada setiap lokasi ditemukannya inventori. Perhitungan ini untuk mengetahui seberapa banyak inventori yang ada, sehingga dapat dikategorikan sebagai waste atau tidak. Inventori yang terdapat pada departemen SKM dihitung dalam satuan waktu untuk memudahkan dicantumkan dalam VSM. Pada perhitungan inventori dibutuhkan data average stock level (ASL) dan average consumption untuk menghitung average inventory level (AIL) dan 61 Universitas Kristen Petra.

(34) dicantumkan pada VSM. Data inventori yang digunakan dalam perhitungan didapatkan dengan melakukan pengamatan dan dibantu oleh operator untuk melakukan pencatatan. Kecuali data pada filter staging area dan filter buffer diperoleh dari arsip perusahaan. Berikut ini adalah contoh cara perhitungan inventori material AC pada material staging area SKM 1. •. Average stock level = average beginning stock = 6.404,39 Kg. •. Average consumption = =. beginning _ stock − ending _ stock + total _ received total _ data 10.707 − 3.397 + 41.955 18. = 9.640,83 Kg/shift •. Average inventory level = =. average _ stock _ level average _ consumption 6.404,39 9.640,83. = 0,66 shift Perhitungan inventori seperti cara di atas untuk mengidentifikasi adanya inventory waste dilakukan pada lokasi sebagai berikut. 1. Material staging area SKM 1 Material staging area SKM 1 adalah tempat penyimpanan material pada lantai produksi dari suppliers, dalam hal ini adalah material warehouse.. Tabel 4.18. Data Inventori Material pada Material Staging Area SKM 1 No 1 2. Material UoM AC PW. Kg Roll. Average Stock Level (UoM) 6.404,39 427,39. Average Consumption (UoM/shift) 9.640,83 252,00. Average Inv Level (shift) 0,66 1,70. Berdasarkan tabel di atas diketahui average inventory level terbesar adalah material PW, yaitu sebesar 1,70 shift. Hal ini disebabkan karena penyebab sebagai berikut.. 62 Universitas Kristen Petra.

(35) •. Pemesanan material yang dilakukan secara fixed lot size menyebabkan apabila terdapat pemesanan dengan dengan jumlah yang lebih kecil dari lot size akan dibulatkan ke atas sesuai dengan lot size.. •. Breakdown mesin yang tidak terduga sehingga material tidak digunakan dan terjadi penumpukan material.. •. Pada shift 3 (pukul 22.00 sampai pukul 06.00 tidak ada pengiriman material sehingga harus menyiapkan cadangan stok produksi untuk shift malam tersebut.. 2. Inventori mesin filter maker Inventori mesin filter maker merupakan troli tempat material untuk proses filter maker, yaitu AC dan PW. Terdapat tiga mesin filter maker dan tiga troli, data yang dicantumkan pada VSM adalah rata-rata inventori pada tiga troli.. Tabel 4.19. Data Inventori Material pada Mesin Filter Maker No 1 2. Material UoM AC PW. Kg Roll. Average Stock Level (UoM) 244,89 19,50. Average Consumption (UoM/shift) 665,00 56,63. Average Inv Level (shift) 0,39 0,35. Pada perhitungan di atas diketahui average inventory level terbesar adalah material AC, yaitu sebesar 0,39 shift. Frekuensi penggunaan yang cepat sehingga operator material supply merasa perlu menyediakan stok terlebih dulu di dekat mesin merupakan penyebabnya. Selain itu juga untuk mengantisipasi agar mereka tidak perlu mensuplai material AC secara mendadak ketika sedang mengerjakan pekerjaan yang lain. 3. Filter staging area dan filter buffer Filter rods dan filter rods dalam doss hasil produksi mesin filter maker yang kemudian didistribusikan ke proses cigarette maker pada SKM 3 disimpan terlebih dulu pada filter staging area dan filter buffer.. 63 Universitas Kristen Petra.

