1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian 1.1.1 Profil Perusahaan
PT Bank Negara Indonesia (BNI) Persero, Tbk didirikan di Jakarta pada tanggal 5 Juli 1946 berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 1946, tanggal 5 Juli 1946 tentang Bank Negara Indonesia yang merupakan kelanjutan dari suatu yayasan dengan nama “Badan Umum Poesat Bank Indonesia” yang didirikan berdasarkan Akta No.14, tanggal 9 Oktober 1945, yang berfungsi sebagai bank sentral.
Pada tahun 1955, dengan dikeluarkannya Undang-Undang Darurat No.2 Tahun 1955, tanggal 4 Februari 1955, yang mencabut Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 1946 fungsi Perseroan beralih menjadi bank umum dengan tugas utama yang diarahkan kepada pembangunan ekonomi nasional khususnya dalam lapangan perdagangan impor dan ekspor. Sejak saat itu, Perseroan kemudian terus mengembangkan aktivitas pemberian pinjaman kepada berbagai sektor ekonomi (Sumber: Buku Right Issue BNI).
1.1.2 Visi, Misi, Values, dan Filosofi Logo PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk
A. Visi: “Menjadi bank kebanggan nasional yang unggul, terkemuka, dan terdepan dalam layanan dan kinerja. Menjadi bank kebanggan nasional, yang menawarkan layanan terbaik dengan harga kompetitif kepada segmen pasar korporasi, komersial, dan consumer.”
2 B. Misi:
1. Memberikan layanan prima dan solusi yang bernilai tambah kepada seluruh nasabah, dan selaku mitra pilihan utama (the bank choice).
2. Meningkatkan nilai investasi yang unggul bagi investor.
3. Menciptakan kondisi terbaik sebagai tempat kebanggaan untuk berkarya dan berprestasi.
4. Meningkatkan kepedulian dan tanggung jawab terhadap lingkungan sosial.
5. Menjadi acuan pelaksanaan kepatuhan dan tata kelola perusahaan yang baik.
C. Values : Kenyamanan dan kepuasan.
D. Filosofi Logo :
Gambar 1.1
Logo PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Sumber : PT. Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk
Identitas baru BNI merupakan hasil desain ulang untuk menciptakan suatu identitas yang tampak lebih segar, lebih modern, dinamis, serta menggambarkan posisi dan arah organisasi yang baru.
3
Angka ‘46’ merupakan simbolisasi tahun kelahiran BNI, sekaligus mencerminkan warisan sebagai bank pertama di Indonesia. Dalam logo ini, angka ‘46’ diletakan secara diagonal menembus kotak berwarna jingga untuk menggambarkan BNI baru yang modern. Warna turquoise yang digunakan pada logo baru ini lebih gelap, kuat mencerminkan citra yang lebih stabil dan kokoh. Warna jingga yang baru lebih cerah dan kuat, mencerminkan citra lebih percaya diri dan segar.
1.1.3 Bidang Usaha
Selain layanan perbankan umum (tabungan, deposito, giro), BNI juga menawarkan berbagai produk pembiayaan dan pendanaan, seperti jasa trade finance, pasar uang, dan jasa cash management. Produk pembiayaan BNI meliputi fasilitas kredit modal kerja, kredit investasi, kredit sindikasi, dan fasilitas kredit non kas seperti bank garansi dan L/C.
Pada akhir tahun 2011 tercatat BNI memiliki 12 kantor wilayah, 1.364 outlet domestik, 51 Sentra Kredit Kecil, 90 Kantor Cabang Stand Alone (STA), 20 Sentra Kredit Menengah, 12 Sentra Kredit Konsumen, 24 sentra BNI Emerald, dan 6.227 mesin ATM, 4 kantor cabang luar negeri di Singapura, Hongkong, Tokyo, dan London, serta 1 kantor agency di New York (Annual Report BNI Tahun 2011).
