• Tidak ada hasil yang ditemukan

FUNGSI PELAYANAN REFERENSI TERHADAP KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA BUKITTINGGI SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FUNGSI PELAYANAN REFERENSI TERHADAP KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN PROKLAMATOR BUNG HATTA BUKITTINGGI SKRIPSI"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

FUNGSI PELAYANAN REFERENSI TERHADAP KEBUTUHAN INFORMASI PEMUSTAKA DI UPT PERPUSTAKAAN

PROKLAMATOR BUNG HATTA BUKITTINGGI

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan studi untuk meraih gelar Sarjana Sosial (S.Sos) dalam bidang

Ilmu Perpustakaan dan Informasi

FADILLAH RAMADANY 130709108

PROGRAM STUDI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

(2)

LEMBAR PERSETUJUAN

Judul Skripsi : Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka Di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi

Oleh : Fadillah ramadany

NIM : 130709108

Pembimbing : Dra. Eva Rabita, M.Hum NIP : 195603311986032001

Tanda Tangan : ________________________

Tanggal : ________________________

(3)

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Skripsi : Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka Di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi

Oleh : Fadillah Ramadany

NIM : 130709108

DEPARTEMEN ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI

Ketua : Ishak, S.S., M.Hum NIP : 19670424 200112 1 001

Tanda Tangan : ________________________

Tanggal : ________________________

FAKULTAS ILMU BUDAYA

Ketua : Dr. Budi Agustono, M.S NIP : 19600805 198703 1 001

Tanda Tangan : ________________________

Tanggal : ________________________

(4)

PERNYATAAN ORISINALITAS

Karya ini adalah karya orisinalitas dan belum pernah disajikan sebagai suatu tulisan untuk memeroleh suatu klasifikasi tertentu atau dimuat pada media publikasi lain.

Peneliti membedakan dengan jelas antara pendapat atau gagasan peneliti dengan pendapat atau gagasan yang bukan berasal dari peneliti dengan mencantumkan tanda kutip.

Medan, Januari 2018 Peneliti

Fadillah Ramadany NIM 130709108

(5)

ABSTRAK

Ramadany, Fadillah. 2018. Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi. Medan: Program Studi Ilmu Perpustakaan, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi menjalankan pelayanan referensi sesuai dengan fungsi – fungsinya yang ditinjau dari lima Indikator yaitu fungsi pengawasan, fungsi informasi, fungsi bimbingan, fungsi instruksi/petunjuk, dan fungsi bibliografis. Penelitian yang dilakukan di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi Jl. Kesuma Bakti, Gulai Bancah, Bukittinggi, Sumatera Barat.

Metode Penelitian menggunakan metode deskriptif. Populasi penelitian ini adalah pengguna layanan referensi yang aktif di UPT Perpustakaan Bung Hatta yaitu berjumlah 876 orang yang terdiri dari pelajar SMA, mahasiswa, dan umum.

Jumlah sampel penelitian adalah sebanyak 90 orang. Teknik yang digunakan untuk menentukan sampel penelitian adalah teknik Sampling Incidental.

Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner. Analisa deskriptif yang disajikan dalam penelitian ini yaitu dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan persentase.

Hasil penelitian berdasarkan fungsi – fungsi pelayanan referensi yang dilakukan pada UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi yang terdiri dari fungsi pengawasan, fungsi informasi, fungsi bimbingan, fungsi instruksi/petunjuk, dan fungsi bibliografis memiliki penilaian yang secara keseluruhan Baik, tapi pada beberapa bagian dari indikator ada pelayanan yang diberikan masih kurang baik.

UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi memberikan pelayanan referensi yang cukup baik dan memuaskan sesuai dengan fungsi – fungsi pelayanan referensi namun masih perlu ditingkatkan agar pengguna perpustakaan mendapatkan pelayanan yang lebih maksimal.

Kata Kunci : Fungsi Pelayanan Referensi, Kebutuhan Infoormasi

(6)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur peneliti ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi”

Skripsi ini diselesaikan sebagai salah satu persyaratan untuk meraih gelar Sarjana Sosial (S.Sos.) dalam bidang Ilmu Perpustakaan dan Informasi pada Fakultas Ilmu Budaya.

Peneliti mengucapkan banyak terima kasih kepada kedua orang tua tercinta yaitu Ayahanda Haflidarman dan Ibunda Ermadany beserta kakak Nia Hafli Mardany, Amd. Kep. dan abang Rahmat Defri, S. Kom yang selalu memberikan dukungan baik dari segi apapun dan juga doa yang selalu menyertai selama perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.

Pada kesempatan ini peneliti juga ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu keberhasilan penyusunan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Peneliti mengucapkan terima kasih sebesar- besarnya kepada:

1. Bapak Dr. Drs. Budi Agustono, M.S. selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya USU.

2. Bapak Ishak, SS, M.Hum. selaku Ketua Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Budaya dan penguji II, dimana telah membantu dan memberikan saran dan masukan kepada peneliti.

3. Ibu Dra. Eva Rabita, M.Hum. selaku Pembimbing, dimana beliau telah banyak memberikan bimbingan. Rasa penghormatan dan terima kasih atas waktu, dukungan, petunjuk dan nasehatnya kepada peneliti.

4. Ibu Hotlan Siahaan, S.Sos., M.I.Kom. selaku penguji I, dimana telah membantu dan memberikan saran dan masukan kepada peneliti.

5. Seluruh Bapak/Ibu staf dan pengajar pada Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi yang telah banyak membantu peneliti selama masa perkuliahan hingga terselesaikannya skripsi ini.

6. Kepada kepala dan seluruh staf pegawai UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinngi yang telah membantu peneliti selama ini.

7. Kepada sahabat saya yang telah memberikan dukungannya : Indri, Gigik, Beta, Rinda, Fahri, Putra, Dedi, Rizky dan seluruh teman – teman angkatan 2013 yang tidak tersebutkan namanya satu per satu.

Akhir kata, peneliti juga menyadari masih banyak terdapat kesalahan dan kekurangan dalam penelitian. Untuk itu peneliti mengharapkan kritik dan saran

(7)

yang membangun demi kesempurnaan penelitian ini. Peneliti juga berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak yang membutuhkannya, terima kasih.

Medan, Januari 2018 Peneliti

Fadillah Ramadany

130707108

(8)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Maslah ... 5

1.3Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 6

1.5 Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II KAJIAN TEORITIS ... 7

2.1 Perpustakaan Umum ... 7

2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum ... 8

2.1.2 Fungsi Perpustakaan Umum ... 10

2.2 Layanan Perpustakaan ... 12

2.2.1 Sistem Layanan Perpustakaan ... 13

2.2.1.1 Sistem Layanan Terbuka ... 13

2.2.1.2 Sistem Layanan Tertutup ... 15

2.3 Layanan Referensi ... 17

2.3.1 Tujuan Layanan Referensi ... 18

2.3.2 Fungsi Layanan Referensi ... 19

2.3.3 Unsur-Unsur Layanan Referensi ... 21

2.3.4 Jenis Koleksi Layanan Referensi ... 22

2.4 Pustakawan Referensi ... 24

2.4.1 Tugas Pustakawan Referensi ... 25

2.5 Kebutuhan Informasi ... 26

2.5.1 Pengertian Kebutuhan Informasi ... 27

2.5.2 Jenis Kebutuhan Informasi ... 29

2.5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Informasi ... 30

2.5.4 Karakteristik Kebutuhan Informasi ... 31

2.5.5 Sumber Informasi ... 32

2.6 Pengguna ... 33

BAB III METODE PENELITIAN ... 36

3.1 Metode Penelitian ... 36

3.2 Lokasi Penelitian ... 36

3.3 Populasi dan Sampel ... 36

3.3.1 Populasi ... 36

3.3.2Sampel ... 37

3.4 Teknik Pengumpulan Data ... 38

3.5 Jenis dan Sumber Data ... 39

(9)

