Laporan Tutorial FIX Skenario 4 Blok 17 (Kelompok 5)

86 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

LAPORAN HASIL DISKUSI BLOK NEFROUROPOITIKA

Skenario 4

Tutor : dr. Abdul Hakim Nitiprodjo Sp. KF Kelompok 5

Ketua : Mahidin 1413010006

Sekretaris : Hudaya Taufiq 1413010017

Anggota:

Silka Reslia Riswanto 1413010004

Sinta Merlinda Yuni 1413010015

Dhimar Dwi Yuda N 1413010028

Fatimah Qonitah Diyanah 1413010029

Padang Tri Handoyo 1413010037

Tsara Arbiaty K 1413010046

Fatma Nashriati 1413010036

Nur Rizki Fajrin K 1413010050

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOTERAN

(2)

DAFTAR ISI SKENARIO

BAB I KLARIFIKASI ISTILAH... BAB II IDENTIFIKASI MASALAH... BAB III ANALISIS MASALAH... BAB IV SISTEMATIKA MASALAH... BAB V TUJUAN PEMBELAJARAN... BAB VI BELAJAR MANDIRI... BAB VII BERBAGI INFORMASI... Kesimpulan... Saran... Daftar Pustaka...

(3)

Seorang pria berumur 30 tahun datang ke dokter umum dengan keluhan kencing nanah dari kemaluannya. Seminggu sebelumnya dia berhubungan kelamin dengan PSK tanpa memakai kondom. Sebelum menikah dia juga sering ”jajan” kemudian mengeluh sakit yang sama, biasanya setelah periksa ke dokter keluhannya akan sembuh. Setelah memeriksa pasien, dokter memberikan resep obat dan dianjurkan untuk diminum selama 5 hari. Pada hari ke-6, pasien kontrol kembali ke dokter. Dia merasa keluhannya membaik namun mengeluh penisnya gatal dan masih mengeluarkan cairan bening dari lubang kencing. Istrinya juga mengeluh keluar cairan bening dari vaginanya. Walaupun tidak ada rasa nyeri pada organ genitalnya tapi dia khawatir penyakitnya bertambah parah dan berefek negatif pada rahimnya, sementara dia belum pernah hamil. Pertanyaannya : Apakah penyakitnya ini berefek pada kesuburannya? Jika istrinya hamil, apakah yang akan terjadi pada kehamilannya?

(4)

BAB I

KLARIFIKASI ISTILAH

1 Kencing Nanah

Kencing nanah atau pyuria dapat dinilai secara makroskopik yaitu terlihat gambaran urin yang keruh seperti susu dan mikroskopik terlihat adanya sel darah putih lebih dari 10 per-lapang pandang (Purnomo, 2014).

(5)

BAB II

IDENTIFIKASI MASALAH

2.1 Mengapa pasien mengeluhkan kencing nanah dari kemaluannya? 2.2 Anatomi organ yang terkait

2.3 Bagaimana hubungan riwayat tidak menggunakan pelindung dengan PSK? 2.4 Apa hubungan riwayat pengobatan dengan keluhan sekarang?

2.5 Penyakit apa saja yang disebebkan oleh seks bebas?

2.6 Apa hubungan riwayat pengobatan dengan keluhan sekarang? 2.7 Penyakit apa saja yang disebebkan oleh seks bebas?

(6)

BAB III

ANALISIS MASALAH

3.1. Mengapa pasien mengeluhkan kencing nanah dari kemaluannya?

Kencing nanah atau discharge purulen menandakan adanya proses infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan letaknya, hal ini dapat dicurigai adanya infeksi menular seksual terkait riwayat hubungan seksual pasien. Proses terjadinya kencing nanah diawali dengan adanya infeksi mikroorganisme, terutama dalam hal ini adalah bakteri yang menginvasi mukosa saluran genital, dengan berbagai mekanisme bergantung pada jenis dan kemampuan mikroorganisme tersebut dalam menimbulkan penyakit sehingga menstimulasi dilepaskannya mediator-mediator inflamasi area sekitar infeksi, yang mengundang berkumpulnya makrofag, monosit dan sel polimorfonuklear secara kemotaksis untuk melokalisasi area infeksi, memfagosit mikroorganisme, dan sisa jaringan nekrosis. Hal ini menimbulkan respon peradangan secara cepat akibat destruksi sel mukosa sehingga mengakibatkan keluarnya sekret purulen kuning kehijauan dari uretra pria dan dari ostium vagina atau serviks wanita (Price, 2013).

Proses lain dari sumber berbeda menyebutkan bahwa jika sudah diketahui etiologinya karena bakteri, maka bakteri akan masuk ke dalam sel dan terjadi pelepasan dracylglycerol dan chemotactive factor kemudian masuk ke dalam epitel. Selanjutnya akn terjadi akumulasi ceramide dalam sel yang akan menginduksi apoptosis, kemudian terjadi gangguan integritas epitel yang akan melepaskan faktor kemotaksis yang merupakan hasil dari komplemen, kemudian tubuh akan mengelaurkan leukosit sebagai hasil pertahanan tubuh. Leukosit tersebut akan bercampur dengan kencing, sehingga timbul kencing nanah (Sudoyo, 2014).

(7)

Infeksibakteri/mikroorganisme

Melekatpadaselepitel yang melapisisselaputlendir

Terutamapadauretradancanalisendoserviks

Bakterimenghasilkanprodukekstraseluler yang mengakibatkankerusakansel (enzimfosfolipase/peptidase)

Komponenpermukaanselbakteri (Lipopolisakaridadanpeptidoglikanakanmemicuproduksiendotoksin)

Menimbulkanresponinflamasi

Lokalinvasineutrofil, pembentukanmikroabsessubmukosa

Kerusakannepitel

Keluarnya discharge purulen

Kencing nanah menandakan adanya proses infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Berdasarkan letak keluhannya dapat dicurigai adanya infeksi menular seksual. (Price, 2013)

(8)

Organ Reproduksi Laki-laki

Tabel 1. Organ reproduksilaki-laki.

Penis

Terdiri dari 2 pars yaitu : a. Pars fixata/afixa

 Crus penis  Bulbus penis

(9)

b. Pars Libera  Corpora cavernosa  Corpus spongiosum Terdiridari 3 bagian : a. Radix penis b. Corpus penis c. Glands penis

3.3Bagaimana hubungsn riwayat tidak menggunakan pelindung dengan PSK?

Merupakan salah satu resiko terkenanya infeksi menular seksual. Pasien akan dianggap beresiko tinggi apabila adanya jawaban “ya” satu atau lebih dari pertanyaan berikut :

a. Pasangan seksual > 1 dalam 1 bulan terakhir

b. Berhubungan seksual dengan PSK dalam 1 bulan terakhir

c. Mengalami 1 atau lebih episode infeksi menular seksual (IMS) dalam 1 bulan terakhir

d. Perilaku pasangan seksual beresiko tinggi

Beberapa cara masuknya mikroorganisme pada IMS yaitu

a. Penyebaran endogen ( kontak langsung dari tempat infeksi terdekat ) b. Hematogen ( melalui darah ) => transfusi darah

c. Limfogen ( melalui saluran limfe )

d. Eksogen ( misalnya akibat pemakaian alat )

Jadi riwayat tidak menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan PSK sangat beresiko tinggi tertularnya penyakit menular seksual , karena kndom merupakan penghalang atau barier impermeable terhadap mikroorganisme penyebab PMS.

(10)

(Djuanda,1998)

3.4Apa hubungan riwayat pengobatan dengan keluhan sekarang? Pasien mengaku bukan pertama kalinya mengeluhkan hal yang sama. Namun, setelah berobat ke dokter, keluhannya hilang. Hal ini dikarenakan pada umumnya, penyakit menular seksual pada laki-laki bersifat simtomatik, dikarenakan organ genital dan sistem kemih laki-laki, khususnya uretra berfungsi sebagai organ ejakulasi dan miksi. Sehingga jika terjadi infeksi menular seksual, akan mudah terdeteksi. Hal ini mengakibatkan pasien datang ke dokter untuk memeriksakan diri karena keluhannya tersebut, sehingga jarang terjadi komplikasi hingga timbulnya prostatitis, epididimitis, dan bakteremia. Pada infeksi tertentu, seperti Neisseria gonorrhoeae, terjadinya infeksi berulang seperti yang dialami pasien dikarenakan tidak terbentuknya imunitas alami setelah infeksi bakteri tersebut untuk pertama kalinya (Price, 2013).

3.5Penyakitapasaja yang disebebkanolehseksbebas?

