KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT
PERINDUSTRIAN DESA KLEPU KECAMATAN
PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG
TAHUN 2014
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
ERI SYAHRIAR
NIM 11110038
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
iii
KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT
PERINDUSTRIAN DESA KLEPU KECAMATAN
PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG
TAHUN 2014
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam
Oleh
ERI SYAHRIAR
NIM 11110038
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website : www.iainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi Saudara: Nama : Eri Syahriar
NIM : 1111003 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Judul :KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT PERINDUSTRIAN DESA KLEPU KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014 Telah kami setujui untuk dimunaqosahkan.
Salatiga, 5 Maret 2015 Pembimbing
v
KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) SALATIGA
Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website : www.iainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]
SKRIPSI
KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT PERINDUSTRIAN DESA KLEPU KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG
TAHUN 2014
DISUSUN OLEH ERI SYAHRIAR NIM: 11110038
Telah dipertahankan di depan Panitia Dewan Penguji Skripsi Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga, pada 31 Maret 2015 dan telah dinyatakan memenuhi syarat guna memperoleh gelar sarjana SI Kependidikan Islam.
Susunan Panitia Penguji
Ketua Penguji : Drs. Abdul Syukur, M.SI. _____________________
Sekretaris : Dra. Ulfah Susilawati, M.SI. _____________________
Penguji I : Dr. Mukti Ali, M.Hum. _____________________
Penguji II : Maslikhah, S.Ag., M.SI. _____________________
Salatiga, 7 April 2015 Dekan FTIK IAIN Salatiga
Suwardi, M.Pd
KEMENTERIAN AGAMA RI
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
Jl. Stadion 03 telp. (0298) 323706, 323433 Salatiga 50721 Website : www.iainsalatiga.ac.id E-mail : [email protected]
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Eri Syahriar NIM : 11110038 Jurusan : Tarbiyah
Program Studi : Pendidikan Agama Islam
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Salatiga, 6 Februari 2015 Yang menyatakan,
vii
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO
Siapa yang menanam pasti akan menuai apa yang ditanam
PERSEMBAHAN
Dengan memanjat puji syukur kehadirat Allah SWT, Kupersembahkan karya sederhana ini untuk:
Ibu Sugiati dan Bapak Junari tercinta yang telah mendidik, membimbing,
memberikan kasih sayang, do‟a dan segalanya, yang menjadi perantaraku untuk
memperoleh tujuan hidupku, ilmu, iman, amal shalih dan ridho Allah. Penyemangatku adikku tersayang Muhammad Luhan Kisnowo
Calon imamku Yoyon Apriyoko yang selalu menemani dan memberikan support Semua guru, dosen yang telah mengamalkan ilmunya
Dra. Ulfah Susilawati, M. SI. Yang telah memberikan pengarahan serta bimbingan dengan penuh kesabaran dari awal hingga terselesaikannya skripsi ini. Teman- temanku: Devi Lailatul M., Basyiroh, Mika H., Rika Sefyanti, Maziidatun
Ni‟mah, Dyah Saraswati, M. Yusuf, semua teman kelas A dan teman-teman KKN yang selalu menemani susah senang bersama, yang selalu memberi motivasi dan
KATA PENGANTAR
ّﺮﻠﺍﷲﻡﺴﺒ ّﺮﻠﺍﻥﻤﺤ
ﻡﻴﺤ
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan Rahmat, taufiq, dan Hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul “KEHIDUPAN SOSIAL KEAGAMAAN MASYARAKAT PERINDUSTRIAN DI DESA KLEPU
KECAMATAN PRINGAPUS KABUPATEN SEMARANG TAHUN 2014”.
Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan Islam di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga.
Penulis sadar bahwa kemampuan yang penulis miliki sangatlah terbatas sehingga dalam penulisan skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Arahan dan bimbingan dari berbagai pihak sangatlah membantu terselesainya skripsi ini.Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan terimakasih kepada:
1. Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd, selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Rasimin, S.PdI., M.Pd, selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam. 3. Drs. Djoko Sutopo, selaku Dosen Pembimbing Akademik.
ix
5. Bapak dan Ibu dosen IAIN Salatiga yang telah memberikan ilmu kepada penulis.
6. Bapak, Ibu, dan Saudara-saudara tercinta yang telah memberikan dukungan
moril dan materil serta do‟a yang tiada henti-hentinya hingga terselesaikannya
skripsi ini.
7. Sahabat-sahabat seperjuangan yang telah memberikan motivasi dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini.
8. Semua pihak yang telah memberikan bantuan moril maupun materil dalam penulisan skripsi ini.
Demikian ucapan terima kasih ini penulis sampaikan, semoga Allah SWT senantiasa memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan penulis, skripsi ini sangat jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penulis harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Salatiga, 6 Februari 2015
ABSTRAK
Syahriar, Eri. 2014. Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014. Skripsi. Fakultas Tarbiyah. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Ulfah Susilawati, M.SI.
Kata Kunci: kehidupan sosial keagamaan, masyarakat perindustrian.
Melihat berbagai bentuk kehidupan sosial keagamaan dan berbagai permasalahan yang muncul pada masyarakat perindustrian di Desa Klepu, maka pertanyaan utama yang ingin dijawab melalui penelitian ini adalah 1. bagaimana kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu tahun 2014, 2. Apa saja permasalahan-permasalahan kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu tahun 2014 dan 3. solusi apa yang harus ditempuh untuk mengatasi permasalahan kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu tahun 2014 tersebut.
Alat yang digunakan untuk pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode panel yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Yang menjadi subjek utama penelitian adalah warga Desa Klepu yang bekerja sebagai karyawan industri, tokoh masyarakat seperti ketua RW/RT maupun tokoh agama dan beberapa warga setempat yang hidup berdampingan dengan karyawan-karyawan industri yang sekiranya dapat memberikan informasi sesuai dengan penelitian.
xi
DAFTAR ISI
SAMPUL ... i
LEMBAR BERLOGO ... ii
HALAMAN JUDUL ... iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iv
HALAMAN PENGESAHAN ... v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... vi
MOTO DAN PERSEMBAHAN ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar BelakangMasalah ... 1
B. Fokus Penelitian ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian... 7
E. Penegasan Istilah ... 7
F. Metode Penelitian... 10
G. Sistematika Penulisan Skripsi ... 15
BAB II KAJIAN PUSTAKA ... 17
B. Dimensi Kehidupan Keagamaan ... 20
C. Faktor-Faktor yang Menpengaruhi Kehidupan Sosial Keagamaan .... 31
D. Karakteristik Kehidupan Masyarakat Perindustrian... 34
E. Problematika Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat... 35
BAB III PAPARAN DATA ... 37
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian ... 37
B. Dimensi Kehidupan Sosial Keagamaan ... 39
1. Kegiatan-Kegiatan Keagamaan ... 39
2. Interaksi Sosial Masyarakat ... 45
3. Akhlak di Masyarakat ... 47
C. Faktor-Faktor yang Menpengaruhi Kehidupan Sosial Keagamaan .... 49
D. Problematika Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat... 52
E. Solusi yang Ditempuh untuk Mengatasi Problematika Kehidupan.... 54
BAB IV PEMBAHASAN ... 58
A. Kegiatan-Kegiatan Keagamaan Sebagai Sarana Interaksi Warga ... 58
B. Ibadah Kolektif Sebagai Momen Menanamkan Nilai-Nilai Islam... 63
C. Interaksi Sosial Sebagai Upaya Bermasyarakat ... 64
D. Akhlak Sebagai Alat Kontrol Sosial ... 65
BAB V PENUTUP ... 67
A. Kesimpulan... 67
B. Saran-saran ... 68 DAFTAR PUSTAKA
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin dan KK ... 37
Tabel 2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Mata Pencaharian ... 38
Tabel 3 Struktur Organisasi Desa Klepu RW 2 ...38
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah agama kebersatuan, agama kasih sayang, serta kecenderungan untuk saling mengenal dan hidup menyatu antar pemeluknya adalah pangkal bagi ajaran-ajarannya. Beberapa hadist nabi juga menganjurkan umatnya untuk menyatu dan hidup berdampingan dengan yang lain. (Hammadi, 2006:1).
