• Tidak ada hasil yang ditemukan

Laporan Praktikum HETP

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Laporan Praktikum HETP"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)
(2)

MATERI:

HEIGHT EQUIVALENT OF THEORITICAL PLATE (HETP)

Disusun oleh :

Nama : Rikhi Galatia

NIM : 011300355

Prodi : Teknik kimia Nuklir

Semester : IV

RekanKerja : M. Reza Alfath Ari Nurul Pangestu Asisten : Ir. Bangun Wasito

SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI NUKLIR

BADAN TENAGA NUKLIR NASIONAL

YOGYAKARTA

2015

(3)

HEIGHT EQUIVALENT OF THEORITICAL PLATE

(HETP)

A. TUJUAN

Menentukan nilai Height Equivalent of Theoritical Plate (HETP) atau tinggi bahan isian dalam suatu kolom yang memberikan perubahan komposisi sama dengan perubahan komposisi yang dicapai oleh satu plate teoritis atau ekivalen dengan satu plat teoritis.

B. LANDASAN TEORI Distilasi

Distilasi adalah suatu operasi untuk memisahkan larutan yang relatif volatil menjadi komponen-komponen penyusunnya atas dasar perbedaan titik didih dengan jalan menambahkan panas ke dalam campuran yang akan dipisahkan. Pada operasi distilasi fase cair berada pada titik didihnya, sedangkan fase uap berada dalam kesetimbangan pada titik embunnya. Perpindahan massa dari fasa cair terjadi dengan penguapan dan dari fasa uap terjadi dengan pengembunan yang berlangsung secara simultan. Masing-masing komponen campuran umpan terdapat di dalam kedua fase itu, hanya berbeda jumlah relatifnya. Pada larutan ideal volatilitas dapat dikaitkan langsung dengan tekanan uap murni masing-masing.

Distilasi banyak digunakan untuk memisahkan campuran cairan agar menjadi campuran yang lebih murni. Keuntungan pemisahan secara distilasi adalah tidak diperlukannya komponen tambahan, sehingga tidak diperlukan proses lebih lanjut untuk menghitung senyawa yang ditambahkan tersebut. Alat yang diperlukan untuk operasi distilasi dapat berupa kolom berplat dengan sieve tray atau bubble cap tray, atau dapat pula menggunakan kolom dengan bahan isian (packing).

Faktor-faktor penting dalam merancang dan mengoperasikan kolom plat adalah jumlah plat yang diperlukan untuk mendapatkan pemisahan yang dikehendaki, diameter kolom, kalor yang diperlukan dalam pendidihan, kalor yang dibuang pada kondensor, jarak antar plat yang dipilih, dan konstruksi plat.

Gambar di bawah menunjukkan diagram neraca bahan untuk contoh umum fasilitas distilasi kontinyu. Neraca massa untuk sistem tersebut adalah :

(4)

Refluks Lo.Xo

Neraca komponen F XF = D XD + B XB

Dengan mengeliminasi B dari kedua persamaan di atas, diperoleh :

Dan eliminasi D menghasilkan :

Gambar 1. Fasilitas destilasi secara kontinyu

Pengertian HETP

Bahan isian padat dan inert yang memiliki luas permukaan per satuan volume kolom dapat digunakan sebagai pengganti bubble cap plate. Berapa tinggi bahan isian dalam kolom yang bisa memberikan suatu komposisi produk pemisahan campuran tertentu harus dievaluasi.

(5)

Umpan F.XF Hasil atas D.XD Hasil bawah B.XB Pemanas Pendingin K o lo m D is til a si

Suatu kolom dengan bahan isian dibagi-bagi dalam unit-unit atau satuan-satuan tinggi bahan isian, dimana setiap satuan tinggi bahan isian mampu menghasilkan uap dan cairan keluar dari satuan ini dalam keadaan setimbang. Menurut definisi, pada satu plat ideal, uap dan cairan yang meninggalkan plat ideal juga pada keadaan kesetimbangan fase atau kesetimbangan termodinamik. Berarti satu satuan unit kolom tersebut ekivalen dengan satu plat ideal. Inilah konsep HETP. Karena itu dapat dinyatakan bahwa :

Tinggi bahan isian (Z) = jumlah plat ideal atau teoritis (N) x HETP

Tentu saja pernyataan ini berlaku untuk sesuatu operasi pemisahan tertentu, seperti kolom isian pada operasi penyulingan, absorpsi, dan ekstraksi.