Secara garis besar Penyakit Menular Seksual dapat dibedakan menjadi empat kelompok, antara lain:

a.PMS yang menunjukkan gejala klinis berupa keluarnya cairan yang keluar dari alat kelamin, yaitu penyakit Gonoredan Uretritis Non Spesifik(UNS)

b.PMS yang menunjukkan adanya luka pada alat kelamin misalnya penyakit Chanroid(Ulkus mole), Sifilis, LGV, dan Herpes simpleks. c.PMS yang menunjukkan adanya benjolan atau tumor, terdapat pada penyakit Kondiloma akuminata.

d.PMS yang memberi gejala pada tahap permulaan, misalnya penyakit Hepatitis B

(11)

Tabel 1. Patogenpenyebabdanjenis IMS yang ditimbulkan

PATOGEN MANIFESTASI KLINIS DAN PENYAKIT YANG DI

TIMBULKAN INFEKSI BAKTERI

Neisseria gonorrhoeae GONORE

Laki-laki: uretritis, epididimitis, orkitis, kemandulan Perempuan: servisitis, endometritis, salpingitis, bartolinitis, penyakitradangpanggul, kemandulan, ketubanpecahdini, perihepatitis

Chlamydia trachomatis KLAMIDIOSIS (INFEKSI KLAMIDIA)

Laki-laki: uretritis, epididimitis, orkitis, kemandulan Perempuan: servisitis, endometritis, salpingitis,

penyakitradangpanggul, kemandulan, ketubanpecahdini, perihepatitis, umumnyaasimtomatik

Chlamydia trachomatis

(galur L1-L3) LIMFOGRANULOMA VENEREUM Treponemapallidum SIFILIS

Laki-laki&perempuan: ulkus durum

denganpembesarankelenjargetahbeninglokal,erupsikulit,kondiloma lata,kerusakantulang,kardiovaskulardanneurologis

Perempuan: abortus, bayilahirmati,

kelahiranprematurNeonatus: lahirmati, sifiliskongenital Haemophilusducreyi CHANCROID (ULKUS MOLE)

Laki-laki&perempuan:ulkusgenitalisyangnyeri,dapatdisertaidenganbu Klebsiella

(Calymmatobacterium) granulomatis

GRANULOMA INGUINALE (DONOVANOSIS)

Laki-laki&perempuan:pembengkakankelenjargetahbeningdanlesiuls Mycoplasma genitalium Laki-laki: duh tubuhuretra (uretritis non-gonore)

Perempuan: servisitisdanuretritis non-gonore, mungkinpenyakitradangpanggul

(12)

Ureaplasmaurealyticum Laki-laki: duh tubuhuretra (uretritis non-gonokokus) Perempuan: servisitisdanuretritis non-gonokokus, mungkinpenyakitradangpanggul

INFEKSI VIRUS

Human Immunedeficiency

Virus (HIV) INFEKSI HIV / ACQUIRED IMMUNEDEFICIENCY SYNDROME (AIDS) Herpes simplex virus (HSV)

tipe2 dantipe 1

HERPES GENITALIS

Laki-laki&perempuan: lesivesikulardan/atauulseratifdidaerah genitalia dan anus

Human papillomavirus (HPV) KUTIL KELAMIN

Laki-laki: kutil di daerah penis dan anus, kanker penis dan anus Virus hepatitis B HEPATITIS VIRUS

Laki-laki&perempuan: hepatitis akut, sirosishati, kankerhati Virus moluskumkontagiosum MOLUSKUM KONTAGIOSUM

Laki-laki&perempuan: papulmultipel, diskret, berumbilikasi di daerah genitalia ataugeneralisata

INFEKSI PROTOZOA

Trichomonasvaginalis TRIKOMONIASIS

Laki-laki: uretritis non-gonokokus, seringkaliasimtomatik INFEKSI JAMUR

Candida albicans KANDIDIASIS

Laki-laki: infeksi di daerah glans penis INFESTASI PARASIT

Phthirus pubis PEDIKULOSIS PUBIS

Laki-laki&perempuan: papuleritematosa,gatal, terdapatkutudantelur di rambut pubis

Sarcoptesscabiei SKABIES

(13)

(Pedoman IMS, 2011)

3.6. Mengapasetelahdiberiobatkeluhanpasientidakmembaik?

Pada skenario pasien masih merasakan keluhannya meskipun telah diberi obat oleh dokter. Ada beberapa kemungkinan penyebab dari kenapa keluhannya masih dirasakan yaitu :

1. Infeksi yang berulang pada penderita

2. Resistensi antibiotik. Pengobatan antibiotik jangka panjang mempengaruhi pola resistensi kuman penyebab.

3. Ketidak patuhan dalam pengobatan. Dalam pengobatan PMS terdapat prinsip pengobatan yaitu :

a. Setiap PMS obatnya berbeda. Tergantung kuman penyebabnya b. Selama minum obat harus habis dan teratur meskipun keluhan

sudah berkurang

c. Selama pengobatan tidak melakukan hubungan seksual terlebih dahulu

d. Kontrol kembali setelah obat habis untuk memastikan pasien tersebut telah sembuh. Membawa pasangan saat periksa kedokter ( Sudoyo et al, 2014 ).

3.7Mengapaistrinyamengeluhkangataldanmengluarkancairanbewarna bening?

Penularan PMS seringkali melalui kontak langsung. Hubungan seksual dengan istri pasien dapat menularkan kuman yang dapat menyebabkan pingpong phenomenon. Hal ini seharusnya dicegah atau dihindari sebelumnya dengan menggunakan kondom (barrier) selama berhubungan seksual, tentunya dengan cara yang tepat, atau abstinensia selama masa terapi, bahkan hingga 7 hari setelah terapi (CDC, 2015).

(14)

Terkait faktor jenis kelamin, pada perempuan, infeksi Neisseriagonorrhoeae lebih bersifat asimtomatis karena organ berkemih dan seksualnya berbeda, yaitu uretra dan vagina, dan hal tersebut terbukti secara empirik melalui data epidemiologik sekitar 25-50% pasien PMS menunjukkan sedikit atau bahkan tanpa gejala (Price, 2013).

Infeksi Neisseriagonorrhoeae dapat menimbulkan gejala pada perempuan sekitar 7-21 hari setelah pajanan, yang biasanya dimulai dengan gejala keluarnya sekret vagina abnormal seperti dalam kasus. Hal ini juga terkait risiko penularan dari pria kepada wanita lebih besar daripada dari wanita kepada pria karena lebih luasnya mukosa yang terpajan pada wanita dan eksudat yang berdiam lama di vagina (Price, 2013).

Ketidakpatuhan pasien dalam terapi dapat menyebabkan keluhan di atas, karena prinsip pengobatan untuk Infeksi Menular Seksual (IMS) adalah sebagai berikut (Kemenkes, 2011):

 Setiap IMS obatnya berbeda.

 Selama minum obat harus habis dan teratur meskipun keluhan berkurang kalau tidak begitu ditakutkan penyakit menjadi kebal.

 Selama pengobatan tidak melakukan hubungan seksual dahulu, misal akan berhubungan memakai kondom dengan cara yang benar.

 Control kembali setelah obat untuk memeastikan pasien sembuh dan juga membawa pasangansaat periksa supaya tidak tertular ulang.

(15)

Penularanmelaluikontaklangsung Suamiberhubunganseksualdenganistri

Pingpong phenomenon Padacanalisendoservikalis

Menimbulkangejala 7-12 harisetelahpejanan

Peningkatan skresi vagina Disuria

Perdarahan uterus diluar siklus menstruasi Menoragia

Resikotinggidaripriakewanitalebihtinggikarenaluasnyamukosa yang terpajanpadawaniadaneksudat yang berdiam lama divagina

(16)

3.8Bagaimana pengaruh keluhan pasien terhadap kesuburan istrinya? Penyakitmenularseksualpada perempuan bersifat asimptomatik, oleh karena itu terdakang mengalami keterlambatan dalam melakukan deteksi. Karena keterlambatan dalam deteksi maka dapat mengalami penyebaran ke area yang lebih luas. Jika infeksi menuju menuju uretra, akan menyebabkan uretritis, pada kelenjar bartholin akan menyebabkan bartholinitis, dan pada endometrium serta tuba fallopi dapat menimbulkan adanya perdarahan abnormal vagina, nyeri panggul dan abdomen, serta gejala radang panggul yang progresif, sebagai penyebab utama timbulnya infertilitas pada perempuan (Price, 2013).

Penyakit menular seksual yang sebagian besar bersifat asimtomatik pada perempuan menimbulkan keterlambatan deteksi dana adanya infeksi tersebut, dan sering kali sudah menyebar ke area lain yang lebih luas, diantaranyamenujuuretra, yang menyebabkan uretritis, pada kelenjar bartholin yang menyebabkan bartholinitis, dan pada endometrium serta tuba fallopi yang menimbulkan adanya perdarahan abnormal vagina, nyeri panggul dan abdomen, serta gejala radang panggul yang progresif, sebagai penyebab utama timbulnya infertilitas pada perempuan. Hal ini dipengaruhi pula oleh faktor jenis kelamin, di mana masa haid meningkatkan risiko penularan PMS melalui darah haid, karena darah menyediakan sumber makanan yang besar bagi kuman untuk bereproduksi (Price, 2013).

Jika istrinya hamil apakah yang akan terjadi dengan kehamilannya? Terjadi pada ibu:

1) Keguguran 2) KET

3) Endometriosis 4) Aborsi spontan Terjadipadaanak:

(17)

1) Sepsis infeksi aliran darah 2) Infeksi kulit kepala 3) Arthritis

4) Conjungtivitis

5) Kebutaan (Sudoyo, 2014)

BAB IV

(18)

Laki – laki 30 tahun

Perilaku sex berganti – ganti Rekurensi IMS

Kencing nanah

Istri juga mengalami

Infeksi asending Limfogen Hematogen Faktor resiko Macam-maam IMS Pingpong phenomenan

Pengaruh terhadap kesuburan

Differential diagnosis : Gonore Sifilis HIV Clamidya Trachomatis Candidiasis Herpes genital Proses terjadinya kencing nanah

Pada kehamilanFibrosis organ genital, uterus dan ovarium

Komplikasi

Diagnosis Kerja : Gonore

Treatment Prognosis

Farmakologi dan Non-farmakologi Pada bayi

Resiko infertilitas Pada ibu

BAB V

TUJUAN PEMBELAJARAN 5.1. Mahasiswa mengetahui mengenai infeksi menular seksual

(19)

5.2. Mahasiswa mengetahui Gonore 5.3. Mahasiswa mengetahui Sifilis

5.4 Mahasiswa mengetahui Herpes genital

5.5.Mahasiswa mengetahui Condiloma Akuminata 5.6. Mahasiswa mengetahui Clamidia Tracomatis 5.7.Mahasiswa mengetahui HIV

5.8. Mahasiswa mengetahui pandangan islam mengenai infeksi menular seksual BAB VI

(20)

BAB VII

BERBAGI INFORMASI

7.1 Mahasiswa mengetahui tentang Penyakit Menular Seksual Penyakit Menular Seksual

Infeksi Menular Seksual (IMS) didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan karena adanya invasi organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis.(Aprilianingrum, 2002).