3.6 Instrumen Penelitian ... 39

3.6.1 Kisi-Kisi Kuesioner ... 40

3.7 Analisis Data ... 40

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 42

4.1 Pengumpulan Data ... 42

4.2 Idenditas Responden ... 42

4.3 Analisis Deskriptif ... 42

4.3.1 Pelayanan Referensi sebagai Fungsi Pengawasan ... 43

4.3.2 Pelayanan Referensi sebagai Fungsi Informasi ... 47

4.3.3 Pelayanan Referensi sebagai Fungsi Bimbingan ... 51

4.3.4 Pelayanan Referensi sebagai Fungsi Instruksi/Petunjuk ... 57

4.3.5 Pelayanan Referensi sebagai Fungsi Bibliografis ... 61

4.4 Rangkuman Hasil Penelitian ... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 68

5.1 Kesimpulan ... 68

5.2 Saran ... 69

DAFTAR PUSTAKA ... 70

LAMPIRAN ... 73

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi – Kisi Kuesioner ... 40

Tabel 4.1 Identitas Responden ... 43

Tabel 4.2 Informasi yang diberikan pustakawan layanan referensi ... 43

Tabel 4.3 Kesesuaian Informasi yang diberikan ... 44

Tabel 4.4 Kesesuaian Informasi berdasarkan Latar belakang pendidikan ... 45

Tabel 4.5 Informasi yang tepat dan Aktual ... 46

Tabel 4.6 Kesesuaian informasi berdasarkan Pertanyaan Pengguna ... 47

Tabel 4.7 Kemampuan pustakawan dalam memberikan dan menelusur informasi ... 48

Tabel 4.8 Kejelasan Informasi Pustakawan Referensi ... 49

Tabel 4.9 Sumber – sumber Informasi ... 50

Tabel 4.10 Informasi terperinci dari pustakawan ... 51

Tabel 4.11 Kemampuan pustakawan referensi dalam memberikan bimbingan ... 52

Tabel 4.12 Bimbingan pustakawan referensi dalam menelusur informasi ... 53

Tabel 4.13 Bimbingan pustakawan dalam menggunakan alat bantu layanan referensi ... 54

Tabel 4.14 Bimbingan pustakawan dalam menemukan informasi sesuai bidang ilmu ... 55

Tabel 4.15 Bimbingan pustakawan untuk mendapatkan informasi yang efektif ... 56

Tabel 4.16 Kejelasan petunjuk dalam menggunakan layanan referensi ... 57

Tabel 4.17 Kemampuan pustakawan memperkenalkan layanan ... 58

Tabel 4.18 Kemampuan pustakawan dalam memperkenalkan koleksi ... 59

Tabel 4.19 Petunjuk pustakawan dalam memanfaatkan layanan ... 60

Tabel 4.20 Daftar Bacaan layanan referensi ... 61

Tabel 4.21 Kemampuan pustakawan dalam menyusun daftar bibliografis subjek tertentu ... 62

Tabel 4.22 Kemampuan Pustakawan dalam menyusun daftar bibliografis ... 63

Tabel 4.23 Kesesuaian daftar bibliografi dalam memenuhi kebutuhan informasi ... 64

Tabel 4.24 Fungsi Pengawasan ... 65

Tabel 4.25 Fungsi Informasi ... 65

Tabel 4.26 Fungsi Bimbingan ... 66

Tabel 4.27 Fungsi Instruksi/Petunjuk ... 66

Tabel 4.28 Fungsi Bibliografis ... 67

(11)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran I Surat Balasan UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi

Lampiran II Kuesioner

Lampiran III Rekapitulasi Data Jawaban Responden Lampiran IV Tabulasi Jawaban Responden

(12)
(13)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Perpustakaan dapat diartikan secara luas sebagai salah satu unit kerja yang berupa tempat untuk mengumpulkan, menyimpan, mengelola, dan mengatur koleksi bahan pustaka secara sistematis, untuk dipergunakan oleh pemakai sebagai sumber informasi sekaligus sebagai sarana belajar yang menyenangkan.

Perpustakaan sebagai sumber informasi memiliki peran penting dalam pembangunan nasional dan merupakan sarana penunjang dalam pendidikan.

Perpustakaan merupakan pusat sumber informasi yang memberikan pelayanan kepada pengguna. Layanan pepustakaan mencakup semua kegiatan pelayanan kepada pengguna yang berkaitan dengan pemanfaatan, penggunaan koleksi perpustakaan dengan tepat guna dan tepat waktu untuk kepentingan pengguna perpustakaan. Kegiatan pelayanan kepada pengguna perpustakaan merupakan pelayanan yang diberikan oleh suatu perpustakaan untuk menyebarkan informasi dan pemanfaatan koleksi.

Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat agar dapat dipergunakan secara luas bagi masyarakat untuk membantu meningkatkan kesejahteraannya. Perpustakaan dikatakan berhasil apabila perpustakaan tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengguna, memiliki koleksi perpustakaan yang sesuai dengan kebutuhan pengguna dan memiliki layanan yang berkualitas. Karakteristik layanan perpustakaan yang berkualitas dapat dilihat dari

(14)

Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuaan dan teknologi, jenis pelayanan perpustakaan berkembang, tidak hanya berfungsi untuk mengumpulkan, menyimpan dan memelihara serta melayankan bahan pustaka, tetapi juga menawarkan berbagai layanan lainnya yang semakin memudahkan penggunan perpustakaan dalam memanfaatkan sumber koleksi yang tersedia pada perpustakaan.

Layanan referensi merupakan salah satu kegiatan pelayanan perpustakaan menemukan dan menelusur informasi dengan cepat dan tepat dan membantu dalam memanfaatkan sarana yang tersedia. Layanan referensi memiliki peranan sebagai sumber rujukan, dimana pustakawan referensi harus memiliki kemampuan dan keterampilan yang cukup agar mampu menjawab berbagai pertanyaan dari pengguna, memberi pengarahan kepada pengguna, memperluas wawasan pengguna, serta tercapainya sumber-sumber informasi yang efesien dan maksimal sebagai bentuk kegiatan referensi. Hal ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan kebutuhan informasi masyarakat sebagai pengguna terhadap layanan referensi dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pengunaan layanan referensi oleh masyarakat pengguna.

Perpustakaan dapat berfungsi dengan baik apabila penggunanya mengetahui bagaimana memanfaatkan fasilitas perpustakaan yang telah disediakan atau pengguna dapat mengetahui dengan cepat dimana dan bagaimana cara menemukan informasi yang pengguna inginkan. Dan pustakawan merupakan perpanjangan tangan perpustakaan dalam memberikan layanan kepada pengguna perpustakaan. Pustakawan pada layanan referensi bertanggung jawab untuk

(15)

memberikan informasi bermanfaat sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diajukan oleh pengguna perpustakaan. Layanan referensi dapat disampaikan secara langsung atau melalui telepon atau e-mail atau referensi virtual.

Pustakawan Referensi harus responsif terhadap kebutuhan pengguna, berpikir kritis dan diatur serta mengatur atau mengkoordinasikan kebutuhan informasi dan layanan bagi pengguna. Pustakawan referensi harus menyadari tren saat ini, memiliki basis pengetahuan yang luas dan memahami fungsi layanan referensi.

Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta diresmikan pada tahun 2006 yang merupakan salah satu perpustakaan khusus yang pada praktiknya masih memback-up tugas dari kantor perpustakaan dan arsip daerah kota Bukittinggi sebagai perpustakaan umum. UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta mulanya dikelola oleh kota Bukittinggi, namun pada tahun 2013 perpustakaan ini diambil alih oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesi dan menjadi perpustakaan umum. Hal tersebut dikarenakan banyaknya koleksi dari Bung Hatta dan Minangkabau yang memiliki nilai sejarah yang tinggi sehingga Perpustakaan Nasional mengambil alih pengelolaannya. UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta memiliki 48 orang pegawai dengan 6 orang pustakawan.

1 orang pustakawan madya, 4 orang pustakawan pertama dan 1 orang pustakawan pelaksana. Dengan jam layanan mulai dari Senin-Kamis pukul 08.00 s/d 16.00, Jum’at pukul 08.00 s/d 16.30, Sabtu-Minggu pukul 08.00 s/d 15.00. Perpustakaan memiliki 45.285 judul buku dan 90.798 eksemplar. Jumlah anggota yang dimiliki sebanyak 15.460 orang. UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta memiliki layanan referensi yang terletak di basement atau lantai dasar gedung perpustakaan.

(16)

Koleksi referensi yang dimiliki UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta berdasarkan data koleksi tahun 2016 yaitu sebanyak 4.716 judul dan 7.801 eksemplar dengan 876 orang pengguna layanan referensi yang aktif.

Pustakawan layanan referensi pada UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta memiliki tugas antara lain, membantu pengguna dalam memberikan saran mengenai bahan pustaka yang dibutuhkan pengguna layanan referensi, memberikan informasi mengenai koleksi yang tersedia pada layanan referensi, memahami informasi mengenai kebutuhan pengguna layanan referensi, dan lain sebagainya. Dalam melakukan pelayanan, pustakawan menggunakan OPAC sebagai alat bantu pencarian. Pustakawan membantu pengguna menelusur informasi dengan OPAC. UPT Perpustakaan Proklamtor Bung Hatta menggunakan sistem tertutup pada layanan referensi . Pada unit layanan referensi, pustakawan yang ada berjumlah 2 orang, tetapi yang memiliki kualifikasi sebagai pustakawan hanya 1 orang. Pustakawan layanan referensi memiliki alat bantu antara lain, index koleksi referensi, katalog online, database online dan jaringan internet. Pustakawan pada Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta terkadang memiliki tugas tambahan selain menjadi pustakawan pada layanan referensi yaitu membantu tugas pada bagian lainnya.