Penggunaan pernyataan HETP diperlukan, karena dapat menggantikan proses bertingkat berlawanan arah, meskipun dari segi teoritis dipandang kurang fundamental. HETP harus dievaluasi secara eksperimen, karena HETP berubah oleh tipe, jenis, ukuran bahan isian, sangat dipengaruhi pula oleh kecepatan aliran kedua fluida (uap, cairan) maupun kisaran konsentrasi. Karena itu diperlukan banyak data eksperimen.

Evaluasi Jumlah Plat Teoritis (N)

Tinggi bahan isian (Z) ditentukan oleh nilai N atau jumlah plat teoritis dan nilai HETP. Jumlah plat teoritis N dapat dievaluasi menurut metode McGabe-Thiele (campuran biner) atau persamaan Fenske-Underwood.

Metode McGabe-Thiele

Persyaratan :

1. Dalam diagram entalpi-komposisi, garis uap jenuh dan cairan jenuh keduanya berupa garis lurus dan sejajar

2. Kecepatan aliran molal tetap

3. Panas laten penguapan mendekati tetap 4. Campuran biner, ideal

Untuk evaluasi jumlah plat teoritis (N) diperlukan data kesetimbangan termodinamik atau y versus x, pada suhu tekanan operasi tertentu. Biasanya mol fraksi i

(6)

dalam umpan, produk atas dan bawah dan kondisi termal umpan diketahui. Kita masih perlu melukiskan garis-garis operasi berikut :

1. Garis operasi atas

Garis operasi atas ini akan memotong sumbu y pada :

2. Garis q

q adalah panas untuk menguapkan 1 mol umpan semula menjadi uap, dibagi panas laten penguapannya. Dari nilai q yang didapat, bisa dihitung lereng garis q yaitu -q/ (1-q) sehingga garis q dapat dilukis dengan lereng ini melalui titik umpan (ZF) di

diagonal. Beberapa harga q untuk berbagai kondisi umpan dapat diketahui sebagai berikut :

q > 1, umpan dingin

q = 1, umpan pada titik gelembung (zat cair jenuh) 0 < q < 1, umpan sebagian berwujud uap

q = 0, umpan pada titik embun (uap jenuh) q < 0, umpan uap panas lanjut

(7)

Jika langsung digunakan persamaan ini kita memerlukan data panas di sekitar reboiler. Supaya mudah, kita cari saja titik potong antara garis operasi atas dan garis q, misalnya titik P. kemudian hubungkan titik P dengan titik XB. Jika ketiga garis tersebut sudah dapat dilukis, maka jumlah plat teoritis dapat dievaluasi.

q

XB

XD

Zf

(8)

Metode Fenske-Underwood

Persyaratan : 1. Refluks total

2. Nilai sifat penguapan relatif tetap

3. Kecepatan aliran molal dan penguapan tetap.

Jika dipakai refluks total, garis operasi atas dan bawah berimpit dengan garis diagonal, dan jumlah plat teoritis minimal (Nm). Menurut Fenske-Underwood berikut :

avg adalah volatilitas relatif rata-rata =

untuk campuran biner ideal AB dapat ditentukan dengan persamaan

dengan :

: tekanan uap murni zat A pada suhu tertentu : tekanan uap murni zat B pada suhu tertentu

dalam hal ini komponen zat A adalah lebih volatil dari pada komponen zat B C. BAHAN KERJA

1. Alkohol 98 % 2. Aquadest

(9)

1 2 3 4 5 6 7 3 D. ALAT KERJA

1. Rangkaian alat destilasi 2. Piknometer 3. Neraca analitik 4. Gelas beker 5. Pipet ukur 6. Labu ukur 7. Gelas ukur

Gambar 3. Rangkaian alat percobaan

E. TATA KERJA

1. Larutan umpan sebanyak 500 mL di buat.

2. Komposisi campuran biner larutan umpan dievaluasi dengan cara mengukur densitasnya. 3. Alat destilasi dirangkai sesuai dengan Gambar 3.

