MAKALAH MATA KULIAH EKONOMI PERTANIAN (Sistem
Pertanian Tradisional, Sistem Pertanian Modern, Perbedaan
Tingkat Produktifitas, Latar Belakang Perdagangan Komoditas
Pertanian, Komoditas Pertanian Negara Berkembang,
Komoditas Pertanian Negara Maju, Tariff dan Kuota, Serta
Keseimbangan Perdagangan Internasional)
MAKALAH
MATA KULIAH EKONOMI PERTANIAN
Sistem Pertanian Tradisional, Sistem Pertanian Modern, Perbedaan Tingkat Produktifitas, Latar Belakang Perdagangan Komoditas Pertanian,
Komoditas Pertanian Negara Berkembang, Komoditas Pertanian Negara Maju, Tariff dan Kuota, Serta Keseimbangan Perdagangan Internasional
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Sebagai negara agraris, sebagian besar penduduk Indonesia menggantungkan hidup pada sektor pertanian, Indonesia memprioritaskan sektor pertanian sebagai sektor utama dalam pembangunan. Pembangunan sektor ini bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui peningkatan produksi dan pendapatan dalam usaha tani. Peningkatan produksi pertanian diharapkan sejalan dengan peningkatan pendapatan petani yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pembangunan nasional, sektor pertanian mempunyai kontribusi bagi PDB nasional tahun 2012 sebesar 11,42 %. Capaian ini meningkat bila dibandingkan dengan kontribusi sektor pertanian pada tahun 2011 yaitu sebesar 10,96 %. Produksi padi pada tahun 2012 mencapai target yang ditetapkan yaitu sebesar 68.956.000 ton. (Kementerian Pertanian, 2013).
Secara umum sistem pertanian yang ada terdiri atas sistem pertanian tradisional, sistem pertanian modern atau intensif dan sistem pertanian berkelanjutan. Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan input yang ada. Salah satu contoh dari sistem pertanian ini adalah sistem ladang berpindah. Sistem ini tidak sesuai lagi dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat akibat bertambahnya penduduk.
ini diawali oleh Ford dan Rockefeller Foundation, yang mengembangkan gandum di Meksiko pada tahun 1950 dan padi di Filipina pada tahun 1960. Revolusi hijau menekankan pada tanaman serealia yaitu padi, jagung, gandum, dan lain-lain.
Adanya revolusi hijau telah merubah kondisi pertanian yang ada di Indonesia. Perubahan yang nyata adalah bergesernya praktik budidaya tanaman dari praktik budidaya secara tradisional menjadi praktik budidaya yang modern yang dicirikan dengan tingginya pemakaian input dan intensifnya eksploitasi lahan. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari
penanaman varietas unggul yang responsif terhadap pemupukan dan resisten terhadap penggunaan pestisida dan herbisida. Berubahnya sistem pertanian ini ternyata diikuti oleh berubahnya kondisi lahan pertanian kita yang makin hari makin menjadi kritis sebagai dampak negatif dari penggunaan pupuk anorganik, pestisida, dan tindakan agronomi yang intensif dalam jangka panjang (Departemen Pertanian, 2000).
Dampak negatif dari sistem pertanian modern dalam ekosistem pertanian antara lain terjadinya degradasi lahan, residu pestisida dan resistensi hama penyakit, berkurangnya keanekaragaman hayati, serta gangguan kesehatan petani akibat pengunaan pestisida dan bahan-bahan lain yang mencemari lingkungan.
Adanya dampak negatif dari sistem pertanian modern menuntut adanya suatu sistem pertanian yang dapat bertahan hingga generasi berikutnya dan tidak merusak alam. Dalam dalam dua dekade terakhir telah mulai diupayakan metode alternatif dalam melakukan praktik pertanian yang dinilai berwawasan lingkungan dan berkelanjutan (environtmentally sound and sustainable agriculture). Salah satu caranya adalah menggunakan konsep pertanian
berkelanjutan (Departemen Pertanian, 2010). Menurut Agenda Riset Nasional 2010 – 2014 bidang ketahanan pangan, sesuai dengan prioritas pembangunan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II, maka pembangunan bidang ketahanan pangan diarahkan untuk meningkatkan
ketahanan pangan dan melanjutkan revitalisasi pertanian dalam rangka mewujudkan kemandirian pangan, peningkatan daya saing produk pertanian, peningkatan pendapatan petani, serta kelestarian lingkungan dan sumberdaya alam. Pada periode 2010-2014 ditargetkan peningkatan pertumbuhan PDB sektor pertanian sebesar 3,7% per tahun dan Indeks Nilai Tukar Petani sebesar 115-120 pada tahun 2014 (Keputusan Menteri Riset dan Teknologi, 2010).
Untuk meningkatkan produksi usahatani padi dengan tetap mempertahankan kelestarian lingkungan, diperlukan inovasi teknologi berupa sistem pertanian berkelanjutan khususnya dalam budidaya padi sawah. Keberhasilan penerapan inovasi teknologi kepada petani tidak hanya bergantung pada penyuluh pertanian lapangan (PPL) tetapi juga ber antung kepada petani sebagai penerima atau pelaksana dari inovasi teknolgi tersebut. Begitu pula dalam penerapan sistem pertanian berkelanjutan pada budidaya padi sawah, diduga tidak akan terlepas dari karakteristik sosial ekonomi petani yang meliputi pengalaman bertani, pendidikan formal, pendidikan non formal, pendapatan, kekosmopolitan dan status kepemilikan lahan.
Pertanian adalah salah satu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ada anggapan bahwa asal mula pertanian di dunia dimulai dari asiatenggara. Awal kegiatan pertanian terjadi ketika manusia mulai mengambil paneranan dalam proses kegiatan tanaman dan hewan serta pengaturannya untuk memenuhi kebutuhan. Tingkat kemajuan pertanian mulai dari pengumpulan dan pemburu, pertanian primitive, pertanian tradisional, dan pertanian modern (Admin UPI, 2012).
Sektor pertanian sebagai penunjang utama kehidupan masyarakat Indonesia memerlukan pertumbuhan ekonomi yang kokoh dan pesat. Sektor ini juga menjadi salah satu komponen utama dalam program dan strategi pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Pertanian Indonesia di masa lampau telah mencapai hasil yang baik dan memberikan kontribusi penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia, termasuk menciptakan lapangan pekerjaan dan pengurangan kemiskinan secara drastis sesuai dengan triple track tujuan pembangunan yang tertuang dalam Millennium Development Goals (MDGs). Hal ini dicapai dengan memusatkan perhatian pada bahan-bahan pokok seperti beras, jagung, gula, dan kacang kedelai melalui intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian..
Sejak dulu, kelompok masyarakat tradisional di seluruh dunia dan juga di Indonesia telah mempunyai suatu bentuk pengetahuan lokal/tradisional tentang pengelolaan sumber daya alam. Pengetahuan yang biasa disebut Pengetahuan Ekologi Tradisional (Traditional Ecological Knowledge) ini didapat dari akumulasi hasil pengamatan pada kurun waktu yang lama dan diwariskan secara turun-temurun (Berkes et al., 2000).
Setiap kelompok masyarakat tradisional biasanya mempunyai aturan tata guna lahan tersendiri, namun umumnya sama dalam beberapa prinsip dasar. Sebagai kelompok masyarakat yang telah hidup lama berdampingan dengan alam sekitarnya, mereka menyadari pentingnya kelestarian alam. Perlindungan ini ternyata mempunyai arti penting bagi ekosistem sekitarnya, karena hutan lindung ternyata berfungsi sebagai penjaga kekayaan sumber genetik (genepool), sebagai habitat dari hewan liar, melindungi tanah dari erosi, untuk menjaga mikroklimat, pelindung dari angin dan cahaya, produksi sumber humus, penyedia pestisida alami, penyedia makanan, dan lain sebagainya (Iskandar, 1999).
Demikian juga halnya pada kelompok masyarakat yang mempunyai sistem pertanian ladang berpindah
(swidden cultivation). Biarpun kelompok ini menjalankan sistem pertaniannya dengan membuka lahan hutan, namun
bukan berarti mereka sembarang menebang dan membabat hutan. Sistem pertanian ladang atau perladangan telah lama dikenal masyarakat luas dan telah lama pula dipraktekkan di berbagai negara tropis di Asia, Amerika dan Afrika, termasuk di negara Indonesia (Conclin, 1957; Grigg, 1980; Okigbo, 1984: dalam Iskandar, 1992).
Hutan sekunder tersebut dapat dibuka kembali sebagai ladang, dan dengan demikian daur pemanfaatan lahan untuk pertanian dimulai kembali. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bila masa bera berlangsung cukup lama, struktur dan komposisi hutan sekunder tersebut akan mendekati struktur dan komposisi hutan primer. Namun ada juga data yang menunjukkan bahwa jumlah total biomasa dari hutan sekunder membutuhkan waktu beratus-ratus tahun untuk mencapai tingkat yang setara dengan hutan primer setelah ketersediaan kadar nutrien berkurang secara signifikan dan siklus nutrisi serta mekanisme konservasi diganggu oleh siklus berulang dari sistem perladangan berpindah (Juo dan Manu, 1996). Jadi dapat dikatakan bahwa sistem perladangan ini ‘sejalan’ dengan konsep suksesi dimana terjadi proses perubahan komunitas secara bertahap pada lahan bekas ladang menuju suatu sistem yang stabil. Sistem yang stabil di sini dapat dianalogikan dengan hutan primer atau hutan tua.