Dalam Islam terdapat berbagai syi‟ar keagamaan serta bermacam
-macam ibadah yang wajib dilaksanakan oleh masyarakat ramai dan wajib pula dilindungi keseluruhannya. Inilah yang disebut fardhukifayah dalam peribadatan. Masyarakat harus memberikan pengayoman dan melaksanakan semua itu sebagai salah satu amalan dari rangkaian amalan kehidupan ruhaniyah yang akan menimbulkan kebahagiaan bagi seluruh
ummat. (Assiba‟i, 1988:216).
xv
Dalam berinteraksi dengan sesama ada berbagai faktor yang dapat mengurangi intensitas hubungan sosial seseorang. Salah satunya adalah faktor ekonomi yang menuntut seseorang harus bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Secara langsung maupun tidak langsung bekerja menjadi faktor utama berkurangnya waktu seseorang untuk bergaul dengan sesamanya. Apalagi jam kerja yang terlalu padat terkadang membuat seseorang jauh dari komunitasnya bahkan tidak mengenal kondisi disekelilingnya. (Suryani, 2010:2).
Hal tersebut sering kita jumpai diberbagai lingkungan masyarakat yang kesibukan kerja mereka cenderung membuat renggang hubungan sosialnya dan juga membuat mereka enggan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada dalam lingkungan. Faktor kesibukan kerja inilah yang sering kali menjadi alasan seseorang untuk tidak bergabung dengan sesamanya apalagi aktif mengikuti keiatan-kegiatan sosial.
Demikian halnya yang tampak pada masyarakat Desa Klepu RW 2 Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Sebagian besar penduduk disini memanfaatkan pabrik-pabrik atau sektor industri swasta yang terdapat dikawasan ini sebagai ladang untuk mencari rizki.
kerja menjadi 43 jam yang terinci tiap harinya mulai pukul 08.00 sampai pukul 17.00 dengan istirahat makan satu jam pada hari biasa dan sekitar dua jam pada hari Jum'at. Sedangkan untuk hari Sabtu jika tidak libur jam kerja mulai pukul 08.00 sampai pukul 12.00. (Anoraga, 2005:30).
Jam kerja para pekerja di sektor swasta diatur dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan khususnya pasal 77 sampai dengan pasal 85. Diantaranya berisi peraturan jam kerja untuk karyawan yang bekerja enam hari dalam seminggu, jam kerjanya adalah 7 jam dalam satu hari dan 40 jam dalam satu minggu. Sedangkan untuk karyawan dengan lima hari kerja dalam satu minggu, kewajiban bekerja mereka 8 jam dalam satu hari dan 40 jam dalam satu minggu. Apabila melebihi dari ketentuan waktu kerja tersebut, maka waktu kerja biasa dianggap masuk sebagai waktu kerja lembur. (www.hukum.unsrat.ac.id/uu/uu_13_03.htm)
xvii
Oleh karena itu waktu untuk berkumpul bersama, bersosialisasi dengan lingkungan, dan juga untuk mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan dapat dikatakan kurang. Bahkan terkadang perhatian terhadap keluargapun juga berkurang. Dan tanpa disadari hal ini membawa dampak terhadap perkembangan anak. Kurangnya perhatian dari orang tua menyebabkan pengaruh-pengaruh negatif lingkungan mudah sekali mempengarui perilaku anak, sehingga hal ini menjadi problem bagi para orang tua dan juga masyarakat.
Sebagai seorang yang paling dekat dengan anak, peran orang tua sangat penting dalam kehidupan anak. Tetapi di Desa Klepu RW 2 ini mayoritas orang tua bekerja sebagai karyawan pabrik karena memang dikawasan ini merupakan daerah industri pabrik-pabrik swasta. Hal ini terjadi karena pekerjaan dibidang pertanian ditempat mereka tinggal bersifat musiman dan dianggap kurang dapat menghasilkan penghasilan yang tetap. Oleh karena itu sebagian besar masyarakat lebih memilih bekerja disektor industri sebagai karyawan pabrik daripada bekerja dibidang pertanian.
perayaan hari besar tertentu walaupun masing-masing dari mereka mempunyai kesibukan dalam bekerja. Hal ini merupakan pelaksanaan keagamaan dan juga kebutuhan hidup dilingkungan sosial.
Melalui kegiatan-kegiatan inilah rasa kebersamaan, kepercayaan, saling menghormati, menghargai dan kerjasama muncul diantara mereka sehingga tidak ada beban untuk saling membantu satu sama lain. Sebagai contoh, masyarakat yang bekerja sebagai karyawan pabrik dapat menitipkan anak mereka yang masih kecil pada tetangga terdekat untuk menjaga ketika mereka pergi untuk bekerja. Hal ini mereka lakukan atas dasar rasa saling percaya dan terjaganya hubungan baik diantara mereka sehingga pengawasan serta pemenuhan kebutuhan anak tetap dapat dilakukan dengan baik meskipun harus melalui orang lain.
xix
B. Fokus Penelitian
1. Bagaimana kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014. 2. Apa saja permasalahan kehidupan sosial keagamaan masyarakat
perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014.
3. Apa solusi yang ditempuh untuk mengatasi permasalahan kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014.
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014.
2. Untuk mengetahui problematika kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian Desa Klepu Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang Tahun 2014.
D. Kegunaan Penelitian
Penelitian ini berguna untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam bidang pendidikan agama islam yang berhubungan dengan interaksi sosial keagamaan khususnya pada masyarakat perindustrian. Hal ini merupakan salah satu bentuk kewajiban seseorang dalam menjalankan agamanya yang tidak hanya menunaikan ritual ibadahnya saja, tetapi seseorang yang beragama juga mempunyai kewajiban untuk menjaga hubungan baik terhadap sesama manusia.
Untuk itu penelitian ini diharapkan dapat berguna serta dapat menjadi referensi dalam mengkaji persoalan-persoalan sosial keagamaan dengan melihat kejadian-kejadian sosial yang terjadi dilingkungan sekitar kita, khususnya yang berhubungan dengan kehidupan keagamaan.
E. Penegasan Istilah
Untuk memudahkan dan menghindari kesalahfahaman mengenai istilah-istilah yang terdapat dalam judul penelitian ini, maka penulis memberi batasan dan penegasan makna dari judul sebagai berikut:
1. Kehidupan Sosial
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kehidupan berarti keadaan yang masih akan terus ada sebagaimana mestinya yang meliputi manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya.
xxi
dengan manusia yang lain dalam bentuk yang berlain-lainan. Misalnya: keluarga, sekolah, organisasi dan lainnya. (Ahmadi, 2002:243).
Jadi dapat dipahami bahwa kehidupan sosial adalah kegiatan kemasyarakatan yang didalamnya terdapat unsur-unsur sosial dimana kegiatan tersebut akan selalu ada dalam kehidupan. Kehidupan sosial terjadi karena adanya interaksi antara individu satu dengan individu lain dan saling terjadi komunikasi yang kemudian berkembang menjadi saling membutuhkan kepada sesama.
2. Keagamaan
Secara etimologi, istilah keagamaan itu berasal dari kata
„agama‟ yang mendapat awalan „ke‟ dan akhiran „an‟ sehingga
menjadi keagamaan. Dalam hal ini, W.J.S. Poerwadarminta (1986:18) berpendapat bahwa keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu mengenai agama.
Keagamaan berasal dari kata dasar agama yang berarti ajaran, sistim yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Sedangkan keagamaan itu sendiri adalah yang berkaitan atau berhubungan dengan agama. (Depdiknas, 2007:12).
Kata masyarakat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sebuah komunitas yang saling tergantung satu sama lain. Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh suatu kebudayaan yang mereka anggap sama. (Depdiknas, 2007:721).
Sedangkan dalam kamus sosiologi disebutkan bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang sedikit banyak mempunyai kesatuan yang tetap dan tersusun dalam aktifitas kolektif mereka dan merasakan bahwa mereka dapat bersatu. (Sapoetra, 1992:394).
4. Perindustrian
Industri berasal dari bahasa latin industria yang berarti buruh atau tenaga kerja, dan industrios yang artinya kerja keras. Tenaga kerja atau karyawan adalah orang yang bekerja pada suatu lembaga (perusahaan, kantor, instansi, dan lain sebagainya) dengan mendapat imbalan berupa gaji atau upah.