4. Larutan standar alcohol berkonsentrasi 5 % s.d. 96 % dibuat dan diukur densitasnya masing-masing.

5. Kurva standar hubungan antara konsentrasi alkohor dengan densitasnya dibuat.

6. Larutan umpan sebanyak 450 mL dimasukkan ke dalam labu leher tiga, kemudian didistilasi dengan refluks total, sampai keadaan steady. Kondisi ini ditandai oleh suhu atas dan bawah yang konstan.

7. Destilat sebanyak 7 ml diambil, dan penyulingan dilanjutkan, juga dengan refluks total. 8. Larutan umpan juga diambil 7 mL.

9. Suhu atas dan bawah diamati dan dicatat.

Keterangan :

1. Pemanas listrik 2. Labu leher tiga 3. Thermometer 4. Kolom isian 5. Kran refluks 6. Penampung destilat 7. Pendingin tegak

(10)

10. Destilat larutan umpan didinginkan hingga suhu kamar lalu diukur densitasnya. 11. Larutan umpan dan destilat dikembalikan kembali ke dalam labu leher tiga.

12. Langkah no.7 s.d. no.11 diulangi hingga densitas dan konsentrasi destilat konstan atau tidak berubah.

13. Destilat dan residu yang telah diukur densitasnya dicari besar konsentrasinya dengan table/kurva densitas.

F. DATA PENGAMATAN

 Alkohol yang digunakan untuk membuat kurva standar adalah alcohol p.a. 96 %.

 Data pembuatan kurva standar : No . Konsentrasi Alkohol (%) Massa Pikno + Alkohol (gram) Massa Pikno 5 mL (gram) Massa alcohol (gram) 1 5 15.5628 10.0373 5.5255 2 10 15.5207 10.0373 5.4834 3 15 15.5164 10.0373 5.4791 4 20 15.4759 10.0373 5.4386 5 25 15.4370 10.0373 5.3997 6 30 15.3475 10.0373 5.3102 7 35 15.3323 10.0373 5.2950 8 40 15.2743 10.0373 5.2370 9 45 15.2509 10.0373 5.2136 10 50 15.2450 10.0373 5.2077 11 55 15.0815 10.0373 5.0442 12 60 15.0612 10.0373 5.0239 13 65 15.0154 10.0373 4.9781 14 70 14.9346 10.0373 4.8973 15 75 14.8944 10.0373 4.8571 16 80 14.8024 10.0373 4.7651 17 85 14.7214 10.0373 4.6841 18 90 14.6554 10.0373 4.6181 19 95 14.5323 10.0373 4.4950 20 96 14.4890 10.0373 4.4517

 Massa Pikno dan Aquadest sebesar 15.5835 gram

 Massa jenis aquadest pada suhu 28oC sebesar 0.9962365 gr/mL

 Massa umpan awal + pikno sebesar 15.3917 gram

 Pengambilan I :

Massa destilat + pikno : 14.4550 gram Massa bottom + pikno : 15.4508 gram Suhu atas : 64oC

(11)

 Pengambilan II :

Massa destilat + pikno : 14.4310 gram Massa bottom + pikno : 15.4954 gram Suhu atas : 64oC

Suhu bawah : 93oC

G. PERHITUNGAN

1. Membuat Kurva Kalibrasi.

Dari data pengamatan dapat diperoleh kurva standar Massa Jenis vs Konsentrasi Alkohol

0.8000 0.9000 1.0000 1.1000 1.2000 0 20 40 60 80 100 120 f(x) = - 422.84x + 481.07 R² = 0.97

Kurva Kalibrasi Densitas vs Konsentrasi Larutan Alkohol

Densitas (gram/mL) Konentrasi Alkohol (%)

Gambar 1. Kurva Kalibrasi Densitas vs Konsentrasi Alkohol Dari Kurva tersebut diperoleh persamaan : Y = -422.8X + 481. Dimana Y adalah konsentrasi alkohol dan X adalah massa jenis larutan.