Selain itu, Pertanian modern (revolusi hijau) telah membawa kemajuan pesat bagi pembangunan pertanian khususnya dan kemajuan masyarakat pada umumnya. Indonesia pada umumnya, tidak terlepas dari rantai kemajuan yang telah dicapai sebagai akibat pelaksanaan sistem pertanian modern. Program pembangunan pertanian selama lebih 40 tahun (Bimas, Intensifikasi, INSUS) berhasil meningkatkan produksi, pendapatan dan kesejateraan petani, serta martabat bangsa.
Di satu sisi, revolusi hijau diakui bermanfaat bagi kehidupan manusia namun di sisi lain terungkap bahwa sistem pertanian modern telah membawa konsekuensi-konsekuensi negatif terhadap lingkungan. Penggunaan pupuk buatan, pestisida serta praktek-praktek pertanian modern lainnya yang dilakukan tidak bijak, ternyata memiliki andil besar terhadap kerusakan lingkungan. Kerusakan yang terjadi antara lain dapat menyebabkan keracunan, penyakit dan kematian pada tanamn, hewan dan manusia, menyebabkan kerusakan pada tanah, mengurangi persediaan sumber daya alam (energi), mencemari lingkungan, selanjutnya bisa menimbulkan malapetaka. Sehubungan dengan itu cara yang baik untuk mengatasi dampak negatif pertanian modern adalah melalui sistem pertanian organik.
Sistem pertanian organik berorientasi pada pemanfaatan sumber daya lokal, tanpa aplikasi pupuk buatan dan pestisida kimiawi (kecuali bahan yang diperkenankan), sebaliknya menekankan pada pemberian pupuk organik (alam), dan pestisida hayati, serta cara-cara budidaya lainnya yang tetap berpijak pada peningkatan produksi dan pendapatan, serta berwawasan lingkungan dan berkelanjutan. Cara pertanian organik prospektif contohnya dikembangkan di Sulawesi Selatan, karena sistem budi daya seperti ini telah lama dikenal dan dilakukan oleh masyarakat tani. Sampai kini pun masih dijumpai praktek budidaya organik di beberapa daerah.
Produktivitas pertanian tradisional biasanya masih sangat rendah, karena teknologi dalam kegiatan pertanian masih sangat tradisional keberadaan pengangguran terselubung yang berarti kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian akan menurunkan lagi produksi rata-rata produktivitas pekerja (Todaro, 2000). Sedangkan meningkatnya produktifitas petani modern adalah Sistem usaha pertanian modern yang lebih dikenal sebagai agribisnis merupakan suatu alternatif dalam perubahan usaha pertanian yang tradisional kearah pertanian yang bukan hanya mengelola lahan dengan memanfaatkan teknologi budidaya untuk mendapatkan produksi yang maksimal, akan tetapi sudah menyertakan pula masukan teknologi untuk mendapatkan produk olahan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang seoptimal mungkin.
pertanian yang kemudian melakukan transaksi atas kehendak sukarela dari masing-masing pihak. Dari kegiatan perdagangan komoditas pertanian tersebut ditetapkanlah tarif dan kuota ekspor impor. Sehingga hasil dari perdagangan internasional ini dapat meningkatkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi suatu negara.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian pertanian? 2. Apakah pengertian sistem pertanian?
3. Apakah pengertian sistem pertanian tradisional? 4. Apakah pengertian sistem pertanian modern? 5. Apakah perbedaan tingkat produktifitas?
6. Apakah latar belakang perdagangan komoditas pertanian? 7. Apakah komoditas pertanian Negara berkembang?
8. Apakah komoditas pertanian Negara maju? 9. Apakah pengertian tarif dan kuota?
10. Bagaimanakah keseimbangan perdagangan internasional?
1.3 Tujuan Penulisan
Berdasarkan rumusan masalah diatas maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:
1. Pengertian pertanian
2. Pengertian sistem pertanian
3. Pengertian sistem pertanian tradisional 4. Pengertian sistem pertanian modern 5. Perbedaan tingkat produktifitas
6. Latar belakang perdagangan komoditas pertanian 7. Komoditas pertanian Negara berkembang
8. Komoditas pertanian Negara maju 9. Pengertian tarif dan kuota
10. Keseimbangan perdagangan internasional
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Hakekat Sistem pertanian tradisional
A. Pengertian Pertanian
Menurut Sanganatan (1989) bahwa Istilah umum “pertanian” berarti kegiatan menanami tanah dengan tanaman yang nantinya menghasilkan suatu yang dapat dipanen, dan kegiatan pertanian merupakan campur tangan manusia terhadap tetumbuhan asli dan daur hidupnya. Dalam pertanian modern campur tangan ini semakin jauh dalam bentuk masukan bahan kimia pertanian, termasuk: pupuk kimia, pestisida dan bahan pembenah tanah lainnya. Bahan-bahan tersebut mempunyai peranan yang cukup besar dalam meningkatkan produksi tanaman. Akan tetapi dua istilah “pertanian alami” dan “pertanian organik” kita kaji lebih mendalam, maka pengertiannya akan berbeda.
Istilah yang pertama “pertanian alami” mengisyaratkan kEkuatan alam mampu mengatur pertumbuhan tanaman, sedang campur tangan manusia tidak diperlukan sama sekali. Istilah yang kedua “pertanian organik” campur tangan manusia lebih insentif untuk memanfaatkan lahan dan berusaha meningkatkan hasil berdasarkan prinsip daur-ulang yang dilaksanakan sesuai dengan kondisi setempat (Sutanto, 1997).
Pertanian adalah salah satu jenis kegiatan produksi yang berlandaskan proses pertumbuhan dari tumbuh-tumbuhan dan hewan. Ada anggapan bahwa asal mula pertanian di dunia dimulai dari asia tenggara. Awal kegiatan pertanian terjadi ketika manusia mulai mengambil paneranan dalam proses kegiatan tanaman dan hewan serta pengaturannya untuk memenuhi kebutuhan. Tingkat kemajuan pertanian mulai dari pengumpulan da pemburu, pertanian primitive, pertanian tradisional, dan pertanian modern (Admin UPI, 2012).
Sedangkan menurut Banoewidjojo (1983) pertanian dalam arti luas yaitu semua kegiatan usaha dalam reproduksi fauna dan flora tersebut, yang dibedakan ke dalam 5 sektor, masing-masing pertanian rakyat, perkebunan, peternakan, perikanan, dan kehutanan. Dalam arti sempit yaitu khusus pertanian rakyat.
Pertanian merupakan bagian agroekosistem yang tak terpisahkan dengan subsistem kesehatan dan lingkungan alam, manusia dan budaya saling mengait dalam suatu proses produksi untuk kelangsungan hidup bersama (Karwan A. Salikin).
B. Pengertian Sistem Pertanian (Agrosistem)
Sistem Pertanian (Agrosistem) adalah sekumpulan komponen yang disatukan oleh suatu bentuk interaksi dan saling ketergantungan pada suatu batas tertentu, untuk mencapai tujuan pertanian bagi pihak-pihak yang terlibat. Sistem pertanian (farming system) adalah pengaturan usaha tani yang stabil, unik dan layak yang dikelola menurut praktek yang dijabarkan sesuai lingkungan fisik, biologis dan sosio ekonomi menurut tujuan, preferensi dan sumber daya rumah tangga.
ketidakmerataan antar daerah dan perorangan yang telah memperburuk situasi sebagian besar petani lahan sempit yang tergilas oleh revolusi hijau (Reijntjes, Haverkort, dan Bayer, 1999).
Pengertian pertanian meliputi sekelompok sistem yang terdiri dari 16 level. Klasifikasi sistem
1. Sistem Alam (Natural System)
Terdiri dari bahan fisik dan biologis, serta hubungan di antaranya dalam dunia yang
membentuk kehidupan dasar.
Fenomena dalam agrosistem : batuan membentuk tanah, tanah; tanam bergantung pada
tanah; binatang bergantung pada tanaman, dst.
Untuk memahami sistem alam -> menggandakan sistem alam -> menghasilkan sistem
buatan
2. Sistem Sosial (Social System)
Terdiri dari entitas yang membentuk populasi, yang berupa institusi atau mekanisme
sosial
Ada hubungan antara individu, kelompok, komunitas secara langsung atau melalui media
institusi, dan bukan hubungan antar benda mati.
Fokus perhatian pada sistem sosial manusia dalam hubungannya dengan agrosistem. Istilah sistem sosial digunakan lebih luas, termasuk institusi dan hubungan-hubungan
ekonomi, sosial, religius dan politik. 3. Sistem Buatan (Artificial System)
Tak muncul secara alami. lSistem buatan adalah kreasi manusia untuk tujuan melayani
manusia.