Dalam menjalankan kegiatan usahanya BNI didukung oleh tenaga karyawan yang handal dan professional, di akhir tahun 2011 BNI memiliki 23.639 karyawan, termasuk 1.496 karyawan kontrak dan 160 karyawan staf luar negeri. Sebagian besar karyawan BNI atau 58,50%
dari jumlah karyawan bekerja di kantor cabang di Indonesia, 19,61%
bekerja di kantor pusat dan 9,32% bekerja di Sentra Kredit. Sisanya
4
bekerja di kantor regional, kantor cabang, kantor keagenan di luar negeri dan anak perusahaan (Annual Report BNI Tahun 2011).
1.1.4 Sentra Kredit Konsumen (SKK)
Sentra Kredit Konsumen (SKK) merupakan divisi yang melayani pemberian fasilitas kredit bagi masyarakat yang dapat digunakan untuk keperluan–keperluan pembiayaan konsumtif yang meliputi pembiayaan kredit pembelian tanah dan bangunan, renovasi, pembelian kendaraan bermotor, pembayaran biaya pendidikan, serta berbagai pembiayaan lain untuk segala keperluan yang tidak bertentangan dengan ketentuan Pemerintah dan Undang–undang yang berlaku, dengan maksimum periode tahapan selama 5 tahun.
Untuk dapat melayani pemberian fasilitas kredit bagi masyarakat dengan baik, maka divisi SKK dibagi kedalam beberapa unit kerja yang terdiri atas pimpinan, wakil pimpinan, unit mailing room, unit credit analys, unit credit appraisal, unit administrasi, dan unit collect. Dengan model proses kerja yang ditunjukan pada Gambar 1.2 berikut.
Gambar 1.2
Model Proses Kerja Sentra Kredit Konsumen (SKK)
5
Sumber: Buku Pedoman Akademi Kredit PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk.
Data–data dokumen pengajuan kredit nasabah yang ada akan dihimpun pada unit mailing room, yang sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan kelengkapan dokumen-dokumen pengajuan kredit terlebih dahulu. Apabila dokumen–dokumen persyaratan pengajuan kredit nasabah sudah lengkap, maka dokumen–dokumen persyaratan pengajuan kredit tersebut akan diteruskan ke unit credit analyse untuk kemudian dilakukan verifikasi, scoring, serta rekomendasi terhadap data–data yang telah diajukan. Sedangkan unit credit appraisal akan melakukan taksasi ploting atas pengajuan kredit tersebut (pengajuan kredit dinyatakan batal dan tidak dapat diproses ke tahap lebih lanjut, apabila salah satu dari unit credit analyse ataupun credit appraisal ini tidak menyetujui pengajuan kredit nasabah).
Namun, jika kedua bagian ini menyetujui pengajuan kredit nasabah, maka dokumen–dokumen persyaratan pengajuan kredit yang ada akan diproses lebih lanjut oleh pimpinan untuk disetujui. Setelah semua proses persetujan kredit selesai, maka dokumen–dokumen pengajuan kredit tersebut akan displitting, diinput di filling system, untuk kemudian disimpan di dalam cabinet oleh unit administrasi. Dari proses ini akan menghasilkan output berupa ‘Perjanjian Kredit’ (PK).
Unit collect dalam hal ini bertindak sebagai pengawas kelancaran sistem pembayaran cicilan kredit setiap bulannya. Apabila ≤ 90 hari (kategori 1 & kategori 2) nasabah yang bersangkutan belum melakukan pembayaran cicilan kredit, maka unit front end akan melakukan tindakan tertentu (bisa berupa peneguran/penagihan tunggakan kredit) kepada nasabah yang bersangkutan. Sedangkan jika sampai dengan batas waktu
> 90 hari ( kategori 3, 4, & kategori 5) nasabah yang bersangkutan
6
belum juga melakukan pembayaran cicilan kredit, maka unit back end akan melakukan tindakkan lebih lanjut berupa penagihan atas tunggakan yang ada, ataupun melakukan penyitaan atas jaminan yang ada.
