SKRIPSI
Disusun untuk Memenuhi Syarat Kelulusan Program Diploma IV
Oleh: ELSA FITRI 4111301006
PROGRAM STUDI AKUNTANSI MANAJERIAL
JURUSAN MANAJEMEN BISNIS
POLITEKNIK NEGERI BATAM
2017
ii
NILAI DARI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
PADA
RETAIL
TAS
BATAM
LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI
Diajukan sebagai Salah Satu Syarat Kelulusan Program Diploma IV pada Program Studi Akuntansi Manajerial Jurusan Manajemen Bisnis
Politeknik Negeri Batam
Oleh: ELSA FITRI 4111301006 Batam, 9 Juni 2017
iii judul:
NILAI DARI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL
PADA
RETAIL
TAS
BATAM
Yang dimajukan untuk diuji pada 9 Juni 2017 adalah hasil karya saya. Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang lain yang saya ambil dengan cara menyalin, -atau meniru dalam bentuk rangkaian kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari penulis lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan atau tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya.
Apabila saya melakukan hal tersebut di atas, baik sengaja atau tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri. Bila kemudian terbukti bahwa saya ternyata melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolah-olah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan batal saya terima
iv
ABSTRAK
Perkembangan internet terus meluas, para pengusaha perlu mempertimbangkan pemanfaatan teknologi komputer dan telekomunikasi untuk melakukan kegiatan bisnis (E-business). Batam merupakan kota industri yang berada di perbatasan Negara, sehingga membuat Batam menjadi gudang produk impor. Penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam telah menjamur saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah faktor-faktor yang mendorong penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam dan bagaimanakah pengaruh penggunaan media sosial terhadap persepsi dari nilai penggunaan media sosial (operasi internal, pelayanan pelanggan, pemasaran dan penjualan). Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis PLS-SEM. Hasil dari penelitian ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menyatakan bahwa kompetensi teknologi, tekanan pelanggan, tekanan kompetitif, dan lingkungan mobile berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial oleh retail tas Batam, berbeda dengan tekanan kompetitif yang berpengaruh negatif. Penggunaan media sosial berpengaruh positif terhadap nilai penggunaan media sosial (operasi internal, pemasaran, pelayanan pelanggan dan penjualan). Keterbatasan dalam penelitian ini adalah hanya meneliti satu pengguna media sosial yaitu retail tas Batam, sehingga penelitian selanjutnya dapat menggunakan sampel yang lebih luas seperti retail fashion (tas, baju, sepatu,dll).
v
business). Batam is an industrial city located on the border of the State, thus making the Batam become werehouse imported products. The use of social media by retail bags in Batam has been mushrooming at present. This research aims to find out whether the factors that encourage the use of social media usage against the perception of the value of the use of social media (internal operations, customer service, marketing and sales). Data analysis techniques used in this research is the analysis of PLS-SEM. Results from this study are consistent with previous research suggesting that competence in technology, customer pressure, competitive pressures, and mobile environment positive effect against the use of social media by retail bag Batam, different from the competitive pressures that influence negatively. Social media use the positive effect of the use of social media (internal operations, marketing, sales and customerservice). The limitations in this study was the only one researching social media users retail bag Batam, so research can then use wider sample of such retail fashion (shoes, clothes, bags, etc).
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “NILAI DARI PENGGUNAAN MEDIA SOSIAL PADA RETAIL TAS BATAM”. Penelitian skripsi ini dilakukan dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk mencapai gelar Sarjana Sains Terapan pada Program Studi Akuntansi Manajerial Politeknik Negeri Batam. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak lepas dari bimbingan, bantuan, dan motivasi dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi ini, khususnya kepada:
1. Allah S.W.T, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya berupa kesehatan dan segala kemudahan di dalam kesulitan dalam mengerjakan skripsi.
2. Orang tua dan adik-adik penulis yang tiada henti selalu medoakan, mendukung serta memotivasi penulis.
3. Ibu Mega Mayasari, S.E., M.Sc selaku dosen pembimbing yang telah memberikan arahan dan aturan selama penulis mengerjakan skripsi.
4. Ibu Ely Kartikaningdyah selaku dosen wali AM.A yang telah memotivasi dalam penyelesaian skripsi.
5. Bapak Arif Darmawan, S.E., M.Sc dan Bapak Adi Irawan, S.E., M.Ec.Dev selaku dosen penguji Sidang skripsi atas saran dan masukan untuk penulis dalam menyelesaikan skripsi.
vii
7. Kerabat dan teman-teman khususnya Bertujuh (Anissa, Audina, Indri, Rita, Ade, dan Amay) yang telah memberikan bantuan dan dukungan dalam pelaksanaan serta pembuatan Skripsi ini.
8. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu atas bantuannya dalam penyususnan skripsi.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan dalam penelitian skripsi ini, oleh karena itu diharapkan masukan dan sarannya yang membangun untuk lebih baik lagi. Semoga skripsi ini bermanfaat bagi semua pihak.
viii
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... iv
ABSTRACT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR LAMPIRAN ... xiii
BAB I PENDAHULUAN ... 2 1.1 Latar Belakang ... 2 1.2 Perumusan Masalah ... 6 1.3 Tujuan Penelitian ... 6 1.4 Manfaat Penelitian ... 7 1.5 Batasan Masalah……….……….7
BAB II KAJIAN TEORI, LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ... 10
2.1 Landasan Teori ... 10
2.1.1 E-Business ... 10
2.1.2 Technology Organization Environment (TOE) ... 10
2.1.3 Resources Based View ... 12
2.1.4 Pelayanan Pelanggan ... 13 2.1.5 Penjualan ... 13 2.1.6 Pemasaran ... 14 2.1.7 Operasi Internal... 14 2.2 Kajian Literatur ... 14 2.3 Pengembangan Hipotesis ... 19
BAB III METODE PENELITIAN ... 26
3.1 Jenis dan Sumber Data... 26
3.2 Definisi Operasional variabel dan Pengukuran ... 26
3.2.1 Variabel Dependen ... 26
3.2.2 Variabel Independen ... 28
3.3 Instrumen Penelitian.………..……… .30
3.4 Lokasi dan Objek Penelitian ... 30
3.5 Teknik Penetapan Jumlah Sampel ... 30
ix
3.9.1 Uji Pilot ... 32
3.9.2 Pengujian Hipotesis ... 32
3.9.2.1 Model Pengukuran (Outer Model) ... 33
3.9.2.2 Model Struktural (Inner Model) ... 35
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ... 36
4.1 Karakateristik Responden ... 36
4.2 Uji Pilot ... 39
4.3 Statistik Deskriptif ... 41
4.3 Pengujian Hipotesis ... 47
4.3.1 Model Pengukuran (Outer Model) ... 47
4.3.1.1 Uji Validitas Konstruk ... 47
4.3.1.1.1 Uji Validitas Konvergen ... 49
4.2.1.1.2 Uji Validitas Diskriminan ... 50
4.2.1.2 Uji Reliabilitas ... 53
4.2.2 Mengevaluasi Model Struktural (Inner Model) ... 55
4.2.2.1 Pengaruh Kompetensi teknologi (KT) terhadap Penggunaan media sosial (PMS) ... 57
4.2.2.2 Pengaruh Tekanan Pelanggan (TPG) terhadap Penggunaan media sosial (PMS) ... 58
4.2.2.3 Pengaruh Tekanan Kompetitif (TK) terhadap Penggunaan media sosial (PMS) ... 58
4.2.2.4 Pengaruh Lingkungan mobile (LM) terhadap Penggunaan media sosial (PMS) ... 59
4.2.2.5 Pengaruh Penggunaan media sosial (PMS) terhadap Operasi Internal (POI) ... 59
4.2.2.6 Pengaruh Penggunaan media sosial (PMS) terhadap Pemasaran (PP) ... 60
4.2.2.7Pengaruh Penggunaan media sosial (PMS) terhadap Pelayanan . Pelanggan (PPJ) ... 61
4.2.2.8 Pengaruh Penggunaan media sosial (PMS) terhadap Penjualan (PPJ) ... 61
4.4 Analisis Data ... 62
4.5.1 Kompetensi teknologi berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam ... 62
4.5.2 Tekanan Pelanggan berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam ... 63
x
4.5.3 Tekanan Kompetitif berpengaruh negatif terhadap penggunaan media