(36) Tabel 4.20. Data Inventori Filter Rods Pada Filter Staging Area dan Filter Buffer Material. UoM. Filter rods. Rod. Average Stock Level (UoM) 2.449.008,06. Average Consumption (UoM/shift) 5.211.696,29. Average Inv Level (shift) 0,47. Pada tabel 4.20. diketahui average inventory level filter rods pada filter staging area dan filter buffer adalah sebesar 0,47 shift. Average inventory level ini disebabkan karena harus tersedia stok filter rods untuk memenuhi kebutuhan material filter pada proses cigarette maker. Apabila tidak tersedia material filter, maka proses cigarette maker tidak dapat berlangsung. 4. Material staging area SKM 3 Material pada lantai produksi dari suppliers, dalam hal ini adalah material warehouse dan packaging warehouse disimpan terlebih dulu pada material staging area sebelum didistribusikan pada inventori mesin.. Tabel 4.21. Data Inventori pada Material Staging Area SKM 3 No. Material. UoM. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14. CI TI ET AL IF TP OP SL OS TS CB TB KP ST. Roll Roll Pcs Roll Roll Roll Roll Pcs Roll Roll Pcs Bundle Roll Roll. Average Stock Level (UoM) 116,33 150,60 10.200,00 89,53 128,93 5,00 130,00 2.538,00 23,33 20,07 2.514,17 74,93 20,92 34,93. Average Consumption (UoM/shift) 220,00 79,20 4.140,00 86,73 65,20 1,73 60,07 1.224,00 4,00 2,40 3.620,17 54,33 17,83 16,36. Average Inv Level (shift) 0,53 1,90 2,46 1,03 1,98 2,88 2,16 2,07 5,83 8,36 0,69 1,38 1,17 2,14. Average inventory level terbesar pada material staging area SKM 3 adalah material TS, yaitu sebesar 8,36 shift. Hal ini disebabkan karena penyebab. 64 Universitas Kristen Petra.

(37) sebagai berikut. •. Pemesanan material yang dilakukan secara fixed lot size menyebabkan pemesanan dengan dengan jumlah yang lebih kecil dari lot size, akan dibulatkan ke atas sesuai dengan lot size.. •. Breakdown mesin yang tidak terduga sehingga material tidak digunakan dan terjadi penumpukan material.. Selain material di atas terdapat inventori filter rods dalam pallet pada material staging area SKM 3.. Tabel 4.22. Data Inventori Filter Rods dalam Doss pada SKM 3 Material Filter rods. UoM Doss. Average Stock Level (UoM) 435,57. Average Consumption (UoM/shift) 201,71. Average Inv Level (shift) 2,16. Average inventory level filter rods dalam doss pada material staging area SKM 3 adalah 2,16 shift. Inventory level filter rods ini dapat berubah sesuai dengan keadaan filter shooter. Apabila filter shooter dalam keadaan bermasalah, stok filter rods dapat cepat habis dan dispatcher SKM 3 akan meminta pengiriman filter rods kembali. 5. Inventori mesin cigarette maker Inventori mesin cigarette maker adalah troli tempat material untuk proses cigarette maker, yaitu CI dan TI. Terdapat sembilan mesin cigarette maker dan sembilan troli, data yang dicantumkan pada VSM adalah rata-rata inventori pada sembilan troli.. Tabel 4.23. Data Inventori pada Mesin Cigarette Maker No 1 2. Material UoM CI TI. Roll Roll. Average Stock Level (UoM) 34,04 15,89. Average Consumption (UoM/shift) 29,50 9,03. Average Inv Level (shift) 1,18 1,80. Berdasarkan tabel di atas diketahui average inventory level terbesar pada. 65 Universitas Kristen Petra.