1.1.5 Jenis–jenis Produk Kredit Konsumen A. BNI MULTIGUNA
Merupakan fasilitas kredit untuk segala keperluan pemohon atau pemilik agunan dengan jaminan tanah berikut bangunan tempat tinggal, untuk keperluan seperti: pembelian peralatan rumah tangga (furniture dan elektronik), biaya sekolah, biaya operasi, biaya opname, biaya pengembangan profesi untuk kalangan profesional, keperluan lainnya, yang tidak melanggar Undang–undang atau ketentuan Pemerintah.
B. BNI GRIYA
Merupakan fasilitas kredit untuk pembelian dan pembangunan (renovasi): rumah, rumah susun, ruko, rukan, kios, apartemen, kondominium, villa. Pembelian kavling atau tanah matang siap bangun yang diperuntukan jelas untuk perumahan dan pemukiman sesuai RUTR PEMDA setempat dengan luas maksimal 1000 m2. Pembiayaan ulang untuk pembelian aset properti maksimal berusia 2 tahun dari pembeliaannya (dibuktikan dengan AJB). Mengambil alih fasilitas KPR pemohon dari kredit sebelumnya.
C. BNI FLEKSI
Merupakan fasilitas kredit yang diperuntukan untuk segala keperluan konsumtif yang tidak bertentangan dengan ketentuan Pemerintah/Undang–undang yang berlaku.
D. BNI OTO
Pembelian kendaraan roda 2 baru (hanya dibatasi untuk merk Yamaha, Honda, dan Suzuki). Kendaraan roda 4 baru (segala jenis,
7
merk). Pembiayaan ulang kendaran roda 4 (hanya untuk kendaraan buatan Jepang dan Eropa) dapat diberikan batasan usia kendaraan maksimal adalah 1 tahun.
1.2 Latar Belakang Penelitian
Perkembangan ekonomi bukan saja didorong oleh penggunaan uang tetapi juga peranan jenis-jenis kredit yang diakses dari lembaga- lembaga keuangan bank. Pengkreditan merupakan bagian yang esensial bagi pekerjaan bisnis perbankan, hal ini dikarenakan kredit merupakan sumber penghasilan terbesar dalam bisnis perbankan. Berikut merupakan data mengenai aset dan kredit yang berikan oleh sepuluh bank terbesar di Indonesia yang dimuat dalam Tabel 1.1.
Tabel 1.1
Jumlah Aset dan Kredit Sepuluh Bank Terbesar di Indonesia
Nama bank ASET (Rp Miliar)
KREDIT YANG DIBERIKAN
(Rp Miliar) BRI 469.899.284 294.379.828 Mandiri 551.891.704 311.093.306 BCA 378.651.728 202.268.609 BNI 299.058.161 163.412.722 Danamon 141.934.432 87.698.136 CIMB Niaga 166.801.130 125.701.743 Panin 124.754.179 75.743.912 Permata 101.324.002 69.262.967
BTN 89.121.459 63.563.686
BII 94.929.745 67.185.892
Sumber: majalah Infobank no. 397 April 2012 Vol. XXXIV
8
Disamping mencari laba dan memelihara pertumbuhan, bisnis perbankan bertujuan untuk melayani para nasabah melalui pemberian kredit dan pelayanan dalam lalu lintas peredaran uang. Sehingga kegiatan pemberian kredit memerlukan pengelolaan yang efektif dan efisien.Persaingan usaha dalam bisnis perbankan juga memiliki dampak yang signifikan terhadap hasil operasi suatu perbankan, dan akan terus mempengaruhi jenis produk, efisiensi, dan profitabilitas dari bank–bank utama di Indonesia.
Perubahan yang terjadi dapat berupa perubahan manajemen bisnis perbankan secara strategis, yang dilakukan sebagai upaya untuk terus mensejajarkan kemampuan intern suatu organisasi bisnis perbankan dengan tuntutan ekstern lingkungannya. Hal inilah yang akan terus mempengaruhi jenis produk, efisiensi, dan profitabilitas perbankan (Sastradipoera, 2004:29). Mengingat menjadi sebuah bank besar pasti merupakan keinginan semua bank, khususnya ketika bank tersebut mengalami krisis. Selain itu, besar-kecilnya sebuah bank akan sangat berpengaruh terhadap eksistensi bank tersebut (Retnadi, 2006:29).