sosial oleh retail tas di Batam ... 64
4.5.4 Lingkungan mobile berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam ... 65
4.5.5 Penggunaan media sosialoleh retail tas di Batam berpengaruh positif ... terhadap persepsi nilai dalam dimensi operasi internal... 66
4.5.6 Penggunaan media sosialoleh retail tas di Batam berpengaruh positif ... terhadap persepsi nilai dalam dimensi Pemasaran ... 66
4.5.7 Penggunaan media sosialoleh retail tas di Batam berpengaruh positif ... terhadap persepsi nilai dalam dimensi Pelayanan Pelanggan ... 67
4.5.8 Penggunaan media sosialoleh retail tas di Batam berpengaruh positif ... terhadap persepsi nilai dalam dimensi Penjualan ... 68
BAB V PENUTUP ... 69
5.1 Simpulan ... 69
5.2 Keterbatasan ... 71
5.3 Implikasi dan Saran ... 71
5.3.1 Implikasi ... 71
5.3.2 Saran ... 73
DAFTAR PUSTAKA ... 74
xi
Gambar 2. 1 Model Penelitian ... 24 Gambar 3.1 Parameter Uji Validitas dalam Model Pengukuran PLS. ... 34 Gambar 4.1 Tampilan hasil PLS Algorithm ... 53
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner ... 36
Tabel 4.2 Daerah Penyebaran Kuesioner ... 37
Tabel 4.3 Karakteristik Responden... 37
Tabel 4.4 Nilai Communality dan Cronbach's Alpha ... 39
Tabel 4.5 Nilai T-Statistic ... 41
Tabel 4. 6 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Kompetensi Teknologi ... 41
Tabel 4.7 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Tekanan Pelanggan ... 42
Tabel 4. 8 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Tekanan Kompetitif ... 43
Tabel 4. 9 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Lingkungan Mobile ... 43
Tabel 4.10 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Penggunaan Media Sosial ... 44
Tabel 4.11 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Pelayanan Pelanggan ... 45
Tabel 4.12 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Penjualan ... 45
Tabel 4.13 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Pemasaran ... 46
Tabel 4.14 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Operasi Internal ... 47
Tabel 4.15 Factor Loading Indikator ... 48
Tabel 4.16 Skor Nilai AVE dan Communality... 49
Tabel 4.17 Perbandingan akar AVE dan korelasi Variabel laten ... 50
Tabel 4.18 Nilai T-Statistics dan VIF ... 51
Tabel 4.19 Perbandingan Cronbach’s Apha dan Composite Reliability ... 54
Tabel 4.20 Nilai R Square ... 55
Tabel 4.21 Hasil Koefisien Jalur dan T-statistics ... 56
xiii
Lampiran 2 Tabel Outer Loading ... 80
Lampiran 3 Tabel Average Variance Extracted (AVE)... 81
Lampiran 4 Latent Variables Correlation ... 82
Lampiran 5 Tabel Cronbach’s Alpha ... 83
Lampiran 6 Tabel Composite Reliability ... 83
Lampiran 7 Tabel R Square ... 84
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Saat ini perkembangan telah banyak membawa perubahan dalam kehidupan, bahkan internet saat ini telah menjadi kebutuhan primer oleh para penggunanya (Nugroho & Kastaman, 2014). Survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggaraan Jaringan Internet Indonesia (APJII) pada tahun 2016 mengungkapkan bahwa pengguna internet terus meningkat, 51,8% atau 132,7 juta penduduk Indonesia telah terhubung ke Internet1. Perkembangan internet
merupakan bagian dari perkembangan teknologi informasi yang terus meluas, kini teknologi informasi berbasis internet telah digunakan oleh bisnis perusahaan.
Menurut Oetomo (2001) dalam memasuki era globalisasi para pengusaha perlu mempertimbangkan pemanfaatan teknologi komputer dan telekomunikasi seperti internet untuk melakukan kegiatan bisnis dengan jangkauan pasar yang luas. Penggunaan internet dan teknologi digital lainnya untuk komunikasi, koordinasi, dan manajemen organisasi disebut e-business (Laudon & Laudon, 2001). Menurut Oetomo (2001) e-business merupakan kegiatan-kegiatan bisnis yang dilakukan melalui internet, selain e-business, istilah lain yang dikenan
1Dapat diakses di
http://tekno.kompas.com/read/2016/10/24/15064727/2016.pengguna.internet.di.indonesia.cap ai.132.juta. (diakses pada 16 januari 2017)
sebagai salah satu kegiatan dalam bisnis melalui internet adalah e-commerce. Transaksi bisnis yang dilakukan melalui internet adalah pengertian e-commerce
(Bodnar & Hopwood, 2010).
Oetomo (2001) berpendapat bahwa manfaat dari penggunaan e-business
antara lain: (1) Perluasan pasar dan jaringan mitra memberikan keuntungan bagi perusahaan pengguna e-business karena dapat memudahkan dalam menjalin kerjasama dan memperluas target pasar, hal ini dapat meningkatkan penjualan dan investasi perusahaan sehingga memberikan dampak positif untuk keberlangsungan usaha. (2) Transaksi dapat dilakukan disatu tempat membuat pengeluaran biaya dapat dihemat sehingga meningkatkan perolehan laba dari setiap transaksi, dari segi waktu dan lainya juga akan lebih efisien dan terkendali. Menurut konsep upaya dan hasil, biaya merupakan upaya dalam rangka memperoleh hasil berupa pendapatan (Suwardjono, 2008). (3) Penggunaan e-business dapat menjamin cash flow perusahaan karena perusahaan akan menerima pembayaran terlebih dahulu sebelum mengirirm barang yang dipesan konsumen, dengan pola seperti itu maka modal yang dibutuhkan relatif lebih kecil. Penelitian terhadap manfaat atau nilai dari penggunaan e-business telah dilakukan oleh Thousani, dkk (2015) untuk mengetahui dan menjelaskan proses pengembangan e-business dalam pemasaran produk secara internasional yang dilakukan oleh Akademi Bisnis Online Indonesia Surabaya, serta untuk mendeskripsikan dan menganalisis upaya strategi taktis untuk sukses dalam bisnis. Penelitian juga dilakukan oleh Arkeman, dkk (2013) dengan tujuan untuk
3
merancang bangun sistem bisnis berbasis web (e-business) komoditas agroindustri kulit, mengembangkan pelayanan sistem transaksi online (e-commerce),
pelayanan pelanggan dan kerjasama dengan rekan bisnis yang dapat menunjang pemasaran komoditas agroindustri dapat menunjang pemasaran komoditas kulit di Indonesia. Penggunaan e-business terbukti memberikan nilai terhadap pemasaran, hal ini dilihat dari hasil penelitian terdahulu. Schaupp & Belanger (2014) dalam penelitiannya menemukan penggunaan media sosial berdampak terhadap persepsi nilai media sosial yaitu persepsi operasi internal, penjualan, pemasaran dan Pelayanan pelanggan pada small business.
Salah satu alat dan teknologi untuk kolaborasi dan kerja tim dalam e-business adalah media sosial (Laudon & Laudon, 2001). Media sosial sendiri adalah alat promosi paling murah dan berdampak signifikan terhadap bisnis karena memiliki banyak pengguna serta tidak memerlukan biaya untuk membuat sebuah akun media jejaring sosial (Maharani, Ali, & Astuti, 2012). Kemudahan dalam pemerolehan media sosial membuat usaha kecil banyak menggunakannya dalam menjalankan e-business, namun faktanya masih ada pengusaha kecil yang tidak memahami seberapa besar manfaat dan belum menerapkan e-business
khususnya menggunakan media sosial dalam menjalankan usahanya.
Schaupp & Belanger (2014) dalam penelitiannya mengidentifikasi faktor-faktor penyebab penggunaan media sosial oleh small business, dengan hasil penelitian kompetensi teknologi, tekanan pelanggan, dan lingkungan mobile
sementara tekanan kompetitif bukan merupakan faktornya. Penelitian lainnya dilakukan oleh Maharani, dkk (2012) untuk mengetahui peranan penggunaan media sosial bagi UKM, serta faktor-faktor pengaruh media sosial terhadap keunggulan bersangkutan dengan sarana komunikasi, media promosi, sarana riset dan merek lebih dikenal sebagai variabel penelitian. Mujiyana & Elissa (2013) menganalisis pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian via internet pada toko online, dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa pengaruh yang besar terhadap variabel pemprosesan informasi dan variabel pemprosesan informasi punya pengaruh yang besar terhadap keputusan pembelian. Devi, dkk (2015) menganalisis faktor yang menjadi pertimbangan konsumen sebelum menggunakan layanan akses internet dengan hasil penelitian bahwa keputusan pembelian layanan Speedy dipengaruhi oleh harga, merek dan kualitas, sedangkan kepuasan konsumen dipengaruhi oleh keputusan pembelian dan kualitas.