Industri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu kegiatan memproses atau mengolah barang dengan menggunakan sarana dan peralatan misalnya mesin.
xxiii
kegiatan ekonomi. Sedangkan perindustrian itu sendiri berarti urusan atau segala sesuatu yang berkaitan atau berhubungan dengan industri.
F. Metode Penelitian
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2009:6) pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang dimaksudkan untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dll. Pendekatan ini dilakukan secara holistik dan dengan cara diskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa pada suatu konteks khusus yang alamiah yaitu dengan cara menggali, menuturkan, menganalisis, dan mengklasifikasi realitas.
Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mendiskripsikan fenomena-fenomena kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian serta berbagai permasalahan yang ada dengan menggunakan landasan berfikir fenomenologis sebagai landasan pokok dalam penelitian kualitatif yang berupaya memahami apa yang ada yang menimbulkan fenomena atau problem.
kelompok sosial, komunitas, peristiwa, proses, isu, maupun kampanye. (Daymon, 2008:162).
2. Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peneliti sendiri atau dengan bantuan orang lain merupakan alat pengumpulan data yang utama. Hal itu dilakukan karena hanya manusia yang dapat berhubungan dengan responden atau objek lainnya dan hanya manusialah yang mampu memahami serta menilai kaitan kenyataan-kenyataan yang ada dilapangan. (Moleong, 2002:5).
3. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Klepu RW 2 Kecamatan Pringapus Kabupaten Semarang. Lokasi ini dipilih karena letak lokasi yang memang merupakan kawasan industri pabrik-pabrik swasta dan karena di area ini banyak dimanfaatkan oleh warga yang tidak hanya warga sekitar kawasan industri ini saja tetapi juga banyak warga pendatang dari berbagai daerah sebagai tempat untuk mencari rizki atau bekerja.
xxv
mereka berinteraksi dengan lingkungannya. Warga yang bekerja di pabrik baik warga tetap maupun warga pendatang sebagian besar waktu mereka telah habis digunakan untuk bekerja dari pagi sampai malam hari, sehingga waktu untuk bersosialisasi dengan lingkungan sekitar dapat dikatakan kurang.
4. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini dibagi menjadi dua. Pertama sumber data primer yaitu manusia yang kata-kata dan tindakan orang yang diamati atau diwawancarai menjadi sumber utama dalam penelitian kualitatif. Pencatatan sumber data utama ini melalui gabungan dari melihat, mendengar dan bertanya karena dalam penitian kualitatif ketiga kegiatan ini dilakukan secara sadar, terarah, dan bertujuan. „Sadar‟ berarti perencanaan penelitian memang telah direncanakan oleh peneliti, „terarah‟ mempunyai arti bahwa dari segala informasi yang tersedia tidak seluruhnya akan digali oleh peneliti, dan
senantiasa „bertujuan‟ yang berarti peneliti mempunyai seperangkat
tujuan penelitian yang diharapkan dapat dicapai untuk memecahkan sejumlah masalah dalam penelitian. (Moleong, 2009:157).
Sumber data utama berikutnya adalah tokoh masyarakat seperti ketua RT maupun tokoh agama dan beberapa warga setempat yang hidup berdampingan dengan karyawan-karyawan pabrik tersebut yang sekiranya dapat memberikan informasi yang sesuai dengan penelitian.
Sumber data kedua yaitu sumber data sekunder atau sumber data tertulis yang relevan dengan fokus penelitian yang meliputi buku-buku, dokumen pribadi, dokumen resmi, foto, dan lain sebagainya yang dapat memberikan informasi untuk melengkapi kebutuhan data yang diperlukan dalam penelitian.
5. Prosedur Pengumpulan Data
a. Wawancara
Jenis wawancara yang dipilih peneliti dalam penelitian ini adalah wawancara terbuka. Yang menjadi objek wawancara adalah masyarakat Desa Klepu yang bekerja sebagai karyawan industri. Dalam proses wawancara ini para subjek mengetahui dan juga sadar bahwa mereka sedang diwawancarai dan mengetahui pula apa maksud dan tujuan dari wawancara tersebut. (Moleong, 2009:189).
b. Observasi
xxvii
Sebagaimana dikatakan bahwa “observasi pada aktifitas manusia
memberi data bagi peneliti mengenai perilaku dan proses sosial ketika orang-orang menjalankan peran dalam dunia realitas
sosialnya”. (Daymon, 2008:321).
c. Dokumentasi
Dokumen dapat berupa tulisan, suara, ataupun gambar yang digunakan sebagai data tambahan dalam sebuah penelitian yang dapat memberikan pemahaman historis. Dokumentasi diambil pada saat kegiatan sosial keagamaan warga seperti pengajian rutin, pertemuan rutin warga dan lain sebagainya.
6. Analisis Data
Menurut KBBI, analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk mengetahui keadaan yang sebenar-benarnya dalam sebab-musabab atau duduk perkaranya. Data adalah keterangan atau bahan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian analisis atau kesimpulan. Analisis data yaitu suatu kegiatan penyelidikan terhadap suatu peristiwa dengan berdasar pada data nyata agar dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya dalam rangka memecahkan permasalahan sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang valid dan ilmiah.
lain. Kemudian verifikasi data yaitu penarikan kesimpulan sehingga didapat teori umum.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Pengecekan keabsahan data dilakukan dengan teknik triangulasi. Teknik triangulasi menurut Moleong (2009:330) yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain. Teknik triangulasi dilakukan untuk mengecek atau sebagai pembanding data. Teknik pengecekan keabsahan data ini menggunakan teknik triangulasi „sumber‟ yaitu membandingkan dan mengecek kembali keabsahan data melalui waktu dan alat yang berbeda dengan cara membandingkan hasil pengamatan dengan hasil wawancara, membandingkan apa yang dikatakan orang didepan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi, dan membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi penelitian dengan kenyataan sebenarnya.
G. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini merupakan gambaran penyusunan skripsi yang tersusun sebagai berikut:
Bab I Pendahuluan
Bab I berisi tentang latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah, metode penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.
xxix
Bab ini membahas tentang pengertian kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian, dimensi kehidupan sosial keagamaan yang meliputi dimensi ritual, dimensi interaksi sosial, dan dimensi akhlak. Kemudian membahas pula faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial keagamaan masyarakat seperti faktor pekerjaan, keberagamaan, geografi dan faktor pendidikan, membahas karakteristik umum kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian, serta problem-problem yang dihadapi dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian. Bab III Paparan Data Penelitian
Bab ini berisi pemaparan penulis tentang gambaran umum lokasi penelitian, kegiatan-kegiatan ritual kolektif yang dilakukan di lingkungan desa Klepu RW 2, interaksi sosial dalam masyarakat, akhlak karyawan dan juga masyarakat secara umum, faktor-faktor yang mempengaruhi kehidupan sosial keagamaan masyarakat, problematika yang dihadapi, serta solusi yang ditempuh untuk mengatasi problematika dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat tersebut.
Bab IV Pembahasan
Bab V Penutup
Bab penutup berisi kesimpulan akhir dan saran-saran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Pengertian Kehidupan Sosial Keagamaan
1. Kehidupan Sosial
Kata sosial berasal dari bahasa latin societas yang artinya masyarakat. Kata societas berasal dari kata socius yang artinya teman, dan selanjutnya kata sosial berarti hubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain dalam bentuk yang berlain-lainan. Misalnya: keluarga, masyarakat, sekolah, organisasi dan lain sebagainya. (Ahmadi, 2002:243).
Para ilmuan sosiologi mempunyai sudut pandang yang berbeda-beda mengenai realita kehidupan sosial ini. Mereka beranggapan bahwa sosiologi itu merupakan satu ilmu yang menyangkut, mempelajari, dan menjelaskan perilaku manusia didalam kelompok atau lingkungannya dan dalam hubungannya dengan sesama manusia (human relationship) atau dengan kelompok lainnya. (Sugihen, 1997:3).
xxxi
sosial, terutama dalam kaitannya dengan suatu sistim sosial dan bagaimana sistim tersebut mempengaruhi orang dan bagaimana pula orang yang terlibat didalamnya mempengaruhi sistim tersebut. (Sugihen, 1997:6).
Jadi dapat disimpulkan pengertian kehidupan sosial adalah interaksi atau hubungan antara manusia satu dengan manusia lain dalam suatu kelompok atau lingkungan dan saling terjadi komunikasi yang kemudian berkembang menjadi saling membutuhkan antara satu sama lain.