Pasca krisis perbankan tahun 1999 terdapat dua program kebijakan pengkreditan, yaitu yang ditujukan untuk pemulihan sektor usaha besar (koorporasi) dan sektor UMKM. Sampai saat ini perbankan hanya bersedia memberikan pembiayaan kepada debitur besar yang prospeknya dianggap bagus, adapun kebijakan pengkreditan untuk pengembangan UMKM dapat dikatakan sudah cukup beragam (Retnadi, 2006:29). Pada saat yang sama, mucul kesempatan untuk merancang produk baru dan memberikan pelayanan lebih. Laju perubahan ini tidak tampak melambat karena bank selalu terlibat dalam mengembangkan instrument, produk, dan jasa baru (Greuning dan Bratanovic, 2011:1-2).
9
Berdasarkan data historikal, sebagian besar bisnis BNI berasal dari nasabah korporasi, walaupun BNI telah meningkatkan fokusnya pada bisnis komersial dan konsumer. Pada tahun 2011, BNI memberikan kredit sejumlah Rp 57.594 miliar atau 35,2% kepada nasabah korporasi, Rp 58.660 miliar atau 35,9% kepada nasabah komersial (terdiri dari nasabah menengah dan nasabah usaha kecil), Rp 34.729 miliar atau 21,2% kepada nasabah konsumer dan ritel, Rp 7.092 miliar atau 4,3%
kepada nasabah internasional, dan Rp 5.458 miliar atau 3,3% kepada nasabah syariah (Annual Report BNI 2011:76).
Sebagai sebuah bank yang berorientasi pada nasabah (customer centric) dan bertujuan meningkatkan efisiensi dan efektivitas, BNI menyadari perlunya fokus yang lebih tajam terhadap upaya pemenuhan kebutuhan nasabah dalam kerangka peningkatan kualitas layanan secara menyeluruh. Maka, pada tahun 2011 BNI berusaha mempertajam segmentasi bisnis di bidang konsumer dan ritel, dengan outstanding kredit konsumer untuk tiap produknya seperti yang tergambar pada Gambar 1.3 berikut ini.
10
Gambar 1.3
Grafik Outstanding Produk Kredit Konsumer Tahun 2011
Sumber: Annual Report BNI 2011
Gambar 1.3 merupakan grafik jumlah kredit yang diberikan untuk ketiga produk kredit konsumen yang paling diminati oleh nasabah BNI.
Hal ini menyebabkan jumlah kredit yang disalurkan setiap tahunnya mengalami peningkatan (dari tahun 2009-2011) sebagai upaya pemenuhan kebutuhan nasabah.
11
Tahun 2011 dengan didukung oleh 44 orang karyawan (karyawan tetap dan karyawan kontrak) SKK harus menangani aplikasi pengajuan kredit yang masuk dengan jumlah total 3.967 dokumen aplikasi pengajuan kredit dengan rincian jumlah setiap bulannya yang ditampilkan pada Tabel 1.2 berikut ini.
Tabel 1.2
Tabel Performasi Dokumen Pengajuan Kredit Tahun 2011
Sumber: Data Hasil Olahan Peneliti
BNI terus berupaya untuk meningkatkan komposisi penyaluran kredit ritel, memberikan pilihan dan kemudahan kepada debitur/calon debitur dalam memperoleh fasilitas kredit dengan persyaratan lebih mudah dan proses yang lebih cepat. Maka, pada tanggal 12 Mei 2011 berdasarkan Keputusan Direksi No. PDM/2.2/387 BNI melaksanakan
12
kredit baru BWU (BNI Wirausaha) dan berdasarkan Kutipan Risalah Direksi Tanggal 6 Juni 2011 menyetujui agar produk BWU menggunakan sistem scoring multiguna. Sehingga dilaksanakanlah migrasi kredit BWU individu dari Business Banking ke Consumer &
Ritel Banking yang dilakukan dengan 3 (tiga) tahapan, yaitu:
a. Migrasi tahap 1 dilakukan pada SKC (Sentra Kredit Kecil) yang berada satu kota dengan SKK.