2. Mencari Besar Konsentrasi Umpan.

Massa JenisUmpan=Massaumpan dalam pikno volume pikno Massa JenisUmpan=15.3917 gr −10.0373 gr 5 mL Massa JenisUmpan=5.3544 gr 5 mL Massa JenisUmpa n=1.0708 gr /mL

(12)

Y =−422.8 X +481 Y =−422.8 (1.0708)+481 Y =28.26576

Y =28.3

Besar konsentrasi alcohol dalam campuran alcohol air umpan sebesar 28.3%. 3. Mencari Fraksi Mol alcohol dalam umpan.

Xetanol=

etanol.Vumpan.ρetanol Mretanol etanol. Vumpan.ρetanol

Mretanol +

(

1−etanol). Vumpan. ρair Mrair Xetanol= 0,283 . 450 mL. 0,782457 gr /mL 46,07 gr /mol 0,283 . 450 mL. 0,782457 gr /mL 46,07 gr /mol + (1−0,283) .450 mL.0,997045 gr /mL 18 gr /mol Xetanol= 2,163 mol 2,163 mol+17,872 mol Xetanol= 2,163 mol 20,035 mol Xetanol=0.108

Dengan cara yang sama dengan diatas, maka Xetanol pada larutan standar :

No . Konsentrasi Alkohol (%) Massa Jenis (gr/mL) Xetanol 1 5 1.1051 0.022 2 10 1.0967 0.046 3 15 1.0958 0.070 4 20 1.0877 0.096 5 25 1.0799 0.124 6 30 1.0620 0.151 7 35 1.0590 0.183 8 40 1.0474 0.215 9 45 1.0427 0.251 10 50 1.0415 0.290 11 55 1.0088 0.326 12 60 1.0048 0.371 13 65 0.9956 0.420 14 70 0.9795 0.472 15 75 0.9714 0.533

(13)

16 80 0.9530 0.599

17 85 0.9368 0.675

18 90 0.9236 0.765

19 95 0.8990 0.870

20 96 0.8903 0.893

Sehingga, kurva kalibrasi densitas vs fraksi mol alkoholnya :

0.8800 0.9800 1.0800 0.000 0.200 0.400 0.600 0.800 1.000 f(x) = - 4.02x + 4.45 R² = 0.99

Kurva Kalibrasi Massa Jenis vs Fraksi Mol Alkohol

Massa Jenis (gr/mL) Fraksi Mol Alkohol

Gambar 2. Kurva Kalibrasi Massa Jenis vs Fraksi Mol Alkohol

Dari kurva kalibrasi di atas, diperoleh persamaan regresi linear y = -4.022x + 4.447 dengan y sebagai fraksi mol alcohol dan x sebagai massa jenis larutan alcohol. Persamaan ini nantinya akan digunakan untuk menentukan fraksi mol dari destilat dan bottom. 4. Penentuan Fraksi mol etanol pada Top Operation dan Bottom Operation.

Pada Pengambilan Pertama.

Densitas destilat=massa destilat ∧pikno−massa pikno volume pikno Densitas destilat=14.4450 gr −10.0373 g r 5 mL Densitas destilat=4.4077 gr 5 mL Densitas destilat=0.8816 gr /mL y=−4.022 x+4.447 y=−4.022(0.8816)+4.447 y=−3.5458+4.447

(14)

y=0.9012

Densitas bottom=massa botto m∧ pikno−massa pikno volume pikno Densitas bottom=15.4508 gr−10.0373 gr 5 mL Densitas bottom=5.4135 gr 5 mL Densitas bottom=1.0827 gr /mL y=−4.022 x+4.447 y=−4.022(1.0827)+4.447 y=−4.3546+4.447 y=0.0924

Dengan cara yang sama, maka diperoleh :