Belum ada penelitian yang meneliti terkait faktor-faktor penyebab penggunaan media sosial di Indonesia dan dengan berbagai manfaat diatas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian terhadap faktor-faktor penyebab penggunaan media sosial oleh usaha kecil dan bagaimana persepsi pengguna media sosial terhadap nilai dari penggunaan media sosial(persepsi dalam operasi internal, persepsi dalam pemasaran, persepsi dalam pelayanan pelanggan, persepsi dalam penjualan). Sehingga diharapkan bisa dijadikan sebagai bahan
5
pertimbangan faktor-faktor yang mendorong penggunaan media sosial sebagai panduan untuk meningkatkan pengunaan media sosial oleh pelaku usaha kecil.
Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Schaupp & Belanger (2014). Di Indonesia masih sulit ditemukan penelitian terkait penyebab penggunaan media sosialdan persepsi dari nilai yang didapatkan dari penerapannya. Penelitian dari sudut pandang usaha kecil, dimana sebelumnya banyak pengujian terkait yang diambil dari sudut pandang usaha kecil menengah yang terdaftar di pemerintahan.
Perbedaan penelitian ini adalah dari pemilihan sampel. Penelitian ini sebelumnya mengambil sampel yaitu usaha kecil dari berbagai industri yang berada di United Stated. Penelitian ini akan fokus kepada sampel yaitu usaha kecil berupa toko tas di Batam yang menggunakan media sosial dalam penerapan e-business. Pemilihan lokasi sampel di kota Batam karena Batam merupakan kota industri yang berada di perbatasan Negara Indonesia, sehingga membuat Batam menjadi gudang produk impor murah. Salah satu produk terkenal di Batam adalah tas wanita, menyaingi daerah produsen tas di Indonesia yaitu Bandung, kemudian kota-kota besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, dan Bali. Google trend2
menunjukkan bahwa Batam mengungguli empat daerah tersebut pada peringkat mesin pencari terkait produk tas. Pusat perbelanjaan yang berada di Batam juga dinominasi oleh retail-retail penjual tas.
2Google trend merupakan grafik statistik pencarian web yang menampilkan popularitas topik pencarian pada kurun waktu tertentu (Susrini, 2009)
Berdasarkan uraian diatas, Penulis tertarik untuk melakukan generalisasi hasil penelitian terdahulu dengan judul penelitian “Nilai Dari Penggunaan Media SosialPada Retail Tas Batam”.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah yang diajukan dalam penelitian ini adalah (1) Apakah faktor-faktor yang mendorong penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam; (2) Bagaimanakah pengaruh penggunaan media sosial terhadap persepsi dari nilai penggunaan media sosial (persepsi dalam operasi internal, persepsi dalam pemasaran, persepsi dalam pelayanan pelanggan, persepsi dalam penjualan).
1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan yang telah diuraikan pada bagian perumusan masalah, maka tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengeneralisasi hasil penelitian terdahulu mengenai apasajakah faktor-faktor yang mendorong penggunaan media sosial oleh retail tas Batam dan bagaimanakah pengaruh penggunaan media sosial terhadap persepsi dari nilai penggunaan media sosial (persepsi dalam operasi internal, persepsi dalam pemasaran, persepsi dalam pelayanan pelanggan, persepsi dalam penjualan).
7
1.4 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat baik secara teoritis maupun praktis. Manfaat yang bersifat teoritis dalam penelitian ini yaitu dapat memberikan perpanjangan penelitian mengenai apa sajakah faktor-faktor yang mendorong penggunaan media sosial oleh retail tas Batam dan bagaimanakah pengaruh penggunaan media sosial terhadap persepsi dari nilai penggunaan media sosial (persepsi dalam operasi internal, persepsi dalam pemasaran, persepsi dalam pelayanan pelanggan, persepsi dalam penjualan). Manfaat yang bersifat praktis yaitu penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan faktor-faktor pendorong penggunaan media sosial sebagai panduan untuk meningkatkan pengunaan media sosial oleh pelaku usaha khususnya retail tas Batam. Nilai dari penggunaan media sosial dapat menjadi pertimbangan bagi pelaku usaha untuk perkembangan usahanya menggunakan media sosial, sehingga diharapkan hasil penelitian ini dapat memajukan bisnis tas via media sosial di Batam.
1.5 Batasan Masalah
Batasan masalah dalam penelitian ini terbatas pada sampel yang hanya pada retail tas di Batam yang menerapkan e-business via media sosial. Pada penelitian ini, penulis membatasi teknologi yang digunakan yaitu smartphone atau mobile, penggunaan smartphone dalam perdagangan elektronik dapat dijalankan melalui media sosial seperti BBM dan Facebook. Retail tas Batam yang menjadi
sampel dalam penelitian ini adalah retail tas Batam yang memiliki toko di daerah Batam dan menggunakan media sosial seperti BBM, Facebook dan media sosial lainnya untuk menjalankan bisnisnya secara elektonik.
Variabel-variabel yang terlibat sebagai faktor-faktor pendorong penggunaan media sosial adalah kompetensi teknologi, tekanan pelanggan, tekanan kompetitif, lingkungan mobile, dan penggunaan media sosial, sementara variabel-variabel yang terlibat sebagai nilai dari penggunaan media sosialadalah pelayanan pelanggan, penjualan, pemasaran dan operasi internal.
9
BAB II
KAJIAN TEORI, LITERATUR DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS
2.1 Landasan Teori 2.1.1 E-Business
Menurut Laudon & Laudon (2001) penggunaan internet dan teknologi digital lainnya untuk komunikasi, koordinasi, dan manajemen organisasi merupakan pengertian e-business. Menurut Oetomo (2001) E-business
merupakan suatu istilah yang digunakan untuk memberi nama pada kegiatan-kegiatan bisnis yang dilakukan melalui internet. Internet selain digunakan oleh organisasi besar, kini telah banyak digunakan oleh organisasi kecil melalui media sosial. Salah satu alat dan teknologi untuk kolaborasi dan kerja tim dalam e-business adalah media sosial (Laudon & Laudon, 2001). Menurut Oetomo (2001) manfaat penggunaan e-business bagi perusahaan atau pebisnis perorangan adalah sebagai berikut:
a. Memperpendek jarak
Dapat lebih mendekatkan diri dengan konsumen di mana jarak secara fisik dapat diatasi dengan hanya mengklik situs yang dibangun.
b. Perluasan Pasar
Jangkauan pasar dapat menjadi luas dibandingkan dengan sistem bisnis tradisional yang “terbatas” oleh lokasi.
c. Perluasan Jaringan Mitra
Perusahaan selain dapat memperluas pasar, dapat juga melakukan perluasan jaringan mitra kerja. Berbeda dengan cara bisnis tradisional dimana sangat sulit bagi sebuah perusahaan untuk mengetahui nama dan alamat perusahaan mitra kerjanya, sehingga sulit untuk memperluas jaringan mitra yang akan diajak kerjasama.
d. Biaya Terkendali
Perusahaan tidak perlu hadir secara fisik diberbagai kota dan penjuru dunia, namun dapat melakukan transaksi dengan konsumen dari berbagai lokasi. e. Efisien
Melalui pola Paperless, dimana distribusi data dan informasi dilakukan secara elektronik, maka akanada penghematan dari segi waktu karena ada integrasi dengan database yang ada di komputer pusat.
f. Cash flow terjamin
Dengan sistem e-business, cash flow perusahaan akan terjamin karena perusahaan akan menerima pembayaran terlebih dahulu sebelum mengirirm barang yang dipesan konsumen.
2.1.2 Technology Organization Environment (TOE)
Dalam penelitian ini, Kerangka TOE berfungsi sebagai landasan mengidentifikasi jumlah potensi faktor-faktor yang mendorong penggunaan
11
media sosial oleh retail tas Batam. Sudah banyak penelitian terkait teknologi informasi yang menggunakan kerangka TOE yaitu hasil pengembangan dari Tornatzky & Fleischer (1990) yang menyebutkan Kerangka TOE mencakup tiga unsur: (1) Teknologi, (2) Organisasi, (3) Lingkungan hal ini dijelaskan dalam penelitian Schaupp dan Belanger (2014). Menurut Tornatzky & Fleischer (1990) dalam penelitian Tan & Jhon (2010) konteks teknologi termasuk teknologi internal dan eksternal yang relevan dengan organisasi. Konteks organisasi termasuk karakteristik dan sumber daya organisasi, proses komunikasi (dengan pelanggan/karyawan) termasuk ukuran organisasi dan struktur manajerial. Konteks lingkungan termasuk ukuran dan struktur industri, pesaing perusahaan, konteks makroekonomi, dan peraturan lingkungan.