b. Migrasi tahap 2 yaitu migrasi dari SKC termasuk UKC (Unit Kredit Kecil) yang tidak ada SKK di kota tersebut.
c. Migrasi tahap 3 adalah migrasi BWU yang ada di STA–STA (Stand Alone).
Migrasi kredit BWU tahap 1 dimulai tanggal 1 Juni 2011 yang meliputi pemindahan portepel BWU dari SKC yang berada satu kota dengan SKK, migrasi pengelolaan nasabah SKC yang berada satu kota dengan SKK, proses kredit yang dilakukan oleh SKK, proses kredit hanya untuk review (perpanjangan), review (perpanjangan) menggunakan 2 skoring sistem yaitu skoring sistem BWU dan skoring sistem Griya Multiguna dengan proses kredit SKK, kewenangan memutus review (perpanjangan) diputus oleh Pejabat Pemutus Kredit di SKK sesuai kewenangannya.
13
Berikut merupakan data migrasi BWU tahap 1 wilayah Bandung tertanggal 1 Juni 2011 sampai deangan 24 Oktober 2011 yang ditampilkan pada Tabel 1.3.
Tabel 1.3
Migrasi BWU Tahap 1 Wilayah Bandung Berdasarkan Jumlah Debitur Uni Asal
Jumlah Debitur
SKC Bandung
&
Priangan
UKC Majalaya
UKC Sumedang
Total
PL
(Performing Loan)
174 Debitur
89 Debitur 130 Debitur 393 Debitur
NPL (Non Performing Loan)
40 Debitur 11 Debitur 24 Debitur 75 Debitur
Rekening Aflopend (Singel Facility)
291 Debitur
122 Debitur 226 Debitur 639 Debitur
14 Rekening R/C
Terbatas &
Aflopend (Dual Facility)
90 Debitur 35 Debitur 106 Debitur 231 Debitur
Total 595
Debitur
257 Debitur 486 Debitur 1.338 Debitur
Sumber: Modul Serah Terima Migrasi BWU Tahap 1
Debitur yang di golongkan pada kriteria Performing Loan (PL) adalah debitur yang berada pada kategori 1 & 2 yakni debitur yang memiliki keterlambatan pembayaran ≤ 90 hari. Sedangkan debitur yang digolongkan pada kriteria Non Performing Loan (NPL) adalah debitur yang berada pada kategori 3, 4, dan 5 dengan tingkat keterlambatan pembayaran angsuran > 90 hari.
Debitur rekening aflopend (single facility) merupakan pemberian fasilitas kredit dengan sistem penarikan kredit secara sekaligus dan bersifat aflopend. Debitur rekening R/C terbatas & aflopend (dual facility) merupakan pemberian fasilitas kredit yang terbagi atas 2 sistem pencairan, yaitu: (1) minimal sebesar 60% dari maksimum kredit wajib bersifat aflopend, (2) sisanya maksimal sebesar 40% dari maksimum kredit dapat ditarik sesuai kebutuhan debitur dan kredit bersifat rekening koran / RC terbatas.
Selain menerima pelimpahan debitur PL, NPL, debitur rekening aflopend (single facility), debitur rekening R/C terbatas & aflopend (dual facility), Sentra Kredit Konsumen (SKK) juga menerima limpahan dokumen berupa file kerja dan file asli sebanyak 504 dokumen dari SKC Bandung dan Priangan. (Modul Serah Terima Migrasi BWU Tahap 1).