Seluruh sistem buatan, termasuk sistem pertanian disusun oleh salah satu atau kedua
elemen :
1. Elemen yang diambil dari salah satu atau kedua-duanya berasal dari sistem order dua level lebih tinggi, yaitu pada level divisi (sistem alam dan sistem sosial)
C. Klasifikasi sistem menurut jenis-jenisnya
Sistem eksplisit dan sistem implisit
Sistem eksplisit :
Elemen sistem teridentifikasi dan terdefinisi
Hubungan antar elemen bersifat formal kuantitatif, berupa hubungan matematis
Pakar pertanian dan ekonomi yang membahas tentang pertanian biasanya berhubungan
dengan sistem eksplisit order level 1 – 10. Petani sendiri jarang memperhatikan sistem eksplisit, tetapi hanya sistem sederhana, atau bagian tertentu saja.
Sistem implisit :
Sistem hanya melihat elemen utama atau kritis
Hubungan yang ada hanya hubungan utama atau sangat relevan
Elemen dan hubungan tersebut tak dicatat secara formal, tak dianalisa dan tak dievaluasi. Petani pada umumnya berhubungan dengan sistem implisit. Pada petani tradisional untuk
order 1-10. Pada petani modern, bekerja lebih formal dan sistem eksplisit, seperti buku catatan usaha tani, anggaran tanaman.
Sistem manajemen pertanian muncul secara implisit
Sistem diskriptif dan sistem operasional Sistem diskripstif
Biasanya untuk memfasilitasi pemahaman suatu organisasi, struktur atau operasi suatu proses yang produktif.
1. Contoh (1) : penyusunan anggaran input output petani untuk memahami potensi tanaman baru. Berdasarkan hasil ini, petani mungkin akan menyusun rencana lebih detail (sistem operasional) tentang bagaimana mendapatkan pengelolaan terbaik.
2. Contoh (2) : menteri pertanian menyusun diagram alir sebuah komoditas mulai dari farm
hingga ke konsumen.
Sistem operasional
Sistem yang disusun oleh manajer atau analist sebagai dasar penyusunan rekomendasi
yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja sistem.
Purposeful or non-purposeful
Static or dynamic
Open or closed
Abstract or concrete
Deterministic or stochastic
D. Pengertian Sistem Pertanian Tradisional
Sistem pertanian tradisional adalah sistem pertanian yang masih bersifat ekstensif dan tidak memaksimalkan input yang ada. Sistem pertanian tradisional salah satu contohnya adalah sistem ladang berpindah. Sistem ladang berpindah telah tidak sejalan lagi dengan kebutuhan lahan yang semakin meningkat akibat bertambahnya penduduk. Sistem pertanian ini merupakan sistem yang dimulai sejak manusia memilih mulai menetap dan berladang pada sau lokasi saja. Pada sistem ini teknologi pertaniannya tergolong sangat rendah karena hanya menggunakan peralatan pertanian yang masih sederhana dan belum berkembang. Selain itu, pertanian tradisional ini masih sangat bersahabat dengan alam, arif dan mendukung ekosistem, hal ini karena petani masih membiarkan berbagai macam hewan tetap hidup sehingga ketersediaan rantai makanan untuk flora dan fauna yang hidup didalamnya terjaga. Maka dengan demikian pengendaian OPT nya masih tergolong arif.
Pertanian tradisional bersifat tak menentu. Keadaan ini bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa manusia seolah-olah hidup di atas tonggak. Pada daerah-daerah yang lahan pertaniannya sempitdan penanaman hanya tergantung pada curah hujan yang tak dapat dipastikan, produk rata-rata akan menjadi sangat rendah, dan dalam keadaan tahun-tahun yang buruk, para petani dan keluarganya akan mengalami bahaya kelaparan yang sangat mencekam. Dalam keadaan yang demikian, kekuatan motivasi utama dalam kehidupan para petani ini barangkali bukanlah meningkatkan penghasilan, tetapi berusaha untuk bisa mempertahankan kehidupan keluarganya.
Pada Pertanian tradisional biasanya lebih ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup para petani dan tidak untuk memenuhi kebutuhan ekonomi petani, sehingga hasil keuntungan petani dari hasil pertanian tradisional tidak tinggi, bahkan ada yang sama sekali tidak ada dalam hasil produksi pertanian.
Sebenarnya pertanian tradisional merupakan pertanian yang akrab lingkungan karena tidak memakai pestisida. Akan tetapi produksinya tidak mampu mengimbangi kebutuhan pangan penduduk yang jumlahnya terus bertambah. Untuk mengimbangi kebutuhan pangan tersbut, perlu diupayakan peningkatan produksi yang kemudian berkembang sistem pertanian konvensional (Pracaya, 2007).
Pada tahap ini hukum penurunan hasil (law of diminshing return) berlaku karena terlampau banyak tenaga kerja yang pindah bekerja di lahan pertanian yang sempit. Kegagalan panen karena hujan dan banjir, atau kurang suburnya tanah, tindakan pemerasan oleh oara rentenir merupakan hal yang sangat ditakuti para petani.
Sistem pertanian ladang berpindah sebagai salah satu bentuk pengetahuan ekologi tradisional telah lama dikenal masyarakat luas dan telah lama pula dipraktekkan di berbagai negara, termasuk di Indonesia. Baduy merupakan salah satu kelompok masyarakat tradisional di Indonesia yang menerapkan sistem tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat implikasi ekologis dari aturan-aturan adat suku Baduy yang terkait dengan sistem tata guna lahan dan sistem pertanian ladang berpindah terhadap kondisi ekosistem. Hal tersebut dilakukan dengan cara membandingkan struktur dan komposisi vegetasi serta kondisi faktor-faktor lingkungan dari beberapa tahapan suksesi komunitas sekunder (reuma) dengan komunitas hutan tua (leuweung kolot) di Kawasan Adat Baduy, Desa Kanekes, Banten. Dilakukan analisis vegetasi dengan metode kuadrat dan pengukuran faktor lingkungan pada 8 tapak reuma dan 1 tapak hutan tua (leuweung kolot). Parameter yang diukur dalam analisis vegetasi adalah kerapatan, kerimbunan dan frekuensi kemunculan tiap spesies. Sedangkan parameter yang diukur dalam pengukuran faktor lingkungan adalah faktor fisik (suhu dan kelembaban) dan kandungan nutrisi tanah (mineral, organik dan tekstur). Jumlah total spesies yang ditemukan adalah sebanyak 264 spesies yang terdiri dari 119 spesies pohon dalam 38 famili, 39 spesies perdu (termasuk liana) dalam 20 famili, dan 83 spesies herba (termasuk paku) dalam 43 famili. Hasil pengukuran parameter vegetasi memperlihatkan perbedaan yang cukup signifikan dari struktur dan komposisi vegetasi antara leuweung kolot dan seluruh tapak reuma.
Pertanian Tradisional berdasarkan fungsi dasar Ekonomi
Dalam pertanian tradisional biasanya menggunakan prinsip yang mana pertaniaan tradisional hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam hidupnya sekarang, misalnya pada masyarakat bercocok tanam tanaman padi yang mana hasil padi yang telah di produksi dan diolah menjadi beras kemudian di konsumsi oleh keluarganya, sehingga terus berjalan kelangsungan hidupnya.
Kemudian ciri dari pertanian tradisional yaitu masih berpaku dan berharap pada alam yang mana ketika masyakrakat menanam suatu tanaman dengan pertanain tradisional maka hasilnya akan tergantung pada proses alam.
Pada sistem pertanian terdapat beberapa evaluasi terhadap aspek ekonomi. Pertanian tradisional jika dilihat dari aspek ekonomi antara lain:
Penggunaan teknologi yang belum berkembang.
Dalam hal ini biasanya pada pertanian tradisional menggunakan alat atau teknologi yang masih rendah atau belum berkembang.Yang mana hal ini dapat memperlambat hasil yang di produksi dan akan membuang waktu dlaam proses bercocok tanam. Misalnya pada sistem tradisional masyarakat untuk membajak sawah masih menggunakan kerbau hal ini masih kurang efisiensi dalam pemanfaatan waktu dan tenaga.Akan tetapi dari sektor ekonominya lebih rendah dan minim pengularan untuk mengelolah lahan untuk menghasilkan produk.
Tenaga kerja yang masih banyak digunakan
dalam hal panen tanaman tebu yang mana digunakan tenaga kerja manusia dalam proses penebangan,kemudian contoh lain proses perontokan helai padi yang masih menggunakan tenaga manusia untuk melakukan walaupun saat ini mulai ada teknologi yang membantu merontokan helai padi. Hal ini mencerminkan bahwa pertanian tradisional masih tergantung dengan Sumber Tenaga Manusia yang ada,akan tetapi dari sektor ekonominya lebih murah.
Modal yang dipakai masih sedikit
Dalam hal ini modal dalam pengelolahan produksi pertanian masih sedikit karena kebutuhan yang dibuat tidak terlalu membutuhkan modal lebih .Biasanya juga hanya butuh modal untuk pembayaran tenaga kerja dan lain-lain yang rata-rata minim.
Hasil produksi yang masih kurang terjangkau
Dalam pertanian tradisional sering hasil yang di produksi hanya sebatas untuk di konsumsi keluarga maupun masyarakat golongan.Hal ini dikarenakan masih minimnya cara budidaya tanaman sehingga produk yang dihasilkan masih rendah.