Konteks Teknologi mengacu pada bagaimana pelaku usaha dapat memanfaatkan media sosial untuk usahanya. Dalam penelitian ini, media sosial sebagai media atau alat retail tas Batam dalam menjalankan media sosial. Adopsi media sosial oleh pelaku usaha kecil sangat tergantung pada sejauh mana dapat memanfaatkan media sosial dan penawaran (Schaupp & Belanger, 2014). Tidak hanya mencakup teknologi yang telah diadopsi, tetapi juga ketersediaan orang-orang yang relevan dalam penggunaan teknologi tersebut. Kompetensi atau seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku dibutuhkan untuk menerapkan teknologi.
Konteks organisasi biasanya didefinisikan oleh fitur deskriptif mengenai organisasi (Picoto, Belanger, & Palma-dos-Reis, 2012). Dalam perspektif organisasi
kecil berfokus pada komunikasi dengan pelanggan yaitu permintaan pelanggan atau tekanan pelanggan yang membuat pelaku usaha menggunakan media sosial (Schaupp & Belanger, 2014). Permintaan penggunaan media sosial yang banyak dilakukan oleh pelanggan, memungkinkan pelaku usaha untuk menerapkan penggunaan media sosial. Pelanggan sangat diperhatikan dalam bisnis, karena semakin banyak pelanggan maka memungkinkan untuk meningkatkan pendapatan. Pengharapan peningkatan pendapatan dapat menjadi alasan diperhatikannya tekanan dari pelanggan.
Konteks lingkungan mengacu pada lingkungan dimana pelaku usaha menjalankan usahanya. Persaingan yang terjadi antar sesama pelaku usaha menuntut pelaku usaha agar lebih berinovasi dalam menjalankan usahanya. Bisnis di pasar yang lebih kompetitif lebih termotivasi untuk menggunakan teknologi canggih, seperti media sosial (Schaupp & Belanger, 2014). Perkembangan lingkungan internet telah melahirkan banyak pengguna media sosial, hal ini memungkinkan untuk menjadi pertimbangan digunakannya media sosial oleh pelaku usaha untuk menjalankan e-business.
2.1.3 Resources Based View
Resources Based View mendukung hubungan teoritis antara m-business
dan nilai penggunaannya (Picoto, Belanger, & Palma-dos-Reis, 2012). Telah dibuktikan dalam penelitian yang dilakukan oleh Schaupp & Belanger (2014) dengan Persepsi operasi internal, persepsi pemasaran, persepsi pelayanan
13
pelanggan dan persepsi penjualan sebagai variabel penelitian. Teori ini berpendapat bahwa sumber dayalah yang sesungguhnya membantu perusahaan menangkap peluang dan menetralkan ancaman (David, 2010). Sumber daya yang dimiliki oleh organisasi dapat menjadi kekuatan dalam mempertahankan usahanya. Sumber daya hendaknya (1) langka, (2) sulit untuk ditiru, atau (3) tidak mudah dicari, agar bernilai (David, 2010).
2.1.4 Pelayanan Pelanggan
Pelayanan merupakan usaha melayani kebutuhan orang lain dengan memperoleh imbalan (uang), sedangkan pelanggan adalah orang yang membeli3.
Dapat disimpulkan bahwa pelayanan pelanggan merupakan kegiatan pelayanan kepada orang yang akan melakukan pembelian.
2.1.5 Penjualan
Menurut Mulyadi (2008) penjualan merupakan kegiatan yang dilakukan oleh penjual dalam menjual barang atau jasa dengan harapan akan memperoleh laba dari adanya transaksi-transaksi tersebut dan penjualan dapat diartikan sebagai pengalihan atau pemindahan hak kepemilikan atas barang atau jasa dari pihak penjual ke pembeli.
3Dapat diakses di : http://kbbi.web.id/langgan dan http://kbbi.web.id/pelayanan (diakses pada 7 februari 2017)
2.1.6 Pemasaran
Pemasaran merupakan aktivitas, serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengkomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum4. Setiap
perusahaan dalam berbagai bidang melakukan pemasaran untuk memperkenalkan produk atau jasa dari perusahaannya. Pemasaran tersebut dilakukan dengan tujuan mendatangkan banyak pelanggan untuk perusahannya.
2.1.7 Operasi Internal
Operasi merupakan proses atau cara, sedangkan internal adalah bagian dalam5. Dapat disimpulkan bahwa operasi internal merupakan proses bisnis yang
ada didalam lingkungan perusahaan. Lingkungan perusahaan yang baik akan mendatangkan kebaikan pada keberlangsungan perusahaan tersebut.
2.2 Kajian Literatur
Penelitian sebelumnya dilakukan oleh Schaupp & Belanger (2014) mengatakan bahwa perusahaan menerapkan media sosial untuk pemasaran, iklan, perekrutan karyawan, dan secara keseluruhan komunikasi dengan karyawan, klien, dan rekan. Usaha kecil dapat memperoleh nilai yang cukup besar dari media sosial, tapi ada juga banyak tantangan. Dalam penelitiannya,
4Dapat diakses di : https://id.wikipedia.org/wiki/pemasaran (diakses pada 1 februari 2017) 5Dapat diakses di: http://kbbi.web.id/operasil dan http://kbbi.web.id/internal (diakses 7 februari 2017)
15
Technology Organization Environment (TOE) dan Resouces Based View (RBV) digunakan menjadi landasan teori. Wawancara dikombinasikan untuk mengembangkan model penggunaan media sosial dan nilai untuk usaha kecil. Kemudian data survei dari berbagai industri dan geografis di United Stated
dikumpulkan untuk memvalidasi model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi teknologi, tekanan dari pelanggan, tekanan kompetitif dan karakteristik lingkungan mobile adalah signifikan sebagai anteseden dari penggunaan media sosial kecuali tekanan kompetitif. Kemudian nilai yang dirasakan dari dampak penggunaan media sosial pada operasi internal, pemasaran, layanan pelanggan, dan penjualan adalah signifikan.
Penelitian yang dilakukan oleh Picoto at el. (2012) mengatakan bahwa kemajuan teknologi mobile memanfaatkan potensi m-business berdampak pada kinerja organisasi. Penelitiannya bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor penentu penggunaan m-business dan dampaknya pada kinerja perusahaan. Teori
Technology organization environment (TOE), Diffusion of innovation (DOI) dan
Resources based view (RBV) digunakan dalam penelitiannya untuk menilai nilai m-business dalam konteks organisasi. Dua metodologi yang berbeda digunakan dalam penelitian ini, pertama yaitu wawancara untuk menentukan nilai m-business dan dampak penggunaannya oleh organisasi, kemudian mengembangkan jaringan nomological untuk menilai penggunaan m-business. Faktor penelitian menunjukkan bahwa kompatibilitas dan kompleksitas yang tidak ada diantara faktor-faktor penyebab penggunaan m-business, sementara
keuntungan relatif, kompetensi tekologi, integrasi teknologi, hambatan manajerial tekanan kompetitif, tekanan mitra rendah dan lingkungan mobile yang signifikan sebagai anteseden penggunaan m-business. Mendukung hasil dari wawancara, dampak pada dimensi pengadaan kurang signifikan dibandingkan dampak pada pemasaran dan penjualan maupun operasi internal.
Penelitian lain dilakukan oleh Devi, dkk (2015) menyatakan bahwa terdapat beberapa faktor yang dipertimbangkan konsumen sebelum menggunakan layanan akses internet, faktor tersebut diantaranya harga, merek, dan kualitas. Di lain pihak, konsumen akan merasa puas jika layanan internet
Speedy melebihi harapan konsumen. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian dan kepuasan layanan internet Speedy diungkapkan secara komprehensif dengan persamaan struktural berbasis komponen, Partial Least Square (PLS). PLS mengestimasi model hubungan antar variabel laten dan antar variabel laten dengan indikatornya. Hasil analisis diperoleh kesimpulan bahwa keputusan pembelian layanan internet Speedy dipengaruhi oleh harga, merek dan kualitas, sedangkan kepuasan konsumen dipengaruhi oleh keputusan pembelian dan kualitas.