Dengan adanya migrasi BWU tersebut, maka seluruh unit terkait yang
15
terdapat di Sentra Kredit Konsumen (SKK) mengalami penambahan jumlah pekerjaan. Misalnya dalam hal melakukan analisa kredit, unit credit analyse SKK harus meneliti secara seksama kontinuitas usaha pemohon (debitur BWU). Para pejabat pemutus kredit juga mengalami penambahan pekerjaan, karena selain harus memutuskan pemberian kredit dari produk–produk pembiayaan sebelumnya, dengan adanya migrasi BWU ini para pejabat pemutus kredit juga harus memutuskan pemberian kredit untuk debitur migrasi BWU. Unit administrasi kredit secara otomatis juga mengalami penambahan pekerjaan dalam hal penyelenggaraan (maitenance) rekening, begitu pula halnya dengan unit collect (front end dan back end collect) yang harus melakukan pemantauan dan penyelamatan kredit dari produk sebelumnya dan dari produk hasil migrasi BWU.
Non Performing Loan (NPL) merupakan salah satu aspek yang dijadikan indikator baik/buruknya produktivitas karyawan pada suatu industri perbankan. Kasbal (2012) dalam penelitiannya mengemukakan bahwa produktivitas karyawan dapat dikatakan baik ketika mampu menangani persoalan mengenai kredit macet, semakin banyak jumlah NPL yang dapat ditangani, maka kemungkinan kerugian yang akan ditanggung suatu perbankan semakin kecil. NPL dihitung dengan cara membandingkan jumlah kredit bermasalah dibagi dengan jumlah total kredit.
Tabel 1.4
Penurunan Kualitas Kredit
30 Juni 2011 24 Oktober 2011 SKC Bandung & SKC
Priangan 21 Debitur 40 Debitur
16
UKC Majalaya 6 Debitur 11 Debitur UKC Sumedang 16 Debitur 24 Debitur
Sumber: Modul Serah Terima Migrasi BWU Tahap 1
Pada Tabel 1.4 penurunan kualitas kredit disebabkan oleh peningkatan jumlah NPL, yang mengindikasikan adanya penurunan jumlah kredit yang dapat tertagih., ter tanggal 30 Juni 2011 penagihan atas kredit yang diberikan sebesar 92.26%, harus mengalami penurunan sebesar 9.45%, atau menjadi 82.81% pada 24 Oktober 2011. Kurangnya pemantauan efektif sejak dilakukannya program migrasi
BWU Juni 2011 merupakan salah satu penyebab penurunan kualitas kredit yang ada. Hal ini disebabkan oleh jumlah tenaga karyawan SKK yang terbatas, sementara jumlah pekerjaan yang harus dilakukan bertambah.
MENPAN (2004:10) menyatakan bahwa perubahan kebijakan, berupa pengalihan pencapaian program dari swakelola menjadi pelimpahan pekerjaan kepada pihak lain pada akhirnya akan mempengaruhi jumlah beban kerja. Program migrasi BWU yang dilaksanakan PT. BNI (Persero), Tbk menyebabkan unit–unit kerja yang terdapat di Sentra Kredit Konsumen (SKK) mengalami penambahan jumlah pekerjaan, sehingga beban kerja pun bertambah.
Meshkati (dalam, Widyanti dkk, 2010:1) mendefinisikan beban kerja sebagai perbedaan antara kemampuan pekerja dengan tuntutan pekerjaan. Jika kemampuan pekerja lebih tinggi daripada tuntutan pekerjaan, akan muncul perasaan bosan. Namun sebaliknya, jika kemampuan pekerja lebih rendah daripada tuntutan pekerjaan, maka akan muncul kelelahan yang lebih. Abdul Munir (2005:57) dalam penelitiannya juga mengemukakan bahwa rasa lelah yang berlebih ini
17
dapat tercermin dari menurunnya hasil produksi baik jumlah maupun kualitasnya.