Pengambilan ke - Massa Jenis (gr/mL) Fraksi mol etanol

Destilat Bottom Xd Xb

I 0.8816 1.0827 0.9012 0.0924

II 0.8786 1.0916 0.9133 0.0566

5. Penentuan Garis Operasi Reflux Minimum dan Jumlah Tahapan Kesetimbangan (Reflux Total).

Fraksi Minimum pada Reflux Total No

. Komponen

Fraksi Mol Etanol Minimum Maksimum

1 Feed 0.108 0.108

2 Destilat 0.9012 0.9133

(15)

Gambar 3. Kurva Kesetimbangan Uap-Cairan dari Campuran Etanol-Air Keterangan :

a. ( ) : Garis Bottom Operation atau XB

- No 1 : Merupakan titik maksimum - No 2 : Merupakan titik minimum b.( ) : Garis Feed Operadion atau Zf

c. ( ) : Garis Top Peration atau XD

- No 1 : Merupakan titik maksimum - No 2 : Merupakan titik minimum

Dari pemplota grafik diatas dapat diketahui bahwa jumlah tahapan total pada distilasi tersebut adalah ada 15 tahapan kesetimbangan (Ration reflux) dengan nilai kesetimbangan bawah yaitu 1 tahapan (kesetimbangan bottom operation maximum) dan kesetimbangan atas adalah 14 tahapan (kesetimbangan top operation maximum). Dimana umpan dimasukan pada saat saturated vapour (q=1).

1 2

(16)

Dibuat garis yang bersingkungan dengan kurva kesetimbangan (x-y) dan memotong sumbu y pada titik y = 0.28 (bottom operation minimum), sedangkan untuk sumbu y yang memotong titik y=0,58 (top operation minimum) yang merupakan dimana titik saturaded vapour.

Diketahui :

D.XD = 0.9012 B.XB = 0.0924

Maka, didapat intercept dari persamaan garis linier diatas : 0.28= Xb . B (R m−1) 0.28= 0.0924 (R m−1) (R m−1)=0.0924 0.28 Rm=0.33+1 Rm=1.33 Rm=1.33=1.5(Pembulatan ke atas) Reflux minimum untuk top operation adalah :

0.58= Xd . D (R d+1) 0.28= 0.9012 (R d+1) (R d +1)=0.9012 0.58 Rd=1.55−1 Rd=0.55 Rd=0.55=1(Pembulatan ke atas)

(17)

Untuk reflux total persamaan garis operasi metode McGabe-Thiele :

(Top Operation)

(Bottom Operation) a. Untuk tahapan kesetimbangan top operation minimum :

Maka,

Yn+1= (1)

(1)+1(0.9012)+

0.9012

(1)+1 =0.4506+0.4506=0.9012 b. Untuk tahap kesetimbangan bottom operation minimum : Maka,

Ym+ 1= (1.5)

(1.5 )−1(0,0924 )+

0,0924

(1.5)−1=0.2772+0.1848=0.4620

6. Penentuan HETP (Height Equivalent Of Theoritical Plate) HETP= Tinggi Bahan Isian Kolom

JumlahTahapan Kesetimbangan

¿ (4 3 cm)

(Top operation+Bottom Operation) ¿ (4 3 cm) (0.9012+0.4620 ) ¿ (4 3 cm) (1.3632) ¿31.5434 cm HETP=31.6 cm

(18)

Atau, log αavg= log

(

XD 1− XD. 1− XB XB

)

Nmin

Sehingga, Nm = (plate bottom operation minimum + plate top operation minimum)

Nm = (0.9012 + 0.4620) = 1.3632

dengan nilai :

Xd, D = 0.9012 (Fraksi atas minimum) Xb, B = 0.0924 (Fraksi bawah minimum)

log αavg= log

(

(0.9012) 1−(0.9012). 1−(0.0924 ) (0.0924 )

)

(1.3632)

log αavg=log (9.1215 x 9.8225) (1.3632)

log αavg=log 89.5959

(1.3632) log αavg= 1.9523 (1.3632) log αavg=1.4322 αavg=10 1.4322 αavg=27.0521

(19)

H. PEMBAHASAN

Distilasi adalah suatu operasi untuk memisahkan larutan yang relatif volatil menjadi komponen-komponen penyusunnya atas dasar perbedaan titik didih dengan jalan menambahkan panas ke dalam campuran yang akan dipisahkan.