Pertanian tradisional berdasarkan fungsi dasar Ekologi
Dalam pertanian tradisional untuk mengolah hasil produk pertanian masih tergantung dengan alam/ekologi sekitar. Dikarenakan dalam proses pertanian tradisional produknya hanya untuk memeunhi konsumsi petaninya,bukan untuk mencari keuntungan besar.
Adapun dampak positif yang terjadi dari pertanian tradisional yaitu: Pelestarian alam yang masih terjamin dan terus berkembang.
Yang mana pelestarian alam terus berjalan karena proses ini berjalan dan akan bisa memproduksi dengan rata-rata konstan untuk musim-musim kedepannya.
Tidak adanya kerusakan ataupun pencemaran yang terjadi
Proses pertanian tradisional terjadi tampa adaya perusakan ekosistem yang ada sekitar maupun tampa pencemaran yang bisa mengakibatkan penurunan hasil produktivitas pengolahan pertanian.
Pertanian tradisional berdasarkan fungsi dasar Sosial
Dalam pertanian tradisional terjadi hubungan yang erat antar sesama dikarenakan dalam proses pertanian tradisional menjunjung tinggi tolong menolong dan gotong royong, apalagi dengan sistem tradisional yang menyebakan antar petani salaing membutuhkan dan membantu untuk menghasilkan produktivitas pertanian yang telah di olah.
a. Kelebihan Dan Kekurangan Pertanian Tradisional Kelebihan pertanian tradisional yaitu :
1. Lebih ramah lingkungan
2. Dapat melestarikan budaya asli pedesaan yang umumnya sering berkaitan dengan ritual dalam pertanian
Kelemahan pertanian tradisional yaitu : 1. Membutuhkan tenaga kerja yang banyak 2. Sangat tergantung pada iklim.
3. Selalu berpindah-pindah tempat budidaya tanaman
2.2 Hakekat Sistem Pertanian Modern
Pertanian modern adalah pola pertanian dengan menggunakan alat-alat canggih dan dengan skala besar. Pertanian modern harus menggunakan peralatan modern. Aplikasi pertanian modern yang telah terlaksana seperti pertanian gandum, pertanian padi, pertanian anggur. Pertanian modern bertujuan untuk memutus ketergantungan petani terhadap input eksternal dan penguasa pasar yang mendominasi sumber daya agraria. Pertanian modern merupakan tahapan penting dalam menata ulang struktur agraria dan membangun sistem ekonomi pertanian yang sinergis antara produksi dan distribusi dalam kerangka pembaruan agraria.
Pelaksanaan pertanian modern bersumber dari tradisi pertanian keluarga yang menghargai, menjamin dan melindungi keberlanjutan alam untuk mewujudkan kembali budaya pertanian sebagai kehidupan. Oleh karena itu, SPI mengistilahkannya sebagai “Pertanian modern berbasis keluarga petani”, untuk membedakannya dengan konsep pertanian organik berhaluan agribisnis. Pertanian modern merupakan tulang punggung bagi terwujudnya kedaulatan pangan (Serikat Petani Indonesia, 2008).
Pertanian modern meliputi komponen-komponen fisik, biologi dan sosio ekonomi. Pertanian modern direpresentasikan dengan sistem pertanian yang melaksanakan pengurangan input bahan-bahan kimia, mengendalikan erosi tanah dan gulma, serta memelihara kesuburan tanah. Pertanian modern memiliki konsep dasar yaitu mempertahankan ekosistem alami lahan pertanian yang sehat, bebas dari bahan-bahan kimia yang meracuni lingkungan. Dalam pertanian modern terdapat komponen dasar agroekosistem baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, dimana komponen dasar agroekosistem tersebut memadukan antara produktivitas (productivity), stabilitas (Stability), Pemerataan (equlity).
Pertanian modern merupakan suatu ajakan moral untuk berbuat kebijakan pada lingkungan Sumber Daya Alam dalam usaha pertanian dengan mempertimbangkan 3 aspek, yaitu:
a. Kesadaran Lingkungan (Ecologically Sound), sistem budidaya pertanian tidak boleh menyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbangan lingkungan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismenya dikendalikan oleh hukum alam.
b. Bernilai ekonomis (Economic Valueable), sistem budidaya pertanian harus mengacu pada pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka pandek dan jangka panjang, serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi. Sumber daya alam terlanjutkan (tidak tereksploitasi).
c. Berwatak sosial atau kemasyarakatan (Socially Just), sistem pertanian harus selaras dengan norma-noma sosial dan budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh masyarakat setempat. (Lisa navita)
kebutuhan manusia. Hasil kemajuan teknologi melalui pertanian modern begitu spektakuler dan mengesankan, sehingga fenomena tersebut dipandang sebagai “Revolusi Hijau”.
Secara umum Revolusi Hijau merupakan peralihan dari metode pertanian tradisional menjadi teknologi pertanian modern. Peralihan tersebut terutama dalam penggunaan dalam fertilizer, irigasi dan perbaikan bibit secara genetical. Tujuannya yaitu untuk meningkatkan hasil pertanian di daerah yang penghasil pangannya masih rendah, terutama di negara-negara berkembang yang dimulai tahun 60-an. Pada akhirnya Revolusi Hijau menghantarkan Indonesia sebagai negara swasembada beras dan tidak lagi sebagai negara pengimpor beras terbesar dengan pangsa produksi yaitu sebesar 38,138 juta ton GKG (Gabah Kering Giling)/23,44 juta ton beras dengan tingkat produktivitas rata-rata 2,66 ton/ha.
Berdasarkan uraian Rigg (62-63) terdapat dua isu kritik terhadap pelaksanaan Revolusi Hijau, yaitu isu yang berkaitan dengan kerusakan ekologi dan isu yang berkaitan dengan adanya kesenjangan antara petani kaya dan petani miskin dalam penguasaan teknologi, termasuk hasil produksi dan pendapatannya. Berdasarkan pada pendapat Rigg tersebut, maka dampak negatif Revolusi Hijau dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu sebagai berikut :
Dampak Negatif Terhadap Kondisi Sosial-Ekonomi
Kehidupan petani menjadi terombang-ambing dan tidak berdaya karena fluktuasi-fluktuasi harga pasar, terutama harga hasil panen dan saprodi.
Dampak Terhadap Kondisi Ekologis
Penggunaan bibit unggul, pupuk obat-obatan kimia secara over dosis akan menyebabkan adanya dampak negatif terhadap kondisi ekologis atau terjadinya kerawanan ekologis.
Pada sistem pertanian modern juga cenderung mempraktekkan pola monokultur. Di satu sisi praktek tersebut meningkatkan produksi komoditas tertentu, akan tetapi di sisi komoditas alternatif yang sekitarnya dapat diproduksi menjadi nihil. Pertanian organik merupakan alternative kerena dianggap ekonomis, ekologis, dan lebih banyak memberikan nutrisi. Lebih ekonomis karena semakin mahalnya sarana dan prasarana pertanian konvensional (seperti harga pupuk kimia, bibit unggul dan lainnya). Pertanian organik lebih menjaga ekologis karena tidak terdapat limbah unsure-unsur kimia yamg mencemari lingkungan. Pertanian organic juga lebih banyak mengandung nutrisi, karena berdasarkan hasil penelitian, makanan yang bersal dari tanaman yang dikelola secara alami ternyata lebih banyak mengandung nutrisi
dirasakan langsung oleh masyarakat banyak adalah terpenuhinya kebutuhan pangan secara mandiri (swasembada) pada pertengahan 1980-an.
Kemudian, konsep selanjutnya mulai berkembang, yaitu konsep pemuliaan spesies pertanian yang mencari varietas-varietas yang memiliki keunggulan tersendiri dan lebih menguntungkan manusia. Konsep ini muncul sebagai bagian dari peningkatan kualitas setelah adanya peningkatan kuantitas dari konsep pertama. Didapatlah varietas-varietas dengan keunggulan tertentu, seperti enak rasanya, banyak hasil panennya dalam sekali masa tanam, menghasilkan daging atau susu yang banyak dan berkualitas, dan tahan terhadap hama dan penyakit.
Kedua konsep ini dapat dikatakan sebagai konsep dasar pertanian yang walau berubah seperti apapun kehidupan di muka bumi ini, kedua konsep akan terus dipakai.
Kini, konsep pertanian modern bukan hanya membahas usaha untuk pemenuhan kebutuhan pangan manusia dan pemuliaan spesies pertanian, tetapi sudah lebih ke arah bagaimana cara optimalisasi usahatani untuk menghasilkan bahan pangan yang bermutu, baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Di dalamnya juga termasuk usaha peningkatan teknologi pertanian agar pertanian berjalan lebih efektif dan efisien. Inilah perkembangan konsep pertanian selanjutnya. Konsep ini merupakan penggabungan dari dua konsep awal yang terkesan berjalan sendiri-sendiri Pada awalnya terlihat kurang adanya keterkaitan yang erat antara riset dan pengembangan teknologi pertanian dengan peningkatan hasil panen di lapangan. Seiring berjalannya waktu mulai ada harmonisasi keduanya dan hal ini sudah mulai terlihat di tahun 2008 ini. Triwulan II 2008 ini PDB sektor pertanian meningkat 5,1% dari Triwulan I. Hal ini seiring dengan tingginya nilai ekspor hasil pertanian periode Januari-Juni 2008 yang meningkat 50,13% dibanding periode yang sama tahun lalu. Inilah bukti dari optimalisasi usahatani di Indonesia berhasil. Tingginya nilai ekspor hasil pertanian indonesia juga menandakan bahwa kualitas produk pertanian kita sudah sesuai dengan standar kualitas internasional. Baiknya kualitas dan kuantitas produk pertanian Indonesia merupakan hasil dari konsep pertanian modern yang diterapkan di Indonesia.