Terdapat lebih kurang 30 jenis mikroba(bakteri, virus, dan parasit) yang dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Kondisi yang paling sering ditemukan adalah infeksi gonorrhea, chlamydia, syphilis,trichomoniasis, chancroid, herpesgenital, infeksi human immunodeficiensy virus (HIV) dan hepatitis B. HIV dan syphilis juga dapat ditularkan dari ibu ke anaknya selama kehamilan dan kelahiran, dan juga melalui darah serta jaringan tubuh (WHO,2009).

Etiologi Penyakit Menular Seksual

Menurut Handsfield(2001) dalam Chiuman (2009), Penyakit menular seksual dapat diklasifikasikan berdasarkan agen penyebabnya, yakni:

a. Dari golongan bakteri, yakni Neisseria gonorrhoeae, Treponema pallidum, Chlamydia trachomatis, Ureaplasma urealyticum, Mycoplasma hominis, Gardnerella vaginalis, Salmonella sp, Shigella sp, Campylobacter sp, Streptococcus group B, Mobiluncus sp.

b. Dari golongan protozoa, yakni Trichomonas vaginalis, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia

c. Dari golongan virus, yakni Human Immunodeficiency Virus(tipe 1 dan 2), Herpes Simplex Virus (tipe 1 dan 2), Human papiloma Virus, Cytomegalovirus, Epstein-barr virus, Molluscum contagiosum virus, d. Dari golongan ektoparasit, yakni Phthirus pubis dan Sarcoptes scabei

(21)

Penularan Penyakit Menular Seksual

Penyakit Menular Seksual ini terutama melalui hubungan seksual yang tidak terlindungi, baik pervaginal, anal, maupun oral.Cara penularan lainnya secara perinatal, yaitu dari ibu ke bayinya, baik selama kehamilan, saat kelahiran ataupun setelah lahir. Bisa melalui transfuse darah atau kontak langsung dengan cairan darah atau produk darah. Dan juga bisa melalui penggunaan pakaian dalam atau handuk yang telah dipakai penderita Penyakit Menular Seksual(PMS).

Perilaku seks yang dapat mempermudah penularan PMS adalah : 1. Berhubungan seks yang tidak aman (tanpa menggunakan kondom). 2. Gonta-ganti pasangan seks.

3. Prostitusi.

4. Melakukan hubungan seks anal (dubur), perilaku ini akan menimbulkan luka atau radang karena epitel mukosa anus relative tipis dan lebih mudah terluka disbanding epitel dinding vagina.

5. Penggunaan pakaian dalam atau handunk yang telah dipakai penderita 6. PMS (Hutagalung, 2002).

Jenis-Jenis Penyakit Menular Seksual

Secara garis besar Penyakit Menular Seksual dapat dibedakan menjadi empat kelompok, antara lain:

a. PMS yang menunjukkan gejala klinis berupa keluarnya cairan yang keluar dari alat kelamin, yaitu penyakit Gonore dan Uretritis Non Spesifik(UNS)

b. PMS yang menunjukkan adanya luka pada alat kelamin misalnya penyakit Chanroid(Ulkus mole), Sifilis, LGV, dan Herpes simpleks. c. PMS yang menunjukkan adanya benjolan atau tumor, terdapat pada

penyakit Kondiloma akuminata.

d. PMS yang memberi gejala pada tahap permulaan, misalnya penyakit Hepatitis B (Daili, 2007).

(22)

A. Definisi

Gonore merupakan penyakit menular seksual yang bersifat akut yang disebabkan oleh Neisseriagonorrhoeae (Djuanda et al, 2008), dimana pada permulaannya keluar nanah dari OUE (orifisium uretra eksternum) sesudah melakukan hubungan kelamin (Freedberg, 2003). B. Etiologi

Dapat di sebabkan karena, kontak seksual dan infeksi karena kelahiran.Secara morfologik, gonokok ini terdiri atas 4 tipe, yaitu tipe 1 dan 2 yang mempunyai pili dan bersifat virulen, serta tipe 3 dan 4 yang tidak mempunyai pili dan bersifat nonvirulen. Tipe mikroorganisme tersebut yaitu (Brian, 2010):

1) Neisseria gonorrhoeae 2) Neisseria meningitides 3) Neisseria pharyngitis 4) Neisseria catarrhalis

Neiserria gonorrhoeae dan Neisseria meningitidis bersifat patogen sedangkan dua lainnya bersifat komensalisme.Neiserria gonorrhoeaeadalah organisme gram negative, nonmotil, non-spore forming, intraseluler, dan merupakan diplococcus aerobik (Brian, 2010).

C. Patofisiologi

Gonore didapatkan melalui kontak seksual, akibat kebersihan yang buruk atau pengobatan dengan menggunakan urin. Penularan juga dapat terjadi secara vertikal dari ibu ke anak pada waktu persalinan. Patogenesisnya terkait ikatan dengan sel epitel kolumner melalui pili atau fimbri (Wolff K et al, 2005).

Mekanisme molekuler yang tepat dari invasi gonokokus ke dalam sel inang masih belum diketahui. Beberapa faktor virulensi yang terlibat dalam proses patogenesisnya meliputi peradangan mukosa dan invasi. Karena pili meningkatkan adhesi ke sel inang, sehingga pili juga memainkan peran penting dalam patogenesis, hal ini mungkin dapat menjelaskan mengapa gonokokus non pili kurang mampu menyebabkan infeksi pada manusia. Gonokokus berikatan dengan sel inang yaitu pada epitel dan neutrofil polimorfonuklear, ikatan gonokokus tidak hanya bergantung pada pili tetapi juga pada

(23)

Opa ligan. Antibodi antipilus telah memperlihatkan pemblokiran keterikatan epitel dan meningkatkan pembunuhan melalui fagositosis. Diketahui bahwa pentingnya ekspresi reseptor transferin dan ekspresi lipo oligosakarida (LOS) yang tampak pada infektivitas maksimal. Gonokokus mampu mengalikan dan membagi intraseluler, dimana mikroorganisme ini kebal terhadap mekanisme pertahanan tubuh (host). Invasi mikroorganisme disukai oleh ekspresi protein Opa tertentu dan non-sialylated LOS.

Gonokokus memiliki kemampuan untuk menyebabkan kerusakan jaringan oleh produksi berbagai peptida dan lipid seperti fosfolipase, peptidases, lipid A dan peptidoglikan. Hal ini tampaknya berpengaruh dalam kerusakan saluran tuba dan terjadinya arthritis post inflamasi. D. Manifestasi Klinis

E. Faktor Resiko

 Seks bebas tanpa pengaman  Banyak pasangan seks  Homoseksualitas

(24)

 Status sosial ekonomi rendah

 Status minoritas (Blacks, Hispanik, dan penduduk asli Amerika).

 Riwayat penyakit menular seksual  Onset aktivitas seksual dini  Penyakit radang panggul (PID)

 Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (IUD) (Brian, 2010).

F. Macam-macam Gonore 1) Gonore Genitalia

a. Infeksi gonokokal pada pria

Infeksi gonokokal pada pria bersifat asimtomatik (10%). Gambaran klinis yang paling umum dari infeksi gonokokal uretritis adalah akut dengan disuria dan keluarnya cairan dari uretra yang sebagian besar purulen dan banyak dan muncul secara spontan di uretra.

Gambar 1. Sekret Purulen pada Gonore (Wilson, 2009). Pada sekitar seperempat dari pria yang terinfeksi, gejala dari uretranya kurang dikeluhkan, mirip dengan uretritis non-gonokokal, dan muncul hanya setelah manipulasi uretra (stripping). Tanpa pengobatan, gejala gejala klinis menghilang pada kebanyakan pasien setelah sekitar 6 bulan. Komplikasi lokal termasuk radang Cowper dan kelenjar Tyson dan gonokokal pioderma, perluasan ke

(25)

atas dapat menyebabkan epididimitis, prostatitis dan vesikulitis. Pasien dengan epididimitis gonokokal datang dengan nyeri testis unilateral dan pembengkakan disertai dengan uretritis.

b. Infeksi gonokokal pada wanita

Pada sekitar 50% wanita yang terinfeksi, infeksi gonokokal bersifat asimtomatik. Tempat utama infeksi gonokokal pada wanita adalah kanal endoserviks, dengan gejala klinis seperti keputihan yang meningkat, disuria, perdarahan intermenstrual, dan menorrhagia. Pemeriksaan klinis menunjukkan sekret serviks purulen yang khas dengan eritema dan edema, pemeriksaan swab pada kanal endoserviks berwarna kuning, menunjukkan servisitis gonokokal. Kolonisasi uretra terjadi pada 70-90% wanita yang terinfeksi dan merupakan tempat yang biasanya terjadi infeksi pada wanita yang telah menjalani histerektomi. Kadang-kadang, terdapat radang kelenjar bartholin, dengan pembengkakan akut pada lipatan labial dan keluarnya cairan purulen yang muncul ketika dilakukan tekanan pada kelenjarnya.

Gambar 2. Gonore; Proksitis dan Servisitis (Wilson, 2009).

Komplikasi lokal yang biasanya terjadi pada wanita adalah salpingitis akut atau pelvic inflammatory disease (PID) karena penyebaran keatas dari mikroorganisme. Terjadi pada sekitar 10-20% wanita yang terinfeksi dan dapat mengakibatkan infertilitas, nyeri

(26)

panggul kronis, dan kehamilan ektopik. Secara klinis gejala PID bervariasi, termasuk nyeri perut bagian bawah, nyeri adneksa, elevasi erythrocyte sedimentation rate (ESR), leukositosis dan demam. Perihepatitis Gonore (sindrom Fitz Hugh Curtis) adalah komplikasi yang jarang terjadi di mana gejala PID disertai nyeri di kuadran kanan atas, mirip kolesistitis akut.