(38) mesin cigarette maker adalah material TI, yaitu sebesar 1,80 shift. Hal ini dapat disebabkan karena breakdown mesin yang tidak terduga sehingga material tidak digunakan dan terjadi penumpukan material. 6. Inventori cigarette in tray WIP batangan rokok yang dihasilkan oleh proses cigarette maker dan akan diproses pada proses selanjutnya, yaitu cigarette packer disebut sebagai inventori cigarette in tray. Tabel 4.24. Data Inventori Cigarette in Tray Material Rokok. UoM Tray. Average Stock Level (UoM) 267,03. Average Consumption (UoM/shift) 3.654,54. Average Inv Level (shift) 0,07. Average inventory level cigarette in tray adalah selama 0,07 shift atau sama dengan 35,07 menit. Adanya inventori rokok ini disebabkan karena perbedaan kapasitas mesin cigarette maker dan cigarette packer sehingga menyebabkan penumpukan rokok yang ditampung pada tray. 7. Inventori mesin cigarette packer Inventori mesin cigarette packer merupakan troli tempat material untuk proses cigarette packer, yaitu ET, AL, IF, TP, OP, SL, OS, dan TS. Terdapat sembilan mesin cigarette packer dan sembilan troli, data yang dicantumkan pada VSM adalah rata-rata inventori pada sembilan troli.. Tabel 4.25. Data Inventori pada Mesin Cigarette Packer No 1 2 3 4 5 6 7 8. Material UoM ET AL IF TP OP SL OS TS. Pcs Roll Roll Roll Roll Pcs Roll Roll. Average Stock Level (UoM) 268,83 13,44 10,00 0,72 10,73 150,15 1,89 1,81. Average Consumption (UoM/shift) 591,37 10,23 7,80 1,26 6,56 185,87 0,66 1,49. Average Inv Level (shift) 0,54 1,33 1,36 0,59 1,74 0,83 3,59 1,31. 66 Universitas Kristen Petra.

(39) Berdasarkan tabel di atas average inventory level terbesar pada mesin cigarette packer adalah material OS, yaitu sebesar 3,59 shift. Penyebabnya adalah breakdown mesin yang tidak terduga sehingga material tidak digunakan dan terjadi penumpukan material. Material OS adalah material yang digunakan pada akhir proses cigarette packer, sehingga ketika terjadi breakdown pada awal atau tengah proses, frekuensi penggunaan material OS menjadi turun. 8. Finished goods staging area Finished goods sebelum dikirim ke finished goods warehouse (FGW) dan Depo akan disimpan terlebih dulu pada finished goods staging area.. Tabel 4.26. Data Inventori Finished Goods pada Finished Goods Staging Area Material. UoM. Finished goods Box. Average Stock Level (UoM) 1.004,63. Average Consumption (UoM/shift) 2.092,89. Average Inv Level (shift) 0,48. Diketahui average inventory level finished goods pada finished goods staging area adalah sebesar 0,48 shift. Hal ini disebabkan karena finished goods harus mengalami conditioning selama empat jam terlebih dulu dan menunggu diberikannya label QC Passed sebelum dikirim ke Depo. Pengiriman ke Depo hanya dilakukan pada pukul 08.00 sampai pukul 21.00. Pukul 21.00 sampai pukul 08.00 finished goods akan dikirim ke FGW. Pengiriman ke FGW tidak perlu menunggu selama empat jam, selama telah terkumpul sebanyak 420 box maka finished goods akan dikirim. Hal ini menyebabkan stok akhir pada shift 2 tidak setinggi stok akhir pada shift 1 dan shift 3, dimana harus mempersiapkan untuk dikirim ke Depo.. 4.3.6. Identifikasi Unnecessary Motion Waste Unnecessary motion waste diidentifikasi dengan melakukan pengamatan pada aktivitas yang dilakukan oleh operator proses filter maker, cigarette maker, dan cigarette packer serta operator material supply. Pengamatan untuk mengidentifikasi unnecessary motion waste pada operator proses filter maker, 67 Universitas Kristen Petra.