Thousani, dkk (2015) melakukan penelitian e-business yang bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan proses pengembangan e-business dalam pemasaran produk secara internasional yang dilakukan Akademi Bisnis Online
Indonesia Surabaya, serta untuk mendeskripsikan dan menganalisis upaya strategi taktik untuk sukses dalam e-business, tercapainya pemasaran produk/jasa yang
17
dilakukan oleh Akademi Bisnis Online Indonesia Surabaya. Menggunakan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, pengamatan dan dokumentasi. Berdasar pada penelitian yang dilakukan di lapangan didapatkan hasil bahwa Akademi Bisnis Online Indonesia telah menerapkan e-business di dalam kegiatan usahanya, bahkan menjadi kegiatan yang utama. Kegiatan jual beli barang, promosi, transaksi, dan pengiriman data dilakukan oleh Akademi Bisnis Online Indonesia sehari-hari dalam berbagai macam aktivitas usahanya.
Arkeman, dkk (2013) dalam penelitiannya bertujuan untuk merancang bangun sistem bisnis komoditas agroindustri kulit, mengembangkan pelayanan sistem transaksi online (e-commerce), pelayanan pelanggan dan kerjasama dengan rekan bisnis yang dapat menunjang pemasaran komoditas agroindustri dapat menunjang pemasaran komoditas kulit di Indonesia. Metodologi penelitian yang digunakan adalah tahapan pendekatan sistem serta siklus hidup pengembangan sistem yang terdiri dari lima tahap, yaitu tahap investigasi sistem, tahap analisis sistem, tahap perancangan sistem, tahap penerapan sistem dan tahap pemeliharaan sistem. Penelitian ini merupakan sebuah layanan website simulasi sebuah perusahaan contoh (PT Citra Leather Trading), yang diberi nama E-CLT. Penelitian ini menghasilkan rancangan e-business dalam bentuk simulasi paket program E-CLT, yakni sebuah simulasi paket program yang digunakan oleh PT Citra Leather Trading (perusahaan buatan untuk simulasi) yang menerapkan sistem e-business.
Mujiyana dan Elissa (2013) menganalisis pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pembelian via internet pada Toko Online. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengetahui adanya program periklanan, pemasaran melaui E-mail dan Kepercayaan konsumen terhadap pemrosesan informasi serta pengaruhnya terhadap Keputusan Pembelian produk-produk yang dijual di Toko
Online. Penelitian ini menggunakan metode uji validitas dan relibilitas, uji normalitas, uji penyimpangan asumsi klasik seperti uji multikolinieritas dan uji heteroskedastisitas dan uji regresi linier berganda seperti uji t, uji f dan uji korelasi berganda dan determinasi, Analisis model persamaan struktural (structural equestion metode). Hasil yang diperoleh dari penelitian Mujiyana dan Elissa (2013) menunjukkan bahwa pengaruh yang besar terhadap variabel pemprosesan informasi dan variabel pemprosesan informasi mempunyai pengaruh yang besar terhadap keputusan pembelian.
Maharani, dkk (2012) melakukan analisa melalui sebuah Usaha Kecil Menengah yang ada di Indonesia untuk mengetahui peranan penggunaan media sosial bagi UKM tersebut serta faktor-faktor pengaruh media sosial terhadap keunggulan bersaing UKM. Sampel dalam penelitiannya yaitu Coffe Toffe Coffee Shop. Hasil penelitian Maharani,dkk (2012) menyatakan bahwa media sosial memberikan keunggulan bersaing dengan meningkatkan bargaining position
terhadap pelanggan, serta menyatakan bahwa media sosial berpengaruh terhadap keunggulan bersaing Coffee Toffee. Terdapat empat variabel yang mempengaruhi Competitive Advantage Coffee Toffee yaitu sarana komunikasi,
19
media promosi, sarana riset dan Merek lebih dikenal. Semua variabel tersebut dapat diterima karena nilai loading factor telah memenuhi syarat nilai permodelan.
2.3 Pengembangan Hipotesis
Dalam penelitian ini, Kerangka TOE berfungsi sebagai landasan mengidentifikasi jumlah potensi faktor-faktor penyebab penggunaan media sosial oleh retail tas Batam. Beberapa penelitian terdahulu telah menggunakan kerangka TOE dalam penelitiannya terkait teknologi informasi, seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Schaupp & Belanger (2014), selain itu kerangka TOE juga digunakan dalam penelitian yang dilakukan Picoto at el. (2012) untuk menilai nilai M-business
dalam konteks organisasi. Menurut Tornatzky &Fleischer (1990) dalam penelitian Tan & Jhon (2010) konteks teknologi termasuk teknologi internal dan eksternal yang relevan dengan organisasi. Konteks organisasi termasuk karakteristik dan sumber daya organisasi, proses komunikasi (dengan pelanggan/karyawan) termasuk ukuran organisasi dan struktur manajerial. Konteks lingkungan termasuk ukuran dan struktur industri, pesaing perusahaan, konteks makroekonomi, dan peraturan lingkungan. Konteks lingkungan termasuk ukuran dan struktur industri, pesaing perusahaan, konteks makroekonomi, dan peraturan lingkungan.
Konteks teknologi, media sosial merupakan teknologi yang digunakan dalam penelitian ini. Schaupp dan Belanger menemukan Kompetensi teknologi sebagai faktor penyebab penggunaan media sosial oleh small business.
Kompetensi teknologi terdiri dari infrastruktur teknologi dan teknologi informasi sumber daya masnusia dalam hal pengetahuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk menerapkan teknologi tertentu. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Picoto at el. (2012) menemukan bahwa kompetensi teknologi signifikan menjadi faktor penentu penggunaan M-Business. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kompetensi teknologi merupakan faktor yang mempengaruhi digunakannnya media sosial, sehingga penulis berpendapat bahwa kompetensi karyawan terkait dengan penggunaan media sosial oleh retail tas Batam.
Konteks organisasi termasuk karakteristik dan sumber daya organisasi, termasuk ukuran organisasi dan struktur manajerial (Tan & Jhon S, 2010). Schaupp & Belanger (2014) Hal tersebut tidak termasuk kedalam penelitian ini karena semua sampel merupakan usaha kecil yang tidak menerapkan hal tersebut. Penelitian ini berfokus kepada bagaimana organisasi menanggapi tekanan dari pelanggan. Pelanggan adalah target yang dituju oleh pelaku usaha untuk melakukan pembelian kepadanya. Kenyamanan pelanggan menjadi prioritas oleh pelaku usaha untuk menjaga berlangsungan usahanya. Dalam perspektif organisasi kecil berfokus pada komunikasi dengan pelanggan yaitu permintaan pelanggan atau tekanan pelanggan yang membuat pelaku usaha menggunakan media sosial (Schaupp & Belanger, 2014). Pada penelitian sebelumnya Shaupp dan Belanger menyatakan bahwa tekanan pelanggan menjadi faktor penyebab digunakan media sosial oleh small business. Permintaan penggunaan teknologi
21
informasi sebagai alat komunikasi oleh banyak pelanggan, dianggap sebagai salah satu penyebab digunakannya media sosial oleh pelaku usaha kecil.
Konteks lingkungan termasuk ukuran dan struktur industri, pesaing perusahaan, konteks makroekonomi, dan peraturan lingkungan. Konteks lingkungan mengacu pada lingkungan dimana pelaku usaha menjalankan usahanya. Persaingan yang terjadi antar sesama pelaku usaha menuntut pelaku usaha agar lebih berinovasi dalam menjalankan usahanya. Bisnis di pasar yang lebih kompetitif lebih termotivasi untuk menggunakan teknologi canggih, seperti media sosial (Schaupp & Belanger, 2014). Perkembangan bisnis retail tas di Batam berkembang pesat, hal ini bisa dilihat dari retail tas yang menjamur di kota Batam. Perkembangan retail tas tentu diiringi dengan semakin ketatnya persaingan antar pelaku usaha, hal ini menuntut pelaku usaha lebih kreatif dalam menajalankan usahanya. Schaupp dan Belanger menyatakan bahwa tekanan pelanggan bukan sebagai penyebab penggunaan media sosial oleh usaha kecil, berbeda dengan hasil penelitian Picoto, Belanger dan Palma-dos-Reis (2012) yang menyatakan bahwa tekanan kompetitif merupakan anteseden dari penggunaan m-business. Peniliti tertarik untuk meneliti bahwa tekanan kompetitif terkait dengan penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam.
Perkembangan mobile yang semakin menarik telah mencuri perhatian pelaku usaha untuk menggunakannya. Harga yang bervariasi memberi kemudahan pelaku usaha untuk memiliki mobile dan menggunakan media sosial. Schaupp dan Belanger menyatakan bahwa lingkungan mobile menjadi penyebab
penggunaan media sosial oleh small business. Teknologi informasi terus mengalami perkembangan mulai dari komputer, laptop dan kini berupa tablet atau mobile. Kemudahan dalam mendapatkan teknologi informasi berupa mobile
disertai dengan harga yang bervariasi dan bentuk fisik yang menarik dianggap terkait dengan penggunaan media sosial oleh retail tas Batam.