Infeksi simtomatik bermanifestasi sebagai keputihan yang berlebihan, disuria, dispareunia dan pendarahan intermenstrual. Namun, sebagian besar wanita dengan infeksi pada stadium awal dilaporkan tidak mengalami gejala ini (Wilson 2009).

Bagian lain yang jarang mengalami infeksi pada orang dewasa adalah mata, dimana autoinokulasi organisme dari tempat anogenital yang terinfeksi menyebabkan konjungtivitis akut. Dapat bermanifestasi sebagai gejala akut dengan mata merah yang nyeri dan cairan purulen yang dapat berkembang menjadi panophthalmitis dan kehilangan penglihatan (Wilson, 2009).

2) Gonore Ekstragenital - Gonore faring

- Gonore rectal

- Oftalmia gonokokal

- Infeksi gonokokal siseminata - Oftalmia neonatorum

G. Penegakkan Diagnosis 1) Anamnesis

Hubungan seks (oral seks) (Listawan, 2005). 2) Pemeriksaan fisik

 Pria:

 Sakit waktu kencing

 Orifisium uretra yang edema dan eritematosus  Sekret uretra yang purulen

 Ektropion keluar ecoulement

 Wanita

a. Saluran urogenital bawah

Sekret mukopurulen atau purulen dari serviks Sekret atau perdarahan dari vagina

(27)

Pelvic Inflammatory Disease (PID)

Nyeri abdomen bagian bawah dengan atau tanpa penyebaran rasa nyeri

Nyeri pada waktu serviks digerakkan Nyeri tekan adneksa

Panas badan

Nyeri tekan abdomen bagian kanan atas (Listawan, 2005).

3) Pemeriksaan penunjang

 Laboratorium

1) Hitung darah lengkap

Pasien dengan gonococcemia mungkin memiliki sel darah putih (wbc) count tinggi, di kisaran 10.000-15.000/µl (Listawan, 2005).

2) Pengecatan gram

Gambar 3. Hasil pengecatan gram gonokokus (Listawan, 2005)

(28)

Gambar 5. Hasil kultur bakteri gonokokus (Listawan, 2005). 4) Nucleic Acid Amplification Test (NAAT)

Variasi dari proses ini meliputi tes reaksi berantai ligase dan untai perpindahan amplifikasi.Tes ini sangat sensitif lebih cepat dari kultur dan lebih spesifik dari immunoassays.NAATs dari genital, rektal, konjungtiva, dan sekresi faring dapat diperoleh ketika pasien tidak memiliki gejala lokal (Listawan, 2005).

H. Tatalaksana

Penyakit Regimen yang

direkomendasikan

Dosis dan/atau rute Dewasa, remaja, Seftriakson dan

Azitromisin

(29)

dan anak-anak >45 kg: infeksi gonokokus tanpa komplikasi pada serviks, uretra, dan rectum 1 g oraldosis tunggal

Kehamilan Seftriakson dan Azitromisin

250 mg IM dosis tunggal 1 g oraldosis tunggal

Faringitis Seftriakson dan Azitromisin 250 mg IM dosis tunggal 1 g oraldosis tunggal Dewasa dan remaja: konjungtivitis Seftriakson dan Azitromisin 1 g IM dosis tunggal 1 g oraldosis tunggal Anak-anak ≤45 kg: infeksi urogenital, rektal, dan faringeal

Seftriakson 25-50 mg/kg IV atau IM, tidak melebihi 125 mg IM dosis tunggal

Pilihan alternatif

Jika seftriakson tidak tersedia: Sefiksim 400 mg oral dosis tunggal dan Azitromisin 1 g oral dosis tunggal Jika alergi sefalosporin:

Gemifloksasin 320 mg oral dosis tunggal dan Azitromisin 2 g oral dosis tunggal, atau Gentamisin 240 mg IM dosis tunggal dan Azitromisin 2 g oral dosis tunggal

Terapi partner seksual

Partner seksual terakhir, yaitu orang yang berhubungan seksual dengan pasien yang terinfeksi selama 60 hari sebelum munculnya gejala gonore, atau diagnosis gonore harus dilakukan evaluasi, tes, dan terapi

(30)

dugaan ganda. Jika hunungan seksual dilakukan lebih dari 60 hari sebelu onset gejala atau diagnosis, maka partner seksual harus diterapi. Untuk mencegah reinfeksi, partner seksual harus diintruksikan untuk melakukan abstinensia dari hubungan seksual yang tidak terlindungi hingga 7 hari setelah pasien dan partner seksualnya telah melengkapi terapi dan setelah hilangnya gejala, jika muncul. Obat yang digunakan yaitu sefiksim 400 mg dan azitromisin 1 g oral dosis tunggaal, dapat diberikan kepada partner seksual oleh pasien (CDC, 2015).

I. Komplikasi

Gonore merupakan infeksi utama saluran genital bagian bawah yang tidak begitu kompleks dan memiliki gejala gonore yang tampak pada kebanyakan pria (90-95%) dan sekitar 50% gejala gonore pada wanita bersifat asimtomatik. Jika gonore tidak dapat dideteksi, atau pengobatannya tidak adekuat, hal ini dapat menyababkan komplikasi berupa infeksi pada saluran genital bagian atas (Devrajani, 2010).

Pelvic inflammatory disease (PID) pada wanita dan epididymo-orchitis pada pria biasanya merupakan komplikasi dari penyebaran lokal infeksi gonokokus. Gonokokus bakteremia jarang terjadi (kurang dari 1% yang terinfeksi) dan biasanya manifestasi klinis berupa lesi pada kulit, demam, arthralgia, arthritis akut dan tenosynovitis (Disseminated Gonococcal Infection).

Gonore diketahui memudahkan penerimaan dan transmisi HIV. Prevalensi gonore tinggi pada pria yang telah melakukan hubungan sex dengan pria (MSM: Men Sex Men), dimana mereka juga beresiko tinggi memperoleh HIV, deteksi dini dan pengobatan merupakan hal yang sangat penting (Devrajani, 2010).

7.3 Mahasiswa mengetahui tentang penyakit Sifilis Definisi

Sifilis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Treponema pallidum, merupakan penyakit kronis dan bersifat sistemik, selama perjalanan penyakit dapat menyerang seluruh organ tubuh, ada masa laten

(31)

tanpa manifestasi lesi di tubuh, dan dapat ditularkan kepada bayi di dalam kandungan. (Natahusada, 2010)

Etiologi

Pada tahun 1905 penyebab sifilis ditemukan oleh Schaudinn dan Hoffman ialah Treponema pallidum, yang termasuk ordo Spirochaetales, familiaSpirochaetaceae, dan genus Treponema.Bentuknya sebagai spiral teratur, panjangnya antara 6-15 um, lebar 0,15 um, terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan. Gerakannya berupa rotasi sepanjang aksis dan maju seperti gerakan pembuka botol.Membiak secara pem-belahan melintang, pada stadium aktif terjadi setiap tiga puluh jam. (Natahusada, 2010)

Klasifikasi sangat sulit dilakukan, karena spesies Treponema tidak dapat dibiakkan in vitro.Sebagai dasar diferensiasi terdapat 4 spesies yaitu Treponema pallidum sub species pallidum yang menyebabkan sifilis, Treponema pallidum sub species pertenue yang menyebaban frambusia, Treponema pallidum sub species endemicum yang menyebabkan bejel, Treponema carateum menyebabkan pinta (Hutapea, 2009)

Bakteri ini masuk kedalam tubuh manusia melalui selaput lendir (misalnya di vagina atau mulut) atau melalui kulit. Dalam beberapa jam, bakteri akan sampai ke kelenjar getah bening terdekat, kemudian menyebar ke seluruh tubuh melalui aliran darah. Sifilis juga bisa menginfeksi janin selama dalam kandungan dan menyebabkan cacat bawaan

Epidemiologi

Asal penyakit ini tak jelas.Sebelum tahun 1492 belum dikenal di Eropa. Ada yang menganggap penyakit ini berasal dari penduduk Indian yang dibawa oleh anak bush Columbus waktu mereka kembali ke Spanyol pada tahun 1492. Pada tahun 1494 terjadi epidemi di Napoli. Pada abad ke-18 baru diketahui bahwa penularan sifilis dan gonore

(32)

disebabkan oleh sanggama dan keduanya dianggap disebabkan oleh infeksi yang sama (Natahusada, 2010)

Insidens sifilis di berbagai negeri di seluruh dunia pada tahun 1996 berkisar antara 0,04 -0,52%. Insidens yang terendah di Cina, sedangkan yang tertinggi di Amerika Selatan. Di Indonesia insidensnya 0,61%. Di bagian kami penderita yang terbanyak ialah stadium laten, disusul sifilis stadium I yang jarang, dan yang langka ialah sifilis stadium II.

WHO memperkirakan bahwa terdapat 12 juta kasus baru pada tahun 1999, dimana lebih dari 90% terdapat di negara berkembang.

