• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH BAHASA INDONESIA MERANCANG RUMAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "MAKALAH BAHASA INDONESIA MERANCANG RUMAH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH BAHASA INDONESIA

MERANCANG RUMAH URBAN INDONESIA DENGAN

MENERAPKAN ARSITEKTUR BERKELANJUTAN

GUNA MENGURANGI PENCEMARAN LINGKUNGAN

Oleh:

Nerissa Kumala Tandiono

NRP : 22411055

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR

FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN

UNIVERSITAS KRISTEN PETRA

SURABAYA

(2)

Abstrak

Dewasa kini, Isu pencemaran lingkungan yang berdampak menjadi isu global warming sudah menjadi bahan pembicaraan yang umum. Isu pencemaran lingkungan ini mendorong para ahli dalam bidangnya salah satunya arsitektur mencari solusinya.

Salah satunya adalah dengan memiliki pengetahuan akan wawasan lingkungan pada arsitektur. Sadar, dan menerapkan wawasan lingkungan pada desain sebagaimana kita kenal dengan arsitektur berkelanjutan. Tentu saja untuk memulai arsitektur berkelanjutan, harus ditumbuhkan dari perancangan hal yang paling kecil dahulu, seperti rumah. Keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri untuk membangun dengan desain rumah urban yang efektif namun tetap berkelanjutan.

(3)

DAFTAR ISI

(4)

2.5 Konsep Efisiensi Penggunaan Material ...

4

3.

ANALISA ...

... 5

3.1 Studi Kasus Rancangan Rumah Urban Indonesia ...

5

4. KESIMPULAN DAN

SARAN ... 8

4.1

KESIMPULAN ...

.. 8

4.2

SARAN ...

... 8

DAFTAR

(5)

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Dewasa kini, Isu pencemaran lingkungan yang berdampak menjadi isu global warming sudah menjadi bahan pembicaraan yang umum. Keadaan iklim dunia yang semakin buruk dengan diperkuat oleh mencairnya es di kutub semakin membuat resah. Peningkatan suhu rata-rata atmosfer, laut , dan daratan bumi yang disebabkan oleh beberapa faktor penyebab. Penyebab utama disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah melalui efek rumah kaca.Tentu saja efek rumah kaca ini merupakan salah satu pencemaran lingkungan yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Hal ini tentu merubah tatanan lingkungan oleh kegiatan manusia/ proses alam, sehingga terjadi penurunan kualitas lingkungan. Akibatnya lingkungan tidak lagi dapat berfungsi sesuai peruntukannya, dan

global warming merupakan bukti nyatanya. Isu pencemaran lingkungan ini mendorong para ahli dalam bidangnya salah satunya arsitektur mencari solusinya.

(6)

Oleh karena itu, perlu adanya penyelesaian manusia khususnya pada bidang arsitektur agar terjadi kehidupan keberlanjutan. Salah satunya adalah dengan memiliki pengetahuan akan wawasan lingkungan pada arsitektur. Sadar, dan menerapkan wawasan lingkungan pada desain sebagaimana kita kenal dengan arsitektur berkelanjutan. Tentu saja untuk memulai arsitektur berkelanjutan, harus ditumbuhkan dari perancangan hal yang paling kecil dahulu, seperti rumah. Apabila rancangan suatu rumah telah memenuhi arsitektur berkelanjutan, maka akan berlaku pada rumah yang lain. Hal ini bila diterapkan terus menerus, diharapkan arsitektur berkelanjutan juga dapat ‘menular’ secara progresif menjadi suatu kawasan perumahan yang berkelanjutan.

Saat ini, pertumbuhan perumahan meningkat pesat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk. Hal ini menjadi masalah di setiap kota besar di Indonesia yang memiliki keterbatasan lahan, sehingga luas lahan untuk tinggal semakin lama semakin menyempit. Keterbatasan lahan menjadi tantangan tersendiri untuk membangun dengan desain rumah urban yang efektif namun tetap berkelanjutan. Oleh karena itu tulisan ini akan membahas lebih dalam dengan kasus tentang merancang rumah urban di Indonesia dengan menerapkan arsitektur berkelanjutan.