Dari uraian diatas, maka penulis mengusulkan hipotesis berikut dalam penelitian yang akan dilakukan:
H1a: Kompetensi teknologi berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial retail tas di Batam
H1b: Tekanan pelanggan berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial
retail tas di Batam
H1c: Tekanan kompetitif berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial
retail tas di Batam
H1d: Lingkungan mobile berpengaruh positif terhadap penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam
Nilai dari penggunaan media sosial
Media sosial yang sudah memiliki banyak pelanggan akan memberikan keuntungan bagi pelaku usaha, dimana akun media sosial tidak bisa dibeli namun hanya diperoleh. Diperoleh melalui usaha publisitas secara rutin, hingga menghasilkan media sosial yang dapat menguntungkan. Ini adalah nilai pemasaran dari media sosial, menyediakan platform yang memiliki potensi untuk mengekspos usaha kecil untuk memelihara basis pelanggan dengan murah dan efektif (Schaupp
23
& Belanger, 2014). Schaupp dan Belanger dalam penelitiannya melakukan wawancara kepada pelaku usaha pengguna media sosial untuk mengetahui nilai dari penggunaan media sosial dan kenapa mereka menggunakannya, elemen nilai terdiri dari empat dimensi yaitu operasi internal, pemasaran, pelayanan pelanggan, dan penjualan. Teori RBV mendukung hubungan antara penggunaan media sosial dengan keempat dimensi nilai untuk usaha kecil (Schaupp & Belanger, 2014). Media sosial tidak bisa dibeli, namun hanya bisa diperoleh dari hasil publisitas terus-menerus, sehingga akan menjadi sumberdaya yang bernilai untuk pemiliknya. Hasil temuan tersebut, peniliti tertarik untuk meneliti apakah penggunaan media sosial terkait dengan persepsi yang akan diutarakan retail tas Batam dalam mengutarakan nilai operasi internal, nilai pemasaran, nilai pelayanan pelanggan dan nilai penjualan. Kerangka penelitian yang telah dikembangkan oleh Schaupp & Belanger (2014) direplikasi pada penelitian ini tanpa harus melakukan wawancara terlebih dahulu, dengan tujuan mengeneralisasi penelitian terdahulu. Penulis mengusulkan hipotesis seperti berikut:
H2a: Penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam berpengaruh positif terhadap persepsi nilai dalam dimensi operasi internal
H2b: Penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam berpengaruh positif terhadap persepsi nilai dalam dimensi pemasaran
H2c: Penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam berpengaruh positif terhadap persepsi nilai dalam pelayanan pelanggan
H2d: Penggunaan media sosial oleh retail tas di Batam berpengaruh positif terhadap persepsi nilai dalam dimensi penjualan
Gambar model penelitian terdapat pada gambar 2.2 berikut ini:
Sumber: Schaupp dan Belanger (2014)
26
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data ordinal, karena menggunakan pengkategorian jawaban dengan angka. Penelitian ini menggunakan data primer yang diadaptasi dari Schaupp & Belanger (2014). Kuesioner ini disebarkan sesuai dengan lokasi dan obyek yang ditetapkan dalam penelitian ini.
3.2 Definisi Operasional variabel dan Pengukuran 3.2.1Variabel Dependen
Variabel endogen yang ada dalam model nilai penggunaan media sosial adalah persepsi operasi internal, persepsi pemasaran, perepsi pelayanan pelanggan, persepsi penjualan dan penggunaan media sosial.
Persepsi dalam operasi internal
Persepsi dalam operasi internal dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapat atau pandangan yang dirasakan oleh retail tas Batam dalam penggunaan media sosial terhadap nilai dari dimensi operasi internal. Persepsi operasi internal diukur dengan 4 butir pertanyaan, dalam penelitian ini disingkat POI.
Persepsi Pemasaran
Persepsi dalam pemasaran dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapat atau pandangan yang dirasakan oleh retail tas Batam dalam penggunaan media sosial terhadap nilai dari dimensi pemasaran. Variabel pemasaran diukur dengan tiga butir pertanyaan, Persepsi pemasaran dalam penelitian ini disingkat PP.
Persepsi Pelayanan Pelanggan
Persepsi dalam pelayanan pelanggan dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapat atau pandangan yang dirasakan oleh retail tas Batam dalam penggunaan media sosial terhadap nilai dari dimensi pelayanan pelanggan. Variabel pelayanan pelanggan diukur dengan empat butir pertanyaan, Persepsi pelayanan pelanggan dalam penelitian ini disingkat PPP.
Persepsi Penjualan
Persepsi dalam penjualan dimaksud dalam penelitian ini adalah pendapat atau pandangan yang dirasakan oleh retail tas Batam dalam penggunaan media sosial terhadap nilai dari dimensi penjualan. Variabel penjualan diukur dengan dua butir pertanyaan, Persepsi penjualan dalam penelitian ini disingkat PPJ.
Penggunaan Media Sosial
Penggunaan media sosial yang dimaksud dalam penelitian ini yaitu menggunakan media sosial sebagai teknologi komunikasi dengan pelanggan atau
28
sebagai alat dalam menjalankan media sosial sehingga dapat menjangkau pelayanan pelanggan dan target marketing secara luas. Media sosial disini tidak terfokus pada salah satu media sosial, sehingga dapat dinilai oleh retail tas pengguna media sosial seperti Facebook, BBM, dll. Variabel penggunaan media sosial diukur dengan tiga butir pertanyaan, Penggunaan media sosial dalam penelitian ini disingkat PEB.
3.2.2 Variabel Independen
Variabel eksogen dalam penelitian ini adalah Kompetensi teknologi, Tekanan pelanggan, Tekanan kompetitif dan lingkungan mobile.
Kompetensi Teknologi
Kompetensi teknologi yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kemampuan karyawan dan tingkat teknologi yang digunakan oleh retail tas Batam dalam penggunaan media sosial. Variabel kompetensi teknologi diukur dengan tiga butir pertanyaan, Kompetensi teknologi dalam penelitian ini disingkat KT.
Tekanan Pelanggan
Tekanan pelanggan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah permintaan, dorongan atau paksaan yang dilakukan oleh pelanggan kepada retail
tas Batam. Variabel tekanan pelanggan diukur dengan tiga butir pertanyaan, Tekanan pelanggan dalam penelitian ini disingkat TPG.
Tekanan kompetitif
Tekanan kompetitif yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keadaan dimana retail tas Batam merasa terancam dengan keberadaan pesaingnya. Baik pesaing dari e-business maupun pesaing dalam lingkungan pasar lokal. Variabel tekanan kompetitif diukur dengan dua butir pertanyaan, Tekanan kompetitif dalam penelitian ini disingkat TK.
Lingkungan Mobile
Lingkungan mobile yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kondisi sumber daya teknologi berupa mobile yang dimiliki oleh retail tas Batam. Variabel lingkungan mobile diukur dengan dua butir pertanyaan, Lingkungan mobile dalam penelitian ini disingkat LM.
Seluruh pertanyaan kuesioner dalam penelitian ini dinilai dengan pertanyaan kuesioner dengan 5-poin skala Likert dengan pilihan responden dari 1 = sangat tidak setuju sampai dengan 5 = sangat setuju. Semakin tinggi skor variabel, berarti semakin besar pengaruh positif yang diberikan.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen di dalam penelitian ini adalah kuesioner yang memiliki variabel kompetensi teknologi, tekanan pelanggan, tekanan kompetitif, lingkungan mobile, penggunaan media sosial, pelayanan pelanggan, penjualan, pemasaran, dan operasi internal kepada responden dengan memberikan bobot penilaian pada
30
setiap pertanyaan kuesioner. Kuesioner tersebut telah melalui uji validitas dan reabilitas dalam penelitian terdahulu, kemudian akan kembali dilakukan uji validitas dan reabilitas oleh peneliti sebelum didistribusikan kepada responden. Pengukuran seluruh variabel penelitian menggunakan instrumen yang telah dikembangkan oleh Schaupp & Belanger (2014).
3.4 Lokasi dan Objek Penelitian
Lokasi yang dipilih dalam penulisan ini adalah kota Batam karena Batam adalah gudang tas import dan Batam unggul dalam peringkat mesin pencari kata kunci tas dibandingkan empat kota besar lainnya di Indonesia. Data primer diperoleh melalui objek penulisan berupa retail tas yang berada di Batam. Data diperoleh secara langsung dari sumber aslinya dengan menggunakan kuesioner untuk mengetahui persepsi responden terhadap variabel yang diuji.