2. Kehidupan Keagamaan
Keagamaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berasal dari kata dasar agama yang berarti ajaran, sistim yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya.
Secara etimologi, istilah keagamaan itu berasal dari kata
„agama‟ yang mendapat awalan „ke‟ dan akhiran „an‟ sehingga
menjadi keagamaan. Kaitannya dengan hal ini, W.J.S. Poerwadarminta (1986:18) berpendapat bahwa keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat dalam agama atau segala sesuatu mengenai agama.
dilakukan serta seberapa dalam penghayatan seseorang atas agama yang dianutnya. Bagi seorang muslim keberagamaan (religiusitas) dapat diketahui melalui seberapa jauh pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan atas agama Islam.
3. Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat Perindustrian
Kehidupan sosial keagamaan yang dimaksud dalam penelitian ini lebih dispesifikasikan dalam lingkup masyarakat perindustrian. Masyarakat perindustrian adalah sekelompok manusia yang tersusun dalam aktifitas yang sama di bidang pekerjaan yaitu pada sektor industri. Perindustrian itu sendiri adalah kegiatan memproses atau mengolah barang pada suatu lembaga atau perusahaan dengan menggunakan sarana serta peralatan dan orang atau karyawan yang bekerja dalam lembaga tersebut akan mendapatkan imbalan berupa upah atau gaji.
Sedangkan pengertian kehidupan sosial keagamaan disini adalah sebuah spiritualitas yang terlembaga. Entah dalam bentuk yang
bersifat khusus yaitu agama sebagai sebuah tindakan “belonging”
yakni menjadi anggota dalam komunitas tertentu, atau yang bersifat
umum yaitu agama sebagai tindakan “believing” yakni iman yang
xxxiii
Dari berbagai penjelasan diatas maka dapat disimpulkan bahwa kehidupan sosial keagamaan masyarakat perindustrian adalah kehidupan sekelompok manusia yang saling berinteraksi satu sama lain dalam suatu lingkungan, aktifitas serta tujuan yang sama yaitu mengembangkan serta menjaga lingkungan masyarakat yang bernuansa Islami yakni beriman kepada Allah, perduli terhadap panggilan agama dan juga berakhlak mulia.
Sekelompok manusia yang hidup bermasyarakat harus menyelaraskan, menjaga dan senantiasa menjalankan kewajibannya untuk berinteraksi secara vertikal yaitu menjalankan kewajiban kepada Allah (hablumminallah) maupun kewajiban untuk berinteraksi secara horisontal yaitu menjalankan kewajiban kepada sesama makhluk ciptaan Allah (hablumminannas).
B. Dimensi Kehidupan Sosial Keagamaan
Berbagai macam tradisi yang ada dalam kehidupan, secara langsung maupun tidak langsung akan melibatkan kita kedalam persoalan yang bersifat umum, publik, dan kemasyarakatan. Karena dalam tradisi-tradisi tersebut terdapat fungsi ganda yaitu disamping terdapat fungsi transidental (niat beribadah kepada Allah), juga terdapat fungsi sosial yang mengatur hubungan seseorang dengan orang-orang serta dengan lingkungan sekitar sehingga menumbuhkan keakraban dan membangun kebersamaan. (http://www.syarikat.org/content/ritual).
1. Dimensi Ritual
Menurut Nashori (2003:31) ibadah dapat diartikan sebagai bentuk penyerahan total kepada Allah dengan melaksanakan apa yang menjadi perintah-Nya dan menjauhi apa saja yang menjadi larangan-Nya. Dalam pengertian sempit, beribadah adalah melakukan aktifitas-aktifitas ritual yang dilakukan dengan penuh pemahaman. Dengan melakukan ibadah-ibadah tersebut, diharapkan manusia memiliki kecenderungan untuk perduli terhadap lingkungan sosialnya. Aktifitas-aktifitas ritual tersebut diantaranya:
a. Shalat
xxxv
ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al-„Ankabut, 29:45).
Shalat yang tidak mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan munkar adalah sia-sia atau sekurang-kurangnya bermutu rendah dihadapan Allah. (Nashori, 2003:32).
Demikian pentingnya dengan shalat berjamaah. Sebagaimana kita ketahui bahwa shalat berjamaah mempunyai nilai pahala lebih besar dua puluh tujuh derajat dibandingkan dengan shalat munfarid. Hal tersebut karena didalam shalat berjamaah terdapat beberapa nilai akhlak sebagai pelajaran bagi kita untuk berinteraksi sosial. Nilai-nilai tersebut yaitu:
2) Prinsip persamaan derajat diantara sesama manusia dapat dilihat pada hak menempati shaf terdepan bagi siapapun yang datang lebih awal. Baik orang yang mempunyai pangkat tinggi ataupun orang biasa semuanya mempunyai hak yang sama dalam menempati shaf dalam shalat berjamaah.
3) Shalat berjamaah juga dapat mempererat tali silaturrahim antar sesama muslim dengan sering bertemu bersama dalam melaksanakan shalat, saling mengenal dan terjaganya tradisi berjabat tangan serta saling memberi salam satu sama lain dengan tujuan untuk menampakkan kesatuan dan membuang jauh segala bentuk berpecahan.
b. Puasa
Puasa berasal dari bahasa Arab shoum yang berarti menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah, puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dimulai dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari disertai dengan syarat dan rukun-rukun puasa.
xxxvii
bertujuan untuk menghindarkan diri dari berbagai perbuatan yang mendorong manusia berbuat maksiat.
“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar
kamu bertaqwa”. (QS. Al-Baqarah, 2:183).
Dengan berlangsungnya latihan mengendalikan dan mengatasi hawa nafsu dengan melaksanakan puasa akan mengajari manusia untuk mempunyai kehendak yang kuat dan kemauan yang teguh dalam kehidupannya, dalam melaksanakan segala tanggung jawab dan kewajibannya, serta dalam menjalankan pekerjaannya. Selain itu, puasa juga merupakan pendidik bagi hati nurani manusia yang dengan menjalankan puasa manusia senantiasa belajar konsisten dengan tingkah laku yang baik dan dapat dipercaya. Hal tersebut akan menumbuhkan semangat kerjasama, solidaritas, dan integrasi sosial dalam kehidupan bermasyarakat. (Najati, 1985:317).
c. Zakat
Kewajiban zakat yang diwajibkan atas kaum muslim dengan mengeluarkan sebagian kecil dari hartanya disetiap tahun untuk diberikan pada kaum yang membutuhkan menurut Najati merupakan latian bagi seorang muslim untuk berbelas kasih, menjaga hubungan baik dengan sesama muslim, dan juga untuk mengingatkan bahwa sebagian harta yang kita miliki adalah hak dari orang lain yang membutuhkan sehingga dapat menguatkan perasaan sosialnya.
Firman Allah dalam QS. At-Taubah (9:103)
kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) jiwa bagimereka dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
xxxix
Al-Qur‟an memberikan petunjuk bahwa dzikir tidak hanya dilakukan dengan duduk tenang, merenung, dan mulut komat-kamit, tetapi dzikir bersifat implementatif dalam berbagai variasi yang aktif dan kreatif. (Syukur, 2004:45). Dzikir yang bersifat individual dapat dilakukan secara lisan dengan mengucap tasbih, tahmid, tahlil dan sebagainya. Hal ini bertujuan untuk membimbing hati agar selalu mengingat dan mendekatkan diri kepada Allah dan untuk menguatkan iman dalam hati agar dapat mengendalikan diri dalam setiap perbuatan yang dilakukan.
Dzikir yang bersifat sosial dapat dilakukan dengan aktifitas sosial. Salah satunya yaitu dengan wujud kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar dan juga melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain. Dzikir sosial ini merupakan implementasi dari dzikir individual yang dilakukan melalui lisan dan juga perbuatan.
e. Haji
memiliki tanda sebagai seorang haji yang mabrur. (Nashori, 2003:32).
2. Dimensi Interaksi Sosial
Interaksi berarti suatu hubungan atau relasi antara dua individu atau lebih. Interaksi terjadi karena seseorang tidak hidup sendirian, melainkan hidup bersama individu lain dan juga saling membutuhkan antara satu sama lain. (Santoso, 2004:11).