Patogenesis Stadium dini

T. pallidum masuk ke dalam kulit melalui mikrolesi atau selaput lender, biasanya melalui sanggama.Kuman tersebut membiak, jaringan bereaksi dengan membentuk infiltrat yang terdiri atas sel-sel limfosit dan sel- sel plasma, terutama di perivaskular, pembuluh-pembuluh darah kecil berproliferasi di kelilingi oleh T. pallidum dan sel-sel radang.Treponema tersebut terletak di antara endotelium kapiler dan jaringan perivaskular di sekitarnya.Enarteritis pembuluh darah kecil menyebabkan perubahan hipertrofikendotelium yang menimbulkan obliterasi lumen (enarteritis obliterans). Kehilangan pendarahan akan menyebabkan erosi, pada pemeriksaan klinis tampak sebagai S1 (Natahusada, 2010)

Sebelum S1 terlihat, kuman telah mencapai kelenjar getah bening regional secara limfogen dan membiak. Pada saat itu terjadi pula pen-jalaran hematogen dan menyebar ke semua jaringan di badan, tetapi manifestasinya akan tampak kemudian. Multiplikasi ini diikuti oleh reaksi jaringan sebagai SII, yang terjadi enam sampai delapan minggu sesudah S1. S1akan sembuh perlahan-lahan karena kuman di tempat tersebut jumlahnya berkurang, kemudian terbentuklah fibroblas-fibroblas dan akhirnya sembuh berupa sikatriks. SII jugs mengalami regresi perlahan-lahan dan lalu menghilang.

(33)

Tibalah stadium laten yang tidak disertai gejala, meskipun infeksi yang aktif masih terdapat. Sebagai contoh pada stadium ini seorang ibu dapat melahirkan bayi dengan sifilis kongenital.

Stadium lanjut

Stadium laten dapat berlangsung bertahun-tahun, rupanya treponema dalam keadaan dorman. Meskipun demikian antibodi tetap ada dalam serum penderita.Keseimbangan antara treponema dan jaringan dapat sekonyong-konyong berubah, sebabnya belum jelas, mungkin trauma merupakan salah satu faktor presipitasi.Pada saat itu muncullah SIII berbentuk guma.Meskipun pada guma tersebut tidak dapat ditemukan T. pallidum, reaksinya hebat karena bersifat destruktif dan berlangsung bertahun-tahun. Setelah mengalami mass laten yang bervariasi guma tersebut timbul di tempat-tempat lain.

Gejala Klinis

Gejala dan tanda dari sifilis banyak dan berlainan; sebelum perkembangan tes serologikal, diagnosis sulit dilakukan dan penyakit ini sering disebut "Peniru Besar" karena sering dikira penyakit lainnya..Bila tidak terawat, sifilis dapat menyebabkan efek serius seperti kerusakan sistem saraf, jantung, atau otak. Sifilis yang tak terawat dapat berakibat fatal. Orang yang memiliki kemungkinan terkena sifilis atau menemukan pasangan seks yang mungkin terkena sifilis dianjurkan untuk segera menemui dokter secepat mungkin.

Sifilis dapat dirawat dengan penisilin atau antibiotik lainnya. Menurut statistik, perawatan dengan pil kurang efektif dibanding perawatan lainnya, karena pasien biasanya tidak menyelesaikan pengobatannya. Cara terlama dan masih efektif adalah dengan penyuntikan procaine penisilin di setiap pantat (procaine diikutkan untuk mengurangi rasa sakit); dosis harus diberikan setengah di setiap pantat karena bila dijadikan satu dosis akan menyebabkan rasa sakit. Cara lain adalah memberikan kapsul azithromycin lewat mulut (memiliki durasi yang lama) dan harus diamati. Cara ini mungkin gagal karena ada beberapa jenis sifilis

(34)

kebal terhadap azithromycin dan sekitar 10% kasus terjadi pada tahun 2004. Perawatan lain kurang efektif karena pasien diharuskan memakan pil beberapa kali per hari.

Seks aman dilakukan dengan menggunakan kondom bila melakukan aktivitas seks, tapi tidak dapat menjamin sebagai penjaga yang pasti. Usul terbaik adalah pencegahan aktivitas seksual dengan orang yang memiliki penyakit kelamin menular dan dengan orang berstatus penyakit negatif.

Penyakit ini pada laki-laki lebih terlihat gejalanya dibandingkan dengan perempuan.Biasanya kaum perempuan tidak mengetahui gejalanya.Gejala yang ada yaitu seperti ruam berwarna merah pada daerah kelamin,dan biasanya sangat gatal.Meski kaum perempuan tidak akan tauapakah dia menderita penyakit sifilis,sebaiknya menjaga diri agar tidak tertular penyakit ini dan menularkan penyakit ini pada orang lain.Dan bagi kaum lelaki sebaiknya juga menjaga diri sendiri agar tidak tertular atau menularkannya pada orang lain.Cara satu-satunya untuk mencegah hal ini terjadi adalah setia pada pasangannya dan juga rutin diperiksa oleh dokter agar tidak menjadi terlalu parah.

Kalau Anda menduga bahwa Anda menderita sifilis atau kalau Anda mempunyai pasangan yang mungkin menderitanya, Anda dan pasangan perlu mengunjungi dokter spesialis kulit dan kelamin. Kalau mereka mendiagnosa adanya sifilis, Anda akan diberikan antibiotik. Setiap orang yang menjadi partner seksual tanpa perlindungan juga harus segera diperiksa untuk mengetahui apakah mereka telah terinfeksi sifilis. Begitulah himbauan dokter menyangkut penyakit ini.

Stadium satu. Stadium ini ditandai oleh munculnya luka yang kemerahan dan basah di daerah vagina, poros usus atau mulut. Luka ini disebut dengan chancre, dan muncul di tempat spirochaeta masuk ke tubuh seseorang untuk pertama kalinya. Pembengkakan kelenjar getah bening juga ditemukan selama stadium ini. Setelah beberapa minggu, chancre

(35)

tersebut akan menghilang. Stadium ini merupakan stadium yang sangat menular.

Stadium dua. Kalau sifilis stadium satu tidak diobati, biasanya para penderita akan mengalami ruam, khususnya di telapak kaki dan tangan. Mereka juga dapat menemukan adanya luka-luka di bibir, mulut, tenggorokan, vagina dan dubur. Gejala-gejala yang mirip dengan flu, seperti demam dan pegal-pegal, mungkin juga dialami pada stadium ini. Stadium ini biasanya berlangsung selama satu sampai dua minggu.

Stadium tiga. Kalau sifilis stadium dua masih juga belum diobati, para penderitanya akan mengalami apa yang disebut dengan sifilis laten. Hal ini berarti bahwa semua gejala penyakit akan menghilang, namun penyakit tersebut sesungguhnya masih bersarang dalam tubuh, dan bakteri penyebabnya pun masih bergerak di seluruh tubuh. Sifilis laten ini dapat berlangsung hingga bertahun-tahun lamanya.

Stadium empat. Penyakit ini akhirnya dikenal sebagai sifilis tersier. Pada stadium ini, spirochaeta telah menyebar ke seluruh tubuh dan dapat merusak otak, jantung, batang otak dan tulang. (Harahap, 2000)

Pemeriksaan Penunjang

Untuk menegakkan diagnosis sifilis, diagnosis klinis harus dikonfirmasikan dengan pemeriksaan laboratorium berupa : (Hutapea,2009)

1. a. Pemeriksaan lapangan gelap (dark field)

Ream sifilis primer, dibersihkan dengan larutan NaCl fisiologis. Serum diperoleh dari bagian dasar/dalam lesi dengan cara menekan lesi sehingga serum akan keluar. Diperiksa dengan mikroskop lapangan gelap menggunakan minyak imersi.T. pall berbentuk ramping, gerakan lambat, dan angulasi. Hares hati-hati membedakannya dengan Treponema lain yang ada di daerah genitalia. Karena di dalam mulut banyak dijumpai Treponema komensal, maka bahan pemeriksaan dari rongga mulut tidak dapat digunakan.3

(36)

b. Mikroskop fluoresensi

Bahan apusan dari lesi dioleskan pada gelas objek, difiksasi dengan aseton, sediaan diberi antibodi spesifik yang dilabel fluorescein, kemudian diperiksa dengan mikroskop fluoresensi. Penelitian lain melaporkan bahwa pemeriksaan ini dapat memberi hasil nonspesifik dan kurang dapat dipercaya dibandingkan pemeriksaan lapangan gelap.

2. Penentuan antibodi di dalam serum.

Pada waktu terjadi infeksi Treponema, baik yang menyebabkan sifilis, frambusia, atau pinta, akan dihasilkan berbagai variasi antibodi. Beberapa tes yang dikenal sehari-hari yang mendeteksi antibodi nonspesifik, akan tetapi dapat menunjukkan reaksi dengan IgM dan juga IgG, ialah :

a.Tes yang menentukan antibodi nonspesifik.  Tes Wasserman

 Tes Kahn

 Tes VDRL (Venereal Diseases Research Laboratory) Cara pemerisaannya sebagai berikut:(Aprianti, 2003) Prinsip: terbentuknya flokulasi

Cara kerja:antigen yang digunakan adalah ektrak jantung sapi • Kualitatif

- Tandai slide vdrl lubang 1(test) dan lubang 2 ( kontrol) - Pada lubang 1masukkan 50ul serum dan 18 ul antigen

- Pada lubang 2masukkan NaCl fisiologis 50 ul dan 18 ul antigen

- Masukkan dalam rotator kec 180 rpm selama 5 menit - Lihat mikroskop perbesaran 100x

Hasil – jika berbentuk batang menyebar rata seluruh lapangan pandang

Hasil + jika terdapat flokulasi • Kuantitatif

(37)

- Masukkan 50 ul serum kelubang 1 dan encerkan kelubang lubang berikutnya - Lubang 1=1/2 x Lubang 2=1/4 x Lubang 3=1/8 x Lub1ng 4=1/16 x Lubang 5=1/32 x

Lubang 6=sebagai pembuangan yang digunakan untuk pengenceran kembali apabila pengenceran 1/32 x masih menyatakan hasil + (terjadi flokulasi)

- Masukkan 18 ul antigen kedalam masing masing lubang kecuali lubang 6.

- Masukkan dalam rotator dengan kec 180 selam 5 menit Lihat mikroskop perbesaran 100x

Jika hasil kualitatif – maka titer nya adalah 1:1

Jika haisl kuantitatif pada pengenceran 1/16 x tidak terjadi flokulasi maka titer tertinggi adalah 1/16.