3.5 Teknik Penetapan Jumlah Sampel
Hair, et al (2011) menyatakan ukuran minimum sampel dalam PLS-SEM harus sama dengan yang lebih besar dari yang berikut: (1) Sepuluh kali jumlah terbesar dari indikator formatif yang digunakan untuk mengukur satu konstruk atau (2) Sepuluh kali jumlah jalur struktural terbesar pada membangun laten tertentu di model struktural. Penulisan ini memiliki tiga konstruk formatif yaitu Penjualan, Pemasaran dan Operasi Internal. Konstruk Operasi internal memiliki
indikator terbesar yang berjumlah empat butir pertanyaan, sehingga jumlah minimum sampel pada penulisan ini adalah 10 x 4 = 40 buah sampel.
3.6 Teknik Penarikan Sampel
Metode penulisan yang akan digunakan adalah metode non probability atau pengambilan sampel non random berupa purposive sampling. Purposive sampling dengan kriteria retail tas di Batam yang memiliki toko dan menjalankan
e-business via media sosial dengan koresponden pemilik atau karyawan yang bersangkutan dengan penggunaan media sosial tersebut.
3.7 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah survei melalui penyebaran kuesioner kepada responden penulisan. Kuesioner diadaptasi dari 26 item instrumen penulisan yang dikembangkan oleh Scahupp & Belanger (2014) dari penulisan-penulisan terdahulu.
3.8 Teknik Pengolahan Data
Teknik pengolahan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah tabulasi data, yaitu memasukkan data kedalam tabel untuk pengujian selanjutnya. Tabulasi data menggunakan Microsoft Exel yang disimpan dengan format file
exel.cvs delimate. Format tersebut digunakan karena jenis file exel.cvs delimate
32
3.9 Teknik Analisis Data 3.9.1 Uji Pilot
Sebelum dilakukan penyebaran kuesioner kepada responden penelitian, dilakukan uji pilot terhadap item pertanyaan pada kuesioner penelitian. Uji pilot adalah suatu pengujian yang dilakukan pada responden dengan jumlah kecil untuk menguji pemahaman terhadap kuesioner, menguji validitas dan reliabilitas dari instrumen penelitian survei tersebut. Pada penelitian ini, uji validitas dan reliabilitas dilakukan pada konstruk reflektif dan konstruk formatif.
3.9.2 Pengujian Hipotesis
Penelitian ini menggunakan Partial Least Square (PLS) sebagai metode analisis data, Partial Least Square (PLS) merupakan alternatif penggunaan SEM berbasis varian. Penelitian ini memiliki konstruk reflektif dan konstruk formatif sehingga menjadi pertimbangan bagi peneliti untuk menggunakan metode PLS. PLS merupakan metode analisis yang cocok karena mampu memodelkan banyak variabel dependen dan independen, tidak mensyaratkan data berdistribusi normal, dapat digunakan pada sampel kecil, dll (Jogiyanto, 2011). Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji Outer Model dan uji Inner Model.
3.9.2.1 Model Pengukuran (Outer Model)
Dalam model pengukuran atau outer model akan dilakukan pengujian validitas dan reliabilitas terhadap instrumen penelitian. Uji validitas dilakukan untuk mengetahui kemampuan instrumen penelitian dalam mengukur apa yang seharusnya diukur (Cooper et al., 2006 dalam Jogiyanto, 2011). Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur konsistensi alat ukur dalam mengukur suatu konsep atau dapat juga digunakan untuk mengukur konsistensi responden dalam menjawab item pertanyaan dalam kuesioner atau instrument penelitian (Jogiyanto, 2011).
Uji validitas konstruk reflektif, dalam uji ini akan dilakukan validitas konvergen dan validitas diskriminan. Validitas konvergen berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur dari suatu konstruk seharusnya berkorelasi tinggi, dalam PLS dengan indikator reflektif dinilai berdasarkan loading factor
(korelasi antara faktor item/skor komponen dengan skor konstruk) indikator-indikator yang mengukur konstruk tersebut (Jogiyanto, 2011). Uji validitas diskriminan berhubungan dengan prinsip bahwa pengukur-pengukur konstruk yang berbeda seharusnya tidak berkorelasi dengan tinggi, uji validitas dinilai dengan membandingkan akar AVE untuk setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model (Jogiyanto, 2011).
34
Sumber : Diadaptasi dari Chin (1995) dalam Jogiyanto (2011:71)
Gambar 3.1 Parameter Uji Validitas dalam Model Pengukuran PLS.
Uji validitas pada konstruk dengan indikator formatif tidak dapat dianalisis dengan melihat Convergent Validity dan Composite Reliability, hal ini karena masing-masing indikator dalam suatu variabel laten diasumsikan tidak saling berkorelasi (independen) sehingga nilai reliabilitas tidak dapat diukur. Pada uji validitas konstruk formatif dilakukan dengan melihat dari nilai T-statistic yang dicerminkan pada outer weight lebih besar dari nilai t- tabel 1,64 (one-tailed).
Menurut Jogiyanto (2011), jika satu atau lebih indikator yang tidak signifikan pada konstruk formatif maka konstruk formatif tersebut secara statistic tidak dapat diuji lebih lanjut dalam model struktural. Namun dengan menghapus suatu kontruk formatif dalam suatu penelitian akan membuat model penelitian kehilangan makna dan dasar tujuan penelitian maka Jogiyanto (2011) mengatakan bahwa kontruk formatif yang tidak valid dapat diuji lebih lanjut dalam model struktural, uji validitas tersebut dapat diwakili melalui uji validitas tampang dan validitas isi.
Uji reliabilitas dilakukan untuk mengukur konsistensi dari alat ukur yang digunakan pada penelitian. Uji reliabilitas dalam PLS dapat menggunakan dua
metode, yaitu Cronbach’s alpha dan Composite reliability, untuk dapat dikatakan suatu konstruk reliabel maka nilai Cronbach’s alpha > 0,7 dan Composite reliability> 0,7 (Jogiyanto, 2011). Menurut Jogiyanto (2011), pada konstruk formatif tidak dapat dilakukan uji reliabilitas karena masing-masing indikator dalam suatu variabel laten diasumsikan tidak saling berkorelasi (independen) sehingga nilai reliabilitas tidak dapat diukur.
3.8.2.2 Model Struktural (Inner Model)
Setelah model yang diestimasi memenuhi kriteria Outer Model, berikutnya dilakukan pengujian model struktural (inner model). Menurut Jogiyanto (2011) model struktural dalam PLS dievaluasi dengan menggunakan R2 untuk konstruk
dependen, nilai koefisisen path atau t-values tiap path untuk uji signifikansi antarkonstruk dalam model struktural. Pengukur tingkat variasi perubahan variabel independen terhadap variabel dependen adalah nilai R2. Skor koefisien
path atau inner model yang ditunjukkan oleh nilai T-statistic harus diatas 1,64 untuk hipotesis satu ekor (one-tailed) untuk pengujian hipotesis pada alpha 5% dan power 80% (Hair et al, 2008 dalam Jogiyanto, 2011).
36
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Karakateristik Responden
Responden pada penelitian ini adalah pemilik ataupun karyawan toko tas yang berada di Batam. Kuesioner yang disebarkan sebanyak 61 kuesioner dan kembali sebanyak 61 kuesioner. Kuesioner yang telah diisi kemudian diperiksa kelengkapannya dan tidak ditemukan kuesioner yang tidak diisi lengkap, hal ini dikarenakan arahan yang penulis berikan saat menunggu responden mengisi kuesioner tersebut. Berdasarkan hal ini, kuesioner yang dapat digunakan dan diolah dalam penelitian sebanyak 61 kuesioner Yang ditunjukkan pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1 Tingkat Pengembalian Kuesioner
Kuesioner yang disebarkan 61
Kuesioner yang kembali dari responden 61 Kuesioner yang tidak diisi lengkap 0
Kuisioner yang dapat diolah 61
Tingkat Pengembalian (respon rate) 100% Sumber: Data Primer diolah
Penulis melakukan penyebaran kuesioner pada retail tas yang berada di Batam, penjelasan rincian daerah penyebaran kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.2, dimana jumlah responden terbanyak berasal dari daerah Nagoya. Jumlah responden daerah Legenda Malaka sebanyak 3 responden, Batu besar sebayak 2
responden, Botania plaza 2 responden, SP plaza 2 responden, Genta 1 Batu aji 1 responden, Dapur dua belas 5 responden, Fanindo plaza 2 responden, Top 100 Batu aji 2 responden, Batam Centre 6 responden dan Tiban 4 responden.