Secara fitrah manusia senantiasa membutuhkan dan menjalin hubungan dengan orang lain. Sebesar apapun sikap individualis seseorang tetap saja ia akan membutuhkan orang lain dalam hidupnya. Naluri untuk hidup dengan orang lain inilah yang mendorong adanya interaksi sosial antar individu karena didalam interaksi tersebut terjadi saling komunikasi antar individu yang menjadi syarat adanya interaksi sosial.
Adapun faktor-faktor yang mendorong adanya interaksi sosial adalah sebagai berikut:
a. Faktor Imitasi
xli
b. Faktor Sugesti
Sugesti adalah rangsangan, pengaruh, atau stimulus yang diberikan seorang individu kepada individu lain sehingga orang yang diberi sugesti menuruti atau melaksanakan tanpa berpikir kritis dan rasional.
Sugesti yang dimaksud adalah pengaruh spikis yang datang dari diri sendiri maupun dari orang lain yang pada umumnya diterima tanpa adanya kritik. Dalam ilmu jiwa sosial, sugesti dirumuskan sebagai suatu proses dimana seorang individu menerima suatu cara penglihatan atau pedoman-pedoman tingkah laku dari orang lain tanpa kritik terlebih dahulu. (Ahmadi, 1999:59).
c. Faktor Identifikasi
Identifikasi berarti dorongan untuk menjadi indentik (sama) dengan individu lain. Identifikasi merupakan proses menyamakan dirinya dengan individu lain. Sebagai contoh yaitu dorongan anak untuk menjadi seperti ayah dan ibunya. Anak akan mengambil sikap-sikap orang tuanya yang dapat ia mengerti sejauh kemampuan yang ada pada anak dan menggunakan sikap orang tuanya tersebut dalam tingkah laku anak sehari-hari. (Gerungan, 1996:67).
Empati adalah perasaan tetarik dan ikut merasakan apa yang dirasakan oleh orang lain. Empati merupakan keadaan mental yang membuat seseorang merasa dirinya dalam keadaan perasaan yang sama dengan orang lain. (Anthony, 2002.27).
3. Dimensi Akhlak
Menurut Lane (1984:799) bahwa kata akhlak berasal dari bahasa Arab bentuk jama‟ dari kata khuluqun yang secara etimologis berarti budi pekerti, tingkah laku, perangai atau tabiat. Kata akhlak tersebut mempunyai hubungan yang erat dengan kata khalaqun yang berarti kejadian. Kata ini mengindikasikan bahwa orang yang berakhlak memiliki kesadaran sejarah yang tinggi, asal kejadiannya, sejarah perkembangan hidupnya, dan kemudahan serta kesukaran yang pernah diperoleh dalam hidupnya. Dari kesadaran tersebut maka muncullah rasa syukur.
Kata akhlak juga erat kaitannya dengan kata khaliq yang berarti pencipta. Dengan demikian orang yang berakhlak adalah orang yang memiliki kesadaran Ilahiyah yang tinggi. Hal ini memunculkan rasa pengabdian dan tanggung jawab yang tinggi terhadap peningkatan kualitas hidup sebagai makhluk yang mulia.
xliii
Hal ini melahirkan sikap kebersamaan dan kesadaran sosial yang tinggi dalam kehidupan.
Para ulama cukup beragam dalam menginterpretasi apa yang dimaksud dengan akhlak. Salah satu ulama mengatakan bahwa akhlak mengacu pada suatu perbuatan yang bersifat manusiawi, yaitu perbuatan yang memiliki nilai seperti hormat pada orang tua, sopan santun, dan lain sebagainya. Ada pula yang mengatakan bahwa perbuatan akhlak adalah perbuatan yang bermuara dari perasaan mencintai sesama. Perbuatan akhlak adalah semua jenis perbuatan yang diperuntukkan bagi orang lain. (Al Munawar, 2005:28).
Jika perbuatan tersebut melahirkan suatu tindakan terpuji menurut ketentuan akal dan norma agama maka dinamakan akhlak yang terpuji. Tetapi jika melahirkan tindakan yang tidak baik, maka dinamakan akhlak yang buruk atau tercela.
Selain itu akhlak mulia mempunyai pengaruh dalam tegaknya suatu masyarakat karena akhlak mulia adalah dasar ditegakkannya perintah Allah dalam diri manusia. Jika dalam diri manusia memiliki akhlak dan perilaku mulia maka ia akan mengagungkan syiar-syiar Allah dan berkomitmen atas agamanya. Sebagaimana dalam firman Allah dalam QS. Al Hajj (32)
Artinya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari
ketagwaan hati”.
Disamping itu akhlak juga dapat menjadi alat penilaian terhadap kesempurnaan iman seseorang dengan cara melihat perilaku kesehariannya dalam kehidupan bermasyarakat.
C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Sosial Keagamaan
1. Faktor Pekerjaan
Ada ribuan laki-laki dan perempuan yang sangat menyayangi pekerjaan dengan rasa kecintaan sejati dan mendambakan sukses dalam pekerjaanya. Dengan demikian berarti bekerja memberikan pada seseorang promosi, persahabatan, komunikasi sosial yang terbuka, kedudukan sosial, prestasi dan juga status sosial. (Kartono, 1994:149).
xlv
kekaguman kawan-kawan terhadap pribadinya. Sehingga hampir semua orang merasa bahwa kerja itu menyajikan persahabatan dan kehidupan sosial.
2. Faktor Keberagamaan
Berdasarkan hasil studi para ahli sosiologi, religiusitas sesungguhnya merupakan suatu pandangan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan setiap orang. Keduanya mempunyai hubungan yang saling mempengaruhi dan saling bergantung (interdependence) dengan semua faktor yang ikut membentuk struktur sosial dimasyarakat manapun. (Fauzi, 2007:80).
Oleh karena itu agama tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sosial. Agama benar-benar ditujukan untuk melapangkan jalan bagi terciptanya kedamaian hidup, kesejahteraan dan keadilan sosial. Melalui pengalaman beragama yaitu penghayatan dan pemaknaan terhadap apa yang diyakini dan diterima dari berbagai segi kehidupan, manusia menjadi lebih peka dan memiliki kemampuan untuk mengenal dan memahami eksistensi Tuhan.
sangsi-sangsi terhadap segala pelanggaran atas norma-norma agama sehingga terwujud keadilan sosial berbasis agama. (Suryani, 2010:29).
3. Faktor Geografis
Pada dasarnya geografi mempelajari berbagai gejala yang berkaitan dengan ruang muka bumi sebagai tempat berkembangnya kehidupan. Didalamnya selalu menaruh perhatian pada persebaran, perubahan dan keterkaitan antara gejala fisik dan sosial pada berbagai tempat dipermukaan bumi. Sebagaimana menurut pendapat Daldjoeni (1991:51) bahwa geografi memberikan pengaruh yang penting terhadap seluk beluk persebaran makhluk hidup serta memberikan pengaruh terhadap aktifitas manusia.
Gejala geografi fisik tertentu yang mempengaruhi perubahan pada muka bumi misalnya perubahan iklim yang diakibatkan oleh manusia dan kembali menimbulkan dampak terhadap manusia. Contoh lain yaitu letak pemukiman manusia, pola pemukiman, bentuk-bentuk pusat kebudayaan masyarakat dan lain sebagainya.
4. Faktor Pendidikan
xlvii
Pendidikan dalam Islam merupakan rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan akal, mental dan spiritual untuk menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi. Dengan demikian pendidikan berperan dalam mempersiapkan kemampuan dan keahlian pada generasi penerus agar mempunyai kesiapan untuk terjun ketengah-tengah masyarakat. Dalam Islam kemampuan dan keahlian tersebut dilandasi dengan kesatuan akidah untuk mengimbangi tuntutan kehidupan baik di dunia maupun kelak akhirat.
D. Karakteristik Kehidupan Masyarakat Perindustrian
Manusia tidak akan dapat hidup bermasyarakat dengan normal dan tidak akan dapat merealisasikan tujuan-tujuan yang mereka inginkan kecuali jika mereka berinteraksi antar sesama dengan baik dan benar. Interaksi antar anggota masyarakat hanya dapat terwujud jika didalam masyarakat tersebut terdapat aktifitas sosial dan ekonomi, sehingga mereka dapat saling memenuhi kebutuhan dan memberi manfaat satu sama lain. (Mahmud, 2004:96).
derivat-derivat (turunan) dari instink-instink biologis. Sehingga timbul kebudayaan manusia dan timbul kegiatan kerja.