Bahan isian padat dan inert yang memiliki luas permukaan per satuan volume kolom dapat digunakan sebagai pengganti bubble cap plate. Berapa tinggi bahan isian dalam kolom yang bisa memberikan suatu komposisi produk pemisahan campuran tertentu harus dievaluasi. Tinggi bahan isian (Z) ditentukan oleh nilai N atau jumlah plat teoritis dan nilai HETP. Jumlah plat teoritis N dapat dievaluasi menurut metode McGabe-Thiele (campuran biner) atau persamaan Fenske-Underwood.

Pada praktikum kali ini bertujuan untuk menentukan nilai Height Equivalent of Theoritical Plate (HETP) atau tinggi bahan isian dalam suatu kolom yang memberikan perubahan komposisi sama dengan perubahan komposisi yang dicapai oleh satu plate teoritis atau ekivalen dengan satu plat teoritis.

Pada percobaan pertama dilakukan pembuatan deret standar konsentrasi alcohol dari yang konsentrasinya rendah hingga konsentrasinya tertinggi dan masing masing konsentrasi diukur densitasi sehingga dapat dibuat grafik hubungan antara densitas alcohol vs konsentrasi. Tujuan pembuatan grafik tersebut atau bisa disebut dengan kurva kalibrasi adalah untuk mengetahui konsentrasi dai sampel atau umpan yang akan didestilasi, destilat yang diperoleh dan bottom nya.

Pada percobaan berikutnya dilakukan pemanasan umpan pada rangkaian destilasi reflux total. Tujuan reflux total supaya dapat tercapai keadaan yang steady. Keadaan steady ini ditandai dengan suhu atas dan suhu bawah yang konstan dan tak berubah-ubah.

Selanjutnya, dilakukan pengambilan destilat dan bottom secara berkala dan diukur densitasnya yang kemudian destilat dan bottom kembalikan kembali ke dalam umpan, hal ini bertujuan untuk menjadi besar massa atau volume umpan tetap konstan dan tetap berjalan dalam keadaan steady.

Dari data percobaan dan pengolahan data/perhitungan diperoleh hasil besar konsentrasi alcohol dalam umpan yang dimasukkan sebesar 28.3 % dengan fraksi mol alkoholnya sebesar 0.108. setelah pengambilan pertama diperoleh bahwa fraksi mol etanol

(20)

dalam destila sebesar 0.9012 serta terjadi pengurangan fraksi mol etanol dalam umpan yang pada hal ini diberikan identitas bottom yaitu sebesar 0.0924. Begitu juga pada pengambilan kedua dimana fraksi mol etanol dalam destilat mengalami kenaikan menjadi 0.9133 serta terjadi pengurangan kembali fraksi mol etanol dalam umpan (bottom) yaitu sebesar 0.0566. Ini menunjukkan bahwa semakin lama proses destilasi reflux total, akan semakin meningkatkan fraksi mol etanol pada destilat yang dihasilkan dan semakin menurunkan fraksi mol etanol pada umpan. Hal tersebut dikarenakan etanol dalam umpan yang bersifat lebih volatile/mudah menguap daripada air sehingga semakin lama pemanasan, semakin banyak etanol yang teruapkan sehingga semakin besar juga konsentrasi etanol pada destilat.

Pada praktikum ini isian yang digunakan adalah rashig ring. Isian ini bertujuan untuk menggantikan plat yang digunakan dalam destilasi. Dari hasil perhitungan yang menggunakan metode McGabe-Thiele, nilai HETP yang diperoleh adalah 32 cm. Pada praktikum kali ini, didapatkan juga nilai volativitas alkohol dengan menggunakan metode Fanske-Undewood sehingga diproleh nilai volativitas alkohol adalah 27.0521.