Pada observasi awal, peneliti menemukan ada beberapa kekurangan dalam pelayanan referensi yang dilakukan oleh pustakawan UPT Perpustakaan Proklamtor Bung Hatta. Kekurangmampuan pustakawan dalam melaksanakan fungsi pelayanan referensi kepada pengguna dalam beberapa hal menjadikan pengguna membutuhkan waktu yang kurang efektif dalam mendapatkan

(17)

pelayanan referensi. Antara lain kurangnya informasi pustakawan dalam memberikan bahan pustaka pembanding ketika bahan pustaka yang diinginkan tidak tersedia atau dipinjam, bimbingan pustakawan kepada pengguna yang masih kurang, pemberian instruksi/petunjuk yang kurang jelas, dan kemampuan pustakawan dalam menguasai informasi bibliografis yang masih kurang, menimbulkan berbagai masalah bagi pengguna yang rata – rata merupakan penulis, mahasiswa yang ingin menggunakan informasi dari bahan pustaka sesuai dengan kebutuhan informasinya.

Oleh karena itu penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berkenaan dengan layanan referensi pada unit pelayanan teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta. Penulis ingin meneliti bagaimana fungsi pelayanan di unit pelayanan teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi oleh sebab itu, penulis mengangkat judul “Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi”.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka rumusan masalah penelitian ini adalah bagaimana fungsi pelayanan referensi terhadap kebutuhan informasi pemustaka di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi.

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana fungsi pelayanan referensi terhadap kebutuhan informasi di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi.

(18)

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain bagi:

a. Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, sebagai masukan untuk pengambilan kebijakan dalam pengembangan layanan perpustakaan .

b. Peneliti, diharapkan dapat menambah pengetahuan dan pengalaman mengenai kualitas layanan Unit Pelayanan Teknis Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.

c. Penelitian lanjutan, sebagai bahan referensi dalam melakukan penelitian dengan aspek yang berbeda, atau dengan menggunakan metode penelitian lain yang lebih baik.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, penelitian ini membahas tentang Fungsi Pelayanan Referensi Terhadap Kebutuhan Informasi Pemustaka di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta Bukittinggi, maka ruang lingkup penelitian ini adalah fungsi pengawasan, fungsi informasi, fungsi bimbingan, fungsi instruksi/petunjuk, dan fungsi bibliografis.

(19)

BAB II

KAJIAN TEORITIS

2.1 Perpustakaan Umum

Perpustakaan umum merupakan perpustakaan bagi berbagai kalangan masyarakat untuk memperoleh informasi sesuai dengan kebutuhannya yang dibiayaioleh dana umum.

Menurut Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan, Pasal 1 :“perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diperuntukkan bagi masyarakat luas sebagai sarana pembelajaran sepanjang hayat tanpa membedakan umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial- ekonomi”. Sama halnya pernyataan dari Hermawan dan Zen (2006, 30) menyatakan bahwa “Perpustakaan umum adalah perpustakaan yang melayani seluruh masyarakat tanpa membedakan latar belakang, status sosial, agama, suku pendidikan dan sebagainya”.

Dalam Buku Pedoman Umum Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 4), dikemukaan bahwa :

“perpustakaan umum adalah perpustakaan yang diselenggarakan di pemukiman penduduk (kota atau desa) diperuntukkan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat penduduk pemukiman tersebut untuk melayani kebutuhannya akan informasi dan bahan bacaan”.

Senada menurut Reitz yang dikutip Hasugian (2009, 77) menyatakan bahwa “A library or library system that provides unrestricted access to library resources and service free of charge to all the resident of a given community, district, or geographic region, supported wholly or in part by publics funds”.

(20)

Maksudnya adalah perpustakaan atau sistem perpustakaan menyediakan berbagai sumber daya yang dapat digunakan atau diakses secara gratis untuk semua masyarakat dalam suatu komunitas tertentu, kabupaten, atau wilayah geografis, dimana keseluruhan atau sebagian layanan didukung oleh dana umum.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diketahui bahwa perpustakaan umum adalah perpustakaan yang berasal dari dana umum masyarakat yang diselenggarakan di pemukiman penduduk pada wilayah geografis, kabupaten/kota tertentu yang dapat dipergunakan atau diakses secara gratis bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan, latar belakang, umur, jenis kelamin, suku, ras, agama, dan status sosial-ekonomi dan pendidikannya.

2.1.1 Tujuan Perpustakaan Umum

Setiap badan atau organisasi, harus memiliki tujuan agar dapat mengembangkan organisasi tersebut menjadi lebih baik.

Menurut Hermawan dan Zen (2006, 31) tujuan perpustakaan umum yang harus dicapai adalah:

1. Memberikan kesempatan kepada warga masyarakat untuk menggunakan bahan pustaka dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraan

2. Menyediakan informasi yang murah, mudah cepat dan tepat yang berguna bagi masyarakat dalam kehidupan sehari-hari

3. Membantu dalam pengembangan dan pemberdayaan komunitas melalui penyediaan bahan pustaka dan informasi

4. Bertindak sebagai agen kultural sehingga menjadi pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitar

5. Memfasilitasi masyarakat untuk belajar sepanjang masa.

Sedangkan menurut Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (1992, 6) terdapat tiga jenis tujuan perpustakaan umum yaitu :

(21)

1. Tujuan umum

Membina dan mengembangkan kebiasaan membaca dan belajar sebagai suatu proses yang berkesinambungan seumur hidup serta kesegaran jasmani dan rohani masyarakat yang berada dalam jangkauan layanannya, sehingga terkembang daya kreasi dan inovasinya bagi peningkatan martabat dan produktivitas setiap warga masyarakat secara menyeluruh dan menunjang pembangunan nasional.

2. Tujuan fungsional

Tujuan fungsional dan tujuan khusus perpustakaan umum adalah:

a. Mengembangkan minat, kemampuan dan kebiasaan membaca khususnya, serta mendayagunakan budaya tulisan dalam segala sektor kehidupan

b. Mengembangkan kemampuan mencari, mengelolah serta memanfaatkan informasi

c. Mendidik masyarakat pada umumnya agar dapat memelihara dan memanfaatkan bahan pustaka secara tepat guna dan berhasil guna d. Meletakkan dasar-dasar kearah belajar mandiri

e. Memupuk minat dan bakat masyarakat

f. Menumbuhkan apresiasi terhadap pengalaman imajinatif

g. Meningkatkan kemampuan masyarakat untuk memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan atas tanggung jawab dan usaha sendiri dengan mengembangkan kemampuan membaca masyarakat

h. Berpartisipasi aktif dalam menunjang pembangunan nasional yang menyediakan bahan pustaka yang dibutuhkan dalam pembangunan sesuai kebutuhan seluruh lapisan masyarakat

3. Tujuan operasional

Tujuan operasional perpustakaan umum merupakan pernyataan formal yang terperinci tentang sasaran yang harus dicapai serta cara mencapainya, sehingga tujuan tersebut dapat dimonitor, diukur dan dievaluasi keberhasilannya.

Sedangkan menurut Gill (2001, 16), tujuan didirikannya perpustakaan umum adalah : to provide resources and services in a variety of media to meet the needs of individuals and groups for education, information and personal development including recreation and leisure, yang dapat diartikan bahwa tujuan didirikannya perpustakaan umum adalah untuk menyediakan literatur dan layanan dalam berbagai media untuk memenuhi kebutuhan individu dan kelompok dalam

(22)

berbagai bidang, seperti bidang pendidikan, informasi dan pengembangan diri termasuk rekreasi dan kepuasan.

Dan tujuan perpustakaan umum dalam manifesto UNESCO yang dikutip oleh Jonner Hasugian (2009, 77) dinyatakan :

1. Memberikan kesempatan bagi masyarakat umum untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.

2. Menyediakan sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat,terutama informasi mengenai topik yang berguna bagi mereka dan yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.

3. Membantu warga untuk mengembangkan kemampuan yang dimilikinya sehingga yang bersangkutan akan bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya, sejauh kemampuan tersebut dapat dikembangkan dengan bahan pustaka.

4. Bertindak sebagai agen cultural artinya Perpustakaan Umum merupakan pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.

Dari pendapat – pendapat tersebut di atas, dapat diketahui bahwa ada beberapa tujuan dari perpustakaan umum adalah memberikan kesempatan bagi masyarakat secara luas tanpa membeda – bedakan golongan, suku, agama, status sosial tertentu dalam mendapatkan informasi yang cepat, tepat dan murah untuk mengembangkan kemampuan pengetahuan, keterampilan dan kesejahteraan agar dapat ditingkatkan ke arah yang lebih baik lagi, dan melindungi kehidupan budaya yang ada disekitar masyarakat.

2.1.2 Fungsi Perpustakaan Umum

Dalam mencapai tujuannya, perpustakaan harus melaksanakan fungsi agar setiap tujuan yang telah dirumuskan tercapai dengan optimal.