Produktivitas secara umum diartikan sebagai hubungan antara keluaran (barang-barang atau jasa) dengan masukan (tenaga kerja, bahan, uang) berupa perbandingan antara hasil keluaran dan masukan (Sutrisno, 2009:105). Torhadi (dalam Sutrisno, 2009:106) mengemukakan bahwa produktivitas kerja merupakan sikap mental.
Sikap mental yang selalu mencari perbaikan terhadap apa yang telah ada.
Peningkatan beban kerja karyawan merupakan upaya organisasi untuk meningkatkan produktivitasnya (Robbins, 2006:105). Lusmana (2011) dalam penelitiannya mengatakan bahwa beban kerja merupakan permasalahan yang tidak bisa dipandang sebelah mata, mengingat efeknya akan berpengaruh terhadap produktivitas karyawan itu sendiri.
Ketidak cocokan dalam suatu pekerjaan akan dapat menyebabkan timbuknya stres atau frustasi, yang pada akhirnya akan menyebabkan rendahnya produktivitas, dan rendahnya mutu hasil kerja (Simanjuntak, 2010:80).
Berdasarkan alasan-alasan yang berupa uraian fenomena dan uraian teori-teori terkait mengenai beban kerja dan produktivitas inilah yang menjadi dasar bagi peneliti untuk melakukan penelitian dengan judul
“PENGARUH BEBAN KERJA TERHADAP PRODUKTIVITAS KARYAWAN SENTRA KREDIT KONSUMEN (SKK) Tahun 2012 (Studi di PT Bank Negara Indonesia JPK Bandung).”
1.3 Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis mengidentifikasikan permasalahan penelitian sebagai berikut:
18
a. Seberapa tinggi beban kerja karyawan yang terdapat di SKK?
b. Seberapa tinggi produktivitas karyawan SKK saat ini?
c. Berapa besar pengaruh beban kerja terhadap produktivitas produktivitas karyawan SKK?
1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki 3 tujuan yang bersumber dari perumusan masalah, yakni untuk mengetahui:
a. Untuk mengetahui bagaimana beban kerja karyawan SKK.
b. Untuk mengetahui bagaimana produktivitas karyawan SKK.
c. Untuk mengidentifikasi pengaruh beban kerja terhadap produktivitas karyawan SKK.
1.5 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi tiga pihak, yaitu:
a. Bagi penulis:
Sebagai penerapan teori dari perkuliahan untuk menambah pengetahuan dan wawasan praktis.
b. Bagi perusahaan:
Dapat memberikan gambaran mengenai pengaruh beban kerja terhadap produktivitas karyawan sehingga dapat dijadikan sebagai bahan masukan dan evaluasi bagi perusahaan dalam meningkatkan efektivitas dan efisiensi kerja.
c. Bagi pihak lain:
Dapat menjadi referensi penelitian selanjutnya dan juga sebagai sumber informasi yang dapat membantu penelitian sejenis.
1.6 Sistematika Penulisan Tugas Akhir
19
Untuk memberikan gambaran jelas mengenai penelitian yang dilakukan, maka disusun suatu sistematika penulisan yang berisi informasi mengenai materi dan hal yang dibahas dalam tiap – tiap bab.
Adapun sistematika penulisan skripsi disusun sebagai berikut:
BAB I : PENDAHULUAN
Berisi pendahuluan yang terdiri dari gambaran umum objek penelitian, latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA DAN LINGKUP PENELITIAN Berisi tinjauan pustaka dan lingkup penelitian yang terdiri dari tinjauan pustaka penelitian yang berisi rangkuman teori dan penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan ruang lingkup penelitian.
BAB III : METODE PENELITIAN
Berisi metode penelitian yang terdiri dari jenis penelitian, variabel operational, tahapan penelitian, populasi dan sampel, pengumpulan data dan teknik analisis data.
BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berisi hasil penelitian dan pembahasan yang berisi pembahasan terhadap analisis data yang diperoleh selama penelitian dilakukan.
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN
Berisi kesimpulan dan saran yang memuat kesimpulan dari pembahasan atas hasil penelitian serta saran yang dikemukakan penulis untuk perbaikan masalah.