Sebagai contoh masyarakat yang menggantungkan pemenuhan kebutuhan ekonominya dengan bekerja disektor perindustrian. Masyarakat memanfaatkan kawasan ini sebagai lahan untuk memperoleh pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kehidupan sosial dan keagamaan masyarakat perindustrian tentu tidak luput dari aktifitas-aktifitas sosial yang ada diantara mereka baik secara ritual maupun perilaku-perilaku sosial yang mereka tunjukkan dalam interaksi kesehariannya. Dengan demikian secara langsung maupun tidak langsung berbagai aktifitas tersebut menunjukkan keberagamaan mereka serta karakteristik kehidupan sosial mereka.
E. Problematika Kehidupan Sosial Keagamaan Masyarakat
Perindustrian
Menurut Kartono (1994:45) bahwa pengaruh kuat dari teknologi industri terhadap masyarakat adalah masyarakat dan kebudayaan manusia menjadi tidak berdaya terhadap pengaruh modernisasi industri. Sehingga modernisasi industri tersebut pada akhirnya banyak memberantakkan institusi sosial seperti keluarga dan masyarakat itu sendiri.
xlix
ajaran-ajarannya merupakan pedoman hidup bagi pemeluknya sehingga agama harus berinteraksi dengan segala bentuk peradaban manusia dari waktu ke waktu. Untuk itu dalam menerapkan ajaran-ajarannya terdapat sejumlah kesulitan yang menjadi tantangan yang harus dihadapi.
Pemahaman yang salah atas ajaran agama sering kali memunculkan kesenjangan antara doktrin agama dengan perilaku sosial yang terjadi di masyarakat. Disamping itu perbedaan pemahaman dan motivasi untuk mempertahankan kesucian agama seringkali menimbulkan kekacauan dalam masyarakat.
Kehidupan sosial keagamaan pada kehidupan sosial ekonomi tidak bisa terlepas dari peran penting agama. Keagamaan dan ekonomi menunjukkan kontribusi penting dalam pembentukan semangat sosial dan etos kerja dalam kehidupan. Namun ajaran agama tetap ditempatkan oleh masyarakat sebagai pegangan hidup mereka disamping keseriusan dalam meningkatkan perekonomian guna menunjang kehidupan.
BAB III
A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
1. Keadaan Geografis Wilayah
Berdasarkan data yang diperoleh dari kelurahan setempat, Desa Klepu RW 2 mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut:
Batas sebelah Utara Wilayah RW 1 Batas sebelah Timur Desa Pringapus Batas sebelah Selatan Perkebunan karet PTP Batas sebelah Bara Jalan tol Semarang-Bawen
2. Keadaan Monografi Penduduk
Berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari bapak Nur Salim selaku ketua RW di desa Klepu RW 2, penduduk Desa Klepu RW 2 ini tersebar kedalam enam RT. Jumlah tersebut dapat dilihat dari perincian sebagai berikut:
Jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin dan KK
No. RT Jumlah KK Laki-Laki Perempuan
01 86 124 150
02 55 55 103
03 52 74 77
04 52 93 85
05 28 42 45
06 53 86 91
Jumlah 326 474 551
Data penduduk berdasarkan mata pencaharian
li
1. Pegawai Negeri Sipil 13 2. Karyawan swasta (Buruh Pabrik) 693
3. Buruh lepas 87
4. Wiraswasta 112
5. Lain-lain 120
3. Struktur Organisasi
Berdasarkan data penduduk yang diperoleh dari ketua RW Desa Klepu, struktur organisasi kepengurusan masyarakat Desa Klepu RW 2 sebagai berikut:
4. Daftar Responden
No. Nama Status Pekerjaan 1. Bp. Kumaidi Ketua RT 6 (Tokoh Agama)
2. Bp. M. Taufiq Tokoh Agama (Imam Mushala/masjid) 3. Bp. Junari Karyawan PT UIB (tokoh masyarakat) 4. Ibu Sugiati Karyawan PT Batamtex
5. Ibu Juriyah Tokoh Agama
tokoh agama
7. Bp. Sarmanto Karyawan PT Karoseri Laksana 8. Bp. Jasmani Ketua RT 2 (karyawan PT Batamtex) 9. Ibu Puji Karyawan PT Samkyung Jaya.
10. Bp. Ichsan Dwi S. Tokoh masyarakat
B. Dimensi Kehidupan Sosial Keagamaan
1. Kegiatan-Kegiatan Keagamaan
Ibadah merupakan tuntutan yang harus dilakukan sebagai bentuk penghambaan diri seseorang kepada Allah Swt. baik secara individual maupun secara kolektif. Demikian pula dengan masyarakat perindustrian di Desa Klepu yang mayoritas penduduknya beragama Islam, ibadah individual maupun kolektif mewarnai intensitas keberagamaan masyarakat didaerah ini.
liii
a. Shalat Berjamaah
Tempat-tempat ibadah seperti masjid dan mushala yang terdapat di Desa Klepu RW 2 jarang dipenuhi oleh jamaah pada waktu-waktu shalat. Hal tersebut dikarenakan kondisi mereka yang masih berada dilokasi kerja sehingga pada waktu shalat tempat-tempat ibadah tersebut hanya dihadiri oleh jamaah dari warga yang berada di rumah atau warga yang waktu kerjanya tidak terikat oleh instansi tempat mereka bekerja.
Disisi lain sebagian dari mereka lebih memilih untuk melaksanakan shalat di rumah karena kondisi tubuh yang sudah letih dan lelah serta apabila mereka mendapat tambahan jam lembur juga dituntut untuk bekerja kembali dipagi harinya, maka jamaah yang hadir hanya beberapa orang saja.
Sebagaimana yang dipaparkan oleh pak Kumaidi salah seorang ketua RT, tokoh agama juga karyawan PT. BatamTex bahwa orang-orang yang masih menyempatkan waktu untuk beribadah disamping kesibukan kerja inilah yang dinilai memiliki kesadaran beribadah dan keimanan yang lebih dibanding dengan
warga yang lain. Menurut Bapak Kumaidi, “orang-orang yang
berakhlak baik pasti mampu menjalankan shalat secara rutin
apalagi berjamaah”. Sebagai seseorang yang beriman kewajiban
Dari sini dapat disimpulkan bahwa melaksanakan shalat berjamaah bagi para karyawan pabrik merupakan sebuah perjuangan yang menuntut mereka harus dapat membagi waktu antara waktu beribadah dengan waktu bekerja. Disisi lain walaupun mereka mengetahui keutamaan beribadah, tempat tinggal mereka dengan tempat ibadah juga dekat, namun waktu mereka terbentur oleh aturan-aturan kerja juga kondisi tubuh yang sudah lelah, serta kurangnya kesungguhan dalam melaksanakan ibadah terkadang menjadi kendala untuk tetap menjalankan shalat baik secara munfarid maupun berjamaah.
b. Pengajian Yasin dan Tahlil
Pengajian yasin dan tahlil merupakan kegiatan pengajian rutin warga yang dilaksanakan sekali dalam satu bulan dengan pemilihan hari yang berbeda-beda pada tiap-tiap RT serta pelaksanaannya dilakukan secara bergilir dari satu rumah ke rumah lain. Pemilihan hari pada kegiatan ini berbeda antara kegiatan pengajian yasin dan tahlil ibu-ibu, bapak-bapak, dan pengajian yasin tahlil karang taruna atau remaja. Hal tersebut dikarenakan anggota yang ikut dalam kegiatan ini sebagian besar adalah karyawan yang bekerja di pabrik baik ibu-ibu, bapak-bapak, maupun remaja.
lv
tangga. Sedangkan warga yang belum berumah tangga mengikuti kegiatan pengajian yasin dan tahlil yang diadakan oleh karang taruna atau remaja. Waktu pelaksanaannya sama yaitu setelah waktu Maghrib. Pada pengajian yasin dan tahlil kegiatan yang dilakukan diantaranya yaitu pertama tausiyah yang diisi oleh tokoh
agama setempat, pembacaan yasin dan tahlil, pembacaan Asma‟ul Husna dan yang terakhir adalah do‟a.