Menurut Siregar (2004, 76) juga menjelaskan bahwa fungsi utama perpustakaan umum adalah:

(23)

1. Untuk membantu orang (terutama orang-orang muda dan anak-anak) menjadi melek informasi.

2. Memberi tahu mereka bagaimana informasi dan juga untuk mengembangkan kebiasaan membaca.

3. Membantu orang dewasa untuk belajar seumur hidup dan belajar kembali untuk perubahan karir.

4. Memelihara dan mempromosikan kebudayaan.

Sedangkan dalam Buku Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Umum (2000, 6) dijabarkan fungsi perpustakaan umum sebagai berikut :

1. Pengkajian kebutuhan pemakai dalam hal informasi dan bahan bacaan.

2. Penyediaan bahan pustaka yang diperkirakan diperlukan.

3. Pengolahan dan penyiapan setiap bahan pustaka.

4. Penyimpanan dan pemeliharaan koleksi.

5. Pendayagunaan koleksi.

6. Pemberian layanan kepada warga masyarakat.

7. Pemasyarakatan perpustakaan.

8. Pengkajian dan pengembangan semua aspek kepustakawanan.

9. Pelaksanaan koordinasi dengan pihak Pemerintah Daerah.

10. Menjalin kerjasama dengan perpustakaan lain dalam rangka pemanfaatan bersama koleksi dan sarana/prasarana.

11. Pengolahan dan ketata-usahaan perpustakaan.

Menurut Undang-Undang RI No 43 tahun 2007 tentang perpustakaan pada bab I : 3, fungsi perpustakaan adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

Dari ketiga pernyataan tersebut, dapat diketahui bahwa fungsi perpustakaan umum adalah sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa dengan membantu masyarakat menjadi melek informasi dan meningkatkan keinginan dan kemampuan dalam memperoleh serta mengkaji informasi yang dibutuhkan sesuai dengan keinginannya.

(24)

2.2 Layanan Perpustakaan

Perpustakaan merupakan suatu organisasi atau badan yang memberikan jasa berupa informasi dan bahan pustaka bagi pengguna. Sehingga produk dari perpustakaan memberikan jasa pelayanan kepada masyarakat dalam memenuhi kebutuhan informasi yang diinginkan oleh masyarakat tersebut.

Menurut Darmono (2001, 134), “Layanan perpustakaan adalah menawarkan semua bentuk koleksi yang dimiliki perpustakaan kepada pemakai yang akan datang ke perpustakaan dan meminta informasi yang dibutuhkan”.

Sedangkan menurut Sutarno (2006, 90) “layanan perpustakaan merupakan kegiatan yang memberikan layanan yang baik sebagaimana di kehendaki oleh pemakai dalam pemberian informasi”. Senada dengan Sutarno, menurut Zulfikar Zen (2006, 90) “Layanan yang baik adalah layanan yang dapat memberikan rasa senang dan puas kepada pemakai”.

Berdasarkan UU No. 43 Tahun 2007 pasal 14 tentang layanan perpustakaan menyebutkan:

1) Layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka.

2) Setiap perpustakaan menerapkan tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standar nasionalperpustakaan.

3) Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi.

4) Layanan perpustakaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dikembangkan melalui pemanfaatan sumber daya perpustakaan untuk memenuhi kebutuhan pemustaka.

5) Layanan perpustakaan diselenggarakan sesuai dengan standar nasional perpustakaan untuk mengoptimalkan pelayanan kepada pemustaka.

6) Layanan perpustakaan terpadu diwujudkan melalui kerja sama antar perpustakaan.

7) Layanan perpustakaan secara terpadu sebagaimana dimaksud pada ayat (6) dilaksanakan melalui jejaring telematika.

(25)

Sehingga dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa, layanan perpustakaan adalah layanan yang memberikan kepuasan kepada penggunanya sesuai dengan kebutuhan informasi yang diinginkan dari penggunanya sesuai tata cara layanan perpustakaan berdasarkan standar nasional perpustakaan dan dibarengi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga pengguna lebih optimal dalam menggunakan perpustakaan umum.

2.2.1 Sistem Layanan Perpustakaan

Secara umum perpustakaan mempunyai sistem pelayanan yang dikenal dengan istilah sistem layanan terbuka dan sistem tertutup. Sehingga memudahkan pengguna dalam memanfaatkan koleksi perpustakaan dengan baik, maka perpustakaan menetapkan sistem layanan yang akan diterapkan di perpustakaan tersebut. Kedua sistem tersebut akan dibahas pada uraian berikut:

2.2.1.1 Sistem Layanan Terbuka

Sistem layanan perpustakaan yang memberikan kebebasan dan keleluasaan bagi pengguna untuk mencari, memilih, mengambil bahan pustaka yang dibutuhkan sesuai dengan keinginannya. Menurut Darmono (2001, 139) “Sistem terbuka adalah sistem yang memungkinkan para pengguna secara langsung dapat memilih, menemukan dan mengambil sendiri bahan pustaka yang dikehendaki dari jajaran koleksi perpustakaan”.

Sedangkan hal yang hampir sama yang dinyatakan Rahayuningsih (2007, 93) bahwa “Sistem layanan terbuka adalah sistem layanan yang memungkinkan pengguna masuk ke ruang koleksi untuk memilih dan mengambil sendiri koleksi yang diinginkan dari jajaran koleksi perpustakaan”.

(26)

Dari kedua pendapat di atas dapat diketahui bahwa sistem layanan terbuka adalah sistem yang memungkinkan pengguna dapat langsung masuk ke ruangkoleksi atau menuju rak koleksi. Kemudian pengguna menemukan, memilih dan mengambil sendiri bahan pustaka sesuai dengan keinginan dan kebutuhan informasi pengguna.

Beberapa keunggulan yang dapat diambil apabila perpustakaan menggunakan sistem layanan terbuka adalah sebagai berikut:

1. Pemakai dapat melakukan pengambilan sendiri bahan pustaka yang dikehendaki dari jajaran koleksi.

2. Pemakai dilatih untuk dapat dipercaya dan diberi tanggung jawab terhadap terpeliharanya koleksi yang dimiliki perpustakaan.

3. Pemakai akan merasa lebih puas karena ada kemudahan dalam menemukan bahan pustaka dan alternatif lain jika yang dicari tidak ditemukan.

4. Dalam sistem ini tenaga perpustakaan yang bertugas untuk mengambil bahan pustaka tidak diperlukan sehingga bisa diberikan tanggung jawab dibagian lain. (Darmono 2001, 140)

Selain terdapat keunggulan, sistem layanan terbuka memiliki kelemahan : 1. Ada kemungkinan pengaturan buku di rak penempatan (jajaran) menjadi

kacau balau karena ketikan mereka melakukan browsing. Buku yang sudah dicabut dari jajaran rak dikembalikan lagi oleh pemakai secara tidak tepat.

2. Ada kemungkinan buku yang hilang relatif lebih besar bila dibandingkan dengan sistem yang bersifat tertutup.

3. Memerlukan ruangan yang lebih luas untuk jajaran koleksi agar lalu lintas atau mobilitas pemakai lebih leluasa.

4. Membutuhkan keamanan yang lebih baik agar kebebasan untuk mengambil sendiri bahan pustaka dari jajaran koleksi tidak menimbulkan berabagai akses seperti peningkatan kehilangan atau perobekan bahan pustaka. (Darmono 2001, 140)

Dari pendapat di atas, dapat diketahui bahwa sistem layanan terbuka memiliki keunggulan dan kelemahan. Keunggulan sistem layanan terbuka yaitu pengguna diberi kemudahan dalam menemukan koleksi sendiri yang dibutuhkannya, sehingga jika koleksi yang dibutuhkan tidak tersedia maka

(27)

pengguna dapat mencari koleksi alternatif. Dan fungsi pustakawan pada sistem layanan terbuka adalah sebagai pengawas dalam membantu pengguna dan terhadap koleksi. Sedangkan kelemahan dari sistem layanan terbuka yaitu berupa tata letak koleksi perpustakaan yang kemungkinan tidak sesuai dengan urutan, selain itu kemungkinan bukuhilang relatif lebih tinggi karena dibutukan sumber daya manusia yang cukup agar dapat mengawasi pengguna dan koleksi, ruangan yang dibutuhkan juga lebih luas agar pengguna menjadi lebih nyaman dalam mencari koleksi. Jadi, perpustakaan dapat menerapkan sistem layanan terbuka jika memang sesuai dengan keadaan serta kemampuan dan kebutuhan perpustakaan dalam melayani pengguna.

2.2.1.2 Sistem Layanan Tertutup

Pada sistem layanan tertutup yang diterapkan oleh perpustakaan, pengguna tidak dapat mencari buku di rak secara langsung, hanya petugas perpustakaan yang dapat mencari bahan pustaka yang dibutuhkan oleh pengguna. Koleksi yang ingin dipinjam dapat dilihat dan dipilih melalui daftar/katalog yang tersedia.