Interpretasi a. Kualitatif

Hasil non reaktif : tidak ada infeksi, masih dalam masa inkubasi atau telah mendapat pengobatan yang efektif. Jika terjadi flokulasi :

 Gumpalan besar dan medium  reaktif  Gumpalan kecil  reaktif lemah b. Kuantitatif

Laporan hasil pengamatan dengan pengenceran tertinggi yang masih memberikan hasil reaktif  dalam bentuk titer ½, ¼, 1/8, 1/16, 1/32 dan seterusnya.

Hasil reaktif : sedang terinfeksi atau pernah terinfeksi sifilis atau positif semu.

 Tes RPR (Rapid Plasma Reagin)  Tes Automated reagin

b. Antibodi terhadap kelompok antigen yaitu tes RPCF (Reiter Protein Complement Fixation).

c. Yang menentukan antibodi spesifik yaitu:

(38)

 Tes FTA-ABS (Fluorescent Treponema Absorbed).

 Tes TPHA (Treponema Pallidum Haemagglutination Assay) Cara pemeriksaannya adalah sebagai berikut :

Sampel: serum, plasma , LCS. Reagen:

 TPHA diluent (tutup warna putih tabung kuning)

 Test cell (tutup warna merah, sel darah merah domba yang telah ditempeli ekstrak treponema pallidum yang berfiungsi sebagai antigen

 Control cell ( tutup warna putih , tabung warna hijau),tidak akan terjadi hemaglutinasi , karena tidak tejadi reaksi dengan Ab.

 Control positif (tutup warna merah kecil0  Control negatif( tutup warna biru kecil)

Pada saat inkubasi disuhu ruang hendaknya dihindari adanya getaran agar hemaglutinasinya tidak lepas.

Alat;

 Pipet 90, 10, 25 ul  Mikroplate v

 Reading miror / kaca pembaca  Solasi

Cara kerja:

1. Masukkan 90 ul TPHA diluent + 10 ul kontrol positif pada sumur pertama

2. Masukkan 25 ul TPHA diluent pada sumur ke2, 3, 4, 5 disamping sumur pertama

3. Homogenkan sumur pertama dengan pipet mikro 25 ul,

Ambil dari sumur pertama, 25 ul masukkan ke sumur 2, campur/ homogenkan, ambil 25 ul buang.

Ambil dari sumur pertama 25 ul masukkan ke sumur 3,homogenkan, ambil 25 ul masukkan ke sumur ke 4,

(39)

homogenkan, ambil 25 ul masukan kesumur ke 5, ambil 25 ul masukkan kesumur 6.

4. Tambahkan 75 ul control test pada sumur ke 2 5. Tambahkan 75 ul tets cell pada sumur ke 3, 4, 5. 6. Homogenkan keseluruhan dengan sedikit getaran. Interpretasi

Hasil reaktif : sedang terinfeksi, pernah infeksi reaksi positif semu. Hasil non reaktif : tidak pernah terinfeksi atau pada masa inkubasi (belum terbentuk antibodi)

 Tes Elisa (Enzyme linked immuno sorbent assay)

Sinar Rontgen dipakai untuk melihat kelainan khas pada tulang, yang dapat terjadi pada S II, S Ill, dan sifilis kongenital.Juga pada sifilis kardiovaskular, misalnya untuk melihat aneurisms aorta.

Pada neurosifilis, tes koloidal emas sudah tidak dipakai lagi karena tidak khas. Pemeriksaan jumlah set dan protein total pada likuor sere-brospinalis hanya menunjukkan adanya tanda inflamasi pada susunan saraf pusat dan tidak selalu berarti terdapat neurosifilis. Harga normal ialah 0-3 sel/mm3, jika limfosit melebihi 5/mm3 berarti ada peradangan. Harga normal protein total ialah /20-40 mg/100 mm3, jika melebihi 40 mg/mm3berarti terdapat peradangan (Natahusada, 2010)

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala-gejalanya. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemerikasan laboratorium dan pemeriksaan fisik.

Pada fase primer atau sekunder, diagnosis sifilis ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan mikroskopis terhadap cairan dari luka di kulit atau mulut. Bisa juga digunakan pemeriksaan antibodi pada contoh darah.

Untuk neurosifilis, dilakukan pungsi lumbal guna mendapatkan contoh cairan serebrospinal. Pada fase tersier, diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksan antibodi

(40)

Pada pengobatan jangan dilupakan agar mitra seksualnya juga diobati, dan selama belum sembuh penderita dilarang bersanggama.Pengo-batan dimulai sedini mungkin, makin dini hasilnya makin balk. Pada sifilis laten terapi bermaksud mencegah proses lebih lanjut. (Nathusada, 2010) Pengobatannya menggunakan penisilin dan antibiotik lain.

1. PENISILIN

Obat yang merupakan pilihan ialah penisilin.Obat tersebut dapat menembus placenta sehingga mencegah infeksi Pada janin dan dapat menyembuhkan janin yang terinfeksi; juga efektif untuk neurosifilis.

Kadar yang tinggi dalam serum tidak diperlukan, asalkan jangan kurang dari 0,03 unit/ml. Yang penting ialah kadar tersebut hares bertahan dalam serum selama sepuluh sampai empat betas hari untuk sifilis dini dan lanjut, dua puluh sate hari untuk neurosifilis dan sifilis kardiovaskular. Jika kadarnya kurang dari angka tersebut, setelah lebih dari dua puluh empat sampai tiga puluh jam, maka kuman dapat berkembang biak.

Menurut lama kerjanya, terdapat tiga macam penisilin:

a. Penisilin G prokain dalam akua dengan lama kerja dua puluh empat jam, jadi bersifat kerja singkat.

b. Penisilin G prokain dalam minyak dengan aluminium monostearat (PAM), lama kerja tujuh puluh dua jam, bersifat kerja sedang.

a. Penisilin G benzatin dengan dosis 2,4 juts unit akan bertahan dalam serum dua sampai tiga minggu, jadi bersifat kerja lama.

Ketiga obat tersebut diberikan intramuskular.Derivat penisilin per oral tidak dianjurkankarena absorpsi oleh saluran cerma kurang dibandingkan dengan suntikan.

Cara pemberian penisilin tersebut sesuai dengan lama kerja masing-masing; yang pertama diberikan setiap hari, yang kedua setiap tiga hari, dan yang ketiga biasanya setiap minggu.

Penisilin G benzatin karena bersifat kerja lama, make kadar obat dalam serum dapat bertahan lama dan lebih praktis, sebab penderita tidak perlu disuntik setiap hari seperti pada pemberian penisilin G prokain dalam akua. Obat ini mempunyai kekurangan, yakni tidak dianjurkan untuk neurosifilis karens sukar masuk ke dalam darah di otak, sehingga yang dianjurkan ialah penisilin G prokain dalam akua. Karena penisilin G benzatin memberi rasa nyeri pada tempat suntikan, ada penyelidik yang tidak menganjurkan pemberiannya kepada bayi. Demikian pule PAM

(41)

memberi rasa nyeri pada tempat suntikan dan dapat mengakibatkan abses jika suntikan kurang dalam; obat ini kini jarang digunakan.

Pada sifilis kardiovaskular terapi yang dianjurkan ialah dengan penisilin G benzatin 9,6 juta unit, diberikan 3 kali 2,4 juta unit, dengan interval seminggu. Untuk neurosifilis terapi yang dianjurkan ialah penisilin G prokain dalam akua 18-24 juta unit sehari, diberikan 3-4 juta unit, i.v. setiap 4 jam selama 10-14 hari.

Pada sifilis kongenital, terapi anjurannya ialah penisilin G prokain dalam akua 100.000150.000 satuan/kg B.B. per hari, yang diberikan 50.000 unit/kg B.B., i.m., setiap hari selama 10 hari.

Reaksi Jarish-Herxheimer

Pada terapi sifilis dengan penisilin dapat terjadi reaksi Jarish-Herxheimer.Sebab yang pasti tentang reaksi ini belum diketahui, mungkin disebabkan oleh hipersensitivitas akibat toksin yang dikeluarkan oleh banyak T. paffidum yang coati.Dijumpai sebanyak 50-80% pada sifilis dini.Pada sifilis dini dapat terjadi setelah enam sampai due betas jam pada suntikan penisilin yang pertama.

Gejalanya dapat bersifat umum dan lokal.Gejala umum biasanya hanya ringan berupa sedikit demam. Selain itu dapat pula berat: demam yang tinggi, nyeri kepala, artralgia, malese, berkeringat, dan kemerahan pada muka.8 Gejala lokal yakni afek primer menjadi bengkak karena edema dan infiltrasi sel, dapat agak nyeri. Reaksi biasanya akan menghilang setelah sepuluh sampai dua betas jam tanpa merugikan penderita pada S I.

Pada sifilis lanjut dapat membahayakan jiwa penderita, misalnya: edema glotis pada penderita dengan gums di laring, penyempitan arteriakoronaria pada muaranya karena edema dan infiltrasi, dan trombosis serebral. Selain itu juga dapat terjadi ruptur aneurisms atau ruptur dinding aorta yang telah menipis yang disebabkan oleh terbentuknya jaringan fibrotik yang berlebihan akibat penyembuhan yang cepat.

Pengobatan reaksi Jarish-Herxheimer ialah dengan kortikosteroid, contohnya dengan prednison 20-40 mg sehari.Obat tersebut juga dapat digunakan sebagai pencegahan, misalnya pada sifilis lanjut, terutama pada gangguan aorta dan diberikan dua sampai tiga hari sebelum pemberian penisilin serta dilanjutkan dua sampai tiga hari kemudian.

(42)

2. ANTIBIOTIK LAIN

Selain penisilin, masih ada beberapa antibiotik yang dapat digunakan sebagai pengobatan sifilis, meskipun tidak seefektif penisilin.