(40) cigarette maker, dan cigarette packer dilakukan pada aktivitas pergantian shift. Pengamatan aktivitas operator saat mesin dijalankan sudah termasuk dalam pengamatan untuk mengidentifikasi waiting waste. Berikut ini adalah unnecessary motion waste yang telah teridentifikasi. Unnecessary motion waste terdapat pada aktivitas operator cigarette maker dan cigarette packer. a. Operator cigarette maker Unnecessary motion waste pada operator cigarette maker adalah mencari terlebih dulu majun yang digunakan untuk membersihkan oli dan sisa lem pada saat cleaning pergantian shift. Pada keadaan yang seharusnya, majun tersedia pada tempat yang telah disediakan, yaitu pada laci ketiga pada meja operator di sebelah mesin. b. Operator cigarette packer Unnecessary motion waste pada operator cigarette packer adalah pencarian alat yang dibutuhkan ketika pergantian shift. Berikut ini adalah barang yang dicari terlebih dulu ketika pergantian shift dilakukan. •. Majun yang digunakan untuk membersihkan oli dan sisa lem pada saat cleaning pergantian shift. Pada keadaan yang seharusnya, majun tersedia pada tempat yang telah disediakan, yaitu pada laci ketiga pada meja operator di sebelah mesin.. •. Plat kode produksi yang akan diganti pada mesin saat pergantian shift. Kode produksi akan menunjukkan pada mesin berapa dan kapan packing dilakukan sehingga mudah dilakukan pendeteksian apabila terdapat product hold. Product hold adalah ditahannya finished goods dan tidak bisa dilepas ke pasar karena ditemukan defect pada finished goods. Kode produksi akan memudahkan perusahaan melacak mesin mana yang memproduksi produk defect dan dapat dilakukan tindakan perbaikan. Keadaan yang terjadi adalah plat kode produksi diletakkan pada satu wadah, ketika akan digunakan operator menuang isi wadah tersebut untuk mencari plat yang diinginkan. Keadaan ini cukup memakan waktu dan dapat memperpendek running time mesin.. 68 Universitas Kristen Petra.

(41) •. Alat yang digunakan untuk mengganti plat kode produksi, seperti kunci L dan obeng. Pada beberapa mesin tidak tersedia alat sehingga operator saling meminjam pada operator mesin yang lain. Terkadang ketika alat sedang digunakan, operator harus menunggu alat selesai digunakan. Pada keadaan yang seharusnya, setiap mesin telah memiliki alat masing-masing dan disimpan pada laci kedua meja operator.. 4.3.7. Identifikasi Defects Waste Defect terjadi karena terdapat produk yang tidak sesuai dengan standar kualitas yang ditetapkan. Produk yang tidak sesuai dengan standar akan mengalami reject dan diidentifikasikan sebagai defect waste. Defect pada departemen SKM dibedakan menjadi dua jenis, yaitu product defect dan material defect. Product defect terdapat dalam bentuk filter dan rokok, baik rokok tanpa filter (cigarette non filter) maupun rokok dengan filter (cigarette+filter). Defect filter ditemukan pada proses filter maker dan cigarette maker. Defect cigarette non filter ditemukan pada proses cigarette maker. Defect cigarette+filter ditemukan pada proses cigarette maker dan cigarette packer. Material defect adalah reject material non tembakau yang digunakan untuk membentuk rokok dan mengemas rokok. Material defect terdiri atas material AC, PW, CI, TI, filter rods, AL, IF, OP, OS, TP, TS, ET, SL, CB, KP, SE, dan TB. Data defect waste diperoleh dari arsip perusahaan yang kemudian dilakukan pengolahan. Data defect waste didapat dengan menghitung banyaknya reject produk dan material dibandingkan dengan output rokok yang dihasilkan. Data defect waste diolah dalam bentuk persentase yang menunjukkan persentase defect waste pada satu juta batang rokok. Data persentase product defect waste pada departemen SKM dapat dilihat pada lampiran 10a. Berikut ini adalah persentase product defect waste pada satu juta batang rokok selama enam bulan.. 69 Universitas Kristen Petra.