Menurut Lasa yang dikutip oleh Majida (2011, 17 : “Sistem pinjam tertutup adalah suatu cara peminjaman yang tidak memungkinkan pengguna untuk memilih dan mengambil sendiri akan koleksi perpustakaan”. Koleksi yang ingin dipinjam dapat dipilih melalui daftar/katalog yang tersedia. Koleksinya akan diambilkan oleh petugas.

Sedangkan Rahayuningsih (2007, 94) menyatakann bahwa “Sistem layanan tertutup adalah sistem layanan perpustakaan yang tidak memungkinkan pengguna mengambil sendiri koleksi yang dibutuhkan”.

(28)

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem layanan tertutup merupakan sistem yang tidak memungkinkan pengguna untuk mengambil sendiri ssecara langsung koleksi yang ada di perpustakaan, melainkan melalui petugas perpustakaan yang tersedia untukmeminjamkan koleksi yang dibutuhkan pengguna, dimana koleksi yang ada dapat dilihat melalui daftar atau katalog yang disediakan oleh perpustakaan.

Seperti halnya sistem layanan terbuka, sistem layanan tertutup juga memiliki keuntungan dan kerugian. Menurut Rahayuningsih (2007, 94) keuntungan dan kerugian dalam sistem tertutup adalah:

Keuntungan:

1. Memungkinkan susunan rak dipersempit antara satu dengan lainnya, sehingga menghemat ruang untuk menyimpan koleksi.

2. Susunan koleksi di rak lebih teratur dan tidak mudah rusak, karena yang mengambil dan mengembalikan adalah petugas.

3. Faktor kehilangan dan kerusakan koleksi bisa diperkecil.

Kerugian:

1. Petugas banyak mengeluarkan energi untuk melayani peminjaman.

2. Prosedur peminjaman tidak bisa cepat (harus menunggu giliran dilayani bila antrian panjang).

3. Jumlah koleksi tidak pernah disentuh atau dipinjam.

4. Peminjam sering tidak puas apabila koleksi yang dipinjam tidak sesuai dengan yang dikehendaki.

Dari uraian di atas, dapat diketahui keuntungan menerapkan sistem layanan tertutup antara lain yaitu ruang untuk menyimpan koleksi lebih sedikit karena hanya petugas yang dapat menuju ke rak untuk mengambil koleksi yang dibutuhkan pengguna, sehingga susunan rak dapat dipersempit. Keuntungan lain yaitu susunan koleksi di rak lebih teratur dan tidak mudah rusak karena petugas perpustakaan yang langsung mengambil koleksi perpustakaan, serta faktor kehilangan dan kerusakan koleksi dapat berkurang. Adapun kerugian dalam

(29)

menerapkan sistem layanan tertutup yaitu berupa petugas akan banyak menguras energi karena melayani pengguan, proses peminjaman memakan waktu yang lama, serta pengguna sering merasa tidak puas karena koleksi yang akan dipinjam tidak sesuai dengan kebutuhan yang diinginkan. Jadi, perpustakaan dapat menerapkan sistem layanan tertutup jika memang sesuai dengan keperluan dan keadaan serta kebutuhan tertentu dari perpustakaan.

2.3 Layanan Referensi

Salah satu layanan yang terdapat pada perpustakaan umum dalam memberikan kebutuhan informasi bagi penggunanya adalah layanan referensi.

Layanan referensi menitikberatkan pada pelayanan kepada individu dalam memperoleh sumber rujukan yang lebih khusus.

Menurut Darmono (2001, 141) bahwa:

“Layanan referensi adalah layanan yang diberikan oleh perpustakaan untuk koleksi-koleksi khusus seperti kamus, ensiklopedia, almanak, direktori, buku tahunan yang berisi informasi teknis dan singkat. Koleksi ini tidak boleh dibawa pulang oleh pengunjung perpustakaan tetapi hanya untuk dibaca di tempat”.

Sedangkan menurut Yusuf yang dikutip oleh Sitompul (2015, 33)

“Layanan referensi diperpustakaan umum ditujukan untuk keperluan konsultasi, bahan rujukan, dan informasi umum yang dikaitkan dengan aspek pembangunan nasional daerah”.

Menurut Rahayuningsih (2007, 103), menyatakan bahwa :

“layanan referensi adalah suatu kegiatan untuk membantu pengguna perpustakaan dalam menemukan informasi yaitu dengan cara menjawab pertanyaan dengan menggunakan koleksi referensi, serta memberikan bimbingan untuk menemukan dan memakai koleksi referensi”.

(30)

Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa layanan referensi merupakan layanan yang diberikan perpustakaan kepada penggunanya untuk memperoleh bahan rujukan dan informasi yang dibutuhkan sesuai dengan keinginan dari pengguna perpustakaan.

2.3.1 Tujuan Layanan Referensi

Dalam kegiatan layanan referensi memiliki tujuan mendasar yaitu memudahkan penggunanya menemukan informasi yang berasal sumber atau bahan rujukan yang lebih spesifik sesuai dengan kebutuhan dari pengguna perpustakaan.

Menurut Murniaty (2006, 6), tujuan layanan referensi antara lain sebagai berikut :

1. Mengarahkan pengguna Perpustakaan menemukan informasi yang dibutuhkan dengan cepat dan tepat.

2. Mengusahakan pengguna Perpustakaan menelusuri informasi dengan menggunakan berbagai pilihan sumber informasi yang lebih luas.

3. Mengusahakan pengguna Perpustakaan menggunakan setiap koleksi referensi dengan lebih tepat guna.

Sependapat dengan Murniaty, menurut Rahayuningsih (2007, 104), layanan referensi memiliki tujuan :

1. Memungkinkan pengguna menemukan informasi secara cepat dan tepat.

2. Memungkinkan pengguna menelusur informasi dengan pilihan yang lebih luas.

3. Memungkinkan pengguna menggunakan koleksi referensi dengan lebih tepat guna.

Sedangkan menurut Widyawan (2012, 5) bahwa :

“tujuan layanan referensi adalah : Untuk memenuhi kebutuhan pemustaka mencakup pencarian informasi, menggunakan sumber informasi yang ada di Perpustakaan dan memberikan layanan secara adil dan tidak memihak, serta mempromosikan nilai informasi untuk pemecahan masalah kesenjangan informasi”.

(31)

Dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa, tujuan dari layanan referensi adalah memenuhi kebutuhan informasi pengguna/pemustaka yang ada di perpustakaan secara cepat dan tepat, serta mempromosikan nilai informasi untuk pemecahan masalah kesenjangan informasi agar menjadi lebih tepat guna.

2.3.2 Fungsi Layanan Referensi

Fungsi dari layanan referensi dilaksanakan agar tujuan dari layanan referensi yang dikembangkan oleh perpustakaan umum dapat terlaksanan dengan baik dan optimal.

Menurut Departemen pendidikan dan kebudayaan 2008, yang dikutip pada Almah (2013, 12 – 13) agar tugas layanan referensi dapat dijalankan dengan sebaik-baiknya, maka petugas perlu memahami terlebih dahulu fungsi – fungsi referensi sebagai berikut:

1. Fungsi Supervisi/Pengawasan.

Petugas referensi dalam hal ini dapat mengamati pengunjung, baik dalam hal kebutuhan informasi yang mereka perlukan maupun latar belakang sosial dan juga tingkat pendidikan mereka. Misalnya saja bagi perpustakaan sekolah, kita harus dapat mencarikan sumber referensi yang tepaat dan aktual untuk memberikan informasi kepada para siswa maupun guru sekolah yang ingin mendapatkan jawaban sebuah pertanyaan.

2. Fungsi Informasi.

Fungsi informasi terpenting dari pada layanan referensi ialah memberikan informasi kepada pemakai. Memberikan informasi ini dimaksudkan untuk memberikan jawaban terhadap pertanyaan singkat maupun penelusuraan informasi yang luas dan mendetail sesuai dengan bahan-bahan yang dibutuhkan. Dalam hal ini petugas harus dapat menjelaskan sumber-sumber yang tepat.

3. Fungsi Bimbingan.

Petugas referensi harus dapat menyediakan waktu guna memberikan bimbingan kepada pemakai perpustakaan.Misalnya saja dalam hal penggunaan katalog perpustakaan, alat-alat audio visual, buku-buku referensi serta bahan pustaka lainnya.

(32)

4. Fungsi Instruksi/petunjuk.

Pemberian instruksi disini bukan saja dimaksudkan sebagai cara untuk memperkenalkan kepada pemakai tentang bagaimana menggunakan perpustakaan yang baik, akan tetapi ditujukan juga kepada usaha untuk menggairahkan dan meningkatkan penggunaan perpustakaan itu sendiri.

5. Fungsi Bibliografis

Untuk keperluan penelitian atau mengenai bacaan yang baik dan menarik maka petugas referensi perlu secara teratur menyusun daftar bacaan atau bibliografi. Penyusunan bibliografi ini lazimnya dipergunakan untuk berbagai tujuan, yakni;

a. Untuk menyusun suatu bibliografi tentang suatu subyek tertentu.

b. Untuk menyusun suatu bibliografi yakni mengenai daftar bacaan yang baik dan menarik untuk keperluan karya tulis, atas permintaan guru, siswa atau orang lain yang memerlukannya.