2 LANDASAN TEORI

2.1 Konsep Arsitektur Berkelanjutan

Steel (1997) mendefinisikan arsitektur berkelanjutan /

(7)

berkelanjutan. Pihak manusia seharusnya memberikan dampak yang baik bagi lingkungan sekitar mengingat hubungan manusia dengan lingkungan saling timbal balik dalam gambar 2.1.1. Adanya upaya sadar dan berencana menggunakan dan mengelola sumber daya lingkungan yang ada secara bijaksana dalam pembangunan. Upaya tersebut diharapkan dapat mewujudkan kehidupan berkelanjutan, dan hal ini merupakan inti dari konsep arsitektur berkelanjutan.

gambar 2.1.1. Skema hubungan manusia dengan lingkungan

Sumber: Frick, Heinz (1988, p.13)

2.2 Rumah Urban & Konsep Arsitektur Berkelanjutan Rumah merupakan kebutuhan dasar dari umat manusia selain sandang dan pangan. Sedangkan rumah urban sendiri merupakan istilah rumah-rumah di perkotaan dimana memiliki lahan relatif sempit mengingat keterbatasan lahan huni. (Frick, Widmer, 2006). Jadi cara untuk merancang suatu rumah urban dengan arsitektur berkelanjutan yaitu dengan menerapkan konsep-konsep arsitektur yang menunjang.Konsep-konsep arsitektur antara lain Beberapa konsep yang menunjang arsitektur berkelanjutan yang dapat diterapkan di perumahan, antara lain: efisiensi penggunaan energi, efisiensi penggunaan lahan, dan efisiensi penggunaan material.

(8)

Konsep efisiensi penggunaan energi merupakan konsep yang meminimalisasi penggunaan energi tanpa membatasi atau merubah fungsi bangunan, kenyamanan maupun produktivitas dari penghuni. Hal ini dapat diterapkan pada berbagai aspek pada suatu perancangan bangunan.

 Menggunakan sumber cahaya matahari secara maksimal untuk penerangan saat siang hari.

 Memanfaatkan penghawaan alami menggantikan pemakaian penghawaan buatan , AC.

 Mengolah air hujan secara inovatif untuk keperluan domestik.

 Memperhatikan orientasi bangunan sesuai dengan iklim tempat tersebut seperti pada gambar 3.3.1.

Gambar 2.3.1. Pengaruh iklim terhadap bangunan Sumber: Frick, Mulyani (2006, p.40)

2.4 Konsep Efsiensi Penggunaan Lahan

(9)

2.5 Konsep Efsiensi Penggunaan Material

Memanfaatkan material sisa untuk digunakan dalam pembangunan sehingga tidak membuang material. Menggunakan material yang masih banyak berlimpah di lingkungan sekitar. Tidak menggunakan material yang tidak dapat diperbaharui oleh lingkungan. Misalnya penggunaan kayu yang terlalu banyak sehingga banyak terjadi penggundulan hutan. Oleh karena itu perlu adanya pengetahuan baru akan material lain yang dapat dipakai. Salah satunya dengan memanfaatkan material bambu yang banyak terdapat di kawasan Indonesia

3 ANALISA

3.1 Studi Kasus Rancangan Rumah Urban Indonesia

Rumah Tepa Selira, rumah urban yang bertenggang rasa dengan lingkungan sekitar. Rancangan rumah yang menerapkan pendekatan arsitektur yang berkelanjutan. Rumah dihuni oleh satu keluarga, yang terdiri dari bapak, ibu, dan dua anak.

Oleh : Nerissa Kumala Tandiono / 22411055

Lokasi : di dekat jalan Keputih Timur, Surabaya, Indonesia

(10)

Gambar 3.1.1. View bagian depan rumah urban ‘Tepa Selira’ Dari segi efisiensi penggunaan lahan, bisa terlihat pada gambar 4.1.2, terdapat beberapa titik dari bangunan disisakan sebagai lahan tumbuh hijau. Terdapat halaman hijau di bagian depan, tengah, dan belakang yang cukup besar sehingga memberi ruang hidup pada ekosistem yang telah ada. Selain itu pada lantai paling atas, terdapat

roof garden sebagai inovasi dari efisiensi penggunaan lahan. Pada halaman belakang, terdapat kolam Waste Water Garden dimana berfungsi untuk mengolah limbah domestik (grey water). Penggunaan

(11)

Gambar 3.1.2. Potongan rumah urban ‘Tepa Selira’

Pada gambar 3.1.3, terlihat rumah memakai material dinding sederhana seperti beton tanpa finishing, dengan permainan bambu vertikal sebagai fasad. Hal ini disesuaikan dengan konsep efisiensi material, dimana memakai materi yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Beton fabrikasi dari pabrik sendiri merupakan usaha memakai teknologi material buatan yang ada agar menghindari pemakaian material alami.Material bambu yang dipakai juga merupakan jenis bambu yang terdapat di sekitar lingkungan bangunan.