Ibu Juriyah dan beberapa tokoh agama lain berpendapat,
“kegiatan ini diadakan untuk mempertebal keimanan”. Kegiatan
semacam ini selain untuk mendoakan arwah di alam kubur juga bertujuan sebagai siraman rohani bagi warga baik remaja, maupun dewasa yang belum maupun sudah berkeluarga.
c. Pengajian Pembacaan Al-Barzanji
Kegiatan pengajian pembacaan Al-Barzanji diadakan untuk menunjukkan kecintaan sebagai umat Nabi Muhammad Saw. dan untuk mempelajari serta meneladani kepribadiannya. Ada masyarakat yang mengadakannya sebagai kegiatan mingguan, bulanan, dan juga ada pula yang melaksanakannya setahun sekali yaitu dua belas hari berturut-turut menjelang hari kelahiran Nabi
Muhammad Saw. tanggal 12 Rabi‟ul Awwal. Diluar waktu tersebut
yang dianggap meningkatkan iman dan membawa manfaat yang banyak.
Kegiatan pengajian Al-Barzanji di desa Klepu RW 2 ini dilakukan secara rutin hanya oleh kelompok pengajian ibu-ibu. Pengajian ini dilakukan setiap dua kali dalam satu bulan yang jatuh pada hari Minggu dan dilaksanakan setelah waktu Maghrib. Kegiatan yang dilakukan dalam pengajian rutin Al-Barzanji ini yang pertama yaitu arisan ibu-ibu, laporan keuangan, pembacaan Surat Al-Fatihah, pengajian inti Al-Barzanji yang dibaca secara bersama-sama, pembacaan isi kitab „Maulud Nabi‟ secara bergantian sampai selesai dan kemudian ditutup dengan
pembacaan do‟a oleh tokoh agama setempat.
Sedangkan kegiatan bapak-bapak dan remaja melaksanakan pengajian Al-Barzanji ini dilaksanakan setiap satu tahun sekali yaitu selama dua belas hari berturut-turut menjelang hari kelahiran
Nabi Muhammad Saw. tanggal 12 Rabi‟ul Awwal yang bertempat
di mushala-mushala atau masjid setempat.
lvii
d. Pengajian Al-Manaqib
Kegiatan pengajian Al-Manaqib atau biasa disebut
„Manaqiban‟ juga merupakan kegiatan rutin warga Desa Klepu
yang dilakukan setiap sekali dalam satu bulan pada malam tanggal sebelas dan dilaksanakan setelah waktu Maghrib. Tetapi hanya orang-orang tertentu saja yang mengikuti pengajian Al-Manakib ini dan tidak semua warga mengikutinya.
Selain menjadi kegiatan rutin warga pengajian Al-Manaqib juga dilaksanakan ketika ada undangan dari salah satu warga yang ingin melaksanakan pengajian Al-Manaqib di rumahnya. Kegiatan pengajian yang dilakukan diawali dengan bacaan surat
Al-Fatikhah, pembacaan do‟a yang dikhususkan kepada tuan rumah,
pembacaan Asmaul Husna, pembacaan Al-Manakib Syekh Abdul Qadir Jailani, pembacaan shalawat, dan kemudian ditutup dengan
do‟a.
Kegiatan pengajian ini bertujuan untuk bersyukur kepada Allah atau syukuran atas hajat yang telah tercapai dan juga
dilakukan dengan tujuan agar do‟a-do‟a yang dipanjatkan dikabulkan oleh Allah Swt. Seperti acara selamatan usia kehamilan, agar mempunyai anak yang shaleh dan shalihah, syukuran pernikahan, agar rumah tangga bahagia, dan lain sebagainya.
Sebagaimana yang sering dilakukan kaum muslimin pada umumnya, perayaan atau peringatan hari-hari besar Islam juga sering diadakan oleh masyarakat Desa Klepu RW 2 ketika menjelang hari besar atau hari-hari bersejarah dalam Islam. Pengurus masjid dan mushala sering mengadakan acara peringatan-peringatan seperti peringatan Isra‟ Mi‟raj, Maulid Nabi,
Nuzulul Qur‟an, dan khotmil Qur‟an.
Salah satu contoh yaitu pada saat pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. Semua pengurus beserta seluruh warga menyambut dengan antusias acara tersebut. Mereka saling bekerja sama mempersiapkan segala keperluan pengajian seperti undangan, hidangan, persiapan susunan acara dan lain sebagainya dengan tujuan agar pengajian dapat berjalan dengan lancar.
Pengajian sengaja ditempatkan di masjid agar mudah dijangkau oleh seluruh warga desa. Pemilihan harinya pun dipilih pada saat hari libur karena sebagian besar warga bekerja sebagai karyawan pabrik. Pemilihan hari ini bertujuan agar seluruh warga dapat ikut berpartisipasi dalam pengajian.
2. Interaksi Sosial Masyarakat
lix
dengan sesama. Hal ini dapat dilihat melalui simbol-simbol ajaran agama yang mereka gunakan dalam berinteraksi dimasyarakat seperti mengucap salam, berjabat tangan, dan berbicara sopan dalam berkomunikasi sehari-hari. Tetapi mayoritas masyarakat disini belum menerapkannya dalam interaksi sosial kecuali orang-orang yang dinilai mempunyai tingkat religius yang lebih baik. Disamping masih kurangnya kesadaran beragama juga gaya hidup modern masyarakat membuat nilai-nilai keagamaan belum sepenuhnya tercermin dalam kehidupan sosial.
Melalui kegiatan-kegiatan yang telah dijelaskan diatas, proses saling mengenal antar warga terkesan lebih akrab. Pembicaraan yang dilakukan ketika bertemu disuatu acara tersebut menunjukkan keakraban mereka dibandingkan dalam kesehariannya yang hampir jarang bertemu karena sibuk dengan urusan pekerjaan. Pembicaraan tersebut misalnya obrolan seputar pekerjaan, organisasi, tentang kegiatan-kegiatan sosial, dan lain sebagainya. Namun diluar dari itu, pembicaraan tersebut juga tidak terlepas dari gosip-gosip yang sedang terjadi dilingkungan masyarakat.
kegiatan. Selain itu juga diadakan uang meja untuk diberikan kepada yang berketempatan pengajian atau pertemuan agar tidak memberatkan atau dapat sedikit membantu tuan rumah.
Komunikasi pada warga desa lain juga dilakukan oleh warga RW 2 untuk memberitahukan kabar seperti kabar kematian seseorang, undangan tasyakuran, dan lain sebagainya. Pemberitahuan kabar tersebut dilakukan melalui undangan atau diumumkan lewat masjid atau mushala menggunakan pengeras suara atau dengan cara meminta orang untuk berkeliling dari satu rumah kerumah lain untuk memberi kabar atau undangan.
Selain itu kebersamaan warga RW 2 ini juga diwujudkan pula
dalam tadarus Al Qur‟an setiap malam pada bulan ramadhan oleh
remaja laki-laki dan bapak-bapak. Sedangkan kaum ibu-ibu menyediakan makanan yang sering disebut dengan jaburan. Kegiatan ibu-ibu ini dilakukan secara bergilir dari satu rumah ke rumah lain dengan tujuan untuk menjaga kerukunan antar warga.
3. Akhlak di Masyarakat
lxi
Akhlak yang baik yang tampak dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan tingginya pemahaman ajaran agama seseorang dan intensitas dalam ritual-ritual ibadahnya. Artinya, mereka yang selalu menampakkan akhlak baik kepada tetangga maupun lingkungan sosialnya cenderung memiliki tingkat pemahaman ajaran agama yang lebih dibandingkan dengan mereka yang sembarangan berperilaku dalam kesehariannya.
Sebagaimana yang dipaparkan oleh pak Kumaidi salah seorang
tokoh agama di Desa Klepu RW 2, “Kriteria berakhlak baik itu
diantaranya yaitu orang yang tidak pernah menyakiti hati orang lain, melakukan ibadah dengan tekun atau tidak putus ibadahnya, kuat iman, serta bisa menjaga antara kewajiban beribadah, perkataan dan perbuatannya. Seseorang yang kuat imannya sudah pasti tidak akan mau menyakiti perasaan orang lain. Itulah yang disebut dengan taqwa”.