Dan menurut Murniaty (2006, 7), bahwa fungsi layanan referensi : 1. Fungsi pengawasan.

Maksud dari pengawasan tersebut adalah untuk mengamati kebutuhan informasi yang diperlukan oleh pengguna Perpustakaan.

2. Fungsi informasi.

Memberikan jawaban atas pertanyaan pengguna, dan sesegera mungkin menyampaikan informasi yang memang segera harus diketahui oleh pengguna.

3. Fungsi bimbingan.

Memberikan bimbingan kepada pengguna Perpustakaan untuk mencari atau menemukan bahan pustaka dalam kelompok koleksi referensi yang tepat sesuai dengan bidang masing-masing dan bagaimana cara menggunakannya, serta untuk mencari atau menemukan informasi yang dikehendaki.

4. Fungsi instruksi.

Memberikan pengarahan dan petunjuk bagaimana cara memanfaatkan Perpustakaan.

5. Fungsi bibliografi.

Mengenalkan kepada pengguna daftar bacaan yang menarik dan hal ini akan bermanfaat bagi pengguna yang sedang melakukan penelitian.

Sedangkan menurut Rahayuningsih (2007, 104), bahwa fungsi layanan referensi yaitu :

1. Informasi.

Memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau kebutuhan pengguna Perpustakaan akan informasi.

(33)

2. Bimbingan.

Memberikan bimbingan untuk menemukan bahan pustaka yang tepat sesuai dengan minat pengguna.

3. Pengarahan/instruksi.

Memberikan pengarahan dan bantuan pada pengguna mengenai cara menggunakan Perpustakaan maupun koleksi referensi.

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa fungsi utama dari layanan referensi antara lain, fungsi pengawasan, fungsi informasi, fungsi bimbingan, fungsi instruksi, dan fungsi bibliografi kepada pengguna/pemustaka perpustakaan umum.

2.3.3 Unsur – Unsur Layanan Referensi

Layanan referensi merupakan layanan langsung pustakawan dengan pengguna perpustakaan dalam memperoleh bahan rujukan dan informasi yang dibutuhkan langsung oleh penggunanya. Sehingga perpustakaan dalam memberikan layanan referensi harus memenuhi beberapa unsur – unsur.

Menurut Muchdlor (2012, 2), bahwa unsur – unsur dari layanan referensi adalah :

1. Tata ruang referensi dipisahkan dari ruang layanan lain, pintu masuk tersendiri untuk menjaga keamanan koleksi, dan dekat pintu masuk tersedia meja pustakawan referensi secara langsung bias memberi bantuan pada pemustaka dalam penelusuran.

2. Koleksi yang berada di ruangan referensi dan ruangan layanan lainnya bisa digunakan pustakawan referensi guna memenuhi kebutuha pemustaka.

3. Pustakawan referensi merupakan perantara ataupun penghubung koleksi dengan pemustaka maka pustakawan harus memenuhi standar kompetensi pustakawan referensi.

Sedangkan menurut Sjahrial-Pamuntjak (2000, 108-112), ada tiga unsur layanan referensi yaitu :

1. Pertanyaan yang diajukan, maksudnya seorang pustakawan layanan referensi harus sabar dan bersikap sopan dalam menanyakan kembali

(34)

pertanyaan pemustaka yang masih kabur sehingga pertanyaan tersebut jelas dan dimengerti oleh pustakawan. Pustakawan perlu mencatat setiap pertanyaan agar bias dijadikan rujukan untuk layanan selanjutnya.

2. Bantuan dalam penelusuran, maksudnya seorang pustakawan mengembangkan teknik untuk mewawancarai pemustaka, lalu menganalisa maksud pertanyaan pemustaka, dan selanjutnya melakukan penelusuran didekat pemustaka. Jika hasil penelusuran belum memenuhi kebutuhan informasi pemustaka maka pustakawan mencarikan informasi pada pusat-pusat informasi.

3. Bahan pustaka sebagai sumber informasi, maksudnya buku-buku referensi yang dijadikan sebagai alat konsultasi untuk mendapatkan informasi tertentu. Berdasarkan cakupan isi dan jenis pertanyaan pemustaka akan dijawab berdasarka jenis jenis koleksi referensi seperti ensiklopedia, kamus, sumber biografi, direktori, buku tahunan dan almanak, buku pedoman, bibliografi, indeks dan abstrak, dan terbitan resmi pemerintah.

Dari dua pendapat di atas, layanan referensi harus memenuhi beberapa unsur tata ruang referensi, koleksi atau bahan pustaka sebagai sumber informasi, bantuan dalam penelusuran, pertanyaan yang diajukan dan pustakawan referensi sebagai perantara atau penghubung koleksi dengan pengguna perpustakaan.

2.3.4 Jenis Koleksi Layanan Referensi

Koleksi merupakan salah satu elemen penting pada perpustakaan. Tanpa koleksi baik yang tercetak maupun elektronik perpustakaan tidak dapat memberikan layanan kepada penggunanya. Tidak terlepas pada layanan referensiyang merupakan layanan yang memberikan koleksi – koleksi khusus dan tertentu yang menjadi sumber rujukan bagi pengguna informasi pada perpustakaan.

Menurut Lasa yang dikutip oleh Junaida (2011, 4), jenis jenis koleksi layanan referensi adalah sebagai berikut :

1. Kamus (Dictionary), adalah kumpulan kata-kata. Kamus memberikan pertolongan pembaca yang menemukan kesulitan tentang kata. Sebab

(35)

koleksi ini berisi daftar kata yang disusun alfabetis, tiap kata dianalisis dan diolah menurut asal kata, ucapannya, artinya maupun cara penggunaanya juga sering diberikan sinonim, lawan kata.

Kadang diberi foto, grafik maupun gambar untuk memperjelas arti.

Contoh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

2. Ensiklopedi (Encyclopedia), merupakan salah satu koleksi referensi yang banyak dipergunakan pemakai. Jenis karya ini merupakan karya universal, menyeluruh yang berisi ukuran ringkas tentang berbagai cabang ilmu atau bidang ilmu pengetahuan. Entri-entrinya disusun alfabetis seperti pada kamus dan uraiannya dalam bentuk artikel- artikel yang terpisah. Contoh : Americana, Brittanica, Colliers dan World Book”.

3. Bibliografi (Bibliography), terdiri dari kata ”bibliografi” yang berasal dari bahasa Yunani kuno/Greek ”Biblion” yang berarti buku dan

”Grapheine” berarti menulis. Kemudian arti ini berkembang menjadi pengertian menulis tentang buku. Juga dapat diartikan sebagai daftar pustaka yang disusun menurut aturan maupun pola tertentu.

4. Sumber Biografi, berasal dari kata “Bio” berarti hidup, dan

“Grapheine” yang berarti menulis dan mencatat. Maka biografi diartikan catatan maupun tulisan-tulisan tentang riwayat hidup seseorang atau beberapa orang sejak kecil sampai dewasa yang ditulis seobjektif mungkin. Riwayat hidup ini ditulis sendiri atau ditulis oleh orang lain. Riwayat hidup yang ditulis sendiri oleh pelakunya disebut autobiografi. Contoh : Biografi nasional (Biografi yang mencantumkan sejumlah nama, tokoh dalam bidangnya dalam suatu negara), dan Biografi khusus (Biografi yang hanya mencantumkan nama-nama orang yang ahli atau tokoh dalam bidang tertentu).

5. Indeks (Index), dapat diartikan sebagai tanda atau petunjuk indikasi.

Misalnya; IP (indeks prestasi/Index Prestation), berarti menunjukkan prestasinya juga misalnya indeks bahan makanan, indeks harga dan lain sebagainya.

6. Abstrak (Abstrac), adalah uraian yang dipadatkan dari suatu karangan atau artikel yang biasannya bersifat ilmiah.

7. Buku pedoman/handbook & guidebook, yang dimaksud buku pedoman atau pegangan disini berbeda dengan buku pegangan untuk mengajar bagi Guru-guru SD-SMTA. Akan tetapi jenis ini pada umumnya berisi uraian yang dapat dipergunakan untuk mengerjakan sesuatu. Juga merupakan petunjuk ringkas tetapi menyeluruh dalam satu bidang. Di dalam buku ini petunjuk-petunjuknya diberikan secara mendalam dan dilengkapi dengan gambar-gambar agar mudah digunakan.

8. Directori (Directory), koleksi ini berupa daftar nama-nama orang, lembaga, organisasi maupun perkumpulan lain yang disusun alfabetis maupun sistematis. Dicantumkan pula data pendukung lainnya

(36)

terutama untuk menghubungi orang-orang tertentu maupun akan mengunjungi lembaga tertentu.