(42) Tabel 4.27. Data Product Defect Waste Product Defect. Proses. Cigarette+Filter. Cigarette Maker Cigarette Packer Cigarette Maker Filter Maker Cigarette Maker. Cigarette non Filter Filter rods. % Waste 1,09 % 0,83 % 0,22 % 0,05 % 0,02 %. Berdasarkan data di atas, persentase product defect waste yang terbesar adalah cigarette+filter pada proses cigarette maker, yaitu sebesar 1,09%. Produk rokok dalam bentuk cigarette+filter merupakan produk akhir yang digunakan oleh konsumen sehingga konsumen bersedia membayar sejumlah nilai tertentu untuk menikmati rokok yang sesuai dengan harapan mereka. Oleh karena itu, perusahaan menetapkan standar kualitas yang tinggi pada rokok sebagai produk yang diutamakan oleh konsumen. Apabila terdapat rokok yang tidak memenuhi standar kualitas akan mengalami reject. Pada mesin cigarette maker terdapat sensor yang akan mendeteksi adanya defect sehingga reject dilakukan oleh mesin. Agar kualitas rokok tetap terjaga, operator melakukan inspeksi visual dan fisikal setiap 15 menit sekali. Standar kualitas yang tinggi dan banyaknya rokok yang tidak. memenuhi. standar. kualitas. menyebabkan. product. defect. waste. cigarette+filter pada proses cigarette maker tinggi. Persentase product defect waste tertinggi kedua adalah cigarette+filter pada proses cigarette packer, yaitu sebesar 0,83%. Penyebabnya adalah karena terdapat reject produk pack pada proses cigarette packer. Ketika terdapat reject produk pack, rokok yang terdapat pada pack juga akan mengalami reject. Produk rokok tidak dapat dilakukan rework dengan alasan higienis. Persentase product defect waste tertinggi ketiga adalah cigarette non filter pada proses cigarette maker, yaitu sebesar 0,22%. Terjadinya jammed pada mesin cigarette maker sehingga pembuatan tobacco rods terhenti menyebabkan product defect waste berupa cigarette non filter pada proses cigarette maker. Ketika dilakukan perbaikan mesin terdapat pembuangan tobacco rods yang tidak terbentuk dengan baik. Defect cigarette non filter juga terjadi akibat penyambungan material CI (splicing) dan ketika terdapat tobacco rods dan filter. 70 Universitas Kristen Petra.

(43) rods yang tidak tersambung dengan baik. Penyambungan yang tidak sempurna menyebabkan reject pada tobacco rods dan filter rods. Persentase product defect waste tertinggi keempat adalah filter rods pada proses filter maker, yaitu sebesar 0,05%. Hal ini disebabkan karena tingkat kompleksitas pembuatan filter rods pada proses filter maker termasuk rendah dibandingkan mesin cigarette maker dan cigarette packer. Tingkat kompleksitas yang rendah menjadikan tingkat reject juga rendah. Reject filter rods pada proses filter maker umumnya terjadi karena mesin jammed dan penyambungan material. Product defect waste dengan persentase terkecil adalah filter rods pada proses cigarette maker, yaitu sebesar 0,02%. Tingkat reject yang rendah pada proses penyambungan tobacco rods dan filter rods pada proses cigarette maker menyebabkan rendahnya product defect waste berupa filter rods. Pada proses cigarette maker terdapat sensor yang dapat mendeteksi adanya defect rokok akibat adanya tobacco rods dan filter rods yang tidak tersambung dengan baik. Konsumsi filter rods untuk satu batang rokok adalah seperempat juga mempengaruhi rendahnya persentase defect product filter rods pada proses cigarette maker. Data persentase material defect waste selama enam bulan pada departemen SKM dapat dilihat pada lampiran 10b. Berikut ini adalah data persentase material defect waste pada satu juta batang rokok.. Tabel 4.28. Data Material Defect Waste No 1 2 3 4 5 6 7 8. Material AC PW CI TI AL IF OP OS. Rata-rata 2,04 % 0,43 % 2,56 % 1,05 % 1,19 % 1,05 % 1,95 % 0,45 %. No 9 10 11 12 13 14 15 16. Material TP TS CB KP SE TB ET SL. Rata-rata 1,01 % 0,43 % 0,15 % 0,76 % 1,20 % 0,00 % 0,45 % 0,68 %. Berdasarkan data di atas, persentase material defect waste tertinggi adalah material CI yang digunakan pada proses cigarette maker, yaitu sebesar 2,56%. 71 Universitas Kristen Petra.