Bagi yang alergi terhadap penisilin diberikan tetrasiklin 4 x 500 mg/hari, atau aeritromisin 4 x 500 mg/hri, atau doksisiklin 2 x 100 mg/hari. Lama pengobatan 15 hari bagi S I dan S II dan 30 hari bagi stadium laten. Eritromisin bagi yang hamil, efektivitasnya meragukan.Doksisiklin absorbsinya lebih baik daripada tetrasiklin, yakni 90-100%, sedangkan tetrasiklin hanya 60-80%.

Pada penelitian terbaru didapatkan bahwa doksisiklin atau eritromisin yang diberikan sebagai terapi sifilis primer selama 14 hari, menunjukkan perbaikan(Wong, 2008)

Obat yang lain ialah golongan sefalosporin, misalnya sefaleksin 4 x 500 mg sehari selama 15 hari. Juga seftriakson setiap hari 2 gr, dosis tunggal i.m. atau i.v. selama 15 hari.

Azitromisin juga dapat digunakan untuk S I dan S 11, terutama dinegara yang sedang berkembang untuk menggantikan penisilin. (Reidner, 2005)

Dosisnya 500 mg sehari sebagai dosis tunggal. Lama pengobatan 10 hari. Menurut laporan Verdun dkk. Penyembuhannya mencapai 84,4%. tunggal. Lama pengobatan 10 hari. Menurut laporan Verdun dkk., penyembuhannya mencapai 84,4%.

Pencegahan

 Hindari berhubungan sex dengan lebih dari satu pasangan

 Menjalani screening test bagi anda dan pasangan anda

 Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang

 Gunakan kondom ketika berhubungan sexual

Sifilis tidak bisa dicegah dengan membersihkan daerah genital setelah berhubungan sexual(Wong, 2008).

7.4 Mahasiswa mengetahui tentang pernyakit Herpes Genital Definisi

Merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh virus herpes simplex (Suyono, 2001).

(43)

Etiologi

Herpes simplex virus: HSV-1 dan HSV-2

 Labialis : HSV-1 (80-90%), HSV-2 (10-20%)  Urogenitalis : HSV-2 (70-90%), HSV-1 (10-30%) (Suyono, 2001).

Penularan

 Kontak kulit-kulit atau kulit-mukosa

 Herpes genitalis risiko penularan meningkat pada kelompok seks multipartner.

(Prawirohardjo, 2009).

Faktor predisposisi rekurensi

 Herpes labialis : iritasi kulit/mukosa (radiasi UV), perubahan hormon (menstruasi), demam, flu, perubahan status imun.

 Herpes genitalis : lebih sering kambuh dibanding herpes labialis. (Prawirohardjo, 2009).

Patogenesis

Infeksi primer HSV terjadi melalui kontak erat dengan penderita yang sedang mengalami replikasi virus di kulit, mukosa, atau terpapar sekret penderita yang mengandung virus. Infeksi primer terjadi melalui inokulasi pada permukaan mukosa atau kulit yang rusak. Setelah terpapar, virus akan bereplikasi di sel epitel, menyebabkan lisis sel, pembentukan vesikel, dan peradangan lokal. Setelah infeksi primer pada tempat inokulasi, HSV akan naik melalui serabut saraf sensoris perifer menuju ke ganglion akar saraf sensorik atau otonom, dimana selanjutnya akan mengalami latensi. Latensi dapat terjadi setelah infeksi primer yang

(44)

simptomatis maupun tidak simptomatis. Secara periodik, HSV dapat mengalami reaktivasi dari kondisi latensi dimana virus akan bergerak melalui saraf sensoris menuju ke kulit dan mukosa dan menyebabkan rekurensi penyakit (Suyono, 2001).

Gambar 9. Infeksi HSV: A. Infeksi primer, B. Fase laten. C. Fase rekuren (Suyono, 2001).

Manifestasi klinis

 Masa inkubasi infeksi primer 2-20 hari (rata-rata 6 hari).

 Sebagian besar infeksi primer asimptomatik; namun bila simptomatik, keluhannya dapat berupa demam, pusing, myalgiaterutama dirasakan pada hari ke-3/-4 setelah muncul lesi, dan keluhan membaik 3-4 hari kemudian. Dapat diikuti pembesaran kelenjar getah bening regional.

 Rekurensi dapat diawali dengan gejala prodromal berupa kesemutan, gatal, rasa terbakar yang diikuti dengan munculnya lesi kulit 24 jam kemudian.

a) Herpes labialis tidak diikuti dengan gejala sistemik.

b) Herpes genitalis dapat diikuti gejala sistemik (tergantung pada lokasinya) berupa nyeri, gatal, disuria, radikulitis lumbal,

(45)

duh tubuh uretra atau vagina, limfadenopati inguinal, limfadenopati pelvis.

(Suyono, 2001)

Gambar 10. Herpes labial (kiri), dan herpes genital feminina (kanan) (Prawirohardjo, 2009).

(46)

Terapi untuk herpes labialis

(47)

Terapi untuk herpes genital

Tabel 12. Terapi untuk herpes genital (Prawirohardjo, 2009).

7.5 Mahasiswa mengetahui tentang penyakit Kondiloma Akuminata Definisi

Kondiloma akuminata ( KA ) adalah infeksi menular seksual yang disebabkan oleh virus pailoma humanus (VPH) tipe tertentu dengan kelainan berupa fibroepitelioma pada kulit dan mukosa( Mansjoer, 2014 ).

(48)

Etiologi

Virus papilloma humanus ( VPH ) , virus DNA yang tergolong dalam family papova . Tipe yang ditemui adalah tipe 6 , 11 , 16 , 18 , 30 , 31 , 33 , 35 , 39 , 41 , 42 , 44 , 51 , 52 , dan 56 . Tipe 6 dan 11 sering dijumpai pada kondiloma akuminatum dan neoplasia intraepithelial serviks ringan . Tipe 16 dan 18 mempunyai potensi keganasan yang tinggi dan sering dijumpai pada kanker serviks . Sampai saat ini sudah dapat diidentifikasikan 80 tipe virus papilloma humanus( Mansjoer, 2014 ).

VPH adalah virus DNA yang merupakan virus epiteliotropik ( menginfeksi epitel ) dan tergolong dalam family Papovaviridae. Dengan menguunakan cara hibridasi DNA , sampai saat ini telah dapat diisolasi lebih dari 100 tipe VPH , namun yang dapat menimbulkan KA sekitar 23 tipe . VPH belum dapat dibiak dalam kultur sel ( in vitro ) sehingga penelitian terhadap virus tersebut sangat . Telah diketahui bahwa ada hubungan antara infeksi VPH tipe tertentu pada genital dengan terjadinya karsinoma serviks . Berdasarkan kemungkinan terjadinya displasisa epitel dan kegansan maka VPH dibagi menjadi VPH yang mempunyai risiko rendah ( Low Risk ) dan VPH yang mempunyai resiko tinggi ( High Risk ) VPH tipe 6 dan tipe 11 paling sering ditemukan pada KA yang eksofitik dan pada dysplasia derajat rendah ( Low Risk ) . Sedangkan VPH tipe 16 dan 18 sering ditemukan pada dysplasia derajat tinggi dan keganasan ( High Risk )( Mansjoer, 2014 ).

Patofisiologi

Sel dari lapisan basal epidermis diinvasi oleh HPV.Hal ini berpenetrasi melalui kulit dan menyebabkan mikro abrasi mukosa. Fase virus laten dimulai dengan tidak ada tanda atau gejala dan dapat berakhir hingga 1 bulan dan 1 tahun. Mengikut fase laten, produksi DNA virus, kapsid dan partikel dimulai. Sel Host menjadi terinfeksi dan timbul atipikal morfologis koilocytosis dari kondiloma akuminata.Area yang paling sering

(49)

terkena adalah penis, vulva, vagina, serviks, perineum dan perineal.Lesi mukosa yang tidak biasa adalah di oropharynx, larynx, dan trachea telah dilaporkan. HPV-6 bahkan telah dilaporkan di area lain yang tidak biasa (ekstremitas). Lesi simultan multiple juga sering dan melibatkan keadaan subklinis sebagaimana anatomi yang berdifferensiasi dengan baik. Infeksi subklinis telah ditegakkan dalam membawa keadaan infeksi dan potensi akan onkogenik.VPH masuk kedalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit sehingga kondiloma akuminatum sering timbul pada daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual( Sudoyo,2014 ).

Kondiloma akuminata dibagi dalam 3 bentuk: 1. Bentuk akuminata

Terutama dijumpai pada daerah lipatan dan lembab.Terlihat vegetasi bertangkai dengan permukaan berjonjot seperti jari.Beberapa kutil dapat bersatu membentuk lesi yang lebih besar sehingga tampak seperti kembang kol.Lesi yang besar ini sering dijumpai pada wanita yang mengalami fluor albus dan pada wanita hamil, atau pada keadaan imunitas terganggu.

2. Bentuk papul

Lesi bentuk papul biasanya didapati di daerah dengan keratinisasi sempurna, seperti batang penis, vulva bagian lateral, daerah perianal dan perineum.Kelainan berupa papul dengan permukaan yang halus dan licin, multipel dan tersebar secara diskret.

3. Bentuk datar

Secara klinis, lesi bentuk ini terlihat sebagai makula atau bahkan sama sekali tidak tampak dengan mata telanjang, dan baru terlihat setelah dilakukan tes asam asetat. Dalam hal ini penggunaan kolposkopi sangat menolong (Mansjoer, 2014).