9. Almanak (Almanac), mula-mula almanak diartikan sebagai kalender, penanggalan dalam waktu satu tahun. Kemudia arti ini berkembang menjadi catatan peristiwa dalam berbagai bidang selama waktu tertentu. Pada umumnya, almanak menyajikan fakta, statistik serta informasi dasar tentang berbagai hal sejak soal-soal pertanian sampai pada binatang. Almanak merupakan bahan rujukan tentang kependudukan, bisnis, olahraga serta soal-soal statistik pertanian.

10. Buku Tahunan (Year Book), adalah buku yang memuat peristiwa- peristiwa selama setahun terakhir. Pada umumnya buku tahunan ini berisi masalahmasalah statistik dan kejadian-kejadian penting selama setahun lewat.

Sedangkan menurut Murniaty (2006, 7), koleksi referensi antara lain sebagai berikut: “Ensiklopedia, kamus, direktori, buku tahunan, buku pegangan, almanak, bibliografi, indeks, abstrak, penerbitan pemerintah, sumber geografi, dan sumber biografi”.

Sehingga dapat diketahui dari pendapat di atas, koleksi – koleksi layanan referensi antara lain kamus, ensiklopedi, bibliografi, sumber biografi dan sumber geografi, indeks, abstrak, buku pedoman, direktori, almanak, penerbitan pemerintah dan buku tahunan.

2.4. Pustakawan Referensi

Pustakawan referensi merupakan pustakawan yang mengelola bagian referensi pada suatu perpustakaan. Menurut LisWiki, “Reference Librarian isA librarian employed in a reference department who is responsible for providing helpful information in response to questions posed by users of the library.

Reference service may be delivered in person (see reference desk), or by phone or e-mail or virtual reference (chat)”.

(37)

Pendapat di atas berarti, Seorang pustakawan yang dipekerjakan di departemen referensi yang bertanggung jawab untuk memberikan informasi bermanfaat sebagai tanggapan atas pertanyaan yang diajukan oleh pengguna perpustakaan. Layanan referensi dapat disampaikan secara langsung (melalui meja layanan referensi), atau melalui telepon atau e-mail atau rujukan virtual (obrolan).

Sedangkan menurut Reference and User Services Librarians (RUSA) (2003) pustakawan referensi adalah “Librarians that assist, advise, and instruct users in accessing all forms of recorded knowledge. The assistance, advice, and instruction include both direct and indirect service to patrons”.

Yang berarti pustakawan yang membantu, memberikan saran, dan menginstruksikan pengguna untuk mengakses semua bentuk pengetahuan yang tercatat. Bantuan, saran, dan instruksi mencakup layanan langsung dan tidak langsung kepada pengguna perpustakaan.

Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat diartikan bahwa, pustakawan referensi adalah pustakawan yang diperkerjakan bagian bagian referensi yang bertugas memberikan bantuan, saran serta instruksi terhadap bahan pustaka yang dibutuhkan pengguna baik secara langsung maupun tidak langsung.

2.4.1 Tugas Pustakawan Referensi

Pustakawan referensi memiliki beberapa fungsi dalam menyelenggarakan pelayanan referensi dengan baik sesuai dengan kebutuhan dari pengguna perpustakaan.

Menurut Reference and User Services Librarians (RUSA) (2003), Tugas dari pustakawan referensi adalah :

(38)

1. Determines the situational context of the individual information needs of users when interacting with each user in person or through another communication channel.

2. Analyzes information sources recommended to users in the context of the attractiveness, interests, and content level for each user.

3. Suggests specific works that relate to what the user said is important.

4. Utilizes the Behavioral Standards for Reference Librarians on Approachability, Interest, and Listening/Inquiring when providing reference service in a traditional in-person service setting.

5. Engages users in discussions about experiences related to their information needs and communicates interest in every user's experiences.

6. Respects the right of users to determine the direction of their research by empowering them to pursue their own preferences.

Maksud dari pendapat di atas adalah :

1. Menentukan konteks situasional dari kebutuhan informasi individu pengguna saat berinteraksi dengan setiap pengguna secara langsung atau melalui saluran komunikasi lainnya.

2. Analisis sumber informasi yang direkomendasikan kepada pengguna dalam konteks tingkat daya tarik, minat, dan konten untuk setiap pengguna.

3. Menyarankan karya spesifik yang terkait dengan apa yang menurut pengguna penting.

4. Memanfaatkan Standar Perilaku untuk Pustakawan Referensi mengenai Approachability, Interest, and Listening / Inquiring saat memberikan layanan referensi dalam setting layanan pribadi.

5. Libatkan pengguna dalam diskusi tentang pengalaman yang terkait dengan kebutuhan informasinya dan komunikasikan minat pada setiap pengalaman pengguna.

6. Menghormati hak pengguna untuk menentukan arah penelitian mereka dengan memberdayakan mereka untuk mengejar preferensi mereka sendiri.

2.5 Kebutuhan Informasi

Pada saat ini informasi merupakan komoditas yang sangat penting bagi seluruh masyarakat, penyebaraninformasi yang pada saat ini semakin dinamis.

Tanpa informasi berupadata, info, atau pengetahuan dan sebagainya sesuai dengan kebutuhan masingmasing, maka pengguna informasi akan kesulitan untuk

(39)

menentukan keputusanyang tepat. Kebutuhaninformasi seseorang berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan yangdiinginkan.

2.5.1 Pengertian Kebutuhan Informasi

Setiap orang membutuhkan informasi. Informasi yang dibutuhkan berbeda-beda baik dalam tingkat kebutuhannya sampai dengan jenis informasiyang dibutuhkannya. Berikut ini beberapa pengertian tentang kebutuhan informasimenurut beberapa ahli.

Menurut Hartono (2000, 692) “Informasi dapat didefinisikan sebagai hasil pengolahan datadalam suatu bentuk yang lebih berarti bagi penerimanya yang menggambarkan suatu kejadian (events) yang nyata (fact) yang digunakan untuk pengambilankeputusan”.

Sedangkan menurut Sankarto dan Permana (2008, 2),“Informasi tidak hanya sekedar produk sampingan, namun sebagai bahan yang menjadi faktor utama yangmenentukan kesuksesan atau kegagalan, oleh karena itu informasi harus dikeloladengan baik”.

Menurut Derr yang dikutip oleh Suryatini (2003, 34) dikemukakan bahwa,“Kebutuhan informasi merupakan hubungan antara informasi dan tujuaninformasi seseorang, artinya ada suatu tujuan yang memerlukan informasi tertentuuntuk mencapainya”

Menurut Wilson (2006, 663) kebutuhan informasi terbagi kedalam tiga bagian yaitu :

1. Kebutuhan fisiologis (Physiological needs), seperti kebutuhan makanan, air, tempat tinggal,dll.

(40)

2. Kebutuhan afektif (Affective needs) (kadang-kadang psikolog mengatakannya sebagai kebutuhan emosional), kebutuhan untuk pencapaian, untuk dominasi,dll

3. Kebutuhan kognitif (Cognitive needs), seperti untuk merencanakan, untuk mempelajari suatu keterampilan.

Sedangkan Katz yang dikutip oleh Yulianah (2009, 14) mengatakan bahwa kebutuhan

informasi dapat dilihat dari berbagai bentuk kebutuhannya yaitu:

1. Kebutuhan kognitif (cognitive needs), yaitu kebutuhan yang berkaitan erat dengan kebutuhan untuk memperkuat atau menambah informasi,pengetahuan dan pemahaman seseorang akan lingkungannya.Kebutuhan ini didasarkan pada hasrat seseorang untuk memahami danmenguasai lingkungannya. Disamping itu kebutuhan ini dapatmemberikan kepuasan atas hasrat keingintahuan dan penyelidikanseseorang.

2. Kebutuhan afektif (affective needs), yaitu kebutuhan yang berkaitan dengan penguatan estetis, hal yang dapat menyenangkan danpengalaman-pengalaman emosional. Berbagai media sering dijadikansebagai alat untuk mengejar kesenangan dan hiburan seperti mediaelektronik.

3. Kebutuhan integrasi personal (personal integrative needs), yaitukebutuhan yang sering dikaitkan dengan penguatan kredibilitas,kepercayaan, stabilitas dan status individu. Kebutuhan ini berasal darihasrat seseorang untuk mencari harga diri.

4. Kebutuhan integrasi sosial (social integrative needs), yaitu kebutuhanyang dikaitkan dengan penguatan hubungan dengan keluarga, temandan orang lain di dunia. Kebutuhan ini didasari oleh hasrat seseoranguntuk bergabung atau berkelompok dengan orang lain.

5. Kebutuhan berkhayal (escapist needs), yaitu kebutuhan individudikaitkan dengan kebutuhan–kebutuhan untuk melarikan diri,melepaskan ketegangan dan hasrat untuk mencari hiburan ataupengalihan (diversion).