(44) Persentase tertinggi kedua adalah material AC yang digunakan pada proses filter maker, yaitu sebesar 2,04%. Pada proses cigarette maker dan filter maker, proporsi penggunaan kedua material tersebut adalah yang terbanyak dibandingkan material yang lain pada proses yang sama. Apabila terdapat reject pada produk rokok dan filter, material pendukung juga akan mengalami reject. Persentase material defect waste tertinggi ketiga adalah material OP yang digunakan pada proses cigarette packer, yaitu sebesar 1,95%. Material OP adalah material yang digunakan pada proses pembentukan pack. Pada proses cigarette packer, tingkat reject tertinggi terdapat pada produk pack. Ketika terdapat reject pada product pack, material penyusun juga akan mengalami reject, termasuk material OP. Pada proses case packer, material yang memiliki persentase material defect waste tertinggi adalah material SE, yaitu sebesar 1,20%. Material SE juga menempati peringkat keempat tertinggi material defect waste secara keseluruhan. Tingginya defect waste pada material SE disebabkan karena terdapat reject pada produk box pada proses case packer. Selain itu berdasarkan pengamatan, seringkali dijumpai penggunaan material SE yang tidak pada tempatnya sehingga semakin meningkatkan persentase waste pada material SE. Pada material TB tidak ditemukan adanya defect waste. Hal ini disebabkan karena rendahnya tingkat reject pada proses baling yang menggunakan material TB pada mesin case packer.. 4.4.. Current State Value Stream Mapping (VSM) Current state value stream mapping (VSM) pada departemen SKM dibuat. berdasarkan pemahaman aliran material dan informasi yang telah dilakukan di awal penelitian dan digambarkan pada sketsa current state VSM pada gambar 4.1. Data pelengkap yang untuk mendeteksi waste yang akan dicantumkan dalam current state VSM telah dijabarkan pada identifikasi tujuh waste di atas. Identifikasi waste dilakukan pada overproduction waste, waiting waste, transportation waste, overprocessing waste, inventory waste, unnecessary motion waste, dan defects waste. Current state VSM pada departemen SKM di PT XYZ dapat dilihat pada gambar 4.6.. 72 Universitas Kristen Petra.

Referensi

Dokumen terkait

Jadi dapat disimpulkan bahwa comfort zone atau zona nyaman adalah keadaan di mana seseorang merasa nyaman, terkendali, dan mengalami tingkat kecemasan yang rendah

Faktor manusia juga berperan dalam menghasilkan kecacatan ini sebab operator yang salah melakukan setting terhadap mesin gerinda menyebabkan mesin tidak akan bekerja

Berbeda dengan sistem perusahaan yang menggunakan forecasting produksi untuk menentukan jumlah bahan baku yang akan dipesan, penerapan metode periodic review

Melalui Tabel 4.11 dapat diketahui bahwa usulan yang dapat diimplementasikan saat ini adalah membuat jadwal pengecekan suhu mesin pelebur plastik, membuat catatan

Hubungan tiap departemen yang ada di PT E-T-A Indonesia terhadap sasaran atau obyektif yang telah ditetapkan dalam key performance indicator ( KPI ) perusahaan, dapat

Written test tidak dibuat untuk modul MAKER P Level Operator, karena sudah terdapat written test untuk modul training yang terdahulu dan soal dalam written test

Dilihat dari hasil analisa deskriptif didapati nilai mean tertinggi untuk variabel brand resonance adalah pada indikator dengan pernyataan “Melakukan segalanya untuk dapat

Setelah mendapatkan informasi mengenai perencanaan suksesi serta sistem keluarga dan sistem manajemen pada PT Murni Mapan Makmur, maka dapat dilihat cara yang