C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kehidupan Sosial Keagamaan
Masyarakat Perindustrian
1. Faktor Pekerjaan
Sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya bahwa mayoritas warga Desa Klepu bekerja sebagai karyawan industri pabrik. Kedekatan interaksi mereka di masyarakat salah satu penyebabnya yaitu oleh kesamaan pekerjaan atau lokasi kerja. Hal tersebut menimbulkan keakraban dalam berkomunikasi sehari-hari seperti obrolan mengenai pekerjaan ataupun tentang kegiatan sosial yang ada di lingkungan meskipun tidak secara keseluruhan dapat membawa pengaruh dalam kehidupan dimasyarakat atau motivasi keberagaman mereka.
2. Faktor Keberagamaan
Agama tidak bisa dipisahkan dari ruang sosial karena dengan berlandaskan agama maka akan tercipta kedamaian dalam suatu masyarakat. Seperti yang tampak di Desa Klepu yang mana sebagian besar warga masyarakat disini masih menjadikan agama sebagai pedoman dalam kehidupan mereka. Oleh karena itu perilaku mereka dalam masyarakat dapat terkontrol sehingga kondisi di masyarakat menjadi damai dan kerukunan antar warga dapat terjalin dengan baik meskipun tidak secara keseluruhan.
lxiii
mereka miliki dan ritual agama yang mereka laksanakan belum diterapkan dalam kehidupan sosial mereka. Tetapi meskipun tingkat pengetahuan keagamaan masyarakat dapat dikatakan sedang-sedang saja namun interaksi mereka dalam masyarakat dapat dikatakan baik. Seperti kerukunan diantara mereka yang ditunjukkan dengan sikap saling membantu, saling menghargai, peduli, dan juga kebersamaan yang ditunjukkan melalui berbagai macam kegiatan.
Sebagaimana dipaparkan oleh Ibu Siti seorang ibu rumah tangga juga salah seorang tokoh agama setempat bahwa memang dari segi pengetahuan tentang agama masih banyak dari warga yang dikatakan kurang mengetahui dan hanya terbatas pada hal-hal umum yang sudah menjadi kebiasaan. Seperti shalat, puasa Ramadhan, membayar zakat dan lain sebagainya. Mereka menganggap segala perbuatan seperti shalat, puasa, mengaji dan lainnya hanya dimaksutkan untuk menambah pahala saja sedangkan hikmah lain mereka kurang memahaminya.
3. Faktor Geografis
perindustrian sangat memberikan pengaruh terhadap individu yang tinggal disekitarnya.
Demikian gambaran Desa Klepu RW 2 yang merupakan daerah perindustrian. Masyarakatnya sebagian besar mengandalkan area ini sebagai tempat mata pencaharian mereka. Salah satunya adalah pekerjaan sebagai karyawan. Sehingga mayoritas penduduknya mengandalkan pabrik-pabrik untuk memenuhi kebutuhan ekonomi mereka.
Kehidupan sosial keagamaan yang dipengaruhi faktor geografis seperti wilayah RW 2 ini dapat dilihat dari berbagai macam interaksi sosial dalam berbagai kegiatan yang diadakan oleh karyawan di masyarakat seperti yang telah disebutkan sebelumnya. Keberagamaan masyarakat khususnya karyawan industri cenderung dalam kegiatan-kegiatan yang bersifat perkumpulan sosial. Tapi bila dilihat secara pribadi hanya sebagian kecil dari mereka yang menunjukkan simbol-simbol keagamaan dalam kehidupan sehari-hari seperti mengucapkan salam, berjabat tangan dan lain sebagainya.
Demikian kehidupan mereka yang disibukkan dengan pekerjaan yang diatur oleh jam kerja, sehingga interaksi yang sering ditemui adalah seputar ekonomi dan pekerjaan. Meskipun terdapat interaksi keagamaan diantara mereka, namun secara umum kehidupan sosial mereka dilatarbelakangi oleh ekonomi dan kerja.
lxv
Jika dilihat dari tingkat pendidikan, masyarakat yang bekerja sebagai karyawan pabrik di Desa Klepu RW 2 rata-rata adalah lulusan sekolah lanjutan (tingkat menengah dan tingkat atas). Bahkan ada juga yang tidak tuntas sekolah karena faktor-faktor tertentu seperti kekurangan biaya, dan lain sebagainya. Dan untuk membantu kelanjutan kehidupan keluarga, kebanyakan dari mereka terjun dalam dunia kerja atau dunia pabrik dikawasan tempat tinggal mereka. Karena itulah pendidikan agama dalam masyarakat kurang tertanam dengan baik pada warganya. Hal tersebut disebabkan karena keterikatan karyawan dengan jam kerja pabrik dan pekerjaan yang tidak ringan sehingga waktu kerja mengalahkan waktu untuk menumbuhkan intensitas keberagamaan seseorang.
D. Problematika Kehidupan Sosial Keagamaan
1. Problematika dalam Kegiatan Ritual Keagamaan
Alasan kedua muncul karena rasa gengsi atas status sosial ekonomi sehingga hal tersebut semakin mendorong mereka untuk giat bekerja dan berlomba-lomba mencapai tingkat sosial yang sama atau lebih tinggi dengan orang yang dianggap lebih bergengsi. Hal itulah yang sering kali menyebabkan menurunnya semangat keberagamaan masyarakat. Bahkan ibadah-ibadah wajib pun dapat mereka tinggalkan demi untuk memenuhi hasrat ekonomi mereka.
Alasan ketiga muncul karena kepengurusan atau aktifitas pengurus. Menurut pak Junari salah seorang tokoh masyarakat bahwa salah satu penyebab permasalahan dalam kehidupan sosial keagamaan yaitu kepengurusan yang sulit untuk dihandle. Ada beberapa pengurus yang kurang bertanggung jawab atas kepengurusannya dan kurangnya kerjasama antara pengurus dengan warga sekitar.
2. Problematika dalam Interaksi Sosial Masyarakat
Problem yang muncul dalam interaksi sosial terlihat pada kelompok karyawan pabrik yang tinggal di kos atau rumah-rumah kontrakan. Sebagian besar dari mereka cenderung menyendiri dan bergaul hanya dengan teman-teman kos saja dan tidak terlalu akrab dengan warga sekitar.
lxvii
waktu pulang ke daerah masing-masing untuk bertemu dan berkumpul bersama keluarga. Sehingga bersosialisasi dengan masyarakat sekitar bisa dikatakan kurang.
3. Problematika dalam Akhlak
Kegiatan keagamaan dan ibadah yang dilakukan oleh para karyawan pabrik belum sepenuhnya menunjukkan implikasi terhadap akhlak mereka. Hal ini dapat diketahui dengan masih banyaknya penyimpangan-penyimpangan moral dalam kehidupan sehari-hari seperti ucapan-ucapan yang kurang sopan, pertengkaran, perselisihan, perjudian, perselingkuhan serta kenakalan-kenakalan remaja.
Hal tersebut tidak hanya tampak pada para karyawan yang jarang terjun dalam kegiatan keagamaan saja, tetapi juga mereka yang aktif dalam kegiatan keagamaan. Karena sebagian besar motivasi mereka mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan cenderung hanya untuk mencari relasi juga keinginan untuk menjaga gengsi dan bukan berniat untuk meningkatkan intensitas keberagamaan mereka.
E. Solusi yang Ditempuh untuk Mengatasi Problematika Kehidupan
Sosial Keagamaan
1. Susunan Acara Pengajian yang Variatif
Susunan acara variatif juga meliputi dengan mengundang penceramah yang berganti-ganti antara pengajian satu dengan pengajian selanjutnya agar pengajian yang diadakan tidak terkesan monoton dan membosankan.
2. Mengupayakan Peningkatan Pendidikan Agama
Upaya meningkatkan pendidikan agama ini dilakukan baik didalam maupun diluar rumah yaitu dengan menciptakan suasana religius dalam keluarga seperti melaksanakan shalat berjamaah dengan keluarga, membiasakan mengaji di rumah, berperilaku sopan, memberi contoh yang baik pada anak dan mengajak atau mengikutsertakan anak ke majelis-majelis ta‟lim agar anak terbiasa dengan lingkungan yang religius. Sebagaimana yang dipaparkan oleh bapak Ikhsan salah seorang tokoh masyarakat juga seorang guru disalah satu sekolah swasta bahwa jika anak dibiasakan dengan hal-hal yang baik sejak kecil maka hal itu akan mudah melekat dengan jiwa anak sehingga dapat membentuk kepribadian anak ketika usia dewasa nanti.