Konsep optimalisasi usahatani ini dijabarkan oleh sebuah sistem terpadu yang mampu melingkupi semua sektor, termasuk industri, dan mengaitkannya menjadi sebuah rantai perekonomian Indonesia. Sistem ini merupakan penerapan dari konsep pertanian modern, yaitu agribisnis. Sistem agribisnis merupakan sistem yang terdapat keterkaitan erat antar subsistem agribisnis mulai dari hulu hingga jasa penunjang dan menopang satu sama lain. Sistem agribisnis merupakan konsep yang lebih konkrit dan komprehensif untuk pengembangan sektor pertanian ke arah yang lebih baik. Dengan adanya sistem ini, pengembangan komoditas-komoditas pertanian Indonesia pun menjadi lebih fokus karena setiap komoditas memiliki subsistem agribisnis yang berbeda-beda. Sistem ini juga mampu menggerakkan pemerintah untuk lebih giat mengeluarkan kebijakan yang pro terhadap pertanian rakyat dan dunia perbankan agar lebih ‘ramah’ terhadap petani dalam hal kredit karena keduanya masuk sebagai salah satu subsistem agribisnis, yaitu subsistem jasa penunjang yang bergerak bersama-sama subsistem yang lainnya.
pertanian sebagai penghasil sumber energi alternatif. Belakangan sudah dikembangkan biofuel di Brazil dengan memanfaatkan tanaman Jarak Pagar (Jatropha curcas) dan sudah mulai dikembangkan pula oleh negara lain.
Semua hal diatas mengenai konsep pertanian berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang tanpa batas. Padahal, sumber daya yang tersedia sudah pasti ada batasnya dan suatu saat akan habis. Untuk kepentingan yang sangat vital inilah sektor pertanian kini sudah terpolitisasi. Apalagi di Indonesia yang mayoritas warganya berlatar belakang pertanian atau berhubungan dengan sektor pertanian.
Pangan pada hakikatnya akan selalu dibutuhkan oleh manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, sektor pertanian merupakan bagian yang tak terpisahkan dari suatu negara. Tabiat manusia yang kebutuhannya tanpa batas harus dikendalikan semaksimal mungkin karena alam memiliki keterbatasan. Jika hal itu tidak sesegera mungkin dilakukan, bukan tidak mungkin manusia akan punah sebelum waktu yang ditentukan-Nya.
B. Menuju Pertanian Modern
Pertanian modern meliputi pertanian organik, hidroponik, holtikultura, dll. Metode ini akan dapat membawa keuntungan bagi para petani dengan banyak cara. Salah satu contoh pertanian modern adalah pertanian organik. Menghidupkan kembali kearifan lokal seperti ritual tanam, kalender musim/ pronoto mongso, kecocokan tanaman dengan karakteristik petani dan kondisi topografi/geografi setiap daerah seharusnya tidak dilupakan pertanian organik. Kearifan lokal dengan berbagai ragam pengetahuan manusia dihapus oleh pertanian modern, menjadi hanya satu pola bentuk pertanian. Bibit lokal, kearifan pengetahuan pertanian lokal dicap “primitif” oleh penggiat pertanian modern. Julukan primitif ini diikuti promosi besar-besaran jenis padi hibrida unggul, tahan terhadap segala jenis penyakit dan hama, produksi lebih tinggi, dan waktu panen yang cepat.
Praktik pertanian organik seharusnya membawa perubahan mendasar dalam kehidupan sosial yang dulu pernah ada dan hidup dikomunitas pedesaan. Dulu, hubungan antara pemilik tanah dan penggarap tidak hanya didasarkan pada ikatan ekonomis saja, tetapi mereka juga menjalin hubungan yang mengandung ikatan solidaritas sosial. Contohnya, bila salah seorang keluarga petani ditimpa musibah atau gagal panen, maka beban ini ditanggung oleh anggota komunitas yang lain, termasuk oleh pemilik tanah. Solidaritas masyarakat desa ini pulalah yang mencegah dan menyelamatkan keluarga-keluarga petani miskin dari bencana kelaparan yang disebabkan oleh kerawanan ekologis. Apabila pendekatan pertanian organik tidak holistik, maka pertanian organik tidak ubahnya seperti revolusi hijau.
C. Sistem Pertanian Modern
Pertanian modern dikhawatirkan memberikan dampak pencemaran sehingga membahayakan kelestarian lingkungan, hal ini dipandang sebagai suatu krisis pertanian modern.
Sebagai alternatif penanggulangan krisis pertanian modern adalah penerapan pertanian organik. Kegunaan budidaya organik menurut Sutanto (2002) adalah meniadakan atau membatasi kemungkinan dampak negatif yang ditimbulkan oleh budidaya kimiawi. Pemanfaatan pupuk organik mempunyai keunggulan nyatadibanding dengan pupuk kimia. Pupuk organik dengan sendirinyamerupakan keluaran setiap budidaya pertanian, sehingga merupakan sumber unsur hara makro dan mikro yang dapat dikatakan cuma-cuma. Pupuk organik berdaya amliorasi ganda dengan bermacam-macam proses yang saling mendukung, bekerja menyuburkan tanahdan sekaligus menkonservasikan dan menyehatkan ekosistem tanah serta menghindarkan kemungkinan terjadinya pencemaran lingkungan. Dengan demikian penerapan sistem pertanian organik pada gilirannya akan menciptakan pertanian yang berkelanjutan.
Dunia pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas. Keberhasilan diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan. Semakin banyak, semakin dianggap maju. Di Indonesia, penggunaan pupuk dan pestisida kimia merupakan bagian dari Revolusi Hijau, sebuah proyek ambisius Orde Baru untuk memacu hasil produksi pertanian dengan menggunakan teknologi modern.
Pertanian modern berdasarkan fungsi dasar Ekonomi
Penerapan pertanian organik, memberikan manfaat bagi masyarakat dalam upaya pemberdayaan ekonomi rakyat antara lain :
a. Produksi pertanian organik jauh dibawah hasil produksi sistem konvensional
Adanya perbedaan hasil ini mencerminkan adanya perbedaan teknik bercocok tanam dan pengalaman petani. Industri pangan organik berkembang sangat cepat sementara petani belum mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang cukup untuk menerapkan sistem pertanian organik yang benar. Perbedaan hasil juga seringkali bergantung pada jenis tanaman yang diusahakan. Beberapa hasil penelitian di kawasan Timur Canada menunjukkan bahwa hasil gandum organik adalah 75% lebih rendah dibanding dengan gandum konvensional. Pada kasus cuaca yang tidak normal, misalnya musim kering yang panjang, maka produktivitas pertanian organik biasanya lebih tinggi dibanding pertanian konvensional. Di samping itu, pertanian organik juga relative lebih tahan terhadap gangguan hama dan penyakit.
b. Minimnya akses transportasi pada lokasi-lokasi yang memenuhi syarat untuk budidaya
pertanian organik
Minimnya akses transportasi disebabkan karena daerah yang memenuhi syarat untuk budidaya pertanian organik adalah daerah yang minim pencemaran lingkungan. Hal ini menimbulkan beberapa implikasi lanjutan antara lain : (a). sulitnya mendistribusikan bahan input atau sarana produksi pertanian seperti pupuk dan pestisida organik, benih, dan peralatan kerja; (b). sulitnya membawa hasil/produk pertanian organik dari lahan ke pasar; (c). mahalnya biaya untuk transportasi dari dan ke lokasi budidaya pertanian organik.
c. Pertanian modern memerlukan biaya produksi relatif lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional
pestisida sintetis tidak diperlukan lagi. pengendalian gulma dilakukan secara mekanis. Pengolahan tanah untuk pengendalian gulma setelah tanaman tumbuh dilakukan dengan cara minimal. Banyak orang berpendapat bahwa pengendalian gulma akan meningkatkan frekuensi pengolahan tanah dan juga biaya. Dalam prakteknya, ternyata tidaklah demikian. Dengan perbaikan struktur tanah dan praktek pengelolaan yang baik, pertanian modern justru meminimalkan pengolahan tanah, atau lebih sedikit, dibanding pertanian konvensional.