(50)

Gejala Klinis

a. Terdapat papul atau tumor (benjolan), dapat soliter (tunggal) atau multipel (banyak) dengan permukaan yang verukous atau mirip jengger ayam.

b. Terkadang penderita mengeluh nyeri. Jika timbul infeksi sekunder berwarna kemerahan akan berubah menjadi keabu-abuan dan berbau tidak sedap.

c. Umumnya di daerah lipatan yang lembab pada genitalia eksterna. Pada pria, misalnya di: perineum dan sekitar anus, sulkus koronarius, gland penis, muara uretra eksterna, prepusium, korpus dan pangkal penis. Pada wanita, misalnya di: vulva dan sekitarnya, introitus vagina, labia mayor, labia minor, terkadang pada porsio uteri.

Masa inkubasi berlangsung antara 1 – 8 bulan ( rata - rata 2 - 3 bulan ) Terutama mengenai daerah lipatan yang lembab , misalnya daerah genetalis eksterna . Pada pria dapat mengenai perineum , sekitar anus , sulkus koronarius , glans penis , muara uretra eksterna , korpus dan pangkal penis . Pada wanita didaerah vulva dan sekitarnya , introitus vagina , kadang - kadang pada portio uteri . Adanya fluor albus dan kehamilan dapat mempercepat pertumbuhan penyakit .

Jika telah lama agak kehitaman , permukaannya berjonjot ( papilomatosa ) dan jika besar dapat dilakukan percobaan sondase . Bila timbul infeksi sekunder warna akan menjadi keabu - abuan dan berbau tidak enak . Giant Condyloma pernah dilaporkan menimbulkan keganasan sehingga harus dilakukan biopsy .

Masa inkubasi KA berlangsung antara 1 8 bulan ( rata – rata 2 -3 bulan ). VPH masuk ke dalam tubuh melalui mikrolesi pada kulit ,

(51)

sehingga KA sering timbul di daerah yang mudah mengalami trauma pada saat hubungan seksual .

Pada pria tempat sering terkena adalah glans penis , sulkus koronarius , frenulum dan batang penis , sedang pada wanita adalah fourchette posterior, vestibulum( Sudoyo, 2014) .

Penegakan Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Dapat dilakukan pemeriksaan penunjang dengan:

1. Tes asam asetat

Bubuhkan asam asetat 5% dengan lidi kapas pada lesi yang dicurigai. Dalam beberapa menit lesi akan berubah warna menjadi putih (acetowhite). Perubahan warna pada lesi di daerah perianal perlu waktu lebih lama (sekitar 15 menit).

2. kolposkopi

Merupakan tindakan yang rutin dilakukan di bagian kebidanan.Pemeriksaan ini terutama berguna untuk melihat lesi kondiloma akuminata subklinis, dan kadang-kadang dilakukan bersama dengan tes asam asetat.

3. Histopatologi

Pada kondiloma akuminata yang eksofitik, pemeriksaan dengan mikroskop cahaya akan memperlihatkan gambaran papilomatosis, akantosis, rete ridges yang memanjang dan menebal, parakeratosis dan vakuolisasi pada sitoplasma( Sudoyo, 2014).

(52)

Diagnosis Banding

1. Kondiloma lata atau kondiloma latum (pada sifilis). 2. Moluskum kontagiosum.

3. Veruka vulgaris.

4. Karsinoma sel skuamos 5. Rhabdomyolysis Penatalaksanaan

Dapat dilakukan dengan kemoterapi , bedah listrik , bedah beku , bedah scalpel , laser CO2 , interferon , dan imunoterapi . Pemilihan cara pengobatan bergantung pada besar , lokalisasi , jenis dan jumlah lesi serta keterampilan dokter yang melakukan pengobatan .

Secara kemoterapi , dapat diberikan :

a. Tingtur Podifilin 15 - 25 % . Setelah melindungi kulit di sekitarnya dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi , oleskan tingtur pada lesi dan biarkan selama 4 - 6 jam kemudian cuci . Jika belum sembuh , dapat diulangi setelah 3 hari . Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena dapat bersifat toksik dengan gejala mual , muntah , nyeri , abdomen , gangguan nafas , dll . Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil . b. Asam triklorasetat 50 % dioleskan seminggu sekali , hati - hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam . Dapat diberikan pada wanita yang hamil .

c. 5-fluorourasil 1 - 5 % dalam krim , terutama untuk lesi pada meatus uretra . Diberikan setiap hari sampai lesi hilang , sebaiknya tidak misksi selama 2 jam setelah pengobatan .

Ada beberapa cara pengobatan KA , yaitu kemoterapi , tindakan bedah dan imunutropi . Pemilihan cara pengobatan yang dipakai tergantung pada

(53)

besar , lokalisasi , jenis dan jumlah lesi , serta keterampilan dokter yang melakukan pengobatan .

a. Kemoterapi

1. Tinkutra podofilin 10 % - 25 % . Setelah melindungi kulit di sekitarnya dengan vaselin atau pasta agar tidak terjadi iritasi , oleskan tingtur pada lesi dan biarkan selama 4 - 6 jam kemudian cuci . Jika belum sembuh , dapat diulangi setelah 3 hari . Setiap kali pemberian jangan melebihi 0,3 cc karena dapat bersifat toksik dengan gejala mual , muntah , nyeri , abdomen , gangguan nafas , dll . Obat ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil . 2.Podofilotoksin ( podofiloks ) bahan ini merupakan zat aktif yang terdapat di dalam podofilin . Setelah pemakaian podofiloks , dalam beberapa hari akan terjadi destruksi pada jaringan KA. Reaksi iritasi pada pemakaian podofiloks lebih jarang terjadi dibandingkan dengan podofilin dan reaksi sistemik belum pernah dilaporkan . Obat ini dapat dioleskan sendiri oleh penderita sebanyak dua kali sehari selama tiga hari berturut - turut .

3. Asam triklorasetat 50 % dioleskan seminggu sekali , hati - hati karena dapat menimbulkan ulkus yang dalam . Dapat diberikan pada wanita yang hamil .

4. 5-fluorourasil 1 - 5 % dalam krim , terutama untuk lesi pada meatus uretra . Diberikan setiap hari sampai lesi hilang , sebaiknya tidak misksi selama 2 jam setelah pengobatan .

b. Tindakan bedah 1.Bedah scalpel 2.Bedah litrik

3.Bedah beku ( N2 cair N2O cair ) 4.Bedah laser ( CO2 )

(54)

c.Interferon

Pemberiannya dalam bentuk suntikan ( intramuscular atau intralesi ) atau bentuk krim , dan dapat diberikan bersama pengobatan yang lain . Secara klinis terbukti bahwa interferon alfa , beta , dan gama bermanfaat dalam pengobatan infeksi VPH . Dosis interferon alfa yang diberikan adalah 4 - 6 kali IU intramuscular , 3 kali seminggu selama 6 minggu . Interferon beta diberikan dengan dosis 2 kali 10 mega IU intramuscular selama 10 hari berturut - turut .

d.Immunoterapi

Pada penderita dengan lesi yang luas dan resisten terhadapn pengobatan dapat diberikan pengobatan bersama immunodulator .Salah satu obat yang saat ini sering dipakai adalah Imiquimod. Imiquimod dalam bentuk krem , dioleskan 3 x seminggu , paling lama 16 minggu . Dicuci setelah 6 – 8 jam pemakaian .

1. Tutul (olesi sedikit) dengan tinctura podofilin 20-25% (ini tidak boleh diberikan pada wanita hamil, karena dapat terjadi kematian fetus/janin). 2. Pada wanita hamil, tutul dengan asam triklorasetat (TCA) 80-90%. Atau digunakan larutan dengan konsentrasi 50%, dioleskan setiap minggu. 3. Salep 5-fluorurasil 1-5% diberikan setiap hari sampai lesi hilang. 4. Bedah listrik (elektrokauterisasi).

5. Bedah beku dengan nitrogen cair. 6. Bedah skalpel.

7. Laser karbondioksida.

8. Interferon (suntikan i.m. atau intralesi) atau topikal (krim).

a. Interferon alfa diberikan dengan dosis 4-6 mU i.m. 3 x seminggu selama 6 minggu atau

(55)

dengan dosis 1-5 mU i.m. selama 6 minggu.

b. Interferon beta diberikan dengan dosis 2x10 g unit i.m. selama 10 hari berturut-turut.

9. Pada pria yang tidak dikhitan (disunat) dapat dilakukan eksisi dan sirkumsisi (khitan).

( Sudoyo, 2014 ) Prognosis

Penyakit ini dapat disembuhkan total, namun kadang – kadang dapat kambuh setelah pengobatan karena adanya infeksi ulang atau timbulnya penyakit yang masih laten. Mengingat virus ini juga meningkatkan resiko terjadinya penyakit kanker serviks [kanker mulut rahim], maka jika memang seseorang sudah positif terkena kondiloma akuminata sebaiknya dilakukan test pap smear juga. Test ini juga dianjurkan bagi wanita paling tidak setiap 1 tahun setelah aktif secara seksual.

a. Mortalitas merupakan hal sekunder terhadap perubahan maligna menjadi karsinoma pada pria dan wanita.

b. Infeksi HPV tampak untuk menjadi lebih sering dan memburuk pada pasien dengan variasi tipe defisiensi imun. Angka rekurensi, ukuran, ketidaknyamanan dan risiko dari perkembangan onkologis merupakan yang tertinggi di antara pasien ini.Infeksi sekunder adalah hal yang tidak biasa.

c. Kesakitan laten menjadi lebih aktif selama kehamilan. Vulva kondiloma akuminata dapat berkaitan dengan parturitas.Trauma kemudian dapat muncul, menghasilkan krusta atau eritema.Perdarahan telah dilaporkan pada lesi yang besar yang dapat timbul selama kehamilan.

c. Pada pria, perdarahan telah dilaporkan sesuai datarnya meatus uretra penis, biasanya dikaitkan dengan HPV-16. Akhirnya, obstruksi uretra akut pada wanita juga dapat timbul.

Figur

Memperbarui...