Tabel 4.2 Daerah Penyebaran Kuesioner
Daerah Penyebaran
Jumlah Responden
Nagoya 32 Responden
Legenda Malaka 3 Responden
Batu Besar 2 Responden
Botania Plaza 2 Responden
SP Plaza 2 Responden
Genta 1 Batu Aji 1 Responden
Dapur Dua belas 5 Responden
Fanindo Plaza 2 Responden
Top 100 Batu aji 2 Responden
Batam Centre 6 Responden
Tiban 4 Responden
Sumber: Diolah Sendiri
Selanjutnya setiap responden yang telah mengisi kuesioner diidentifikasi berdasarkan jenis kelamin, pendidikan terakhir, usia, dan jabatan. Identifikasi ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik secara umum dari para responden penelitian. Karakteristik umum responden digambarkan dalam tabel 4.3 berikut.
Tabel 4.3 Karakteristik Responden
Kriteria Sampel Jumlah Persentase
Jenis Kelamin Pria 14 orang 23%
Wanita 47 orang 77%
Pendidikan Terakhir SMA/SMK/Sederajat 44 orang 72%
38
Sumber: Data Primer diolah
Berdasarkan tabel 4.3 diketahui bahwa 61 orang responden yang telah diperoleh. Responden dengan jenis kelamin wanita lebih dominan dengan persentase sebesar 77% dibandingkan dengan responden pria dengan persentasi sebesar 23%. Responden dengan pendidikan terakhir SMA/SMK/Sederajat lebih dominan dengan persentase 72% dibandingkan dengan pendidikan terakhir lainnya, seperti pendidikan terakhir D3 dengan persentase sebesar 15%, pendidikan terakhir S1 dengan persentase sebesar 11%, dan pendidikan terakhir dengan persentase sebesar 2%.
Responden dengan usia 21-30 tahun lebih dominan dengan persentase sebesar 61% dibandingkan dengan usia responden lainnya, seperti usia ≤ 20 tahun dengan persentase sebesar 8%, usia 31-40 tahun dengan persentase sebesar 23%, usia 41-50 tahun dengan persentase sebesar 8%, dan usia ≥ 50 tahun dengan persentase sebesar 0%. Responden dengan jabatan sebagai karyawan toko lebih dominan dengan persentase sebesar 70% dibandingkan dengan jabatan sebagai pemilik toko dengan persentase sebesar 30%.
S1 7 orang 11%
S2 1 orang 2%
Usia ≤ 20 tahun 5 orang 8%
21-30 tahun 37 orang 61%
31-40 tahun 14 orang 23%
41-50 tahun 5 orang 8%
≥ 50 tahun 0 orang 0%
Jabatan Pemilik Toko 18 orang 30%
4.2 Uji Pilot
Uji pilot bertujuan untuk memberikan pemahaman terhadap kuesioner, menguji validitas dan reliabilitas dari instrumen survei sebelum dilakukan penyebaran kepada pemilik atau karyawan toko tas di Batam. Uji pilot dilakukan menggunakan sampel hasil survei 35 orang mahasiswa Politeknik Negeri Batam. Pengujian sampel dilakukan menggunakan SmartPLS 3.0, karena konstruk yang harus diukur berupa konstruk reflektif dan konstruk formatif.
Pada uji validitas konstruk reflektif akan dilakukan validitas konvergen dan validitas diskriminan. Pada uji validitas konvergen, seluruh indikator reflektif memiliki nilai communality di atas 0,5. Pada uji validitas diskriminan, seluruh indikator reflektif memiliki nilai akar AVE yang lebih tinggi daripada korelasi konstruk lainnya (tabel dapat dilihat pada lampiran) sehingga indikator reflektif dikatakan valid. Pada uji reliabilitas konstruk reflektif akan dilihat nilai dari
Cronbach’s alpha, dimana pada uji ini didapatkan hasil bahwa seluruh konstruk reflektif memiliki nilai Cronbach’s alpha lebih besar dari 0,6. Dari hasil uji diatas maka dapat disimpulkan bahwa seluruh kontruk reflektif valid dan reliabel dilihat dari nilai communality dan cronbach’s alpha pada tabel 4.4.
Tabel 4.4 Nilai Communality dan Cronbach's Alpha
Konstruk Communality Cronbach's Alpha
Kompetensi Teknologi 0.699 0.827
40
Pelayanan pelanggan 0.662 0.830
Penggunaan Media Sosial 0.780 0.857
Tekanan Kompetitif 0.720 0.748
Tekanan Pelanggan 0.662 0.747
Sumber: Data primer diolah
Pada konstruk formatif hanya dilakukan uji validitas, karena nilai reliabilitas tidak dapat diukur. Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa terdapat 5 indikator memiliki nilai T-Statistics kurang dari 1,64 (one-tailed) yaitu POI1 dengan nilai T-Statistics sebesar 0.389, POI2 sebesar 0.506, POI3 sebesar 0.247, dan PP1 sebesar 0.968, PP3 sebesar 0.058. Terdapat 4 Indikator yang dinyatakan valid yaitu POI4 dengan nilai sebesar 2.4207, PP2 dengan nilai sebesar 2.014, dan PPJ1 dengan nilai sebesar 1.640. Indikator dalam konstruk formatif yang tidak valid maka konstruk formatif tersebut secara statistik tidak dapat diuji lebih lanjut, namun secara teoritis konstruk formatif tersebut tetap dapat diuji lebih lanjut dalam model struktural. Kriteria uji validitas konstruk dapat diwakili melalui uji validitas tampang validitas isi. Dari hasil uji validitas dan reliabilitas pada konstruk reflektif diatas diketahui bahwa seluruh indikator reflektif valid dan reliabel, dan untuk seluruh indikator formatif dapat digunakan sehingga tidak ada indikator yang dihapus.
Tabel 4.5 Nilai T-Statistic KONSTRUK T-Statistics OPERASI INTERNAL POI1 0.389 POI2 0.506 POI3 0.247 POI4 2.407 PEMASARAN PP1 0.968 PP2 2.014 PP3 0.058 PENJUALAN PPJ1 2.475 PPJ2 1.640
Sumber: Data primer diolah
4.3 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif dalam penelitian ini menggambarakn data penelitian perkonstruk penelitian. Berikut adalah statistik deskriptif yang diperoleh dari penelitian ini.
Tabel 4. 6 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Kompetensi Teknologi
KONSTRUK INDIKATOR FREKUENSI JAWABAN RESPONDEN TOTAL STS % TS % N % S % SS % KOMPETENSI TEKNOLOGI 1 0 0 % 1 2 % 3 5% 4 4 72 % 13 21 % 61 2 0 0 % 1 2 % 6 10 % 4 3 70 % 11 18 % 61 3 0 0 % 1 2 % 3 5% 4 6 75 % 11 18 % 61 Sumber: Data primer diolah
42
Berdasarkan hasil dari tabel 4.6, variabel kompetensi teknologi diukur dengan 3 item pertanyaan dan dapat dilihat bahwa, para responden cenderung setuju dengan pernyataan-pernyataan mengenai kompetensi teknologi dengan persentase sebesar 72% pada indikator pertama, 70% pada indikator kedua dan 75% pada indikator ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa respon yang diperoleh dari pemilik dan karyawan toko tas di Batam terhadap indikator pada variabel kompetensi teknologi adalah baik sebagai faktor yang mendorong penggunaan media sosial pada retail tas di Batam.
Tabel 4.7 Menggambarkan Distribusi Frekuensi Jawaban Responden Variabel Tekanan Pelanggan
KONSTRUK INDIKATOR FREKUENSI JAWABAN RESPONDEN
TOTAL STS % TS % N % S % SS % 1 0 0% 1 0% 3 5% 39 64% 18 30% 61 TEKANAN PELANGGAN 2 0 0% 0 0% 11 18% 33 54% 17 28% 61 3 0 0% 0 0% 6 10% 36 59% 19 31% 61 Sumber: Data primer diolah
Berdasarkan hasil dari tabel 4.7, variabel tekanan pelanggan diukur dengan 3 item pertanyaan dan dapat dilihat bahwa, para responden cenderung setuju dengan pernyataan-pernyataan mengenai tekanan pelanggan dengan persentase sebesar 64% pada indikator pertama, 54% pada indikator kedua dan 59% pada indikator ketiga. Hal ini menunjukkan bahwa respon yang diperoleh dari pemilik dan karyawan toko tas di Batam terhadap indikator pada variabel Tekanan pelanggan adalah baik sebagai faktor yang mendorong penggunaan media sosial pada retail tas di Batam.