Dari beberapa pendapat di atas dapat diambil kesimpulan bahwa, kebutuhan informasi merupakan hubungan antara informasi dan tujuan informasi dengan berbagai bentuk kebutuhannya seperti kebutuhan kognitif, kebutuhan afektif, kebutuhan integrasi personal, kebutuhan integrasi sosial dan kebutuhan berkhayal.

(41)

2.5.2 Jenis Kebutuhan Informasi

Berhubungan dengan tugas pekerjaan, Jarverlin yang dikutip oleh Ishak (2006, 4), Klasifikasi terhadap jenis kebutuhan informasi, yaitu:

1. Informasi yang berkaitan dengan masalah, menggambarkan struktur, sifat dan syarat dari masalah yang sedang dihadapi, misalnya dalammasalah konstruksi jembatan, informasi yang dibutuhkan adalahmengenal jenis, tujuan dan masalah yang dihadapi dalam membangun, konstruksi jembatan. Pada kasus ini kemungkinan telah ada sumber informasi yang telah membahas hal yang sama.

2. Informasi yang berkaitan dengan wilayah, terdiri dari pengetahuan tentang fakta, konsep, hukum dan teori dari wilayah permasalahan.Misalnya dalam masalah kontruksi jembatan, wilayah informasi yang diperlukan adalah kekuatan dan tingkat pemuaian besi.

Jenis ini yangdibutuhkan berupa uji ilmiah dan teknologi informasi.

Informasitersebut terdapat dalam terbitan jurnal ilmiah dan buku teks.

3. Informasi sebagai pemecahan masalah, menggambarkan bagaimana melihat dan memformulasikan masalah, apa masalah dan wilayahinformasi bagaimana yang akan digunakan dalam upaya memecahkanmasalah. Misalnya dalam konstruksi jembatan, insinyur perencana akanmenghadapi pro dan kontra mengenai berbagai informasi mengenaidesain jenis jembatan. Ini hanya dapat dipecahkan.

Sedangkan menurut Guha yang dikutip Saepudin (2009, 1) ada empat jenis kebutuhan terhadap informasi yaitu :

1. Current need approach, yaitu pendekatan kepada kebutuhan pengguna informasi yang sifatnya mutakhir. Pengguna berinteraksi dengan sistem informasi dengan cara yang sangat umum untuk meningkatkanpengetahuannya. Jenis pendekatan ini perlu ada interaksi yang sifatnyakonstan antara pengguna dan sistem informasi.

2. Everyday need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna yang diperlukan sehari-hari yang sifatnya spesifik dan cepat.Informasi yang dibutuhkan pengguna merupakan informasi yang rutindihadapi oleh pengguna.

3. Exhaustic need approach, yaitu pendekatan terhadap kebutuhan pengguna akan informasi yang mendalam, spesifik dan lengkap.

4. Catching-up need approach, yaitu pendekatan terhadap pengguna akan informasi yang cepat, ringkas tetapi juga lengkap khususnya mengenai perkembangan terakhir suatu subyek yang diperlukan dan hal-hal yang sifatnya relevan.

(42)

Dari kedua pendapat tersenut dapat diketahui bahwa ada beberapa jenis dari kebutuhan informasi berdasarkan tugas pekerjaan antara lain, informasi yang berkaitan dengan masalah, informasi yang berkaitan dengan wilayah, informasi sebagai pemecah masalah. Kebutuhan informasi juga terdapat 4 jenis pendekatan yaitu, current need approach, Everyday need approach, Exhaustic need approachdanCatching-up need approach.

2.5.3 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Kebutuhan Informasi

Setiap pengguna atau individu memiliki kebutuhan informasi yang berbeda-beda dan perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Menurut Nicholas yang dikutip oleh Ishak (2006, 93), Ada lima faktor yang mempengaruhi kebutuhan informasi pemakai, yaitu :

a) Jenis pekerjaan.

b) Personalitas, yaitu aspek psikologi dari pencari informasi, meliputi ketepatan, ketekunan mencari informasi, pencarian sacara sistematis,motivasi dan kemauan menerima informasi dari teman, kolega, danatasan.

c) Waktu.

d) Akses, yaitu menelusur informasi secara internal (di dalam organisasi) atau eksternal (di luar organisasi)

e) Sumber daya teknologi yang digunakan untuk informasi.

Sedangkan menurut Sulistyo Basuki dikutip oleh Saepudin (2009, 1) kebutuhan informasi ditentukan oleh beberapa faktor,yaitu:

1) Kisaran informasi yang tersedia

2) Penggunaan informasi yang akan digunakan;

3) Latar belakang, motivasi, orientasi profesional, dan karakteristik masing masing pemakai

4) Sistem sosial, ekonomi, dan politik tempat pemakai berada; dan 5) Konsekuensi penggunaan informasi.

(43)

Dari pendapat – pendapat di atas dapat diketahui bahwa ada beberapa fakto yang mempengaruhi kebutuhan informasi dari pengguna antara lain jenis pekerjaan, personalitas, waktu, akses, sumber daya teknologi, informasi yang tersedia, sistem sosial, dan konsekuensi penggunaan informasi.

2.5.4 Karakteristik Kebutuhan Informasi

Menurut Nicholas yang dikutip Ishak (2006, 94) ada 11 karakteristik kebutuhan informasi yaitu sebagai berikut :

1) Pokok masalah (subject) 2) Fungsi (function)

3) Sifat (nature)

4) Tingkat intelektual (intellectual level) 5) Titik pandang (viewpoint)

6) Kuantitas (quantity) 7) Kualitas (quality)

8) Batas waktu informasi (date)

9) Kecepatan pengiriman (speed of delivery) 10) Tempat asal publikasi (place)

11) Pemrosesan dan pengemasan (processing and packaging)

Sedangkan menurut Leckie dkk dikutip oleh Ishak (2006, 94) kebutuhan informasi memiliki enam karakteristik yang dapat menunjukkan wujud darikebutuhan informasi yaitu :

1) Demografis seseorang, seperti tingkat pendidikan dan usia. Semakin tinggi seseorang semakin banyak kebutuhan informasinya.

2) Konteks, misalnya kebutuhan khusus, kebutuhan internal atau eksternal. Kebutuhan khusus misalnya kebutuhan tentang pekerjaan seseorang.

3) Frekuensi, misalnya apakah kebutuhan informasi itu berulang atau baru. Pengguna informasi tentunya akan memilih informasi yang terbaru daripada informasi lama dan berulang.

4) Kemungkinan, misalnya apakah kebutuhan informasi tersebut dapat diramalkan atau tidak terduga. Jika kebutuhan informasi seseorangmuncul dengan tiba-tiba atau tidak terduga, misalnya terjadi ketikaseseorang mencari informasi tentang mata kuliah dan tiba-tiba munculdalam benaknya untuk mencari informasi lain yang

(44)

berhubungandengan mata kuliah tersebut, maka orang tersebut akan mencari danmenemukan informasi tersebut.

5) Kepentingan, misalnya kebutuhan informasi dilihat dari tingkat urgensinya. Apabila informasi yang dibutuhkan sangat penting makaorang yang membutuhkan informasi tersebut akan berusaha mencaridan menemukan informasi tersebut.

6) Kerumitan, misalnya kebutuhan informasi tersebut mudah atau sulit untuk dipecahkan.

Dari pendapat di atas dapa diketahui bahwa beberapa karakteristik dari kebutuhan informasi yaitu subjek, fungsi, sifat, tingkat intelektual, titik pandang, kuantitas, kualitas, batas waktu informasi, kecepatan pengiriman, tempat asal publikasi, pemrosesan dan pengemasan.

2.5.5 Sumber Informasi

Sumber informasi merupakan tempat dimana ditemukannya informasi atau media yang digunakan untuk mendapatkaninformasi, seperti : manusia, media (cetak, elektronik, buku/ naskah) dan lembaga informasi seperti perpustakaan, pusat informasi dan lain sebagainya.

Menurut Bouzza dan Evan dikutip oleh Astuti (2008, 11) bahwa,“Sumber informasi terdiri dari sumber informasi formal dan informal. Yang termasuk sumber informasi formal adalah buku, majalah, koran, internet, TV dan radio.

Sedangkan yang termasuk sumber informasi informal adalah dosen,rekan seprofesi dan teman”.

Sedangkan menurut Krikelas dan Arsland yang dikutip oleh Astuti (2008, 11) menyatakan bahwa,“Sumber informasi terbagi menjadi kebutuhan informasi internal dan kebutuhaninformasi eksternal. Sumber informasi internal diantaranya catatan pribadi danhasil pengamatan, sedangkan sumber informasi eksternal

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan teori dan didukung data yang diperoleh peneliti dari hasil wawancara yang dilakukan dengan pustakawan dan pemustaka terkait pencarian informasi dapat

Berdasarkan data di atas dapat diinterpretasikan bahwa hampir setengah yaitu 47% pemustaka pada Dinas Perpustakaan Kota Binjai menyatakan setuju staf pelayanan