Gambar 3.1.3. Perspektif rumah urban ‘Tepa Selira’

(12)

Gambar 4.1.4. Interior ruangan dalam rumah

4 KESIMPULAN DAN SARAN 4.1 Kesimpulan

(13)

manusia dengan kelangsungan hidup lingkungan alami sekitar. Mengarahkan kesadaran akan lingkungan dan sumber daya alam ke arah yang keberlanjutan merupakan tujuan dari arsitektur berkelanjutan. Pendekatan arsitektur berkelanjutan ini dapat diterapkan ke hal dasar dari bidang arsitektur, yakni perancangan rumah khususnya di perkotaan (rumah urban). Hal ini diharapkan ketika perancangan rumah urban menerapkan arsitektur berkelanjutan, akan menularkan konsep ke skala yang lebih besar.

4.2 Saran

Dalam pembuatan makalah ini, penulis sadar bahwa penulisan ini masih jauh dari sempurna. Mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata. Kritik dan saran yang membangun dibutuhkan agar dapat menjadi motivasi untuk masa depan yang lebih baik.Sekian dan terimakasih

Daftar Pustaka

Akmal, Imelda. (2007). Sustainable construction, rumah ide, edisi spesial hasil kerjasama dengan Holcim Indonesia.Jakarta:

(14)

Frick, Heinz. (1988). Arsitektur dan lingkungan. Yogyakarta: Kanisius Frick,Heinz, Widmer, Petra. (2006). Membangun, membentuk,

menghuni; pengantar arsitektur. Yogyakarta:Kanisius

Frick,Heinz, Mulyani, Tri. H. (2006). Seri eko-arsitektur 2; arsitektur ekologis. Yogyakarta:Kanisius

Hindarto, Probo. (2007). Inspirasi rumah sehat di perkotaan. Yogyakarta: Andi Ofset.

Gambar

gambar 2.1.1. Skema hubungan manusia dengan lingkungan
Gambar 2.3.1. Pengaruh iklim terhadap bangunan
Gambar 3.1.1. View bagian depan rumah urban ‘Tepa Selira’
Gambar 3.1.2. Potongan rumah urban ‘Tepa Selira’
+2

Referensi

Dokumen terkait

Dari pandangan tersebut dapat kita ketahui bahwa pernikahan sesama jenis tidak sesuai dengan konsep pernikahan dalam Islam, karena pernikahan sesama jenis tidak akan membangun

Definisi diatas tidak hanya menetapkan suatu arti bagi suatu kata tetapi memberikan penjelasan suatu cara untuk mengerti fenomena fisik yang panas..  Definisi Persuasif, yaitu

a. Bagaimana merencanakan dan merancang rumah sakit dengan fasilitas standarisasi Kelas B Rumah sakit pendidikan dengan menerapkan konsep Green Architecture. Bagaimana

 Merancang sebuah rumah sakit di Kecamatan Beringin sebagai sarana akomodasi pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan penekanan..

Jadi pengertian Desain Interior Rumah Retret Katholik di Kemuning dengan Pendekatan Ecodesign dalam Konsep Kristiani adalah rancangan suatu bentuk ruang dalam

Oleh sebab itu, pada tahun 1900, menurut C.A Mees (1956:30), Van Ophuijsen, seorang ahli bahasa dari Belanda mendapat perintah untuk merancang suatu ejaan yang

Hasil yang dicapai adalah konsep perencanaan pembangunan rumah bahasa di Jakarta Selatan harus memerhatikan pemanfaatan pencahayaan alami dengan menerapkan Adaptive Facade demi

1.3 PERMASALAHAN ARSITEKTUR Bagaimana mendesain suatu bangunan Rumah Sakit Jiwa yang bisa mengurangi stigma negatif dari masyarakat dengan menggunakan konsep kontemporer dari bagian