d. Pendapatan petani modern sedikit lebih besar dibanding dengan petani konvensional Secara umum, biaya produksi lebih rendah dan pendapatan lebih besar (karena premium price). Industri organik berubah sangat cepat sehingga mempengaruhi ketidakstabilan harga. Sebagai contoh, adanya harga tinggi pada satu jenis komoditi telah mendorong banyak petani menanam komoditi yang sama secara bersamaan. Ini menyebabkan harga turun ketika musim panen. Banyak orang berpendapat bahwa sejalan dengan waktu premium price akan stabil. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani, sebagai contoh biaya pembelian pupuk organik lebih murah dari biaya pembelian pupuk kimia; Harga jual hasil pertanian organik seringkali lebih mahal. Contoh, harga beras organik saat ini Rp. 8.000 – 13.000,-/kg sedang beras biasa Rp. 5.500 – 7.000,-/kg; Petani dan peternak bisa mendapatkan tambahan pendapatan dari penjualan jerami dan kotoran ternaknya;Bagi peternak, biaya pembelian pakan ternak dari hasil fermentasi bahan organik lebih murah dari pakan ternak konvensional; Pengembangan pertanian organik berarti memacu daya saing produk agribisnis Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar internasional akan produk pertanian organik yang terus meningkat. Ini berarti akan mendatangkan devisa bagi pemerintah daerah yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan petani.
e. Menciptakan lapangan kerja baru dan keharmonisan kehidupan sosial di pedesaan
Pertanian modern akan merangsang hadirnya industri kompos rakyat yang berarti adanya lapangan kerja baru bagi masyarakat pedesaan. Disamping itu, penerapan pertanian modern juga akan merangsang adanya kerjasama kemitraan antara petani peternak-pekebun untuk menerapkan sistem pertanian terpadu. Dalam hubungan ini, peternak mendapatkan bahan makanan ternak dari limbah pertanian (jerami dan dedak, misalnya) dari petani, sedangkan petani mendapatkan kotoran hewan dari peternak sebagai bahan kompos untuk usaha pertanian organiknya. Hal ini secara langsung akan menciptakan keharmonisan kehidupan sosial di pedesaan.
Pertanian modern berdasarkan fungsi dasar Ekologi
Prinsip ekologi dalam penerapan pertanian organik dapat dipilahkan sebagai berikut: a. Memperbaiki kondisi tanah
Dengan menggunakan sistem pertanian modern, tanah yang rusak dapat diperbaiki sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman, terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah.
b. Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara
Jika menggunakan sistem pertanian modern ketersediaan dan keseimbangan daur hara dapat dioptimalisasi melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.
d. Membatasi terjadinya kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman.
e. Pemanfaatan sumber genetika (plasma nutfah) yang saling mendukung dan bersifat sinergisme dengan cara mngkombinasikan fungsi keragaman sistem pertanian terpadu.
f. Menghasilkan bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan
g. Kualitas SDA dipertahankan
h. Ramah lingkungan karena menggunakan pupuk kompos, ataupun pupuk kandang yang keseluruhannya berasal dari alam,
i. Meminimalkan semua bentuk polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian. j. Menjaga sifat fisik, kimia dan biologi tanah
Dalam pertanian modern diutamakan cara pengelolaan tanah yang meminimalkan erosi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah serta mendorong kuantitas dan diversitas biologi tanah. Dalam pertanian organik peningkatan kesuburan tanah dilakukan tanpa menggunakanpupuk kimia sintetis. Sebagai gantinya digunakan teknik-teknik seperti rotasi tanaman secara tepat, mixed cropping dan integrasi tanaman dengan ternak, meminimalkan pengolahan tanah yang mengganggu aktivitas biota tanah,menggunakan tanaman dalam strip dan tumpang sari.
k. Penghematan energi
Hasil studi menunjukkan bahwa sistem produksi organik hanya menggunakan 50–80% energi minyak untuk menghasilkan setiap unit pangan dibandingkan dengan sistem produksi pertanian konvensional. Namun demikian, ini tidak berlaku untuk semua sistem produksi sayuran dan buah-buahan.
l. Tidak mencemari air
Penjagaan kualitas air merupakan upaya yang sangat penting dalam sistem pertanian lestari (sustainable agriculture system). Kenyataan menunjukkan bahwa polusi air tanah (groundwater) dan air muka tanah (surface water) oleh nitrat dan fosfat menjadi hal yang umum terjadi di kawasan pertanian. Residu pupuk dan pestisida sintetis serta bakteri penyebab penyakit seperti Escherichia Coli juga seringkali terdeteksi di sistem perairan.
Pada areal pertanian organik, sumber air dijaga dengan menghindari praktek-praktek pertanian yang menyebabkan erosi tanah dan pencucian nutrisi, pencemaran air akibat penggunaan bahan kimia. Kotoran hewan yang akan digunakan untuk pupuk organik selalu dikelola dengan hati-hati dan dikomposkan sebelum digunakan. Di samping itu, penggunaan pupuk kimia dan pestisida sintetis juga dilarang dalam sistem pertanian organik.
m. Tidak mencemari udara
Pertanian modern terbukti mampu meminimalkan perubahan iklim global karena emisi gas rumah kaca (greenhouse gas emission) pada pertanian organik lebih rendah dibandingkan pertanian konvensional. Dalam pertanian organik tidak menggunakan pupuk nitrogen sintetis sehingga tidak ada emisi nitrogen oksida dari pupuk buatan tersebut. Penggunaan minyak bumi juga lebih rendah sehingga menurunkan emisi gas karbon dioksida. Lebih penting lagi, pertanian organik menyediakan penampungan (sink) untuk karbon dioksida melalui peningkatan kandungan bahan organik di tanah serta penutupan permukaan tanah dengan tanaman penutup tanah.
Praktek pertanian modern mengurangi jumlah limbah melalui daur ulang limbah menjadi pupuk organik. Kotoran ternak, jerami dan limbah pertanian lainnya yang selama ini dianggap limbah, justru menjadi bahan yang mempunyai nilai sebagai sumber nutrisi dan bahan organik bagi pertanian organik.
o. Menciptakan keanekaragaman hayati
Pertanian organik tidak hanya menghindari penggunaan pestisida sintetis, namun juga mampu menciptakan keanekaragaman hayati. Praktek seperti rotasi pertanaman, tumpang sari serta pengolahan tanah konservasi merupakan hal-hal yang mampu meningkatkan keanekaragaman hayati dengan menyediakan habitat yang sehat bagi banyak spesies mulai dari jamur mikroskopis hingga binatang besar. Pertanian organik tidak menggunakan organisme hasil rekayasa genetika(Genetic Enggineering Organism) atau organisme transgenik (Genetically Modified Organism)serta produknya karena alasan keamanan lingkungan, kesehatan dan sosial. Produk-produk seperti ini tidak dibutuhkan karena mungkin menyebabkan resiko yang tidak dapat diterima pada integritas spesies.
Pertanian modern berdasarkan fungsi dasar Sosial
a. Menghasilkan makanan yang cukup, aman dan bergizi sehingga meningkatkan kesehatan masyarakat.
Pada sistem pertanian berkelanjutan, tidak digunakan pupuk kimia secara berlebihan sehingga produk-produk yang dihasilkan layak konsumsi dan aman serta bergizi bagi masyarakat.
b. Kebutuhan dasar seluruh masyarakat terpenuhi
Dengan menerapkan sistem pertanian modern, hasil produksi yang di dapat stabil sehingga seluruh kebutuhan dasar masyarakat dapat terpenuhi.
c. Segala bentuk kehidupan dihargai
Manusia hidup di dunia tidak sendiri, melainkan berdampingan dengan hewaan dan tumbuhan. Dengan menerapkannya sistem pertanian modern, manusia, hewan, dan tumbuhan dan bekerjasama dengan baik dan semua berperan dalam menghadapi hidup. Sehingga semua bentuk kehidupan dapat dihargai.
d. Menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani.
Dengan digunakannya sistem pertanian modern dapat menciptakan lingkungan kerja yang aman dan sehat bagi petani. Hal ini dikarenakan petani akan terhindar dari paparan(exposure) polusi yang diakibatkan oleh digunakannya bahan kimia sintetik dalam produksi pertanian.
Pertanian Modern :
a. Lebih banyak dan lebih bagus hasil yang akan dihasilkan jika dibandingkan dengan tradisional b. Lebih efisien dan lebih simpel karena dibantu alat-alat mekanik
Ciri-ciri pertanian Modern (Napitupulu, 2000)
profrsional, mampu tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan, memiliki “brand name” (citra nama) berskala internasional dan mampu berproduksi di luar musim.
2. Pertanian mampu mengambil keputusankeputusan yang rasional dan inovatif, memiliki jiwa kewirausahaan yang tinggi, mempunyai kemampuan maanajemen modern dan profesional, mempunyai jaringan (networking) yang luas, mempunyai akses informasi ke pasar global dan mempunyai posisi tawar yang kuat.
3. Organisasinya mempunyai organisasi/asosiasi di antara petani yang kuat (solid) dan berjenjang dari tingkat desa ke tingkat nasional, bisa mengakses lembaga keuangan dan lembaga bisnis lainnya.
4. Aturan mainnya mencerminkan adanya kesadaran tingkat makro dan mikro secara operasional berpihak kepada petani khususnya dalam konteks perdagangan global, tidak tumpang tindih, konsisten dengan meminimumkan inkonsistensi di antara berbagai kebijakan yang ada.