Kesalahan yang memungkinan akan terjadi pada praktikum ini adalah bahan isian yang tertalu rapat sehingga pada saat dilakukan refluk akan menghambat aliran cairan untuk kembali ke labu leher tiga. Penimbangan piknometer yang berisi cairan dengan suhu tinggi juga dapat mengakibatkan kesalahan, hai ini terjadi karena bahan dengan suhu tinggi tidak stabil jika dilakukan penimbangan. Hal-hal tersbut dapan mempengaruhi perhitungan dan hasilnya sehingga tak menunjukkan nilai yang sesuai.

I. KESIMPULAN

Pada Praktikum kali ini, diperoleh kesimpulan yaitu :

1. HETP adalah bahan isian yang akanmemberikan perubahan komposisi yang sama dengan perubahan komposisi yang yangdiberikan oleh satu plate teoritis.

2. Nilai HETP yang diperoleh dari percobaan adalah 32 cm. 3. Nilai volativitas etanol-air adalah 27.0521.

4. Bahan isian yang terlalu rapat serta penimbangan cairanyang tak bersuhu lingkungan dapat menjadi sumber kesalah dalam perhitungan dan hasil yang diperoleh.

(21)

J. DAFTAR PUSTAKA

Brown G. G., Unit Operation, Fourteenth Printing, 1978, John Wiley and Sons Inc, New York, Charles E Tuttle Co, Tokyo

Coulson J. M., Richardson J. F., Chemical Engineering, Volume 6, 1983, Pergamon Press, Oxford, New York, Toronto, Sydney, Paris, Frankfurt

McCabe W. L., Smith J. C., Unit Operation of Chemical Engineering, Third Edition, 1976, McGraw-Hill International Book Company, Singapore, Sydney, Tokyo

Perry R. H., Green D., Perry’s Chemical Engineer’s Hand Book, Sixth Edition, 1988, McGraw-Hill, Tokyo

Treybal R. E., Mass-Transfer Operations, Third Edition, 1980, McGraw-Hill International Book Company, Singapore, Sydney, Tokyo

Wasito, Bangun. 2015. “Petunjuk Praktikum Operasi Teknik Kimia II: HETP”. Modul. Yogyakarta: STTN-BATAN.

Yogyakarta, 18 Mei 2015

Pembimbing, Praktikan,

Gambar

Gambar 2. Evaluasi N secara grafik
Gambar 3. Rangkaian alat percobaan
Gambar 1. Kurva Kalibrasi Densitas vs Konsentrasi Alkohol Dari Kurva tersebut diperoleh persamaan : Y = -422.8X + 481
Gambar 2. Kurva Kalibrasi Massa Jenis vs Fraksi Mol Alkohol
+2

Referensi

Dokumen terkait

Kolom absorber yang digunakan merupakan kolom isian risching ring dengan tujuan untuk memperluas kontak antara fasa cair dan gas di dalam kolom absorber sehingga proses

Dalam praktikum kali ini, alat yang digunakan yaitu, cawan petri berfungsi sebagai wadah untuk menampung bahan uji coba, pisau berfungsi untuk memotong buah

Praktikum kali ini bertujuan untuk menetepakan kualitas semen dengan pemeriksaan makroskopis meliputi warna, bau, pH, dan viskositas sedangkan untuk menetapkan

Pada praktikum kali ini menggunakan metode Destilasi uap adalah ekstraksi senyawa Pada praktikum kali ini menggunakan metode Destilasi uap adalah ekstraksi senyawa kandungan menguap

Bahan utama yang diperlukan pada pembuatan pernis pada praktikum ini adalah damar mata kucing yang telah diayak dengan ayakan 60 mesh sebanyak 30 gram.. Fungsi utama damar pada pernis

BAB VI PENUTUP 5.1 Kesimpulan Dapat disimpulkan bahwa pada praktikum kali ini, bahwa metode luff schoorl bisa menentukan kadar gula invert pada sampel, terutama sampel yang kami

Tujuan Praktikum bertujuan untuk mengetahui dan menentukan kualitas pada telur dengan mengamati ciri kesegaran fisik serta menghitung indeks putih telur, indeks kuning telur dan indeks

Laporan praktikum ujicoba kualitas agregat halus yang bertujuan untuk menentukan adanya kotoran organik yang