D. Negara Pertanian Modern
Ada 4 daftar negara-negara yang pertaniaan modernnya harus dicontoh : 1. Jepang
Sebagai negara dengan budaya teknologi yang tinggi, Jepang menerapkan juga teknologi untuk bidang pertaniannya. Pertanian di negara ini sangat diatur secara detail, dikerjakan secara serius, mengutamakan teknologi namun tetap ramah lingkungan. Dengan keunikan pengelolaannya itu, Badan Pertaniannya PBB (FAO) menjadikan daerah pertaniaan di Jepang masuk dalam daftar Warisan Penting Sistem Pertaniaan Global (GIAHS). Dengan porsi lahan pertanian hanya 25 % saja, masyarakat Jepang benar-benar memanfaatkan lahan mereka secara efisien, mereka menanam di pekarangan, ruang bawah tanah, pinggiran rel kereta, di atas gedung, pokoknya setiap lahan yang dapat dimanfaatkan mereka optimalkan. Pasca Tsunami yang meluluh lantahkan sebagian lahan pertaniannya, jepang merencanakan sitem pertanian yang lebih modern. Sistem pertanian yang dijalankan oleh robot, seperti traktor tanpa awak, mesin tanam dan mesin panen. Untuk menghalau hama jepang akan menggunakan teknologi lampu LED.
2. Belanda
Menurut saya negara ini sangat mengagumkan dalam hal pengelolaan pertaniannya. Dengan luas wilayah yang relatif kecil bila dibandingkan Indonesia, pada tahun 2011 Belanda mampu menjadi negara peringkat 2 untuk negara pengekspor produk pertanian terbesar didunia dengan nilai ekspor mencapai 72,8 miliar Euro. Produk andalannya adalah benih dan bunga. Sektor pertanian merupakan pendorong utama ekonomi di Belanda dengan menyumbang 20% pendapatan nasionalnya.
Kunci dari majunya pertanian di Belanda adalah Riset. Kebijakan-kebijakan dan teknologi di adopsi dari riset-riset yang dilakukan para ahli. Salah satu pusat riset pertanian yang terkenal disana adalah universitas Wageningen.
3. Amerika Serikat
teknologi pertanian yang hampir separuhnya dilakukan oleh mesin. Sistem irigasi dalam pengelolaan air pun di buat lebih efisien.
4. Taiwan
Hasil ekspor produk pertanian di negara ini adalah USD 11,8 miliar atau 1,5% pendapatan nasionalnya. Seperti juga di negara dengan pertanian lainnya, separuh pengerjaan dilakukan dengan teknologi canggih. Contohnya dalam penanaman padi, mereka menerapkan sistem yang sangat berbeda dengan Indonesia. Bila di Indonesia bibit padi di semai pada satu hamparan sebelum dipindah pada lahan sawah, di Taiwan bibit padi dimasukan suatu wadah pot segi empat dengan ketinggian 2 cm, saat tanam menggunakan mesin dengan kecepatan 3 jam/ha. Cara ini dapat menghemat waktu, tenaga, biaya serta menghasilkan pertumbuhan padi lebih baik, karena pada saat tanam tidak perlu mencabut bibit dari persemaiaan yang akan membuat tanaman stress dan memerlukan waktu untuk adaptasi.
Dari kesemua negara yang saya sebutkan tadi, ada “benang merah” yang membuat mereka maju dan terdepan dalam teknologi pertaniaan, yaitu dukungan pemerintahnya melalui kebijakan-kebijakan yang berpihak terhadap petani, mengatur dan menata pengelolaan pertanian menjadi teratur, tertata dan mensejahterakan. Saya amat yakin, dalam hal sumberdaya manusia Indonesia pun tak kalah hebat, tinggal bagaimana menciptakan suasana yang kondusif di pertanian kita, Malaysia dan Thailand pun udah mulai menata pertaniaannya, sektor ini maju pesat di sana.
E. Manajemen Pertanian Modern
1. Obat – obatan Manajemen pertanian modern menitik beratkan pada segi: Produktivitas
Efisiensi
Produktivitas
Merupakan upaya untuk menaikkan jumlah produksi dari lahan pertanian yang tersedia. Faktor – faktor yang dapat menunjang hasil produksi antara lain:
1) Lahan
2) Kesuburan tanah 3) Bibit yang di gunakan 4) Tenaga kerja
5) Pupuk
6) Aspek manajemen pengolahan hasil 7) Modernisasi alat pertanian
Efisiensi
Efisiensi menurut pengertian ilmu ekonomi di bagi menjadi tiga : 1) Efisiensi teknis
3) Efisiensi ekonomi
Suatu penggunaan faktor produksi dikatakan efisien secara teknis apabila faktor produksi yang di pakai menghasilkan produksi yang maksimum. Efisiensi harga di lihat dari profit (keuntungan) yang di dapatkan. Efisiensi ekonomi yaitu apabila usaha pertanian tersebut mencapai efisiensi teknis dan harga
Di Indonesia Gebrakan revolusi hijau terlihat pada dekade 1980-an. Saat itu, pemerintah mengkomando penanaman padi, pemaksaan pemakaian bibit impor, pupuk kimia, pestisida, dan lain-lainnya. Hasilnya, Indonesia sempat menikmati swasembada beras. Namun pada dekade 1990-an, petani mulai menghadapi serangan hama, kesuburan tanah merosot, ketergantungan pemakaian pupuk yang semakin meningkat dan pestisida yang tidak manjur lagi.
Contoh sistem pertanian modern
Corporate Farming adalah sebuah sistem pertanian dengan menerapkan cara panggarapan lahan yang relatif luas secara bersamasama dalam satu sistem pengelolaan oleh sebuah perusahaan atau korporasi.
2.3 Hakekat Perbedaan Tingkat Produktifitas
Produktifitas merupakan nisbah atau rasio antara hasil kegiatan (output, keluaran) dan segala pengorbanan (biaya) untuk mewujudkan hasil tersebut (input, masukan) (Kussriyanto, 1984, p.1). Input bisa mencakup biaya produksi (production cost) dan biaya peralatan (equipment cost). Sedangkan output bisa terdiri dari penjualan (sales), earnings (pendapatan), market share, dan kerusakan (defects) (Gomes,1995, p.157). Proses aglomerasi (pemusatan) industri keberhasilannya banyak ditentukan oleh faktor teknologi lingkungan, produktivitas, modal, SDM, manajemen dan lain-lain. Pengertian produktivitas merupakan penggabungan antara konsep efisien usaha (fisik) dengan kapasitas tanah. Efisien fisik mengukur banyaknya hasil produksi (output) yang dapat diperoleh dari suatu kesatuan input.
Produktivitas adalah tingkat produksi yang dapat dihasilkan seorang pekerja pertahun. Dibandingkan dengan tingkat produktivitas tenaga kerja di negara maju, tingkat produktivitas tenaga kerja di negara berkembang masih sangat rendah hal tersebut disebabkan oleh faktor sebagian penduduk berada di sektor pertanian tradisional yang masih menghadapi masalah pengangguran terselebung. Produktivitas pertanian tradisional biasanya masih sangat rendah, karena teknologi dalam kegiatan pertanian masih sangat tradisional keberadaan pengangguran terselubung yang berarti kelebihan tenaga kerja di sektor pertanian akan menurunkan lagi produksi rata-rata produktivitas pekerja (Todaro, 2000).
Menurut Suryana (2000) bagi masyarakat petani yang taraf hidupnya rendah, prioritas bagi seseorang adalah makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Kebutuhan untuk motivasi kerja, pendidikan dan ilmu pengetahuan belum merupakan kebutuhan utama. Oleh karena itu produktvitas pertanian tetap rendah. Produktivitas pertanian yang rendah ini, bukan saja disebabkan oleh karena jumlah penduduk yang banyak, tetapi juga disebabkan oleh karena pertanian yang kurang maju serta tingkat teknologi yang primitif, pertanian subsistensi, organisasi yang kurang baik dan terbatasnya input (modal fisik dan tenaga terampil).
sudah menyertakan pula masukan teknologi untuk mendapatkan produk olahan dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan yang seoptimal mungkin.
Pada Negara-negara yang sedang mengalami aglomerasi industri, terdapat dualisme bidang teknologi. Dualisme teknologi adalah suatu keadaan dalam suatu bidan ekonomi tertentu yang menggunakan tehnik dan organisasi produksi yang sangat berbeda karakteristiknya. Kondisi ini mengakibatkan perbedaan besar pada tingkat produktivitas di sektor modern dan sektor tradisional, seperti keadaan berikut ini :
a. Jumlah penggunaan modal dan peralatan yang digunakan. b. Penggunaan pengetahuan teknik, organisasi, dan manajemen. c. Tingkat pendidikan dan keterampilan para pekerja.
Faktor-faktor ini menyebabkan tingkat produktivitas berbagai kegiatan sektor modern sering kali tidak banyak berbeda dengan kegiatan yang sama yang terdapat di Negara maju. Sebaliknya sektor tradisional menunjukkan perbedaan banyak karena keadaan sebagai berikut:
a. Terbatasnya pembentukan modal dan peralatan industri. b. Kekurangan pendidikan dan pengetahuan.
c. Penggunaan teknik produksi yang sederhana. d. Organisasi produksi yang masih tradisional.
A. Produktifitas dan Pendapatan Petani
Menurut Muryanto (1995 ; 67-68) bahwa petani akan melakukan perhitungan-perhitungan ekonomi dan keuangan walaupun tidak secara tertulis. Kalu petani menghadapi pilihan terkait apa yang akan mereka tanam maka ia akan memperhitungkan untung ruginya. Sehingga dapat dikatakan bahwa petani membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya ( pengorbanan, cost) yang harus dikeluarkan. Hasil yang diperoleh petani pada saat panen disebut produksi, dan biaya yang dikeluarkan disebut biaya produksi.
Adapun pendapatan akan diketahui setelah hasil produksi (output) dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan dari faktor produksi(input0 yang masing-masing diukur dalam bentuk uang. sedangkan yang dimaksud biaya pengeluaran adalah biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk ongkos produksi, seperti pembelian bibit, pupuk, pestisisda, sewa alat pertanian dan sewa hewaan.
Aplikasi teknologi di sektor pertanian mempunyai kendala yang cukup beragam mulai dari rendahnya tingkat pendidikan sebahagian besar petani dan pelaku agribisnis sampai kepada teknologi lokalita yang kurang tersedia. Kedaan ini lebih diperburuk lagi oleh keterbatasan modal sehingga petani tidak sepenuhnya dapat membeli dan memanfaatkan teknologi yang sudah ada. Usaha kearah perbaikan sebenarnya sudah mulai dilaksanakan melalui berbagai pembinaan yang masih bersifat parsial, sehingga belum dapat berhasil dengan baik. Komitmen yang tidak jelas serta koordinasi antar pihak terkait yang kurang berjalan sesuai dengan perencanaan dan kadang-kadang adanya saling ketidakpercayaan antar pihak merupakan salah satu sebab tidak berhasilnya peningkatan kecakapan petani dan pelaku agribisnis dalam memanfaatkan teknologi.
varitas yang kurang sesuai dengan kondisi lokalita, serta masih besarnya kehilangan hasil setelah panen. Rendahnya tingkat pendidikan dan terbatasnya kecakapan petani merupakan penyebab rendahnya penerapan teknologi oleh petani tersebut. Sedangkan terbatasnya teknologi berupa varitas lokalita dan besarnya kehilangan saat panen dan pasca panen merupakan indikator masih lemahnya pembinaan kepada petani serta minimmya peran daerah dalam menghasilkan teknologi. Oleh sebab itu pengembangan sumberdaya di sektor pertanian sangat perlu untuk dilaksanakan karena kedepan sektor ini masih menjadi salah satu andalan ekonomi daerah waled yangcukup penting. Tantangan yang dihadapi sektor pertanian tersebut meliputi berbagai hal. Pertama, kesenjangan yang cukup lebar antara hasil di tingkat petani dengan hasil di tingkat penelitian. Ini terjadi pada sebahagian besar tanaman pangan, hortikultura dan tanaman perkebunan.
Kedua, ketersediaan teknologi spesifik lokasi yang sesuai dengan agroecosystem, sosial ekonomi dan budaya tempatan terbatas. Ketiga, penyediaan varitas dan benih berkualitas dengan harga yang terjangkau masih terkendala. Keempat, kemampuan produk andalan untuk bersaing secara global masih sangat lemah. Kelima, efisiensi penggunaan sarana produksi (Saprodi) tidak dapat meningkatkanpenda pandapatan petani.
Hal ini karena harga Saprodi selalu meningkat sehingga perlu dikembangkan pendekatan budidaya dengan input rendah yang dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.Untuk mendukung pengembangan agribisnis seutuhnya di waled maka masa yang akan datang diperlukan usaha pengembangan teknologi pertanian secara terus menerus. Disamping pengembangan teknologi untuk proses produksi tanaman pertanian juga harus diikuti dengan inovasi produk dan proses produksi industri pertanian baik teknologi yang akan dimanfaatkan oleh sektor publik atau teknologi untuk rakyat banyak.
Dari berbagai pengalaman ternyata usahatani dengan mengandalkan monokultur kurang menguntungkan kepada petani apalagi cara ini sering membutuhkan input tinggi, bahkan kadang-kadang cenderung dapat mempunyai dampak yang kurang baik. Diversifikasi komoditas dalam usahatani yang meliputi tanaman pertanian baik tanaman tahunan maupun tanaman muda dengan hewan ternak bahkan dengan ikan dapat menjadi andalan dalam usahatani masa depan. Pertama, karena komoditas yang satu dapat memanfaatkan hasil samping dari komoditas lain seperti kotoran ayam atau sapi yang dapat dimanfaatkan untuk pupuk tanaman atau tambahan makanan ikan sebaliknya bahagian tanaman tertentu juga dapat dimanfaatkan untuk makanan ternak. Kedua, dengan diversifikasi komoditas akan mengurangi resiko kegagalan usaha atau terdapatnya saling subsidi keuntungan jika salah satu komoditas harganya kurang baik. Ketiga, akan dapat menjaga kelestarian lingkungan, menjaga kemungkinan serangan penyakit malaria.
Selanjutnya upaya yang kedua adalah meningkatkan indeks panen atau meningkatkan penanaman dari satu kali setahun menjadi dua atau tiga kali setahun. Upaya ini tentu memerlukan penyempurnaan sarana dan prasarana pertanian di lapangan seperti perbaikan sistem pengairan pada areal tertentu. Pencarian varitas-varitas baru yang cocok untuk kondisi lahan lokalita misalnya padi toleran air pengairan yang mengandung garam, varitas palawija tahan salin sehingga berpotensi ditanam di lahan pasang surut.
Permasalahan yang di jadikan kendala dalam peyuluhan pertanian misalnya:
a) Kemampuan penyuluh yang sangat kurang dalam pengetahuanya dan keterampilan yang kurang sigap.
b) Materi penyuluhan yang sangat terbatas/ dan kurangyah informasi yang berinovasi.
c) Sarana dan biaya penyuluhan/kurangnyah prasarana untuk uji coba dan ketinggalan dalam teknologi seperti intenet dll.
d) Dari kesadaran petani, SDM yang dimiliki yang kurang menyerap pengetahuan dari penyuluh. e) Keterbatasan modal petani seperti biaya produksi dan sarana produksi sehingga menghasilkan
outpu yang maksimal.
f) Kebijakan dan perogram pemerintah seperti HPP (Harga Pokok Pembelian) ditentukan pemerintah belum bisa ditentukan petani, Refaksi (Standarisasi harga) .
Sampai saat ini banyak usaha pertanian dengan berbagai skala usaha masih terlalu mengeksploitasi lahan untuk tujuan komersil sehingga lahan yang sebelumnya cukup baik menjadi lahan yang marjinal. Hal ini tentu tidak boleh terjadi terus menerus karena lahan pertanian akan terdegradasi secara berangsur-angsur yang berarti kita akan meninggalkan lahan bermasalah untuk generasi masa datang. Apalagi dalam kerangka ekonomi kerakyatan segala usaha termasuk dalammya usaha pertanian haruslah mempertimbangkan kelestarian dan keberlanjutan sumberdaya yang dimiliki. Oleh sebab itu perlu ditingkatkan pemahaman sumberdaya petani tentang teknologi di bidang pertanian sehingga pemanfaatan lahan dapat dilakukan dengan baik.
B. Manfaat teknologi
Untuk Meningkatkan Produktifitas yang Maxsimal kita memerlukan sentuhan teknologi seperti alat bantu peyuluhan seperti pasilitas (prasarana), di perlukan juga alat-alat Mekanisasi pertanian supaya efisien teknik dan biaya. Mewujudkan tujuan pembangunan pertanian memerlukan tiga fungsi yaitu fungsi pengaturan dan pelayanan oleh Dinas, fungsi penyuluhan serta fungsi penelitian. Ketiga fungsi tersebut kedudukannya sepadan dalam melaksanakan pembangunan pertanian, sehingga tujuan penyuluhan pertanian adalah dalam rangka menghasilkan SDM pelaku pembangunan pertanian yang kompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, bertani lebih baik (better farming), berusaha tani lebih menguntungkan (better bussines), hidup lebih sejahtera (better living) dan lingkungan lebih sehat. Penyuluhan pertanian dituntut agar mampu menggerakkan masyarakat, memberdayakan petani-nelayan, pengusaha pertanian dan pedagang pertanian, serta mendampingi petani untuk: 1) Membantu menganalisis situasi-situasi yang sedang mereka hadapi dan melakukan perkiraan ke
depan.
2) Membantu mereka menemukan masalah.
3) Membantu mereka memperoleh pengetahuan/informasi guna memecahkan masalah 4) Membantu mereka mengambil keputusan.
5) Membantu mereka menghitung besarnya risiko atas keputusan yang diambilnya.
Bahwa Dalam penyuluhan pertanian memerlukan Inovasi Baru sehingga dapat meningkatkan hasil produktifitas, sehingga tercapainyah sistem pertaniaan agribisnis maka petani harus bisa memasarkan hasil dari produknya dengan mandiri sehingga meningkatkan pembangunan pertanian.